Anda di halaman 1dari 22

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Data Tutorial
Tutor

: dr. Ratih Pratiwi, Sp. OG

Moderator

: M. Rizky Rachmadi

Notulen

: Utin Karmila

Sekretaris papan

: Nanda Dian Ningsih

Waktu

: 1. Senin, 23 Maret 2015


Pukul:13.00 14.30 WIB
2. Rabu, 25 Maret 2015
Pukul: 13.00 14.30 WIB

Peraturan tutorial

1. Alat komunikasi dinonaktifkan atau dalam keadaan


silent.
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat
dengan cara mengangkat tangan terlebih dahulu.
3. Meminta izin ketika hendak keluar ruangan.
4. Dilarang makan dan minum saat diskusi berlangsung.

2.2 Skenario B Blok XVII


Ny. B, berusia 43 tahun P5A0 dirujuk oleh bidan desa ke Puskesmas Rawat
Inap PONED. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam
30 menit yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2500 gram, bugar dan
langsung menangis.
Menurut bidan proses persalinannya lancar, plasenta yang dikeluarkan
lengkap tetapi rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif. Bidan
telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara memberikan suntikan
obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk. Menurut bidan
perdarahan Ny. B banyak dan diperkirakan lebih dari 500 cc.
Ny. B hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di klinik bersalin swasta
yaitu pada kehamilan 8 bulan karena tidak ada biaya. Pada saat itu, Ny. B
terlihat pucat dan lemas dan hasil pemeriksaan darah yaitu kadar Hb 8 g/dl.
Bidan telah menganjurkan untuk dirawat tapi Ny. B menolak.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum : somnolen

Tanda vital : TD: 80/60 mmHg; N: 124x/menit, lemah, reguler, isi kurang; RR:
28x/menit; T: 360 C
Pemeriksaan spesifik:
Kepala: konjungtiva pucat
Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal
Abdomen: hepar dan lien dalam batas normal
Ekstremitas: akral dingin
Status Obstetrikus:
Palpasi: kontraksi uterus lembek dan teraba fundus uteri setinggi pusat
Inspekulo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+), robekan jalan lahir tidak ada
Pemeriksaan Laboratorium:
Hb: 6 g%, gol. Darah: B, rhesus (+), MCV: 70 sl, MCH: 25 pg, MCHC: 28 gr/l
leukosit: 10.000/ mm3 , Ht: 18 mg%
2.3

Data Seven Jumps

2.3.1 Klarifikasi Istilah


1. Perdarahan
Keluarnya darah seperti dari pembuluh darah yang cidera.
2. Puskesmas PONED
Puskesmas yang melayani emergensi dasar kasus obstetri dan neonatal.
3. Pervaginam
Melalui vagina atau saluran pada wanita dari vulva sampai serviks uteri.
4. ANC (Ante Natal Care)
Upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetri untuk optimalisasi
iuran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin
selama kehamilan.
5. Plasenta
Organ yang menjadi ciri khas mamalia sejati pada saat kehamilan yang
menghubungkan ibu dan bayi.
6. Stolsel
Darah yang menggumpal
7. Somnolen
Mengantuk yang berlebihan

8. Fluksus
Pengeluaran cairan yang berlebihan dari orifisium uteri externa.
9. Rhesus
Protein atau antigen yang terdapat pada permukaan eritrosit (SDM)
10. MCV (Mean Corpuscular Volume)
Volume rata-rata eritrosit
11. MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
Jumlah rata-rata dalam eritrosit
12. MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
Konsentrasi rata-rata hemoglobin di dalam eritrosit.

2.3.2 Identifikasi Masalah


1. Ny. B, berusia 43 tahun P5A0 dirujuk oleh bidan desa ke Puskesmas Rawat
Inap PONED. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan
pervaginam 30 menit yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2500 gram,
bugar dan langsung menangis.
2. Menurut bidan proses persalinannya lancar, plasenta yang dikeluarkan lengkap
tetapi rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif.
3. Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara memberikan
suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk. Menurut bidan
perdarahan Ny. B banyak dan diperkirakan lebih dari 500 cc.
4. Ny. B hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di klinik bersalin swasta
yaitu pada kehamilan 8 bulan karena tidak ada biaya. Pada saat itu, Ny. B
terlihat pucat dan lemas dan hasil pemeriksaan darah yaitu kadar Hb 8 g/dl.
Bidan telah menganjurkan untuk dirawat tapi Ny. B menolak.
5. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : somnolen
Tanda vital : TD: 80/60 mmHg; N: 124x/menit, lemah, reguler, isi kurang; RR:
28x/menit; T: 360 C
Pemeriksaan spesifik:
Kepala: konjungtiva pucat
Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal
Abdomen: hepar dan lien dalam batas normal

