Anda di halaman 1dari 47

makalah bayi tabung dari sudut pandang medis, hukum dan etika

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

Kata
Pengantar........................................................................................
..................... 2
Daftar
Isi....................................................................................................
.................. 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang.........................................................................................
.............. 5
1.2
Tujuan.............................................................................................
....................... 7
1.3
Manfaat...........................................................................................
....................... 8

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Bayi tabung menurut pandangan
Medis................................................................ 9
2.2 Bayi tabung menurut pandangan
Hukum............................................................ 18
2.3 Bayi tabung menurut pandangan
Etika................................................................ 30
2.4 Pandangan kelompok tentang Bayi
tabung........................................................ 23

BAB III PENUTUP


3.1
KESIMPULAN...................................................................................
................. 33
3.2
SARAN.............................................................................................
................... 34

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bayi tabung atau lebih dikenal dengan istilah inseminasi


buatan bukanlah wacana baru yang kita lihat pada tataran
empirik saat ini.

Namun permasalahan ini masih aktual saja

untuk dibicarakan maupun didiskusikan terutama bagi kalangan


akademis, intelektualis yang tentunya harus perspektif dalam
memahami suatu permasalahan, bukan menjadi masalah bagi
dirinya sendiri.
Program bayi tabung untuk pertama kali diperkenalkan oleh
dokter asal Inggris,

Patrick C. Steptoe dan Robert G. Edwards

pada sekitar tahun 1970-an dan melahirkan

bayi tabung

pertama di dunia, Louise Brown pada tahun 1978. Pada awalnya,


teknologi ini ditentang oleh kalangan kedokteran dan agama
karena kedua dokter itu dianggap mengambil alih peran Tuhan
dalam menciptakan manusia (playing God). Tapi sekarang,
teknologi ini telah banyak menolong pasangan suami istri yang

ingin

mempunyai

anak

yang

megalami

masalah

seperti

infertilitas, dsb.
Infertilitas adalah suatu kondisi dimana pasangan suami-istri
belum

mampu

memiliki

anak

walaupun

telah

melakukan

hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun


waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi
dalam bentuk apapun. Menurut WHO dari seluruh dunia sekitar
50-80 juta pasangan suami istri mempunyai masalah dengan
infertilitasnya, dan diperkirakan sekitar duajuta pasangan infertil
baru akan muncul tiap tahunnya dan terus meningkat.
Sebagai upaya pertolongan dan pengobatan untuk masalah
infertilitas ada beberapa alternatif yang salah satunya adalah
bayi tabung atau FIV (Fertilisasi In Vitro). Fertilitas dapat diartikan
pembuahan, sedangkan In Vitro adalah diluar. Jadi Fertilitasi In
Vitro adalah pembuahan sel telur wanita oleh spermatozoa pria
(bagian dari proses reproduksi manusia), yang terjadi diluar
tubuh.
Menurut Otto Soemarwoto dalam bukunya Indonesia Dalam
Kancah

Isu

Lingkungan

Global,

dengan

tambahan

dan

keterangan dari Drs. Muhammad Djumhana, S.H., menyatakan


bahwa bayi tabung pada satu pihak merupakan hikmah, Ia dapat
membantu pasangan suami istri yang subur tetapi karena suatu
gangguan

pada

mempunyai anak.
suami

organ

reproduksi,

mereka

tidak

dapat

Dalam kasus ini, sel telur istri dan sperma

dipertemukan

di

luar

tubuh

dan

zigot

yang

jadi

(mengalami pembuahan) ditanam dalam kandungan istri. Dalam


hal ini kiranya tidak ada pendapat pro dan kontra terhadap bayi
yang lahir karena merupakan keturunan genetik suami dan istri.

Semula Fertilisasi In Vitro (FIV) di usahakan untuk istri yang


mengalami kerusakan kedua tuba. Setelah itu teryata tingkat
keberhasilannya meningkat sampai 20% per transfer embrio,
indikasinya pun diperluas mencakup : 1) kerusakan kedua tuba ;
2) faktor suami (ligospermia) ; 3) faktor serviks abnormal ; 4)
faktor

immunologik

5)

infertilitas

karena

endometriosis.

Sekarang Fertilisasi In Vitro (FIV) yang awalnya hanya di


peruntukan untuk membantu pasangan Pasangan suami istri
(pasutri) yang mengalami 1) kerusakan kedua tuba ; 2) faktor
suami ( ligospermia) ; 3) faktor serviks abnormal ; 4) faktor
immunologik ; 5) infertilitas karena endometriosis, seiring
perkembangan zaman di mana pasangan yang sebenarnya subur
sekarang sudah mengikuti juga program FIV dengan alasan
sebagian para wanita

ingin menjaga postur tubuh agar tetap

indah dan terjaga, selain itu juga, ada sebagian wanita yang
ingin mempunyai anak tanpa melakukan hubungan seksual
(tanpa menikah) misalnya mengambil sperma orang lain untuk
ditrasfer ke rahimnya agar wanita tersebut mempunyai anak,
dan ada juga pasangan yang mengalami kelainan seksual seperti
Homoseksual dan Lesbian yang ingin mempunyai anak bisa saja
melakukan program FIV atau bayi tabung dengan mengambil
sperma atau sel telur orang lain (tranfer embrio).
Permasalahan selanjutnya adalah Sel telur yang diambil dari
wanita yang melakukan program bayi tabung adalah 4 6
sedangkan jumlah embrio yang digunakan rata-rata 3-4 embrio
yang transfer ke dalam rahim dan sisanya dijadikan sebagai
cadangan jika sewaktu-waktu tranfer embrio pertama gagal.
Permasalahan yang timbul kemudian mau dikemanakan sisa
embrionya jika transfer embrio pertama berhasil dilakukan ?
Akan diapakan embryo-embrio itu ?

Melalui

makalah

ini

kami

akan

mencoba

membahas

permasalahan-permasalahan tadi. Baik menurut aspek Hukum,


Medis, maupun Etikanya.

Kami akan mencoba paparkan pada

bab selanjutnya.

1.2 TUJUAN
Berangkat dari latar belakang di atas, maka tujuan dari
pada isi serta pembuatan makalah ini yaitu :
1.

Untuk mengetahui pemaparan bayi tabung dari sudut

pandang Medis !
2.

Untuk mengetahui pemaparan bayi tabung dari sudut

pandang Hukum !
3.

Untuk mengetahui pemaparan bayi tabung dari sudut

pandang Etika !
4.

Untuk memaparkan hasil diskusi kelompok !

5.

Untuk memenuhi salah satu syarat tugas kuliah

penyusun. !

1.3

MANFAAT

a. Manfaat Praktis
1. Dapat dijadikan sebagai kontribusi pengetahuan baik pada
kalangan mahasiswa maupun kalangan umum.
2. Sebagai bahan masukan bagi kalangan pelajar khususnya dan
masyarakat

pada

umumnya

terkait

atas

dampak

dimunculkan akibat kemajuan bioteknologi pada manusia.

yang

3.

Dapat

dijadikan

sebagai

sumber

pengetahuan

bagi

masyarakat secara umum tentang eksistensi bioteknologi pada


manusia.

b. Manfaat Akademik
1. Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan
buat para penyusun makalah selanjutnya.
2. Dapat dijadikan sebagai tambahan referensi sains dan
tekhnologi khususnya tentang konsepsi buatan.
3. Sebagai sumbangan buat perpustakaan kampus guna dibaca
dan dipahami oleh seluruh mahasiswa-mahasiswi Indonesia.
4. Agar lebih di ketahui tetang apa itu Inseminasi buatan pada
manusia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

BAYI TABUNG DALAM SUDUT PANDANG MEDIS

2.1.1 Pengertian
Bayi tabung atau dalam bahasa kedokteran disebut In
Vitro

Fertilization

(IVF)

adalah

suatu

upaya

memperoleh

kehamilan dengan jalan mempertemukan sel sperma dan sel


telur dalam suatu wadah khusus.

Pada kondisi normal,

pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba. Dalam proses


bayi

tabung

proses

ini

berlangsung

di

laboratorium

dan

dilaksanakan oleh tenaga medis sampai menghasilkan suatu


embrio dan di iplementasikkan ke dalam rahim wanita yang
mengikuti program bayi tabung tersebut. Embrio ini juga dapat
disimpan

dalam

bentuk

beku

(cryopreserved)

dan

dapat

digunakan kelak jika dibutuhkan. Bayi tabung merupakan pilihan


untuk

memperoleh

keturunan

bagi

ibu-ibu

yang

memiliki

gangguan pada saluran tubanya. Pada kondisi normal, sel telur


yang telah matang akan dilepaskan oleh indung telur (ovarium)
menuju saluran tuba (tuba fallopi) untuk selanjutnya menunggu
sel sperma yang akan membuahi sel telur tersebut tersebut.
Dalam bayi tabung proses ini terjadi dalam tabung dan setelah
terjadi pembuahan (embrio) maka segera di iplementasikan ke
rahim wanita tersebut dan akan terjadi kehamilan seperti
kehamilan normal.

