Anda di halaman 1dari 30

1. Bagaimana perkembangan pada bayi ?

Pada tahun pertama kehidupan ditandai dengan pertumbuhan fisik, maturasi, kemampuan
yang semakin terasah, dan reorganisasi psikologis. Parameter pertumbuhan fisik adalah berat
badan, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala. Pada usia 0-2 bulan, bayi mengalami
pertumbuhan yang luar biasa. Perkembangan fisik bayi baru lahir dapat menurun 10%
dibawah berat badan lahir dalam satu minggu pertama sebagai hasil pengeluaran cairan
ekstravaskular dan intake yang terbatas. Pertambahan berat badan bayi dalam satu bulan
pertama sebanyak 30 gr. Pergerakan tangan dan kaki sangat besar dan tidak terkontrol.
Senyum dapat terjadi secara involunter. Perkembangan kognitif bayi usia 0-2 bulan dapat
membedakan pola, warna, dan konsonan. Mereka dapat mengetahui ekspresi wajah
(senyuman). Untuk perkembangan emosional bayi usia 0-2 bulan tergantung dari dampak
lingkungan sekitarnya. Bayi hanya dapat menangis apabila tidak merasa nyaman dan lapar.
Normalnya bayi menangis paling puncaknya pada usia 6 minggu, bayi normal yang sehat
dapat menangis selama 3 jam/ hari, lalu menurun 1 jam atau berkurang sampai 3 bulan
(Nelson, 2007).
Bayi usia 6-12 bulan dapat mencapai posisi duduk, meningkatnya mobilitas, dan
kemampuan-kemampuan baru untuk mengeksplorasi dunia disekitarnya. Perkembangan fisik
ditandai dengan penambahan berat badan tiga kali lipat, panjang badan bertambah 50%,
lingkar kepala bertambah 10 cm. Kemampuan duduk dicapai pada usia 6-7 bulan. Beberapa
bayi sudah dapat berjalan pada usia 1 tahun. Pertumbuhan gigi di sentral mandibular sudah
tumbuh. Perkembangan kognitif bayi usia 6 bulan suka memasukkan benda apa saja yang
dipegangnya ke mulut. Perkembangan emosional terdapat korespondensi respon objektif di
sosial dan perkembangan komunikatif. Terdapat stranger anxiety. Bayi usia 7 bulan dapat
mengenal komunikasi nonverbal, ekspresi emosional, mengenal vocal tone dan ekspresi
wajah. Sekitar usia 9 bulan dapat membagi emosi dengan yang lain, misalnya membagi
mainan yang dibelikan orang tua dengan anak lainnya (Nelson, 2007).
Anak usia 2-5 tahun dapat menguasai beberapa bahasa yang penting menurutnya dan dapat
bergaul di lingkungan sosial. Perkembangan fisik ditandai dengan pertambahan berat badan
empat kali. Perkembangan organ seksual sesuai dengan perkembangan somatik.
Perkembangan bahasa muncul secara cepat diantara 2 sampai 5 tahun. Bahasa berhubungan
dengan perkembangan kognitif dan emosional. Keterlambatan bahasa diindikasikan anak
tersebut mengalami retardasi mental, penyakit autis, atau mengalami penganiayaan. Anak-

anak yang mengalami keterlambatan berbahasa menunjukkan resiko tinggi mengalami


tantrum (Nelson,2007).

2. Apa saja etiologi gangguan perkembangan ?

Beberapa faktor resiko dan penyebab gangguan/kelainan tumbuh kembang anak, sbb :
-

Usia ibu terlalu muda (<18 tahun) : retardasi mental, trisomi (gangguan gen yang

dibawa sejak lahir).


Usia ibu terlalu tua (>35 tahun) : retardasi mental, mongolism, Klenefelters, Kelainan

SP Celah bibir dan langit-langit.


Umur ayah terlalu tua : Akhondroplasia, tuli, kelainan SSP
Genetic : Berbagai penyakit herediter, Retardasi mental,

premature/postmatur
Faktor Sosial (kemiskinan) : BBLR, Kelainan bawaan
Gizi kurang : BBLR, Retardasi mental, Kerusakan Otak janin
Anak Pertama : Gangguan sikap dan perilaku, Berbagai kelainan bawaan, Disfungsi

minimal otak.
Jarak anak terlalu dekat : Prematuritas, Gangguan psikomotor
Ibu perokok : BBLR/janin tumbuh lambat
Factor musim dan ras : Spina bifida, polidaktili
Infeksi TORCH : Berbagai kelainan bawaan
Endokrin/hormone : Hipoglikemia, gigantism, Hipotiroidism
Trauma lahir : CP, Retardasi mental
Trauma sesudah lahir : CP, Cacat tubuh
Infeksi Susunan saraf : Kelumpuhan, retardasu mental, bisu, tuli, buta, dsb.

Kecenderungan

3. Apa tanda-tanda anak sudh bisa diberi makanan bubur ?


bayi mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga dengan catatan, refleks menjulurkan
lidah dan refleks muntah sudah hilang, selera makan meningkat dimana bayi tampak lapar
bahkan dgn frekuensi menyusu 8-10x per hari ,tertarik/ingin tahu apa yang kita makan
dimana bayi mulai menatap piring/mangkok makanan atau mencoba meraih makanan yang
sedang kita suap.

4. Bagaimana mekanisme gangguan perkembangan pada bram ?


Patofiologi :
Berdasarkan kasus ini, anak mengalami kelahiran prematur dan BBLR dikarenakan usia ibu
dan grande multipara sehingga meyebabkan terjadinya asfiksia >> asidosis metabolik dan
gangguan kardiovaskular >> mempengaruhi sel-sel otak sehingga terjadi kerusakan otak >>
kelainan neurologik >> cerebral palsy >> gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
5. Jenis makanan apa saja yang sudah bisa dikonsumsi bram ?
0 6 Bulan berikan ASI ibu, setelah lebih dari 6 bulan beri MP-ASI :
Dalam pemberian MPASI harus diperhatikan:
1.

Frekuensi pemberian makan

Pada awal MPASI di umur 6 bulan, frekuensi MPASI diberikan 2 kali.


Pada umur 6 9 bulan, frekuensi MPASI diberikan 3 kali. Berikan snack seperti

biskuit atau buah matang 1 2 kali sehari.


