Anda di halaman 1dari 57

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI

LIMA VARIETAS KACANG TANAH


(Arachis hypogaea L.)

Oleh
INNE RATNAPURI
A34103038

PROGRAM STUDI AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI


LIMA VARIETAS KACANG TANAH
(Arachis hypogaea L.)

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh
Inne Ratnapuri
A34103038

PROGRAM STUDI AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
INNE RATNAPURI. Karakteristik Pertumbuhan dan Produksi Lima
Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). (Dibimbing oleh HENI
PURNAMAWATI).
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakteristik produksi dan
pertumbuhan dari lima varietas kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Kebun
Percobaan IPB Leuwikopo Darmaga. Lahan percobaan berjenis tanah Latosol.
Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari Bulan Februari hingga Mei 2007.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok
Lengkap Teracak (RKLT). Perlakuan yang dikenakan pada objek penelitian yaitu
5 varietas kacang tanah dengan 4 ulangan. Varietas yang digunakan yaitu Varietas
Gajah, Jepara, Panter, Garuda Biga, dan Biawak. Analisis data dilakukan dengan
Uji F dan apabila nyata maka pengujian dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%.
Varietas Gajah, Jepara, dan Biawak berbiji dua, sedangkan Varietas Panter
dan Garuda Biga termasuk kacang tanah yang berbiji tiga. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perbedaan varietas kacang tanah memberikan pengaruh yang
nyata terhadap produktivitas, bobot kering polong, jumlah polong isi, bobot 100
butir biji, bobot biji, rendemen, dan indeks biji tanaman kacang tanah.
Berdasarkan hasil penelitian, Varietas Gajah memiliki perbedaan yang nyata
dengan keempat varietas lain, terutama dengan Varietas Garuda Biga.
Produktivitas Varietas Gajah ini adalah yang paling tinggi diantara kelima varietas
yang diujikan, yaitu sebesar 4.07 ton/ha. Varietas Gajah memiliki tampilan tajuk
yang lebat, jumlah polong isi yang banyak, juga bobot 100 butir dan bobot biji
yang paling berat dibandingkan dengan keempat varietas lain.
Varietas Jepara dan Biawak sama-sama memiliki tampilan tajuk yang
lebat. Pertambahan bobot kering batang dan tajuk memiliki pola kecenderungan
yang hampir sama pada semua varietas yang digunakan, yakni meningkat pada
masa pembentukan-pengisian polong kemudian menurun hingga saat menjelang
panen (14 MST). Jumlah ginofor pada Varietas Biawak adalah yang paling
banyak pada saat pengamatan. Varietas Garuda Biga, dengan nilai NAR yang
tinggi, memiliki produktivitas yang dapat bersaing jika dibandingkan dengan
Varietas Jepara, Biawak, maupun Panter.

LEMBAR PENGESAHAN
Judul

: KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI


LIMA VARIETAS KACANG TANAH
(Arachis hypogaea L.)

Nama

: Inne Ratnapuri

NRP

: A34103038

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Heni Purnamawati, MSc.Agr.


NIP. 131 918 505

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr


NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 15 April 1985 sebagai anak
pertama dari keluarga Bapak Yosep Hernawan dan Ibu Isye Wahyuni. Penulis
memiliki seorang adik bernama Kemal Permadi.
Pendidikan penulis dimulai pada tahun 1990 di TK Teladan Nugraha I
Bogor. Pada tahun 1991, penulis melanjutkan pendidikannya di SD Negeri Polisi
5 Bogor. Setelah menamatkan sekolah dasar pada tahun 1997, penulis menuntut
ilmu di SMP Negeri 1 Bogor hingga tahun 2000. Berselang 3 tahun kemudian,
yaitu pada tahun 2003, penulis lulus dari SMU Negeri 1 Bogor.
Pada tahun yang sama, 2003, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor
(IPB) melalui jalur USMI pada Program Studi Agronomi, Departemen Budidaya
Pertanian, Fakultas Pertanian. Selama masa perkuliahan, penulis aktif menjadi
guru privat di beberapa lembaga bimbingan belajar di Bogor.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobilalamin segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah, rahmat, dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih
kepada:
1. Ir. Heni Purnamawati, MSc. Agr., selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah memberikan arahan, saran, dan dukungan kepada penulis selama
proses penyelesaian skripsi.
2. Dr. Ir. Maya Melati, MS, MSc., sebagai dosen penguji sekaligus
pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi.
3. Bapak Dwi Guntoro, SP, Msi, selaku penguji yang telah memberikan ilmu
dan wawasan baru bagi penulis.
4. Orang tua dan adik penulis, atas dukungan moril dan materiil.
5. Keluarga besar 01 penulis, atas semua pelajaran hidup yang berharga..
6. Novy, Fufa, Lidya, Anti, Yanti, Iynk, Uswah, Fitri, Chantee, Tika,
Rohmah, Devi, Wahyu, Tri, Syarif, Novan, Teguh, Darsono, Ipin, Agung,
Imet, Adi, dan seluruh rekan Agronomi 40 yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, semoga persaudaraan kita tetap terjalin dengan baik.
7. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun
tidak sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Bogor, Januari 2008

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
PENDAHULUAN............................................................................................
Latar Belakang......................................................................................
Tujuan...................................................................................................
Hipotesis...............................................................................................

1
1
3
3

TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 4
Botani dan Morfologi Kacang Tanah................................................... 4
A. Botani........................................................................................ 4
B. Morfologi.................................................................................. 5
Syarat Tumbuh Kacang Tanah............................................................. 7
Varietas Kacang Tanah......................................................................... 8
Fisiologi dan Pertumbuhan Kacang Tanah........................................... 9
Produktivitas Kacang Tanah................................................................. 10
BAHAN DAN METODE.................................................................................
Tempat dan Waktu................................................................................
Bahan dan Alat.....................................................................................
Metode Penelitian.................................................................................
Pelaksanaan Percobaan.........................................................................
Pengamatan...........................................................................................

12
12
12
12
13
14

HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................


Hasil......................................................................................................
Kondisi Umum................................................................................
Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam.....................................................
Karakter Vegetatif..........................................................................
Karakter Fisiologis..........................................................................
Karakter Reproduktif......................................................................
Komponen Hasil.............................................................................
Pembahasan..........................................................................................

16
16
16
18
18
20
21
24
28

KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................ 33


Kesimpulan........................................................................................... 33
Saran..................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 34
LAMPIRAN..................................................................................................... 36

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman
Teks

1.

Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Peubah-peubah Pengamatan


Panen................................................................................................... 18

2.

Laju Asimilasi Bersih Rata-rata Kacang Tanah.................................. 21

3.

Pertambahan Jumlah Ginofor Kacang Tanah...................................... 22

4.

Pertambahan Jumlah Polong Kacang Tanah....................................... 23

5.

Data Bobot Kering Polong per Tanaman (g)....................................... 24

6.

Bobot Basah dan Bobot Kering Polong............................................... 24

7.

Jumlah Polong Isi dan Polong Cipo Kacang Tanah (Panen)............... 25

8.

Bobot Kering Polong Tanaman (Panen).............................................. 25

9.

Persentase Jumlah Polong Isi dan Polong Cipo (Panen)..................... 26

10. Bobot Kering 100 Butir Biji dan Bobot Biji per Tanaman (g)............ 26
11. Rendemen, Indeks Biji, dan Indeks Panen (%)................................... 27

Lampiran
1. Deskripsi Beberapa Varietas Kacang Tanah........................................ 37
2. Keadaan Beberapa Unsur Iklim Wilayah Darmaga Bogor dari
Bulan Februari-Mei 2007..................................................................... 39
3. Analisis Tanah Sebelum Perlakuan...................................................... 39
4. Kriteria Penilaian Data Analisis Sifat Kimia Tanah............................. 40
5. Sidik Ragam Peubah-peubah Pengamatan........................................... 41

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman
Teks

1. Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.).................................................. 4


2. Daun Kacang Tanah............................................................................. 5
3. Bunga Kacang Tanah............................................................................ 6
4. Polong Kacang Tanah........................................................................... 6
5. Biji Kacang Tanah................................................................................ 7
6. Tanaman Kacang Tanah Umur 5 MST................................................ 16
7. Pertambahan Bobot Kering Batang Kacang Tanah.............................. 19
8. Pertambahan Bobot Kering Tajuk Kacang Tanah................................ 19
9. Nilai SLA Rata-rata Tiap Varietas Kacang Tanah............................... 20
10. ILD Kacang Tanah pada 4,6,8, dan 12 MST........................................ 21

Lampiran
1. Tanaman Kacang Tanah Umur 5 MST................................................. 44
2. Tanaman Kacang Tanah Umur 10 MST............................................... 44
3. Beberapa Contoh Penyakit pada Kacang Tanah................................... 44
4. Lima Varietas Kacang Tanah............................................................... 45
5. Denah Rancangan Percobaan............................................................... 46

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) awalnya didomestikasi di
wilayah timur pegunungan Andes di barat daya Brazil, Bolivia, Paraguay, atau
Argentina Utara, tempat yang diduga sebagai pusat asal tanaman ini (Rubatzky &
Yamaguchi, 1998). Kacang tanah mulai dibudidayakan di Indonesia pada sekitar
abad ke-17.
Kacang tanah memiliki peranan besar dalam mencukupi kebutuhan bahan
pangan jenis kacang-kacangan di Indonesia. Kacang tanah merupakan bahan
pangan yang sehat karena mengandung protein, niacin, magnesium, vitamin C,
mangan, krom, kolesterol yang rendah nilainya, asam lemak tidak jenuh hingga
80%, dan juga mengandung asam linoleat sebanyak 40-45% (Kasno, 2005).
Tanaman ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu primadona di antara
tanaman pangan lainnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, tanaman ini
banyak pula digunakan untuk pakan dan bahan baku industri.
Berdasarkan Kasno (2005) kebutuhan kacang tanah untuk konsumsi dalam
negeri pada tahun 2004 lalu adalah sebesar 0.18 juta ton. Konsumsi kacang tanah
sebagai sumber pangan sehat dalam pangan nasional terus meningkat, namun
sejak tahun 1979 kemampuan produksi di dalam negeri belum dapat memenuhi
kebutuhan. Pada periode tahun 19692003, produksi dan luas panen kacang tanah
meningkat sekitar 200%. Walaupun demikian, produksi komoditi kacang tanah
per hektarnya belum mencapai hasil yang maksimum. Jumlah produksi panen
yang normal dalam satuan luas, misalnya untuk lahan seluas satu hektar produksi
normal, berkisar antara 1.5 - 2.5 ton polong kering. Harsono et al. (2003)
menyatakan bahwa rata-rata hasil kacang tanah di Indonesia sendiri adalah
sebesar 1.1 ton/ha. Menurut data BPS (2005) produksi kacang tanah Indonesia
pada tahun 2004 adalah 837 000 ton biji kering, dengan luasan panen seluas 723
000 ha dan menghasilkan 11.58 kuintal/ha.
Produksi dalam negeri ternyata belum dapat mengakomodir besarnya
kebutuhan Indonesia terhadap kacang tanah, maka dari itu impor terhadap
tanaman palawija yang kaya akan protein nabati ini masih menjadi solusi utama.

