Anda di halaman 1dari 71

REFRAT

PSIKOGERIATRI

Disusun oleh:
Anindita Putri H.

G99141012

Siska Dewi A.

G99141013

Candra Aji S.

G99141014

Avamira Rosita P.

G99141015

Elizabeth Puji Y.

G99141016

Pembimbing:
Istar Yuliadi, dr., M.Si

PENDIDIKAN DOKTER TAHAP PROFESI BAGIAN KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Tuhan YME yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
refrat yang berjudul: Psikogeriatri. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan
penyusunan refrat ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bimbinan
dan nasihat, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Prof. Em. Ibrahim Nuhriawangsa, dr., Sp.KJ (K)


Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)
Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ (K)
Prof. Dr. Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)
Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ (K)
Yusvick M. Hadim, dr., Sp.KJ
Djoko Suwito, dr., Sp.KJ
I.G.B. Indro Nugroho, dr., Sp.KJ
Gst. Ayu Maharatih, dr., Sp.KJ
Makmuroch, Dra., MS
Debree Septiawan, dr., Sp.KJ, M.Kes
Istar Yuliardi, dr., M.Si
Rochmaningtyas HS, dr., Sp.KJ, M.Kes
RH Budi M, dr., Sp.KJ (K)
Maria Rini I, dr., Sp.KJ
Adriesti H, dr., Sp.KJ (K)
Wahyu Nur Ambarwati, dr., Sp.KJ
Setyowati Raharjo, dr., Sp.KJ
Penulis menyadari bahwa refrat ini masih belum sempurna, oleh karena itu

penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan refrat ini.
Semoga refrat ini bermanfaat bagi kita semua.
Februari 2015
Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

ii

Daftar isi

iii

BAB I Pendahuluan

BAB II Proses Penuaan pada Lanjut Usia

A. Batasan Lanjut Usia

B. Proses Penuaan

C. Proses Penuaan yang Normal

11

D. Proses Penuaan yang Sukses

14

BAB III Faktor Risiko Gangguan Mental

15

A. Faktor Sosial Demografi

15

B. Penyakit Kronis

17

C. Penggunaan Obat dan Alkohol

18

D. Kemandirian Fisik

18

E. Religi

18

F.

18

Dukungan Sosial

G. Status Gizi

19

H. Riwayat Gangguan Jiwa (Skizofrenia)

19

BAB IV Pemeriksaan Psikiatrik pada Pasien Lanjut Usia


A. History Taking

20
20

B. Mental Status Examination

22

BAB V Epidemiologi Gangguan Mental pada Pasien Lanjut Usia

28

BAB VI Gangguan Mental pada Lanjut Usia

30

A. Demensia

30

B. Gangguan Depresif

35

C. Gangguan Bipolar

37

D. Skizofrenia

38

E. Gangguan Delusional

41

F.

42

Gangguan Kecemasan

G. Gangguan Somatoform

44

H. Gangguan Tidur

45

I.

47

Gangguan Penggunaan Alkohol dan Zat Lain

BAB VII Gejala Perilaku dan Psikologis Demensia

49

BAB VIII Permasalahan Sosial, Ekonomi, dan Psikologi Lansia

55

A. Perubahan Aspek Psikososial

55

B. Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan

56

C. Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat

58

D. Perubahan Minat

58

E. Perubahan Berkaitan dengan Aspek Psikologis

59

BAB IX Penatalaksanaan Gangguan Psikiatri pada Pasien Lanjut Usia

60

A. Terapi Psikofarmakologis

60

B. Psikoterapi

61

BAB IX Kesimpulan

63

Daftar Pustaka

iv

BAB I
PENDAHULUAN
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan menangani
masalah kesehatan pada usia lanjut. Psikiatri geriatrik atau psikogeriatri adalah
psikiatri mengenai orang usia lanjut (Maramis, 2009). Pada psikogeriatri
dipelajari mengenai pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan
psikologik atau psikiatri pada lanjut usia. Saat ini disiplin ini sudah berkembang
menjadi suatu cabang psikiatri, analog dengan psikiatri anak. Usia lanjut bukanlah
sebuah penyakit melainkan sebuah fase dalam siklus kehidupan yang memiliki
karakter tersendiri pada setiap fase perkembangan. Usia lanjut terkait dengan
matangnya pemikiran yang bijak yang bisa diwariskan kepada generasi
berikutnya, salah satu tugas pada usia lanjut yang dikemukakan oleh Erik Erikson
tentang usia lanjut yang sehat yaitu integritas dan bukan putus asa.
Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan telah membuahkan hasil
dengan meningkatnya populasi penduduk lanjut usia. Menurut Depkes RI pada
tahun 2005 tentang umur harapan hidup pada perempuan 68,2 tahun dan pada
laki-laki 64,3 tahun. Harapan hidup orang Indonesia pada tahun 2015 sampai
2020 mencapai 70 tahun atau lebih. Jumlah penduduk lanjut usia mencapai 24 juta
jiwa bahkan lebih atau sekitar 9,77% dari total penduduk.
Beberapa masalah khusus dalam usia lanjut

adalah gangguan fisik

(penyakit) yang berhubungan dengan usia lanjut, kehilangan dalam bidang sosial
ekonomi (pensiun dari pekerjaan), masalah seks pada usia lanjut bila terdapat
anggapan-anggapan yang keliru, dll (Maramis, 2009). Masalah-masalah tersebut
dapat mempengaruhi kondisi psikologis pada orang usia lanjut.
Data prevalensi untuk gangguan mental pada pasien lanjut usia bervariasi,
namun secara konservatif diperkirakan sebanyak 25% memiliki gejala psikiatri
yang signifikan. Angka morbiditas gangguan psikiatri pada pasien lanjut usia
diperkirakan meningkat hingga 20 juta pada pertengahan abad 20 nanti.

