Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

CRANIOSYNOSTOSIS

Nama

: Aulia Salmah Tandayu

No. Stambuk

: N 111 14 024

Pembimbing

: dr. Effendy Salim, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA


PALU
MARET 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Craniosynostosis adalah istilah pertama yang diperkenalkan
Virchow digunakan untuk penutupan/fusi dini satu atau lebih sutura
cranial. Craniosynostosis dapat dikelompokkan menjadi dua kategori.
Craniosynostosis primer mengacu pada fusi premature dari satu atau
lebih sutura cranial akibat kelainan perkembangan. Penyebabnya
adalah diduga sebagai anomali perkembangan dasar tengkorak.
Sinostosis sekunder mengacu pada penutupan sutural premature akibat
dari penyebab lain seperti kompresi intrauterine dari tengkorak, efek
teratogen, atau kurangnya pertumbuhan otak.1
Tulang tengkorak manusia terdiri atas banyak sendi yang
dihubungkan oleh sutura. Sutura-sutura tersebut akan menutup setelah
pertumbuhan otak sempurna. Dalam kasus dimana sutura-sutura ini
menutup lebih awal, akan mengganggu pertumbuhan normal dari otak.
Otak yang bertumbuh akan mendesak tengkorak dan dapat tumbuh
kearah sutura lain yang terbuka. Penutupan sutura yang prematur
dapat berdiri sendiri atau bersamaan dengan kelainan yang lain,
menyebabkan bermacam-macam sindrom.1
Craniosynostosis adalah penutupan prematur pada satu atau
lebih sutura tulang tengkorak. Berdasarkan Hukum Virchow,
penutupan

sutura

yang

prematur

mencakup

pertumbuhan
1

perpendicular kearah garis sutura yang terbatas, yang diperparah


dengan pertumbuhan berlebihan secara paralel kearah sutura. Insidens
dari Craniosynostosis adalah 1:1000 kelahiran dan penyebabnya
multifaktorial. Beberapa teori telah dikemukakan untuk menjelaskan
penyatuan sutura yang prematur, seperti gaya in utero intrinsik dan
ekstrinsik, sebagaimana perlukaan duramater dan pengaruhnya
terhadap pertumbuhan tulang cranial. 2,3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Istilah Craniosynostosis pertama diperkenalkan Virchow dan
digunakan untuk penutupan dini satu atau lebih sutura kranial.
Pertumbuhan perpendikuler tulang terhadap sutura yang terkena
terganggu (teori Virchow). Keadaan ini biasanya tampak saat lahir
dan mungkin bersamaan dengan anomali lain. Craniosynostosis
didefinisikan sebagai penutupan premature sutura kranialis
sebagai primer atau sekunder.1
Craniosynostosis primer merujuk pada penutupan satu sutura
atau

lebih

karena

kelainan

perkembangan

tengkorak.

Craniosynostosis primer akibat dari abnormalitas intrinsik sutura


cranial. Craniosynostosis sekunder adalah akibat dari kegagalan
pertumbuhan dan pembesaran otak.1
2.2 Anatomi
Tulang-tulang pipih tengkorak (frontal, parietal, temporal,
dan oksipital) berkembang dengan baik pada bulan kelima
kehamilan. Pada waktu lahir, tulang-tulang tersebut dipisahkan
satu sama lainnya oleh perekat tipis dan jaringan penyambung,
yaitu sutura. Di tempat-tempat pertemuan lebih dari dua tulang,
suturanya lebar dan dikenal sebagai ubun-ubun (fontanella).
Biasanya fontanella anterior menutup pada usia 20 bulan
sedangkan fontanella posterior menutup pada usia 3 bulan.4
Craniosynostosis adalah suatu kondisi di mana sutura
bergabung

terlalu

dini,

menyebabkan

masalah

dengan

pertumbuhan otak dan tengkorak normal. penutupan prematur


sutura juga dapat menyebabkan tekanan di dalam kepala untuk
meningkat dan tengkorak atau tulang wajah untuk mengubah dari
penampilan normal dan simetris.4

