Anda di halaman 1dari 27

Wilayah (region) didefinisikan sebagai suatu unit geografi yang di

batasi oleh kriteria tertentu dan bagian-bagiannya tergantung secara


internal. Wilayah dapat di bagi menjadi empat jenis yaitu;
1. Wilayah Homogen
Wilayah homogen adalah wilayah yang dipandang dari aspek/criteria
mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat atau ciriciri kehomogenan ini misalnya dalam hal ekonomi (seperti daerah dengan
stuktur produksi dan kosumsi yang homogen, daerah dengan tingkat
pendapatan rendah/miskin dll). Geografi seperti wilayah yang mempunyai
topografi

atau

iklim

yang

sama),

agama,

suku,

dan

sebagainya

mengemukakan bahwa wilayah homogen di batasi berdasarkan atas


adanya keseragamamnya secara internal (internal uniformity). Contoh
wilayah homogen adalah pantai utara Jawa barat (mulai dari indramayu,
subang dan karawang).
2. Wilayah Nodal
Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional
mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya
(interland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk,
faktor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transportasi.
menyatakan bahwa pengertian wilayah nodal yang paling ideal untuk di
gunakan dalam analisis mengenai ekonomi wilayah, mengartikan wilayah
tersebut sebagai ekonomi ruang yang yang di kuasai oleh suatu atau
beberapa

pusat

kegiatan

ekonomi

Wilayah

homogen

dan

nodal

memainkan peranan yang berbeda di dalam organisasi tata ruag


masyrakat. Perbedaan ini jelas terlihat pada arus perdagangan. Dasar
yang biasa di gunakan untuk suatu wilayah homogen adalah suatu out put
yang dapat diekspor bersama dimana seluruh wilayah merupakan suatu
daerah surplus untuk suatu output tertentu, sehinga berbagai tempat di
wilayah tersebut kecil atau tidak sama sekali kemungkinannya untuk
mengadakan perdagangan secara luas di antara satu sama lainya.
Sebaliknya, dalam wilayah nodal, pertukaran barang dan jasa secara
intern di dalam wilayah tersebut merupakan suatu hal yang mutlak harus
ada. Biasanya daerah belakang akan menjual barang-barang mentah (raw

material) dan jasa tenaga kerja pada daerah inti, sedangkan daerah inti
akan menjual ke daerah belakang dalam bentuk barang jadi.
3. Wilayah Administratif
Wilayah Administratif adalah wilayah yang batas-batasnya
tentukan

berdasarkan

kepentingan

administrasi

pemerintahan

di

atau

politik, seperti propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan


RT/RW.

Bahwa

di

dalam

praktek,

apabila

membahas

mengenai

pembangunan wilayah, maka pengertian wilayah administrasi merupakan


pengertian yang paling banyak digunakan. Lebih populernya pengunaan
pengertian tersebut di sebabkan dua faktor yakni :
a. Dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah di perlukan
adanya beberapa tindakan-tindakan dari berbagai badan atau instansi
pemerintahan.

Dengan

demikian

maka

lebih

praktis

apabila

pembangunan wilayah di dasarkan pada suatu wilayah administrasi yang


telah ada.
b. Wilayah yang batasnya ditentukan berdasarkan atas suatu administrasi
pemerintah lebih mudah di analisis, karena sejak lama pengumpulan data
di berbagai bagian wilayah berdasarkan pada suatu wilayah administrasi
tersebut. Namun dalam kenyataannya, pembangunan tersebut sering kali
tidak hanya dalam suatu wilayah administrasi, sebagai contoh adalah
suatu pengelolaan pesisir, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan
lingkungan dan lain sebagainya, yang batasnya bukan berdasarkan
administrasi namun berdasarkan batas ekologis dan seringkali lintas batas
wilayah administrasi.
4. Wilayah Perencanaan
Mendefinisikan
wilayah

perencanan

(planning

region

atau

programming region) sebagai wilayah yang memperlihatkan koherensi


atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan dapat
dilihat sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya
perubahan-perubahan

penting

dalam

penyebaran

penduduk

dan

kesempatan kerja, namun cukup kecil untuk memungkinkan persoalanpersoalan perencanaannya dapat dipandang sebagai satu kesatuan.
Wilayah perencanaan bukan hanya dari aspek fisik dan ekonomi, namun
ada

juga

dari

aspek

ekologis.

Misalnya

dalam

kaitannya

dengan

pengelolaan daerah aliran sugai (DAS). Pengelolaan wilayah daerah aliran

sungai harus direncanakan dan di kelola mulai dari hulu sampai hilirnya.
Contoh

wilayah

perencanaan

dari

aspek

ekologis

adalah

DAS

Cimanuk,DAS Brantas,DAS Citanduy dan lain sebagainya.

Jenis-Jenis Wilayah (Region)