Pemeriksaan psikiatri pada pasien lanjut usia sama dengan yang berlaku
pada dewasa muda. Namun dokter harus lebih teliti agar dapat memastikan pasien
mengerti sifat dan tujuan pemeriksaan dikarenakan tingginya prevalensi gangguan
kognitif pada pasien lanjut usia. Diagnosis dan terapi gangguan mental pada lanjut
usia memerlukan pengetahuan khusus, karena kemungkinan perbedaan dalam
manifestasi klinis, patogenesis dan patofisiologi gangguan mental antara
patogenesis dewasa muda dan lanjut usia. Faktor penyulit pada pasien lanjut usia
juga perlu dipertimbangkan, antara lain sering adanya penyakit dan kecacatan
medis kronis penyerta, pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan
kerentanan terhadap gangguan kognitif.
Referat ini membahas secara singkat mengenai macam-macam gangguan
psikiatri yang mungkin terjadi pada pasien lanjut usia, berhubungan dengan
proses penuaan yang terjadi. Pemeriksaan psikiatri yang baik diperlukan untuk
dapat mendiagnosis gangguan psikiatri pada pasien lanjut usia dan pengetahuan
akan

proses

penuaan

berpengaruh

terhadap

direncanakan.

penatalaksaan

yang

akan

BAB II
PROSES PENUAAN PADA LANJUT USIA
A. BATASAN LANJUT USIA
WHO (1989) telah mencapai konsensus bahwa yang dimaksud dengan
lanjut usia (elderly) adalah seseorang yang berumur 60 tahun atau lebih.
Menurut Departemen Kesehatan RI, batasan lanjut usia adalah seseorang
dengan usia 60-69 tahun. Sedangkan usia lebih dari 70 tahun dan lanjut usia
berumur 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan seperti kecacatan
akibat sakit disebut lanjut usia resiko tinggi.
Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan telah membuahkan
hasil dengan meningkatnya populasi penduduk lanjut usia. Menurut Depkes
RI pada tahun 2005 tentang umur harapan hidup pada perempuan 68,2 tahun
dan pada laki-laki 64,3 tahun. Harapan hidup orang Indonesia pada tahun
2015 sampai 2020 mencapai 70 tahun atau lebih. Jumlah penduduk lanjut usia
mencapai 24 juta jiwa bahkan lebih atau sekitar 9,77% dari total penduduk.
Diperkirakan pada akhir tahun 2030, populasi penduduk lanjut usia
keseluruhan mencapai jumlah 70 juta dan pada tahun 2050 mencapai 82 juta.
B.

PROSES PENUAAN
Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi
seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem
fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan
kematian (Setiati et al., 2007).
Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian dunia medis terhadap
proses penuaan dan permasalahan yang timbul pada orang usia lanjut
meningkat. Banyak penelitian dilakukan untuk lebih memahami proses
penuaan baik dari segi fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Para peneliti
menyadari pentingnya membedakan proses penuaan yang fisiologis dan
penuaan yang bersifat patologis. Efek proses penuaan yang fisiologis penting

untuk dipahami sebagai dasar respons terhadap pengobatan atau terapi serta
komplikasi yang timbul.
Variabel-variabel fisiologis seperti kardiovaskuler, sistem imun,
endokrin, ginjal, dan paru, menunjukan penurunan fungsi dan perubahan
seiring dengan meningkatnya usia. Namun, perubahan pada salah satu organ
akibat usia tidak menjadikannya sebagai prediktor atau tolak ukur bahwa
akan terjadi perubahan-perubahan pada organ yang lainnya. Sebagai contoh,
seseorang yang tampak sehat pada usianya yang ke-60 ternyata ditemukan
curah jantungnya menurun. Hasil pemeriksaan tersebut tidak bernilai dalam
memprediksikan kapan ginjal, kelenjar tiroid, sistem saraf simpatis, atau
organ lain orang tersebut mengalami perubahan.
Perubahan fisiologis dengan tidak disertainya suatu penyakit yang
terjadi pada individu yang lebih tua merupakan hal yang tidak berbahaya dan
bukan merupakan suatu faktor risiko yang signifikan. Perubahan fisiologis
pada usia normal yang tidak disertai dengan penyakit sangat bervariasi.
Akan tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor intrinsik seperti gaya hidup, diet,
aktivitas, nutrisi, paparan lingkungan, dan komposisi tubuh memegang peran
yang penting.
Perjalanan dari perubahan fisiologis