Ekstremitas: akral dingin


6. Pemeriksaan Obstetri:
kontraksi uterus lembek dan teraba fundus uteri setinggi pusat
Inspekulo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+), robekan jalan lahir tidak ada
7. Pemeriksaan Laboratorium :
Hb: 6 g%, gol. Darah: B, rhesus (+), MCV: 70 sl, MCH: 25 pg, MCHC: 28 gr/l
leukosit: 10.000/ mm3 , Ht: 18 mg%.
2.3.3
1.

Analisis Masalah
Ny. B, berusia 43 tahun

P5 A 0

dirujuk oleh bidan desa ke Puskesmas Rawat

Inap PONED. Ia mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan pervaginam


30 menit yang lalu. Berat bayi yang dilahirkan sekitar 2500 gram, bugar dan
langsung menangis.
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari organ yang terlibat pada kasus ini?
(tiara, utin, dela)
b. Bagaimana histologi pada organ yang terlibat? (egyd, vini, afif)
c. Apa makna status paritas P5 A 0 pada kasus? (alfreda, nanda, elin)
Jawab :
P5A0 ,yaitu :
P5 : Partus sudah terjadi 5 kali
A0 : Abortus belum pernah terjadi
Dan ini menandakan bahwa status Ny. B sudah Grande multipara.
d. Apa makna Ny. B mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan
pervaginam 30 menit yang lalu? (rizky, bunga, dela)
e. Apa penyebab Hemorragic Post partum (HPP)? (afif, alfreda, utin)
Jawab :
Perdarahan dari tempat implantasi plasenta

Atonia uteri
Multiparitas
Distensi uterus berlebihan
-

Janin gemeli,

Janin besar,

Hidramnion,

Distensi dengan bekuan.

Miometrium kelelahan
-

Partus lama, partus kasep

Partus presipitatus / partus terlalu cepat (persalinan cepat)

Stimulasi oksitosin atau prostaglandin

Korioamnionitis

Anestesia atau analgesia


-

Agen anestetik berhalogen

Analgesia konduksi dengan hipotensi

Induksi Persalinan
Riwayat atonia uterus

Sisa plasenta
Kotiledon atau selaput ketuban tersisa
Plasenta susenturiata
Plasenta akreta, inkreta, perkreta (retensio plasenta)

Perdarahan karena robekan atau Robekan jalan lahir


Episiotomi yang melebar
Robekan pada perineum, vagina dan serviks
Ruptura uteri
Gangguan koagulasi atau gangguan pembekuan darah
Jarang terjadi tetapi bisa memperburuk keadaan di atas, misalnya pada
kasus trombofilia, sindroma HELLP, preeklampsia berat, eklampsia,
solusio plasenta, kematian janin dalam kandungan (IUFD) dan
embolisme cairan amnion, transfusi masif, terapi antikoagulan,
sindrom sepsis, koagulopati kongenital, Aborsi yang diinduksi salin.
(secara singkat: atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, trauma jalan
lahir, gangguan pembekuan darah)

a.

Hipotoni sampai atonia uteri

Akibat anestesi

Distensi berlebihan (gemeli, anak besar, hidramnion)

Partus lama, partus kasep

Partus presipitatus/partus terlalu cepat


Atonia uteri
Kontraksi uterus menurun
PD di uterus melebarMeningkatkan sirkulasi

Persalinan normal

Tidak menutup sempurna


Perdarahan terjadi terus menerus

b.

Persalinan karena induksi oksitosin

Multiparitas

Korioamnionitis

Pernah atonia sebelumnya

Sisa plasenta

c.

Kotiledon atau selaput ketuban tersisa

Plasenta susenturiata

Plasenta akreta, inkreta, perkreta

Perdarahan karena robekan

Episiotomy yang melebar

Robekan pada perineum, vagina, dan serviks

Rupture uteri

d.

