Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Taksonomi Tanaman Jagung
Menurut Soekirno (1970) Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan
tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisio

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub Divisio

: Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas

: Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo

: Graminae (rumput-rumputan)

Famili

: Gramineae

Genus

: Zea

Species

: Zea Mays linn

1.2 Deskripsi Jagung Hidrida


Pertumbuhan kedua galur yang berbeda ini bisa dibedakan pada tanaman berumur 14
hari, pada umur 14 hari tanaman galur murni ini dapat dilihat dari sifat fisik tanaman
nampak sekali terlihat nyata bahwa galur murni G.180 daunnya lebih panjang, warna daun
hijau muda, diameter batang kecil. Kalau galur murni MR.14 daunnya warna hijau tua,
daunnya tebal dan lebar, diameter batang besar dan hasilnya pun cukup baik dibandingkan
dengan hasil dari tanaman G.180.

1.3 Perakitan Varietas Hibrida

Persilangan tanaman merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memperoleh
keturunan yang bervariasi. Persilangan tanaman bisa dibedakan menjadi persilangan sendiri
(selfing) dan pembastaran (crossing). Selfing adalah persilangan yang dilakukan terhadap
tanaman itu sendiri. Artinya, tidak ada perbedaan antara genotipe kedua tanaman yang
disilangkan. Sedangkan crossing atau pembastaran adalah persilangan antara dua individu
yang berbeda karakter atau genotipnya. Tujuan melakukan persilangan adalah untuk
menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru, memperluas keragaman
genetic, dan menguji potensi tetua (uji turunan). Pada praktikum ini dilakukan persilangan
pada tanaman jagung (Zea mays). Tanaman jagung dipilih karena penyerbukan buatan yang
dapat dilakukan relative mudah. Selain itu periode tumbuh atau masa tanam jagung juga
tidak terlalu lama, sekitar dua bulan.
Persilangan adalah suatu teknik mengawinkan bunga dengan meletakkan pollen atau
serbuk sari pada stigma (lubang atau rongga yang dangkal berisi cairan kental agak lengket
sebagai tempat meletakkan pollen dan masuknya tabung pollen ke dalam ovari (bakal buah)
pada waktu polinasi/penyerbukan. Dikenal dua macam persilangan, yaitu perkawinan sendiri
(selfing) dan perkawinan silang (crossing). Perkawinan sendiri (selfing) adalah perkawinan
dengan meletakkan pollen pada stigma yang berasal pada satu bunga, satu tanaman, tetapi
masih dalam satu spesies. Perkawinan silang (crossing) adalah perkawinan dengan
meletakkan pollen pada stigma yang berasal dari dua jenis bunga yang berbeda pada spesies
yang sama baik. Jika persilangan dilakukan siang hari, putik mengering sehingga tidak akan
terjadi pembuahan, kalaupun terjadi pembuahan kualitas buah tidak maksimal. Umur bunga
satu atau dua hari setelah mekar hingga lima minggu setelah mekar (Sandra, 2008).

