Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengertian Belajar Kolaboratif


Menurut Vygotsky Collaborative learning ini sangat berakar bahwa ada sebuah sifat
sosial yang melekat pada pembelajaran yang tercermin melalui teorinya tentang zona
pengembangan proksimal. Sering kali
pembelajaran kolaborati
digunakan
sebagai istilah umum untuk berbagai pendekatan dalam pendidikan itu melibatkan
u p a ya i n t e l e k t u a l b e r s a m a o l e h s i s w a a t a u s i s w a d a n g u r u D e n g a n
d e m i k i a n pembelajaran kolaborati ( umumnya berlangsung ketika kelompok siswa bekerja
sama untuk mencari pengertian, makna, atau solusi untuk membuat sebuah artefak
atau produk pembelajaran mereka lebih jauh pembelajaran kolaboratif mengubah
hubungan tradisional murid, guru di kelas, menghasilkan kontroversi
mengenai apakah paradigma kolaboratif lebih bermanfaat daripada
m e r u g i k a n k e g i a t a n belajar secara kolaboratif ( dapat mencakup penulisan kolaboratif,
proyek kelompok, pemecahan masalah secara bersama, debat, studi tim dan kegiatan lainnya
pendekatan ini terkait erat dengan pembelajaran kooperatif
Belajar kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan
variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam
kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar
kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang
semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu
melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk
masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama
tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
2. Komponen-komponen pembelajaran Kolaboratif
Dalam pembelajaran kolaboratif pada tipe STAD terdapat Lima komponen utama
pembelajaran yaitu:
1)
Penyajian kelas/pengajaran.
2)
Belajar kelompok.
3)
Kuis.
4)
Skor Perkembangan.
5)
Penghargaan kelompok.
1.
Penyajian kelas/ Pengajaran
Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan
yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai
dengan penyajian kelas. Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan
latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam penyajian materi
pelajaran.

a. Pembukaan
1) Menyampaikan pada siswa apa yang hendak mereka pelajari dan mengapa hal itu
penting. Timbulkan rasa ingin tahu siswa dengan demonstrasi yang menimbulkan
teka-teki, masalah kehidupan nyata, atau cara lain.
2) Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan konsep atau
merangsang keinginan mereka pada pelajaran tersebut.
3) Ulangi secara singkat ketrampilan atau informasi yang merupakan syarat mutlak.
b. Pengembangan
1) Kembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa
dalam kelompok.
2) Pembelajaran kooperatif menekankan, bahwa belajar adalah memahami makna bukan
hafalan.
3) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaanpertanyaan.
4) Memberi penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
5) Beralih pada konsep yang lain jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
c. Latihan Terbimbing
1) Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atas pertanyaan yang diberikan.
2) Memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal. Hal ini
bertujuan supaya semua siswa selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin.
3) Pemberian tugas kelas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Sebaiknya siswa
mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan langsung diberikan umpan balik.
2.
Belajar Kelompok
Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan
guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Siswa diberi
lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih ketrampilan yang sedang diajarkan
untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok.
Pada saat pertama kali guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru juga perlu
memberikan bantuan dengan cara menjelaskan perintah, mereview konsep atau menjawab
pertanyaan.
Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan guru sebagai berikut :
a. Meminta anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan
pindah kemeja kelompok.
b. Memberi waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
c. Membagikan lembar kegiatan siswa.
d. Menyerahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu
kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka
mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan
kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan
suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika
siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan

kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha
menjawab pertanyaan itu.
e. Menekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin
teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan
siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi
dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek
diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan
siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman
sekelompoknya sebelum bertanya guru.
f. Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru
sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang
anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang
lain bekerja dan sebagainya.
3.
Kuis
Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang
telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai
perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.
4.
Penghargaan Kelompok
Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok
dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang
lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan
individu dalam kelompoknya.
3. Kelebihan Dan Kekurangan pembelajaran Kolaboratif
1.
Kelebihan
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d. Dapat memupuk rasa kerja sama
e. Adanya persaingan yang sehat
2.

Kelemahan
a. Padapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b. Membutuhkan waktu cukup banyak.
c. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah
merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
d. Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.

4. Metode Dalam Pembelajaran Kolaboratif


1) Learning Together

Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam


kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian
didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2) Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba
dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian
didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3) Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan
pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan
dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di
depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4) Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik
intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama
anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini
mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis,
pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan
pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5) Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda
tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok
bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata
skor tes kelompok.
6) Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota
dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah
keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula
keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian
didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7) Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada
penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya
adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok
bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian
didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.

8) Team Accelerated Instruction (TAI)


Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif
dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal
yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersamasama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa
mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat
menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap
yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian
didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9) Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan).
Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan
pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau
skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan
sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini
menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para
siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis
maupun lisan di dalam kelompoknya.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi


pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang
melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan
adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan
ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan
berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam
bentuk kurikulum.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan
dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat
direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di
Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran di sekolah dewasa ini
kurang meningkatkan kreativitas siswa, terutama dalam pembelajaran ekonomi. Masih
banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam
kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh
sang guru.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan
praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for
instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan
meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah
menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu,
yaitu:
1. Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam
kehidupan di dunia nyata;
2. Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran
bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk
dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis
sebuah buku Democracy and Education yang isinya bahwa kelas merupakan cermin
masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.
Pembelajaran model kolaboratif dianggap cocok diterapkan dalam pendidikan di Indonesia
karena sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.

PENUTUP
Dari uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa Belajar kolaborasi adalah suatu strategi
pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam

kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara
satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif
untuk mencapai kesuksesan. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen
utama, yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan
kelompok. Pembelajaran kolaboratif dalam strategi lebih memfokuskan bagaimana
memaksimalkan partisipasi dan keaktifan dalam pembelajaran serta bagaimana siswa dapat
mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuan untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran
guru cenderung menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing menemukan alternatif
pemencahan bila terjadi siswa mengalami kesulitan belajar.

REFERENSI

Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta :


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru Slip Setara D-III.
Dananjaya, utomo. 2012 Media Pembelajaran aktif. Bandung: Nuansa
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF ~ Perpus Kecilku.htm
http://pembelajaran-kolaborasi.web.id/pk.php

Tugas
MK : BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

ARTIKEL ILMIAH

PEMBELAJARAN KOLABORATIF

OLEH
SINAR JAYA
1425044008

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK
ELEKTRONIKA