Anda di halaman 1dari 22

LI 1.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi VU & Urethra

a. Vesica Urinaria (Kandung Kemih)


Vesica urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas pelvis. Vesica urinaria
cukup baik untuk menyimpan urine. Vesica urinaria mempunyai dinding otot yang kuat.
Bentuk dan batas-batasnya sangat bervariasi sesuai dengan jumlah urin di dalamnya. Vesica
urinaria yang kosong pada dewasa seluruhnya terletak di dalam pelvis; bila vesica urinaria
terisi, dinding atasnya terangkat sampai masuk regio hypogastricum. Pada anak kecil, vesica
urinaria yang kosong menonjol di atas apertura pelvis superior; kemudian bila cavitas
melebar, vesica urinaria terbenam di dalam pelvis untuk menempati posisi seperti pada orang
dewasa.
Vesica urinaria yang kosong berbentuk piramid, mempunyai apex, basis, dan sebuah facies
superior serta dua buah facies inferolateralis; juga mempunyai collum.
Apex vesicae mengarah ke depan dan terletak di belakang pinggir atas symphysis pubica.
Apex vesicae dihubungkan dengan umbilicus oleh ligamentum umbilicale medianum (sisa
urachus).

Basis, atau facies posterior vesicae, menghadap ke posterior dan berbentuk segitiga.
Sudut superolateralis merupakan tempat muara ureter, dan sudut inferior merupakan tempat
asal urethra. Kedua ductus deferens terletak berdampingan di facies posterior vesicae dan
memisahkan vesicula seminalis satu dengan yang lain. Bagian atas facies posterior vesicae
diliputi peritoneum, yang membentuk dinding anterior excavatio rectovesicalis. Bagian
bawah facies posterior dipisahkan dari rectum oleh ductus deferens, vesicula seminalis, dan
fascia rectovesicalis.
Facies superior vesicae diliputi peritoneum dan berbatasan dengan lengkung ileum atau
colon sigmoideum. Sepanjang pinggir lateral permukaan ini, peritoneum melipat ke dinding
lateral pelvis. Bila vesica urinaria terisi, bentuknya menjadi lonjong, facies superiornya
membesar dan menonjol ke atas, ke dalam cavitas abdominalis. Peritoneum yang meliputinya
terangkat pada bagian bawah dinding anterior abdomen sehingga vesica urinaria berhubungan
langsung dengan dinding anterior abdomen.
Facies inferolateralis di bagian depan berbatasan dengan bantalan lemak retropubica
dan pubis. Lebih ke posterior, facies tersebut berbatasan di atas dengan musculus obturatorius
internus dan di bawah dengan musculus levator ani.
Collum vesicae berada di inferior dan terletak pada superior prostatae. Di sini, serabut otot
polos dinding vesica urinaria dilanjutkan sebagai serabut otot polos prostata. Collum vesicae
dipertahankan pada tempatnya oleh ligamentum puboprostaticum pada laki-laki dan
ligamentum pubovesicale pada perempuan. Kedua ligamentum ini merupakan penebalan
fascia pelvis.
Tunica mucosa sebagian besar berlipat-lipat pada vesica urinaria yang kosong dan lipatanlipatan tersebut akan menghilang bila vesica urinaria terisi penuh. Area tunica mucosa yang
meliputi permukaan dalam basis vesica urinaria dinamakan trigonum vesicae Liutaudi. Di
sini, tunica mucosa selalu licin, walaupun dalam keadaan kosong karena membrana mucosa
pada trigonum ini melekat dengan erat pada lapisan otot yang ada di bawahnya.
Trigonum vesicae dibatasi di sebelah atas oleh rigi muscular yang berjalan dari muara
ureter yang satu ke muara ureter yang lain dan disebut sebagai plica interureterica. Uvula
vesicae merupakan tonjolan kecil yang terletak tepat di belakang ostium urethrae yang
disebabkan oleh lobus medius prostatae yang ada di bawahnya.
Tunica muscularis vesica urinaria terdiri atas otot polos yang tersusun dalam tiga lapisan
yang saling berhubungan yang disebut sebagai musculus detrusor vesicae. Pada collum
vesicae, komponen sirkular dari lapisan otot ini menebal membentuk musculus sphincter
vesicae.

Gambar 1-1. Vesica urinaria dan prostata, dilihat dari ventral

Vaskularisasi Vesica Urinaria


Arteria vesicalis superior dan inferior, cabang arteria iliaca interna.
Venae membentuk plexus venosus vesicalis, di bawah berhubungan dengan plexus
venosus prostaticus; dan bermuara ke vena iliaca interna.

Persarafan Vesica Urinaria


Persarafan vesica urinaria berasal dari plexus hypogastricus inferior. Serabut
postganglionik simpatis berasal dari ganglion lumbalis I dan II lalu berjalan turun ke
vesica urinaria melalui plexus hypogastricus. Serabut preganglionik parasimpatikus yang
muncul sebagai nervi splanchnici pelvici berasal dari nervus sacrales II, III, dan IV,
berjalan melalui plexus hypogastricus menuju ke dinding vesica urinaria, di tempat ini
serabut tersebut bersinaps dengan neuron postganglionik. Sebagian besar serabut aferen
sensorik yang berasal dari vesica urinaria menuju sistem saraf pusat melalui nervi splanchnici
pelvici. Sebagian serabut aferen berjalan bersama saraf simpatis melalui plexus hypogastricus
dan masuk ke medulla spinalis segmen lumbalis I dan II.
Saraf simpatis menghambat kontraksi musculus detrusor vesicae dan merangsang
penutupan musculus sphincter vesicae. Saraf parasimpatis merangsang kontraksi musculus
detrusor vesicae dan menghambat kerja musculus sphincter vesicae.

Gambar 1-2. Vesica urinaria dan prostata, dilihat dari dorsal

b. Urethra
Urethra masculina
Urethra masculina panjangnya sekitar 15-20 cm dan terbentang dari collum vesicae
urinaria sampai ostium urethra externum pada glans penis. Urethra masculina dibagi menjadi
tiga bagian: (1) pars prostatica, (2) pars membranacea, dan (3) pars spongiosa.

