Anda di halaman 1dari 52

PENUNTUN LKK 1

Blok 17
ANAMNESIS PADA KEHAMILAN NORMAL
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan anamnesis kehamilan normal dengan benar.
a. Menanyakan keluhan utama pasien.
b. Menanyakan riwayat kehamilan sekarang.
c. Menanyakan riwayat kehamilan dahulu.
d. Menanyakan riwayat penyakit lainnya.
e. Menanyakan riwayat keluarga.
f. Menanyakan latar belakang sosial dan pekerjaan.
2. Melakukan komunikasi dengan pasien baik secara verbal maupun non verbal
mengenai penyakit tersebut.
a. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri.
b. Menanyakan identitas pasien.
c. Menjelaskan tujuan anamnesis.
d. Meminta izin pasien untuk melakukan anamnesis.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR ANAMNESIS PADA KEHAMILAN NORMAL
1.1 Landasan Teori
Data mengenai kondisi seorang ibu hamil dapat dikumpulkan melalui kunjungan
antenatal yang teratur. Di dalam pemeriksaan antenatal, dilakukan anamnesis untuk
mengetahui kondisi ibu saat ini, riwayat kehamilan terdahulu (bila ada), riwayat penyakit
ibu yang lain.
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 1 Blok XVII FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Pasien simulasi
1.3 Langkah Kerja
1.
2.
3.
4.

Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter.


Menanyakan identitas pasien.
Menjelaskan tujuan anamnesis.
Meminta izin kepada pasien untuk melakukan anamnesis.

5. Menanyakan status gravida (sudah berapa kali hamil), partus (sudah berapa kali
melahirkan), dan aborsi (sudah berapa kali keguguran). Jawaban pasien dicatat
dalam format: GnPnAn.
6. Menanyakan usia kehamilan saat ini dengan cara:
a. Menanyakan riwayat amenorrhea terakhir.
b. Menanyakan hari pertama haid terakhir (HPHT).
c. Menanyakan minggu/bulan kehamilan saat ini.
7. Menanyakan riwayat pemeriksaan kehamilan saat ini ke bidan/dokter (ANC=ante
natal care)
a. Apakah melakukan atau tidak?
b. Pemeriksaan dilakukan di mana dan oleh siapa?
c. Sudah berapa kali melakukan pemeriksaan kehamilan?
d. Adakah informasi selama kehamilan termasuk kelainan/keluhan selama
kehamilan?
8. Menanyakan riwayat kehamilan sebelumnya (jika bukan kehamilan pertama)
a. Riwayat masalah selama proses persalinan atau kelahiran terdahulu
b. Berat lahir bayi yang terbesar
c. Riwayat perdarahan postpartum/hipertensi akibat kehamilan.
9. Menanyakan riwayat penyakit yang pernah diderita ibu (terutama yang berisiko
terhadap kehamilan/persalinan)
a. Diabetes Mellitus (tipe I, tipe II, gestasional, tipe lain)
b. Hipertensi (esensial, sekunder, gestasional)
c. Hipertiroid
d. Anemia
e. Kelainan jantung
f. Riwayat Pre eklamsia, eklamsia, HELLP syndrome
g. Dan lain-lain
10. Latar belakang sosial dan pekerjaan
a. Merokok, hal ini bisa menyebabkan gangguan janin.
b. Keadaan sosial ekonomi, hal ini akan berhubungan dengan kemampuan pasien
melakukan ANC, kecukupan nutrisi selama kehamilan, dan perkiraan akan
partus di mana.
11. Catat hasil anamnesis pada rekam medis pasie

PENUNTUN LKK 2
Blok 17
PEMERIKSAAN FISIK KEHAMILAN NORMAL (PEMERIKSAAN LEOPOLD DAN
DENYUT JANTUNG JANIN)
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan pemeriksaan Leopold.
a. Melakukan pemeriksaan Leopold 1.
b. Melakukan pemeriksaan Leopold 2.
c. Melakukan pemeriksaan Leopold 3.
d. Melakukan pemeriksaan Leopold 4.
e. Melakukan interpretasi pemeriksaan Leopold tentang letak janin.
2. Menentukan tinggi fundus uteri.
a. Melakukan pengukuran tinggi fundus uteri.
b. Melakukan interpretasi hasil yang didapatkan.

3. Melakukan pemeriksaan denyut jantung janin.


a. Melakukan pemeriksaan denyut jantung janin menggunakan stetoskop
monoaural.
b. Melakukan interpretasi hasil yang didapatkan.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN FISIK KEHAMILAN
1.1 Landasan Teori
Salah satu cara memeriksa keadaan janin dalam suatu kehamilan adalah dengan cara
palpasi. Pemeriksaan palpasi ini lebih dikenal dengan nama maneuver Leopold, terdiri
dari empat cara, yang dikerjakan secara berurutan. Pemeriksaan Leopold I bertujuan
untuk menentukan usia kehamilan dan menentukan bagian janin apa yang terletak di
fundus uteri. Pemeriksaan Leopold II berfungsi untuk menentukan letak punggung janin
dan letak bagian-bagian kecil (tangan dan kaki). Pemeriksaan Leopold III berfungsi untuk
menentukan presentasi janin, yaitu bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah uterus.
Pemeriksaan Leopold IV berfungsi untuk menentukan apakah presentasi janin sudah
memasuki rongga panggul atau belum. Pemeriksaan Leopold IV tidak dilakukan jika
kepala masih tinggi. Palpasi Leopold yang lengkap ini baru dapat dilakukan jika janin
sudah cukup besar, kira-kira mulai dari usia kehamilan 4 bulan.

Gambar 1. Pemeriksaan Leopold I-IV (sumber: www.greg-spog.com)


Pengukuran

dalam

sentimeter

untuk

mengikuti

pertumbuhan

janin

sesuai

pertumbuhan rahim saat ini sering dilakukan. Obyek yang diukur adalah tingginya fundus

uteri dan perimeter umbilikal (lingkaran perut setinggi pusat). Hubungan antara tinggi
fundus uteri dan tuanya kehamilan ditentukan dengan:
a. Rumus McDonald
Tinggi fundus uteri (dalam cm)
= tuanya kehamilan dalam bulan
3,5 cm
b. Bartholomews rule of fourth
Rumus ini memperkirakan umur kehamilan dengan asumsi bahwa uterus dapat
mencapai umbilikus pada usia kehamilan 5 bulan. Jarak antara simfisis pubisumbilikus dibagi menjadi 4 bagian yang sama, begitu juga antara umbilikusbagian bawah sternum. Jika uterus dapat mencapai garis pembagi, umur
kehamilan ditambah 1 bulan.
c. Perkembangan berat badan ibu
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 2 Blok XVII FK UMP
2. Manikin wanita hamil
3. Ruang periksa dokter
4. Tempat tidur periksa
5. Meteran
6. Tensimeter
7. Stetoskop
8. Termometer
9. Timbangan badan
10. Pengukur tinggi badan
1.3 Langkah Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mahasiswa mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien.


Mahasiswa menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan Leopold kepada pasien.
Pasien diberi kesempatan untuk bertanya.
Pasien diminta untuk buang air kecil terlebih dahulu.
Pasien diminta tidur terlentang dengan satu bantal di kepala.
Mahasiswa mencuci tangan.
Lakukan pemeriksaan Leopold I:
- Posisi pemeriksa menghadap ke kepala pasien.
- Rahim dibawa ke tengah.
- Letakkan kedua telapak tangan di bagian fundus uteri pasien.
- Lakukan palpasi dengan menggunakan ujung jari untuk menentukan apa
-

yang ada di bagian fundus uteri.


Tentukan apa yang ada di bagian fundus uteri.

Ukur tinggi fundus uteri dengan meletakkan ujung meteran di batas atas
symphisis pubis pasien. Ukur sepanjang garis tengah abdomen hingga

batas atas fundus mengikuti lengkungan abdomen.


Hitung perkiraan usia kehamilan dengan rumus Mcdonald:
Mencatat hasil pengukuran tinggi fundus uteri dan perkiraan usia

kehamilan pada lembar catatan medis pasien.


8. Lakukan pemeriksaan Leopold II:
- Posisi pemeriksa menghadap ke kepala pasien.
- Letakkan kedua belah telapak tangan di kedua sisi abdomen pasien.
- Pertahankan letak uterus dengan menggunakan tangan yang satu.
- Gunakan tangan yang lain untuk melakukan palpasi uterus disisi yang lain.
- Tentukan di mana letak punggung janin.
9. Lakukan pemeriksaan Leopold III:
- Posisi pemeriksa menghadap ke kepala pasien.
- Letakkan tiga ujung jari salah satu tangan tepat di atas simphisis pubis
-

pasien.
Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Tekan jari tangan ke bawah secara perlahan dan dalam ke sekitar bagian

presentasi, pada saat pasien menghembuskan nafas.


- Tentukan bagian apa yang menjadi presentasi.
10. Lakukan pemeriksaan Leopold IV:
- Posisi pemeriksa menghadap ke kaki pasien.
- Letakkan kedua belah telapak tangan di kedua sisi abdomen.
- Gerakkan jari tangan secara perlahan dari sisi bawah abdomen ke arah
pelvis.
- Palpasi bagian presentasi.
- Tentukan letak dari bagian presentasi tersebut.
11. Tentukan kondisi janin: Jumlah janin, posisi janin (horizontal, vertikal, oblik),
presentasi janin, evaluasi penurunan kepala janin (bila presentasi kepala).
12. Mahasiswa mencuci tangan kembali setelah selesai memeriksa pasien.
13. Mencatat hasil pemeriksaan Leopold pada lembar catatan medis pasien.
1.4 Interpretasi Hasil
1. Pemeriksaan Leopold I :

Menentukan bagian janin yang berada di fundus uteri.

- Bokong : lunak, kurang bundar, kurang melenting.


- Kepala : keras, bundar, dan melenting.
- Kosong : janin letak lintang
2. Pemeriksaan Leopold II:
Menentukan letak punggung janin di kanan atau di kiri
abdomen ibu (bila punggung tidak terletak di fundus uteri).
- Punggung anak terdapat pada sisi yang memberikan rintangan terbesar.

Bagian-bagian kecil biasanya terletak berlawanan dengan rintangan terbesar

tadi.
- Bila tidak teraba punggung, kemungkinan janin letak lintang.
3. Pemeriksaan Leopold III: Menentukan presentasi janin apakah kepala, bokong, atau
kaki.
4. Pemeriksaan Leopold IV: Menentukan apakah presentasi janin sudah masuk ke dalam
panggul (engaged) atau belum (not engaged).
- Kedua tangan konvergen: hanya bagian kecil dari kepala yang turun ke dalam
-

rongga panggul.
Kedua tangan sejajar: separuh dari kepala telah masuk ke dalam rongga

panggul.
Kedua tangan divergen: bagian terbesar dari kepala telah masuk ke dalam
rongga panggul dan ukuran terbesar kepala telah melewati pintu atas panggul.

