Anda di halaman 1dari 6

TM

PENGARUH CHILLER PENDINGIN PADA KEKUATAN TARIK


PRODUK COR PROPELER
1

Hera Setiawan1*
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus
Kampus Gondang Manis, Po. Box. 53 Bae Kudus
*

Email: herasetiawan6969@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sifat mekanis produk cor propeler pada kapal
nelayan dengan material kuningan (brass) dan material alumunium melalui proses pembekuan
searah (unidirectional solidifications), sehingga dihasilkan struktur columnar dendrite pada
logam. Pengecoran dilakukan dengan pasir cetak (sand casting) dan proses peleburan logam
dilakukan pada dapur crusible dengan bahan bakar minyak. Teknik pembekuan searah
dilakukan dengan pendinginan logam cor dengan chiller pendingin yang dialiri air dengan
dorongan pompa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa teknik pembekuan searah
dengan chiller pendingin dapat meningkatkan kekuatan tarik material.
Kata kunci: chiller, kuningan, pembekuan searah, propeler

1. PENDAHULUAN
Dari hasil penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa teknik pembekuan searah dapat
dilakukan pada pengecoran dengan pasir cetak dengan chiller pendingin dan menghasilkan struktur
mikro columnar dendrite pada material kuningan (Setiawan, 2013).

Gambar 1. Produk propeler untuk kapal nelayan dari UMKM Juwana


Upaya meningkatkan kualitas produk menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan
daya saing produk. Produk yang berkualitas dihasilkan dari pemilihan bahan baku, penguasaan
teknik produksi, serta pengujian kualitas yang melekat. Salah satu metode untuk meningkatkan
kualitas produk cor adalah memperbaiki teknik produksi melalui proses pembekuan searah
(unidirectional solidification). Produk cor seperti baling-baling kapal, atau sudu-sudu turbin sangat
membutuhkan orientasi butir searah sehingga mampu menahan beban aksial dan memiliki kekuatan
mulur yang tinggi (Axmann,1983).
Proses pembekuan searah meningkatkan kekuatan tarik, kekuatan mulur (creep)
(Axmann,1983) dan kekuatan bending (Smith, 1967). Analisis perpindahan panas konduksi pada
proses pembekuan searah untuk paduan biner, pertumbuhan butir dimulai dari bagian tepi cetakan
logam sangat bergantung seberapa besar tahanan thermalnya (Chakraborty, 2008).
Struktur selular terjadi melalui proses pendinginan superkomposisi dengan bentuk butir
saling sejajar dan searah pertumbuhan kristal. Adanya gradien temperatur, bidang antar permukaan
menjadi kurang stabil dan cenderung tumbuh kearah lain. Proses ini berlangsung terus-menerus
akhirnya terbentuk sederetan struktur selular yang disebut juga struktur closed packed. Selular
dendrit terjadi bila gradien temperatur berkurang dan luas daerah pendinginan superkomposisi
semakin dominan, karakteristiknya akan berubah menjadi struktur dendrit. Bentuk selular dengan
ujung semi-lingkaran, berubah menjadi struktur dendrit dengan ujung berbentuk piramid dan
berbentuk kubah. Secara keseluruhan struktur selular dendrit membentuk cabang dari jaring-jaring
Prosiding PNES ke-2 Tahun 2014
Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang

yang saling berhubungan satu dan lainnya. Kolumnar-dendrit merupakan bentuk butir kristal yang
menyerupai cabang pohon. Struktur ini terjadi jika gradien temperatur pada permukaan coran
besar, misalnya pada pengecoran dengan cetakan logam (Surdia dan Saito, 1992). Struktur
equiaxed terjadi karena laju pendinginan yang tinggi, sehingga mudah terjadi makro segregasi.
2. METODE PENELITIAN
Diagram alir dari penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2 dibawah.

