Anda di halaman 1dari 33

Sistem Digital-1

BAHASAN 1
Pengantar
Perkembangan teknologi dalam bidang elektronika sangat pesat, bermula dari menggunakan
komponen tabung hampa, komponen diskrit seperti dioda dan transistor, sekarang sudah
menggunakan sistem digital dalam peralatan digital penyajian data atau informasi merupakan
susunan angka-angka yang dinyatakan dalam bentuk digital (rangkaian logika).
Diskrit : Pemisahan ke dalam segmen atau bagian yang berbeda. Sebuah deretan nilai yang
tidak kontinue

Dalam suatu proses Analog, pengukuran dilakukan dengan membandingkan tahap, suatu
besaran standar (refernsi) dan akan berlangsung secara kontiniu (tanpa terputus).
Sedangkan dalam proses digital, hasil pengukuran diperoleh dengan cara perhitungan secara
diskret dan hanya berlangsung dalam intervalinterval tertentu.

Kasus :
Hasil pemantauan kecepatan seorang pengendara melalui sepedometer selama beberapa saat.
Dari skala speedometer diperoleh suatu besaran standar / ref yaitu : 1 kolom : 5 km/jam.
Selama perjalanan, maka jarum sepedometer akan senantiasa berada pada posisi aktual

Sistem Digital-1
pada kecepatan yang sedang berlangsung secara kontiniu. Misalkan diperoleh data sebagai
berikut :
Bila hitungan dilakukan secara diskrit yaitu dengan kriteria :
Selang waktu perhitungan, setiap 1 detik
Setiap 5 km / jam dianggap sebagai 1 satuan diskret
Maka hasil perhitungan secara digital akan diperoleh seperti grafik digital diatas. Untuk
akurasi perhitungan digital yang lebih teliti dilakukan dengan mempersempit selang
waktunya. (Misalnya perhitungan setiap detik, detik, dan sebagainya.).
Maka akan di dapat data sebagai berikut :

Definisi
Sistem Digital adalah sistem elektronika yang setiap rangkaian penyusunnya melakukan
pengolahan sinyal diskrit.
Sistem Digital terdiri dari beberapa rangkaian digital/logika, komponen elektronika, dan
elemen gerbang logika untuk suatu tujuan pengalihan tenaga/energi.
Rangkaian elektronika
Kesatuan dari komponen-komponen elektronika baik pasif maupun aktif yang
membentuk suatu fungsi pengolahan sinyal (signal processing)
Berdasarkan sifatnya sinyal diolah, ada 2 jenis rangkaian elektronika :
Rangkaian Analog: rangkaian elektronika yang mengolah sinyal listrik kontinyu
Rangkaian Digital: rangkaian elektronika yang mengolah sinyal listrik diskrit
Rangkaian Digital/Rangkaian Logika adalah kesatuan dari komponen-komponen
elektronika pasif dan aktif yang membentuk suatu fungsi pemrosesan sinyal digital
Komponen pasif dan aktif itu membentuk elemen logika. Bentuk elemen logika
terkecil adalah Gerbang Logika (Logic Gates)
Gerbang Logika: kesatuan dari komponen elektronika pasif dan aktif yang dapat
melakukan operasi AND, OR, NOT
Perbedaan Rangkaian digital dan sistem digital :
Rangkaian Digital
Bagian-bagiannya terdiri atas beberapa gerbang logika
Outputnya merupakan fungsi pemrosesan sinyal digital
Input dan Outputnya berupa sinyal digital

Sistem Digital-1

Sistem Digital
Bagian-bagiannya terdiri atas beberapa rangkaian digital, gerbang logika & komponen
lainnya
Outputnya merupakan fungsi pengalihan tenaga
Input dan Outputnya berupa suatu tenaga/energi

