Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TEKNIK PONDASI

Dosen : Dr. Runi Asmaranto, ST., MT.

Oleh :
FISABELLA RILAMSARI PUTRI

(135060400111022)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN
MALANG

1. Sondir / CPT
1.1 Pengertian
Sondir adalah alat berbentuk silindris dengan ujungnya berupa konus. Biasanya
dipakai adalah bi-conus type Begemann yang dilengkapi dengan selimut / jaket untuk
mengukur hambatan pelekat local (side friction).
Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan
bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut kita dapat membaca atau
mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui
bahwa dari berbagai lapisan tanah memiliki kekuatan yang berbeda.
Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir yang biasa
digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang pemakaiannya
ditekan secara langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk konus ( kerucit )
dihubungkan pada suatu rangkaian stang dalam casing luar dengan bantuan suatu
rangka dari besi dan dongkrak yang dijangkarkan ke dalam tanah.

Gambar 1 Alat Sondir

Gambar 2. Tes Sondir di Lapangan


1.2 Tujuan
Tujuan pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus
dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan tanah tersebut dan
yang dapat menentukan dalamnya berbagai lapisan yang berbeda.
1.3 Metode Pelaksanaan
a. Masukkan angker ke dalam tanah pada titik yang ditentukan, minimal dua buah.
b. Pasang mesin sondir tepat diantara angker tersebut, kemudian stel sondir agar berdiri
tegak lurus.
c. Kunci mesin sondir pada angker dengan menggunakan plat besi.
d. Isi minyak hidraulic pada tempat pemasangan manometer sampai penuh dan bebas
dari
udara ditandai dengan tidak ada gelembung udara lagi.
e. Pasang bikonus pada ujung pipa pertama, kemudian pasang rangkaian tersebut pada
mesin sondir.
f. Tekan batang dengan cara memutar stang pemutar yang berhubungan dengan sisi
yang
menjalankan penekan stang luar untuk memasukan bikonus pada kedalaman yang
yang
akan disondir dengan memasang tri-ker.
g. Tekanlah stang dalam untuk mencabut tri-ker sehingga ujung konus masuk sedalam 4
cm dan baca manometer sebagai perlawanan penetrasi konus (PPK). Penekanan
selanjutnya akan menggerakkan konus beserta selubung sedalam 8 cm dan baca
manometer sebagai jumlah perlawanan konus (JPK).

h. Tekan pipa bersama batang sampai kedalaman yang akan diukur berikutnya.
Pembacaan dilakukan setiap kedalaman 20 cm.
i. Demikian selanjutnya hingga pembacaan perlawanan penetrasi konus (PPK)
mencapai
nilai 150 kg/cm2 sebanyak 3 kali.
j. Lalu penyondiran dihentikan dengan mencabut kembali pipa sondir dengan memutar
ke arah yang berlawanan.
1.4 Contoh Soal
a. Hambatan Lekat ( HL ) dihitung dengan rumus :
HL = JPK PPK
HL = ( JPK PPK ) x A / B
Dimana : JPK = Jumlah Perlawanan Konus ( kg/cm2 )
PPK = Perlawanan Penetrasi Konus ( kg/cm2 )
A = Tahap Pembacaan ( setiap kedalaman 20 cm )
B

= Faktor alat / Luas konus / Luas corak = 10 cm2


(d = 3.6 cm ; L = d2 = 10,17 cm2)

b. Jumlah Hambatan Lekat


JHL = HL
Dimana : i = kedalaman yang dicapai konus
c. Contoh Perhitungan Data :
Pada Kedalaman 0,4 m, PPK = 5 kg/cm2
JPK = 15 kg/cm2
Maka, HL = ( JPK PPK ) x A/B
= ( 15 5 ) x 20/10 = 20
2. SPT (Standard Penetration Test)
2.1 Pengertian
Uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik
perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik
penumbukan. Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam
tanah dan disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah
sedalam 300 mm (1 ft) vertikal.

Alat

SPT

yang

menggunakan
mesin tentu

kapasitasnya

lebih

dan

tinggi

diperlukan

pada

saat

pengambilan

data

tanah

untuk

kepentingan

desain

pondasi.

Sedangkan S

PT

dioperasikan

secara manual

hanya untuk

keperluan

praktikum

dan kapasitas

yang

pengujiannya
juga

lebih

kecil

kedalamannya pun tidak lebih dari 10 meter.