atau psikologis

dengan

bertambahnya usia pada masing-masing individu dipengaruhi proses penuaan


intrinsik dan bermacam faktor ekstrinsik, contohnya genetik, pengaruh
lingkungan, gaya hidup, diet, faktor psikososial.
Ada perubahan yang terjadi seiring dengan peningkatan usia yang
tampak menyerupai

gejala klinis namun sesungguhnya berbeda, hal ini

menyebabkan sulitnya mendiagnosis secara tepat pada orang usia lanjut


(Kaplan et al., 2010 dan Busse et al., 1997).
Proses penuaan bukanlah suatu penyakit melainkan suatu proses
normal yang harus dimengerti dengan jelas untuk mendiagnosis secara tepat
kemudian memberikan penatalaksanaan yang tepat sehingga beban yang
dirasakan akibat penyakit dapat berkurang. Namun, perubahan fungsi
beberapa organ patut diperhitungkan dalam pemberian terapi farmasi agar

tepat sasaran dan tidak membahayakan. Beberapa teori tentang menua yang
dapat diterima saat ini, antara lain :
1. Teori radikal bebas menyebutkan bahwa produk hasil
metabolisme oksidatif yang sangat reaktif (radikal bebas) dapat
bereaksi dengan berbagai komponen penting selular, termasuk
protein, DNA dan lipid, dan menjadi molekul-molekul yang tidak
berfungsi namun bertahan lama dan mengganggu fungsi sel
lainnya. Proses menua normal merupakan akibat kerusakan
jaringan oleh radikal bebas.
2. Teori glikosilasi yang menyatakan bahwa proses glikosilasi
nonenzimatik yang menghasilkan pertautan glukosa-protein dapat
menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang
ermodifikasi sehingga terjadi disfungsi pada hewan atau manusia
yang menua.
3. Teori DNA repair menunjukkan bahwa adanya perbedaan pola laju
perbaikan kerusakan DNA yang diinduksi sinar UV pada berbagai
fibroblas yang dikultur.
Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dari
pengenalan

konsep

homeostenosis.

Homeostenosis

yang

merupakan

karakteristik fisiologi penuaan adalah keadaan penyempitan (berkurangnya)


cadangan homeostasis yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setia
sistem organ (Setiati et al., 2007).

Beberapa perubahan yang terjadi pada berbagai sistem tubuh selama


proses penuaan :

Gambar 1. Perubahan Sistem Tubuh Terkait dengan Proses Penuaan


(Setiati et al., 2007)

C.

PROSES PENUAAN YANG NORMAL


Pertanyaan yang sering muncul dalam kaitannya dengan proses
penuaan adalah Apakah proses penuaan tersebut berlangsung normal
ataukah merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh penyakit? Ketentuan
utama dalam mempelajari kondisi psikiatri geriatri adalah bukan hanya
karena sesuatu terjadi secara umum maka hal tersebut lantas dianggap
merupakan kondisi yang normal. Misalnya penyakit Alzheimer yang banyak
terjadi pada hampir 50% individu usia lanjut ketika berusia 80 tahunan bukan
merupakan suatu keadaan yang normal dalam kaitannya dengan proses
penuaan melainkan merupakan suatu penyakit yang dapat dicegah dan
disembuhkan. Demikian halnya dengan gangguan atau perubahan perilaku
yang terjadi pada geriatri dengan gangguan Alzheimer bukan merupakan hal
yang normal walaupun memang hampir 85% penderita Alzheimer mengalami
gangguan berperilaku. Menurut Sakauye (2008), proses penuaan yang normal
adalah suatu proses yang terdiri atas perubahan-perubahan yang terjadi secara
umum, yang seringkali tidak disadari oleh individu tersebut, serta yang tidak
menimbulkan disabilitas maupun gangguan fungsi peran.
Perubahan-perubahan yang banyak terjadi pada usia lanjut disebutkan
dalam tabel berikut, beberapa diantaranya merupakan proses perubahan yang
dapat dikatakan normal sebab tidak sampai menimbulkan gangguan/
disabilitas atau tidak membutuhkan pengobatan tertentu. Meskipun demikian
perubahan-perubahan tersebut tetap mengakibatkan terjadinya perubahan
dalam hal toleransi obat, penurunan kemampuan absorbsi, distribusi, dan
metabolisme obat, selain itu dalam kondisi lainnya juga terkadang dapat
mempengaruhi haparan/ ekspektasi diri seseorang, fleksibilitasnya, serta cara
berperilakunya.

