Anda di halaman 1dari 101

EFEKTIFITAS TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI

PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL


HALUSINASI PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN
SENSORI PERSEPSI HALUSINASI
DI RS. JIWA PROF. HB SAANIN
PADANGTAHUN 2013
KEPERAWATAN JIWA
SKRIPSI

Oleh:
VIRGO FARESTI
09121368

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2013

EFEKTIFITAS TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI


PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL
HALUSINASI PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN
SENSORI PERSEPSI HALUSINASI
DI RS. JIWA PROF. HB SAANIN
PADANGTAHUN 2013

KEPERAWATAN JIWA
SKRIPSI

3
33 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

4
44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

2
22 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

4
44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

6
66 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6

7
77 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7

8
88 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

10

AX.

10101010101010101010101010101010
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat angka

kunjungan gangguan jiwa di wilayah Provinsi Sumatera Barat, Puskesmas


yang ada di wilayah kota Padang menempati urutan pertama yakni sebanyak
9.077 orang. Untuk urutan kedua Puskesmas yang ada di wilayah Pesisir
Selatan sebanyak 8.212 orang. Urutan ketiga Puskesmas yang ada di wilayah
50 Kota sebanyak 5.630 orang, rata-rata 30% halusinasi.
AY.RSJ. Prof. Dr. HB Saanin Padang adalah salah satu rumah sakit
jiwa yang ada di kota Padang, Rumah Sakit ini merupakan Rumah Sakit
UPTD Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat Kelas A dengan kapasitas
200 Tempat Tidur. Pada survei awal yang peneliti lakukan di RS jiwa Prof. Dr.
HB Saanin Padang pada tanggal 29 januari 2013 di ruang inap kurang dari
satu tahun, yang dirawat pada bulan oktober, November dan desember 79
pasien. Ruang melati ada 14 orang, ruang cendrawasih 39 orang,

ruang

flamboyant 8 orang, merpati 12 orang pasien dengan gangguan halusinasi.


AZ.

Menurut

Yosep

(2011),

faktor

penyebab

terjadinya

halusinasi adalah terdiri dari faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor
predisposisi terdiri dari faktor perkembangan, faktor sosio kultural, faktor
biokimia, faktor psikologis, faktor genetik dan pola asuh, sedangkan faktor
presipitasi dari halusinasi berupa perilaku.
BA.

Menurut Yosep

(2009),

dampak

dari

pasien

yang

mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa


membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan (risiko
mencederai diri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi jika halusinasi

11
11111111111111111111111111111111
sudah sampai fase ke IV dan ke V,di mana klien cenderung mengikuti
petunjuk sesuai isi halusinasi, kesulitan berhubungan dengan orang lain,
perilaku menyerang,, risiko bunuh diri dan membunuh, kegiatan fisik yang
merefleksikan isi halusinasi (amuk, agitasi, menarik diri), tidak mampu
merespons terhadap petunjuk yang komplek dan lebih dari satu orang
(Trimelia, 2011). Dalam kondisi seperti ini, harus dilakukan intervensi
terhadap pasien untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif,
yang dilakukan baik dsecara individu terhadap pasien halusinasi dengan
melakukan strategi pelaksana (SP) dan secara kelompok dengan menggunakan
terapi aktivitas kelompok (TAK).

12
12121212121212121212121212121212
CG.
CH.
4) Faktor psikologis
CI.
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung
jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini
berpengaruh pada ketidak mampuan klien dalam mengambil
keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih
kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
5) Faktor genetik dan pola asuh
CJ.
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang
diasuh

oleh

orang

tua

skizofrenia

cenderung

mengalami

skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga


menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit
ini.
b. Faktor presipitasi
1) Perilaku
CK. Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa
curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung,
perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil
keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak
nyata.

Menurut

Rawlins

dan

Heacock,

1993

mencoba

memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat


keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas
dasar unsure-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi
dapat dilihat dari lima dimensi yaitu:
CL.
2) Dimensi fisik

13

CM.

13131313131313131313131313131313
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi

fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan,


demam hingga delirium, intoksikasi alcohol dan kesulitan untuk
tidur dalam waktu yang lama.
3) Dimensi emosional
CN. Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem
yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.
Isi dari halusinasi dapat berupa pemerintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang peristiwa
tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap kekuatan tersebut.
4) Dimensi intelektual
CO. Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa
individu

dengan

halusinasi

akan

memperlihatkan

adanya

penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha


dari ego sendiri untuk melawan implus yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat
mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontol
semua prilaku klien.
5) Dimensi sosial
CP.
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam
fase awal dan comforting, klien menganggap bahwa hidup
bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan. Klien asyik
dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga

14
14141414141414141414141414141414
diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata.isi halusinasi
dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika
perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain
individu cenderung untuk itu. Oleh karena, aspek penting dalam
melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan
suatu

proses

interaksi

yang

menimbulkan

pengalaman

interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak


menyendiri

sehingga

klien

selalu

berinteraksi

dengan

lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.


6) Dimensi spiritual
CQ. Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan
kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktifitas
ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri.
Irama sirkardiannya terganggu, karena ia sering tidur larut malam
dan bangun saat siang. Saat terbangun merasa hampa dan tidak
jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam
upaya menjemput rejeki, menyalahkan lingkungan dan oorang lain
yang menyebabkan takdirnya memburuk.
CR.
3. Rentang Respon
CS.

Menurut

Trimelia

(2011),

Respons

neurobiologis

merupakan berbagai respons perilaku klien yang terkait dengan fungsi


otak. Gangguan respons biologis ditandai dengan gangguan sensori
persepsi halusinasi. Gangguan respons neurobiologist yang maladaptif
terjadi karena adanya:

15
15151515151515151515151515151515
a. Lesi pada area frontal, temporal dan limbik sehingga mengakibat kan
terjadinya gangguan pada otak dalam memproses informasi.
b. Ketidakmampuan otak untuk menyeleksi stimulus.
c. Ketidakseimbangan anatara dopamine dan neurotrasmiter lainnya.
CT.

Respons neurobiologist individu dapat diidentifikasikan

sepanjang rentang respons adaptif sampai malaadaptif, menurut stuart dan


laraia, 1998 adalah sebagai berikut:
CU.

Respon adaptif

Respon maladaptif
CV.
CW.
CX.

Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan
pengalaman
Perilaku sesuai
Hubungan sosial
harmonis

Pikiran kadang
menyimpang
Ilusi
Reaksi
emosional
berlebih/
berkurang
Perilaku ganjil
Menarik diri

Gangguan
proses
pikir/delusi/waham
Ketidakmampuan untuk
mengalami emosi
Ketidakteraturan
Isolasi sosial
Halusinasi

CY.
CZ.
DA.
DB.

Respon maladaptif:

a. Perubahan proses fikir adalah waham/delusi adalah suatu bentuk


kelainan pikiran (adanya ide-ide/ keyakinan yang salah).
b. Halusinasi adalah persepsi yang salah meskipun tidak ada stimulus
tetapi klien merasakannya.

16
16161616161616161616161616161616
c. Ketidakmampuan untuk mengalami emosi adalah terjadi karena klien
berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu, kalau tidak, hal ini
akan menimbulkan kecemasan.
d. Perilaku
tidak
terorganisir/ketidakteraturan

adalah

respons

neurobilogis yang mengakibatkan terganggunya fungsi-fungsi utama


dari system syaraf pusat, sehingga tidak ada koordinasi antara isi
pikiran,

perasaan

dan

tingkah

laku

(kataton,

meringis,

stereotipik,avolisi).
e. Isolasi sosial adalah ketidakmampuan untuk menjalin hubungan, kerja
sama dan saling tergantung dengan orang lain.
DC.
4. Proses terjadinya halusinasi
a. Tahap I (sleep disorder)
DD.
Fase awal individu sebelum muncul halusinasi
DE.
Karakteristiknya:
DF.Individu merasa banyak masalah, ingin menghindar dari orang
lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah
dan Maslah klien makin terasa sulit, karena berbagai stressor
terakumulasi (misal: putus cinta, dikhianati kekasih, di PHK, bercerai,
masalah dikampus dan lain-lain) setelah itu Masalah semakin terasa
menekan, support sistem kurang dan persepsi terhadap masalah sangat
buruk. Sulit tidur terus menerus sehingga terbiasa menghayal. Klien
menganggap

lamunan-lamunan

awal

tersebut

sebagai

upaya

pemecahan masalah.
b. Tahap II (comforting moderate level of anxiety)
DG.
Halusinasi bersifat menyenangkan dan secara umum
individu terima sebagai sesuatu yang alami.
DH.
Karakteristiknya:

17
17171717171717171717171717171717
DI. Individu mengalami emosi yang berlanjut, seperti adanya perasaan
cemas, kesepian, perasaan berdosa dan ketakutan. Individu mencoba
untuk memusatkan pemikiran pada timbulnya kecemasan dan pada
penenangan pikiran untuk mengurangi kecemasan tersebut. Individu
beranggapan bahwa pengalaman pikiran dan sensori yang dialaminya
dapat dikontrol atau dikendalikan jika kecemasannya bias diatasi.
(dalam tahap ini ada kecenderungan individu merasa nyaman dengan
hasilnya dan halusinasi bias bersifat semangat) Perilaku yang muncul
adalah menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan
bibirnya tanpa menimbulkan suara, gerakan mata cepat, respon verbal
lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.
c. Tahap III (condemning severe level of anxiety)
DJ. Halusinasi bersifat menyalahgunaan, sering mendatangi individu,
dan secara umum halusinasi menjijikkan
DK.
Karakteristiknya:
DL.
Pengalaman sensori individu menjadi sering datang dan
mengalami bias. Pengalaman sensori mulai bersifat menjijikkan dan
menakutkan.
DM.
Mulai merasa kehilangan kendali dan merasa tidak mampu
lagi mengontrolnya. Mulai berusaha untuk menjaga jarak untuk
menjaga jarak antara dirinya dengan objek yang sumber yang
dipersepsikan oleh individu. Individu mungkin merasa malu karena
pengalaman sensorinya tersebut dan menarik diri dari orang lain
denagn intensitas waktu yang lama. Perilaku yang muncul adalah
terjadi peningkatan sistem syaraf otonom yang menunjukkan ansietas

18
18181818181818181818181818181818
atau kecemasan, seperti: pernafasan meningkat, tekanan darah dan
denyut nadi meningkat, konsentrasi menurun, dipenuhi dengan
pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk
membedakan antara halusinasi dan realita.
d. Tahap IV (controling severe level of anxiety)
DN.
Halusinasi bersifat mengendalikan,

fungsi

sensori

menjaditidak relevan dengan kenyataan dan pengalaman sensori


tersebut menjadi penguasa.
DO.
Karakteristiknya:
DP.Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol individu.
Klien mencoba melawan suara-suara atau sensory abnormal yang
datang. Klien menjadi tidak berdaya dan menyerah untuk melawan
halusinasi, sehingga memberikan halusinasi menguasai dirinya.
Individu mungkin akan mengalami kesepian jika pengalaman sensori
atau halusinasinya tersebut berakhir (dari sinilah dimulai fase
gangguan psikotik). Perilaku yang muncul: cenderung mengikuti
sesuai petunjuk sesuai isi halusinasi, kesulitan berhubunhan dengan
orang lain, rentang perhatian hanya beberapa detik/menit, gejala fisik
dari kecemasan berat, seperti: berkeringat, tremoe, ketidakmampuan
untuk mengikuti petunjuk.
e. Tahap V (conceuring panic level of anxiety)
DQ.
Halusinasi bersifat menakhlukkan, halusinasi menjadi lebih
rumit dan klien megalami gangguan dalam menilai lingkungannya.
DR.
Karakteristiknya:
DS.
pengalaman sensorinya menjadi
terganggu. Halusinasi berubah mengancam, memerintah, memarahi,
dan menakutkan apabila tidak mengikuti perintahnya, sehingga klien

19
19191919191919191919191919191919
mulai terasa terancam. klien merasa terpaku dan tidak berdaya
melepaskan diri, klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain dan
menjadi menarik diri. klien berada dalam dunia menakutkan dalam
waktu yang singkat atau bisa juga beberapa jam atau beberapa hari
atau selamanya/kronis (terjadi gangguan psikotik berat). perilaku yang
muncul adalah perilaku menyerang, risiko bunuh diri atau membunuh,
kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi (amuk, agitasi,menarik
diri), tidak mampu berespons terhadap petunjuk yang komplek dan
lebih dari satu orang (Trimelia, 2011).
5. Jenis-jenis Halusinasi
a. Halusinasi pendengaran (auditory)
DT.
Mendengar

suara

yang

membicarakan, megejek, menertawakan, megancam, memerintahkan


untuk melakukan sesuatu (kadang-kadang hal yang berbahaya).
DU.
Perilaku yang muncul adalah
mengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri,
marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit, dan
adagerakan tangan.
b. Halusinasi penglihatan (visual)
DV.