Level Logika 0
Tegangan listrik 0 0,8 Volt
Titik potensial referensi 0 (ground)
Dioda dengan reverse bias
Transistor dalam keadaan mati (cut off)
Saklar dalam keadaan terbuka
Lampu atau LED dalam keadaan padam
Level Logika 1
Tegangan listrik 2 5 Volt
Titik potensial catu daya (+Vcc)
Dioda dengan forward bias
Transistor dalam keadaan jenuh (saturated)
Saklar dalam keadaan tertutup
Lampu atau LED dalam keadaan menyala
Kelebihan :
Sistem digital secara umum lebih mudah dirancang
Penyimpanan informasi lebih mudah
Ketelitian lebih besar
Operasi dapat diprogram
Untai digital lebih kebal terhadap derau (noise)
Lebih banyak untai digital dapat dikemas dalam keping IC
Keuntungan sistem digital vs sistem analog
Kemampuan mereproduksi sinyal yang lebih baik dan akurat
Mempunyai reliabilitas yang lebih baik (noise lebih rendah akibat immunitas yang lebih
baik)
Mudah di desain tidak, memerlukan kemampuan matematika khusus untuk
memvisualisasikan sifat-sifat rangkaian digital sederhana
Fleksibelitas dan fungsionalitas yang lebih baik
Kemampuan pemrograman yang lebih mudah
Lebih cepat (debug IC complete complex digital dapat memproduksi sebuah keluaran
lebih kecil dari 2 nano detik)
Ekonomis jika dilihat dari segi biaya IC yang akan menjadi rendah akibat pengulangan
dan produksi massal dari integrasi jutaan elemen logika digital pada sebuah chip miniatur
tunggal
Bentuk Gelombang Sinyal Digital

Sistem Digital-1

Sistem digital hanya mengenal dua kuantitas untuk mewakili dua kondisi yang ada.
Kuantitas tersebut disebut dengan logika.
Logika 1 mewakili kondisi hidup dan logika 0 untuk kondisi mati. Sehingga bentuk
gelombang pada sistem digital hanya mengenal 2 arah, yaitu logika 1 dan logika 0

Sumber : Missa Lamsani, Bahan Ajar Sistem Digital, Universitas Gunadarma

Sistem Digital-1

BAHASAN 2
Bilangan Digital :
Bilangan decimal :
Bilangan yang memiliki basis 10 (r=10 atau X10),
Yaitu : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
Bilangan biner :
Bilangan yang memiliki basis 2 (r=2 atau X2),
Yaitu : 0 dan 1
Bilangan oktal :
Bilangan yang memiliki basis 8 (r=8 atau X7),
Yaitu : 0, 1,2,3,4,5,6,7
Bilangan hexadecimal :
Bilangan yang memiliki basis 16 (r=16 atau X16),
Yaitu : 0, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F
Convert : merubah satu bilangan ke bilangan yang lain.
Catatan : banyak cara yang bisa digunakan untuk merubah dari satu bilangan ke bilangan
yang lain.
a. Desimal ke Biner
1010 = ........ 2
cara :
10
5 sisa 0
2
5
2 sisa 1
2
2
1 sisa 0
2
Maka hasilnya = 10102
Pembuktian Biner ke desimal
Cara 1
(1 x 24-1)+ (0 x 23-1)+ (1 x 22-1)+ (0 x 21-1) = 8 + 0 + 2 + 0 = 1010
3410 = ........ 2
cara :
34
17 sisa0
2
17
8 sisa 1
2

Sistem Digital-1
8
4 s isa 0
2
4
2 sisa 0
2
2
1 sisa 0
2
Maka hasilnya = 1000102
Pembuktian Biner ke desimal
(1 x 26-1) + (1 x 25-1) + (0 x 24-1) + (0 x 23-1) + (1 x 22-1) + (0 x 21-1) = 32 + 0 + 0 + 0 + 2
+ 0 = 3410
Biner ke Heksa
11010111011000

= 11
=3

0101
5

1101
D

1000
8 16

= 35D816
Oktal ke biner
2753318

=2
7
5
3
= 010 111
101
011
= 0101111010110110012

b. desimal ke oktal
4610 = ........ 8
cara :
46
5 sisa 6
8
Maka hasilnya = 5610
Pembuktian oktal ke desimal
Cara 1
(5 x 82-1) + (6 x 81-1) = 40 + 6 = 4610
Cara 2
4 * 8 = 40
40 + 6= 4610
16710 = ........ 8
cara :
167
20 sisa 7
8

3
011

1
0012

Sistem Digital-1
20
2 sisa 4
8
Maka hasilnya = 2478
Pembuktian oktal ke desimal
Cara 1
(2 x 83-1) + (4 x 82-1) + (7 x 81-1) = 128 + 32 + 7 = 16710
cara 2
2 * 8 = 16
16 + 4 = 20
20 * 8 = 160
160 + 7 = 167
c. desimal ke heksa
33410 = ........ 16
cara :
334
20 sisa14=E
16
20
1 sisa 4
16
Maka hasilnya = 14E16
Pembuktian heksa ke desimal
Cara 1
(1 x 163-1) + (4 x 162-1) + (14 x 161-1) = 256 + 64 + 14 = 33410
Cara 2
1 * 16 = 16
16 + 4 = 51
20 * 16 = 320
320 + 14 = 33410
-