Volume impor kacang tanah segar adalah 90 016 ton dan volume impor kacang
tanah olahan sebesar 69 763 ton (BPS, 2004). Untuk komoditi kacang tanah, Cina
memberikan kontribusi produksi terbesar di Asia, yaitu 58% dari total produksi
sebesar 21 juta ton. India memberikan kontribusi produksi 35%, Indonesia 5%,
dan Vietnam 2% (Kasno et al., 2002).
Salah satu cara untuk menekan volume impor adalah dengan peningkatan
produktivitas dalam budidaya kacang tanah. Banyak faktor dalam proses budidaya
kacang tanah yang dapat mempengaruhi produktivitasnya. Menurut Suprapto
(2004) kendala dalam peningkatan produksi kacang tanah ialah: 1) pengolahan
tanah yang kurang optimal sehingga drainasenya buruk dan strukturnya padat, 2)
pemeliharaan tanaman yang kurang optimal, 3) serangan hama dan penyakit
(bercak daun, karat, virus, dan layu bakteri), 4) penanaman varietas yang
berproduksi rendah, 5) mutu benih yang rendah, dan 6) kekeringan.
Kasno (2005) melaporkan bahwa berkaitan dengan jenis varietas yang
ditanam untuk meningkatkan produksi, telah dilepas sejumlah varietas unggul ke
pasaran. Varietas unggul yang berproduktivitas tinggi dan mempunyai sifat
ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik serta karakteristik yang sesuai
dengan permintaan pasar merupakan modal utama dalam upaya meningkatkan
produksi dan pendapatan petani. Karakteristik tiap varietas, baik unggul maupun
lokal, tentu saja memiliki ciri khas masing-masing. Lukitas (2006) menambahkan
bahwa untuk meningkatkan produktivitas dan menekan jumlah polong cipo yang
dihasilkan maka perlu diketahui perbedaan karakter vegetatif, fisiologi, daya hasil
dan keunggulan dari setiap varietas dalam proses pertumbuhan, pembentukan, dan
pengisian polong.
Tipe dan kecepatan pengisian polong pada varietas-varietas kacang tanah
diduga sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas. Tidak
sempurnanya pengisian polong pada varietas yang ditanam dapat menyebabkan
hasil polong pada saat panen tidak maksimal. Pengisian polong dimulai dari
pangkal ke ujung, dan berlangsung sampai bagian dalam polong telah terisi biji
(Trustinah, 1993). Pembentukan biji dimulai ketika polong sudah mencapai
ukuran maksimal (Maria, 2000).
Penelitian ini dimaksudkan sebagai penelitian pendahuluan untuk

mengamati hubungan kapasitas dan aktivitas source dan sink pada kacang tanah.
Untuk tujuan tersebut perlu diamati beberapa karakteristik pertumbuhan dan
komponen hasil dari berbagai varietas kacang tanah.
Tujuan
Tujuan

dari penelitian ini

yaitu

untuk mengamati

karakteristik

pertumbuhan dan produksi lima varietas kacang tanah yaitu varietas Gajah,
Jepara, Panter, Garuda Biga, dan Biawak.
Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu:
1. Terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan diantara varietas varietas kacang
tanah yang diamati (Gajah, Jepara, Panter, Garuda Biga, dan Biawak).
2. Terdapat varietas dengan produktivitas yang paling tinggi.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani dan Morfologi Kacang Tanah


A. Botani

Gambar 1. Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)


Menurut Pitojo (2005) klasifikasi tanaman kacang tanah secara taksonomi
adalah seperti di bawah ini :
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Rosales

Famili

: Papilionaceae

Genus

: Arachis

Spesies

: Arachis hypogaea

Subspesies

: fastigata, hypogaea

Menurut AAK (1989) pertumbuhan kacang tanah secara garis besar dapat
dibedakan menjadi dua macam tipe, yaitu tipe tegak (Bunch type, Erect type,
Fastigiate) dan tipe menjalar (Runner type, Prostrate type, Procumbent). Pada
umumnya percabangan tanaman kacang tanah tipe tegak sedikit banyak melurus
atau hanya agak miring ke atas. Batang utama tanaman kacang tanah tipe menjalar
lebih panjang daripada batang utama tipe tegak, biasanya panjang batang utama
antara 33-50 cm. Kacang tanah tipe tegak lebih disukai daripada tipe menjalar,
karena umurnya lebih genjah, yakni antara 100-120 hari, sedangkan umur
tanaman kacang tanah tipe menjalar kira-kira 150-180 hari. Disamping itu, kacang

tanah tipe tegak lebih mudah dipungut hasilnya daripada kacang tanah tipe
menjalar. Contoh gambar kacang tanah dapat dilihat pada Gambar 1.
B. Morfologi
Kacang tanah berdaun majemuk bersirip genap, terdiri atas empat anak
daun dengan tangkai daun agak panjang (Gambar 2). Menurut Suprapto (2004)
helaian anak daun ini bertugas mendapatkan cahaya matahari sebanyakbanyaknya.

Gambar 2. Daun Kacang Tanah


Pitojo (2005) melaporkan bahwa batang tanaman kacang tanah tidak
berkayu dan berbulu halus, ada yang tumbuh menjalar dan ada yang tegak. Tinggi
batang rata-rata sekitar 50 cm, namun ada yang mencapai 80 cm. Kacang tanah
berakar tunggang yang tumbuh lurus ke dalam tanah hingga kedalaman 40 cm.
Pada akar tunggang tersebut tumbuh akar cabang dan diikuti oleh akar serabut.
Akar kacang berfungsi sebagai penopang berdirinya tanaman serta alat penyerap
air dan zat-zat hara serta mineral dari dalam tanah
Bunga kacang tanah tersusun dalam bentuk bulir yang muncul di ketiak
daun, dan termasuk bunga sempurna yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat
dalam satu bunga (Gambar 3). Mahkota bunga kacang tanah berwarna kuning
terdiri dari 5 helai yang bentuknya berlainan satu dengan yang lain (Trustinah,
1993).

Gambar 3. Bunga Kacang Tanah


Berdasarkan hasil laporan AAK (1989) kacang tanah berbuah polong
(Gambar 4). Polongnya terbentuk setelah terjadi pembuahan, dimana bakal buah
tumbuh memanjang dan disebut ginofor. Setelah tumbuh memanjang, ginofor tadi
mengarah ke bawah dan terus masuk ke dalam tanah. Apabila polong telah
terbentuk maka proses pertumbuhan ginofor yang memanjang terhenti. Menurut
Suprapto (2004) ginofor yang terbentuk di cabang bagian atas tidak masuk ke
dalam tanah sehingga tidak akan membentuk polong.

Gambar 4. Polong Kacang Tanah


Biji kacang tanah terdapat di dalam polong. Contoh biji kacang tanah
dapat dilihat pada Gambar 5. Kulit luar (testa) bertekstur keras, berfungsi untuk
melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji berbentuk bulat agak lonjong atau
bulat dengan ujung agak datar karena berhimpitan dengan butir biji yang lain
selagi di dalam polong (Pitojo, 2005). Warna biji kacang pun bermacam-macam:
putih, merah kesumba, dan ungu. Perbedaan-perbedaan itu tergantung pada
varietas-varietasnya (AAK, 1989).

Gambar 5. Biji Kacang Tanah


Syarat Tumbuh Kacang Tanah
Penyebaran tanaman kacang tanah di seluruh dunia meliputi wilayah
berlintang 40oLU-40oLS yang diyakini sebagai wilayah tropik, subtropik, atau
suhu hangat. Wilayah ini memiliki tanah yang ringan, netral atau alkalin, dan
curah hujannya atau pengairan menyediakan paling sedikit 450 mm air per musim
tumbuh (Goldsworthy and Fisher, 1983). Secara spesifik, tanaman ini sangat
cocok ditanam pada jenis tanah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat.
Kemasaman (pH) tanah yang cocok untuk kacang tanah adalah 6.5 - 7.0.
Tanah yang baik sistem drainasenya akan menciptakan aerase yang lebih baik,
sehingga akar tanaman akan lebih mudah menyerap air, hara nitrogen, dan O2.
Drainase yang kurang baik akan berpengaruh buruk terhadap respirasi akar
tanaman, karena persediaan O2 dalam tanah rendah (Kasno et al., 1993).
Selain tanah, faktor iklim memiliki pengaruh besar terhadap pertanaman
kacang tanah. Faktor iklim terdiri atas suhu, cahaya, dan curah hujan. Secara
umum, tanaman ini tumbuh paling baik dalam kisaran suhu udara 25-35oC dan
tidak tahan terhadap embun dingin. Suhu tanah merupakan faktor penentu dalam
perkecambahan biji dan pertumbuhan awal tanaman. Suhu tanah yang ideal untuk
perkembangan ginofor adalah 30-34oC, sementara suhu optimal untuk
perkecambahan benih berkisar antara 20-30oC (Pitojo, 2005).
Pitojo (2005) menyatakan bahwa kacang tanah termasuk tanaman yang
memerlukan sinar matahari penuh. Adanya keterbatasan cahaya matahari akibat
adanya naungan atau terhalang oleh tanaman dan atau awan lebih dari 30% akan
menurunkan hasil kacang tanah, karena cahaya mempengaruhi fotosintesis dan

respirasi.
Menurut Suprapto (2004) curah hujan berpengaruh terhadap kelembaban
udara maupun tanah. Kelembaban tanah yang cukup pada awal pertumbuhan, saat
berbunga dan saat pembentukan polong sangat penting untuk mendapatkan
produksi yang tinggi. Curah hujan yang cukup pada saat tanam sangat dibutuhkan
agar kacang tanah dapat berkecambah dengan baik, dan apabila distribusi curah
hujan merata selama curah hujan optimal selama pertumbuhan sampai panen
adalah 300-500 mm.
Varietas Kacang Tanah
Menurut Kasno et al. (1993) varietas atau kultivar adalah sekelompok
tanaman yang mempunyai ciri khas yang seragam dan stabil serta mengandung
perbedaan yang jelas dari varietas yang lain. Varietas kacang tanah pada
umumnya berupa varietas murni yang berasal dari galur homosigot yang
homogen. Pemuliaan kacang tanah dimulai sejak tahun 1930-an oleh para pemulia
Belanda, setelah Indonesia merdeka diteruskan oleh pemulia Indonesia, dan
berhasil melepas Varietas Gajah, Kidang, Macan, dan Banteng pada tahun 1950.
Tahun 1983 berhasil dilepas varietas Pelanduk, Tapir, Tupai, Rusa, dan Anoa.
Seiring dengan perkembangan zaman, semakin bertambah pula varietas kacang
tanah yang beredar hingga saat ini.
Varietas kacang tanah yang dibudidayakan di Indonesia dapat dibagi
menjadi varietas introduksi (Panter, Turangga), varietas unggul nasional (Biawak,
Sima, Kancil, dan Gajah), dan varietas lokal (Jepara, Leuweungkolot, Garuda).
Setiap varietas kacang tanah memiliki karakteristik pertumbuhan dan produksi
yang berbeda. Trustinah (1993) menyatakan bahwa varietas-varietas kacang tanah
unggul yang dibudidayakan para petani biasanya bertipe tegak dan berumur
pendek (genjah). Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik
memiliki daya hasil tinggi, umur pendek (genjah) antara 85-90 hari, tahan
terhadap penyakit utama, dan toleran terhadap kekeringan atau tanah becek.
Deskripsi karakteristik Varietas Gajah, Jepara, Panter, dan Biawak dapat dilihat
pada Tabel Lampiran 1.