Aspek Biologis
Penurunan postur

Aspek Psikologis
Penurunan daya

Aspek Sosial
Menjadi kakek-

Aspek Kognitif
Kemampuan

kognitif dan proses

nenek

meningkatkan

pikir

fungsi intelektual

Penurunan massa

Penurunan

Merasakan

berkurang
Disorientasi

otot hingga 80%

kemampuan

kematian dari

mengambil risiko

orang tua atau

Peningkatan +/-

Berusaha

teman
Pensiun dari

Lambat dalam

35% dari total

mempertahankan

pekerjaan

mengingat kembali

lemak tubuh

gairah seksual

memori-

meskipun

memorinya

performa sudah
Atrofi kulit

Katarak

menurun
Rigiditas

Upaya

Mengalami

memperbanyak

kesulitan dalam hal

tabungan
Mulai menarik diri

mengingat

Motivasi berubah
menjadi kebutuhan

dari aktivitas sosial

akan otonomi dan


Presbiakusis
Presbiopia

keterlibatan
Eksentrik
Mulai kenal akan

Penebalan otot

kematian
Berbicara lebih

venrikel jantung
Penurunan

blak-blakan.
Lebih tergangtung

kapasitas vital paru

pada lingkungan

dan kekakuan
rambut silia
Perubahan irama

Takut untuk

sikardian
Aspek Biologis
Atrofi sel lambung

tinggal sendirian
Aspek Psikologis
Mudah cemas dan

Kerusakan

panik
Afek labil

selubung mielin
Penurunan
imunitas tubuh
Penurunan
kemampuan
perfusi ginjal
Menopause
Penurunan
produksi hormon
testosteron
Penurunan
performa seksual

Aspek Sosial

Aspek Kognitif

Tabel 1.

Perubahan yang Banyak Terjadi pada Usia Lanjut (Sakauye, 2008)


Berikut merupakan tabel yang menyajikan perbandingan antara
perubahan-perubahan yang normal dengan yang tidak normal dalam
kaitannya dengan proses penuaan.
Normal
Berbicara lebih blak-blakan
Mengeluhkan perihal kemampuan

Tidak normal
Afek labil/ mudah emosi
Disorientasi

mengingat
Pikiran hipokondriasis ringan
Kewaspadaan yang sedikit berlebihan
Lambat dalam mengingat kembali

Ketergantungan yang berlebihan


Ketakutan untuk hidup sendiri
Penarikan diri dari aktivitas dan interaksi

memorinya
Pembicaraan yang tampak seperti

sosial di masyarakat (social isolation)


Cemas dan mudah panik

penyampaian cerita

Tabel 2. Perubahan Normal dan Tidak Normal pada Lansia (Sakauye, 2008)
D.

PROSES PENUAAN YANG SUKSES


Penuaan yang berhasil diartikan sebagai kehidupan lansia dengan
kepuasan/ kebahagiaan yang positif disertai dengan kondisi fisik dan mental
yang sehat. Keberhasilan ini sangat berkaitan dengan banyak faktor, dapat
berupa faktor yang bisa dikontrol seperti gaya hidup maupun faktor yang
tidak bisa dikontrol seperti genetik, namun dari hasil penelitian diketahui
bahwa faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan dalam proses penuaan
adalah faktor-faktor yang dapat dikendalikan/ dikontrol. Tabel berikut akan
menunjukkan faktor-faktor apa saja yang berperan dalam pencapaian
keberhasilan selama penuaan.
Faktor yang sangat berpengaruh
Tingkat pendidikan
Gaya hidup yang sehat
Hubungan dekat yang baik
Perilaku mental yang positif atau

Faktor yang tidak signifikan


Tingginya derajat orang tua
Masa kecil yang temperamental
Masa kecil yang hangat
Genetik yang baik dengan riwayat usia

kepribadian yang dewasa


Kemampuan menahan diri untuk tidak

hidup yang panjang

mudah komplain/ mengomel

Tabel 3. Faktor-faktor Kesuksesan selama Penuaan (Sakauye, 2008)

BAB III
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN
GANGGUAN MENTAL EMOSIONAL PADA LANSIA
A. Faktor Sosial Demografi
1. Umur
Menurut Koenig dan Blazer (2003) menjelaskan bahwa resiko
gangguan mental emosional pada pasien seseudah berusia 50 tahun lebih
disebabkan faktor biologi yang mungkin disebabkan perubahan pada
sistem syaraf pusat. Hal ini yang mungkin menyebabkan terjadinya
depresi. Menurut penelitian Marini (2008) umur lansia yang berusia diatas
70 tahun lebih beresiko mengalami gangguan mental emosional.
2. Jenis Kelamin
Diagnostik gangguan mental adalah sama untuk semua jenis
kelamin, namun wanita lebih rentan terkena gangguan mental emosional
karena disebabkan perubahan hormonal dan perbedaan karakteristik antara
laki-laki dan perempuan, selain perubahan hormonal, karakteristik wanita
yang lebih mengedepankan emosional dibandingkan rasional juga
memiliki peranan. Ketika menghadapi suatu masalah wanita cenderung
menggunakan perasaan (Marini, 2008).
3. Status Perkawinan
Gangguan mental emosional lebih banyak terjadi pada lanjut usia
yang hidup sendiri baik karena bercerai atau memang tidak menikah.
Menurut Stuart dan Sandra (2001) bahwa orang yang cerai, pisah,
janda/duda atau belum kawin cenderung beresiko tinggi melakukan bunuh
diri dibanding yang sudah kawin.
4. Tingkat Pendidikan
Pendidikan yang makin tinggi dapat menghasilkan keadaan sosial ekonomi
yang makin baik dan kemandirian yang makin mantap. Berdasarkan
penelitian Darmojo (1992) di Semarang didapatkan bahwa tingkat
pendidikan seorang usia lanjut berbanding positif langsung dengan tingkat

kesehatannya (Darmojo, 2004). Pendidikan rendah dihubungkan dengan


meningkatnya risiko untuk terjadinya dimensia dan terjadinya depresi pada
penelitian-penelitian sebelumnya didapatkan bahwa depresi lebih banyak
terjadi pada orang lanjut usia dengan tingkat pendidikan rendah (< 9 tahun
bersekolah).
5.