67810 = ........ 16
cara :
678
42 sisa 6
16
42
2 sisa 10= A
16
Maka hasilnya =2A616
Pembuktian heksa ke desimal

Sistem Digital-1
Cara 1
(2 x 163-1) + (10 x 162-1) + (6 x 161-1) = 512 + 160 + 6 = 67810
Cara 2
2 * 16 = 32
32 + 10 = 42
42 * 16 = 672
320 + 6 = 67810
LSB ( Least Significant Bit ) disebut sebagai paling kanan Bit. Dikarenakan penulisan
angka kurang significant lebih lanjut ke kanan. Misalnya pada byte 00011001,
maka bit LSB-nya adalah bita yang terletak di paling kanan yaitu 1.
MSB ( Most Significant Bit ) disebut sebagai paling kiri Bit, karena penulisan angka
yang lebih significant lebih jauh ke kiri. Misalnya pada byte 00011001, maka bit
MSB-nya adalah bita yang terletak di paling kiri yaitu 0.
Pecahan
Misalkan : 0.1010112
Mencari pembagi sebagai pembilang
1010112 =32+0+8+0+2+1 = 43
Mencari penyebut dari pangkat jumlah angka yaitu 26 = 64
Sehingga didapat :
43/64 = 0.67187510
Aritmatika Penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian :
Aturan dasar penjumlahan biner :
Penjumlahan dapat dilakukan dengan aritmatika biasa atau logika Boolean (fungsi exclusive
OR dan AND)
0+0=0
0+1=1
1+0=1
1 + 1 = 0, simpan 1
Contoh :
Penjumlahan dengan aritmatika dilakukan seperti penjumlahan pada desimal, jika ada carry
maka angka ini ditambahkan dengan angka sebelah kirinya
225 -> 11 11 1 0 0 01 01 1
43 ->
1 0 1 0 1 1 (+)
268 -> 1 0 0 0 0 1 1 0 0

Sistem Digital-1
Aturan dasar pengurangan biner :
0-0=0
1-0=1
1-1=0
0 - 1 = 1, pinjam 1
Contoh :
2
1 0
1
1 (-)
1
1
17
10001
7
1 1 1 (-)
10
1010
39
11
28

100111
1 0 1 1 (-)
11100

Pecahan - Decimal ke biner Untuk konversi pecahan dari basis 10 ke basis lain dilakukan dengan cara :
Misalkan : 0.82812510 ke basis 2
0.828125 x 2 = 1.656250
0.656250 x 2 = 1.312500
0.312500 x 2 = 0.625000
0.625000 x 2 = 1.250000
0.250000 x 2 = 0.500000
0.500000 x 2 = 1.000000
Hasilnya dibaca sebagai hasil nilai overlownya dari atas ke bawah yaitu : 0.1101012
Pecahan - biner ke decimal Konversi pada pecahan sama dengan pada bilangan bulat, hanya saja pangkat dari basisnya
akan meningkat ke kanan
Misalkan : 0.1010112
= 1 x 2-1 + 0 x 2-2+ 1 x 2-3+ 0 x 2-4+ 1 x 2-5+ 1 x 2-6
= 0.5 + 0 + 0.125 + 0 + 0.03125+0.015625
= 0.67187510
Aturan dasar perkalian :
Perkalian dapat dilakukan dengan 2 cara :
- Perkalian aritmatika biasa
- Menggunakan logika boolean
Perkalian dengan cara aritmaika dilakukan seperti pada perkalian desimal. Disini hasil
perkalian diletakkan sesuai posisi pengali.
26
7

11010
1 1 1 (x)

Sistem Digital-1

182

11010
11010
11010
(+)
10110110

Misalkan : 31 x 9 = 279
31
11111
9
1 0 0 1 (x)
11111
00000
00000
11111
(+)
279 1 0 0 0 1 0 1 1 1
Pembagian