Gambar 3. Tes SPT di Lapangan


2.2 Tujuan

dan

Untuk mendapatkan nilai daya dukung ijin pondasi berdasarkan data nilai NSPT dengan menggunakan metode Meyerhoff dan faktor keamanan atau safety factor
(SF) sebesar 2.

2.3 Metode Pelaksanaan


Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut:
1. Lakukan pengujian pada setiap perubahan lapisan tanah atau pada interval sekitar
1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperluan;
2. Tarik tali pengikat palu (hammer) sampai pada tanda yang telah dibuat
3.
4.
5.
6.
7.

sebelumnya (kira-kira 75 cm);


Lepaskan tali sehingga palu jatuh bebas menimpa penahan (Gambar 3);
Ulangi 2) dan 3) berkali-kali sampai mencapai penetrasi 15 cm;
Hitung jumlah pukulan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm yang pertama;
Ulangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-dua dan ke-tiga;
Catat jumlah pukulan N pada setiap penetrasi 15 cm: cm pertama dicatat N1;cm
kedua dicatat N2; 15 cm ke-tiga dicatat N3; Jumlah pukulan yang dihitung adalah

N2 + N3. Nilai N1 tidak diperhitungkan karena masih kotor bekas pengeboran;


8. Bila nilai N lebih besar daripada 50 pukulan, hentikan pengujian dan tambah
pengujian sampai minimum 6 meter;
9. Catat jumlah pukulan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis tanah batuan.

Gambar 4. Skema Urutan Uji Penetrasi Standar (SPT)

Gambar 5. Contoh Palu yang Biasa Digunakan dalam Uji SPT


2.4 Contoh Soal
Dalam pelaksanaan uji SPT di berbagai negara, digunakan tiga jenis palu (donut
hammer, safety hammer, dan otomatik, periksa Gambar 4) dan empat jenis batang bor
(N, NW, A, dan AW), lihat Pedoman penyelidikan geoteknik untuk fondasi bangunan
air, Vol.1 (Pd.T-03.1- 2005-A). Ternyata uji ini sangat bergantung pada alat yang
digunakan dan operator pelaksana uji.
Faktor yang terpenting adalah efisiensi tenaga dari sistem yang digunakan.
Secara teoritis tenaga sistem jatuh bebas dengan massa dan tinggi jatuh tertentu adalah
48 kg-m (350 ft-lb), tetapi besar tenaga sebenarnya lebih kecil karena pengaruh friksi
dan eksentrisitas beban. Adapun koreksi hasil uji SPT adalah sebagai berikut :
a) Menurut ASTM D-4633 setiap alat uji SPT yang digunakan harus dikalibrasi tingkat
efisiensi tenaganya dengan menggunakan alat ukur strain gauges dan aselerometer,
untuk memperoleh standar efisiensi tenaga yang lebih teliti. Di dalam praktek, efisiensi
tenaga sistem balok derek dengan palu donat (donut hammer) dan palu pengaman
(safety hammer) berkisar antara 35% sampai 85%, sementara efisiensi tenaga palu
otomatik (automatic hammer) berkisar antara 80% sampai 100%. Jika efisiensi yang
diukur (Ef) diperoleh dari kalibrasi alat, nilai N terukur harus dikoreksi terhadap
efisiensi sebesar 60%, dan dinyatakan dalam rumus:
N60 = ( Ef /60 ) NM ................................................................... (1)
dengan :
N60 : efisiensi 60% ;

Ef

: efisiensi yang terukur ;

NM : nilai N terukur yang harus dikoreksi.