Pada umur 9 11 bulan, frekuensi MPASI diberikan 4 kali sehari. Berikan snack

1 2 kali sehari.
Pada umur 12 24 bulan, frekuensi makan diberikan 5 kali sehari dan juga snack
tambahan.

2.

Jumlah makanan yang diberikan

Frekuensi makan dan jumlah makanan yang diberikan menyesuaikan dengan kapasitas
lambung bayi dan rata-rata kandungan kalori pada MPASI yang sekitar 0,8 kcal/gram.
Ukuran lambung bayi masih kecil yah. Bayi yang baru lahir ukuran lambungnya hanya
sebesar kelereng, umur 3 hari bertambah sebesar bola bekel dan umur 1 minggu bertambah
menjadi sebesar bola pingpong. Nah, ukuran ini berangsur-angsur akan membesar seukuran
bola tenis pada bayi umur 6 12 bulan. Menurut penelitian, kapasitas lambung bayi itu
sekitar 30 gram makanan/kg BB-nya.

Pada awal MPASI di umur 6 bulan jumlah makanan yang diberikan sekitar 2 3

sendok makan.
Pada umur 6 9 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap dari 2 sendok makan

menjadi cangkir (125 mL).


Pada umur 9 11 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap hingga cangkir
Pada umur 12 24 bulan, jumlah makanan dinaikkan bertahap dari cangkir
menjadi 1 cangkir penuh (ukuran cangkir 250 mL).

3.

Tekstur makanan

Pada umur 6 bulan tekstur yang diberikan adalah makanan lumat (bubur saring, pure atau
makanan yang ditumbuk/dihaluskan). Pastikan tekstur tidak terlalu cair, jadi gunakan sedikit
saja air. Jadi tekstur bubur cair, tapi jika sendok dimiringkan bubur tidak tumpah.

Pada umur 8 bulan bayi sudah bisa dikenalkan dengan makanan finger food.
Pada umur 9 11 bulan tekstur makanan dinaikkan menjadi makanan lembek
(nasi tim, bubur tanpa disaring, makanan dicincang halus atau irisan makanan-

lunak).
Pada umur 12 bulan bayi sudah bisa memakan makanan meja: makanan yang
dicincang kasar, diiris atau dipegang tangan.

Tekstur makanan ini disesuaikan dengan perkembangan sistema persarafan dan oro-motorik
bayi. Di atas sudah disampaikan tentang kekosongan suplai energi dan zat gizi juga ukuran
lambung yang kecil. Sehingga kita hanya bisa memberikan makanan dalam jumlah sedikit
namun frekuensi sering, juga sebaiknya yang mudah dicerna. Proses pencernaan makanan
ada dua tahap, yaitu pencernaan mekanik oleh kegiatan oro-motorik gigi-geligi dan
pencernaan kimiawi oleh reaksi enzimatik enzim pemecah makanan. Reaksi enzimatik akan
sempurna jika luas permukaan sentuh antar-partikel makin efisien, sehingga ukuran partikel
bahan makanan yang tertelan sebaiknya sudah kecil.

Bayi umur 5 bulan baru belajar menggerakkan sendi rahangnya dan makin kuat refleks
hisapnya. Bayi umur 7 bulan bisa membersihkan sendok menggunakan bibirnya. Bayi saat ini
bisa menggerakkan sendi rahang naik-turun juga gigi masih sedikit pun biasanya baru punya
gigi seri yang bertugas memotong bukan menggilas makanan, sehingga proses mengunyah
dan hasil partikel kunyahan masih kasar. Mulai umur 8 bulan bayi telah mampu
menggerakkan lidah ke samping dan mendorong makanan ke gigi-geliginya, makin stabil
menjaga keseimbangan dan memegang sehingga dia sudah bisa menerima makanan finger
food.
Umur 10 bulan merupakan waktu kritis bayi diharapkan sudah bisa memakan makanan semipadat (lumpy solid food) sehingga mulai kenalkan makanan lembek tanpa saring di umur 9
bulan. Jika terlambat menaikkan tekstur makanan maka anak akan semakin sulit memakan
makanan yang lebih padat. Umur 12 bulan sendi rahang bayi telah stabil dan mampu
melakukan gerakan rotasi sehingga sudah bisa lebih canggih dalam mengunyah makanan
kasar. Pada saat ini bayi telah siap memakan makanan meja sesuai yang dimakan oleh
keluarga.
Jika bayi dipaksa makan makanan padat terlalu dini, risiko tersedak sangat besar. Selain itu
bayi membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanipulasi makanan dan mengunyahnya
hingga menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Akibatnya bayi akan memakan jumlah
makanan yang lebih sedikit sehingga asupan makanannya kurang dan kekosongan kebutuhan
tubuhnya akan tetap kosong.
Jika ibu ingin bayi mendapatkan manfaat yang optimal dari makanan yang dia makan maka
sebaiknya ibu pilih menu sesuai dengan tahap perkembangan bayi ya.
4.

Varietas jenis bahan makanan

Pada masa awal MPASI berikan 1 jenis makanan terlebih dahulu, kemudian tambahkan 1
jenis makanan lain setiap minggu. Dalam pengenalan bahan baru disarankan memulai dengan
dosis sekitar 1 2 sendok teh. Lebih disarankan lagi diberikan sebagai rasa tunggal, namun
ada beberapa bayi yang menyukai saat dicampur.
Prioritaskan memilih sumber karbohidrat (bubur serealia seperti bubur beras, bubur jagung,
kentang tumbuk, pisang kerok, sukun) dan segerakan memberikan bahan pangan sumber zat
besi hewani.