Jagung merupakan tanaman pertama yang di bentuk menghasilkan varietas secara


komersial, dan telah berkembang di Amerika Serikat sejak 1930an (Hallauer and Miranda
1987). Kini jagung hibrida telah di tanam disebagian besar areal jagung di Dunia. Varietas
hibrida merupakan generasi pertama hasil persilangan antara tetua berupa galur inbrida.
Varietas hibrida dapat di bentuk pada tanaman menyerbuk sendiri maupun menyerbuk
silang.
Jagung Hibrida adalah jagung yang pada proses pembuatannya dengan cara
pemuliaan dan penyilangan antara jagung induk jantan dan jagung induk betina sehingga
menghasilkan jagung jenis baru yang memiliki sifat keunggulan dari kedua induknya.
Keunggulan jagung hibrida adalah kapasitas produksinya tinggi sekitar 8-12 ton per hektar.
Inbrida sebagai tetua hibrida memiliki tingkat hozigositas yang tinggi. Inbrida jagung
diperoleh melalui penyerbukan sendiri (selfing) atau melalui persilangan antar saudara.
Inbrida dapat dibentuk menggunakan bahan dasar varietas bersari bebas atau hibrida pada
dasarnya melalui seleksi tanaman dan tongkol selama silang diri. Seleksi dilakukan
berdasarkan bentuk tanaman yang baik dan ketahanan terhadap hama dan penyakit utama.
Pembentukan inbrida dari inbrida lain dilakukan dengan cara menyilangkan dua inbrida
yang disbut seleksi komulatif, atau persilangan galur dengan populasi. Hibrida hasil
persilangan ini dapat digunakan sebagai populasi dasar dalam pembentukan galur. Galur
dapat diperbaiki dengan mengunakan galur yang akan diperbaik. Perbaikan dapat
menggunakan silang balik (backcross) beberapa kali, sehingga karakter galur yang
diperbaiki muncul kembali dan ditambah dengan karakter dari galur donor.
1.4 Hibridisasi

Jagung hibrida bisa diperoleh dari hasil seleksi kombinasi atau biasa di sebut
hibridisasi. Hibridisasi dalam pengertian yang sederhana ialah menyerbuki bunga-bunga
yang telah dikebiri dengan tepung sari dari jenis tanaman yang dikehendaki sebagai bapak.
Secara konvensional hibridisasi bisa juga di sebut perkawinan silang antara tanaman
yang satu dan tanaman yang lain dalam satu spesis untuk mendapatkan genotype (sifat-sifat
dalam) yang unggul, dan biasa di sebut breeding.
Jagung hibrida merupakan generasi pertama atau F-1 dari persilangan antara dua
galur. Orang yang pertama kali menegetahui adanya kenaikan daya hasil generasi pertama
dari persilangan galur-galur pada jagung adalah Shull pada tahun 1909, dan cara-cara yang
di sarankan masih tetap di pakai hingga sekarang. Dengan demikian, langkah pertama untuk
pembuatan jagung hibrida adalah mencari dan membuat galur unggul.
Cara mencari dan membuat galur unggul adalah melaluai seleksi. Pertama-tama yang
dilakukan adalah inventarisasi varietas/spesies suatu tanaman jagung.
Makin luas atau makin banyak koleksinya, akan makin baik karena sifat-sifat
tanaman yang dikehendaki makin banyak (beraneka ragam). Oleh sebab itu, tidak jarang
para pemulia tanaman dalam memilih bibit untuk seleksi mendatangkan jenis tanaman atau
spesies dari luar negeri. Hal ini didasarkan pada sifat tanaman itu sendiri, yakni makin
asing/jauh, makin aneh pula sifat-sifat yang dibawa oleh gen tanaman tersebut.
1.5 Deskripsi Varietas yang Dihibridisasi
Ketika menyilangkan tanaman ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti
pemilihan tetua dalam hubungannya dengan tujuan dilakukannya persilangan, pengetahuan
tentang morfologi dan metode reproduksi tanaman, waktu tanaman bunga (waktu bunga
mekar/tanaman berbunga), dan keadaan cuaca saat penyerbukan. Tetua dipilih sesuai dengan

