Anda di halaman 1dari 197

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005

STPMD APMD Yogyakarta

2. ORGANISASI DAN MANAJEMEN PEMERINTAHAN DESA


A. Pengantar
Salah satu ciri organisasi modern adalah penyelenggaraan organisasi
yang dibimbing dengan sebuah perencanaan strategis (Renstra) organisasi
yang disusun secara realistis. Realitas perencanaan itu, dibuat atas dasar
pertimbangan kekuatan dan peluang serta hambatan dan ancaman yang ada
baik dalam internal organisasi maupun lingkungan eksternal organisasi.
Demikian pula dalam penyelenggaraan organisasi Pemerintahan Desa,
renstra desa akan membantu sekaligus membimbing organisasi Pemerintah
Desa dengan segenap kekuatan dan potensinya dalam rangka mencapai
tujuan.
Aktivitas manajemen dan administrasi Pemerintah Desa, termasuk di
dalamnya pelayanan publik bidang administrasi akan memiliki tujuan dan
manfaat yang jelas dalam mendukung kinerja Pemerintah Desa secara umum,
ketika dilaksanakan berdasarkan renstra yang telah disusun sebelumnya.
Namun kenyataan bahwa, belum ada Pemerintah Desa di Kababupaten
Kulon Progo yang memiliki Renstra Desa. Dengan demikian perencanaan
tersebut belum menggabarkan visi, misi, strategi, dan program-program yang
akan dicapai dan dilaksanakan, melainkan masih dalam bentuk program
kerja tahunan.
Organisasi dan manajemen, khususnya di lingkup Pemerintahan Desa
merupakan segenap aktivitas penataan kerja sama dari sekelompok aparatur
Pemerintah Desa, dalam rangka pencapaian tujuan Pemerintahan Desa.
Aktivitas pelayanan publik bidang administrasi (civic service) sangat
ditentukan

oleh keberhasilan

aktivitas organisasi manajemen dalam

organisasi Pemerintahan Desa, yang terutama dimotori oleh para pemimpin


(Lurah).
Dalam konteks alih status Desa menjadi kelurahan, aspek organisasi
dan manejemen Pemerintah Desa menjadi salah satu aspek penting yang
harus dipertimbangkan oleh Pemerintah. Aspek organisasi dan manajemen
yang mendukung pelaksanaan pemerintahan desa secara baik, sangat
156

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dimungkinkan menjadi pertimbangan kuat untuk menentukan kebijakan alih


status. Sebaliknya aspek organisasi dan manajemen yang belum efektif dan
efisien justru akan mempersulit pelaksanaan pemerintahan desa secara
keseluruhan.
Untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan keberhasilan alih
status desa menjadi kelurahan, antara lain dapat diukur dari indikatorindikator utama sebagai berikut:
1. Manajemen kepegawaian
Aktivitas manajemen kepegawaian akan mengukur pengelolaan
kepegawaian meliputi aktivitas rekrutmen kepegawaian, penempatan,
pengembangan, kompensasi, promosi-mutasi, sampai dengan PHK
(purnatugas).
2. Sarana-prasarana pelayanan
Sarana-prasarana dibutuhkan dalam pelaksanaan kinerja Pemerintah
Desa,

khususnya

dalam

pelayanan

publik

bidang

administrasi.

Kelengkapan administrasi seperti alat kerja (tempat pelayanan, komputer,


alat komunkasi, alat transportasi, dan lain-lain), serta kemampuan
mengperasionalkan dalam kinerja, akan menjadi ukuran evektifitas
sarana-prasarana.
3. Tingkat kebutuhan pelayanan administrasi
Salah satu ciri dari masyarakat perkotaan adalah tingkat kebutuhan
pelayanan publik, termasuk pelayanan bidang administrasi yang makin
tinggi. Kompleksitas masyarakat dan tingkat kebutuhan serta kepentingan
masyarakat yang makin tinggi ikut menentukan tinggi-rendahnya
kebutuhan pelayanan kepada masyarakat oleh Pemerintah Desanya.
4. Kemampuan pelayanan
Sebagai konsekuensi dari makin tingginya tingkat kebutuhan dan
kepentingan masyarakat dalam pelayanan publik, maka dengan sendirinya
Pemerintah Desa harus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada
masyarakat. Dalam hal ini pelayanan bukan lagi sekedar warga atas
pemerintah desanya melainkan kebutuhan Pemerintah Desa untuk
157

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

mendapatkan legitimasi dimana masyarakatnya. Kecepatan, ketepatan,


efisiensi, dan lain-lain dalam pelayanan menjadi ukuran kualitas
pelayanan.

B. Pola dan struktur organisasi Pemerintah Desa


Pola organisasi yang digunakan di Desa Kabupaten Kulon Progo adalah
pola maksimal struktur terdiri dari 4 Bagian dan 1 Sekretaris BPD yang
kedudukannya sejajar dengan Kepala bagian. Adapun Struktur Organisasi
Pemerintah Desa secara umum adalah sebagai berikut :
STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAH DESA
DI KABUPATEN KULON PROGO
( Perda Kulon Progo Nomor : 2 Tahun 2001 )
Kepala Desa

BPD
Carik

K.B Pem

K.B Bang

K.B.Pend

K.BMas

Sek.BPD

Dukuh
Keterangan garis :

: Garis perintah
: Garis koordinasi

Keterangan istilah :
BPD
: Badan Perwakilan Desa
K.B Pem : Kepala Bagian Pemerintahan
K.B Bang : Kepala Bagian Pembangunan
K.B Pend : Kepala Bagian Pendapatan
K.B Mas : Kepala Bagian Kemasyarakatan
Sek BPD : Sekretaris BPD

158

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

1. Susunan Organisasi Pemerintah Desa


Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor: 2
Tahun 2001 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa,
maka dapat dideskripsikan mengenai organisasi Pemerintah Desa, sebagai
berikut :
1. Susunan Organisasi Pemerintah Desa terdiri dari Lurah dan Pamong
Desa;
2. Pamong Desa terdiri dari :
a.

Unsur Staff, yaitu Sekretariat Desa yang dipimpin oleh Carik;

b.

Unsur Pelaksana, yaitu unsur pelaksana teknis lapangan yang


terdiri

dari

Kepala

Bagian

Pemerintahan,

Kepala

Bagian

Pembangunan, Kepala Bagian Kemasyarakatan, dan Kepala Bagian


Pendapatan;
c.

Unsur Wilayah, yaitu Pedukuhan yang dipimpin oleh Dukuh.

2. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi


a. Lurah Desa
1. Kedudukan
Lurah berkedudukan sebagai pimpinan Pemerintah Desa dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya, bertanggungjawab kepada rakyat
melalui Badan Perwakilan Desa, dan menyampaikan laporan pelaksanaan
tugasnya kepada Bupati.
2. Tugas dan Kewajiban
a.

Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa;

b.

Membina kehidupan masyarakat desa;

c.

Membina perekonomian desa;

d.

Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa;

e.

Mendamaikan perselisihan masyarakat desa;

f.

Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat


menunjuk kuasa hukumnya;
159

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

g.

Mengajukan Rancangan Peraturan Desa dan bersama dengan BPD


menetapkan Peraturan Desa;

h.

Menjaga kelestarian adat-istiadat yang hidup dan berkembang di


desa; dan;

i.

Melaksanakan kerjasama antar desa dengan persetujuan BPD.

3. Fungsi
a.

Penyelenggaraan Kegiatan Pemerintahan di Desa;

b.

Pelaksanaan kewenangan untuk mengatur dan mengurus


kepentingan masyarakat desa;

c.

Peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa;

d.

Pelaksanaan

tugas

pembantuan

yang

diberikan

oleh

Pemerintah, Pemerintah Propinsi DIY dan atau Pemerintah Daerah;


e.

Pembinaan dan pelestarian adat istiadat yang hidup dan


berkembang di desa;

f.

Pelaksanaan

koordinasi

dan

kerjasama

dalam

rangka

penyelenggaraan pemerintahan desa.


Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, Lurah wajib berikap
dan bentindak adil serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat
b. Sekretariat Desa
1. Kedudukan
Sekretariat Desa berkedudukan sebagai unsur staf yang membantu
Lurah dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya yang dipimpin oleh
Carik.
2. Tugas pokok
a) Melakukan

ketata-usahaan,

kearsipan,

perpustakaan,

personalia

Pamong Desa, perlengkapan dan rumah tangga;

160

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

b) Menyelenggarakan tata usaha dan menjalankan administrasi Desa


serta memberikan pembinaan teknis administratif kepada seluruh
satuan organisasi Pemerintah Desa dan pelayanan administrasi kepada
masyarakat;
c) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Lurah.
3. Fungsi
a.

Pelaksanaan urusan surat menyurat dan kearsipan;

b. Pelaksanaan rencana dan pelaporan kegiatan Pemerintah Desa;


c.

Pelaksanaan urusan perlengkapan dan rumah tangga Pemerintah


Desa;

d. Pelayanan administrasi Pemerintah Desa;


e.

Penyusunan Rancangan Peraturan Desa dan Rancangan Keputusan


Lurah Desa.

Dalam melaksanakan tugasnya, Carik dapat dibantu oleh staf sesuai


dengan beban kerja, kemampuan keuangan desa, dan ketentuan yang berlaku
c. Kepala Bagian Pemerintahan
1. Tugas
Kepala Bagian Pemerintahan mempunyai tugas Merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pemeliharaan ketenteraman
dan ketertiban desa, melaksanakan administrasi penduduk, administrasi
pertanahan, dan memfasilitasi kegiatan sosial politik serta melaksanakan
tugas-tugas lain yang diberikan oleh Lurah.
2. Fungsi
a.

Penyusunan rencana dan pelaksanaan pemeliharaan ketentaraman


dan ketertiban Desa;

b.

Penyusunan rencana dan pelaksanaan administrasi kependudukan;

c.

Penyusunan rencana dan pelaksanaan administrasi pertanahan;

161

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

d.

Penyusunan rencana dan pelaksanaan fasilitasi kegiatan sosial


politik;

e.

Penyusunan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Pemerintahan


Desa.

d. Kepala Bagian Pembangunan.


1. Tugas
Kepala Bagian Pembangunan mempunyai tugas merencanakan,
melaksanakan,

dan

mengevaluasi

kegiatan

pembangunan

desa,

pengelolaan sarana dan prasarana perekonomian desa dan kesejahteraan


masyarakat Desa, serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh
Lurah.
2. Fungsi
a. Perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan desa;
b. Peningkatan kegiatan serta pengembangan sarana dan prasarana;
c. Pelaksanaan,

Pengelolaan

dan

pengendalian

administrasi

pembangunan desa;
d. Pelaporan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan desa
e. Kepala Bagian Kemasyarakatan.
1. Tugas
Kelpala Bagian Kemasyarakatan mempunyai tugas merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembinaan mental spritual
keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nikah,
talak, cerai dan rujuk, sosial, pendidikan, kebudayaan, pemuda, olahraga,
wanita, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan keluarga, serta
melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Lurah.

162

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

2. Fungsi
a.

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan keagamaan;

b.

Pencatatan dan pelayanan administrasi nikah, talak, cerai, dan rujuk;

c.

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang sosial;

d.

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang pendidikan dan


kebudayaan;

e.

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang pemuda, olahraga,


dan wanita;

f.

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang kesejahteraan dan


kesehatan masyarakat;

g.

Pelaporan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan;

h.

Pelaporan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan adat istiadat dan


kebiasaan masyarakat.

f. Kepala Bagian Pendapatan


1. Tugas
Kepala Bagian Pendapatan mempunyai tugas menyiapkan bahan
penyusunan, perhitungan, dan perubahan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa, mengelola dan

mengadministrasi keuangan desa, dan

menggali sumber Pendapatan Asli Desa, serta melaksanakan tugas-tugas


lain yang diberikan oleh Lurah.
2. Fungsi
a. Penyiapan bahan penyusunan, perhitungan, dan perubahan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa;
b. Pengelolaan administrasi keuangan desa dan penggalian sumbersumber Pendapatan Asli Desa;
c. Perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan pendapatan desa;
d. Pendataan potensi kekayaan desa;
e. Peningkatan dan pengembangan sumber pendapatan desa;
f.

Pelaporan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pendapatan desa.


163

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

g. Pedukuhan
Pedukuhan adalah bagian wilayah desa yang merupakan lingkungan
kerja pelaksanaan Pemerintahan Desa. Pedukuhan dipimpin oleh seorang
Dukuh yang merupakan pembantu Lurah dalam wilayah Pedukuhan.
Dukuh berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada
Lurah.
1. Tugas
Dukuh mempunyai tugas membantu Lurah dalam melaksanakan
tugas kegiatan Lurah di wilayah kerjanya, melaksanakan kegiatan di
bidang

pemerintahan,

pembangunan,

dan

kemasyarakatan,

serta

membina ketenteraman dan ketertiban di wilayah kerjanya, melaksanakan


Peraturan Desa di wilayah kerjanya, melaporkan pelaksanaan tugasnya
kepada Lurah dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh
Lurah.
2. Fungsi
a. Membantu pelaksanaan tugas Lurah di wilayah kerjanya;
b. Pelaksanaan kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan, serta membina ketenteraman dan ketertiban di
wilayah kerjanya;
c. Pelaksanaan Peraturan Desa dan Keputusan Lurah di wilayah
kerjanya;
d. Pelaporan pelaksanaan tugas di wilayah kerjanya.
h. Sekretariat BPD
Berdasarkan Perda Kababupaten Kulon Progo Nomor: 3 Tahun
2001 Tentang Badan Perwakilan Desa pasal 35, dapat diuraikan mengenai
Sekretariat BPD, yakni sebagai berikut :
a. Dalam pelaksanaan tugasnya Pimpinan BPD dibantu oleh Sekretariat
BPD;
164

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

b. Sekretariat BPD dipimpin oleh seorang Sekretaris BPD dan dapat


dibantu oleh staf seseuai dengan kebutuhan, yang diangkat oleh
Pemerintah Desa atas persetujuan BPD, dan bukan Pamong Desa.
i. Tata Kerja
Pemerintah Desa dalam melaksanakan tugasnya menerapkan
prinsip koordinasi dan sinkronisasi di lingkup Pemerintah Desa maupun
antar Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten sesuai dengan
kondisi sosial budaya masyarakat desa setempat. Secara terperinci
ketentuan tata kerja Pemerintah desa adalah sebagai berikut :
a. Lurah bertanggungjawab

dalam memimpin, memberi bimbingan,

petunjuk, perintah, dan mengawasi serta mengendalikan tugas


bawahan;
b. Dalam rangka membimbing Pamong Desa, Lurah dapat mengadakan
rapat secara berkala;
c. Pamong Desa wajib

mematuhi petunjuk dan

perintah

serta

bertanggungjawab kepada Lurah;


d. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas Lurah, Pamong Desa
berkewajiban untuk memberikan saran-saran dan pertimbangan
kepada atasan;
e. Setiap pimpinan satuan kerja di lingkungan Pemerintah Desa wajib
menyampaikan laporan tepat waktu sesuai dengan bidang tugas
masing-masing kepada atasannya;
f.

Apabila Lurah berhalangan sementara, maka Carik mewakili Lurah;

g. Dalam hal Lurah berhalangan tetap, ditunjuk pejabat yang tata


caranya diatur dalam Peraturan Daerahnya sendiri;
h. Apabila Pamong Desa berhalangan sementara, maka ditunjuk pejabat
yang mewakili berdasarkan Keputusan Lurah;
i. Dalam menjalankan tugas dan kewajiban, Lurah bertanggungjawab
kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa yang dituangkan dalam

165

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Laporan Pertanggungjawaban Lurah sesuai dengan ketentuan dan


peraturan yang berlaku;
j. Lurah wajib menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya
kepada Bupati dengan tembusan Camat.
j. Kerancuan.
Memperhatikan Perda Nomor: 3 Tahun 2001, khususnya Pasal 35,
terdapat kerancuan :
a.

Sekretaris BPD diangkat oleh Pemerintah Desa, artinya ia diangkat


oleh Lurah yang secara administratif-formal seharusnya menjadi
bagian pemerintah desa dan Pamong Desa yang bertanggungjawab
kepada Lurah sebagai Pemimpin Desa.

b.

Tata cara pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentiannya menjadi


satu bagian bersama dengan Pamong dan staf, yakni Perda Nomor: 9
Tahun 2001. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa,
secara formal Sekretaris BPD merupakan bagian dari Pamong Desa.

c.

Akan tetapi karena ditentukan bahwa Sekretaris BPD bukan Pamong


Desa, maka ia

tidak bertanggungjawab kepada Lurah yang

mengangkatnya, melainkan kepada Pimpinan BPD. Sementara


Pimpinan BPD secara formal tentu tidak mempunyai kewenangan
yang cukup, karena terkait dengan kewenangan pemberianan sanksi
sampai dengan pemberhentian Sekretaris BPD ada pada Lurah.
Dalam Perda Nomor 9 Tahun 2001, antara lain ditentukan :

Tindakan penyidikan terhadap Sekretaris BPD dilaksanakan


setelah adanya persetujuan tertulis dari Lurah ( ps. 35 ayat 1).

Apabila

terbukti

secara

hukum

melakukan

pelanggaran,

Sekretaris BPD diberhentikan dengan Keputusan Lurah setelah


mendapat persetujuan BPD.
d. Meskipun kedudukan Sekretaris BPD bukan sebagai Pamong Desa,
namun

secara

administratif

maupun

keuangan

didudukan

166

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sebagaimana Pamong Desa, antara lain karena data persoanalia masuk


dalam data Aparat Pemerintah Desa dan ketentuan mengenai
pendapatan saat ini disetarakan dan dikelola dalam satu manajemen
keuangan bersama dengan Pamong Desa lainnya.
Jabatan Sekretaris BPD dalam konteks transisi saat ini dijabat oleh
mantan Kepala Urusan Umum yang dikonversikan menjadi Sekretaris BPD.
Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, seharusnya Sekretaris BPD mempunyai
tugas pokok melaksanakan tugas-tugas kesekretariatan BPD. Namun
sehubungan dengan agenda kegiatan BPD yang sangat sedikit, dikebanyakan
desa

akhirnya

Sekretaris

BPD

melakukan

tugas-tugas

administratif

sebagaimana Pamong desa. Tetapi di beberapa desa Sekretaris BPD ada pula
yang tidak melaksanakan tugas seperti Pamong, sehingga aktivitas kerjanya
sangat sedikit.
B. Analisa Data
1. TEMON KULON
1. Perencanaan (administrasi dan pelayanan administrasi)
Perencanaan dalam organisasi Pemerintahan Desa Temon Kulon
belum dirumuskan dalam bentuk Renstra. Perencanaan masih berupa
program-program kerja tahunan yang dirumuskan bersama antara
Pemerintah Desa dengan BPD dalam rakorbang (musbangdes) yang
selanjutnya menghasilkan program-program pembangunan. Khusus
bidang administrasi, tidak ada perencanaan yang dibuat secara eksplisit
untuk mengebangan maupun target-target pelaksanaan yang hendak
dicapai.
Aspirasi warga secara langsung tidak ada, tetapi aspirasi itu dibawa
oleh Dukuh yang kenmudian dibicarakan interlal Pemerintah Desa.
Selanjutnya rencara-rencana bidang administrasi masih terbatas pada
kesepakatan antara Pamong, sehingga target dan ukuran yang akan
dilakukan tidak jelas.

167

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

2. Pola dan Struktur Organisasi


Pola dan struktur organisasi Pemerintah Desa Temon Kulon
mengacu pada Perda Kabupaten Kulon Progo, yakni struktur yang terdiri
dari Lurah, Carik, empat Kabag dan Dukuh-dukuh. Dikatakan oleh Kabag.
Pemerintahan (16 Agustus 2005) bahwa, pola dan struktur sekarang ini
sudah cukup memadahi dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan
masyarakat. Selain itu potensi internal Pemerintah Desa pun cukup
memadahi untuk melaksanakan struktur tersebut.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Dalam kaitannya dengan struktur organisasi yang telah ditentukan,
masing-masing unit/bagian sudah ditentukan Tupoksi yang harus
dilaksanakan oleh Pamong yang menjabatnya. Tupoksi itu cukup
dipahami dan dilaksanakan oleh Lurah dan Pamong, namun dalam
prakteknya pelakasanaanya tidak bisa kaku persis seperti yang ditentukan.
Situasi

dan

kondisi

pelaksanaan

dilapangan

sangat

dibutuhkan

fleksibilitas dalam pelaksanaan Tupoksi, sehingga para Pamong bisa saling


membantu maupun saling menggantikan. Namun urusan tertentu ada
yang harus tetap dilakukan oleh Pamong yang bersangkutan.
Tupoksi

masing-masing

unit

sekaligus

menggambarkan

pembangian tugas Lurah dan Pamong Desa. Ternyata pembagian tugas


itupun harus berjalan fleksibel agar pelayanan kepada masyarakat dapat
dilaksanakan dengan mudah dan lancar, tanpa harus menunggu.
4. Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa
Tata hubungan dengan Pemerintah Kabupaten maupun dengan
Kecamatan pada prinsipnya sama sebagaimana terjadi pada desa-desa
lainnya. Selama ini Kabupaten melalui Dinas-dinas terkait dan Kecamatan
berhubungan dengan Pemerintah Desa dengan lebih menekankan pada
fungsi koordinasi.
168

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Dalam konteks tata hubungan antara Pemerintah Desa dengan BPD


sudah berjalan dengan baik dan mengutamakan hubungan partnership.
Evaluasi selalu dilakukan terhadap Pemerintah Desa, setidaknya dalam
forum LPJ Lurah, dan kalaupun terjadi kekurangan, BPD langsung
memberi saran dan masukan.
Selanjutnya hubungan Lurah dengan Pamong Desa berjalan
sebagaimana ditentukan dalam tata kerja antara Lurah dengan Pamong.
Aliran perintah dari Lurah kepada Pamong berjalan fleksibel dengan
mengutamakan fungsi koordinasi, sedangkan pertanggujawaban Pamong
terhadap Lurahpun lebih fleksibel dan bersifat kolegial.
5. Koordinasi antar unit maupun dengan supra desa
Koordinasi Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten dan
Kecamatan berjalan sebagaimana terjadi di desa-desa lainnya. Forumforum sering dibentuk oleh dinas-dinas atau Kecamatan dengan
Pemerintah

Desa,

sehingga

program-program

pembangunan

dan

administrasi bisa ditindak lanjuti dan dan dilaksanakan oleh Pemeronyah


Desa. Adapun koordinasi internal Pemerintah Desa dilakukan baik dalam
rapat rutin maupun insidental. Rapat koordinasi resmi selain rakorbang,
juga dilakukan rapat rutin setiap hari sabtu, baik ada masalah atau tidak
ada masalan. Selain itu sering pula dilakukan koordinasi mendadak jika
ada keperluan tertentu atau jika ada pekerjaan yang harus segera
diselesaikan.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakukan oleh dinas terkait atau oleh Kecamatan
terhadap pelaksanaan pembangunan dan pelaksanaan APBD, meskipun
tindak lanju pengawasan tidak ada ketentuan eksplisit. Selain itu
pengawasan

juga

dilakukan

oleh

BPD

terhadap

pelaksanaan

Pemerintahan dan pelaksanaan APBDes. Selama ini pengawasan BPD


dirasakan cukup efektif dan BPD sering memberikan saran-saran untuk
169

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

perbaikan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa maupun pelaksanaan


APBDes. Adapun pengawasan Lurah terhadap kinerja Pamong Desa juga
berjalan cukup evektif, meskipun pengawasan lebih berifat koordinatif
dan menggunakan pendekatan personal. Pengawasan secara tegas dan
tidak lanjut yang tegas memang belum dapat dilakukan karena harus
toleran terhadap keterbatasan penghasilan Pamong Desa.
7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Rekrutmen

Lurah

berjalan

demokratis

melalui

mekanisme

pemilihan oleh warga desa yang bersangkutan, sedangkan Rekrutmen


Pamong dilaksanakan melalui mekanisme seleksi. Secara umum proses
rekrutmen tidak ada indikasi KKN baik Pemilihan Lurah maupun seleksi
Pamong Desa, kecuali pelaksanaan syukuran atas jadinya Lurah atau
Pamong.
Untuk Pamong terdahulu seleksi dilakukan

di Kabupaten,

sedangkan yang baru seleksi dilakukan di desa oleh team seleksi yang
terdiri dari Pemerintah Desa, BPD, dan tokoh masyarakat. Sehingga
kemungkinan KKN menjadi kecil karena banyak pihak yang diawasi.
Hasil rekrutmen Pamong terdahulu tidak ada masalah dalam hal
kompetensi karena para Pamong sudah memiliki pengalaman yang cukup
lama. Sementara untuk Pamong yang masih baru, misal Ka. Bag.
Pendapatan masih harus adaptasi dengan tugas dan kewajiban yang harus
diemban. Tapi itu wajar saja karena dia belum lama menjabat, dan dengan
adanya kerjasama saling membantu, maka pekerjaan tetap dapat
terlaksana dengan baik.
Pasca seleksi, penempatan terhadap calon terbaik dilaksanakan
sesuai formasi yang ada karena penempatan SDM memang belum
menggunakan perencanaan SDM. Konsekuensinya, penempatan SDM
menjadi relatif sulit untuk menemtukan kualifikasi dan kualitas calon
Pamong yang dibutuhkan. Namun dengan adanya kerjasama yang baik,

170

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

kompetensi dapat dibangun melalui pengalaman dalam pelaksanaan tugas


sehari-hari.
8. Pengembangan SDM
Keterbatasan sumber dana desa menyebabkan kesulitasn bagi
upaya

pengembangan

SDM

Pemerintah

Desa.

Sementara

upaya

pengembangan oleh Pemerintah Kabupatenpun sangat terbatas, sehingga


fasilitasi dalam bentuk pelatihan misalnya, kuantitas maupun kualitasnya
masih terbatas. Pelatihan jarang sekali dilakukan, kecuali sekedar
ceramah-ceramah

dalam

rangka

memberikan

pengarahan

kepada

Pemerintah desa.
Promosi dan mutasi tidak pernah dilakukan, sehingga seorang
Pamong akan berada pada jabatan yang sama selama masa aktifnya,
kecuali yang bersangkutan terpilih sebagai Lurah. Dengan demikian
harapan kenaikan pendapatanpun sangat kecil, karena kemungkinan
promosi memang tidak diatur. Secara psikologis, makin lama seseorang
menduduki suatu jabatan, terlebih lagi dengan penghaslilan kecil, tentu
akan cenderung menurun kinerjanya.
9. Sistem kompensasi
Kompensasi yang diterima oleh Lurah dan Pamong terdiri dari
sumber-sumber sebagai berikut :
a.

b.

Bengkok
Lurah

: 1,8 Ha

Carik

: 1,5 Ha

Ka. Bag.

: 1,2 Ha

Dukuh

: 1,2 Ha

Bantuan dari Kabupaten (triwulanan)


Lurah

: Rp. 350.000,-

Carik

: Rp. 300.000,-

Ka. Bagian

: Rp. 270.000,171

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Dukuh
c.

: Rp. 225.000,-

Bantuan kesehatan dari APBDes


Dari

semua

sumber

pendapatan,

untuk

Kabag.

misalnya,

penghasilan rata-rata per bulan adalah Rp. 600.000,-. Namun setiap


bulannya dia juga harus mengeluarkan uang untuk berbagai bentuk
sumbangan, yang merupakan konsekuensi sebagai Pamong yang rata-rata
tidak kurang dari Rp. 300.000,-. Dengan demikian penghasilan riil
Pamong Desa adalah relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan hidup
dan keluarganya.
Untuk memenuhi kekurangan itu, umumnya Pamong memiliki
usaha sampingan, misalnya Lurah yang memiliki usaha pertukangan kayu,
Ka. Bag yang memiliki lahan pertanaian lain, makelar kendaraan, dan
lain-lain. Lurah (16 Agustus 2005) mengatakah bahwa, juka tidak lincah
bisnis, sudah jebol kemarin-kemarin dan kebetulan sebelum jadi Lurah,
secara ekonomis sudah mapan. Meskipun demikian mereka masih punya
motivasi, setidaknya menanamkan sejarah bahwa, ia pernah mengabdi
pada masyarakat sebagai Pamong. Bagi Pamong yang lain, motivasinya
juga dari pada tidak bisa kerjalainnya.
10. Evaluasi kinerja Pamong
Kinerja Pemerintah Desa secara langsung diawasi oleh BPD, dimana
pengawasan oleh BPD sudah cukup efektif dengan mengededepankan
fungsi partnersip, sehingga konflik tidak terjadi antara Pemerintah Desa
dengan BPD. Adapun pengawasan Lurah terhadap para Pamongnya sudah
efektif karena rasa pekewuh tinggi, sehingga disiplin pada tingkatan
Kabag. sudah cukup tinggi. Untuk Dukuh ada yang kurang disiplin, dan
sudah sering

ditegur.

Meskipun

demikian

sanksi

bagi

tindakan

indisepliner Pamong belum pernah dilakukan.

172

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

11. Purnatugas
Sebagaimana ketentuan Perda Kab. Kulon Progo, apabila seorang
Pamong habis masa jabatannya, maka ia akan menerima purnatugas
berupa bengkok seluas 1/5 dari bengkoknya semasa aktif. Luas bengkok
untuk purnatugas itu dirasakan kurang, sehingga ada kekhawatiran
bahwa, setelah purnatugas nantinya tidak akan terjamin mengenai
kelangsungan kesejahteraanya.
12.Data Pamong
No

Nama

Jabatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Drs. Wahyono
Siti Amirin
Hadi Prayitno
Yumari
Retno Sukoco
Sih Adi Mulyanto
Sarikem
Mitro Hasan
Ngadino
Wahyono
Cipto Wardoyo

Lurah
Carik
Ka.Bag. Pemerint.
Ka.Bag. Pembang.
Ka.Bag. Kemasy.
Ka.Bag. Pendapatan
Sek. BPD
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Umur
(Th)
39
52
51
50
38
38
37

Pendikan
Sarjana
SLTP
SLTP
SLTA
SLTA
Sarjana
SLTA
SLTP
SD
SLTP
SLTP

Masa Kerja
(Th)
4
15
16
14
14
1
3

Sumber data : Pemdes Temon Kulon Tahun 2005


13. Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat
Untuk

keperluan

pelayanan

administrasi dapat dikatakan

masyarakat

khususnya

bidang

bahwa kemampuan para Pamong Desa

Temon Kulun sudah cukup memadahi, karena rata-rata masa kerja yang
sudah lama. Sedangkan yang masih baru hanya 1 orang, namun menurut
Ka. Bag. Pemerintahan, Pamong yang masih baru sudah cepat
menyesuaikan, barangkali karena yang bersangkutan adalah sarjana.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Temon Kulon (28 Juli 2005)
menyatakan bahwa, Pamong yang ada sebagian besar sudah tua-tua dan
sudah bertahun-tahun menjabat Pamong Desa. Jadi sudah mumpuni
dalam melayani masyarakat, sementara Pak Lurah yang masih relatif

173

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

muda juga cepat belajar dengan Pamong yang lain. Selain itu menurut Ka.
Bag.

Pemerintahan

bahwa,

di

lihat

dari

ekebutuhan

pelayanan

administrasi memang belum tinggai, karena tiap hari yang datang minta
pelayanan tidak banyak. Kecuali jika ada pendaftaran PNS, barulah
banyak yang minta pelayanan. Dengan demikian kemampuan yang ada
sekarang sudah cukup memenuhi untuk pelayanan.
14.Kepuasan Masyarakat
Pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Desa sudah baik dan
memuaskan masyarakat. Demikian pendapat seorang tokoh masyarakat.
Diukung pendapat Dukuh Kaligondang bahwa, selama dia menjabat 5
tahun ternyata kepemimpinan Pak Lurah Wahyuno lebih bijaksana
daripada yang dulu. Kalau yang dulu sukanya ngatur dan otoriter. Jika
masyarakat sangat membutuhkan untuk surat-menyurat, biasanya Pak
Lurah langsung menandatangani. Selain itu pelayanan yang sekarang
tidak ada indikasi KKN.
15.Sarana kerja Pemerintah Desa
Sarana kerja pokok yang dimiliki oleh Pemerintah Desa Temon
Kulon antara lain : 1 unit komputer, 5 unit mesin ketik, 1 unit telephon,
dan 1 unit sepeda motor dinas. Sayangnya Pamong yang bisa
mengoperasikan komputer baru satu orang, sehingga yang lain hanya bisa
menggunakan mesin ketik manual. Meskipun demikian karena pelayanan
belum begitu tinggi, sehingga kemampuan dalam memanfaatkan
tehnologi yang masih terbatas belum ,menyebabkan tertundanya
pekerjaan pelayanan administrasi kepada masyarakat.
16. Akuntabilitas kepada masyarakat
Perkebangan pelaksanaan administrasi Pemerintahan Desa tidak
secara eksplisit dilaporkan kepada warga, tetapi prosedur dan sarat-sarat
pelayanan disampaikan kepada warga baik secara langsung saat warga
174

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

datang

ke

Kantor

kelurahan,

atau

melaui

Dukuh-dukuh

yang

menyampaikan dalam forum-forum warga. Adapun hasil pelaksanaan


administrasi Pemerintahan Desa tidak disampaikan kepada masyarakat,
karena disisi lain juga tidak ada permintaan atau protes dari masyarakat,
kerena mereka sudah puas.
2. DESA BENDUNGAN
1. Perencanaan
Perencanaan belum dibuat dalam bentuk Rencana Strategis Desa,
kecuali dalam bentuk program-program pembangunan dan rencana
anggaran yang tersusun dalam APBDes. Rencana itu dibicarakan bersama
dan ditetapkan bersama dengan BPD pada setiap awal tahun anggaran.
Khusus untuk perencanaan dan pengembangan bidang organisasi dan
manajemen, atau lebih konkrit dalam bentuk rencana pengembangan
administrasi Pemerintahan Desa belum dirumuskan. Menurut Ka. Bag.
Pemerintahan Desa Bendungan (16 Agustus 2005), perencanaan itu ada
dan dimusyawarahkan dengan BPD serta mendengarkan aspirasi
masyarakat

yang

disampaikan

secara

informal.

Perencanaan

itu

disampaikan dalam rapat koordinasi dengan BPD, yang kemudian


menghasilkan prosedur dan syarat pelayanan administrasi.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi yang dilaksanakan di Desa Bendungan
adalah

mengacu

pada

Perda

Kabupaten,

yang

menggambarkan

pengoganisasian dalam organisasi pemerintahan Desa, yakni sebagai


berikut :
a. Lurah
b. Carik
c. Ka. Bag. Pemerintahan
d. Ka. Bag. Pembangunan
e. Ka. Bag. Kemasyarakatan
175

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

f. Ka. Bag. Pendapatan


g. Dukuh-dukuh terdiri dari 12 Dukuh
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Tupoksi masing-masing jabatan mengacu pada Perda Kabupaten
Kulon Progo tentang susunan organisasi Pemerintahan Desa. Tupoksi
masing-masing jabatan telah dipampang dipampang di dinding dengan
harapan akan dipahami dan dilaksanakan oleh para pejabatnya. Dalam
pelaksanaan Tupoksi itu, secara umum masing-masing pejabat sudah
melaksanakan dengan baik, namun realisasinya setiap Pamong tidak kaku
dalam melaksanakan Tupoksinya. Terdapat kesepakatan secara tak
tertulis di antara para Pamong untuk saling membantu atau saling
menggantikan, dalam melaksanakan Tupoksi itu. Dengan demikian
pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan dengan lancar, karena
pelaksanaan pelayanan tidak harus menunggu Pamong yang dituju,
meskipun Pamong yang bersangkutan sedang tidak di tempat.
4. Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa
Tata kerja dalam bentuk alur perintah dan pertanggungjawaban
secara internal organisasi Pemerintah Desa secara umum juga mengacu
pada kententuan yang telah dirumuskan dalam Perda Kabupaten Kulon
Progo. Namun dalam praktek pelaksanaan organisasi sehari-hari
hubungan tata-kerja itu menjadi sangat fleksibel. Alur perintah dan
pertanggungjawaban antara Lurah dengan para Pamongnya lebih bersifat
koordinatif dan personal. Sementara tata hubungan antara unit horisontal
dipastikan berjalan secara koordinatif, yang tergambarkan dalam aktifitas
kerjasama antar Pamong.
Pertanggungjawaban secara formal lebih ditujukan kepada BPD,
yang ternyata terdapat hubungan yang kurang serasi selama beberapa
tahun. Hubungan demikian terjadi karena peran BPD yang selama ini
cenderung tampil arogan tetapi kurang mengenatui fungsinya, sehingga
176

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

BPD lebih mengedepankan fungsi kontrolnya ketimbang partnershipnya.


Namun pada tahun terakhir, hubungan telah cair dan telah terjadi
sinkronisasi, karena Ketua BPD terakhir lebih komunikatif dibanding
dengan Ketua BPD sebelumnya.
Tata

hubungan

dengan

pihak

Pemerintah

Kabupaten

dan

Kecamatan juga lebih bersifat koordinatif. Pengarahan-pengarahan cukup


sering diberikan oleh dinas-dinas terkait maupun Kecamatan. Perintah
dari Pemerintah Kabupaten mengalir baik melalui Dinas-dinas terkait
maupun Kecamatan, kepada Pemerintah Desa untuk melaksanakan
berbagai

aktifitas

pembangunan,

pemerintahan,

dan

pelayanan

administrasi.
5. Koordinasi antar unit maupun dengan supra desa
Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten maupun kecamatan
dilakukan antara lain dalam rapat koordinasi bidang pembangunan dalam
bentuk rapat UDKP dan Rakorbang. Rapat koordinasi dengan Kabupaten
dan Kecamatan juga dilakukan secara periodik baik tiga bulanan maupun
bulanan. Untuk keperluan tertentu Pemerintah Desa juga sering datang ke
Kecamatan maupun dinas terkait untuk keperluan koordinasi baik secara
formal maupun informal.
Rapat koordinasi secara rutin juga dilakukan setiap bulan untuk
membicarakan persoalan pembangunan, pemerintahan, keamanan, dan
lain-lain. Selain itu rapat koordinasi insidental labih sering dilakukan
untuk kepentingan-kepentingan mendadak dan yang harus secepatnya
diselesaikan. Koordinasi insidental itu sering pula dilakukan dalam
suasana non formal, namun hasilnya sangat efektif untuk menyelesaikan
berbagai tugas.
6. Pengawasan
Pengawasan

bersifat

supervisi

dilakukan

oleh

Pemerintah

Kabupaten maupun Kecamatan dilakukan meskipun intensitasnya


177

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

terbatas, karena hubungan antara Kabupaten dan Kecamatan dengan


Pemerintah Desa yang tidak bersifat hierarkis. Secara formal pengawasan
dilakukan oleh BPD terhadap Pemerintah Desa, namun selama ini
pengawasan bisa dikatakan kurang efektif dan cenderung melahirkan
konflik antara BPD dengan Pemerintah Desa. BPD sering melakukan
kontrol dan teguran kepada Pemerintah Desa, namun dianggap tidak
proposional dan cenderung arogan. Namun setelah terjadi pergantian
Ketua BPD yang terakhir, kontrol BPD sudah proporsional dan terjadi
hubungan komunikasi intensif yang mengedepankan patnership antara
BPD dengan Pemerintah Desa.
Pengawasan internal Pemerintah Desa sudah cukup efektif
dilakukan oleh Lurah, meskipun Lurah lebih menekankan pada
pendekatan personal terhadap para Pamong. Jika terdapat indikasi
indisipliner, lurah melakukan pendekatan dengan memanggil Pamong
yang bersangkutan untuk diajak berdiskusi mengenai permasalahan yang
dihadapi. Dari pendekatan itu diharapkan muncul rasa pakewuh, yang
kemudian akan muncul upaya perbaikan. Dengan pengawasan seperti itu
Lurah

Bendungan

(16

Agustus

2005)

mengatakan

bahwa,

para

Pamongnya sudah memiliki disiplin kerja yang cukup tinggi.


7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Rekrutmen dilakukan jika terdapat formasi dalam Pemerintah
Desa, dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku. Rekrutmen Lurah
dilakukan melalui mekanisme pemilihan langsung, sedangkan rekrutmen
Pamong dilakukan melalui mekanisme seleksi, baik administratif mapun
kemampuan. Untuk Pamong terdahulu. Rekrutmen dilakukan oleh
Kabupaten

dan

dilaksanakan

di

Kabupaten.

Sedangkan

setelah

pemberlakukan UU No. 22 Tahun 1999, pernah dilakukan untuk


rekrutmen Ka. Bag. Pendapatan. Seleksi itu dilakukan oleh Team yang
dibentuk di desa dan dilaksanakan di desa. Selanjutnya Calon Pamong

178

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang mendapatkan nilai tertinggi diangkat menjadi Pamong Desa melaui


Surat Pengangkatan Lurah.
Sistem rekrutmen demikian tidak mendasarkan pada perencanaan
SDM, karena rekrutmen dilakukan sekedar mengisi formasi yang ada.
Meskipun demikian Lurah mengatakan bahwa, rata-rata Pamong sudah
memiliki kompetensi yang cukup memadahi. Hasil seleksi dilanjutkan
dengan penempatan pada formasi yang ada, namun dalam masa orientasi
tidak dilakukan pembekalan maupun pelatihan sebagai Pamong baru.
Sehingga kemampuan melaksanakan tugas dalam jabatannya berjalan
secara autodidak saja, melalui trasnfer pengalaman dari Pamong-pamong
yang senior.
8. Pengembangan SDM
Secara umum pengalaman kerja Lurah dan Pamong Desa
Bendungan sudah cukup memadahi, karena masa kerja yang sudah cukup
lama dan dari sisi tingkat pendidikan, untuk sementara juga bisa
dikatakan cukup memadahi. Namun jika dilihat dari sisi kebutuhan
pelayanan masyarakat yang makin tinggi, pengembangan SDM diperlukan
bagi Pemerintah Desa Bendungan. Ternyata selama ini pengembangan
SDM masih terbatas, yakni pelatihan Siak tahun 2004 dan untuk Ka. Bag.
Pembangunan cukup sering, tetapi sebatas pada ceramah-ceramah.
9. Sistem kompensasi
Kompensasi yang diterima oleh Lurah dan Pamong Desa terdiri
dari bengkok, TPP triwulanan dan bantuan kesehatan dari APBDes:
a.

Bengkok :
Lurah

: 2,0670 Ha

Carik

: 1,7181 Ha

Ka. Bagian

: 1,3745 Ha

Dukuh

: 1,0308 Ha

179

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

b.

c.

TPP Triwulanan :
Lurah

: Rp. 350.000,-

Carik

: Rp. 300.000,-

Ka. Bagian

: Rp. 270.000,-

Dukuh

: Rp. 225.000,-

Bantuan kesehatan dari APBDes : Rp. 4.560.000,- untuk seluruh


Pamong jika Pamong mengalami sakit saja.
Dari keseluruhan sumber pendapatan, untuk seorang Kepala

Bagian misalnya, rata-rata pendapatan bersih per bulan adalah Rp.


500.000,-. Selanjutnya untuk keperluan iuran, subangan, dan lain-lain
konsekuensi kedudukannya sebagai Pamong harus mengeluarkan ratarata per bulan Rp. 300.000,- bahkan dibulan-bulan tertentu bisa lebih
dari penghasilan dalam satu bulan. Dengan demikian riel yang diterima
oleh Lurah dan Pamong Desa dari penghasilanya secara resmi bisa
dikatakakan sangat minim untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
Pamong dan keluarganya.
Untuk memenuhi kebutuhan, tidak mengherankan jika sebagian
besar Pamong mencari penghasilan tambahan seperti menjadi makelar,
ternak ayam buras, usaha warung makan, dan lain-lain. Selain itu
beberapa Pamong terbantu karena istri bekerja sebagai PNS atau
wiraswasta. Dengan demikian secara umum pengasilan sampingan
maupun bantuan istri justru lebih besar dari penghasilannya sebagai
Pamong.
Logika sederhana memperkirakan jika motivasi kerja Pamong
terhadap pekerjaannya maupun palayanan masyarakat menjadi lemah,
karena lebih termotifasi untuk melakukan pekerjaan sampingan.
Meskipun ketika ditanya mengenai motivasi mereka menjadi Pamong,
jawabanya adalah untuk pengabdian dan mencari status sosial.