2. PANDUAN BELAJAR PENGUKURAN DENYUT JANTUNG JANIN


2.1 Landasan Teori
Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian perinatal yang disebabkan oleh
penyulit-penyulit hipoksia janin dalam rahim antara lain dengan melakukan pemantauan
kesejahteraan janin. Cara pemantauan ini dapat dilakukan secara langsung (invasif) yakni
dengan alat pemantau yang dimasukkan dalam rongga rahim atau secara tidak langsung
(non invasif) dengan alat yang dipasang pada dinding perut ibu.
Mekanisme pengaturan denyut jantung janin (DJJ) dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain:
a. Sistem saraf simpatis:

Sebagian besar berada di dalam miokardium.

Rangsangan saraf simpatis, misalnya dengan obat beta-adrenergik akan


meningkatkan frekuensi DJJ, menambah kekuatan kontraksi jantung, dan
meningkatkan volume curah jantung.
b. Sistem saraf parasimpatis
Terutama terdiri atas serabut N. vagus berasal dari batang otak. Rangsangan
pada n. vagus akan menurunkan frekuensi DJJ. Hambatan n. vagus akan
meningkatkan frekuensi DJJ.
c. Baroreseptor: Terletak pada arkus aorta dan sinus carotid. Bila tekanan
meningkat, reseptor ini akan merangsang n. vagus dan n. glosofaringeus, yang
akan menyebabkan penekanan aktivitas jantung berupa penurunan frekuensi
DJJ.

d. Kemoreseptor: Terdiri atas 2 bagian, yakni bagian perifer yang terletak di


daerah karotid dan korpus aorta serta bagian sentral yang terletak pada batang
otak. Reseptor ini berfungsi mengatur perubahan kadar O2 dan CO2 dalam
darah serta cairan otak. Bila kadar O2 menurun dan CO2 meningkat, akan
terjadi refleks dari reseptor sentral berupa takikardi dan peningkatan tekanan
darah untuk memperlancar aliran darah, meningkatkan kadar O2, dan
menurunkan kadar CO2. Keadaan hipoksia atau hiperkapnea akan
mempengaruhi reseptor perifer dan menimbulkan refleks bradikardia. Hasil
interaksi dari kedua macam reseptor tersebut akan menyebabkan bradikardi
dan hipertensi.
e. Susunan saraf pusat:

Pada keadaan janin tidur, aktivitas menurun maka

variabilitas DJJ juga akan menurun. Rangsangan hipotalamus akan


menyebabkan takikardi.
f. Sistem hormonal
Pada keadaan stress, misalnya asfiksia, maka medulla adrenal akan
mengeluarkan epinefrin dan norepinefrin dengan akibat takikardi, peningkatan
kekuatan kontraksi jantung dan tekanan darah.
Denyut jantung janin baru dapat didengar pada usia kehamilan 5 bulan, meskipun
dengan Doptone sudah dapat dideteksi pada akhir bulan ke-3. Frekuensi DJJ lebih cepat
dari manusia dewasa yaitu sekitar 120-160 denyut per menit. Bunyi jantung paling jelas
terdengar di sisi punggung anak dekat kepala karena posisi janin yang kifosis dan
biasanya di depan dada terdapat lengan anak.
Jika DJJ terdengar di sebelah kiri atau kanan di bawah umbilicus ibu, maka presentasi
janin adalah presentasi kepala. Jika DJJ terdengar di sebelah kiri atau kanan setinggi atau
di atas umbilicus ibu, maka presentasi janin adalah bokong (letak sungsang). Pada anak
kembar, DJJ terdengar pada dua tempat dengan sama jelasnya dan dengan frekuensi yang
berbeda (perbedaan lebih dari 10 denyut per menit)
Pada saat mencari DJJ, terkadang kita keliru dengan suara bising rahim yang berasal
dari arteri uterine atau dengan denyut jantung ibu yang frekuensinya sama dengan aorta
abdominalis. Untuk membedakan denyut jantung ibu dengan denyut jantung janin, maka
pada saat menghitung DJJ harus sambil menghitung denyut nadi ibu juga.
2.2 Media Pembelajaran

1.
2.
3.
4.
5.

Penuntun LKK 2 Blok XVII FK UMP


Ruang periksa dokter
Tempat tidur periksa
Manikin kehamilan
Stetoskop monoaural (Laennec)

2.3 Langkah Kerja


1. Menentukan tempat untuk menempelkan stetoskop monoaural sesuai dengan
posisi jantung janin, biasanya di punggung janin.
2. Menghitung denyut jantung janin (DJJ) selama 1 menit penuh.
3. Mencatat hasil perhitungan pada lembar catatan medis pasien.
4. Melakukan interpretasi DJJ.
2.4 Interpretasi Hasil
Denyut jantung janin (DJJ) normal adalah 120-160 denyut per menit (dpm).
Bila DJJ kurang dari 120 dpm atau lebih dari 160 dpm maka janin dalam keadaan
asfiksia (kekurangan O2).

PENUNTUN LKK 3 BLOK 17


PEMERIKSAAN GINEKOLOGI DAN PAP SMEAR
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Melakukan pemeriksaan ginekologi dengan benar:
a. Melakukan pemeriksaan ginekologi bimanual.
b. Melakukan pemeriksaan ginekologi dengan spekulum (inspekulo).
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN GINEKOLOGI BIMANUAL
1.1 Landasan Teori

Ginekologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang penyakit alat kelamin wanita
dan struktur di sekitarnya. Pada pemeriksaan ginekologi, perlu diperhatikan dulu genitalia
eksterna: pertumbuhan rambut pada mons pubis, besarnya klitoris, dan labia minora,
introitus vagina (perawan atau tidak), prolaps uteri. Selain itu juga perlu diperhatikan
apakah ada hemoroid pada anus.
Selain dengan pemeriksaan spekulum, dapat juga dilakukan pemeriksaan bimanual
dengan cara memasukkan dua jari ke dalam vagina dan tangan lainnya diletakkan di atas
simfisis pubis. Dengan kedua tangan ini kita usahakan untuk mendapat kesan mengenai
ukuran, letak, dan kemungkinan pergerakan dari genitalia interna.
Dengan menggunakan dua jari di dalam, forniks posterior mengangkat uterus
sedangkan tangan yang di luar menekan dinding perut ke dalam dan mengusahakan
meraba corpus uteri untuk menentukan besar, bentuk, letak dan kemungkinan
pergerakannya. Ukuran uterus tergantung pada paritas dan umur pasien. Tetapi secara
pukul rata, ukuran uterus yang normal adalah sebesar telur bebek, bentuknya seperti bola
lampu yang gepeng dan permukaannya licin. Konsistensi uterus yang tidak hamil padat
kenyal, sementara uterus dalam kehamilan konsistensinya lunak. Letak uterus yang
normal adalah antefleksi. Supaya pemeriksaan bimanual lebih jelas, maka jari yang
berada di dalam dipindahkan ke forniks anterior lalu kedua tangan didekatkan. Pada
antefleksi, corpus uteri dapat teraba sedangkan pada retrofleksi tidak teraba apa-apa.
Usahakan juga memeriksa kemungkinan pergerakan uterus dengan cara jari yang berada
di dalam mencoba mengangkat uterus sementara tangan yang di luar menekannya ke
bawah. Perhatikan apakah pergerakan uterus menimbulkan nyeri.
Portio serviks diraba bagaimana bentuk dan konsistensinya. Kemudian perhatikan
apakah serviks dapat digerakkan ke kiri dan kanan, serta apakah menimbulkan rasa nyeri.
Pergerakan ini sangat tergantung pada kekenyalan perimetrium.
Tuba umumnya tidak dapat teraba dengan pemeriksaan bimanual. Ovarium kadang
dapat teraba. Adneksa diperiksa dengan menggerakkan jari yang berada di dalam ke
dalam forniks lateral dan tangan luar dipindahkan agak ke samping. Apabila meraba
massa, perlu ditentukan besar, konsistensi, dan kemungkinan pergerakannya.
Selain pemeriksaan bimanual di atas, ada cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan
pemeriksaan rektovaginal. Pada pemeriksaan ini jari telunjuk dimasukkan ke vagina
sementara jari tengah tangan yang sama dimasukkan ke dalam rectum. Tangan kiri tetap
berada di simfisis pubis dan berusaha mendekatkan organ yang akan diperiksa pada
tangan yang di dalam. Pada anak-anak dan wanita yang masih perawan, pemeriksaan

bimanual dilakukan lewat rectum, bukan lewat vagina.


1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 3 Blok XVII FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Tempat tidur pemeriksaan atau tempat tidur ginekologi (lithotomic)
4. Manikin ginekologi
5. Sarung tangan
6. Tempat tidur ginekologi
7. Lubrikan
8. Kateter nelaton
9. Bengkok
10. Kasa steril
11. Cairan antiseptik
1.3 Langkah Kerja
1.
2.
3.
4.
5.

Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter.


Menanyakan identitas pasien.
Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan ginekologi bimanual.
Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan.
Sebelum melakukan tindakan, pasien dianjurkan untuk buang air kecil terlebih

dahulu.
6. Persilahkan pasien untuk berbaring di tempat tidur dengan posisi litotomi.
7. Memperbaiki posisi pasien dengan menempatkan perineum tepat di tepi tempat
tidur.
8. Pemeriksa berdiri di antara kedua tungkai pasien.
9. Menggunakan sarung tangan secara aseptik. Jangan lupa untuk melepaskan semua
aksesoris yang dipakai di tangan sebelum memakai sarung tangan.
10. Melakukan tindakan aseptik pada daerah vulva dan sekitarnya menggunakan
cairan antiseptik, dengan arah putaran dari dalam ke luar secara melingkar.
11. Bila pasien tidak dapat BAK sendiri (pada kasus-kasus tertentu), lakukan
pemasangan kateter terlebih dahulu.
12. Lumasi jari-jari pemeriksa dengan lubrikan (jeli).
13. Posisikan tangan kanan di depan vulva dan tangan kiri di atas symphisis pubis
pasien.
14. Lakukan pemeriksaan bimanual dengan menggunakan jari tengah dan jari telunjuk
tangan kanan.