Nilai N terukur harus dikoreksi pada N60 untuk semua jenis tanah. Besaran
koreksi pengaruh efisiensi tenaga biasanya bergantung pada lining tabung, panjang
batang, dan diameter lubang bor (Skempton (1986) dan Kulhawy & Mayne (1990)).
Oleh karena itu, untuk mendapatkan koreksi yang lebih teliti dan memadai terhadap
N60, harus dilakukan uji tenaga Ef.
b) Efisiensi dapat diperoleh dengan membandingkan pekerjaan yang telah dilakukan:
W = Fxd = gaya x alihan ;
tenaga kinetik (KE = mv2)
tenaga potensial : PE = mgh ;
dengan :
m : massa (g) ;
v : kecepatan tumbukan (m/s);
g : konstanta gravitasi (= 9,8 m/s2 = 32,2 ft/s2 );
h : tinggi jatuh (m).
Jadi rasio tenaga (ER) ditentukan sebagai rasio ER= W/PE atau ER = KE/PE.
Semua korelasi empirik yang menggunakan nilai NSPT untuk keperluan interpretasi
karakteristik tanah, didasarkan pada rasio tenaga rata-rata ER ~ 60%.
c) Dalam beberapa hubungan korelatif, nilai tenaga terkoreksi N60 yang dinormalisasi
terhadap pengaruh tegangan efektif vertikal (overburden), dinyatakan dengan (N1)60,
seperti dijelaskan dalam persamaan (2), (3) dan Tabel 1. Nilai (N1)60 menggambarkan
evaluasi pasir murni untuk interpretasi kepadatan relatif, sudut geser, dan potensi
likuifaksi.
(N1)60 = NM x CN x CE x CB X CR X CS ........................................... (2)
CN = 2,2/ (1,2 + (vo/Pa)) ....................................................................(3)
dengan :
(N1 )60 : nilai SPT yang dikoreksi terhadap pengaruh efisiensi tenaga 60%;
NM

: hasil uji SPT di lapangan;

CN

: faktor koreksi terhadap tegangan vertikal efektif (nilainya 1,70);

CE

: faktor koreksi terhadap rasio tenaga palu (Tabel 1);

CB

: faktor koreksi terhadap diameter bor (Tabel 1);

CR

: faktor koreksi untuk panjang batang SPT (Tabel 1);

CS

: koreksi terhadap tabung contoh (samplers) dengan atau tanpa pelapis (liner)
(Tabel 1);

vo

: tegangan vertikal efektif (kPa);

Pa

: 100 kPa.

Tabel 1. Koreksi-koreksi yang digunakan dalam uji SPT


(Youd, T.L. & Idriss, I.M., 2001)
Faktor
Tegangan vertikal
efektif
Tegangan vertikal
Efeftif
Rasio tenaga
Rasio tenaga
Rasio tenaga

Diameter bor
Diameter bor
Diameter bor
Panjang batang
Panjang batang
Panjang batang
Panjang batang
Panjang batang
Pengambilan
contoh
Pengambilan
contoh

Jenis Alat

Parameter Koreksi
2,2
CN
(vo/Pa))
CN 1,7
CN

Palu donat (Donut hammer)


Palu pengaman (Safety
hammer)
Palu otomatik (Automatictrip
Donut-type hammer)
65 s.d 115 mm
150 mm
200 mm
<3m
3 s.d 4 m
4 s.d 6 m
6 s.d 10 m
10 s.d 30 m
tabung standar
tabung
(liner)

dengan

3. Teknik Pengambilan Tanah Undisturb


3.1 Pengertian

pelapis

CE
CE

0,5 s.d 1,0


0,7 s.d 1,2
0,8 s.d 1,3

CE
CB
CB
CB
CR
CR
CR
CR
CR
CS
CS

1,0
1,05
1,15
0,75
0,8
0,85
0,95
1,0
1,0
1,1 s.d 1,3

/(1,2+

Contoh Tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian
tubuh tanah (horison/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifat
sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium. Untuk penetapan sifat-sifat
fisika

tanah

ada

macam

pengambilan

contoh

tanah

yaitu

1. Contoh tanah tidak terusik (undisturbed soil sample) yang diperlukan untuk analisis
penetapan berat isi atau berat volume (bulk density), agihan ukuran pori (pore size
distribution)

dan

untuk

permeabilitas

(konduktivitas

jenuh)

2. Contoh tanah dalam keadaan agregat tak terusik (undisturbed soil aggregate) yang
diperlukan untuk penetapan ukuran agregat dan derajad kemantapan agregat
(aggregate
stability)
3. Contoh tanah terusik (disturbed soil sample), yang diperlukan untuk penetapan kadar
lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas \
ritik, Indeks patahan (Modulus of Rupture:MOR), konduktivitas hidroulik tak jenuh,
luas permukaan (specific surface), erodibilitas (sifat ketererosian) tanah
menggunakan
hujan tiruan (rainfall simulator) Untuk penetapan sifat kimia tanah misalnya
kandungan hara (N, P, K, dll), kapasitas tukar kation (KPK), kejenuhan basa, dll
digunakan pengambilan contoh tanah terusik.