Written By agnas setiawan on Monday, 27 October 2014 | 11:13
Belajar geografi tentu tidak akan lepas dari yang namanya wilayah atau region.
Region merupakan wilayah yang memiliki kesamaan dalam hal/variabel tertentu
bisa
itu
iklim,
tanah, budaya atau lainnya. Pendekatan keruangan merupakan ciri utama dalam
mengkaji sebuah region. Pengertian ruang dalam geografi merupakan integrasi dari
atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer termasuk manusia di dalamnya. Region atau
wilayah dapat dikategorikan menjadi beberapa tipe menurut berbagai ahli
diantaranya:
Wittlesay mengemukakan unit-unit region terdiri dari:
1. Kenampakan iklim saja, tanah saja sehingga menunjukkan suatu areal fisik
saja.
2. Multiple feature region: region yang menunjukkan kenampakan majemuk,
seperti gabungan antara jenis tanah dengan tumbuhan atau tumbuhan
dengan budaya bercocok tanam.
3. Region total atau compage: terdiri dari banyak unsur atau gabungan antara
unsur fisik dan manusianya seperti propinsi, negara atau kawasan tertentu.
Bintarto mengemukkan pendapat bahwa region dapat dilihat dari:
1. Uniform region: wilayah yang memiliki keseragaman atau kesamaan.
2. Nodal region: wilayah yang dalam berbagai hal diatur oleh berbagai pusat
kegiatan yang saling berhubungan dengan garis melingkar.
Stephen L.J Smith mengemukakan region terdiri dari:
1. Region apriori: wilayah yang dibuat tidak didasarkan regionalisasi secara
metodologis namun unsur kesamaannya dibentuk oleh pandangan yang
bersifat individual atau kepentingan tertentu seperti politik.
2. Region formal: wilayah yang dibentuk karena adanya kesamaan kenampakan
secara internal.
3. Region fungsional: wilayah yang dibentuk oleh tinggi rendahnya derajat
interaksi antar tempat di permukaan bumi.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa region formal dan region
fungsional merupakan definisi yang paling umum digunakan. Meskipun demikian
terdapat beberapa tipe region lain yang tidak didasarkan pada kedua istilah diatas
seperti di Ameirka Serikat yaitu Vernacular Region atau lebih populer lagi
Perceived Region yaitu pewilayahan berdasarkan persepsi individual seperti South,
West,
Midwest
atau
Cornbelt.

Contoh Nodal Region Area


Gambaran dan analisis region dilakukan oleh para geograf, karena berkenaan
dengan deskripsi gejala-gejala keruangan baik yang menyangkut fisikal maupun
manusianya, serta akan berhubungan dengan pola distribusi dari gejala di
permukaan bumi. Geograer selalu peduli terhadap keberadaan benda-benda,
gejala, fenomena yang ada di permukaan bumi. Selain itu Geografer juga selalu
melihat hubungan timbal batik antar region, assosiasi wilayah dan interaksi
keruangan. Pola yang dipetakan tidak bersifat statis tapi senantiasa mengalami
perubahan sebagai akibat dinamika manusia itu sendiri.
Region-region yang bersifat topikal seperti corn belt, tropical rain forest,
adalah contoh yang baik dalam menjelaskan regionalisasi yang berbeda. Faktor
dominan dalam pembentukan suatu region perlu dikenali lebih dulu untuk
kemudian
menyimpulkannya.

Vernacular Region
Sumber dan gambar:
Mulyadi,
Asep.
Pengantar
Geografi
BSE Geografi XII
Bintarto dan Surastopo Hadisumarno. Metode Analisa Geografi.

Regional

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan sebuah negara berkembang yang saat ini terlihat jelas sedang
melaksanakan pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan. Pembangunan dapat
diartikan sebagai gagasan untuk mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan. Dimana
gagasan tersebut lahir dalam bentuk usaha untuk mengarahkan dan melaksanakan
pembinaan, pengembangan, serta pembangunan bangsa. Pembangunan merupakan
perubahan menuju kearah perbaikan. Perubahan ke arah perbaikan itu sendiri
memerlukan pengerahan segala budi daya manusia untuk mewujudkan apa yang dicitacitakan. Dengan sendirinya pembangunan merupakan proses penalaran dalam rangka
menciptakan kebudayaan dan peradaban manusia.

Pembangunan tidak dapat berhenti atau dihentikan karena manusia hidup selalu dipenuhi
oleh suasana perubahan. Inti pembangunan bukan hanya terjadinya perubahan struktur
fisik atau material, tetapi juga menyangkut perubahan sikap masyarakat. Pembangunan
harus mampu membawa umat manusia melampaui pengutamaan aspek-aspek materi dari
kehidupannya sehari-hari.
Di samping itu pengembangan adalah upaya memajukan atau memperbaiki serta
meningkatkan nilai sesuatu yang sudah ada. Pengertian pengembangan berbeda dengan
pengertian pembangunan. Dalam kerangka pengembangan wilayah, perlu dibatasi
pengertian wilayah yakni ruang permukaan bumi dimana manusia dan mahluk lainnya
dapat hidup dan beraktivitas. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang
penataan ruang, wilayah diartikan sebagai kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau
aspek fungsional.
Dalam rangka pemerataan pembangunan daerah dan pengembangan wilayah diarahkan
pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengadaan sarana kebutuhan
masyarakat. Pada dasarnya, pemekaran wilayah merupakan salah satu bentuk otonomi
daerah dan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan karena dengan adanya
pemekaran wilayah diharapkan dapat lebih memaksimalkan pemerataan pembangunan
daerah dan pengembangan wilayah.
Pada UUD 1945 terkandung makna Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan
otonomi daerah. Otonomi daerah itu sendiri didalam penyelenggaraannya dipandang
perlu lebih menekankan pada prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan
keadilan, serta memperhatikan potensi dan keragaman daerah. Banyak faktor yang

mempengaruhi perkembangan suatu wilayah, diantaranya faktor-faktor geografis yang


mencakup potensi daerah (sumberdaya alam), luas daerah, jumlah penduduk, dan kondisi
fasilits-fasilitas masyarakat umum, serta hal-hal lain yang menjadi pertimbangan untuk
terselenggarakannya otonomi daerah, dalam hal ini pemekaran wilayah.
Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengatur beberapa
prasyarat bagi adanya pemekaran wilayah. Syarat tersebut antara lain syarat teknis, fisik
kewilayahan, dan administratif. Demikian juga dalam Pasal 5 UU No 32 Tahun 2004
sebagai revisi atas UU No 22 Tahun 1999 menjelaskan mengenai prasyarat administratif,
teknis, dan kewilayahan, dalam pengadaan pemekaran suatu wilayah. Demikian juga
halnya pada Pasal 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007 .
Secara terinci di dalam Bab II Tujuan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 129 Tahun 2000 Tentang Persyaratan Pembentukan Dan Kriteria Pemekaran,
Penghapusan, dan Penggabungan Daerah Presiden Republik Indonesia, tertulis bahwa
adapun tujuan dari pemekaran wilayah adalah dalam rangka peningkatan pelayanan
kepada masyarakat, percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi, percepatan
pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah, percepatan pengelolaan potensi daerah,
peningkatan keamanan dan ketertiban, serta peningkatan hubungan yang serasi antara
Pusat dan Daerah.
Berbicara mengenai aspek kewilayahan, relief permukaan bumi sebagai salah satu faktor
yang berpengaruh terhadap pengembangan dan pemekaran wilayah juga sangat
memegang peranan penting, karena bentuk topografi seperti perbukitan, lautan, dan
rintangan-rintangan alam lainnya dapat menghalangi laju perkembangan daerah (Bintarto,
1989).selain itu, luas lahan, iklim, letak (astronomis, geografis, strategis), bentuk