Gambar 2. Cara pemeriksaan ginekologi bimanual


Sumber: www.fastbleep.com
15. Tangan kiri membantu mengevaluasi organ yang diperiksa.
16. Lepaskan sarung tangan dan cucilah tangan bila telah selesai melakukan
pemeriksaan.
17. Catat hasil pemeriksaan pada rekam medis pasien.
1.4 Interpretasi Hasil
Uterus: posisi (antefleksi, retrofleksi), ukuran (telur bebek, telur puyuh, dll), konsistensi
(padat kenyal, lunak), pergerakan (tidak dapat bergerak, bergerak sedikit, disertai nyeri
atau tidak).
Adneksa: ukuran (normal, membesar), nyeri tekan (ada, tidak ada), massa
Cavum Douglas: tidak terisi, terisi. Bila terisi, perhatikan sarung tangan pasca
pemeriksaan, apakah terisi oleh darah atau nanah.
2.PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN GINEKOLOGI DENGAN SPEKULUM
2.1 Landasan Teori
Sebelum melakukan pemeriksaan spekulum, sebaiknya diperhatikan kondisi genitalia
eksterna wanita. Apakah normal atau ada kelainan seperti infeksi, kutil, penyakit kelamin,
pertumbuhan alat genitalnya normal atau tidak. Untuk memeriksa bagian dalam genitalia
wanita biasanya digunakan spekulum. Spekulum dipasang dengan membuka labia
minora, lalu spekulum dimasukkan dari samping kemudian diputar 45 ke bawah. Setelah
spekulum dibuka, maka dapat dilakukan pemeriksaan sekret dengan menggunakan pinset/
spatel untuk mengambil sekret yang diletakkan pada gelas objek lalu diperiksa di bawah

mikroskop.
2.2 Media Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.

Penuntun LKK 3 Blok XVII FK UMP


Ruang periksa dokter
Tempat tidur pemeriksaan atau tempat tidur ginekologi (lithotomi)
Manikin pemeriksaan ginekologi
Spekulum cocor bebek

Gambar 3. Spekulum cocor bebek (Sumber: www.bcmamedicalmuseum.org)


6. Cairan desinfektan
7. Sarung tangan
8. Cunam kapas / korentang
9. Kateter nelaton
10. Kapas sublimat
11. Sonde uterus
12. Kassa
13. Cairan antiseptik
14. Bengkok
2.3 Langkah Kerja
1.
2.
3.
4.
5.

Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter.


Menanyakan identitas pasien.
Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan ginekologi bimanual.
Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan.
Sebelum melakukan tindakan, pasien dianjurkan untuk buang air kecil terlebih

dahulu.
6. Persilahkan pasien untuk berbaring di tempat tidur dengan posisi litotomi.
7. Memperbaiki posisi pasien dengan menempatkan perineum tepat di tepi tempat
tidur.
8. Pemeriksa berdiri di antara kedua tungkai pasien.
9. Menggunakan sarung tangan secara aseptik. Jangan lupa untuk melepaskan semua
aksesoris pemeriksa yang dipakai di tangan.
10. Melakukan tindakan aseptik pada daerah vulva dan sekitarnya menggunakan

cairan antiseptik dengan arah putaran dari dalam ke luar.


11. Bila pasien tidak dapat BAK sendiri (pada kasus-kasus tertentu), lakukan
pemasangan kateter dahulu.
12. Melakukan inspeksi pada daerah mons pubis, labia mayor dan vulva.
13. Memilih ukuran spekulum sesuai ukuran vagina pasien dan memeriksa keadaan
spekulum.
14. Masukkan spekulum, dipegang dengan tangan kanan, ke dalam liang vagina
secara perlahan. Pertama-tama masukkan spekulum dengan cocor bebek pada
posisi vertikal. Setelah masuk liang vagina, spekulum diputar searah jarum jam
sehingga cocor bebek berada pada posisi horizontal.
15. Buka spekulum sehingga terlihatlah serviks, lalu kunci spekulum dengan memutar
sekrupnya.
16. Bersihkan liang vagina dengan menggunakan lidi berkapas yang telah diberi
cairan antiseptik.
17. Perhatikan keadaan serviks: warna mukosa, bentuk, mulut serviks, cairan, massa,
18. Perhatikan dinding vagina dengan memutar spekulum 90o : warna mukosa,
permukaan dinding, massa, cairan intravaginal.
19. Bila pemeriksaan dianggap selesai, buka kunci spekulum dengan memutar
sekrupnya lalu tarik spekulum ke luar secara perlahan.
20. Letakkan spekulum pada bengkok. Buang sarung tangan ke tempat sampah medis,
lalu cucilah tangan.
21. Catat hasil pemeriksaan pada rekam medis pasien.
2.4 Interpretasi Hasil
Vulva: ada verucca/tidak, ada infeksi di sekitar vulva/tidak.
Vagina: mukosa normal/tidak, massa/tidak, ada cairan/tidak, keadaan hymen
Sekret : ada, tidak ada. Deskripsikan sekret bila ada (warna, bau, kekentalan).
Warna porsio serviks: merah/pucat, ada massa/tidak.
Ostium uteri internum: tertutup, terbuka

PEMERIKSAAN PAP SMEAR


A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Melakukan pemeriksaan Pap Smear.
a. Mempersiapkan alat dan bahan untuk tindakan Pap smear.
b. Mempersiapkan pasien Pap smear.
c. Melakukan tindakan Pap smear.
d. Melakukan interpretasi hasil Pap smear.
2. Melakukan pemeriksaan payudara.
a. Melakukan pemeriksaan payudara sendiri.
b. Melakukan pemeriksaan payudara pada pasien.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN PAP SMEAR
1.1 Landasan Teori
Kanker serviks merupakan merupakan salah satu kanker yang paling sering
menyerang wanita di seluruh dunia. Bahkan menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO,
kanker jenis ini menempati urutan ke-2 sebagai kanker yang sering menjangkiti kaum
hawa. Untuk mencegah terlambatnya diagnosis kanker serviks, maka wanita yang aktif
secara seksual dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap smear minimal 1 kali per
tahun.
Papanicolau smear (atau lebih dikenal dengan Pap smear) adalah suatu pemeriksaan
penunjang sitologi untuk menemukan

sel-sel

prakanker

pada

daerah

serviks.

Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh
Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini dapat berpindah karena adanya perlukaan pada
kulit genital ketika berhubungan seks. HPV tidak beredar di dalam darah atau di cairan
tubuh lainnya.
Ada 100 jenis HPV dan beberapa dari jenis tersebut menyebabkan kelainan pada alat
kelamin dan serviks. Infeksi HPV biasa terjadi, bahkan tidak disadari. Namun, pada
sebagian besar orang virus ini akan hilang sendiri sekitar 1-2 tahun setelah infeksi. Bila
infeksi menetap, maka muncullah kemungkinan kanker pada tempat yang terinfeksi.
Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid. Persiapan pasien
untuk melakukan Pap Smear adalah tidak sedang haid, tidak melakukan hubungan intim
(coitus) 1 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan tidak sedang menggunakan obat-

obatan vaginal.
Pada hasil pemeriksaan akan terlihat keadaan sel-sel di serviks dan rahim, apakah
masih dalam batas normal atau sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keganasan. Hasil
dari Pap smear yang abnormal dapat berupa:
a.

b.

Low grade abnormality


Hasil ini menyatakan bahwa pasien terinfeksi oleh HPV, bukan kanker. Pasien akan
diminta untuk melakukan Pap smear ulang dalam 12 bulan ke depan.
High grade abnormality
Hasil ini menandakan pasien memiliki infeksi HPV yang menetap dan akan menjadi
kanker bila dibiarkan tanpa diobati. Hasil Pap smear seperti ini tidak menyatakan
kanker, namun perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kolposkopi untuk

memastikannya.
c. Glandular abnormality
Sel glandula terletak di kanal serviks sehingga sulit diketahui. Hasil Pap smear seperti
ini tidak menyatakan kanker, namun perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan
kolposkopi untuk memastikannya.

Gambar 6. Gambaran Serviks (www.feroniaproject.org)


1.2 Media Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penuntun LKK 7 Blok XVII FK UMP


Ruang periksa dokter
Tempat tidur pemeriksaan atau tempat tidur ginekologi
Manikin ginekologi
Spekulum cocor bebek
Spatula Ayre

Gambar 7. Spatula Ayre (Sumber: www.eurocytology.eu)


7. Cytobrush (sikat kecil berbulu halus, untuk mengambil sel-sel serviks)

Gambar 8. Cytobrush (sumber: www. cervarix.blogspot.com)


8. Alkohol 96 %
9. Tampon tang
10. Doek bolong steril
11. Sarung tangan
12. Kasa steril
13. Cairan antiseptik (povidon iodine)
14. Bengkok
15. Kaca objek
16. Zat pemfiksasi sampel
1.2 Langkah Kerja
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter yang
bertugas.
2. Menanyakan identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pap smear.
4. Meminta izin pasien untuk melatukan tindakan.
5. Meminta pasien untuk duduk di atas kursi pemeriksaan khusus ginekologis.
6. Mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan.
7. Memasang duk bolong steril pada daerah vagina.

8. Memasang spekulum cocor bebek pada liang vagina agar serviks dapat dilihat.
9. Melakukan pembersihan daerah serviks secara legeartis dengan tampon tang dan
kasa steril yang telah diberi cairan antiseptik, dari tengah melingkar ke arah luar
serviks.
10. Sampel diambil dari luar serviks dan dari liang serviks dengan melakukan usapan
menggunakan spatula yang terbuat dari bahan kayu atau plastik.
11. Setelah itu, cytobrush dimasukkan untuk melakukan usapan dalam kanal serviks.
12. Sampel dari usapan tersebut diletakkan di kaca objek dan disemprot dengan zat
untuk memfiksasi, atau diletakkan dalam botol yang mengandung alkohol 96%.
Sampel akan dikirim ke laboratorium.
13. Membuang bahan habis pakai ke dalam tempat sampah medis.
14. Mencuci tangan dan membereskan alat-alat.