Gambar 2. Diagram alir penelitian


Material yang digunakan pada penelitian ini adalah kuningan dan alumunium, seperti yang
biasa digunakan UMKM atau industri logam di Juana Pati. Pengujian komposisi logam digunakan
untuk mengetahui kandungan unsur yang terdapat dalam logam dasar tersebut. Menggunakan
acuan diagram fase biner Cu-Zn untuk material kuningnan dan fase biner Al-Cu untuk material
alumunium, guna menentukan temperatur maksimal untuk mencapai titik liquidus. Hal ini
menghindari temperatur peleburan berlebih yang justru merusak cairan logam cor. Hal lain yang
sangat menentukan keberhasilan dari proses penelitian ini adalah mendesain cetakan dari bahan
pasir cetak dan alumina atau serbuk batu tahan api yang dicampur dengan binder pengikat,
termasuk menempatkan pipa pendingin (chiller) yang akan dialiri fluida pendingin.
3. DASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Komposisi Kimia Material
Tabel 1, tabel 2 dan tabel 3 dibawah menunjukkan komposisi kimia material yang digunakan
pada penelitian ini, dari hasil pengujian dengan spectrometer.
Tabel 1. Komposisi kimia kuningan pengujian tahap ke-1
Komposisi (%)
Cu
Sn
Pb
Zn
Ni
Fe
Si
Mn
Al
Cd
P
S
1
57,6500 0,9200 1,9400 38,5000 0,2490 0,6590 0,1000 0,0222 0,0007 0,0162 0,0000 0,0000
2
37,7100 0,8390 2,6700 55,4000 0,1130 0,0829 0,1120 0,0907 2,9100 0,3950 0,0109 0,0236
Mean 47,6800 0,8795 2,3050 46,9500 0,1810 0,3710 0,1060 0,0565 1,4554 0,2056 0,0055 0,0118
No.

ISBN xxx-xxx-xxxxx-x-x

TM

Tabel 2. Komposisi kimia kuningan pengujian tahap ke-2


Komposisi (%)
Cu
Sn
Pb
Zn
Ni
Fe
Si
Mn
Al
Cd
P
S
1
55,2000 0,8500 1,6500 41,1000 0,2590 0,5460 0,1200 0,0489 0,0299 0,0119 0,0000 0,0000
2
53,5200 0,5810 1,6800 42,9000 0,2440 0,5420 0,1510 0,0506 0,0000 0,0115 0,0000 0,0000
Mean 54,3600 0,7155 1,6650 42,0000 0,2515 0,5440 0,1355 0,0498 0,0150 0,0117 0,0000 0,0000
No.

Dari diagram fase biner Cu-Zn seperti yang terlihat pada gambar 3 dibawah, untuk material
kuningan dengan kandungan Zn 46,95% sampai dengan 42%, termasuk kuningan tipe + dengan
titik cair (liquid) sekitar 900oC. Temperatur ini dapat dijadikan acuan untuk proses peleburan
sehingga dapat dihindari temperatur peleburan berlebih yang justru merusak cairan logam cor
(Callister, 2000 dan Brown, 2001).

Gambar 3. Diagram fase biner Cu-Zn (46,95% Zn dan 42% Zn)


Tabel 3 dibawah menunjukkan komposisi kimia material alumunium propeler kapal yang
digunakan pada penelitian ini, seperti yang biasa digunakan pada UMKM atau industri logam yang
ada di Juwana Pati.
Tabel 3. Komposisi kimia alumunium propeler kapal

No.

Al
1 74,3800
2 68,0200
Mean 71,2000

Si
1,8600
3,2800
2,5700

Fe
0,3550
0,9800
0,6675

Cu
11,2000
12,2000
11,7000

Mn
0,7300
1,3900
1,0600

Mg
0,7460
0,0000
0,3730

Cr
0,9770
0,0312
0,5041

Komposisi (%)
Ni Zn Sn
0,1010 3,6900 0,8370
0,0005 0,0049 4,4700
0,0508 1,8475 2,6535

Ti
0,2540
0,2430
0,2485

Pb
4,4500
9,2500
6,8500

Be
0,0000
0,0000
0,0000

Ca
0,0872
0,0644
0,0758

Sr
0,0000
0,0000
0,0000

V
0,0000
0,1990
0,0995

Zr
0,3230
0,0000
0,1615

Dari tabel 3 diatas terlihat bahwa material adalah paduan alumunium yang digunakan
mengandung komposisi rata-rata kimia Al = 71,2 %, Cu = 11,7 % dan logam yang lain.