Dari segi tehnik, karena prosedur konsepsi buatan ini


sangat menegangkan, tingkat keberhasilannya belum begitu
tinggi, dan biayanya sangat mahal, maka pasangan suami istri
(pasutri) yang diterima untuk program ini harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
1. Telah dilakukan pengelolaan infertilitas selengkapnya.
2. Terdapat indikasi yang sangat jelas.
3. Memahami seluk beluk prosedur konsepsi buatan secara
umum
4. Mampu membiayai prosedur bayi tabung ini

2.1.2 Prosedur
2.1.2.1 Prosedur FIV ( fertilisasi in vitro )
Ada beberapa tahaptahap pelaksanaan prosedur FIV
(in vitro fertilasasi) adalah sebagai berikut ;
1. Pemeriksaan penyaring pasutri dimana disini akan dilakukan
melalui

peninjauan

kembali

catatan

medis

pengelolaan

infertilitas, untuk meyakinkan bahwa pengelolaan infertilitas


telah dilakukan selengkapnya.
2. Pemilihan protocol stimulasi
a. Tanpa stimulasi : siklus haid normal + hCG ( human chorionic
gonadotropin )
b. Clomiphene Citrat ( CC ) + hCG
c. hMG ( human Menopausal Gonadotropin ) + hCG
d. CC + hMG + hCG

e. FSH ( follicle stimulating hormone ) Murni


+ hCG
+ hMG + hCG
+ CC + hCG
+ hMG + CC + hCG
f. GnRHa ( Gonadotropin releasing hormone analogue ) + hMG +
hCG
3. GnRH ( Gonadotropin releasing hormone ) + hCG
4. Stimulasi indung telur yang dijadwalkan
Tujuan stimulasi indung telur adalah untuk menstimulasi
perkembangan folikel yang mengandung oosit matang sebanyak
mungkin agar mudah diaspirasi pada saat sebelum terjadi
ovulasi.
5. Pemantauan perkembangan folikel
Walaupun sebagian besar tim konsepsi buatan memakai
kombinasi pemeriksaan USG, kadar E2 dan LH untuk memantau
perkembangan folikel, bahkan dengan pemeriksaan mucus
serviks, tetapi belum ada consensus tentang apa yang dianggap
stimulasi dan pemantauan folikel yang baik. Kalau tentang
stimulasi yang kurang baik terdapat lebih banyak kesepakatan,
seperti kadar E2 yang rendah atau yang kadarnya meningkat
lambat, terlampau sedikit folikel yang terbentuk atau hanya
terdapat satu folikel yang dominan, turunnya kadar E2 sebelum
atau sesudah suntikan hCG, puncak LH yang premature, dan
kalau timbul keluhan akibat pengobatan, seperti demam atau
gatal-gatal, merupakan indikasi untuk menghentikan stimulasi.

6. Pengambilan Ovum ( PO )
Pada pertama kalinya dilakukan melalui laparoskopi dengan
2 atau 3 tusukan.

Jarum aspirasi dimasukan melalui alat

laparoskop atau melalui tusukan khusus. Berbagai alat pengisap


oosit telah dipakai, sempritan 50 Dan alat pengisap dengan
tekanan 150 mmHg. Kini PO dapat dilakukan lebih mudah secara
transvaginal dengan bimbingan USG.
7. Persiapan dan prosedur laboratorium
Seluruh

prosedur

laboratorium

konsepsi

buatan

perlu

dipersiapkan seoptimal mungkin. laboratorium yang letaknya


bersebelahan dengan kamar PO akan memudahkan transportasi
embrio. Beberapa hal yang sangat penting untuk diperhatikan
adalah air radiator yang digunakan, incubator CO2, laminar air
flow, mikroskop, alat habis pakai, system fertilisasi, dan aliran
listrik haruslah dalam keadaan prima.
Cairan pungsi harus segera dibawa ke laboratorium dan
pencairan oosit di bawah mikroskop segera dilakukan. Kalau
cairan folikel itu jernih, dengan mata telanjang akan tampak
mucul sebagai gumpalan putih yang mungkin berisikan oosit.
Oosit dibersihkan dari gumpalan darah lalu dimasukkan ke dalam
medium biakan dalam cawan petri. Semua oosit yang diperoleh
segera dimasukkan kedalam incubator CO2 , setelah terlebih
dahulu

dinilai

tingkat

kematangannya.

Penilaian

tingkat

kematangan ini perlu untuk menentukan saat inseminasi yang


tepat. Oosit yang matang, antara lain ditandai dengan cumulus
yang menyebar dan koronanya padat. Berbagai jenis medium
yang akan dipakai, harus terlebih dahulu diuji, Baik parameter
fisiknya, (pH, Osmolaritas, Suhu), maupun efek biologiknya
(perkembangan embrio tikus percobaan, uji ketahanan sperma).

Saat inseminasi ditentukan menurut tingkat kematangan


oosit. Untuk oosit yang matang , inseminasi dilakukan 5-6 jam
setelah oosit di inkubasikan, yang terlalu matang setelah 3 jam,
dan yang belum matang setelah 24-36 jam. Teknik pengolahan
sperma dapat dilakukan dengan berbagai cara dari yang paling
sederhana seperti swim-up, sampai yang paling canggih seperti
pemisahan sperma dengan berbagai konsentrasi larutan percoll,
yang semuanya bertujuan untuk memperoleh sperma motil yang
terbaik. Umumnya inseminasi dilakukan dengan sperma yang
telah diolah dengan konsentrasi 50.000 100.000/ml.
8. Perkembangan dalam media biakan
Terjadinya fertilisasi dimulai 18-20 jam setelah inseminasi.
Fertilisasi

yang

normal

ditandai

dengan

adanya

inti

(pronukleus), yang harus dibedakan secara cermat dari fertilisasi


yang abnormal (polispermia) yang ditanda idengan adanya lebih
dari 2 pronukleus.
Oosit yang sudah dibuahi ( zigot ) dipindahkan kedalam
medium segar, kemudian segera di inkubasikan dalam inkubasi
CO2, terjadinya fertilisasi tergantung dari banyaknya hal, yang
terpenting adalah kualitas dan kuantitas oosit serta sperma.
Tingkat fertilisasi 60% dapat dikatakan cukup baik. Kira-kira
sekitar 24 jam sekitar inseminasi, oosit yang sudah dibuahi itu
dikeluarkan dari incubator yang biasanya sudah mencapai
stadium embrio dengan tingkat pembuahan 2-6 sel. dari semua
embrio itu dipilih 4 embrio yang terbaik yang ditentukan
berdasarkan

morfologinya.

Embrio

yang

terpilih

kemudian

dimasukkan kedalam medium biakan segar dengan suplemen


protein
9. Pemindahan Embrio

Dilakukan 42-44 jam setelah inseminasi, pada waktu embrio


telah mencapai stadium 2-6 sel. Pada umumnya PE dilakukan
dengan isteri dalam sikap litotomi, didampingi oleh suaminya.
Tim yang lain melakukan dalam sikap litotomi kalau seterusnya
intervensi dan dalam sikap dengkul-dada kalau uterusnya
retroverni PE dilakukan dengan memakai kateter Teflon halus.
Kadang-kadang

diperlukan

bantuan

kanula

logam

untuk

membimbing kateter masuk kedalam rongga uterus.


