Anda di halaman 1dari 3

4.2.2.

Sistem Reproduksi Ayam Betina


Pada praktikum yang telah dilakukan, sistem reproduksi
unggas betina berbeda dengan mamalia. Sistem reproduksi
unggas betina terdiri atas ovarium dan oviduct. Oviduct kanan
mengalami rudimenter atau tidak berkembang, sehingga hanya
oviduct kiri yang berkembang dan berfungsi dengan baik.
Ovarium tersusun atas 2000 4000 ova berbagai ukuran, dari
mikroskopis sampai makroskopis. Oviduct merupakan suatu
saluran berkelok-kelok, panjang saat berproduksi bisa mencapai
80 cm. Oviduct terdiri atas Infundibulum, Magnum, Isthmus,
Uterus, dan Vagina (Suprijatna et al, 2005).
Infundibulum merupakan bagian teratas dalam oviduct dan
berdinding tipis sepanjang 9 cm (Yuwanta, 2004). Namun pada
saat pengukuran, didapatkan hasil sebesar 14 cm. Perbedaan
pengukuran bisa terjadi karena faktor genetik ternak ataupun
factor kesalahan dalam perhitungan. Namun bisa juga karena
faktor lain seperti pakan, penyakit, dan sebagainya. Fungsi
infundibulum adalah untuk menangkap ovum yang telah matang.
Magnum merupakan bagian oviduct yang terpanjang. Fungsi
magnum adalah mensekresikan putih telur atau albumen.
Panjang magnum yaitu kurang lebih 33 cm. Namun pada saat
pengukuran, didapatkan hasil yaitu 42 cm. Perbedaan ukuran
yang terjadi dapat disebabkan dari faktor internal ayam dan
kesalahan pengukuran atau human error. Faktor internal ayam
antara lain perbedaan bangsa, spesies, umur, dan jenis ransum
atau pakan yang diberikan. Kuning telur berada di magnum
untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam (Yuwanta,
2004). Isthmus merupakan bagian oviduct setelah magnum yang
memiliki fungsi mensekresikan shell membrane. Panjang saluran

ini

kurang

lebih

10

cm.

Namun

pada

saat

pengukuran,

didapatkan hasil 14 cm. Perbedaan ukuran yang terjadi dapat


disebabkan dari faktor internal ayam dan kesalahan pengukuran
atau human error. Faktor internal ayam antara lain perbedaan
bangsa, spesies, umur, dan jenis ransum atau pakan yang
diberikan.
Uterus berfungsi sebagai tempat terjadinya kalsifikasi atau
pembentukan kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20
sampai 21 jam (Yuwanta, 2004). Antara uterus dan vagina
terdapat junction utero vaginal (JUV) atau sperm storage tubule
(SST)

sebagai

tempat

transit

dari

spermatozoa

sebelum

mencapai leher infundibulum (Yuwanta, 2000). Saluran uterus


berukuran panjang 10-12 cm. Namun pada saat pengukuran
didapatkan hasil 7 cm. Perbedaan ini disebabkan karena adanya
perbedaan umur, faktor genetik, dan produksi telur (Rahayu et
al., 2011). Warna kerabang pada ayam berbeda-beda. Secara
teori, warna kerabang telur terjadi karena proses pigmentasi di
uterus

dengan

adanya

dua

pigmen

yaitu

biliverdin

dan

protoporphyrin. Biliverdin merupakan suatu pigmen biru yang


dapat menyebabkan warna hijau kebiruan pada kerabang telur
seperti pada itik sedangkan protoporphyrin merupakan pigmen
coklat

yang

kerabang

menyebabkan

telur

(Miksik

et

warna
al.,

coklat

1996).

kemerahan
Pada

ayam

pada
yang

menghasilkan telur berkerabang coklat hanya memproduksi


senyawa protoporphyrin.
Vagina merupakan bagian akhir dari oviduct, fungsinya
adalah tempat terjadinya oviposisi atau perputaran telur untuk
memposisikan ujung tumpul telur yang keluar terlebih dahulu.
Panjang vagina sekitar 12 cm. Namun pada saat pengukuran
didapatkan hasil sebesar 5 cm. Perbedaan pengukuran bisa

terjadi karena faktor genetik ternak ataupun faktor kesalahan


dalam perhitungan. Namun bisa juga karena faktor lain seperti
pakan, penyakit, dan sebagainya. Telur melewati vagina dengan
cepat yaitu 3 menit, kemudian telur dikeluarkan (oviposition) dan
30 menit setelah peneluran akan terjadi ovulasi (Yuwanta, 2004).
Telur yang berada di dalam vagina dilapisi oleh mucus. Mucus ini
menyumbat

pori

kerabang,

dengan

demikian

pencemaran

bakteri dapat dihindari.

SUMBER :
Yuwanta, Tri. 2000. Beberapa Metode Praktis Penetasan Telur.
Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Rahayu I, Sudaryani T, and Santosa H. 2011. Panduan Lengkap
Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta.
Miksik I, V Holan, and Z Deyl. 1996. Avian eggshell pigments and
their variability. Comp. Biochem. Physiol. Elsevier Science.
113B: 607-612.