Gambar 9. Cara melakukan Pap smear (www.meetdoctor.com)

PENUNTUN LKK 4
PROSEDUR PERSALINAN NORMAL DAN EPISIOTOMI
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Melakukan prosedur persalinan normal:
a. Manajemen persalinan kala I
b. Manajemen persalinan kala II
c. Manajemen persalinan kala III
d. Manajemen persalinan kala IV
2. Melakukan episiotomi
a. Melakukan episiotomi mediolateral pada proses persalinan kala II.
b. Melakukan perbaikan luka episiotomi pada proses persalinan kala IV.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR PROSEDUR PERSALINAN NORMAL
1.1 Landasan Teori
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari rahim
ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan
(setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) pada saat
uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis)
dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi
uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks. Tanda gejala inpartu termasuk:
a.Penipisan dan pembukaan serviks.
b. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2
kali dalam 10 menit).
c.Keluarnya lendir bercampur darah (show) melalui vagina.
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks
hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala I dibagi menjadi dua fase,
yaitu:
a. Fase laten

Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan


serviks secara bertahap. Pembukaan serviks pada fase ini kurang dari 4 cm. fase
ini biasanya berlangsung 8 jam.
b. Fase aktif
Pada fase ini biasanya frekuensi dan lama kontraksi uterus meningkat. Kontraksi
dianggap adekuat atau memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10
menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Serviks membuka dari 4-10 cm,
biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap.
Pada fase ini juga terjadi penurunan bagian terbawah janin.
Penatalaksanaan fisiologis kala dua persalinan didasarkan pada prinsip bahwa kala II
merupakan peristiwa normal yang akan diakhiri dengan kelahiran normal tanpa adanya
intervensi. Penolong persalinan berpatokan pada tanda-tanda bahwa ibu sudah dalam kala
II persalinan. Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm)
dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II dikenal juga sebagai kala pengeluaran. Tanda
dan gejala kala II persalinan adalah:
a. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
b. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
c.Perineum terlihat menonjol.
d. Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.
e.Peningkatan pengeluaran lendir dan darah (show).
Diagnosis kala II dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan dalam yang menunjukkan
pembukaan serviks telah lengkap dan atau terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus
vagina.
Saat pembukaan sudah lengkap, anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan
alamiahnya dan beristirahat di antara kontraksi. Jika ingin, ibu dapat mengubah posisinya.
Posisi berdiri atau jongkok dapat mempersingkat kala II persalinan. Biasanya ibu
dibimbing untuk meneran dengan mulut terkatup selama 10 detik atau lebih, 3-4 kali per
kontraksi. Ternyata hal ini dapat menurunkan pasokan oksigen ke janin sehingga DJJ
turun dan skor APGAR rendah(Etkin, et al, 2000). Karena cara ini berkaitan dengan
buruknya keluaran janin, maka sebaiknya tidak dilakukan. Meneran dilakukan secara
alamiah saja. Ingat bahwa kontraksi uterus yang mendorong bayi keluar, meneran hanya
merupakan upaya bantuan terhadap kontraksi uterus.
Saat kepala bayi mendorong atau membuka vulva sekitar 5-6 cm, letakkan kain atau
handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi segera setelah bayi lahir. Jangan
melakukan penghisapan secara rutin pada mulut dan hidung bayi. Sebagian besar bayi
yang sehat tidak memerlukan penghisapan karena bayi normal dapat membersihkan jalan

nafasnya sendiri. Penghisapan lendir yang terlalu dalam akan menyebabkan denyut
jantungnya menjadi tidak teratur dan atau berhenti bernafas. Tapi jika cairan ketuban
mengandung mekonium, penghisapan boleh dilakukan secara hati-hati pada mulut dan
hidung bayi segera setelah kepala lahir dan sebelum bahu lahir. Selalu hisap mulut bayi
lebih dulu dibandingkan hidung karena menghisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan
bayi menarik nafas dan menghirup mekonium atau cairan yang ada di dalam mulutnya.
Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban. Pada kala III, otot uterus (miometrium) berkontraksi
mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah lahirnya bayi.
Penyusutan ukuran uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi
plasenta. Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta
tidak berubah, maka plasenta akan menekuk, menebal. Kemudian dilepaskan dari dinding
uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.
Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa hal berikut:
a. Perubahan bentuk dan tinggi fundus.
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk
bulat penuh (discoid) dan tinggi fundus biasanya turun hingga di bawah pusat. Setelah
uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus menjadi bulat dan fundus
b.

berada di atas pusat.


Tali pusat memanjang
Tali pusat terlihat keluar memanjang atau terjulur melalui vulva dan vagina (tanda

Ahfeld).
c. Semburan darah tiba-tiba
Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta
keluar dan dibantu oleh gaya gravitasi. Semburan darah yang tiba-tiba menandakan
bahwa darah yang terkumpul di antara tempat melekatnya plasenta dan permukaan
maternal plasenta (darah retroplasenter), keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.
Pada kehamilan cukup bulan, aliran darah ke uterus sebanyak 500-800 ml/menit. Jika
uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta, maka ibu dapat
mengalami perdarahan sekitar 350-500 ml/menit dari bekas tempat melekatnya plasenta.
Kontraksi uterus akan menekan pembuluh darah uterus yang berjalan di antara anyaman
serabut miometrium sehingga menghentikan darah yang mengalir melalui ujung-ujung
arteri di tempat implantasi plasenta. Terkadang timbul atonia uteri, yaitu suatu kondisi
dimana uterus tidak berkontraksi atau berkontraksi secara terkoordinasi sehingga ujung

pembuluh darah di tempat implantasi plasenta tidak dapat dihentikan (oklusi) sehingga
perdarahan menjadi tidak terkendali.
Beberapa faktor predisposisi yang berhubungan dengan risiko perdarahan

pascapersalinan adalah:
a.Faktor yang menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan:
Jumlah air ketuban yang berlebihan (polihidramnion).
Kehamilan kembar (gemeli).
Janin besar (makrosomia)
b. Kala I dan atau kala II persalinan yang memanjang.
c.Persalinan cepat.
d. Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin (augmentasi).
e.Infeksi intrapartum.
f. Multiparitas tinggi (grande multjuipara).
g. Magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeclampsia
atau eklampsia.
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang
lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala III persalinan dan mengurangi
kehilangan darah. Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah, yaitu:
a.Pemberian suntikan oksitosin.
b. Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
c.Rangsangan taktil fundus uteri (pemijatan).
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 4 Blok XVII FK UMP
2. Manikin persalinan normal
3. Kapas basah
4. Kassa steril
5. Kain linen steril
6. Bengkok
7. Cairan desinfektan (savlon atau lisol)
8. Partus set steril terdiri dari:

2 buah kocher utuh dan 1 buah setengah kocher

gunting tali pusat

benang/klip pengikat tali pusat

sarung tangan

duk steril

kateter nelaton

spuit 3 cc berisi 0,5 ml oksitosin 10 U

alat pengisap lendir (suction)

1.3 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sebagai dokter yang bertugas.
2. Menanyakan identitas klien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan secara ringkas namun jelas.
4. Meminta izin klien untuk melakukan anamnesis dan tindakan.
5. Mencuci tangan dan menyiapkan alat-alat.
6. Menganjurkan klien untuk buang air kecil dahulu.
7. Persilahkan klien untuk berbaring di tempat tidur dengan satu bantal di bagian
kepala.
8. Menanyakan status gravida, partus, dan aborsi klien.
9. Menanyakan usia kehamilan dengan menanyakan riwayat amenorrhea, hari
pertama haid terakhir, dan menanyakan usia kehamilan (dalam minggu atau bulan).
10. Menanyakan riwayat pemeriksaan antenatal dan informasi selama kehamilan.
11. Menanyakan riwayat kehamilan sebelumnya.
12. Menanyakan riwayat penyakit lainnya.
13. Menanyakan kapan klien mulai merasa mules dan apakah sudah mulai teratur.
14. Menanyakan apakah sudah keluar cairan berwarna kuning dari jalan lahir.
15. Menanyakan apakah sudah keluar lendir darah (show) dari jalan lahir.
16. Catat hasil anamnesis di dalam rekam medis klien.
MANAJEMEN KALA I
1. Penilaian keadaan umum (tampak sakit ringan, sedang, berat) dan kesadaran klien:
compos mentis, somnolen, sopor, koma.
2. Penilaian tanda vital klien: tekanan darah, denyut nadi, temperatur, dan frekuensi
nafas.
3. Melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis dari kepala hingga kaki.
4. Melakukan pengukuran nadi, tekanan darah, dan temperatur tubuh setiap 4 jam
(atau lebih sering jika terdapat indikasi).
5. Lakukan penilaian kondisi urin klien dengan meminta klien berkemih setiap 2-4
jam (atau dengan kateter) untuk memeriksa volume urin dan kadar protein urin.
6. Mencatat semua obat-obatan yang diberikan termasuk cairan intravena di dalam
rekam medis klien.
7. Lakukan pemeriksaan Leopold I sampai IV.
8. Menentukan kondisi janin: Jumlah janin, posisi janin (horizontal,vetikal,oblik),
presentasi janin, evaluasi penurunan kepala janin, memperkirakan berat janin.
9. Melakukan pemeriksaan denyut jantung janin setiap 15 menit selama 1 jam segera
setelah kontraksi uterus berakhir
10. Melakukan pemeriksaan jalan lahir (vulva dan perineum).
11. Melakukan pemeriksaan vaginal touch (pemeriksaan dalam) untuk menilai
kondisi serviks: ketebalan serviks, dilatasi serviks, membran janin (utuh/ruptur),

adanya obstruksi vagina.


12. Melakukan penilaian kondisi janin melalui pemeriksaan vagina: presentasi fetus,
penurunan kepala (hodge station), posisi presentasi, moulage, bagian kecil janin.
13. Menyimpulkan keadaan janin.
14. Menilai warna cairan ketuban apabila selaput telah ruptur.
15. Mencuci tangan lalu mencatat hasil pemeriksaan di dalam catatan medis klien.
MANAJEMEN KALA I: MENENTUKAN DIAGNOSIS IN PARTU DAN
MENILAI KEMAJUAN PERSALINAN
1. Mencuci tangan dan menyiapkan alat-alat.
2. Menilai adanya bloody show (darah yang bercampur lendir) yang keluar dari jalan
lahir.
3. Menilai kontraksi uterus: durasi kontraksi, simetris atau tidak, dominasi fundus,
relaksasi, interval antarkontraksi, intensitas kontraksi.
4. Menentukan dilatasi dan ketebalan serviks dengan pemeriksaan bimanual.
5. Menentukan tahap persalinan: fase laten, fase aktif, kala II.
6. Melakukan pemeriksaan DJJ setiap 15 menit selama 1 jam segera setelah kontraksi
uterus berakhir.
7. Melakukan pemeriksaan dalam (vaginal touch) untuk menilai:
a. Kondisi serviks: ketebalan serviks, dilatasi serviks, membran janin,
obstruksi vagina.
b. Kondisi janin: presentasi, penurunan kepala (Hodge station), posisi
presentasi, moulage, bagian kecil janin.
8. Mencatat hasil monitoring ke dalam partograf klien.
9. Menyimpulkan kemajuan persalinan: normal atau abnormal.
MANAJEMEN KALA II: PROSES KELAHIRAN KEPALA, BAHU DAN
TUBUH BAYI
1. Mencuci tangan dan menyiapkan alat-alat.
2. Penolong berada di depan vulva klien. Klien dalam posisi lithotomi.
3. Menjelaskan kepada klien bagaimana cara meneran yang benar, yaitu selama
kontraksi ibu diminta untuk menarik nafas dalam, menutup mulut rapat, kemudian
meneran sekeras mungkin.
4. Memberitahu klien kapan waktu yang tepat untuk meneran.
5. Melakukan episiotomi mediolateral jika diperlukan.
6. Melakukan pertolongan saat bayi akan lahir dengan metode klasik:
a. Pada saat kontraksi uterus dan ibu meneran, kepala bayi berada di vulva
pada diameter 5 cm.
b. Dengan menggunakan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah tangan kanan
menekan perineum ke kranial. Sementara tangan kiri menahan defleksi
kepala sampai mata, hidung, mulut dan dagu bayi lahir.

c. Bersihkan cairan dan lendir pada hidung dan mulut bayi.