Status Pekerjaan
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia, ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian, dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi semakin lambat.
Sementara fungsi psikomotor (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan
dengan dorongan kehendak, seperti gerakan, tindakan, dan koordinasi,
yang mengakibatkan lansia kurang cekatan (Sutarto dan Cokro, 2009).
Tuckman dan Lorge (dikutip dari Stieglitz, 1954) menemukan
bahwa pada waktu menginjak usia pensiun (65 tahun) hanya 20% diantara
orang-orang tua tersebut yang masih betul-betul ingin pensiun, sedangkan
sisanya sebenarnya masih ingin bekerja terus (Tamher dan Noorkasiani,
2009).
Pensiun setelah bertahun-tahun bekerja dapat membahagiakan dan
memenuhi harapan, atau hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan
fisik dan mental. Setelah pensiun beberapa orang tidak pernah dapat
menyesuaikan diri dengan waktu luangnya dan selalu merasa mengalami
hari

yang

panjang.

Beberapa

lansia

tidak

termotivasi

untuk

mempertahankan penampilan mereka ketika mereka tidak atau hanya


sedikit melakukan kontak dengan orang lain diluar rumahnya (Stanley dan
Patricia, 2006).
Kehilangan peran kerja sering memiliki dampak besar bagi orang
yang telah pensiun. Identitas biasanya berasal dari peran kerja, sehingga
individu harus membangun identitas baru pada saat pensiun. Mereka juga
kehilangan struktur pada kehidupan harian saat mereka tidak lagi memiliki
jadwal kerja. Interaksi sosial dan interpersonal yang terjadi pada

lingkungan kerja juga telah hilang. Sebagai penyesuaian, lansia harus


menyusun jadwal yang bermakna dan jaringan sosial pendukung (Potter
dan Perry, 2009).
6. Status Sosial Ekonomi
Ketika seseorang sakit maka tidak akan terlalu berdampak buruk
pada orang yang berpenghasilan tetapi bagi yang tidak berpenghasilan
dapat menimbulkan goncangan ekonomi sehingga dapat menimbulkan
stress atau gangguan mental (Depkes, 2004).
Menurut beberapa penelitian tingkat sosial ekonomi keluarga juga
merupakan salah satu faktor yang menentukan gangguan emosional,
semakin tinggi sumber ekonomi keluarga akan mendukung stabilitas dan
kebahagian keluarga. Apabila status ekonomi pada tahap yang sangat
rendah sehingga kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi inilah yang akan
menimbulkan konflik dalam keluarga yang menyebabkan gangguan
mental emosional (Murti, 1997).
B. Penyakit Kronis
Pengaruh penyakit kronik pada usia lanjut dapat menimbulkan
gangguan mental emosional melalui cara yang tidak langsung yaitu karena
adanya keterbatasan mobilitas, ketergantungan orang lain, dan nyeri yang
terus menerus atau ketidaknyamanan. Pengalaman klinis menyebutkan bahwa
bukan keparahan penyakit atau ancaman kematian yang mengganggu
kesehatan mental usia lanjut tetapi adanya berbagai kehilangan akibat
penyakit tersebut yang mempunyai hubungan erat dengan gangguan mental
emosional (Soedjono et al., 2006).
Menurut Koenig dan Blazer (2003) yang menjelaskan bahwa satu faktor
risiko terjadinya gangguan mental adalah penyakit fisik (kronis). Perubahan
perilaku dalam gangguan mental emosional disebabkan oleh penyakit
biologis perilaku yang menyimpang berhubungan dengan toleransi responden
terhadap stress (Stuart dan Sandra, 2001).

Penyakit kronik adalah penyakit tidak menular dan menular yang


diderita berlangsung lama, beberapa penyakit tidak menular yang beresiko
menyebabkan gangguan mental adalah hipertensi, gangguan sendi dan DM.
C. Penggunaan Obat dan Alkohol
Lansia dengan penyalahgunaan obat memiliki risiko gangguan mental
cemas sebesar 13,8 kali dan depresi sebesar 18,8 kali. Etiologi yang
berhubungan dengan pengguna alkohol adalah genetika dan psikososial yang
meliputi : status sosial ekonomi dan riwayat kesulitan sekolah.
D. Kemandirian Fisik
Kemandirian pada usia lanjut dinilai dari kemampuannya untuk
melakukan aktifitas sehari-hari (Activities of Daily Life = ADL) apakah
mereka tanpa bantuan dapat bangun, mandi dan lain sebagainya. Jika terdapat
faktor kehilangan fisik yang mengakibatkan hilangnya kemandirian maka
akhirnya akan meningkatkan kerentanan lansia terhadap depresi (Soedjono et
al., 2006).
E. Religi
Tingkat spiritualitas/ religiusitas terbukti besar berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa berbagai penelitian yang dilakukan terhadap usia lanjut antara
lain:
-

Lansia yang non religius angka kematiannya dua kali lebih besar

dibandingkan usia lanjut yang religius.