Fisiologi dan Pertumbuhan Kacang Tanah


Pertumbuhan tanaman dapat diekspresikan

melalui beberapa cara.

Manifestasi pertumbuhan yang paling jelas adalah dari pertambahan tinggi


tanaman, tetapi hal tersebut bukanlah yang paling penting. Peningkatan berat
kering tanaman dapat dikatakan sebagai aspek yang paling penting dalam
pertumbuhan tanaman teruntama untuk tanaman berjenis rerumputan. Sebagai
bagian dari total akumulasi berat kering tanaman, daun memiliki fungsi penting
dalam menerima cahaya dan menyerap karbondioksida dalam proses fotosintesis
(Brown, 1972).
Salah satu kriteria pengukuran pertumbuhan daun yakni leaf area index
atau disebut juga indeks luas daun. Indeks Luas Daun (ILD) adalah rasio dari luas
daun (hanya satu sisi daun) terhadap luas lahan yang terpakai. Ukuran
pertambahan luas daun menjadi penting karena menentukan ukuran pertambahan
dalam kapasitas fotosintesis tanaman (Brown, 1972).
Selain kriteria ILD yang telah disebutkan, terdapat analisis pertumbuhan
yang dapat dihitung melalui nett assimilation ratio (NAR). Menurut Brown
(1972) tingkat akumulasi bahan kering per unit luas daun dapat didefinisikan
sebagai NAR. Nilai NAR akan mencapai puncak tertingginya saat semua daun
terkena sinar matahari penuh yakni ketika tanaman masih kecil dan daunnya
sedikit sehingga tidak ada yang terhalangi (tertutupi). Leopold and Kriedemann
(1985) menyatakan bahwa pengiraan NAR memberikan kemampuan pada
tumbuhan untuk meningkatkan berat keringnya dari segi luas permukaan
asimilasi.
Menurut Sumarno dan Slamet (1993) tanaman kacang tanah memiliki
sifat-sifat fisiologis yang unik, yang tidak terdapat pada tanaman kacangkacangan yang lain. Sifat fisiologis tersebut merupakan ciri-ciri intrinsik kacang
tanah yang sering membantu usaha peningkatan produktivitasnya, baik melalui
usaha pemuliaan maupun usaha dari segi ekonomis. Penelitian perlu dilakukan
untuk mengubah sifat-sifat intrinsik yang membatasi produktivitas, atau untuk
menyediakan lingkungan optimal sesuai persyaratan tumbuh yang diinginkan.
Pertumbuhan tanaman terdiri dari fase vegetatif dan fase reproduktif. Fase

vegetatif dimulai sejak perkecambahan sampai tanaman berbunga, sedang fase


reproduktif dimulai sejak timbulnya bunga pertama sampai dengan polong masak,
yang meliputi pembungaan, pembentukan polong, pembentukan biji, dan
pemasakan biji. Fase vegetatif pada tanaman kacang tanah dimulai sejak
perkecambahan hingga awal pembungaan, yang berkisar antara 26 hingga 31 hari
setelah tanam, dan selebihnya adalah fase reproduktif. Penandaan fase reproduktif
didasarkan atas adanya bunga, buah dan biji (Trustinah, 1993).
Salah satu stadia dari fase reproduktif berdasarkan Trustinah (1993) ialah
pembentukan biji (R5). Pembentukan biji (stadia R5) dimulai setelah polong
mencapai ukuran maksimum, yaitu antara hari ke-52 hingga hari ke 57 setelah
tanam, atau sekitar tiga minggu setelah ginofor menembus tanah. Menurut
Trustinah (1993) pengisian polong dimulai dari pangkal ke ujung, dan
berlangsung sampai bagian dalam polong telah terisi biji atau pada stadia R6.
Produktivitas Kacang Tanah
Adisarwanto et al. (1993) melaporkan bahwa produktivitas kacang tanah
di Indonesia belum meningkat sesuai yang diharapkan dan sentra produksi masih
terbatas di beberapa daerah kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat,
dan Bali. Rata-rata hasil per hektar di tingkat petani kurang dari 1.5 ton/ha,
walaupun hasil dari petak penelitian mampu mencapai 2.5-3 ton/ha. Produktivitas
kacang tanah yang tinggi akan dapat dicapai apabila varietas yang ditanam
mempunyai potensi hasil (potensi genetis) yang tinggi, dan didukung oleh
penerapan teknologi produksi tepat.
Menurut Soedarjo et al. (2000) penentuan saat panen dan metode panen
dapat berpengaruh terhadap perolehan hasil. Peranan perbaikan cara panen
maupun penanganan pasca panen terhadap peningkatan produktivitas kacang
tanah adalah melalui penekanan kehilangan hasil saat panen dan perbaikan mutu
polong/biji. Polong tertinggal saat panen dianggap sebagai kehilangan hasil
polong saat panen dan tingkat kehilangan hasil polong kacang tanah pada saat
panen mencapai sekitar 8%.
Berdasarkan Adisarwanto (2001) saat panen yang tidak tepat dengan cara
yang tradisional merupakan salah satu penyebab utama banyaknya hasil polong

kacang tanah yang hilang dan diperkirakan dapat mencapai 10-15%. Untuk itu
apabila dilakukan dengan cara dan saat yang tepat serta ditunjang oleh alat mesin
pertanian (alsintan) maka kehilangan hasil tersebut dapat ditekan minimal menjadi
sekitar 5%. Penggunaan alat perontok polong kacang tanah merupakan salah satu
upaya untuk menekan kehilangan hasil.

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu
Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo Darmaga,
pada bulan Februari 2007 sampai dengan Mei 2007. Lahan percobaan berjenis
tanah Latosol, dan terletak pada ketinggian 250 m dpl.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih kacang tanah varietas Gajah, Jepara,
Panter, Garuda Biga, dan Biawak. Selain itu, digunakan pula dolomit dengan
dosis 600 g/petak. Pupuk yang digunakan adalah pupuk dasar dengan dosis
masing-masing 45 kg Urea/ha, 100 kg SP-36/ha, dan 50 kg KCl/ha. Pestisida yang
diberikan yaitu Decis dengan konsentrasi 4 cc/l pada saat tanaman berumur 5
minggu setelah tanam (MST) dan 10 MST. Furadan diberikan pada saat
penanaman. Alat-alat yang dibutuhkan adalah cangkul, kored, tugal, ember,
meteran, timbangan, oven, dan alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan
Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Perlakuan berupa 5 varietas kacang tanah
(Gajah, Jepara, Panter, Garuda Biga, Biawak) dengan ulangan sebanyak 4 kali,
sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Model linier rancangannya adalah sebagai
berikut :
Yij

= + i + j + ij

Keterangan :
Yij

=Nilai pengamatan dari perlakuan varietas kacang tanah ke-i dalam


ulangan ke-j

=Rataan umum

=Pengaruh perlakuan ke-i = 1,2,3,4,5

=Pengaruh ulangan ke-j = 1,2,3,4

ij

=Pengaruh galat percobaan dari perlakuan varietas ke-i dan ulangan ke-j

Data dianalisis menggunakan uji F, kemudian dilakukan uji lanjut DMRT pada
taraf 5% apabila menunjukkan hasil yang nyata.
Pelaksanaan Percobaan
1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilaksanakan dua minggu sebelum waktu penanaman.
Lahan yang telah tersedia dibersihkan dan diolah untuk kemudian dijadikan
petakan-petakan sesuai plot yang telah ditentukan. Terdapat 20 petakan percobaan
dengan ukuran masing-masing petakan adalah 3m x 4m. Satu hari sebelum
penanaman diberikan dolomit dengan dosis 600 g/petak untuk merangsang
pembentukan polong kacang tanah.
2. Penanaman
Pertama-tama dalam tiap petakan dibuat lubang tanam sedalam 3 cm,
dengan jarak tanam antar lubang yakni 50cm x 20cm. Setelah itu, biji kacang
tanah yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam lubang tanam yang telah dibuat,
sebanyak satu butir tiap lubangnya. Sebelum lubang tanam ditutup, disertakan
pula Furadan dalam tiap lubang dengan dosis 15 kg/ha.
3. Pemupukan
Proses pemupukan dilakukan bertepatan dengan saat tanam dengan cara
ditabur pada larikan yang telah dibuat alurnya, baru setelah itu ditutup kembali.
Dosis pupuk yang digunakan adalah 45 kg Urea/ha, 100 kg SP-36/ha, dan 50 kg
KCl/ha.
4. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan antara lain meliputi penyiraman, pembumbunan,
penyiangan gulma, dan penyemprotan hama penyakit. Penyiraman dilakukan
secara intensif sebelum 6 MST (Minggu Setelah Tanam) terutama apabila hujan
tidak turun. Pembumbunan dilakukan dua kali yakni saat umur tanaman
menjelang 4 MST dan pada 10 MST. Gulma disiangi sebanyak dua kali selama
masa tanam, yaitu ketika umur tanaman 3 MST dan 5 MST. Penyiangan gulma

dilakukan dengan menggunakan kored, selain juga dicabut dengan tangan.