10. Pemantauan fase luteal
Kebanyakan tim konsepsi buatan memberikan suntikan atau
progesterone

dalam fase luteal. Tidak cukup bukti untuk

mendukung pengobatan ini, karena beberapa penelitian telah


membuktikan

bahwa

pengeluaran

progesterone

akan

berlangsung normal setelah dilakukan aspirasi ovum. Namun ada


juga yang melaporkan terjadinya fase luteal pendek setelah
dilakukan protocol superovulasi.
11. Diagnosis kehamilan
Kalau terjadi kehamilan, uji Beta-hCG akan memberikan
hasil yang positif .tingkat keberhasilan kehamilan berbeda-beda
diantara berbagai tim konsepsi buatan. Pada umumnya sekitar
20% pasutri akan mengalami kehamilan setelah dilakukan PE.
Walaupun

demikian,

keberhasilan

lebih

tergantung

dari

banyaknya oosit yang berhasil diaspirasi, dan banyaknya embrio


yang dipindahkan.
12. Analisa sebab kegagalan
a. Ovulasi premature atau ova gagal untuk dibuahi.
b. Oosit belum matang atau tidak normal. Inseminasi dilakukan
pada saat yang kurang tepat.

c. Keadaan hormonal/kesehatan isteri kurang menguntungkan


oosit.
d. Parameter stimulasi mungkin tidak sebaik yang diharapkan.
e. Embrio yang dipindahkan gagal untuk berimplantasi. Hal ini
merupakan satu-satunya masalah terbesar yang dialami oleh
semua program konsepsi buatan pada masa kini.
f. Spermatozoa kurang baik kualitasnya.
g. Perkembangan endometrium kurang baik atau tidak sinkron
untuk terjadinya implantasi yang baik.
13. Perawatan
Kalau konsepsi buatan berhasil, pelayanan obstetriknya
tidak jauh berbeda dengan konsepsi alamiah. Konsepsi buatan
bukan merupakan indikasi untuk dilakukan amniosintesis atau
tindakan-tindakan obstetric lainnya.
14. Pertimbangan Psikologik
Bagian terpenting dari program konsepsi buatan adalah
konseling pasca konsepsi buatan yang gagal, karena kira-kira
80% pasutri akan mengalaminya. Konseling ini bertujuan untuk
meringankan pasutri dari segala kekecewaan dan kesedihan
karena kegagalan yang baru saja dialaminya .Reaksi kesedihan
pasutri dapat disamakan dengan kesedihan setelah mengalami
keguguran atau kematian anak yang sangat diinginkannya.

2.1.2.2

Prosedur ZIFT
ZIFT adalah singkatan dari Zygote Intra

Fallopian Transfer, yaitu memindahkan atau menempatkan hasil

fertilisasi tingkat zigot kedalam tuba yang terbuka melalui


laparoskopi. Dengan demikian, prosedur ZIFT hanya dapat
dilakukan pada isteri dengan salah satu atau kedua tubanya
terbuka dan berfungsi normal.
Penatalaksanaan prosedur ZIFT
Jika oosit istri berhasil dibuahi oleh sperma suami, maka hasil
fertilisasi dalam tingkat zigot (tingkat hasil fertilisasi yang lebih
awal dari pada embrio) dipindahkan atau ditempatkan kedalam
tuba istri melalui laparoskopi. Pada perut istri dibuat 3 sayatan
kecil satu dibawah pusat dan dua lainnya dikiri dan kanan atas
tulang

kemaluan.

Laparoskopi

untuk

mengamati

proses

pemindahan zigot kedalam tuba dimasukkan melalui sayatan


dibawah pusat. Kateter halus untuk menempatkan zigot kedalam
tuba dan alat pemegang tuba masing-masing dimasukkan
melalui salah satu sayatan yang terletak di kiri dan kanan atas
tulang

kemaluan.

Tiga

atau

empat

zigot

yang

terbaik

dipindahkan kedalam tuba.


Peluang keberhasilan prosedur ZIFT
Karena prosedur ZIFT itu berlangsung lebih alamiah dari pada
FIV-PE maka kemungkinan keberhasilannya diharapkan lebih
besar dibandingkan dengan FIV-PE. Kemungkinan kehamilan
dapat mencapai 25-30%.

2.1.2.3
GIFT

Prosedur GIFT
atau

gamete

intrafallopian

tube

transfer

telah

dikembangkan oleh Ricardo Asch di San Antonio,Texas, sebagai


suatu alternative terhadap FIV, khusus untuk isteri dengan salah

satu atau kedua tubanya terbuka. Dalam teknik ini, simulasi


ovulasi, laporoskopi, dan PO dilakukan sama seperti prosedur FIV.
Resiko
Hal-hal yang tidak diinginkan dapat saja terjadi selama mengikuti
program konsepsi buatan antara lain sebagai brikut :

Folikel history tidak berkembang atau kadar hormone

estrogen isteri tidak meningkat pada siklus pengobatan sehingga


oosit isteri tidak dapat diambil (siklus pengobatan gagal).

Kadang-kadang terjadi stimulasi berlebihan berlebihan dari

obat-obat stimulasi indung telur yang dapat menimbulkan


gerakan tidak enak bagi isteri.
Oosit isteri tidak berhasil dibuahi oleh sperma suami sehingga
dengan sendirinya tidak akan terjadi fertilisasi (zigot) yang akan
dipindahkan kedalam istri.
Penyulit-penyulit pada saat pengambilan oosit istri.
Penyulit-penyulit pada saat laparoskopi.
Secara Umum Prosedur dalam megikuti program bayi tabug
adalah sebagai berikut :
1.

Penjelasan dari dokter (Konseling), Pada tahap ini

pasangan suami istri diberi penjelasan tentang apa, bagaimana,


biaya dan sebagainya pada pasien.
2.

Screening test, Pada tahapan ini pasutri akan ditest untuk

menentukan kendalanya infertil, baik pria maupun wanitanya


karena infertilitas disebabkan oleh 40 % pria, 40 % wanita, dan
20 % tidak diketahui.
Pada Pria.

Untuk pria akan ditest spermanya (Analisa Sperma)


Kemungkinan yang ada pada hasil test ini adalah
1.

Azoospermia : Tidak ada sperma sama sekali.

2.

Normozoospermia : Jumlah sperma normal.

3.

Oligozoospermia : Jumlah sperma kurang.

4.

Asthenozoospermia : Gerakan sperma kurang

5.

Teratozoospermia : Bentuk sperma kurang.

6.

Oligoasthenoteratozoospermia : Jumlah, gerak dan bentuk

kurang.
Bila ditemukan pada pria azoospermia. ada beberapa
teknik yang bisa dipakai:
1.

Operasi MESA (Microsurgical Sperm Aspiration), Tindakan

ini dilakukan hanya bila diketahui adanya sumbatan pada saluran


sperma.
2.

Operasi TESE ( Testical Sperm Extraction ). Tindakan ini

dilakukan bila operasi MESA tidak berhasil, dengan TESE


diharapkan

bisa

diperoleh

sel

sperma,

atau

paling

tidak

spermatid (sel sperma muda yang sudah dapat membuahi).


Setelah sperma bisa diambil maka dilakukan Sperm Recovery
Test, untuk mengetahui kualitas dari sperma itu. Lalu sperma
dengan kualitas terbaik yang akan dipakai. Bila jumlahnya > 500
ribu dapat menggunakan teknik konvensional, yaitu dengan cara
menyebarkan begitu saja pada sel telur. Bila jumlahnya dibawah
500 ribu maka digunakan ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection )
yaitu menyuntikkan 1 sperma terbaik untuk di injeksikan ke sel
telur. Satu sperma untuk Satu Ovum. Untuk Wanita, Dengan
bantuan USG(Ultrasonografi) dan laparoskopi memeriksa indung

telur, lalu test darah untuk memriksa kadar hormon reproduksi.


Lalu pemeriksaan rongga rahim dan saluran telur biasanya yang
paling sering dijumpai adalah adanya kista dan endometriosis.
Ibu harus bebas dari infeksi toksoplasma, rubella, hepatitis dan
HIV.
3.

Ovarium Hyperstimulation. Terhitung hari ke 21 setelah

haid sang ibu diberi suntikan GnRH analog (GnRHa) selama 14


hari (tergantung dari kondisi si wanita) untuk menstimulasi sel
telur. Proses ini dinamakan ovarium hyperstimulation yang
fungsinya untuk mengembangkan sejumlah sel telur dalam
tubuh wanita.
Setelah kira-kira 4 minggu sel telur sudah bisa diambil,
penentuan tingkat kematangan sel telur sangat penting untuk
menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pembuahan
oleh sel sperma di laboratorium. Untuk itu dilakukan final
maturation, kira-kira 4 5 jam, lalu dipertemukan dengan sel
sperma. Rata-rata sel telur yang dihasilkan 8 10 sel telur,
tergantung dari respons si pasien. Bahkan bisa 20 sampai 30 sel
telur. Padahal, secara alami cuma ditumbuhkan 1 sel telur.
Prosedur bayi tabung dimulai dengan perangsangan indung telur
istri dengan hormon. Ini untuk memacu perkembangan sejumlah
folikel.

Folikel

adalah

gelembung

yang

berisi

sel

telur.

