Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat ini penggunaan motor bakar cukup tinggi, dimana berkaitan
erat denagn sistem pendinginan, pelumasan dan sistem transmisi. Mengenai
sistem pelumasan berkaitan erat dengan minyak pelumas atau oli. Tidak
jarang kita jumpai di kemasan OLI tertulis SAE 30W50W. Kode atau
tulisan tersebut merupakan nilai kekentalan oli ketika normal dan pada
keadaan panas. Namun pengaruh kekentalan pelumasan serta sistem lainnya
masih banyak tidak diketahui oleh masyarakat luar.
Oleh karena itu, rasanya praktikum dengan judul sistem pendinginan,
pelumasan dan transmisi pada motor bakar dalam ini sangat perlu untuk
dilaksanakan, selain agar praktikan mengetahui fungsi dan bagian-bagian
sistem tersebut juga dapat menguji kekentalan suatu minyak pelumas yang
beredar dipasaran.

B. Tujuan
1. Mempelajari sistem pendinginan, pelumasan dan perbandingan sistem
yang ada.
2. Mempelajari sistem pendinginan, pelumasan dan cara kerja bagianbagiannya.
3. Mengetahui cara mengukur kekentalan minyak pelumas dengan Engler
viscosimeter.
4. Mempelajari sistem penerusan daya pada motor bakar.
5. Mempelajari mekanisme kerja koppeling.
6. Mempelajari mekanisme kerja gigi transmisi (persnelling).
7. Mempelajari mekanisme kerja gigi diferensial (gardan).

C. Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan praktikum sistem
pendinginan, pelumasan dan transmisi ini yaitu praktikan mampu memahami
jenis, fungsi bahkan mekanisme kerja dari sistem pendinginan, pelumasan
dan transmisi tersebut serta mampu menguji kekentalan suatu minyak
pelumas yang beredar dipasaran.

BAB II
DASAR TEORI

Motor bakar dalam bekerja membakar bahan bakar dengan campuran


udara di ruang bakar. Proses ini menghasikan kerja dan panas. Panas berlebih
yang ditimbulkan dari proses ini dapat mengganggu kinerja mesin. Oleh karena
itu motor bakar atau mesin memerlukan sebuah sistem pendingin untuk mencegah
panas berlebih yang mungkin timbul. Selain dari proses pembakaran, panas juga
ditimbulkan oleh gesekan antara komponen-komponen mesin yang bergerak. Hal
ini sesuai dengan hukum fisika, dimana energi gerak pada benda yang bergesekan
sebagian akan diubah menjadi panas (Carey, 1968).
Untuk mendinginkan mesin diperlukan sistem pendinginan. Sistem
pendingin mesin dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Pendingin udara. Sistem ini menggunakan sirip-sirip pendingin, shrouds
atau cover, dan kadang dilengkapi dengan kipas untuk membuang panas
yang dihasilkan proses pembakaran bahan bakar.
2. Pendingin cair umumnya menggunakan air yang disirkulasikan pada water
jacket (mantel air) yang berada disekeliling bagian yang didinginkan,
seperti silinder, katup, blok mesin, dan bagian penting mesin lainnya.
(Jacobs dan Harrel,1983)
Komponen utama dalam sistem ini adalah :
1. Radiator berfungsi untuk melepaskan panas.
2. Saluran berupa pipa (tube) atau selang karet (hose).
3. Pompa berfungsi untuk sirkulasi air dalam sistem.
4. Thermostat berfungsi untuk menutup atau membuka jalur sirkulasi.
5. Kipas berfungsi untuk membantu pelepasan panas pada radiator.
(http://id.wikipedia.org)