180

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Dalam lingkungan Pemerintah Desa Bendungan bisa dipastikan

belum menggunakan standart evaluasi kinerja. Sehingga sangat sulit


menentukan dan menilai kualitas kinerja para Pamong, disamping itu ada
keterbatasan penghasilan Pamong juga menjadi pertibangan sendiri bagi
Lurah jika ingin menegakkan disiplin kerja Pamong. Maka dari itu wajar
bila Lurah lebih mengedapankan pendekatan personal kepada para
Pamong untuk meningkatkan kinerja Pamong, ketimbang menggunakan
kewenangannya untuk memberikan sanksi. Terbukti selama ini Lurah
hanya sekedar memberi teguran bila menemui tindakan indikasi
indisipliner diantara para Pamong.
11. Purnatugas
Sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Perda Kabupaten Kulon
Progo, maka bagi Pamong yang habis masa jabatannya, akan menerima
purnatugas berupa bengkok seluas 1/5 dari tanah bengkok yang
diterimanya

semasa

aktif.

Sebagaimana

pernyataan

Ka.

Bagian

Pemerintahan, besarnya purnatugas itu tidak sebanding dengan baktinya


sebagai Pamong yang telah lama mengabdi. Selain itu dikatakan pula
bahwa

besarnya

purnatugas

itu

tidak

akan

mampu

menjamin

kesejahteraannya di masa tua.


12.Data Pamong
No

Nama

Jabatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tukino
Joko Pitono
Ngadikan
Paijo
Suyoto
Budi Darminto
Sutopo
Ruslan Winarno
Rumijadi

Lurah
Carik
Ka.Bag. Pemerint.
Ka.Bag. Pembang.
Ka.Bag. Kemasy.
Ka.Bag. Pendapatan
Sek. BPD
Dukuh
Dukuh

Umur
(Th)
51
39
51
40
53
54
40
54
40

Pendikan
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA

181

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

No

Nama

Jabatan

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Pujo Harsono
Mulyanto
Radiyan
Okti Libranita
Pujo Utomo
Suharto
Ramelan
Ngadiran
Sagiman
Afudin

Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Umur
(Th)
56
46
55
40
53
42
53
51
53
51

Pendikan
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SD
SLTA
SLTP
SLTA
SLTA
SLTA

Sumber data : Kantor Kelurahan Bendungan th. 2004


13.Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat
Dalam

hal

memberikan

pelayanan

masyarakat,

Kabag

Pemerintahan (16 Agustus 2005) berpendapat bahwa, khusus pelayanan


administrasi, secara umum Lurah dan Pamong Desa Bendungan memiliki
kemampuan yang sudah cukup memadahi. Diperkuat pendapat Suliki
selaku tokoh masyarakat bahwa, warga masih merasa nyaman dengan
sistem pelayanan administrasi yang diberikan oleh Pemerintah Desa.
Dengan tingkat pendidikan yang rata-rata SLTA untuk sementara
mencukupi karena ditunjang masa kerja dan pengalaman yang cukup.
Namun di masa-masa mendatang kemampuan perlu ditingkatkan lagi,
karena kebutuhan pelayanan masyatakat cenderung meningkat seiring
dengan maskin kompleksnya kebutuhan masyarakat.
14.Kepuasan Masyarakat
Terkait dengan kemampuan Pemerintah Desa dalam memberikan
pelayanan, kepuasan masyarakat bisa dikatakan cukup tinggi. Hal itu
ditunjang pula oleh hubungan Pemerintah Desa dengan warga yang sangat
baik dan akrab. Secara khusus dikatakan bahwa Lurah dapat merangkul
semua warga, sehingga segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
Dikatakan oleh Radiyan ( 23 Juli 2005 ) selaku Dukuh bahwa, Pamong

182

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang ada sudah dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara baik sesuai
dengan jabatannya, karena mereka sudah berpengalaman.
15. Sarana kerja Pemerintah Desa
Sarana kerja dan pelayanan pokok yang dimiliki oleh Pemerintah
Desa Bendungan antara lain : Mesin ketik 4 unit, komputer 3 unit,
telephon 1 unit, dan motor dinas 1 unit ( digunakan Lurah ). Untus saat ini
dengan sarana kerja itu sudah cukup memadahi, sehingga pelayanan
kepada masyarakat dapat berjalan lancar. Persoalannya tidak semua dapat
mengoperasionalkan komputer, sehingga sarana yang ada menjadi kurang
efektif untuk memberikan pelayanan.
16. Akuntabilitas kepada masyarakat
Akuntabilitas pelayanan publik kepada masyarakat bisa dikatakan
masih cukup rendah. Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa secara
formal hanya disampaikan kepada BPD, itupun terfokus pada pelaksanaan
anggaran. Sehingga akuntabilitas pelaksanaan administrasi kepada warga
masih sangat terbatas, sementara kritik dan saran dari warga kepada para
pamong sangat kurang atau warga tidak antusias ( Naalalmasri, 16
Agustus 2005, selaku Ketua Karang Taruna). Demikian pula dalam rapatrapat dengan warga, jaran sekali Pak Dukuh menyampaikan laporan
pelaksanaan administrasi itu disampaikan kepada warga, kecuali kadangkadang

hanya

menyampaikan

prosedur

dan

sarat

pengurusan

administrasi.
3. DESA GIRIPENI
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Perencanaan belum dibuat dalam sebuah Renstra yang menjadi
induk

perencanaan

bagi

operasional

Pemerintah

Desa

dalam

melaksanakan segala tugas dan fungsinya. Khusus bidang organisasi dan


manajemen

Pemerintah

Desa

dan

aktivitas

administrasi

belum

183

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dirumuskan secara jelas tujuan yang ingin dicapai dan langkah-langkah


yang akan dilaksanakan. Informasi dari Ka. Bag. Pemerintahan (8 Agustus
2005) diketahui bahwa, perencanaan dibuat oleh Pamong Desa dan
dibicarakan bersama dengan BPD, sementara usulan dari masyarakat
boleh dikatakan sangat sedikit. BPD kadang-kadang mengusulkan, yang
diasumsikan sebagai manivestasi usulan dari masyarakat.
Pada kenyataanya perencanaan bidang organisasi dan manajemen
hanya menjadi kesepakatan internal Pemerintah Desa, sehingga tujuan
dan target kegiatan tidak dapat dirumuskan dengan baik.

Termasuk

kegiatan administrasi Pemerintah Desa, dikatakan bahwa perencanaan


dibuat setahun sekali bersama dengan BPD, agar pelaksanaan ke depan
makin baik. Namun demikian perencanaan itu juga belum dirumuskan
secara tertulis, kecuali sekedar menjalankan aktivitas sebagaimana tertulis
dalam Tupoksi Pemerintah Desa.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur

Pemerintah Desa sesuai dengan Perda

Kabupaten, dan sampai saat ini dirasakan bahwa struktur yang ada masih
sesuai dengan kebutuhan pelayanan pada masyarakat. Di sisi lain masingmasing Pamong mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
struktur tersebut dengan baik, meskipun ada Pamong yang kurang baik
dalam

melaksanakan

tugas

dan

fungsinya

dalam

struktur

yang

bersangkutan.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Tupoksi Lurah dan Pamong Desa sudah menyesuaikan dengan
ketentuan dalam Perda Kabupaten, namun dalam pelaksanaanya tidak
saklek karena antara Pamong satu dengan yang lainnya bisa saling
melengkapi dan saling membantu. Seperti di contohkan oleh Ka. Bag.
Pemerintahan (8 Agustus 2005), jika seorang Kabag suatu pagi sedang ke

184

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Sawah terlebih dahulu, maka tugas pelayanan administrasi bisa diwakili


oleh Pamong lainnya.
Dengan pelaksanaan Tupoksi yang fleksibel, maka pelayanan
administrasi kepada masyarakat tidak harus menunggu meskipun Pamong
yang dituju sedang tisak ditempat. Akan tetapi untuk pelayanan tertentu
tetap ada yang harus menunggu Pamong yang bersangkutan, misal
administrasi pertanahan yang harus dilayani oleh Ka. Bag Pemerintahan.
Terkait dengan pelaksanaan Tupoksi, pembagian tugas masingmasing Pamong dan Lurah juga mendasarkan diri pada Tupoksi masingmasing. Bahkan Tupoksi itu sudah terpampang jelas di dinding. Artinya
tugas dan fungsi Pemerintah Desa sudah terbagi habis dalam struktur
yang ada Namun pembagian tugas itupun tidak kaku sebagaimana
Tupoksi, karena antara Pamong yang satu dengan yang lain dapat saling
membantu. Bahkah kadang-kadang Lurahpun ikut memberi pelayanan
langsung kepada masyarakat dalam hal administrasi. Namun ada
persoalan dalam pembagian tugas, karena tugas dan fungsi Ka. Bag.
Pemerintahan yang lebih banyak dibanding dengan Pamong lainnya,
sehingga bisa dikatakan bahwa Pembagian Tugas itu belum merata.
4. Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa
Setelah berlakukan UU No. 22 Tahun 1999, bisa dikatakan jika tata
hubungan antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten dan
Kecamatan tidak tertata dengan jelas. Pertanggungjawaban Pemerintah
Desa

adalah

kepada

BPD,

namun

berbagai

ketentuan

tentang

penyelenggaraan Pemerintahan Desa tetap mengacu pada peraturan yang


ditetapkan dalam Perda Kabupaten. Sementara hubungan dengan
Kecamatan lebih bersifat koordinatif, tanpa ikatan yang jelas dalam
bentuk pelaksanaan perintah dan tanggungjawab.
Dengan berlakunnya UU No. 32 Tahun 2004, pertanggungjawaban
Pemerintah Desa berlalih kepada Bupati melalui Camat, sehingga
keterikatan Pemerintah Desa dengan Supra Desa menjadi lebih kuat
185

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

kembali.

Aktifitas

administrasi

pembangunan,

kependudukan,

pertanahan, dan lain-lain selalu disampaikan ke dinas-dinas terkait.


Sementara pembinaan administrasi dari Kecamatan mulai diadakan
kembali, terkait dengan meningkatnya peran dan fungsi Kecamatan
terhadap desa dilingkungan Kecamatan tersebut.
Tata kerja internal Pemerintah Desa secara umum mengikuti Perda
Kabupaten tentang susunan organisasi Pemerintah Desa, namun
implementasinya tidak ketat sebagaimana diatur dalam perda tersebut.
Pada kenyataan garis perintah dan pertanggungjawaban dalam internal
Pemerintah Desa lebih bersifat koordinatif, sehingga hubungan antara
atasan ( Lurah ) dengan Para Pamongpun lebih informal dengan ikatanikatan personal yang lebih tinggi.
5. Koordinasi antar unit maupun dengan supra desa
Untuk melancarkan pelaksanaan Tupoksi yang telah ditetapkan,
secara internal diadakan koordinasi rutin setiap bulan, disamping
koordinasi insidental yang dilaksanakan setiap saat menyesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan atau ketika menghadapi persoalan tertentu yang
harus segera dilaksanakan atau dipecahkan. Sebagaimana disampaikan
Lurah Giripeni (8 Agustus 2005) bahwa, setiap selesai koordinasi dengan
Kecamatan, maka ia langsung mengundang Kabag dan beberapa juga
mengundang Dukuh untuk menyampaikan hasil koordinasi dengan
Kecamatan. Dengan cara seperti itu diharapkan jika ada tugas-tugas atau
kebijakan tertentu dari Pemerintah Kabupaten atau kecamatan, segera
dapat ditindak-lanjuti oleh Pemerintah Desa.
Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan juga
sering dilakukan, tidak terbatas pada koordinasi bidang pembangunan
saja tetapi juga kordinasi anggaran, administrasi kependudukan,
pelaksanan bantuan-bantuan, dan lain-lain. Pembinaan dari dinas terkait
dan Kecamatan juga pernah dilakukan, namun selama ini dirasakan

186

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pembinaan adminitrasi Pemerintah Desa sangat kurang, sehingga


administrasi saat ini bisa dikatakan berantakan.
6. Pengawasan
Pengawasan terhadap Pemerintah Desa selama ini dilakukan oleh
BPD, tetapi dirasakan kurang efektif, karena pengawasan masih terfokus
pada pelaksanaan anggaran. Sedang dalam palaksanaan administrasi dan
manajemen pemerintahan desa belum intensif dilaksanakan oleh BPD.
Namun pengawasan internal oleh Pemerintah Desa oleh Lurah sudah
dilakukan cukup intensif. Sebagaimana dikatakan Lurah (8 Agustus 2005)
bahwa, selama ini ada indikasi indisipliner beberapa Pamong, namun
Lurah sangat hati-hati dalam melaksanakan fungsi pengawasan dengan
lebih menekankan pendekatan personal.
Untuk mengefektifkan pengawasan Lurah menempatkan para
Kabag dalam satu ruangan, dengan harapan semua bisa dipantau dengan
baik dan ada pekewuh jika tidak bekerja dengan baik. Meskipun
demikian pengawasan tetap belum efektif, terutama karena sanksi secara
tegas belum dapat diterapkan meskipun ada Pamong yang kurang disiplin.
Tindak lanjut pengawasan masih terbantas pada pemberian teguran lesan
jika menjumpai Pamong yang tidak disiplin, dan itupun dilaksanakan
dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan konflik.
7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Rekrument Lurah adalah melalui mekanisme pemilihan langsung
dengan mengacu pada Perda Kabupaten. Sedangkan untuk Pamong
melalui seleksi terhadap calon-calon Pamong yang dilaksanakan oleh team
seleksi di desa sendiri.

Persoalannya adalah adanya kesulitan untuk

menentukan kualitas dan kualifikasi yang diinginkan dari calon Pamong


Desa, karena Perdapun tidak menentukan secara tegas, kecuali sekedar
tingkat pendidikan dan status kependudukan. Adapun untuk rekrutmen
Pamong yang terdahulu, seleksi dilakukan oleh Kabupaten, dan bagi yang
187

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

lolos seleksi kemudian dilantik oleh Bupati menjadi Pamong Desa.


Untungnya seleksi Pamong terakhir diikuti oleh calon-calon dengan
pendidikan minimal SLTA, tetapi yang terdahulu masih ada yang SD dan
SLTP.
Dalam rekrutmen itu secara umum dapat dikatakan tidak ada
indikasi KKN, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang Tokoh
Masyarakat Desa Giripeni (18 Juli 2005) bahwa, indikasi KKN tidak
nampak karena dibawah pantauan Kabupaten. Diperkuat pendapat
Samingan (18 Juli 2005) salah satu Ketua RW bahwa, materi test dibuat
oleh tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap mampu, dan waktu
pembuatannyapun mereka dikarantina. Jadi Calon tetap harus mengikuti
proses seleksi dan sangat kecil peluang KKN.
8. Pengembangan SDM
Untuk pengembangan SDM lingkup Pemerintah Desa Giripeni
dapat dikatakan sangat terbatas. Pendidikan lanjut tidak ada, sementara
pelatihan-pelatihan dari Kabupaten atau dari pihak lain sangat terbatas.
Beberapa tahun terakhir hanya dilakukan pelatihan satu kali, yakni sistem
administrasi kependudukan saja dan itu sudah diterapkan. Sedangkan
yang lain hanya terbatas pada acara ceramah-ceramah saja, sehingga
kurang meningkatkan keterampilan Pamong.
Di samping pelatihan yang sangat terbatas, mutasi dan promosi
juga tidak pernah dilakukan

karena tidak

ada ketentuan

yang

mengaturnya. Sehingga sekali menjabat pada jabatan tertentu, maka


sampai purnatugas akan menjabat pada jabatan yang sama. Meskipun
Para Pamong menyatakan tidak bosan, namun secara umum akan terjadi
penurunan kinerja akibat rutinitas dan keterbatasan inovasi.
9. Sistem kompensasi
Penghasilan pokok Lurah dan Pamong Desa adalah berasal dari
tanah lungguh, yakni :
188

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

a. Lurah

: 9.800 M2

b. Carik

: 8.400 M2

c. Kepala Bagian

: 6.200 M2

d. Dukuh

: 4. 800 M2

Penghasilan lain adalah dari TPP yang diterima triwulanan dengan


jumlah yang sama untuk semua desa :
a. Lurah

: Rp. 350.000,-

b. Carik

: Rp. 270.000,-

c. Kepala Bagian

: Rp. 320.000,-

d. Dukuh

: Rp. 225.000,-

Selain itu masih ada pendapatan yang berasal dari Pendapatan Asli Desa
yang diterima satu kali dalam satu tahun, misalnya untuk Lurah Rp.
1.800.000,- dan untuk Carik sebesar 1.500.000,Dari sekiar sumber penghasilan Lurah dan Pamong Desa, dapat
dikatakan bahwa pendapatan mereka masih minim. Sebagai contoh, total
penghasilan rata-rata per bulan untu Kepala Bagian adalah Rp. 400.000,sampai dengan 500.000,-. Namun konsekuensi dalam kedudukannya
sebagai Lurah dan Pamong mengharuskan mereka untuk mengeluarkan
pengasilan itu untuk kegiatan kemasyarakatan seperti gotong royong,
menyumbang hajatan, dan lain-lain yang rata-rata tidak kurang dari Rp.
200.000,- per nulan. Tentunya penghasilan makin menurun, yang artinya
penghasilan bersih pamong tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan
hidup bagi keluarganya.
Untuk menutupi kekurangan itu maka hampir semua Pamong
mempunyai pekerjaan sampingan baik sebagai pedagang, makelar, dan
usaha bisnis lainnya. Tentunya sistem kompensasi demikian tidak
mendukung kinerja pelayanan, karena mereka akan mengorbankan
banyak waktunya pada aktivitas mencari nafkah selain sebagai Pamong
Desa, meskipun secara diplomatis para Pamong menyatakan bahwa
pekerjaan sampingan itu mereka lakukan di luar jam kerja. Tetapi
kenyataan bahwa beberapa Pamong sering datang siang dan pulang lebih
189

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

awal karena kepentingan pekerjaan diluar, menjadi bukti bawah kinerja


mereka kurang efektif.
Rendahnya kompensasi tentu terkait dengan motivasi kerja yang
dimungkinkan rendah. Meskipun para Pamong menyatakan bahwa,
motivasi mereka menjadi Pamong atau Lurah adalah untuk meraih status
sosial tertentu, disamping terpaksa karena sulit mencari pekerjaan.
10.

Evaluasi kinerja Pamong


Evalusai kinerja Pamong secara umum dapat dikatakan kurang

efektif untuk meningkatkan kinerja. Di samping ukuran evaluasi kinerja


yang tidak ada, evalusi kinerja juga tidak dapat dilaksanakan dengan
konsisten dan tegas karena harus toleransi tinggi terkait dengan
rendahnya pendapatan. Tindak lanjut evaluasipun hannya terbatas sampai
teguran lesan, sehingga pemberian sanksi secara tegas terhadap Pamong
sulit dilakukan meskipun kinerjanya rendah.
11. Purnatugas
Purnatugas akan diterapkan kepada Pamong yang mencapai usia
60 tahun, dengan purnatugas hanya sebesar 1/5 luas tanah bengkok
selama masa jabatan. Menurut pendapat Ka. Bag. Pemerintahan,
besarnya purnatugas itu belum sesuai dengan jasa dan tenaga yang telah
mereka abdikan selama menjabat sebagai Lurah atau Pamong Desa.
12.Data Pamong
Secara umum data Pamong, terkait dengan komptensi pelaksanaan
tugas dan fungsi adalah sebagai berikut :
a.

Pendidikan rata-rata Lurah dan Kepala Bagian adalah SLTA

b.

Pendidikan rata-rata Dukuh adalah SD dan SLTP

c.

Masa kerja rata-rata adalah diatas 5 tahun, kecuali Lurah dan


Kepala Bagian pemerintahan yang masih relatif baru.

190

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Dari sisi tingkat pendidikan, untuk sementara dapat dikatakan


memadahi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu
ditunjang pengalaman Pamong yang rata-rata sudah sudah memadahi
karena masa kerja yang sudah cukup lama. Namun untuk masa
mendatang kondisi Pamong demikian tentu kurang mampu mengikuti
kebutuhan masyarakat yang makin lama makin tinggi.
13.Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat
Untuk

sementara

kemampuan

Lurah

dan

Pamong

dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat dikatakan cukup


memadahi, karena pengalaman kerja rata-rata yang sudah cukup lama.
Sebagaimana pendapat Widuri ( 18 Juli 2005 ) selaku tokok masyarakat
bahwa, kemampuan Pamong dalam memberikan pelayanan sudah cukup
baik dan sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Kecuali untuk
Lurah yang baru menjabat dan Ka. Bag Pembangunan yang juga baru,
masih dirasa kurang mampu memberi pelayanan dengan baik, kurang
inisiatif, dan lain-lain.
14.Kepuasan Masyarakat
Atas pelaksanaan pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Desa
bisa dikatakan cukup memuaskan. Keluhan dari warga memang ada tetapi
sedikit, terutama karena kedatangan Pamong yang kadang-kadang
terlambat. Tanggapan Samingan (18 Juli 200 ) selaku tokoh masyarakat
bahwa, pelayanan masyarakat sudah cukup baik dan mudah, selain itu
pelayanan tidak harus nunggu seorang pamong karena bisa dilayani oleh
Pamong lainnya.
15.Sarana kerja Pemerintah Desa
Sarana pokok untuk pelayanan sudah ada, seperti komputer 1 unit,
telephon 1 unit, mesin ketik 2 unit yang berfungsi. Untuk saat ini sarana
pelayanan yang ada dirasa kurang, karena kebutuhan pelayanan yang
191

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

makin meningkat, sehingga kadang masyarakat harus antri menunggu


pelayanan karena sarana kerja yang terbatas. Selain itu dari 1 unit
komputer, ternyata semua Pamong belum mampu mengoperasikan,
sehingga harus melibatkan keluarga Pamong untuk membuat surat-surat,
dan lain-lain yang menggunakan komputer.
16. Akuntabilitas kepada masyarakat
Akuntabilitas Pemerintah Desa kepada masyarakat, khususnya
bidang organisasi manajemen masih sangat terbatas karena penyampaian
laporan dan pertanggungjawabanya masih terbatas pada BPD, sementara
masyarakat tidak mengetahui. Riyadi (18 Juli 2005) selaku tokoh
masyarakat menyatakan bahwa, laporan pelaksanaan administrasi desa
kepada masyarakat tidak ada, kalaupun ada paling-paling hanya dalam
rapat koordinasi dengan Pamong dan tokoh masyarakat. Di situ tokoh
masyarakat dapat memberikan masukan-masukan kepada Pemerintah
Desa.
Senada dengan pendapat tersebut, Sulardi selaku tokoh masyarakat
menyatakan bahwa, kritikan dan saran paling hanya disampaikan oleh
tokoh masyarakat dalam rapat koordinasi. Sementara Lurah dikatakan
kurang inisiatif dan kurang kreatif dalam mengambil ide atau gagasan,
sehingga sering mendapat kritik dari masyarakat, tapi dimaklumi karena
Lurah masih baru.
4. DESA TRIHARJO
1. Perencanaan (administrasi dan pelayanan administrasi)
Perencanaan yang dibuat oleh Pemerintah Desa Tri harjo adalah
berupa program-progran kerja tahunan yang dirumuskan bersama dengan
BPD. Namun khusus perencanaan bidang administrasi tidak ada bentuk
eksplisit dalam bentuk rencana pengembangan atau peningkatan
pelayanan. Rencana-rencana itu ada dan dibicarakan oleh Pemerintah
Desa, namun hanya menjadi kesepakatan tidak tertulis diantara Pamong
192

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dan Lurah. Maka dari itu tujuan dan langkah-langkah yang akan
dilaksanakan tidak bisa di ukur dengan jelas.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur oraganisasi Pemerintah Desa mengacu pada
kententuan yang diatur dalam Perda Kab. Kulonprogo. Menurut Carik
Desa Triharjo (10 Agustus 2005) bahwa, pola dan struktur yang
ditetapkan oleh Kabupaten itu, Pamong Desa dapat melaksanakan dengan
baik, dan nampaknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di samping
itu Pamong Desa juga relatif mudah dalam memahami dan melaksanakan
struktur itu, karena pada prinsipnya tidak berbeda jauh dari struktur yang
dulu.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Sebagaimana ditentukan dalam struktur organisasi, disitu sudah
ditetapkan Tupoksi masing-masing Pamong dan Lurahnya. Secara umum
Pamong Desa Triharjo sudah memahami Tupoksi itu dan sudah mampu
melaksanakannya. Namun dalam prakteknya pelaksanaan Tuposk itu
tidak

sesaklek

yang

difariskan.

Sering

terjadi

seorang

pamong

mengerjakan tugas Pamong lainnya. Hal itu dilakukan agar masyarakat


tidak menunggu lama.
4. Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa
Hubungan dengan Pemerintah Kabupaten atau dengan kecamatan,
berjalan sebagaimana ketentuan dan lebih bersifat koordinatif ketimbang
instruksi. Pemerintah Kabupaten melalui dinas-dinas terkait cukup sering
mengundang Pamong Desa untuk mengikuti rapat-rapat dalam rangka
persiapan pelaksanaan tugas. Demikian pula pihak Kecamatan. Selain itu
pernah

pula pihak Kecamatan

datang untuk cek pelaksasanaan

pembangunan, dan pelakasnaan administrasi.

193

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

5. Koordinasi antar unit


Koordinasi dengan BPD lebih banyak dilakukan dalam forumforum resmi, biasaanya bersamaan dengan rapat-rapat pembahasan
Perarturan Desa maupun dalam pembahasan LPJ Lurah pada BPD yang
diadakan setahun sekali. Koordinasi insidental dengan BPD kadang juga
dilakukan antara Lurah atau Pamong dengan anggota BPD, karena tiap
hari ada piket anggota BPD.
Koordinasi internal Pemerintah Desa dilakukan dalam forum rapat
rutin maupun insidental. Rapat koordinasi Lurah dan Pamong diadakan
rutin sebulan sekali. Sedangkan koordinasi tidak rutin antara Lurah
dengan Pamong cukup sering pula dilakukan, terutama jika menghadapi
masalah khusus yang harus segera mendapat pemecahan.
6. Pengawasan
Pengawasan terhadap Pemerintahan Desa dilakukan baik oleh
BPD, oleh Pemerintah Kecamatan, maupun oleh Lurah sendiri. Menurut
Carik dan Ka. Bag. Pemerintahan Desa Triharjo (10 Agustus 2005) bahwa,
Pengawasan BPD berjalan cukup efektif, termasuk pengawasan triwulanan
yang merupakan monitoring terhadap proses pekerjaan. Selain dari BPD,
monitoring juga dilakukan untuk meningkatkksn kegiatan administrasi.
Secara

internal

pengawasan

Pemerintah

Desa,

pengawasan

dilakukan oleh Lurah, meskipun pengawasan lebih ditujukan untuk


memotivasi

agar

Pamong

berkerja

dengan

baik.

Namun

akibat

keterbatasan imbalan yang diperoleh Pamong, maka Pengawasan Lurah


tidak dapat dilakukan secara maksimal. Sehingga Lurah merasa sungkan
bila ingin tegas terhadap Pamong.
7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Untuk rekrutmen Lurah telah dilaksanakan dengan mekanisme
pemilihan langsung oleh masyarakat. Pada prinsipnya proses pemilihan
berjalan dengan demokratis, dengan sedikit kemungkinan adanya kasus
194

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

KKN. Adapun untuk rekrutment Pamong dilakukan dengan cara seleksi,


oleh team seleksi yang terdiri dari BPD, Pemerintah Desa, dan tokoh
masyarakat. Test melibuti : test tertulis, test lesan, keterampilan, dan
penyampaian visi dan misi.
Menurut Ka. Bag. Pemerintahan Triharjo bahwa, sebaiknya untuk
Pamong rekrutmen tetap dengan pengangkatan, karena akan mengurangi
kemungkinan terjadinya konflik dan pemborosan. Selain itu lebih mudah
dalam menentukan siapa calon Pamong yang lebih berkualitas.
8. Pengembangan SDM
Untuk keperluan pemgembangan organisasi Pemerintah Desa,
sebenarnya perlu dilakukan peningkatan kapasitas atau keterampilan
Pamong Desa, misalnya melalui pelatihan. Namun selama ini pelatihan
jarang sekali dilakukan, khususnya oleh Pemerintah Kabupaten. Tahun
2004 pernah dilakukan pelatihan tentang SIAK, namun untuk selanjutnya
hanya berupa ceramah-ceramah saja.
Penyegaran tugas juga tidak pernah dilakukan karena belum
pernah dilakukan promosi dan mutasi pejabat. Mekanisme dan aturan
yang mengatur tentang kemungkinan mutasi dan promosi memang belum
ada, sehingga sekali duduk pada jabatan tertentu, maka selama menjadi
Pamong akan duduk pada jabatan tersebut, kecuali jika yang bersangkutan
terpilih menjadi Lurah.
9. Sistem kompensasi
Kompensasi sebagai Lurah dan Pamong Desa, berasal dari
beberapa sumber, yaitu :
Lurah

: 3,6 Ha

Carik

: 3,0 Ha

Ka.Bag-Ka. Bag

: 2,4 Ha

Staff

: 0,9 Ha

Dukuh

: 1,8 Ha
195

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Bantuan Triwulanan dari Pemerintah Kabupaten :


Lurah

: Rp. 350.000,-

Carik

: Rp. 300.000,-

Ka. Bagian

: Rp. 270.000,-

Dukuh

: Rp. 225.000,-

Tunjangan dari PADes


Lurah

: Rp. 1.400.000,-

Carik

: Rp. 1.200.000,-

Ka. Bag

: Rp. 980.000,-

Dukuh

: Rp. 900.000,-

Staff

: Rp. 600.000,-

Dari keseluruhan sumber pendapatan seorang Ka. Bag misalnya,


rata-rata per bulan akan menerima penhasilan sebesar Rp. 900.000,-.
Pendapatan itu dari sisi nominal memang cukup lumayan, namun secara
riel tidak begitu menjanjikan karena sebagai Pamong harus mengeluarkan
uang itu untuk berbagai bentuk sumbangan. Menurut Ka. Bag.
Pemerintahan, rata-rata per bulan tidak kurang dari Rp. 400.000,- untuk
sumbangan manten, kematian, gotong-royong, dan lain-lain.
Keterbatasan penghasilan memaksa Pamong untuk mencari
penghasilan tambahan, antara lain :
Carik

: Usaha rias manten

Ka. Bag Pemerintahan

: Sopir dan pedagang

Ka. Bag Pembangunan

: Peternak

Ka. Bag Kemasyarakatan

: Peternak, dan lain-lain

Demikian pula Pamong yang lainnya, yang kebanyakan juga memiliki


usaha sampingan. Selain itu beberapa Pamong juga terbantu oleh
pengasilan dari istri yang menjadi PNS atau usaha lainnya. Sementara
kompensasi-kompensasi lain asuransi kecelakaan, tunjangan keluarga,
dan lain-lain tidak ada. Dengan demikian, perkerjaan sebagai Pamong
tidaklan membanggakan dari sisi penghasilan.

196

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

10.

Evaluasi kinerja Pamong


Evalusasi kinerja kepada Para Pamong terutama dilakukan oleh

Lurah, tetapi kurang efektif dilakukan oleh Lurah, karena harus toleran
terhadap besarnya pengasilan yang diperoleh Pamong. Sehingga sanksi
terhadap Pamong tidak pernah dilakukan secara tegas. Di samping itu ada
pengawasan baik dari BPD maupun dari Kecamatan, namun pengawasan
kedua lembaga itu lebih bersifat monitoring, sehingga hasilnya kurang
mampu membawa dampak perubahan, khususnya bagi prodi.
11. Purnatugas
Setelah habis masa jabatannya, maka mantan Pamong akan
menerima 1/5 dari bengkok yang diterimanya semasa masih menjabat.
Dengan besarnya purnatugas seperti itu, Carik Triharjo menyatakan
bahwa, nantinya pengasilan purnatugas itu tidak akan memberikan
jaminan kesejahteraan di masa tuanya.
12. Data Pamong
No

Nama

Jabatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Wadiyo
Suyatmi
Bambang Handoyo
Kayat Widi Asmoro
Endar Witomo
Sutasdiyah Winarso
Temo Raharjo
Sri Purwati
Dawali
Wito
Kurdi
Kastono
Alexsius Nuryanto
Wasiyan
Temu Sumadi
Sutari
Mardjono
Puji Utomo

Lurah
Carik
Ka.Bag. Pemerint.
Ka.Bag. Pembang.
Ka.Bag. Kemasy.
Ka.Bag. Pendapatan
Sek. BPD
Staf
Dukuh I
Dukuh II
Dukuh III
Dukuh IV
Dukuh V
Dukuh VI
Dukuh VII
Dukuh VIII
Dukuh IX
Dukuh X

Umur
(Th)
44
56
30
55
47
44
58
27
56
52
54
58
47
41
33
52
52
51

Pendikan
SLTA
SLTA
Sarjana
SLTP
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SD
SLTA
SD
SLTP
SLTA
SLTA
SLTP
SLTP
SD

Masa Kerja
(Th)
1
15
3

Sumber data : Pemdes Triharjo Tahun 2005

197

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

13. Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat


Dilihat dari sisi tingkat pendidikan dan rata-rata masa kerja
Pamong, seharusnya para Pamong sudah memiliki kemampuan yang
memadahi

dalam

memberikan

pelayanan

kepada

masyarakat.

Sebagaimana pendapat Sutari (25 Juli 2005) selaku Dukuh bahwa,


kemampuan Lurah dan Pamong dalam melayani masyarakat sudah cukup
baik. Ka. Bag. Pemerintahan jelas sarjana, dan Pak Lurah meskipun hanya
lulusan SLTA, tetapi dalam berkoordinasi dan memberikan pelayanan,
pak Lurah mampu.
Pelayanan rata-rata dimulai jam 09.0013.00, dan yang sering
agak banyak malayani adalah Ka. Bag Pemerintahan meliputi pelayanan
KTP, surat-surat ijin, legalisasi, dan lain-lain. Dengan jam pelayanan
demikian dan kemampuan pelayanan yang ada untuk sementara sudah
mencukupi, karena belum ada kebutuhan untuk peningkatan intensitas
pelayanan, khususnya bidang administrasi.
14. Kepuasan Masyarakat
Terkait dengan kemampuan Lurah dan Pamong dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat, Nur Thoha (25 Juli 2005) selaku Calon
Lurah takterpilih membuat pernyataan cukup kontroversial bahwa, kalau
mau membahas pelayanan administrasi di Desa Triharjo dari tahun ke
tahun kurang memuaskan. Bahkan masa kepemimpinan Lurah sekarang
lebih jelek dari Lurah yang kemarin, karena Lurah dan Pamong sekarang
belum dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik. Lurah dan
Pamong hanya lulusan SLTA dan tidak pernah ada penyegaran.
Meskipun penyataan tersebut ada unsur memojokkan, namun
Carik Triharjo sendiri menyatakan bahwa, kadang-kadang masyarakat
harus antri untuk minta pelayanan, dan kadang-kadang masyarakat
mengeluh mengenai prosedur pelayanan. Artinya ada pelayanan yang
berbelit-belit, sehingga wajar jiga ada warga yang mengeluh atas

198

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pelayanan Pamong Desa, meskipun Carik menyatakan jika keluhan warga


tidak ada.
15. Sarana kerja Pemerintah Desa
Sarana kerja pokok yang dapat dimanfaatkan untuk pelayanan
masyarakat, khususnya pelayanan administrasi adalah : 2 unit komputer,
2 unit mesin ketik, 1 unit telephon, dan 1 unit sepeda motor dinas. Dari
sarana komputer misalnya, sebenarnya sudah cukup untuk keperluan
pelayanan, akan tetapi ternyata hanya 1-2 orang saja yang bisa
mengoperasionalkan saja, sehingga sarana itu kurang efektif untuk
pelayanan masyarakat.
16. Akuntabilitas kepada masyarakat
Akuntabilitas pelayanan publik khususnya bidang administrasi bisa
dikatakan masih kurang, antara lain karena masih terbatasnya upaya
transparansi dalam hal prosedur pelayanan administrasi. Sebagaimana
dikatakan Sujono (25 Juli 2005) selaku tokoh masyarakat bahwa,
sosialisasi prosedur dan sarat ke penduduk jarang bahkan tidak pernah
dilakukan. Yang menyampaikan paling yang dukuh-dukuh, karena dukuh
yang memberi pelayanan di bawah dan memeberikan surat pengantar ke
Kelurahan.
5. DESA WATES
1.

Perencanaan

(Administrasi

Dan

Pelayanan

Administrasi)
Perencanaan organisasi manajemen belum dibuat dalam bentuk
Renstra Desa, bahkan Pamong tidak mengerti ketika ditanya mengenai
apa itu Renstra. Disamping itu ada kendala teknis untuk menyusun
renstra seperti kemampuan analisis potensi, dan belum pernah ada
pelatihan tentang itu. Dengan demikian perencanaa dalam kegiatan
administrasi juga belum mendasarkan diri pada Renstra.
199

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Menurut Ka. Bag. Pemerintahan (5 Agustus 2005) dikatakan


bahwa, perencanaan administrasi belum dibuat secara konkrit, meskipun
upaya peningkatan sudah ada dan menjadi komitmen bersama. Maka dari
itu ukuran keberhasilan bidang administrasi belum ada, yang tentunya
akan sulit menentukan langkah-langkah strategis dalam pengembangan
administrasi.

Namun

untuk

program-program

peningkatan

selalu

dibicarakan bersama dengan BPD, termasuk menerima masukanmasukan dari masyakat melalui Dukuh-Dukuh.
2.

Tata Hubunngan Antar Unit Kerja Maupun Dengan


Supra Desa
Tata hubungan antara Lurah dengan Pamong maupun antar
Pamong selama ini oleh Lurah (5 Agustus 2005) sudah berjalan dengan
baik. Alur perintah maupun pertanggungjawaban berjalan dengan lancar
dan lebih mengedepankan hubungan koordinatif. Pertanggungjawaban
secara formal oleh Pemerintah Desa dilakukan kepada BPD setidaknya
setahun sekali, namun secara formal pertanggungjawaban itu terfokus
pada LPJ anggaran. Sementara untuk perencanaan bidang administrasi
masih bersifat penyampaian informasi-informasi mengenai kemajuan
administrasi Pemerintahan Desa.
Adapun tata hubungan dengan supra desa, baik dengan Pemerintah
Kabupaten maupun Kecamatan juga berjalan dengan baik, namun lebih
bersifat koordinatif. Pengarahan-pengarahan dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten, baik

melalui dinas-dinas terkait maupun melalui Camat.

Dalam hal laporan pelaksanaan administrasi kepada Kabupaten dan


Kecamatan tidak ada mekanisme yang jelas, kecuali laporan-laporan
teknis seperti perkembangan kependudukan, pertanahan, dan lain-lain
yang disampaikan kepada dinas terkait. Adapun Perintah dari Pemerintah
Kabupaten sering disampaikan melalui surat maupun secara langsung
dalam acara-acara rapat koordinasi. Dikatakan Oleh Carik (5 Agustus
2005) bahwa, setelah berlaku UU No. 32 Tahun 2004, kewenangan Camat
200

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

terhadap Desa kan menjadi lebih jelas, dan sekarang sudah lebih efektif.
Camat menjadi lebih sering turun ke desa, misalnya menindak lanjuti,
misalnya bila ada laporan tentang sapi bantuan yang mati.
3.

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi


Tupoksi Lurah maupun para Pamong adalah sesuai dengan Perda
Kabupaten Kulon Progo, yang mana rincian Tupoksi menurut Carik (5
Agustus 2005) sudah dipahami oleh Para Pamong, sehingga masingmasing sudah menjalankan tugasnya sesuai dengan Tupoksi itu. Namun
demikian Tupoksi tidak dijalankan secara ketat oleh para Pamong,
sehingga diantara para Pamong bisa saling membantu tugas Pamong
lainnya, jika kebetulan sedang tidak melaksanakan tugas.
Dengan pelaksanaan Tupoksi demikian itu, pola dan struktur yang
sudah ditentukan untuk saat ini masih dirasa cukup untuk mengkaver
semua bentuk pelayanan kepada masyarakat. Namun ke depan karena
pelayanan akan makin tinggi, barangkali struktur dan Pamong seperti
sekarang akan kesulitas memenuhi seluruh Tupoksinya. Terlebih lagi
keberadaan staf yang jumlahnya terbatas, sehingga Tupoksi kurang cepat
dilaksanakan.

4.

Pembagian Kerja Antar Unit


Terkait dengan Tupoksi yang sudah ditentukan dalam Perda, maka
pembagian tugas antar Pamong di desa Wates menurut Carik (5 Agustus
2005) sudah sesuai dengan Tupoksi itu. Namun demikian dalam
pelaksanaan tugasnya, masing-masing Pamong tidak saklek dalam
melaksanakan tugasnya. Situasi dan kondisi Pamong maupun keperluan
teknis pelayanan, sangat membutuhkan adanya fleksibilitas dalam
pelaksanaan tugas. Hal itu juga mengingat bahwa kebutuhan pelayanan di
Desa wates ada kecenderungan kian lama kian meningkat. Namun untuk
tugas-tugas yang sangat prinsip tetap harus dilaksanakan oleh Pamong
yang bersangkutan.
201

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

5.

Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa


Untuk koordinasi dengan supra desa kurang lebih sama dengan
desa lainnya, sementara secara internal, koordinasi dengan para pamong
dilakukan dengan beberapa cara. Rapat koordinasi rutin dilakukan tiga
bulan sekali. Disamping itu sering pula dilakukan rapat-rapat koordinasi
insidental (tak terjadual) bila ada kepentingan mendesan, sebagaimana
dikatakan Carik (5 Agustus 2005) bahwa rapat insidental itu bahkan
sering dilakukan dua kali dalam seminggu, berupa briefing oleh Lurah
kepada para Pamong.
Sedangkan rapat dengan BPD selalu dilakukan saat perumusan
Perdes, laporan pertanggungjawaban Pemerintah Desa kepada BPD, akan
tetapi rapat koordinasi dengan BPD lebih bersifat formal, bersamaan
dengan sidang-sidang dengan BPD. Namun demikian rapat-rapat
koordinasi yang demikian itu sudah dirasakan cukup memadahi untuk
terlaksananya koordinasi antara Pemerintah Desa dengan BPD.

6.

Pengawasan
Dalam hal pengawasan baik yang dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten dan Kecamatan maupun oleh BPD bisa dikatakan kurang
efektif. Dari Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan, pengawasan
dilakukan hanya sekedar memberikan pengarahan-pengarahan saja,
sementara pengawasan BPD juga cenderung formalitas bersamaan LPJ
Lurah. Sedangkan dalam bidang administrasi Pemerintah desa, BPD
jarang memberikan masukan maupun koreksi. Namun untuk proses
pembuatan Perdes, selalu dirembug bersama-sama dengan BPD untuk
mendapat pertimbangan dan persetujuan.

7.

Rekrutmen dan Penempatan SDM


Rekrutmen Lurah dilakukan melalui mekanisme pemilihan secara
langsung oleh masyarakat. Sedangkan untuk Pamong dilakukan melalui
202

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

seleksi di tingkat desa, dengan kemungkinan kecil adanya indiaksi KKN,


karena tim seleksi terdiri dari Pamong, BPD, dan tokoh masyarakat.
Sehingga pelaksanaan rekrutmen Pamong cukup transparan. Adapun
materi test dibuat oleh team seleksi itu, dan dari calon-calon yang
memperoleh skor tertinggi akan diangkat sebagai Pamong, melalui
Keputusan Lurah.
Persoalannya, rekrutmen cukup sulit untuk menyeleksi calon
Pamong yang memiliki kompetensi yang benar-benar sesuai dengan
kebutuhan

formasi.