Gambar 4. Diagram fase biner Al-Cu


Prosiding PNES ke-2 Tahun 2014
Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang

Dari diagram fase biner Al-Cu seperti yang terlihat pada gambar 4 diatas, untuk alumunium
dengan kandungan 11,7 % Cu termasuk tipe + dengan titik cair (liquid) sekitar 640oC.
Temperatur ini dapat dijadikan acuan untuk proses peleburan sehingga dapat dihindari temperatur
peleburan berlebih yang justru merusak cairan logam cor.
3.5 Uji Tarik
Pengujian dilakukan menggunakan mesin Servopulser dengan pembebanan maksimum
sebesar 2000 kg. Ukuran spesimen uji tarik disesuaikan dengan standar JIS Z2201 seperti yang
terlihat pada gambar 9 dengan merubah panjang seksi uji (Lo) dari 12,5 mm menjadi 25 mm dan
tebal (t) dan lebar (w) seksi uji dari 3,1 mm menjadi sekitar 5 mm. Grafik Beban-Regangan hasil
uji tarik terlihat pada gambar 10.

Gambar 5. Dimensi dan foto spesimen uji tarik

Gambar 6. Grafik Beban-Regangan hasil uji tarik material kuningan

Gambar 7. Grafik Beban-Regangan hasil uji tarik material alumunium

ISBN xxx-xxx-xxxxx-x-x

TM

Data hasil pengujian tarik untuk material kuningan dan alumunium dapat dilihat pada tabel
4 dan tabel 5 seperti yang terlihat dibawah.
Tabel 4. Hasil Pengujian kekuatan tarik material kuningan

No.
1
2
3

Beban Mak
Tebal Lebar Luas Panj
P
t
w
Ao
Lo
(mm) (mm) (mm) (mm) (%)
(kg)
4,5 6,9 31,0500 25 25,90% 518
4,68 5,95 27,8460 25 28,60% 572
4,4 6,6 29,0400 25 34,00% 680

Kekuatan Tarik

(kg/mm) (MPa)
16,6828 163,5912
20,5415 201,4304
23,4160 229,6171

Naik
(MPa)
(%)
0,0000 0,00%
37,8392 23,13%
66,0258 40,36%

Tabel 5. Hasil Pengujian kekuatan tarik material alumunium

No.
1
2
3

Tebal
t
(mm)
4,65
4,45
4,45

Lebar
w
(mm)
5,95
5,75
5,92

Beban Mak
Luas Panj
P
Ao
Po
(mm) (mm) (%)
(kg)
27,6675 25 9,90% 198
25,5875 25 13,00% 260
26,3440 25 13,40% 268

Kekuatan Tarik

(kg/mm)
7,1564
10,1612
10,1731

Naik
(MPa)
(MPa)
(%)
70,1758 0,0000 0,00%
99,6408 29,4651 41,99%
99,7574 29,5816 42,15%

Dari tabel 4 dan tabel 5 diatas dapat dibuat grafik kekuatan tarik material seperti yang
terlihat pada gambar 8 dibawah. Teknik pembekuan searah dengan chiller pendingin dapat
meningkatkan kekuatan tarik pada proses pengecoran propeler kapal nelayan.

Gambar 8. Grafik kekuatan tarik material dan peningkatannya


4. KESIMPULAN
Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Teknik pembekuan searah dengan chiller pendingin dapat dilakukan pada proses pengecoran
propeler kapal nelayan, baik dengan material kuningan maupun material alumunium.
2. Teknik pembekuan searah dengan chiller pendingin dapat meningkatkan kekuatan tarik
material.
3. Masih perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang teknik dan metode pada pengecoran propeler
kapal nelayan, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Prosiding PNES ke-2 Tahun 2014
Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang

DAFTAR PUSTAKA
Axmann, W., (1983), Dynamic Directional Solidification, Workshop RWTH Aachen, pp.71-95.
Brown, JR. (2001). Foseco Non-Ferrous Foundrymans Handbook, Eleveth Edition, Oxford: ButterworthHeinemann.
Callister Jr.,W.D., (2000), Fundamentals of Materials Science and Engineering, Interactive e Text,
John Wiley & Sons, Fifth Edition, pp. 177 181.
Chakraborty, Suman, Dutta, Pradip, (2008), An analytical solution for conduction-dominated
unidirectional solidification of binary mixtures, Elsevier, pp. 123.
Setiawan, H., (2013), Pengujian Kekuatan Tarik, Kekerasan dan Struktur Mikro Produk Cor Propeler
Kuningan, Kudus: Jurnal SIMETRIS, Vol. 3 No. 1 April 2013.
Smith, L., and Beeley, P.R., 1967, Controlled directional solidification of steel, Leeds University,
pp.330-333.
Surdia, T dan Saito, S., 1992, Pengetahuan Bahan Teknik, P.T. Pradnya Paramitha, Jakarta, pp.
135.

ISBN xxx-xxx-xxxxx-x-x