Tambahkan minyak atau margarin setengah hingga satu sendok teh ke dalam bubur bayi
untuk meningkatkan kandungan energi serta supaya makanan licin dan mudah ditelan bayi.
Ibu bisa menggunakan minyak apapun yang tersedia di rumah selama minyaknya masih
bersih dan bagus bukan minyak bekas menggoreng. Boleh juga menambahkan parutan
makanan yang sudah digoreng ke dalam MPASI.
Hindari makanan dan minuman manis seperti teh, soda, atau biskuit manis. Jangan
memberikan makanan yang keras dan berpotensi untuk tersedak. Apalagi jika pilihan MPASI
ibu hanya buah dan sayuran yang boleh dimakan bayi, tentu bayi akan rentan mengalami
kekurangan energi, kecuali jumlah makanan yang diberikan sangat banyak dengan risiko bayi
sembelit karena makan melebihi kapasitas pencernaannya (ingat bahwa bayi membutuhkan
lebih banyak makanan jika kandungan kalorinya makin sedikit).
Pada umur 6 bulan, sistem pencernaan bayi, termasuk pancreas telah berkembang dengan
baik sehingga bayi telah mampu mengolah, mencerna serta menyerap protein, lemak dan
karbohidrat dari bahan makanan lain selain ASI dan susu formula.
Pada umur 6 bulan, ginjal bayi telah berkembang dengan baik sehingga mampu
mengeluarkan produk sisa metabolisme termasuk dari bahan pangan tinggi protein seperti
daging. Jadi, bukan menjadi alasan menunda pemberian daging merah, ikan dan telur.
Susu sapi dan hewan lain belum boleh menjadi minuman utama bagi bayi di bawah 12 bulan
karena terkait dengan risiko perdarahan di saluran cerna serta menghambat penyerapan zat
besi. Namun, ibu bisa menggunakan produk susu seperti keju, yoghurt, dan lainnya sebagai
campuran dalam MPASI jika bayi tidak sensitif dan alergi. Madu baru diberikan pada anak di
atas umur 12 bulan terkait risiko botulisme akibat adanya Clostridium botulinum yang
mencemari madu.
Berikan air putih yang bersih dan sudah dimasak sebanyak kurang lebih 4 8 oz (120 240
mL) per hari. Air putih berguna sebagai suplai cairan juga untuk mencegah sembelit.
5.

Pemberian makan dengan cara aktif/responsive

MPASI bukan hanya sekedar makanan namun juga cara makan, kapan waktu makan, tempat
makan, dan faktor pemberi makanan sehingga dalam MPASI juga diperhatikan faktor
psikososial anak.

Suapi bayi dan perhatikan anak yang lebih besar serta beri bantuan bila dia
membutuhkan. Beri anak makanan dengan sabar dan penuh perhatian, dorong

anak untuk mau makan namun jangan paksa anak untuk makan.
Jika anak menolak makan, coba ganti kombinasi makanan, rasa, tekstur dan

metode makan.
Minimalisasi gangguan saat anak makan jika anak tipe yang mudah teralihkan

perhatiannya.
Waktu makan adalah saatnya anak untuk belajar dan waktu keluarga mencurah
cinta dan saling berkomunikasi sehingga ajak anak untuk mengobrol dengan
kontak mata yang penuh kehangatan.

Pemberian makan active responsive ini kita tidak memaksa bayi untuk makan, kita ikuti
kemauan bayi dan kita libatkan dia secara aktif untuk berpartisipasi saat makan.
Pemberian ASI pada saat MPASI masih seperti pada saat masa ASI eksklusif yaitu sesering
dan selama yang anak inginkan. Pada umur 6 12 bulan disarankan untuk menyusui terlebih
dahulu sebelum memberikan makanan lain. Namun teknis pelaksanaannya dikembalikan
kepada kenyamanan ibu dan anak. Jangan takut anak menyusu akan membuat anak malas
makan. Menyusu semau bayi pada masa-masa ini akan tetap membuatnya masih lapar karena
ASI sangat berbeda dari susu formula dan sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan nafsu
makan juga energi bagi bayi.
Keuntungan masih menyusui semau bayi pada masa MPASI antara lain:

Bayi akan terlindungi dari reaksi peradangan dan infeksi karena ada sel-sel darah

putih, antibodi, antiradang dan aktivator sel darah putih di dalam ASI.
Epidermal growth factor di dalam ASI akan membantu perkembangan sel-sel
usus juga papilla lidah/taste bud bayi. Papilla lidah yang sehat akan membuat
anak mudah merasakan rasa makanan sehingga nafsu makannya menjadi baik.
Pencernaan yang berkembang sempurna membantu bayi makin efektif mencerna

makanan.
Terdapat enzim percerna karbohidrat, lemak dan protein di dalam ASI sehingga
proses pencernaan zat gizi dalam makanan akan semakin efisien.

6.

Higienitas

Pada masa-masa ini bayi sangat rentan terkena diare sehingga ibu harus memastikan
kebersihan makanan, air, alat makan, proses memasak dan tangan (pemberi makan maupun

bayi). Cuci tangan ibu dan bayi dengan air serta sabun saat mau memasak, mau makan dan
setelah dari toilet (sabun biasa, tidak perlu sabun antibakteri). Disarankan menggunakan
peralatan makan yang mudah dibersihkan seperti cangkir, mangkok dan sendok, bukan botolsendok, dot atau pipet. Makanan bayi bisa disimpan di kulkas dalam rentang yang tidak
terlalu lama. Masak dengan benar hingga makanan matang. Bubur bayi yang tidak disimpan
di kulkas sebaiknya segera digunakan dalam waktu 2 jam. Pastikan makanan mentah yang
dimakan bayi bersih dan aman. Pisahkan makanan mentah dan matang.
Cara memasak bubur lumat:

1 sendok nasi + 2 sendok air panaskan menggunakan panci kecil dg api sedang
hingga bahan tercampur jadi lembek lalu saring dengan saringan kawat. Boleh
dengan bumbu seperti duo bawang geprek dan daun salam. Air boleh diganti

kaldu.
Tambahkan lauk hewani dan nabati, juga sayur sesuai tekstur tahap

perkembangan anak.
Tambahkan minyak atau margarin atau mentega.
Cara memasak bubur lembek sama seperti di atas tapi tidak perlu disaring.

Contoh MPASI untuk anak umur 1 tahun:

Pagi 3 sendok nasi + 1 sendok olahan kacang-kacangan (misal tempe) + butir

jeruk
Siang 3 sendok nasi + 1 sendok ikan + 1 sendok sayuran hijau
Sore/malam 3 sendok nasi + 1 sendok hati ayam + 1 sendok sayuran hijau
Berikan 2 kali snack dengan pisang yang dioles margarin.