Lansia yang non religius kurang tabah dan kurang mampu mengatasi
stres dibandingkan usia lanjut yang religius sehingga lebih sering

mengalami gangguan jiwa.


F. Dukungan Sosial
Adanya dukungan sosial yang tinggi dilaporkan dapat melindungi diri
dari kejadian depresi pada usia lanjut. Pekerjaan, usia, hobi, tingkat
kepercayaan diri, pasangan hidup beserta tingkat keakrabannya, dan kejadian
kehidupan yang menyedihkan dapat mempercepat terjadinya depresi/
gangguan mental (Goldberg, 2007).
G. Status Gizi

Perubahan fisik dan penurunan fungsi organ tubuh akan mempengaruhi


konsumsi dan penyerapan zat gizi pada lansia. Beberapa penelitian yang
dilaksanakan menunjukkan bahwa masalah gizi pada lansia sebagian besar
merupakan masalah gizi berlebih dan kegemukan yang memicu timbulnya
berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi,
DM, batu empedu, rematik, ginjal dan kanker (Maryam, 2008).
H. Riwayat Gangguan Jiwa (Skizofrenia)
Faktor keturunan yang mempengaruhi kesehatan seseorang dimana
kasus tertentu seperti retardasi mental. Berdasarkan teori neurologi dan adanya
faktor konstitusi menunjukkan bahwa faktor genetik keseluruhan ataupun
yang diperolehnya kemudian disebutkan dapat berperan dalam kemungkinan
terjadinya gangguan depresi (Maramis, 2009).

BAB IV
PEMERIKSAAN PSIKIATRIK PADA PASIEN LANJUT USIA
Format pemeriksaan psikiatri pada pasien lanjut usia sama dengan yang
berlaku pada dewasa muda. Pasien yang lebih tua yang tidak memiliki riwayat
kejiwaan sebelumnya mungkin tidak nyaman dengan semacam pemeriksaan
psikiatri dan mengharapkan suatu pendekatan yang lebih bersifat medis. Beberapa
pasien orang tua kemungkinan justru menyampaikan keluhan fisik daripada
psikologis, terutama jika pasien mempunyai kondisi depresi atau cemas.
Dokter harus lebih teliti agar dapat memastikan pasien mengerti sifat dan
tujuan pemeriksaan dikarenakan tingginya prevalensi gangguan kognitif pada
pasien lanjut usia. Jika pasien mengalami gangguan kognitif, riwayat tersendiri
harus didapatkan dari anggota keluarga atau pengasuhnya. Namun, penderita juga
tetap harus diperiksa tersendiri (walaupun terlihat adanya gangguan yang jelas)
untuk mempertahankan privasi hubungan dokter dan penderita dan untuk
menggali adakah pikiran bunuh diri atau gagasan paranoid dari penderita yang
mungkin tidak diungkapkan dengan kehadiran sanak saudara atau seorang perawat
(Kaplan et al., 2009).
A. HISTORY TAKING
Prinsip-prinsip dalam history taking serupa dengan pada orang
dewasa umumnya: Membangun hubungan, membuat pasien merasa nyaman,
dan menjaga privasi serta kerahasiaan. Pendekatan medis sering diharapkan
dan disegani oleh pasien yang lebih tua. Banyak pasien lanjut usia yang tidak
akan mengungkapkan keluhan yang sebenarnya kecuali jika jelas ditanya
(Kaplan et al., 2009).
1. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien harus didorong untuk menggambarkan riwayat penyakit
dan gejala saat ini dalam sebuah wawancara terbuka, dengan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur. Onset dan perjalanan gejala harus
dievaluasi dalam kaitannya dengan perubahan lain termasuk kehilangan

orang yang dicintai, perubahan signifikan dalam lingkungan sosial,


kegiatan setiap hari, penggunaan obat serta respon yang dicapai dan
penyakit medis penyerta. Keluarga dan sumber informasi harus diberi
kesempatan untuk memberikan informasi mengenai keadaan pasien
menurut penilaian mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan pasien atau
secara terpisah, terutama didasarkan pada keinginan pasien. Gejala-gejala
yang perlu ditanyakan kepada pasien dengan ganggua kognitif, antara lain:
kesulitan dalam mengingat, berpikir, maupun berkonsentrasi, lupa akan
peristiwa yang baru, lupa di mana meletakkan benda, masalah dalam
menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan sesuatu, tersesat di
tempat-tempat yang sudah sering dilewati, serta kesulitan dalam mengelola
keuangan.
Pasien yang berusia di atas 65 tahun sering memiliki keluhan
subyektif adanya gangguan daya ingat yang ringan, seperti tidak
mengingat nama orang atau keliru meletakkan benda. Masalah kognitif
ringan juga dapat terjadi karena kecemasan dalam situasi wawancara.
Fenomena

ini

dapat

dijelaskan

dalam

istilah

benign

senescent

forgetfulness.
2. RIWAYAT PSIKIATRI
Evaluasi riwayat psikiatri harus mencakup perjalanan penyakit,
jenis pengobatan (psikoterapi, obat-obatan, terapi electroconvulsive) dan
respon

terhadap

perawatan

tersebut.