Jumlah

warga

yang

mendaftarkan

sebagai

Pamongpun terbatas jumlanya, sehingga sulit memilih calon Pamong yang


sesuai dengan kebutuhan.
Rekrutmen sama sekali belum didasarkan pada perencanaan SDM,
sehingga ada kesulitan dalam mengisi formasi-formasi yang ada, dengan
SDM yang memiliki kapasitas memadahi. Hasil seleksi yang memiliki skor
tertinggi kemudian diangkat menjadi Pamong Desa, dan ditempatkan
sesuai formasi yang ada, tanpa mempertimbangkan lagi kompetensi
seseorang, termasuk belum diadankannya masa orientasi maupun
pelatihan-pelatihan untuk jabatan yang bersangkutan.
8.

Pengembangan SDM
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ka Bag. Pemerintahan Desa
Wates diketahui bahwa, pengembangan SDM sangat terbatas dilakukan.
Pelatihan-pelatihan teknis sangat jarang dilakukan, kecuali pelatihan
SIAK, sementara ivent lain banyak dilaksanakan dengan cara sekedar
memberi

ceramah-ceramah dari Kabupaten maupun dari Kecamatan.

Pernah ada pembinaan administrasi tahun 2001, tetapi itupun tidak


mampu dilaksanakan dengan baik. Pengembangan melalui pendidikan
lanjut juga kecil kemungkinan, karena terkait dengan keterbatasan
anggaran Pemerintah Desa.
Pasca penempatan, ternyata tidak pernah dilakukan mutasi
maupun promosi, sehingga seorang Pamong akan menjabat pada jabatan
203

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang sama sejak diangkat sampai dengan purnatugas. Sepintas mereka


menyatakan bahwa meskipun tanpa promosi dan mutasi. Secara
diplomatis

Pamong

Desa

menyatakan

tidak

akan

bosan

dalam

melaksanakan tugas. Namun di sisi lain para Pamong juga menginkan


adanya kenaikan pendapatan, kenaikan perhatian dari Pemerintah, dan
lain-lain yang tidak mungkin. Dari keinginan itulah Pamong Desa Wates
menyambut baik kebijakan alih status menjadi Kelurahan, dengan
harapan mereka akan menjadi PNS untuk perbaikan tingkat kesejahteraan
Pamong.
9.

Sistem Kompensasi
Secara umum Ka. Bag Pemerintahan 5 Agustus 2005 mengatakan
bahwa, kompensasi pokok Pamong Desa diberikan dalam bentuk uang
yaitu bengkok. Dari luas bengkok yang diterima Pamong, rata-rata
pengahasilan Pamong setiap bulan adalah sebagai berikut :
a. Lurah
b. Carik

: Rp. 600.000,: Rp. 500.000,-

c. Kepala Bagian

: Rp. 400.000,-

d. Dukuh

: Rp. 300.000,-

e. Staf

: Rp. 200.000,-

Dari pendapatan pokok itu ditambah dengan TPP yang diterima


setiap tiga bulan sekali dengan perincian per bulan, sebagai berikut :
a. Lurah

: Rp. 125.000,-

b. Carik

: Rp. 100.000,-

c. Kepala Bagian

: Rp. 90.000,-

d. Dukuh

: Rp. 80.000,-

e. Staf

: Rp. 60.000,-

Perhitungan dari dua jenis sumber pendapatan Pamong itu,


berdasarkan hasil konfirmasi dengan Carik Desa Wates (5 Agustus 2005),
katakanlah Carik mempunyai pengahasilan rata-rata Rp. 600.000,- per
bulan itupun jika hasil panen bengkok tidak gagal. Sementara tambahan
204

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

kesejahteraan berupa asuransi, dana perumahan, dan lain-lain tidak ada.


Kemudian rata-rata pengeluaran

berupa sumbangan, dikatakan oleh

Carik bahwa ia mengeluarkan uang untuk berbagai sumbangan atau iuran


seperi gotong royong, hajatan warga, serkiler kematian, dan lain-lain lebih
dari Rp. 300.000,-. Pengeluaran Lurah pasti lebih besar dari Pamong
lainnya, karena posisi Lurah pasti paling sering menghadiri atau diundang
dalam berbagai bentuk hajatan warga.
Dengan

demikian

rata-rata

pengahasilan

Pamong

menjadi

berkurang cukup besar untuk urusan kemasyarakatan. Untuk menutupi


kebutuhan, maka terpaksa para pamong melakukan usaha lainnya, antara
lain: Lurah memiliki warung kelontong, wartel, dan didukung oleh istrinya
yang kebetulan jadi guru. Sementara untuk Ka. Bag. ada yang menjadi
pedagang pasar, makelaran sepeda motor, dan lain-lain. Usaha-usaha itu
harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sehingga
secara umum dapat dikatakan bahwa pengahasilan Pamong Desa belum
dapat diandalkan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
Meskipun demikian ketika ditanya mengenai motivasi menjadi
Pamong, dikatakan bahwa mereka ingin dan tetap menjadi Pamong
karena tidak ada pekerjaan lainnya. Selain itu motivasi mereka menjadi
Pamong setidaknya sebagai pengabidian kepada masyarakat, meskipun
pernyataan semacam itu bisa ditangkap sebagai kalimat keterpaksaan
mereka karena tidak ada alternatif lainnya.
10.

Evaluasi kinerja Pamong


Evaluasi kinerja secara khusus baik dalam hal aturan maupun

teknis operasional evaluasi belum ada. Pengawasan BPD kepada


Pemerintah

Desa

dilakukan

bersama

dengan

Laporan

Pertanggungjawaban Lurah, sementara untuk evaluasi kinerja Pamong


tidak secara sistematis dilakukan, sehingga dapat dikatakan tidak efektif.
Adapun pengawasan Lurah terhadap para Pamong hanya merupakan
205

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pengawasan yang lebih bersifat perndekatan personal berupa teguran


ringan, dan belum pernah ada tidak lanjut berupa pemberian sanksi.
11.

Purnatugas
Sesuai dengan ketentuan Perda yang berlaku di Kabupaten

Kulonprogo, maka pada usia 60 tahun Pamong akan purnatugas. Setelah


purnatugas mereka akan menerima 0,20 % dari luas tanah bengkoh, yang
akan diterima selama separuh masa jabatan Pamong Desa. Dikatakan oleh
Carik (5 Agustus 2005) bahwa, jika tidak mencari tambahan lainnya, maka
purnatugas yang luasnya seperti itu pasti tidak sesuai dengan kebutuhan
pokok hidup sehari-hari. Sehingga tidak mengherankan jika mereka
merasa

kurang

mendapat

penghargaan

layak

atas

kerja

dan

pengabdiannya selama mereka mengabdi sebagai Pamong Desa.


12.

Data Pamong (tidak ada di kelurahan)

13.

Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat


Menurut Carik ( 5 Agustus 2005 ) kebutuhan pelayanan masyarakat
oleh Pemerintah Desa makin lama makin besar, terkait dengan makin
banyaknya anggota masyarakat. Di samping itu Desa Wates merupakan
Desa di wilayah perkotaan, sehingga kebutuhan masyarakat makin
komplek. Untuk saat ini kebutuhan pelayanan masih cukup mampu
dilayani oleh struktur dan Pamong yang ada, setidanya mereka
mempunyai pengalaman yang cukup memadahi. Namun ke depan ada
kekhawatiran Pamong Desa kurang mampu mengikuti perkembangan
kebutuhan masyarakat. Tingkat pendidikan personal Pemerintah Desa
yang rata-rata SLTA, bahkan rata-rata Dukuh yang hanya perpendidikan
SLTP dan SD, serta besarnya kendala untu melakukan pengembangan
Pamong Desa, maka sangat dimungkinkan pelayanan ke depan makin
menurun.

206

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

14.

Kepuasan Masyarakat
Dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, khususnya bidang
administrasi, menurut Ka. Bag. Pmerintahan (5 Agustus 2005) bahwa
selama itu masyarakat cukup puas. Keluhan masyarakat memang ada tapi
jumlahnya

sangat

sedikit,

dan

isi

keluhannya

seputar

prosedur

administrasi. Keluhan prosedur itupun biasanya karena warga yang


datang ke Pemerintah desa belum melengkapi persyaratan-persyaratan
yang ditentukan.
Penyataan itu diperkuat dengan pennyataan Marijan (7 Agustus
2005) selaku tokoh masyarakat Desa Wates yang mengatakan bahwa,
pelayanan kepada masyarakat sudah ada peningkatan meskipun belum
banyak. Atas peningkatan itu iapun menyatakan sudah cukup puas atas
pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Desa.
15.

Sarana Kerja Pemerintah Desa


Sarana prasarana kerja untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat untuk sementara dikatakan cukup memadahi, namun ke
depan sarana-prasarana itu perlu ditambah atau dikembangkan untuk
mengikuti peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Ada kendala dalam
penggunaan sarana-prasarana pelayanan, khususnya bidang administrasi,
yakni tidak semua Pamong mampu memanfaatkan sarana kerja seperti
komputer.

16.

Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Hingga saat ini pelayanan kepada masyarakat, khususnya bidang
administrasi tidak ada mekanisme khusus untuk melaporkan atau
mengiformasikan kepada masyarakat. Kalaupun ada itu dilakukan oleh
Dukuh

kepada

warganya

masing-masing,

namun

baru

sebatas

menyampaikan hal-hal teknis seperti pemberitahuan tentang sarat-sarat


administrasi. Adapun pelaporan kepada masyarakat atas pelayanan, bisa
dikatakan sangat terbatas dan waktunya juga sukup terbatas.
207

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

6. DESA PANJATAN
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Organisasi

Pemerintahan

Desa

Panjatan

dalam

membuat

perencanaan masih berupa program-program kerja tahunan yang


dirumuskan dalam APBDes. Program kerja itu dalam pembuatannya
diajukan oleh Pemerintah Desa untuk dibahas bersama dengan dan
dimintakan persetujuan BPD. Jadi perencanaan organisasi secara makro
belum dibuat dalam sebuah Renstra. Demikian pula dalam rencana
pengembangan administrasi belum didasarkan pada renstra. Sama seperti
desa-desa yang lain, perencanaan bidang administrasi hanya sekedar
menjadi kesepakatan diantara Pemerintah Desa. Sehingga tujuan, dan
langkah-langkah yang hendak ditempuh belum terumuskan dengan baik,
termasuk target-target yang hendak dicapai.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi Pemerintah Desa Panjatan adalah
sebagaimana ditentukan dalam Perda Kabupaten Kulon Progo. Dengan
pola dan struktur seperti itu dirasa masih sangat mencukupi kebutuhan
untuk pelayanan publik di desa yang bersangkutan. Selain itu kemampuan
dan potensi internal Pemerintah Desa juga cukup mampu untuk
melakanakan struktur tersebut. Menurut Carik Desa Panjatan (20 Agustus
2005) bahwa, dengan struktur yang ada para Pamong sudah cukup
mempunyai pengalaman karena tidak jauh berbeda dengan pola dan
struktur yang dulu. Adapun untuk jabatan yang semula bernama Ka.Ur
Umum, setelah berlakunya UU No. 22 Tahun 1999 dikonversikan ke
Jabatan Sekretaris BPD.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Tupoksi Lurah dan masing-masing Pamong Desa sudah ditentukan
oleh Perda dan masing-masing Pamong sudah mengetahui dan
208

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

memahami tugas fungsi masing-masing. Bahkan Tupoksi itu terpampang


di dinding dekat meja tempat duduk masing-masing Pamong. Dengan
demikian setiap hari para Pamong akan melihat, yang kemudian
diharapkan akan lebih mudah dalam membaca, mempelajari, memahami
lalu menerapkan dalam pelayanan publik.
Meskipun terdapat Tupoksi baku yang telah ditetapkan dalam
Perda, namun praktek pelaksanaanya tidak harus saklek sebagaimana
yang tertulis. Menurut Carik, Tupoksi itu dijalankan fleksibel dan saling
membantu yang pennting bisa jalan. Jika Tupoksi itu dijalankan dengan
ketat, maka dikhhawatirkan justru akan terjadi pelayanan birokratis dan
berbelit, karena dimungkinkan salah seorang Pamong atau lebih tidak
ditempat, sehingga kondisi demokian tentu akan menghambat pemberian
pelayanan publik.
Terkait dengan Tupoksi yang ada, maka pembagian tugas secara
internal Pemerintah Desa juga mengacu pada Tupoksi tersebut. Namun
dalam pelaksanaan tugas sehari-hari pembagian tugas tidak berjalan
secara saklek melainkan saling membantu dan saling melengkapi antara
Pamong yang satu dengan lainnya. Sehingga bila ada salah satu Pamong
yang tidak masuk kerja, maka dengan sendirinya tugas pelayanan kepada
masyarakat digantikan oleh Pamong yang datang. Dengan cara itu
diharapkan
mengandung

tugas
resiko

pelayanan
adanya

tidak
salah

sampai
satu

tertunda,

aparat

yang

meskipun
cenderung

mengandalkan tugasnya pada Pamong lain.


4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan antara Pemerintah Desa dengan BPD bisa
dikatakan cukup serasi, sehingga program-program kerja tahunan dapat
dirumuskan bersama. Pada kenyataannya memang sebagian anggota BPD
aktif dan sebagian yang lain kurang atau tidak aktif, namun secara formal
hubungan antara pemerintah Desa dengan BPD relatif baik, tidah pernah
sampai konflik. Secara formal Hubungan partnership antara Pemerintah
209

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Desa dengan BPD berjalan dengan baik, baik dalam pembuatan Perdes
bersama dan pelaksanaaan pertanggungjawaban (LPJ) Lurah setiap
tahunnya. Sebagaimana dikatakan Lurah Panjatan (20 Agustus 2005)
bahwa, hubungan BPD dengan Pemerintah Desa relatif baik, BPD sudah
tahun tugas fungsinya, sehingga hubungan kemitraan berjalan dengan
baik.
Dalam kaitannya dengan Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah
Kecamatan, hubungan koordinatif telah bejalan, yang mana Pemerintah
Kabupaten melalui dinas-dinas terkait cukup sering mengadakan forum
bersama

dengan

Pemerintah

Desa

untuk

keperluan

pengarahan,

penjelasan, dan lain-lain tentang pelaksanaan tugas yang hendak


dilakukan

oleh Pemerintah

Desa. Sementara dengan Pemerintah

Kecamatan hubungan koordinatif berjalan dengan lancar, yang mana


komunikasi

cukup

intensif

melalui

forum-forum

seperti

UDKP,

pembinaan administrasi, sosialisasi undang-undang dan lain-lain, terlebih


setelah berlakunya UU No. 32 Tahun 2004.
Adapun hubungan dan tata kerja antara Lurah dan para
Pamongnya secara umum mengikuti ketentuan yang telah diatur dalam
Perda Kabupaten Kulon Progo. Alur perintah (peminaan, pengarahan, dan
lain-lain) berjalan dengan baik meskipun pada pelaksanaanya lebih
ditekankan pada pendekatan personal untuk membangun kerja sama
diantara Pamong. Demikian pula pertanggungjawaban Pamong terhadap
lurah juga tidak terkesan sebagai hubungan bawahan dengan atasan,
melainkan seperti hubungan kolega kerja.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Koordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten atau Kecamatan
antara lain terwujud dalam pertemuan atau forum-forum antara
Pemerintah Desa dengan Dinas-dinas atau dengan Kecamatan. Disamping
koordinasi pembangunan, koordinasi juga sering dilakukan melalui forum

210

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Carik atau Lurah yang dihadiri Kecamatan, koordinasi penarikan PBB,


dan lain-lain yang bisa dikatakan cukup sering.
Adapun koordinasi secara internal dilakukan oleh Lurah dengan
para Pamongnya baik melalui forum resmi maupun tidak resmi. Rapat
koordinasi resmi dilakukan secara rutin seminggu sekali pada setiap hari
Saptu dan selain itu kadang-kadang dilakukan rapat-rapat informal dan
mendadak untuk menyelesaikan pekerjaan atau persoalan yang perlu
segera diselesaikan.
6. Pengawasan
Pengawasan terhadap Pemerintah Desa terutama dilakukan oleh
BPD terhadap penyelenggaraan

Pemerintahan

Desa. Sebagaimana

ketentuan yang berlaku, Lurah wajib menyampaikan pertanggungjawaban


kepada BPD minimal setahun sekali. Namun khusus untuk pelaksanaan
administrasi pemerintahan desa, BPD sebatas memberi masukan atau
mengingatkan jika dirasa ada yang kurang baik. Selain dari BPD,
pengawasan secara eksternal juga dilakukan antara lain oleh Bawasda,
yang kadang memeriksa pelaksanaan APBDes.
Pengawasan internal oleh Lurah kepada para Pamong Desa
dilakukan dengan cara pendekatan personal untuk membangkitkan kerja
sama diantara para Pamong Desa. Dengan pendekatan personal itu
pengawasan tidak hanya sekedar mengurangi kemungkinan indisipliner,
tetapi juga meningkatkan kinerja Pamong. Namun pengawasan oleh
Lurah

terhadap

para

Pamong termasuk pengawasan

oleh BPD,

nampaknya kurang efektif.


7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Rekrutmen Lurah dilaksananakan melalui mekanisme pemilihan
langsung oleh masyarakat. Menurut Carik Panjatan (20 Agustus 2005)
bahwa, khusus untuk pejabat Lurah saat ini pemilihan berjalan secara
demokratis diantara 4 orang calon Lurah dan pemilihan diikuti kurang211

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

lebih 90 % penduduk yang memeiliki hak pilih. Pak Sukarman, S.Pd yang
terpilih yang kebetulan beliau adalah purnatugasan guru dan juga pernah
menjabat anggota DPRD, jadi ya cukup berpengalaman. Dalam pemilihan
itu yang kalah memang sempat protes, tapi ya Cuma sebentar saja,
sementara konflik atau indikasi KKN relatif tidak ada. Tapi kalau
permainan botoh yang tidak tahu, karena mereka bermain di balik layar.
Selanjutnya untuk rekrutmen Pamong, yang sudah menjabat lama
rekrut melalui seleksi yang dilaksanakan di Kabupaten. Sedangkan yang
masih baru, yakni Ka. Bag. Pendapatan dan Dukuh I seleksi dilakukan di
desa oleh team seleksi yang dibentuk di desa. Seleksi dilakukan dengan
cara test tertulis dan wawancara. Kemungkinan KKN sangat sulit karena
seleksi dilaksanakan oleh team dan diawasi oleh tokoh-tokoh masyarakat
dan BPD.
Hasil seleksi Pamong yakni yang memiliki skor tertinggi otomatis
diangkat dengan Keputusan Lurah untuk mengisi formasi yang ada.
Dengan demikian rekrutmen SDM tidak didasarkan pada perencanaan
SDM, kecuali sekedar mengisi lowongan jabatan yang ada. Penentuan
kualifikasi juga lebih mengacu pada Perda, sehingga belum menjamin
kompetensi calon untuk jabatan tertentu yang akan diisi formasinya.
8. Pengembangan SDM
Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan SDM untuk
Pemerintah

Desa

Panjatan

relatif

rendah.

Untuk

meningkatkan

keterampilan Pamong misalnya, beberapa tahun terakhir jarang sekali ada


pelatihan-pelatihan, paling-paling Siak tahun 2004, setelah itu tidak ada
lagi. Kalaupun ada koordinasi dengan Dinas maupun Kecamatan,
kebanyakan berupa ceramah-ceramah singkat yang tentunya tidak
berpengaruh langsung pada peningkatan keterampilan kerja.
Selain rendahnya pelaksanaan peningkatan kualitas SDM, kegiatan
promosi dan mutasi juga tidak mungkin dilakukan, karena mekanisme
dan aturannya tidak ada. Jadi sekali seseorang menjabat dalam jabatan
212

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tertentu sebagai Pamong Desa, maka sampai purnatugas akan ada pada
jabatan itu. Setidaknya secara teoritik kondisi kerja demikian akan
mengarah pada penurunan kinerja seorang, meskipun secara diplomatis
para Pamong menyatakan tidak pernah bosan.
9. Sistem Kompensasi
Imbalan yang diterima oleh Lurah dan para Pamong Desa terdiri
dari beberapa sumber, yakni bengkok, bantuan Kabupaten, dan tunjangan
kesehatan dari APBDes. Adapun perinciannya sebagai berikut :
a. Bengkok :
Lurah

: 7.250 M2

Carik

: 5.800 M2

Ka. Bagian

: 4.405 M2

Dukuh

: 3.000 M2

b. TPP Triwulanan :
Lurah

: Rp. 350.000,-

Carik

: Rp. 300.000,-

Ka. Bagian

: Rp. 270.000,-

Dukuh

: Rp. 225.000,-

c. Bantuan kesehatan dari APBDes Rp. 100.000,- rata, namun setiap


tahun belum tentu sama jumlahnya.
Dari keseluruhan sumber pendapatan, untuk jabatan Carik
misalnya, dalam satu bulan rata-rata memperoleh Rp. 500.000,-,
tentunya untuk Ka. Bag dan Dukuh pendapatnnya di bawah itu. Dari
penghasilan itu ternyata harus dikeluarkan untuk berbagai bentuk
sumbangan yang rata-rata per bulan bisa mencapai Rp. 200.000,- lebih.
Besarnya

pendapatan

seperti

itu jelas

kurang

sesuai jika

dibandingkan dengan kebutuhan hidup, sekalipun untuk sekedar


memenuhi kebutuhan dasar bagi Pamong dan keluarganya. Meskipun
demikian ketika di tanya mengenai motivasi mereka menjadi Pamong,
ternyata mereka menyatakan tetap senang menjadi Pamong. Meskipun
213

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pengahasilan kecil tetapi motivasi mereka untuk pengabdian masyarakat,


meskipun kadang-kadang mereka juga mengeluh karena penghasilan yang
kecil.
Dengan penghasilan yang kecil itu tentunya kurang mampu untuk
memotivasi agar Pamong bekerja lebih baik dan berprestasi. Untuk
menambah penghasilan, Lurah dan Para Pamong berusaha mencari
penghasilan tambahan, antara lain :
Lurah

: Wiraswasta dan istrinya sebagai PNS

Carik

: Memiliki wartel dan istrinya PNS

Ka. Bag. Pemerintahan

: Warung kelontong

Ka. Bag. Pembangunan

: Warung makanan

Dan lain-lain yang juga memiliki usaha-usaha lain untuk mencari


tambahan diluar penghasilan sebagai Pamong Desa. Meskipun Pamong
menyatakan bila kegiatan sampingan itu dilakukan di luar jam kerja, tapi
kegiatan sampingan itu tentu

mengurangi konsentrasi kerja dan

pelayanan masyarakat.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Tupoksi yang telah ditentukan ternyata tidak disertai dengan ukuran
penilaian evaluasi kinerja untuk Pamong Desa. Secara teknis Lurah
mengalami kesulitan dalam menentukan prestasi kinerja Pamong,
sehingga pengawasan terhadap Pamong menjadi tidak efektif. Menurut
Lurah (20 Agustus 2005) menyatakan bahwa, pengawasan dilakukan
dengan menekankan pendekatan personal untuk mendorong kinerja dan
kerja sama para Pamong.
Evaluasi kinerja menjadi kurang efektif, antara lain terbukti dari
kinerja para Pamong yang kurang disiplin. Pada saat penelitian antara lain
ditemukan : Pamong yang hadir hanya 2 orang, kurang ramah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan data-data Pamong yang
kurang lengkap. Selain itu didapatkan informasi bahwa ada satu orang
Pamong yang sering tidak disiplin, antara lain sering tidak datang, sering
214

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

terlambat, dan sering pulang awal. Terhadap Pamong tersebut Lurah


menyatakan bahwa teguran sudah dilakukan bahkan pernah dimarahi,
tetapi perilaku Pamong tersebut tidak berubah. Tiadanya ketentuan
tentang disiplin kerja dan pertimbangan rendahnya pendapatan Pamong
membuat Lurah tidak mungkin memberikan sanksi bagi Pamong yang
kinerjanya buruk.
11. Purnatugas
Penghasilan Pamong dari bengkok saat aktif sudah dirasakan minim,
dan setelah purnatugas nantinya Pamong hanya akan menerima 1/5 dari
tanah benkok

yang akan diterima selama dari masa jabatannya.

Dengan penghasilan purnatugas seperti itu, Carik menyatakan bahwa


purnatugas itu tidak sebanding dengan pengabdian yang telah diberikan
semasa masih aktif bekerja.
12.Data Pamong
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama
Sukarman, S.Pd
Suparyono
Purwadi
Sukijo
Ridwan
Nurwijayadi
Maruto Hadi
R. Suhartono
Sabari
Suwarti
Parman
Djemakir

Jabatan
Lurah
Carik
Ka.Bag. Pemerint.
Ka.Bag. Pembang.
Ka.Bag. Kemasy.
Ka.Bag. Pendapatan
Sek. BPD
Dukuh I
Dukuh II
Dukuh III
Dukuh IV
Dukuh V

Umur
(Th)
54
49
46
40
49
38
42
37
51
49
59
34

Pendikan
Sarjana
SLTA
SLTP
SLTA
SD
SLTA
SLTA
SLTP
SLTP
SLTP
SD
SD

Masa Kerja
(Th)
2
10
18
7
18
2
4
1
11
14
6
6

Sumber data : Pemdes Panjatan Tahun 2005


13.Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat
Dari sisi kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat,
khususnya pelayanan administrasi secara umum dapat dikatakan bahwa
Pemerintah Desa Panjatan memiliki kemampuan yang cukup memadahi.
215

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Setidaknya dari sisi pengalaman dan masa kerja, sebagian besar Pamong
sudah mencukupi, terlebih lagi didukung adanya kerja sama di antara para
Pamong. Diperkuat pernyataan seorang tokoh masyarakat desa Panjatan
bahwa, para Pamong sudah berpengalaman dan mampu bekerja meskipun
pendidikannya hanya SLTA dan SLTP. Akan tetapi karena sudah cukup
lama berkecimpung di Pemerintah Desa, maka sudah berpengalaman.
Menurut

Carik,

kebutuhan

pelayanan

khususnya

bidang

administrasi sampai saat ini belum ada perkembangan berarti. Rata-rata


warga yang datang untuk meminta pelayanan ke Kantor Kelurahan hanya
5-10 orang, sehingga jumlah dan kapasitas Pamong yang ada masih sangat
mencukupi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
14.Kepuasan Masyarakat
Dengan keterbatasan beberapa hal, lurah dan Pamong tetap
memberikan pelayanan kepada masyarakat, meskipun kadang-kadang
sikap kurang ramah, keterlambatan datang, tidak bekerja, dan lain-lain.
Namun secara umum pelayanan Pemerintah Desa sudah bisa dirasakan
oleh masyarakat, setidaknya keluhan atau protes terbuka dari warga tidak
pernah muncul. Bahkan salah satu Tokoh masyarakat mengatakan bahwa,
masyarakat harus berterima kasih karena yang jadi Pamong sekarang
sudah berpengalaman dan mampu bekerja. Pelayanan diberikan sudah
cukup cepat dan efisien, bahkan bisa titip pada Dukuh dan indikasi KKN
tidak ada.
Khusus untuk Lurah sangat mudah dimintakan pelayanan
administrasi, bahkan kalau perlu dijalanpun Pak Lurah mau tanda tangan
asal syaratnya sudah lengkap. Jadi tidak harus datang ke Kantor
Kelurahan.
15.Sarana Kerja Pemerintah Desa
Sarana kerja pokok yang dimiliki oleh Pemerintah Desa Panjatan
antara lain, komputer 1 unit, mesin ketik 2 unit, telephon 1 unit, dan
216

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sepeda motor dinas 1 unit. Untuk keperluan pelayanan administrasi


kepada masyarakat, sarana kerja yang tersedia masih cukup memadahi,
karena masyarakat yang minta pelayananpun tidak banyak. Hal yang
menjadi catatan, ternyata sarana kerja seperti komputer tidak semua
pamong mampu menggunakannya. Sehingga sarana kerja yang ada
kurang efektif digunakan untuk pelayanan masyarakat.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Akuntabilitas Pemerintah Desa kepada masyarakat selama ini
masih terbatas pada BPD sebagai wakil masyarakat, sehingga secara
langsung pada masyarakat masih terbatas. Menurut salah satu tokoh
masyarakat Desa Panjatan bahwa, koordinasi pelayanan administrasi
biasanya dilakukan oleh Lurah dan Pamong melalui Dukuh-dukuh.
Biasanya kalau ada aturan atau prosedur baru disampaikan dan
disosialisaikan kepada warga baik melalui forum di pedukuhan maupun
ketika warga datang ke Kantor Kelurahan.
Kritik dan evaluasi kinerja dari masyarakat kepada Lurah dan
Pamong Desa masih sangat terbatas. Evaluasi masih banyak dilakukan
oleh BPD, sementara dari warga kalaupun ada kritik biasanya
disampaikan diluar forum secara personal. Karena ada rasa pekewuh bila
disampaikan secara langsung dalam forum.
7. DESA BROSOT
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Perencanaan yang dibuat oleh Pemerintah Desa Brosot terwujud
dalam program-program kerja tahunan yang dirumuskan dalam ABPDes.
Jadi perencanaan belum dirumuskan dalam bentuk Renstra Desa yang
menjadi induk rencana seluruh kegiatan Pemerintahan Desa. Pernyataan
Carik Brosot (20 Agustus 2005) bahwa, khusus dalam perncanaan
administrasi pemerintahan desa juga belum dibuat dalam bentuk tertulis,

217

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sehingga rencana pengembangan administrasi dan peningkatan pelayanan


administrasi masih sebatas kesepakatan internal Pamong Desa.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi Desa Brosot mengacu sepenuhnya
pada Perda Kabupaten Kulon Progo tentang susunan organisasi
Pemerintahan Desa. Dengan struktur yang ada sekarang dirasakan oleh
para Pamong, masih mencukupi untuk keperluan pelayanan masyarakat.
Selain itu potensi internal Pemerintah Desa juga sesuai dengan kebutuhan
untuk melaksanakan struktur organisasi dan jabatan-jabatan yang ada.
Menurut Carik (20 Agustus 2005), memang ada salah satu Pamong yang
belum begitu cekatan dalam melaksanakan Tupoksi, yakni Ka. Bag.
Pemerintahan, tetapi karena dibantu oleh Pamong lainnya, sehingga tidak
sampai menghambat pelaksanaan asministrasi Pemerintahan Desa secara
umum.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Dalam struktur yang ada, masing-masing Pamong dinyatakan
sudah memahami Tupoksi yang menjadi tugas dan tanggung-jawabnya,
sekalipun Kepala Bagian yang terbaru. Namun dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari Tupoksi itu tidak dapat dilaksanakan secara ketat oleh masingmasing Pamong. Namun ada beberapa tugas yang harus tetap dilakukan
oleh Pamong tertentu.
Pelaksanaan Tupoksi masing-masing Pamong terkait dengan
pembangian tugas dan kewajiban Pamong. Artinya tugas-tugas yang
menjadi tanggungjawab para Pamong adalah sesuai dengan Tupoksi yang
ada. Dalam pembagian tugas itu memang sesuai Tupoksi, namun masingmasing Pamong secara fleksibel dan saling membantu tugas-tugas
Pamong lainnya. Sehingga apabila seorang Pamong tidak hadir, maka
tugas pelayanan dapat dilaksanakan oleh Pamong lainnya. Namun

218

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tanggungjawab utama tetap ada pada Lurah dan Pamong yang


bersangkutan. Dengan demikian tugas-tugas pelayanan tida terbengkelai.
Persoalan yang munsul adalah pembagian tugas yang mengacu
pada Tupoksi itu ada salah satu Pamong yang tugasnya terlalu banyak,
yakni Ka. Bag. Pemerintahan yang antara lain meliputi KTP, KK, surat
jalan, urusan tanah, dan lain-lain. Sementara Ka. Bag. Pembangunan
tugasnya paling sedikit dan paling sepi melayani masyarakat. Hanya
bulan-bulan

tertentu

saja

Ka.

Bag.

Pembangunan

agak

sibuk

melaksanakan tugas, termasuk tugas pelayanan kepada masyarakat.


4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa, secara
umum dapat dikatakan dengan baik. Hubungan Pemerintan Desa dengan
BPD berjalan dengan baik, jadi meskipun kadang-kadang ada kritik dari
BPD, namun tidak pernah sampai menimbulkan konflik dan tidak ada
indikasi mencari kemenangan (menang-menangan). Demikian pula dalam
hal pemberian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), selama ini selalu
diterima oleh BPD, meskipun kadang-kadang ada catatan tertentu dari
BPD.
Hubungan dengan Pemerintah Kabupaten dan kecamatan berjalan
baik dan koordinatif. Hal itu terkait dengan pelaksanaan otonomi desa,
sehingga desa memiliki kewenangan yang lebih besar untuk melaksanakan
berbagai urusan yang telah menjadi wewenang desa. Pertanggungjawaban
dilakukan kepada BPD, sementara dengan Kabupaten dan Kecamatan
adalah

menyampaikan

Laporan

pertanggungjawaban

yang

telah

dilaksanakan di hadapan BPD. UU No. 32 tahun 2004 belum efektif


dilaksanakan, sehingga LPJ belum pada Bupati melalui camat. Namun
demikian dengan UU No. 32 tahun 2004, fungsi dan kewenangan Camat
menjadi lebih besar terhadap desa. Meskipun demikian kewenangan
Camat masih tetap terfokus pada koordinasi dan pengawasan terutama
dalam pelaksanaan pembangunan.
219

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Tata kerja internal Pemerintah Desa, yakni antara Lurah dengan


para Pamong maupun antar Pamong, berjalan cukup baik dengan
mengacu ketentuan tata-kerja yang telah ditetapkan dalam Perda.
Perintah dari Lurah mengalir ke Kepala-kepala Bagian dan juga kepada
Dukuh. Selanjutnya pertanggungjawaban masing-masing Pamong juga
berjalan sudah baik kepada Lurah. Meskipun demikian alur perintah dan
tanggungjawab lebih bersifat fleksibel dengan menjaga hubungan
personal.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk melancarkan pelaksanaan tugas dan tata-kerja antara Lurah
dengan Pamong maupun antara Pemerintah Desa dengan supra desa juga
berjalan dengan lancar. Secara rutin ada waktu untuk koordinasi dengan
Kabupaten melalui dinas-dinas terkait, termasuk dengan Pemerintah
Kecamatan. Disamping itu koordinasi juga berjalan melalui mekanisme
informal dan terjadi sewaktu-waktu jika ada keperluan yang harus
diselesaikan atau ketika ada program-progran tertentu yang datang dari
Pemerintah yang harus segera dilaksanakan oleh Pemerintah Desa.
Koordinasi dengan BPD berjalan dengan baik, namun lebih fokus
pada proses pembuatan peraturan desa. Adapun koordinasi dengan
Pamong Desa dilaksanakan baik secara formal maupun informal.
Koordinasi secara formal dilaksanakan rutin satu bulan sekali, namun
intuk insidentan kadang-kadang dilaksanakan tiga kaali dalam satu bulan,
menyesuaikan dengan kebutuhan.
6. Pengawasan
Pengawasan datang baik dari Pemerintah Kabupaten maupun dari
BPD,

dalam

pelaksanaan

pemerintahan

Pemerintah Kabupaten dilakukan

desa.

Pengawasan

oleh

oleh dinas-dinas atau badan terkait

dengan pelaksanaan administrasi dan keuangan. Namun pelaksanaan oleh


Pemerintah Rekrutmen dan Penempatan SDM. Sementara pengawasan
220

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

BPD lebih terfokus pada pelaksanaan anggaran dan tidak eksplisit dalam
hal administrasi.
Selanjutnya pengawasan internal para Pamong Desa oleh Lurah
dikatakan sudah cukup efektif, meskipun pengawasan lebih menekankan
pendekatan personal untuk meningkatkan kesadaran dalam pelaksanaan
tugas masing-masing Pamong. Namun tidak lanjut terhadap kesalahan
atau penyimpangan bisa dikatakan kurang efektif, disamping tidak ada
mekanismes yang jelas dalam pelaksanaannya.
7. Rekrutmen dan Penempatan SDM
Rekrutmen

Lurah

dilakukan

melalui

mekanisme

pemilihan

langsung oleh warga, yang secara umum dapat dikatakan berjalan


demokratis. Sebagai contoh untuk pemilihan Lurah sekarang untuk
jabatan kedua ini mendapat suara 60 % sehingga lebih banyak dari
pemilihan pertama. Menurut Carik Brosot, hal itu terjadi karena pola
kepemimpinan Lurah disenangi oleh masyarakat, bahkan dari masyarakat
sendiri yang melakukan penggalangan massa untuk kemenangan Lurah
sekarang ini.
Untuk rekrutmen Pamong, yang terbaru adalah Sekretaris BPD
yang dilakukan dengan mekanisme seleksi terhadap 7 calon. Seleksi
dilakukan melalui test tertulis dan uji kelayakan yang dimintakan
pendapat dari masyarakat. Namun setelah diumumkan tidak ada
komentar dan masukan dari warga, maka calon yang memperoleh nilai
terbaik otomatis diangkat menjadi Pamong. Sementara untuk Pamong
lama, pelaksanaan seleksi dilakukan di Kabupaten.
Dari pelaksanaan seleksi itu menurut H. Setiyartoyo (15 Juli 2005)
selaku tokoh agama dinyatakan bahwa, indikasi KKN tidak ada, karena
soal dibuat oleh Panitia khusus seleksi dan pada saat itu team diasingkan
di Kaliurang untuk menghindarkan dari kemungkinan intimidasi atau
KKN dari para calon.

221

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Selanjutnya untuk menempatan SDM masing-masing Pamong


dapat dikatakan sudah sesuai kompetensinya. Setidaknya karena mereka
sudah memiliki masa jabatan yang sudah cukup lama, sehingga pada
jabatan yang ada sekarang masing-masing Pamong sudah mampu
malaksanakan jabayannya dengan baik. Memang ada salah satu Pamong
yang hingga kini belum begitu kompeten dibidangnya, namun sebenarnya
bukan karena tidak tepat pada jabatan itu melaikan karena yang
bersangkutan kurang disiplin saja.
8. Pengembangan SDM
Untuk keperluan pengembangan SDM bagi Para Pamong Desa
Brosot selama ini bisa dikatakan kurang efektif. Misalnya pelatihan dari
Kabupaten selama ini hanya diperintukkan bagi Bagian Keuangan dan
Pemerintahan, dan itupun tidak menghasilkan peningkatan pelaksanaan
tugas secara signifikan. Sementara untuk bagian-bagian lainnya sekedar
ceramah-ceramah yang tidak dapat dipraktekkan langsung dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari. Untungnya Lurah Brosot termasuk Lurah
yang mumpuni dan wawasannya luas, bahkan sering mengikuti seminarseminar. Sehingga dengan wawasannya itu Lurah sering manularkan
wawasannya dan pengalamannya kepada para Pamong.
Masih dalam konteks pengembangan SDM, ternyata promosi dan
mutasi tidak mungkin dilaksanakan, sehingga sekali seorang Pamong
duduk di suatu jabatan maka sampai purnatugas ia ada pada jabatan itu.
Hal itu tentu berpengaruh pada peningkatan kinerja para Pamong dari
waktu-kewaktu, karena kedudukan dan jabatan yang dipegang terlalu
lama pada umumnya menyebabkan menurunya kinerja. Terbukti dari
pernyataan salah satu Pamong bahwa, kadang para Pamong merasa
bosan, jenuh dan jengkel, karena dari hari-kehari itu-itu saja tanpa ada
perubahan dan peningkatan, namun mau bagaimana lagi wong tidak ada
peluang lainnya.

222

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

9. Sistem Kompensasi
Penghasilan pokok yang diterima oleh Lurah dan Pamong Desa
adalah dari bengkok. Selain itu ada tambahan dari Kabupaten
(triwulanan), bantuan kesehatan dan tunjangan penghasilan dari APBDes.
a.

Bengkok.
Lurah

: 11.340 M2

Carik

: 9.450 M2

Kepala-Kepala Bagian : 7.560 M2

b.

Dukuh-Dukuh

: 5.670 M2

Staf

: 3.780 M2

Triwulanan dengan jumlah yang sama dengan desa-desa lain di


Kabupaten Kulon Progo.

c.

Bantuan Kesehatan sebesar Rp. 2.250.000,- per tahun untuk


seluruh Pamong baik sakit maupun tidak sakit, sehingga tiap Pamong
menerima Rp. 125.000,-

d.

Tunjangan penghasilan per tahun


Lurah

: Rp. 750.000,-

Carik

: Rp. 625.000,-

Kabag-kabag

: Rp. 500.000,-

Dukuh-dukuh

: Rp. 375.000,-

Staf

: Rp. 250.000,-

Dari keseluruhan sumber penghasilan itu, misalnya untuk Carik


akan mendapat pengahasilan rata-rata per bulan Rp. 750.000,-. Dari
penghasilan itu masih harus dikeluarkan untuk berbagai bentuk
sumbangan dan iuran yang kurang lebih Rp. 300.000,- per bulan.
Sehingga pengahasilan rata-rata per bulan tinggal Rp. 450.000,-. Untuk
Kabag dan staf dengan sendirinya tentu lebih kecil dari penghasilan Carik.
Dari pengasilan sebesar itu bisa dipastikan tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan hidup Pamong dan keluarganya. Untuk itu hampir
semua Pamong memiliki usaha sampingan, antara lain :

223

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Lurah memiliki tanah pertanian pribadi yang cukup luas. Carik yang
terbantu karena istrinya menjadi PNS. Kabag-kabag ada yang berdagang
kelontong, ada yang suaminya sebagai TNI, dan lain lain. Dukuh-dukuh
ada yang jadi sopir, makelar tanah, usaha warung, dan lain-lain.
Kondisi demikian dan upaya untuk mencari sumber penghasilan
lainnya tentu akan mengurangi konsentrasi dan intensitas Pamong pada
pelayanan masyarakat. Meskipun para Pamong menyatakan bahwa usaha
sampingan iu dilaksanakan setelah jam kerja. Namun kenyataan terjadi
bahwa beberapa Pamong cukup sering datang terlabat maupun pulang
lebih awal, ada kemungkinan karena Pamong yang bersangkutan
melaksanakan usaha sampingan itu.
Dengan

penghasilan

demikian

mereka

menyatakan

tetap

termotivasi untuk bekerja dengan baik meskipun terpaksa. Ketika awal


menjadi Pamong, motivasinya adalah karena sulit mencari pekerjaan,
selanjutnya ya tetap sama, hitung-hitung dari pada menganggur karena
cari pekerjaan lain juga tidak menjanjikan.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Kinerja Pamong secara umum dikatakan oleh Carik, sudah cukup
disiplin. Misalnya dalam satu hari rata-rata para Pamong datang jam 9
pagi sampai dengan jam 13.30.