6. Bagaimana interpretasi dan makna klinis dari riwayat kehamilan ?


Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan
persalinan seperti asfiksia, sepsis dan komplikasi berat lahir rendah.
Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran
gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan
dalam menghilangkan CO2. Perubahan pertukaran gas dan transport oksigen selama
kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi oksigenasi selsel tubuh yang selanjutnya

dapat mengakibatkan gangguan fungsi sel. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun
akibat kondisi ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu
dalam persalinan.
Diperkirakan 1 juta anak yang bertahan setelah mengalami asfiksia saat lahir kini hidup
dengan morbiditas jangka panjang seperti cerebral palsy, retardasi mental dan gangguan
belajar. Asfiksia neonatorum adalah kegawat daruratan bayi baru lahir berupa depresi
pernafasan yang berlanjut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi
Asfiksia merupakan salah satu etiologi terjadinya cerebral palsy, suatu sumber menyebutkan
sekitar 10% penyebab cerebral palsy adalah asfiksia postnatal.

7. hubungan kehamilan usia tua dengan kasus ?


Usia ibu 36 tahun dan grande multipara memiliki hubungan terhadap kasus karena dengan
kondisi kehamilan tersebut maka meningkatkan resiko terjadinya kelahiran prematur dan
BBLR sehingga terjadi asfiksia neonatorum yang mengakibatkan terjadinya kerusakan otak
sehingga ada kelainan neurologik yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

8. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisik.

Dari growth chart didapatkan bahwa berat bayi ini termasuk above -2sd yang berarti adalah
underweight. Pada anak usia 8 bulang seharusnya beratnya adalah 8,6 kg

Panjang badan berdasarkan growth chart masih termasuk normal.

Berdasarkan growth chart diatas maka bram mengalami malnutrisi

Lingkar kepala : bayi lahir lingkar kepalanya antara 33-35cm dan sampai usia 12 bulan maka
akan bertambah 1cm/bulan. Maka lingkar kepala bram seharusnya 33+8cm = 43cm. Maka
bram tergolong mikrosepali
I.

TEMPLATE
1. How to Diagnose
2. DD
3. WD
4. Epidemologi
5. Tata laksana
6. Edukasi dan pencegahan
7. Komplikasi
8. Prognosis
9. SKDI

1. How to Diagnose
Anamnesis
Pada Cerebral palsy dapat ditemukan gejala danggun motorik berupa kelainan fungsi dan
lokasi serta kelainan bukan motorik yang menyulitkan gambaran klinis Cerebral palsy.
Kelainan fungsi motirik terdiri dari :
a) Spastisitas
Terdapat peningkatan tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan refleks
babinski

yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang

meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peningkatan tonus ini tidak sama derajatnya
pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas dengan kecenderungan
terjadi kontraktur misalnya lengan dalam adduksi, fleksi pada sendi siku dan
pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari
melintang di telapak tangan. Tungkai dalam sikap adduksi, fleksi pada sendi paha dan
lutut, kaki dalam fleksi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam.
Tonic neck reflex dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan
biasanya terletak pada trkstu kortikospinalis. Golongan spastisitas ini meliputi 2/3
penderita Cerebral palsy.
Banyak kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu :
1. Monoplegia/monoparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak pada stu sisi, tetapi salah satu anggota gerak
lebih hebat dari yang lainnya.
2. Hemiplagia/hemiparesis

Kelumpuhan lengan dan tungkai di sisi yang sama.


3. Diplegia/diparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan.
4. Tertaplagia/tetraparesis/quadriplagia
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama hebatnya
dibandingkan dengan tungkai.

Gambar 1. Kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan


b) Tonus otot yang berubah
Bayi pada golonggan ini pada usia bulan pertama tampak flasid dan berbaring seperti
kodok terlentang, sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron.
Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi.
Bila dibiarka berbaring tampak flasid dan sikapnya seperti kodok terlentang, tetapi bila
dirangsang atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah menjadi spastis. Refleks otot
yang normal dan refleks babinski negatif, tetapi yang khas ialah refleks neonatal dan
tonic neck reflex menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan
disebabkan oleh asfiksia perinatal atau ikterus. Golongan ini meliputi 10-20% dari
kasus Cerebral palsy.
c) Koreo-atetosis(extrapiramidal Cerebral Palsy)
Kelainan yang khas ialah sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan
sendirinya (involuntary movement). Pada 6 bulan pertama tampak bayi flasid, tapi
sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap dan tampak
adanya perubahan tonus otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia.
Kerusakan terletak di ganglia basal dan disebabkan oleh afiksia berat atau ikterus kern
pada masa neonatus. Golongan ini meliputi 5-15% dari kasus Cerebral palsy.
d) Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini biasanya flasid dan
menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Kehilangan keseimbangan tampak
bila mulai belajar duduk. Mulai berjaan sangat lambat dan semu pergerakan canggung

dan kaku. Kerusakan terletak si serebelum. Terdapat kira-kira 5% dari kasus Cerebral
palsy.
e) Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10 % anak dengan Cerebral palsy. Gangguan berupa gangguan
neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit menagkap kata-kata. Terdapat
pada golongan koreo-atetosis.
f) Gangguan bicara
Disebabkan oleh gengguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang terjadi
dengan sendirinya di bibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut
sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak beliur.
g) Gangguan mata
Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi. Pada
kedaan afiksia yang berat dapat terjadi katarak. Hampir 25%penderita Cerebral palsy
menderita kelainan mata.
Pasien dapat datang dengan keluhan :

Pola gerak abnormal


Terlambat dalam perkembangan berdiri dan berjalan
Sentral paresis (hemiparesis, paraparesis, atau tetraparesis)
Spasticity (kekakuan)
Ataxia
Choreoathetosis
Retardasi mental
Epileptic seizures,
Gelisah
Sulit berkonsentrasi
Gangguan dalam penglihatan, pendengaran dan berbicara.
Deformitas tulang dan sendi (talipes equinus, contracture, scoliosis, hip
Dislocation)
Tabel 1. Klasifikasi Cerebral Palsy dan Penyebab Utamanya

Motor Syndrome

Neuropathology

Major Causes

Spastic diplegia

Periventricular leukomalacia

Prematurity

(PVL)
Ischemia
Infection
Endocrine/metabolic (e.g.,
thyroid)