7. Melakukan pemeriksaan dalam (vaginal touche) untuk menilai kondisi serviks.
8. Biarkan bayi melakukan rotasi eksternal. Jika diperlukan dokter dapat membantu
rotasi.
9. Pada saat kelahiran bahu bayi, kedua tangan memegang kepala bayi biparietal.
Lalu tarik perlahan ke arah posterior untuk menarik bahu anterior dan tarik ke arah
anterior untuk melahirkan bahu posterior.
10. Pada saat melahirkan tubuh bayi, tarik tubuh bayi sejajar dengan ibu sampai bayi
terlahir lengkap.
11. Letakkan bayi pada perut ibu dilapisi dengan kain linen steril.
12. Klem tali pusat bayi dengan kocher pada jarak 5 cm dari perut bayi.
13. Urut tali plasenta ke arah distal (menjauhi bayi) sebelum dipasang klem kedua
pada jarak 2-3 cm dari klem pertama ke arah plasenta (menjauhi bayi).
14. Lakukan pengguntingan tali pusat bayi di antara kedua kelem tersebut.
15. Ikat tali pusat dengan benang atau jepit dengan klip khusus yang tersedia.
16. Balut tali pusat dengan kassa steril.
MANAJEMEN KALA III: PROSES KELAHIRAN PLASENTA
1.
2.
3.
a.
b.
4.

Injeksi Oksitosin 10 U intramuskular di paha lateral atas.


Kosongkan kandung kemih dengan menggunakan kateter nelaton.
Melakukan penilaian tanda-tanda pelepasan plasenta, yaitu:
Bentuk perut ibu menjadi lebih globular.
Keluar darah sekonyong-konyong (mendadak dan banyak) dari jalan lahir.
Jika belum terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta, dokter dapat melakukan tes
yang berfungsi untuk menilai pelepasan plasenta dengan cara: tarik tali pusat
dengan menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kiri menekan simfisis

pasien. Jika tali pusat tidak ikut tertarik ke dalam berarti plasenta sudah terlepas.
5. Ketika plasenta sudah terlepas, dokter membantu keluarnya plasenta dengan
menekan fundus uterus ke arah dorso-caudal dengan tangan kiri. Tangan kanan
menarik tali pusat dengan peregangan tali pusat tidak terkendali (tidak ditarik
paksa) sampai plasenta terlihat. Selanjutnya tangan kiri diletakkan di atas simfisis
sambil menekan sampai plasenta semuanya lahir.
6. Masase fundus uterus sampai terasa adanya kontraksi uterus.
7. Periksa kelengkapan plasenta (selaput dan kotiledon lengkap).
2. PANDUAN BELAJAR EPISIOTOMI
2.1 Landasan Teori
Episiotomi adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah
ruptur perineum totalis. Ada 4 macam episiotomi, yaitu:
a. Episiotomi medial, yang dibuat di garis tengah.
b. Episiotomi mediolateral, dibuat dari garis tengah ke samping menjauhi anus.

c.Episiotomi lateral, 1-2 cm di atas commisura posterior ke samping.


d. Episiotomi sekunder, dilakukan apabila terjadi ruptur perineum spontan atau
episiotomi medial yang melebar.
Laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat bayi dilahirkan,
terutama saat kelahiran kepala dan bahu. Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi
dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Selama persalinan perlu kiranya menjalin
kerjasama dengan ibu agar kelahiran bayi dapat dikendalikan serta membantu mencegah
terjadinya laserasi. Kerjasama ini dibutuhkan terutama saat kepala bayi dengan diameter
5-6 cm tengah membuka vulva (crowning). Kelahiran kepala yang terkendali dan
perlahan memberikan waktu bagi jaringan vagina dan perineum untuk melakukan
penyesuaian dan akan mengurangi kemungkinan terjadinya sobekan. Saat kepala
mendorong vulva dengan diameter 5-6 cm, ibu perlu dibimbing untuk meneran dan
berhenti untuk istirahat atau bernafas dengan cepat.
Meskipun episiotomi rutin sering dilakukan di masa lalu karena para penolong
persalinan percaya bahwa dengan melakukan episiotomi akan mencegah penyulit dan
infeksi serta lukanya akan sembuh dengan lebih baik daripada robekan spontan. Tetapi
tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pendapat ini (Enkin, et al 2000; Wooley, 1995).
Episiotomi rutin tidak boleh dilakukan karena dapat menyebabkan:
a. Meningkatnya jumlah darah yang hilang dan risiko hematoma.
b. Luka episiotomi lebih sering meluas menjadi laserasi derajat tiga atau empat
dibandingkan dengan laserasi derajat tiga atau empat yang terjadi tanpa episiotomi.
c. Meningkatnya nyeri pascapersalinan.
d. Meningkatnya risiko infeksi.
Indikasi untuk melakukan episiotomi untuk mempercepat kelahiran bayi bila
didapatkan:
a. Gawat janin
b. Penyulit kelahiran pervaginam (sungsang, distosia bahu, ekstraksi forceps, ekstraksi
vakum).
c. Jaringan parut pada perineum atau vagina yang memperlambat kemajuan persalinan.
2.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 4 Blok XVII FK UMP
2. Manikin episiotomi
3. Episiotomi set:
- gunting episiotomi
- jarum jahit rounded
- benang kromik catgut 2/0
- gunting benang

- klem
- lidokain 1%
- spuit 3 cc
4. Lampu sorot
5. Sarung tangan
6. Kasa steril
2.3 Langkah Kerja
A. EPISIOTOMI
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sebagai dokter yang bertugas.


Menanyakan identitas klien.
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan secara ringkas namun jelas.
Meminta izin klien untuk melakukan tindakan.
Mencuci tangan, menggunakan sarung tangan dan menyiapkan alat-alat.
Menilai indikasi untuk dilakukannya episiotomi: primipara atau multipara dengan

perineum yang kaku (rigid).


7. Lakukan injeksi anestesi lokal pada daerah yang akan digunting (mediolateral)
dengan 3-4 ml lidokain 1%.
8. Episiotomi dilakukan pada saat perineum terlihat tipis atau vulva terbuka 4-5 cm,
pada saat terjadi kontraksi uterus.
9. Gunting episiotomi dipegang dengan tangan kanan. Episiotomi dilakukan dengan
cara meletakkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kiri di antara kepala bayi dan
dinding vagina, sebagai pelindung agar kepala bayi tidak terkena gunting.

Gambar 4. Episiotomi (sumber: www.netterimages.com)


B. PENJAHITAN LUKA EPISIOTOMI (REPAIR)
1. Pasang penopang bokong (beri alas kain).
2. Siapkan alat yang akan digunakan.
3. Membangun hubungan interpersonal dengan klien.

4. Evaluasi luka episiotomi: evaluasi jaringan yang terpotong: kulit, subkutis,


musculus bulbocavernosus dan fasianya, m. ttransversus perinea, dan m. levator
ani dan fascianya.
5. Lakukan preparasi pada lokasi luka:hentikan perdarahan dengan melakukan
ligasi arteri atau dengan menekan kassa pada lokasi perdarahan.
6. Suntikkan prokain 1% yang telah disiapkan dalam spuit pada sisi dalam luka
episiotomi (otot, jaringan, submukosa, dan subkutis) bagian atas dan bawah. Uji
hasil infiltrasi prokain dengan menjepit kulit perineum yang dianestesi dengan
pinset bergigi.
7. Masukkan tampon vagina kemudian jepit tali pengikat tampon dan kain penutup
perut bawah dengan kocher.
8. Menjahit luka bagian dalam, dimulai dari ujung luka episiotomi bagian dalam,
secara berjelujur bersimpul ke arah luar. Pertautkan kembali luka kulit dan
mukosa secara subkutikular atau jelujur matras.
9. Tarik tali pengikat tampon vagina secara perlahan-lahan hingga tampon dapat
dikeluarkan, kemudian kosongkan kandung kemih.
10. Bersihkan noda darah, cairan tubuh dan air ketuban dengan kapas yang telah
diberikan larutan antiseptik.
11. Evaluasi hasil jahitan dengan melakukan rectal touch.
12. Pasang kasa yang dibasahi dengan povidon iodin pada tempat jahitan episiotomi.

LKK 6
BLOK 17: PRESENTASI BOKONG
I. Sasaran Pembelajaran:
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan prosedur persalinan
dengan presentasi bokong.
PANDUAN BELAJAR
I.1 Landasan teori
Presentasi bokong merupakan letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang
terendah sehingga kepala berada di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah
kavum uteri.
Klasifikasi:
1. Presentasi bokong murni (frank breech) (50-70%). Pada presentasi bokong
akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga
ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada
pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong.
2. Presentasi bokong kaki sempurna (complete breech)(5-10%). Pada presntasi
bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.
3. Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki (incomplete or
footling)(10-30%).

Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya

terdapat satu kaki disamping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat tidak
sempurna hanya terdapat satu kaki disamping bokong, sedangkan kaki yang
lain terangkat keatas. Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu
atau dua kaki.
I.2 Media Pembelajaran

1. Penuntun LKK 6 blok 17 FK UMP


2. Ruang periksa dokter
3. Manekin
I.3 Langkah Kerja
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter
2. Menanyakan identitas pasien
3. Menjelaskan tujuan yang akan dilakukan
4. Meminta izin kepada pasien untuk melakukan prosedur persalinan bokong
5. Prosedur pertolongan Persalinan Spontan/ Persalinan secara Bracht
Tahap
1. Tahap pertama: fase lambat, yaitu mulai lahirnya bokong sampai pusar (skapula
depan). Disebut fase lambat karena fase ini hanya melahirkan bokong, yaitu bagian
janin yang tidak berbahaya.
2. Tahap ke dua: fase cepat, yaitu mulai dari lahir pusar sampai lahirnya mulut. Disebut
fase cepat karena pada fase ini kepala janin mulai masuk pintu atas panggul, sehingga
kemungkinan tali pusat terjepit. Oleh karena itu fase ini harus segara diselesaikan dan
tali pusat segara dilonggarkan. Bila mulut sudah lahir, janin dapat bernafas lewat
mulut.
3. Tahap ketiga: fase Lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampat seluruh kepala lahir.
Disebut fase lambat, karena kepala keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi
(uterus), ke dunia luar yang tekanannya lebih rendah, sehingga kepala harus
dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra
cranial 9adanya ruptur tentorium serebri)
Teknik
1. Sebelum melakukan pimpinan persalinan penolong harus memperhatikan sekali lagi
persiapan untuk ibu, janin, maupun penolong. Pada persiapan kelahiran janin harus
selalu disediakan cunam Piper.
2. Ibu tidur dalam posisi litotomi, sedang penolong berdiri di depan vulva. Ketika timbul
his ibu disuruh mengejan dan merangkul kedua pangkal paha. Pada waktu bokong
mulai membuka vulva (crowning) disuntikan 2-5 unit oksitosin intramuskular.
Pemberian oksitosin ini bertujuan untuk merangsang kontraksi rahim sehingga fase
cepat dapat diselesaikan dalam 2 his berikutnya.
3. Episiotomi dikerjakan pada saat bokong membuka vulva. Segara setelah bokong lahir,
bokong dicengkam secara Bracht, yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu
panjang paha, sedangkan jari-jari lain memegang panggul.