Stimulus penglihatan dalam bentuk

pancaran cahaya, gambar, orang atau panorama yang luas dan


kompleks, bisa yang menyenangkan atau menakutkan.
DW.
Perilaku yang muncul adalah tatapan
mata pada tempat tertentu, menunjuk ke arah tertentu, ketakutan pada
objek yang dilihat.
c. Halusinai penciuman (olfactory)

20

DX.

20202020202020202020202020202020
Tercium bau busuk, amis dan bau

yang menjijikkan, seperti bau darah, urine atau feses atau bau harum
seperti parfum.
DY.

Perilaku

yang

muncul

adalah

ekspresi wajah seperti mencium dengan gerakan cuping hidung,


mengarahkan hidung pada tempat tertentu, menutup hidung.
d. Halusinasi pengecapan (gustatory)
DZ.
Merasa mengecap sesuatu

yang

busuk, amis dan menjijikkan, seperti raa darah urine atau feses.
EA.
Perilaku yang muncul adalah seperti
mengecap, mulut seperti gerakan mengunyah sesuatu sering meludah,
muntah.
e. Halusinasi perabaan (taktil)
EB.

Menghalami rasa sakit atau tidak

enak tanpa stimulus yang terlihat, seperti merasakan sensasi listrik dari
tanah, benda mati atau orang. Merasakan ada yang menggerayangi
tubuh seperti tangan, binatang kecil atau mahluk halus.
EC.
Perilaku yang muncul

adalah

mengusap, menggaruk-garuk atau meraba-raba permukaan kulit,


terlihat menggerak-gerakkan badan seperti merasakan suatu rabaaan.
f. Halusinasi sinestetik
ED.
Merasakan fungsi tubuh, seperti
darah mengalir melalui vena dan arteri, makanan dicerna atau
pembentukan urine, perasaan tubuhnya melayang diatas permukaan
bumi.
EE.

Perilaku yang muncul adlah klien

terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat seperti merasakan


sesuatu yang aneh tentang tubuhnya (Trimelia, 2011).
EF.
6. Perilaku

21

EG.

21212121212121212121212121212121
Menurut Trimelia (2011), berikut adalah gangguan fungsi

yang akan berpengaruh pada perilaku klien dengan halusinasi:


a. Fungsi kognitif
1) Terjadi perubahan daya ingat
2) Sukar untuk menilai dan menggunakan memorinya, sehingga
terjadi gangguan daya ingat jangka panjang atau pendek
3) Menjadi pelupa dan tidak berminat
4) Perhatian terganggu, yaitu tidak mampu mempertahankan
perhatian, mudah berlatih dan konsentrasi buruk
5) Tidak mampu mengorganisasi dan menyusun pembicaraan yang
logis dan koheren, seperti berikut:
a) Kehilangan asosiasi, yaitu pembicaraan tidak ada hubungan
antara satu kalimat lainnya dank lien tidak menyadarinya
b) Tangensial, yaitu pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak
sampai pada tujuan
c) Inkoheren, yaitu pembicaraan yang tidak nyambung
d) Sirkumstansial, yaitu pembicaraan yang berbelit-belit tapi
sampai pada tujuan pembicaraan
e) Fligh of ideas, yaitu pembicaraan yang meloncat dari satu topic
lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai
pada tujuan
f) Blocking, yaitu pembicaraan berhenti tiba-tiba tanda tanpa
gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali
g) Perseverasi, yaitu pembicaraan yang diulang berkali-kali.
b. Fungsi emosi (mood dan afek)
1) Mood adalah suasana emosi yang mempengaruhi kepribadian
dan fungsi kehidupan
2) Afek adalah eksprsi emosi, seperti ekspresi wajah, gerakan
tubuh dan tangan, nada suara
3) Afek yang maladaptif adalah:
a) Afek tumpul, yaitu kurang respon emosional terhadap
pikiran/ pengalaman orang lain, seperti klien apatis

22
22222222222222222222222222222222
b) Afek datar, yaitu tidak tampak ekspresi suara menonton,
tidak

ada

keterlibatan

emosi

terhadap

stimulus

menyenangkan atau menyedihkan


c) Afek tidak sesuai, yaitu emosi yang tidak sesuai/
bertentangan dengan stimulus yang ada
d) Afek labil, yaitu emosi yang cepat-cepat berubah-ubah
e) Reaksi berlebihan, yaitu reaksi emosi yang berlebihan
terhadap suatu kejadian
f) Ambivalensi, yaitu timbulnya

dua

perasaan

yang

bertentangan pada waktu bersamaan.


c. Fungsi motorik
1) Agitasi adalah gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan
2) Tik adalah gerakan-gerakan kecil pada otot muka yang tidak
terkontrol
3) Grimasen adalah gerakkan otot muka yang berubah-ubah yang
tidak dapat dikontrol klien
4) Tremor adalah jari-jari yang tampak gemetar ketika klien
menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari
5) Kompilsif adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang
mencuci tangan, mencuci muka, mandi, mengeringkan tangan
dan sebagainya.
d. Fungsi sosial
1) Kesepian: seperti perasaan terisolasi, terasing, kosong dan
merasa putus asa, sehingga individu terpisah dengan orang lain
2) Isolasi sosial: terjadi ketika klien menarik diri secara fisik dan
emosional dari lingkungan. Isolasi klien tergantung pada
tingakat kesedihan dan kecemasan yang berkaitan dalam
hubungan dengan orang lain. Pengalaman hubungan yang tidak
menyenangkan menyebabkan klien menganggap hubungan saat
ini membahayakan. Individu merasakan terancam setiap

23
23232323232323232323232323232323
ditemani orang lain karena menganggap orang lain akan
mengontrolnya, mengancam atau menuntutnya. Oleh sebab itu
individu memilih tetap mengisolasi dari pada pengalaman yang
menyedihkan terulang kembali.
3) Harga diri rendah: individu mempunyai perasaan tidak
berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan
sehingga akan mempengaruhi hubungan interpersonal.
EH.
7. Kemampuan Mengontrol Halusinasi
EI.

Kemampuan dalam mengontrol halusinasi tiap pasien selalu

dipengaruhi keadaan individu yang mengalami suatu gangguan dalam


aktivitas mental seperti berfikir sadar. Orientasi realitas, pemecahan
masalah, penelitian dan pemahaman yang berhubungan dengan koping
(Stuart, 2006).
EJ.
EK.
Kemampuan klien mengontrol halusinasi yaitu: (Keliat, 2011)
a. Menghardik halusinasi
EL.Menghardik halusinasi adalah cara mengendalikan diri
terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul.
Pasien di latih untuk mengatakan tidak pada halusinasi yang muncul
atau tidak memperdulikan halusinasinya. Jika ini dapat dilakukan,
pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi
yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada, tetapi dengan kemampuan
ini, pasien tidak akan larut untuk menuruti halusinasinya. Berikut ini
tahapan intervensi yang dilakukan perawat dalam mengajarkan pasien:
1) Menjelaskan cara menghardik halusinasi
2) Memperagakan cara menghardik halusinasi

24
24242424242424242424242424242424
3) Meminta pasien untuk memperagakan ulang
4) Memantau penerapan cara menguatkan perilaku pasien
b. Bercakap-cakap dengan orang lain
EM.
Dapat mengontrol halusinasi. ketika pasien
bercakap-cakap dengan orang lain terjadi distraksi focus perhatian
pasien akan beralih dari halusinasi kepercakapan yang dilakukan
dengan oaring lain.
c. Melakukan aktivitas yang terjadwal, pasien tidak akan mengalami
banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasi.
oleh karena itu, halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas
secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi
perawat dalam memberikan aktivitas yang terjadwal yaitu:
1) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi
halusinasi
2) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan pasien
3) Melatih pasien melakukan aktivitas
4) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang
telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai dari bangun pagi
sampai tidur malam
5) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberikan penguatan
terhadap perilaku pasien yang positif
d. Meminum obat secara teratur. minum obat secara teratur dapat
mengontrol halusinasi. pasien juga dilatih untuk minum obat secara
teratur sesuai dengan program terapi dokter. Pasien gangguan jiwa
yang dirawat dirumah sering mengalami putus obat sehingga pasien
mengalami kekambuhan. Berikut ini intervensi yang dapat dilakukan
perawat agar pasien patuh minum obat:
1) Jelaskan kegunaan obat
2) Jelaskan akibat jika putus obat
3) Jelaskan cara mendapatkan obat atau berobat

25
25252525252525252525252525252525
4) Jelaskan cara minum obat dengan prinsip 6 benar (benar obat,
benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis, benar
pendokumentasian)
EN.
EO.
8. Penilaian Kemampuan Klien dengan Mengenal Masalah Halusinasi
EP.

Nama klien

EQ.

Ruangan

ER.

Nama perawat :

ES.Petunjuk pengisian:
1. Beri tanda jika pasien mampu melaksanakan kemampuan dibawah ini
2. Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervise (Keliat, 2011)
ET.
N

EU.

Kemampuan

EV. EW. EX. EY. EZ. FA. FB.


S
S
S
S
S
S
S
FE. FF. FG. FH. FI.
T
T
T
T
T

FL.
A

FM.

FJ.
T

FK.
T

Pasien

FN. FO.
Mengenal jenis
1
halusinasi

FP. FQ. FR. FS. FT. FU. FV.

FW. FX.
Mengenal isi
2
halusinasi

FY. FZ. GA. GB. GC. GD. GE.

GF.
3

GH. GI. GJ. GK. GL. GM. GN.

GG.
Mengenal
waktu halusinasi

GO. GP.Mengenal frekuensi


4
halusinasi

GQ. GR. GS. GT. GU. GV. GW.

26

GX. GY.
Mengenal
5
situasi yang
menimbulkan
halusinasi
HG. HH.
Menjelaskan
6
respon terhadap isi
halusinasi
HP. HQ.
Mampu
7
menghardik halusinasi

26262626262626262626262626262626
GZ. HA. HB. HC. HD. HE. HF.

HI. HJ. HK. HL. HM. HN. HO.

HR. HS. HT. HU. HV. HW. HX.

HY. HZ.
Mampu
8
bercakap-cakap jika
terjadi halusinasi
IH. II. Membuat jadwal
9
kegiatan harian

IA. IB. IC. ID. IE. IF.

IG.

IJ.

IK. IL. IM. IN. IO. IP.

IQ.
1

IR. Melakukan kegiatan


harian sesuai jadwal

IS.

IT. IU. IV. IW. IX. IY.

IZ.
1

JA. Menggunakan obat


secara teratur

JB. JC. JD. JE. JF. JG. JH.

JI.
9. Tanda dan Gejala Halusinasi
JJ.

Menurut Stuart & Sundeen dan Carpenito (dalam Trimelia,

2011), data subyektif dan obyektif klien halusinasi adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai


Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
Gerakan mata cepat
Respon verbal lamban atau diam
Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan
Terlihat bicara sendiri
Menggerakkan bola mata dengan cepat
Bergerak seperti membuang atau mengambil sesuatu
Duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba berlari ke ruangan lain
Disorientasi (waktu, tempat, orang)
Perubahan perilaku dan pola komunikasi
Gelisah, ketakutan, ansietas
Peka rangsang
Melaporkan adanya halusinasi
JK.

27
27272727272727272727272727272727
B. Terapi Aktivitas Kelompok
1. Pengertian
JL.

Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki

hubungan yang satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai
norma yang sama (Stuart & Laraia, 2001).
JM.

Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang

dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu


ama lain yang telah terlatih (Yosep, 2011).
JN.

Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien

ditemui dalam rangka waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi


persyaratan tertentu (Keliat, 2004).
JO.
2. Tujuan Terapi Kelompok
JP.

Menurut Yosep (2011), Terapi kelompok mempunyai tujuan

therapeutic dan rehabilitasi


a. Tujuan umum
1) Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing)
2) Membentuk sosialisasi
3) Meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran
tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan
perilaku defensive (bertahan terhadap stress) dan adaptasi
4) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis
seperti kognitif dan afektif.
b. Tujuan khusus
1) Melatif pemahaman identitas diri
2) Peyaluran emosi
3) Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan
sehari-hari

28
28282828282828282828282828282828
4) Bersifat rehalibitatif: pasien-pasien reehalibitatif adalah mereka
yang telah sembuh secara medis, tetapi perlu diiapkan fungsi dan
kemampuan untuk mandiri dan sosial ditengah masyarakat. Dari
segi rehalibitasi terapi kelompok bertujuan meningkatkan empati,
dan meningkatkan rampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan
empati, dan meningkatkan pengetahuan tentang masalah-masalah
kehidupan dan pemecahannya.
3. Komponen Terapi Aktivitas kelompok (TAK)
JQ.