Perkembangan folikel dipantau secara teratur dengan alat


ultrasonografi dan pengukuran kadar hormon estradional dalam
darah. Pengambilan sel telur dilakukan tanpa operasi, tetapi
lewat

pengisapan

cairan

folikel

dengan

tuntunan

alat

ultrasonografi transvaginal. Cairan folikel tersebut kemudian


segera dibawa ke laboratorium. Seluruh sel telur yang diperoleh
selanjutnya dieramkan dalam inkuba.

Peleburan menjadi zigot. Beberapa jam kemudian, terhadap


masing-masing sel telur akan ditambahkan sejumlah sperma
yang sebelumnya telah diolah dan dipilih yang terbaik mutunya.
Setelah

kira-kira

18-20

jam,

akan

terlihat

apakah

proses

pembuahan tersebut berhasil atau tidak. Sel telur yang telah


dibuahi sperma atau disebut zigot akan dipantau selama 22-24
jam kemudian untuk melihat perkembangannya menjadi embrio.
Bila sperma kurang maka digunakan ICSI (Intracytoplasmic
Sperm Injection ) yaitu menyuntikkan 1 sperma terbaik untuk di
injeksikan ke sel telur. Satu sperma untuk Satu Ovum. Bila
embrio yang ada cukup jumlahnya (6 atau lebih), di anjurkan
menggunakan Blastosis (Embrio yang lebih tua 4 5 hari). Pada
tahap ini, embrio telah mempunyai dua tipe sel dengan sebuah
rongga di tengahnya. Sel terluar disebut trophectoderm yang
nantinya berkembang menjadi plasenta. Sedangkan sel bagian
dalam disebut inner cell mass, nantinya menjadi janin.

Bila memungkinkan untuk Blastosis, maka keuntungannya


adalah sebagai berikut
1.

Maksimum hanya 2 yang bisa ditanamkan ke rahim ibu.

Sehingga kemungkinan bayi lahir lebih dari 2 adalah kecil sekali.


2.

Berat bayi yang dilahirkan nantinya tidak berbeda dengan

bayi yang lahir secara alami.


3.

Bila anda menginginkan bayi laki2, maka kemungkinannya

menurut

Nukman

Moeloek

(Majalah

Kedokteran

Indonesia,

Agustus 2000) 58,3% adalah bayi laki2. Sekarang mungkin sudah


lebih tinggi lagi.

Sedikit catatan, sel telur yang sudah matang akan dibuahi


sel sperma yang mampu bertahan menempuh perjalanan dari
vagina, rahim, hingga tuba Fallopii. Saat bertemu keduanya
menyatu

jadilah

zigot

(hari

0).

Pada

hari

pertama

zigot

membelah menjadi embrio dua sel. Hari berikutnya, jadi embrio


empat sel. Begitu seterusnya hingga menjadi embrio delapan,
16, dan 32 sel, yang disebut morula. Selama pembelahan itu, ia
masih berada di tuba Fallopii. Setelah itu ia menjadi blastosis
pada hari kelima. Blastosis selanjutnya akan keluar dari lapisan
pelindung terluarnya yang disebut zona pelusida di akhir hari
keenam.

Bila

Jumlah

embrio

tidak

mencukupi

untuk

menggunakan Blastosis, maka menurut Dr. Sudraji, Dokter akan


memilih empat embrio yang terbaik untuk ditanamkan kembali
ke

dalam

maksimal

rahim.

Empat

embrio

karena

apabila

lebih

merupakan
dari

empat,

jumlah

yang

risiko

yang

ditanggung ibu dan janin akan sangat besar. Bahkan kehamilan


tiga saja sudah bisa disebut sebagai kehamilan berisiko. Embrioembrio yang terbaik itu kemudian diisap ke dalam sebuah
kateter khusus untuk dipindahkan ke dalam rahim.

Terjadinya

kehamilan dapat diketahui melalui pemeriksaan air seni 14 hari


setelah pemindahan embrio.

Efektifitas Tingkat keberhasilan Program bayi tabung di


Indonesia:
a.

Embrio yang berhasil terjadi 90 %

b.

Kehamilan yang berhasil 30-40 %

c.

Peluang keguguran 20-25 %

Tingkat peluang keberhasilan sangat ditentukan oleh usia


wanitanya:
a.

Diatas 42 tahun 0%.

b. 38 tahun s/d 42 tahun 10-11%


c.

30 tahun s/d 38 tahun 25-35%

d. Dibawah 30 tahun 35-40%


Adapun Persyaratan Pasangan suami istri yang berminat
mengikuti program bayi tabung ini harus memenuhi persyaratan
sbb:
1.

Mereka adalah pasangan suami istri sah, sudah menikah 12

bulan atau lebih, usia istri harus di bawah 42 tahun, dan


mengikuti pemeriksaan fertilitas.
2.

Sudah mendapatkan konseling khusus mengenai program

fertilisasi in vitro, prosedur, biaya, kemungkinan keberhasilan


atau kegagalan serta komplikasinya, siap biaya serta siap hamil,
melahirkan, dan memelihara bayinya.
3.

Jika melihat faktor kesuburan, untuk wanita idealnya

berumur antara 30-35 tahun. Artinya, pada umur-umur tersebut


persentase keberhasilan program bayi tabung lebih tinggi jika
dibandingkan usia wanita yang lebih tua (36-40 tahun)

2.1.3 KELEMAHAN DAN KEUNTUNGAN INSEMINASI BUATAN


Adapun kelemahan dari inseminasi buatan ini adalah sebagai
berikut :
1.

Dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel

sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan

normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin,


dimana sel yang paling kuat dan sehat

adalah yang menang.

Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang


dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium. Jadi bukan dengan
sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas
labolatorium

dapat

memisahkan

mana

sel

sperma

yang

kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan


genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu,
resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat,
menjadi cukup besar.
2.

Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara

genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi


memainkan peranan yang menentukan. Kesalahan pada saat
injeksi sperma, merupakan salah satu faktor kerusakan genetika.
Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama
akrosom berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur.
Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan
ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur. Sementara
dalam proses inseminasi buatan, dengan injeksi sperma, enzim
akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke
dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka
pembuahan akan terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma
memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi
pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.
3.

Keberhasilan masih belum mencapai 100 %, Di Rumah

Sakit Harapan Kita, tingkat keberhasilannya 50 %, sedangkan di


RSCM

sebesar 30-40 %

4.

Memerlukan waktu yang cukup lama

5.

Biaya mahal, berkisar antara 34-60 juta

6.

Tidak bisa sekali melakukan proses langsung jadi, tetapi

besar kemungkinan untuk di lakukan pengulangan

Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah


Memberikan peluang kehamilan kepada pasangan suami istri
yang sebelumnya mengalami infertilitas.
Ada beberapa Faktor- faktor yang sering menyebabkan
kegagalan Bayi Tabung yaitu:
1.Sel Telur yang tumbuh tidak ada / tidak mencukupi.
2. Tidak terjadi pembuahan
3. Embrio tidak menempel dinding rahim
4. Keguguran.

2.2

BAYI TABUNG DALAM SUDUT PANDANG HUKUM


2.2.1

PANDANGAN HUKUM ISLAM


Persoalan bayi tabung pada manusia merupakan

persoalan baru muncul dizaman modern, sehingga terjadi


masalah fiqh kontemporer yang pembahasannya tidak dijumpai
dalam buku-buku fiqh klasik. Karena itu pembahasan bayi tabung
pada manusia dikalangan para ahli fiqh kontemporer lebih
banyak mengacu kepada pertimbangan kemaslahatan umat
manusia, khususnya kemaslahatan suami istri.
Disamping harus dikaji secara multidisipliner karena
persoalan ini hanya bisa dipahami secara komprehensif jika dikaji

berdasarkan ilmu kedokteran, biologi-khususnya genetika dan


embriologi serta sosiologi.
Aspek hukum penggunaan bayi tabung didasarkan kepada
sumber sperma dan ovum, serta rahim. Dalam hal ini hukum bayi
tabung ada tiga macam, yaitu:
a.

Bayi tabung yang dilakukan dengan sel sperma dan ovum

suami istri sendiri serta tidak ditrannsfer kedalam rahim wanita


lain walau istrinnya sendiri selain pemilik ovum (bagi suami istri
yang berpoligami)

baik

dengan tehnik

FIV

maupun GIFT,

hukumnya adalah mubah, asalkan kondisi suami istri itu benarbenar membutuhkan bayi tabung (inseminasi buatan) untuk
memperoleh anak, lantaran dengan cara pembuahan alami,
suami istri itu sulit memperoleh anak. Padahal anak merupakan
suatu kebutuhan dan dambaan setiap keluarga. Disamping itu,
salah satu tujuan dari perkawinan adalah untuk memperoleh
anak dan keturunan yang sah serta bersih nasabnya. Jadi, bayi
tabung merupakan suatu hajat (kebutuhan yang sangat penting)
bagi suami istri yang gagal memperoleh anak secara alami.
Dalam hal ini kaidah fiqih menentukan bahwa Hajat (kebutuhan
yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan
terpaksa

(emergency)

padahal

keadaan

darurat/terpaksa

membolehkan melakukan hal-hal yang terlarang.


b.

