Anda di halaman 1dari 2

Maksilofasial

Fraktur mandibula
Merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. Tanda dan gejala fraktur
mandibula berupa: maloklusi gigi, gigi dapat digerakkan, laserasi intraoral, nyeri
mengunyah, dan deformitas tulang. Bagian mandibula yang paling sering terkena
fraktur adalah kondilus dan angulus mandibula. Penanganan fraktur mandibula
dengan menggunakan teknik reduksi terbuka sebab teknik reduksi tertutup dan teknik
fiksasi intermaksilaris kurang memadai. Antibiotik perlu diberikan dan pasien juga
harus memjaga higiene mulutnya.
Fraktur zygoma dan dasar orbita
Fraktur zygoma dapat dicirikan debgan adanya deformitas yang dapat diraba pada
lingkar bawah mata, diplopia saat melirik ke atas, hiperestesia pada pipi, ekimosis
periorbita dan pergeseran bola mata ke arah bawah. Fraktur dasar orbita hanya
ditandai oleh keterbatasan untuk melirik ke atas. Perbaikan fraktur ini lebih sering
menggunakan teknik reduksi terbuka dan fiksasi internal.
Fraktur maksilaris
Merupakan fraktur wajah yang paling berat. Gejalanya adalah pergeseran palatum,
mobilitas hidung yang menyertai palatum, epistaksis atau pergeseran seluruh bagian
1/3 wajah.
Klasifiaksi:
. Le Fort 1: fraktur melintang rendah pada maksila yang hanya melibatkan palatum
dan dicirikan oleh pergeseran arkus dentalis maksila dan palatum. ddapat juga terjadi
maloklusi gigi.
. Le Fort 2 : fraktur piramid merupakan frkatur en bloc pada palatum dan 1/3 tengah
wajah termasuk hidung. Fraktur ini dicirikan oleh mobilitas palatum dan hidung juga
epistaksis yang jelas. Biasanya terjadi pula maloklusi gigi dan pergesearan palatum ke
belakang.
Le Fort 3: merupakan cedera yang paling berat, di mana seluruh perlekatan rangka
wajah pada kranium terputus
Pada cedera demikian biasanya diperlukan teknik reduksi terbuka bersamaan dengan
fiksasi intermaksilaris menggunakan kawat secara langsung, kadang diperlukan pula
fiksasi eksternal.
Bells palsy
Merupakan penyebab kelumpuhan wajah yang paling sering terjadi
Tugas dari dokter emergency adalah : menyingkirkan penyebab paralisis wajah yang
lain, segera memulai terapi yang sesuai, melindungi mata, mengatur follow up
Gambaram klinis:
Onset yang cepat:paralisis parsial dengan onset yang perlahan biasanya
menunjukkan penyebab etiologi
Paralisis/kelemahan satu sisi pada wajah : perhatikan pada bagian wajah
sepertiga atas (orbikulasris dan frontalis) yang tidak lumpuh mengindikasikan
lesi di UMN
Gejala yang lain seperti: air liur yang menetes, keluarnya air mata, perubahan
rasa, nyeri belakang telinga

Keluhan yang berhubungan dengan sindrom infeksi saluran napas bagian


atas/infeksi virus

Diagnosis banding yang berhubungan dengan perjalanan nervus VII:

Intrakranial: meningioma, neuroma akustik


Intratemporal: penyakit telinga akut/kronis, herpes zooster, fraktur/ trauma
tulang temporal
Ekstratemporal: keganasan parotis, laserasi facial

Anamnesis dan pemeriksaan THT/glandula parotis/neurologisd yang teliti akan


memudahkan kit auntuk mengetahui penyebabnya:
Penatalaksanaan:
-Steroid: masih menjadi perdebatan dan pada literatur dicantumkan tidak banyak
pasien yang mendapatkan keuntungan dengan penggunaan steroid. Walaupun masih
diperdebatkan namun karena efek samping yang minimal maka berdasarkan
konsensus steroid diberikan seawal mungkin dengan dosis 1 mg/kg selama 7
hari.acyclovir (zovirax)
Acyclovir tidak bermanfaat bila diberikan pada fase akhir HS. Dosis: 800mg 5 kali
per hari selama 10 hari
-Perawatan mata dapat diberikan dengan air mata buatan dan kacamata penutup mata
pada malam hari untuk mencegah kornea kering dan ulserasi
-Rujukan : ke neurologi , tht, dan mata