Setelah sampai dirumahpun kadang-

kadang juga harus melayani masyarakat baik untuk urusan suratmenyurat, ngantar orang sakit, dan lain-lain. Namun untuk pelaksanaan
evaluasi bisa dikatakan kurang efektif karena stadart evaluasinya tidak
ada. Kadang-kadang memang ada teguran dari Lurah terhadap Pamong
yang kurang disiplin, tetapi ya hanya sampai disitu dan selanjutnya tidak
ada tindakan apa-apa. Pendekatan personal lebih ditekankan oleh Lurah,
yang menyatakan bahwa saya tidak senang maido (menyalahkan) dan
sebaiknya jangan maido. Dari prinsip itu Lurang menghimbau agar
Pamong bekerja dengan baik

224

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Evaluasi dari BPD juga tidak efektif dilaksanakan, terlebih lagi


dalam pelaksanaan administrasi Pemerintahan Desa, BPD hampi tidak
pernah memberikan masukan atau pernyataan yang berarti untuk
mengembangkan maupun untuk mempebaiki pelayanan administrasi.
11. Purnatugas
Setelah masa jabatan habis, maka Pamong akan menerima
purnatugas berupa tanah bengkon seluas 1/5 dari tanah bengkok semasa
aktif yang diterima selama dari masa jabatnnya. Dengan luas bengkok
itu para Pamong menyatakan bahwa purnatugas tidak sesuai dengan masa
baikti, tenaga, dan pikiran yang telah disumpankan kepada masyarakat.
12.Data Pamong
No

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Soepeno
R. Arif Mahendra
Suharto
Setu Rahardjo
Mardi Suwarno
Suparmi
Tudjiman
Subardja
Pujiyo
Sutarno
Budiyono
Suwandi
Karyatin

14
15
16
17

Jumari
Sujimin
Djuratmanto
Sumarjo

Jabatan
Lurah
Carik
Ka.Bag. Pemerint.
Ka.Bag. Pembang.
Ka.Bag. Kemasy.
Ka.Bag. Pendapatan
Sek. BPD
Dukuh Kutan
Dukuh Brosot
Dukuh Pulo
Dukuh Klampak
Dukuh Bentengan Lor
Dukuh Bendungan
Kidul
Dukuh Nepi
Dukuh Modinan
Dukuh Karang
Dukuh Jeronan

Umur
(Th)
50
40
59
60
65
46
65
56
45
35
52
41
51

Pendika
n
SMTA
SMTA
SD
SLTP
SD
SMTA
SLTP
SMTA
SMTA
SMTA
SLTP
SMTA
SLTP

36
45
62
46

SMTA
SLTP
SMTA
SMTA

Sumber data : Kantor Pemdes Brosot th. 2004


13. Kemampuan memberi pelayanan kepada masyarakat
Dengan potensi Pamong sebagaimana terganbar pada data
Pamong, untuk sementara dapat dikatakan bahwa kemampuan Pamong

225

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Desa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sudah memadahi.


Dikatakan oleh Sutiyartoyo (15 Juli 2005) bahwa, kemampuan para
Pamong dalam memnerikan pelayanan kepada masyarakat sudah baik dan
tidak ada indikasi KKN dalam proses pelayanan.
Pernyataan Carik bahwa, sampai saat ini dalam hal pelayanan
administrasi bisa dikatakan tidak ada peningkatan yang berarti, karena
kebutuhan pelayanan juga tidak ada peningkatan. Sehari-hari rata-rata
hanya 10 15 orang yang datang untuk minta pelayanan, dan yang paling
banyak melanyani adalah Ka. Bag. Pemerintahan, sedangkan yang lain
hanya sedikit-sedikit saja. Dengan demikian kemampuan pelayanan
seperti sekarang sudah cukup memadahi.
14. Kepuasan Masyarakat
Dengan kemampuan pelayanan saat ini dan kebutuhan pelayanan
yang belum cenderung meningkat, untuk sementara kepuasan masyarakat
sudah cukup tinggi. Kritik dan keluhan dari masyarakat dalam hal
pelayanan administrasi bisa dikatakan tidak ada karena sebagian besar
kebutuhan bisa dilayani dengan kinerja Pamong saat ini. Pernyataan itu
diperkuat oleh Setiyartoyo (15 Juli 2005) bahwa, masyarakat sudah cukup
puas dengan pelayanan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa saat ini.
15.Sarana kerja Pemerintah Desa
Sarana pokok untuk pelayanan masyarakat terdiri dari komputer 2
unit, mesin ketik 3 unit, telephon 1 unit, dan sepeda motor dinas 1 unit.
Sarana-sarana itu sementara sudah mencukupi untuk memberikan
pelayanan

kepada

masyarakat,

karena

peningkatan

kebutuhan

pelayananpun bisa dikatakan tidak ada. Yang menjadi salah satu


kelemahan adalah tidak semua Pamong bisa memanfaatkan Komputer
untuk pelayanan administrasi, karena hanya ada 3 orang yang bisa
mengoprasikan.

226

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

16. Akuntabilitas kepada masyarakat


Akuntabilitas pelayanan publik, khususnya dalam pelayanan
administrasi sudah dilaksanakan meskipun tidak eksplisit dilaksanakan
oleh Pemerintah desa. Misalnya laporan penyelenggaraan pemerintahan
desa secara umum kadang disampaikan dalam forum-forum warga oleh
Pamong atau Dukuh. Setidaknya satu tahun sekali Pamong dan BPD turun
menemui warga dalam forum-forum yang ada, untuk minta masukan atau
usulan dari warga. Pada kesempatan itulah Pamong menyampaikan
laporan pelaksanaan pemerintahan desa kepada warga, termasuk laporan
pelaksanaan administrasi meskipun tidak eksplisit.
8. DESA GULUREJO
1.

Perencanaan

(Administrasi

Dan

Pelayanan

Administrasi)
Pemerintah desa Gulurejo tidak mengenal adanya RENSTRA
DESA, tetapi mereka tahu dan terbiasa menggunakan mekanisme
perencanaan pembangunan yang dimulai dengan penggalian aspirasi di
tingkat RT/RW, kemudian diteruskan dengan MUSBANGDUS yang
dihadiri oleh kepala dusun dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di
pedukuhan. Hasil MUSBANGDUS kemudian diusulkan ke tingkat desa. Di
desa dikenal dengan nama MUSBANGDES yang dihadiri oleh kepalakepala dusun, BPD dan perangkat-perangkat desa yang lainnya. Menurut
perangkat desa Gulurejo, sedapat mungkin mekanisme perencanaan
pembangunan ini didasarkan pada visi dan missi desa Gulurejo yakni
peningkatan taraf hidup masyarakat desa dan terwujudnya ketertiban
dan keamanan desa. Misi dan tugas pelayanan administrasi di desa
Gulurejo, sejauh ini dapat dipandang realistik dari segi potensi,
kemampuan pemerintah desa dan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan
pendapat perangkat desa, tugas pelayanan administrasi sejauh ini belum
menemukan kendala yang berarti dan perangkat desa dapat menjalankan

227

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tugasnya dengan baik. Tugas administrasi yang dijalankan ini, tentu saja
berdasarkan kebutuhan masyarakat desa itu sendiri.
2.

Pola dan Struktur Organisasi


Pola dan struktur organisasi yang ada dan yang sedang dijalankan
di desa Gulurejo, menurut perangkat desa sudah mencerminkan kapasitas
dan kemapuan pemerintah desa dan sejalan dengan kebutuhan
masyarakat. Dalm wawancara yang kami lakukan ada indikasi bahwa
perangkat desa hanya menjalankan pola dan struktur organisasi yang
baku yang secara umum ditetapkan oleh pemerintah kabupaten, belum
selaras dengan kondisi masyarakat desa dan kebutuhan desa yang paling
mendesak. Hasil wawancara yang kami lakukan dengan perangkat desa
Gulurejo menunjukkan bahwa masing-masing unit yang ada yang terbagi
dalam

bidang-bidang

seperti

bidang

pemerintahan

desa,

bidang

pembangunan, bidang pendapatan dan bidang kemasyarakatan sudah


menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, sesuai dengan porsi tugas
yang telah dibagikan kepada masing-masing bagian. Tetapi kami tidak
menemukan adanya pencantuman rincian kegiatan dan tugas yang harus
dilakukan oleh masing-maising bagian tersebut.
3.

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi


Perangkat desa Gulurejo mengatakan bahwa sudah terdapat
pembagian kerja yang sangat merata antara bagian-bagian tersebut.
Belum ada indikasi di mana terjadi penumpukan kerja atau tugas pada
satu bagian saja. Tetapi mereka memegang prinsip apabila terjadi
kelebihan kerja pada salah satu bagian, bagian yang lainnya ikut
membantu. Menurut mereka, kalau terjadi penumpukan kerja pada bagian
pemerintahan desa, bagian yang lainnya ikut membantu. Begitu juga kalau
terjadi penumpukan kerja pada bagian yang lain.

228

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

4.

Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun dengan


Supradesa
Menurut perangkat desa Gulurejo, tata hubungan kerja antara
bagian sudah jelas. Artinya setiap bagian itu bertanggungjawab dengan
tugasnya

masing-masing

dan

mengerjakan

tugas

sesuai

dengan

pembagian. Secara internal, masing-masing bagian itu bertanggungjawab


kepada kepala desa dan kepala desa sendiri bertanggungjawab kepada
pemerintah di atasnya. Berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan
dan penggunaan kekuasaan, kepala desa bertanggungjawab kepada BPD.
5.

Koordinasi Antar unit Mauun dengan Supradesa


Dalam kaitanya dengan kordinasi kerja, menurut perangkat desa
Gulurejo, mereka menjalankannya melalui mekanisme evaluasi rutin yang
dijalankan setiap tiga bulan sekali.Evaluasi internal dihadiri oleh
perangkat desa, staf-staf dan kabag-kabag. Sedangkan evaluasi eksternal
dilakukan dengan inspeksi rutin yang dilakukan oleh pemerintah
kabupaten dan juga oleh BPD.

6.

Pengawasan
Di desa Gulurejo, pengawasan internal dilakukan oleh kepala desa
terhadap perangkat-perangkatnya. Sedangkan pengawasan eksternal
dilakukan oleh BPD dengan pemerintah kabupaten. Baik pengawasan
internal maupun pengawasan eksternal, memiliki pengaruh yang sangat
besar terhadap peningkatan kinerja perangkat desa dan meminimalkan
terjadinya kekeliruan dalam menjalankan tugas. Di Desa Gulurejo,
kuantitas dan kualitas administrasi pemerintahan desa belum terlalu
memadai dan belum lengkap. Ini bisa dilihat dari adanya kesulitan
untuk menemukan data yang sangat lengkap dan jelas berkaitan dengan
kebutuhan penelitian ini, misalnya data tentang tugas yang dijalankan
oleh masing-masing unit setiap hari.

229

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

7.

Rekrutmen dan Penempatan SDM


Dalam rekrutmen perangkat desa, di desa Gulurejo dilakukan

dengan dua mekanisme. Mekanisme pertama melalui pengangkatan dan


mekanisme yang kedua melalui pemilihan. Dalam proses rekrutmen
dengan dua cara ini dilakukan dengan mempertimbangkan kompetensi,
kecakapan, kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masingmasing perangkat. Umumnya perangkat desa Gulurejo mau menjadi
perangkat desa, karena ingin melayani masyarakat dengan baik. Mereka
juga mengatakan bahwa tugas yang mereka menjadi pamong karena
dipercaya oleh masyarakat. Kepercayaan masyarakat ini merupakan
modal utama yang menjadi motivasi mereka dalam menjalankan tugas.
Menurut mereka, kami ini menjalankan kepercayaan rakyat dan merawat
kepercayaan itu dengan menjalankan tugas dengan baik. Di desa Gulurejo,
penempatan pamong didasarkan pada kompetensi, pengalaman dan
minat. Menurut mereka, mereka tidak mungkin mampu menjalankan
tugas dengan baik tanpa adanya minat dan pengalaman. Minat dan
pengalaman mendorong para pamong desa Gulurejo menjalankan
tugasnya dengan baik.
8. Pengembangan SDM
Dalam rangka pengembangan SDM lurah dan pamong, menurut
perangkat desa Gulurejo dilakukan dengan mengikuti berbagaimacam
pelatihan-pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
yang

diselenggarakan

oleh

swasta

dan

lembaga

swadaya

masyarakat.Namun diakui bahwa internsitas pelatihan-pelatihan tersebut


masih sangat kurang dan belum menyentuh kepada tugas-tugas yang
dilakukan oleh aparat desa.
9. Sistem Kompensasi
Sistem kompenasi untuk lurah dengan pamong dilakukan dengan
mekanisme, setiap lurah dan pamong desa mendapatkan tanah bengkok
230

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang luasnya berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain sesuai
dengan kedudukannya. Mereka juga menerima gaji dari pemerintah
kabupaten. Gaji untuk lurah sebesar 375.000 rupiah per tiga bulan, carik
sebesar 300.000 rupiah pertiga bulan dan kabag-kabag masing masing
menerima 270.000 per tiga bulannya. Tabel berikut menggambarkan
kompensasi yang diberikan kepada lurah dan pamong dari tanah bengkok.
Table Luas Bengkok
No

Jabatan

Luas Bengkok

01

Kepala Desa

12.680 meter

02

Carik Desa

10.927 meter

03

Kabag-kabag

8.933 meter

04

Dukuh-dukuh

6.340 meter

05

Staf-staf

4.758 meter

Di desa Gulurejo, belum pernah terjadi mutasi dan promosi.


Kebanyakan perangkat desa yang ada memiliki masa jabatan yang cukup
lama dalam menduduki posisinya masing-masing. Ketika ditanya, apakah
mereka bosan dengan pekerjaannya masing-masing, umumnya mereka
menjawab mau bagaimana lagi, itu sudah keharusan.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Di desa Gulurejo,. Evaluasi kerja dilakukan secara berkala setiap
tiga bulan sekali. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing bagian yang
dipimpin oleh kepala desa. Untuk evaluasi yang insidental, biasanya
tergantung ada masalah yang penting. Biasanya kepala desa langsung
mengkordinasi rapat dan memberikan arahan yang jelas tentang apa yang
harus dilakukan.
11.

Purnatugas

231

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Untuk kompensasi lurah dan pamong setelah purnatugas di desa


Gulurejo dijalankan dengan mekanisme 1/5 dari tanah bengkok dikalikan
dengan dari masa jabatan. Di samping itu, perangkat desa yang telah
purnatugas mendapatkan uang sekitar Rp. 3.750.000,- dari pemerintah
kabupaten dan biasanya mendapat Rp. 2.000.000,- dari desa, disesuaikan
dengan kas dan keuangan desa.
12. Data Pamong
Secara umum dapat dikatakan bahwa perangkat desa Gulurejo
umumnya mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup memadai,
rata-rata mereka dapat menyelsaikan pendidikan menengah atas dengan
baik. Jika dilihat dari masa jabatan, mereka dapat dikatakan sebagai
perangkat desa yang berpengalaman dengan tugas dan fungsinya. Tabel
berikut dapat membantu menjelaskan profil perangkat desa Gulurejo.
Tabel
Profil perangkat desa Gulurejo dan masa jabatanya
No

Jabatan

Pendidikan

Kepala Desa

SLTA

Carik

Kabag Pemerintahan

D3

Kabag Pembangunan

SLTA

Kabag Pendapatan

SLTA

Kabag Kemasyarakatan

SLTA

SLTA/SPG

Lama Masa
Jabatan
Sejak 1996sekarang
Sejak 1991sekarang
Sejak 1983sekarang
Sejak 1985sekarang
Sejak 1987sekarang
Sejak 1994sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Dalam

pelayanan

administrasi,

masing-masing

unit

memiliki

kompetensi yang suku memadai. Ini juga karena ditunjang oleh latar
belakang pendidikan mereka yang semuanya tamatan sekolah menengah

232

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

atas. Sejauh ini di desa Gulurejo, pelayanan kepada masyarakat sudah


dijalankan dengan efisien dan efektif. Setiadaknya menurut perangkat
desa yang diwawancarai, belum ditemukan adanya keluhan-keluhan
masyarakat berkaitan dengan rendahnya efektivitas dan efisiensi
pelayanan publik di desa Gulurejo.
14. Kepuasan Masyarakat
Di desa Gulurejo, kunci keberhasilan pemerintah desa diukur dari
tingkat kepuasan masyarakat. Sejauh ini menurut mereka, masyarakat
menyatakan puas dengan hasil yang telah dicapai oleh pemerintah desa
dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara kami, pemerintah
desa Gulurejo dan lurah desanya, dapat menjalankan tugas dengan baik,
karena didukung oleh adanya fasilitas kerja yang cukup. Fasilitas kerja itu
terdiri dari sepeda motor, komputer, mesin ketik dan sebagainya. Tabel
berikut menggambarkan fasilitas tersebut.
Tabel Sarana Kerja Pemerintah Desa Gulurejo
No
01
02
03
04

Fasilitas pelayanan
publik
Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

Jumlah (unit)

Kondisi

1
1
2
4

Baik
rusak
Baik
Baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Akuntabilitas

publik

dalam

pelayanan

kepada

masyarakat

dilakukan dengan memberikan laporan pertanggungjawaban kepada


rakyat melalui BPD. Menurut perangkat desa, selama ini pemerintah desa
tetap bertanggungjawab kepada masyarakat melalui BPD. Jadi UU

233

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

No.32/2004 yang mengharuskan kepala desa bertanggungjawab kepada


bupati melalui camat, belum diterapkan di desa Gulurejo.
9. DESA JATIREJO
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Pemerintah desa Jatirejo suah mengenal RENSTRA DESA.
Menurut perangkat desa yang kami wwawancarai, pemerintah desa selalu
membuat program kerja, baik program kerja jangka pendek maupun
program

kerja

jangka

panjang

berdasarkan

RENSTRA

DESA.

RENSTRADES ini menggunakan instumen SWOT untuk mengetahui


potensi, keunggulan, kelemahan dan peluang-peluang yang akan dihadapi
desa ke depan. RENSTRADes ini juga menjadi acuan untuk menentukan
visi dan missi desa. Namun RENSTRADES ini belum dituangkan dalam
PERDES. Mereka juga mempunyai mekanisme baku dalam membuat
perencanaan pembangunan yang diawali dengan penggalian aspirasi di
tingkat RT/RW yang dihadiri oleh semua anggota masyarakat. Hasil
penggalian aspirasi di tingkat masyarakat ini, kemudian dilanjutkan
dengan MUSBANGDUS di tingkat pedukuhan. MUSBANGDUS di tingkat
pedukuhan dihadiri oleh unsure-unsur RT/RW, kadus, BPD dan tokohtokoh masyarakat desa. Musbangdus diteruskan ke desa. Di desa dikenal
dengan MUSBANGDES yang dihadiri oleh perangkat-perangkat desa,
anggota BPD dan kadus-kadus yang mewakili pedukuhannya masingmasing. MUSBANGDES ini sedapat mungkin didasarkan pada visi dan
missi desa.
Misi dan tugas pelayanan administrasi di desa Jatirejo, sejauh ini
dapat dipandang realistik dari segi potensi, kemampuan pemerintah desa
dan kebutuhan masyarakat. Menurut perangkat desa Jatirejo yang kami
temui, tugas pelayanan administrasi sejauh ini belum menemukan
kendala yang berarti, karena sudah dijalankan secara realitik baik dari segi
potensi desa maupun dari segi kebutuhan masyarakat desa. Pemerintah

234

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

desa tidak mungkin membuat program kerja yang tidak realistik, karena
kalau itu dilakukan akan bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
2. Pola dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi yang ada dan yang sedang dijalankan
di desa Jatirejo sudah mencerminkan kemampuan organisasi dan
kebutuhan masyarakat desa. Artinya struktur organisasi yang ada,
disamping berdasarkan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing
perangkat desa juga berdasarkan kebutuhan masyarakat desa. Tetapi
jawaban ini belum tentu benar, karena struktur organisasi desa Jatirejo
yang kami temui, tidak memiliki perbedaan spesifik dengan struktur
organisasi desa yang lainnya, sehingga jawaban yang mengatakan bahwa
struktur organisasi sudah mempertimbangkan kapasitas masing-masing
perangkat, belum tentu benar. Menurut pengamatan kami, struktur
organisasi mereka sama saja dengan desa yang lain, tidak ada struktur
yang mencerminkan keunikan desa tersebut.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi
Sejauh ini perangkat desa Jatirejo, sudah menjalankan tugas dan
fungsi (TUPOKSI) sesuai dengan yang ditetapkan. Menurut mereka
TUPOKSI itu sudah tertulis di papan masing-masing bagian. Setelah kami
cek, memang ditemukan adanya TUPOKSI masing-masing bagian yang
sudah tertulis di papan kerja masing-masing. Misalnya TUPOKSI yang
berkaitan dengan tugas dan fungsi pemerintah desa, sudah dicantumkan
dengan jelas pada papan masing-masing bagian.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supradesa
Pembagian kerja antara masing-masing unit atau bagian sudah
dilakukan

secara

merata.

Bagian-bagian

itu

terdiri

dari

bidang

pemerintahan desa, bidang pembangunan desa, bidang kemasyarakatan


dan bidang pendapatan. Masing-masing dari bagian-bagian itu sudah
235

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.Di desa Jatirejo, tata


hubungan kerja antara masing-masing unit maupun dengan supradesa,
sudah jelas dan tidak overlapping antara bagian yang satu dengan yang
lain, maupun dengan supradesa. Tata hubungan kerja ini mencerminkan
peran dan fungsi yang berbeda yang dilakukan oleh masing-masing bagian
antara yang satu dengan yang lain. Ini dapat dilihat dari struktur
organisasi dan pembagian kerja dan tugas yang ada di desa Jatirejo.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk menjalankan kordinasi kerja antara unit dan dengan
supradesa, di desa Jatirejo dikenal adanya RAKORDES yang dijalankan
setiap hari Kamis. Dalam rakordes ini dihadiri oleh semua bagian, dan
diadakan setiap hari Kamis. RAKORDES di desa Jatirejo yang dilakukan
sekali seminggu ini, bertujuan untuk membicarakan berbagaimacam
persoalan sekaligus arah dan tujuan desa ke depan.
6. Pengawasan
Di desa Jatirejo, pengawasan internal dilakukan oleh kepala desa
terhadap perangkat-perangkatnya, sedangkan pengawasan eksternal
dilakukan oleh rakyat melalui BPD dengan pemerintah kabupaten melalui
Camat. Pengawasan ini sangat penting artinya terhadap perubahan kinerja
perangkat desa. Dengan adanya pengawasan internal dan eksternal, maka
perangkat desa tidak main-main dalam menjalankan tugasnya. Mereka
juga memberlakukan sanksi hukuman terhadap pelanggaran dengan
dipecat daripekerjaannya. Pengawasan juga memungkinkan terjadinya
pengurangan penyalagunaan jabatan dalam menjalankan tugas seharihari, dibandingkan dengan tidak adanya pengawasan. Di desa Jatirejo,
kualitas dan kuantitas administrasi pemerintahan desa sudah baik, jika
dibandingkan dengan desa yang lainnya. Data-data yang merkea miliki
cukup lengkap dan tersedia berbagai macam data yang berkaitan dengan
penelitian kita. Kuantitas dan kualitas administrasi desa ini, ditunjang
236

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

oleh factor pendidikan, dimana rata-rata perangkatnya berpendidikan


menengah ke atas.

7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM


Rekrutem pamong desa yang dilakukan di desa Jatirejo melalui dua
cara yakni melalui pemilihan dan pengangkatan. Lurah misalnya dipilih
secara langsung, sedangkan yang lainnya diangkat. Tidak ada indikasi
KKN dalam proses rekrutmen ini. Rekrutmen yang dilakukan menurut
perangkat desa benar-benar didasarkan pada kompetensi yang dimiliki
oleh masing-masing individu. Umumnya perangkat desa Jatirejo memiliki
motivasi menjadi lurah atau pamong untuk melayani masyarakat.
Pelayanan kepada masyarakat menjadi orentasi dan motivasi utama yang
mereka lakukan setiap hari. Mereka juga mengatakan bahwa mereka
menjadi perangkat desa, karena dipercaya oleh masyarakat desa.
Kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat desa ini menjadi dasar
utama mereka menjalankan tugas setiap hari. Penempatan pamong di
desa Jatirejo, menurut perangkat desa yang kami wawancarai, sudah
sesuai dengan kompetensi, pengalaman dan minat yang dimiliki oleh
masing-masing individu. Kompetensi itu ditunjukkan oleh adanya
kemampuan kerja yang dilakukan oleh masing-masing bagian. Kalau
mereka tidak berpengalaman dan tidak berminat dengan bidang tugasnya,
mereka tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Tetapi sejauh ini
menurut mereka, mereka dapat menjalankan tugas dengan baik.
8. Pengembangan SDM
Berkaitan dengan pengembangan SDM lurah dan pamong desa,
mereka sering mengikuti berbagai macam pelatihan yang sesuai dengan
tugas dan fungsi yang mereka lakukan setiap hari. Dengan adanya
berbagai macam pelatihan, dapat memberikan motivasi kerja yang berarti
bagi perangkat desa untuk menjalankan tugasnya dengan baik.
237

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

9. Sistem Kompensasi
Berkaitan dengan kompensasi untuk lurah dan pamong, di desa
Jatirejo, lurah dan pamong masing-masing memperoleh jatah tanah
bengkok yang jumlahnya tidak sama. Di samping itu, juga mereka
memperoleh gaji dari pemerintah kabupaten yang besarnya sangat
bervariasi antara yang satu dengan yang lain dan diterimakan setiap tiga
bulan sekali. Tetapi mereka mengatakan bahwa kesejahteraan perangkat
desa masih sangat kurang. Tolong pemerintah kabupaten memperhatikan
kesejahteraan perangkat desa. Table beikut dapat menggambarkan jumlah
tanah bengkok yang mereka miliki.
Tabel Luas Bengkok
No
01
02
03
04
05

Jabatan
Kepala Desa
Carik Desa
Kabag-kabag
Dukuh-dukuh
Staf-staf

Luas Bengkok
1.5776 hektar
1.3150 hektar
1.0517 hektar
0.7886 hektar
0.5258 hektar

Sejauh ini belum pernah terjadi mutasi kepegawaian di desa


Jatirejo. Demikian pun halnya dengan promosi. Mutasi dan promosi
belum pernah dilakukan. Tetapi menurut mereka, berdasarkan aturan,
mutasi

dilakukan

setelah

yang

bersangkutan

diberhentikan

atau

mengundurkan diri dari tugasnya sebagai perangkat, kemudian baru ada


peluang untuk dipindahkan ke bagian yang lain.
10.

Evaluasi Kinerja Pamong

238

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Di desa Jatirejo, evaluasi dilakukan secara berkala setiap tiga bulan


sekali. Evaluasi dipimpin langsung oleh kepala desa dan dihadiri oleh
perangkat-perangkat yang ada.
11. Purnatugas
Sistem PHK yang terjadi di desa Jatirejo dilakukan dengan
mekanisme menerima 1/5 dari tanah bengkok dikalikan setengah masa
jabatan. Mereka juga akan menerima jatah purnatugas dari kas desa,
tetapi besarnya tidak tentu. Sedangkan bantuan purnatugas dari
kabupaten juga tidak jelas.
12. Data Pamong
Berdasarkan hasil wawancara kami dan didukung data yang ada,
profil kepergawaian desa Jatirejo dapat digambarkan sebagaimana
tercantum dalam table berikut.
Tabel
Profil perangkat desa Jatirejo dan masa jabatanya
No
01
02
03
04
05
06

Jabatan
Kepala Desa
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag Kemasyarakatan

Pendidikan
PT
PT
SLTA
PT-D2
SLTA
SLTA

Lama Masa
Jabatan
Sejak 1991-sekarang
Sejak 1991-sekarang
Sejak 2005-sekarang
Sejak 1989-sekarang
Sejak 1989-sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Masing-masing bagian di desa Jatirejo, dapat menjalankan tugas dan
fungsinya berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing
personel. Kompetensi itu, ditunjukan dengan adanya kemampuan kerja yang
cukup bagus dari masing-masing perangkat. Berkaitan dengan pelayanan
yang diberikan kepada masyarakat desa, menurut mereka sudah dijalankan
secara efektif dan efisien. Menurut mereka kalau tidak efektif dan tidak
239

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

efisien, tentu saja akan berhadapan dengan tuntutan dan teklanan


masyarakat yang sangat besar melalui BPD.
14. Kepuasan Masyarakat
Kunci keberhasilan pemerintah desa menurut para perangkat desa
adalah tingkat kepuasan masyarakat desa. Kalau masyarakat puas,
pemerintah desa senang, karena tidak ada lagi keluhan-keluhan yang
diberikan oleh pemerintah desa.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Jika dibandingkan dengan desa yang lain, lurah desa dan pamong desa
Jatirejo sudah dilengkapi dengan fasilitas standar yang hampir sama
dengan desa yang lain. Tetapi mereka baru memiliki satu unit komputer,
padahal mereka memiliki perangkat yang berpendidikan sarjana. Tabel
berikut dapat menggambarkan bagaimana fasilitas yang dimiliki oleh desa
Jatirejo.
Table Faslitas Desa Jatirejo
No
01
02
03
04

Fasilitas pelayanan
publik
Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

Jumlah
(unit)
1 unit
1 unit
1 unit
2 unit

Kondisi
Baik
rusak
Baik
Baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Akuntabilitas publik dalam pelayanan masyarakat di desa Jatirejo
dilakukan dengan mekanisme di mana kepala desa bertanggungjawab
kepada rakyat melalui BPD. Ada kesan bahwa di desa jatirejo BPD masih
memiliki peran yang besar. Pemerintah desa wajib memberikan
pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan desanya kepada
masyarakat desa melalui BPD.

240

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

10. DESA NGENTAKREJO


1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Perencanaan dalam organisasi Pemerintahan Desa Ngentakrejo
belum

dirumuskan

dalam

rencana

strategis,

dengan

demikian

perencaanaan administrasi Pemerintahan Desa belum menjadi bagian dari


Renstra. Perencanaan itu ada tapi di buat oleh Lurah dan Pamong Desa
dan hanya sekedar menjadi kesepakatan bersama antara internal
Pemerintah

Desa.

Kalaupun

dibicarakan

bersama

dengan

BPD,

pembicaraan mengenai rencana pengembangan administrasi itu lebih


bersifat informal. Oleh karena itu tujuan, wujud maupun target dari
perencanaan belum dapat dirumuskan dengan jelas.
2. Pola dan Struktur Organisasi.
Pola dan struktur orgaisasi Pemerintah Desa sudah menjadi paket
yang ditetapkan oleh Perda Kabupaten Kulon Progo. Di Desa Ngentakrejo,
untuk sementara waktu pola dan struktur semacam itu dirasa masih
cukup untuk mendukung pemberian pelayanan kepada masyarakat.
Struktur itu merupakan bentuk baku yang ditetapkan Pemda Kabupeten,
namun dalam pelaksanaanya masing-masing Pamong bisa flesibel saling
membantu Pamong lainnya.
2. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi.
Dalam kaitannya dengan struktur organisasi, Tupoksi masingmasing unit kerja dilingkungan Pemerintah Desa Ngentakrejo pada
prinsipnya mengacu pada ketentuan Tupoksi yang sudah baku ditetapkan
oleh Pemerintah Daerah. Tupoksi sudah cukup dipahami oleh masingmasing Pamong, dan sudah dilaksanakan oleh Lurah dan para Pamong.
Namun dalam pelaksanaan Tupoksi itu masing-masing Pamong tidak
dapat saklek dalam Tupoksinya, karena mereka membutuhkan kerjasama
dan saling membantu antara Pamong satu dengan lainnya.
241

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Dengan demikian bila ada salah satu Pamong yang tidak dapat
melaksanakan tugasnya, untuk sementara bisa diganti oleh Pamong
Lainnya. Dengan cara ini pelayanan masyarakat justru menjadi lebih
lancar, karena tidak harus menunggu Pamong yang bersangkutan.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah
Kabupaten lebih bersifat koordinatif melalui dinas-dinas terkait. Aliran
perintah datang dari Kabupaten melaui dinas-dinas terkait atau melalui
kecamatan, yang diwujudkan dalam forum-forum sosialisasi atau
ceramah-ceramah dan pengarahan mengenai tugas-tugas yang harus
diselesaikan Pemerintah Desa.
Dalam hubungannya dengan BPD, secara umum mengacu pada
ketentuan yang telah ditetapkan dalam Perda Kabupaten. Dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi dipertanggungjawabkan kepada BPD yang
kemudian ditembuskan kepada Pem. Kab. Dan Pemerintahan Kecamatan.
BPD mengawasi pelaksanaan Pemerintahan Desa, meskipun demikian
hubungan antara Pemerintah Desa dengan BPD relatif baik, sehingga
terjadi hubungan partnership antara keduanya.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa.
Koordinasi Pemerintah Desa dengan Pemerintah Kabupaten dan
Pemerintah Desa secara umum berjalan dengan baik. Rapat-rapat
koordinasi cukup sering dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten melaui
dinas-dinas terkait atau kecamatan untuk untuk memberikan perintah
atau arahan-arahan yang diperlukan untuk menjalankan tugas-tugas
Peemrintah Desa maupun tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
Koordinasi dengan BPD lebih banyak dilakukan dalam forum resmi
dan rutin, antara lain dalam pembahasan Perdes dan APBDes, serta
pembahasan LPJ Lurah. Sementara koordinasi internal Pemerintah Desa
dilakukan guna memadukan pelaksanaan tugas dan fungsi semua Pamong
242

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Desa, antara lain berupa rapat rutin 1 minggu sekali. Selain itu kadang
diperlukan pula koordinasi di luar waktu rutin yang telah ditetapkan.
6. Pengawasan.
Pengawasan pelaksanaan pemerintahan desa terutama dilakukan
oleh BPD, yakni melalui laporan Lurah baik tahunan maupun akhir
tahun. Selain itu BPD juga bisa menyampaikan masukan-masukan kepada
Bawasda terkait dengan hasil pengawasan BPD. Selain pengawasan oleh
BPD, Lurah juga melakukan pengawasan terhadap para pamong,
meskipun pelaksanaan penawasan masih kurang mampu mendisiplinkan
Pamong. Tekanan psikologis atas keterbatasan penghasilan Pamong
membuat Lurah tidak mampu secara tegas dan konsisten dalam
memberikan saksi kepada para Pamong Desa.
7. Kepuasan Masyarakat
Khusus untuk Lurah sangat mudah dimintakan pelayanan
administrasi, bahkan kalau perlu dijalanpun Pak Lurah mau tanda tangan
asal syaratnya sudah lengkap. Jadi tidak harus datang ke Kantor
Kelurahan.

11. DESA BANGUNCIPTO


1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Pemerintah desa banguncipto belum mengenal tentang RENSTRA
Desa, tetapi mereka mengenal mekanisme perencanaan pembangunan
yang diawali dengan penggalian aspirasi di tingkat RT/RW, kemudian
dilanjutkan dengan MUSBANGDUS yang dihadiri oleh RT/RW dan diikuti
oleh tokoh-tokoh masyarakat. Hasilnya dibawakan ke tingkat pedesaan
dan di desa dikenal dengan sebutan MUSBANGDES. Mereka memahami

243

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

RENSTRA DESA sebagai mekanisme perencanaan pembangunan. Dalam


mekanisme perencanaan pembangunan ini menurut mereka didasarkan
juga pada visi desa yakni menjadi desa satelit untuk DIY. Umumnya
menurut perangkat desa, misi tugas pelayanan administrasi di desa
Pengasih, sudah sejalan dengan potensi, kemampuan pemerintah desa
dengan kebutuhan masyarakat. Misi tugas pelayanan administrasi
pemerintah

desa,

sedapat

mungkin

didasarkan

pada

kebutuhan

masyarakat.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi di desa Banguncipto dibuat dalam
rangka untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat dan disesuaikan
dengan kemampuan pamong desa dalam menjalankannya.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Di desa Banguncipto, masing-masing Ka. Bag. dan staf-satf merasa
sudah menjalankan tugas, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Namun mereka memegang prinsip bahwa apabila terdapat kekurangan di
satu bagian akan dibantu oleh bagian yang lain, sehingga pelaksanaan
pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pembagian kerja antara unit di desa Banguncipto sudah terbagi secara
merata. Masing-masing bagian mengemban porsi tugas kerja yang merata.
Tidak ada kelebihan kerja pada bagian yang satu dan kekurangan pada
bagian yang lain, sehingga tidak terjadi penumpukan kerja.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja di desa Banguncipto sudah jelas dan tidak
overlapping. Pola pertanggungjawaban kerja dan perintah mengalir secara
jelas. Pemerintah kabupaten memberikan instruksi kepada pemerintah
desa, dan seterusnya, pemerintah desa memberikan isntruksi kepada
244

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

bagian-bagiannya.
kabupaten

dalam

Lurah

bertanggungjawab

menjalankan

tugasnya

kepada
dan

pemerintah

pamong-pamong

bertanggungjawab kepada lurah desa dalam menjalankan tugasnya.


5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk kordinasi pelaksanaan tugas, di desa Banguncipto dilakukan
dengan kordinasi rutin yang dijalankan setiap Minggu sekali, dipimpin
langsung oleh lurah. Jika lurahnya berhalangan, maka kordinasi dipimpin
oleh Carik. Sedangkan dengan supradesa dilakukan dengan inspeksi atau
pengawasan yang dilakukan secara rutin dan waktunya tidak tentu.
6. Pengawasan
Di desa Banguncipto, pengawasan internal dilakukan oleh lurah
terhadap pamong desa, sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh
BPD dengan pemerintah kabupaten. Pengawasan ini memiliki pengaruh
yang sangat besar terhadap peningkatan kinerja pamong dan mengurangi
terjadinya penyalagunaan jabatan dalam menjalankan tugas.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Rekrutmen untuk lurah dan pamong di desa Banguncipto
dilakukan melalui pemilihan langsung dan pengangkatan. Lurah dipilih
secara langsung oleh masyarakat. Lurah yang ada di desa Banguncipto
saat ini, dulunya menjadi Kabag Pemerintahan. Perangkat desa
Banguncipto mempunyai motivasi menjadi pamong untuk melayani
masyarakat dengan baik. Pelayanan kepada masyarakat ini mereka
pandang sebagai kepercayaan yang harus dijalankan.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM di desa Banguncipto dilakukan dengan cara
mengikuti berbagaimacam bentuk pelatihan yang diselenggarakan oleh
pemerintah kabupaten dan provinsi. Namun menurut mereka sekarang
245

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

setelah UU No.22/1999 dilaksanakan, jumlah pelatihan sangat terbatas


dan hampir tidak ada. Sehingga bisa dikatakan bahwa pengembangan
SDM mereka mengalami kemacetan.
9. Sistem Kompensasi
Kompensai

untuk

lurah

dan

pamong

dilakukan

dengan

memperoleh tanah bengkok dan gaji dari pemerintah kabupaten dan juga
dari desa. Untuk tanah bengkok lihat table berikut.
Table Luas Bengkok
No
Jabatan
Luas Bengkok
01
Kepala Desa
1,8 hektar
02 Carik Desa
1, 45 hektar
03 Kabag-kabag
1,4 hektar
04 Dukuh-dukuh
1, 1 hektar
Para perangkat desa ini juga memperoleh gaji dari pemerintah
kabupaten yang diterimakan setiap tiga bulan. Untuk lurah jumlahnya
300 ribu rupiah, Carik 290 ribu rupiah, Kabag-kabag 170 ribu rupiah,
dukuh 150 ribu rupiah dan staf-staf memperoleh 120 ribu rupiah.
Pendapatan ini, masih harus ditambah dengan penerimaan dari desa
yang sumber dan jumlahnya tidak tentu. Para perangkat desa
Banguncipto umumnya merasa bahwa mereka tidak puas dengan
kompensasi yang mereka terima, karena selain jumlahnya sangat rendah,
juga jangka waktu penerimaanya tidak jelas.
10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi kerja di desa Banguncipto dilakukan setiap tiga bulan
sekali, dipimpin langsung oleh lurah. Evaluasi ini ditindaklanjuti dalam
bentuk rencana kerja dari masing-masing bagian.

11. Purnatugas

246

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Sama dengan desa Pengasih, sistem PHK dilakukan dengan cara


1/5 dari tanah bengkok dikalikan dengan masa jabatan. Di samping itu,
mereka juga menerima jatah purnatugas dari desa dan dari pemerintah
kabupaten yang jumlahnya tidak tentu.
12. Data Pamong
Tabel berikut menggambarkan
Banguncipto (lihat tabel).

profil

kepegawaian

desa

Tabel
Profil perangkat desa Banguncipto dan masa jabatanya
No
01

Jabatan
Kepala Desa

Pendidikan
SLTA

02

Carik

03
04
05
06

Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag Kemasyarakatan

SLTA
D3
SLTA
SMP
SLTA

Masa Jabatan
Sejak 2004-sekarang
(sebelumnya kabag
pemerintahan)
Sejak 1984-sekarang
(cariknya PNS)
Sejak 2004-sekarang
Sejak 1999-sekarang
Sejak 1986-sekarang
Sejak 1984-sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Masing-masing

bagian

sudah

menjalankan

tugasnya

secara

kompeten. Artinya mereka mengerti dengan tugasnya masing-masing.


Menurut perangkat desa, pelayanan yang diberikan kepada masyarakat
sudah efisien dan efektif. Ini ditunjukkan dengan keberhasilan dalam
menjalankan program kerja, dan tidak adanya pemborosa anggaran yang
digunakan. Hampir sama dengan desa yang lainnya. kuantitas dan
kualitas pelayanan administrasi, termasuk kelengkapan buku-buku di desa
Banguncipto menurut perangkat desa, sudah cukup memadai, tetapi
memang perlu sekali diakui bahwa masih terdapat banyak kekurangan
yang harus dilengkapi. Penempatan pamong di desa Banguncipto sudah
sesuai dengan kompetensi, pengalaman dan minat. Menurut mereka kalau
tidak begitu, mereka tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya dengan
baik. Di desa Banguncipto belum pernah terjadi mutasi dan promosi.

247

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Umumnya mereka menduduki kekuasaan untuk jangka waktu yang lama


dan berakhirnya tidak jelas.
14. Kepuasan Masyarakat
Kepuasan

masyarakat

desa

merupakan

kunci

pelayanan

pemerintah desa Banguncipto, namun mereka menyadari bahwa dalam


menjalankan tugas, mereka sedapat mungkin memberikan yang terbaik
kepada masyarakat.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Untuk kelengkapan fasilitas lurah desa dan pamong desa di desa
Banguncipto, dapat dilihat di table berikut.

No
01
02
03
04

Tabel Fasilitas Desa Banguncipto


Fasilitas
pelayanan Jumlah
publik
(unit)
Sepeda Motor
1 unit
Telepon
1
Komputer
1 unit
Mesin Ketik
3 unit

Kondisi
Baik
baik
Baik
Baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Pertanggungjawaban dan akuntabilitas dilakukan kepada rakyat
melalui BPD dan kepada Bupati melalui Camat.

12. DESA SALAMREJO


1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Dari penelitian yang kami lakukan, Desa Salamrejo, termasuk salah
satu desa di Kabupaten Kulon Progo yang belum memiliki RENSTRA
DESA. Tetapi mereka mengenal pola atau mekanisme perencanaan
pembangunan yang biasanya dimulai dari penggalian aspirasi dan
pendapat dari tingkat RT/RW, kemudian hasilnya dibawakan ke tingkat

248

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dusun. Di tingkat dusun perencanaan pembangunan dilakukan dengan


MUSBANGDUS yang dihadiri oleh RT/RW, dan tokoh-tokoh masyarakat.
Hasil MUSBANGDUS ini, kemudian dibawakan ke tingkat desa. Di desa
mekanisme

perencanaan

pembangunan

itu,

dicapai

melalui

MUSBANGDES yang dihadiri oleh perangkat-perangkat desa dan Kepalakepala Dusun dan juga BPD yang ada. Mekanisme perencanaan,
khususnya untuk pelaksanaan tugas dan administrasi didasarkan pada visi
desa yakni ingin menjadikan Desa Salamrejo sebagai desa kerajinan. Visi
ini dirumuskan secara bersama antara pemerintah desa dengan Badan
Perwakilan Desa. Tetapi visi ini, masih belum diadministrasikan dengan
baik, karena belum dicantumkan di dalam PERDES dan belum
dicantumkan pada papan visi desa. Boleh dikatakan bahwa visi ini, baru
menjadi milik pemerintah dan perangkat desa saja, karena tidak
dipublikasikan kepada masyarakat secara terbuka. Misi tugas dan
pelayanan administrasi di Desa Salamrejo, tidak realistik jika dipandang
dari segi potensi, kemampuan pemerintah desa dan kebutuhan
masyarakat. Persoalannya, dalam struktur organisasi pemerintahan dan
dalam hubungannya dengan manajemen pemerintahan, Desa Salamrejo
belum memiliki perangkat yang secara khusus bertugas menangani
pencapaian visi Desa Salamrejo sebagai desa kerajinan. Misalnya, belum
ada Kabag Kerajinan Desa.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi masih belum menggambarkan
terwadahinya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang
efektif dan efisien. Hal ini nampak dari struktur organisasi yang belum
mencerminkan kebutuhan masyarakat dan adanya kecendrungan satu
bidang dalam struktur pemerintahan menjalankan fungsi yang lebih
banyak dibandingkan dengan bidang yang didudukinya.