Sistem Digital-1

BAHASAN 3
Penggunaan Bilangan Biner
Bilangan biner digunakan dalam komputer yang biasa tidak terlihat oleh pengguna
Namun kemampuan untuk membaca bilangan biner sangat menguntungkan
Karena komputer menyimpan baik instruksi maupun data dalam bentuk bilangan biner
Format Data
Bilangan biner adalah sistem yang dipilih baik untuk penyimpanan data maupun untuk
pemrosesan suatu operasi
Manusia menggunakan bahasa citra dan suara dalam berkomunikasi dan menggunakan
alfanumerik dan simbol yang mewakili bahasa
Komunikasi yang dikenal manusia misalnya melalui :
o Foto, tabel, diagam
o Hitam, putih, warna
o Gambar bergerak maupun tidak bergerak
o Suara, musik
o Tertulis melalui huruf dan angka
Data Karakter Alfanumerik
Data yang digunakan dalam komputer disajikan dalam bentuk yang bisa dibaca oleh
manusia

Sistem Digital-1

3 macam kode alfanumerik :


Kode untuk masing-masing simbol dinyatakan dalam bilangan desimal, dengan angka yang
most-significant digit terdapat diatas dan least significant digit ada di samping kiri
1. Unicode : Keterbatasan tersebut diatasi dengan dikeluarkannya kode inernasional baru
yang mempunyai kode 16 bit yaitu UNICODE

Sistem Digital-1
2. ASCII (American Standard Code for Information Interchange) : Kode standar ASCII
adalah kode 7 bit sehingga hanya ada 128 simbol dalam tabel.

3. EBCDIC (Extended Bunary Coded Decimal Interchange Code), dibuat oleh IBM : Kode
EBCDIC merupakan kode 8 bit sehingga memiliki 256 simbol

Sistem Digital-1

Tipe Data
5 tipe data dasar :
Boolean : variable / konstanta dengan 2 nilai yaitu true atau false
Char : tipe data karekter. String adalah array dari karakter
Tipe data terbilang : tipe data yang dibuat oleh pengguna dimana nilai dimasukkan
dalam definisi
Interger : semua bilangan baik positif maupun negatif
Real : bilangan yang mempunyai bilangan desimal atau bilangan yang memiliki
kemampuan untuk memproses dan menyimpan lebih besar daripada bilangan interger
Penyajian Data Integer dan Bilangan Floating Point
Komputer menyimpan semua data dan instruksi program dalam bentuk biner tanpa ada
ketentuan khusus yang dibuat untuk penyimpanan tanda / decimal point yang berhubungan
dengan bilangan, kecuali ketika bilangan itu disimpan sebagai string yang tidak bisa
digunakan untuk perhitungan.

Bilangan biner bertanda


Di dalam matematika, bilangan negatif biasanya dinyatakan dengan cara menambahkan tanda
di depan bilangan tersebut. Namun di dalam komputer, bilangan hanya dapat dinyatakan

Sistem Digital-1
sebagai kode biner 0 dan 1 tanpa ada simbol yang lainnya, sehingga diperlukan suatu cara
untuk mengkodekan tanda minus.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyatakan bilangan bertanda di sistem
bilangan biner adalah: sign-and-magnitude, komplemen satu (ones' complement), dan
komplemen dua (two's complement).
Komputer modern pada umumnya menggunakan metode komplemen dua, namun metode
lain juga digunakan pada situasi tertentu.

Metode Sign-and-magnitude
8 bit signed magnitude
Binary
Signed
00000000
+0
00000001
1
...
...
01111111
127
10000000
-0
10000001
-1
...
...
11111111
-127

Unsigned
0
1
...
127
128
129
...
255

Untuk menyatakan tanda bilangan (positif atau negatif), dapat digunakan salah satu bit yang
ada untuk menyatakan tanda tersebut. Bit tersebut (biasanya bit yang pertama atau most
significant bit) diset bernilai 0 untuk bilangan positif, dan 1 untuk bilangan negatif. Bit-bit
yang lain menyatakan magnitude atau nilai mutlak dari bilangan. Jadi di dalam satu byte (8bit), satu bit digunakan sebagai tanda, dan 7 bit sisanya sebagai magnitude yang nilainya bisa
berisi mulai dari 0000000 (0) sampai 1111111 (127). Cara ini dapat digunakan untuk
merepresentasikan bilangan dari 12710 sampai +12710. Konsekuensi dari metode ini adalah:
akan ada dua cara untuk menyatakan nol, yaitu 00000000 (0) dan 10000000 ([-0|0]).
Komputer generasi awal (misalnya IBM 7090) menggunakan metode ini. Sign-andmagnitude adalah cara yang banyak dipakai untuk merepresentasikan significand di dalam
bilangan floating point.

