Anda di halaman 1dari 14

3

BAB II
KONSEP TEORI

A. Konsep Penuaan
1. Pengertian Penuaan
Menua adalah suatu proses menghilangkan secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang
diderita (Darmojo, 2000).
Proses penuaan adalah siklus yang ditandai dengan menurunnya
berbagai fungsi organ tubuh karena bertambahnya umur. Umumnya proses
penuaan dapat terlihat jelas dari garis-garis kerutan di permukaan kulit, baik
kulit wajah maupun kulit dibagian tubuh lainnya. Proses penuaan bisa
berlangsung lebih cepat apabila tubuh tidak cukup mendapatkan asupan nutris
dan vitamin. Selain itu cepatnya proses penuaan dipengaruhi juga oleh
perawatan dan kondisi kesehatan fisik dan psikis seseorang ( Bambang
Sudewo, 2009).
2. Teori dan Proses Menua (Aging Process)
Menurut R Siti Maryam (2008), teori yang berkaitan dengan proses
penuaan yaitu teori biologi, teori psikologis, teori social dan teori spiritual.
a. Teori Biologi
Teori biologi mencakup teori genetik dan mutasi, immunology
slow theory, teori stress ,teori radikal bebas dan teori rantai silang.

1) Teori genetik dan mutasi


Menurut teori genetik dan mutasi, menua terprogram secara
genetik. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan molekul DNA
dan sel pada saatnya akan mengalami mutasi, sebagai contoh yang
khas adalah mutasi dari sel sel kelamin (terjadi penurunan fungsi
sel). Terjadi pengumpulan pigmen atau lemak dalam tubuh yang
disebut teori akumulasi dari produk sisa, sebagai contoh adalah adanya
pigmen lipofusin di sel otot jantung dan susunan saraf pusat pada
lansia yang mengakibatkan terganggunya fungsi pada sel itu sendiri.
Pada teori biologi dikenal sebagai istilah pemakaian dan
perusakan yang terjadi karena kelebihan usaha dan stress yang
menyebabkan sel-sel tubuh menjadi lelah (pemakaian). Pada teori ini
juga didapatkan terjadinya peningkatan jumlah kolagen dalam tubuh
lansia ,tidak ada perlindungan terhadap radiasi , penyakit dan
kekurangan gizi.
2) Immunology slow theory
Menurut teori ini, system imun tidak efektif dengan
bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh yang
menyebabkan kerusakan organ tubuh.
3) Teori stress
Teori stress mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya
sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat
mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan
stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

4) Teori radikal bebas


Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya
radikal bebas mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik
seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak
dapat melakukan regenerasi.
5) Teori rantai silang
Pada teori ini diungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang
sudah tua menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.
Ikatan ini mengakibatkan kurangnya elastisitas dan hilangnya fungsi
sel.
b. Teori Psikologis
Teori psikososial memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan
perilaku yang menyertai peningkatan usia, sebagai lawan dari implikasi
biologi pada kerusakan anatomis. Pada usia lanjut, proses penuaan
terjadi secara alamiah dan seiring dengan penambahan usia. Perubahan
psikologis dapat pula dihubungkan dengan mental dan keadaan
fungsional yang efektif. Adanya penurunan yang meliputi persepsi,
kognitif, memori dan belajar pada usia lanjut menyebabkan mereka sulit
untuk dipahami dan berinteraksi.
c. Teori Sosial
Teori sosial mencakup teori interaksi sosial (social exchange
theory), teori penarikan diri (disengagement theory), teori aktivitas
(activity theory), teori kesinambungan (continuity theory), teori
perkembangan (development theory), dan teori stratifikasi usia (age
stratification theory).

1) Teori interaksi sosial (social exchange theory)


Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada
situasi tertentu yaitu hal hal yang di hargai masyarakat. Pokok pokok
teori interaksi social antara lain :
a) Masyarakat terdiri atas actor-aktor social yang berupaya
mencapai tujuanya masing masing
b) Dalam upaya tersebut erjadi interaksi social yang memerlikan
biaya dan waktu
c) Untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai seseorang harus
mengelurkan biaya dan berusaha mencari keuntungan dan
mencegah terjadinya keruguian
2) Teori penarikan diri (disengagement theory)
Dalam teori ini, putusnya pergaulan atau hubungan dengan
masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya.
Dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari
pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga
sering terjadi kehilangan ganda (triple loss), yakni : kehilangan peran
(loss of role), hambatan kontak sosial (restriction of contacts and
relationship), dan berkurangnya komitmen (reduced commitment to
social mores and values) (Nugroho, 2002).
Pokok pokok teori menarik diri adalah sebagai berikut :
a) Pada pria, kehilangan peran hidup terutama terjadi pada masa
pension. Sedangkan pada wanita terjadi pada masa ketikan peran