kawasan, flora dan fauna, dan keadaan tanah tentunya sangat mendukung perkembangan
suatu daerah.
Selain aspek fisik, aspek non fisik (sosial) suatu wilayah juga turut mempengaruhi
perkembangan wilayah tersebut. Aspek sosial yang dimaksud diantaranya, jumlah
penduduk dan laju pertumbuhan, pendidikan, transpotasi, dan struktur mata pencaharian.
Dimana seluruh aspek non fsik tersebut mempengaruhi perkembangan suatu wilayah.
Yang mana hal ini akan membawa implikasi terhadap pengadaan sarana dan prasarana
yang mendukung untuk pengembangan wilayah dengan segala fasilitasnya.
Dengan memperhatikan aspek-aspek diatas maka Pemerintah Daerah Kabupaten Karo
mengeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karo No. 04 Tahun 2005 tentang
pembentukan kecamatan Dolat Rayat, Kecamatan Merdeka, Kecamatan Naman Teran,
dan Kecamatan Tiganderket serta pemindahan ibukota Kecamatan Payung, dengan
memperhatikan aspek-aspek tersebut dan bertujuan untuk lebih mensejahterakan
masyarakat setempat.
Namun dibalik tujuan tersebut, kita harus melihat bagaimana kelayakan pemekaran
wilayah yang terjadi tersebut. Kenyataan ini membuat saya tertarik untuk mencoba
mencari tahu faktor-aktor apa saja yang turut mendukung terjadinya pemekaran wilayah,
dan mengangkat penelitian ini dengan judul Faktor-Fakrot Pendukung Pemekaran
Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo
B. Identifikasi Masalah
Kecamatan Berastagi, dan Dolat Rakyat yang berada di bagian utara wilayah Kabupaten
Karo yang berhadapan dengan pegunungan bukit barisan, sebelumnya merupakan bagian
dari Kecamatan Berastagi. tetapi dengan segala pertimbangan dan tujuan ingin

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, maka wilayah tersebut dimekarkan dan


berkembang menjadi 2 kecamatan.
Berdasarkan uraian diatas banyak hal yang dapat mempengaruhi perkembangan suatu
wilayah. Diantaranya adalah faktor geografis yang menyangkut aspek fisik dan non fisik.
Aspek fisik seperti : luas tanah. Aspek non fisik (sosial) seperti :jumlah penduduk, sosial
budaya, sosial politik, kondisi sarana ekonomi, sarana pendidikan, sarana kesehatan,
sarana transportasi, dan sarana pariwisata.
C. Pembatasan Masalah
Adapun pemekaran Kecamatan Berastagi menjadi 2 Kecamatan tentunya dipengaruhi
oleh berbagai faktor dengan tujuan untuk pemerataan pembangunan dalam hal
meningkatkan kualitas masyarakat yang diharapkan lebih maksimal lagi karena sudah
semakin dekat dengan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, agar penelitian ini lebih
jelas dan terarah, maka penulis perlu membatasi masalah yang akan diteliti.
Berdasarkan identifikasi masalah, maka aspek yang akan diteliti adalah faktorfaktor geografis yang menyangkut aspek fisik dan non fisik yang mempengaruhi
pemekaran Kecamatan Berastagi. . Aspek fisik sperti : luas tanah, serta topografi wilayah.
Aspek non fisik (sosial) seperti :jumlah penduduk, sosial budaya, sosial politik, kondisi
sarana ekonomi, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana transportasi, dan sarana
pariwisata.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penulis merumuskan masalahnya sebagai
berikut :

a. bagaimana kriteria aspek fisik geografis, yang menyangkut luas wilayah terhadap
pemekaran kecamatan berastagi.
b. bagaimana kriteria aspek non fisik (sosial) geografis, yang diantaranya : terhadap
jumlah penduduk, sosial budaya, sosial politik, kondisi sarana ekonomi, sarana
pendidikan, sarana kesehatan, sarana transportasi, dan sarana pariwisata dalam
pemekaran Kecamatan Berastagi.
c. dari kedua kriteria tersebut, manakah yang paling dominan dalam menentukan
pemekaran wilayah yang terjadi.
E. Tujuan Penelitian
Maka berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan diatas, yang menjadi tujuan dari
penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh aspek fisik geografis terhadap pengembangan
wilayah Kecamatan Berastagi, dalam hal pemekaran.
b. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh aspek non fisik (sosial) geografis terhadap
pemekaran Kecamatan Berastagi.
c. Untuk mengetahui faktor yang lebih dominan diantara keduanya.
F. Manfaat Penelitian
a. Sebagai bahan masukan bagi pihak Pemerintah dalam perencanaan pengembangan wilayah
Kabupaten Karo dan daerah lainnya..
b. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin membahas tentang pengembangan
suatu daerah, pada waktu dan tempat yang berbeda.

c. Sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis
1. Pemekaran Wilayah
Dalam rangka pemerataan pembangunan daerah dan pengembangan wilayah diarahkan
pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengadaan sarana kebutuhan
masyarakat. Pada dasarnya, pemekaran wilayah merupakan salah satu bentuk otonomi
daerah dan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan karena dengan adanya
pemekaran wilayah diharapkan dapat lebih memaksimalkan pemerataan pembangunan
daerah dan pengembangan wilayah. Pada UUD 1945 terkandung makna Sistem
Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan keleluasaan kepada
daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Otonomi daerah itu sendiri didalam
penyelenggaraannya dipandang perlu lebih menekankan pada prinsip demokrasi, peran
serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keragaman
daerah. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah, diantaranya
faktor-faktor geografis yang mencakup potensi daerah (sumberdaya alam), luas daerah,
jumlah penduduk, dan kondisi fasilits-fasilitas masyarakat umum, serta hal-hal lain yang
menjadi pertimbangan untuk terselenggarakannya otonomi daerah, dalam hal ini
pemekaran wilayah.
Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengatur beberapa
prasyarat bagi adanya pemekaran wilayah. Syarat tersebut antara lain syarat teknis, fisik

kewilayahan, dan administratif. Demikian juga dalam Pasal 5 UU No 32 Tahun 2004


sebagai revisi atas UU No 22 Tahun 1999 menjelaskan mengenai prasyarat administratif,
teknis, dan kewilayahan, dalam pengadaan pemekaran suatu wilayah. Demikian juga
halnya pada Pasal 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007 .
Secara terinci di dalam Bab II Tujuan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 129 Tahun 2000 Tentang Persyaratan Pembentukan Dan Kriteria Pemekaran,
Penghapusan, dan Penggabungan Daerah Presiden Republik Indonesia, tertulis bahwa
adapun tujuan dari pemekaran wilayah adalah dalam rangka peningkatan pelayanan
kepada masyarakat, percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi, percepatan
pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah, percepatan pengelolaan potensi daerah,
peningkatan keamanan dan ketertiban, serta peningkatan hubungan yang serasi antara
Pusat dan Daerah.
2. Dimensi-Dimensi Teoritik Pemekaran Wilayah
1. Dimensi Administrasi
Kebutuhan desentralisasi dari perspektif administrasi adalah untuk membangun hubungan
wilayah pelayanan dengan membentuk organisasi pelaksana di wilayah kerja atau daerah
untuk sejumlah tugas-tugas. Pengorganisasian wilayah didasarkan pada setiap aktivitas yang
dilaksanakan dalam suatu wilayah sehingga memerlukan area kerja sendiri. Wilayah-wilayah
yang diberi status otonom atau yang didesentralisasikan diyakini akan meningkatkan
pelaksanaan administrasi dan pelayanan kepada masyarakat, karena desentralisasi dapat
memberikan peluang pada penyesuaian administrasi dan pelayanan terhadap karakteristik
wilayah-wilayah yang bervariasi sebagai konsekuensi dan perbedaan-perbedaan yang
dibentuk geografi (Mutalib, 1987).

Geografi dalam pengertian fisik menjadi dasar penentuan batas-batas administrasi. Suatu
wilayah geografis dengan wilayah yang relatif kecil adalah areal yang tepat untuk :
1. Pelayanan lebih optimal, karena wilayah pelayanan relatif sempit.
2. Pemerintahan lebih responsif karena lebih dekat dengan komunitas yang dilayani.
3. Partisipasi masyarakat lebih meluas karena akses masyarakat yang relatif terbuka.
4. Konsolidasi masyarakat menjadi lebih mudah karena kedekatan institusi dengan masyarakat.
5. Pengawasan menjadi lebih mudah karena wilayah pengawasan yang relatif sempit (Mutalib,
1987)
Dari sudut pandang administrasi, pemberian desentralisasi selain menyangkut soal teknis
pelaksanaan juga pembentukan kelembagaan yang obyektif (Sharpe, 1979). Disamping itu,
wilayah-wilayah dari wilayah yang didesentralisasikan selalu didasarkan pada kepercayaan
bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara kualitas pelaksanaan administrasi dalam
pelayanan kepada masyarakat dengan karakteristik-karakteristik dari wilayah daerah yang
dapat divariasikan dengan cara mengubah jaringan-jaringan hubungan yang bersifat
geografis. Oleh sebab itu adanya kepercayaan efisiensi dari pemerintahan daerah akan dapat
ditingkatkan dengan cara membuat wilayah-wilayah menjadi lebih luas (Smith, 1985; 47).
Dimensi lain mendasarkan pada prinsip teknis, yaitu suatu daerah atau wilayah bagi suatu
fungsi pemerintahan ditentukan oleh lingkungan kerja (alam) ataupun ekonomi : air, iklim,
kondisi pantai, topografi dan lokasi sumber daya alam serta distribusi industri. Sumbersumber alam yang ada di daerah mungkin memiliki persamaan secara administratif serta
menyediakan suatu pola daerah berdasarkan cirri-ciri fisiknya. Walaupun daerah-daerah
memiliki perbedaan secara geografis dan administratif akan tetapi administrasi daerah dibuat

