Anda di halaman 1dari 3

LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

1. Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung
dari masyarakat.
Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam
bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan
untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala
disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang
modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan
nilai sisa uang yang telah disepakati bersama
Perusahaan Modal Ventura, adalah badan usaha yang melakukan usaha
pembiayaan/penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan
pembiayaan (investee Company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk
penyertaan saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan atau
pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha
Anjak Piutang (Factoring) adalah suatu transaksi keuangan sewaktu suatu
perusahaan menjual piutangnya (misalnyatagihan) dengan memberikan suatu diskon.
Ada tiga perbedaan antara anjak piutang dan pinjaman bank. Pertama, anjak piutang
adalah pada nilai piutang, bukan kelayakan kredit perusahaan. Kedua, anjak piutang
bukanlah suatu pinjaman, melainkan pembelian suatu aset (piutang). Terakhir,
pinjaman bank melibatkan dua pihak, sedangkan anjak piutang melibatkan tiga pihak.
Pembiayaan Konsumen (consumer finance) adalah kegiatan pembiayaanuntuk
pengadaan
barang
berdasarkan
kebutuhankonsumen dengan
pembayaran
secara angsuran
Kartu Kredit (credit card)
Perdagangan Surat Berharga (Securitas Company)
2. Perusahaan Perasuransian adalah usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana
masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada
anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian
karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.
3. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang
menjanjikan manfaat pensiun.
4. Perusahaan Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha dan memiliki izin Otoritas
Jasa Keuangan sebagai Penjamin Emisi Efek (PEE), Perantara Pedagang Efek (PPE), dan
atau Manajer Investasi (MI).
5. Reksa Dana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor
untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumeninvestasi yang tersedia di Pasar dengan cara
membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer
Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar
uangataupun efek/sekuriti lainnya.
6. Perusahaan Penjamin adalah badan hukum yang bergerak di bidang keuangan dengan
kegiatan usaha pokoknya melakukan penjaminan kredit, dimaksudkan untuk membantu
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka mengakses pendanaan dari
perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
7. Perusahaan Pegadaian adalah sebuah BUMN di Indonesiayang usaha intinya adalah
bidang jasa penyalurankredit kepada masyarakatatas dasar hukum gadai

PERKEMBANGAN PERBANKAN DI INDONESIA

Periode 1988 - 1996

Dikeluarkannya paket deregulasi 27 Oktober 1988, antara lain berupa relaksasi ketentuan
permodalan untuk pendirian bank baru telah menyebabkan munculnya sejumlah bank umum
berskala kecil dan menengah. Pada akhirnya, jumlah bank umum di Indonesia membengkak
dari 111 bank pada Oktober 1988 menjadi 240 bank pada tahun 1994-1995, sementara jumlah
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) meningkat drastis dari 8.041 pada tahun 1988 menjadi 9.310
BPR pada tahun 1996.

Periode 1997 - 1998

Bank Indonesia, pemerintah dan jasa lembaga-lembaga internasional berupaya keras


menanggulangi krisis tersebut, antara lain dengan melaksanakan rekapilitasasi perbankan
yang menelan dana lebih dari Rp 400 triliun terhadap 27 bank dan melakukan
pengambilalihan kepemlikan terhadap 7 bank lainnya.
Langkah-langkah untuk menanggulangi krisis keuangan dan perbankan:

Penyediaan likuiditas kepada perbankan atau dikenal dengan Bantuan Likuiditas


Bank Indonesia (BLBI)
Merekapilitalisasi bank yang memiliki dampak yang signifikan terhdap
kebijakannya
Menutup bank yang bermasalah dan melakukan konsolidasi perbankan
Mendirikan lembaga khusus untuk menangani masalah yang ada di industri
perbankan seperti Bank Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
Memperkuat kewenangan Bank Indonesia dalam pengawasan perbankan melalui
penetapan Undang-undang No 23/1993

Periode 1999 - 2002

Krisis perbankan demikian parah pada kurun waktu 1997-1998 memaksa pemerintah dan
Bank Indonesia untuk melakukan pembenahan di sektor perbankan dalam rangka melakukan
stabilitas sistem keuangan dan mencegah terulangnya krisis.
Langkah yang dilakukan sehubungan dengan itu:
-

Memperkuat kerangka pengaturan dengan menyusun rencana implementasi yang


jelas untuk memenuhi 25 Basel Core Principles For Effective Banking
Supervision yang menjadi standard internasional
Meningkatkan infrastruktur sistem pembayaran dengan mengembangkan Real
Time Gross Settelements (RTGS)
Menerapkan bank guarantee scheme untuk melindungi simpanan masyarakat
Merekstrukturisasi kredit macet
Melaksanakan program privatisasi dan divestasi untuk bank BUMN dan bank
yang direkap
Meningkatkan persyaratan modal bagi pendirian bank baru

Periode 2002 - sekarang

Bebagai perkembangan positif pada sektor perbankan sejak dilaksanakannya program


stabilisasi antara lain tampak pada pemberian kredit yang mulai meningkat pada inovasi
produk yang mulai berjalan, seperti pengembangan produk derivatif, serta kerjasama produk
dengan lembaga lain.