Penyemprotan dilakukan sebanyak dua kali pada 5 MST dan 10 MST dengan
menggunakan bahan kimia Decis berkonsentrasi 4cc/l. Panen dilaksanakan pada
14 MST.
Pengamatan
Secara garis besar, pengamatan percobaan terbagi dua, yakni pengamatan
tiap minggu dan panen. Untuk pengamatan tiap minggu, pengamatan pada sampel
tanaman kacang tanah dilakukan melalui destruksi terlebih dahulu setiap minggu,
dimulai dari 3 MST hingga 13 MST. Sampel yang diamati hanya berasal dari satu
ulangan saja, yakni ulangan 2, dengan jumlah 2 tanaman sampel tiap satuan
percobaan untuk tiap kali destruksi.
Destruksi dilakukan secara berurutan selain tanaman pinggir. Setelah itu
dari tiap tanaman sampel yang telah di-destruksi dipisahkan antara akar dan tajuk.
Daun dilepaskan dari bagian tajuknya untuk kemudian diambil contohnya dan
diukur dengan metode gravimetri. Bagian akar, batang, dan daun yang telah
terpisah kemudian dikeringkan selama dua hari dengan dimasukkan ke dalam
oven bersuhu 70oC. Setelah dua hari barulah dilakukan pengukuran terhadap:
1. Bobot kering (BK)
Meliputi bobot kering daun, bobot kering brangkasan, dan bobot kering
polong
2. Jumlah ginofor/tanaman tiap minggu.
Penghitungan jumlah ginofor dimulai ketika ginofor telah terbentuk yakni
pada umur 6 MST.
3. Jumlah polong/tanaman tiap minggu
Penghitungan jumlah polong dimulai pula pada 6 MST ketika polong telah
terbentuk
4. Area Daun Spesifik (Specific Leaf Area/SLA)
SLA = Luas daun/tanaman (cm2)
Bobot kering daun total/tanaman (g)
5. Indeks Luas Daun (ILD)
ILD = Luas daun/tanaman (m2 )
Luas lahan ternaungi (m2)

6. Rasio Asimilasi Bersih (Nett Assimilation Ratio/NAR)


NAR =(1/LA) x (dDM/dt)
Keterangan:
LA

= Luas daun/tanaman (m2)

dDM = Perubahan bobot kering daun (gram)


dt

= Perubahan waktu (hari)

Pengamatan saat panen dilakukan pada 10 tanaman sampel di ubinan


seluas 1 m2. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan komponen
produksi sebagai berikut:
1. Bobot basah dan bobot kering polong
2. Jumlah polong total/ tanaman (dari sampel)
Polong total = polong isi + polong cipo
3. Jumlah polong isi/tanaman dan polong cipo/tanaman (dari sampel)
4. Bobot kering polong total/tanaman (dari sampel)
5. Bobot kering polong isi/tanaman dan polong cipo/ tanaman (dari sampel)
6. Persentase polong isi/tanaman dan polong cipo/ tanaman (dari sampel)
7. Bobot (kering) 100 butir biji
Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan menimbang 100 butir biji
kering yang diambil dari masing-masing perlakuan.
8. Bobot (kering) biji/tanaman
9. Rendemen:
Bobot kering biji/tanaman
Bobot kering polong total/tanaman

x 100%

10. Indeks biji:


BK biji/tanaman
x 100%
BK brangkasan/tan + BK polong/tanaman
11. Indeks panen:
BK polong total/tanaman
BK brangkasan/tan + BK polong/tan

x 100%

12. Produktivitas
Produktivitas kacang tanah ini diperoleh dari hasil bobot kering polong
tiap sepuluh tanaman sampel.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Kondisi Umum
Penelitian berlangsung dari bulan Februari hingga Mei 2007. Curah hujan
rata-rata pada bulan-bulan tersebut cukup tinggi, yakni sebesar 389.5 mm per
bulan dengan jumlah hari hujan rata-rata 22 hari per bulan. Mengacu pada data
iklim dari BMG Unit Stasiun Klimatogi Darmaga, Bogor, suhu minimum rata-rata
per bulan di lokasi percobaan adalah 22.6oC, sedangkan suhu maksimum rata-rata
per bulannya dapat mencapai 30.9oC (Tabel Lampiran 2).
Sesuai dengan analisis tanah yang dilakukan di Laboratorium Departemen
Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, dapat diketahui bahwa lahan percobaan
memiliki kemasaman tanah (pH) sebesar 6.80 (jenis tanah netral) dan bertekstur
liat, dengan kandungan C-organik sebesar 1.65% (Tabel Lampiran 3). Kriteria
penilaian dari sifat kimia tanah yang dianalisis, untuk lebih lengkapnya dapat
dilihat pada Tabel Lampiran 4.

Gambar 6. Tanaman Kacang Tanah Umur 5 MST


Keadaan pertanaman di Kebun Percobaan Leuwikopo ini sangat baik pada
masa awal pertumbuhannya. Penyulaman dilakukan pada umur 1 MST (Minggu
Setelah Tanam) atau 7 HST (Hari Setelah Tanam). Daya tumbuh tanaman pada
tiap ulangan berkisar antara 80-90% pada umur 3 MST hingga 4 MST. Pada saat

pembentukan polong dan biji (6 MST), kondisi tanaman mulai mengalami


penurunan, ditandai dengan banyaknya tanaman yang terkena hama maupun
penyakit. Tercatat bahwa penyakit yang mendominasi lahan pertanaman antara
lain adalah bercak daun, busuk leher akar, mozaik kuning yang disebabkan BYMV
atau Bean Yellow Mozaic Virus, sapu setan (witches broom) yang disebabkan
oleh MLO atau Mycoplasma Like Organism, penyakit belang (disebabkan PMoV
atau Peanut Mottle Virus), dan penyakit bilur yang disebabkan oleh PStV atau
Peanut Stripe Virus. Menurut Rais (1997) PStV

hingga saat ini belum

tertanggulangi dan kerugian akibat serangan penyakit bisa mencapai 60-80%.


Hama yang menyerang lahan pertanaman antara lain adalah kutu daun
(Aphis sp.). Hama jenis ini mengisap cairan sel sehingga pertumbuhan tanaman
menjadi kerdil dan permukaan daun menjadi kuning dan mengkerut.
Penyiraman dilakukan secara intensif sebelum 6 MST (Minggu Setelah
Tanam) terutama apabila hujan tidak turun. Pembumbunan dilakukan dua kali
yakni saat umur tanaman menjelang 4 MST dan pada 10 MST. Gulma disiangi
sebanyak dua kali selama masa tanam, yaitu ketika umur tanaman 3 MST dan 5
MST. Penyiangan gulma dilakukan dengan menggunakan kored, selain juga
dicabut dengan tangan, karena pada umur 5 MST sudah banyak rumput yang
tumbuh, terutama pada ulangan 4. Gulma yang banyak tumbuh adalah jenis gulma
rumput dan berdaun lebar, diantaranya yaitu putri malu (Mimosa pudica).
Penyemprotan dilakukan sebanyak dua kali aplikasi (5 MST dan 10 MST) untuk
meminimalisir tingkat kerusakan akibat hama. Penyemprotan

menggunakan

bahan kimia Decis dengan konsentrasi 4cc/l pada tiap aplikasi. Panen dilakukan
pada saat tanaman berumur 98 hari (14 MST).
Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam
Rekapitulasi hasil Uji F menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan varietas
kacang tanah memberikan hasil yang sangat nyata pada peubah bobot 100 butir
biji (g), bobot biji (g/tan), rendemen (%), dan indeks biji(%). Hasil uji F pada
peubah jumlah polong isi/tanaman, bobot basah polong ubinan (g/tan, ton/ha),
dan bobot kering polong sampel total (g/tan) menunjukkan pengaruh yang nyata
(Tabel 1).

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Peubah-peubah Pengamatan


Saat Panen
Peubah
Bobot Basah Polong Ubinan
Bobot Basah Polong per Hektar
Bobot Kering Tajuk saat Panen
Bobot Kering Polong
Bobot Kering Polong Isi

Varietas
*
*
tn
*
tn

Bobot Kering Polong Cipo

tn

Jumlah Polong Isi

Jumlah Polong Cipo

tn

Bobot Kering 100 Butir Biji


Bobot Biji
Indeks Panen
Rendemen
Indeks Biji
Persentase Jumlah Polong Isi

**
**
tn
**
**
tn

Persentase Jumlah Polong Cipo

tn

KK(%)
13.79
13.79
24.10
14.34
16.97
100.01
(23.94)

15.23
57.86
(22.88)

4.67
7.68
5.66
8.65
5.98
17.01
72.61
(30.85)

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01
( ) = data setelah ditransformasi dengan x

Karakter Vegetatif
a. Bobot Kering Tajuk (g)
Bobot kering tajuk adalah bobot kering batang ditambahkan dengan bobot
kering daun yang diukur mulai 3 MST hingga 13 MST. Varietas yang memiliki
bobot kering tajuk yang paling besar adalah Varietas Jepara, yaitu sebesar 193.92
g. Varietas yang bobot kering tajuk totalnya paling kecil, yaitu 116.77 g, adalah
Varietas Garuda Biga. Perkembangan bobot kering batang dan tajuk dapat dilihat
pada Gambar 7 dan Gambar 8.

Bobot Kering (g)

30
25

Gajah

20

Jepara

15

Panter
Biga

10

Biawak

Poly. (Jepara)

Poly. (Gajah)

-5

9 10 11 12 13

Poly. (Biga)
Poly. (Panter)

MST

Poly. (Biawak)

Gambar 7. Pertambahan Bobot Kering Batang Kacang Tanah


Berdasarkan data yang didapat, bobot kering tajuk tiap minggunya tidak
selalu bertambah. Khususnya pada jenis kacang berbiji besar (Gajah, Jepara,
Biawak) bobot kering tajuk relatif meningkat hingga umur 8-9 MST tetapi
kemudian berkurang. Varietas Panter memiliki bobot kering tajuk yang lebih
besar dibandingkan dengan Varietas Garuda Biga. Bobot kering tajuk untuk
Varietas Garuda Biga masih dapat dikatakan mengalami peningkatan hingga umur
11 MST, tetapi bobot kering tiap minggu nya adalah yang paling kecil apabila
dibandingkan dengan keempat varietas lain pada minggu yang sama.

Bobot Kering (g)

50
45

Gajah

40

Jepara

35

Panter
Biga

30

Biawak

25

Poly. (Gajah)

20

Poly. (Jepara)

15

Poly. (Biawak)

10

Poly. (Biga)

Poly. (Panter)

0
3

10 11 12 13

MST

Gambar 8. Pertambahan Bobot Kering Tajuk Kacang Tanah

b. Specific Leaf Area (cm2/g)


Specific Leaf Area, atau lebih sering disingkat SLA, menunjukkan
perbandingan antara luas daun per tanaman (cm2) dengan bobot kering daun per
tanaman (g). Berdasarkan hasil pengamatan, SLA tiap minggu pada tiap varietas
tidak turun ataupun naik secara tajam. Rata-rata SLA tiap varietas pun tidak jauh
berbeda, karena masih sama-sama berada di kisaran angka 200 cm2/g. Nilai ratarata untuk SLA paling tinggi dicapai oleh Varietas Panter yaitu sebesar 249.06
cm2/g. Varietas Garuda Biga memiliki SLA yang paling kecil, yaitu sebesar

SLA (cm 2 /g)

213.84 cm2/g (Gambar 9).