Komplemen satu (Ones' complement)


8 bit ones' complement
Binary
Ones' complement Unsigned
value
interpretation
interpretation
00000000 +0
0
00000001 1
1
...
...
...
01111101 125
125
01111110 126
126
01111111 127
127

Sistem Digital-1
10000000
10000001
10000010
...
11111110
11111111

-127
-126
-125
...
-1
-0

128
129
130
...
254
255

Sistem yang dikenal dengan nama komplemen satu (ones' complement) juga dapat
digunakan untuk merepresentasikan bilangan negatif. Bentuk komplemen satu untuk bilangan
biner negatif diperoleh dengan cara membalik seluruh bit dari bilangan biner positifnya. Bit
yang bernilai 0 dibalik menjadi 1, dan bit yang bernilai 1 dibalik menjadi 0. Seperti pada
metode sign-and-magnitude, di metode komplemen satu ini ada dua cara merepresentasikan
bilangan nol, yaitu : 00000000 (+0) dan 11111111 ([-0|0]).
Contoh, bentuk komplemen satu dari 00101011 (43) adalah 11010100 (43). Jangkauan dari
bilangan bertanda dengan komplemen satu adalah -(2N-1-1) sampai (2N-1-1) dan +/-0. Untuk
sistem 8-bit (byte) jangkauannya adalah -12710 sampai +12710 dengan nol bisa berbentuk
00000000 (+0) atau 11111111 (-0).
Metode komplemen satu ini banyak dipakai di komputer generasi lama, seperti PDP-1, CDC
160A dan UNIVAC 1100/2200 series.

Komplemen dua (Two's complement)


8 bit two's complement
Binary
Two's complement Unsigned
value
interpretation
interpretation
00000000 0
0
00000001 1
1
...
...
...
01111110 126
126
01111111 127
127
10000000 -128
128
10000001 -127
129
10000010 -126
130
...
...
...
11111110 -2
254
11111111 -1
255
Sumber :

Sistem Bilangan Biner Tak Bertanda dan Bertanda


Terdapat dua sistem bilangan biner, yaitu bilangan biner tak bertanda dan bilangan biner
bertanda. Pada sistem bilangan biner tak bertanda, hanya dikenal bilangan biner posisif dan

Sistem Digital-1
tidak diijinkan adanya bilangan biner negatif. Di sini semua bit digunakan untuk
merepresentasikan suatu nilai.
Contoh:

Pada bilangan biner tak bertanda di atas, nilai bilangan dihitung dari A3 A0. Sehingga,

Pada bilangan biner bertanda, bit paling kiri menyatakan tanda, sehingga nilai bilangan
dihitung dari A2 ... A0
.
Pada sistem ini, bit paling kiri menyatakan tanda negatif atau positif nilai yang diwakilinya.
Tanda positif diwakili oleh bit 0 dan tanda negatif diwakili oleh bit 1.Sebagai contoh, suatu
memori dapat menampung 6 bit bilangan biner. Memoritersebut mengunakan sistem bilangan
biner bertanda. Maka dari keenam bit yang ada,bit paling kiri, yaitu A6, digunakan sebagai
penanda bilangan dan dinamakan bit tanda (sign bit), sedangkan bit-bit yang lain, yaitu bit
A5 ... A0 mewakili suatu nilai.

Bilangan ini merupakan bilangan biner positif karena A6 = 0, dengan nilai 110100 bin = +52
des.

Bilangan ini adalah negatif karena A6 = 1. Nilai bilangan yang diwakili adalah 110100 bin =
52 des, sehingga bilangan yang diwakili adalah -52.
Pada sistem bilangan biner bertanda, karena bit paling kiri merupakan bit tanda maka MSB
terletak di sebelah kanan bit tanda.
a) Bilangan Biner Komplemen Satu

Sistem Digital-1
Terdapat dua cara untuk mengubah suatu bilangan positif ke bilangan negatif, yaitu
menggunakan sistem bilangan biner komplemen satu dan sistem bilangan biner komplemen
dua. Cara pertama, merupakan cara yang paling mudah ditempuh. Dengan cara ini, untuk
mengubah bilangan positif ke negatif cukup dilakukan dengan mengubah bit 0 ke 1 dan bit 1
ke 0 pada setiap bit suatu bilangan biner.
Sebagai contoh, 101101 merupakan bilangan biner dengan nilai 45. Maka -45 sama dengan
010010.