4. Pada setiap his ibu disuruh mengejan. Pada waktu tali pusat lahir dan tampak sangat
teregang, tali pusat dikendorkan terlebih dahulu.
5. Kemudian penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna mengikuti
gerakan rotasi anterior, yaitu punggung janin didektkan diperut ibu. Penolong hanya
mengikuti gerakan ini tanpa melakukan tarikan, sehingga gerakan tersebut hanya
disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan dimulainya gerakan
hiperlordosisi ini, seorang asisten melakukan ekspresi Kristeller pada fundus uterus,
sesuai dengan sumbuh panggul. Maksud ekspresi Kristeller ini adalah:
a. Agar tenaga mengejan lebih kulat, sehingga fase ce[at dapat segera diselesaikan
(berakhir)
b. Menjaga agar kepala janin tetap dalam posisi fleksi
c. Menghindari terjadina ruang kosong antara fundus uterus dan kepala janin,
sehingga tidak terjadi lengan menjungkit

6. Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir pusar, perut, bahu dan lengan,
dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala.
7. Janin yang baru lahir diletakan diperut ibu. Seorang asiten segera menghisap lendir
dan bersamaan itu penolong memotong tali pusat.

8. Keuntungan
a. Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir, sehingga mengurangi bahaya
infeksi.
b. Cara ini adalah cara yang paling mendekati persalinan fisiologik, sehingga
mengurangi trauma pada janin.
9. Kerugian
a. 5-105 persalinan secara Bracht mengalami kegagalan, sehingga tidak semua
persalinan letak sungsang dapat dipimpin dengan cara Bracht.

b. Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan terutama dalam keadaan panggul


sempit, janin besar, jalan lahir kaku misalnya pada primigravida, adanya lengan
menjungkit atau menunjuk.
Prosedur Manual AID (Partial Breech Eextraction)
Indikasi:
Persalinan secara bracht mengalami kegagalan, misalnya bila terjadi kemacetan baik
pada waktu melahirkan bahu atau kepala.
Tahapan
1. Tahap pertama, lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan tenaga
ibu sendiri.
2. Tahap kedua, lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong. Cara/ teknik
untuk melahirkan bahu dan lengan ialah secara:
a. Klasik/ Deventer
b. Mueller
c. Lovset
3. Tahap ketiga, lahirnya kepala
Kepala dapat dilahirkan dengan cara:
a. Mauriceai
b. Najouks
c. Cunam piper
Teknik
Tahap pertama: dilakukan persalinan dengan cara Brscht sampai pusar lahir.
Tahap kedua: melahirkan bahu dan lengan oleh penolong.

A. Cara Klasik:
1. Prinsip melahirkan bahu dan lengan secara klasik ini adalah melahirkan lengan
belakang lebih dahulu, karena lengan belakang berada di ruangan yang lebih luas
(sakrum), baru kemudian melahirkan lengan depan yang berada di bawah simpisis.
Tetapi bila lengan sukar dilahirkan, maka lengan depan diputar menjadi lengan
belakang, yaitu dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan baru kemudian
lengan belakang ini dilahirkan.
2. Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong pada pergelangan
kakinya dan dielevasi ke atas sejauh mungkin, sehingga perut janin mendekati.

3. Bersamaan dengan itu tangan kaki penolong di masukkan ke dalam jalan lahir dan
dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai pada fosa kubiti
kemudian lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-olah engan bawah
mengusap muka janin.

4. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada

pergelangan kaki

janin diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke


bawah sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.
5. Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.
6. Bila lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan belakang.
Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan kedua tangan
penolong sedemikian rupa sehingga kesua ibu jari tangan penolong terletak di
punggung dan sejajar dengan sumbu badan janin sedang jari-jari lain mencengkram
dada. Putar diarahkan ke perut dan dada janin, sehingga lengan depan terletak di
belakang. Kemudian lengan belakang ini dilahirkan dengan teknik tersebut di atas.

7. Deventer melakukan cara klasik ini dengan tidak mengubah lengan depan menjadi
lengan belakang. Keuntungan cara klasik ini adalah pada umumnya dapat dilakukan
pada semua persalinan letak sungsang, tetapi kerugiannya adalah lengan janin masih
relatif tinggi di dalam panggul, sehingga jari penolong harus masuk ke dalam jalan
lahir yang dapat menimbulkan infeksi.
B. Cara Mueller
1. Prinsip melahirkan bahu dan lengan secara Mueller adalah melahirkan bahu dan lengan
depan lebih dahulu dengan ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan
belakang.

2. Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks yaitu kedua ibu jari penolong diletakkan
sejajar spina sakralis media dan jari telunjuk pada krista iliaka dan jari-jari lain
mencengkram paha bagian depan. Dengan pegangan ini badan janin ditarik cunam ke
bawah sejauh mungkin sampai bahu depan tampak di bawah simfisis, dan lengan depan
dilahirkan dengan mengait lengan bawahnya.
3. Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih dipegang
secara V ditarik ke atas, sampai bahu belakang lahir. Bia bahu belakang tidak lahir
dengan sendirinya, maka lengan belakang dilahirkan dengan mengait lengan bawah
dengan kedua jari penolong. Keuntungan dengan teknik Mueller ini adlaah tangan
penolong tidak masuk jauh ke dalam jalan lahir, sehingga bahaya infeksi minimal.

C. Cara Lovset
1. Prinsip persalinan secara Lovset ialah memutar badan janin dalam setengah ligkaran
bolak-balik sambil dilakukan traksi curam ke bawah sehingga bahu yang sebelumnya
berda di belakang akhirnya lahir di. bawah simfisis. Hal ini berdasarkan kenyataan
bahwa adanya inklinasi antara pintu atas panggul dengan sumbu panggul dan berbentuk
lengkungan panggul antara pintu atas panggul dengan sumbu panggul dan bentuk
lengkungan panggul yang mempunyai lengkungan depan lebih pendek dari lengkungan
di belakang, sehingga setiap saat bahu belakang selalu dalam posisi lebih rendah dari bau
depan.
2. Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan traksi curam ke
bawah badan janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bhu
depan. Kemudian sambil dilakukan traksi, badan janin diputar kembali ke arah yang
berlawanan setengah lingkaran, demikian seterusnya bolak-balik, sehingga bahu
belakang di bawah simfisi dan lengan dapat dilahirkan.
3. Bila lengan janin tidak dapat lahir dengan sendirinya, maka lengan janin ini dapat
dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan jari penolong.

4. Keuntungan cara lovset,


a. Teknik yang sederhana dan jarang gagal
b. Dapat dilakukan pada segala macam letak sungsang tanpa memperhatikan posisi
lengan.
c. Tangan penolong tidak masuk ke dlam jalan lahir, sehingga bahaya infeksi minimal.
5. Cara lovset ini dianjurkan dalam memimpi persalinan letak sungsang pada keadaankeadaan di mana diharapjan akan terjadi kesukaran, misalnya:
a. Primigravida
b. Janin yang besar
c. Panggul yang relatif sempit
Tahap ke tiga: melahirkan kepala yang menyusul (after coming head).
A. Cara Mauriceau (Veit-Smellie)
1. Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir. Jari
tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk, dan jari keempat mencengkam
fosa kanina, sedang jari lain mencengkam leher. Badan anak diletakkan di atas lengan
bawah penolong, seolah-olah janin menunggang kuda.Jari telunjuk dan jan ketiga
penolong yang lain mencengkam leher janin dari arah punggung.
2. Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah sambil seorang asisten
melakukan ekspresi Kristeller. Tenaga tarikan terutama dilakukan oleh tangan penolong
yang mencengkam leher janin dari arah punggung. Bila suboksiput tampak di bawah
simfisis, kepala janin dielevasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion
sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun besar dan
akhirnya lahirlah seluruh kepala janin.

B. Cara Naujoks
Teknik ini dilakukan bila kepala masih tinggi, sehingga jari penolong tidak dapat dimasukkan
ke dalam mulut janin. Kedua tangan penolong mencengkam leher janin dari arah depan dan
belakang. Kedua tangan penolong menarik bahu curam ke bawah dan bersamaan dengan itu
seorang asisten mendorong kepala janin ke arah bawah. Cara ini tidak dianjurkan karena
menimbulkan trauma yang berat Pada sumsum tulang di daerah leher.

C. Cara cunam Piper


1. Cunam Piper dibuat khusus untuk melahirkan kepala janin pada letak sungsang, sehingga
mempunyai bentuk khusus, yaitu:
a. daun cunam berfenestra, yang mempunyai lengkungan Panggul yang agak mendatar
(baik untuk pemasangan yang tinggi).
b. tangkainya panjang, melengkung ke atas dan terbuka, keadaan ini dapat menghindari
kompresi yang berlebihan pada kepala ianin.
2. Seorang asisten memegang badan janin pada kedua kaki, dan kedua lengan janin

diletakkan di punggung janin. Kemudian badan janin dielevasi ke atas, sehingga punggung
janin mendekati punggung ibu.
3. Pemasangan cunam pada after coming head tekniknya sama dengan pemasangan cunam
pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini cunam dimasukkan dari arah bawah,
yaitu sejajar dengan pelipatan paha belakang. Setelah suboksiput tampak di bawah
simfisis, maka cunam dielevasi ke atas dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion,
berturut-turut lahir dagu, mulut, muka, dahi dan akhirnya seluruh kepala lahir.