Urethra pars prostatica panjangnya 3 cm


dan berjalan melalui prostat dari basis sampai
apexnya. Bagian ini merupakan bagian yang
paling lebar dan yang paling dapat dilebarkan
dari urethra. Pada bagian ini bermuara ductus
ejaculatorius dan saluran keluar kelenjar prostat.
Urethra pars membranacea panjangnya
sekitar 1,25 cm, terletak di dalam diaphragma
urogenitale, dan dikelilingi oleh musculus
sphincter urethrae. Bagian ini merupakan bagian
urethra yang paling tidak bisa dilebarkan.
Urethra pars spongiosa panjangnya sekitar
15,75 cm dan dibungkus di dalam bulbus dan
corpus spongiosum penis. Ostium urethrae

Gambar 1-3. Urethra masculina; pars


externum merupakan bagian yang tersempit
prostatica, pars membranacea, pars
dari seluruh urethra. Bagian urethra yang
cavern
terletak di dalam glans penis melebar
membentuk
fossa
navicularis
(fossa
terminalis). Glandula bulbourethralis bermuara
ke dalam urethra pars spongiosa distal dari diaphragma urogenitale.

Urethra feminina
Panjang urethra feminina + 3,8 cm. Urethra terbentang dari collum vesicae urinaria sampai
ostium urethrae externum yang bermuara ke dalam vestibulum sekitar 2,5 cm distal dari
clitoris. Urethra menembus musculus sphinter urethrae dan terletak tepat di depan vagina. Di
samping ostium urethrae externum, terdapat muara kecil dari ductus glandula paraurethralis.
Urethra dapat dilebarkan dengan mudah.

Gambar 1-4. Urethra feminina

Vaskularisasi Urethra
Arteria dorsalis penis dan arteria bulbourethralis yang merupakan cabang dari arteria
pudenda interna.
Persarafan Urethra

Persarafan urethra diurus oleh nervus dorsalis penis yang merupakan cabang-cabang dari
nervus pudendus.
LO 1.2 Mikroskopik
a.

Vesica Urinaria (Kandung Kemih)


Penampilan irisan kandung kemih mirip ureter. Epitel transisionalnya lebih tebal, terdiri
atas 6-8 lapis sel pada kandung kemih kosong, dan hanya setebal 2-3 lapis kandung kemih
terisi penuh. Di bawah epitel terdapat muskularis mukosa yang tidak utuh yang dibentuk oleh
serat-serat otot kecil yang tidak beraturan, dengan banyak serat saraf. Lamina proprianya
tebal dengan lapis luar yang longgar, kadang disebut submukosa, yang memungkinkan
mukosa ini berlipat pada kandung kemih kosong.
Tebal tunika muskularis sedang saja dan terdiri atas tiga lapisan: (1) lapisan dalam yang
longitudinal, (2) lapisan tengah yang sirkular, dan (3) lapisan luar yang longitudinal. Lapisan
sirkular tengah paling mencolok dan membentuk sfingter tebal sekitar muara urethra dalam
dan tidak begitu tebal sekitar muara ureter. Lapisan adventisia terdiri atas jaringan fibroelastis, hanya permukaan superior kandung kemih saja yang ditutupi peritoneum secara
longgar.

Gambar 1-5. Vesica urinaria; epitel


transisional (TE), lapisan otot
longitudinal dalam (IL), lapisan otot
sirkular tengah (MC), lapisan otot
longitudinal luar (OT)

b.

Urethra
Urethra masculina
Panjang urethra pria antara 15-20 cm dan untuk keperluan deskriptif dibagi dalam tiga
bagian (seperti yang telah dijelaskan pada bagian 1.1.a).
Epitel pembatas urethra pars prostatica ialah epitel transisional, tetapi pada bagian lain
berubah menjadi epitel berlapis/bertingkat silindris, dengan bercak-bercak epitel berlapis
gepeng. Ujung urethra bagian penis yang melebar (fossa navicularis) dibatasi epitel berlapis
gepeng, terdapat sedikit sel goblet penghasil mukus. Di bawah epitel terdapat lamina propria
terdiri atas jaringan ikat fibro-elastis longgar. Membran mukosa tidak beraturan, dengan
lekukan atau sumur kecil-kecil yang meluas ke dalam membentuk kelenjar tubular (Littre)
yang bercabang. Kelenjar ini lebih banyak pada permukaan dorsal urethra dan tersusun
serong dengan bagian dasar tersusun proximal terhadap muaranya. Kelenjar ini dibatasi epitel
serupa dengan yang membatasi urethra dan menghasilkan mukus.

Urethra feminina
Urethra pada wanita jauh lebih pendek daripada urethra pria. Muskularis terdiri atas dua
lapisan otot polos tersusun serupa dengan yang ada pada ureter, tetapi diperkuat sfingter otot

pada muaranya. Epitel pembatasnya terutama epitel berlapis gepeng, dengan bercak-bercak
epitel bertingkat silindris. Juga terdapat penonjolan berupa kelenjar, serupa kelenjar Littre
pada pria. Lamina proprianya merupakan jaringan ikat fibrosa longgar yang ditandai dengan
banyaknya sinus venosus mirip jaringan cavernosa.
LI 2. Fisiologi miksi
2.1 Pengisian dan Pengosongan
a. Pengisian
Dinding ureter terdiri dari otot polos spiral, memanjang dan melingkar namun tidak ada
sekat atau batas tertentu untuk dapat membedakan ketiga otot polos ini dalam lapisan dinding
dari ureter tersebut. Gerakan peristaltik yang terjadi akan secara perlahan membantu
mendorong urine dari pelvis renalis menuju kandung kemih atau vesika urinaria. Urine akan
masuk ke dalam kandung kemih secara perlahan sesuai dengan irama dari gelombang
peristaltik tadi.
Ureter menembus vesika urinaria secara miring, sehingga meskipun tidak ada sfingter
khusus untuk ureter, keadaan kemiriangan tadi cenderung akan menjempit ureter sehingga
ureter tertutup kecuali ketika ada gelombang peristaltik tadi, dan refluks dari vesika dapat
dicegah.
Untuk mempertahankan kontinensia urin, tekanan intra uretra selamanya harus melebihi
tekanan intra vesikal kecuali pada saat miksi.Selama masa pengisian, ternyata hanya terjadi
sedikit peningkatan tekanan intra vesika, hal ini disebabkan oleh kelenturan dinding vesikal
dan mekanisme neural yang diaktifkan pada saat pengisian vesika urinaria.Mekanisme neural
ini termasuk refelk simpatis spinal yang mengatifkan reseptor pada vesika urinaria dan
menghambat aktifitas parasimpatis. Selama masa pengisian vesika urinaria tidak ada aktivitas
kontraktil involunter pada detrusor. Tekanan normal intra vesika maksimal adalah 50 cm H2O
sedangkan tekanan intrauretra dalam keadaan istirahat antar 50-100 cm H2O. Selama
pengisian vesika urinaria,tekanan uretra perlahan meningkat. Peningkatan pada saat pengisian
vesika urinaria cenderung kerah peningkatan aktifitas otot lurik spinchter.Refelek simpatis
juga meningkatkan stimulasi reseptor a pada otot polos uretra dan meningkatkan kontraksi
uretra pada saat pengisian vesika urinaria.
Sewaktu terjaid pengisian normal kandung kemih terjadi hal-hal berikut:
Sensasi kansung kemih harus intak
Kandung kemih harus tetap dapat berknontraksi dalam tekanan rendah walaupun
urin bertambah
Bladder outlet harus teteap tertutup selama waktu pengisisan ataupun saat terjadi
peninggian tekanan intra-abdomen yang tiba-tiba.
Kandung kemih harus berada dalam keadaan tidak berkontraksi involunter.
b. Pengosongan
Selama fase miksi terjadi penurunan tekanan uretra yang mendahului kontraksi otot
detrusor. Terjadi peningkatan intravesika selama peningkatan sensasi distensi untuk
miksi.Pusat miksi terletak pada batang otak.Reflek simpatis dihambat, aktifitas efferent
somatic pada oto lurik spinchter dihambat dan aktifitas parasimpatis pada otot detrusor
ditingkatkan. Semua ini menghasilkan kontraksi yang terkoordinasi dari otot detrusor
bersamaan dengan penurunan resistensi yang melibatkan otot lurik dan polos uretra.Terjadi
penurunan leher vesika urinaria dan terjadi aliran urin. Ketika miksi secara volunter, dasar
panggul berkontraksi untuk meninggikan leher vesika urinaria kearah simfisis pubis,leher
vesika tertutup dan tekanan detrusor menurun.