260
250
240
230
220
210
200
190

246,453

249,058

241,162

235,289
213,836

Gajah

Jepara

Panter

Biga

Biaw ak

Varietas

Gambar 9. Nilai SLA Rata-rata Tiap Varietas Kacang Tanah


Karakter Fisiologis
a. Indeks Luas Daun (ILD)
Daun

memiliki

peranan

penting

sebagai

tempat

berlangsungnya

fotosintesis dalam tubuh tanaman. Tanaman yang menyalurkan sebagian besar


hasil fotosintesisnya pada daun dapat diartikan mendorong berkembangnya
tanaman itu sendiri secara lebih cepat. Indeks luas daun, sehubungan dengan hal
tersebut, menggambarkan nilai luasan daun tertentu yang efektif digunakan untuk
fotosintesis. ILD merupakan perbandingan antara satu sisi luas daun dengan luas
lahan yang ternaungi dibawahnya.
Nilai ILD kacang tanah pada percobaan ini mengalami kenaikan hingga
mencapai umur maksimal pada umur 10 atau 11 MST, kemudian menurun pada
masa-masa menjelang panen. Nilai ILD rata-rata antar varietas tidak terlalu jauh
berbeda. Varietas Gajah memiliki ILD rata-rata yang paling tinggi yaitu sebesar
1.71, disusul oleh Panter (1.63), Jepara (1.52), Biawak (1.46), dan terakhir adalah

ILD

Garuda Biga (1.03).

3,5
3,0
2,5
2,0
1,5
1,0
0,5
0,0
4

10

12

MST

Gajah
Jepara
Panter
Biga
Biawak
Poly. (Jepara)
Poly. (Biga)
Poly. (Panter)
Poly. (Gajah)
Poly. (Biawak)

Gambar 10. ILD Kacang Tanah pada 4,6,8, dan 12 MST


b. Nett Assimilation Ratio (NAR)
NAR atau yang lebih dikenal dengan istilah Laju Asimilasi Bersih yakni
ukuran rata-rata efisiensi daun dalam hal fotosintesis pada tanaman. NAR
mencapai nilainya yang maksimal bila daun tidak ternaungi dan mendapat sinar
matahari penuh. Nilai NAR yang cenderung tinggi adalah saat umur tanaman
masih muda, berkaitan dengan masih kecilnya tanaman yang tumbuh, sehingga
tidak ada yang menghalangi masuknya sinar matahari kedalam daun. Nilai laju
asimilasi bersih rata-rata dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Laju Asimilasi Bersih Rata-rata Kacang Tanah
Perlakuan
NAR
------------------(g/m2/hari)----------------Gajah
2.49
Jepara
2.83
Panter
1.88
Garuda Biga
3.27
Biawak
2.48
Karakter Reproduktif
a. Jumlah Ginofor
Ginofor kacang tanah sudah terbentuk ketika umur tanaman 6 MST.
Setiap varietas memiliki karakter masing-masing dalam pembentukan ginofor.

Varietas Gajah dan Jepara pertambahan jumlah ginofornya tidak terlalu drastis
pada tiap minggu pengamatan. Ginofor yang terbentuk pada awal minggu
pengamatan bertambah secara perlahan-lahan dan mencapai nilai paling tinggi
pada umur 8 MST. Setelah umur 8 MST, Varietas Gajah dan Jepara mengalami
penurunan jumlah ginofor hingga masa panen. Pertambahan jumlah ginofor
Varietas Panter pada tiap minggu pengamatan hanya sedikit, tetapi kontinu hingga
mencapai nilai tertinggi di 11 MST dan barulah mengalami penurunan setelah itu.
Lain hal nya dengan Varietas Biawak, varietas ini pada umur 9MST memiliki
jumlah ginofor yang paling banyak dan mulai mengalami penurunan jumlah pada
minggu berikutnya (10 MST). Pertambahan jumlah ginofor pada varietas ini
adalah sebanyak 19 buah ginofor dari 8 MST ke 9 MST. (Tabel 3). Varietas
Garuda Biga, jumlah ginofor tertinggi nya diperoleh pada umur 11 MST, yakni
sebanyak 17 buah ginofor. Jumlah ginofor yang dihasilkan pada tiap minggu
pengamatan tidak banyak, sehingga ketika diakumulasikan jumlah total ginofor
yang dihasilkannya hingga umur 13 MST adalah yang paling sedikit (Tabel 3).
Jumlah rata-rata ginofor yang paling tinggi terdapat pada varietas Biawak,
yaitu sebanyak 11.7 ginofor. Keempat varietas lainnya (Gajah, Jepara, Panter, dan
Garuda Biga) memiliki jumlah ginofor rata-rata yang berada dibawah angka 10.
Varietas Garuda Biga adalah varietas yang jumlah ginofor rata-ratanya paling
kecil (Tabel 3).
Tabel 3. Pertambahan Jumlah Ginofor Kacang Tanah
Perlakuan

MST

Jumlah

Rata-rata

10

11

12

13

Gajah

14

14

63

7.9

Jepara

19

61

7.7

Panter

10

10

11

22

70

Garuda Biga

10

17

43

5.3

Biawak

28

12

15

10

94

11.7

8.8

b. Jumlah Polong
Polong sudah terbentuk pada umur 6 MST. Jumlah polong meningkat
seiring bertambahnya umur tanaman. Tiap varietas berbeda dalam jumlah polong
yang dihasilkan. Gajah, Jepara, dan Biawak sebagai varietas kacang tanah berbiji

besar memiliki total jumlah polong yang lebih banyak dibandingkan dengan yang
berbiji kecil (Panter, Garuda Biga). Nilai rata-rata tertinggi dari jumlah polong per
tanaman diperoleh dari Varietas Gajah dan Jepara yakni sebanyak 31 polong per
tanaman, sedangkan yang terendah adalah dari varietas Garuda Biga sebanyak 22
polong per tanaman.
Jumlah polong per tanaman kacang tanah yang berbiji dua (Gajah, Jepara,
dan Biawak) lebih banyak apabila dibandingkan dengan Varietas Panter dan
Garuda biga yang merupakan jenis kacang tanah berbiji tiga (Tabel 4).
Tabel 4. Pertambahan Jumlah Polong Kacang Tanah
Perlakuan

MST
6

10

11

12

13

Jumlah

Gajah

14

23

23

28

28

47

37

44

244

Ratarata
31

Jepara

12

27

32

28

40

37

41

31

248

31

Panter

26

23

32

19

38

35

31

211

Garuda Biga

13

28

30

26

29

24

19

174

22

Biawak

24

24

21

26

39

49

32

224

28

26

c. Bobot Kering Polong (g)


Bobot kering polong pada kacang tanah mulai dihitung pada 6 MST.
Hampir seluruh varietas mengalami kenaikan bobot kering polong setiap
minggunya, kecuali pada beberapa MST saja dimana penurunannya tidak begitu
tajam. Setelah 13 MST, bobot kering tiap varietas diakumulasi untuk kemudian
dihitung rata-rata bobot kering per tanaman tiap minggu. Nilai rata-rata tertinggi
untuk bobot kering polong per tanaman yakni 11.49 g (Varietas Gajah), dan nilai
terendahnya adalah 8.79 g (Varietas Garuda Biga) (Tabel 5). Varietas Gajah
memiliki total bobot kering yang paling besar, sedangkan varietas yang bobot
keringnya paling rendah setelah ditotal tiap minggunya adalah Varietas Garuda
Biga.

Tabel 5. Data Bobot Kering Polong/tanaman (g)

Perlakuan

Ratarata

MST
6

10

11

12

13

Gajah

1.17

1.79

4.75

6.15

9.19

21.32

23.25

24.36

11.49

Jepara

0.33

3.05

7.08

7.07

13.97

10.46

18.63

18.59

9.89

Panter
Garuda
Biga
Biawak

0.48

2.75

4.99

10.17

7.53

12.14

15.64

22.78

0.02

0.72

6.95

10.30

10.47

16.10

13.09

12.70

8.79

0.75

2.95

5.19

7.52

10.53

18.85

26.68

15.72

11.02

9.56

Komponen Hasil
a. Bobot Basah dan Bobot Kering Polong (g)
Bobot basah polong per ubinan yaitu bobot basah polong kacang tanah
dalam luasan 1 m2. Bobot kering didapat setelah polong dari tanaman ubinan
dikeringkan di oven dan dihitung bobot per tanamannya.

Berdasarkan data,

varietas memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah bobot basah dan bobot
kering polong ubinan. Varietas Gajah memiliki rataan yang paling tinggi dan
berbeda nyata dibandingkan dengan keempat varietas lainnya (Tabel 6).
Tabel 6. Bobot Basah dan Bobot Kering Polong (g)
Perlakuan
Gajah
Jepara
Panter
Garuda Biga
Biawak

BB Polong
------g/tan-----407.67a
278.51b
310.27b
272.17b
261.35b

----ton/ha--4.07a
2.78b
3.10b
2.72b
2.61b

BK Polong
---------g/tan-------26.19 a
17.92 b
19.38 b
18.16 b
17.88 b

Keterangan : Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf
yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

b. Jumlah dan Bobot Kering Polong Isi dan Polong Cipo (g)
Polong yang dihitung jumlahnya dibagi menjadi dua jenis, yakni polong
isi dan polong cipo. Perlakuan varietas terbukti berpengaruh nyata terhadap
jumlah polong isi tanaman kacang tanah, sedangkan untuk jumlah polong cipo
perlakuan varietas tidak memberikan pengaruh yang nyata. Sesuai dengan analisis
data, Varietas Gajah berbeda nyata dengan keempat varietas lain untuk peubah
jumlah polong isi (Tabel 7).

Tabel 7. Jumlah Polong Isi dan Polong Cipo/Tanaman


Perlakuan
Jumlah
Jumlah
Polong Isi
Polong Cipo
Gajah
19.83 a
4.20
Jepara
15.00 b
2.60
Panter
11.23 b
5.66
Garuda Biga
13.16 b
3.53
Biawak
14.55 b
3.70
Keterangan : Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

Tabel 8 menunjukkan bahwa perlakuan varietas tidak berpengaruh nyata


pada bobot kering polong isi maupun bobot kering polong cipo. Varietas Gajah
memiliki nilai tertinggi untuk bobot kering polong isi maupun bobot kering
polong cipo (25.13 g dan 1.06 g).
Tabel 8. Bobot Kering Polong /Tanaman (g)
Perlakuan
Gajah
Jepara
Panter
Garuda Biga
Biawak

Bobot Kering
Polong Isi

Bobot Kering
Polong Cipo

--------(g)--------25.13
17.71
17.88
17.41
17.46

----------(g)----------1.06
0.21
0.15
0.66
0.42

Keterangan: Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

c. Persentase Jumlah Polong Isi dan Polong Cipo (%)


Hasil Uji F menunjukkan bahwa varietas tidak memberikan pengaruh yang
nyata terhadap peubah persentase jumlah polong isi dan persentase polong cipo.
Persentase jumlah polong isi rata-rata Varietas Jepara adalah yang paling tinggi,
yaitu sebesar 85.39%, sedangkan Varietas Panter memiliki persentase jumlah
polong isi paling kecil yaitu sebesar 77.57%. Varietas Panter berada di urutan
tertinggi pada peubah persentase jumlah polong cipo, rata-rata persentase polong
cipo nya sebesar 22.43%. Sebaliknya, Varietas Jepara adalah varietas yang
persentase jumlah polong cipo rata-ratanya paling rendah (17.26%).

