Anda di halaman 1dari 8

Nama Kelompok :

1.
2.
3.
4.

Nur Jannah
Pramasysindra Putri Permata
Suci Tirnawati
Tanty Diana

ADAT KEBUDAYAAN INDONESIA


1. Upacara Adat Tiwah
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan
upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah
meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang
semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah
meninggal dunia.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas
seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa
dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja. Ritual Tiwah
bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang
bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga dalam Bahasa Sangiang) sehingga
bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku
Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi
suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang
ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.
Melaksanakan upacara tiwah bukan pekerjaan mudah. Diperlukan
persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain
itu, rangkaian prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari
nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lebih lamanya. Ritual ini sudah
dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat
kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya di dalam
sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah. Sebelum upacara
tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara
tantulak. Menurut kepercayaan Agama Kaharingan, setelah kematian, orang

yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke dalam surga.
Kemudian digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang
meninggal dunia tersebut menuju Bukit Malian, dan di sana menunggu
diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat
Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah.
Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang
digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung.
Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan
kurban, kerbau, sapi, dan babi.
Adat istiadat Suku Dayak. Suku dayak adalah suku asli Kalimantan
yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan
sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang
Melayu yang datang ke Kalimantan. Sejarah suku dayak pada tahun (19771978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian
nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia
mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi
pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner. Suku
Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orangorang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin
lama makin mundur ke dalam. Suku Dayak pernah membangun sebuah
kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut Nansarunai Usak Jawa,
yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang
diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian
tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk
daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam
yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu
(sekitar tahun 1608). Dibawah ini ada adat istiadat bagi suku dayak yang
masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman
dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat
istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa
Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman
Kalimantan.

2. Upacara Tabuik Pariaman


Setiap memasuki bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah, masyarakat
Kota Pariaman menggelar perayaan tabuik. Perayaan membuat dan membuang
ke laut keranda yang dihiasi menyerupai buraq (sejenis burung yang
membawa nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Mikraj), ini menjadi iven
tahunan Pemko Pariaman yang disaksikan beramai-ramai oleh masyarakat dari
berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Dalam berbagai literatur disebutkan, perayaan tabuik yang berlangsung
1-10 Muharam itu memperingati meninggalnya cucu nabi Muhammad yang
bernama Husein pada tahun 61 Hijriyah, yang bertepatan dengan 680 Masehi.
Makanya, muncul istilah Oyak Hosen dalam perayaan tabuik, untuk
menggelorakan semangat perjuangan umat Islam dalam menghadapi musuhmusuhnya. Sekaligus ratapan atas kematian Husein yang dipenggal kepalanya
oleh tentara Muawiyah dalam perang Karbala di Irak.
Tradisi mengenang kematian cucu Nabi ini menyebar ke berbagai
negara dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, selain Pariaman, di Bengkulu
juga dikenal pesta tabuik atau tabot. Mengenai asal usul tabuik Pariaman, ada
beberapa versi.
Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang
Arab aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang.
Sedangkan, versi lain (diambil dari catatan Snouck Hurgronje), tradisi tabuik
masuk ke Indonesia melalui dua gelombang. Gelombang pertama sekitar abad
14 M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu.
Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari.
Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh bangsa Cipei/Sepoy
(penganut Islam Syiah) yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Bangsa
Cipei/Sepoy ini berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu ketika
menguasai (mengambil alih) Bengkulu dari tangan Belanda (Traktat London,
1824).
Orang-orang Cipei/Sepoy ini setiap tahun selalu mengadakan ritual
untuk memperingati meninggalnya Husein. Lama-kelamaan ritual ini diikuti

pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Painan,
Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Melauboh dan Singkil.
Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari
daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu
Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Di
Pariaman, awalnya tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk
Tabuik Adat.
3. Nadran Nelayan Pantai Utara
Tradisi Nadran yang digelar oleh para nelayan Indramayu adalah
sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang
diberikan, baik berupa keselamatan ketika berlayar di laut maupun hasil ikan
yang melimpah sepanjang tahun yang lalu.
Tradisi nadran diawali dengan pemotongan kerbau sehari sebelum
acara puncak. Sesaji dan doa dipanjatkan sebelum kerbau disembelih agar
proses penyembelihan lancar. Kepala kerbau yang sudah dipotong kemudian
akan menjadi sesaji yang dilarung ke tengah laut dengan pendamping beragam
tumpeng, kembang, dan jajanan pasar.
Tradisi nadran sendiri mula-mula diawali dengan diadakannya
pagelaran tari-tarian dan hiburan rakyat tradisional seperti reog, jaipong,
genjring, tari kerbau dan lain-lain. Semua warga nelayan indramayu yang
hadir hari itu tumplek blek menikmati pesta tahunan ini hingga pesta ini
menjadi begitumeriah.
Kemeriahan pun tampak di dalam ruangan khusus di mana ibu-ibu
dan bapak-bapak nelayan yang dianggap kompeten menyiapkan meron yang
akan dilarung keesokan harinya. Meron sendiri merupakan sebuah miniatur
perahu yang didalamnya diisi dengan kepala kerbau, kulit kerbau, dan
berbagai macam sesaji yang nantinya akan diangkut kedalam perahu
sungguhan untuk kemudian dilarung ke tengah-tengah lautan ( 50 meter dari
pantai).
Ketika meron telah dimuat kedalam perahu, para nelayan dengan
perahunya masing-masing akan mengawal merahu yang membawa meron.