Adanya gesekan antara komponen mesin yang bergerak mengharuskan


mesin memiliki sistem pelumasan. Fungsi utama sistem pelumasan adalah
mereduksi gesekan antara komponen yang bergerak pada mesin. Pada umumnya
sistem pelumasan menggunakan oli, selain itu pada sistem pelumasan oli akan

menyerap panas dan meneruskan ke permukaan blok mesin, membersihkan


komponen mesin yang bergerak dari korosi dan karat. (Crovse,1980)
Dalam sistem pelumasan, minyak pelumas memegang peran yang sangat
penting. Minyak pelumas adalah suatu cairan yang dapat menetralisir,
menstabilkan panas yang berlebihan, minyak pelumas adalah suatu cairan yang
berfungsi sebagai media penghantar (penyerap) panas, juga sebagai pelicin atau
pelancar gerak (Hamadun, 2010).
Minyak pelumas pada sistem pelumasan sepeda motor berfungsi sebagai:
1. Mengurangi gesekan.
2. Menyerap panas.
3. Mengurangi keausan.
4. Menambah kerapatan antara piston dan dinding silinder.
5. Mencegah karat.
6. Membersihkan kotoran-kotoran (Hamadun, 2010).
Adapun prinsip kerja yang dimiliki sistem pelumasan yaitu Oli diangkat
dari bak oli (carter) oleh suatu sedotan, dari pompa oli yang digerakkan oleh
perputaran roda gerigi yang dikoperlkan dengan perputaran poros engkol, melalui
pipa hisap. Dari pompa oli disalurkan melalui pipa pembagi kemudian dialirkan
ke suatu media pendinginan yang berupa pipa penunjang melingkar satu setengah
satu setengah lingkar dengan dinding bersirip untuk memperluas permukaan pipa
sehingga

proses

pendinginan lebih

lancar

dari udara

sekitarnya

atau

berupa radiator oli atau tanpa kedua sistem pendinginan tersebut, tergantung dari
kapasitas diesel (Hamadun, 2010).
Nilai SAE (The Society of Automotive Engineers) merupakan indicator
kekentalan minyak pelumas. Semakin besar angka SAE-nya berarti semakin
kental. semakin tinggi kekentalan atau viskositas oli, maka koefisien gesek yang
direduksi akan semakin besar (Crovse, 1980).
Kekentalan minyak pelumas tersebut makin lama makin berkurang
sehingga daya lumasnya pun menurun. Panas dan proses pembakaran sangat
berpengaruh terhadap kualitas minyak pelumas. Sisa pembakaran seperti H2O
yang mengembun masuk kedalam bak minyak pelumas dan bereaksi akhirnya

menghasilkan lumpur yang merusak kualitas minyak pelumas. Disamping itu


karbon yang tidak terbakar akan bercampur dengan minyak pelumas dan
mengendap menjadi kerak (Burtanto, 2010).
Sistem transmisi merupakan salah satu sistem utama dalam motor bakar.
Sistem penerusan daya berfungsi untuk menyalurkan daya yang dihasilkan oleh
mesin ke suatu elemen yang siap digunakan sebagai sumber tenaga mesin yang
lain (Anonim, 2010).
Sistem penerusan daya juga berfungsi untuk konversi torsi dan kecepatan
(putaran) dari mesin menjadi torsi dan kecepatan yang berbeda-beda untuk
diteruskan ke penggerak akhir. Konversi ini mengubah kecepatan putar yang
tinggi menjadi lebih rendah tetapi lebih bertenaga atau sebaliknya.(Anonim,2010)
Cara kerja gigi differensial adalah sebagai berikut:
1. Pada saat kendaraan bergerak lurus
Selama kendaraan berjalan lurus, poros roda-roda belakang akan
diputar oleh drive pinion melalui ring gear differential case, roda-roda gigi
differential pinion Shaft, roda-roda gigi differential pinion,gigi side gear tidak
berputar tetap terbawa kedalam putaran ring gear. dengan demikian putaran
pada roda kiri dan kanan sama.
2. Pada saat membelok.
Pada saat kendaraan membelok ke kiri tahanan roda kiri lebih besar dari
pada roda kanan. Apabila differensial case berputar bersama ring gear maka
pinion akan berputar pada porosnya dan juga pergerak mengelilingi side gear
sebelah kiri, sehingga putaran side gear sebelah kanan bertambah, yang mana
jumlah putaran side gear satunya adalah dua kali putaran ring gear. Hal ini
dapat dikatakan bahwa putaran rata-rata kedua roda gigi adalah sebanding
dengan putaran ring gear (Anonim,2009).
Kopling adalah suatu mekanisme yang dirancang mampu menghubungkan
dan melepas perpindahan tenaga dari suatu benda yang berputar kebenda lainnya.
dengan menggunakan kopling, pemindahan gigi-gigi trasmisi dapat dilakukan,
kopling juga memungkinkan motor dapat berputar walaupun transmisi tidak
dalam posisi netral (Ismail,2010).