Gambar 1: Anatomi kepala


2.3 Epidemiologi
Insiden kraniosisostosis primer sekitar 1 per 2.000 kelahiran.
Penyebabnya pada sebagian besar anak belum diketahui. Namun
sindrom genetika merupakan 10-20% kasus. Craniosynostosis
paling sering adalah sinostosis sagital, diikuti sinostosis koronal.
Ada perbedaan

kelamin; rasio laki/wanita adalah 4:1 pada

sinostosis sagital dan 2:3 pada sinostosis koronal.5


2.4 Etiologi
Kasus familial sering dijumpai, faktor genetik mungkin
berperan pada sinostosis koronal. Kasus familial belum pernah
dilaporkan pada sinostosis lainnya. Tekanan yang terjadi terhadap
tengkorak selama kehidupan fetal mungkin berperan penyebab,
karena fetus multipel, posisi fetus abnormal, disproporsi kepala
fetus dengan pelvis maternal sering dijumpai pada riwayat klinik

yang berkaitan. Trauma intrauterine mungkin juga menyebabkan


Craniosynostosis, karena temuan histologis pada penutupan dini
sutura koronal adalah serupa dengan pembentukan kalus atau
tahap

kuratif

dari

fraktura

diastatik.

Penelitian

histologi

memperlihatkan tidak ada bukti mikroskopik dari sutura pada area


dengan abnormalitas klinis maksimum, dan perubahan basis
tengkorak adalah sekunder atas obliterasi sutura.4
Etiologi Craniosynostosis belum diketahui, namun hipotesis
yang berlaku menunjukan bahwa perkembangan abnormal dasar
tengkorak menciptakan gaya berlebihan pada dura yang berperan
menggangu perkembangan sutura kranialis.4
2.5 Klasifikasi
Craniosynostosis dapat dibagi dalam jenis primer dan
sekunder. Craniosynostosis primer akibat dari abnormalitas
intrinsik sutura kranial dan dapat diklasifikasikan menurut sutura
yang terkena. Tujuh jenis memiliki bentuk yang khas: 4, 5
1. Brakhisefali: kepala terkompres dan datar akibat penutupan
dini sutura koronal bilateral (sinostosis koronal).
2. Skafosefali: kepala memanjang dan sempit akibat penutupan
dini sutura sagital (sinostosis sagital).
3. Plagiosefali: kepala tak seimbang atau serong akibat
penutupan dini sutura koronal unilateral.
4. Trigonosefali: Kening segitiga atau sempit akibat penutupan
dini sutura frontal atau metopik.
5. Oksisefali, akrosefali, turrisefali: kapala

runcing atau

menjulang akibat penutupan dini semua sutura.

Gambar 2. Brakhisefali

Gambar 3. Skafosefali

Gambar 4. Anterior Plagiosefali

Gambar 5. Posterior Plagiosefali

Gambar 6. Trigonosefali

Gambar 7. Oksisefali, akrosefali, turrisefali

Craniosynostosis sekunder dapat diklasifikasikan sebagai


berikut :4, 5
Craniosynostosis sekunder
A. Craniosynostosis sebagai bagian sindroma lain yang
diketahui
1. Sindroma Crouzon (kraniofasial disostosis)
2. Sindroma Apert (akrosefalosindaktili)
3. Sindroma Carpenter (akrosefalopolisindaktili)
4. Sindroma

Treacher-Collins

(mandibulofasial

sinostosis)
5. Displasia kraniotelensefalik
6. Hipotelorisme orbital, arinensefali, trigonosefali
7. Tengkorak cloverleaf
B. Craniosynostosis yang berhubungan dengan keadaan lain
1. Penyakit metabolik
a. Hiperkalsemia idiopatik
b. Gargoylisme
c. Hipertiroidisme
2. Displasia dan disostosis tulang
b. Akhondroplasia
c. Disostosis metafiseal
d. Sindroma Rubinstein-Taybi
3. Craniosynostosis sehubungan dengan mikrosefali
4. Kelainan hematologis (diikuti penebalan diploe akibat
berbagai anemia)
a. Ikterus hemolitika kongenital
8

b. Polisitemia vera
c. Penyakit sickle cell
d. Talasemia
5. Malformasi lain-lain yang berkaitan
6. Trauma
Craniosynostosis dapat mengenai berbagai sutura di tulang
kepala : metopik, sagital, lambdoidal atau coronal. Pada
Craniosynostosis simpel, satu buah sutura menutup secara
prematur, pada sinostosis sutura multiple, dua atau lebih sutura
menutup secara prematur. Craniosynostosis dapat muncul berdiri
sendiri yang menghasilkan suatu Craniosynostosis nonsindromik,
atau penyakit ini dapat muncul bersama-sama dengan kelainan
lainnya dalam pola yang dapat dikenali yang membuatnya secara
klinis

menjadi

sindrom

yang

diakui.