Menurut keliat dan akemat (2004), komponen terapi

aktivitas kelompok adalah:


a. Struktur kelompok
JR. Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi,
proses pengambilan keputusan, dan hubungan otoritas dalam
kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu
mengatur pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur
dengan adanya pemimpin dan anggota arah komunikasi dipandu oleh
pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
b. Besar kelompok
JS. Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok
yang kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jumlah
anggota kelompok kecil menurut Stuart dan Laraia (2001) adalah 7-10
orang.
c. Lamanya sesi
JT. Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi
fungsi kelompok yang tinggi.
d. Komunikasi

29
29292929292929292929292929292929
JU. Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting
adalah mengobservasi dan menganalisis pola komunikasi dalam
kelompok.
e. Peran kelompok
JV. Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi dalam
kelompok. Ada tiga peran dan fungsi kelompok yang ditampilkan
anggota kelompok dalam kerja kelompok, yaitu (Beme & sheats, 1948
dalam Stuart & laraia, 2001) maintenance roles, task roles, yaitu focus
pada penyelesaian tugas. Individual roles adalah self-centered dan
distraksi pada kelompok.
f. Kekuatan kelompok
JW.Kekuatan (power) adalah kemampuan anggota kelompok
dalam memengaruhi berjalannya kegiatan kelompok.
g. Norma kelompok
JX.
Norma adalah standar perilaku yamg ada dalam kelompok.
h. Kekohesifan
JY. Kekohesifan adalah kekuatan anggota kelompok bekerja
sama dalam mencapai tujuan.
JZ.
4. Jenis-jenis Terapi Aktivitas Kelompok
KA.

Menurut Keliat (2004), Terapi aktivitas kelompok dibagi empat

yaitu:
a. Terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/ persepsi
KB.
Klien dilatih mempersepsikan stimulus

yang

disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Dengan proses ini,


diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan
menjadi adaptif. Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang
disediakan: artikel/ majalah/ buku/ puisi, menonton acara TV (ini
merupakan stimulus yang disediakan); stimulus dari pengalaman masa

30
30303030303030303030303030303030
lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptive atau
distruktif,

misalnya

kemarahan,

kebencian,

putus

hubungan,

pandangan negative pada orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih


persepsi klien terhadap stimulus.
b. Terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori
KC.
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris
klien. Kemudian diobsevasi reaksi sensori klien terhadap stimulus
yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi
wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien tidak mau mengungkapkan
komunikasi verbal akan testimulasi emosi dan perasaannya, serta
menampilkan respon. Aktivitasyang digunakan sebagai stimulus,
misalnya lagu kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus.
c. Terpai aktivitas kelompok orientasi realitas
KD.
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada
disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada disekeliling klien
atau orang yang dekat dengan klien, dan liungkungan yang pernah
mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan orientasi
waktu saat ini, waktu yang alu, dan rencana kedepan. Aktivitas dapat
berupa orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar, dan
semua kondisi nyata.
d. Terapi aktivittas kelompok sosialisasi
KE.
Klien dibabtu untuk melakukan sosialisasi dengan
individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan
secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok, dan
massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.
KF.
KG.
C. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi: Halusinasi
1. Pengertian

31

KH.

31313131313131313131313131313131
Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah

terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan


pengalaman dan/ atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok.
(Akemat, 2004).
2. Tujuan Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi: Halusinasi
KI.

Tujuan TAK stimulasi persepsi adalah klien mempunyai

kemampuan untuk menyelesaikan masalah, yang diakibatkan oleh paparan


stimulus kepadanya. Sementara, tujuan khususnya:
a. Klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya
dengan tepat
b. Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang
dialami
3. Kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok stimulasi persepsi: Halusinasi
KJ.

Menurut keliat dan akemat (2004), rangkaian kegiatan

dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: halusinasi terdiri dari


lima sesi, yaitu:
a. Sesi 1: kemampuan mengenal halusinasi
1) Menyebut isi halusinasi
2) Menyebut waktu terjadi halusinasi
3) Menyebut situasi terjadi halusinasi
4) Menyebut perasaan saat halusinasi
b. Sesi 2: kemampuan menghardik halusinasi
1) Menyebutkan cara yang sel ama ini digunakan mengatasi
halusinasi
2) Menyebutkan efektivitas cara
3) Menyebutkan cara mengatasi halusinasi dengan menghardik
4) Memperagakan menghardik halusinasi
c. Sesi 2: kemampuan mencegah halusinasi dengan melakukan kegiatan
1) Menyebutkan kegiatan yang bisa dilakukan
2) Memperagakan kegiatan yang bisa dilakukan
3) Menyusun jadwal kegiatan harian

32
32323232323232323232323232323232
4) Menyebutkan cara mengontrol halusinasi
d. Sesi 4: kemampuan bercakap-cakap untuk mencegah halusinasi
1) Menyebutkan orang yang diajak bicara
2) Memperagakan percakapan
3) Menyusun jadwal percakapan
4) Menyebutkan tiga cara mengontrol dan mencagah halusinasi
e. Sesi 5: kemampuan patuh minum obat untuk mencegah halusinasi
1) Menyebutkan 5 benar cara minum obat
2) Menyebutkan keuntungan minum obat
3) Menyebutkan akibat tidak patuh minum obat
KK.
KL.

Gangguan jiwa adalah adanya ganggua

KM.

BAB III

KN. KERANGKA
PENELITIAN
Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional
dengan ganguan
utama pada proses pikir serta disharmoni (ker
KO.
A. Kerangka Teori

isolasihalusinasi
sosial adalah
adalah
keadaan
salah satu
ketika
gejala
seseorang
gangguan
individu
jiwamengalami
pada indivi

KP.
KQ.
KR.

Menurut Yosep (2011), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah terdiri dari faktor predisposisi dan faktor presipit

KS.
KT.
KU.
KV.
KW.
KX.

36
36363636363636363636363636363636
KY.
KZ.
LA.
LB.
LC.
LD.
LE.
LF.
LG.
LH.
LI.
LJ.

37
37373737373737373737373737373737
B. Kerangka Konsep
Variabel Independen
LK.

Variabel independen adalah variabel bebas, yang menjadi

sebab dan yang mempengaruhi variabel dependen. Pada penelitian ini,


yang menjadi variabel indenpenden adalah terapi aktivitas kelompok
stimulasi persepsi: halusinasi. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait
dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk di diskusikan dalam
kelompok. (Akemat, 2004).

Tujuan terapi ini adalah agar klien

mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan


paparan stimulus kepadanya. Terapi aktivitas kelompok ini dapat
dilakukan dengan 5 sesi

yaitu: mengenal halusinasi, mengontrol

halusinasi dengan cara menghardik, mengontrol halusinasi dengan cara


melakukan kegiatan, mencegah halusinasi dengan cara bercakap-cakap,
mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat (Akemat, 2004).
LL.
Variabel Dependen
LM.

Variabel dependen adalah variabel tergantung, yang

menjadi akibat dan dipengaruhi oleh variabel independen. Pada penelitian


ini, yang menjadi variabel indenpenden adalah kemampuan mengontrol
halusinasi

Menurut Keliat (2011), kemampuan mengontol halusinasi

38
38383838383838383838383838383838
pada klien yaitu dengan bantu klien mengenal halusinasi, perawat dapat
berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang di dengar, apa
yang dirasa), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi,
situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan respon pasien saat
halusinasi muncul. Melatih pasien mengontrol halusinasi. Untuk
membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi perawat dapat
melatih pasien dengan empat cara yang sudah terbukti dapat
mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi: menghardik
halusiansi, berckap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas yang
terjadwal, minum obat secara teratur.
LN.
Variabel Independen
LO.
LP.
Terapi Aktivitas
LQ.
Kelompok Stimulasi
Persepsi; Halusinasi
LR.

Variabel dependen pre

Variabel

Kemampuan
mengontrol
dependen post
halusinasi

Kemampuan mengontrol
halusinasi

Frekuensi halusinasi
LS.

Frekeunsi halusinasi

LT.
LU.
C. Hipotesis Penelitian

39

LV. Ha

39393939393939393939393939393939
Ada perbedaan kemampuan mengontrol halusinasi antara

sebelum dan sesudah dilakukan terapi aktifitas kelompok stimulasi


persepsi; halusinasi.
LW.
LX.

BAB IV

METODE PENELITIAN
LY.

A. Desain Penelitian
LZ.Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental research
dengan one group pre-post tes yaitu satu kelompok subjek diobservasi
sebelum dilakukan intervensi kemudian diobservasi lagi setelah di intervensi.
Hal ini dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independent (terapi
aktivitas kelompok) terhadap variabel dependent (kemampuan mengontrol
halusinasi).
MA.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
MB.

Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dari tanggal 02

Juli sampai tanggal 06 Juli 2013 di ruang rawat inap cendrawasih RSJ. HB.
Prof. Saanin Padang pada bulan Juli 2013.
MC.
C. Populasi dan Sampel

39
39393939393939393939393939393939
1. Populasi
MD.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh klien yang

mengalami halusinasi di RSJ Prof. Saanin Padang, yang berjumlah 79


orang.
2. Sampel
ME.

Sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik

Quota sampling dimana peneliti mengambil responden dengan penetapan


berdasarkan kapasitas yang diperlukan. Sampelnya yaitu klien yang
mengalami halusinasi, sebelumnya peneliti terlebih dahulu menyeleksi
klien yang akan di ikut sertakan dalam terapi aktivitas kelompok, peneliti
melihat kondisi klien dimana klien harus dalam keadaan tenang dan klien
yang kooperatif yang

di rawat di ruang cendrawasih RS.J Prof. HB

Saanin Padang tahun 2013 yang berjumlah 14 orang, yang memenuhi


MF.

Kriteria inklusi:

a. Bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini


b. Klien yang dirawat di ruang cendrawasih RS.J Prof. HB Saanin
Padang
c. Klien dalam keadaan tenang
d. Klien yang kooperatif

40
40404040404040404040404040404040
MG.

Kriteria eklusi:

MH.

klien yang dalam keadaan tidak tenang/ dalam ruang isolasi

MI.
D. Variabel dan Defenisi Operasionel
MJ.

Variabel Independen: Terapi Aktivitas Kelompok: stimulasi

Persepsi
1. Variabel Indepen
MK.

Variabel intervensi dalam penelitian ini adalah terapi

aktivitas kelompok stimulasi persesi dengan melakukan terapi aktivitas


kelompok yang terbagi degan 5 sesi sehingga terjadi kemampuan
mengontrol halusinasi pada klien dengan gangguan sensori persepsi.
Dengan cara mengenal halusinasi, mengontrol halusinasi dengan cara
menghardik, mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan,
mencegah halusinasi dengan cara bercakap-cakap, mengontrol halusinasi
dengan cara patuh minum obat.
ML.
MM. Kerangka kerja:
MN.

Sebelum prosedur pre test dilakukan, peneliti terlebih

dahulu mempersiapkan tempat, kontrak waktu untuk dilakukan terapi


aktivitas kelompok, setelah itu peneliti menyeleksi dan mengumpulkan

41
41414141414141414141414141414141
klien yang memenuhi syarat untuk bisa di ikut sertakan dalam terapi
aktivitas kelompok dan langsung mengatur posisi untuk terpi aktivitas
kelompok.
a. Prosedur pre test
MO.

Tahap pre test dilakukan pada hari selasa tanggal 02

juli 2013 bertempat di ruangan cendrawasih RSJ Prof. HB Saanin


Padang, adapun tahap-tahap pada pretest adalah sebagai berikut:
1) Meberikan lembar persetujuan kepada klien untuk menandatangani
persetujuan bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
2) Sebelum peneliti memulai penelitian pada responden, peneliti
terlebih dahulu memperkenalkan diri, menanyakan nama panggilan
semua klien, terapis dan klien memakaikan papan nama,
menjelaskankan maksud dan tujuan penelitian.
3) Kemudian peneliti terlebih dahulu menanyakan berapa kali
frekuensi halusinasi yang dirasakan klien muncul dalam sehari
4) Peneliti mencatat hasil yang di dapatkan (frekuensi halusinasi
klien) kedalam format wawancara.
b. Intervensi (terapi aktivitas kelompok)
MP.