Bayi tabung yang dilakukan dengan menggunakan

sperma dan atau ovum dari donor, haram hukumnya karena


hukumnya sama dengan zina, sehingga anak yang dilahirkan
melalui proses bayi tabung tersebut tidak sah dan nasabnya
hanya

dihubungkan

dengan

ibu

(yang

melahirkan)-Nya.

Termasuk juga haram system bayi tabung yang menggunakan


sperma mantan suami yang telah meninggal dunia, sebab antara

keduanya tidak terikat perkawinan lagi sejak suami meninggal


dunia.
c.

Haram hukumnya bayi tabung yang diperoleh dari

sperma dan ovum dari suami istri yang terikat perkawinan yang
sah tetapi embrio yang terjadi dalam proses bayi tabung
ditransfer kedalam rahim wanita lain atau bukan ibu genetic
(bukan istri atau istri lain bagi suami yang berpoligami), haram
hukumnya. Jelasnya, bahwa bayi tabung yang menggunakan
rahim rental, adalah haram hukumnya. Ini berarti bahwa kondisi
darurat tidak mentolerir perbuatan zina atau bernuansa zina.
Zina tetap haram walaupun darurat sekalipun.
Dalam kaitan ini yusuf qardawi mengemukakan bahwa
keharaman bayi tabung dengan menggunakan sperma yang
berasal dari laki-laki lain, baik diketahui maupun tidak, atau sel
telur yang berasal dari wanita lain. Karena akan menimbulkan
problem tentang siapa sebenarnya ibu dari bayi tersebut, apakah
si pemilik sel telur itu yang membawa karakteristik keturunan,
apakah wanita yang menderita dan menanggung rasa sakit
karena hamil dan melahirkannya? Begitu pula jika wanita yang
mengandungnya adalah istri lain dari suaminya sendiri, haram
karena dengan cara ini tidak diketahui siapa sebenarnya dari
kedua istri itu yang menjadi ibu dari bayi yang akan dilahirkan
nanti.

Juga

kepada

siapa

nasab

(keturunan)

sang

bayi

disandarkan, apakah kepada pemilik sel telur atau sipemilk


rahim?
Dalam kasus ini para ahli fiqih mempunyai pendapat yang
berbeda-beda. Pendapat pertama (yang dipilih Yusuf Qardawi),
bahwa ibu bayi itu adalah sipemilik sel telur. Sedangkan
pendapat

kedua,

bahwa

ibunya

adalah

wanita

yang

mengandung dan melahirkannya. Pendapat ini sejalan dengan


zahir QS.al-mujadilah:2 yang artinya ibu-ibu mereka tidak lain
hanyalah wanita yang melahirkan mereka..
Sedangkan pedapat pertama diatas selaras dengan
genetika, bahwa anak akan mewarisi karakter (sifat-sifat) dari
wanita pemilik sel telur dan laki-laki pemilik sel sperma. Karena
dalam sel telur dan sperma itu terdapat kromosom dan didalam
kromosom itulah terdapat gen. Gen inilah yang memberikan sifat
menurun (hereditas) kepada anak.
Menurut Muhammad Syuhudi Ismail, sewa rahim sebagai
salah satu bentuk rekayasa genetika adalah haram hukumnya.
Alasannya, pada zaman jahiliah telah dikenal 4 jenis perkawinan
dan hanya satu yang sesuai dengan perkawinan menurut islam.
Jenis perkawinan lain adalah bibit unggul, poliandri sampai 9
orang

suami,

dan

perkawinan

massal

(sejumlah

laki-laki

mengawini sejumlah wanita). Perkawinan bibit unggul memiliki


persamaan dengan perkawinan unggul yang terjadi pada zaman
modern ini melalui jasa bank sperma. Perbedaannya perkawinan
bibit unggul pada zaman jahiliah berjalan secara alamiah
sedangkan sekarang ini berjalan secara ilmiah.
Disamping itu, praktek sewa rahim bertentangan dengan
tujuan perkawinan. Karena salah satu tujuan perkawinan adalah
untuk mendapatkan keturunan dengan jalan halal dan terhindar
dari perbuatan yang dilarang agama, sedangkan dalam sewa
rahim akan melahirkan banyak masalah bagi anak yang lahir,
pemilik bibit, pemilik rahim dan sebagainya.
Menurut Umar Shihab, keharaman sewa rahim disebabkan
oleh (1) akan menambah masalah lain yang akan muncul, seperti
defenisi anak berbeda dengan anak yang lahir dari bibit dan

rahim yang sama; dan siapakah ibu yang sebenarnya, apakah ibu
genetiknya atau ibu yang mengandungnya; (2) dapat diqiaskan
dengan jual beli yang diharamkan, jual beli yang mengandung
najis (darah).
Sewa rahim dapat disamakan dengan jual beli dari segi
syarat dan rukunnya. Salah satu syaratnya barangnya harus
halal. Barang najis dilarang diperjual belikan dan salah satu
barang najis yang diperjual belikan adalah darah. Memang
sperma dan ovum tidak termasuk najis, namun antara keduanya
kelak berubah menjadi segumpal darah yang melekat pada
dinding rahim yang kelak menjadi najis. Dalam hal ini juga
terdapat hubungan timbal balik sebab pemilik rahim (ibu
penghamil) dibayar sesuai dengan perjanjian dengan pemilik
ovum (ibu genetik), yang berarti hukum keduanya adalah sama.
Selain itu, praktek sewa menyewa rahim tidak dapat digolongkan
dalam keadaan darurat, melainkan termasuk kebutuhan (hajat).
Maksudnya, sewa rahim tidak dapat dibenarkan. Jika seorang
ingin punya anak maka harus berusaha sedemikian rupa dengan
cara yang dibenarkan agama.
Tidak punya anak memang identik dengan terputusnya
nasab, namun jika

nasab

tersambung

dengan

cara

yang

mengarah kepada zina justru mengancam eksistensi nasab itu


sendiri.
Alasan-alasan haramnya bayi tabung dengan
menggunakan sperma dan atau ovum dari donor atau ditransfer
kedalam rahim wanita lain, adalah:
1.

Firman Allah dalam QS.Al-Isra:70 mengatakan bahwa;

yang artinya sesungguhnya kami telah memuliakan manusia

Dalam hal ini bayi tabung dengan menggunakan


sperma dan atau ovum dari donor itu pada hakekatnya
merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang
diinseminasi,

padahal

tuhan

sendiri

berkenan

memuliakan

manusia.
2.

Hadits nabi Muhammad SAW :


Hadist ini tidak saja mengandung arti penyiraman

sperma kedalam vagina seorang wanita melalui hubungan


seksual, melainkan juga mengandung pengertian memasukkan
sperma donor melalui proses bayi tabung, yaitu percampuran
sperma dan ovum diluar rahim, yang tidak diikat perkawinan
yang

sah.

Padahal

hubungan

biologis

antara

suami

istri,

disamping untuk menikmati karunia Allah dalam menyalurkan


nafsu

seksual,

terutama

dimaksudkan

untuk

mendapatkan

keturunan yang halal dan diridhoi Allah. Karena itu sperma


seorang suami hanya boleh ditumpahkan pada tempat yang
dihalalkan oleh Allah, yaitu istri sendiri. Dengan demikian bayi
tabung dengan cara mencampurkan sperma dan ovum donor
dari orang lain identik dengan prositusi terselubung yang
dilarang oleh syariat islam. yang berbunyi ;
tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan
hari akhir menyiramkan air (sperma)-Nya kedalam tanaman
(vagina istri) orang lain.(HR Abu Daud dari Ruwaifa bin Sabit).
3.