Otot pada kandung kemih sama dengan yang ada pada ureter yaitu otot polos yang spiral,
memanjang dan melingkar. Kontraksi dari otot melingkat yang disebut sebagai otot detrusor
yang berperan sangat penting pada pengosongan vesika selama miksi atau berkemih. Berkas
dari otot ini berada di sebelah kiri dan kanan dari uretra sehingga terkadang disebut sebagai
sfingter uretra interna meskipun pada kenyataan otot polos ini tidak sepenuhnya melingkari
uretra. Pada bagian distal dari uretra akan ditemukan sfingter uretra eksterna.
Berkemih pada dasarnya merupakan refleks spinal yang akan difasilitasi dan dihambat
oleh persarafan yang lebih tinggi, akan tetapi sama halnya dengan proses defekasi, berkemih
atau miksi pun dapat dikendalikan secaa volunter baik pada proses pengeluarannya maupun
proses penghambatannya. Pada saat vesika mulai terisi urine, perasaan untuk berkemih belum
terasa sampai akhirnya vesika akan penuh dan terjadi peregangan dari vesika tersebut barulah
seseorang akan merasakan keinginan untuk miksi. Otot pada vesika sama dengan otot lainnya
memiliki sifat plastis, yaitu keadaan dimana ketika otot tersebut dirangsang untuk tergang
maka secara otomatis otot tersebut tidak akan melakukan pertahanan tegangan.
Pada penelitian dimana diperhatikan hubungan antara tekanan intravesika dengan volume
vesika dimana dilakukan dengan pemasangan kateter dapat dilihat hubungan antra keduanya.
Dari kurva yang terlihat pada pengisian awal, peningkatan tekanan yang terjadi cukup kecil
yang kemudian disusul dengan pengisian segmen yang panjang dan hampir rata pada
pengisian selanjutnya timbul peningkatan tekanan yang tajam dan secara tiba-tiba akan
tercetus refleks untuk miksi. Keinginan pertama untuk berkemih adalah ketika vesika terisi
sekitar 150 ml urine dan rasa penuh timbul ketika vesika terisi sekitar 400 ml urine.
Hukum Laplace mengatakan bahwa tekanan dari vesika bulat sama dengan dua kali
tegangan berbanding terbalik dengan jari-jari vesika. Pada vesika, tegangan akan meningkat
ketiak vesika mulai terisi namun dengan demikian secara otomatis jari-jari pada vesika juga
akan meningkata. Oleh karena itu, peningkatan dari tegangan dari vesika tidak akan terlalu
besar setiap kali pengisian terlebih pada pengisian pertamakali dan akan benar-benar
meningkat ketiak vesika tersebut secara relatif akan penuh.
Selama proses berkemih, otot perineum dan sfingter uretra eksterna akan melemas
menyebabkan urine akan mengalir ke uretra. Kedua otot yang berada pada sisi uretra justru
tidak berkerja atau tidak melakukan suatu reaksi tertentu pada saat berkemih. Kemungkinan
kedua otot ini berperan sebagai sfingter untuk uretra agar tidak terjadi refluks dari semen
pada saat terjadinya ejakulasi.
Mekanisme dari terjadinya volunter dari berkemih secara fisiologis belum diketahui jelas
bagaimana prosesnya dan disebabkan oleh apa. Dugaan sementara menyebutkan hal tersebut
bisa saja terjadi karena relaksasi dari otot panggul, dan hal ini mungkin menimbulkan
penarikan ke bawah yang cukup besar pada ototo detrusor untuk merangsang kontraksi.
Kontraksi dari otot perineum dan otot sfingter uretra eksterna dapat dikendalikan secara
volunter sehingga dapat mencegah mengalirnya urine melalui uretra atau menghentikan aliran
urine saat sedang berkemih.
2.2 Refleks Miksi dan Pengendalian Refleks berkemih
REFLEKS MIKTURISI
Mikturisi adalah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin.
Melibatkan dua proses ; perama. Kandung kemih terisi secara progresif sehingga tegangan
pada dindingnya meningkat melampai ambang batas. Keadaan ini akan mencetuskan tahap
kedua. Yaitu adanya reflekks saraf (reflex mikturisi) yang kaan mengosongkan kandung
kemih, atau jika gagal, setidaknya akan menyebabkan keinginan berkemih yang disadari.
Kerja alat-alat proses berkemih
Otot detrusor