dalam keluarga berkurang, missalnya saat anak beranjak dewasa


serta meninggalkan rumah untuk belajar dan menikah.
b) Lansia dan masyarakat mampu mengambil manfaat dari hal ini,
karena lansia dapat merasakan bahwa tekanan social berkurang
sedangkan kaum muda memperoleh kerja yang lebih luas.
c) Tiga aspek utama dalam teori ini adalah proses menarik diri yang
terjadi sepanjang hidup dan tidak dapat dihindari serta harus
diterima oleh lansia dan masyarakat.
3) Teori aktivitas (activity theory)
Pada teori ini menyatakan bahwa penuaan yang sukses
bergantung dari bagaimana seorang lansia meraskan kepuasan dalam
melakukuan aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih
penting dibandingkan kuantitas dan aktivitas yang dilakukan. Dari satu
sisi aktivitas lansia dapat menurun akan tetapi dapat juga
dikembangkan misalnya peran lansia sebagai relawan.penerapan teori
aktivitas saNgat positif terhadap lansia karena memungkinkan para
lansia untuk berinteraksi sepenuhnya di masyarakat. bahwa sangat
penting bagi individu lanjut usia untuk tetap aktivitas dan mencapai
kepuasan hidup
4) Teori kesinambungan (continuity theory)
Teori ini mengemukakan adanya kesinmbungan dalam siklus
kehidupan lansia. Teori kontinuitas atau teori perkembangan
menyatakan bahwa kepribadiaan tetap sama dan perilaku menjadi
lebih mudah diprediksi seiring penuaan. Kepribadian dan pola perilaku
yang

berkembang

sepanjang

kehidupan

menentukan

derajat

keterikatan dan aktivitas pada masa lanjut usia. Pengalaman hidup

seseorang pada suatu saat merupkan gambaranya kelak saat dia


menjadi lansia. Hal ini dapat terlihat pada gaya hidup perilaku dan
hrapan seseorang ternyata tidak berubah meskipun dia telah menjadi
lansia.lansia tidak disarankan untuk melepas peran atau aktuf dalam
proses penuaan, tetapi pada pengalaman di masalalu lansia harus
memilih peran apa yang harus dipertahankan tu di hilangkan, peran
lansia yang hilang tak perlu diganti serta lansia berkesempatan untuk
memilih berbagai macam cara untyk beradaptasi.
5) Teori perkembangan (development theory)
Teori ini menekankan pentingya mempelajari apa yang telah
dialami oleh lansia pada sat muda hingga dewasa. Pada teori ini
terdapat 8 fase yaitu :
a) Lansia yang menerima apa adanya
b) Lansia yang takut mati
c) Lansia yang merasakn hidup penuh arti
d) Lansia yang menyesali diri
e) Lansia yang bertanggug jawab dengan merasakan kesetiaan
f) Lansia yang kehidupanya berhasil
g) Lansia yang mersa terlambat untuk memperbaiki diri
h) Lansia yang perlu menemukan integritas

diri melawan

keputusasaan
Dalam teori ini mengurakian 7 jenis tugas perkembangan
selama hidup yang harus dilaksanakan oleh lansia yaitu :

a) Penyesuaian terhadap penurunan kemampuan fisik dan psikis


b) Penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan
c) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan
d) Menemukan kepuasan hidup dalam berkeluarga
e) Penyesuaian diri terhadap kenyataan akan meninggal
f) Menerima diriya sebagai seorang lansia
6) Teori stratifikasi usia (age stratification theory).
Dua element penting dari teori ini adalah struktur dan prosesnya.
a) Struktur mencakup hal hal sebagai berikut : bagiamana peran dan
harapan menurut penggolongan usia, bagaimanakah penilaian
strata itu sendiri dan strata lainya, bagimanakah terjadinya
penyebaran peran dan kekeuasaan yang tak merata pada masing
masing strata yang didasarkan pada pengalamn lansia.
b) Proses mencakup hal hal sebgi berikut : bagaimanakah
menyesuaikan

keududkan

seseorang

degan

peran

yang

ada,bagaimanakah cara mengatur transisi peran secara berurutan


dan terus menerus
d. Teori spiritual
Komponen spiritual mengarah pada pengertian hubungan individu
dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti kehidupan. Di
dalam teori ini terdapat istilah kepercayaan yang diartikan sebagai suatu
bentuk pengetahuan dan cara berhubungan dengan kehidupan akhir.