Ketika tiba ditujuan, dan meron itu dilarungkan, para nelayan yang tadi
mengawal akan berbondong-bondong ikut terjun kelaut memperebutkan
segala sesaji dari meron yang dilarungkan tersebut. Mereka percaya bahwa
berbagai sesaji yang mereka dapat dari meron, dapat berkhasiat menjadi
penolak bala sekaligus mendatangkan rezeki yang melimpah ketika dibawa
berlayar untuk mencari ikan.
Setelah acara larungan meron, sang dukun yang bertugas sebagai
pembaca mantra dan doa-doa itu pun akan mengambil air laut yang nantinya
akan dipakai dalam acara ruwatan pada malam berikutnya. Upacara ruwatan
itu sendiri berupa upacara untuk meminta keselamatan yang ditandai dengan
digelarnya pertunjukan wayang kulit dengan lakon tertentu.
Air laut yang siang tadi diambil ketika upacara larung meron dan telah
dicampur dengan air-air lainnya oleh sang dukun, akan dibagikan kepada
warga setelah acara ruwatan selesai sebagai ajimat agar sentiasa diberikan
keselamatan.
Upacara ruwatan tersebut juga merupakan acara penutup pada acara
tradisi nadran. Usai acara ruwatan, para nelayan pun pulang kerumah masingmasing untuk kembali menjalankan rutinitas sehari-hari mereka yang tak lepas
dari jaring dan perahu.
4. Upacara Ngaben
Untuk masyarakat Bali, hanya melalui pembakaran jenazahlah jiwa
dapat dilepaskan dari dunia sementara untuk mendapatkan kehidupan setelah
kematian. Dan untuk menjalani ini beberapa upacara dan ritual harus diikuti,
terutama ketika keturunan kerajaan meninggal. Pada kematian tubuh harus
dibakar oleh api karena jiwa harus kembali pada lima elemen yang dikenal
dengan Panca Maha Buta (bumi, angin, api, air dan eter) hal ini bertujuan
untuk mengirim jiwa pada kehidupan setelah kematian.
Hanya dengan mengikuti upacara dan ritual yang layak dan tepat, jiwa
akan bebas dari tubuh untuk dilahirkan kembali dan akhirnya menggapai
Moksa, kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi.

Upacara pembakaran jenazah di Bali mewah dan mahal. Lebih tinggi


status seseorang, persiapan megah dan dekorasi yang dibutuhkan akan
semakin tinggi. Oleh karena itu, jenazah Almarhum harus dikubur untuk
beberapa saat sebelum keluarga dan masyarakat bisa mengumpulan dana yang
cukup. Ini merupakan adat yang umum bagi masyarakat biasa untuk
menunggu pembakaran jenazah seorang bangsawan atau pemuka agama yang
nantinya digabung dalam ritual ngiring untuk pembakaran jenazah keluarga
mereka jika diizinkan.
Beberapa hari sebelum hari pembakaran, jiwa Almarhum yang
mengembara dipanggil untuk bersatu dengan tubuhnya, biasanya disimbolkan
oleh patung orang, dibawa ke rumah untuk dimandikan berulang-ulang,
dipersiapkan oleh anggota keluarga.
Pada

malam

pembakaran,

para

pendeta

mempersembahkan

persembahan pada kekuatan supranatural yang diminta untuk membuka jalan


bagi jiwa, sementara para anggota keluarga berdoa untuk membebaskan jiwa
Almarhum ke surga.
Hari berikutnya, jenazah dibawa ke alam terbuka dimana pembakaran
diadakan, yang biasanya setelah matahari melewati titik puncaknya. Ketika
semua tubuh sudah terbakar, anggota keluarga mengumpulkan debu-debu dan
tulang Almarhum, dan kemudian patung orang yang meninggal tersebut
dibawa dalam prosesi di laut atau sungai, kemudian debu dituangkan ke dalam
air, kedalam perlindungan dewa laut.
Bulan-bulan atau tahun-tahun berikutnya setelah pembakaran, ketika
dana sudah cukup terkumpul, akan ada upacara-upacara lagi untuk
meyakinkan pemisahan jiwa yang sempurna dari ikatan keduniawian,
bertujuan untuk melepaskan jiwa ke surga. Pada upacara terakhir disebut
upacara nyagara-gunung, keluarga mengekpresikan terima kasih mereka pada
dewa laut di candi-candi gunung dimana jiwa yang suci diabadikan di candi,
untuk menunggu kelahiran kembali atau kebebasan dari lingkaran kelahiran
kembali.