249

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi


Di Desa Salamrejo, TUPOKSI dijalankan oleh masing-masing
KABAG yang terdiri dari Kabag Pemerintahan, Kabag Pendapatan, Kabag
Kemasyarakatan, dan Kabag Pembangunan. Menurut perangkat desa,
mereka menjalankan tugas dan fungsi sesuai dengan kedudukannya
masing-masing. Berdasarkan wawancara kami dengan para perangkat
tersebut, kelihatan bahwa mereka belum menjalankan tugas dan fungsi
dengan baik. Hal ini tercermin dari kurangnya kemampuan mereka dalam
menjabarkan tugas dan fungsinya kepada kami. Misalnya, ketika ditanya
apakah bapak menjalankan tugas dan fungsi sesuai dengan kedudukan ?
Umumnya mereka menjawab ya. Tetapi setelah ditanya apa saja yang
menjadi tugas dan fungsi bapak sesuai dengan kedudukan yang bapak/ibu
pegang ? Umumnya mereka tidak bisa menjabarkan dengan baik. Ini juga
bisa dilihat dari tidak adanya pencantuman tugas dan fungsi dari masingmasing bagian itu secara tertulis, tertempel di papan kerja dari masingmasing bagian.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Pembagian kerja antara bagian dengan bagian, seperti antara
Kabag dengan Kabag, dapat digambarkan sebagai berikut: Kabag
Pemerintahan menjalankan urusan pertanahan, surat-menyurat, KTP, C1,
pencatatan penduduk, seperti lahir, mati, datang, pergi, dan sebagainya,
Kabag Pembangunan menjalankan urusan pertanian, pembangunan,
kerajinan dan sebagainya. Kabag Kemasyarakatan menjalankan fungsi
HUMAS, masalah sosial, keluarga miskin dan sebagainya. Sedangkan
Kabag Pendapatan mengurus administrasi tentang pajak, bumi dan
bangunan. Pembagian tugas ini menurut perangkat desa yang kami
wawancarai telah dilakukan secara merata. Manajemen hubungan kerja
antara unit dan dengan supradesa, termasuk alur perintah dan
pertanggungjawaban sudah dijalankan dengan baik. Kepala desa bertugas
250

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

memberikan kordinasi untuk masing-masing kepala bagian. Masingmasing kepala bagian mengkordinasi staf-stafnya. Masing-masing kepala
bagian

bertanggungjawab

bertanggungjawab

kepada

kepada
rakyat

kepala
melalui

desa.
BPD.

Kepala
Untuk

desa
laporan

pelaksanaan tugas dan hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah


kabupaten, seperti menyangkut pajak disampaikan kepada pemerintah
kabupaten. Dalam hal ini, Kepala Desa menjalankan apa yang menjadi
instruksi pemerintah kabupaten. Manajemen hubungan kerja tidak
overlapping, karena masing-masing bagian menjalankan perintah dan
bertanggungjawab kepada atasan, sesuai dengan kedudukannya masingmasing. Misalnya, staf Kepala Bagian Pemerintahan bertanggungjawab
kepada Kabag Pemerintahan.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk melakukan kordinasi antara unit kerja, di desa Salamrejo
biasanya dilakukan oleh unit kerja yang memiliki kedudukan paling tinggi.
Misalnya, kepala desa melakukan kordinasi triwulanan terhadap kepala
bagian-kepala bagiannya, sebaliknya kepala-kepala bagian melakukan
kordinasi triwulanan dengan staf-stafnya. Tetapi jika ada masalah yang
mendadak dan membutuhkan penyelsaian segera, kordinasi antara unit
dilakukan tanpa mempertimbangkan waktu yang telah ditetapkan.
6. Pengawasan
Di Desa Salamrejo, terdapat dua jenis pengawasan yakni;
pengawasan internal dan pengawasan eksternal. Pengawasan internal
dilakukan oleh kepala desa terhadap perangkat-perangkatnya, sedangkan
pengawasan eksternal dilakukan oleh rakyat dan pemerintah kabupaten.
Rakyat melakukan pengawasan terhadap pemerintah desa melalui BPD,
sedangkan pemerintah kabupaten melakukan pengawasan melalui Camat.

251

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM


Berkaitan dengan rekrutmen pegawai di Desa Salamrejo, Kepala
Desanya dipilih secara langsung, sedangkan perangkat-perangkat desanya
masih perangkat-perangkat yang diwariskan oleh pemerintah sebelumnya.
Kepala Desa Salamrejo baru menjabat satu tahun, belum melakukan
rekrutmen perangkat desa dan pamong yang sudah ada dipandang
kompeten, cakap dan berpengalaman dalam menjalankan tugasnya.
Hampir semua perangkat yang ada, tidak memiliki hubungan keluarga
dengan kepala desa.
8. Pengembangan SDM
Selama R. Supatmo menjadi kepala desa, belum pernah mengikuti
pelatihan yang secara khusus bertujuan untuk meningkatkan sumber daya
manusia kepala desa. Demikian juga perangkat-perangkat desa yang ada
di Salamrejo. Umumnya mereka belum pernah mengikuti pelatihan yang
secara khusus meningkatkan pelayanan mereka terhadap masyarakat
desa.
9. Sistem Kompensasi
Sistem kompensasi untuk lurah dan pamong di Desa Salamrejo,
diperoleh dengan tugas cara: 1) melalui sistem penggajian; 2) tanah
bengkok; 3) penerimaan lain yang sumbernya tidak jelas. Gaji untuk
kepala desa dengan prangkatnya Rp. 100.000 rupiah diterimakan setiap
tiga bulan sekali. Kepala Desa memiliki tanah bengkok dengan luas 1,5
hektar, carik 8.785 hektar, sedangkan kabag-kabag hanya 7.028 hektar.
Mereka tidak memiliki penghasilan lain di luar gaji dan tanah bengkok.

Tabel Luas Bengkok


No

Jabatan

Luas Bengkok
252

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

01
02
03

Kepala Desa
Carik Desa
Kabag-kabag

1,5 hektar
8.785 hektar
7.028 hektar/perorang

10. Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi di Desa Salamrejo dilakukan secara berkala setiap tiga bulan
sekali. Evaluasi isidental juga dilakukan jika terdapat masalah atau ada
kebutuhan yang sangat mendesak. Untuk tingkat desa evaluasi dipimpin oleh
kepala desa, sedangkan untuk tingkat pedukuhan, evaluasi dipimpin oleh
kepala dusun.
11. Purnatugas
Di Desa Salamrejo belum pernah dilakukan PHK oleh kepala desa
terhadap

perangkat-perangkat

desanya.

Untuk

kompensasi

setelah

purnatugas mereka masing-masing memperoleh 25% dari tanah bengkok,


dikalikan dengan setengah dari masa jabatan. Misalnya untuk carik, masa
jabatannya 10 tahun, maka yang dihitung adalah setengah dari 10 tahun itu.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian desa Salamrejo, dapat digambarkan dari dua segi
yakni dari segi pendidikan dan pengalaman kerja.
Tabel Pendidikan dan Masa Jabatan Perangkat Desa Salamrejo
No
01
02
03
04
05
06

Jabatan
Kepala Desa
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag Kemasyarakatan

Pendidikan
SLTA
SLTA
SLTA (SMEA)
SLTA

Lama Masa Jabatan


1 tahun
Sejak 1994-sekarang
Sejak 1990-sekarang
Sejak 1982-sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Masing-masing unit di Desa Salamrejo dipandang sudah menjalankan
tugas dan fungsinya dengan baik. Setiap kabag dipandang kompeten dalam
253

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

menjalankan tugasnya. Namun menurut Carik desa Salamrejo, persoalan


SDM yang masih berpendidikan rendah, cukup mempengaruhi pelayanan
administrasi dan urusan pemerintahan desa. Pelayanan kepada masyarakat
dipandang sudah efisien dan efektif. Alasannya, selama kepala desa yang baru
belum ada komplain atau tuntutan ketidakpuasan dari masyarakat berkaitan
dengan kinerja pemerintah desa.
14. Kepuasan Masyarakat
Menurut pemerintah desa salamrejo, masyarakat sudah puas dengan
pelayanan pemerintah desa sehingga, mereka tidak pernah mengeluh dengan
pelayanan yang diberikan oleh pemerintah desa.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kuantitas dan kualitas kelengkapan adminsitrasi pemerintahan desa
masih belum cukup memadai. Jumlah buku-buku yang berkaitan dengan
registrasi pemerintahan desa masih sangat terbatas dan kurang mengikuti
perkembangan. Lurah dan perangkat desa memiliki fasilitas yang sangat
terbatas. Dilihat dari alat transportasi yang mereka gunakan, hanya ada satu
sepeda motor yang melayani kebutuhan pelayanan administrasi baik yang
dilakukan oleh lurah, maupun perangkat-perangkatnya. Telepon kantor
hanya ada satu dan tersentral di kantor kepala desa, tidak ada line yang
menghubungkannya dengan kepala-kepala bagian. Telepon kantor yang
dimiliki hanya bisa digunakan untuk urusan kantor yang sangat penting.
Hampir semua perangkat memiliki hand phone, tetapi mereka harus membeli
pulsa sendiri jika berhubungan dengan pihak luar, walaupun berkaitan
dengan urusan kantor. Desa Salamrejo juga hanya memiliki satu unit
komputer. Komputer ini digunakan untuk berbagai macam kepentingan dan
dipakai oleh semua perangkat desa.
Table Faslitas Desa Salamrejo
No

Fasilitas pelayanan publik

Jumlah

Kondisi
254

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

(unit)
01
02
03
04

Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

1
1
1
4

baik
baik
baik
1 rusak

Umumnya perangkat desa Salamrejo, termasuk lurahnya memiliki


motivasi menjadi perangkat desa untuk melayani masyarakat desa
dengan baik. Motivasi kepala desanya secara khusus adalah ingin
meningkatkan perekonomian desa dengan menggandeng investor.
Mereka terpanggil untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada
masyarakat desa. Selama kepala desa yang baru, belum pernah dilakukan
mutasi jabatan. Setiap jabatan-jabatan yang ada juga tidak pernah
dipromosikan secara luas kepada perangkat desa yang lain. Artinya
jabatan yang mereka pegang sebelum kepala desa yang baru, tetap mereka
duduki hingga sekarang.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Akuntabilitas publik dilakukan dengan cara dimana kepala desa
selalu memberikan pertanggungjawaban dalam menjalankan tugasnya
setiap tahun kepada rakyat melalui BPD.
13. DESA SENTOLO
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Pemerintah desa Sentolo belum mengenal RENSTRA DESA.
Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan, mereka hanya mengenal
penggalian aspirasi masyarakat untuk perencanaan pembangunan.
Penggalian aspirasi masyarakat ini dimulai dari RT/RW yang diikuti oleh
anggota masyarakat, dilanjutkan dengan MUSBANGDUS di tingkat dusun
yang dihadiri oleh RT/RW, kadus, tokoh-tokoh masyarakat dan
sebagainya. Hasil dari MUSBANGDUS ini, kemudian diteruskan ke
tingkat desa. Di desa dikenal dengan sebutan MUSBANGDES yang

255

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dihadiri oleh kadus-kadus, BPD dan perangkat-perangkat desa. Hasil


perencanaan yang dibuat oleh desa ini, kemudian diteruskan ke tingkat
kecamatan dan selanjutnya diteruskan ke tingkat kabupaten. Desa Sentolo
belum memiliki visi dan missi, sehingga mekanisme perencanaan
pembangunan ini tidak didasarkan pada visi dan missi desa. Misi tugas
pelayanan administrasi di desa Sentolo, belum reealistik jika dipandang
dari segi potensi, kemampuan

pemerintah

desa dan

kebutuhan

masyarakat. Menurut mereka hal ini disebabkan oleh pelayanan


administrasi yang sangat baku dan sudah ditetapkan oleh pemerintahan
supradesa. Desa ini tidak memiliki sesuatu yang bisa diandalkan. Ini
terbukti dari wawancara kami dengan perangkat desa. Ketika mereka
ditanya apa yang unik dari desa ini, mereka bingung untuk menjawabnya.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi pemerintahan desa di desa Sentolo,
menurut perangkat desa, sudah sesuai dengan kemampuan organisasi dan
kebutuhan masyarakat. Kemampuan organisasi menurut mereka sudah
tercermin dalam menjalankan tugas setiap hari. Tugas-tugas yang
dijalankan pun, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kalau tidak sesuai
dengan kebutuhan masyarakat desa menurut mereka tidak mungkin bisa
dijalankan dengan baik.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Menurut

perangkat

desa

Sentolo

yang

kami

wawancarai,

pembagian tugas dan fungsi di desa Sentolo sudah jelas dan masingmasing bagian menjalankan tugasnya dengan baik. Tetapi mereka
mengakui bahwa pembagian tugas dan fungsi itu belum dicantumkan di
dalam papan kerja pada masing-masing bagian. Hasil pengamatan kami
juga menunjukkan bahwa perangkat desa belum memiliki papan
TUPOKSI yang berfungsi mengingatkan bagian-bagian dalam organisasi
pemerintahan Sentolo untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan
256

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

baik. Pembagian tugas antara bagian sudah terperinci dengan baik dan
terbagi secara merata. Namun pemerintah desa Sentolo pada dasarnya
memegang prinsip apabila dalam pelaksanaannya terdapat bagian yang
memiliki pekerjaan lebih besar, maka bagian yang lainnya akan ikut
membantu.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antara masing-masing unit dengan supradesa
di

desa

Sentolo

sudah

jelas

dan

tidak

overlapping.

Lurah

bertanggungjawab kepada Bupati melalui Camat dalam menjalankan


tugasnya. Sedangkan kabag-kabag, kadus dan perangkat desa yang lain
bertanggungjawab kepada lurah desa.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Di desa Sentolo, kordinasi kerja dilakukan satu bulan sekali antara
lurah dengan kabag-kabag sementara antara bagian-bagian atau unit-unit
kerja dilakukan tiap Minggu. Kordinasi antara lurah dengan kabag-kabag
dipimpin langsung oleh kepala desa.
6. Pengawasan
Pengawasan internal di desa Sentolo, dilakukan oleh lurah
sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh BPD dan oleh Bupati
melalui Camat. Baik pengawasan internal maupun pengawasan eksternal,
memiliki

pengaruh

peningkatan

kinerja

yang

sangat

pamong

besar
sekaligus

terhadap

perbaikan

mengurangi

dan

terjadinya

penyelewengan dan penyalagunaan jabatan dalam penyelengggaraan


pemerintahan desa.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Rekrutmen pegawai di desa Sentolo, menurut mereka merujuk pada
perda. Kepala desa dipilih langsung oleh masyarakat. Sedangkan pamong257

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pamong ada yang dipilih langsung ada yang melalui pengisian. Pengisian
dilakukan dengan seleksi tertulis dan sebelumnya mereka mengajukan
lamaran secara tertulis kepada panitia penyelenggara rekrutmen.
Perangkat desa Sentolo, pada dasaranya memiliki motivasi menjadi
perangkat desa untuk mengapdi dan melayani masyarakat dengan baik.
Menurut mereka, mereka sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk
memperoleh imbalan dengan gaji yang besar, tetapi-semata-mata untuk
pelayanan publik. Penempatan pamong menurut mereka, sudah sesuai
dengan pengalaman, minat dan bakat dari masing-masing pamong,
karena di desa Sentolo dasarnya adalah rekrutem pamong yang dilakukan
secara terbuka melalui pemilihan dan pengangkatan. Untuk yang
pengangkatan dilakukan melalui proses seleksi. Lamaran untuk menjadi
pamong, khusnya untuk mengisi bagian yang lowong, tentu saja
berdasarkan minat dari masing-masing pelamar. Di desa Sentolo belum
pernah terjadi mutasi dan promosi. Kebanyakan kabag-kabag yang ada,
termasuk staf-staf desa menduduki masa jabatan mereka untuk waktu
yang lama.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM lurah dan pamong di desa Sentolo dilakukan
dengan berbagai cara, salah satunya melalui pelatihan-pelatihan yang
dibuat oleh pemerintah kabupaten atau pemerintah provinsi. Pelatihanpelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan sumber daya
manusia dan kinerja pamong desa.
9. Sistem Kompensasi
Kompenasi untuk lurah dan pamong di desa Sentolo, dilakukan
melalui pemberian tanah lungguh atau bengkok. Lihat table berikut.
Tabel Luas Bengkok
No
01

Jabatan
Kepala Desa

Luas Bengkok
12.600 meter

258

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

02
03
04
05

Carik Desa
Kabag-kabag
Dukuh-dukuh
Staf-staf

10.500 meter
8.400 meter
6.300 meter
5.250 meter

Selain memperoleh tanah bengkok, mereka juga memperoleh gaji


dari pemerintah kabupaten dan dari desa. Dari pemerintah kabupaten
mereka memperoleh jumlah gaji yang berbeda sesuai dengan keududkan
masing-masing. Lurah memperoleh 300 ribu rupiah yang diterima setiap
tiga bulan sekali. Sementara dari desa ada tambahan penghasilan yang
diseuaikan dengan kas keuangan desa. Dari penerimaan-penerimaan ini,
mereka masih merasa belum mencukupi. Menurut perangkat desa yang
kami

temui,

mereka

umumnya

merasa

kesejahteraannya

tidak

diperhatikan oleh pemerintah, padahal tugas pelayanan yang mereka


lakukan sangat besar, sampai dengan 24 jam.
10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi secara berkala di desa Sentolo dilakukan empat bulan

sekali, sedangkan evaluasi insidental dilakukan jika terdapat masalah


penting atau hal yang sangat urgen dilakukan. Evaluasi ini dipimpin
langsung oleh lurah dan ditindaklanjuti melalui program kerja atau
penanganan terhadap persoalan yang dipandang pokok tadi.
11. Purnatugas
Setiap pamong atau lurah yang purnatugas di desa Sentolo,
memperoleh 1/5 tanah lungguh dikalikan dengan masa jabatan.
Kompenasi yang lainnya dari kabupaten dan dari desa yang jumlahnya
tidak tentu.

12. Data Pamong

259

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Berdasarkan data yang ada, profil pegawai di desa Sentolo dapat


digambarkan sebagai berikut.
Tabel
Profil perangkat desa Sentolo dan masa jabatanya
No
01
02
03
04
05
06

Jabatan
Kepala Desa
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag Kemasyarakatan

Pendidikan
SLTA
SLTA
SR/SD
SLTA
SLTA
SLTP

Lama Masa Jabatan


Sejak 2001-sekarang
Sejak 1979-sekarang
Sejak 1979-sekarang
Sejak 1986-sekarang
Sejak 1991-sekarang
Sejak 1974-sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Masing-masing unit dan personel di desa Sentolo, dapat menjalankan
tugas pelayanan administrasi secara kompeten, sesuai dengan TUPOKSI
yang telah ditetapkan. Pelayanan kepada masyarakat sudah efisien dan
efektif. Menurut mereka efisien diukur dari tidak adanya pemborosan
anggaran yang digunakan untuk suatu program kerja, sedangkan efektif
diukur dari tercapainya program-program kerja dari masing-masing bagian,
baik program jangka panjang maupun program jangka pendek.
14. Kepuasan Masyarakat
Kunci pelayanan kepada masyarakat desa di desa Sentolo adalah
kepuasan masyarakat desa. Jika masyarakat sudah pusa, berarti pelayanan
berhasil. Sejauh ini menurut perangkat desa Sentolo, masyarakat merasa
puas dengan pelayanan pemerintah desa. Itu berarti pemerintah desa
berhasil dalam menjalankan tugasnya.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Pamong desa dan lurah desa Sentolo sudah dilengkapi oleh fasilitas
kerja yang cukup memadai. Mereka memiliki satu sepeda motor, 5 buah
mesin ketik, dua unit komputer dan satu line telepon yang bisa mereka
oprasikan dengan baik. Lihat table.
260

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Tabel Faslitas Desa Sentolo


No
01
02
03
04

Fasilitas pelayanan
publik
Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

Jumlah
(unit)
1 unit
1 unit
2 unit
5 unit

Kondisi
Baik
rusak
Baik
Baik

Berdasarkan pengamatan kami di desa Sentolo, buku-buku


administrasi pemerintahan masih belum lengkap dan belum berkembang
sesuai dengan kebutuhan. Tetapi menurut mereka, buku-buku yang
berkaitan dengan administrasi pemerintahan desa sudah lengkap, sesuai
dengan kebutuhan.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Akuntabilitas
dilakukan

dengan

publik

dalam

mekanisme

di

pelayanan
mana

kepada

masyarakat

masing-masing

bagian

bertanggungjawab kepada lurah. Lurah sendiri bertanggungjawab kepada


rakyat melalui BPD dan kepada Bupati melalui Camat. Dengan
mekanisme seperti ini, menurut mereka, pelayanan kepada masyarakat
dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

14. DESA SUKORENO


1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Pemerintah desa Sukoreno belum mengenal tentang RENSTRA
Desa. Tetapi mereka memiliki mekanisme perencanaan, khususnya untuk
pelaksanaan tugas dan pelayanan administrasi yang dimulai dari
penggalian aspirasi dan kebutuhan di tingkat RT/RW. Penggalian aspirasi
di tingkat RT/RW melibatkan semua warga masyarakat, kemudian
dilanjutkan ke tingkat pedukuhan. Di tingkat dusun, dilakukan dengan
mengikuti mekanisme MUSBANGDUS yang melibatkan RT/RW dan

261

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tokoh-tokoh masyarakat. Hasilnya diusulkan ke tingkat desa melalui


mekanisme MUSBANGDUS. Musbangdus diikuti oleh BPD dan seluruh
perangkat desa. MUSBANGDES ini disamping menjadi dasar perumusan
visi dan missi desa, juga menjadi dasar pembuatan PERDES. Dalam
PERDES desa Sukoreno sudah mencantumkan visi dan missi desa. Misi
tugas dan pelayanan administraisi desa Sukoreno jika dilihat dari potensi,
kemampuan pemerintah desa dan kebutuhan masyarakat, dipandang
sudah realistik. Pemerintah desa dipandang mampu menjalankan tugas
sesuai dengan kedudukannya dan bisa melayani kebutuhan masyarakat
dengan baik. Mereka juga bisa menjalankan tugas sesuai dengan potensipotensi yang ada di desa. Potensi desa umumnya sudah termuat dalam
monografi desa. Pemerintah desa berusaha bekerja keras untuk
menggarap potensi-potensi desa tersebut.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Menurut perangkat-perangkat desa yang kami wawancarai, pola
dan struktur organisasi pemerintah desa sudah sesuai dengan kebutuhan
masyarakat desa dan perangkat-perangkat yang ada di dalam struktur itu
mampu menjalankan tugas sesuai dengan kedudukannya. Umumnya desa
Sukoreno memiliki empat kabag yang sehari-hari bertugas untuk melayani
masyarakat antara lain; Kabag Pemerintahan, Kabag Ekonomi dan
Pembangunan, Kabag Kemasyarakatan dan Kabag Pendapatan Desa.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Menurut perangkat desa, masing-masing dari kabag-kabag yang
ada, sudah menjalankan tugas sesuai dengan kedudukannya. Kabag
Pemerintahan Desa misalnya bertugas untuk mengurus administrasi
kependudukan,

keamanan

dan

ketertiban,

Kabag

Ekonomi

dan

Pembangunan menangani urusan yang berkaitan dengan investai,


pembangunan fisik dan non fisik dan sebagainya. Di desa ini, nampak
sekali terdapat pembagian tugas dan fungsi yang sangat jelas. Masingmasing tugas dan fungsi dari kabag tertulis di papan yang terletak di
262

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

samping meja kantor masing-masing. Masing-masing bagian memiliki


kantor sendiri sendiri yang letaknya terpisah antara yang satu dengan
yang lain. Tugas dan pekerjaan di desa Sukoreno, terbagi merata antara
unit yang satu dengan unit yang lainnya. Ini tercermin dari pendapat
mereka yang mengatakan bahwa tidak ada perangkat desa yang merasa
mengalami kelebihan beban dalam menjalankan tugasnya. Kecuali carik
desa yang menjadi tangan kanan kepala desa. Sewaktu-waktu carik desa
menjalankan tugas kepala desa, apabila kepala desanya berhalangan
dalam menjalankan tugasnya.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antara unit atau antara bagian, maupun
dengan supradesa berjalan dengan baik, termasuk alur perintah dan
pertanggungjawaban.

Semua

bagian

atau

unit-unit

yang

ada

bertanggungjawab kepada kepala desa dan menjalankan tugas atas


perintah kepala desa. Kepala desa menjalankan tugas atas pertintah
supradesa. Dalam memberikan pertangguyngjawaban, masing-masing
bagian memberikan pertanggungjawaban kerja kepada kepala desa.
Kepala desa sendiri memberikan pertanggungjawaban kepada rakyat
melalui BPD. Dalam hal yang berhubungan dengan supradesa, kepala desa
bertanggungjawab kepada Bupati melalui Camat.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk kordinasi antara unit kerja biasanya di desa Sukoreno
dilakukan setiap tiga bulan sekali atau secara berkala setiap triwulanan.
Sedangkan untuk masing-masing bagian dilakukan setiap satu Minggu
sekali yakni setiap hari Senin. Dengan supradesa, dilakukan secara tidak
tentu, menunggu instruksi atau berdasarkan kebutuhan pemerintah
atasan.
6. Pengawasan
263

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Pengawasan internal di desa Sukoreno dilakukan oleh kepala desa


terhadap perangkat-perangkatnya, sedangkan pengawasan eksternal
dilakukan oleh rakyat melalui BPD dan oleh kabupaten melalui Camat.
Dalam hal pengawasan, kepala desa tunduk kepada BPD dan Camat,
sedangkan perangkat-perangkat desa tunduk kepada kepala desa.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Berkaitan dengan sistem rekrutmen pamong desa di desa
Sukoreno, menurut Bu Lurah, sudah dilakukan berdasarkan kompetensi,
disamping mempertimbangkan latar belakang pendidikan pamong, juga
dipertimbangkan pengalaman kerjanya. Mekanisme rekrutmen pamong
tidak didasarkan pada aspek like and dislike dengan Bu Lurah, dan juga
tidak didasarkan pada aspek kedekatan hubungan keluarga dengan Bu
Lurah, tetapi pengangkatan pamong desa didasarkan pada aspek
kecakapan dan kemampuan untuk menjalankan tugas sesuai dengan
bidang yang telah ditunjuk atau dipercayakan. Umumnya motivasi mereka
untuk menjadi pamong adalah untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat dengan sebaik-baiknya dan motivasi Bu Lurah sendiri menjadi
Lurah adalah untuk menjalankan kepercayaan rakyat, khususnya supaya
kesejahteraan hidup masyarakat desa dapat tercukupi. Pada umumnya
mereka berpendapat bahwa menjadi lurah dan pamong bukan atas dasar
kemauan mereka, tetapi benar-benar karena dipercaya oleh masyarakat.
Menurut Bu Lurah, penempatan pamong sudah sesuai dengan kompetensi
dan juga dipertimbangkan sesuai dengan bakat dan minat dari masingmasing pamong. Ketika ditanya, apakah mereka menemukan kendala
teknis administrative dalam menjalankan tugas ? Umumnya mereka
menjawab belum menemukan kesulitan, karena sejauh ini semuanya
berjalan dengan baik. Di desa Sukoreno selama Bu Lurah menjadi lurah,
belum pernah terjadi mutasi atau promosi jabatan yang dilakukan kepada
masing-masing pamong, terkecuali ada seorang dukuh yang meninggal
(Dukuh blimbing), kemudian digantikan oleh dukuh yang baru, sementara
264

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang lain digantikan karena usia sudah lanjut, seperti dukuh kalimenur.
Mutasi yang murni dilakukan karena kesalahan atau untuk tujuan
perbaikan peayanan belum pernah dilakukan. Setiap jabatan juga tidak
dipromosikan, tetapi intinya siapa yang mau dan suka menjadi pamong,
dipertimbangkan dan diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk
mengusulkannya kepada lurah.
8. Pengembangan SDM
Berdasarkan wawancara yang kami lakukan dengan Bu Lurah, Bu
Lurah belum pernah mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan
dengan kedudukannya sebagai lurah, kecuali yang pernah diikuti adalah
pembekalan yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten setelah Bu
Lurah dilantik menjadi kepala desa. Sedangkan Carik desa sendiri, sudah
sering mengikuti berbagai macam pelatihan antara lain, pelatihan
kependudukan, SUSKALAK, dan sebagainya, sehingga bisa dikatakan
bahwa pa Carik sangat ahli di bidangnya. Berkaitan dengan kabag-kabag
yang lain, semuanya hampir sama dengan Bu lurah, mereka belum pernah
mengikuti pelathian yang secara khusus bertujuan untuk meningkatkan
sumber daya manusia mereka. Persoalannya menurut mereka, karena
sejauh ini pemerintah kabupaten belum pernah menggalakkan pelatihan
untuk para pamong, khususnya untuk meningkatkan pengetahuan mereka
berhubungan dengan tugas dan fungsi mereka di desa.
9. Sistem Kompensasi
Kompensasi untuk lurah dan pamong di desa Sukoreno sangat baik
dibandingkan dengan desa-desa yang lainnya. Ini dapat dilihat dari
kesejahteraan mereka yang cukup lumayan dibandingkan dengan pamong
atau lurah di desa yang lain. Untuk Lurah desa, memperoleh gaji dari
pemerintah kabupaten Kulon progo sebesar 225.000 rupiah yang diterima
tiap tiga bulan sekali, ditambah dengan tanah bengkok seluas 3 hektar.
Jika peniun dari lurah beliau tetap memperoleh kompenasi purnatugas
265

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

yang dihitung dengan cara 1/5 dari 3 hektar dikalikan dengan setengah
masa kerja. Table berikut dapat menggambarkan kompensasi yang
diperoleh lurah dan pamong di desa Sukoreno.
Table Luas Bengkok
No
Jabatan
Luas Bengkok
01 Kepala Desa
3 hektar
02 Carik Desa
2,5 hektar
03 Kabag-kabag 2 hektar
04 Dukuh1,2 hektar
Dukuh
05 Staf
1,1 hektar
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali. Evaluasi
yang melibatkan kabag-kabag dipimpin langsung oleh Bu Lurah.
Sedangkan evaluasi yang melibatkan staf-staf, dipimpin langsung oleh
masing-masing kabag. Evaluasi untuk masing-masing bagian dilakukan
juga setiap minggu sekali, khususnya setiap hari Senin.
11. Purnatugas
Selama Bu Lurah menjadi kepala desa, belum pernah melakukan
PHK. Untuk para pamong desa, setelah purnatugas mereka memperoleh
tanag bengkok yang menjadi jaminan setelah purnatugas yakni akan
mendapatkan 1/5 tanah bengkok dari luas bengkok yang ada dikalikan
dengan setengah dari masa jabatan. Tanah bengkok yang diberikan
kepada masing-masing lurah, tidak diambil dari tanah bengkok yang
diperuntukkan bagi pamong-pamong yang masih menjabat. Artinya
mereka yang telah purnatugas diberikan tanah bengkok yang baru.
12. Data Pamong
Profil

kepegawaian

pemerintahan

desa

Sukoreno

dapat

digambarkan sebagaimana tercermin dalam table berikut ini.

266

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Tabel
Pendidikan dan Lama Masa Jabatan Perangkat Desa Sukoreno
No
Jabatan
01 Kepala Desa
02
03
04
05
06

Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag
Kemasyarakatan

Pendidikan
Masa Jabatan
SLTA (purnatugasan 12 tahun
Guru)
S1

11 tahun

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Berdasarkan wawancara kami dengan perangkat-perangkat desa,
dalam

pelayanan

administrasi

desa,

masing-masing

bagian

sudah

menjalankan tugasnya dengan baik. Hanya saja menurut Pa carik, masalah


sumber daya manusia masih menjadi persoalan yang menonjol. Diakui
bahwa selama ini, sumber daya manusia yang ada belum memadai dalam
menjalankan tugasnya. Tetapi mereka sudah bekerja dengan maksimal,
sudah mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Pelayanan
yang diberikan oleh pemerintah desa kepada masyarakat desa, dipandang
sudah efisien dan efektif. Hal ini terbukti dari banyak agenda pembangunan,
pemerintahan, kemasyarakatan dan sebagainya mencapai hasil yang
memuaskan dan belum terdapat pemborosan anggaran yang dilakukan oleh
masing-masing bagian itu untuk mencapai tujuan.
14. Kepuasan Masyarakat
Menurut

perangkat-perangkat

desa

yang

kami

wawancarai,

masyarakat umumnya merasa sudah puas dengan pelayanan yang mereka


berikan. Hal ini terbukti dari tidak adanya komplain atau tuntutan
ketidakpuasan dari masyarakat terhadap kinerja pemerintah desa. Sejauh ini
menurut Bu Lurah, pemerintah desa sudah memberikan pelayanan yang
maksimal kepada masyarakat desa.
267

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

15. Sarana Kerja Pemerintah Desa


Desa Sukoreno merupakan salah satu desa yang kami jumpai di
Kabupaten Kulon Progo yang memiliki kelengkapan buku-buku registrasi
pemerintahan desa yang cukup up to date. Mereka memiliki semua buku
yang berkaitan dengan pemerintahan desa dengan papan-papan monografi
yang sangat lengkap. Lurah dan kepala desa memiliki fasilitas kerja yang
cukup memadai. Fasilitas yang cukup ini dapat dikatakan sebagai modal
pelayanan pemerintah desa yang cukup baik terhadap masyarakatnya. Table
berikut menggambarkan kepemilikan fasilitas yang menunjang kerja dan
pelayanan pemerintah desa Sukoreno.

No
01
02
03
04

Tabel Faslitas Desa Sukoreno


Fasilitas pelayanan publik
Jumlah
(unit)
Sepeda Motor
1
Telepon
1
Komputer
3
Mesin Ketik
2

Kondisi
baik
baik
baik
baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Akuntabilitas dalam pelayanan kepada masyarakat di desa Sukoreno
dilakukan secara langsung kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa
(BPD). Bu Lurah menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada rakyat
melalui BPD. Di Desa Sukoreno menurut Bu Lurah, BPD menjalankan tugas
dan fungsinya masih berdasarkan UU No.22/1999, belum beralih ke UU
No.32/2004. Sejauh ini menurut Bu Lurah, tidak ada masalah yang sangat
serius berkaitan dengan pertanggungjawaban Bu Lurah kepada masyarakat.

15. DESA TUKSONO


268

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)


Pemerintah desa Tuksono belum mengenal RENSTRA Desa, tetapi
mereka mempunyai mekanimse perencanaan pembangunan yang biasanya
dimulai dari penggalian aspirasi dan pendapat di tingkat RT/RW, kemudian
diteruskan ke tingkat pedukuhan. Di tingkat pedukuhan dikenal dengan
nama Musbangdus yang dihadiri oleh RT/RW, tokoh-tokoh masyarakat dan
anggota BPD yang ada dipedukuhan. MUSBANGDUS kemudian diteruskan
ke tingkat desa. Di desa namanya MUSBANGDES yang dihadiri oleh
perangkat-perangkat desa, kadus-kadus dan BPD. Musbangdus dan
Musbangdes ini memang prinsipnya didasarkan pada visi dan missi desa
yakni terciptanya masyarakat yang aman dan makmur. Visi ini termuat
dalam PERDES yang sedang dibuat. Misi tugas dan pelayanan administrasi
yang diselenggarakan di desa Tuksono dipandang realistik dari segi potensi,
kemampuan pemerintah desa dan kebutuhan masyarakat. Menurut
perangkat desa yang kami wawancarai, tugas dan pelayanan administrasi
yang dijalankan di desa mereka, sesuai dengan potensi desa yang sebagian
besarnya terdiri dari pertanian dan sebagiannya lagi industri anyamanyaman. Pelayanan administrasi dan tugas-tugas yang dilakukan oleh
perangkat desa kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang
terkait dengan bidang itu.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Berkaitan dengan pola dan struktur organisasi, di desa Tuksono
menurut perangkat desa, dibentuk berdasarkan kemampuan dan kapasitas
aparat desa yang ada dan semaksimal mungkin mencerminkan kebutuhan
masyarakat. Namun setelah kami amati dalam struktur organisasinya, tidak
ditemukan adanya bagian khusus yang menangani urusan industri desa,
sesuai dengan visi dan missi desa untuk menjadi desa industri dan kerajinan.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi

269

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Berdasarkan wawancara kami dengan perangkat desa, termasuk


dengan kepala desa Tuksono, mereka mengatakan bahwa sejauh ini masingmasing unit dan pamong sudah bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi yang
dipegang oleh masing-masing bagian. Kabag pemerintahan misalnya
menjalankan tugas yang berkaitan dengan pemerintahan desa, kabag
kemasyarakatan menjalankan tugas yang berhubungan dengan masyarakat
desa, kabag pembangunan menjalankan tugas yang berkaitan dengan
pembangunan desa, baik pembangunan fisik maupun pembangunan nonfisik.
Di desa Tuksono, pembagian kerja dilakukan secara merata antara bagianbagian seperti antara bagian pemerintahan, kemasyarakatan, pendapatan dan
pembangunan. Sejauh ini, menurut mereka masing-masing bagian ini dapat
menjalankan tugasnya dengan baik. Belum pernah ada persoalan yang
berkaitan dengan adanya satu bagian yang merasa memiliki pekerjaan lebih
besar atau lebih banyak dari bagian yang lain. Prinsip dasarnya adalah bila
ada pekerjaan yang menumpuk pada salah satu bagian, dikerjakan secara
bersama.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antara unit dan dengan supradesa berjalan baik,
karena menurut perangkat-perangkat desa, di desa Tuksono semuanya
menjalankan tugas dan fungsi dengan sebaik-baiknya. Alur kerja di desa ini
sudah jelas, karena semua bagian memiliki rincian-rincian tugas yang dapat
mereka sebutkan dengan baik, seperti tugas kabag pemerintah desa yang
menangani dan mengurus keamanan dan ketertiban dan sebagainya.
Pertanggungjawaban kerja juga sangat jelas. Kabag-kabag bertanggungjawab
kepada kepala desa. Sedangkan kepala desa bertanggungjawab kepada rakyat
melalui BPD dan kepada Bupati melalui Camat, khusus untuk hal-hal tertentu
yang berkaitan dengan hubungan desa kabupaten, misalnya menyangkut
retribusi dan pajak.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
270

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Di desa Tuksono untuk melakukan kordinasi antara unit-unit kerja


dilakukan RAPAT Kordinasi desa yang dipimpin oleh kepala desa. Rapat ini
dipimpin langsung oleh kepala desa dan dihadiri oleh perangkat-perangkat.
Rapat secara berkala dilakukan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya untuk
menggali pendapat dan masukkan yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan desa.
6. Pengawasan
Di desa Tuksono, pengawasan internal dilakukan oleh kepala desa,
sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh pemerintah kabupaten dan
oleh mayarakat melalui BPD. Kepala desa secara rutin setiap hari mengawasi
pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh kabag-kabagnya. Sedangkan kepala
desa diawasi secara rutin oleh BPD dan oleh pemerintah kabupaten. Jika
kepala desa melakukan kesalahan, maka, kepala desa akan mendapat
ganjaran yang setimpal dengan kesalahannya yang diperoleh dari masyarakat
dan pemerintah kabupaten. Pengawasan ini menurut perangkat desa
Tuksono, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja aparat desa
dan penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari. Dengan adanya pengawasan
yang rutin baik yang dilakukan secara internal maupun yang diberikan oleh
masyarakat, maka pemerintah desa tidak bisa seenaknya menjalankan
pemerintahan desa. Pengawasan ini menurut mereka dapat meminimalkan
terjadinya kesalahan dan kekeliruan dalam menjalankan tugas sehari-hari.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan perangkat desa Tuksono,
rekrutmen pegawai yang dilakukan di desa Tuksono, sudah dilakukan
berdasarkan kompetensi dan menurut mereka tidak ada nuansa KKN.
Menurut mereka tidak ada hubungan keluarga antara perangkat desa yang
satu dengan yang lain. Pengangkatan mereka menjadi pamong desa pun tidak
ada indikasi menggunakan uang atau memanfaatkan hubungan kedekatan.
Menurut mereka tidak ada untungnya menjadi pamong desa, sehingga kurang
271

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

diminati oleh banyak orang. Kalau ada peminatnya barangkali nuansa KKNnya ada. Umumnya mereka menjadi pamong karena memilki motivasi untuk
melayani masyarakat dengan baik dan mau mengabdikan diri untuk
kepentingan masyarakat, mau melayani masyarakat desa 24 jam. Menurut
mereka motivasi ini jarang dimiliki oleh mereka-mereka yang sama sekali
tidak mempunyai minat untuk melayani masyarakat dengan baik. Menurut
perangkat desa Tuksono, penempatan pamong di desa Tuksono sudah sesuai
dengan kompetensi, pengalaman dan minat. Ini bisa dilihat dari profil
kepegawaian dan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas. Sejauh ini
belum ada keluhan dari masyarakat berkaitan dengan kompetensi para
pamong dalam menjalankan tugasnya. Di samping itu, belum ada para
pamong yang mengatakan bahwa mereka tidak berminat dengan bidang tugas
yang dijalankannya setiap hari. sejauh ini di desa Tuksono belum pernah
terjadi mutasi dan promosi kerja. Mutasi belum pernah dilakukan, kerana
kepala desa merasa belum perlu dilakukan mutasi, kecuali ditemukan adanya
kekeliruan atau kelemahan dari masing-masing kabag dalam menjalankan
tugas. Tetapi sejauh ini mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

8. Pengembangan SDM
Menurut para pamong, mereka belum pernah mengikuti pelatihan
yang secara khusus bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia
mereka, terutama untuk menambah wawasan berkaitan dengan tugas
pelayanan mereka di desa. Pemerintah kabupaten selama ini menurut
mereka, hanya melakukan pembinaan, instruksi dan perintah yang berkaitan
dengan tugas yang harus dijalankan oleh masing-masing pamong. Sedangkan
bagaimana tugas itu dijalankan, belum pernah diadakan pelatihan secara
khusus.
9. Sistem Kompensasi
272

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Selama ini lurah dan pamong memperoleh kompenasi berupa gaji


yang secara rutin diberikan oleh pemerintah kabupaten setiap tiga bulan.
Besarannya

antara

lurah

dengan

pamong-pamong

berbeda.