Tahap intervensi dilakukan tanggal 02 juli 2013

sampai tanggal 06 juli 2013 pada jam 10.30 WIB. Setelah peneliti

42
42424242424242424242424242424242
menanyakan frekuensi halusinasi pada responden, responden langsung
diberikan terapi aktivitas kelompok. Adapun langkah-langkahnya
sebagai berikut:
1) Peneliti menanyakan perasaan klien sebelum masuk kedalam tahap
kerja dan kontrak waktu,
2) Kemudian peneliti melakukan kontrak waktu selama 45 menit dan
menjelaskan aturan main pada klien
a) Pada tahap kerja sesi 1 yang dilakukan tanggal 02 juli 2013
pada jam 10.30 WIB ini peneliti sebagai therapis menjelaskan
kegiatan yang akan dilakukan yaitu mengenal suara-suara yang
didengar (halusinasi) tentang isi, waktu, situasi dan perasaan
klien saat

terjadinya

halusinasi, terapi

meminta klien

menceritakan halusinasi, dan memberi pujian kepada klien


yang melakukan dengan baik dan simpulkan isi, waktu, situasi
dan perasaan klien dari suara-suara yang didengar.
b) Kemudian pada sesi 2 yang dilakukan pada tanggal 03 juli
2013 pada jam 10.30 WIB peneliti sebagai therapis meminta
klien menceritakan apa yang dilakukan klien pada saat
mengalami halusinasi, sampai seluruh klien mendapat giliran
atau kesempatan untuk menceritakan dan beri pujian kepada
klien, setelah itu baru peneliti menjelaskan cara mengatasi
halusinasi dengan cara menghardik halusinasi pada saat muncul

43
43434343434343434343434343434343
dan langsung mempraktekkannya, setelah itu peneliti meminta
semua klien mempraktekkan cra menghardik halusinasi dan
memberikan pujian kepada klien setelah mempraktekkan cara
mengahardik halusinasi.
c) Kemudian pada sesi 3 yang dilakukan pada tanggal 04 juli
2013 pada jam 10.30 WIB peneliti menjelaskan cara ke kedua
yaitu melakukan kegiatan terjadwal dan jelaskan

dengan

melakukan kegiatan terjadawal secara teratur maka akan dapat


mencegah halusinasi timbul, setelah itu terapi meminta klien
menyampaikan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari dan
peneliti membagikan formulir jadwal kegiatan dan menulis
formulir yang sama di white boardm setelah itu peneliti
membimbing satu persatu klien untuk membuat jadwal
kegiatan

harian

klien

dan

peneliti

meminta

klien

memperagakan kegiatn yang telah dibuat dalam jadwal


kegiatan harian klien, lalu memberikan pujian kepada klien.
d) Pada sesi ke 4 yang dilakukan pada tanggal 05 juli 2013 pada
jam 10.30 WIB ini peneliti menjelaskan penting nya bercakapcakap dengan orang lain, dan meminta klien menyebutkan
nama teman yang biasa dijak untuk bercakap-cakap, lalu
meminta klien menyebut kan topik pembicaraan yang biasa
dilakukan, setelah itu peneliti langsung memperagakan contoh
cara bercakap-cakap dengan orang lain setelah itu penaliti

44
44444444444444444444444444444444
meminta klien memperagakan contoh yang telah peneliti
berikan yaitu bercakap-cakap dan memberikan pujian kepada
semua klien yang telah memperagakan contoh bercakap-cakap
tersebut.
e) Pada sesi ke 5 yang dilakukan pada tanggal 06 juli 2013 jam
10.30 WIB ini peneliti menjelaskan penting patuh meminum
obat, kerugian tidak patuh minum obat, peneliti meminta klien
untuk

menyampaikan

obat

yang

dimakan

dan

waktu

memakannya buat daftar di white board. Setelah itu peneliti


menjelaskan 5 cara minum obat yang benar dan meminta klien
menyebutkan kembali 5 cara minum obat yang benar lalu
memberikan

pujian

kepada

klien.

Kemudian

peneliti

mendiskusikan perasaan klien sebelum patuh minum obat, dan


setelah teratur minum obat, lalu mendiskusikan kentungan
patuh minum obat dan tidak patuh minum obat kemudian minta
klien mengulangi lagi apa yang telah di diskusikan dan peneliti
memberikan pujian kepada klien.
3) Peneliti menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK dan
memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.,
4) Peneliti mengevaluasi pada saat TAK berlangsung dengan bantuan
formulir evaluasi
5) Peneliti mendokumentasi kemampuan yang dimiliki klien

45
45454545454545454545454545454545
c. Tahap post test
MQ.

Setelah

peneliti

melakukan

terapi

aktivitas

kelompok stimulasi persepsi: halusinasi dari sesi1 sesi 5, kemudian


tanyakan lagi berapa kali frekuensi halusinasi yang di alami klien
muncul dalam sehari setelah itu masukkan lagi hasil frekuensi
halusinasi klien yang muncul dalam sehari kedalam format wawancara
klien.
MR.
MS.
2. Variabel Dependen
MT.

Variabel dependen adalah variabel tergantung, yang

menjadi akibat dan dipengaruhi oleh variabel independen. Pada penelitian


ini, yang menjadi variabel independen adalah kemampuan mengontroll
halusinasi.

MU. MV.
N
Variabe
l

MW.
D
efenisi

MX.
Alat
uku
r

MY.
Cara
ukur

MZ.
Hasil
Uk
ur

NA.
Ska
l
a
u
k
u
r

46
46464646464646464646464646464646
NB. NC.
1
Variabel
Inde
pend
en:
Tera
pi
Akti
vitas
Kelo
mpo
k
Stim
ulasi
Pers
epsi
ND.

NK. NL.
2
Variabel
depe
nden
t:
kem
amp
uan
men
gont
rol
halu

NE.
T
erapi
Aktivit
as
Kelom
pok
Stimula
si
Perseps
i
diterap
kan
pada
klien
halusin
asi
dengan
cara
melaku
kan
TAK
yang
terdiri
lima
sesi.
NF.
NM.
k
emamp
uan
mengo
ntrol
halusin
asi
dilihat
dimana
waktu
kondisi
keadaa

NG.

NH.

NI.

NJ.

NO.
Wawanc
ara

NP.Waw
ancar
a
denga
n cara
mena
nyaka
n
freku
ensi
halusi
nasi

NQ.
ma
mp
u,
apa
bil
a
fre
ku
ens
i

NS.
Ord
i
n
a
l

NT.

47
47474747474747474747474747474747
sinas
i

n klien
dapat
mengur
angi
frekuen
si
halusin
asinya
NN.

hal
usi
nas
ibe
rku
ran
g
set
ela
h
dil
ak
uk
an
TA
K
NR.
-tidak
ma
mp
u,
apa
bil
a
fre
ku
ens
i
hal
usi
nas
i
tid
ak
ber
kur
an
g

48
48484848484848484848484848484848
set
ela
h
dil
ak
uk
an
TA
K
NU.
NV.
E. Instrumen Penelitian
NW.

Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri, karena

peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati kemampuan mengontrol


halusinasi klien dengan menanyakan kepada klien berapa frekuensi sebelum
dilakukan terapa aktivitas kelompok dan berapa frekuensi klien setelah
dilakukan terapi aktivitas kelompok. Peneliti sebagai instrumen utama
memerlukan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa format
wawancara dimana alat-alat yang dipakai spidol/ papan tulis/whiteboard/
flipchart, pulpen, jadwal kegiatan harian klien, beberapa contoh obat.
NX.
F. Teknik Pengumpulan Data
NY.

Data Primer

49

NZ.

49494949494949494949494949494949
Data primer adalah data yang berhubungan dengan variabel

penelitian. Data yang diambil adalah terapi aktivitas kelompok pada klien
dengan gangguan halusinasi di RS.J Prof saanin Padang tahun 2013. Sebelum
dan sesudah diberikan terapi aktivitas kelompok apakah ada perubahan
kemampuan mengontrol halusinasi.Cara pengumpulan data. Data diambil
dengan cara melihat kemampuan mengontrol halusinasi

klien dengan

menggunakan format wawancara. Adapun langkah-langkah pengumpulan data


yaitu:
1. Meberikan lembar persetujuan kepada klien untuk menandatangani
persetujuan bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
2. Menanyakan frekuensi halusinasi klien sebelum dilakukan terapi aktivitas
kelompok
3. Melakukan terapi aktivitas kelompok
4. Meminta klien mencobakan kembali terapi aktivitas kelompok yang telah
dilakukan
5. Tanyakan kembali frekuensi halusinasi klien sesudah dilakukan terapi
aktivitas kelompok
6. Evaluasi tindakan klien dan dokumentasikan
OA.
G. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data
1. Pengolahan Data

50

OB.

50505050505050505050505050505050
Peneliti menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Editing (pemeriksaan data)


OC.

Peneliti mengumpulkan data yang telah diteliti lalu

diperiksa kembali untuk memastikan data semua sesi yang di lakukan


klien telah sesuai dengan tujuan penelitian, pemeriksaan kelengkapan
data serta memeriksa keseragaman data untuk memastikan bahwa data
telah bebas dari kesalahan.
b. Entri data
OD.

Data diolah peneliti secara komputerisasi dengan program

SPSS
c. Cleaning data
OE.

Setelah data diolah dengan komputerisasi ternyata data

yang diolah tidak perlu dilakukan perbaikan karena data yang


diperoleh tidak ada yang kosong atau kotor.
2. Analisa Data (Arikunto, 2005)
OF.

Setelah

data

terkumpul,

kemudian

peneliti

mengklarifikasikan dalam beberapa kelompok menurut variasi yang ada


sesuai variabel penelitian, dan jawaban responden dimasukkan dalam tabel

51
51515151515151515151515151515151
distribusi frekuensi, kemudian dideskripsikan dengan menggunakan skala
yang telah di tetapkan.
a. Analisa univariat
OG.

Analisa univariat digunakan untuk mendapatkan

gambaran distribusi frekuensi independen dan variabel dependen


sehingga dapat diketahui masing-masing variabel.
b. Analisa bivariat
OH.

Data yang terkumpul berupa nilai tes pertama dan

kedua. Tujuan peneliti adalah membandingkan dua nilai dengan


mengajukan pertanyaan apakah ada perbedaan antara kedua nilai
tersebut secara signifikan. Pengujian perbedaan nilai hanya dilakukan
terhadap rerata dua nilai saja, dan untuk kseperluan itu digunakan
teknik yang disebut dengan uji-t (t-test).
OI.

Uji T-dependen bertujuan untuk menguji hipotesa adanya

pengaruh terapi aktivitas kelompok terhadap kemampuan mengontrol


halusinasi pada klien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi. Analisa
data menggunakan uji T-dependen dengan melihat pengaruh terapi
aktivitas kelompok, bermakna p < 0,05.
OJ.
OK.

BAB V

HASIL PENELITIAN

49
49494949494949494949494949494949
OL.
OM.

Dari penelitian yang telah dilakukan tanggal 02 juli sampai tanggal

06 juli 2013 efektifitas penggunaan terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi


terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada klien dengan gangguan sensori
persepsi halusinasi di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang tahun 2013, dengan
karakteristik responden klien yang di rawat di ruang cendrawasih di RSJ. Prof.
HB. Saanin Padang dengan gangguan halusinasi dan klien dalam keadaan tenang.
Hasil penelitian ini dianalisis dengan analisis univariat dan uji T. Adapun hasil
dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Analisa Univariat
1. Gambaran Respon Klien Sebelum Melakukan Terapi Aktivitas Kelompok
ON.

OO.

Tabel 5.1

OP.
Kemampuan Responden dalam Mengontrol Halusinasi
Sebelum di Lakukan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Pada Klien dengan
OQ.
Gangguan Halusinasi di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang
OR.
tahun 2013.
OS.
OU.
Frekue
OT.
nsi muncul
N
OV.
F
OW.
%
halusinasi /
hari
OX.
OY.
7
OZ.
2
PA.14,3
1
PB.
PC.6
PD.
4
PE.28,6
2
PF.
PG.
5
PH.
5
PI. 35,8
3
PJ.
PK.
4
PL.1
PM.
7,1

50
50505050505050505050505050505050
4
PN.
5
PR.
6
PV.
7

PO.

PS. 2
PW.

PZ.Total
QB.
QC.

PP. 1

PQ.

7,1

PT. 1

PU.

7,1

PX.

QA.

14

PY.100

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa dari 14 responden

sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok yang frekuensi halusinasinya


paling banyak 5x satu hari yaitu 5 orang (35,8%).
2. Gambaran Respon Klien Sesudah Melakukan Terapi Aktivitas Kelompok
QD.