Kebanyakan

kasus

Craniosynostosis nonsindromik terjadi secara sporadik dengan


laporan frekuensi 0,6 dari 1000 kelahiran hidup. Craniosynostosis
sindromik kebanyakan bersifat genetik, dan memiliki pola
autosom dominan, autosom resesif dan pewarisan sifat terkait
kromosom X telah diteliti. Lebih dari 90 sindrom yang dilaporkan
berhubungan dengan Craniosynostosis, dengan kebanyakan
berhubungan dengan kelainan lengan dan tungkai, telinga dan
system kardiovaskular.5
Sindrom Apert, Crouzon, Pfeiffer, Saethre-Chotzen dan
Carpenter menggambarkan sindrom Craniosynostosis yang diteliti
oleh ahli bedah plastik. Sindrom Craniosynostosis familial ini

memberikan

beberapa

ciri-ciri

umum,

termasuk

midface

hypoplasia, pertumbuhan basis crania yang abnormal, wajah yang


abnormal serta lengan dan tungkai yang abnormal. Pada faktanya,
gambaran craniofacial dari berbagai sindrom ini secara klinis
sama, sehingga kelainan pada jari tangan dapat menjadi pembeda
diantara bermacam-macam sindrom tersebut.5
2.6 Patofisiologi
Patogenesis kraniosinositosis belum jelas. Pertumbuhan
tengkorak ditentukan oleh pertumbuhan otak. Otak menjadi dua
lebih besar pada umur satu tahun. Tinjauan perkembangan
tengkorak

membantu

dalam

memahami

terjadinya

Craniosynostosis. Selama perkembangan awal, otak terbungkus


oleh lapisan mesenkim. Pada bulan kedua, jaringan tulang nyata
pada bagian mesenkim yang sesuai dengan kranium, dan jaringan
kartilago yang terbentuk pada dasar tengkorak. Tulang cranium
berkembang dengan baik pada bulan kelima kehamilan (frontal,
parietal, temporal dan oksipital) dan dipisahkan oleh sutura dan
fontanela. Otak tumbuh dengan cepat selama umur-umur tahun
pertama dan normalnya tidak terganggu karena pertumbuhan
ekuivalen sepanjang garis sutura.6
Pertumbuhan tulang kepala terjadi di sutura tengkorak.
Sutura yang mengalami kraniosinositosis dapat tunggal atau
multiple. Kraniosinositosis merupakan penutupan dini satu atau
lebih tulang tengkorak sehingga menyebabkan bentuk kepala yang
khas untuk penutupan setiap sutura. Penutupan sutura sagitalis

10

mengakibatkan skafosefali, sutura koronaria mengakibatkan


plagiosefali dan sutura metopik mengakibatkan trigonosefali.
Kraniosinositosis sekuder merupakan penutupan sutura dini karena
otak yang tidak berkembang misalnya pada mikrosefali atau
sesudah pemasangan pitas serebrospinal. Sutura koronaria dan
sagitalis paling sering terjadi.6
2.7 Gejala Klinis
Sebagian besar kasus Craniosynostosis nyata pada saat lahir
dan ditendai dengan deformitas tengkorak yang merupakan akibat
langsung fusi sutura premature. Palpasi sutura mengungkapkan
adanya rigi tulang yang menonjol. Dan fusi sutura dapat diperkuat
dengan roentenogram kepala atau scan tulang pada kasus yang
meragukan.8
Penutupan

premature

sutura

sagitalis

mengakibatkan

tengkorak memanjang dan sempit atau skafosefali, Bentuk


Craniosynostosis yang paling lazim. Skafosefali disertai dengan
oksiput yang menonjol dan dahi lebar, serta fontanela anterior
yang kecil atau tidak ada. Keadaan ini adalah sporadik atau lebih
lazim pada laki-laki, dan sering menyebabkan kesulitan selama
persalinan karena disproporsi kepala panggul. Skafosefali tidak
mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial atau hidrosefalus,
dan pemeriksaan neurologis terhadap penderita yang terkena
normal.8
Plagiosefali frontal merupakan bentuk Craniosynostosis
paling lazim berikutnya dan ditandai oleh datarnya dahi unilateral,

11

menonjolkan orbita ipsilateral dan alis, seta telinga disisi yang


terkena menonjol. Keadaan ini lebih lazim pada wanita dan
merupakan akibat dari fusi premature sutura koronaria dan
sfenofrontalis.