Kontraksi otot detrusor merupakan tahap utama pada proses pengosongan kandung
kemih, eksitasi otot ini yang terletak diseluruh Vesica urinaria akan menyebabkan
kontraksi kandung kemih secara keseluruhan. Menyebabkan peningkatan tekanan intraVU yang menyebabkan urin terdorong keluar.
Sphycter interna
Tonus alamiah dari otot sfingter leher kandung kemih menahan terjadinya
pengosongan kandung kemih hingga tekanan pada bagian utama kandung kemih
meningkat melampaui nilai ambang.
Sphyncter externa
Otot ini berada di bawah kendali volunteer oleh system saraf dan dapat digunakan
untuk mencegah miksi secara sadar bahkan ketika kendali involunter berusaha untuk
mengosongkan kandung kemih
PERSYARAFAN KANDUNG KEMIH
Kandung kemih mendapat persyarafan utama dari saraf-saraf pelvis, yang berhubungan
dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis, terutama berhubungan dengan segmen S-2
dan S-3 dari medulla spinalis. Perjalanan melalui saraf pelvis terdapat dalam dua bentuk
persaradan, yaitu serabut saraf sensorik dan serabut saraf motorik. Serabut sensorik
mendeteksi derajat regangan dalam dinding kandung kemih. SInyal-sinyal regangan
khususnya dari urethra posterior merupakan sinyal yang kuat dan terutama berperan untuk
memicu reflex pengosongan kandung kemih.
Persyarafan motorik yang dibawa dalam sarafpelvis merupakan serabut parasimpatis.
Saraf ini berakhir di sel ganglion yang terletak di dalam dinding kandung kemih. Selain saraf
pelvis, ada dua jenis persarafan lain yang penting yaitu serabut motorik skeletal yang dibawa
melalui saraf pudendus ke sfingter eksterna kandung kemih. Saraf ini merupakan serabut
saraf somatic yang mempersarafi dan mengatur oto rangka volunteer pada sfingter tersebut.
Kandung kemih juga mendapatkan persarafan simpatis dari rangkaian simpatis melalui sarafsaraf hipogastrik, yang terutama berhubungan dengan segmen L-2 dari medulla spinalis.
Serabut simpatis ini terutama merangsang pembuluh darah dan member sedikit efek terhadap
proses kontraksi kandung kemih.
Transpor Urin dari ginjal melalui ureter menuju kandung kemih
Urin yang dikeluarkan dari kandung kemih pada dasarnya memiliki komposisi yang
sama dengan cairan yang mengalir keluar dari duktus koligentes, tidak ada perbedaan
komposisi urin yang bermakna selama urin melalui kalises ginjal dan ureter menuju ke
kandung kemih.
Urin mengalir dari duktus koligentes menuju kalises ginjal. Urin meregangkan kalises
dan meningkatkan aktivitas pacemaker, yang kemudian akan memicu kontraksi peristaltic
yang menjalas ke pelvis ginjal dank e arah bawah di sepnajang ureter, dengan demikian
memaksa urin mengalir dari pelvis ginjal kea rah kandung kemih. Kontraksi peristaltic
pada ureter diperkuat oleh rangsangan para simpatis dan dihambat oleh rangsangan
simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih melalui otot detrusor di dalam area trigonum
kandung kemih. Tonus normal otot detrusor di dalam kandung kemih cendering akan
menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik dari kandung kemih ketika
terbentuk tekanan di dalam kandung kemih selama mikturisi atau selama kompresi
kandung kemih. Setiap gelombang peristaltic di sepanjang ureter akan meningkatkan
tekanan di dalam ureter sehingga daerah yang menuju kandung kemih membuka dan
memungkinan aliran urin ke dalam kandung kemih
Pada beberapa orang jarak yang ditempuh ureter di dalam dinding kandung kemih
lebih pendek dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih selama mikturisi tidak

selalu menyebabkan oklusi ureter yang lengkap. Sebagai akibatnya, sebagian urin di
dalam kandung kemih didorong ke belakang kea rah ureter, keadaan ini disebut reflex
vesiko ureter, yang menyebabkan pembesaran ureter dan ginjal..
Sensasi nyeri dalam ureter dan reflex uretero renal
Ureter banyak dipersarafi oleh serabut saraf nyeri. Bila ureter terbendung (karena
obstruksi atau batu) terjadi konstriksi refeks yang kuat, disertai dengan nyeri hebat.
Impuls nyeri juga menyebabkan reflex simpatis balik ke ginjal untuk mengkonstriksi
arteriol ginjal, sehingga menurunkan output urin dari ginjal. Efek ini disebut reflex
uretero renal dan penting untuk mencegah aliran cairan yang berlebihan ke pelvis ginjal
pada keadaan ureter terbendung.
Pengisian Kandung Kemih dan tonus dinding kandung kemih; sistometrogram
Pada saat tidak ada urin di dalam kandung kemih, tekanan intravesikularnya sekitar 0,
tetapi setelah ada urin sebanyak 30_50 ml, tekanan meningkat menjadi 5-10 sentimeter
air. Tambahan urin sebanyak 200 atau 300 mililiter hanya sedikit menambah peningkatan
tekanan, nilai tekanan yang konstan ini disebabkan oleh tonus intrinsik pada dinding
kandung kemih sendiri. Tapi bila urin dlm kandung kemih melebihi 300-400 mL, maka
akan terjadi peningkatan tekanan secara cepat.
Bertambahnya perubahan tekanan tonus selama pengisian kandung kemih merupakan
peningkatan tekanan akut periodic yang terjadi selama beberapa detik hingga lebih dari
semenit,. Puncak tekanan dapat meningkat hanya beberapa cm air , atau mungkin
meningkat hingga lebih dari 100 cm air. Puncak tekanan ini disebut gelombang mikturisi,
pada sistometogram dan disebabkan reflex mikturisi.

LI 3. ISK
LO 3.1 Definisi
Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih, termasuk ginjal
itu sendiri, akibat proliferasi suatu mikroorganisme. Sebagian besar ISK disebabkan oleh
bakteri, tetapi jamur dan virus juga dapat menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri tersering
disebabkan oleh Escherichia coli, suatu kontaminan tinja yang ditemukan di daerah anus.
(Corwin,
LO 3.2 Epidemiologi
Sering terjadi pada anak perempuan dan wanita.

LO 3.3 Etiologi
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya
menghuni usus kemudian naik kesistem saluran kemih. Dari gram negative tersebut, ternyata
Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh Proteus sp., Klebsiella sp.,
Enterobacter sp., dan Pseudomonas sp. Bermacam-macam mikroorganisme dapat
menyebabkan ISK. antara lain dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 1. Persentasebiakanmikroorganismepenyebab ISK
No.

Mikroorganisme

Persentasebiakan(%)

1.

Escherichia coli

50-90

2.

Klebsiela sp. atauEnterobacter sp.

10-40

3.

Proteus sp.

5-10

4.

Pseudomonas aeruginosa

2-10

5.

Staphylococcus epidermidis

2-10

6.

Enterococci sp.

2-10

7.

Candida albicans

1-2

8.