Pembekuan Darah

Trombosit

Faktpr koagulasi

Vaskular

f. Apa faktor risiko dari Hemorragic Post partum (HPP)? (nanda, tiara, egyd)
g. Bagaimana mekanisme dari Hemorragic Post partum (HPP)? (elin, vini,
rizky)
Jawab :
h. Bagaimana fisiologi persalinan normal? (bunga, utin, dela)

Jawab :
Persalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi dengan
tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi,
yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
Kala I : waktu untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap
10cm.
Kala II : kala pengeluaran janin, sewaktu uterus dengan kekuatan his ditambah
kekuatan mengejan mendorong janin keluar hingga lahir.
Skema proses persalinan:
His (kontraksi uterus) otot-otot uterus menguncup uterus menjadi lebih
tebal, keras dan padat cavum uteri menjadi lebih kecil peningkatan
tekanan di dalam cavum uteri (tekanan hidrostatis amnion fluid dan tekanan
intrauterin meningkat) pergeseran serviks serviks mendatar
(effacement) dan membuka (dilatasi) pecahnya pembuluh darah kapiler di
sekitar canalis Cervicalis keluarnya lendir bercampur darah (bloody
show), apabila his sudah mencapai puncaknya kepala janin melintasi PAP
dan terfiksasi pada PAP (engagement) kepala janin turun dan masuk ke
dalam rongga panggul penekanan pada otot-otot dasar panggul refleks
mengejan kepala janin mengadakan fleksi maksimal di dalam rongga
panggul akibat tahanan dari jaringan di bawahnya kepala yang sedang
turun menemui diafragma pelvis yang berjalan dari belakang atas ke bawah
depan his yang berulang mengkombinasikan elastisitas diafragma
pelvis dan tekanan intrauterin kepala mengadakan rotasi interna (putaran
paksi dalam) di dasar panggul rotasi UUK akan berputar ke arah depan
sehingga di dasar panggul UUK berada di bawah simfisis pubis kepala
mengadakan

defleksi

sehingga

terjadi

ekspulsi

kepala

janin

(UUBdahimukadagu) kepala segera mengadakan rotasi eksterna


(putaran paksi luar) bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan
miring di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan
bentuk panggul yang dilaluinya ekspulsi total (lahirkan bahu
depanbahu belakangseluruh tubuhekstremitas) partus normal atau
partus spontan
i. Apa makna riwayat kelahiran saat ini pada kasus? (vini, tiara, egyd)

j. Bagaimana hubungan usia Ny. B dengan keluhan yang dialami?(alfreda, afif,


nanda)
Jawab :

Usia (43 tahun) berhubungan dengan proses degeneratif sehingga


terjadi penurunan fungsi uterus (daya kontraksi uterus menurun).

Jumlah kehamilan yang multiparitas (paritas tinggi) merupakan faktor


risiko terjadinya perdarahan postpartum karena jumlah pembuluh darah
uterus menurun sebagai akibat dari implantasi plasenta pada kehamilankehamilan sebelumnya.
k. Apa saja kriteria puskesmas rawat inap PONED? (rizky, elin, bunga)
Jawab :

Kriteria Puskesmas yang siap untuk ditingkatkan menjadi


Puskesmas mampu PONED:
a) Puskesmas rawat inap yang dilengkapi fasilitas untuk pertolongan
persalinan, tempat tidur rawat inap sesuai kebutuhan untuk pelayanan
kasus obstetri dan neonatal emergensi/komplikasi.
b) Letaknya strategis dan mudah diakses oleh Puskesmas/Fasyankes non
PONED dari sekitarnya.
c) Puskesmas telah mampu berfungsi dalam penyelenggaraan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) dan tindakan mengatasi kegawatdaruratan, sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya serta
dilengkapi dengan sarana prasarana yang dibutuhkan.
d) Puskesmas telah dimanfaatkan masyarakat dalam/luar wilayah
kerjanya sebagai tempat pertama mencari pelayanan, baik rawat jalan
ataupun rawat inap serta persalinan normal.
e) Mampu menyelenggarakan UKM dengan standar.
f) Jarak tempuh dari lokasi pemukiman sasaran, pelayanan dasar dan
Puskesmas non PONED ke Puskesmas mampu PONED paling lama 1
jam dengan transportasi umum mengingat waktu paling lama untuk
mengatasi perdarahan 2 jam dan jarak tempuh Puskesmas mampu
PONED ke RS minimal 2 jam.