BAB III
METODELOGI

A. Alat
1. Alat tulis
2. Kertas
3. Motor peraga sistem pelumasan
4. Engler Viscosimeter
5. Thermometer
6. Stop watch
7. Labu ukur 200 ml
8. Gear peraga

B. Bahan
1. Minyak pelumas jenis A
2. Minyak pelumas jenis B

C. Cara Kerja
Mekanisme kerja sistem
1. Bagian-bagian dan mekanisme kerja sistem pendinginan motor bakar
dicatat dan digambar serta dipahami mekanisme kerjanya
2. Bagian-bagian dan mekanisme kerja sistem pelumasan motor bakar dicatat
dan digambar serta dipahami mekanisme kerjanya
3. Bagian-bagian dan mekanisme kerja sistem transmisi daya motor bakar
dicatat dan digambar serta dipahami mekanisme kerjanya
Uji kekentalan minyak pelumas
1. Engler viscosimeter dihidupkan dengan cara dihubungkan dengan sumber
listrik
2. Minyak pelumas jenis A dimasukkan ke dalam engler viscosimeter
secukupnya

3.

Setelah suhu thermometer pada engler viscosimeter 900C, tutup lubang


engler viscosimeter dibuka

4. Waktu keluarnya minyak pelumas dari engler viscosimeter hingga


mencapai 200 ml dicatat
5. Minyak pelumas jenis B diuji dengan langkah kerja yang sama

D. Analisa Data
Uji viskositas pelumas

1.

Trata-rata pelumas ditentukan dengan rumus

2.

Derajat engler ditentukan dengan rumus:

3.

Penentuan kinematik viskositas (diinterpolasi)

4.

Penentuan SAE

2. Tabel Data Uji Viscositas Pelumas


Ulangan I

Ulangan II

Rata-Rata

(detik)

(detik)

(detik)

Air

41.5

41.5

41.5

Pelumas A

108

135

121.5

Pelumas B

80

106

93

Bahan

a) Pelumas A
Waktu (pelumas) = 121,5 detik
Waktu (air)

= 41,5 detik

Viscositas

= 2,93 engler
= 19,54 centistokes

SAE

= 50

b) Pelumas B
Waktu (pelumas) = 93 detik
Waktu (air)

= 41,5 detik

Viscositas

= 2,24 engler
= 13,60 centistokes

SAE

= 40

3. Perhitungan
a) Pelumas A

Derajat Engler =

121,5
41,5

= 2,930 engler
Kinematic Viscocity (stokes) Interpolasi
Engler Degrees

Kinematic Viscocity (stokes)

3,38
2,93
2,85

0,2334
x
0,1890

Viskositas

3,382,93
3,382,85

0,2334
0,2334 0,1890

x = 0,1954 stokes
x = 19,54 cstokes
SAE = 50

b) Pelumas B

Derajat Engler =

93
41,5

= 2,240 engler
Kinematic Viscocity (stokes) Interpolasi
Engler Degrees

Kinematic Viscocity (stokes)