Tabel 9. Persentase Jumlah Polong Isi dan Polong Cipo


Perlakuan

Gajah
Jepara
Panter
Garuda Biga
Biawak

Persentase
Polong Isi
--------------(%)----------82.74
85.39
77.57
79.17
79.80

Persentase
Polong Cipo
--------------(%)-----------17.26
14.61
22.43
20.83
20.20

Keterangan : Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

d. Bobot Kering 100 Butir Biji dan Bobot Biji (g)


Tabel 10 memperlihatkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh sangat
nyata terhadap bobot 100 butir biji kering kacang tanah. Rata-rata bobot kering
100 butir biji yang paling tinggi dicapai oleh varietas Gajah, yaitu sebesar 50.67 g.
Varietas yang paling rendah rata-rata bobot 100 butir nya yaitu Varietas Panter
(37.73 g).
Sama halnya untuk peubah bobot biji, perlakuan varietas menghasilkan
pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot biji kacang tanah. Rata-rata bobot biji
kacang tanah yang paling tinggi hasilnya adalah Varietas Gajah, yaitu seberat
10.461 g. Nilai ini tidak berbeda nyata dengan Varietas Biawak yang memiliki
bobot kering biji/tanaman sebesar 9.59 g (Tabel 10). Varietas Panter dan Garuda
Biga, rata-rata bobot biji per tanamannya adalah yang paling rendah yaitu seberat
7.39 g.
Tabel 10. Bobot Kering 100 Butir Biji dan Bobot Biji (g)
Perlakuan
Gajah
Jepara
Panter
Garuda Biga
Biawak

Bobot 100 Butir Biji


------------(g)-----------50.67 a
44.72 b
37.73 c
39.16 c
46.60 b

Bobot Biji
----------------(g)------------10.46 a
9.11 b
7.39 c
7.72 c
9.59 ab

Keterangan : Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

e. Rendemen, Indeks Biji, dan Indeks Panen (%)


Berdasarkan hasil analisis data, didapat bahwa perlakuan varietas
berpengaruh sangat nyata pada indeks biji dan rendemen kacang tanah yang
diamati. Indeks biji dan rendemen tertinggi dihasilkan oleh Varietas Biawak yang
tidak berbeda nyata dengan Varietas Jepara (Tabel 11). Jenis kacang tanah berbiji
besar lainnya yaitu Varietas Jepara dan Gajah menempati posisi kedua dan
keempat bila dilihat dari persentase rendemen maupun indeks biji yang tertinggi.
Perlakuan varietas tidak berpengaruh nyata pada indeks panen tanaman kacang
tanah yang diamati. Rata-rata persentase indeks panen yang didapat dari hasil
perhitungan berada di kisaran 40-55% (Tabel 11).
Tabel 11. Rendemen, Indeks Biji, dan Indeks Panen (%)
Perlakuan

Rendemen
-------------(%)------------

Indeks Biji
------(%)-----

Indeks Panen
---------(%)---------

Gajah

40.092 b

33.179 b

82.98

Jepara

51.062 a

38.658 a

Panter

38.812 b

31.662 b

81.79

Garuda Biga

42.527 b

34.392 b

80.86

Biawak

53.954 a

39.919 a

74.16

75.70

Keterangan : Nilai rataan pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji DMRT 5%.

Pembahasan
Tanaman kacang tanah untuk mencapai produktivitas yang maksimal
dibutuhkan polong yang banyak dan penuh. Oleh karena itu perlu diperhatikan
beberapa karakteristik varietas-varietas yang ada, terutama dalam aspek pengisian
polong. Tahap pengisian polong pada tanaman kacang tanah turut menentukan
komponen hasil tanaman tersebut.
Varietas Gajah memiliki produksi yang tinggi dan berbeda nyata dengan
keempat varietas lainnya. Produksi tinggi ini didukung bobot kering polong
Varietas Gajah yang lebih berat dibandingkan dengan Varietas Panter dan Garuda
Biga. Bobot kering polong ditentukan banyaknya polong dalam suatu tanaman.
Hal ini terlihat pada pengamatan mingguan, varietas yang berbiji dua memiliki
jumlah polong yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas yang berbiji tiga.
Polong yang sudah mengisi dengan sempurna akan menghasilkan biji.
Biji dari tiap varietas memiliki bobot yang berbeda. Bobot biji Varietas Gajah
adalah yang tertinggi (Tabel 10). Hal ini dapat disebabkan karena Varietas Gajah
dan varietas berbiji dua pada umumnya memiliki tampilan biji yang agak
membulat dibandingkan dengan varietas yang berbiji tiga. Bentuk biji varietas
berbiji tiga agak lebih panjang. Menurut Rais (1997) tanaman yang berdaya hasil
tinggi harus mempunyai jumlah polong yang banyak, yaitu lebih dari 20, jumlah
biji per polong 2 atau lebih, dan memiliki bobot biji yang berat (45-55 gram per
100 butir biji.).
Bobot biji juga berhubungan dengan rendemen dan indeks biji tanaman
yang diukur. Rendemen menyatakan perbandingan antara biji dalam polong
dengan keseluruhan polong yakni polong tersebut beserta bijinya. Rendemen,
yang dinyatakan dalam persen, akan tinggi jika bobot biji semakin tinggi pula.
Apabila rendemen-nya tinggi berarti kulit polongnya itu tidak tebal. Hal ini karena
total polong yang dijadikan pembanding tidak jauh berbeda bobotnya dengan
bobot biji itu sendiri, menandakan bobot polongnya sendiri saja tergolong ringan.
Rendemen pada Varietas Biawak adalah yang paling tinggi, disusul oleh Varietas
Jepara dan Garuda Biga. Dari hasil penelitian didapat bahwa rata-rata varietas
berbiji dua memiliki rendemen yang lebih besar dibandingkan dengan varietas
berbiji tiga. Namun pada peubah ini, walau sama-sama berbiji dua, Varietas

Biawak lebih tinggi rendemen-nya dibandingkan dengan Varietas Gajah. Artinya


Varietas Biawak memiliki kulit polong yang lebih tipis dan bobot polongnya
menjadi lebih ringan.
Indeks biji Varietas Biawak (biji dua) adalah yang paling tinggi, diduga
karena bobot biji yang cukup tinggi dan bobot kering brangkasan yang lebih
ringan dibandingkan dengan Varietas Panter (Tabel 11). Varietas Panter (biji tiga)
ini memiliki bobot biji paling rendah dan bobot kering brangkasan yang paling
tinggi. Hal ini menjadi poin utama karena rumus indeks biji itu sendiri adalah
bobot biji per tanaman dibagi jumlah bobot kering brangkasan dan bobot kering
polong per tanaman.
Varietas Gajah memiliki bobot 100 butir biji sebesar 50.67 gram, disusul
oleh Varietas Biawak dan Jepara dengan bobot sebesar 46.60 gram dan 44.72
gram. Jika dibandingkan, varietas berbiji dua memiliki bobot 100 butir biji yang
lebih besar dibandingkan dengan yang berbiji tiga (Tabel 10). Hal ini
kemungkinan karena bobot biji varietas berbiji dua yang lebih besar daripada
varietas berbiji tiga.
Keunggulan lain yang menyebabkan Varietas Gajah menjadi varietas yang
produktivitasnya paling tinggi dalam penelitian ini yaitu karena Varietas Gajah
memiliki jumlah polong yang tinggi dan jumlah polong isi yang tinggi pula.
Jumlah polong isi yang semakin banyak per tanaman akan membuat bobot basah
polong kacang tanah semakin berat sehingga produksi akan meningkat.
Sebagai varietas yang sama-sama berbiji dua, bila dibandingkan dengan
Varietas Gajah, rata-rata jumlah polong isi Varietas Jepara dan Biawak
menunjukkan hasil yang lebih rendah. Walaupun begitu, rata-rata jumlah polong
isi dari Varietas Jepara dan Biawak tetap lebih tinggi apabila dibandingkan
dengan jumlah polong isi varietas yang berbiji tiga (Panter, Garuda Biga).
Artinya, dapat diduga bahwa varietas berbiji dua secara umum memiliki produksi
yang lebih tinggi daripada varietas berbiji tiga karena varietas berbiji dua
memiliki jumlah polong isi yang lebih banyak pada tiap tanamannya.
Jumlah polong yang terdapat pada tanaman bergantung pada jumlah
ginofor yang dihasilkan tanaman tersebut. Polong akan mulai mengisi jika ukuran
polong telah maksimal. Ginofor yang lebih awal terbentuk akan lebih cepat dalam

membentuk polong dan polong isi dibandingkan dengan ginofor yang terbentuk
sesudahnya.
Mengacu pada data hasil pengamatan tiap minggunya, jumlah ginofor total
pada tiap varietas berbeda-beda. Varietas Gajah dan Jepara memiliki jumlah
ginofor total sebanyak 63 dan 61 buah, sedangkan Varietas Biawak 94 buah.
Keadaan ini menggambarkan bahwa dengan jumlah ginofor yang begitu banyak,
Varietas Biawak menjadi kurang cepat dalam mengisi polong yang terbentuk.
Lain halnya dengan Varietas Gajah dan Jepara, meskipun jumlah ginofornya tidak
begitu banyak tetapi polong diisi semaksimal mungkin sehingga jumlah polong isi
per tanaman dari kedua varietas ini lebih banyak dibandingkan Varietas Biawak.
Varietas yang berbiji tiga, yakni Panter dan Garuda Biga memiliki jumlah
polong isi yang lebih sedikit dibandingkan dengan ketiga varietas berbiji dua.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh jumlah ginofor pada Varietas Panter dan
Garuda Biga yang tidak banyak membentuk polong, sehingga jumlah polongnya
pun lebih sedikit (Tabel 4). Salah satu faktor penyebab ginofor yang tidak
membentuk polong diduga karena ginofor tersebut mati sebelum berkembang.
Ginofor yang jaraknya cukup jauh dari permukaan tanah (sekitar 15 cm)
umumnya tidak bisa mencapai tanah dan ujungnya akan mengering dan mati
(Somaatmaja, 1981). Selain itu, ginofor yang tidak berkembang kemungkinan
karena jumlah fotosintat yang tidak banyak atau meskipun banyak tetapi terjadi
pendistribusian yang tidak merata sehingga ginofor tidak mendapat cukup asupan.
Sesuai dengan hasil pengamatan bobot kering tajuk menunjukkan bahwa
pada setiap minggu bobot kering tajuk meningkat hingga umur 9-10 MST pada
varietas berbiji dua. Setelah umur tersebut bobotnya berangsur menurun. Hal ini
menunjukkan bahwa pada fase pembentukan polong dan pengisian biji
penampakan tajuk masih lebat, yang berarti sumber-sumber nutrisi masih
didistribusikan secara merata ke bagian tajuk dan polong. Pada umur 10 MST dan
selanjutnya menjelang panen, penampakan tajuk berkurang lebatnya, diketahui
dari bobot kering yang berkurang. Hal ini diduga karena hasil fotosintesis
dilarikan ke bagian polong tanaman untuk proses pengisian polong.
Berdasarkan Gambar 8, dapat dilihat bahwa kacang tanah yang berbiji dua