Motor Syndrome

Neuropathology

Major Causes

Spastic quadriplegia

PVL

Ischemia, infection

Multicystic encephalomalacia

Endocrine/metabolic,
genetic/developmental

Malformations
Hemiplegia

Stroke:in utero or neonatal

Thrombophilic disorders
Infection
Genetic/developmental
Periventricular hemorrhagic
infarction

Extrapyramidal

Pathology:putamen, globus

(athetoid, dyskinetic)

pallidus, thalamus, basal ganglia

Asphyxia
Kernicterus
Mitochondrial
Genetic/metabolic

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Refleks, tonus otot, postur dan koordinasi
2. Pemeriksaan mata dan pendengaran setelah dilakukan diagnosis Cerebral palsy
ditegakan.
3. Pungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebabnya suatu
proses degeneratif. Pada Cerebral palsy CSS normal.
4. Pemeriksaan EEG dilakukan pada penderita kejang atau pada golongan hemiparesis
baik yang disertai kejang maupun yang tidak.
5. Foto Rontgen kepala, MRI, CT-Scan, cranial ultrasounds umtuk mendapatkan
gambaran otak.
6. Penilaian psikologi perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang dibutuhkan.
7. Pemeriksaan metabolik untuk menyingkirkan penyebab lain dari retardasi mental.

2. DD
1.CP
2.Muscular atrophy
3.Down syndrome
4.Spina bifida

3. WD
GDD (Global Delayed Development) et causa Cerebral Palsy tipe spastik quadriplegia.

4. Epidemologi
Di Amerika, prevalensi penderita CP dari yang ringan hingga yang berat berkisar antara 1,5
sampai 2,5 tiap 1000 kelahiran hidup. Angka ini didapatkan berdasarkan data yang tercatat

pada pelayanan kesehatan, yang dipastikan lebih rendah dari angka yang sebenarnya. (Kuban,
1994) Suatu penelitian pada anak usia sekolah, prevalensi CP ditemukan 1,2 2,5 anak per
1.000 populasi. Sedikitnya 5.000 kasus baru CP terjadi tiap tahunnya. (Gordon, 1987; Gilroy,
1992) Dari kasus tersebut 10 % sampai 15 % CP didapatkan adanya kelainan otak yang
biasanya disebabkan oleh infeksi atau trauma setelah bulan pertama kehidupan. (Gilroy,
1992; Adam 1981)
Di Indonesia, prevalensi penderita CP diperkirakan sekitar 1 5 per 1.000 kelahiran hidup.
Lakilaki lebih banyak daripada perempuan. Seringkali terdapat pada anak pertama. Hal ini
mungkin dikarenakan kelahiran pertama lebih sering mengalami kelahiran macet. Angka
kejadiannya lebih tinggi pada bayi berat badan lahir rendah dan kelahiran kembar. Umur ibu
seringkali lebih dari 40 tahun, terlebih lagi pada multipara. (Soetjiningsih, 1995)

5. Tatalaksana
Terapi yang diberikan tidak bersifat kausal, tetapi hanya simtomatik, yang diharapkan akan
memperbaiki kondisi pasien sehingga dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan
atau dengan sedikit bantuan. Pada keadaan ini perlu kerjasama yang baik anatara dokter anak,
neurology, psikiater, dokter mata, dokter THT, ahli ortopedi, psikolog, fisioterapi, perkerja
social, guru sekolah luar biasa dan orang tua penderita. Secara garis besar, penatalaksanaan
anak dengan cerebral palsy adalah :
Aspek medis
a. Umum
: Gizi yang baik perlu bagi tiap anak. Hal-hal lain seperti
imunisasi dan pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu
dilaksanakan.
b. Obat-obatan : Diberikan sesuai dengan kebutuhan anak tergantung pada
gejala-gejala yang muncul, seperti obat anti kejang dan relaksasi otot.
c. Rehab medis :
i. Fisioterapi : tindakan ini harus segera dimulai secara intensif untuk
mencegah kecacatan. Latihan yang dilakukan berupa latihan luas
gerak sendi, latihan penguatan dan peningkatan daya tahan otot,
latihan duduk, latihan berdiri, latihan jalan, dll. Orang tua turut
membantu program latihan dirumah. Fisioterapi ini dilakukan
sepanjang penderita hidup.
ii. Terapi okupasi : terutama untuk latihan melakukan aktifitas seharihari, evaluasi penggunaan alat-alat bantu. Latihan keterampilan
tangan dan aktifitas bimanual.

iii. Terapi wicara : angka kejadian gangguan bicara pada penderita


cerebral palsy berkisar antara 30-70%. Terapi wicara ini dilakukan
oleh ahli terapi wicara.
d. Pembedahan ortopedi : tujuan dari tindakan bedah ini adalah untuk
stabilitas, melemahkan otot yang terlalu kuat atau untuk transfer dari
fungsi.
Aspek non-medis
Mengingat selain terjadinya kecacatan motoric, juga sering terjadi
kecacatan mental, maka pada umumnya pendidikan khusus diperlukan.
Penderita cerebral palsy didididk sesuai dengan tingkat intelegensinya, dan
dapat diperlakukan sama dengan anak normal.

6. Edukasi dan Pencegahan


Berdasarkan faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan serebral palsi, hal-hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah cerebral palsi yaitu:
I

Hindari bayi Anda dari berat badan lahir rendah atau lahir prematur ikuti
gaya hidup sehat sepanjang kehamilan, terhitung gizi yg baik, istirahat, serta
olahraga yg cukup. Disamping itu, jauhi alkohol, rokok, serta pemakaian
narkoba. Hal semacam ini karena jika bayi Anda lahir dng berat badan yang
sangat rendah, ada kemungkinan besar bayi Anda menderita penyakit
cerebral palsy.