Tindakan

bedah

membuahkan

hasil

yang

menyenangkan secara kosmetis. Plagiosefali oksipital paling


sering akibat dari posisi saat masa bayi dan lebih lazim pada anak
yang tidak bergerak atau cacat, namun fusi atau sklerosis sutura
lambdoid dapat menyebabkan ratanya oksipital unilateral dan
pencembungan tulang frontalis ipsilateral.8
Trigonosefali merupakan bentuk kraniosinostisis yang
jarang karena fusi premature sutura metopik. Anak ini
mmempunyai dahi bentuk lunas kapal dan hipotelorisme, serta
berisiko disertai kelainan perkembangan otak depan.8
Turrisefali merujuk pada kepala berbentuk kerucut karena
fusi premature sutura koronaria dan sering sfenofrontalis dan
frontoetmoidalis. Deformitas kleeblattschadel adalah tengkorak
berbentuk aneh yang menyerupai daun semanggi. Anak ini
memiliki tulang temporal yang sangat menonjol, dan cranium
lainnya kontriksi. Hidrosefalus merupakan komplikasi yang
lazim.8
Fusi prematur dari hanya salah satu sutura jarang
menyebabkan defisit neurologis. Pada keadaan ini, indikasi satusatunya untuk operasi adalah memperbaiki penampilan kosmetik
anak, dan prognosisnya tergantung pada sutura yang terlibat dan
pada tingkat kelainan bentuk. Komplikasi neurologis, lebih

12

mungkin terjadi bila dua sutura atau lebih terfusi dalam hal ini
tindakan operasi sangat penting.8
Gangguan genetika yang paling menonjol yang disertai
dengan Craniosynostosis meliputi sindrom Crouzon, Apert,
Carpenter, Chotzen dan Pfeiffer. Sindrom Crouzon ditandai dengan
Craniosynostosis premature dan diwariskan sebagai ciri dominan
autosom. Bentuk kepala tergantung pada waktu dan urutan fusi
sutura namun yang paling sering mengakibatkan mengurangnya
diameter depan ke belakang atau tengkorak brakisefalik karena
penutupan sutura koronaria bilateral. Orbita kurang berkembang
dan

proptosis

ocular

menonjol.

Hipoplasie

maksila

dan

hipertelorisme orbita merupakan gambaran wajah yang khas.8


Sindrom Apert mempunyai banyak tanda yang sama dengan
sindrom Crouzon. Namun, sindrom Apert biasanya merupakan
keadaan sporadik, meskipun mungkin terjadi pewarisan dominan
autosom. Sindrom ini disertai dengan fusi premature banyak
sutura, termasuk sutura koronaria, sagitalis, skuamosa, dan
lambdoid. Wajah cinderung asimetris, dan mata kurang proptosis
dibandingkan dengan sindrom Crouzon. Sindrom Apert ditandai
dengan sindaktili jari ke-2, ke-3, dan ke-4 yang dapat menyatu
dengan ibu jari dan jari ke-5. Kelainan serupa sering terjadi pada
kaki, dan spina servikalis.8
Sindrom Carpenter diwariskan sebagai keadaan resesif
autosom, dan banyak fusi sutura cenderung mengakibatkan
deformitas kleeblattschadel. Sindaktili jaringan lunak tangan dan
kaki selalu ada, dan retardasi mental adalah lazim. Disamping itu,

13

(namun tidak lazim), kelainan meliputi penyakit jantung


kongenital, kekeruhan kornea, coxa valga, dan genu valgum.8
Sindrom Chotzen ditandai dengan Craniosynostosis dan
plagiosefali asimetris. Keadaan ini merupakan simdrom genetic
yang paling menonjol dan diwariskan sebagai ciri dominan
autosom. Sindrom ini disertai dengan asimetris wajah, ptosis
kelopak mata, jari-jari pendek, dan sindaktili jaringan lunak jari
ke-2 dan ke-3.8
Sindrom Pfeiffer paling sering disertai dengan turrisefali.
Mata menonjol dan berjarak lebar, dan ibu jari tangan serta ibu jari
kaki pendek dan lebar. Mungkin ada sindaktili jaringan lunak
parsial. Sebagian kasus tampak spordik, namun dilaporkan
merupakan pewarisan dominan autosom.8
Masing-masing
tambahan,

termasuk

sindrom

genetika

hidrosefalus,

beresiko

anomaly

meningkatnya

tekanan

intracranial, papilledema, atrofi optic karena kelainan foramin


optic, masalah pernapasan akibat deviasi sekat hidung atau atresia
koana, serta gangguan bicara dan tuli.8
2.8 Temuan Radiografik
Deformitas kranial pada Craniosynostosis disebabkan oleh
gangguan pertumbuhan perpendikuer terhadap sutura yang tekena
dan pertumbuhan kompensatori sutura normal. Pada skafosefali,
pertumbuhan

lateral

perpendikuler

terhadap

sutura

sagital

terganggu dan tengkorak menjadi memanjang ke anteroposterior.