LKK 7 BLOK 17: PEMERIKSAAN PAYUDARA


1.1 Landasan Teori
Payudara atau kelenjar mammae adalah turunan lapisan ektoderm yang sangat sensitif
terhadap hormon. Efek hormonal paling jelas terlihat selama perkembangan embrionik
dan setelah pubertas. Struktur dasar payudara hampir sama pada semua mamalia,
walaupun terdapat variasi yang luas dalam hal jumlah, ukuran, lokasi, dan bentuk kelenjar
mammae. Setiap kelenjar mammae terdiri atas massa jaringan kelenjar yang berlobus.
Jaringan kelenjar melekat di dalam jaringan adipose dan dipisahkan oleh jaringan ikat

fibrosa. Setiap lobus mengandung lobules-lobulus alveoli, pembuluh darah, dan duktus
laktiferus.
Saat lahir, payudara sebagian besar terdiri atas duktus laktiferus dengan sedikit
alveoli. Kelenjar mammae yang rudimenter ini memiliki sedikit fungsi sekretorik (air
susu palsu) dalam beberapa hari setelah lahir. Sekresi payudara pada masa neonatal
terjadi akibat kadar prolaktin yang tinggi pada bayi baru lahir setelah pajanan payudara
janin sebelumnya terhadap konsentrasi estrogen plasenta yang tinggi selama kehamilan.
Setelah estrogen plasenta hilang dari sirkulasi neonatal, payudara memasuki fase tenang
sampai masa pubertas.
Pada onset pubertas, estrogen ovarium menginduksi pertumbuhan sistem duktus
laktiferus. Duktus-duktus ini bercabang-cabang selama pertumbuhannya dan ujung
duktus ini membentuk massa sel kecil dan padat. Struktur ini akan membentuk alveoli
lobular. Payudara dan alveoli kemudian membesar. Saat menarke (pertama kali
menstruasi), sekresi estrogen dan progesterone siklik dimulai dan akan terjadi fase
tambahan pada pertumbuhan duktus dan lobulus yang rudimenter. Kortikosteroid adrenal
selanjutnya akan meningkatkan perkembangan duktus. Payudara terus membesar selama
beberapa waktu setelah menarke akibat timbunan lemak dan jaringan ikat tambahan.
Diferensiasi dan pertumbuhan akhir payudara tidak akan terjadi sampai adanya
kehamilan.
Pemeriksaan payudara merupakan salah satu bagian penting dalam kesehatan perempuan
karena dapat membantu menegakkan diagnosis kanker, yang kadang terlewat oleh
mammografi. Terbukti 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara
dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah terdiagnosis sehingga banyak dokter
yang merekomendasikan agar para wanita menjalani sadari (periksa payudara sendiri
saat menstruasi pada hari ke 7 sampai dengan hari ke 10 setelah hari pertama haid) di
rumah secara rutin, karena payudara cenderung berbentuk nodular dan membengkak
sebelum

menstruasi

akibat

peningkatan

stimulasi

estrogen,

dan

menyarankan

dilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara.


Pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan pada usia 20 tahun atau lebih. Bagi wanita
usia lebih dari 30 tahun dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri maupun ke bidan
atau dokter untuk setiap tahunnya.
Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin

dan melihat perubahan bentuk payudara dengan cara berbaring. Pemeriksaan payudara
dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin dan melihat perubahan
bentuk payudara dengan cara berbaring.
Pemeriksaan diawali dengan inspeksi seperti layaknya pemeriksaan fisik lain untuk
memperhatikan kulit, kontur, kesimetrisan, dan puting susu. Bila ada kanker maka akan
tampak kelainan pada saat inspeksi. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi
pada payudara dan bagian lateralnya (termasuk aksila). Palpasi ditujukan untuk meraba
adanya nodul yang mencurigakan.
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 7 Blok XVII FK UMP
2. Manikin payudara
3. Ruang periksa dokter
4. Tempat tidur pemeriksaan

2.3 Langkah Kerja


Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
1. Melihat Perubahan Payudara di Hadapan Cermin.
Lihat pada cermin , bentuk dan keseimbangan bentuk payudara (simetris atau tidak).
Cara melakukan:
a. Tahap 1

Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan puting susu,


serta kulit payudara di depan kaca. Sambil berdiri tegak depan cermin, posisi
kedua lengan lurus ke bawah di samping badan.

b. Tahap 2

Periksa payudara dengan tangan diangkat di atas kepala. Dengan maksud


untuk melihat retraksi kulit atau perlekatan tumor terhadap otot atau fascia di
bawahnya.

c. Tahap 3

Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan disamping kanan dan kiri.
Miringkan badan ke kanan dan kiri untuk melihat perubahan pada payudara.
d. Tahap 4

Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak pinggang/ tangan


menekan pinggul dimaksudkan untuk menegangkan otot di daerah axilla.
2.4 Interpretasi Hasil
Kulit payudara: warna, ketebalan kulit, pori-pori yang tampak tidak biasa.
Kesimetrisan: payudara (termasuk areola) yang tidak simetris adalah hal yang biasa.
Kontur payudara:
a. Massa: normalnya tidak ada.
b. Dimpling: timbul penarikan kulit akibat adanya jaringan ikat (yang disebabkan oleh
kanker) menempel pada kulit dan fascia pembungkus m. Pectoralis.
c. Pendataran (flattening) curiga kanker.
Puting susu:
a. Normal: puting terbenam di bawah permukaan areola dan diliputi lipatan kulit
areola. Puting yang terlalu terbenam tidak memiliki konsekuensi klinis tetapi akan
menyulitkan pada saat menyusui.
b. Asimetri arah puting menandakan kanker.
c. Ruam atau ulserasi biasa timbul pada penyakit Paget payudara.
d. Puting yang datar menandakan adanya retraksi.

Prosedur pemeriksaan payudara


Pada penderita dengan keluhan pada payudara, terlebih dahulu dilakukan anamnesis,
Anamnese meliputi:
1. Apa yang menjadi keluhan ( adanya rasa tidak enak di payudara, adanya benjolan,
keluarnya cairan dari putting, adanya perubahan bentuk payudara, adanya koreng
yang sukar sembuh, dll)
2. Sejak Kapan mulai dirasakan keluhan tsb
3. Adakah gejala lain yang mengikuti
4. Apakah keluhan ini berhubungan dengan siklus menstruasi

5. Usia berapa menarche, bagaimana siklus haid, usia berapa anak pertama lahir,
menyusui atau tidak, usia berapa menopause
6. Pernahkah dilakukan operasi ginekologi?
7. Adakah riwayat radiasi?
Pemeriksaan payudara meliputi :
1. Inspeksi :
Inspeksi dapat dilakukan pada posisi duduk tegak maupun berbaring.
a. Inspeksi pada penderita duduk, bandingkan kiri dan kanan,
b. Inspeksi pada waktu mengangkat kedua lengan dan turunkan, bandingkan kiri
dan kanan.
c. Diperhatikan bentuk kedua payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, retraksi ,
gambaran kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus dan benjolan.
d. Perhatikan puting mamma, adakah retraksi?
Dengan mengangkat lengan lurus keatas kelainan terlihat lebih jelas.
2. Palpasi
a. Palpasi lebih baik dilakukan pada posisi berbaring dengan meletakkan bantal
tipis di punggung sehingga payudara terbentang rata.
b. Palpasi dilakukan dengan telapak jari tangan yang digerakkan perlahan lahan
tanpa tekanan pada setiap kwadran payudara.
c. Pada palpasi ini dinilai: ada tidaknya benjolan, lokasinya (pada kwadran apa)
jumlahnya, ukuran, tepinya berbatas tegas atau tidak, nyeri tekan?,
mobilitasnya, melekat kedinding dada atau tidak, melekat ke kulit atau tidak.
d. Lakukan pijatan halus pada putting susu, adakah pengeluaran cairan, darah
atau nanah, bandingkan kiri dan kanan.
e. Pada sikap duduk, benjolan yang tidak teraba pada saat berbaring kadang
kadang lebih mudah ditemukan.
f. Perabaan aksilla sebaiknya dilkukan pada pada posisi duduk. Pembesaran
kelenjar aksila akan lebih mudah dirasakan
g. Perabaan juga dilakukan pada kelenjar di kedua supraklavikula, untuk menilai
adanya metastase
PENUNTUN LATIHAN KETERAMPILAN KLINIK 8
KONSELING KB, PEMASANGAN IUD DAN PENCABUTAN IUD

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, seorang dokter umum
diharapkan mencapai tingkat kemampuan 4 (mampu melakukan mandiri) dalam
memberikan konseling Keluarga Berencana. Selain itu juga diharapkan mencapai tingkat
kemampuan 3 (pernah melakukan di bawah supervisi) dalam melakukan tindakan
pemasangan alat kontrasepsi, misalnya pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim atau
IUD. Oleh karena itu, materi tersebut diberikan dalam latihan keterampilan klinik dalam
blok kesehatan reproduksi ini.
2. TUJUAN PEMBELAJARAN
2.1 Tujuan Umum
Setelah kegiatan ini apabila dihadapkan pada pasien simulasi dan manikin, diharapkan
mahasiswa mampu:
1. Melakukan konseling Keluarga Berencana (KB).
2. Melakukan pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (Intra Uterine Device)
3. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim
2.2 Tujuan Khusus
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu:
4. Melakukan konseling KB
a.Memberikan penjelasan tentang cara-cara KB
b. Membantu pasien untuk memilih cara KB yang sesuai
5. Melakukan pemasangan IUD
a. Melakukan anamnesis dan konseling
b. Mempersiapkan alat
c. Mempersiapkan pasien
d. Melakukan pemasangan IUD
6. Melakukan pencabutan IUD
a. Melakukan anamnesis dan konseling
b. Mempersiapkan alat
c. Memperisapkan pasien
d. Melakukan pencabutan IUD

3. METODE INSTRUKSIONAL

1. Mahasiswa mendapat kuliah singkat mengenai keterampilan konseling KB,


pemasangan IUD dan pencabutan IUD.
2. Mahasiswa dibagi menjadi 10 orang per kelompok dan di bimbing oleh satu orang
instruktur.
3. Mahasiswa secara berkelompok diminta untuk melakukan konseling KB,
pemasangan IUD dan pencabutan IUD sesuai dengan panduan belajar.
4. Mahasiswa menerima umpan balik dari instruktur tentang tehnik konseling KB,
pemasangan IUD dan pencabutan IUD.
5. Diskusi
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR KONSELING KELUARGA BERENCANA
1.1 Landasan Teori
Pengertian Keluarga Berencana (KB) berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun
1992

adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui

pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga,


dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan
sejahtera. Tujuan KB adalah untuk membangun manusia Indonesia sebagai objek dan
subjek pembangunan melalui peningkatan kesejahteraan ibu, anak, dan keluarga.
Pelaksanaan KB juga diarahkan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara
memilih alat kontrasepsi.
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan dan kata
konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur matang dan sel sperma yang
mengakibatkan kehamilan. Jadi kontrasepsi adalah suatu cara untuk menghindari atau

a.

mencegah terjadinya kehamilan. Usaha ini dapat bersifat sementara atau permanen.
Ada beberapa jenis kontrasepsi yang dapat digunakan saat ini, yaitu:
Metode alamiah
Metode ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kehamilan dengan tidak
melakukan hubungan seksual selama masa subur wanita. Metode ini tidak

b.

menggunakan alat apapun.


Metode rintangan
Ada 3 macam alat yang dapat dipakai, yaitu kondom, diafragma, dan tutup (cap).
Ketiga alat kontrasepsi tersebut bekerja dengan cara mencegah sel-sel sperma masuk
ke dalam uterus pada saat hubungan seksual sehingga tidak terjadi konsepsi.

Kekurangan dari alat-alat ini adalah adanya kemungkinan alergi lateks pada
pemakainya. Kelebihannya adalah mudah digunakan, murah, dan mencegah
c.

penularan penyakit menular seksual (PMS).