Tabel 5.2

QE.
Kemampuan Responden dalam Mengontrol Halusinasi
Sesudah di Lakukan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Pada Klien dengan
QF.
Gangguan Halusinasis di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang
QG.
tahun 2013.
QH.
QJ. Frekuensi
QI.
muncul
N
QK.
F
QL.
%
halusinasi /
hari
QM.
QN.
7
QO.
QP.1
QQ.
QR.
6
QS.
1
QT.
7,1
2
QU.
QV.
5
QW.
3
QX.
21,4
3
QY.
QZ.
4
RA.
5
RB.
35,8
4
RC.
RD.
3
RE.
4
RF.28,6
5
RG.
RH.
2
RI. 1
RJ. 7,1
6
RK.
RL.
1
RM.
RN.
-

51
51515151515151515151515151515151
7
RO.

Total

RP.14

RQ.

100 %

RR.
RS. Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa dari 14 responden
sesudah dilakukan terapi aktivitas kelompok yang frekuensi halusinasinya
paling banyak 4x satu hari yaitu 5 orang (35,8%).
RT.
RU.

52
52525252525252525252525252525252
B. Analisa Bivariat
RV.Efektivitas pemberian terapi aktivitas kelompok
RW.

Table 5.3

RX.

Diketahui Efektifitas Penggunaan Terapi Aktifitas Kelompok


Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi
Pada Klien
RY.
dengan Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi
RZ.
di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang
SA.
tahun 2013.
SB.
SE.Me
SH.
CI
an
SC.Tera
SF. (Ra
pi
SI. P
SO.
SD.
taSN.
Akti
SG.
v
Lo
Me
rat
Upp
fitas
S
al
w
a
a
e
Kelo
u
e
n
per
r
mpo
e
r
uba
k
han
)
SR.5
SQ.
,
SV.1
Pre test
1
ST.
SU.
,
SS. 1,2
SW.
4
0
0,81
6
SY.3
14
0,000
1
1
SX.
,
8
Post test
9
3
TE.
TF.
TG. Berdasarkan table 5.3 dapat dilihat dari uji T-dependen bahwa ratarata perubahan frekuensi halusinasi 1,214 dengan standar deviasi 0,699 dengan
confidence interval of diference 0,811 1,618 atau terjadi perubahan
penurunan frekuensi halusinasi 1 point setelah dilakukan terapi aktivitas

53
53535353535353535353535353535353
kelompok stimulasi persepsi dengan p value = 0,000, maka dapat disimpulkan
bahwa terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi efektif terhadap
kemampuan mengontrol halusinasi klien di ruang cendrawasih RSJ Prof. HB
saanin Padang.
TH.

BAB VI

TI. PEMBAHASAN
TJ.
A. Gambaran Respon Klien Sebelum Melakukan Terapi Aktivitas Kelompok
TK.
TL.Hasil wawancara dari 14 responden sebelum dilakukan terapi
aktivitas kelompok yang frekuensi halusinasinya paling banyak 5x satu hari
yaitu 5 orang (35,8%). Ini dilihat pada klien yang di rawat di ruang
cendrawasih RSJ. Prof. HB Saanin padang yang mengalami halusinasi.
TM.

Menurut penelitian Murjana W (2009), yang dilakukan di

rumah sakit jiwa propinsi bali, di dapatkan hasil bahwa sebelum dilakukan
terapi aktivitas kelompok pada pasien halusinasi, terdapat frekuensi halusinasi
tinggi.
TN.

Menurut

Yosep

(2011),

faktor

penyebab

terjadinya

halusinasi adalah terdiri dari faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor
predisposisi terdiri dari faktor perkembangan, faktor sosio kultural, faktor
biokimia, faktor psikologis, faktor genetik dan pola asuh, sedangkan faktor
presipitasi dari halusinasi berupa perilaku.

52

TO.

Menurut Yosep

52525252525252525252525252525252
(2009), dampak dari pasien yang

mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa


membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan (risiko
mencederai diri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi jika halusinasi
sudah sampai fase ke IV dan ke V, di mana klien cenderung mengikuti
petunjuk sesuai isi halusinasi, kesulitan berhubungan dengan orang lain,
perilaku menyerang, risiko bunuh diri dan membunuh, kegiatan fisik yang
merefleksikan isi halusinasi (amuk, agitasi, menarik diri), tidak mampu
merespons terhadap petunjuk yang komplek dan lebih dari satu orang
(Trimelia, 2011).
TP. Menurut analisa peneliti frekuensi yang datang tersebut disebabkan
karena klien merasa tidak di terima di lingkungannya, tidak patuh minum obat,
merasa terasing, lebih cenderung menyendiri, tidak mau bersosialisasi
sehingga klien asik dengan halusinasinya sendiri.
TQ.
B. Gambaran Respon Klien Sesudah Melakukan Terapi Aktivitas Kelompok
TR.

TS.Hasil wawancara dari 14 responden sesudah dilakukan terapi


aktivitas kelompok yang frekuensi halusinasinya paling banyak 4x satu hari
yaitu 5 orang (35,8%). Ini dilihat pada klien yang di rawat di ruang
cendrawasih RSJ. HB. Saanin padang yang mengalami halusinasi.
TT.Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian yang
dilakukan Megayanti S. D (2009) setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok

53
53535353535353535353535353535353
pada klien dengan gangguan halusinasi, klien mampu mempersepsikan
stimulus yang dipaparkan kepadanya dan dapat menyelesaikan masalah yang
datang dari stimulus yang dialaminya, sehingga klien mengalami penurunan
frekuensi halusinasi.
TU.
dilakukan

Menurut (Keliat,2005), dengan aktivitas yang telah


tersebut

sehingga

klien

mempunyai

kemampuan

untuk

menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya,


serta klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya
dengan tepat, klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus
yang dialami sehingga bila klien mampu mengontrol maka frekuensi
halusinasinya akan menurun.
TV.Menurut

analisa

peneliti

ferkuensi

halusinasi

mengalami

penurunan dikarenakan oleh pemeberian terapi aktivitas kelompok, sehingga


klien

dapat

menyelesaikan

masalah

yang

dialaminya

dan

mampu

mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya.


TW.
C. Efektivitas Pemberian Terapi Aktivitas Kelompok
TX.

Berdasarkan table 5.3 dapat dilihat dari uji T-dependen

bahwa rata-rata perubahan frekuensi halusinasi 1,214 dengan standar deviasi


0,699 dengan confidence interval of diference 0,811 1,618 atau terjadi
perubahan penurunan frekuensi halusinasi 1 point setelah dilakukan terapi
aktivitas kelompok stimulasi persepsi dengan p value = 0,000, maka dapat
disimpulkan bahwa terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi efektif

54
54545454545454545454545454545454
terhadap kemampuan mengontrol halusinasi klien di ruang cendrawasih RSJ
Prof. HB saanin Padang.
TY.Dari penelitian yang di dapatkan frekuensi halusinasinya sebelum
dilakukan terapi aktivitas kelompok yang paling banyak frekuensi 5x yaitu
35,8% dan setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok terjadi penurunan
frekuensi yang paling banyak 4x yaitu 35,8%.
TZ.Hasil penelitian ini hampir sama dengan hasil penelitian Simon T.
M tahun 2004 di RSJ Radjiman Widyoningrat Lawang di dapatkan perubahan
yang signifikan terhadap kemampuan mengenal realita pada pasien halusinasi
yang diberikan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi.
Penelitian yang dilakukan Sitohang L. G tahun 2010 di RSJ Provinsi Sumatera
Utara Medan juga menunjukkan hasil yang sama dimana didapatkan pengaruh
yang signifikan pelaksanaan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
halusinasi terhadap kemampuan pasien mengontrol halusinasi.
UA.

Pendapat Keliat, (2005), mendukung hasil penelitian

dimana penggunaan terapi aktifitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi dalam


praktek keperawatan jiwa memberikan dampak positif dalam upaya
pencegahan, pengobatan, atau terapi serta pemulihan kesehatan jiwa
seseorang. Meningkatnya penggunaan terapi modalitas merupakan bagian dan
memberikan hasil yang positif terhadap perilaku pasien. Proses terapi aktivitas
kelompok stimulus persepsi adalah merangsang atau menstimulasikan klien
melalui kegiatan yang disukainya dan mendiskusikan aktivitas yang telah
dilakukan untuk mencegah pencerapan panca indra tanpa ada rangsang dari

55
55555555555555555555555555555555
luar dan bertujuan membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain
serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptive dengan aktivitas
mengenal halusinasi, menghardik halusinasi, melakukan kegiatan terjadwal,
bercakap-cakap, patuh minum obat. Dengan aktivitas yang telah dilakukan
tersebut sehingga klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah
yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya, serta klien dapat
mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat, klien
dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami
sehingga bila klien mampu mengontrol maka frekuensi halusinasinya akan
menurun.
UB.

Dari penelitian yang dilakukan dengan 14 responden hanya

2 orang yang tidak mampu mengontrol halusinasinya dilihat dari tidak


berkurangnya frekuensi halusinasinya yaitu 3x setiap hari. Hal ini dikarenakan
klien tersebut frekuensi nya sudah sedikit dan klien termaksud klien lama yang
akan rawat jalan.
UC.

Menurt Akemat, (2004), tujuan terapi aktivitas kelompok

stimulasi persepsi adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan


masalah, yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya sementara tujuan
khususnya klien dapat mempersespsikan stimulis yang dipaparkan kepadanya
dengan tepat dan klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari
stimulus yang dialami.
UD.

Menurut Keliat, (2004), terapi aktifitas kelompok stimulasi

persepsi: halusinasi ada beberapa sesi yaitu: mengenal halusinasi, mengontrol

56
56565656565656565656565656565656
halusinasi dengan menghardik halusinasi, mengontrol halusinasi dengan
melakukan kegiatan, mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap,
mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat. Dalam terapi aktivitas
kelompok stimulasi persepsi klien dilatih mempersepsikan stimulus yang
disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Dengan proses ini, diharapkan
respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif,
aktivitas berupa stimulus dan persepsi.
UE.

Menurut analisa peneliti dengan terapi aktivitas kelompok

klien bisa berinteraksi dengan teman yang lain di dalam kelompok, ikut serta
di dalam terapi aktivitas kelompok, tidak menyendiri, bisa melakukan
kegiatan-kegiatan terjadwal yang bisa memotivasi klien untuk melupakan
halusinasinya, sehingga klien mampu mengontrol halusinasinya maka
frekuensi halusinasinya berkurang.
UF.BAB VII
UG.

KESIMPULAN DAN SARAN


UH.

A. Kesimpulan
UI. Dari penelitian yang telah dilakukan penulis mendapat kesimpulan
bahwa frekuensi halusinasi sebelum dilakukan terapi aktifitas kelompok
paling banyak adalah 5x yaitu 5 orang (35,8%) dan frekuensi halusinasinya
yang tidak ada 1x, setelah diberikan terapi aktifitas kelompok di RSJ HB.
Saanin padang mengalami penurunan frekuensi halusinasi menjadi 4x yaitu 5

57
57575757575757575757575757575757
orang (35,8%), pelaksanaan terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi
sangat efektif terhadap kemampuan mengontrol halusinasi klien di ruang
cendrawasih RSJ Prof. HB. Saanin padang tahun 2013 dengan p value =
0,000.
UJ.
B. Saran
1. Diharapkan klien mampu mengikuti terapi aktifitas kelompok stimulasi
persepsi secara mandiri, latihan menggunakan dalam kehidupan seharihari.
2. Bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagai data
dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya.
UK.
3. Diharapkan kepada perawat RSJ Prof. HB Saanin Padang untuk dapat
meningkatkan lagi penerapan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
halusinasi agar lebih baik lagi diterima oleh klien halusinasi. Karena terapi
aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi mampu mengontrol
halusinasi pada klien.
4. Diharapkan institusi pendidikan agar dapat mendukung penelitian ini dan
sebagai bahan masukan untuk menambah wawasan tentang kajian
kejiwaan khususnya terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
halusinasi.

58
58585858585858585858585858585858
UL.

59

UM.
UO.
UP.
UQ.