Kaidah Fiqih
Dalam hal ini masalah bayi tabung dengan

menggunakan donor adalah membantu pasangan suami istri


dalam mendapatkan anak, yang yang secara alamiah kesulitan
memperoleh anak karena adanya hambatan alami menghalangi
bertemunya sel sperma dengan sel telur (misalnya saluran

telurnya terlalu sempit atau ejakulasi (pancaran sperma)-Nya


terlalu lemah.
Namun demikian, mafsadsah (bahaya) bayi tabung dengan
donor jauh lebih besar dari manfaatnya antara lain:
a)

Percampuran nasab, padahal islam sangat memelihara

kesucian,

kehormatan

dan

kemurnian

nasab,

karena

ada

kaitannya dengan kemahraman (siapa yang halal dan siapa yang


haram dikawini) serta kewarisan ;
b)

Bertentangan dengan sunatullah atau hokum alam;

c)

Statusnya sama dengan zina, karena percampuran sperma

dan ovum tanpa perkawinan yang sah;


d)

Anak yang dilahirkan bisa menjadi sumber konflik dalam

rumah tangga, terutama bayi tabung dengan bantuan donor


akan berbeda sifat-sifat fisik, dan karakter/mental dengan ibu/
bapaknya;
e)

Anak yang dilahirkan melalui bayi tabung yang

percampuran nasabnya terselubung dan dirahasiakan donornya,


lebih jelek daripada anak adopsi yang umumnya diketahui asal
atau nasabnya;
f)

Bayi tabung dengan menggunakan rahim rental (sewaan)

akan lahir tanpa proses kasih sayang yang alami (tidak terjalin
hubungan keibuan antara anak dan ibunya secara alami).
Sehingga akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Ini
berdasarkan kaidah fiqih yang artinya menolak kerusakan harus
didahulukan dari pada menarik kemaslahatan

2.2.2 PANDANGAN HUKUM PERDATA DI INDONESIA

Jika benihnya berasal dari Suami Istri

Jika benihnya berasal dari Suami Istri, dilakukan proses

fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam


rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun
yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik)
dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mewaris
dan hubungan keperdataan lainnya.

Jika ketika embrio diimplantasikan kedalam rahim ibunya di

saat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir
sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak
sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa
300 hari, maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan
tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas
suami ibunya. Dasar hukum ps. 255 KUHPer.

Jika embrio diimplantasikan kedalam rahim wanita lain

yang bersuami, maka secara yuridis status anak itu adalah anak
sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai
benih. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer.
Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak
tersebut sebagai anak sah-nya melalui tes golongan darah atau
dengan jalan tes DNA. (Biasanya dilakukan perjanjian antara
kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah
secara perdata barat, sesuai dengan ps. 1320 dan 1338 KUHPer.)
Jika salah satu benihnya berasal dari donor

Jika Suami mandul dan Istrinya subur, maka dapat

dilakukan fertilisasi in vitro transfer embrio dengan persetujuan


pasangan tersebut. Sel telur Istri akan dibuahi dengan Sperma
dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan
diimplantasikan ke dalam rahim Istri. Anak yang dilahirkan

memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan


hubungan

keperdataan

lainnya

sepanjang

si

Suami

tidak

menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes


DNA. Dasar hukum ps. 250 KUHPer.

Jika embrio diimplantasikan kedalam rahim wanita lain yang

bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari


pasangan penghamil tersebut. Dasar hukum ps. 42 UU No.
1/1974 dan ps. 250 KUHPer.
Jika semua benihnya dari donor

Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang

yang tidak terikat pada perkawinan, tapi embrio diimplantasikan


ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan
maka anak yang lahir mempunyai status anak sah dari pasangan
Suami Istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan
yang terikat dalam perkawinan yang sah.

Jika diimplantasikan kedalam rahim seorang gadis maka

anak tersebut memiliki status sebagai anak luar kawin karena


gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah dan pada
hakekatnya anak tersebut bukan pula anaknya secara biologis
kecuali sel telur berasal darinya. Jika sel telur berasal darinya
maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai
anaknya.

Dari tinjauan yuridis menurut hukum perdata barat di


Indonesia terhadap kemungkinan yang terjadi dalam program
fertilisasi in vitro transfer embrio ditemukan beberapa kaidah
hukum yang sudah tidak relevan dan tidak dapat meng-cover
kebutuhan yang ada serta sudah tidak sesuai lagi dengan

perkembangan yang ada khususnya mengenai status sahnya


anak yang lahir dan pemusnahan kelebihan embrio yang
diimplantasikan
permasalahan

ke

dalam

mengenai

rahim

inseminasi

ibunya.

Secara

buatan

khusus,

dengan

bahan

inseminasi berasal dari orang yang sudah meninggal dunia,


hingga saat ini belum ada penyelesaiannya di Indonesia. Perlu
segera dibentuk peraturan perundang-undangan yang secara
khusus mengatur penerapan teknologi fertilisasi in vitro transfer
embrio ini pada manusia mengenai hal-hal apakah yang dapat
dibenarkan dan hal-hal apakah yang dilarang

2.2.3 PANDANGAN HUKUM MEDIS


Di Indonesia, hukum dan perundangan mengenai teknik
reproduksi buatan diatur dalam:
1.

UU Kesehatan no. 36 tahun 2009, pasal 127 menyebutkan

bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat


dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:
a.)

Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang

bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum


berasal;
b.)

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian

dan kewenangan untuk itu;


c.)
2.

pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.


Keputusan Menteri Kesehatan No. 72/Menkes/Per/II/1999

tentang Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan, yang


berisikan:

ketentuan

umum,

perizinan,

pembinaan,

pengawasan, Ketentuan Peralihan dan Ketentuan Penutup.

dan

Adapun bunyinya adalah sebagai berikut :

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1.

Teknologi reproduksi buatan adalah upaya pembuahan

sel telur dengan sperma di luar cara alami, tidak termasuk


kloning;
2.

Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) adalah

persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas


dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien;
3.
dan

Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan


dokumen

tentang

identitas

pasien,

pemeriksaan,

pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada


sarana pelayanan kesehatan.
4.

Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pelayanan

Medik Departemen Kesehatan.

BAB II
PERIZINAN
Pasal 2
Rumah Sakit dapat memberikan pelayanan teknologi reproduksi
buatan setelah mendapat izin dari Direktur Jenderal.

Pasal 3
1.
dalam

Pelenggaran terhadap ketentuan sebagaimana diatur


Peraturan

Menteri

ini

dapat

dikenakan

tindakan

administratif.
2.

Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dapat berupa peringatan samapai dengan pencabutan izin


penyelenggaraan pelayanan teknologi reproduksi buatan.
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 11
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo,
Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita dan Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo yang telah memberikan pelayanan
teknologi

reproduksi

buatan,

berdasarkan

peraturan

ini

dinyatakan diberi izin penyelenggaraan pelayanan, penelitian


dan pengembangan dengan ketentuan selambat-lambatnya 2
(dua) tahun sejak ditetapkan peraturan ini harus menyesuaikan
diri dengan ketentuan peraturan ini.

BAB V
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 12

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, maka Instruksi


Kesehatan

Nomor

3794/Menkes/VII/1990

tentang

Program

Pelayanan Bayi Tabung dinyatakan tidak berlaku lagi.


Pasal 13
Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan
Agar

setiap

orang

dapat

mengetahuinya

memerintahkan

pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya


dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Selanjutnya Keputusan MenKes RI tersebut dibuat Pedoman
Pelayanan Bayi Tabung di Rumah Sakit, oleh Direktorat Rumah
Sakit Khusus dan Swasta, DepKes RI, yang menyatakan bahwa:
1.

Pelayanan teknik reprodukasi buatan hanya dapat

dilakukan dengan sel sperma dan sel telur pasangan suami-istri


yang bersangkutan.
2.

Pelayanan reproduksi buatan merupakan bagian dari

pelayanan infertilitas, sehingga sehinggan kerangka pelayannya


merupakan bagian dari pengelolaan pelayanan infertilitas secara
keseluruhan.
3.

Embrio yang dipindahkan ke rahim istri dalam satu waktu

tidak lebih dari 3, boleh dipindahkan 4 embrio dalam keadaan:


a)

Rumah sakit memiliki 3 tingkat perawatan intensif bayi

baru lahir.
b)

Pasangan suami istri sebelumnya sudah mengalami

sekurang-kurangnya dua kali prosedur teknologi reproduksi yang


gagal.
c)

Istri berumur lebih dari 35 tahun.

4.

Dilarang melakukan surogasi dalam bentuk apapun.

5.

Dilarang melakukan jual beli spermatozoa, ovum atau

embrio.
6.

Dilarang menghasilkan embrio manusia semata-mata untuk

penelitian. Penelitian atau sejenisnya terhadap embrio manusia


hanya dapat dilakukan apabila tujuannya telah dirumuskan
dengan sangat jelas
7.

Dilarang melakukan penelitian dengan atau pada embrio

manusia dengan usia lebih dari 14 hari setelah fertilisasi.