5. Upacara Pasola
Menurut cerita rakyat Sumba yang berkembang secara turun temurun,
Tradisi Pasola berawal dari kisah seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di
Kampung Waiwuang yang mempunyai seorang suami bernama Umbu Dulla,
salah satu pemimpin di kampung Waiwuang.
Pada suatu hari, Umbu Dulla pamit kepada isterinya untuk pergi
melaut bersama dua orang pemimpin adat lainnya yaitu Ngongo Tau Masusu
dan Yagi Waikareri. Namun dalam perjalanan, mereka bertiga berubah pikiran
dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke selatan pantai Sumba untuk
bercocok tanam padi. Oleh karena itu, mereka tidak pulang dalam waktu lama
sehingga rakyat mereka menganggap mereka telah meninggal di laut. Rakyat
pun mengadakan upacara perkabungan. Dalam keadaan yang demikian itulah,
janda cantik dari almarhum Umbu Dula, Rabu Kaba terlibat asmara dengan
Teda Gaiparona, seorang laki-laki dari Kampung Kodi.
Teda Gaiparona bermaksud mempersunting Rabu Kaba namun
ditentang oleh keluarga kedua belah pihak sehingga merkea kawin lari.
Beberapa waktu berselang, Umbu Dula kembali ke rumah bersama kedua
pemimpin lainnya. Alangkah terkejutnya Umbu Dulla mendapatin isterinya
telah dipersunting oleh orang lain. Dia berusaha mengajak isterinya pulang
namun menolak karena sudah terlanjur cinta dengan Teda Gaiparano.
Untuk memuluskan perkawinan mereka, Teda Gaipora mengganti
kepada Umbu Dulla sejumlah belis [semacam mahar] yang dulu dibayarkan
kepada Rabu Kaba berupa kuda, sapi, kerbau, dan barang-barang berharga
lainnya. Setelah seluruh belis dilunasi, barulah upacara perkawinan pasangan
Rabu Kaba dan Teda Gaiparona dapat dilangsungkan. Pada akhir pesta
pernikahan, Umbu Dulla meinta warga Waiwuang untuk mengadakan pesta
penagkapan nyale [caicing laut] dengan melaksanakan tradisi pasola untuk
melupakan kesedihannya yang talah kehilangan isteri.
Prosesi Upacara
Upacara pasola selalu diawali dengan serangkaian prosesi adat
penangkapan nyale sebagai wujud rasa syukur terhadap anugerah Tuhan yang
melimpah seperti suksesnya panen. Nyale adalah bahasa setempat untuk

cacing laut yang apabila muncul dalam jumlah banyak di tepi pantai, maka ini
merupakan pertanda baik buat masyarakat setempat. Kemunculan nyale
merupakan lambang kemakmuran bagi masyarakat Sumba dan sekitarnya.
Upacara penangkapan nyale dilaksanakan pada malam bulan pernama dan
dipimpin oleh Para Rato , pemuka adat Sumba.
Setelah upacara penangkapan nyale sukses yang ditandai dengan
banyaknya hasil tangkapan yang kemudian disidangkan di hadapan Majlis
Para Rato, maka setelah itulah upacara pasola dapat dilaksanakan. Pasola
dilaksanakan di lapangan yang luas sebagai medan pertempuran dan
disaksikan oleh seluruh warga dan wisatawan baik lokal maupun
internasional.
Setiap kelompok yang terlibat dalam pasola terdiri dari sekitari 100
orang pemuda bersenjatakan sola [tombak] yang terbuat dari kayu berujung
tumpul dan berdiameter kira-kira 1,5 cm. Kedua keompok pemuda tersebut
saling berhadapa-hadapan dan saling menyerang layaknya sebuah peperangan
sungguhan antara dua kelompok kesatria Sumba. Dalam pelaksanaannya,
tradisi pasola tidak jarang memakan korban jiwa. Dalam kepercayaan Marapu,
korban yang terjatuh merupakn orang yang mendaoatkan hukuman dari para
Dewa karena telah melakukan dosa dan kesalahan dan darah yang tercucur
dianggap dapat menandakan kesuburan tanah dan tanaman pada musim tanam
mendatang.