selalu berdasarkan pada letak geografisnya yaitu karakteristik-karakteristik serta hal-hal lain
yang berada di daerah. Bagi para geografer hal-hal lain yang dimaksudkan diatas termasuk di
dalamnya sosial dan ekonomi, lahan batubara atau daerah-daerah pertanian. Melalui polapola pemukiman serta cirri-ciri komunikasi yang digunakan, cirri-ciri alam berpengaruh
terhadap sosial ekonomi dan juga dapat berpengaruh pada pandangan masyarakat di wilayah
itu (Smith, 1985).
Dengan kata lain, dimensi teknis pembentukan daerah otonom juga terkait dengan
aspek-aspek ekonomi. Menurut teori ini, daerah otonom tidaklah mungkin terbentuk jika
daerah tidak dapat memenuhi pelayanan minimal yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Ini
berarti pembentukan daerah otonom memerlukan persiapan yang sangat panjang dan matang.
Daerah otonom dinilai dari serangkaian parameter yang bersifat sangat tehnis. Suatu
daerah baru dapat dikatakan mampu menyelenggarakan kegiatan secara otonom, jika
parameter-parameter ekonomis tersebut dapat dipenuhi. Pendekatan ekonomi dalam
pembentukan daerah otonom menggunakan kelayakan instrumen pengukuran pada
persyaratan-persyaratan teknis. Bahkan dengan semakin majunya desain instrumen
pengukuran, maka pembentukan daerah otonom akan sangat tergantung pada perhitungan
jumlah skoring yang diperoleh dan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.
Penilaian teknis ini memang telah dijadikan dasar pembentukan sebagian besar daerah
otonom, khususnya di negara-negara yang sudah maju. Pertimbangan aspek ekonomi ini
menjadi benar jika digunakan bagi daerah-daerah yang memang berada dalam jalur atau arah
perkembangan ekonomi, misalnya di daerah industrialisasi dan perkotaan. Akan tetapi akan
sangat bias jika digunakan bagi daerah dengan karakteristik tradisional/pedalaman. Sudah
dapat dipastikan jika menggunakan pendekatan ekonomi ini, maka pembentukan daerah

otonom tidaklah dimungkinkan di daerah-daerah pedalaman, karena semua standar yang


ditetapkan sudah pasti tidak tercapai.
Secara singkat dapatlah disimpulkan bahwa parameter-parameter ekonomi dalam
pembentukan suatu daerah otonom hanya dapat digunakan pada daerah-daerah yang sudah
maju, memiliki sarana-prasarana yang sudah ditetapkan, dan masyarakatnya cenderung
homogen. Sedangkan bagi daerahdaerah yang masih bersifat tradisional dan majemuk,
parameter ekonomi tidak dapat dipergunakan, karena pembentukan daerah otonom
sebenarnya lebih dimaksudkan sebagai pengakuan terhadap suatu komunitas sebagai entitas
politik dan sebagai upaya memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan.
2. Dimensi Politik
Kebutuhan akan pembentukan daerah otonom sejak awal sebenarnya tidak bisa hanya
didasarkan pada pertimbangan tehnis semata, tetapi lebih merupakan hasil dari tarik menarik
atau konflik politik antara daerah dengan pusat (Dahl, 1989). Keanekaragaman budaya,
pembangunan ekonomi yang tidak merata, perbedaan etnik serta loyalitas primordial yang
keras selalu menghasilkan tekanan-tekanan yang tidak dapat ditahan oleh desentralisasi
(baca: pembentukan daaerah/wilayah,pen) (Smith, 1985). Distribusi kekuasaan antara tingkat
pemerintahan atau kepala daerah otonom dan pilihan-pilihan institusi untuk desentralisasi
adalah hasil dari proses politik yang bermula dari keputusan kelompok yang seringkali
memiliki identitas teritorial. Dimensi politik dalam pembentukan daerah atau desentralisasi
adalah pemerintahan yang dilokalisir sebagai bagian dan suatu landasan pengakuan suatu
kelompok masyarakat sebagai entitas politik. Sebagai bagian dari suatu landasan untuk
kesamaan dan kebebasan politik (Robert Dahl, 1989). Pemerintahan daerah bukan hanya
sekedar mekanisme tetapi lebih sebagai ekspresi kelompok masyarakat lokal. Dengan
demikian desentralisasi idealnya berbasis komunitas masyarakat.

Pemerintahan daerah atau daerah otonom dalam perspektif teori adalah entitas yang memberi
wujud khas pada kelompok masyarakat tertentu menjadi bagian integral dari organisasi
negara yang berada di bawah hukum pemerintahan daerah dengan batas-batas geografis
tertentu. Pengelompokan tidak hanya terletak pada batas geografis semata tetapi pada
kehidupan kelompok yang hidup bersama sebagai suatu kesatuan. Dalam pengertian sebagai
kelompok mereka berbeda secara abstrak karena adanya perbedaan aspek sosial dan
demografi (Mutalib, 1987). Dimensi politik desentralisasi mencakup aspek-aspek geografis,
sosial, dan demografi yang membedakan suatu komunitas secara kongkrit atau abstrak yang
membentuk identitas dan landasan bersama sebagai suatu kesatuan atau entitas politik (Andi
Ramses, 2002).
Menurut Smith (1985), sesungguhnya pembentukan daerah otonom dalam beberapa hal dapat
dianalogikan dengan pembentukan suatu negara yang terikat dengan identitas bangsa,
meskipun dari sisi besaran dan kedalaman politik keduanya tentulah berbeda. Daerah otonom
tidaklah mungkin terbentuk jika tidak ada hubungan antar masyarakat dan wilayah tempat
tinggalnya. Masyarakat dan wilayahnya inilah yang memiliki besaran politik tertentu yang
mendorong lahirnya daerah otonom. Dari berbagai kasus pembentukan daerah otonom di
berbagai belahan dunia, dimensi politik ini merupakan unsur yang mendominasi
pembentukan sebagian besar daerah otonom. Bahkan untuk daerah otonom yang dibentuk
melalui inisiatif pemerintah pusat pun, dimensi politik selalu menjadi pertimbangan utama
dalam peta pembentukan daerah otonom.
Teori politik dalam pembentukan suatu daerah otonom, jika dicermati sebetulnya mengacu
pada teori masyarakat dan wilayah. Menurut teori ini kehadiran masyarakat di suatu wilayah
erat kaitannya dengan rasa keamanan, ketentraman dan kepastian adanya sumber-sumber
yang menjamin kelangsungan kehidupan dan reproduksi sosial mereka. Lama-kelamaan