2,32

0,1431

2,24

2,05

0,1192

Viskositas

2,322,24
3,322,05

0,1431
0,1431 0,1192

x = 0,13602 stokes
x = 13,60 cstokes
SAE = 50

BAB V
PEMBAHASAN

Praktikum azas konversi dan konservasi energi dengan judul sistem


pendinginan, pelumasan dan transmisi bermanfaat agar dapat memahami ketiga
sistem tersebut, baik dari macam-macam, fungsi bahkan aliran pada bagian
masing-masing sistem tersebut. sistem yang pertama sekali dibahas yaitu sistem
pendinginan yang akan dilanjutkan dengan sistem pelumasan dan yang terakhir
sistem transmisi pada motor bakar dalam.
Sistem pendinginan pada motor bakar dalam sangat diperlukan untuk
mengurangi maupun mencegah panas berlebih

yang ditimbulkan dari proses

pembakaran bahan bakar dapat mengganggu kinerja mesin. Sistem pendinginan


ini dibedakan menjadi

dua pendinginan, yaitu pendinginan udara dan

pendinginan air. Pendinginan udara yaitu Panas pembakaran didinginkan oleh


udara yang mengalir pada tepi ruang baker atau silinder. Udara yang
mendinginkan silinder melalui fin. Fin berfungsi memperbesar luas permukaan
kontak dengan udara sehingga mempercepat pendinginan. Pendinginan panas ini
menggunakan prinsip pendinginan secara konveksi. Pendinginan memanfaatkan
sirip-sirip pendingin, shrouds atau cover, dan kadang dilengkapi dengan kipas
untuk membuang panas yang dihasilkan proses pembakaran bahan bakar.
Sedangkan pendinginan air yaitu Air dimasukkan ke dalam hopper melalui lubang
masuk air kemudian masuk ke dalam water jacket yang menyelubungi silinder.
Panas dari silinder dipindahkan secara konveksi ke dalam air. Air panas akan
mengalami penurunan massa jenis sehingga massa air akan naik ke atas.
Pergerakkan ke atas itulah yang akan melepas panas mesin ke udara. Pendingin
cair umumnya menggunakan air yang disirkulasikan pada water jacket (mantel
air) yang berada disekeliling bagian yang didinginkan, seperti silinder, katup, dan
blok mesin.
Untuk masalah komponen, Komponen utama dari sistem pendinginan
dengan air dan udara ini adalah radiator. Radiator ini berfungsi untuk membuang
energi panas yang terdapat pada air pendingin mesin. Untuk mempercepat aliran

udara melalui inti radiator, maka dipasang kipas angin yang berputar bersama
pompa air. Air yang telah didinginkan pada radiator ini kemudian masuk kembali
ke dalam water jacket melalui pompa air dan mekanisme kerja dari radiator ini
adalah ketika air dari water jacket mengalir ke dalam tangki atas terlebih dahulu
melalui thermostat, maka air akan diteruskan mengalir ke bagian tangki bawah
radiator. Selama air panas ini mengalir diantara tangki atas dan tangki bawah,
maka energi panas yang terdapat pada air akan dirembetkan pada sirip-sirip
pendingin yang menempel di bagian luar pipa saluran. Panas yang ada pada sirip
pendingin akan dibuang ke udara yang mengalir melewati inti radiator.
Pada motor bakar dalam, hal yang menjadi masalah tidak hanya dari panas
saja namun gesekan juga. Adanya gesekan antara komponen mesin yang bergerak
mengharuskan mesin memiliki sistem pelumasan. Fungsi utama sistem pelumasan
adalah mereduksi gesekan antara komponen yang bergerak pada mesin. Adapun
macammacam pelaksanaan pelumasan yaitu percikan (splash), pelumasan percik
dan tekan, dan pelumasan tekan penuh.
Pelumasan sistem percik merupakan sistem yang sederhana dan dipakai
untuk motor yang berukuran kecil. Pada batang penggerak dilengkapi dengan alat
yang berbentuk sendok, sehingga pada waktu bergerak, bagian tersebut mencebur
ke dalam karter yang berisi minyak pelumas dan melemparkan minyak tersebut
pada bagian-bagian yang memerlukan pelumasan. Bagian yang banyak
memerlukan minyak pelumas yaitu bantalan utama dari poros engkol, diperlukan
pompa yang mengantarkan minyak pelumas melalui saluran-saluran. Sedangkan
sistem tekan adalah sistem pelumasan yang lebih sempurna. Minyak pelumas
dialirkan pada bagian yang memerlukan pelumasan dengan suatu tekanan dari
pompa minyak pelumas.
Pelumasan sistem percik dan tekan yaitu minyak pelumas dialirkan pada
bagian yang memerlukan pelumasan dengan suatu tekanan dari pompa minyak
pelumas. Dengan suatu tekanan, minyak pelumas mengalir melaui saluran dan
pipa ke bagian seperti pen engkol, poros engkol, batang piston. Sedangkan untuk
melumasi dinding silinder tetap dengan mempergunakan sistem perecik. Sehingga
disebut gabungan antara sistem perecik dan pompa (tekan).