10

Perkembangan spiritual pada lansia berada pada tahap prinsip cinta dan
keadilan.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua
Menurut Santoso(2009), faktor yang mempengaruhi proses menua
antara lain:
a. Faktor endogenik yaitu dari dalam tubuh manusia sendiri dengan
menuanya organ tubuh.
b. Faktor eksogenik yaitu pengaruh dari luar berupa gaya hidup, lingkungan,

social budaya, hereditas atau ketuaan genetic, nutrisi atau makanan,


pengalaman hidup, status kesehatan dan stress. Faktor ini dapat diubah
dengan bebagai cara agar manusia lebih sehat dan hidup sejahtera.
4. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia Secara Fisik
Menurut Siti Maryam (2008), perubahan fisik yang terjadi pada lansia
antara lain :
a. Sel : jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan
cairan intraseluler menurun.
b. Sistem pancaindra :
1) Pendengaran : presbiakusis, gangguan refles kontrol postural,
degenerasi korti, hilangnya neuron di kokhlea, elastisitas membran
vibrasi basiler menurun, akumulasi serumen meningkat, atrofi striae
vaskularis, degenerasi sel rambut di kanal semi sirkularis, penurunan
pendengaran.

11

2) Penglihatan : presbiopia, lensa kehilangan elastisitas dan kaku, otot


penyangga lensa lemah, ketajaman penglihatan dan daya akomodasi
dari jarak jauh atau dekat berkurang, lapang pandang menyempit.
3) Raba/ taktil : atrofi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut, liver
spot (pigmen coklat), tipis, berbercak, perabaan menurun.
4) Pengecap : hilangnya tanggap terhadap refleks batuk dan menelan,
lipatan suara menghilang, suara gemetar, nada meninggi, kekuatan
dan jangkauan menurun, atrofi dan hilangnya elastisitas otot dan
tulang rawan larings.
5) Penciuman : gangguan rasa membau.
6) Sistem

gastrointestinal

penurunan

intake,

kehilangan

gigi

(periodental disease), indra pengecap menurun (adanya iritasi kronis


selaput lendir, atrofi indra pengecap, hilangnya sensitivitas dari saraf
pengecap di lidah terutama rasa asin, asam, pahit), sensitivitas lapar di
lambung menurun, asam lambung menurun, waktu mengosongkan
lambung lama, peristaltik usus lemah hingga timbul konstipasi, fungsi
absorpsi lemah, liver mengecil, berkurangnya aliran darah, dan
menurunnya tempat penyimpanan lemak, produksi enzim pencernaan
menurun, disfagia, BB menurun.
7) Sistem kardiovaskuler : massa jantung bertambah, ventrikel kiri
hipertropi, kemampuan peregangan jantung berkurang, perubahan
jaringan ikat dan penumpukan lipofusin dan klasifikasi SA node dan
jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat, konsumsi O2 pada
tingkat maksimal berkurang sehingga kapasitas paru menurun, katup
jantung menebal dan kaku, menurunnya kontraksi dan volume,

12

elastisitas pembuluh darah menurun, meningkatnya

resistensi

pembuluh darah perifer sehingga TD meningkat.


8) Sistem respirasi : kekuatan otot pernapasan menurun dan kaku,
elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga
menarik napas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun,
kemampuan batuk menurun, penyempitan pada bronkus.
9) Sistem endokrin : produksi hormon menurun, penurunan aktivitas
tiroid, hormon seksual dan fertilitas menurun, hormon pertumbuhan
menurun sehingga menimbulkan osteoporosis.
10) Sistem hematologi : sumsum tulang mengandung lebih sedikit sel
hemopoitik, respon regeneratif terhadap hilang darah atau terapi
anemia pernisiosa agak berkurang, timbul penyakit anemia defisiensi
besi, megaloblastik, anemia penyakit kronis.
11) Persendian : jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament, fasia
mengalami penurunan elastisitas, ligament dan jaringan periarkular
mengalami daya lentur, terjadi degenerasi, erosi, dan kalsifikasi pada
kartilago dan kapsul sendi, fleksibilitas sendi menurun sehingga luas
dan gerak sendi menurun, kaku sendi.
12) Sistem urogenital dan tekanan darah : terjadi penebalan kapsula
bowman, gangguan permeabilitas terhadap solut yang akan difiltrasi,
nefron mengalami penurunan jumlah dan timbul atrofi pada ginjal,
aliran darah di ginjal menurun, penebalan intima pada pembuluh
darah atau tunika media akibat aterosklerosis dan proses menua,
kelenturan pembuluh darah tepi meningkat sehingga menyebabkan
tekanan darah sistolik meningkat.