ikatan antara masyarakat dan wilayahnya menjadi sangat dalam, sehingga melahirkan
ldentitas sosial khusus kepada masyarakat.
3. Dimensi Geografi
Dimensi geografi pembentukan daerah otonom adalah variabel yang terkait dengan
pembentukan daerah otonom sebagai akibat munculnya ikatan-ikatan yang bermotif politik
pada masyarakat yang tinggal di suatu daerah. Ikatan-ikatan bermotif politik tersebut, latar
belakang kesatuan geografis itu dihubungkan oleh suatu ikatan secara politis. Kuat lemahnya
ikatan tersebut sangat tergantung kepada seberapa besar daya tarik politik terhadap hadirnya
kesatuan masyarakat tersebut sebagai suatu kesatuan politis.
Hal yang paling penting dalam aspek geografi ini adalah adanya perasaan menyatu dari
sekelompok masyarakat sebagai akibat dari adanya hubungan kesatuan wilayah secara
geografis. Pada awal kemunculannya, mungkin saja perasaan sebagai suatu kesatuan tersebut
tidak begitu kuat. Tetapi karena perkembangan faktor-faktor eksternal yang memicu perasaan
bersatu tersebut, maka dorongan untuk menggali ikatan-ikatan tersebut kembali muncul.
Berbagai kasus pemekaran yang terjadi saat ini, sebetulnya banyak terkait dengan aspek
politik (Smith, 1985).
Pandangan ini menjadi pembenaran terbentuknya suatu daerah otonom. Daerah otonom
tidaklah mungkin terbentuk jika tidak terdapat jalinan ikatan politis antara masyarakat dengan
wilayah tinggalnya. Sebagai bentuk dan aktualisasi politik, pembentukan daerah otonom
harus memiliki landasan dasar yang kuat secara politis, sehingga daerah otonom mampu
memberi identitas baru yang merepresentasikan perasaan-perasaan masyarakat dalam bentuk
yang sangat khas (Smith, 1985).

Aspek geografis, mengasumsikan bahwa kondisi geografis suatu darah akan berpengaruh
terhadap pembentukan identitas suatu kelompok masyarakat yang akhirnya akan berkembang
menjadi satu kesatuan politik. Misalnya masyarakat daerah pantai, gunung atau pulau.
Masyarakat yang terpisah secara geografis, cenderung membentuk komunitas tersendiri dan
akan menjadi dasar pembentukan kelompok masyarakat.
Geografi menjadi batas yuridiksi wilayah yang ditempati oleh sekelompok masyarakat yang
menjadi syarat pembentukan daerah otonom. Keadaan geografi, berpengaruh kuat, terlihat
dalam berbagai segi dan bersifat universal, sehingga dipakai menjadi daerah otonom. Konsep
pemberian otoritas kepada daerah karena adanya sejumlah penduduk yang mendiami suatu
wilayah, dimana kelompok itu mempunyai perbedaan dan kepentingan. Perbedaan geografi
selain menjadi dasar terbentuknya suatu identitas bersama suatu kelompok, juga pembentuk
perbedaan karakteristik wilayah, masalah, dan kewenangan masing-masing daerah otonom.
Berdasarkan geografi, daerah memiliki ciri-ciri setempat, kondisi dan kepentingan serta
masalah yang dibentuk oleh karakteristik geografinya yang berbeda itu.
Perbedaan-perbedaan ciri daerah yang membentuk karakteristik, kondisi, kepentingan dan
masalah, serta potensi masing-masing daerah menjadi konsep dasar pembentukan daerah
otonom. Dan seharusnya juga menjadi dasar dalam pemberian kewenangan. Geografi adalah
salah satu alasan yang signifikan dalam pembentukan daerah otonom atau pemekaran daerah
otonom. Pembentukan daerah-daerah otonom dianggap menjadi lebih berguna pada wilayahwilayah yang berbeda.
Demikian pula, struktur teritorial dari pemerintahan dan administrasi mungkin dapat
mengakomodasikan suatu divisi sosial dalam suatu daerah yang memiliki kekhususan
berdasarkan sejarah, etnis, bahasa, ataupun kombinasinya. Wilayah-wilayah yang membentuk
bagian yang besar dalam jumlah pemilih dari suatu negara selama proses penyatuan dapat

dilanjutkan untuk memiliki rasa identitas yang tidak dapat diabaikan oleh sisem
konstitusional dan administratif (Leemans, 1970; 41).
4. Dimensi Sosial Budaya
Budaya dan etnik selalu membentuk bagian sosial dari suatu daerah yang khusus berdasarkan
sejarah yang dibentuk dari elemen-elemen yang saling berbeda dari suatu kelompok etnik ke
kelompok etnik yang lain (Urwin,1982). Aspek Sosial Budaya mengasumsikan, jika suatu
masyarakat terikat dengan suatu sistem budaya tersendiri yang memberi perbedaan identitas
budaya dengan masyarakat lain, maka secara politis ikatan kesatuan masyarakat tersebut akan
lebih kuat. Aspek ini secara langsung terkait dengan persoalan etnisitas dan mungkin saja
keagamaan. Faktor ini sebetulnya terkait pula dengan faktor geografi, karena faktor etnisitas
tidak mungkin muncul dengan sendirinya. Pembentukan sebuah identitas etnis merupakan
proses yang sangat panjang terkait dengan faktor-faktor geografis dan demografis secara
langsung.
Disamping itu seringkali suatu etnis atau masyarakat tertentu lebih merupakan komunitas
moral dan politik dari sekedar kelompok masyarakat keturunan atapun bahasa. Faktor-faktor
yang menekan secara politis ataupun ekonomipun bisa kian mendorong dominasi etnik dari
suatu komunitas tertentu. Berdasarkan sejarah, agama, bahasa dan budaya tradisional suatu
komunitas membedakan atau membuat perbedaan antara bagian suatu masyarakat yang satu
terhadap masyarakat yang lainnya. Tak jarang, polarisasi etnisitas mengarah sebagai upayaupaya perebutan sumber daya suatu etnis masyarakat tertentu dari komunitas besarnya.
Pemerintahan daerah dalam perspektif sosial dipandang sebagai kelompok terorganisir dalam
batas-batas geografis tertentu, dan mengembangkan perasaan kebersamaan di tengah
perbedaan sosial ekonomi dengan corak tertentu dan menjadi social entity (Mutalib, 1987).