Kriteria Puskesmas mampu PONED

a) Memenuhi kriteria butir 1.


b) Mempunyai Tim inti yang terdiri atas Dokter, Perawat danBidan sudah
dilatih PONED, bersertifikat dan mempunyai kompetensi PONED,
serta tindakan mengatasi kegawatdaruratan medik umumnya dalam
rangka mengkondisikan pasien emergensi/komplikasi siap dirujuk
dalam kondisi stabil.
c) Mempunyai cukup tenaga Dokter, Perawat dan Bidan lainnya, yang
akan mendukung pelaksanaan fungsi PONED di Puskesmas/ Fasyankes
tingkat dasar.
d) Difungsikan sebagai Pusat rujukan antara kasus obstetri dan neonatal
emergensi/komplikasi, dalam satu regional wilayah rujukan kabupaten.
e) Puskesmas telah mempunyai peralatan medis, non medis, obat-obatan
dan fasilitas tindakan medis serta rawat inap, minimal untuk
mendukung penyelenggaraan PONED (terlampir).
f) Kepala Puskesmas mampu PONED sebagai penanggungjawab
program harus mempunyai kemampuan manajemen penyelenggaraan
PONED
g) Puskesmas mampu PONED mempunyai komitmen untuk menerima
rujukan kasus kegawat-daruratan medis kasus obstetri dan neonatal
dari Fasyankes di sekitarnya.
h) Adanya komitmen dari para stakeholders yang berkaitan dengan upaya
untuk memfungsikan Puskesmas mampu PONED dengan baik yaitu:
RS PONEK terdekat baik milik pemerintah maupun swasta,
bersedia menjadi pengampu dalam pelaksanaan PONED di
Puskesmas
Kepala

Dinas

Kesehatan

kabupaten/kota

bersama

RS

kabupaten/kota dan RS PONEK terdekat dalam membangun


sistem rujukan dan pembinaan medis yang berfungsi efektifefisien.
Adanya komitmen dukungan dari BPJS Kesehatan untuk
mendukung kelancaran pembiayaan Upaya Kesehatan Perorangan
(UKP) dalam rangka Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Dukungan

Bappeda

dan

Biro

Keuangan

Pemda

dalam

pengintegrasian perencanaan pembiayaan Puskesmas mampu


PONED dalam sistem yang berlaku.
Dukungan Badan Kepegawaian Daerah dalam kesinambungan
keberadaan tim PONED di Puskesmas
Dukungan politis dari Pemerintah daerah dalam bentuk regulasi
(Perbup,

Perwali

atau

SK

Bupati

Walikota)

dalam

mempersiapkan sumber daya dan atau dana operasional, untuk


berfungsinya Puskesmas mampu PONED secara efektif dan
efisien.
Seluruh petugas Puskesmas mampu PONED melakukan pelayanan dengan
nilai-nilai budaya: kepuasan pelanggan adalah kepuasan petugas Puskesmas,
berkomitmen selalu memberi yang terbaik, memberi pelayanan dengan hati
(dengan penuh rasa tanggung jawab untuk berkarya dan berprestasi mandiri
bukan karena diawasi), peduli pada kebutuhan masyarakat, selalu
memberikan yang terbaik pada setiap pelanggan.

2.

Menurut bidan proses persalinannya lancar, plasenta yang dikeluarkan lengkap


tetapi rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif.
a. Apa makna proses persalinannya lancar, plasenta yang dikeluarkan lengkap
pada kasus? (utin,bunga, rizky)
Jawab :
Plasenta lahir lengkap

: Menandakan bahwa perdarahan yang terjadi

bukan karena plasenta yang tertinggal ataupun sisa plasenta yang tertinggal.
Perdarahan sebanyak 1 liter

Menandakan

terjadinya

perdarahan yang besar karena darah yang keluar lebih dari 500
ml.

b. Apa saja faktor risiko dari atonia uteri?(dela, elin, nanda)


Jawab :
Multiparitas
Kehamilan grande-multipara

Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis atau menderita penyakit
menahun.
Distensi uterus berlebihan
-

Kehamilan gemeli,

Janin besar,

Polihidramnion,

Distensi dengan bekuan.