Gambar 6. Alat yang Digunakan Untuk Pengambilan Contoh Tanah

Gambar 7. Tabung (ring) Tembaga dan Tabung (ring) dengan Tutup


3.2 Tujuan
Untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras serta sifat daya dukung setiap
kedalaman.
3.3 Metode Pelaksanaan
Pengambilan contoh tanah terusik :
a. Pengambilan contoh tanah terusik dalam profil.
1. Memilih tempat yang tak tergenang air, tak terkena sinar matahari secara
langsung, datar dan mewakili tempat sekitarnya.
2. Menggali lubang baru untuk profil tanah dengan dinding tegak lurus di sebelah
utara atau selatan, ukuran 1m x 1m x 1m. Tempat untuk mengamati dibuatkan
lubang bertangga. Profil tanah juga dapat dibuat pada tebing yang dibuat tegak
lurus.
3. Menandai perlapisan yang ada berdasarkan warna, suara ketukan dan kekerasan
tiap perlapisan dengan garis yang tegas.
4. Mencatat ciri-ciri morfologi di permukaan tanah sesuai dengan formulir pelukisan
profil.
5. Mencatat ciri-ciri dakhil perlapisan sesuai dengan formulir pelukisan profil.
6. Mengambil sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin tiap perlapisan dengan plasitk
yang beretiket : Kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan
ciri-ciri istimewa lain.
b. Pengambilan contoh tanah terusik di lapisan permukaan.
1. Memilih tempat yang tidak tergenang air, tak terkena sinar matahari langsung,
datar dan mewakili tempat sekitarnya.
2. Membersihkan seresah, batuan dan benda alam lain di lapisan permukaan sehingga
tubuh tanah terlihat.
3. Mengambil sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin dengan menggunakan pacul,
cethok dan memasukkannya kedalam plastik yang beritiket: Kode tempat, kode

perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan ciri-ciri istimewa lainnya.


c. Pengambilan Contoh Tanah Terusik dengan Bor.
1. Meletakkan mata bor di permukaan tubuh tanah.
2. Memutar pegangan bor perlahan-lahan ke arah kanan dengan disertai tekanan
sampai seluruh kepala bor terbenam.
3. Kepala bor perlahan-lahan dikeluarkan dari tubuh tanah dengan memutar pegangan
bor tanah ke arah kiri dengan disertai tarikan.
4. Contoh tanah yang terbawa kepala bor dilepaskan perlahan sampai bersih dan
diusahakan tidak banyak merusak susunan tanah.
5. Pengeboran dilanjutkan lagi pada setiap ketebalan tanah 20 cm sampai kedalaman
yang dikehendaki.
6. Contoh tanah hasil pengeboran pada setiap ketebalan 20 cm itu diletakkan tersusun
menurut kedalaman aslinya, sehingga akan diperoleh gambaran profil tanah.
7. Masukkan sekitar 1-2 kg contoh tanah kering angin dalam plastik yang beretiket
Kode tempat, kode perlakuan, kode tanah, nomor perlapisan dan ciri-ciri istimewa

Gambar 8. Tahapan-Tahapan Pengambilan Contoh Tanah Utuh Menggunakan


Ring Kuningan (bergerak dari pojok kiri atas ke pojok kanan bawah)
3.4 Contoh Soal

Contoh tanah utuh dapat diambil menggunakan tabung logam yang terbuat dari
tembaga, kuningan, dan besi. Laboratorium Fisika Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor
menggunakan tabung tembaga (Gambar 3) yang mempunyai ukuran tinggi 4 cm,
diameter dalam 7,63 cm, dan diameter luar 7,93 cm. Tabung tersebut ditutup dengan
plastik di kedua ujungnya.
Contoh tanah utuh merupakan contoh tanah yang diambil dari lapisan tanah
tertentu dalam keadaan tidak terganggu, sehingga kondisinya hampir menyamai kondisi
di lapangan. Contoh tanah tersebut digunakan untuk penetapan angka berat volume
(berat isi, bulk density), distribusi pori pada berbagai tekanan (pF 1, pF 2, pF 2,54, dan
pF 4,2 dan permeabilitas.
Untuk memperoleh contoh tanah yang baik dan tanah di dalam tabung tetap
seperti keadaan lapangan (tidak terganggu), maka perbandingan antara luas permukaan
tabung logam bagian luar (tebal tabung) dan luas permukaan tabung bagian dalam tidak
lebih dari 0,1. Perbandingan luas permukaan tabung bagian dalam dan tabung bagian
luar dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Dl2 Dd2
__________ < 0,1
Dd2
dimana: Dl adalah diameter tabung bagian luar; Dd adalah tabung bagian dalam.