Terakhir yaitu pelumasan sistem tekan penuh yaitu gerakan putar dari
poros engkol, selain untuk menggerakkan sistem lain, digunakan pula untuk
menggerakkan pompa, sehingga minyak pelumas yang ada di tangki naik ke
bagian yang perlu dilumasi.
Pelumasan sistem percik merupakan sistem yang sederhana dan dipakai untuk
motor yang berukuran kecil. Pada batang penggerak dilengkapi dengan alat yang
berbentuk sendok, sehingga pada waktu bergerak, bagian tersebut mencebur ke
dalam karter yang berisi minyak pelumas dan melemparkan minyak tersebut pada
bagian-bagian yang memerlukan pelumasan. Bagian yang banyak memerlukan
minyak pelumas yaitu bantalan utama dari poros engkol, diperlukan pompa yang
mengantarkan minyak pelumas melalui saluran-saluran. Sedangkan sistem tekan
adalah sistem pelumasan yang lebih sempurna. Minyak pelumas dialirkan pada
bagian yang memerlukan pelumasan dengan suatu tekanan dari pompa minyak
pelumas.
Dalam sistem pelumasan, minyak pelumas memegang peran yang sangat
dimana dapat mengurangi gesekan,

menyerap panas,

mengurangi keausan,

menambah kerapatan antara piston dan dinding silinder, mencegah karat bahkan
membersihkan kotoran-kotoran. Kotoran tersebut timbul akibat sisa pembakaran
seperti H2O yang mengembun masuk kedalam bak minyak pelumas dan bereaksi
akhirnya menghasilkan lumpur yang merusak kualitas minyak pelumas dan
karbon yang tidak terbakar akan bercampur dengan minyak pelumas dan
mengendap menjadi kerak. Pada minyak pelumasan, mengenai kekentalan juga
berperan besar pada motor bakar, karena pada kekentalan pelumas yang terlalu
rendah mengakibatkan pelumas terlalu encer yang kurang baik untuk melumasi
bagian motor bakar sedangkan pada kekentalan pelumas yang terlalu tinggi
mengakibatkan mesin yang dilumasi akan lebih lama untuk dipanaskan. Oleh
karena itu oli di pasaran berbeda-beda sesuai kebutuhan dan pemanfaatannya
sehingga oli yang akan digunakan memiliki kekentalan yang optimum.
Kekentalan minyak pelumas tersebut makin lama makin berkurang
sehingga daya lumasnya pun menurun. Panas dan proses pembakaran sangat
berpengaruh terhadap kualitas minyak pelumas. Pada praktikum ini telah dibahas