II

Buat schedule jadwal kunjungan dng dokter ob-gyn (dokter kandungan) di


awal kehamilan yg fokus pd apa yang bisa Anda kerjakan utk kurangi risiko
kemungkinan melahirkan dengan cara prematur

7. Prognosis
Prognosis penderita dengan gejala motorik yang ringan adalah baik, makin banyak gejala
penyertanya dan makin berat gejala motoriknya, makin buruk prognosisnya

8. SKDI
Cerebral palsy : 2 (mendiagnosis dan merujuk)

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan
rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu
menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Learning Issue
Cerebral Palsy
www.cerebralpalsykomunitas.com/299975719

Tanda-tanda Cerebral palsy akan terlihat pada satu tahun pertama setelah anak lahir.
Cerebral palsy disebabkan oleh cedera otak atau kerusakan pada otak yang mengganngu selsel otak yang bertanggung jawab untuk mengendalikan tonus otot , kekuatan, dan koordinasi.
Sebagai seorang anak yang bertumbuh , perubahan ini mempengaruhi perkembangan tulang
dan sendi , yang dapat menyebabkan gangguan orthopedi di kemudian hari.
Delapan ciri-ciri yang tampak pada anak Cerebral palsy:
GANGGUAN TONUS OTOT
Ciri terbesar yang Nampak sebagai tanda-tanda dari cp adalah permasalahan tonus otot- yaitu
kemampuan otot untuk bekerja sama mempertahankan ketegangan / stabilitas. Group otot
akan berkoordinasi dengan grup otot lain sebagai pasangan. Sebagian berkontraksi dan
sebgian lain bekerja sebaliknya / rileks. Meski hanya melakukan gerakan yang sederhana,
misalnya duduk, membutuhkan koordinasi beberapa otot penggerak yang satu sisi harus
berkontraksi dan sisi lain harus mengendur (rileks). Cedera otak ataupun malformasi
(kegagalan pembentukan organ) sebagai penyebab cp akan merusak kemampuan susunan
syaraf pusat dalam mengontrol gerakan otot.
Tonus otot yg normal akan berefek pada kemampuan tungkai untuk bergerak dan
berkontraksi tanpa kesulitan, memungkinkan seseorang untuk duduk, berdiri dan menjaga
postur tanpa bantuan. Kelainan tonus otot terjadi pada saat melakukan koordinasi. Saat hal ini
terjadi,

Otot tidak memadai terjadi ketika otot tidak berkoordinasi bersama-sama . Ketika ini terjadi ,
otot yg bekerja secara berpasangan, misalnya biceps dan triceps, mungkin berkontraksi
bersamaan, atau justru rileks dua-duanya. Otot penyangga tulang belakang mungkin terlalu
rileks, yg membuat control batang tubuh kesulitan untuk tegak, postur yg buruk dan kesulitan
bergerak dari duduk ke berdiri.
Anak cp mempunyai kombinasi tanda-tanda sebagai berikut. Adanya perbedaan anggota
gerak diakibatkan oleh perbedaan kerusakan di sruktur otak.dua gejala utama dari tonus
abnormal adalah hypotonia dan hypertonia, tetapi, tonus dapat dijelaskan pula dengan cara
perbandingan berikut :

Hypotonia; penurunan tonus otot atau ketegangannya (flasid, rileks atau floppy)

Hipertonia, meningkatnya tonus otot / ketegangan (lengan / tungkai menjadi kaku)

Distonia, naik turunnya tonus otot

Campuran , adanya hipotonus pada otot penyangga postur tubuh, sementara lengan
dan tungkai hipertonus

Spasme otot, kontraksi otot yg tidak disadari, biasanya ada nyeri

Kaku sendi, sendi yg terkunci sehingga mencegah gerakan leluasa

Tonus leher dan batang tubuh abnormal- menurun menjadi hipotonia atau meninggi
menjadi hipertonia sesuai tipe kelainan cp nya

Klonus : spasme otot dengan kontraksi biasa. Ada di ankle dan telapak tangan

GANGGUAN KONTROL GERAKAN DAN KOORDINASI


Gangguan pada tonus otot mempengaruhi gerakan tubuh dan anggota gerak, sehingga semua
anak cp akan bisa merasakan control otot dan koordinasinya yg buruk. Gangguan control
gerakan ortot dapat menyebabkan komplikasi anggota gerak yang selalu lurus / ekstensi,
berkontraksi terus menerus, selalu bergerak atapun pola ritmik menyerupai spastic.
Gejala lain akan lebih terlihat saat anak dalam kesulitan / stress, juga pada saat diberikan
tugas motorik seperti mengambil dan meraih objek. Kadang kadang gejala tidak terlihat saat
anak tertidur dan otot menjadi rileks.
Berikut adalah pengalaman kelainan control otot pada anggota gerak yg berlawanan.
Koordinasi dan control dapat berimbas pada anggota gerak yg berbeda.
Gannguan koordinasi dan gerakan tidak terjadi pada hal-hal berikut:

Gerakan spastic- gerakan hipertonik dimana otot terlalu kuat berkontraksi sehingga
menghasilkan spasme, menyilangnya kedua kaki, adanya klonus, pemendekan serabut
otot, kaku sendi dan fleksi tungkai berlebihan.

Atetoid atau gerakan diskinetik, tonus otot yg fluktuatif menyebabkan tidak


terkontrol, kadang lambat, gerakan menggeliat yg dpt diperparah oleh stress.

Gerakan ataksia, kesulitan mempertahankan keseimbangan dan koordinasi saat


mengerjakan tugas, seperti menulis, menggosok gigi, mengancingkan baju, memakai
sepatu, dan memasukkan anak kunci ke lubangnya

Gerakan mix /campuran, banyak terjadi gangguan kombinasi antara spastic dan
atetoid, berpengaruh ke anggota gerak.

Gangguan pola jalan, kesulitan dalam mengontrol cara berjalan anak.

gangguan pola jalan termasuk:

telapak kaki depan kedalam

telapak kaki depan keluar

menumpukan berat badan pada salah satu kaki

berjalan jinjit

berjalan membungkuk dengan bahu dan kepala kedepan.

berjalan dengan kedua paha menempel kedalam seperti bentuk gunting

berjalan diseret dikarenakan tungkai spastik

berjalan diseret karena telapak kaki tidak fleksibel

berjalan bebek; yaitu kedua kaki agak ditekuk untuk mempertahankan keseimbangan,
sementara perut agak kedepan

GANGGUAN REFLEKS
Reflex adalah gerakan tidak disadari dari tubuh sebagai respons dari sebuah
stimulus/rangsangan. Reflex tertentu akan muncul pada saat lahir atau beberapa bulan setelah
lahir lalu hilang secara terprediksi sebagai tanda perkembangan bayi. Pada reflex tertentu
tidak akan hilang pada anak cerebral palsy.
Beberapa reflex tertentu mengindikasikan kelainan cep. Hiper refleksia yaitu merupakan
tanda eksesif yang menyebabkan kedutan dan spastisitas. Kurang berkembangnya reflex
postural dan reflex protektif adalah rambu-rambu tanda perkembangan abnormal, termasuk
cp.