Lurah

memperoleh Rp.300.000 per tiga bulan dan Carik juga memperoleh gaji yang
sama. Di samping perolehan gaji ini, mereka juga memperoleh pendapatan
lain yang jumlahnya tidak tentu, tergantung sumbernya. Mengenai sumbernya
sendiri menurut mereka tidak jelas. Lurah dan pamong juga memperoleh
tanah bengkok yang jumlahnya berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Tabel Luas Bengkok
No
01
02
03

Jabatan
Kepala Desa
Carik Desa
Kabag-kabag

Luas Bengkok
2,4 hektar
2 hektar
1,6

10. Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi kerja secara berkala dilakukan setiap tiga bulan sekali.
Evaluasi dipimpin langsung oleh kepala desa. Sedangkan evaluasi incidental
dilakukan bila mana diperlukan, artinya tidak terjadwal. Evaluasi incidental
dilakukan apabila ada persoalan mendesak dan perlu diselesaikan segera.
Evaluasi ini ditindaklanjuti dalam bentuk laporan kerja yang dilakukan oleh
masing-masing unit atau bagian, kemudian dikoreksi dan dicarikan jalan
pemecahan jika ditemukan permasalahan yang bersifat mendasar.
11. Purnatugas
Sistem PHK di desa Tuksono dilakukan dengan memberikan uang
pesang RP. 500.000 per perorang yang telah purnatugas atau yang sudah
pension. Disamping itu, diberikan 1/5 dari tanah bengkok yang ada, dikalikan
dengan setengah masa kerja.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian desa Tuksono dapat dilihat di dalam table berikut;
273

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Tabel
Pendidikan dan Lama Masa Jabatan Perangkat Desa Tuksono
No
01
02
03
04
05
06

Jabatan
Kepala Desa
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag
Kemasyarakatan

Pendidikan
S1
SLTA
SD
SLTA
SLTA
SLTA

Lama Masa Jabatan


Sejak 2003-sekarang
Sejak 2002-sekarang
Sudah purnatugas
Sejak 2002-sekarang
Sejak 2002-sekarang
Sejak 2002-sekarang

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Dalam pelayanan administrasi, masing-masing unit sudah bisa
dikatakan bekerja secara kompeten. Tetapi jika ada persoalan dan menuntut
keterlibatan pihak lain yang ada di luar bidang yang dijalankan, maka bisa
dibantu. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sudah maksimal
secara efektif dan efisien. Sejauh ini seluruh target dan perencanaan kegiatan
dan program desa terlaksana dan terwujud dengan baik. Di samping itu,
pemerintah desa juga menggunakan anggaran sehemat mungkin dan sejauh
ini di desa Tuksono belum ada kasus yang berkaitan dengan KKN yang
dilakukan oleh perangkat desa.
14. Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat menjadi ukuran utama dalam pelayanan
pemeintah. Sejauh ini masyarakat merasa pelayanan pemerintah sudah baik.
Pemerintah pun belum menemukan adanya kasus yang menunjukkan bahwa
masyarakat tidak puas dengan pelayanan pemerintah.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Di desa Tuksono, buku-buku administrasi dan register desa belum
terlalu lengkap dan bahkan kurang up to date. Kami melihat bahwa kendala
utama kekurangan data ini adalah kurangnya pengetahuan dan informasi

274

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tentang data-data dan buku-buku yang sangat penting yang harus dimiliki
oleh desa. Ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa ketika kami membutuhkan
data yang berkaitan dengan pendidikan dan masa jabatan pamong desa,
mereka masih mencatatnya secara manual dan tidak lengkap. Jika
dibandingkan dengan desa-desa yang lain yang ada di Kabupaten Kulon
Progo, lurah dan perangkat desa Tuksono sudah didukung oleh fasilitas yang
memadai.

Table

berikut

dapat

menggambarkan

fasilitas

pelayanan

administrasi dan penunjang tugas mereka sehari-hari.


Tabel Faslitas Desa Tuksono
No
01
02
03
04

Jumlah
(unit)

Fasilitas pelayanan publik


Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

1
1
2
3

Kondisi
baik
baik
baik
baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Akuntabilitas publik dalam pelayanan kepada masyarakat dilakukan
melalui laporan pertanggungjawaban kepala desa yang secara regular
disampaikan kepada masyarakat melalui BPD. Selama ini BPD merasa bahwa
pemerintah desa sudah menjalankan amanat, aspirasi dan kehendak
masyarakat dengan baik, sehingga tidak ada pendapat yang mengatakan
bahwa masyarakat menilai pemerintah tidak bertanggungjawab.
16. DESA KARANGSARI
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Karangsari belum memiliki Renstra Desa, dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunan. Program kerja tsb, dibuat oleh pamong

275

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

desa beserta BPD. Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan
administrasi kepada masyarakat dilakukan dengan model kerja sama,
(manajemen terbuka), sehingga setiap masyarakat yang membutuhkan
pelayanan dapat dilakukan oleh setiap pamong, tidak terpaku harus kepada
Kepala Bagian yang membidangi sesuai dengan tupoksinya masing-masing.
Diantara aparat desa saling bekerja sama, saling mengisi dan saling terkait
dalam melaksanakan tugas, tetapi setiap pamong telah melaksanakan tugas
sesuai dengan tupoksi

berdasarkan Perda No. 2 Thn 2001. Kerja sama

tersebut dimaksudkan agar tugas pekerjaan pemerintah desa dapat


diselesaikan dengan baik.
1. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi di desa Karangsari masih mengacu pada
pola dan struktur organisasi berdasarkan UU No.22/1999. Sejauh ini belum
dilakukan perubahan pola dan struktur organisasi yang paling mendasar.

2. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi


Pembagian kerja tidak merata, karena terbatasnya staf, sehingga
kadang-kadang carik merangkap sebagai pengantar surat, disuruh fotokopi
dan lain-lain. Tugas Kabag Pendapatan terlalu sibuk karena semua laulintas
keuangan melalui satu pintu. Saat ini Desa Karangsari baru memiliki 1 orang
staf, yang membantu Lurah, Carik, dan semua Kabag. Jabatan staf yang
kosong tidak diisi mengingat tanah bengkoknya sangat sempit Sedangkan
mantan Kabag Umum diperbantukan untuk menjadi sekretaris BPD.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat menjalankan
tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing.

276

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa


Setiap tanggal 5 diadakan rapat koordinasi pamong desa yang terdiri
dari Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se Desa
Sendangsari.

Koordinasi

dilakukan

untuk

membahas

persoalan-

persoalan/hal-hal yang terjadi di desa tersebut antara lain :


a. Membahas tugas-tugas pamong
b. Masukan-masukan masyarakat lewat Kepala Dukuh
c. Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana
bantuan dari Pem Desa ataupun dari Pem Kab.
Setiap tanggal 15 diadakan rakor tingkat kecamatan yang diikuti oleh
seluruh desa sewilayah Kecamatan Pengasih, dan setiap tanggal 17 rakor di
Kabupaten. Semenjak diberlakukannya UU No 22 tahun 1999 UU No 32
tahun 2004, Pemerintah Kabupaten sudah tidak lagi banyak memberikan
perintah kepada desa, melainkan informasi-informasi penting yang
disampaikan melalui rakor tingkat kabupaten. Demikian pula dalam
pelaksanaan tugas pemerintahan desa dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat melalui BPD. Tata hubungan kerja antar instansi sudah jelas,
walaupun sering terjadu over lapping.

Langkah-langkah yang ditempuh

untuk rakorbang. Masing-masing Kabag mempersiapkan bahan untuk


dibicarakan dalam rapat koordinasi. Sedangkan intensitasnya, rapat
koordinasi tingkat desa sebulan sekali, bahan yang harus disiapkan antara
lain, evaluasi hasil rapat bulan yang lalu, laporan pelaksanaan tugas yang
telah

selesai dikerjakan,

dan

kendala yang dihadapi,

inventarisasi

permasalahan di dukuh-dukuh dan alternatif solusinya, rencana kerja dll.


Rapat koordinasi tingkat kecamatan, bahan yang dipersiapkan adalah
rencana kerja usulan desa, evaluasi program kerja, persoalan-persoalan yang
muncul di desa dll. Pimpinan rapat adalah kepala desa. Sedangkan ditingkat
kabupaten diadakan rakorbang, yang membahas berbagai program kerja
yang telah lalu, terutama program yang memperoleh bantuan APBD, usulanusulan pembangunan desa dll.

277

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern. Pengawasan
internal dilakukan oleh;
a. Lurah desa melakukan pengawasan melekat dengan cara melakukan
pendekatan, mengajukan pertanyaan tentang tugas dan pekerjaan
yang telah dilaksanakan, atau persoalan-persoalan yang dihadapi
dalam pelaksanaan tugas.
b. Pengawasan yang dilakukan BPD dalam hal keuangan

meliputi

perhitungan anggaran dan bukti-bukti pengeluaran.


Pengawasn

eksternal

dilakukan

oleh

BAWASDA

melakukan

pemeriksaan keuangan desa tidak terjadwal, pernah dalam satu tahun 2


kali pemeriksaan. Dengan dilakukannya pengawasan ternyata berdampak
pada perbaikan kinerja aparat desa antar lain, termotivasi untuk lebih
teliti dan tertib dalam melaksanakan tugas dan fungsinya lebih hati-hati.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong Desa Karangsari;
a. Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan langsung
oleh rakyat
b. Kabag dan Staf diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh
Pemerintah Kabupaten, penentuan akhir dimusyawarahkan antara
lurah desa dengan BPD. Dengan berdasarkan pada perolehan nilai
tertinggi hasil test maka, kemudian ditetapkan sebagai personal
yang mengisi jabatan yang kosong.
Pengisian pamong desa telah berlangsung sesuai dengan peraturan
yang berlaku, dan tidak ditemukan adanya indikasi KKN. Motivasi
menjadi pamong disamping mengemban amanah, tetapi juga mengabdi
kepada kepentingan rakyat, karena jika dilihat dari segi penghasilan
sebagai pamong, ternyata sangat jauh dari yang diharapkan. Selain itu
beberapa pamong

meneruskan jasa orang tuanya yang dulu juga

menjabat sebagai pamong desa. Penempatan pamong sebagian telah


278

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sesuai dengan minat dan kemauan masing-masing personal tetapi


sebagian belum sesuai. Bagi yang belum sesuai disebabkan oleh karena
faktor usia dan tingkat pendidikan. Misalnya Kabag Pemerintahan yang
telah berusia 64 tahun, berpendidikan SMP, sangat susah untuk
menerima introduksi baru.

Di Desa Karangsari sampai saat ini belum

pernah terjadi mutasi antar personal dari masing-masing bagian.


8. Pengembangan SDM
Semenjak diberlakukannya UU nomor 22 tahun 1999 dan UU nomor
32 tahun 2004 tidak pernah ada pelatihan.

Pernah ada pelatihan yang

berkaitan dengan penanganan kemiskinan selama 3 hari di Kaliurang.


9. Sistem Kompensasi
Kompensasi terhadap perangkat desa dilakukan dengan dua cara
yakni melalui pemberian tanah bengkok dan penggajian yang diterimakan
per tiga bulan sekali.
Luas tanah bengkok pamong desa Karangsari
No
01
02
03
04
05
06

Jabatan
Lurah
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag. Pembangunan
Kabag. Pendapatan
Kabag Kesra

Luas bengkok
8.600 m2
7.100 m2
5.700 m2
5.700 m2
5.700 m2
5.700 m2

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).
a. Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan
a. Carik sebesar Rp. 100.000/bulan
b. Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan
c. Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan
279

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

d. Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.


TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI dengan
membawa

buku

rekeningnya

masing-masing.

Untuk

memenuhi

kebutuhan hidupnya diantara pamong banyak yang memiliki penghasilan


dari sektor lain, seperti lurahnya berstataus sebagai PNS, isterinya bidan,
Bucarik menjadi TKW, Kabag pemerintahan isterinya dagang, kabag
pendapatan

suaminya

guru,

Kabag

kesar

mempunyai

pekerjaan

sampingan sebagai pedagang kambing.


10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi secara resmi tidak ada. Evaluasi dilakukan, jika ada
kebutuhan dan persoalan yang memang benar-benar mendesak.

11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purnatugas diberikan
penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok
saat masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12.Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa Karangsari
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.
Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra
Staf
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Usia (th)
50
58
64
52
54
53
61
46
59
56
63
53
49
63
62

Tingkat
Pendidikan
SLTA
SLTP
SLTP
SLTA
SLTA
SD
SD
SLTP
SD
SLTA
SD
SLTA
SLTA
SLTP
SD
280

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

16

Dukuh

65

SD

13.Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi dari masing-masing personal pamong telah sesuai dengan
bidangnya. Terbukti semua urusan yang berkait dengan tugas-tugas pokok
dapat diselesaikan dan dipertanggung jawabkan setiap tahunnya. Pelayanan
kepada masyarakat sudah cukup efektif, setiap keperluan masyarakat dapat
secara cepat dilayani dan juga efisisen karena semua pamong dapat melayani
kebutuhan masyarakat secara all round.
14.Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat sebagai ukuran keberhasilan penyelenggaraan
pemerintahan desa, sehingga pelayanan kepada masyarakat. merupakan
faktor utama yang harus diprioritaskan. Sebagian besar masyarakat merasa
sudah terpuaskan.
15.Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah cukup
banyak. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah sampai
semester I tahun 2005. Fasilitas kerja pamong untuk melayani masyarakat
sudah cukup memadai. Dalam menjalankan tugas hariannya pamong telah
menempati ruang kerja, yang masing-masing berada pada ruangan yang
terpisah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana kerja yang ada.
Misalnya meja, kursi, almari dll. Walaupun masih dirasa kurang Desa
Karangsari telah memiliki 1 unit komputer untuk melayani semua kebutuhan
administrasi desa tersebut. Inventaris sepeda motor 1 buah bantuan pemkab.
sebagai kendaraan operasional lurah desa. Telpon 1 unit, mesin ketik 5,
almari 8, meja 15, kursi lipat 138, kursi biasa 85, meja biro 8 filing kabinet 3
buah.

281

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


LPJ yang dibuat oleh lurah desa diajukan ke BPD sebagai representasi
rakyat dapat diterima, walaupun sering ada revisi sedikit. Setiap saat
penduduk dapat melihat LPJ yang telah dibuat lurah desa, berarti pamong
desa

Karangsari

mengembangkan

sifat

keterbukaan

dalam

mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.


17. Desa Margosari
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Salah satu ciri organisasi modern adalah penyelenggaraan
administrasi yang dibimbing dengan sebuah perencanaan strategis
( Renstra ) organisasi yang disusun secara realistis. Realitas perencanaan
itu dibuat atas dasar pertimbangan kekuatan dan peluang serta hambatan
dan ancaman yang ada baik dalam internal organisasi maupun lingkungan
eksternal organisasi. Demikian pula dalam penyelenggaraan organisasi
Pemerintahan Desa, renstra desa akan membantu sekaligus membimbing
organisasi Pemerintah Desa dengan segenap kekuatan dan potensinya
dalam rangka mencapai tujuan. Aktivitas manajemen dan administrasi
Pemerintah Desa, termasuk didalamnya pelayanan publik bidang
administrasi akan memiliki tujuan dan manfaat yang jelas dalam
mendukung kinerja Pemerintah Desa secara umum ketika dilaksanakan
berdasarkan renstra yang telah disusun sebelumnya. Namun kenyataan
bahwa, belum banyak Pemerintah Desa yang memiliki Restra, termasuk di
Desa Margosari Kecamatan Wates, Kab. Kulon Progo. Pembuatan
perencanaan sudah dilakukan namun masih menggunakan model dan
proses

konvensional,

sehingga

perencanaan

tersebut

belum

menggabarkan visi, misi, strategi, dan program-program yang akan


dicapai dan dilaksanakan. Dari hasil wawancara dengan Iswartoyo (15 Juli
2005) selaku Carik Desa Margosari, diketahui bahwa, renstra desa belum
ada. Perencanaan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, khususnya
282

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

bidang organisasi manajemen dan pelayanan administrasi dibuat oleh


Pamong Desa tanpa keterlibatan warga secara nyata. Keterlibatan DukuhDukuh dalam proses pembuatan perencaanaan dianggap sebagai
perwakilan dari warga secara keseluruhan, yang kemuadian diakomodir
oleh Pemerintah Desa. Selanjutnya perncanaan yang telah tersusun
disampaikan dalam forum bersama Badan Perwakilan Desa (BPD).
Setelah digodog bersama dan disetujui oleh BPD, perencanaan itu
disahkan oleh Kepala Desa antara lain dalam bentuk Peraturan Desa dan
APBDes.
Khusus dalam kaitannya dengan perencanaan bidang manajemen
dan pelayanan administrasi, tidak secara nyata dimasukkan dalam prosen
perencanaan bersama dengan BPD. Dengan demikian perncanaan masih
banyak ditentukan oleh Pemerintah Desa, dengan mendasarkan pada
aturan, pedoman, dan prosedur yang ditentukan oleh Pemerintah supra
desa atau mendasarkan diri pada kebiasaaan yang sudah berlaku.
Perencanaan dalam organisasi Pemerintah Desa sangat penting untuk
menentukan tujuan organisasi, program kerja, pembagian kerja, dan lainlain. Perencanaan itu dibuat dalam sebuah perencanaan strategis atas
dasar analisis strategis terhadap segala potensi yang ada bagi dari sisi
internel organisasi maupun eksternal organisasi. Perencanaan bidang
organisasi manajemen termasuk bagian dari perencanaan strategis
Pemerintah Desa, khususnya untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai
dalam aktifitas administrasi Pemerintah Desa. Carik Desa Margosari (15
Juli 2005) mengatakan bahwa, perencanaan dibuat oleh Pamong Desa
dengan yang kemudian digodog bersama dengan BPD untuk mendapat
persetujuan. Namun perencanaan khusus untuk organisasi manajemen
dan pelayanan bidang administrasi tidak eksplisit dirumuskan.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Dari hasil wawancara dengan Saronto ( 15 Juli 2005 ) selaku Lurah
Desa Margosari, diketahui bahwa pola dan struktur oranisasi yang
283

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

digunakan

adalah

berdasarkan

pada

undang-undang

dan

Perda

Kabupaten Kulon Progo. Disambung oleh Iswartoyo bahwa dengan


struktur tersebut untuk saat ini masih mencukupi untuk kebutuhan
pelayanan bidang administrasi kepada masyarakat. Dengan demikian
meskipun tingkat kebutuhan pelayanan masyarakat makin tinggi, namun
untuk pelayanan masih bisa di cover melalui struktur tersebut.
Persoalannya sebenarnya bukan terletak pada strukturnya, namun pada
kinerja pelayannya.
Keterangan Nama Pejabat :

3.

a.

Lurah

: Saronto

b.

Carik

: Iswartoyo

c.

Ka. Bag. Pemerintahan

: Arif Widodo

d.

Ka. Bag. Pembangunan

: Mulyana

e.

Ka. Bag. Keuangan

: Suyatno

f.

Ka. Bag. Kemasyarakatan

: Mursanto

g.

Sek. BPD

: Mujimun

h.

Dukuh-Dukuh, dari 9 pedukuhan :


- Daliman

- Djamal Muh. Subari

- Supardi

- Sutiyono

- Siswodiharjo

- Pairun

- Susilo

- Sukamto

- Suyadi

- Suparman

3. Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi


Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) baik Lurah, Kepala Bagian,
Dukuh, maupun staf secara umum telah mengacu pada Perda Kabupaten
Kulon Progo Nomor: 2 Tahun 2001. Sebagaimana pendapat Kepala Bagian
Kemasyarakatan Desa Margosari (15 Juli 2005) mengatakan bahwa,
melaksanakan tugas Pamong lainnya dilakukan tatkala Kepala Bagian
yang

bersangkutan

tidak

ditempat,

agar

pelayanan

tetap

dapat

diselenggarakan tanpa menunggu Kepala Bagian yang sesuai bidangnya.


284

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Kepala Bagian dan Carik seringkali saling membantu atau melaksanakan


pelayanan administrasi yang seharusnya bukan pada bidangnya. Namun
untuk urusan-urusan prinsip, misalnya urusan nikah, tetap ditangani oleh
Ka. Bag Kemasyarakatan, karena urusan itu tidak bisa ditangani oleh
Kepala Bagian lainnya.
3. Tata hubungan antar unit kerja maupun dengan supra desa
Tata hubungan kerja antar unit kerja berkenaan dengan alur
perintah dan pertanggungjawaban, dan kerja sama dalam pelaksanaan
tugas dan fungsi masing-masing. Dari hasil FGD dengan Pemerintah Desa
Margosari (15 Juli 2005) misalnya, dapat diketahui bahwa tata hubungan
antar unit kerja secara formal mengikuti ketentuan yang berlaku
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah maupun Peraturan
Daerah Kababupaten Kulon Progo. Namun dalam praktek pelaksanaan
administrasi sehar-hari, tata hubungan itu sangat fleksibel. Perintah dari
Lurah kepada unit dibawahnya bukan bersifat instruktif, melainkan lebih
menekankan anjuran atau ajakan, demikian pula pertanggungjawaban
unit bawah kepada Lurah juga lebih bersifat formalitas dalam bentuk
penyampaian laporan. Namun atas laporan tersebut selama ini belum
pernah ada tindakan lebih lanjut secara konkrit.
Selanjutnya mengenai tata hubungan dengan supra desa secara
umum, baik dengan pihak Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah
Kabupaten, didasarkan pada ketentuan perundang-undangan yang
berlaku. Untuk saat ini tata-hubungan itu masih banyak mengacu pada
UU No. 22 tahun 1999 dan berbagai aturan pelaksanaanya, karena Perda
yang baru sesuai dengan UU No. 32 tahun 2004 belum dibuat. Misalnya
dalam hal Laporan pertanggungjawaban Lurah, masih tetap disampaikan
kepada BPD, karena sampai saat ini belum ada perda yang mengatur
tentang pembubaran BPD.
Alur perintah dari Pemerintah Kabupaten kepada Pemerintah Desa,
khususnya menyangkut pelaksanaan administrasi Pemerintah Desa dan
285

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pelayanan administrasi. Selama ini tetap berjalan sebagaimana biasanya,


yakni perintah datang dari dinas-dinas terkait melalui Pemerintah
Kecamatan. Alur perintah dari Kabupaten juga sering dilakukan oleh
Kabupaten melalui surat perintah atau surat edaran, yang kemudian
dibicarakan

dalam

rapat

koordinasi

dengan

Kecamatan.

Adapun

pelaporan atas kegiatan administrasi, misalnya berupa data-data


administrasi kependudukan, pembangunan, kamtibmas, dan lain-lain
disampaikan secara langsung oleh Pemerintah Desa kepada dinas-dinas
atau unit-unit terkait di Pemerintah Kabupaten.
4. Koordinasi antar unit maupun dengan supra desa.
Koordinasi dengan Pemerintah supra desa lebih banyak bersifat
formal dalam forum-forum rapat resmi. Koordinasi Pemerintah Desa
dengan Pemerintah kecamatan Dalam forum resmi itu pengarahan dan
pemberian petunjuk banyak diberikan oleh pejabat-pejabat terkait,
sedangkan Pemerintah Desa lebih bersifat sebagai penerima. Selain
kordinasi melalui forum resmi itu, beberapa juga dilaksanakan melalui
surat edaran, surat pengumuman, dan lain-lain, namun koordiasi yang
bersifat

informal

relatif

jarang

dilakukan.

Koordinasi

bidang

pembangunan dengan Pemerintah Kecamatan maupun dengan pihak


Pemerintah Kabupaten dilakukan dalam bentuk rapat UDKP dan Rapat
Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) yang dilakukan setahun sekali.
Rapat koordinasi pembangunan itu merupakan hasil koordinasi atau
musyawarah di tingkat pedukuhan (Musbangdus) dan koordinasi di
tingkat Desa (Musbangdes).
Kusus untuk koordinasi internal Pemerintah Desa dilaksanakan
cukup fleksibel dan lebih banyak dilakukan dalam bentuk infomal. Hasil
FGD dengan Lurah dan Pamong Desa Margosari (15 Juli 2005) diketahui
bahwa, interaksi secara langsung dengan berbincang-bincang antar Lurah
dengan pamong maupun antar Pamong sangat sering dilakukan.
Nampaknya koordinasi-koordinasi informal ini justru lebih mudah
286

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dilakukan dan lebih efektif dalam memotivasi kinerja para pamong, hal itu
juga terjadi karena jumlah Pamong yang relatif sedikit, sehingga
koordinasi formal justru kurang efektif. Dengan demikian rapat-rapat
koordinasi formal antar unit jarang dilakukan, namun cukup sering
dilakukan dengan dengan BPD.
6. Pengawasan
Pengawasan terhadap kinerja Pemerintah Desa dalam kegiatan
administrasi

Pemerintah

administrasi

kepada

Desa,

masyarakat,

termasuk

dalam

merupakan

aktivitas

langkah

pelayanan

penting

guna

meningkatkan kualitas kinerja. Disamping itu dengan pengawasan efektif


diharapkan berbagai kemungkinan penyimpangan dan penyalah-gunaan
wewenang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Saronto (15 Juli 2005)
selaku Lurah Desa Margosari, diketahui bahwa, secara internal Lurah telah
melakukan pengawasan terhadap kinerja para Pamong dan staf dibawahnya.
Namun pengawasan itu tidak dilakukan dengan ketat, mengingat bahwa
kompensasi yang diterima Pamong dan staf di bawahnya sangat terbatas.
Tidak adanya aturan mengenai aturan dan instrumen evaluasi kinerja,
menyebabkan mekanismen pengawasan terhadap kinerja para Pamong dan
staf masik sulit dilaksanakan.
Pengawasan yang sangat terbatas itu berimbas pada keterbatasan
pemberian punish and reward atas pelanggaran atau kesalahan Pamong dan
staf. Sebagaimana pernyataan Lurah dan diperkuat pernyataan Sekretaris
BPD (15 Juli 2005) bahwa, Lurah maupun Carik hampir tidak pernah
memberikan sanksi kepada Pamong dan staf, meskipun Pamong indisipliner.
Katakanlan Para Pamong sering datang siang, meninggalkan kantor pada saat
jam kerja, maupun pulang lebih awal, ternyata Lurah tidak pernah menegur
apalagi memberi peringatan keras. Bahkan Sekretaris BPD menyatakan
bahwa, Lurahnya sendiri sering mbolos. Artinya Lurah sendiri kurang
mampu memberikan tauladan kepada para Pamong dan stafnya, sehingga

287

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tidak mengherankan jika akhirnya Lurah kurang berani menegakkan disiplin


kerja Pamong dan stafnya.
Secara ekternal, pengawasan kinerja Pemerintah Desa dilakukan oleh
BPD maupun oleh Pemerintah supra desa. Menurut Iswartoyo (15 Juli 2005)
selaku Carik, menyatakan bahwa pengawasan BPD selama ini kurang efektif.
Pengawasan itu jarang dilakukan oleh BPD, terutama dalam kinerja
administratif, semantara BPD sendiri masih merasa ewuh-pakewuh dalam
mengawasi kinerja Pemerintah Desa. Jadi sepanjang pertanggungjawaban
Lurah kepada BPD sudah dianggap baik dan diterima, maka pengawasan
sudah dianggap cukup, sehingga BPD kurang mengawasi kinerja Pemerintah
Desa, khususnya terkait dengan kegiatan administrasi.
Hasil konfirmasi dengan Ketua BPD (15 Juli 2005), juga dapat diketahui
bahwa akhir-akhir ini pengawasan BPD makin tidak efektif, terkait dengan
kewenangan BPD yang mengalami degradasi akibat berubahan UU No. 22
tahun 1999 menjadi UU No. 32 tahun 2004. Pada masa jabatan Lurah
sebelumnya, sebenarnya pengawasan dilakukan cukup baik oleh BPD
terhadap kinerja Pemerintah Desa. BPD saat itu pernah melakukan beberapa
kali terhadap kinerja Pemerintah Desa, meskipun tidak sampai langkahlangkah tindak lanjut. Langkah pengawasan yang cukup besar pernah
dilakukan dengan melaporkan kinerja Pemerintah Desa pada Badan
Kepegawaian Daerah (BKD) Kulon progo, dengan harapan BKD akan
melakukan pembinaan terhadap Pemerintah Desa, khususnya lurah. Namun
BKD-pun tidak melakukan langkah pembinaan secara konkrit, apalagi
memberhentikan Lurah.
Sanksi berat tidak dilakukan meskipun Kinerja Lurah saat itu rendah,
hal itu dilakukan karena keterbatasan kewenangan Pemerintah Daerah
terhadap Pemerintah Desa. Sanksi juga tidak dilakukan secara konkrit akibat
kekhawatiran dan kemungkinan munculnya perlawanan atau penolakan dari
warga pendukung Lurah. Dengan demikian kalaupun Pejabat dari Kabupaten
maupun dari Kecamatan datang ke Desa, itu pun hanya sekedar memberikan
himbauan maupun ajakan, dan tidak pernah secara tegas menegur, apalagi
288

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sampai memberikan sanksi yang lebih berat kepada personel-personel


pemerintah Desa.
7. Rekrutmen dan Penempatan SDM.
Konsep ideal dalam rekrutmen dan penempatan SDM adalah merit
sistem, dimana kompetesi, kapasitas, bakat-minat, keterampilan, dan
sebagainya menjadi pertimbangan. Khusus untuk Lurah sebagai pejabat
politik, rekrutmen dilaksanakan melalui mekanisme pemilihan langsung oleh
warga desa. Persyaratan administratif dan mekanisme pemilihan ditentukan
oleh Panitia Pemilihan yang terdiri dari BPD, Pemerintah Desa, dan Tokoh
Masyarakat, dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan terkait.
Rekrutmen Pamong atau staf dilakukan berdasarkan formasi yang ada,
yakni ketika terjadi kekosongan jabatan, maka dilakukan rekrutmen untuk
mengisi jabatan yang kosong itu melalui seleksi. Adapun seleksi dilakukan
oleh Pemerintah Desa atas pertibangan BPD terhadap calon-calon Pamong
yang mendaftar, yang mana materi seleksi disiapkan oleh Pemerintah
Kabupaten. Setelah seleksi, calon yang mendapat skore tertinggi diangkat
menjadi Pamong atau staf dengan Surat Keputusan Lurah.
Permasalahan dalam rekrutmen adalah, kesulitan menjaring personel
yang memiliki kompetensi, kapasitas, pengalaman, dan keterampilan yang
sesuai dengan jabatan yang akan diemban. Kesulitan antara lain karena
jumlah pendaftar sedikit, kesulitan mencari SDM

berkualitas dan

berpengalaman sesuai formasi, dan lain-lain. Dengan demikian mekanisme


rekrutmen itu tidak menjamin didapatkannya SDM yang berkualitas dan
profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi pada formasi yang ada.
Selanjutnya dijumpai kenyataan bahwa, dalam organisasi Pemerintahan
Desa tidak pernah dilakukan mutasi dan promosi. Hal itu terjadi karena
pengangkatan yang pertama kali dijadikan dasar untuk menduduki jabatan
tertentu seterusnya, disamping tidak adanya ketantuan yang mengatur
tentang kemungkinan dilaksanakannya mutasi dan promosi. Jadi sekali
menjabat dalam jabatan tertentu baik sebagai Carik, Ka. Bag, Kadus, maupun
289

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

staf, maka sampai dengan selesainya masa kerja tetap akan duduk pada
jabatan itu.
Dari hasil FGD (15 Juli 2005) secara diplomatis para Pamong
menyatakan bahwa, mereka tidak jenuh meskipun selamanya ada pada
jabatan itu. Tetapi ketika dikonfirmasi di luar FGF, Carik dan Sekretaris BPD
menyatakan bahwa sebenarnya para Pamong dan staf mengalami kejenuhan
dalam bekerja. Tetapi tidak ada jalan lain kecuali menerima kejenuhan itu,
karena mutasi dan promosi tidak dimungkinkan untuk jabatan dalam
Pemerintah Desa.
Menjumpai

kenyataan

tersebut,

secara

konseptual

jelas

tidak

memungkinkan terjadinya peningkatan kinerja pesonel organisasi, karena


makin lama seseorang ada pada jabatan yang sama, terjadi kecenderungan
makin menurunnya kinerja yang bersangkutan. Terlebih lagi bagi personel
yang sudah mendekati selesainya usia kerja, tentu penurunan kinerja itu
sangat dimungkinkan karena tidak ada harapan untuk memperoleh sesuatu
yang lebih baik.

8. Pengembangan SDM.
Pengembangan SDM, khususnya melalui pendidikan dan pelatihan
sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan dalam
rangka

pengembangan

organisasi

maupun

peningkatan

kinerja

dan

pelayanan kepada masyarakat. Hasil wawancara dengan Iswartoyo (15 Juli


2005) selaku Carik, diketahui bahwa selama ini para Pamong tidak pernah
mendapat pendidikan atau pelatihan dari instansi-instansi terkait maupun
dari pihak ketiga. Yang kadang-kadang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten
adalah sosialisasi peraturan perudang-undangan saja, tetapi pelatihanpelatihan seperti administrasi perkantoran, komputer, manajemen keuangan,
dan lain-lain belum pernah diterima. Kalaupun ada beberapa Pamong yang
menempuh pendidikan lanjut, itupun atas inisiatif dan biaya sendiri.

290

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Terbatasnya upaya pengembangan SDM tersebut tentu berakibat pada


menurunnya kinerja, karena tuntutan kinerja tentu makin meningkat.
Dengan

perkembangan

teknologi,

makin

kompleksnya

kebutuhan

masyarakat, perubahan sosial-ekonomi masyarakat, dan lain-lain, tentu sulit


diikuti oleh Pemerintah Desa, sebagai akibat lemahnya pengembangan SDM.
Meskipun demikian Pemerintah Desa sendiri tidak banyak upaya untuk
melakukan pengembangan SDM karena keterbatasan anggaran Pemerintah
Desa maupun keterbatasan penghasilan Pamong Desa.
9. Sistem Kompensasi.
Yang dimaksud kompensasi di sini adalah upah atau gaji sebagai
penghasilan tetap yang diterima Lurah dan Pamong Desa sebagai imbalan
atas pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan. Adapun bentuk kompensasi itu
dapat berbentuk uang atau natura yang setara. Kompensasi yang diterima
oleh Lurah dan Pamong pada umumnya berupa bidang tanah garapan yang
disebut bengkok ataupun kompensasi dalam bentuk uang yang berasal dari
Pemerintah.
Gambaran secara umum mengenai penghasilan Lurah dan Pamong Desa
disampaikan oleh Pemerintah Desa dalam FGD (15 Juli 2005) yang dapat
dikatakan sangat terbatas. Bengkok yang tersedia di Desa Margosari kurang
lebih seluas 9 Ha, yang digarap oleh Lurah, Pamong, dan staf dengan sistem
skala ganda, yakni jabatan pada struktur tertinggi memperoleh kompensasi
tertinggi dan makin rendah jabatan, makin rendah pula kompensasinya. Hasil
konfirmasi melalui FGD (15 Juli 2005) diketahui bahwa, luas bengkok 9 Ha
itu di bagi habis dengan perincian sebagai berikut :
a. Lurah

: 1 Ha

b. Carik

: 0,82 Ha

c. Kepala Bagian : 0,655 Ha


d. Dukuh

: 0,4 Ha

e. Staf

: 0,2 Ha

291

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Disamping kompensasi dari tanah bengkok, mereka juga memperoleh


penghasilan tambahan berasal dari Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang
diterimakan setiap 3 bulan sekali, dengan besarnya nominal bisa dikatakan
sangat kecil. Dari kedua sumber kompensasi itu, dapat diperkirakan
penghasilan rata-rata perbulan untuk Lurah kurang-lebih Rp. 300.000,- s/d
400.000,-, untuk Kepala Bagian Kurang lebih Rp. 200.000,-, dan untuk
Dukuh dan staf tentu makin rendah.
Besarnya kompensasi itu ternyata masih kotor, karena Lurah dan
Pamong

harus

mengeluarkan

sejumlah

uang

untuk

keperluan

kemasyarakatan seperti jagong, gotong-royong, sumbangan musibah, dan


lain-lain yang hampir setiap bulan harus dikeluarkan. Bahkan pengeluaran
itu kadang jumlahnya lebih dari penghasilan pokok yang diterima dalam
setiap bulannya. Besarnya nominal penghasilan itupun masih terancam
kemungkinan penurunan hasil panen akibat hama, kekeringan, harga hasil
panen menurun, dan lain-lain.
Persoalan lain yang cukup menjadi perhatian adalah kenyataan bahwa
Lurah, Pamong, dan staf tidaklah mendapatkan perlidungan atau jaminan
tenaga kerja seperti asuransi kecelakaan kerja, asuransi kesehatan, tunjangan
kesejahteraan, dan lain-lain sebagaimana umumnya aparat pelayanan publik.
Dengan demikian patut menjadi perhatian untuk masa-masa mendatang
ketika tuntutan terhadap kinerja mereka makin meningkat.
Dengan struktur, skala, dan besarnya nominal kompensasi yang diterima
itu, dapat dipastikan bahwa sistem kompensasi untuk Lurah dan Pamong
adalah tidak menarik dibandingkan beban dan tanggungjawab yang
seharusnya diemban. Ketika ditanya, mengapa mereka tetap bertahan ?
jawabnya karena mereka menjadi Pamong bukan sekedar mencari jenang
(pendapatan) akan tetapi juga mencari jeneng (nama/status). Untuk dapat
memenuhi kebutuhan keluarga, meraka terpaksa mencari penghasilan lain di
luar pekerjaan sebagai Lurah dan Pamong. Terungkap dalam FGD (15 Juli
2005) bahwa para Pamong ternyata memiliki pekerjaan samping yang justru
penghasilannya lebih besar, antara lain :
292

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

a. Carik, menjadi Ketua Asosiasi Tebu Kulon Progo;


b. Ka. Bag. Pemerintahan berwiraswasta sebagai juragan ayam;
c. Ka. Bag. Pembangunan berwiraswasta sebagai peternak sapi;
d. Ka. Bag. Keuangan menjadi kontraktor;
e. Ka. Bag. Kemsyarakatan memiliki usaha grosir sembako;
Demikian pula staf dan sebagian besar Dukuh mempunyai pengasilan
sampingan, yang nampaknya justru menjadi penghasilan utama.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa sistem kompensasi itu tentu
tidak mampu memotivasi kinerja para Pamong Desa dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya dengan baik, khususnya dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat. Bahkan ada kemungkinan rendahnya kompesasi itu
mendorong Pamong Desa untuk melakukan praktek KKN.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi terhadap kinerja pamong dilakukan secara internal yakni
dilakukan oleh Lurah, terhadap prangkat-prangkatnya. Tetapi evaluasi itu
tidak dilakukan secara reguler, hanya dibuat sepanjang ada kebutuhan yang
mendesak dan ada persoalan yang dihadapi oleh masing-masing prangkat.
Hal ini menunjukkan bahwa di desa Margosari, evaluasi kinerja pamong
belum sepenuhnya dapat menjadi panduan bagia peningkatan kinerja
organisasi dan manajemen pelayanan.
11. Purnatugas
Khusus untuk Lurah, masa jabatannya adalah 5 tahun dan dapat
menjabat lagi pada masa jabatan kedua jika terpilih kembali dalam pemilihan
Lurah. Adapun untuk Pamong dan staf, masa jabatan pada umumnya sampai
dengan usia 65 tahun, dan setelah itu mereka di PHK. Setelah habis masa
jabatannya (purnatugas) maka baik Lurah, Pamong, maupun staf akan
menerima bengkok purnatugas seluah 25 % dari bengkok yang menjadi
jatahnya ketika yang bersangkutan menjabat. Bengkok purnatugas itu akan
diterima hingga yang bersangkutan meninggal dunia.
293

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Jika dibandingkan dengan besarnya purnatugas PNS misalnya, jelas ada


kesenjangan yang besar, karena PNS akan menerima 75 % dari gaji pokok
terakhir, sementara Lurah dan Pamongnya hanya akan menerima 25 % saja.
Dalam FGD (15 Juli 2005) dengan Lurah dan Pamong Desa Margosari,
mereka menyatakan bahwa besarnya purnatugas itu tidak akan menjamin
kesejahteraan di masa tuanya. Bahkah ada yang berpendapat bahwa, setelah
purnatugas nantinya akan merasa kurang dihargai atas jasa-jasanya selama
yang bersangkutan menjadi Lurah atau pamong. Habis manis sepah
dibuang begitu katanya, sambil menampakkan raut muka pasrah.
12.

Profil Personel Pemerintah Desa.


1. Menurut Jabatan.
Berdasarkan data Aparat Pemerintah Desa di Desa Margosari, dapat
diperinci personel Aparat Pemerintah Desa menurut Jabatan sebagai
berikut :
a. Lurah

: 1 orang.

b. Cari

: 1 orang.

c. Kepala Bagian

: 4 orang.

d. Staf

: 2 orang

e. Dukuh

: 8 orang.

Dengan demikian seluruh Aparat Pemerintah Desa sebanyak 16


orang, yakni 1 orang Lurah, 1 orang Carik, 4 orang Kepala Bagian, 2 orang
staf yakni staf Kepala bagian dan tukang kebun, serta 8 orang Dukuh. Dari
ke 16 orang tersebut keseluruhanya berstatus sebagai non Pegawai Negeri
Sipil (Non PNS).
2. Menurut Tingkat Pendidikan.
No
1
2
3

Tingkat Pendikan
Sekolah Dasar
SLTP
SLTA

Jumlah ( orang
)
7
1
7

Prosentasi

294

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

4
5

Sarjana Muda
1
Sarjana
Jumlah
16
Sumber data : Kantor Pemdes Margosari tahun 2004

100%

Dari data tersebut diketahui bahwa Pamong/staf yang berpendidikan


Sekolah Dasar terdiri dari 6 orang Dukuh dan 1 orang tukang kebun. Selain
itu pendidikan Kepala Bagian termasuk Lurah kebanyakan yang masih SLTA,
dan dengan minimnya pengembangan SDM, sangat dimungkinkan saat ini
dan

mendatang

makin

tidak

mampu

mengikuti

dan

memenuhi

perkembangan kebutuhan masyarakat maupun pengembangan organisasi.


3. Menurut Umur dan Masa Kerja
No Umur (tahun )
1
31 35
2
36 40
3
41 45
4
46 50
5
51 55
6
56 60
Jumlah

Jumlah (orang )
2
3
4
2
5

Masa Kerja
05
6 10
11 15
16 20
21 25
26 30

16

Jumlah
1
2
5
8
16

Sumber data : Kantor Pemdes Margosari tahun 2004


Dari sisi umur dan masa kerja, seharusnya Aparat Pemerintah Desa
Margosari bisa dikatakan memadahi, karena usia Lurah hingga Pamong
sudah lebih dari 31 tahun keatas, tetapi belum mencapai lebih dari 55 tahun.
Artinya semuanya masih dalam kategori masa kerja produktif, sehingga
diharapkan menunjang kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsinya masihmasing. Adapun dari sisi masa kerja, rata-rata sudah memiliki masa kerja
lebih dari 5 tahun. Dengan demikian diharapkan Lurah, Pamong, dan stafnya
dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan baik, karena mereka sudah
berpengalaman bertahun-tahun dalam menangani bidang tugas dan fungsi
masing-masing.

295

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

13. Kemampuan

dalam

memberikan

pelayanan

administrasi

kepada masyarakat.
Pelayanan administrasi kepada masyarakat merupakan salah satu
bentuk pelayanan publik, yang apabila pelayanan itu dilaksanakan secara
profesional, efektif, dan efisien, akan menjadi salah satu isntrumen
pemberdayaan masyarakat. Pelayanan yang efektif dan efisien akan
menciptakan

kepercayaan

dan

kebanggaan

masyarakat

pada

Aparat

Pemerinatah Desa, yang pada gilirannya akan memotivasi partisipasi


masyarakat dalam berbagai aktifitas pemerintahan, pembangunan, maupun
sosial-kemasyarakatan.
Dari hasil FGD (15 Juli 2005) dengan Lurah dan Pamong Desa
Margosari, didapatkan beberapa penyataan diplomatis bahwa, mereka sudah
berusaha memberikan pelayanan administrasi kepada masyarakat dengan
sebaik-baiknya. Sebagai contoh untuk pelayanan KTP yang dulunya lebih dari
3 hari, sekarang bisa kurang dari 3 hari. Asal dari pihak Kecamatan tidak ada
hambatan, maka pelayanan itu bisa lebih cepat. Untuk mengatasi
kemungkinan lowongnya salah satu Pamong, merakapun saling mambantu
dengan cara memberikan pelayanan meskipun sebenarnya bukan menjadi
tugasnya. Kecuali untuk hal-hal prinsip seperti menikahkan. Bahkan untuk
kebutuhan-kebutuhan mendesak, mereka menyatakan bersedia memberikan
pelayanan 24 jam dan di rumah, meskipun di luar jam kerja dan tidak ada
honor lembur.
14. Kepuasan Masyarakat atas pelayanan administrasi
Mengenai

kepuasan

masyarakat

terhadap

pelayanan

Aparat

Pemerintah Desa, secara diplomatis pula mereka menyatakan bahwa, saat ini
masyarakat merasa puas dengan pelayanan yang diberikan Lurah dan stafnya.
Keluhan-keluhan memang masih ada, tetapi tidak banyak, apalagi protesprotes warga dalam bentuk demontrasi, sampai sekaraang belum pernah
terjadi. Namun ketika pernyataan itu dikonfirmasikan dengan Sekretaris BPD
secara tersendiri, didapatkan informasi bahwa, sebenarnya beberapa warga
296

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pernah mengeluhkan mengenai pelayanan Lurah dan Pamong. Keluhan itu


terutama pada kelambatan waktu atau penundaan pelayanan karena Pamong
tidak ditempat, datang siang, atau pulang lebih awal.
Ada kesan bahwa, ukuran kepuasan masyarakat dalam hal pelayanan
administrasi belum menjadi ukuran keberhasilan pelayanan publik. Mereka
masih menganggap bahwa, kedekatan dengan warga dan pelayananpelayanan bidang lain kepada masyarakatlah yang harus diprioritaskan.
Sementara terkait dengan ukuran pelayanan (standart minimal pelayanan)
sama sekali tidak ada pedomannya, sehingga sangat sulit untuk menentukan
apakan pelayanan itu sudah baik atau belum.
15.Sarana Kerja Pemerintah Desa
Tingkat kemampuan dan keterampilan rata-rata Pamong juga belum
mampu

mengejar

perkembangan

perkembangan

teknologi.