mengenai kekentalan pelumas berdasarkan nilai SAE. Nilai SAE (The Society of
Automotive Engineers) merupakan indicator kekentalan minyak pelumas.
Semakin besar angka SAE-nya berarti semakin kental. semakin tinggi kekentalan
atau viskositas oli, maka koefisien gesek yang direduksi akan semakin besar.
Untuk mengukur kekentalan minyak pelumas tersebut, dalam praktikum kali ini
digunakan alat Engler Viscosi Meter. Pada praktikum ini diuji kekentalan dua
contoh sampel oli A dan oli B. Kekentalan dihitung dalam derajat Engler, dengan
membandingkan waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 200 ml oli (detik)
dengan waktu untuk mengalirkan air pada suhu yang sama yaitu 90oC. Derajat
engler tersebut dikonversikan ke dalam satuan viskositas kinematik (stokes)
melalui tabel konversi, kemudian dilihat dalam tabel klasifikasi SAE pelumas.
Dari perhitungan didapat bahwa viscositas Oli A adalah 19,54 centi-stokes, dan
Oli B adalah 13,60 centi-stokes. Dari tabel klasifikasi minyak pelumas dapat
diklasifikasikan bahwa oli A merupakan oli yang mempunyai tingkatan
kekentalan SAE 50W dan oli B merupakan oli yang mempunyaii tingkatan
klasifikasi kekentalan SAE 40W. Hasil pengujian kekentalan pada kedua sampel
pelumas ini dapat dikatakan kekentalan optimum karena nilai SAE-nya masih
berkisar diantara nilai SAE

yang sebenarnaya yaitu 30W50W atau dapat

dikatakan sampel minyak pelumas memiliki kekentalan yang tidak terlalu tinggi
dan tidak terlalu encer.
Terakhir yaitu sistem penerusan daya atau sistem transmisi merupakan
salah satu sistem utama dalam motor bakar. Bagianbagian utama sistem
transmisi tersebut adalah kopling, pasangan gigi transmisi dan gigi differensial.
Kopling adalah Pada saat pedal kopling ditekan atau diinjak, ujung tuas
akan mendorong bantalan luncur kebelakang. bantalan luncur akan menarik plat
tekan melawan tekanan pegas. Pada saat pelat tekan bergerak mundur, pelat
kopling terbebas dari roda penerus dan perpindahan daya terputus. bila tekanan
pedal kopling dilepas, pegas kopling akan mendorong pelat tekan maju dan
menjepit pelat kopling dengan roda penerus dan terjadi perpindahan daya. Pada
saat pelat tekan bergerak kedepan,pelat kopling akan menarik bantalan luncur,
sehingga pedal kopling kembali ke posisi semula. Bagianbagian kopling antara