(Gajah, Jepara, dan Biawak) memiliki bobot kering tajuk yang relatif lebih berat
dibandingkan dengan kacang tanah yang berbiji tiga (Panter dan Garuda Biga).
Keadaan ini mendukung pernyataan bahwa pada varietas berbiji tiga fotosintatnya
lebih banyak disalurkan pada bagian polong, karena ukuran maksimal polong
yang harus dicapai diduga lebih panjang dibandingkan dengan varietas yang
berbiji dua.
Varietas berbiji dua dan berbiji tiga memiliki kecenderungan yang hampir
sama, yakni mengalami penurunan bobot kering batang setelah tahap pengisian
(Gambar 7). Berarti ketika ukuran polong sudah maksimal dan mulai terjadi
pengisian, kemungkinan sebagian bahan kering ada yang dialihkan pada bagian
lain tanaman, yakni pada polong tersebut. Perbedaan yang diduga terjadi adalah
jika pada Varietas berbiji dua fotosintat turut disalurkan pada polong dan tajuk
sehingga menghasilkan pertumbuhan vegetatif yang tinggi, sedangkan pada
varietas berbiji tiga fotosintat diutamakan disalurkan pada polong dan bagian
vegetatifnya tidak mendapat cukup asupan.
Perkembangan pertumbuhan vegetatif juga diikuti oleh pertambahan
indeks luas daun (ILD) atau leaf area index (LAI). ILD mencapai proses
maksimumnya pada saat kacang tanah berumur 8 MST 9 MST. Varietas yang
memiliki ILD tertinggi adalah Varietas Gajah, yakni sebesar 1.71. Dengan ILD
yang tinggi, fotosintat yang didistribusikan pada tubuh tanaman menjadi lebih
banyak dan berpengaruh terhadap karakter vegetatif maupun komponen hasil.
SLA (Spesific Leaf Area) atau area spesifik daun yaitu berkaitan dengan
tebal tipisnya daun. Semakin tebal ukuran daun, bobot kering yang dicapai
semakin tinggi. SLA tiap varietas kacang tanah yang diamati mengalami kenaikan
pada umumnya untuk setiap minggu pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan,
kacang tanah Varietas Panter memiliki nilai SLA yang paling tinggi, yakni
sebesar 249.06 cm2/gram. Disusul kemudian secara berurut Varietas Jepara,
Biawak, Gajah, dan Garuda Biga.
NAR atau yang lebih dikenal dengan istilah Laju Asimilasi Bersih yakni
ukuran rata-rata efisiensi daun dalam hal fotosintesis pada tanaman. NAR
mencapai nilainya yang maksimal bila daun tidak ternaungi dan mendapat sinar
matahari penuh. Nilai NAR yang cenderung tinggi adalah saat umur tanaman

masih muda, berkaitan dengan masih kecilnya tanaman yang tumbuh, sehingga
tidak ada yang menghalangi masuknya sinar matahari kedalam daun. Nilai laju
asimilasi bersih rata-rata tertinggi dihasilkan oleh Varietas Garuda Biga, yakni
sebesar 3.27 gram/m2/hari. Varietas yang memiliki NAR tinggi dapat diartikan
bahwa tanaman dari varietas tersebut memiliki kemampuan fotosintesis yang lebih
baik dibanding varietas lainnya.
Dikaitkan dengan aspek NAR, menepis keadaan vegetatif Varietas Panter
dan Garuda Biga yang kalah besar dan lebat dari Varietas Gajah, Jepara, dan
Biawak, jika dilihat dari produktivitasnya varietas berbiji tiga ini tidak kalah
bersaing dengan Varietas Jepara dan Biawak (Tabel 6). Maka dari itu, dapat
dikatakan bahwa penampilan tajuk yang buruk tidak selalu menyebabkan
produktivitas yang rendah, dan sebaliknya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Varietas Gajah memiliki produktivitas yang paling tinggi dalam penelitian
yang dilakukan. Pada beberapa peubah yang bersangkutan dengan komponen
hasil, Varietas Gajah menempati posisi teratas.
Secara umum, Varietas Gajah dan varietas berbiji dua lain memiliki tajuk
yang lebih lebat dan bagus dibanding varietas berbiji tiga. Namun hal itu ternyata
tidak mempengaruhi produktivitas karena dari hasil percobaan dapat diketahui
bahwa produktivitas Varietas Panter dan Garuda Biga tidak kalah dari Varietas
Jepara, dan Biawak.
Saran
Penggunaan varietas unggul pada tingkat petani dapat meningkatkan
pendapatan petani dan produksi kacang tanah di Indonesia. Pemahaman mengenai
karakteristik masing-masing varietas memungkinkan adanya pilihan tindakan
yang lebih beragam dalam budidaya kacang tanah untuk meningkatkan
produktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1989. Kacang Tanah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 84 hal.


Adisarwanto, T. 2001. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah
dan Lahan Kering. Penebar Swadaya. Jakarta. 87 hal.
BPS. 2005. Survei Pertanian: Produksi Tanaman Padi dan Palawija di Indonesia
2004. BPS. Jakarta. 147 hal.
Brown, R.H. 1972. Growth of the Green Plant. Hal 153-174. In Psysiological
Basic of Crop Growth and Development. American Society of Agronomy
and Crop Science Society of America Inc. USA. 341 p.
Harsono, Indradewa, dan Tohari. 2003. Ketahanan dan Aktivitas Fisiologi
Beberapa Genotipe Kacang Tanah pada Cekaman Kekeringan. Makalah
Seminar. Universitas Sriwijaya. Palembang.
http://www.bps.go.id. 2004. Volume Impor Beberapa Komoditas Tanaman
Pangan 2003-2004. (26 Agustus 2006).
Joko, P. 2003. Varietas Kacang Tanah Baru: Garuda Biga dan Garuda Dua.
Buletin Warta Balitbio No. 22 : 1-2. 22 Agustus 2003. 13 hal.
Kasno, A. 2005. Profil dan Perkembangan Teknik Produksi Kacang Tanah di
Indonesia. Makalah Seminar. Seminar Rutin Puslitbang Tanaman Pangan
Bogor.
Kasno, A., A. Winarto, dan Sunardi. (Eds). 1993. Kacang Tanah. Departemen
Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan.
Malang. 315 hal.
Kasno, A., Marwoto, dan N. Saleh. 2002. Inovasi Teknologi Kacang-kacangan
dan Umbi-umbian : Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Nasional.
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang. 24
hal.
Lukitas, W. 2006. Uji Daya Hasil Beberapa Kultivar Kacang Tanah (Arachis
hypogaea L.). Skripsi. Program Studi Agronomi. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Leopold, A. C. and P. E. Kriedemann. 1985. Tumbesaran dan Perkembangan
Tumbuhan. Universiti Pertanian Malaysia-Serdang Selangor. Malaysia.
587 p.
Maria, D. 2000. Penentuan Masak Panen Benih Kacang Tanah (Arachis hypogaea
L.) Varietas Landak, Banteng, Kidang, dan Komodo dengan Memperhatikan

Fenologi Tanaman. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas


Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Pitojo, S. 2005. Benih Kacang Tanah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 75 hal.
Rais, S. A. 1997. Perbaikan Varietas Kacang Tanah. Buletin AgroBio 1(2) : 4046.
Rubatzky, V.E, and M. Yamaguchi. 1997. World Vegetables: Principles,
Production, and Nutritive Values. Thomson Publishing Inc. 292 p.
Somaatmaja, S. 1980. Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). Yasaguna. Jakarta.
441 hal.
Soedarjo, M., A. G. Manshuri, N. Nugrahaeni, Suharsono, Heriyanto, dan J. S
Utomo. 2000. Komponen Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas
Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Balai Penelitian Tanaman
Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang. 305 hal.
Suhartina. 2005. Deskripsi Varietas Unggul Kacang-Kacangan dan UmbiUmbian. Balitkabi. 94 hal.
Sumarno dan P. Slamet. 1993. Fisiologi dan Pertumbuhan Kacang Tanah. Hal 2430. Dalam: A. Kasno, A. Winarto dan Sunardi (Eds.). Kacang Tanah:
Monograf Balittan Malang No 12. Balittan. Malang.
Suprapto, H. S. 2004. Bertanam Kacang Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta. 32 hal.
Trustinah. 1993. Biologi Kacang Tanah. Hal 9-30. Dalam: A. Kasno, A. Winarto
dan Sunardi (Eds.). Kacang Tanah : Monograf Balittan Malang No 12.
Malang.

LAMPIRAN

Tabel Lampiran 1. Deskripsi Beberapa Varietas Kacang Tanah

1. Varietas Gajah
Dilepas tahun
Nomor induk
Asal

: 1950
: 61
: Seleksi keturunan persilangan Schwarz-21
Spanish 18-38
Hasil rata-rata
: 1,8 t/ha
Warna batang
: Hijau
Warna daun
: Hijau
Warna bunga
: Kuning
Warna ginofor
: Ungu
Warna biji
: Merah muda
Bentuk tanaman
: Tegak
Umur berbunga
: 30 hari
Umur polong tua
: 100 hari
Bobot 100 biji
: 53 g
Kadar protein
: 29%
Kadar lemak
: 48%
Ketahanan terhadap penyakit : - Tahan penyakit layu
- Peka penyakit karat dan bercak daun
Sifat-sifat lain
: - Rendemen biji dari polong 60-70%
Benih Penjenis (BS)
: Dipertahankan di Balittan* Bogor
Pemulia
: Balai Penyelidikan Teknik Pertanian Bogor
Sumber : Suhartina (2005)

* Balittan Bogor, kini berganti menjadi Balai Penelitian Bioteknologi dan


Sumberdaya Genetik (Balitbiogen)
Tabel Lampiran 1. Deskripsi Beberapa Varietas Kacang Tanah (Lanjutan)

2. Varietas Jepara
Dilepas tanggal
SK Mentan
Asal
Hasil rata-rata
Warna batang
Warna daun
Warna bunga

:
:
:
:
:
:
:

Warna ginofor
Warna biji
Bentuk polong

:
:
:

Kulit Polong
Bentuk tanaman
Bentuk daun tua
Umur berbunga
Umur polong tua
Bobot 100 biji
Kadar protein
Kadar lemak
Ketahanan terhadap penyakit

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Pemulia

:
:

21 Januari 1989
62/Kpts/TP.240/1/89
Lokal Jepara, Jawa Tengah
1,2 t/ha
Hijau
Hijau
- Tepi bendera: kuning tua
- Pusat bendera: kuning
Ungu
Merah jambu (ros putih)
Berpinggang dan tidak, berpelatuk jelas dan
tidak jelas
Urat polong nyata
Tegak
Berempat
24-29 hari
89-97 hari
34,7 g
42,73%
27,19%
- Agak tahan penyakit layu (Pseudomonas
solanacearum)
- Peka bercak daun (Cercospora sp.)
- Peka virus belang
Sri Astuti Rais