Jika P merupakan suatu bilangan positif, bilangan komplemen satu n bit P juga dapat
diperoleh dengan mengurangkan P dari 2n 1. Atau, bilangan komplemen satunya menjadi
(2n 1) P. Contohnya adalah jika P = 45,

Jika -P (Sistem bilangan komplemen satu jarang digunakan karena tidak memenuhi satu
kaedah matematis, yaitu jika suatu bilangan dijumlahkan dengan negatifnya, maka akan
dihasilkan bilangan nol.

b)
Bilangan
Biner
Komplemen
Dua
Pada sistem bilangan komplemen dua, penegatifan suatu bilangan dilakukan dengan
mengubah bit 0 ke 1 dan bit 1 ke 0 pada setiap bit suatu bilangan biner, kemudian
menambahkannya dengan satu. Dengan kata lain, bilangan biner komplemen dua didapatkan
dari bilangan biner komplemen satu ditambah satu.
Komplemen
dua
=
komplemen
satu
+
1
Contoh, 101101 merupakan bilangan biner dengan nilai 45. Maka -45 sama dengan 010011.

Sistem Digital-1

Sebaliknya, pengubahan bilangan biner negatif menjadi bilangan biner positif dilakukan
dengan mengurangi bilangan tersebut dengan satu kemudian mengubah bit 0 ke 1 dan bit 1 ke
0 pada setiap bitnya.
Contoh:

Jika P merupakan suatu bilangan positif, bilangan komplemen dua n bit P juga dapat
diperoleh dengan mengurangkan P dari 2n
. Atau, bilangan komplemen duanya menjadi 2n P. Contohnya adalah jika P = 45,

Sistem bilangan biner komplemen dua banyak digunakan dalam sistem digital dan komputer
karena memenuhi kaedah matematis, yaitu jika suatu bilangan dijumlahkan dengan
negatifnya, maka akan dihasilkan bilangan nol.

Pada penjumlahan tersebut, bit 1 paling depan merupakaan bit bawaan dan tidak digunakan.
Jadi 101101 + 010011 = 000000, sehingga 45 + (-)45 = 0.
Pada suatu bilangan biner komlemen dua, harus diperhatikan bit tandanya. Jika bit tanda
sama dengan 0, maka bit sesudahnya merupakan bentuk bilangan biner asli. Namun jika bit
tanda sama dengan 1, maka bit sesudahnya merupakan bentuk bilangan biner komplemen
duanya.

Sistem Digital-1

c) Format Bilangan Biner


Bilangan biner biasanya diformat dengan panjang bit tertentu. Panjang bit yang biasa
digunakan adalah 2, 4, 8, 16 ... dan seterusnya, atau menurut aturan 2n dengan n bilangan
bulat positif. Namun tetap dimungkinkan bilangan biner dengan
format di luar ketentuan tersebut demi kepraktisan atau tujuan khusus.
1. Pengubahan format bilangan biner komplemen dua dari panjang n-bit menjadi m-bit
dengan n
Contoh:

2. Pengubahan format bilangan biner komplemen dua negatif dilakukan dengan


menambahkan bit 1 di depannya.
Contoh:

Sumber : http://digispn.blogspot.com/p/sistem-bilangan.html
Konversi biner ke kode Gray
Kode gray biasanya dipakai pada mechanical encoder. Misalnya telegraf.
Konversi biner ke kode gray, terdapat beberapa langkah :
a. Tulis kebawah bilangan biner
b. MSB bilangan biner adalah MSB kode gray
c. Jumlahkan (dengan menggunakan modulo 2) bit pertama bilangan biner dengan bit
kedua, hasilnya adalah bit kedua kode gray
d. Ulangi langkah c untuk bit-bit selanjutnya
Konversi biner ke kode Gray
Konversi dari Biner ke Grey code dapat dilakukan dengan cara menambahkan angka paling
depan ke belakang.
contoh 1 : konversikan 0010(2) =............(Grey code)
catatan :
0 = angka pertama
0 = angka ke-dua
1 = angka ke-tiga
0 = angka ke-empat
angka pertama
angka ke-dua
angka ke-tiga

= 0 ----------------------------------------------------> = 0
= 0 + angka pertama yaitu 0 hasilnya = 0
= 1 + angka ke-dua yaitu 0 hasilnya = 1

Sistem Digital-1
angka ke-empat = 0 + angka ke-tiga yaitu 1 hasilnya = 1
hasil konversi 0010(2) = 0011(Grey code)
contoh 2 : konversikan 1111(2) =............(Grey code)
catatan :
1 = angka pertama
1 = angka ke-dua
1 = angka ke-tiga
1 = angka ke-empat
angka pertama
angka ke-dua
angka ke-tiga
angka ke-empat