Staphylococcus aureus

1-2

Jenis penyebab ISK non-bakterial adalah biasanya adenovirus yang dapat menyebabkan
sistitis hemoragik. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK melalui cara hematogen adalah
brusella, nocardia, actinomises, dan Mycobacterium tuberculosa. Candida sp merupakan
jamur yang paling sering menyebabkan ISK terutama pada pasien-pasien yang menggunakan
kateter urin, pasien dengan penyakit imunnocompromised, dan pasien yang mendapat
pengobatan antibiotic berspektrum luas. Jenis Candida yang paling sering ditemukan adalah
Candida albicans dan Candida tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran
kemih secara hematogen.
Faktor predisposisi yang mempermudah untuk terjadinya ISK, yaitu :
1. Bendunganaliranurin, terdiriatas :
a. Anomalikongenital
b. Batusalurankemih
c. Oklusiureter (sebagianatau total)
2. Refluksvesikoureter
3. Urinsisadalambuli-bulikarena :
a. Neurogenic bladder
b. Strikturauretra
4.Hygienitas
5. Instrumentasi
a. Kateter
b. Dilatasiuretra
c. Sitoskopi
LO 3.4 Manifestasi Klinik

Disuria (Nyeri waktu berkemih)


Peningkatan frekuensi berkemih dan rasa desakkan ingin berkemih
Terjadi nyeri punggung bawah atau suprapubic
Demam disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah

LO 3.5 Diagnosis
Untuk pemeriksaan infeksi saluran kemih, digunakan urin segar (urin pagi). Urin pagi
adalah urin yang pertama diambil pada pagi hari setelah bangun tidur. Digunakan urin pagi
karena yang diperlukan adalah pemeriksaan pada sedimen dan protein dalam urin. Sampel
urin yang sudah diambil, harus segera diperiksa dalam waktu maksimal 2 jam. Apabila tidak
segera diperiksa, maka sampel harus disimpan dalam lemari es atau diberi pengawet seperti
asam format.
Bahan untuk sampel urin dapat diambil dari:
Urin porsi tengah, sebelumnya genitalia eksterna dicuci dulu dengan air sabun dan
NaCl 0,9%.
Urin yang diambil dengan kateterisasi 1 kali.
Urin hasil aspirasi supra pubik.
Bahan yang dianjurkan adalah dari urin porsi tengah dan aspirasi supra pubik.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan laboratorium
1. Analisa Urin (urinalisis)
Pemeriksaan urinalisis meliputi:
Leukosuria (ditemukannya leukosit dalam urin).
Dinyatakan positif jika terdapat 5 atau lebih leukosit (sel darah putih) per lapangan
pandang dalam sedimen urin. Leukosit nampak seperti benda bulat yang biasanya
berbutir halus intinya lebih jelas nampak jika kepada sediment diberikan setetes
larutan asam asetat 10%. Untuk mengetahui asal leukosit pewarnaan SternheimerMalbin sangat berguna.
Hematuria (ditemukannya eritrosit dalam urin).
Merupakan petunjuk adanya infeksi saluran kemih jika ditemukan eritrosit (sel darah
merah) 5-10 per lapangan pandang sedimen urin. Hematuria bisa juga karena adanya
kelainan atau penyakit lain, misalnya batu ginjal dan penyakit ginjal lainnya.
2. Pemeriksaan bakteri (bakteriologis)
Pemeriksaan bakteriologis meliputi:
Mikroskopis.
Bahan: urin segar (tanpa diputar, tanpa pewarnaan).
Positif jika ditemukan 1 bakteri per lapangan pandang.
Biakan bakteri.
Untuk memastikan diagnosa infeksi saluran kemih.
3. Pemeriksaan kimia
Tes ini dimaksudkan sebagai penyaring adanya bakteri dalam urin. Contoh, tes reduksi
griess nitrate, untuk mendeteksi bakteri gram negatif. Batasan: ditemukan lebih 100.000
bakteri. Tingkat kepekaannya mencapai 90 % dengan spesifisitas 99%.
4. Tes Dip slide (tes plat-celup)
Untuk menentukan jumlah bakteri per cc urin. Kelemahan cara ini tidak mampu
mengetahui jenis bakteri.
5. Pemeriksaan penunjang lain

Meliputi: radiologis (rontgen), IVP (pielografi intra vena), USG dan Scanning.
Pemeriksaan penunjang ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya batu atau
kelainan lainnya.

Pemeriksaan penunjang dari infeksi saluran kemih terkomplikasi:


1. Bakteriologi / biakan urin
Tahap ini dilakukan untuk pasien dengan indikasi:
Penderita dengan gejala dan tanda infeksi saluran kemih (simtomatik).
Untuk pemantauan penatalaksanaan infeksi saluran kemih.
Pasca instrumentasi saluran kemih dalam waktu lama, terutama pasca keteterisasi
urin.
Penapisan bakteriuria asimtomatik pada masa kehamilan.
Penderita dengan nefropati / uropati obstruktif, terutama sebelum dilakukan
Beberapa metode biakan urin antara lain ialah dengan plat agar konvensional, proper
plating technique dan rapid methods. Pemeriksaan dengan rapid methods relatif praktis
digunakan dan memiliki ambang sensitivitas sekitar 104 sampai 105 CFU (colony forming
unit) kuman.
Media pembiakan yang digunakan untuk kultur ini umumnya adalah agar darah/blood
agar dan agar mac conkey.
1. Agar darah
Salah satu agar pembiakan yang umum digunakan. Mengandung sel darah yang dapat
berasal dari hewan (misal: domba); banyak bakteri yang dapat tumbuh pada media ini.
2. Agar mac conkey
Media agar ini adalah media yang spesifik untuk pertumbuhan bakteri gram negatif.
Yang paling umum adalah E. coli, yang mana pada agar ini akan terlihat sebagai suatu
koloni berwarna merah karena adanya indikator pH. Ada dua versi agar ini: pertama,
adalah yang ditambahkan gula laktosa kedalamnya dan yang kedua tanpa penambahan
gula. Karena E. coli memfermentasi gula menjadi asam maka akan muncuk warna
merah pada agar.
Spesimen yang diambil:
Urin mid stream (urin porsi tengah)
Urin punksi supra pubik
Cara kerja:
1. Urin midstream ditanam pada media lempeng agar darah dan agar endo dengan
menggunakan oese bulat diameter 9 mm dengan gerakan menyerupai spiral,
dieram dalam inkubator pada suhu 37oC selama 18-24 jam.
2. Pada hari kedua dilakukan perhitungan jumlah koloni kuman yang tumbuh pada
kedua lempeng media tersebut dan ditentukan jumlah kuman dalam 1 ml urine.
3. Selanjutnya dilakukan isolasi dan identifikasi kuman tersangka penyebab infeksi
yang tumbuh pada media tersebut (secara mikroskopik, identifikasi koloni, uji
biokimia).
4. Dilakukan juga uji sensitifitas kuman tersangka terhadap berbagai antibiotik.
2. Interpretasi hasil biakan urin
Setelah diperoleh biakan urin, maka dilakukan interpretasi. Pada biakan urin
dinilai jenis mikroorganisme, kuantitas koloni (dalam satuan CFU), serta tes sensitivitas