Kelelahan miometrium
-

Partus lama (persalinan lama), partus kasep (persalinan kasep)

Partus presipitatus / partus terlalu cepat (persalinan cepat)

Stimulasi oksitosin atau prostaglandin

Infeksi intrauterin (korioamnionitis)

Anestesia atau analgesia


-

Agen anestetik berhalogen

Analgesia konduksi dengan hipotensi

Induksi Persalinan
Mioma uteri yang mengganggu kontraksi uteri.
Riwayat atonia uterus
c. Bagaimana mekanisme terjadinya atonia uteri?(tiara, alfreda, afif)
d. Apa makna rahim teraba lembek disertai perdarahan banyak dan aktif pada
kasus?(egyd, elin, rizky)
Jawab :
Makna rahim teraba lembek menunjukkan bahwa daya kontraksi uterus
inadekuat (Atonia uteri).

3.

Bidan telah mencoba menghentikan perdarahan dengan cara memberikan


suntikan obat, karena perdarahan tidak berhenti pasien dirujuk. Menurut bidan
perdarahan Ny. B banyak dan diperkirakan lebih dari 500 cc.
a. Apa makna diberikan suntikan obat tetapi perdarahan tidak berhenti?(vini,
dela, utin)

b. Apa kemungkinan obat suntikan yang diberikan oleh bidan untuk


menghentikan perdarahan?(afif, nanda, bunga)
Jawab :
Oksitosin injeksi 10 IU (1 ml)
Metil ergometrin maleat injeksi 0,2 mg (1 ml).
c. Apa makna perdarahan banyak lebih dari 500 cc?(alfreda, tiara, rizky)
Jawab :
Perdarahan sebanyak 1 liter menunjukkan bahwa ibu kehilangan darah lebih
dari 500 cc sudah termasuk kriteria perdarahan postpartum.

4.

Ny. B hanya sekali melakukan pemeriksaan ANC di klinik bersalin swasta yaitu
pada kehamilan 8 bulan karena tidak ada biaya. Pada saat itu, Ny. B terlihat
pucat dan lemas dan hasil pemeriksaan darah yaitu kadar Hb 8 g/dl. Bidan telah
menganjurkan untuk dirawat tapi Ny. B menolak.
a. Apakah ada hubungan dengan riwayat ANC satu kali dengan keluhan
sekarang?(nanda, dela, vini)
Jawab :

Tidak bisa mendeteksi dini kelainan yang diderita ibu dan janin

Tidak bisa memantau perkembangan janin

Sulit untuk melakukan perbaikan kondisi ibu atau janin jika terjadi
kelainan.

Meningkatnya angka mortalitas dan morbilitas ibu

b. Berapa kali sebaiknya melakukan pemeriksaan ANC dalam kehamilan?(elin,


utin, afif)
Jawab :
Salah satu tujuan pemeriksaan ANC untuk memantau kemajuan kehamilan
dan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. Jadi Ny.
YS ini melakukan pemeriksaan ANC hanya sekali bisa berdampak tidak

bisa mendeteksi dini kelainan yang diderita ibu dan janin, tidak bisa
memantau perkembangan janin, sulit untuk melakukan perbaikan kondisi
ibu atau janin jika terjadi kelainan, meningkatnya angka mortalitas dan
morbiditas ibu.

1.

KEBIJAKAN PROGRAM
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan

(Saifudin, 2006), yaitu:


1. Satu kali trimester pertama
2. Satu kali trimester kedua
3. Dua kali trimester ketiga.
KRITERIA KETERATURAN ANC

Pemeriksaan kehamilan di lakukan berulang-ulang dengan ketentuan


sbb :
1. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika
haidnya terlambat satu bulan.
2. Periksa ulang 1 x sebelum sampai kehamilan 7 bulan.
3. Periksa ulang 2 x sebulan sampai kehamilan 9 bulan.
4. Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
5. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.

c. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan ANC?(rizky, tiara, egyd)