Riwayat

depresi,

gangguan

kecemasan, psikosis atau skizofrenia serta pengobatan yang sudah diterima


saat episode sebelumnya dan saat ini.
3. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Informasi mengenai riwayat penyakit keluarga sebaiknya
ditanyakan kepada pasien terlebih dahulu kemudian keluarganya atau
kepada pasien bersamaan dengan keluarganya. Urutan ini sangat penting
dalam evaluasi pasien dengan gangguan kognitif. Sebuah genogram sangat
membantu dalam menggambarkan hubungan kekeluargaan dan psikiatri,
neurologi, serta penyakit medis lainnya dalam generasi yang berbeda.

4. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Rincian harus diperoleh tentang status perkawinan pasien, situasi
hidup, latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, dan sifat hubungan
penting bagi pasien. Kepribadian premorbid tidak terbawa hingga usia tua,
namun dampaknya terhadap penyakit pada lansia bervariasi. Kepribadian
itu sendiri dapat berubah dengan penuaan. Perubahan ini diduga
ditentukan oleh lingkungan, tetapi juga dapat didasarkan pada perubahan
neurobiologi. Riwayat penggunaan dan penyalahgunaan alkohol dan zat
lain perlu ditanyakan.
5. PEMERIKSAAN MEDIS
Setiap orang dewasa yang lebih tua membutuhkan pemeriksaan
medis berkala. Pemeriksaan fisik yang lengkap harus dilakukan mengingat
banyaknya perubahan fisiologis yang terjadi pada proses penuaan. Defisit
neurologis, gangguan endokrin, penyakit jantung, keganasan tersembunyi,
dan infeksi adalah penyebab potensial gangguan kognitif, agitasi, depresi,
dan terkadang psikosis. Infeksi saluran kemih, yang dapat terjadi tanpa
demam, adalah penyebab umum dari penurunan kognitif dan delirium.
Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan dapat membantu
menegakkan diagnosis dan mendeteksi kondisi yang dapat diobati.
Tomografi komputer, pencitraan resonansi magnetik, atau pemeriksaan
penunjang lainnya dapat diindikasikan bilamana ditemukan perubahan
status mental yang belum jelas. Termasuk medikasi yang saat ini sedang
digunakan untuk mengatasi penyakit fisiknya dan mengetahui apakah ada
efek samping psikiatriknya (Kaplan et al., 2009).
B. MENTAL STATUS EXAMINATION
1. OBSERVASI TINGKAH LAKU
Bagian pertama dari pemeriksaan status mental adalah observasi
umum penampilan pasien, kebersihan pribadi, aktivitas motorik, setiap
perilaku yang tidak biasa, ucapan, sikap terhadap pemeriksa, dan adanya
alat bantu pendengaran dan visual. Kebersihan yang buruk menunjukkan

lama gangguan depresi, gangguan psikotik, atau demensia, terutama


dengan tidak adanya dukungan sosial. Sebaliknya, pasien sakit jiwa
dengan demensia mungkin tampak rapi karena upaya pengasuh.
2. GANGGUAN BAHASA DAN PIKIRAN
Bicara dan berbahasa sangat penting untuk dinilai pada orang
dewasa yang lebih tua. Kualitas, kuantitas, dan kelancaran berbicara perlu
dicatat. Ucapan dapat normal responsif, cepat, dipaksa, keras atau
emosional, lambat, monoton, kurang spontanitas, atau tidak jelas.
3. PERSEPSI
Gangguan persepsi termasuk halusinasi dan ilusi. Halusinasi
dapat sederhana atau kompleks dan terorganisir. Halusinasi sementara
terjadi pada demensia dan pada pasien dengan gangguan pendengaran atau
defisit visual. Gangguan kemampuan untuk mengidentifikasi bau atau
hiposmia adalah fitur dari penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson.
Kehilangan memori dan disorientasi membantu mengidentifikasi masalah
sebagai sesuatu yang berhubungan dengan demensia.
4. MOOD DAN AFEK
Mood adalah keadaan emosi subjektif, dan afek adalah keadaan
emosional obyektif. Banyak pasien lanjut usia menggambarkan suasana
hati mereka secara akurat sebagai depresi atau cemas, tetapi beberapa
cenderung untuk menolak dan menekannya. Sebagai contoh, seorang
wanita tua yang menangis mungkin mengatakan bahwa dia tidak tertekan.
Somatisasi biasa terjadi pada pasien lansia, terutama gejala
gastrointestinal seperti sembelit. Beberapa pasien tidak yakin jika mereka
mengalami depresi karena mereka mulai kehilangan minat dalam aktivitas
tetapi tidak merasakan mood depresi yang jelas. Depresi biasa terjadi
dalam berbagai sindrom neuropsikiatri lainnya, termasuk demensia, stroke,
dan penyakit Parkinson. Geriatric Depression Scale adalah instrumen
penyaring yang berguna untuk memeriksaan depresi pada pasien lanjut
usia, pertama kali dibuat oleh Yesavage et al. (1982).