lain flywhell, clutch disk, throw out bearing, engsel, preassure plate, spring
clutch, cover, release fork, pedal clutch dan crank shaf.
Gigi transmisi terdiri dari beberapa rangkaian roda gigi yang saling
berpasangan, yaitu mata gigi pemutar dan alur gigi putar. Setiap pasangan ini
mewakili satu rasio gigi. Umumnya model kendaraan standar memiliki lima
tingkat kecepatan yang berbeda dan satu mundur. Pilihan gigi 1 dan 2 merupakan
rasio memiliki torsi tinggi yang digunakan untuk mulai bergerak dan
berakselerasi. Kemudian, gigi 3 dan gigi 4 yang digunakan untuk kecepatan
normal. Gigi lima digunakan untuk memacu kendaraan pada kecepatan tinggi.
Bagianbagian gigi transmisi antara lain output shaft, main gear, main gear,
collar, Input shaft, driving gear, driver gear counter shaft, first gear, second
gear, reserve gear, reserve idler gear dan selector fork.
Gigi differensial memiliki mekanisme kerja sebagai berikut selama
kendaraan berjalan lurus, poros roda-roda belakang akan diputar oleh drive pinion
melalui ring gear differential case, roda-roda gigi differential pinion Shaft, rodaroda gigi differential pinion,gigi side gear tidak berputar , tetap terbawa kedalam
putaran ring gear. dengan demikian putaran pada roda kiri dan kanan sama.
Sedangkan pada saat kendaraan membelok ke kiri tahanan roda kiri lebih besar
dari pada roda kanan. Apabila differensial case berputar bersama ring gear maka
pinion akan berputar pada porosnya dan juga pergerak mengelilingi side gear
sebelah kiri, sehingga putaran side gear sebelah kanan bertambah, yang mana
jumlah putaran side gear satunya adalah 2 kali putaran ring gear. Hal ini dapat
dikatakan bahwa putaran rata-rata kedua roda gigi adalah sebanding dengan
putaran ring gear. Mengenai bagian-bagian, gigi differensial terdiri dari main
shaft, bevel pinion, ring gear, differential bevel pineon and spider, slide gear,
counter shaft dan house.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Praktikan telah memahami bahwa sistem pendinginan berfungsi untuk
mengurangi maupun mencegah panas berlebih yang ditimbulkan dari
proses pembakaran bahan bakar dapat mengganggu kinerja mesin. sistem
pelumasan adalah mereduksi gesekan antara komponen yang bergerak
pada mesin dan sistem transmisi merupakan salah satu sistem utama dalam
motor bakar dalam.
2. Praktikan telah memahami bahwa sistem pendinginan terbagi menjadi
pendinginan udara dan air. Untuk sistem pelumasan terbagi menjadi
pelumasan sistem percik, percik dan tekan, serta sistem percik penuh. Dan
terakhir untu sistem transmisi terdiri dari kopling, pasangan gigi transmisi
dan gigi differensial.
3. Praktikan telah menguji kekentalan minyak pelumas berdasarkan nilai
SAE dengan alat engler viscosimeter, dimana pada sampel A diperoleh
SAE: 50W dan sampel B bernilai 40W.
4. Sistem transmisi merupakan salah satu sistem utama dalam motor bakar
dalam yang terdiri dari kopling, pasangan gigi transmisi dan gigi
differensial.
5. Kopling terdiri dari flywhell, clutch disk, throw out bearing, engsel,
preassure plate, spring clutch, cover, release fork, pedal clutch dan crank
shaf .
6. Gigi transmisi terdiri dari output shaft, main gear, main gear, collar, Input
shaft, driving gear, driver gear counter shaft, first gear, second gear,
reserve gear, reserve idler gear dan selector fork.
7. Gigi differensial terdiri dari main shaft, bevel pinion, ring gear,
differential bevel pineon and spider, slide gear, counter shaft dan house.

B. Saran
Tetap semangat dan murah senyum, Karena senyum adalah jarak terdekat
antara praktikan dengan asisten.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Differential. Dalam http://www.inomotive.co.cc/2009/09
/differential.html. Diakses tanggal 20 November 2010 Pukul 20.33 WIB.
Anonim. 2010. Sistem Pendinginan. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki
/Sistem_pendinginan. Diakses tanggal 20 November 2010 Pukul 20.37
WIB.
Anonim. 2010. Sistem Transmisi. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki
/Sistem_transmisi. Diakses tanggal 20 November 2010 Pukul 20.35 WIB.
Burtanto. 2010. Sistim Pelumasan dan Minyak Pelumas.Dalam
http://id.shvoong.com/books/ guidance-self-improvement/1897831-sistimpelumasan-dan-minyak-pelumas.html. Diakses tanggal 20 November 2010
Pukul 20.40 WIB.
Carey, Davit.1968.How It Work: The Locomotive. Ladybird Ltd. Loughborough
England.
Crovse H.William.1980.Automotive Mechanics 8th edition. McGraw Hill. USA.
Hamadun, Muhammad. 2010. Sistem Pelumasan. Dalam http://hamadun.
blogspot.com/2010/06/sistem-pelumasan.html. Diakses tanggal 20
November 2010 Pukul 20.25 WIB.
Ismail Muchsin. 2010. Kopling. Dalam http://www.scribd.com/doc/43604447
/Sistem-penerusan-daya. Diakses tanggal 20 November 2010 Pukul 20.27
WIB.
Jacobs O.Clinton dan Harrel R. William.1983.Agricultural Power and Machinery.
Mc Graw-Hill Company. USA.

LAMPIRAN