Jawab :
)
(Timbang) berat badan
Ukuran berat badan dalam kg tanpa sepatu dan memakai pakaian yang
seringan-ringannya. Berat badan kurang dari 45 kg pada trimester III
dinyatakan ibu kurus kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan
lahir rendah.
2)
Ukur (tekanan) darah
Untuk mengetahui setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan
mengenali tanda-tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil
tindakan yang tepat dan merujuknya.
3)
Ukur (tinggi) fundus uteri
Pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk
memperkirakan usia kehamilan; serta bila umur kehamilan bertambah,
memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke

dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan


tepat waktu.
4)
Pemberian imunisasai (Tetanus Toksoid) TT lengkap.
Imunisasi ini berfungsi untuk mencegah tetanus neonatorum.Pemberian
imunisasi ini terdiri dari :
TT1 dapat diberikan pada kunjungan ANC pertama.
TT2 diberikan 4 minggu setelah TT1, lama perlindungan 3 tahun.
TT3 diberikan 6 bulan setelah TT2, lama perlindungan 5 tahun.
TT4 diberikan 1 tahun setelah TT3, lama perlindungan 10 tahun.
TT5 diberikan 1 tahun setelah TT4, lama perlindungan 25 tahun / seumur
hidup.
5)

6)

Pemberian (tablet besi) minimnal 90 tablet selama kehamilan


Tablet Fe dapat diberikan setelah rasa mual hilang.
Pemberian minimal 90 tablet selama kehamilan
(Tes) terhadap penyakit menular seksual
Melakukan pemantauan terhadap adanya PMS agar perkembangan

janin berlangsung normal.Aspek-aspek pelayanan :


7)

(Temu) wicara dalam rangka pensiapan rujukan.


Memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta

keluarganya tentang tanda-tanda resiko kehamilan.(Depkes RI, 2001:23)

d. Bagaimana interpretasi dari Hb 8 g/dl pada kasus?(bunga, alfreda)


Jawab :
Anemia gravidarum adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11
g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 g% pada trimester 2.
(Prawirohardjo, Sarwono, 2009:281)
e. Apa yang dimaksud dengan anemia dalam kehamilan? (utin, dela, tiara)
f. Apa saja penyebab pada anemia dalam kehamilan?(egyd, vini, afif)
Jawab :
1)
2)
3)
4)
5)

Penyebab anemia pada kehamilan :


Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin
Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil
Pola makan ibu terganggu akibat mual selama kehamilan
Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe)
Pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi.

Faktor Resiko Anemia pada Ibu Hamil


1)
Umur < 20 tahun atau > 35 tahun\
2)
Perdarahan akut
3)
Pekerja berat
4)
Makan < 3 kali dan makanan yang dikonsumsi kurang zat besi

g. Apa faktor risiko dari anemia dalam kehamilan? (alfreda, nanda, elin)
h. Bagaimana cara pencegahan agar tidak terjadi anemia dalam kehamilan?
(rizky, bunga, utin)
i. Bagaimana tatalaksana bila terjadi anemia dalam kehamilan?(dela, tiara,
egyd)
Jawab :
Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral.
Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi antara lain fero sulfat, fero
glukonat atau Na-fero bisitrat.
Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g/dl per
bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian
preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.
Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 20 g asam
folat untuk profilaksis anemia.
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg
(20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb
relatif lebih cepat yaitu 2 g/dl. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi
berupa intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat dan
kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk
mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 ml/im dan bila tidak ada reaksi dapat
diberikan seluruh dosis.
(Terapi besi oral 60 mg/hari, penyuluhan gizi pada ibu hamil dan
menyusui).
j. Apa hubungan anemia dengan Hemorragic Post partum (HPP)?(vini, afif,
alfreda)
Jawab :
Dampak anemia bagi ibu:

Perdarahan postpartum.
Dampak anemia bagi janin:
Berat Badan Lahir Rendah
Persalinan kurang bulan (prematur)
Bayi kecil untuk usia kehamilan (IUGR)
Pucat
Kehamilan peningkatan viskositas darah maternal, sistem vaskuler uterus
mengalami hipertrofi hebat serta kebutuhan oksigen + nutrisi meningkat
kompensasi tubuh ekspansi volume plasma dan peningkatan produksi
eritropoietin tetapi tidak seimbang ketidakseimbangan peningkatan volume
plasma dan eritrosit (volume plasma >>> eritrosit) + nutrisi inadekuat
hemodilusi (pengenceran) penurunan konsentrasi dan pembentukan
hemoglobin (Hb) oxygen carrying capacity oksigen lebih
diprioritaskan ke janin dan organ-organ vital maternal vasokontriksi
pembuluh darah perifer dan superfisial suplai oksigen ke jaringan
pucat.
Lemas
Kehamilan peningkatan viskositas darah maternal, sistem vaskuler uterus
mengalami hipertrofi hebat serta kebutuhan oksigen + nutrisi meningkat
kompensasi tubuh ekspansi volume plasma dan peningkatan produksi
eritropoietin tetapi tidak seimbang ketidakseimbangan peningkatan volume
plasma dan eritrosit (volume plasma >>> eritrosit) + nutrisi inadekuat
hemodilusi (pengenceran) penurunan konsentrasi dan pembentukan
hemoglobin (Hb) oxygen carrying capacity suplai oksigen ke otot
menurun metabolisme sel energi (ATP) yang dihasilkan lemas.

5.

Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : somnolen
Tanda vital : TD: 80/60 mmHg; N: 124x/menit, lemah, reguler, isi kurang; RR:
28x/menit; T: 360 C
Pemeriksaan spesifik:
Kepala: konjungtiva pucat

Thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal


Abdomen: hepar dan lien dalam batas normal
Ekstremitas: akral dingin
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik?(nanda,elin)
Jawab :
a) Pemeriksaan Spesifik

Keadaan umum: somnolen


Interpretasi : terjadi penurunan kesadaran

Tanda Vital:
-

TD

: 90/60 mmHg (Normal :120/80 mmHg )

Interpretasi : Hipotensi,
Syok kehilangan banyak volume darah venous return berkurang
stroke volume berkurang tekanan darah menurun (hipotensi)
-

: 124x/menit, (Normal : 60x/menit - 100x/menit)

Interpretasi : Takikardi
Syok kehilangan banyak volume darah kurang perfusi ke
jaringan baroreseptor kompensasi s. saraf simpatis
peningkatan denyut nadi (takikardi)
-

RR

: 28x/menit (Normal : 18x/menit 24x/menit)

Interpretasi : (meningkat)
Syok Kompensasi S. saraf simpatis peningkatan pernafasan
(takipnea)
-

: 360 C

Interpretasi : Normal

Pemeriksaan kepala : konjungtiva pucat


Interpretasi : Abnormal

Syok Kehilangan banyak vol. darah mempertahankan perfusi ke organ


vital suplai darah kepermukaan konjungtiva berkurang tampak pucat

Pemeriksaan thoraks: jantung dan paru-paru dalam batas normal


Interpretasi : Normal

Pemeriksaan abdomen: uterus lembek dan teraba setinggi pusat, hepar dan lien
tidak teraba
Interpretasi : uterus tidak berkontraksi lagi

Pemeriksaan ekstrimitas: akral dingin


Interpretasi :
Syok kehilangan banyak vol. darah vasokontriksi perifer aliran darah ke kulit
berkurang panas berkurang (dingin)

Pemeriksaan inseculo: robekan jalan lahir tidak ada, fluksus(+) darah, stolsel
(+)
Interpretasi :
fluksus (+) dan stolsel (+) menunjukkan abnormal
Tidak ada robekan jalan lahir menunujukkan perdarahan yang terjadi bukan
dikarenakan adanya robekan jalan lahir.
b. Bagaimana mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisik? (nanda,elin)
Jawab :
Somnolen: Suatu Kondisi dimana saat seseorang Tampak mengantuk
dan Kesadaran dapat Pulih Penuh bila di Rangsang.
Kehilangan banyak darah kurang perfusi ke jaringan otak

kompensasi somnolen
b) Tanda vital?
TD : 80/60mmHg (hipotensi)
kehilangan banyak vol. darah venous return < stroke volume <
tekanan darah < (hipotensi)
N: 124x/menit, lemah, regular, isi kurang (tacicardia)

kehilangan banyak vol. darah kurang perfusi ke jaringan baroreseptor

kompensasi s. saraf simpatis peningkatan denyut nadi (takikardi)


RR: 28x/menit (tacipnea)
kehilangan banyak vol. darah kurang suplai oksigen kompensasi s.s.

simpatis peningkatan f. napas (takipnea)


T: 36C (hipotermi)
kehilangan banyak vol. darah vasokontriksi perifer aliran darah ke kulit
< panas berkurang (hipotermi)

6.