8.

Sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa manusia

tidak boleh dibiakkan in vitro lebih dari 14 hari (tidak termasuk


waktu impan beku).
9.

Dilarang melakukan penelitian atau eksperimen terhadap

atau menggunakan sel ovum, spermatozoa atau embrio tanpa


seijin dari siapa sel ovum atau spermatozoa itu berasal.
10. Dilarang melakukan fertilisasi trans-spesies, kecuali fertilisasi
tran-spesies tersebut diakui sebagai cara untuk mengatasi atau
mendiagnosis infertilitas pada manusia. Setiap hybrid yang
terjadi

akibat

fretilisasi

trans-spesies

harus

diakhiri

pertumbuhannya pada tahap 2 sel.


Etika Teknologi Reproduksi Buatan belum tercantum secara
eksplisit dalam Buku Kode Etik Kedokteran Indonesia. Tetapi
dalam addendum 1, dalam buku tersebut di atas terdapat
penjelasan khusus dari beberapa pasal revisi Kodeki Hasil
Mukernas Etik Kedokteran III, April 2002. Pada Kloning dijelaskan
bahwa pada hakekatnya menolak kloning pada manusia, karena
menurunkan harkat, derajat dan serta martabat manusia sampai
setingkat bakteri, menghimbau ilmuwan khususnya kedokteran,

untuk

tidak

mempromosikan

kloning

pada

manusia,

dan

mendorong agar ilmuwan tetap menggunakan teknologi kloning


pada :
1.

sel atau jaringan dalam upaya meningkatkan derajat

kesehatan misalnya untuk pembuatan zat antigen monoklonal.


2.

sel atau jaringan hewan untuk penelitian klonasi organ, ini

untuk melihat kemungkinan klonasi organ pada diri sendiri.

2.3 BAYI TABUNG DARI SUDUT PANDANG ETIKA


Program bayi tabung pada dasarnya tidak sesuai dengan budaya
dan tradisi ketimuran kita.

Sebagian agamawan

menolak

adanya fertilisasi in vitro pada manusia, sebab mereka berasumsi


bahwa kegiatan tersebut termasuk Intervensi terhadap karya
Illahi. Dalam artian, mereka yang melakukakan hal tersebut
berarti ikut campur dalam hal penciptaan yang tentunya itu
menjadi hak prioregatif Tuhan. Padahal semestinya hal tersebut
bersifat natural, bayi itu terlahir melalui proses alamiah yaitu
melalui hubungan seksual antara suami-istri yang sah menurut
agama.
Aspek Human Rigths:
Dalam DUHAM dikatakan semua orang dilahirkan bebas
dengan martabat yang setara. Pengakuan hak-hak manusia telah
diatur

di

dunia

international,

salah

satunya

tentang

hak

reproduksi.
Dalam kasus ini, meskipun keputusan inseminasi buatan
dengan donor sperma dari laki-laki yang bukan suami wanita
tersebut adalah hak dari pasangan suami istri tersebut, namun

harus dipertimbangkan secara hukum, baik hukum perdata,


hukum pidana, hukum agama, hukum kesehatan serta etika
(moral) ketimuran yang berlaku di Indonesia .
Di Indonesia sendiri bila dipandang dari segi etika, pembuatan
bayi tabung tidak melanggar, tapi dengan syarat sperma dan
ovum berasal dari pasangan yang sah. Jangan sampai sperma
berasal dari bank sperma, atau ovum dari pendonor. Sementara
untuk kasus, sperma dan ovum berasal dari suami-istri tapi
ditanamkan dalam rahim wanita lain alias pinjam rahim, masih
banyak yang mempertentangkan. Bagi yang setuju mengatakan
bahwa si wanita itu bisa dianalogikan sebagai ibu susu karena si
bayi di beri makan oleh pemilik rahim. Tapi sebagian yang
menentang mengatakan bahwa hal tersebut termasuk zina
karena telah menanamkan gamet dalam rahim yang bukan
muhrimnya. Tetapi sebenarnya UU Kesehatan no. 36 tahun 2009,
pasal 127 ditegaskan bahwa Kehamilan diluar cara alami dapat
dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri
mendapat keturunan, tetapi upaya kehamilan tersebut hanya
dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah yaitu: hasil
pembuahan sperma dan ovum harus berasal dari pasangan
suami istri tersebut, untuk kemudian ditanamkan dalam rahim si
istri. Jadi untuk saat ini wacana Surrogates Mother di Indonesia
tidak begitu saja dapat dibenarkan.
Untuk pemilihan jenis kelaminpun sebenarnya secara teknis
dapat dilakukan pada inseminasi buatan ini. Dengan melakukan
pemisahan kromosom X dan Y, baru kemudian dilakukan
pembuahan in-vitro sesuai dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Banyak masalah norma dan etik dalam teknologi ini yang jadi
perdebatan banyak pihak, tetapi untuk pandangan profesi

kedokteran mungkin dapat mengarah kesimpulan dari Perspektif


Etika

dalam

Perkembangan

Teknologi

Kedokteran

yang

disampaikan oleh dr. Mochamad Anwar, SpOG dalam Seminar


Nasional Continuing Medical Education yang diselenggarakan di
Auditorium FK UGM tanggal 10 Januari 2009, dimana aspek etika
haruslah menjadi pegangan bagi setiap dokter, ahli biologi
kedokteran serta para peneliti di bidang rekayasa genetika, yang
didasarkan pada Deklarasi Helsinki antara lain:
1.

Riset biomedik pada manusia harus memenuhi prinsip-

prinsip ilmiah dan didasarkan pada pengetahuan yang adekuat


dari literatur ilmiah.
2.

Desain dan pelaksanaan experimen pada manusia harus

dituangkan dalam suatu protokol untuk kemudian diajukan pada


komisi independen yang ditugaskan untuk mempertimbangkan,
memberi komentar dan kalau perlu bimbingan.
3.

Penelitian biomedik pada manusia hanya boleh dikerjakan

oleh orang-orang dengan kualifikasi keilmuan yang cukup dan


diawasi oleh tenaga medis yang kompeten.
4.

Dalam protokol riset selalu harus dicantumkan pernyataan

tentang norma etika yang dilaksanakan dan telah sesuai dengan


prinsip-prinsip deklarasi Helsinki.
Walaupun demikian penyusun merasa selain etika penelitian
yang ada dalam Deklarasi Helsinki ini, masih diperlukan campur
tangan

pemerintah

untuk

membuat

suatu

aturan

resmi

mengenai pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga


ada pengawasan yang lebih intensif terhadap bahaya potensial
yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi ini.

1.4

PROBLEMATIKA DAN PANDANGAN KELOMPOK

Setelah mengalami keberhasilan bayi tabung teryata mempuyai


efek ganda (ripple effect) yag meluas. Seolah-olah sebuah batu
yang dilontarkan di telaga yag aka membuat lingkaran yang
makin lama makin besar. Adalah suatu kenyataan bahwa apabila
suatu masalah sudah bisa di atasi, maka ia sekaligus juga akan
menimbulkan masalah lain yang harus di atasi pula da demikian
seterusnya.
Hidup manusia di dunia pada hakekatnya berdasarkan agamaagama yang dianuti masing-masing dan di pakai sebagai
pedoman hidup.

Pelaksanaanya lebih lanjut dalam cara hidup,

sikap tindakan dan prilaku manusia memakai landasan Etika da


Moral. Faktor faktor ini penting sebagai penentu dan kepastian
dalam pergaula hidup sehari-hari dan dalam hubungan antar
sesama manusia.
Seiring perkembangan globalisasi mengikuti manusia untuk
mengikuti arus zaman. Banyak tuntutan yang menjadi persoalan
terutama tuntutan hidup yang mengarah kepada perkawinan
yang kemudian memperoleh keturunan. Hal yang biasa terjadi
pada pasangan suami istri yang ingin memperoleh keturunan
baik alamiah maupun ilmiah.
Namun

yang

menjadi

permasalahan

dalam

pelaksanan

inseminasi buatan dalam hal ini adalah bayi tabung adalah


sebagai berikut;
1.

Pasangan homo seks dan/lesbian yang berharap ingin

memiliki keturunan namun dengan perkembangan bioteknologi


mereka bisa mempunyai keturunan dengan mengikuti program
bayi tabung (fertilisasi in vitro)!

2.

Masalah lain juga timbul bagi wanita yang ingin

mempunyai keturunan tanpa perkawinan (tanpa hubungan seks)


atau transfer sel sperma dari pria lain!
3.