terhadap antimikroba (dalam satuan millimeter luas zona hambatan). Pada uretra bagian
distal, daerah perianal, rambut kemaluan, dan sekitar vagina adalah habitat sejumlah flora
normal seperti laktobasilus, dan streptokokus epidermis. Untuk membedakan infeksi
saluran kemih yang sebenarnya dengan mikroorganisme kontaminan tersebut, maka hal
yang sangat penting adalah jumlah CFU. Sering terdapat kesulitan dalam mengumpulkan
sampel urin yang murni tanpa kontaminasi dan kerap kali terdapat bakteriuria bermakna
tanpa gejala, yang menyulitkan penegakkan diagnosis infeksi saluran kemih. Berdasarkan
jumlah CFU, maka interpretasi dari biakan urin adalah sebagai berikut:
a. Pada hitung koloni dari bahan porsi tengah urin dan dari urin kateterisasi.
Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah disebut dengan bakteriuria bermakna
Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis disebut
bakteriuria asimtomatik
Bila terdapat mikroba 102 103 CFU/ml urin kateter pada wanita muda
asimtomatik yang disertai dengan piuria disebut infeksi saluran kemih.
b. Hitung koloni dari bahan aspirasi supra pubik.
Berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi
saluran kemih.
Interpretasi praktis biakan urin oleh Marsh tahun 1976, ialah sebagai berikut:
Kriteria praktis diagnosis bakteriuria. Hitung bakteri positif bila didapatkan:
> 100.000 CFU/ml urin dari 2 biakan urin porsi tengah yang dilakukan seara
berturut turut.
> 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah dengan leukosit > 10/ml
urin segar.
> 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah disertai gejala klinis
infeksi saluran kemih.
> 10.000 CFU/ml urin kateter.
Berapapun CFU dari urin aspirasi suprapubik.
Berbagai faktor yang mengakibatkan penurunan jumlah bakteri biakan urin pada
infeksi saluran kemih:
Faktor fisiologis
Diuresis yang berlebihan
Biakan yang diambil pada waktu yang tidak tepat
Biakan yang diambil pada infeksi saluran kemih dini (early state)
Infeksi disebabkan bakteri bermultiplikasi lambat
Terdapat bakteriofag dalam urin
Faktor iatrogenic
Penggunaan antiseptic pada waktu membersihkan genitalia
Penderita yang telah mendapatkan antimikroba sebelumnya
Cara biakan yang tidak tepat:
Media tertentu yang bersifat selektif dan menginhibisi
Infeksi E. coli (tergantung strain), baketri anaerob, bentuk K, dan basil tahan
asam
Jumlah koloni mikroba berkurang karena bertumpuk.
3. Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari piuria
a. Urin tidak disentrifus (urin segar)

Piuria apabila terdapat 10 leukosit/mm3 urin dengan menggunakan kamar hitung.


b. Urin sentrifus
Terdapatnya leukosit > 10/Lapangan Pandang Besar (LPB) disebut sebagai piuria.
Pada pemeriksaan urin porsi tengah dengan menggunakan mikroskop fase kontras,
jika terdapat leukosit >2000/ml, eritrosit >8000/ml, dan casts leukosit >1000/ml,
maka disebut sebagai infeksi saluran kemih.
c. Urin hasil aspirasi suprapubik
Disebut piuria jika didapatkan >800 leukosit/ml urin aspirasi supra pubik. Keadaan
piuria bukan merupakan indikator yang sensitif terhadap adanya infeksi saluran
kemih, tetapi sensitif terhadap adanya inflamasi saluran kemih.
4. Tes Biokimia
Bakteri tertentu golongan enterobacteriae dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit
(Griess test), dan memakai glukosa (oksidasi). Nilai positif palsu prediktif tes ini hanya
<5%. Kegunaan tes ini terutama untuk infeksi saluran kemih rekurens yang simtomatik.
Pada infeksi saluran kemih juga sering terdapat proteinuria yang biasanya < 1 gram/24
jam. Membedakan bakteriuria dan infeksi saluran kemih yaitu, jika hanya terdapat piuria
berarti inflamasi, bila hanya terdapat bakteriuria berarti kolonisasi, sedangkan piuria
dengan bakteriuria disertai tes nitrit yang positif adalah infeksi saluran kemih.
5. Lokalisasi infeksi
Tes ini dilakukan dengan indikasi:
a. Setiap infeksi saluran kemih akut (pria atau wanita) dengan tanda tanda sepsis.
b. Setiap episode infeksi saluran kemih (I kali) pada penderita pria.
c. Wanita dengan infeksi rekurens yang disertai hipertensi dan penurunan faal ginjal.
d. Biakan urin menunjukkan bakteriuria pathogen polimikrobal.
Penentuan lokasi infeksi merupakan pendekatan empiris untuk mengetahui
etiologi infeksi saluran kemih berdasarkan pola bakteriuria, sekaligus memperkirakan
prognosis, dan untuk panduan terapi. Secara umum dapat dikatakan bahwa infeksi saluran
kemih atas lebih mudah menjadi infeksi saluran kemih terkomplikasi. Suatu tes
noninvasif pembeda infeksi saluran kemih atas dan bawah adalah dengan ACB
(Antibody-Coated Bacteria). Pemeriksaan ini berdasarkan data bahwa bakteri yang
berasal dari saluran kemih atas umumnya diselubungi antibody, sementara bakteri dari
infeksi saluran kemih bawah tidak. Pemeriksaan ini lebih dianjurkan untuk studi
epidemiologi, karena kurang spesifik dan sensitif.
Identifikasi / lokalisasi sumber infeksi:
a. Non invasif
Imunologik
ACB (Antibody-Coated Bacteria)
Autoantibodi terhadap protein saluran Tam-Horsfall
Serum antibodi terhadap antigen polisakarida
Komplemen C
Nonimunologik
Kemampuan maksimal konsentrasi urin
Enzim urin
Protein Creaktif
Foto polos abdomen
Ultrasonografi
CT Scan
Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Bakteriuria polimikrobial / relaps setelah terapi (termasuk pada terapi tunggal)