persilangan yang akan dilakukan. Pemilihan bunga dalam persilangan tanaman juga penting.
Bunga yang akan berperan sebagai betina maupun jantan harus sudah mencapai tahap siap
kawin (siap dilakukan penyerbukan) pada saat yang bersamaan. Bunga betina yang akan
diserbuki harus belum terkontaminasi oleh serbuk sari yang lain (masih steril). Pada
tanaman jagung yang akan digunakan untuk persilangan, bunga betina di bungkus
menggunakan kantong kertas untuk mencegah tongkol terkontaminasi (terserbuki) oleh
serbuk sari malai lain. Begitu juga dengan malai atau bunga jantan yang belum pecah
dibungkus menggunakan kantong kertas agar nantinya ketika malai sudah siap menyerbuki,
serbuk sarinya dapat tertampung di kantong kertas tersebut. Keadaan cuaca saat
penyerbukan juga penting, apabila penyerbukan dilakukan pada saat kecepatan angin cukup
kencang maka dimungkinkan akan banyak serbuk sari yang hilang terbawa angin, sehingga
penyerbukan tidak terjadi secara maksimal.
Dr. Marsum M. Dahlan, pemuliaan jagung Badan Litbang Pertanian, mulai
melakukan penelitian jagung hibrida pada awal tahun 1980an dan penelitian diintensifikan
sejak 1987. Jagung hibrida di Indonesia mulai diteliti pada tahun 1950an. Galur diekstrak
dari varietas local dan introduksi berumur genjah berdaya hasil masih rendah tetapi hasil
hibridanya mencapai dua kali lebih tinggi dari hasil galur murninya. Pada tahun 1960an, Dr.
Subandi (pemulia jagung Badan Litbang Pertanian) mengembangkan galur dari beberapa
sumber plasma nutfah dan mengevaluasi daya gabung galur dengan tetua penguji varietas
Harapan, namun tidak dilanjutkan sampai memperoleh varietas hibrida.
Galur-galur yang daya gabungnya baik dibentuk menjadi varietas sintetik dan
menghasilkan varietas Permadi. Pada awal tahun 1980an, perusahaan swasta multinasional
mulai mengevaluasi jagung hibrida di Indonesia. Tanaman jagung mempunyai komposisi

genetik yang sangat dinamis Karena cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gengen unggul (favorable genes) pada genotype yang homozigot justru akan berakibat depresi
inbreeding yang menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang
vigor, tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru di peroleh dari tanaman yang
komposisi genetiknya heterozigot.
Jagung hibrida mendominasi 90% lahan jagung di Amerika Serikat pada tahun 1940.
Di Indonesia 50% lahan jagung ditanami jagung hibrida tahun 2010.
Penemuan kembali Hukum Pewarisan Mendel pada tahun 1900, eksperimen terhadap
seleksi atas generasi hasil persilangan dan galur murni oleh Wilhelm Johannsen (dekade
pertama abad ke-20), peletakan dasar Hukum Hardy-Weinberg (1908 dan 1909), dan
penjelasan pewarisan kuantitatif berbasis Hukum Mendel oleh Sir Ronald Fisher pada tahun
1916 memberikan banyak dasar-dasar teoretik terhadap berbagai fenomena yang telah
dikenal dalam praktik dan menjadi dasar bagi aplikasi ilmu dan teknologi dalam perbaikan
kultivar.
Perkembangan yang paling revolusioner dalam genetika dan pemuliaan tanaman
adalah ditemukannya cara perakitan varietas hibrida pada tahun 1910-an setelah serangkaian
percobaan persilangan galur murni di Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19 oleh Edward
M. East, George H. Shull dan Donald F. Jones yang memanfaatkan gejala heterosis.
Galur murni (pure lines) adalah tanaman hasil persilangan/pembuahan sendiri
(selfing) secara terus menerus dan bukan dari pembuahan dengan tanaman lain (crosing).
Pada galur murni (hampir) semua gennya adalah homosigot sehingga keturunan galur murni
akan sama dengan induknya.

Defenisi galur dan galur murni yaitu Galur muni dapat terjadi apabila perkawinan
dalam suatu galur antara dua individu menghasilkan keturunan dengan penampilan standar
yang sama dengan kedua tetuanya. Galur dapat dibentuk melalui perkawinan sekerabat
secara terus-menerus. Galur-galur akan paling cepat terbentuk apabila suatu spesis dapat
melakukan selfing (perkawinan sendiri), biasanya pada generasi ke-6 atau ke-7 setelah
selfing berulang-ulang kali.