Reflex primitive abnormal tidak terjadi pada anak cp, atau tidak terlihat secara spesifik
seperti yang nampak pada anak dengan perkembangan normal. Reflex primitive yg biasanya
tidak berfungsi dengan baik antara lain :

Asymmetrical tonic reflex saat kepala digerakkan kesamping/menoleh, lengan dan


tungkai sisi yg sama akan lurus, sedangkan lengan dan tungkai yg berlawanan akan
berkontraksi menekuk. Reflex ini akan hilang kurang lebih pada bulan keenam.

Symmetrical tonic neck reflex -Cara memunculkannya adalah bayi diposisikan


telentang . kepala diekstensikan kebelakang, respon bayi adalah seperti posisi
merangkak, STNR akan hilang di usia 9 11 bulan.

Spinal gallant reflexes Saat bayi ditengkurapkan, pinggul akan beraksi kearah sisi
tubuh yg disentuh. Refleks gallant akan berkurang dan menghilang pada 3-9 bulan.

Tonic labyrinthine reflex Saat kepala diarahkan ke belakang (ke punggung), kedua
kaki akan lurus dengan sendirinya dan kedua lengan menekuk. Akan berkurang antara
3-6 bulan.

Palmer grasp reflex Distimulasi dengan cara menyentuh telapak tangan bayi, maka
akan berespon menggenggam. Akan hilang 4-6 bulan.

Placing reflex ketika byi diposisikan berdiri tegak dan telapak kaki menyentuh
permukaan, maka respon kaki akan menekuk, akan hilang pada usia 5 bulan.

Moro reflex . Saat kepala bayi diposisikan lebih rendah disbanding kedua kakinya
dengan gerakan sedang hingga cepat, maka kedua lengan akan diluruskan, reflex ini
akan hilang sekitar usia 6 bulan.

.Kecenderungan pemilihan salah satu fungsi tangan (kanan atau kiri) juga memungkinkan
adanya kerusakan otak. Dimana dalam keadaan normal terjadi pada tahun kedua. Berbagai
sumber menyatakan bahwa gangguan perkembangan dg ciri dominasi salah satu sisi tubuh
terjadi pada bulan ke 6-18 kehidupan.
Postur
Cp sangat berpengaruh pada postur dan keseimbangan. Tanda awal perkembangan adalah
dimana bayi berusaha untuk duduk dan belajar bergerak. Secara khas postur berkembang
dengan simetris kanan dan kiri. Sebagai contoh, saat bayi duduk di lantai, kedua kakinya aka
nada di depan dengan posisi simetris satu sama lain seperti bayangan.
Postur asimetris artinya posisi kedua anggota gerak kanan dan kiri tidak sama (tidak seperti
cermin). Sendi panggul seringkali area yang terkena imbas dari gejala cp. Salah satu kaki
memutar kedalam dan satu lainnya ke luar.
Saat terlalu rileks, respon postural adalah reaksi yg harus ada (diharapkan) saat seorang anak
di handle pada posisi tertentu. Respons postural terlihat jelas pada perkembangan bayi
normal. Adanya kerusakan sangat mungkin terjadi jika respons tersebut tidak muncul, atau
muncul tetapi secara asimetri.

Landau refleks - ketika bayi diposisikan berbaring, mendorong kepala ke bawah akan
menyebabkan kaki menjadi drop kebawah, dan mengangkat kepala akan menyebabkan
mereka untuk bangkit. Respons ini muncul sekitar usia empat atau lima bulan.
respon Parachute - bila bayi diposisikan dengan kepala nya lantai/matras, bayi harus
secara naluriah berusaha menopang ke lantai/matras. Tanggapan ini muncul sekitar usia
delapan sampai 10 bulan.
Kepala tegak - ketika bayi bergoyang bolak-balik, dia akan berusaha menahan
kepalanya tegak. Tanggapan ini muncul sekitar usia empat bulan.
respons tegak tubuh - ketika bayi duduk dengan cepat didorong ke samping, bayi akan
melawan gaya dan gunakan tangan yang berlawanan dan lengan untuk menahan melawan
dorongan yg diberikan. respons ini muncul sekitar usia delapan bulan.
KESEIMBANGAN
Kelemahan pada fungsi fungsi motorik kasar dapat mempengaruhi kemampuan anak
menjaga keseimbangannya. Tanda-tanda kelemahan dapat dikenali saat bayi belajar duduk,
beranjak dari posisi duduk kea rah merangkak maupun kearah berjalan. Bayi membutuhkan
lebih sering menggunakan kedua tangannya untuk mempelajari sesuatu. Mereka
membangun kekuatannya sendiri, koordinasi, dan keseimbangan untuk menyempurnakan
sebuah aktifitas saat ia mampu melampauinya tanpa menggunakan kedua tangannya.
Ketidakmampuan anak untuk duduk mandiri dapat dikategorikan sebagai tanda-tanda cp.
Instrument The Gross Motor Function Classification System (GMFCS), system 5 level yng
biasa digunakan untuk mengklasifikasikan tingkatan fungsi, menggunakan keseimbangan
duduk sebagai tolak ukur untuk menilai tingkatan kemampuan. Tanda-tanda yg harus dilihat
adalah sbb:

Membutuhkan 2 tangan untuk menyangga

Kesulitan mempertahankan
sanggaan tangan

Tidak mampu duduk tanpa menggunakan kedua tangan untuk menyangga

keseimbangan

duduk

tanpa

menggunakan

Tanda-tanada lain yang menyertai, namun tidak terbatas

Bergoyang-goyang saat berdiri

Tidak tenang saat berjalan

Kesulitan membuat gerakan spontan/cepat

Membutuhkan bantuan tangan utk aktifitas yg membutuhkan keseimbangan

Berjalan denga pola yg abnormal

Keseimbangan akan tetap terjadi baik saat mata tertutup maupun mata terbuka. Kurangnya
keseimbangan sering dikaitkan dengan ataxia, dan pada derajat ringan berhubungan dengan
cp spastic.
GANGGUAN FUNGSI MOTORIK KASAR
Disaat masa kanak, tanda kelainan dan terlambat motorik sudah bisa kita tandai. Gerakan yg
terkoordinasi menggunakan seluruh anggota gerak akan mendukung fungsi motorik kasar.
Kerusakan dan gangguan fungsi motorik kasar dapat diakibatkan oleh tonus otot abnormal,
terutama hipotonia dan hipertonia. Sebagai contoh: anggota gerak yg hipertonus akan
cenderung kaku atau tidak fleksibel, sehingga tidak memungkinkan melakukan gerakan
menekuk/fleksi, sedangkan sebaliknya pada kasus hipotonia dia akan kesulitan untuk
mensupport anggota gerak karena terlalu lembek.
Perkembangan motorik bayi seiring dengan perkembangan struktur dan fungsi otak
berdasarkan patokan milestone. Pencapaian garis milestone yg terlambat maupun tercapai
namun dengan kualitas gerakan yg kurang oprimal , juga merupan tanda dari cerebral palsy.

Keterbatasan fungsi motorik kasar- keterbatasan pada kemampuan motorik kasar


secara umum seperti berjalan, melompat dan mempertahankan keseimbangan.

Keterlambatan fungsi motorik kasar- perkembangan ketrampilan motorik yang


tidak sesuai dengan patokan milestone / tidak seperti yg diharapkan sering
dihubung-hubungkan
dengan
prognosa/prediksi
dari perkembangan
keseluruhan

Patokan kemampuan yang spesifik sesuai milestone:

berguling

duduk

merangkak

berdiri

berjalan

menjaga keseimbangan

Kemampuan ini harus dicatat manakala anak bisa melampaui milestonenya dan bagaimana
kualitas gerakannya.

GANGGUAN FUNGSI MOTORIK HALUS


Kemampuan melakukan gerak motorik yang persisi merupakan definisi dari fungsi motorik
halus.
Perkembangan motorik halus yang terhambat maupun mengalami gangguan, juga merupakan
tanda dari terjadinya palsi cerebral. Terjadinya gerakan tremor saat kesulitan mengerjakan
tugas, atau terburu-buru ingin segera selesai , juga merupakan ciri khas cp.
Contoh perkembangan fungsi motorik halus antara lain :
meremas/ menggenggam benda kecil

memegang objek diantara ibu jari dan telunjuk

meletakkan benda dengan perlahan

menggunakan crayon

membalikkan halaman buku

GANGGUAN FUNGSI ORAL MOTOR


Kesulitan dalam hal menggunakan dan menggerakkan bibir, lidah dan rahang merupakan ciri
gangguan fungsi motorik oral , dan hal ini terjadi pada 90% anak usia pra sekolah yg di
diagnose sebagai cerebral palsy. Berikut cirri dari gangguan / kerusakan fungsi oral motor,
namun tidak terbatas pada kesulitan dengan :

berbicara
menghisap
proses makan/mengunyah
berlebihan air liur
Perkembangan fisik dan intelektuam yang baik diperlukan dalam ketrampilan berbicara. Pada
kasus cp memiliki hambatan dalam hal perkembangan fisik dan fungsi motorik yaitu control
oral motor untuk berbicara. Motorik oral ini dapat mempengaruhi :

Pernafasan- fungsi paru, terutama control otot pernafasan saat menghirup maupun
menhembuskan nafas diperlukan dalam pola wicara. Peran diafragma sangat penting
dalam hal arus udara pernafasan dan postur yg benar.

Artikulasi,-control otot wajah, tenggorokan , mulut, leher , rahang dan langit-langit


mulut semua harus bekerjasama untuk membentuk wadah yang tepat yang diperlukan
untuk pengucapan kata-kata dan suku kata.

Produksi suara- pita suara dikendalikan oleh otot-otot yang pada dasarnya
meregangkan dan menegangkan pita suara antara dua daerah tulang rawan.

Apraxia, ketidakmampuan otak untuk secara efektif mengirimkan sinyal yang tepat untuk
otot-otot yang digunakan dalam berbicara, adalah salah satu jenis gangguan bicara yang
umum ditemukan pada anak cerebral palsy. Hal ini dibagi menjadi dua jenis:

Verbal Apraxia - mempengaruhi otot artikulasi, terutama mengenai urutan gerakan


tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan pengucapan yang tepat. Hal ini sering
terjadi pada anak-anak dengan hypotonia.

Apraxia Oral - mempengaruhi kemampuan untuk membuat gerakan non wicara dari
mulut, tetapi tidak berhubungan langsung dg kemampuan berbicara. Contoh apraxia
Disartria adalah gangguan perkembangan wicara jenis lain yg umum ditemukan pd
cerebral palsy. Seperti halnya apraxia , hal itu adalah gangguan neurologis, sebagai
lawan dari kondisi otot. Hal ini sering ditemukan pada cerebral palsy yang
mengakibatkan hypertonia dan hypotonia. Disartria dipecah menjadi subkelompok
berikut:
Ataxic Dysarthria - lambat, tidak menentu, kemampuan wicara yg tidak disertai
artikulasi yg baik, disebabkan oleh pernapasan dan koordinasi otot yg buruk
Flaccid Dysarthria - hidung, cengeng, kemampuan wicara yg terengah-engah yang
disebabkan oleh ketidakmampuan pita suara untuk membuka dan menutup dengan
benar. Mungkin ada kesulitan dengan konsonan.
Dysarthria Spastic - lambat, berat, pidato monoton dan kesulitan dengan konsonan
Dysarthria campuran - ketiganya dapat terlihat.

Ketidakmampuan mengontrol air liur (drooling) adalah tanda lain dari cp, merupakan akibat
dari ketidakmampuan otot wajah dan mulut untuk mengontrol dan mengkoordinasikan
gerakan. Beberapa factor spesifik yg membuat anak cp drooling adalah sbb:

Menghisap

Menutup mulut

Memposisikan gigi

Ketidakmampuan mengalihkan air liur ke mulut

Lidah menjulur

Kesulitan dalam kegiatan makan sering ditemukan pada anak cp, terutama pada penurunan
kemampuan mengunyah dan menelan/menghisap, dan juga tersedak, batuk dan muntah.