b. Invasif
Pielografi IV / Retrograde / MCU
Kultur dari bahan urin kateterisasi ureteroan bilasan kandung kemih
Biopsi ginjal (kultur pemeriksaan imunofluoresens)
6. Pemeriksaan radiologis dan penunjang lainnya
Prinsipnya adalah untuk mendeteksi adanya faktor predisposisi infeksi saluran
kemih, yaitu hal hal yang mengubah aliran urin dan stasis urin, atau hal hal yang
menyebabkan gangguan fungsional saluran kemih. Pemeriksaan tersebut antara lain
berupa:
a. Foto polos abdomen
Dapat mendeteksi sampai 90% batu radio opak
b. Pielografi intravena (PIV)
Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi system
pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode infeksi saluran
kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat hipertensi, pielonefritis akut,
riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan kreatinin plasma sampai < 2 mg/dl,
bakteriuria asimtomatik pada kehamilan, lebih dari 3 episode infeksi saluran kemih
dalam setahun. PIV dapat mengkonfirmasi adanya batu serta lokasinya. Pemeriksaan
ini juga dapat mendeteksi batu radiolusen dan memperlihatkan derajat obstruksi serta
dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah > 6 minggu
infeksi akut sembuh, dan tidak dilakukan pada penderita yang berusia lanjut,
penderita DM, penderita dengan kreatinin plasma > 1,5 mg/dl, dan pada keadaan
dehidrasi.
c. Sistouretrografi saat berkemih
Pemeriksaan ini dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral, terutama
pada anak anak.
d. Ultrasonografi ginjal
Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process, ukuran dan
bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada ginjal.
e. Pielografi antegrad dan retrograde
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive dan
mengandung factor resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu dilakukan pada refluks
vesikoureteral dan pada infeksi saluran kemih berulang untuk mencari factor
predisposisi infeksi saluran kemih.
f. CT-scan
Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada parenkim ginjal,
termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik. Pemeriksaan ini dapat membantu
untuk menunjukkan adanya kista terinfeksi pada penyakit ginjal polikistik. Perlu
diperhatikan bahwa pemeriksaan in lebih baik hasilnya jika memakai media kontras,
yang meningkatkan potensi nefrotoksisitas.
g. DMSA scanning
Penilaian kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat dilakukan
dengan skintigrafi yang menggunakan (99mTc) dimercaptosuccinic acid (DMSA).
Pemeriksaan ini terutama digunakan untuk anak anak dengan infeksi saluran kemih
akut dan biasanya ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih. Pemeriksaan ini
10 kali lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks ginjal dibanding ultrasonografi.
Diagnosis

Biakan air kemih :


Dikatakan infeksi positif apabila :
Air kemih tampung porsi tengah : biakan kuman positif dengan jumlah kuman 10 5/ml,
2 kali berturut-turut.
Air kemih tampung dengan fungsi buli-buli suprapubik : setiap kuman patogen yang
tumbuh pasti infeksi. Pembiakan urin melalui pungsi suprapubik digunakan
sebagaigold standar.
Dugaan infeksi :
- Pemeriksaan air kemih : ada kuman, piuria, torak leukosit
- Uji kimia : TTC, katalase, glukosuria, lekosit esterase test, nitrit test.
Mencari faktor resiko infeksi saluran kemih :
Pemeriksaan ultrasonografi ginjal untuk mengetahui kelainan struktur ginjal dan
kandung kemih.
Pemeriksaan Miksio Sisto Uretrografi/MSU untuk mengetahui adanya refluks.
Pemeriksaan pielografi intra vena (PIV) untuk mencari latar belakang infeksi saluran
kemih dan mengetahui struktur ginjal serta saluran kemih
3.7 Tatalaksana
Prinsip pengobatan infeksi saluran kemih adalah memberantas (eradikasi) bakteri dengan
antibiotika.
Tujuan pengobatan :
Menghilangkan bakteri penyebab Infeksi saluran kemih.
Menanggulangi keluhan (gejala).
Mencegah kemungkinan gangguan organ ( terutama ginjal).
Tata cara pengobatan :
Menggunakan pengobatan dosis tunggal.
Menggunakan pengobatan jangka pendek antara 10-14 hari.
Menggunakan pengobatan jangka panjang antara 4-6 minggu.
Menggunakan pengobatan pencegaham (profilaksis) dosis rendah.
Menggunakan pengobatan supresif, yaitupengobatan lanjutan jika pemberantasan
(eradikasi) bakteri belum memberikan hasil.
Pengobatan infeksi saluran kemih menggunakan antibiotika yang telah diseleksi terutama
didasarkan pada beratnya gejala penyakit, lokasi infeksi, serta timbulnya komplikasi.
Pertimbangan pemilihan antibiotika yang lain termasuk efek samping, harga, serta
perbandingan dengan terapi lain. Tetapi, idealnya pemilihan antibiotika berdasarkan toleransi
dan terabsorbsi dengan baik, perolehan konsentrasi yang tinggi dalam urin, serta spectrum
yang spesifik terhadap mikroba pathogen.
Antibiotika yang digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih terbagi dua,
yaitu antibiotika oral dan parenteral.
I. Antibiotika Oral
a. Sulfonamida
Antibiotika ini digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali. Sulfonamida
umumnya diganti dengan antibiotika yang lebih aktif karena sifat resistensinya.
Keuntungan dari sulfonamide adalah obat ini harganya murah.
b. Trimetoprim-sulfametoksazol
Kombinasi dari obat ini memiliki efektivitas tinggi dalam melawan bakteri aerob,
kecuali Pseudomonas aeruginosa. Obat ini penting untuk mengobati infeksi dengan

c.

d.

e.

f.

g.

h.
i.

b.

komplikasi, juga efektif sebagai profilaksis pada infeksi berulang. Dosis obat ini
adalah 160 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam.
Penicillin
Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas,
termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin
1000 mg dan interval pemberiannya tiap 6 jam.
Amoxsicillin terabsorbsi lebih baik, tetapi memiliki sedikit efek samping.
Amoxsicillin dikombinasikan dengan clavulanat lebih disukai untuk mengatasi
masalah resistensi bakteri. Dosis amoxsicillin 500 mg dan interval
pemberiannya tiap 8 jam.
Cephaloporin
Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama dibanding dengan antibiotika lain
yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, selain itu obat ini juga lebih
mahal. Cephalosporin umumnya digunakan pada kasus resisten terhadap amoxsicillin
dan trimetoprim-sulfametoksazol.
Tetrasiklin
Antibiotika ini efektif untuk mengobati infeksi saluran kemih tahap awal. Sifat
resistensi tetap ada dan penggunannya perlu dipantau dengan tes sensitivitas.
Antibotika ini umumnya digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh
chlamydial.
Quinolon
Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan untuk mengobati
infeksi tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan Enterobacteriaceae lain,
tetapi tidak terhadap Pseudomonas aeruginosa. Ciprofloxacin ddan ofloxacin
diindikasikan untuk terapi sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50 mg dan
interval pemberiannya tiap 12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg dan interval
pemberiannya tiap 12 jam.
Nitrofurantoin
Antibiotika ini efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien infeksi
saluran kemih berulang. Keuntungan utamanya adalah hilangnya resistensi walaupun
dalam terapi jangka panjang.
Azithromycin
Berguna pada terapi dosis tunggal yang disebabkan oleh infeksi chlamydial.
Methanamin Hippurat dan Methanamin Mandalat
Antibiotika ini digunakan untuk terapi profilaksis dan supresif diantara tahap
infeksi.