Hal

itu

kebutuhan

masyarakat

diakibatkan

kurangnya

maupun
upaya

pengembangan SDM baik dari pihak Pemerintah Kabupaten maupun dari


internal Pemerintah Desa. Keterbatasan kemampuan itu antara lain terbukti
dari kemampuan Pamong dalam menggunakan fasilitas komputer. Meskipun
di Kantor Pemerintah ada komputer, namun penggunaannya masih sangat
terbatas, dan tidak semua pamong dan staf mampu mengoperasionalkan
(Sekretaris BPD, 15 Juli 2005). Meskipun demikian secara umum mereka
menyatakan bahwa, mereka mempunyai kemampuan dan pengalaman yang
cukup memadahi dalam memberikan pelayanan administrasi kepada
masyarakat.
Keterbatasan

kemampuan

pelayanan

itu

juga

terkait

dengan

keterbatasan sarana pelayanan yang tersedia di kantor Pemerintah Desa.


Sebagai contoh, saat ini hanya tersedia 1 unit komputer dan itupun tidak
semua Pamong mampu menggunakannya. Dengan demikian pelayanan
administrasi masih sering menggunakan cara manual atau menggunakan
mesin ketik yang jumlahnya ada 3 unit. Dari ketiga mesin ketik itupun ada 1

297

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

unit yang rusah, artinya tidak semua Kepala bagian, Lurah, atau Carik yang
dilengkapi dengan alat pelayanan seperti mesin ketik.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Sebagai mana disinggung sebelumnya bahwa, kepuasan masyarakat
atas pelayanan dari Pemerintah Desa, menjadi salah satu motivasi
masyarakat dalam berpartipasi. Akuntabilitas publik Lurah dan stafnya Desa
dalam pelayanan administrasi juga akan menentukan kredibilitas Pemerintah
Desa dimata masyarakat. Persoalannya adalah, tidak adanya mekanisme
pertanggungjawaban Pemerintah dalam pelayanan administrasi kepada
masyarakat. Bahkah koordinasi dengan warga terkait dengan penyerapan
kepentingan masyarakat akan pelayanan administrasi dan langkah-langkah
peningkatannya, juga tidak pernah secara langsung dilakukan. Pemerintah
Desa masih menganggap bahwa laporan pertanggungjawan (LPJ) Lurah
kepada BPD saja yang menjadi kewajiban Pemerintah Desa. Sementara
pertanggungjawaban kepada masyarakat desa secara langsung belum
dilakukan.

18. DESA PENGASIH


1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Pemerintah desa Pengasih belum mengenal tentang RENSTRA Desa,
tetapi mereka mengenal mekanisme perencanaan pembangunan yang diawali
dengan penggalian aspirasi di tingkat RT/RW, kemudian dilanjutkan dengan
MUSBANGDUS yang dihadiri oleh RT/RW dan diikuti oleh tokoh-tokoh
masyarakat. Hasilnya dibawakan ke tingkat pedesaan dan di desa dikenal
dengan sebutan MUSBANGDES. Mereka memahami RENSTRA DESA
sebagai

mekanisme

perencanaan

pembangunan.

Dalam

mekanisme

perencanaan pembangunan ini menurut mereka didasarkan juga pada visi


298

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

desa yakni terwujudnya pelayanan kepada masyarakat seoptimal mungkin.


Menurut perangkat desa, misi tugas pelayanan administrasi di desa Pengasih,
sudah sejalan dengan potensi, kemampuan pemerintah desa dengan
kebutuhan masyarakat. Desa pengasih memiliki potensi berupa batu kali,
batu gamping dan sumber daya air yang melimpah. Pengembangan potensi
ini ditangani secara khusus oleh bagian pendapatan dan keberadaan bagian
pendapatan itu sendiri sejalan dengan kebutuhan masyarakat desa Pengasih.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Menurut perangkat desa, pola dan struktur organisasi pemerintahan
desa yang ada di desa Pengasih, dibentuk berdasarkan kepentingan dan
kebutuhan masyarakat. Tetapi jika dasarnya adalah kebutuhan dan
kepentingan masyarakat desa, seharusnya ada bagian-bagian dalam struktur
pemerintahan desa di desa pengasih yang berbeda dengan desa yang lainnya.
Umumnya yang kami temukan adalah adanya pola dan struktur organisasi
pemerintahan desa yang sama dengan desa yang lain.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Menurut perangkat desa yang kami wawancarai, TUPOKSI di desa
pengasih sudah dijalankan sesuai dengan kedudukan, tugas dan fungsi
masing-masing bagian. Bagian pemerintahan misalnya, menjalankan tugas
dan fungsi sesuai dengan kedudukannya. Di desa pengasih yang kami temui,
sudah terdapat pembagian kerja yang terjadi secara merata. Ini ditunjukkan
oleh kenyataan bahwa masing-masing bagian menjalankan tugas sesuai
dengan apa yang telah ditetapkan secara bersama. Tugas-tugas dari masingmasing bagian ini, sudah dicantumkan dalam PERDES.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antara unit atau antara bagian menurut
perangkat desa, di desa Pengasih sudah jelas dan menurut mereka tidak
overlapping. Perintah mengalir dari atas ke bawah, dari pa lurah ke
299

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

perangkat-perangkatnya

dan

dari

kecamatan

ke

desa.

Sebaliknya

pertanggungjawaban mengalir dari bawah, dari perangkat-perangkat desa ke


lurah dan dari lurah ke pemerintah kabupaten.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Untuk kordinasi antara bagian-bagian atau antara unit-unit dipimpin
langsung oleh lurah

yang dilakukan secara rutin setiap bulan sekali.

Kordinasi dengan supradesa dilakukan melalui inspeksi dan pengawasan


berupa kunjungan supradesa ke desa yang jadwalnya tidak tentu.
6. Pengawasan
Pengawasan internal di desa Pengasih dilakukan oleh lurah
terhadap staf-stafnya, sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh
Bupati melalui Camat dan BPD. Menurut perangkat desa, baik
pengawasan internal maupun pengawasan eksternal memiliki pengaruh
yang sangat besar terhadap peningkatan kinerja perangkat desa, sekaligus
mengurangi terjadinya penyalagunaan tanggungjawab dalam menjalankan
tugas masing-masing.

7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM


Rekrutmen untuk lurah dan pamong di desa Pengasih dilakukan
melalui pemilihan langsung dan pengangkatan. Lurah dipilih secara
langsung oleh masyarakat. Lurah yang ada di desa Pengasih saat ini
menduduki masa jabatan untuk kedua kalinya. Masa jabatannya yang
pertama berakhir tahun 2004 dan pada tahun 2004 juga dipilih lagi oleh
masyarakat. Umumnya perangkat desa pengasih memiliki motivasi
menjadi lurah atau pamong karena ingin mengabdi kepada desa. Lagian
menurut mereka, mereka menjadi lurah atau pamong karena kepercayaan
dan dorongan masyarakat. penempatan pamong di desa pengasih,
300

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

menurut perangkat desa sudah sesuai dengan kompetensi, pengalaman


dan minat. Berdasarkan kompetensi, pengalaman dan minat, mereka
dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Di desa Pengasih, belum
pernah terjadi mutasi dan promosi. Dari data-data tentang pegawai yang
ada, umumnya mereka sangat lama menduduki jabatan mereka dan tidak
pernah berpindah ke bagian yang lain.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM lurah dan pamong di desa Pengeasih dilakukan
dengan mengikuti berbagai macam pelatihan. Pelatihan diadakan oleh
pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Pemerintah desa sejauh ini,
belum pernah melakukan pelatihan yang secara khusus bertujuan untuk
mengembangkan SDM lurah dan pamong desa.
9. Sistem Kompensasi
Kompenasi untuk lurah dan pamong di desa Pengasih sama dengan
desa yang lainnya, dimana pemerintah desa memperoleh jatah tanah
bengkok. Tabel berikut menggambarkan jatah tanah bengkok yang mereka
terima.

Table Luas Bengkok


No
01
02
03
04
05

Jabatan
Kepala Desa
Carik Desa
Kabag-kabag
Dukuh-dukuh
Staf-staf

Luas Bengkok
1,8 hektar
1,5 hektar
1,4 hektar
7000 meter
5000 meter

Para perangkat desa ini juga memperoleh gaji dari pemerintah


kabupaten yang diterimakan setiap tiga bulan. Untuk lurah jumlahnya
300 ribu rupiah, Carik 275 ribu rupiah, Kabag-kabag 170 ribu rupiah,

301

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dukuh 150 ribu rupiah dan staf-staf memperoleh 120 ribu rupiah.
Pendapatan ini, masih harus ditambah dengan penerimaan dari desa yang
sumber dan jumlahnya tidak tentu. Para perangkat desa Pengasih
umumnya merasa bahwa mereka tidak puas dengan kompensasi yang
mereka terima, karena selain jumlahnya sangat rendah, juga jangka waktu
penerimaanya tidak jelas.
10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi kerja di desa Pengasih, sama dengan Rapat Kordinasi yang

dilakukan

sekali

sebulan.

Evaluasi

ini

dipimpin

langsung

oleh

lurah.Evaluasi ditindaklanjuti dengan rencana kerja yang dibuat oleh


masing-masing bagian.
11. Purnatugas
Sistem PHK di desa pengasih dilakukan dengan cara 1/5 dari tanah
bengkok dikalikan dengan masa jabatan. Di samping itu, mereka juga
menerima jatah purnatugas dari desa dan dari pemerintah kabupaten
yang jumlahnya tidak tentu.
12.Data Pamong
Tabel berikut menggambarkan profil kepegawaian desa Pengasih (lihat
tabel).
Tabel
Profil perangkat desa Pengasih dan masa jabatanya
No

Jabatan

Pendidikan

01

Kepala Desa

SLTA

02

Carik

SLTA

03
04
05
06

Kabag Pemerintahan
Kabag Pembangunan
Kabag Pendapatan
Kabag

SLTA
SLTA
SD
SLTA

Lama Masa
Jabatan
Sejak 2004-sekarang
(periode kedua)
Sejak 1990-sekarang
(cariknya PNS)
Sejak 1990-sekarang
Sejak 2002-sekarang
Sejak 1978-sekarang
Sejak 1997-sekarang

302

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Kemasyarakatan

13.

Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Dalam pelayanan administrasi, di desa Pengasih masingmasing unit sudah menjalankan tugas dan fungsinya secara
kompeten. Artinya mereka mampu menjalankan tugas sesuai
dengan yang telah ditetapkan. Menurut perangkat desa, pelayanan
yang diberikan kepada masyarakat sudah efisien dan efektif. Ini
ditunjukkan dengan keberhasilan dalam menjalankan program
kerja, dan tidak adanya pemborosa anggaran yang digunakan.

14. Kepuasan Masyarakat


Sejauh ini menurut pemerintah desa Pengasih, kunci
pelayanan

kepada masyarakat adalah

kepuasan

masyarakat

menerima pelayanan pemerintah desa. Sejauh ini menurut mereka,


belum ada indikasi yang menunjukkan masyarakat komplain
dengan pelayanan pemerintah desa.

15.

Sarana Kerja Pemerintah Desa


Menurut

mereka,

buku-buku

yang

berkaitan

dengan

administrasi pemerintahan desa sangat lengkap, tetapi diakui


masih perlu dilakukan pembenahan. Berdasarkan pengamatan
kami, dalam kaitanya dengan kelengkapan buku administrasi
pemerintahan desa ini, di desa pengasih masih mengalami
kekurangan, jika dibandingkan

dengan desa yang lainnya.

Berkaitan dengan fasilitas yang digunakan oleh lurah dan pamong


desa, di desa Pengasih mengalami kekurangan, jika dibandingkan
dengan desa yang lainnya. Contohnya, telepon kantor mereka
belum punya dan menggunakan HP untuk urusan kantor.

303

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Tabel Faslitas Desa Pengasih


Fasilitas pelayanan
publik
Sepeda Motor
Telepon
Komputer
Mesin Ketik

No
01
02
03
04

Jumlah
(unit)
1 unit
2 unit
3 unit

Kondisi
Baik
Baik
Baik

16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat


Untuk mempertanggungjawabkan pelayanan kepada masyarakat,
lurah memberikan laporan pertanggungjawabannya kepada masyarakat
setiap tahun atau jika diminta kepada rakyat melalui BPD dan juga
dilakukan kepada Bupati melalui Camat.
19. DESA SENDANGSARI
1.

Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)


Desa

Sendangsari

belum

memiliki

Renstra

Desa,

dalam

melaksankan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan


administratif desa menggunakan program kerja tahunan. Program kerja
tersebut, dibuat oleh pamong desa beserta BPD. Desa ini belum memiliki
visi dan misi. Pelayanan administrasi terhadap masyarakat dilakukan
dengan model kerja sama, (manajemen terbuka), sehingga setiap
masyarakat yang membutuhkan pelayanan dapat dilakukan oleh setiap
pamong, tidak terpaku harus kepada Kepala Bagian yang membidangi
sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Diantara aparat desa saling
bekerja sama, saling mengisi dan saling terkait dalam melaksanakan
tugas, tetapi setiap pamomong telah melaksanakan tugas sesuai dengan
tupoksi

berdasarkan Perda No. 2 Thn 2001. Kerja sama tersebut

dimaksudkan agar tugas pekerjaan pemerintah desa dapat selesai dengan


baik.

304

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

2. Pola Dan Struktur Organisasi


Pola dan struktur organisasi di desa Sendangsari, sama dengan
desa-desa yang lainnya. Pola dan struktur ini dipandang cukup
representatif bagi mereka untuk menjalankan tugas dan sudah sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Pembagian kerja sudah cukup merata, karena berdasarkan Perda
No. 2 Thn 2001, walaupun tugas Kabag Pemerintahan memperoleh tugas
yang paling banyak. Saat ini Desa Sendangsari baru memiliki 2 orang
staf, yang membantu Lurah, Carik, dan semua Kabag. Diantara 2 staf
tersebut satu diantaranya lebih banyak diperbantukan kepada Kabag
Pemerintahan. Sedangkan mantan Kabag Umum diperbantukan untuk
menjadi sekretaris BPD.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat
menjalankan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap bulan, tanggal 5 diadakan rapat koordinasi pamong desa yang
terdiri dari Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh seDesa Sendangsari. Koordinasi dilakukan untuk membahas persoalanpersoalan/hal-hal yang terjadi di desa tersebut antara lain :
a. Informasi yang perlu disampaikan kepada Kapala Dukuh
b. Tugas penarikan pajak (PBB).
c. Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana
bantuan dari Pem Desa ataupun dari Pem Kab.
Setiap tanggal 15 diadakan rakor tingkat kecamatan yang diikuti oleh
seluruh desa sewilayah Kecamatan Pengasih, dan setiap tanggal 17 rakor
di Kabupaten. Semenjak diberlakukannya UU No 22 tahun 1999 UU No 32
305

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tahun 2004, Pemerintah Kabupaten sudah tidak lagi banyak memberikan


perintah kepada desa, melainkan informasi-informasi penting yang
disampaikan melalui rakor tingkat kabupaten. Demikian pula dalam
pelaksanaan tugas pemerintahan desa dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat melalui BPD. Tata hubungan kerja antar instansi sudah jelas,
walaupun sering terjadu over lapping.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk rakorbang. Masing-masing
Kabag mempersiapkan bahan untuk dibicarakan dalam rapat koordinasi.
Sedangkan intensitasnya, rapat koordinasi tingkat desa sebulan sekali,
bahan yang harus disiapkan antara lain, evaluasi hasil rapat bulan yang
lalu, laporan pelaksanaan tugas yang telah selesai dikerjakan, dan kendala
yang dihadapi, inventarisasi permasalahan di dukuh-dukuh dan alternatif
solusinya, rencana kerja dll. Rapat koordinasi tingkat kecamatan, bahan
yang dipersiapkan adalah rencana kerja usulan desa, evaluasi program
kerja, persoalan-persoalan yang muncul di desa dll. Sedangkan ditingkat
kabupaten diadakan rakorbang, yang membahas berbagai program kerja
yang telah lalu, terutama program yang memperoleh bantuan APBD,
usulan-usulan pembangunan desa dll.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern. Pengawasan
internal dilakukan oleh;
a. Lurah

desa

melakukan

pengawasan

melekat

dengan

cara

melakukan pendekatan, mengajukan pertanyaan tentang tugas dan


pekerjaan yang telah dilaksanakan, atau persoalan-persoalan yang
dihadapi dalam pelaksanaan tugas.
b. Pengawasan dari BPD mengadakan pertemuan untuk menjaring
aspirasi masyarakat dan kemudian dicocokan dengan program
Pemerintah Desa.
Pengawasn

eksternal

dilakukan

oleh

BAWASDA

melakukan

pemeriksaan keuangan desa setiap 4 tahun sekali, dengan cara datang ke


306

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

desa sewaktu-waktu dengan pemberihatuan terlebih dahulu. Dengan


dilakukannya pengawasan ternyata berdampak pada perbaikan kinerja
aparat desa antar lain, termotivasi untuk lebih teliti dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya, sehingga lebih tertib.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong Desa Sendangsari
a. Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan langsung oleh
rakyat;
b. Kabag dan Staf

diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh

Pemerintah Kabupaten, penentuan akhir dimusyawarahkan antara


lurah desa dengan BPD. Dengan berdasarkan pada perolehan nilai
tertinggi hasil test maka, kemudian ditetapkan sebagai personal yang
mengisi jabatan

yang kosong. Pengisian

pamong desa telah

berlangsung sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak


ditemukan adanya indikasi KKN. Penempatan pamong sebagian telah
sesuai dengan minat dan kemauan masing-masing personal tetapi
sebagian belum sesuai. Bagi yang belum sesuai disebabkan oleh karena
faktor usia dan tingkat pendidikan. Misalnya Kabag Kesra yang
usianya sudah mencapai 61 tahun, berpendidikan SMP, sangat susah
untuk

menerima

introduksi

baru.

Motivasi

menjadi

pamong

disamping mengemban amanah, tetapi juga mengabdi kepada


kepentingan rakyat, karena jika dilihat dari segi penghasilan sebagai
pamong, ternyata sangat jauh dari yang diharapkan. Selain itu
beberapa pamong memeng meneruskan jasa orang tuanya yang dulu
juga menjabat sebagai pamong desa.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antara
lain :

307

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

a. Setiap tanggal 5 dilakukanpertemuan antar pamong sekaligus


silaturahim

secara

bergantian

di

rumah

pamong,

kemudian

menghadirkan petugas dari dinas-dinas yang sekiranya dibutuhkan


untuk peningkatan kinerja pamong, seperti dari kehakiman, dinas
kesehatan, dinas sosial, dari depag dll;
b. Pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan administrasi keuangan
dilaksanakan di PPSJ Sendangsari;
c. Penyuluhan untuk kelembagaan PKK, BPD, LPMD, P3A, RT, RW ,
Kelompok tani, Kadarkum dll.
Dengan berbagai pelatihan SDM dapat meningkatkan kinerja pamong
desa.
9. Sistem Kompensasi
Luas tanah bengkok pamong desa Sendangsari
No
01
02
03
04
05
06
07
08

Jabatan
Lurah
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag. Pembangunan
Kabag. Pendapatan
Kabag Kesra
Staf
Kepala Dukuh

Luas bengkok
2,0850 Ha
1,6680 Ha
1,4500 Ha
1,4800 Ha
1,4500 Ha
1,4500 Ha
4000 m2
1,0250 m2

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).
a. Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan
b. Carik sebesar Rp. 100.000/bulan
c. Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan
d. Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan
e. Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.
TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI dengan
membawa buku rekeningnya masing-masing. Selain itu pamong desa juga
memperoleh tambahan penghasilan dari desa yang bersumber dari

308

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Pendapatan Asli Desa. Adapun lurah memperoleh tambahan penghasilan


sebesar Rp.86.250/bln. Carik memperoleh Rp. 74.200/bln. Kabag sebesar
Rp. 69.000/bln. Kepala Dukuh memperoleh Rp. 60.400/bln. Staf
mendapat tambahan sebesar Rp. 46.600/bln. Selain itu pamong desa,
anggota BPD, pengurus LPMD, pengurus PKK, Hansip, Rt, Rw dan Rois
memperoleh seragam, yang pengadaannya bergantian, setahun satu unit
lembaga desa tersebut. Perjalanan dinas lurah 1 tahun maksimal Rp.
300.000. Pamong yang lain maksimal Rp. 500.000/tahun. Di Desa
Sendangsari sampai saat ini belum pernah terjadi mutasi antar personal
dari masing-masing bagian.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi dilakukan oleh masyarakat melalui realisasi program kerja
yang

dilaksanakan

di

dukuh-dukuh.

Jika

terjadi

penyimpangan

masyarakat dapat menyakan langsung kepada pamong desa setempat.


Selain itu evaluasi dilakukan oleh tim apabila maju lomba, seperti lomba
desa, lomba pertanian, lomba kebersihan dll.

11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan
penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok
saat masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa
No
01
02
03
04

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.

Usia (th)
52
44
62
40

Tingkat Pendidikan
SMEA
STM
SMA
STM
309

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

05
06
07
08
09
10
11
12
13
14

Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra
Staf
Staf
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

26
60
52
49
46
47
43
55
43
52

SMEA
SMP
SPG
STN
SD
SMP
SMA
SD
SMA
SD

13.Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi dari masing-masing personal pamong telah sesuai
dengan bidangnya. Terbukti semua urusan yang berkait dengan tugastugas pokok dapat diselesaikan dan dipertanggung jawabkan setiap
tahunnya. Pelayanan kepada masyarakat sudah cukup efektif, setiap
keperluan msyarakat dapat secara cepat dilayani. Desa mencoba
membuka kotak pos pengaduan, ternyata tidak banyak yang mengajukan
protes atas pelayanan aparat desa. Efisisen karena semua pamong dapat
melayani kebutuhan masyarakat secara all round.

14.Kepuasan Masyarakat
Kepuasan

masyarakat

penyelenggaraan

pemerintahan

sebagai
desa,

ukuran

sehingga

keberhasilan

pelayanan

kepada

masyarakat. merupakan faktor utama yang harus diprioritaskan. Sebagian


besar masyarakat merasa sudah terpuaskan.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah
cukup banyak. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah
sampai semester I tahun 2005. Fasilitas kerja pamong untuk melayani
310

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

masyarakat sudah cukup memadai. Dalam menjalankan tugas hariannya


pamong telah menempati ruang kerja, yang masing-masing berada pada
ruangan yang terpisah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana kerja
yang ada. Misalnya meja, kursi, almari dll. Walaupun masih dirasa kurang
Desa Sendangsari telah memiliki 1 unit komputer untuk melayani semua
kebutuhan administrasi desa tersebut. Inventaris sepeda motor 1 buah
bantuan pemkab. sebagai kendaraan operasional lurah desa.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
LPJ yang dibuat oleh lurah desa diajukan ke BPD sebagai
representasi rakyat dapat diterima, walaupun pada tahun 2002 LPJ ditolak
oleh BPD, karena belum cocok antara program dan realisasinya. Setiap saat
penduduk dapat melihat LPJ yang telah dibuat lurah desa, berarti pamong
desa

Sendangsari

mengembangkan

sifat

keterbukaan

dalam

mempertanggung jawabkan hasil kerjanya.


20. DESA HARGOREJO
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Hargorejo belum memiliki Renstra Desa, dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunan. Program kerja tsb, dibuat oleh
pamong desa beserta BPD. Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan
administrasi kepada masyarakat dilakukan dengan model kerja sama,
(manajemen terbuka), sehingga setiap masyarakat yang membutuhkan
pelayanan dapat dilakukan oleh setiap pamong. Kepala bagian menempati
satu ruangan yang ukurannya relatif kecil, sehingga terkesan agak semrawut.
Saat ini terdapat dua jabatan yang kosong yaitu carik dan Kabag
Pemerintahan.
2. Pola Dan Struktur Organisasi

311

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Pola dan struktur organisasi sama dengan desa-desa yang lainnya.


Pola dan struktur organisasi ini dipandang sudah cukup representatif dan
memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Di antara aparat desa saling bekerja sama, saling mengisi dan saling
terkait dalam melaksanakan tugas, tetapi setiap pamong telah melaksanakan
tugas sesuai dengan tupoksi berdasarkan Perda No. 2 Thn 2001. Kerja sama
tersebut dimaksudkan agar tugas pekerjaan pemerintah desa dapat
diselesaikan dengan baik. Pembagian kerja selama ini, tugas-tugas Carik
dirangkap oleh Kabag Pendapatan dan tugas-tugas kabag Pemerintahan
dirangkap oleh Kabag Pembangunan. Jabatan carik yang selama ini kosong
belum boleh diisi, sedangkan untuk jabatan Kabag Pemerintahan sudah
proses pendaftaran calon dan akan dilangsungkan ujian untuk jabatan
tersebut pada tanggal 25 Agustus 2005. Dengan demikian tugas-tugas
pemerintahan, pelayanan dan pembangunan tidak terbagi secara merata.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat yang
ada menjalankan tugas secara kolegial. Demikian pun halanya dengan supra
desa, berjalan dengan baik.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Rapat koordinasi pamong desa yang terdiri dari Lurah, Carik,
Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se Desa Hargorejo
diselenggarakan setiap tangal 15. Setiap tanggal 17 diadakan rakor tingkat
kecamatan yang diikuti oleh seluruh desa sewilayah Kecamatan Pengasih,
dan setiap tanggal 20 rakor di Kabupaten. Semenjak diberlakukannya UU
No 22 tahun 1999 UU No 32 tahun 2004, Pemerintah Kabupaten sudah
tidak lagi banyak memberikan perintah kepada desa, melainkan
informasi-informasi penting yang disampaikan melalui rakor tingkat
kabupaten. Demikian pula dalam pelaksanaan tugas pemerintahan desa
312

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat melalui BPD. Tata hubungan


kerja antar instansi sudah jelas, walaupun sering terjadu over lapping.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk rakorbang. Masing-masing
Kabag mempersiapkan bahan untuk dibicarakan dalam rapat koordinasi.
Sedangkan intensitasnya, rapat koordinasi tingkat desa sebulan sekali,
bahan yang harus disiapkan antara lain, evaluasi hasil rapat bulan yang
lalu, laporan pelaksanaan tugas yang telah selesai dikerjakan, dan kendala
yang dihadapi, inventarisasi permasalahan di dukuh-dukuh dan alternatif
solusinya, rencana kerja dll. Rapat koordinasi tingkat kecamatan, bahan
yang dipersiapkan adalah rencana kerja usulan desa, evaluasi program
kerja, persoalan-persoalan yang muncul di desa dll. Pimpinan rapat
adalah kepala desa. Sedangkan ditingkat kabupaten diadakan rakorbang,
yang membahas berbagai program kerja yang telah lalu, terutama
program yang memperoleh bantuan APBD, usulan-usulan pembangunan
desa dll.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern. Pengawasan
internal dilakukan oleh BPD melakukan pemantauan keuangan meliputi
perhitungan pemasukan dan pengeluaran. Jika terjadi permasalahan
dipecahkan bersama. Misal jika ada warga yang PBB nya belum lunas
dilakukan sosialisasi anatara BPD dan aparat desa. Pengawasn eksternal
dilakukan oleh BAWASDA melakukan pemeriksaan keuangan desa 3
tahun sekali tidak terjadwal, dan pernah terjadi dalam satu tahun 2 kali
pemeriksaan

karena

desa tersebut maju lomba desa. Dengan

dilakukannya pengawasan ternyata berdampak pada perbaikan kinerja


aparat desa antar lain, termotivasi untuk lebih teliti dan tertib dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya lebih hati-hati.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM

313

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

a. Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan langsung oleh
rakyat
b. Kabag dan Staf

diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh

Pemerintah Kabupaten, penentuan akhir dimusyawarahkan antara


lurah desa dengan BPD. Dengan berdasarkan pada perolehan nilai
tertinggi hasil test maka, kemudian ditetapkan sebagai personal yang
mengisi jabatan yang kosong. Pengisian pamong desa telah
berlangsung sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak
ditemukan adanya indikasi KKN. Motivasi menjadi pamong
disamping karena;
a.

Tidak ada pekerjaan lainnya

b.

Disiapkan oleh orang tua meneruskan pengabdian orang

tuanya
c.

Banyak pendukungnya

d.

Terpanggil untuk memajukan desanya

Penempatan pamong sebagian telah sesuai dengan minat dan


kemauan masing-masing personal tetapi sebagian belum sesuai. Bagi yang
belum sesuai disebabkan oleh karena faktor usia dan tingkat pendidikan.
Misalnya Kabag Pemerintahan yang telah berusia 64 tahun, berpendidikan
SMP, sangat susah untuk menerima introduksi baru.

8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antara
lain :
a.

Semenjak diberlakukannya UU nomor 22 tahun 1999 dan UU


nomor 32 tahun 2004 tidak pernah ada pelatihan;

b.

Pernah ada pelatihan komputer atas inisiatif desa, yang diikuti


oleh pamong, dukuh-dukuh, anggota BPD, yang dianggarkan dari
APBDes. Pelatihan 2 X dalam satu minggu berlangsung selama 1
tahun;
314

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

c.

Pelatihan pendataan penduduk di Kaliurang selama 1 bulan.

Dengan berbagai pelatihan SDM dapat meningkatkan kinerja pamong


desa.
9.

Sistem Kompensasi
Penghasilan per bulan pamong Desa Hargorejo

No

Jabatan

01
02
03
04
05
06
07
08

Lurah
Carik
Kabag Pemerin
Kabag. Pembang
Kabag. Pendap
Kabag Kesra
Staf
Kepala Dukuh

Bengkok
Rp
300.000
200.000
200.000
200.000
100.000
150.000

TPAPD
Rp
125.000
90.000
90.000
90.000
70.000
80.000

Tunj
PAD
122.900
81.900
81.900
81.900
40.950
61.450

Jml
Rp.
547.900
371.900
371.900
371.900
210.950
291.450

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).
a.

Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan

b.

Carik sebesar Rp. 100.000/bulan

c.

Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan

d.

Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan

e.

Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.

TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI dengan


membawa buku rekeningnya masing-masing. Selain penghasilan dari
bengkok dan TPAPD, aparat Desa Hargorejo setiap bulan juga
memperoleh tambahan penghasilan berupa tunjangan dari PAD, untuk
lurah sebesar Rp. 122.900,- semua Kabag sama besar yaitu Rp. 81.900,Kepala Dukuh

juga sama besarnya yaitu Rp. 61.450, dan kedua staf

masing-masing Rp. 40.950. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya


beberapa pamong

mencari penghasilan

tambahan, seperti bakul,

peternak sapi, peternak lele, tukang dll.


315

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

10.

Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi secara resmi tidak ada. Evaluasi dilakukan sepanjang ada

kebutuhan dan persoalan mendesak yang dialami oleh masing-masing


prangkat.
11.

Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan

penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok


saat masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12.

Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa Hargorejo
No
01
02
03
04
05
06
07
08
08
09
10

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.
Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra
Staf
Staf
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Usia (th)
38
56
62
40
43
54
41
50
62

Tingkat Pendidikan
S1
SD
SLTA
SLTA
SLTA
SD
SLTP
SLTP
SD

316

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

No
11
12
13
14
15
16

13.

Jabatan
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Usia (th)
57
63
31
53
62
47

Tingkat Pendidikan
SD
SD
SLTA
SLTA
SD
SLTA

Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi dari masing-masing personal pamong disesuaikan

dengan bidangnya, walaupun belum sepenuhnya dapat terpenuhi.


Pelayanan kepada masyarakat kurang efektif karena ruang kerja Kabag
yang berada pada satu ruang yang cukup sempit sehingga terlihat agak
semrawut. Walaupun untuk tahun anggaran 2005/2006 direncanakan
ruang Kabag masing-masing akan terpisah dan berada pada satu ruangan.
Pelayanan setiap keperluan masyarakat dapat berjalan secara efisien
karena semua pamong dapat melayani kebutuhan masyarakat secara all
round.
14.

Kepuasan Masyarakat
Kepuasan

masyarakat

penyelenggaraan

pemerintahan

sebagai
desa,

ukuran

sehingga

keberhasilan

pelayanan

kepada

masyarakat. merupakan faktor utama yang harus diprioritaskan.


15.

Sarana Kerja Pemerintah Desa


Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik

ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah


cukup banyak. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah
sampai semester I tahun 2005. Fasilitas kerja pamong untuk melayani
masyarakat sudah cukup memadai. Dalam menjalankan tugas hariannya
Kabag-Kabag menempati ruang kerja yang berada pada satu ruangan.
Perlengkapan yang dimiliki masing-masing kabag antara lain :

meja,

317

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

kursi, almari dll. Desa Hargorejo telah memiliki 1 unit komputer untuk
melayani semua kebutuhan administrasi desa tersebut. Inventaris sepeda
motor 1 buah bantuan pemkab. sebagai kendaraan operasional lurah desa.
Telpon 1 unit, mesin ketik 3, almari 10, meja 13, kursi 37, Filling Kabinet
5, Rak buku 2, TV 1 buah.
16.

Akuntabilitas Kepada Masyarakat


LPJ yang dibuat oleh lurah desa diajukan ke BPD sebagai

representasi rakyat dapat diterima, walaupun sering ada revisi sedikit.


Setiap saat penduduk dapat melihat LPJ yang telah dibuat lurah desa,
berarti pamong desa Hargorejo bersifat terbuka dalam mempertanggung
jawabkan hasil kerjanya, walaupun sampai saat ini belum pernah ada
anggota masyarakat yang secara langsung mencermati LPJ Lurah desanya.
21. DESA GIRIPURWO
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa

Giripurwo

belum

memiliki

Renstra

Desa.

Dalam

melaksanakan tugas pemerintahan dan pelayanan administrasi digunakan


Program Kerja Tahunan Desa. Visi dan misi belum ada. Tugas pelayanan
administratif telah sesuai dengan kemampuan pemerintah desa dan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Segala kebutuhan masyarakat yang berkait
dengan pelayanan dipenuhi oleh pem des, sepanjang tidak melanggar
aturan hukum yang berlaku.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi yang berlaku di desa Giripurwo,
hampir sama dengan desa-desa yang lainnya. Hanya saja pola dan
struktur organisasi tersebut belum sepenuhnya mengacu pada kebutuhan
masyarakat.

318

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi


Tugas Pokok dan Fungsi Pemerintahan Desa sebagaimana yang
diatur dalam Perda no : 2 tahun 2001, pasal 4 s.d. pasal 14. Pembagian
tugas antar unit kerja, setiap pamong desa menjalankan tugas sesuai
dengan tugas pokoknya. Namun demikian dalam prakteknya semua
aparat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dilakukan secara
kerja sama, kekeluargaan dan kebersamaan. Apabila terdapat salah satu
pamong

yang

menghadapi

pekerjaan

cukup

banyak,

dalam

penyelesaiannya dibantu oleh pamong yang lain, tanpa meninggalkan


tugas pokoknya. Kecuali persoalan yang berkaitan dengan rekondasi
surta-surat tanah dan pernikahan harus ditanda tangani langsung oleh
Lurah Desa. (kebijakan dari Kecamatan). Pembagian tugas masing-masing
Kabag sbb:

Pelayanan umum oleh Kabag Pemerintahan

Tugas-tugas pembanguan oleh Kabag Pembangunan

Kemasyarakatan, pernikahan, perceraian, gakin, bencana alan oleh


Kabag kesra

Pemasukan

dan

pengeluaran

keuangan

desa

oleh

Kabag

Pendapatan. Semua tugas dibagi rata sesuai dengan tupoksi.


4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Hubungan tata kerja secara umum antar pamong baik. Namun akhirakhir ini hubungan antar pamong dengan Lurah desa sedikit terganggu,
karena terdapat persoalan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Lurah.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap tanggal 20 diadakan rakordes yang dihadiri oleh lurah, pamong
desa dan kepala dukuh yang membahas tentang:

Menggali potensi untuk menyusun program pembangunan desa

Penyampaian informasi hasil pertemuan di Kecamatan

319

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Menampung

masukan

baik

persoalan,

maupun

alternatif

penyelesaian yang dihadapi masing-masing pedukuhan.

Upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Hal-hal lain yang perlu dibahas dalam rapat.

Hubungan tata kerja dengan supra desa Setiap tanggal 17


dilaksanakan rapat koordinasi di pendopo kecamatan yang membahas
laporan kerja dari masing-masing desa, penyampaian informasi baru berkait
dengan instruksi pem kab. utk dilaksanakan di tingkat desa. Di Kabupaten
diadakan raker setiap bulan sekali, yang biasanya dihadiri oleh lurah desa
dan diusahakan untuk tidak diwakilkan.

Berkait dengan model-model

perintah dari supra desa sudah tidak seperti saat Orba, karena camat bukan
lagi sebagai kepala wilayah tetapi sebagai koordinator pembangunan dan
fasilitator. Instruksi disampaikan pada saat rakor kemudian ditindak lanjuti
secara tertulis, dan disosialisasikan kepada masyarakat, lewat kepala dukuh.
Pertanggung jawaban jalannya pemerintahan dan kegiatan pembangunan
dilaporkan kepada BPD, secara tertulis, terutama laporan pertanggung
jawaban APBDes. Sementara itu tembusan dikirim kepada bupati. Hubungan
tata kerja antar unit sudah jelas dan tidak over lapping. Langkah-langkah
yang ditempuh untuk rakorbang. Masing-masing Kabag mempersiapkan
bahan untuk dibicarakan dalam rapat koordinasi. Sedangkan intensitasnya,
rapat koordinasi :

Tingkat desa sebulan sekali

Tingkat kabupaten sebulan sekali

Tingkat kabupaten sebulan sekali.

6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern.
Pengawasan intern dilakukan oleh

a.
-

BPD dilakukan dengan cara membaca laporan pertanggung


jawaban dari lurah desa;

320

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Lurah desa dengan cara mengajukan pertanyyan tentang


tugas dan pekerjaan yang telah dilaksanakan.

b.

Pengawasn ekstern dilakukan oleh BAWASDA, dilakukan apabila


ada permintaan untuk

diperiksa. Akhir akhir ini pemeriksaan

BAWASDA dilakukan karena ada pengaduan oleh masyarakat untuk


mengaudit

keuangan

desa

Giripurwo.

Dengan

dilakukannya

pengawasan ternyata berdampak pada perbaikan kinerja aparat desa


yaitu semakin tertib administrasinya.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong desa Giripurwo; Lurah desa dan Kepala
Dukuh diisi melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Kabag dan Staf
diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten,
penentuan akhir dimusyawarahkan antara lurah desa dengan BPD.
Dengan berdasarkan pada perolehan nilai tertinggi hasil test maka,
kemudian ditetapkan sebagai personal yang mengisi jabatan yang
kosong. Pengisian pamong desa telah berlangsung sesuai dengan
peraturan yang berlaku, dan tidak ditemukan adanya indikasi KKN.
Motivasi menjadi pamong disamping mengemban amanah, tetapi juga
mengabdi kepada kepentingan rakyat, karena jika dilihat dari segi
penghasilan sebagai pamong, ternyata sangat jauh dari yang
diharapkan. Hal ini dibuktikan dengan imbalan jasanya berupa tanah
bengkok yang tidak dapat ditanami padi, tetapi hanya ditanami
polowijo. Hasil yang paling banyak jika disewa untuk ditanami tebu
yaitu Rp. 2 juta tiap hektarnya.
Penempatan pamong telah sesuai dengan minat dan kemauan
masing-masing personal untuk menduduki jabatan pamong tersebut.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antar lain
carik mengikuti pelatihan Proses Penyusunan APBDes. yang diselenggrakan
321

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

oleh USC Satu Nama. Kabag Pendapatan mengikuti pelatihan Pengelolaan


keuangan yang diselenggarakan di gedung Haegar Jln. Adisucipto
Yogyakarta, dan dilanjutkan studi banding ke Bogor, Jawa Barat.
9. Sistem Kompensasi
Luas tanah bengkok pamong desa Giripurwo
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Jabatan
Lurah
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag. Pembangunan
Kabag. Pendapatan
Kabag Kesra
Staf
Staf
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh

Luas bengkok
4,1150 Ha
2 Ha
2,7110 Ha
4,3350 Ha
3,3660 Ha
2,9250 Ha
6.300 m2
7.065 m2
6.670 m2
7.090 m2
1.0510 Ha
7000 m2
1.1450 Ha
7.900 m2
7.900 m2
1.1750 Ha
9.800 m2
8.900 m2
1.8200 Ha
1.7400 Ha
1.7200 Ha
1.8350 Ha
1.8300 Ha

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).

Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan

Carik sebesar Rp. 100.000/bulan

Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan

Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan


322

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.

TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI dengan


membawa buku rekeningnya masing-masing.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi kinerja secara berkala maupun insidental tidak ada.
Evaluasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan keperluan yang bersifat
mendesak. Apabila ditemukan sejumlah persoalan, baru dilakukan
evaluasi, untuk mengetahui letak kelemahannya.
11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi pamong yang telah selesai
menjalankan tugas dinasnya diberikan penghargaan berupa sebagian tanah
bengkok seluas seperlimanya, dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian pamong desa Giripurwo;
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.
Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra
Staf
Staf
Staf
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh

Usia (th)
45
39
39
41
28
38
53
61
50
50
61
53
55
58
39
39
51
49

Tingkat Pendidikan
D3
SLA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTP
SD
SLTP
SLTP
SD
SLTP
SLTP
SD
SLTA
SLTA
SLTA
SLTP

323

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

No
19
20
21
22
23

Jabatan
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh

Usia (th)
58
40
43
50
53

Tingkat Pendidikan
SLTP
SLTA
SD
SD
SD

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi masing-masing unit dan personal dalam pelayanan
administrasi telah sesuai dengan tupoksi. Pelayanan yang diberikan kepada
masyarakat telah efektif dan efisien, terbukti masyarakat tidak ada yang
protes atas pelayanan yang diberikan oleh pamong desa.
14. Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat menjadi ukuran keberhasilan pelayangan
pamong desa. Sejauh ini masyarakat desa Giripurwo sudah mengatakan
mereka puas dengan pelayanan yang diberikan oleh prangkat desanya.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah
cukup banyak, namun masih ada kekurangan, yaitu buku-buku pendukung
untuk organisasi maupun kelembagaan desa. Sedangkan data terbaru yang
tersedia bervariasi, antara lain Monografi Desa sudah sampai tahun 2005,
Laporan PBB sampai dengan tahun 2004 dan sebagian 2005. Namun
demikian masih terdapat beberapa data yang baru sampai dengan tahun
2002- 2003. Fasilitas penunjang untuk menjalankan tugas pekerjaan bagi
pamong desa dalam proses pelayanan sudah cukup lengkap, termasuk
sepeda motor sebagai inventaris desa sebagai saran transportasi. Dalam
menjalankan tugas hariannya pamong telah menempati ruang kerja, yang

324

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

masing-masing berada pada ruangan yang terpisah dan dilengkapi dengan


sarana dan prasarana kerja yang ada.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Cara mempertanggungjawabkan pelayanan administrasi desa kepada
lurah, dan keuangan kepada BPD.
22. DESA JATISARONO
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Jati Sarono belum memiliki Renstra desa, dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunan an belum disusun dalam program
kerja lima tahunan. Program kerja tersebut, yang membuat pamong desa
beserta BPD. Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan adm terhadap
masy cukup realistis ditinjau dari segi potensi, kemampuan pemerintah desa
yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini ditandai dengan
pelayanan kepada masyarakat yang cukup lancar dan belum ada protes
terhadap aparat berkait dengan fungsi pelayanan.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi di desa Jatisarono sama dengan desa-desa
yang lainnya di Kabupaten Kulon Progo. Pola dan struktur tersebut dianggap
cukup representatif bagi mereka untuk menjalankan tugas dan fungsinya
dengan baik.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Tupoksi

masing-masing aparat telah melaksanakan tugas sesuai

dengan tupoksi. Namun demikian diantara aparat desa saling bekerja sama
dalam melaksanakan tugas. Bagi pamong desa yang memiliki tugas cukup
banyak dibantu oleh pamong yang lain, tanpa melalaikan tugas pokoknya.
Kerja sama tersebut dimaksudkan agar tugas pekerjaan pemerintah desa
325

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

tersebut dapat selesai dengan baik. Misalnya tugas-tugas dari Kabag


Pemerintahan

sangat

banyak,

karena

meliputi

tugas

bidang

keagrariaan/pertanahan, Kependudukan seperti : surat kelakuan baik,


pembuatan KK, keamanan dll, sehingga dalam penyelesaian tugas perlu
dibantu oleh Kabag yang lainnya. Hal serupa berlaku pula untuk tugas
pekerjaan Kabag yang lain.