Deformitas tengkorak terberat tergantung sutura yang terkena.
Digital marking tampak pada sekeliling sutura yang terkena atau
14

pada bagian tengkorak yang tumbuh pada banyak kasus. Digital


marking paling jelas pada sinostosis sutural multiple atau total.
Bagian

yang

berfusi

dari

sutura

yang

abnormal

sering

memperlihatkan tidak hanya penutupan garis sutura namun juga


sklerosis parasutural.7
Penonjolan lokal bagian yang berfusi mungkin dilihat pada
foto polos. Bila diduga disostosis kleidokranial, foto polos dada
diperlukan untuk

memastikan tiadanya klavikula. CT-scan

memperlihatkan tiadanya sutura kranial (yang normalnya ada)


dan pendataran serta penebalan tengkorak sekitar sutura yang
terkena pada kebanyakan kasus. CT scan juga memperlihatkan
perubahan parenkhimal atau anomali intrakranial yang berkaitan
seperti hidrosefalus dan malformasi.7
Sidik tulang kalvarial menunjukkan sutura abnormal
menjadi area dengan akumulasi radionuklida berkurang atau tiada,
disaat pengambilan isotop normal ditemukan pada semua sutura
pada mikrokrania.7
2.9 Pertimbangan Operasi
Tindakan terhadap Craniosynostosis ditujukan kepada
pemberian kesempatan kepada tengkorak untuk ekspansi. Sutura
dibuat secara operasi hingga perubahan yang irreversibel terjadi
pada otak. Karena otak pertumbuhannya mencapai 85% pada usia
tiga tahun, maka operasi harus dilakukan sesegera mungkin,
sebaiknya dalam enam bulan sejak lahir. Sinostosis sutura multiple
memerlukan operasi dini untuk membuang

tekanan

kranium

terhadap otak. Bahkan pada sinostosis sutura tunggal, operasi dini


diperlukan untuk memperbaiki deformitas kranial. Hasil yang
15

baik dapat dicapai setelah usia satu tahun bila koreksi dikombinasi
dengan tindakan bedah terhadap dasar tengkorak.4, 7
Kebanyakan pasien dengan Craniosynostosis sekunder
bukan kandidat operasi. Mikrosefali bukan indikasi untuk tindakan
bedah. Craniosynostosis pasca operasi pintas tidak selalu
menghambat pertumbuhan otak.4, 7
Kraniektomi linear pertama diperkenalkan Lanne-longue
pada 1890. Suturektomi mengakibatkan ekspansi tengkorak pada
bidang paralel terhadap pertumbuhan yang terhambat sebelumnya.
Hasil operasi pertama buruk karena refusi dini sutura berakibat
ossifikasi periosteum dan dura. Sejak tehnik yang mencegah refusi
sutura dengan penggunaan lembaran tantalum pada tepi tulang
oleh Simmons dan Peyton di 1947, berakibat setiap operasi
menjadi lebih baik. Film polietilen dan lembaran Silastik juga
digunakan. Beberapa ahli bedah-saraf melakukan kraniektomi
linear tanpa memakai material yang mencegah refusi, karena
penggunaan benda asing

menimbulkan kemungkinan infeksi.

Larutan fiksasi asam Zenker bisa digunakan

pada tepi

kraniektomi linear untuk

mencegah refusi. Kraniektomi linear

terdiri dari pembuangan

sutura abnormal, namun kraniektomi

paralel bisa dilakukan pada kasus skafosefali untuk melindungi


sinus

sagital

superior

(kraniektomi

parasagital

bilateral).