II. Antibiotika Parenteral.


a. Amynoglycosida
Gentamicin dan Tobramicin mempunyai efektivitas yang sama, tetapi gentamicin
sedikit lebih mahal. Tobramicin mempunyai aktivitas lebih besar terhadap
pseudomonas memilki peranan penting dalam pengobatan onfeksi sistemik yang
serius. Amikasin umumnya digunakan untuk bakteri yang multiresisten. Dosis
gentamicin sebesar 3-5 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan
1 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 8 jam.
Penicillin
Penicillin memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati infeksi akibat
Pseudomonas aeruginosa dan enterococci. Penicillin sering digunakan pada pasien
yang ginjalnya tidak sepasang atau ketika penggunaan amynoglycosida harus
dihindari.

c.

d.

e.

Cephalosporin
Cephalosporin generasi kedua dan ketiga memiliki aktivitas melawan bakteri
gram negative, tetapi tidak efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Cephalosporin
digunakan untuk mengobati infeksi nosokomial dan uropsesis karena infeksi
pathogen.
Imipenem/silastatin
Obat ini memiliki spectrum yang sangat luas terhadap bakteri gram positif,
negative, dan bakteri anaerob. Obat ini aktif melawan infeksi yang disebabkan
enterococci dan Pseudomonas aeruginosa, tetapi banyak dihubungkan dengan infeksi
lanjutan kandida. Dosis obat ini sebesar 250-500 mg ddengan interval pemberian tiap
6-8 jam.
Aztreonam
Obat ini aktif melawan bakteri gram negative, termasuk Pseudomonas
aeruginosa. Umumnya digunakan pada infeksi nosokomial, ketika aminoglikosida
dihindari, serta pada pasien yang sensitive terhadap penicillin. Dosis aztreonam
sebesar 1000 mg dengan interval pemberian tiap 8-12 jam.
3.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih,
obstruksi saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisistem, dan gangguan fungsi ginjal.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang
adalah terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal
ginjal kronik. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang tidak diobati:
pielonefritis, bayi prematur, anemia, Pregnancy-induced hypertension
ISK pada kehamilan: retardasi mental, pertumbuhan bayi lambat, Cerebral palsy, fetal
death.
Sistitis emfisematosa : sering terjadi pada pasien DM.
Pielonefritis emfisematosa syok septik dan nefropati akut vasomotor.
3.9 Prognosis
Infeksi saluran kemih tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis lebih baik bila
dilakukan pengobatan pada fase akut yang adekuat dan disertai pengawasan terhadap
kemungkinan infeksi berulang. Prognosis jangka panjang pada sebagian besar penderita
dengan kelainan anatomis umumnya kurang memuaskan meskipun telah diberikan
pengobatan yang adekuat dan dilakukan koreksi bedah, hal ini terjadi terutama pada penderita
dengan nefropati refluks. Deteksi dini terhadap adanya kelainan anatomis, pengobatan yang
segera pada fase akut, kerjasama yang baik antara dokter, ahli bedah urologi dan orang tua
penderita sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya perburukan yang mengarah ke fase
terminal gagal ginjal kronis.
Pencegahan
Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kemih.
Bagi perempuan, membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH
balanced (seimbang) sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih.
Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh langsung
permukaan toilet dan lebih higienis. Jika terpaksa menggunakan toilet duduk, sebelum
menggunakannya sebaiknya bersihkan dahulu pinggiran atau dudukan toilet. Toilet-toilet
umum yang baik biasanya sudah menyediakan tisu dan cairan pembersih dudukan toilet.

Jangan membersihkan organ intim di toilet umum dari air yang ditampung di bak mandi
atau ember. Pakailah shower atau keran.
Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar tidak lembab
LI 4. Agama
Thaharah secara bahasa berarti bersih atau suci, sedangkan Thaharah menurut istilah adalah
cara atau perbuatan yang dilakukan seseorang dengan tujuan membersihkan diri, pakaian atau
tempat dari hadas dan najis. Bersuci merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana
dalam firman Allah swt. :

Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang mensucikan diri. (QS 2:222)
Macam-macam Thaharah :

Wudhu
Mandi
Tayammum
Istinja

Pengertian Hadas
Hadas menurut bahasa adalah tidak suci atau keadaan badan yang tidak suci. Sedangkan
Hadas menurut istilah adalah sesuatu yang kotor dan dapat dihilangkan dengan berthaharah
(bersuci). Hadas berhubungan dengan badan. Hadas dapat dilihat, berbau dan berasa. Hadas
terbagi menjadi dua, yaitu Hadas besar dan Hadas kecil.
Yang termasuk Hadas Kecil :

Buang Air Kecil (BAK).


Buang Air Besar (BAB).
Hilang akal karena sakit, mabuk, atau gila.
Tidur nyenyak, kecuali yang tidur dengan posisi duduk.
Bersentuhan dengan lawan jenis.
Memegang kemaluan sendiri.
Buang Angin (kentut).
Tidur dengan pantat terbuka.

Hal-hal yang diharamkan ketika dalam keadaan hadas kecil :

Mendirikan shalat.
Tawaf.
Menyentuh Al-Qur'an.

Yang termasuk Hadas Besar :

Keluarnya sperma disertai syahwat laki-laki atau perempuan, baik dalam tidur
ataupun terjaga.
Bertemunya dua kelamin.
Selesai menjalani masa haid dan nifas.
Meninggal dunia.

Hal-hal yang diharamkan ketika dalam keadaan hadas besar :

Mendirikan Shalat.
Tawaf.
Menyentuh Al-Qur'an dan membacanya.
I'tikaf.
Berpuasa.
Berjima'.

Pengertian Najis
Najis adalah sesuatu yang dianggap kotor. keluar dari tubuh manusia atau hewan air kencing,
kotoran manusia dan kotoran hewan. Najis berhubungan dengan Immateri (tidak dapat
dibuktikan).
Najis terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

Najis Berat (Mughollazhoh) yaitu Najis anjing dan babi dan anak dari keduanya.

Najis Ringan (Mukhaffafah) yaitu Najis air kencing anak laki-laki dibawah umur 2
tahun yang belum makan apa-apa kecuali ASI dari ibunya.

Najis Sedang (Mutawassithoh) yaitu Najis berupa kotoran, air kencing, air wadzi, air
madzi, darah, nanah, air yang terkena luka, muntah dari perut, dan lain-lain.