13

13) Sistem persyarafan : berat otak menurun, meningen menebal,


degenerasi pigmen substantia nigra, parkinson dan demensia,
vaskularisasi otak menurun, tia, stroke, gangguan persepsi analisis
berkurang, memori jangka panjang dan pendek menurun, lebih egois
dan introvert kaku dalam memecahkan masalah, gangguan merasa
panas, dingin, nyeri.
14) Sistem integumen : kulit menipis, kering, fragil, berubah warna,
rambut menipis, beruban, kuku menipis, mudah patah, pertumbuhan
lambat, beralur, elastisitas kulit menurun, purpura senilis, bercak
campbell de morgan, berkurangnya bantalan akibat penurunan lemak
subkutan, degenerasi kolagen, atrofi epidermis, kelenjar keringat,
folikel rambut,perubahan pigmenter.
15) Sistem muskuloskeletal : cairan tulang menurun sehingga mudah
rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian kaku dan
membesar akibat atrofi otot, kram, tremor, tendon mengerut dan
mengalami sklerosis.
16) Sistem reproduksi :
Pada lansia wanita terjadi , menciutnya ovarium dan uterus,
atrofi pada payudara, menopouse, selaput lendir vagina menurun,
permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifat
sekresi menjadi alkali.
Pada lansia pria, testis masih dapat memproduksi spermatozoa
meskipun terjadi penurunan berangsur-angsur, dorongan seksual
menetap sampai usia di atas 70 tahun.

14

5. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia Secara Psikologi


Perubahan psikologis pada lansia sejalan dengan perubahan secara
fisiologis. Masalah psikologis ini pertama kali mengenai sikap lansia terhadap
kemunduran fisiknya (disengagement theory) yang berati adanya penarikan
diri dari masyarakat dan dari diri pribadinya satu sama lain. Lansia dianggap
terlalu lamban dengan daya reaksi yang lambat, kesigapan dan kecepatan
bertindak dan berfikir menurun
Menurut Darmojo (2006), perubahan perubahan yang terjadi pada
lansia secara psikologi, lansia dapat merasakan berbagai macam perasaan
diantaranya:
a. Kesepian
Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal
terutama jika lansia mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita
penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama
b.

pendengaran.
Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan
kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada
lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan

kesehatan.
c. Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu
diikuti dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu
episode depresi. Depresi juga dapat disebabkan karena stres lingkungan
dan menurunnya kemampuan adaptasi.
d. Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas
umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif,

15

gangguan-gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda


dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek
samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.
e. Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham
(curiga), lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya
atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang
terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial.
f. Sindroma Diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku
sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia
bermain-main dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang
dengan tidak teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat
terulang kembali.
6. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia Secara Sosial dan Ekonomi
Menurut Warsono (2010), Umumnya lansia banyak yang melepaskan
partisipasi sosial mereka, walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa.
Orang lanjut usia yang memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan
mengalami kepuasan. Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory.
Aktivitas sosial yang banyak pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya
kondisi fisik dan sosial lansia. Lanjut usia dengan keterlibatan sosial yang
lebih besar memiliki semangat dan kepuasan hidup yang tinggi, penyesuaian
serta kesehatan mental yang lebih positif dari pada lanjut usia yang kurang
terlibat secara social.
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan
yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain :
kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat
tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika

16

antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia
tersebut berusia 50 sampai 55 tahun.

Orang tua usia lanjut yang

perkawinannya bahagia dan tertarik pada dirinya sendiri maka secara


emosional lansia tersebut kurang tergantung pada anaknya dan sebaliknya.
Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal keuangan. Karena
lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau
tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Perubahan perubahan tersebut
pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang
akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka.
Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan seharihari.