Pembagian kerja sudah cukup merata, karena

mendasakan pada tupoksi yang telah ditetapkan berdasarkan Perda Pem


Kab. Kulon Progo.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat
menjalankan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hubungan
dengan supra desa pun berjalan dengan baik. Tata hubungan antar bagian
tidak terjadi over lapping. Hubungan dengan supra desa juga tidak over
lapping. Bagi dinas-dinas terkait yang memberikan pembinaan telah
menempatkan diri sesuai dengan bidangnya masing-masing. Contoh :
Dinas Sosial memberikan latihan ketrampilan membuat emping mlinjo,
setelah selesai pelatihan diberi bantuan berupa alat pemletes mlinjo.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap tanggal 5 diadakan rapat koordinasi pamong desa yang
terdiri dari Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se
Desa Jati Sarono. Koordinasi dilakukan untuk membahas persoalanpersoalan/hal-hal yang terjadi di desa tersebut antara lain :
-

Tugas penarikan pajak (PBB).

Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana


bantuan dari Pemerintah Desa ataupun dari Pemerintah Kabupaten;

Dana stimulan yang diberikan kepada setiap Dukuh sebesar Rp.


1.750.000 diberikan kepada pedukuhan yang telah lunas PBB nya;

Recheking pemanfaatan bantuan berupa semen, aspal bagi dukuhdukuh yang mengajukan proposal ke Pemerintah Kabupaten;
326

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing Kepala Dukuh;

Setiap tanggal 17 lurah mengadakan rakor di kecamatan, membahas


kemajuan desa, termasuk target-target yang ditetapkan oleh pihak
Kecamatan. Misalnya perubahan penduduk, secara rutin harus
dilaporkan;

Setiap bulan lurah se-Kabupaten Kulon Progo melakukan rapat


koordinasi di Kabupaten;

Alur perintah dari Pem Kab dilakukan dengan menggunakan surat,


dan juga dibicarakan melalui rakor di Kecamatan;

Langkah-langkah yang ditempuh untuk koordinasi antar unit kerja,


masing-masing Kabag menyiapkan laporan sesuai dengan bidang
tugasnya, sebagai bahan untuk rakordes. Hasil dari rakordes
tersebut kemudian dilaporkan ke Kecamatan dan dari kecamatan
dilanjutkan ke Pem Kab. Laporan semacam ini berlangsung secara
periodik setiap bulan.

6. Pengawasan
Pengawasan yang berlangsung anatara lain dilakukan oleh Lurah
Desa, dengan cara mengadakan pendekatan terhadap anak buahnya, dan
mengajukan

pertanyaan-pertanyaan

yang

berkaitan

dengan

tugas

pokoknya. Hal-hal yang berkaitan dengan keuangan selalu dipantau oleh


Lurah, karena yang berkaitan dengan keuangan merupakan hal yang
sangat

sensitif.

Sedangkan

pengawasan

eksternal

dilakukan

oleh

BAWASDA Kabupaten setiap 3 tahun sekali, karena proses pengawasan


secara bergiliran untuk seluruh desa di Kabupaten Kulon Progo. Dari hasil
pemeriksaan di Desa Jati Sarono selama ini belum pernah ditemukan
penyimpangan. Cara pengawasan petugas Bawasda turun ke desa
melakukan pemeriksaan pembukuan dan laporan keuangan. Pengawasan
ini ada pengaruhnya terhadap peningkatan etos kerja pamong, terutama
dalam hal ketelitian pembukuan dan kedisiplinan.

327

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM


Cara pengisian personal pamong desa

Lurah Desa dan Kepala Dukuh dipilih langsung oleh rakyat

Kabag di isi melalui proses seleksi dengan menempuh ujian yang


diselenggarakan Pem Kab. dan penentuan akhir diputuskan oleh
lurah dan BPD dengan kriteria nilai tertinggi yang akan ditetapkan
dan diusulkan untuk menduduki jabatan kosong tersebut. Sampai
saat ini Desa Jati Sarono belum ditemukan pamong yang berindikasi
KKN.
Penempatan pamong sudah sesuai dengan pengalaman dan minat

dari masing-masing personal, karena melalui proses pencalonan dan


seleksi lewat ujian. Motivasi untuk menjadi pamong bagi aparat yang
masa kerjanya sudah cukup lama (>20 tahun), tertarik menjadi
perangkat desa, karena pamong desa masih mempunyai kewibawaan
dimata masyarakat. Namun demikian bagi pamong desa yang relatif
masih baru motivasinya sudah berubah, sangat mungkin karena mencari
pekerjaan saat ini cukup sulit, sehingga untuk memperoleh pendapatan,
ketika ada lowongan pamong, kemudian melamar untuk menjadi aparat
desa. Di Desa Jati Sarono sampai saat ini belum pernah terjadi mutasi
antar personal dari masing-masing bagian.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM sudah cukup lama (sekitar 8 thn) tidak ada
semacam penataran, pelatihan atau sejenisnya, kecuali pak Lurah ada
penataran setelah diangkat/dilantik sebagai lurah desa.
9. Sistem Kompensasi
Luas bengkok masing-masing pamong desa

Lurah

: 3,5 Ha

Carik

: 2,25 Ha

328

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Kabag

: 2,5 Ha

Kepala Dukuh

: 1 Ha

Staf

: 1 Ha

Rois

: 1000 M 2

Penghasilan tambahan pamong desa. Di Kabupaten Kulon Progo


setiap pamng desa memperoleh tunjangan penghasilan tambahan yang
disebut Tunjangan Penghasilan Aparat Pamong Desa (TPAPD). Tunjangan
tersebut tidak sama besarnya.
No
01
02
03
04
05

Jabatan
Lurah
Carik
Kabag
Kepala Dukuh
Staf

Besarnya tunjangan/bln
Rp. 125.000
Rp. 100.000
Rp. 90.000
Rp. 80.000
Rp. 70.000

Tunjangan tersebut diterimakan setiap triwulan sekali dan di ambil


di BRI, dengan membawa buku rekening masing-masing pamong.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi dilakukan kepada masing-masing pamong desa oleh
Lurah, dengan cara melakukan pendekatan, dan menyampaikan beberapa
pertanyaan sekaligus mengecek pelaksanaan tugas anak buahnya. Jika
ditemukan penyimpangan akan dilakukan teguran, selanjutnya jika belum
ada penyelesaian, maka persoalan tersebut dibawa ke forum rapat khusus
dibahas dan dicari solusinya. Di Desa ini pernah terjadi pertemuan
semacam itu, karena ada kesalahan persepsi antara panitia pemilihan,
carik dan kabag pemerintahan, tentang pilihan Kepala Dukuh, yaitu
tentang jumlah pemilih.

11. Purnatugas
329

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan
penghargaan tanah pengarem-arem seluas seperlima dari luas bengkok saat
masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12.Data Pamong
Profil kepegawaian pamong desa Jati Sarono
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag Pem
Kabag Bang
Kabag pendapatan
Kabag K esra
Staf
Staf
Staf
Staf
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh
Kepala Dukuh

Usia
33
59
50
51
59
36
42
38
49
60
47
28
40
36
47
47
50
65
49
37
56

Tingkat pendidikan
S1
SMA
SPBMA
STM
SARMUD
SMA
SMEA
SMA
SD
SPG
SMEA
SMEA
SMEA
STM
SMA
SMEA
SD
SMP
SD
SPG
SMA
S1

13.Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Saat ini staf tidak diperbantukan untuk masing-masing Kabag, tetapi
Staf membantu pekerjaan pamong yang mempunyai pekerjaan yang cukup
banyak.

Demikian

pula

staf

dapat

diperintah

oleh

Lurah

untuk

menyampaikan surat ke berbagai instansi ataupun mewakili pamong untuk


mendatangi acara tertentu mewakili pamong desa. Pelayanan kepada
masyarakat sudah cukup efektif dan efisien, terbukti sampai penelitian ini

330

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dilakukan belum pernah ada keluhan masyarakat berkait dengan pelayanan


yang dilakukan oleh aparat desa.
14. Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat sebagai ukuran keberhasilan penyelenggaraan
pemerintahan desa. Hal ini dianalogikan karena kebutuhan masyarakat telah
tercukupi.
15.Sarana Kerja Pemerintah Desa
Di Desa Jati Sarono peralatan kantor sebagai sarana penunjang
kegiatan kerja aparat desa sudah cukup lengkap (lihat lampiran). Peralatan
yang ada dalam kondisi yang cukup baik, bahkan untuk desa tersebut
memiliki ruang yang dikondisikan dapat digunakan untuk berbagai
kepentingan

umum seperti pertemuan, rapat-rapat dan alin sebagainya.

Untuk menunjang keperluan tersebut pem des berencana menambah kursi


lipat dengan cara bertahap. Buku-buku register lengkap, dan data terbaru
sudah terisi sampai dengan bulan Juli 2005. Fasilitas kerja bagi aparat desa
cukup baik dan memadai untuk ukuran desa. Masing-masing bagian telah
dilengkapi dengan peralatan kantor, termasuk mesin ketik manual yang
berjumlah 5 buah. Desa tersebut telah memiliki 1 unit komputer, walaupun
tidak semua pamong desa dapat mengoperasionalkan komputer, tetapi
beberapa personil telah mampu menggunakan alat tersebut, termasuk pak
lurahnya. Setiap lurah desa se Kabupaten Kulon Progo diberikan inventaris
berupa kendaraan bermotor roda 2 sebagai sarana penunjang kelancaran
kerja.
16.Akuntabilitas Kepada Masyarakat
Pertanggung jawaban: Desa menyerahkan kepada Dukuh untuk
membuat laporan pertanggung jawaban yang dibuat bersama LPMD dan
warga masyarakat. Blanko laporan disiapkan oleh desa, setelah diisi tentang
laporan kegiatan dan keuangan kemudian diserahkan ke Desa. Selanjutnya
331

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

desa meninjau kelapangan untuk checking kebenaran dari laporan tsb.


Laporan cukup sampai di tingkat desa saja dan akan dipertanggung jawabkan
pada LPJ

APBDes.

Akuntabilitas publik terhadap pamong desa masih

kurang, hal ini diindikasikan tidak ada masyarakat yang langsung


menanyakan kepada pamong tentang pertanggung jawaban lurah desa. Cara
pertanggungjawaban di lakukan melalui LPJ lurah kepada rakyat melalui
BPD.
23. DESA BANJARARUM
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Banjararum belum memiliki Renstra Desa, dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunanan dan belum disusun dalam program
kerja lima tahunan. Program kerja tsb, dibuat oleh pamong desa beserta
BPD. Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan adm terhadap masy
cukup realistis ditinjau dari segi potensi, kemampuan pemerintah desa yang
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Di Desa Banjararum dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat dilakukan dengan membuka
loket, sehingga semua urusan yang membutuhkan pelayanan cukup keloket
tersebut dan akan dilayani oleh staf pamong desa sesuai dengan
keperluannya. Kecuali urusan-urusan yang berkaitan dengan NCR langsung
dengan Kabag Kesra, Ijin Usaha dan Ijin mendirikan bangunan dengan
Kabag Pembangunan, serta urusan pertanahan dengan Kabag Pemerintahan.
Pelayanan semacam ini rupanya cukup memuaskan masyarakat, karena
pamong satu dengan yang lain saling membantu.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi di desa Banjararum sama dengan
desa-desa yang lainnya. Pola dan struktur organisasi ini, dipandang cukup
representatif bagi prangkat desa dalam menjalankan tugasnya.

332

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi


Tupoksi masing-masing aparat sesuai dengan Perda No. 2 Thn 2001.
Di Desa Banjararum semua pamong telah melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tupoksi. Namun demikian diantara aparat desa saling bekerja sama
saling mengisi dan saling terkait dalam melaksanakan tugas. Bagi pamong
desa yang memiliki tugas cukup banyak dibantu oleh pamong yang lain, tanpa
melalaikan tugas pokoknya. Kerja sama tersebut dimaksudkan agar tugas
pekerjaan pemerintah desa tersebut dapat selesai dengan baik. Dengan
dibukanya pelayanan satu loket dan dijaga oleh salah seorang staf, ternyata
sangat

membantu

pamong

dalam

memberikan

pelayanan

kepada

masyarakat. Pembagian kerja sudah cukup merata, karena mendasakan pada


tupoksi yang telah ditetapkan berdasarkan Perda No. 2 Thn 2001. Saat ini
Desa Banjararum baru memiliki 3 orang staf, yang membantu Carik, Kabag
Pemerintahan, dan Kabag Kemasyarakatan. Untuk ke depan semua Kabag
direncanakan memiliki seorang Staf.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat
menjalankan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing. Demikian pun
hubunganya dengan pemerintah supra desa, berjalan dengan baik.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap bulan diadakan rapat koordinasi pamong desa yang terdiri dari
Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se Desa
Banjararum.

Koordinasi

dilakukan

untuk

membahas

persoalan-

persoalan/hal-hal yang terjadi di desa tersebut antara lain :

Informasi yang perlu disampaikan kepada Kapala Dukuh;

Tugas penarikan pajak (PBB);

333

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana


bantuan

dari

Pemerintah

Desa

ataupun

dari

Pemerintah

Kabupaten.
Setiap tanggal 10 diadakan rakor tingkat kecamatan yang diikuti oleh
seluruh desa sewilayah Kecamatan Kalibawang, dan setiap tanggal 17
rakor di Kabupaten. Semenjak diberlakukannya UU No 22 tahun 1999 UU
No 32 tahun 2004, Pemerintah Kabupaten sudah tidak lagi banyak
memberikan perintah kepada desa, melainkan informasi-informasi
penting yang disampaikan melalui rakor tingkat kabupaten. Demikian
pula dalam pelaksanaan tugas pemerintahan desa dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat melalui BPD. Tata hubungan kerja antar instansi
sudah jelas, walaupun sering terjadu over lapping. Langkah-langkah yang
ditempuh untuk rakorbang. Masing-masing Kabag mempersiapkan bahan
untuk dibicarakan dalam rapat koordinasi. Sedangkan intensitasnya, rapat
koordinasi tingkat desa sebulan sekali, bahan yang harus disiapkan antara
lain, laporan pelaksanaan tugas yang telah selesai dikerjakan, dan kendala
yang dihadapi, inventarisasi permasalahan di dukuh-dukuh dan alternatif
solusinya, rencana kerja dll. Rapat koordinasi tingkat kecamatan sebulan
sekali, bahan yang dipersiapkan adalah rencana kerja usulan desa,
evaluasi program kerja, persoalan-persoalan yang muncul di desa dll.
Sedangkan ditingkat kabupaten sebulan sekali diadakan rakorbang, yang
membahas berbagai program kerja yang telah lalu, terutama program
yang memperoleh bantuan APBD, usulan-usulan pembangunan desa dll.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern.
a. Pengawasan internal dilakukan oleh : Lurah desa melakukan
pengawasan melekat dengan cara melakukan pendekatan, mengajukan
pertanyaan tentang tugas dan pekerjaan yang telah dilaksanakan, atau
persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas. Pernah

334

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

memberi teguran kepada salah satu kabag karena bertugas di KPPS


sehingga penyelesaian tugas di Desa agak terganggu;
b. Pengawasan eksternal dilakukan oleh : BAWASDA melakukan
pemeriksaan keuangan desa setiap 2 tahun sekali, dengan cara datang
ke desa sewaktu-waktu tidak ada pemberihatuan terlebih dahulu.
Dengan

dilakukannya

pengawasan

ternyata

berdampak

pada

perbaikan kinerja aparat desa antar lain, pamong merasa dikaruhke,


termotivasi untuk lebih teliti dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong desa Giripurwo
a. Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan langsung oleh
rakyat;
b.

Kabag dan Staf

diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh

Pemerintah Kabupaten, penentuan akhir dimusyawarahkan antara


lurah desa dengan BPD. Dengan berdasarkan pada perolehan nilai
tertinggi hasil test maka, kemudian ditetapkan sebagai personal yang
mengisi jabatan yang kosong. Pengisian pamong desa telah
berlangsung sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak
ditemukan adanya indikasi KKN. Motivasi menjadi pamong
disamping mengemban amanah, tetapi juga mengabdi kepada
kepentingan rakyat, karena jika dilihat dari segi penghasilan sebagai
pamong, ternyata sangat jauh dari yang diharapkan. Selain itu
beberapa pamong memeng meneruskan jasa orang tuanya yang dulu
juga menjabat sebagai pamong desa. Penempatan pamong telah
sesuai dengan minat dan kemauan masing-masing personal untuk
menduduki jabatan pamong tersebut, karena saat pengisian jabatan
lowongan pamong, personal tersebut secara suka rela mencalonkan
diri menjadi aparat desa. Setelah terpilih dan dilantik kemudian
diberi pelatihan sesuai dengan bidang tugas masing-masing bagian.
335

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Dengan demikian ditinjau dari kompetensinya telah sesuai dengan


jabatannya. Demikian pula dengan menjabat pamong tersebut aparat
memperoleh pengalaman sesuai dengan bidang tugasnya. Di Desa
Banjararum sampai saat ini belum pernah terjadi mutasi antar
personal dari masing-masing bagian.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antara lain :
a.

Pelatihan peningkatan pelayanan bidang kependudukan.

b.

Pelatihan penerapan sistem informasi, administrasi kependudukan

c.

Pelatihan statistik kependudukan

d.

Pembekalan bagi lurah-lurah yang baru terpilih

Dengan berbagai pelatihan SDM dapat meningkatkan kinerja pamong


desa.
9. Sistem Kompensasi
Luas tanah bengkok pamong desa Giripurwo
No
01
02
03
04
05
06
07
08

Jabatan
Lurah
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag. Pembangunan
Kabag. Pendapatan
Kabag Kesra
Staf
Kepala Dukuh (26 orang)

Luas bengkok
3.6330 Ha
2.6135 Ha
3.1100 Ha
3.4590 Ha
2.9600 Ha
2.7090 Ha
5000 m2
6.500 m2

Keterangan
3 orang
6500 m2 1 Ha

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh pamong


di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan Aparat
Pamong Desa (TPAPD).

Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan

Carik sebesar Rp. 100.000/bulan

Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan

Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan


336

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.

TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI dengan


membawa buku rekeningnya masing-masing. Selain itu pamong desa juga
memperoleh tambahan penghasilan dari desa yang bersumber dari
Pendapatan Asli Desa. Adapun besarnya berdasarkan perbandingan
6,5,4,3 dan 2. Lurah memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp.
300.000/tahun. Carik memperoleh Rp. 250.000/tahun. Kabag sebesar
Rp. 2250.000/tahun. Kepala Dukuh memperoleh Rp. 200.000/tahun.
Staf mendapat tambahan sebesar Rp. 150.000/tahun.
10. Evaluasi Kinerja Pamong
Evaluasi dilakukan kepada masing-masing pamong desa oleh Lurah,
dengan cara melakukan pendekatan, dan menyampaikan beberapa
pertanyaan sekaligus mengecek pelaksanaan tugas anak buahnya. Jika
ditemukan penyimpangan akan dilakukan teguran, selanjutnya jika belum
ada penyelesaian, maka persoalan tersebut dibawa ke forum rapat khusus
dibahas dan dicari solusinya. Evaluasi bukan saja dilakukan di kantor
desa, namun juga sekaligus refreshing dilakukan di luar kantor desa.
11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan
penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok
saat masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa Banjararum
No
01
02
03
04
05

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.
Kabag. Pendapatan

Usia (th)
50
29
41
50
29

Tingkat Pendidikan
SLTA
S1
SPG
SMA
S1

337

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

06
Kabag. Kesra
42
SPG
07
Staf
38
SPG
08
Staf
41
SMEA
09
Staf
31
SMEA
10
Staf
38
SMEA
13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat
Kompetensi dari masing-masing personal pamong telah sesuai dengan
bidangnya. Mestinya setiap Kabag dibantu oleh seorang Staf, namun saat ini
baru Carik, Kabag Kesra dan Kabag Pemerintahan yang memiliki Staf,
sedangkan yang lain belum ada. Pelayanan kepada masyarakat sudah cukup
efektif dan efisien, terutama dengan model satu loket, setiap keperluan
masyarakat langsung dapat dilayani.
14. Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat sebagai ukuran keberhasilan penyelenggaraan
pemerintahan desa, karena fungsi pemerintahan desa antara lain adalah
memberikan pelayanan. Dengan demikian pelayanan merupakan faktor
utama yang harus diberikan kepada masyarakat.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah cukup
banyak, namun masih ada kekurangan, yaitu buku-buku penunjang untuk
administrasi desa. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah
sampai tahun 2005. Fasilitas penunjang untuk menjalankan tugas pekerjaan
bagi pamong desa dalam proses pelayanan sudah cukup lengkap, komputer 3
buah, sepeda motor 2 buah bantuan pemkab dan milik desa dari hasil
pendapataan asli desa. Dalam menjalankan tugas hariannya pamong telah
menempati ruang kerja, yang masing-masing berada pada ruangan yang
terpisah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana kerja yang ada.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat

338

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

LPJ yang dibuat oleh lurah desa diajukan ke BPD sebagai


representasi rakyat dapat diterima dengan mulus, hal ini menunjukkan
kinerja pamong baik. Setiap saat penduduk dapat melihat LPJ yang telah
dibuat lurah desa, berarti pamong desa Banjararum mengembangkan sifat
keterbukaan dalam mempertanggung jawabkan hasil kerjanya.
24. DESA BANJAROYA
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Banjaroya belum memiliki Renstra Desa. Dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunan dan belum disusun dalam program
kerja lima tahunan. Program kerja tsb, dibuat oleh pamong desa beserta BPD.
Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan administras terhadap
masyarakat belum realistis, karena terdapat dua kepala bagian yang masih
baru, namun keduanya merangap menjadi guru, sehingga tugas hariannya
terbagi di dua tempat yaitu disekolahan dan di kantor desa. Kadang-kadang
pelayanan terhadap masyarakat agak terkendala karena personal tersebut
belum datang masih mengajar di sekolahnya.
2. Pola Dan Struktur Organisasi
Pola dan struktur organisasi di Desa Banjaroyo sama dengan desa yang
lainnya. Pola dan struktur organisasi ini, dipandang cukup memenuhi
kebutuhan pelayanan kepada masyarakat desa.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Sebagian besar tugas pamong telah sesuai dengan Tupoksi yang tertera
dalam Perda No. 2 Thn 2001. Namun demikian

masih terdapat

penyimpangan antara lain penomoran Surta Keputusan pengangkatan Kabag


Kesar dan Kanbag Pembangunan yang mestinya menggunakan nomor dari
Carik, namun ternyata nomor SK tersebut dari luar carik. Diantara aparat
desa dalam malaksanakan tugas harian masih kurang harmonis, kerja sama
339

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

masih perlu ditingkatkan.

Pembagian kerja sudah cukup merata, karena

mendasakan pada tupoksi yang telah ditetapkan berdasarkan Perda No. 2 Thn
2001. Namun demikian dalam hal-hal yang sifatnya khusus, lurah sering
mengambil kebijakan tersendiri.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian ada yang kompak dan ada yang
kurang harmonis, tetapi hubungan dengan supra desa berjalan dengan baik.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap bulan diadakan rapat koordinasi pamong desa yang terdiri dari
Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se Desa Banjaroya,
Koordinasi dilakukan untuk membahas persoalan-persoalan/hal-hal yang
terjadi di desa tersebut antara lain :
a.

Informasi yang perlu disampaikan kepada Kapala Dukuh

b.

Tugas penarikan pajak (PBB).

c.

Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana


bantuan dari Pem Desa ataupun dari Pem Kab.

d.

Perencanaan masa tanam.

e.

Hal-hal lain yang berkaitan dengan kebutuhan pelayanan


masyarakat, pembangunan dan pemerintahan desa.
Setiap tanggal 10 diadakan rakor tingkat kecamatan yang diikuti

oleh seluruh desa sewilayah Kecamatan Kalibawang, dan setiap tanggal 17


rakor di Kabupaten. Semenjak diberlakukannya UU No 22 tahun 1999 UU No
32 tahun 2004, Pemerintah Kabupaten sudah tidak lagi banyak memberikan
perintah

kepada

desa,

melainkan

informasi-informasi

penting

yang

disampaikan melalui rakor tingkat kabupaten. Demikian pula dalam


pelaksanaan tugas pemerintahan desa dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat melalui BPD. Tata hubungan kerja antar instansi sudah jelas,
walaupun sering terjadu over lapping.

Langkah-langkah yang ditempuh

untuk rakorbang. Masing-masing Kabag mempersiapkan bahan untuk


340

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dibicarakan dalam rapat koordinasi. Adapun bahan-bahan yang dipersiapkan


meliputi:
a. Inventarisasi dan evaluasi keputusan rapat yang lalu
b. Inventarisasi pembayaran PBB
c. Permasalahan yang dihadapi masing-masing pedukuhan.
Rapat koordinasi tingkat kecamatan sebulan sekali, bahan yang
dipersiapkan adalah rencana kerja usulan desa, evaluasi program kerja,
persoalan-persoalan yang muncul di desa dll. Sedangkan ditingkat kabupaten
sebulan sekali diadakan rakorbang, yang membahas berbagai program kerja
yang telah lalu, terutama program yang memperoleh bantuan APBD, usulanusulan pembangunan desa, evaluasi bantuan semen, aspal dll.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern.
a. Pengawasan intern dilakukan oleh Lurah desa melakukan pengawasan
melekat dengan cara

mengajukan pertanyaan tentang tugas dan

pekerjaan yang telah dilaksanakan, atau persoalan-persoalan yang


dihadapi dalam pelaksanaan tugas.
b. Pengawasn ekstern dilakukan oleh BAWASDA melakukan pemeriksaan
keuangan desa ditemukan belum selesainya pembuatan LPJ tahun
2003 dan 2004. Bahkan tahun 2004 terdapat temuan dana Rp.
4.336.293 yang belum dipertanggungjawabkan.Dengan dilakukannya
pengawasan ternyata belum berdampak pada perbaikan kinerja aparat
desa.
7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong desa Giripurwo
Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan

a.

langsung oleh rakyat;


Kabag dan Staf

b.
diadakan

oleh

Pemerintah

diisi melalui proses seleksi yang


Kabupaten,

penentuan

akhir
341

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

dimusyawarahkan antara lurah desa dengan BPD. Dengan


berdasarkan pada perolehan nilai tertinggi hasil test maka,
kemudian ditetapkan sebagai personal yang mengisi jabatan yang
kosong.
Pengisian pamong desa telah berlangsung sesuai dengan peraturan
yang berlaku, dan tidak ditemukan adanya indikasi KKN. Motivasi
menjadi pamong disamping mengemban amanah, tetapi juga mengabdi
kepada kepentingan rakyat, karena jika dilihat dari segi penghasilan
sebagai pamong, ternyata sangat jauh dari yang diharapkan. Selain itu
beberapa pamong meneruskan jasa orang tuanya yang dulu juga menjabat
sebagai pamong desa. Penempatan pamong telah sesuai dengan minat dan
kemauan masing-masing personal untuk menduduki jabatan pamong
tersebut, karena saat pengisian jabatan lowongan pamong, personal
tersebut secara suka rela mencalonkan diri menjadi aparat desa. Setelah
terpilih dan dilantik kemudian diberi pelatihan sesuai dengan bidang
tugas

masing-masing

bagian.

Dengan

demikian

ditinjau

dari

kompetensinya telah sesuai dengan jabatannya. Demikian pula dengan


menjabat pamong tersebut aparat memperoleh pengalaman sesuai dengan
bidang tugasnya. Di Desa Banjararum sampai saat ini belum pernah
terjadi mutasi antar personal.
8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antara lain :
a. Penataran Administrasi Pemerintahan Desa selama 1 minggu di
Kabupaten
b. Sosialisasi UU No 32 tahun 2004 oleh LSM selama 3 hari
Dari berbagai upaya peningkatan SDM tersebut, ternyata belum dapat
meningkatkan kinerja pamong desa.
9. Sistem Kompensasi

342

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).
a. Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan
b. Carik sebesar Rp. 100.000/bulan
c. Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan
d. Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan
e. Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.
TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI
dengan membawa buku rekeningnya masing-masing. Karena penghasilan
yang diterima oleh pamong desa relatif kecil sementara itu untuk
kebutuhan keluarga, maupun untuk kepentingan sosial sangat besar,
maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, beberapa pamong mencari
usaha tambahan. Adapun jenis usaha yang dilakukan antara lain
memelihara ternak, sapi, kambing, ayam dll. Selain itu ada yang berusaha
sebagai produsen lanting, berjualan dan lain-lain.
10.

Evaluasi Kinerja Pamong

Evaluasi tidak ada, kecuali melalui LPJ lurah kepada BPD.


11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan
penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok saat
masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12.Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa Banjaroya
No
01
02
03
04

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.

Usia (th)
32
52
43
34

Tingkat Pendidikan
S1
SD
SLTA
S1
343

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

05
06

Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra

55
42

SLTP
S1

344

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

No
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Jabatan
Staf
Staf
Staf
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Usia (th)
57
40
30
37
40
53
55
54
58
61
43
46
34
29
45
56

Tingkat Pendidikan
SD
SLTA
S1
SLTA
SLTA
SD
SD
SD
SD
SD
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SLTA
SD

13.Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi dari masing-masing personal pamong telah sesuai
dengan bidangnya. Mestinya setiap Kabag dibantu oleh seorang Staf,
namun saat ini terdapat lowongan jabatan staf, yang ada baru staf Kabag
Pemerintahan. Pelayanan kepada masyarakat maih kurang efektif dan
efisien, karena terdapat dua Kabag yang merangkap jabatan sebagai guru.
14.Kepuasan Masyarakat
Kepuasan masyarakat sebagai ukuran keberhasilan penyelenggaraan
pemerintahan desa. Dengan demikian pelayanan merupakan faktor utama
yang seharusnya diberikan kepada masyarakat.
15.Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah cukup
banyak, namun masih ada kekurangan, yaitu buku-buku penunjang untuk
administrasi desa. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah

345

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

sampai tahun 2005. Fasilitas penunjang untuk menjalankan tugas pekerjaan


bagi pamong desa dalam proses pelayanan sudah cukup, komputer 1 buah,
sepeda motor 1 buah bantuan pemkab. Dalam menjalankan tugas hariannya
pamong telah menempati ruang kerja, yang masing-masing berada pada
ruangan yang terpisah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana kerja
yang ada.
16.Akuntabilitas Kepada Masyarakat
LPJ yang dibuat oleh lurah desa tahun 2003 dan 2004 belum dapat
diterima oleh BPD, karena terdapat beberapa pos anggaran yang belum
dimasukkan.
25. DESA GERBOSARI
1. Perencanaan (Administrasi Dan Pelayanan Administrasi)
Desa Gerbosari belum memiliki Renstra Desa, dalam melaksankan
kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan administratif desa
menggunakan program kerja tahunanan dan belum disusun dalam
program kerja lima tahunan. Program kerja tsb, dibuat oleh pamong desa
beserta BPD. Desa ini belum memiliki visi dan misi. Pelayanan
administrasi terhadap masyarakat cukup realistis ditinjau dari segi
potensi,

kemampuan

pemerintah

desa

yang

disesuaikan

dengan

kebutuhan masyarakat. Di Desa Gerbosari dalam memberikan pelayanan


kepada masyarakat dilakukan secara kerja sama. Jika ada warga
masyarakat yang membutuhkan penyelesaian administrasi, akan dilayani
oleh pamong yang telah hadir, dan tidak perlu menunggu Kabag yang
membidanginya. Dengan demikian setiap pamong dituntut harus dapat
menguasai semua urusan administrasi pemerintahan desa. Ditinjau dari
model pelayanan seperti itu masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk
menyelesaikan urusan surat-menyurat di kantor desa.

346

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

2. Pola Dan Struktur Organisasi


Pola dan struktur organisasi sama dengan desa-desa yang lain. Pola
dan struktur organisasi yang ada dianggap cukup representatif dan sesuai
dengan kebutuhan pelayanan kepada masyarakat.
3. Pelaksanaan Tugas Pokok Dan Fungsi
Tupoksi masing-masing aparat sesuai dengan Perda No. 2 Thn 2001.
Di Desa Gerbosai semua pamong telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tupoksi. Namun demikian diantara aparat desa saling bekerja sama saling
mengisi dan saling terkait dalam melaksanakan tugas. Bagi pamong desa
yang memiliki tugas cukup banyak dibantu oleh pamong yang lain, tanpa
melalaikan tugas pokoknya. Kerja sama tersebut dimaksudkan agar tugas
pekerjaan pemerintah desa tersebut dapat selesai dengan baik. Pembagian
kerja sudah cukup merata, karena mendasakan pada tupoksi yang telah
ditetapkan berdasarkan Perda No. 2 Thn 2001. Saat ini Desa Gerbosari baru
memiliki 3 orang staf, yang membantu semua pamong yang ada di desa
tersebut.
4. Tata Hubungan Antar Unit Kerja Maupun Dengan Supra Desa
Tata hubungan kerja antar bagian cukup baik, semua aparat
menjalankan tugas dan bertanggung jawab sesuai dengan bidangnya masingmasing. Hubungan dengan pemerintah supra desa pun, berjalan sebagaimana
mestinya.
5. Koordinasi Antar Unit Maupun Dengan Supra Desa
Setiap bulan yaitu tanggal 25 diadakan rapat koordinasi pamong desa
yang terdiri dari Lurah, Carik, Kabag-kabag, sampai dengan Kepala Dukuh se
Desa Gerbosari. Rapat ini dilakukan setelah rakor di tingkat kecamatan (tiap
tanggal 17), karena menunggu informasi hasil rakor di kematan untuk
disampaikan kepada semua aparat desa. Rakor ditingkat desa dilakukan

347

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

untuk membahas persoalan-persoalan/hal-hal yang terjadi di desa tersebut


antara lain :
a. Informasi yang perlu disampaikan kepada Kapala Dukuh
b. Tugas penarikan pajak (PBB).
c. Kegiatan pembangunan, terutama yang berkaitan dengan dana
bantuan dari Pem Desa ataupun dari Pem Kab.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk rakorbang. Masing-masing
Kabag mempersiapkan bahan untuk dibicarakan dalam rapat koordinasi.
Sedangkan intensitasnya, rapat koordinasi tingkat desa sebulan sekali, bahan
yang harus disiapkan antara lain, laporan pelaksanaan tugas yang telah
selesai dikerjakan, dan kendala yang dihadapi, inventarisasi permasalahan di
dukuh-dukuh dan alternatif solusinya, rencana kerja dll. Rapat koordinasi
tingkat kecamatan sebulan sekali, bahan yang dipersiapkan adalah rencana
kerja usulan desa, evaluasi program kerja, persoalan-persoalan yang muncul
di desa dll. Sedangkan ditingkat kabupaten sebulan sekali diadakan
rakorbang, yang membahas berbagai program kerja yang telah lalu, terutama
program yang memperoleh bantuan APBD, (seperti semen, aspal), serta
usulan-usulan pembangunan desa.
6. Pengawasan
Pengawasan dilakuakan secara intern dan ekstern. Pengawasan
internal dilakukan oleh; Dilakukan oleh BPD menanyakan langsung
kepada warga masyarakat tentang program-program pembangunan yang
telah diputuskan untuk dilaksanakan. Sedangkan untuk pengawasan yang
langsung menyangkut pamong dilakukan BPD dengan cara cheking
pelaksanaan tugas dari masing-masing pamong. Pengawasn eksternal
dilakukan oleh BAWASDA melalui pemeriksaan keuangan desa setiap 3
tahun sekali, dengan cara datang ke desa sewaktu-waktu tidak ada
pemberihatuan terlebih dahulu. Dengan dilakukannya pengawasan
ternyata berdampak pada perbaikan kinerja aparat desa antar lain,

348

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

pamong merasa

termotivasi untuk lebih teliti dan hati-hati dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya.


7. Rekrutmen Dan Penempatan SDM
Cara pengisian pamong Desa Gerbosari
a. Lurah desa dan Kepala Dukuh diisi melalui pemilihan langsung oleh
rakyat
b. Kabag dan Staf

diisi melalui proses seleksi yang diadakan oleh

Pemerintah Kabupaten, penentuan akhir dimusyawarahkan antara


lurah desa dengan BPD. Dengan berdasarkan pada perolehan nilai
tertinggi hasil test maka, kemudian ditetapkan sebagai personal yang
mengisi jabatan yang kosong.
Pengisian pamong desa telah berlangsung sesuai dengan peraturan
yang berlaku, dan tidak ditemukan adanya indikasi KKN. Disamping
niatnya ibadah, motivasi Lurah Desa menjadi pamong karena merasa
lebih dekat dengan rakyat dari pada menjadi pegawai negeri. (guru). Jika
dilihat dari segi penghasilan sebagai pamong, ternyata sangat jauh dari
yang diharapkan. Berbeda halnya dengan Kabag Pembangunan, motivasi
menjadi pamong karena untuk memperoleh pekerjaan lainnya susah,
sehingga dari pada menganggur, mencalonkan diri menjadi pamong
ternyata dapat terpilih. Penempatan pamong telah sesuai dengan minat
dan kemauan masing-masing personal untuk menduduki jabatan pamong
tersebut, karena saat pengisian jabatan lowongan pamong, personal
tersebut secara suka rela mencalonkan diri sesuai dengan jabatan yang
kosong. Dengan demikian menjabat pamong tersebut aparat memperoleh
pengalaman sesuai dengan bidang tugasnya. Di Desa Gerbosari sampai
saat ini belum pernah terjadi mutasi antar personal dari masing-masing
bagian.

349

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

8. Pengembangan SDM
Pengembangan SDM telah dilakukan berbagai pelatihan, antara
lain: Ketika diberlakukan UU 5 thn 79 setiap tahun lurah dilatih tentang
administrasi pem desa. Bahkan lurah Gerbosari dapat memperoleh
prestasi sampai dengan tingkat nasional. Pernah mewakili temu LMD
tingkat nasional tahun 1995 di Menado. Selama berlakunya UU 22 tahun
99 tidak pernah ada pelatihan. Pelatihan pamong, tentang perpustakaan,
pertanahan, pemerintahan desa dll.
9. Sistem Kompensasi
Luas tanah bengkok pamong desa Giripurwo
No
01
02
03
04
05
06
07
08

Jabatan

Luas bengkok
2 Ha
1,6 Ha
1.3 Ha
1.3 Ha
1.3 Ha
1.3 Ha
1 Ha
1 Ha

Lurah
Carik
Kabag Pemerintahan
Kabag. Pembangunan
Kabag. Pendapatan
Kabag Kesra
Staf
Kepala Dukuh (26
orang)

Disamping memperoleh penghasilan dari tanah bengkok , seluruh


pamong di Kabupaten Kulon Progo memperoleh Tunjangan Penghasilan
Aparat Pamong Desa (TPAPD).
a. Lurah sebesar Rp. 125.000/bulan
b. Carik sebesar Rp. 100.000/bulan
c. Kabag sebesar Rp. 90.000/bulan
d. Kepala Dukuh sebesar Rp. 80.000/bulan
e. Staf sebesar Rp. 70.000/bulan.
TPAPD tersebut diterimakan setiap triwulan dan diambil di BRI
dengan membawa buku rekeningnya masing-masing.
menambah

penghasilan

beberapa

pamong

desa

Selain itu untuk


mencari

pekerjaan

sampingan seperti ngojek, tukang batu, buruh, berdagang makanan dll.


350

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

10. Evaluasi Kinerja Pamong


Evaluasi dilakukan oleh BPD melalui LPJ lurah pada tiap tahun.
11. Purnatugas
PHK belum pernah terjadi. Bagi yang telah purna tugas diberikan
penghargaan tanah (pengarem-arem) seluas seperlima dari luar bengkok
saat masih menjabat dan digarap selama 0,5 masa kerjanya.
12. Data Pamong
Profil kepegawaian pamong Desa Gerbosari
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Jabatan
Lurah Desa
Carik
Kabag. Pemerint.
Kabag. Pembang.
Kabag. Pendapatan
Kabag. Kesra
Staf
Staf
Staf
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh
Dukuh

Usia (th)
58
48
43
56
54
48
49
53
37
60
63
44
51
57
62
41
37
49
38
47
40

Tingkat Pendidikan
SLTA
SMEA
Sarmud
SD
Sarmud
SMEA
SLTP
SMP
SMA
SD
SLTP
SLTP
SLTA
SD
SLTP
SLTA
SLTA
STN
SPG
SGB
SLTA

13. Kemampuan Memberi Pelayanan Kepada Masyarakat


Kompetensi dari masing-masing personal pamong cukup baik
karena semua dapat melayani kebutuhan masyarakat . (ngabehi).
Pelayanan kepada masyarakat sudah cukup efektif dan efisien, terutama
dengan model kroyokan, setiap keperluan masyarakat langsung dapat
dilayani.
351

Laporan Akhir Penelitian dan Pengkajian Alih Status Desa Menjadi Kelurahan-Kabupaten Kulon Progo 2005
STPMD APMD Yogyakarta

14. Kepuasan Masyarakat


Kepuasan

masyarakat

sebagai

ukuran

keberhasilan

penyelenggaraan pemerintahan desa, karena fungsi pemerintahan desa


antara lain adalah memberikan pelayanan. Dengan demikian pelayanan
merupakan faktor utama yang harus diberikan kepada masyarakat.
15. Sarana Kerja Pemerintah Desa
Kelengkapan administrasi Pemerintahan Desa sudah cukup, baik
ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Buku-buku Register sudah
cukup banyak. Sedangkan data terbaru antara lain Monografi Desa sudah
sampai tahun 2005. Fasilitas penunjang untuk menjalankan tugas
pekerjaan bagi pamong desa dalam proses pelayanan sudah cukup
lengkap. Dalam menjalankan tugas hariannya pamong telah menempati
ruang kerja, yang masing-masing berada pada ruangan yang terpisah dan
dilengkapi dengan sarana dan prasarana kerja yang ada. Desa Gerbosari
memiliki

inventaris

sebuah

sepeda

motor

yang

dibeli

dengan

menggunakan Dana Bantuan Desa Rp 3 juta dan PAD Rp.3 juta. Desa juga
memperoleh bantuan inventaris sepeda motor dari pem kab. untuk
menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Untuk meningkatkan motivasi
kerja setiap aparat yang bertugas keluar disediakan uang transport, ke
propinsi sebesar Rp. 20.000, ke kabupaten sebesar Rp. 15.000 dan tugas
ke dukuh-dukuh sebesar Rp. 5.000. Setiap tahun pamong, pengurus
LPMD dan BPD memperoleh pakaian seragam, yang pengadaannya
menggunakan dana APBDes.
16. Akuntabilitas Kepada Masyarakat
LPJ yang dibuat oleh lurah desa diajukan ke BPD sebagai representasi
rakyat dapat diterima dengan mulus, hal ini menunjukkan kinerja pamong
baik.

352