Sumber : Suhartina (2005)

Tabel Lampiran 1. Deskripsi Beberapa Varietas Kacang Tanah (Lanjutan)

3. Varietas Panter
Dilepas tanggal
SK Mentan
Nomor induk
Nomor galur
Asal

:
:
:
:
:

4 Nopember 1998
874/Kpts/TP.240/11/98
1228
GH 7594
Seleksi massa dari populasi kacang tanah ICG
1703 varietas lokal asal Peru
1,0-5,4 t/ha polong kering
2,60 t/ha polong kering
Hijau
Hijau
Kuning
Hijau
Rose (merah muda)
Tidak berpinggang
Jelas
Tegak
Persegi
15-20 buah
3-4 biji
28-31 hari
90-95 hari
35-40 g
21,5%
43,0%
- Tahan penyakit layu, toleran penyakit karat, dan
bercak daun
- Toleran kekeringan, hasil stabil, dan beradaptasi
luas
Astanto K., Novita Nugrahaeni, Trustinah, Abdul
Munip, Joko Purnomo, dan Purwantoro

Daya hasil
Hasil rata-rata
Warna batang
Warna daun
Warna bunga
Warna ginofor
Warna biji
Bentuk polong
Lukisan jaring (kulit)
Bentuk tanaman
Bentuk biji
Jumlah polong/tanaman
Jumlah biji/polong
Umur berbunga
Umur polong masak
Bobot 100 biji
Kadar protein
Kadar lemak
Ketahanan terhadap penyakit

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Keterangan

Pemulia

Peneliti patologis

: Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih

Sumber : Suhartina (2005)

Tabel Lampiran 1. Deskripsi Beberapa Varietas Kacang Tanah (Lanjutan)

4. Varietas Biawak
Dilepas tanggal
SK Mentan
No. Seleksi
Asal
Hasil rata-rata
Warna batang
Warna daun
Warna bunga

:
:
:
:
:
:
:
:

Warna ginofor
Warna biji
Bentuk polong
Lukisan jaring
Bentuk tanaman
Bentuk daun
Jumlah polong/pohon
Umur berbunga
Umur polong tua
Bobot 100 biji
Kadar protein
Ketahanan terhadap penyakit

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Sifat-sifat lain
Keterangan

:
:

Pemulia

9 Maret 1991
113/Kpts/TP.240/3/91
NPGRL, ACC23 (F334-33)
Introduksi dari IPB/IRRI, Filipina
1,14-3,37 t/ha polong kering
Hijau
Hijau
- Bagian tepi bendera: kuning
- Pusat bendera: kuning
Ungu
Merah muda
Dangkal
Nyata
Tegak
Berempat
15 buah
28 hari
80-90 hari
43,0 g
31,5%
- Agak tahan layu bakteri dan Cercospora sp.
- Tidak tahan PSTV
Rendemen biji dari polong 68%
Cocok untuk lahan kering, iklim kering, dan lahan
tadah hujan setelah padi
Syarifuddin, Sri Widodo, Mustari Basir, Sania
Saenong, Mansyur L., dan A. Hasanuddin

Sumber : Suhartina (2005)

Tabel Lampiran 2. Keadaan Beberapa Unsur Iklim Wilayah Darmaga Bogor


dari Bulan Februari 2007 hingga Mei 2007

MST
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Curah Hujan
(mm/minggu)
211.0
73.0
36.9
121.3
50.8
31.2
55.5
112.4
31.9
81.7
230.4

Intensitas
Hari Cahaya Matahari
Hujan
Rata-rata
(hari)
(Cal/cm2)
7
4
7
5
7
3
6
7
5
7
7

289.7
231.2
205.0
208.8
295.5
218.4
274.2
248.3
233.5
262.7
229.8

Suhu
Maksimum
Rata-rata
(oC)
31.1
30.2
30.0
29.8
31.6
30.9
31.7
31.5
31.2
31.7
31.2

Suhu
Minimum
Rata-rata
(oC)
22.2
22.3
22.5
23.1
22.7
23.3
22.8
22.9
23.3
22.9
22.7

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi, Darmaga, Bogor

Tabel Lampiran 3. Analisis Tanah Sebelum Perlakuan


Data Analisa
Kandungan
Kriteria
pH (H2O 1:1)
6.80
Netral
C-organik
1.65%
Rendah
N-total
0.15%
Rendah
P (Bray I)
12.9 ppm
Tinggi
Ca
9.58 me/100g
Sedang
Mg
0.70 me/100g
Rendah
K
0.18 me/100g
Rendah
Na
0.15 me/100g
Rendah
KTK
12.95 me/100g
Rendah
KB
81.93%
Sangat tinggi
Pasir
9.48%
Debu
18.06%
Liat
72.46%
Liat
Keterangan: Analisis tanah dilakukan pada bulan Februari 2007 di Laboratorium Analisis Tanah
Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB

Tabel Lampiran 4. Kriteria Penilaian Data Analisis Sifat Kimia Tanah


Sifat Tanah
Sangat Rendah Sedang
Tinggi
Sangat

Rendah
N-total
C-organik
C/N
P-tersedia
KTK
(me/100g)
Susunan
Kation:
K (me/100g)
Ca (me/100g)
Mg (me/100g)
Na (me/100g)
KB (%)
Kejenuhan Al
(%)
Reaksi
Tanah
pH (H2O)

Tinggi

< 0.1
< 1.0
<5
<4

0.1-0.2
1.0-2.0
5.0-10
5.0-7.0

0.21-0.5
2.01-3.01
11.0-15
8.0-10

0.51-0.75
3.0-5.0
16-25
11.0-15

> 0.75
> 5.0
> 25
> 15

<5

5.0-16

17-24

25-45

> 40

< 0.1
<2
< 0.3
< 0.1
< 20

0.1-0.3
2.0-5.0
0.4-1.0
0.1-0.3
20-40

0.4-0.5
6.0-10
1.1-2.0
0.4-0.7
41-60

0.6-1.0
11.0-20
2.1-8.0
0.8-1.0
61-80

> 1.0
> 20
> 8.0
> 1.0
80-100

<5
Masam

5.0-10
Agak
Masam
5.6-6.5

11.0-20
Netral

21-40
Agak
Alkalin
7.6-8.5

> 40
Alkalin

Sangat
Masam
< 4.5
4.5-5.5

5.6-6.5

Sumber : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (PPT), 1983

Tabel Lampiran 5. Sidik Ragam Peubah-peubah Pengamatan


Bobot Basah Polong

> 8.5

Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db

JK
427. 486
15. 344
142. 307
585. 137

4
2
8
14

KT
106. 871
7. 672
17. 788

Fhitung
Pr
*
6. 01
0. 0156
0. 43 0. 6639

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Basah Polong per Hektar


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
4. 274
0. 153
1. 423
5. 851

KT
1. 068
0. 077
0. 178

Fhitung
6. 01*
0. 43

Pr
0. 0156
0. 6638

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Kering Polong


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
152. 589
1. 966
65. 219
219. 774

KT
38. 147
0. 983
8. 152

Fhitung
4. 68*
0. 12

Pr
0. 0306
0. 8880

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Kering Polong Isi


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
136. 026
5. 703
84. 323
226. 052

KT
34. 006
2. 852
10. 540

Fhitung
3. 23tn
0. 27

Pr > F
0. 0744
0. 7697

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Kering Polong Cipo


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
1. 644
0. 949
2. 037
4. 629

KT
0. 411
0. 474
0. 255

Fhitung
1. 61tn
1. 86

Pr
0. 2615
0. 2168

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Jumlah Polong Isi


Sumber Keragaman
Perlakuan

Db
4

JK
122. 470

KT
30. 617

Fhitung
6.06*

Pr
0. 0152

Ulangan
Galat
Umum

2
8
14

4. 281
40. 425
167. 177

2. 141
5. 053

0. 42

0. 6685

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Jumlah Polong Cipo


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
15. 203
2. 836
41. 577
59. 616

KT
3. 800
1. 418
5. 197

Fhitung
0. 73tn
0. 27

Pr
0. 5954
0. 7680

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Persentase Jumlah Polong Isi


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
116. 357
47. 849
1533. 173
1697. 378

KT
29. 089
23. 924
191. 646

Fhitung
0. 15tn
0. 12

Pr
0. 9569
0. 8843

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Persentase Jumlah Polong Cipo


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
116. 347
47. 846
1533. 181
1697. 375

KT
29. 086
23. 923
191. 647

Fhitung
0. 15tn
0. 12

Pr
0. 9569
0. 8843

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Kering 100 Butir Biji


Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
342. 976
4. 820
33. 525
381. 321

KT
85. 744
2. 410
4. 191

Fhitung
20. 46**
0. 58

Pr
0. 0003
0. 5843

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Bobot Biji
Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan

Db
4
2

JK
19. 768
0. 251

KT
4. 942
0. 125

Fhitung
10. 67**
0. 27

Pr
0. 0027
0. 7690

Galat
Umum

8
14

3. 707
23. 727

0. 463

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Rendemen
Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
554. 999
20. 606
122. 861
698. 467

KT
138. 749
10. 303
15. 357

Fhitung
9. 03**
0. 67

Pr
0. 0046
0. 5378

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Indeks Biji
Sumber Keragaman
Perlakuan
Ulangan
Galat
Umum

Db
4
2
8
14

JK
152. 457
48. 649
36. 202
237. 309

KT
38. 114
24. 324
4. 525

Fhitung
8. 42**
5. 38

Pr
0. 0057
0. 0331

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Indeks Panen
Sumber Keragaman

Db

JK

KT

Fhitung

Pr

Perlakuan

183. 705

45. 926

2. 29

0.1482

Ulangan

47. 212

23. 606

1. 18

0.3565

Galat

160. 527

20. 066

14

391. 445

Umum

tn

Ket: tn=tidak nyata; * = nyata pada taraf = 0.05; ** = nyata pada taraf =0.01

Gambar Lampiran 1. Tanaman Kacang Tanah Umur 5 MST

Gambar Lampiran 2. Tanaman Kacang Tanah Umur 10 MST

Gambar Lampiran 3. Penyakit yang Menyerang Tanaman di Lahan

Gambar Lampiran 4. Lima Varietas Kacang Tanah

Gambar Lampiran 5. Denah Rancangan Percobaan

V2
V5
V1

V3
V4
V5
V3

V1
V3
V4
V5

IV.

III.

II.

I.

Keterangan :
Luas petak

= 3m x 4m

Jarak tanam

= 50 cm x 20 cm

Luas total

= 400 m2

: ulangan 1

II

: ulangan 2

III

: ulangan 3

IV

: ulangan 4

V1

: Gajah

V2

: Jepara

V3

: Panter

V4

: Biawak

V5

: Biga

V5
V1
V2

V4
V2
V3
V4