Kraniektomi yang lebih radikal dapat dilakukan pada kasus


Craniosynostosis untuk mendapatkan hasil kosmetis yang lebih
baik. Operasi bertahap dapat dilakukan untuk sinostosis sutura
multipel. 4, 7

16

Kemajuan
memungkinkan

rekonstruksi
dekompresi

dan

kraniofasial
rekonstruksi

mutakhir
orbit

untuk

menghilangkan gejala okular yang menyertai pada sinostosis


koronal atau plagiosefali. Operasi radikal untuk setiap deformitas
kraniofasial seperti sindroma Crouzon menjadi mungkin. Tindakan
bedah rekonstruktif tengkorak, orbit, dan muka mungkin
dilakukan pada dua tahap. Suturektomi yang cukup sepenjang
dasar tengkorak mungkin membatasi deformitas dan membuat
tindakan bedah tambahan tidak perlu. Koreksi satu tahap dari
sindroma Crouzon sekarang bisa dilakukan. 4, 7

2.10 Prognosis
Prognosis untuk craniosynostosis bervariasi tergantung pada
apakah jahitan kranial satu atau beberapa terlibat atau kelainan
lain yang hadir. Prognosis yang lebih baik bagi dengan
keterlibatan jahitan tunggal dan tidak ada kelainan yang
berhubungan.7
Hal

ini

penting

untuk

mendeteksi

dan

mengobati

craniosynostosis awal. Craniosynostosis yang tidak diobati akan


tetap sama atau memperburuk sebagai tumbuh seorang anak dan
dapat mempengaruhi perkembangan anak mental dan fisik.
Kondisi neuromuskuler yang terkait juga dapat mempengaruhi
perkembangan anak. Seorang anak dengan craniosynostosis akan
memerlukan evaluasi medis yang sedang berlangsung untuk

17

memastikan bahwa otak, tengkorak, dan tulang wajah yang


berkembang dengan baik.7

18

BAB III
PENUTUP
Istilah Craniosynostosis pertama diperkenalkan Virchow dan
digunakan untuk penutupan dini satu atau lebih sutura kranial.
Craniosynostosis primer merujuk pada penutupan satu sutura atau
lebih karena kelainan perkembangan tengkorak. Craniosynostosis
primer

akibat

dari

abnormalitas

intrinsic

sutura

cranial.

Craniosynostosis sekunder adalah akibat dari kegagalan pertumbuhan


dan pembesaran otak.
Insiden kraniosisostosis primer sekitar 1 per 2.000 kelahiran.
Penyebabnya pada sebagian besar anak belum diketahui. Namun
sindrom genetika merupakan 10-20% kasus. Craniosynostosis paling
sering adalah sinostosis sagital, diikuti sinostosis koronal.
Etiologi Craniosynostosis belum diketahui, namun hipotesis
yang berlaku menunjukan bahwa perkembangan abnormal dasar
tengkorak menciptakan gaya berlebihan pada dura yang berperan
menggangu perkembangan sutura kranialis.
Tujuh
Skafosefali;

jenis memiliki
Plagiosefali;

bentuk yang khas,

Trigonosefali;

Oksisefali,

Brakhisefali;
akrosefali,

turrisefali. Gangguan genetika yang paling menonjol yang disertai


dengan

Craniosynostosis

meliputi

sindrom

Crouzon, Apert,

Carpenter, Chotzen dan Pfeiffer.


Tindakan
pemberian

terhadap

Craniosynostosis

ditujukan

kepada

kesempatan kepada tengkorak untuk ekspansi. Sutura

dibuat secara operasi hingga perubahan yang irreversibel terjadi pada


otak.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak


nelson volume 2. Edisi 15. Jakarta: EGC; 2000.
2. Anonymous. Newborn Guideline 11 Neurology of Pediatric.
March

2001

(cited

2015

March

1);

Avaible

frrom:

<URL:http://www.perinatalservicesbc.ca/NR/rdonlyres/DC56A
D11-C5ED-4288-91B2215A8CD9A836/0/NBGuidelinesEye
Care11.pdf>.
3. Mallika PS, Asok T, dkk. Craniosynostosis (A Review). 2008
(cited 2015 March 1); Avaible from:<URL: http://www.
emfp.org/2008v3n2/pdf/Neonatal_conjunctivitis.pdf>.
4. Childreens Craniosynostosis Asossiation. A Guide

to

Understanding Craniosynostosis. Dallas. 2010.


5. Anonymous. Craniosynostosis Syndrome. (cited 2015 March
108); Available from:<URL:http://www.ucsfbenioffchildrens
.org/conditions/ craniosynostosis_syndromes/treatment.html>.
6. Sjamsuhidajat. BUKU AJAR ILMU BEDAH edisi 3. EGC,
Jakarta.2002.
7. Majid A Khan, Craniosynostosis. Diunduh dari http://emedicine
8.

.medscape.com/article/407856, pada tanggal 1 Maret 2015.


Behrman, Kliegman, Arvin. 2002. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak. EGC. Jakarta.

20