Spermisida
Spermisida merupakan bahan kimia (nonoksinol-9) yang dapat membunuh sperma
dengan cara merusak membran luar sel sperma. Tersedia dalam bentuk busa, krim,
atau supositoria. Kekurangan dari cara ini adalah timbulnya rasa tidak nyaman pada

d.

pemakainya.
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Nama lain dari metode ini adalah IUD (intra uerine device) atau KB spiral,
merupakan alat yang terbuat dari bahan yang mengandung logam tertentu (misalnya
copper) yang berukuran kecil dan dimasukkan ke dalam rongga uterus. Mekanisme
kerjanya adalah dengan mencegah fertilisasi dan implantasi dengan menginduksi
suatu reaksi inflamasi lokal dan steril yang menyerang oosit, sperma, dan zigot. Efek

e.

sampingnya adalah menoragia dan dismenorea.


Metode hormonal
Ada 3 cara penggunaan metode hormonal yaitu dengan pil KB, dengan suntikan (1
bulan sekali atau 3 bulan sekali) atau dengan implan. Cara kerja metode hormonal
adalah dengan (i) mencegah ovulasi melalui inhibisi sentral lonjakan LH di tengah
siklus menstruasi, (ii) beraksi secara perifer untuk menurunkan fungsi oviduk, dan
(iii) memperkental mukus serviks yang menyebabkan sel sperma sulit masuk. Efek
sampingnya adalah perdarahan iregular di luar siklus, mual, pusing, peningkatan
tekanan darah dan berat badan. Kelebihannya adalah bersifat reversibel, mudah

f.

digunakan, dan murah.


Sterilisasi
Adalah suatu prosedur pembedahan yang bertujuan memblokade secara permanen
untuk mencegah fertilisasi dengan cara mengangkat atau mengikat bagian saluran
genitalia. Pada pria yang diangkat adalah vas deferens (saluran yang dilalui sperma
selama ejakulasi). Pada wanita dilakukan blokade tuba fallopi dengan alat atau bahan
oklusif yang bertujuan mencegah bertemunya ovum dengan sel sperma. Sterilisasi
pada wanita dapat dilakukan pada saat bedah sesar, segera setelah persalinan, pasca
aborsi, atau kapan saja bila sudah siap tanpa berhubungan dengan kehamilan.
1.3 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 8 Blok XVII FK UMP
2. Pasien simulasi

3. Ruang praktek dokter


1.3 Langkah Kerja
Skenario: Ny. N, 29 tahun, diantar suaminya datang ke Poliklinik umum ingin memasang
alat kontrasepsi. Ny. N sudah mempunyai 2 orang anak. Anak pertama laki-laki berusia
2 tahun dan anak keduanya perempuan berusia 10 bulan. Riwayat menstruasi teratur
siklus 28 hari. Ny. N dan suaminya sepakat untuk menunda kehamilan. Lakukanlah
konseling KB untuk membantu pasangan ini memilih alat kontrasepsi yang tepat!
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sebagai dokter.
2. Menanyakan identitas pasien dan menyarankan pasien didampingi pasangan
3.
4.
5.
6.

(bila ada).
Memberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat KB secara umum.
Memberikan secara singkat tentang cara-cara KB beserta mekanisme kerjanya.
Menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan cara-cara KB yang tersedia.
Menanyakan apakah pasien mempunyai pertanyaan tentang informasi yang

telah diberikan.
7. Memastikan kembali bahwa pasien telah memahami tentang cara KB yang
telah dijelaskan.
8. Menanyakan tujuan pasien memakai alat kontrasepsi (apakah ingin
menjarangkan jarak kehamilan atau tidak ingin hamil lagi).
9. Jika pasien menginginkan pengaturan jarak kehamilan, berapa lama jarak yang
diinginkan di antara kehamilan.
10. Memberikan dan menjelaskan beberapa alternatif pilihan cara KB yang sesuai
dengan kondisi pasien.
11. Menanyakan pendapat pasien tentang cara KB yang ingin digunakan.
12. Menginformasikan pada pasien kapan harus melakukan kunjungan ulang atau
follow up.
1.4 Kesimpulan
Pasien mengerti mengenai KB, macam-macam alat kontrasepsi beserta fungsi, kelebihan
dan kekurangannya.
2. PANDUAN BELAJAR PEMASANGAN INTRA UTERINE DEVICE (IUD)
2.1 Landasan Teori
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik, berukuran kecil,
yang dimasukkan ke dalam rongga uterus, dimana terdapat benang nilon pada bagian

ujungnya dan menjulur ke dalam liang vagina sebagai alat pengontrol untuk memastikan
apakah IUD masih terdapat di dalam uterus. Ada berbagai macam bentuk IUD, misalnya
bentuk spiral (lippes loop) dan bentuk huruf T (copper T). Di dalam IUD pun terkadang
ada yang mengandung logam (T Cu 380A, T Cu 200C, dan ada juga yang mengandung
hormon progestin (progestasert, levonova).
Efektivitas IUD bermacam-macam, tergantung jenis IUD yang dipakai. Misalnya
lippes loop sebagai generasi pertama dapat dipakai selama yang diinginkan, kecuali ada
keluhan. Untuk IUD Cu T 200B, Cu 7, ML Cu 380 dapat dipakai selama 5 tahun. Copper
T 380A dapat dipakai selama 10 tahun.
Mekanisme kerja IUD adalah dengan mencegah implantasi zigot pada uterus. Bila
IUD mengandung tembaga, maka mineral yang terkandung di dalamnya dapat
menyebabkan respon peradangan lokal di dalam endometrium dan kemudian
memproduksi prostaglandin yang berlebihan. Ion tembaga secara kompetitif menghambat
sejumlah proses yang membutuhkan seng (Zinc) dalam aktifitas sperma dan proses sinyal
endometrium.
IUD dapat diinsersikan setiap saat dalam siklus menstruasi setelah kemungkinan
hamil disingkirkan. Perforasi uterus dapat terjadi pada saat insersi IUD, tetapi hal ini
sangat jarang terjadi. Tingkat lepasnya IUD yang keluar dari vagina setelah diinsersi
sebesar 5% pada tahun pertama pemakaian.
2.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 8 Blok XVII FK UMP
2. Manikin vagina dari bahan lilin
3. IUD jenis Copper T
4. Inserter
5. Spekulum cocor bebek
6. Doek bolong steril
7. Cairan antiseptik
8. Kapas
9. Sonde
10. Gunting
11. Tenakulum
12. Tampon tang
13. Sarung tangan
2.3 Langkah Kerja
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter.

2. Menanyakan identitas pasien.


3. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan meminta izin pasien untuk melakukan
tindakan.
4. Mempersiapkan IUD Copper T yang akan digunakan:
-

Membuka sebagian plastiknya dan lipat ke belakang

Masukan pendorong ke dalam tabung inserter.


-

5.
6.
7.
8.
9.

Pegang kedua lengan IUD dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal

lengan sehingga lengan akan melipat.


Membetulkan posisi ginekologi pasien (model).
Melepas cincin, jam, atau aksesoris lain pada tangan dan lengan bawah.
Mencuci tangan dengan cairan desinfektan.
Memasang sarung tangan secara aseptik.
Melakukan toilet vulva dan sekitarnya secara legeartis dengan kassa steril yang telah

diberi cairan antiseptik dan dijepit dengan tampon tang.


10. Menutup daerah genital dengan doek bolong steril.
11. Memilih ukuran spekulum lalu mengatur sekrupnya.
12. Memasang spekulum dengan tangan kanan lalu membuka spekulum untuk
menampilan serviks.
13. Mengunci kedudukan spekulum.
14. Membersihkan serviks menggunakan kassa steril yang telah diberi cairan antiseptik
dan dijepit dengan tampon tang.
15. Melakukan pemasangan tenakulum.
16. Melakukan sondase cavum uteri dengan sonde, lalu lihat angka pada sonde.
17. Mengatur ukuran panjang tabung inserter IUD sesuai dengan angka pada sonde lalu
memasukkan IUD ke dalam rongga rahim secara no touch technic.
18. Melakukan pengguntingan benang sekitar 2 cm di depan serviks.
19. Melakukan pelepasan tenakulum.
20. Mengusap porsio serviks dengan cairan antiseptik.
21. Melepaskan spekulum.
22. Membuka sarung tangan lalu mencuci tangan.
23. Melakukan pencatatan pada rekam medis.
2.4 Kesimpulan: IUD terpasang dengan benar atau tidak.
3. PANDUAN BELAJAR PENCABUTAN INTRA UTERINE DEVICE (IUD)
3.1 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 8 Blok XVII FK UMP
2. Manikin vagina dari bahan lilin

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

IUD jenis Copper T


Spekulum cocor bebek
Doek bolong steril
Cairan antiseptik
Kapas
Klem
Sarung tangan

3.2 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien sebagai dokter.
2. Menanyakan identitas pasien.
3. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan meminta izin pasien untuk
melakukan tindakan.
4. Membetulkan posisi ginekologi pasien (model).
5.
6.
7.
8.

Melepas cincin, jam, atau aksesoris lain pada tangan dan lengan bawah.
Mencuci tangan dengan cairan desinfektan.
Memasang sarung tangan secara aseptik.
Melakukan toilet vulva dan sekitarnya secara legeartis dengan kassa steril yang

telah diberi cairan antiseptik dan dijepit dengan tampon tang.


9. Menutup daerah genital dengan doek bolong steril.
10. Memilih ukuran spekulum lalu mengatur sekrupnya.
11. Memasang spekulum dengan tangan kanan lalu membuka spekulum untuk
menampilan serviks.
12. Mengunci kedudukan spekulum.
13. Membersihkan serviks menggunakan kassa steril yang telah diberi cairan
antiseptik dan dijepit dengan tampon tang.
14. Jepit benang IUD yang berada di dekat serviks dengan menggunakan klem.
15. Tarik ke luar benang dengan hati-hati untuk mengeluarkan IUD.
16. Tunjukkan IUD yang telah berhasil dicabut kepada pasien.
17. Melepaskan spekulum.
18. Membuka sarung tangan lalu mencuci tangan.
19. Melakukan pencatatan pada rekam medis.

3.4 Kesimpulan
IUD dapat dicabut secara utuh atau tidak.
C. PENUTUP
1.

EVALUASI FORMATIF

1.1 Metode Evaluasi

Evaluasi formatif dilakukan dengan mengobservasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa


selama proses keterampilan klinik oleh instruktur.
1.2 Indikator Pencapaian
Indikator pencapaian berupa hasil capaian sasaran pembelajaran yang diperoleh
mahasiswa pada setiap kegiatan keterampilan klinik.
1.3 Umpan Balik
Umpan balik dilakukan oleh instruktur berupa masukan terhadap hasil kegiatan
keterampilan klinik mahasiswa.
2. EVALUASI SUMATIF
2.1 Metode Evaluasi
Evaluasi keterampilan akan dilaksanakan secara komprehensif pada OSCE.