Pasangan suami istri yang langsung menentukan jenis

kelamin anaknya atau memilih bibit unggul dari bayi tabung atau
fertilisasi in vitro!
4.

Masalah lain juga timbul bagi para wanita karir yang

menunda kehamilannya dengan alasan pekerjaannya!


Masalah-masalah tersebut yang akan menjadi topik pembahasan
kami!!!!

1.

pasangan lesbian dan gay

yang berharap mempunyai

keturunan dalam mengikuti program bayi tabung


Sebelum masuk apakah bayi tabung bisa di lakukan oleh
pasangan gay dan lebian, kita harus melihat apakah pasangan ini
sah dalam status perkawinannya di Indonesia. memang di
Negara-negara lain seperti Belanda, Belgia, Afrika selatan,
Norwegia dan Negara negara lainnya sudah melegalisir

UU

Pernikahan Homo dan mengizinkan pasangan ini melakukan


perkawinan.

Berdasarkan dokumen hak azasi manusia The

Universal Declaration of Human Rights yang menjunjug tinggi


hak asasi setiap orang. Tapi di Indonesia perkawinan lesbian dan
gay sangat di tentang oleh Indonesia yang mayoritas umat
beragama.

Dalam konteks kehidupan, Pasangan Lesbian dan

Gay dalam kehidupan tidak disahkan oleh agama manapun


didunia ini. Sebab keberadaannya sangat mengganggu etika dan
moral. Dalam al Qura memang tidak ada ayat yang melarang
cinta kasih sesama jenis, tapi Ketabuan homo hanyalah bersifat

budaya, bukan agamis, karenanya tidak bersifat dogmatis dan


atau

bisa diubah.

Jika bicara tentang hak asasi manusia,

seharusnya pasangan lesbian dan/gay juga melihat bagaimana


tatanan etika dan moral yang berlaku. Sehigga Kalau dilihat dari
perspektif
dengan

agama,

lawan

manusia

jenis

dan

diciptakan

sangat

berpasang-pasangan

menghormati

pernikahan.

"Pernikahan itu tujuannya untuk mendapatkan keturunan. Oleh


karena itu, pasangan homo seks tersebut tidak bisa mengikuti
program bayi tabung. Intinya kami tidak setuju dengan pasangan
homo/lesbian ini.
2.

wanita yang ingin memiliki keturunan tanpa melakukan

hubungan seks (kawin) / melakukan transfer embrio


Permasalah ini agaknya sangat bertentangan dengan undangundang perkawinan, di mana tujuan dari perkawinan adalah
untuk

mendapatkan

keturunan.

Memang

setiap

manusia

mempunyai hak-hak yang harus dihormati oleh setiap lain. Tapi


kita yang tinggal dalam tatanan Negara yang menjunjung tinggi
hukum haruslah memperhatikan faktor-faktor tersebut.
Lagi pula Hukum di indonesia hanya memperbolehkan pasangan
suami istri (pasutri) yang sah untuk mengikuti program bayi
tabung. Dengan kata lain apabila ada wanita yang ingin memiliki
keturunan tapi belum menikah tidak diperbolehkan mengikuti
program bayi tabung ini (ivf). Lain halnya bila wanita tersebut
melakukan program bayi tabung di luar negeri.
3.

Pasangan suami istri yang mengikuti program bayi tabung

dan menentukan sendiri jenis kelamin dan / memilih bibit unggul


Perkembagan

ilmu

teknologi

dan

kedokteran

membuat

segalannya yang tidak mungkin menjadi mungkin, seperti


memilih jenis kelamin bayi ketika sedang memprogram hamil

dalam megikuti program bayi tabung. Dalam hal memilih jenis


kelamin bagi pasangan suami istri (pasutri) mugki sangan
bertetangan dengan

Pasangan suami istri yang mengikuti

program bayi tabung dan memilih bibit unggul dan atau


menentukan sendiri jenis kelamin anaknya
Menurut Dewan Hukum Islam yang berbasis di Arab Saudi
membolehkan
kesehatan.

memilih

jenis

kelamin

bayi

dengan

alasan

Menurut Dewan tersebut, memilih jenis kelamin

sebelum dilahirkan dibolehkan, jika ada penyakit tertentu yang


berpotensi mempengaruhi kesehatan anak jika anaknya laki-laki
dan bukan perempuan, atau sebaliknya.

Dengan demikian,

memilih jenis kelamin dan atau memilih bibit unggul dari


program bayi tabung di perbolehkan jika tujuannya untuk
menghindari adanya penyakit yang di timbulkan jika tidak
dilakukan hal tersebut.

Kita sebagai manusia wajib berusahan

dan yang menentukan segalannya adalah sang Ilahi.


4.

Mau di kemanakan sisa embrio dari hasil program bayi

tabung
Setelah mengalami keberhasilan dalam mengikuti bayi tabung,
timbul masalah baru yakni mau di kemanakan sisa embrio dari
hasil bayi tabung tersebut. Sebagaimana diketahui, jumlah sel
telur yang diambil untuk pembuahan in vitro tidak hanya satu,
untuk mengantisipasi jika ada kegagalan. Bisa lebih dari dua atau
tiga atau bahkan tujuh sel telur. Semua dipertemukan dengan
sperma suami di cawan petri. Namun, jika sudah terjadi
pembuahan, maksimal hanya dua yang boleh dikembalikan ke
rahim ibunya. Sisanya ke mana? Jika kita meyakini kehidupan
dimulai sejak

pembuahan, maka

embrio sisa tidak boleh

dimusnahkan karena pemusnahan berarti pembunuhan atau


aborsi in vitro.
5.

wanita yang menunda kehamilannya karena alasan

pekerjaan

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN

1.

Teknologi reproduksi buatan merupakan hasil kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada prinsipnya bersifat


netral dan dikembangkan untuk meningkatkan derajat hidup dan
kesejahteraan umat manusia. Dalam pelaksanaannya akan
berbenturan dengan berbagai permasalahan moral, etika, dan
hukum yang komplek sehingga memerlukan pertimbangan dan
pengaturan yang bijaksana dalam rangka memberikan jaminan
perlindungan hukum terhadap semua pihak yang terlibat dalam
penerapan teknologi reproduksi buatan dengan tetap mengacu
kepada penghormatan harkat dan martabat manusia serta
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
2.

Pandangan internasional terhadap teknologi reproduksi

buatan memiliki kesamaan terhadap tujuan pelaksanaan dan


pengembangan teknologi reproduksi buatan yaitu dalam rangka
memajukan

dan

mengembangkan

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi dalam batas-batas penghargaan terhadap hak asasi


manusia serta harkat dan derajat manusia untuk meningkatkan
kesejahteraan umat manusia.
3.

Hukum Indonesia mengatur mengenai teknologi reproduksi

manusia sebatas upaya kehamilan diluar cara alamiah, dengan


sperma dan sel telur yang berasal pasangan suami isteri dan
ditanamkan dalam rahim isteri. Dengan demikian teknologi bayi
tabung yang sperma dan sel telurnya berasal dari suami isteri
dan ditanamkan dalam rahim isteri diperbolehkan di Indonesia,
sedangkan

teknik

diizinkan dilakukan.

3.2

SARAN

ibu

pengganti

(surrogate

mother)

tidak

Saran dari kami sebagai individu dan bagi individu adalah


sebaiknya jangan melakukan inseminasi buatan jikalau memang
hukum agama dan negara yang berlaku di masyarakat kita telah
melanggar dan melaknat tindakan tersebut, ketimbang kita
melakukan tindakan tersebut dan menanggung sanksi-sanksi
yang berat, baik di mata Allah dan di mata hukum. Kita juga yang
kerepotan. Just Be yourself beauty and you will find the world full
of beauty, jalankanlah inseminasi alamiah secara normal dalam
ikatan pernikahan tentunya, bersabarlah, karena orang yang
sabar di sayang Allah. Allah maha melihat dan meha pemberi,
dengan kita terus bersabar, berdoa, berusaha dan tawakal
kepada Allah, insya Allah kita akan diberikan keturunan yang
terbaik

di

mata

diri

kita

sendiri,

keluarga,

masyarakat, serta di mata Allah azzawajalla. Amin..

kerabat,

dan

DAFTAR PUSTAKA
Soimin, Soedharyo S.H. Kitab undang-undang hukum perdata.
1995. Diterbitkan oleh sinar grafika, jakarta
Guwandi. J S.H. HUKUM dan DOKTER. 2007 diterbitkan oleh CV.
Sagung Seto, jakarta
http://fachri-kencana.blogspot.com/2010/11/bayi-tabung.html
http://www.scribd.com/doc/28605655/Bayi-Tabung