= 1 ----------------------------------------------------> = 1
= 1 + angka pertama yaitu 1 hasilnya = 0
= 1 + angka ke-dua yaitu 1 hasilnya = 0
= 1 + angka ke-tiga yaitu 1 hasilnya = 0

hasil konversi 1111(2) = 1000(Grey code)


Grey code (Kode kelabu)-Biner :
Konversi dari Biner ke Grey code dapat dilakukan dengan cara menambahkan angka paling
depan ke belakang, setelah mendapat hasilnya ditambahkan ke belakang lagi.
contoh 1 : konversikan 1000(Grey code) =............(2)
catatan :
1 = angka pertama
0 = angka ke-dua
0 = angka ke-tiga
0 = angka ke-empat
angka pertama = 1 + angka ke-dua yaitu 0 hasilnya = 1
hasil penambahan angka ke-dua = 1 + angka ke-tiga yaitu 0 hasilnya = 1
hasil penambahan angka ke-tiga = 1 + angka ke-empat yaitu 0 hasilnya = 1
hasil penambahan angka ke-empat = 1
hasil konversi 1000(Grey code) = 1111(2)
contoh 2 : konversikan 0011(Grey code) =..............(2)
0 = angka pertama
0 = angka ke-dua
1 = angka ke-tiga
1 = angka ke-empat
angka pertama = 0 + angka ke-dua yaitu 0 hasilnya = 0
hasil penambahan angka ke-dua = 0 + angka ke-tiga yaitu 1 hasilnya = 1
hasil penambahan angka ke-tiga = 1 + angka ke-empat yaitu 1 hasilnya = 0
hasil penambahan angka ke-empat = 0
hasil konversi 0011(Gray code) = 0010(2)

Sistem Digital-1
Terdapat beberapa langkah untuk mengubah kode gray menjadi bilangan biner
a. Tulis kebawah bilangan biner
b. MSB kode gray adalah MSB bilangan biner
c. Jumlahkan (dengan menggunakan modulo2) bit pertama kode gray dengan bit kedua
bilangan biner, hasilnya adalah bit kedua bilangan biner
d. Ulangi langkah c untuk bit-bit selanjutnya
Kode Excess-3
Kode excess-3 didapat dengan menjumlahkan nilai decimal dengan 3, selanjutnya di ubah ke
dalam bilangan biner
decimal biner excess-3
0
0000 0011
1
0001 0100
2
0010 0101
3
0011 0110
4
0100 0111
5
0101 1000
6
0110 1001
7
0111 1010
8
1000 1011
9
1001 1100

BAHASAN 4
MATERI

Sistem Digital-1
Gerbang-gerbang sistem digital sistem logika pada gerbang :
Inverter

Buffer

AND

NAND

OR

NOR

EXNOR
Rangkaian integrasi digital dan aplikasi rangkaian sederhana
Pengantar
Gerbang-gerbang digital / gerbang logika adalah rangkaian elektronika yang digunakan
untuk mengaplikasikan persamaan logika dasar seperti persamaan Boolean
Gerbang logika merupakan blok yang paling dasar dari rangkaian kombinasional
Gerbang logika dapat dipresentasikan keadaan dari bilangan biner
Gerbang Logika
Gerbang logika atau gerbang logik adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika
Boolean yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran
logik. Gerbang logika terutama diimplementasikan secara elektronis menggunakan dioda atau
transistor, akan tetapi dapat pula dibangun menggunakan susunan komponen-komponen yang
memanfaatkan sifat-sifat elektromagnetik (relay), cairan, optik dan bahkan mekanik
Gerbang Logika
Sistem digital menggunakan kombinasi biner benar dan salah untuk menyerupai cara ketika
menyelesaikan masalah sehingga disebut logika kombinasional.
Dengan sistem digital dapat digunakan langkah-langkah berfikir logis / keputusan masa lalu
(memori) untuk menyelesaikan masalah sehingga biasa disebut logika-logika sekuensial
(terurut)
Logika Digital dapat dipresentasikan dengan beberapa cara :
Tabel kebenaran (truth table) menyediakan suatu daftar setiap kombinasi yang mungkin dari
masukan-masukan biner pada sebuah rangkaian digital dan keluaran-keluaran yang terkait
Ekspresi boolean mengekspresikan logika pada sebuah format fungsional
Diagram gerbang logika
Diagram penempatan bagian
Gerbang Logika Dasar
Gerbang AND
Gerbang OR
Gerbang NOT
Gerbang yang diturunkan dari gerbang dasar
Gerbang NAND
Gerbang NOR
Gerbang XOR / EXOR