59595959595959595959595959595959
DAFTAR PUSTAKA

UN.
Arikunto, Suharsami. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta
Dadang Hawari. 2001. Pendekatan holistik pada gangguan jiwa,
skizofrenia. Jakata: FKUI

UR.
US. Herman, Ade. 2011. Buku Ajar Asuhan Jiwa. Yogyakarta: Nuhamedika
UT.
UU. Keliat, dkk. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
Rineka cipta
UV.
UW. Keliat, Budi Anna. Akemat. 2004. Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas
Kelompok. Jakarta: EGC
UX.
UY. Keliat, dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN
(Basic Course). Jakarta: EGC
UZ.
VA. Kompas. 2011. http:// health. Kompas.com/ 2012/ 02/ 06/ angka penderita
gangguan jiwa. Diakses 23 Desember 2012
VB.
VC. Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
rineka cipta
VD. Karmelia, Yessi 2012. http://repository.unand.ac.id/id/eprint/17870.
kemampuan mengontrol halusinasi. Diakses 11 april 2013
VE.
VF.
Stuart, GW, Sundeen S.j, Laraia. 2005. Principles Practice Psychiatric
Nursing. Sixth edition. St.Louis, Missiouri: Mosby Year Book
VG.
VH. Trimelia, S. 2011. Asuhan Keperawatan Klien Halusinasi. Jakarta: TIM
VI.
VJ.
Videbeck. L. Sheila. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
VK.
VL. W.E. Maramis. 2000. Ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: airlangga press
VM.
VN. Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Jakarta. Bandung: Refika aditama
VO.
VP.
Depkes RI. 2005. Keperawatan Jiwa. Jakarta: Dirjend Pelayanan Medik
Depkes RI
VQ.
VR.
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang. 2013. Buku Panduan Skripsi.
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
VS.
VT.
VU.

60
60606060606060606060606060606060
VV.

Lampiran 2

VW.
VX.

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

VY.

Kepada Yth,

VZ.

Calon Responden

WA.

Dengan Hormat,

WB.

Saya yang bertanda dibawah ini adalah mahasiswa STIKes

MERCUBAKTIJAYA Padang semester VII (ttujuh) tahun Ajaran


2008/2009 yang akan bermaksud akan mengadakan penelitian:
WC.

Nama : VIRGO FARESTI

WD.

Nim

WE.

: 09121368
Akan mengadakan penelitian dengan judul Efektifitas

Penggunaan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap


Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pada Klien Dengan Gangguan sensori
persepsi Halusinasi di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang 2013.
WF.

Penelitian tidak menimbulkan kerugian saudara/i sebagai

responden. Kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan


digunakan untuk kepentingn penelitian.
WG.

Apabila saudara/i menyetujui maka dengan ini saya mohon

kesediaan menandatangani lembaran persetujuan.


WH.

Atas perhatian saudara/i sebagai respoden, saya ucapkan

terima kasih
WI.
WJ.

Peneliti

WK.
WL.
WM. VIRGO FARESTI
WN.
WO.

61
61616161616161616161616161616161
WP.

Lampiran 3
WQ.

WR.

FORMAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Setelah membaca dan mendengarkan penjelasan pada lembaran

pertama dan saya mengerti bahwa penelitian ini tidak berakibat buruk pada saya
serta identitas dan informasi yang saya berikan dijaga kerahasiannya. Maka saya
bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
Mahasiswa MERCUBAKTIJAYA Padang yang bernama VIRGO FARESTI
dengan judul Efektifitas Penggunaan Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi
Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pada Klien Dengan
Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang 2013.
WS.

Demikian persetujuan ini saya buat semoga dapat dipergunakan

sebagaimana mestinya.
WT.
WU.

Padang, Maret 2013


WW.
WX.

Responden
WY.
WZ.

XA.

62
62626262626262626262626262626262
XB.
XC.

Lampiran 4
XD.

FORMAT WAWANCARA
XE.

XF.

XG.

Nama

XH.

Fr

responden

XI. Frekuensi

ekuensi

post

pre
XJ.
1

XK.

tn. W

XL.

XO.

tn. F

XS.

tn. B

XT.

XW.

tn. Y

YA.

tn. I

XM.

XQ.

XU.

XX.

XY.

YB.

YC.

YF.5

YG.

YJ. 6

YK.

XN.
2

XP.4

XR.
3
XV.
4
XZ.
5
YD.
6

YE.

tn. We

YH.
7

YI. tn. D

YL.
8

YM.

tn. Su

YN.

YO.

YQ.

tn. M

YR.

YS.

YT.

YU.

tn. M

YV.

YW.

YP.

63
63636363636363636363636363636363
1
YX.
1

YY.

tn. A

YZ.

ZA.

ZC.

tn. J

ZD.

ZE.3

ZG.

tn. H

ZH.

ZI. 4

ZK.

tn. S

ZB.
1
ZF.
1
ZJ.
1

ZL.2
ZN.
ZO.
ZP.
ZQ.
ZR.
ZS.
ZT.
ZU.
ZV.
ZW.
ZX.

ZY.

ZM.

64
64646464646464646464646464646464
ZZ.

Lampiran 5
AAA.
AAB.

Tabel 5.1

AAC.
Diketahui kemampuan mengontrol halusinasi sebelum di
berikan terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi pada klien
dengan gangguan halusinasi di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang tahun
2013.
AAD.
AAE. AAF.
Frekue
AAG.
Pre test
AAH.
%
N
nsi
AAI.
AAJ.
7
1
AAM. AAN.
6
2
AAQ.
AAR.
5
3
AAU.
AAV.
4
4
AAY.
AAZ.
3
5
ABC.
ABD.
2
6
ABG.
ABH.
1
7
ABK.
Total

AAK.

AAL.

14.3

AAO.

AAP.

28.6

AAS.

AAT.

35.8

AAW.

AAX.

7.1

ABA.

ABB.

7.1

ABE.

ABF.

7.1

ABI.

ABL.

14

ABJ.

101

ABM.
ABN.

Tabel 5.2

ABO.
Diketahui kemampuan mengontrol halusinasi sesudah di
berikan terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi pada klien
dengan gangguan halusinasis di RSJ. Prof. HB. Saanin Padang
tahun 2013.
ABP.

ABQ. ABR.
N

Frekue
nsi

ABS.

Pre test

ABT.

65
65656565656565656565656565656565
ABW.
ABX.
-

ABU.
ABV.
7
1
ABY.
ABZ.
6
2
ACC.
ACD.
5
3
ACG.
ACH.
4
4
ACK.
ACL.
3
5
ACO.
ACP.
2
6
ACS.
ACT.
1
7
ACW.
Total

ACA.

ACB.

7.1

ACE.

ACF.

21.4

ACI.

ACJ.

35.8

ACM.

ACN.

28.6

ACQ.

ACR.

7.1

ACU.

ACX.

ACV.

14

ACY.

100 %

ACZ.
ADA.

Table 5.3

ADB.
Diketahui efektifitas penggunaan terapi aktifitas kelompok
stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada
klien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi di RSJ. Prof. HB.
Saanin Padang tahun 2013.
ADC.

ADD.
Terapi
Akti
fitas
Kelo
mpo
k
ADQ.
Pre test
ADX.
Post test

ADE.
Me
a
n

ADR.
5,1
4
ADY.
3,9
3

ADF.
Ratarat
a
per
ub
aha
n

ADS.
1,214

ADH.

CI

ADG. ADN.
Upp
S
e
r

ADO.
Lo
w
e
r

ADT. ADU.
0
0,81
1

ADV.
1,6
1
8

ADI.
P
v
al
u
e

ADW.
0,000

61

AEE.
AEF.
AEH.
AEI.
AEJ.

Lampiran 6

AEG.
MASTER TABEL
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN EFEKTIFITAS TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
STIMULASI
PERSEPSI TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI
PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI
AEK.
DI RS. JIWA PROF. HB SAANIN PADANGTAHUN 2013

AEL.
AEN.
Na
AEM.
ma
N
Responde
n
AER. AES.
tn.
1
W
AEW. AEX.
2
AFB. AFC.
3
AFG. AFH.
4
AFL. AFM.
5
AFQ. AFR.
6
AFV. AFW.
7
AGA. AGB.
8
AGF. AGG.
9
AGK. AGL.
1

AEO.
Fr
ekuensi
Pre Test

AEP.
Fr
ekuensi
Post Test

AEQ.
K
eteranga
n

AET.

AEU.

AEV.
M
ampu

tn.

AEY.

AEZ.

AFA.
M
ampu

tn.

AFD.

AFE.

AFF.
M
ampu

tn.

AFI.

AFJ.

AFK.
M
ampu

tn.

AFN.

AFO.

AFP.
M
ampu

tn.

AFS.

AFT.

AFU.
M
ampu

tn.

AFX.

AFY.

AFZ.
M
ampu

tn.

AGC.

AGD.

AGE.
M
ampu

tn.

AGH.

AGI.

tn.

AGM.

AGN.

AGJ.
T
idak
mampu
AGO.
M
ampu

We

Su

62

AGP. AGQ.
1
AGU. AGV.
1
AGZ. AHA.
1
AHE. AHF.
1

tn.

AGR.

AGS.

AGT.
M
ampu

tn.

AGW.

AGX.

AGY.
M
ampu

tn.

AHB.

AHC.

AHD.
M
ampu

tn.

AHG.

AHH.

AHI.
T
idak
mampu

AHJ.
AHK.
AHL.
AHM.
AHN.
AHO.
AHP.
AHQ.
AHR.
AHS.
AHT.
AHU.
AHV.
AHW.
AHX.

63

AHY. Lampiran 7
AHZ.
AIA. MODUL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI
AIB. PERSESPSI: HALUSINASI
AIC.
AID. Sesi 1: mengenal halusinasi
AIE. Tujuan:
1.
2.
3.
4.

Klien dapat mengenal halusinasi


Klien mengenal waktu terjadinya halusinasi
Klien mengenal situasi terjadinya halusinasi
Klien mengenal perasaannya pada saat terjadinya halusinasi
AIF.

Setting:

1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran


2. Tempat tenang dan nyaman
AIG. Alat:
1. Spidol
2. Papan tulis/ whiteboard/flipchart
AIH. Metode:
1. Diskusi dan tanya jawab
2. Bermain peran/ stimulasi
AII.

Langkah kegiatan

1. Persiapan
a.
Memilih klien sesuai indikasi, yaitu klien dengan perubahan sensori
persepsi: halusinasi
b.
Membuat kontrak dengan klien
c.
Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam teraupetik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Perkenalan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama)
3) Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
b. Evaluasi/ validasi
AIJ. Menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak

64

1) Terapis menjelaskan tujuan yang akan dilaksanakan, yaitu mengenal


suara-suara yang di dengar
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
izin kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis akan menjelaskan tujuan yang akan di lakukan, yaitu mendengar
suara-suara yang didengar (halusinasi) tentang isinya, waktu terjadinya,
situasi terjadinya, dan perasaan klien pada saat terjadi
b. Terapis meminta klien menceritakan isi halusinasi, kapan terjadinya,
situasi yang membuat terjadi, dan perasaan klien saat terjadi halusinasi.
Mulai dari klien yang sebelah kanan, secara berurutan sampai semua klien
mendapat giliran. Hasilnya ditulis di whiteboard
c. Beri pujian pada klien yang melakukan dengan baik
d. Simpulkan isi, waktu terjadi, situasi terjadi, dan perasaan klien dari suara
yang bias didengar
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
AIK. Terapis meminta klien untuk melaporkan isi, waktu, situasi, dan
perasaan jika terjadi hgalusinasi
c. Kontak yang akan datang
1) Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu cara mengontrol halusinasi
2) Menyepakati waktu dan tempat
AIL.
AIM. Evaluasi dan Dokumentasi
AIN. Evaluasi: evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung,
khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi halusinasi sesi 1,

65

kemampuan yang diharapkan adalah mengenal isi halusinasi, waktu terjadinya


halusinasi, situasi terjadinya halusinasi, dan perasaan saat terjadi halusinasi.
Formulir evaluais sebagai berikut:
AIO.
AIP.
AIQ.
AIR. Sesi 1: TAK
AIS. Stimulasi Persepsi: Halusinasi
AIT. Kemampuan Mengenal Halusinasi
AIU. AIV. N
AIW. M
AIX. M
AIY. M
N
ama
enye
enye
eny
klien
but
but
ebu
isi
wakt
t
halu
u
situ
sina
terja
asi
si
di
terj
halu
adi
sina
hal
si
usi
nas
i
AJA. AJB.
AJC.
AJD.
AJE.
1

AIZ. M
enye
but
peras
aan
halus
inasi

AJF.

AJG. AJH.
2

AJI.

AJJ.

AJK.

AJL.

AJM. AJN.
3

AJO.

AJP.

AJQ.

AJR.

AJS. AJT.
4

AJU.

AJV.

AJW.

AJX.

AJY. AJZ.
5

AKA.

AKB.

AKC.

AKD.

AKE. AKF.

AKG.

AKH.

AKI.

AKJ.

66

6
AKK. AKL.
7

AKM.

AKN.

AKO.

AKP.

AKQ. AKR.
8

AKS.

AKT.

AKU.

AKV.

AKW.AKX.
9

AKY.

AKZ.

ALA.

ALB.

ALC. ALD.
1

ALE.

ALF.

ALG.

ALH.

ALI. ALJ.
1

ALK.

ALL.

ALM.

ALN.

ALO. ALP.
1

ALQ.

ALR.

ALS.

ALT.

ALU.
ALV.
ALW.
ALX. Petunjuk:
1.

Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada


kolom nama klien.

2.

Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan


mengenal halusinasi: isi, waktu, situasi, dan perasaan. Beri tanda jika klien
mampu dan tanda x jika klien tidak mampu.
ALY.

Dokumentasi:

ALZ. Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada


catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti TAK stimulasi
persepsi: halusinasi Sesi 1. Klien mampu menyebutkan isi halusinasi (menyuruh
memukul), waktu (pukul 9 malam), situasi (jika sedang sendiri), perasaan (kesal

67

dan geram). Anjurkan klien mengidentifikasi halusinasi yang timbul dan


menyampaikan kepada perawat.
AMA.

Sesi 2: mengontrol halusinasi dengan menghardik

AMB.

Tujuan:

1. Klien dapat menjelaskan cara yang selama ini dilakukan untuk mengatasi
halusiansi
2. Klien dapat memahami cara menghardik halusinasi
3. Klien dapat mempergerakan cara mengahardik halusinasi
AMC.

Setting:

1. Spidol dan papan tulis/ white board/ flipchart


2. Jadwal kegiatan klien
AMD.

Alat:

1. Spidol dan papan tulis/ whiteboard/ flipchart


2. Jadwal kegiatan klien
AME.

Metode:

1. Diskusi dan Tanya jawab


2. Bermain peran/ simulasi
AMF.

Langkah kegiatan:

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak kepada klien yang mengikuti sesi 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi/ validasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien saat ini
2) Terapis menanyakan penaglaman halusinasi yang terjadi: isi, waktu,
situasi, dan perasaan.
c. Kontrak

68

1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu dengan latihan satu cara


mengontrol halusinasi
2) Menjelaskan cara main, yaitu:
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
izin pada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis meminta klien menceritakan apa yang dilakukan pada saat
mengalami halusinasi, dan bagaimana hasilnya. Ulangi sampai semua
klien mendapatkan giliran
b. Berikan pujian setiap klien selesai bercinta
c. Terapis menjelaskan cara mengatasi halusinasi dengan mengahardik
halusinasi saat halusinasi muncul
d. Terapis memperagakan cara menghardik halusinasi, yaitu: pergi jangan
ganggu saya , saya mau bercakap-cakap dengan
e. Terapis meminta masing-masing klien memperagakan cara menghardik
halusinasi dimulai dari klien di sebelah kiri terapis berurutan searah jarum
jam sampai semua peserta mendapatkan giliran
f. Terapis memberikan pujian dan mengajak semua klien bertepuk tangan
saat setiap klien selesai memperagakan menghadik halusinasi
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
1) Terapis menganjurkan klien untuk menerapkan cara yang telah
dipelajari jika halusinasi muncul
2) Memasukkan kegiatan mengahardik dalam jadwal kegiatan harian
klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Terapis membuat kesepakatan dengan klien untuk TAK yang
berikutnya, yaitu belajar cara mengontrol halusinasi dengan kegiatan
2) Terapis membuat kesepakatan waktu dan tempat TAK berikutnya

69

AMG.
AMH.

Evaluasi dan Dokumentasi:

AMI. Evaluasi: dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada


tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klein sesuai dengan tujuan
TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi halusinasi sesi 2, kemampuan yang
diharapkan adalah mengatasi halusinasi dengan menghardik. formulir evaluasi
sebagai berikut:
AMJ.

70

AMK. Sesi 2:
AML. Stimulasi Persepsi: Halusinasi
AMM. Kemampuan Menghardik Halusinasi
AMN.

AMO.
AMP.
N
AMQ. Aspek yang
di nilai
ANB. ANC. Menyebutkan
1
cara yang selama
ini
digunakan
mengatasi
halusinasi
ANK. ANL. Menyebutkan
2
efektivitas cara

AMR. Nama klien


AMU.AMV. AMW. AMX. AMY. AMZ. ANA.

ANT. ANU. Menyebutkan


3
cara mengatasi
halusinasi dengan
cara menghardik
AOC. AOD. Memperagak
4
an menghardik
halusinasi
AOL.
AOM. Petunjuk:

ANV. ANW. ANX. ANY. ANZ. AOA. AOB.

AND. ANE. ANF.

ANG. ANH. ANI.

ANJ.

ANM.ANN. ANO. ANP. ANQ. ANR. ANS.

AOE. AOF. AOG. AOH. AOI. AOJ.

AOK.

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan menyebutkan: cara yang biasa
digunakan untuk mengatasi halusinasi, keefektikfannya, cara menghardik
halusinasi, dan memperagakannya. Beri tanda jika klien mampu dan tanda x
jika klien tidak mampu.
AON.
AOO. Dokumentasi: dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien
saat TAK ada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti
TAK stimulasi persepsi: halusinasi sesi 2. Klien mampu memperagakan cara
mengahrdik cara halusinasi. Anjurkan klien menggunakannya jika halusinasi
muncul, khusus pada malam hari (buat jadwal).

71

AOP.
AOQ.

72

AOR.

Sesi 3: mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan

AOS.

Tujuan:

1. Klien dapat memahami pentingnya melakukan kegiatan untuk mencegah


munculnya halusinasi
2. Klien dapat menyusun jadwal kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi
AOT.

Setting:

1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran


2. Ruangan nyaman dan tenang
AOU.

Alat:

1. Jadwal kegiatan harian


2. Pulpen
3. Spidol dan whiteboard/ papanm tulis/ flipchart
AOV.

Metode:

1. Diskusi dan Tanya jawab


2. Bermain peran atau simulasi dalam latihan
AOW.

Langkah kegiatan:

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi/ validasi
1) Terapis menanyakan keadaan klien saat ini
2) Terapis menanyakan cara mengontrol halusinasi yang sudah dipelajari
3) Terapis menanyakan pengalaman klien menerapkan cara menghardik
halusinasi
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mencegah terjadinya
halusinasi dengan melakukan kegiatan
2) Menjelaskan aturan main berikut:
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta
izin kepada terapis

73

b) Lama kegiatan 45 menit


c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan cara kedua, yaitu melakukan kegiatan sehari-hari.
Jelaskan bahwa dengan melakukan kegiatan yang teratur akan mencegah
munculnya halusinasi
b. Terapis meminta tiap klien melakukan kegiatan yang biasa dilakukan
sehari-hari, dan tulis di whiteboard
c. Terapis membagikan formulir jadwal kegiatan harian. Terapis menulis
formulir yang sama di whiteboard
d. Terapis membimbing satu persatu klien untuk membuat jadwal kegiatan
harian, dari bangun pagi sampai tidur malam. Klien menggunakan
formulir, terapis menggunakan whiteboard
e. Terapis melatih klien memperagakan kegiatan yang telah disusun
f. Berikan pujian dengan tepuk tangan bersama kepada klien yang sudah
selesai membuat jadwal dan memperagakan kegiatan
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah selesai menyusun jadwal
kegiatan dan memperagakannya
2) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
AOX.
Terapis menganjurkan klien melaksanakan dua cara mengontrol
halusinasi, yaitu menghardik dan melakukan kegiatan
c. Kontrak yang akan datang
1) Terapis membuat kesepakatan dengan klien untuk TAK berikutnya,
yaitu belajar cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap
2) Terapis membuat kesepakatan waktu dan tempat
AOY.
AOZ.
Evaluasi dan dokumentasi
APA. Evaluasi: evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung,
khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi: halusinasi sesi 3,

74

kemampuan yang diharapkan adalah klein melakuakn kegiatan harian untuk


mencegah timbulnya halusinasi.
APB.

75

APC.
Sesi 3:
APD.
Stimulasi persepsi: halusinasi
Kemampuan Mencegah Halusinasi Dengan Melakukan Kegiatan

APE.
APF.
APG.
APH.
N
API. Aspek yang
di nilai
APT. APU. Menyebutkan
1
kegiatan
yang
dilakukan
AQC. AQD. Memperagak
2
an kegiatan yang
bisa dilakukan
AQL. AQM. Menyusun
3
jadwal kegiatan

APJ. Nama klien


APM. APN. APO. APP. APQ. APR.
APV. APW. APX.

APS.

APY. APZ. AQA. AQB.

AQE. AQF. AQG. AQH. AQI. AQJ.

AQK.

AQN. AQO. AQP.

AQT.

AQQ. AQR. AQS.

AQU. AQV. Meyebutkan


AQW.AQX. AQY. AQZ. ARA. ARB. ARC.
4
dua
cara
mengontrol
halusinasi
ARD.
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan menyebutkan kegiatan harian
yang biasa dilakukan, memperagakan salah satu kegiatan, menyusun jadwal
kegiatan harian, dan menyebutkan dua cara mencegah halusinasi.. Beri tanda
jika klien mampu dan tanda x jika klien tidak mampu.
ARE. Dokumentasi: dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien
saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti
TAK stimulasi persepsi: halusinasi sesi 3. Klien mampu memperagakan kegiatan
harian dan menyusun jadwal. Anjurkan klien melakukan kegiatan untuk mencegah
halusinasi.
ARF.
ARG.
ARH.

76

ARI.
ARJ.

77

ARK. Sesi 4: mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap


ARL. Tujuan:
1. Klien memahami pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain untuk
mencegah munculnya halusinasi
2. Klien dapat becakap-cakap dengan orang lain untuk mencegah halusinasi
ARM. Setting:
1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang
ARN. Alat:
1. Spidol dan whiteboard/papan tulis/ flipchart
2. Jadwal kegiatan harian klien dan pulpen
ARO. Metode:
1. Diskusi kelompok
2. Bermain peran/ simulasi
ARP. Langkah kegiatan:
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti sesi
b. Terapis membuat kontrak dengan klien 3
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi/ validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Menanyakan pengalaman klien setelah menerapkan dua cara yang
telah dipelajari (menghardik, menyibukkan diri dengan kegiatan
terarah) untuk mencegah halusinasi
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan, yaitu mengontrol halusinasi dengan cara
bercakap-cakap
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut:

78

a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta


izin kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain untuk
mengontrol dan mencegah halusinasi
b. Terapis meminta tiap klien menyebutkan orang yang biasa dan bias diajak
bercakap-cakap
c. Terapis meminta tiap klien menyebutkan pokok pembicaraan yang biasa
dan bias dilakukan
d. Terapis memperagakan cara bercakap-cakap jika halusinasi muncul
suster, ada suara di telinga, saya mau ngobrol saja dengan suster atau
suster saya mau ngobrol tentang kapan saya boleh pulang
e. Terapis meminta klien untuk memperagakan percakapan dengan orang
disebelahnya
f. Berikan pujian atas keberhasilan klien
g. Ulangi e dan f sampai semua klien dapat giliran
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis menanyakan TAK mengontrol halusinasi yang sudah dilatih
3) Memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
ARQ. Menganjurkan klien menggunakan tiga cara mengontrol halusinasi,
yaitu menghardik, melakukan kegiatan harian, dan bercakap-cakap
c. Kontrak yang akan datang
1) Terapis membuat kesepakatan dengan klien untuk TAK berikutnya,
yaitu belajar cara mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
2) Terapis menyepakati waktu dan tempat
ARR.
ARS. Evaluasi dan Dokumentasi
ART. Evaluasi: evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung,
khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien
sesuai dengan tujuan TAK. Untuk stimulasi persepsi: halusinasi sesi 4,

79

kemampuan yang diharapkan adalah mencegah halusinasi dengan bercakapcakap. Fomulir evaluasi sebagai berikut:
ARU.
ARV.

80

ARW. Sesi 4:
ARX. Stimulasi persepsi: Halusinasi
ARY. Kemampuan Bercakap-cakap untuk Mencegah Halusinasi
ARZ.
ASA.
ASB.
ASD. Nama klien
ASG.
ASH.
ASI. ASJ. ASK. ASL.
N
ASC. Aspek yang di
nilai
ASN. ASO. Menyebutkan
ASP. ASQ. ASR. ASS. AST. ASU.
1
orang yang diajak
bicara
ASW. ASX. Meperagakan
ASY. ASZ. ATA. ATB. ATC. ATD.
2
percakapan
ATF. ATG. Menyusun
3
jadwal percakapan

ATH. ATI.

ATO. ATP. Meyebutkan


4
tiga
cara
mengontrol dan
mencegah
halusinasi
ATX.
ATY. Petunjuk:

ATQ. ATR. ATS. ATT. ATU. ATV.

ASM.
ASV.

ATE.

ATJ. ATK. ATL. ATM. ATN.

ATW.