Wilayah dengan corak sosial dan budaya itu membentuk suatu identitas tersendiri yang
menimbulkan keragaman dalam daerah otonom. Perasaan yang bersatu sebagai konsekuensi
dan perasaan kebersamaan yang terikat dengan kekuatan yang tidak hanya diantara mereka
sendiri tetapi juga antar pemerintah daerah dengan masyarakat daerah (Smith, 1985).
Perasaan latar belakang (raison detre) dan otoritas daerah akan mempererat kesatuan
diantara penduduk daerah.
5. Dimensi Demografi
Yaitu faktor yang mengasumsikan bahwa homogenitas penduduk akan mendorong lahirnya
kesatuan penduduk secara politis. Suatu masyarakat dengan penduduk yang homogen, akan
memiliki tingkat kesatuan politik yang lebih tinggi dibanding masyarakat heterogen. Jika
faktor heterogenitas ini dikolaborasikan dengan kesatuan secara geografis, maka secara
politis pembentukan kesatuan masyarakat tersebut akan lebih kuat dan secara langsung akan
semakin mendorong tuntunan terbentuknya daerah otonom (Mutalib, 1987).
Fakta dimana suatu wilayah dibagi-bagi ke dalam bentuk pemerintahan yang otonom, selalu
dihubungkan dengan wilayah yang dapat dikenali dan penduduk yang ada di dalamnya
terbentuk menjadi suatu unit social ekonomi yang alami. Umumnya mereka membentuk
perasaan bersama dan memiliki identitas (Smith, 1985). Pembentukan daerah otonom yang
mempertimbangkan secara sungguh-sungguh aspek komunitas, pada banyak negara
mendapat legitimasi yang tinggi. Suatu wilayah dibagi berdasarkan cakupan komunitas dan
perasaan atau sikap masyarakat yang hidup dan bekerja di dalamnya (Paddison, 1983).
Secara historis, banyak daerah otonom yang dibentuk didasarkan pada keterpaduan penduduk
suatu wilayah, sebagai suatu komunitas yang padu dari aspek kultural, karakter sosial dan
ekonomi. Pola-pola atau ruang lingkup komunitas selalu menandai pembentukan daerah

otonom. Komunitas yang berada pada suatu geografi membentuk garis demarkasi suatu
daerah, berdasarkan pola-pola kehidupan social ekonomi yang memisahkan satu komunitas
dengan komunitas lainnya.
Disisi lain Berkembangnya wacana pemekaran daerah, tidak terlepas dari pemberlakuan
prinsip-prinsip otonomi daerah. Secara eksplisit didalam UU otonomi daerah tahun 1999,
memang telah dengan jelas diamanatkan bahwa pada prinsipnya otonomi daerah media
atau jalan untuk menjawab tiga persoalan mendasar dalam tata pemerintahan dan
pelayanan terhadap publik. Pertama, otonomi daerah haruslah merupakan jalan atau
upaya untuk mendekatkan pemerintah kepada rakyat. Kedua, melalui otonomi daerah
juga harus tercipta akuntabilitas yang terjaga dengan baik. Ketiga, bagaimana otonomi
daerah diformulasikan menjadi langkah untuk mengupayakan responsiveness, dimana
publik berpartisipasi aktif dalam pengambilan kebijakan di tingkat lokal.
Lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mendorong
desentralisasi dan otonomi daerah telah menghadirkan pergeseran dan perubahan
paradigma baru (new paradigms shifting) dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Pada sudut lain, restrukturisasi manajemen pemerintahan daerah yang memberikan
keleluasaan besar bagi pemerintahan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sesuai kewenangan yang dimiliki dalam mencapai kesejahteraan telah
menimbulkan beberapa implikasi. Salah satu implikasi yang sampai saat ini terus
berlangsung, adalah timbulnyanya keinginan kuat dari berbagai daerah baik di tingkat
Propinsi, Kabupaten maupun Kota untuk memekarkan daerahnya (Yosmardin, 2002; 77).
3. Faktor-Faktor Pendukung Pemekaran Wilayah

Selanjutnya di dalam Bab III PPRI No 129 Tahun 2000 Tentang Persyaratan Pembentukan
dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah Presiden Republik
Indonesia, tertera syarat-syarat Pembentukan suatu daerah baru; diantaranya:
1. kemampuan ekonomi : merupakan cerminan hasil kegiatan usaha
perekonomian yang berlangsung di suatu daerah Propinsi, Kabupaten/Kota,
Kecamatan yang dapat diukur dari PDRB dan penerimaan daerah itu sendiri.
2. potensi daerah : merupakan cerminan tersedianya sumberdaya yang dapat
dimanfaatkan dan memberikan sumbangan terhadap penerimaan daerah dan
kesejahteraan msyarakat yang diukur dari :
sarana ekonomi
sarana pendidikan
sarana kesehatan
sarana transportasi
sarana pariwisata

3. sosial budaya : cerminan yang berkaitan dengan struktur sosial dan pola
budaya masyarakat, kondisi sosial budaya masyarakat yang dapat diukur dari:
tempat peribadatan
sarana olah raga

4. jumlah penduduk : jumlah tertentu penduduk dalam suatu daerah.

5. luas daerah : nilai luas keseluruhan suatu daerah tertentu.