Sistem Digital-1
Gerbang XNOR / EXNOR
Logika Positif dan Negatif
Bilangan biner dinyatakan dengan 2 keadaan, logika 0 dan logika 1
Logika ini dalam sistem peralatan digital mengacu pada 2 level tegangan / arus
Bila lebih banyak positif dari 2 tegangan / arus = 1
Bila lebih sedikit positif dari 2 tegangan / arus = 0
Atau sebaliknya
Contoh, 2 tegangan berlevel 0V dan +5V, maka dalam sistem logika positif, 0V = logika 0,
dan +5V = logika 1
Tabel keberan
Merupakan suatu tabel yang mencantumkan semua kemungkinan input biner dan output yang
berhubungan dari sistem logika
Bila variabel input 1, maka ada 2 kemungkinan input, 0 atau 1
Bila variabel input 2, maka ada 4 kemungkinan input, 00 atau 01 atau 10 atau 11
Bila variabel input n, maka ada 2n kemungkinan kombinasi input
Gerbang AND

Aturan dasar 1

Sistem Digital-1

Aturan dasar 2

Gerbang OR

Sistem Digital-1

Aturan Dasar
A+0=1
A+1=1
A+A=A
A + A = 1

Gerbang NOT

Sistem Digital-1

Aturan Dasar
0 = 1
1 = 0
Bila A = 1, maka A = 0
Bila A = 0, maka A = 1
A = A
Gerbang NOT-AND (NAND)

Sistem Digital-1

Gerbang NOT-OR (NOR)

Gerbang XOR (antivalen Ekslusif OR)

Sistem Digital-1
Gerbang XNOR (Ekuivalen, NOT-Ekslusif OR) XNOR

Contoh 1.
Bagaimana cara mengaplikasikan gerbang OR, 4 masukan dengan menggunakan gerbang OR
2 masukan?

Contoh 2.
Gambarkan bentuk pulsa keluaran pada gelombang OR untuk pulsa msukan seperti gambar
berikut ini :

Sistem Digital-1
Contoh 3 .
Gerbang NAND 4 input menggunakan gerbang AND 2 input dan 1 inverter
Gerbang NAND 3 input menggunakan gerbang NAND 2 input

Contoh 4.
Rangkaian NOT menggunakan 2 input gerbang NAND
Rangkaian NOT menggunakan 2 input gerbang NOR
Rangkaian NOT menggunakan 2 input gerbang XOR

Rangkaian Terintegrasi
Rangkaian terintegrasi adalah rangkaian aplikasi yang terbentuk dari berbagai macam
gerbang logika dan dapat merupakan kombinasi dari satu jenis gerbang logika atau lebih.
Penyederhanaan rangkaian terintegrasi dapat menggunakan aljabar boole atau peta
karnaugh
Rangkaian Terintegrasi -contohHalf Adder / penjumlahan paruh adalah untai logika yang keluarannya merupakan jumlah
dari dua bit bilangan biner

Sistem Digital-1
Half Adder / penjumlahan paruh
AB + AB = A (+) B
C = AB
S = Sum,
hasil jumlah
C = Carry,
sisa hasil jumlah

A
0
0
1
1

Tabel Kebenaran Half Adder


Input
Output
B
S
0
0
1
1
0
1
1
0

C
0
0
0
1

Full Adder / penjumlahan penuh adalah untai logika yang keluarannya merupakan jumlah
dari tiga bit bilangan biner

Full Adder / penjumlahan penuh


S = A (+) B (+) C
C = AB + AC + BC
S = Sum, hasil jumlah
C = Carry, sisa hasil jumlah

Sistem Digital-1
Tabel Kebenaran Full Adder
Input
B
0
0
1
1
0
0
1
1

A
0
0
0
0
1
1
1
1

Output
C
0
1
0
1
0
1
0
1

C
0
0
0
1
0
1
1
1

S
0
1
1
0
1
0
0
1

Rangkaian Full adder dapat juga dibangun dari 2 buah rangkaian half adder

Kombinasi Rangkaian Logika


A.B + B.C = Y
Masukan
A
0
0
0
0
1
1
1
1

Keluaran
B
0
0
1
1
0
0
1
1

C
0
1
0
1
0
1
0
1

Y
0
0
0
1
0
0
1
1

Sistem Digital-1