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan menyebutkan orang yang biasa
diajak bicara, memperagakan percakapan, menyusun jadwal percakapan,
menyebutkan tiga cara mencegah halusinasi. Beri tanda jika klien mampu
dan tanda x jika klien tidak mampu.
ATZ. Dokumentasi: dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien
saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. contoh: klien mengikuti
TAK stimulasi persepsi: halusiansi sesi 4. Klien belum mampun secara lancer
berckap-cakap dengan orang lain. Anjurkan klien bercakap-cakap dengan perawat
dank lien lain di ruang rawat.
AUA.
AUB.
AUC.

81

AUD.
AUE.
AUF. Sesi 5: mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
AUG. Tujuan:
1. Klien memahami pentingnya patuh minum obat
2. Klien memahami akibat tidak patuh minum obat
3. Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat
AUH.

Setting:

1. Terapis dengan klien duduk bersamaan dalam lingkaran


2. Ruangan nyaman dan tenang
AUI.

Alat:

1. Spidol dan whiteboard/papan tulis/ flipchart


2. Jadwal kegiatan harian
3. Beberapa contoh obat
AUJ.

Metode:

1. Diskusi dan Tanya jawab


2. Melengkapi jadwal harian
AUK.

Langkah kegiatan:

1. Persiapan
a. Mengingatkan kan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi 4
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada klien
2) Terapis dan klien memakai papan nama
b. Evaluasi/ validasi
1) Menanyakan perasaan klien saat ini
2) Terapis menanyakan pengalaman klien mengontrol halusinasi setelah
menggunakan tiga cara yang telah di pelajari (menghardik,
menyibukkan diri denagn kegiatan, dan bercakap-cakap)
c. Kontrak

82

1) Terapis menjelaskan tujuan, yaitu mengontrol halusinasi dengan patuh


minum obat
2) Menjelaskan aturan main berikut
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta
izin kepada terapis
b) Lama kegiatan 45 menit
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan untungnya patuh minum obat, yaitu mencegah
kambuh karena obat member perasaan tenang, dan memperlambat kambuh
b. Terapis menjelaskan kerugian tidak patuh minum obat, yaitu penyebab
kambuh
c. Terapis meminta tiap klien menyampaikan obat yang dimakan dan waktu
memakannya. Buat daftar di whiteboard
d. Menjelaskan lima benar minum obat, yaitu benar obat, benar waktu
minum obat, benar orang yang minum obat, benar cara minum obat, benar
e.
f.
g.
h.

dosis obat.
Minta klien menyebutkan 5 benar cara minum obat, secara bergiliran
Berikan pujian pada klien yang benar
Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di whiteboard)
Mendiskusikan perasaan klien setelah teratur minum obat (catat di

whiteboard)
i. Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yitu salah satu mencegah
halusinasi/ kambuh
j. Menjelaskan akibat/ kerugian tidak patuh minum obat, yaitu kejadian
halusinasi/ kambuh
k. Meminta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan
kerugian tidak patuh minum obat
l. Memberikan pujian tiap kali klien benar
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Terapis menanyakan jumlah cara mengontrol halusinasi yang sudah
dipelajari

83

3) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok


b. Tindak lanjut
AUL. Menganjurkan klien menggunakan 4 cara mengontrol
halusinasi, yaitu menghardik, melakukan kegiatan harian, bercakap-cakap,
dan patuh minum obat.
AUM.
c. Kontrak yang akan datang
1) Terapis mengakhiri sesi TAK stimulasi persepsi untuk mengontrol
halusinasi
2) Buat kesepakatan baru untuk TAK yang lain sesuai dengan indikasi
klien
AUN.
AUO.

Evaluasi dan Dokumentasi

AUP. Evaluasi: evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung,


khususnya pada tahap kerja. Aspek yang di evaluasi adalah kemampuan halusinasi
sesi 5, kemampuan klien yang di harapkan adalah menyebutkan 5 benar cara
minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat.
Formulir evaluasi sebagai berikut:
AUQ.

84

AUR. Sesi 5:
AUS. Stimulasi Persepsi: Halusinasi
AUT. Kemampuan Patuh Minum Obat untuk Mencegah Halusinasi
AUU.

AUV. AUW. Na
N
ma
klien

AUX. Meny
ebutkan 5
benar
cara
minum
obat

AUY. Me
nyebut
kan
keuntu
ngan
minum
obat

AVA. AVB.
1

AVC.

AVD.

AUZ. Me
nyebut
kan
akibat
tidak
patuh
minum
obat
AVE.

AVF. AVG.
2

AVH.

AVI.

AVJ.

AVK. AVL.
3

AVM.

AVN.

AVO.

AVP. AVQ.
4

AVR.

AVS.

AVT.

AVU. AVV.
5

AVW.

AVX.

AVY.

AVZ. AWA.
6

AWB.

AWC.

AWD.

AWE. AWF.
7

AWG.

AWH.

AWI.

AWJ. AWK.
8

AWL.

AWM.

AWN.

AWO.AWP.
9

AWQ.

AWR.

AWS.

AWT. AWU.
1

AWV.

AWW.

AWX.

85

AWY.AWZ.
1

AXA.

AXB.

AXC.

AXD. AXE.
1

AXF.

AXG.

AXH.

AXI.
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan menyebutkan lima benar cara
minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat..
Beri tanda jika klien mampu dan tanda x jika klien tidak mampu.
AXJ.
AXK. Dokumentasi: dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien
pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 5, TAK
stimulasi persepsi: halusinasi. Klien mampu menyebutkan 5 benar cara minum
obat, manfaat minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat (kambuh).
Anjurkan klien minum obat dengan cara yang benar.

86

AXL.
AXM.
AXN.
AXO.
AXP.

AXQ.

Lampiran 8
Frequency Table
PRETEST
AXR.
Frequ
en
cy
AXX.
1
AYD.
1
AYJ.
1
AYP.
5
AYV.
4
AZB.
2

AXV. AXW.
V
2
AYC.
3
AYI.
4
AYO.
5
AYU.
6
AZA.
7
AZG.
AZH.
T
14

AXS.
Perce
nt
AXY.
7.1
AYE.
7.1
AYK.
7.1
AYQ.
35.7
AYW.
28.6
AZC.
14.3

AXT.
Valid
Perc
ent
AXZ.
7.1
AYF.
7.1
AYL.
7.1
AYR.
35.7
AYX.
28.6
AZD.
14.3

AZI.
100.0

AZJ.
100.0

AZL.
AZM.
AZN.
AZO.
AZQ.
Frequ
AZP.
en
cy
AZU. AZV. AZW.
V
2
1
BAB. BAC.
3
4
BAH. BAI.
4
5
BAN. BAO.
5
3
BAT. BAU.
6
1
BAZ.
BBA.
T
14

BBE.

AXU.
Cumulat
ive
Perc
ent
AYA.
7.1
AYG.
14.3
AYM.
21.4
AYS.
57.1
AYY.
85.7
AZE.
100.0
AZK.

POSTEST

AZR.
Perce
nt
AZX.
7.1
BAD.
28.6
BAJ.
35.7
BAP.
21.4
BAV.
7.1

AZS.
Valid
Perc
ent
AZY.
7.1
BAE.
28.6
BAK.
35.7
BAQ.
21.4
BAW.
7.1

BBB.
100.0

BBC.
100.0

AZT.
Cumulat
ive
Perc
ent
AZZ.
7.1
BAF.
35.7
BAL.
71.4
BAR.
92.9
BAX.
100.0
BBD.

87

BBF.
HALUSINASI
BBG.

BBH.
BBM. BBN.
V
MAMPU
BBS.

BBY.

BCE.
BCF.
BCG.
BCH.
BCI.
BCJ.

BBT.
TIDAK
MAM
PU
BBZ.
Total

KEMAMPUAN MENGONTROL
BBI.
Freque
nc
y

BBJ.
Perce
nt

BBK.
Valid
Perce
nt

BBL.
Cu
mulative
Percent

BBO.
12

BBP.
85.7

BBQ.

BBR.

85
.7

BBU.

BBV.
14.3

BBW.
14.3

BBX.

10
0.0

BCA.
14

BCB.
100.0

BCC.
100.0

85.7

BCD.

88

BCK.
BCL.
BCM.
BCN.

T-Test
Paired Samples Statistics

BCO.
BCT. BCU.
P
PRET
E
S
T
BDA.
POST
E
S
T

BDF.
BDG.
BDH.
BDI.
BDJ.

BDK.
BDO.
P

BCP.
Mean

BCQ.
N

BCR.
Std.
Devi
ation

BCV.
5.14

BCW.
14

BCX.
1.406

BCY.
.376

BDB.
3.93

BDC.
14

BDD.
1.072

BDE.
.286

Paired Samples Correlations

BDP.
PRE
TEST &
POSTEST

BDL.
N

BDM.
Correl
ati
on

BDN.
Sig.

BDQ.
14

BDR.
.875

BDS.
.000

BDT.
BDU.
BDV.
BDW.
BDX.
BDY.

BCS.
Std.
E
rr
o
r
M
e
a
n

Paired Samples Test


BDZ.

Paired Differences

BEA.
t

BEB.
df

BEC.
Sig.
(
2
t
a

89

il
e
d
)
BEF.
Std.
D
e
v
i
a
t
i
o
n

BEG.
Std.
E
r
r
o
r
M
e
a
n

BEN.
BEM. Upp
L
e
r

BEO.
Low
e
r

BEW.
BEX.
1.
.699

BEY.
.187

BEE.
M
BED.

BEL.
BEU.
P

BEV.
PRET
ES
TP
O
ST
ES
T

BFE.
BFF.
BFG.
BFH.
BFI.

BEH.

5%
Confide
nce
Interval
of the
Differen
ce
BEQ.
Lo
BEP.
w
U
e
r

BEZ.
.

BFA.
1.61
8

BEI.
M

BER.
U

BFB.
6.

BEJ.
Std.
D
e
vi
at
io
n

BEK.
Std.
E
rr
o
r
M
e
a
n

BES.
Lowe
r

BET.
Uppe
r

BFC.
13

BFD.
.000

90

BFJ.

Lampiran 9
BFK.

DOKUMENTASI PENELITIAN
BFL.
BFM.
BFN.
BFO.
BFP.
BFQ.
BFR.
BFS.
BFT.
BFU.
BFV.
BFW.
BFX.
BFY.
BFZ.
BGA.
BGB.
BGC.
BGD.
BGE.
BGF.

91

BGG.
BGH.
BGI.
BGJ.
BGK.
BGL.
BGM.
BGN.
BGO.
BGP.
BGQ.
BGR.
BGS.
BGT.
BGU.
BGW.
BGX.
BGY.
BGZ.

Gambar penerapan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi


halusinasi
BGV.
pada pasien halusinasi sesi 1 sesi 5.

92

BHA.
BHB.
BHC.
BHD.
BHE.
BHF.

LEMBAR KONSUL

Nama :
Virgo Faresti
Nim : 09121368
Nama Pembimbing : Heppi Sasmita, SKp, M.Kep.,Sp.
Jiwa
Judul Skripsi :
Efektifitas
Penggunaan
Terapi
Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi terhadap
kemampuan mengontrol halusinasi pada Klien dengan
Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi di RS. Jiwa Prof.
HB Saanin Padang Tahun 2013.

BHG.
BHH.

BHN. BHO.

BHP.

BHQ.

BHM.
Ttd
Pem
bimb
ing
BHR.

BHS. BHT.

BHU.

BHV.

BHW.

BHX. BHY.

BHZ.

BIA.

BIB.

BIC. BID.

BIE.

BIF.

BIG.

BIH. BII.

BIJ.

BIK.

BIL.

BIM. BIN.

BIO.

BIP.

BIQ.

BHI.
BHJ.
N

BIR.

Hari/Tangg
al

BHK.

ateri
Konsul

BHL.

asil
Konsulta
si

93

BIS.
BIT.
BIU.
BIV.
BIW.
BIX.

LEMBAR KONSUL

Nama :
Virgo Faresti
Nim : 09121368
Nama Pembimbing :
Ns. Guslinda, M.Kep.,Sp.
Kep.J
Judul Skripsi :
Efektifitas
Penggunaan
Terapi
Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi terhadap
kemampuan mengontrol halusinasi pada Klien dengan
Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi di RS. Jiwa Prof.
HB Saanin Padang Tahun 2012

BIY.

BJE. BJF.

BJG.

BJH.

BJD.
Ttd
Pem
bimb
ing
BJI.

BJJ. BJK.

BJL.

BJM.

BJN.

BJO. BJP.

BJQ.

BJR.

BJS.

BJT. BJU.

BJV.

BJW.

BJX.

BJY. BJZ.

BKA.

BKB.

BKC.

BKD. BKE.

BKF.

BKG.

BKH.

BIZ.
BJA.
N

BKI.
BKJ.

BJC.
Hari/Tangg
al

BJB.
Mat
eri Konsul

asil
Konsulta
si