Disisi lain Berkembangnya wacana pemekaran daerah, tidak terlepas dari pemberlakuan
prinsip-prinsip otonomi daerah. Secara eksplisit didalam UU otonomi daerah tahun 1999,
memang telah dengan jelas diamanatkan bahwa pada prinsipnya otonomi daerah media
atau jalan untuk menjawab tiga persoalan mendasar dalam tata pemerintahan dan
pelayanan terhadap publik. Pertama, otonomi daerah haruslah merupakan jalan atau
upaya untuk mendekatkan pemerintah kepada rakyat. Kedua, melalui otonomi daerah
juga harus tercipta akuntabilitas yang terjaga dengan baik. Ketiga, bagaimana otonomi
daerah diformulasikan menjadi langkah untuk mengupayakan responsiveness, dimana
publik berpartisipasi aktif dalam pengambilan kebijakan di tingkat lokal.
Menurut Maskun (2001;13), tuntutan pemekaran wilayah sebenarnya bisa dilakukan baik
dalam status Daerah Otonom ataupun status Wilayah Administratif. Menurutnya, seyogyanya
tuntutan untuk menjadi daerah otonom diawali terlebih dahulu dengan terbentuknya beberapa
Propinsi Administratip maupun Kabupaten dan Kecamatan. Diharapkan penetapan wilayah
administratip tersebut merupakan suatu proses penting untuk mendewasakan dan
memperkuat kemampuan Propinsi/Kabupaten /Kecamatan tersebut agar suatu saat dapat
menjadi Daerah Otonom. Pertimbangan ini penting mengingat banyak Daerah Otonom, baik
tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kecamatan yang belum memiliki kemampuan untuk
mengurus rumah tangganya sendiri (berotonomi). Hal lain mengingat bahwa pemekaran tidak
saja dapat dilihat dari sisi kemampuan keuangan daerah, tetapi juga faktor-faktor lain yang
juga turut menentukan.
Pembentukan daerah otonom memang ditujukan untuk mengoptimalkan penyelenggaraan
pemerintahan dengan suatu lingkungan kerja yang ideal dalam berbagai dimensinya. Daerah
otonom yang memiliki otonomi luas dan utuh diperuntukkan guna menciptakan pemerintahan

daerah yang lebih mampu mengoptimalkan pelayanan publik dan meningkatkan


pemberdayaan masyarakat lokal dalam skala yang lebih luas. Oleh karena itu, pemekaran
daerah harus seharusnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan obyektif yang
bertujuan untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, tujuan
pembentukan daerah otonom tidak dapat dilihat semata-mata dari dimensi administrasi dalam
arti untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang efisien dan efektif, tetapi juga
dari aspek ekonomi, politik dan social budaya (Rasyid, 2003;4).
Apabila ditelusuri lebih jauh, urgensi pembentukan daerah otonom tidak hanya ditentukan
oleh persyaratan-persyaratan teknis seperti kemampuan ekonomi, karakteristik dan potensi
daerah, jumlah penduduk, dan luas daerah, disamping dimensi administrasi terdapat pula
dimensi politik. Pembatasan wilayah untuk tujuan desentralisasi pemerintahan dan
administrasi jauh dari hanya sekedar teknis pelaksanaan belaka (Smith, 1985; 56).
Skema Kerangka Berfikir

Pemekaran Wilayah Kecamatan Berastagi

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di 2 Kecamatan yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan
Berastagi, yaitu Kecamatan Berastagi, dan Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo.
Adapun alasan penulis mengambil lokasi penelitian ini adalah sepanjang pengetahuan

penulis, belum pernah diteliti tentang masalah Peranan Faktor-Faktor Pendukung


Pemekaran Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah Kecamatan Berastagi sebelum melakukan
pemekaran wilayah, yang meliputi : luas tanah, serta, jumlah penduduk, kepadtan
penduduk, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kemampuan ekonomi daerah
tersebut.
C. Variabel Penelitian & Defenisi Operasional
Variabel Penelitian :
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ketiga kecamatan baru
yang merupakan hasil pemekaran Kecamatan Berastagi. yaitu Kecamatan Berastagi,
Kecamatan Dolat Rakyat. Yang mana meliputi : luas tanah, serta, jumlah penduduk,
kepadtan penduduk, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kemampuan ekonomi
daerah tersebut.
Defenisi Operasional:
a. Pemekaran Daerah adalah pemecahan daerah propinsi atau daerah kabupaten
maupun kecamatan menjadi lebih dari satu daerah.
b. Luas wilayah adalah luas lahan yang tersedia di suatu daerah dalam satuan luas
dikurangi dengan luas wilayah perkebunan dalam satuan luas, dimana luas
lahan yang lebih besar merupakan lahan yang lebih baik untuk perkembangan
wilayah.

c. Jumlah penduduk adalah jumlah penduduk usia produktif atau mampu bekerja
dalam satuan jiwa di suatu daerah kecamatan.
d. Sarana Pendidikan adalah jumlah sarana gedung sekolah dalam satuan unit yang
terdapat di suatu daerah meliputi gedung :
i. Sekolah dasar (unit)
ii. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (unit)
iii. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (unit)
e. Sarana Kesehatan adalah jumlah sarana gedung pelayanan kesehatan
masyarakat dalam satuan unit yang tersedia di suatu wilayah, meliputi:
a. Sarana Kesehatan
i. Rumah sakit (unit)
ii. Puskesmas (unit)
iii. Puskesmas Pembantu (unit)
iv. Balai Pengobatan (unit)
b. Tenaga medis
i. Dokter
ii. Perawat
D. Teknik Pengumpulan Data

Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi pengumpulan data yang bersifat sekunder dan dilakukan di kantor
Kecamatan maupun instansi-instansi terkait lainnya yang berhubungan dengan
Pemekaran Wilayah Kecamatan Berastagi.
E. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan untuk mengolah dan menganalisa data yaitu
analisis deskriptif. Data yang diperoleh kemudian disederhanakan dalam bentuk tabel dan
penghitungan sederhana agar lebih mudah dipahami, dan kemudian akan dilihat faktor
mana yang lebih dominan.