Pemeriksaan Obstetri:
kontraksi uterus lembek dan teraba fundus uteri setinggi pusat
Inspekulo: fluksus (+) darah aktif, stolsel (+), robekan jalan lahir tidak ada
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan obstetri? (rizky, bunga)
Jawab :
Kontaksi uterus lembek dan teraba fundus uteri setinggi pusat : atonia uteri
Fluksus (+) darah aktif : perdarahan banyak dan aktif
Stolsel (+) : ada bekuan darah, menyingkirkan DD gangguan pembekuan
darah.
b. Bagaimana mekanisme abnormal dari pemeriksaan obstetri? (rizky, bunga)
Jawab :
Jawab:
Anemia
Gravidarum

Oxygen
carrying
capacity

Suplai nutrisi
dan oksigen ke
miometrum

Multiparita
s (P5A0)

Vaskularisasi
endometrium
terganggu

Usia 43
tahun

Degenerasi
sel
miometrium
elastisitas
dan
kolagen
miometrium
Miometriu
m kaku

Uterus teraba
lembek

Daya kontraksi
miometrium inadekuat
(Atonia Uteri)
Miometrium tidak
mampu menjepit
luka tempat
implantasi
Penjepitan
arteri spiralis
terganggu

Fluxus (+)
darah aktif

7.

HPP

Aktivasi
faktor
pembekuan

Stolsel
(+)

Pemeriksaan Laboratorium :
Hb: 6 g%, gol. Darah: B, rhesus (+), MCV: 70 sl, MCH: 25 pg, MCHC: 28 gr/l
leukosit: 10.000/ mm3 , Ht: 18 mg%.
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan laboratorium?(utin, dela)
Jawab :
Kasus
Hb 6 g/dl

Nilai normal
TM I > 11 g/dl

Interpretasi
Anemia

TM II > 10,5 g/dl


Golongan darah B

TM III > 11 g/dl


-

Golongan darah B
(digunakan pada

Resus (+)

transfusi darah)
Resus (+)
(digunakan pada

MCV 70 fl
MCH 25 pg
MCHC 28 gr/l
Leukosit 10.000/mm3
Ht 18 %

80-95 fl
27-34 pg
31-35 %
5.000-10.000/mm3
TM I > 33 %

transfusi darah)
Mikrositer
Hipokrom
Hipokrom
Borderline
Hematokrit

TM II > 32 %

menurun

TM III > 33 %
b. Bagaimana mekanisme abnormal dari pemeriksaan laboratorium?(utin, dela)
8. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini? (egyd, tiara)
9. Apa saja diagnosis banding pada kasus ini? (vini, afif)
10. Apa saja pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus ini? (nanda,
alfreda)
11. Apa working diagnosis pada kasus? (semua cari)
12. Bagaimana tatalaksana yang diberikan pada kasus ini ? promotif, preventif,
kuratif, rehabilitatif. (elin, rizky)
13. Apa saja komplikasi pada kasus ini jika tidak ditangani dengan tepat? (bunga,
utin)
Jawab :
Syok hipovolemik
Asidosis metabolik
Gangguan jantung
Kerusakan jaringan otak, ginjal dll (gagal organ multiple)
Henti jantung
Kematian
14. Bagaimana prognosis pada kasus ini? (Dela, tiara)
Jawab :
Ibu
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsional : dubia ad bonam


Janin
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsional : dubia ad bonam


15. Bagaimana kompetensi dokter umum dalam menangani kasus ini? (semua cari)
16. Bagaimana pandangan Islam yang terkait pada kasus ini? (semua cari)

2.4

Hipotesis
Ny. B berusia 43 tahun mengalami perdarahan setelah melahirkan spontan

pervaginam, rahim terasa lembek karena menderita atonia uteri et causa anemia
sedang.

2.5 Kerangka Konsep


Faktor risiko:

Sosial ekonomi rendah


Anemia
Usia 43 tahun

Tonus otot uterus


melemah
Tidak mampu menutup
perdarahan terbuka dari
tempat implantasi plasenta

Hemorragik Post
Partum (HPP) atau
atonia uteri

Syok hipovolemik

Anemia sedang

Pemenuhan nutrisi
berkurang