Gambar 2. Geriatric Depression Scale (Yesavage et al., 1982)

5. KEINGINAN BUNUH DIRI DAN MEMBUNUH


Penyelidikan harus dilakukan mengenai keinginan bunuh diri dan
membunuh. Keinginan bunuh diri harus diperiksa dengan terlebih dahulu
menanyakan apakah pasien berpikir bahwa hidup tidak layak hidup.
Sebuah respon positif harus mengarah pada pertanyaan-pertanyaan
lanjutan tentang apakah ada rencana bunuh diri atau riwayat percobaan
bunuh diri.
6. SENSORIUM DAN KOGNISI
Evaluasi sensorium dan kognisi sangat penting dan esensial pada
pasien lansia. Setiap kali ada dugaan gangguan kognitif pada riwayat,
penting untuk melaksanakan tes skrining seperti Mini-Mental State
Examination (MMSE). Keterampilan yang dapat diuji dalam komponen
evaluasi ini meliputi perhatian dan konsentrasi, pembelajaran, mengingat,
pengenalan kembali setelah penundaan (memori), pemahaman, kefasihan
lisan, pengulangan, dan penamaan (bahasa), kemampuan visuospatial,
perhitungan, praksis, fungsi eksekutif inisiasi, perseverasi, kontrol respon,
sintesis dan integrasi, serta mengubah set mental (fungsi lobus frontal).

Gambar 3. Mini Mental State Examination (Folstein et al., 1975)


7. FUNGSI SEHARI-HARI
Penilaian fungsi sehari-hari sangat penting dalam evaluasi pasien
lansia. Aktivitas kehidupan sehari-hari/ Activities of Daily Living (ADL)
dapat diklasifikasikan ke dalam ADL dasar (misalnya, makan, berpakaian,
dan pergi ke toilet), ADL instrumental (misalnya, memasak, belanja, dan
binatu), dan fungsi sosial dan kognitif yang lebih kompleks yang

membutuhkan upaya intelektual yang lebih besar. ADL dasar dan


instrumental perlu dikaji pada pasien lanjut usia, terutama ketika diagnosis
demensia sedang dipertimbangkan.
8. TILIKAN DIRI
Tilikan mengacu pada kemampuan pasien untuk memahami
gejala mereka sendiri dan penyebab potensialnya. Tilikan terganggu di
sebagian besar penyakit mental sedang sampai penyakit mental parah dan
dapat hilang dalam demensia berat. Pertimbangan atau judgement dapat
dinilai selama wawancara dengan bertanya tentang pendapat pasien.
9. EVALUASI NEUROLOGIS
Pemeriksaan kejiwaan, kognitif, dan neurologis tumpang tindih
secara bermakna pada orang dewasa tua. Pada pasien yang mengalami
gangguan kognitif, gejala atau tanda-tanda neurologis fokal, pemeriksaan
neurologis sangat penting. Semua komponen pemeriksaan neurologis
pasien lansia yang sebaiknya dilakukan adalah fungsi frontal lobe, fungsi
basal ganglia (pemeriksaan untuk tanda-tanda ekstrapiramidal), motorik
dan fungsi sensorik, refleks, koordinasi, serta evaluasi penglihatan dan
pendengaran.

BAB V
EPIDEMIOLOGI GANGGUAN MENTAL PADA PASIEN LANJUT USIA
.
Data prevalensi untuk gangguan mental pada pasien lanjut usia bervariasi,
namun secara konservatif diperkirakan sebanyak 25% memiliki gejala psikiatri
yang signifikan. Angka morbiditas gangguan psikiatri pada pasien lanjut usia
diperkirakan meningkat hingga 20 juta pada pertengahan abad 20 nanti.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi
penduduk yang mengalami gangguan mental emosional berdasarkan Self
Reported Questionnarie secara nasional adalah 6,0% (37.728 orang dari subyek
yang dianalisis). Provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi
adalah Sulawesi Tengah (11,6%), sedangkan yang terendah di Lampung (1,2%).
Prevalensi gangguan mental emosional menurut umur pada laporan Riskesdas
2007 dan 2013 disajikan dalam grafik berikut.

Gambar 4. Prevalensi Gangguan Mental Emosional menurut Kelompok Umur


(Riskesdas, 2013)
Prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan
pertambahan usia. Berdasarkan umur, tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke
atas (33,7%). Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional
adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14,0%), kelompok yang

memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah, yaitu
21,6%), kelompok yang tidak bekerja (19,6%), tinggal di pedesaan (12,3%), serta
pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah.
Riskesdas 2013 juga mengumpulkan data mengenai gangguan jiwa berat
(psikosis). Pada hasil riset, prevalensi psikosis tertinggi adalah di DI Yogyakarta
dan Aceh (masing-masing 2,7%), sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat
(0,7). Prevalensi gangguan jiwa berat nasional sebesar 1,7 permil (Rikesdas,
2013).

BAB VI
GANGGUAN MENTAL PADA LANJUT USIA
Program Epidemiological Catchment Area (ECA) dari National Institude
of Mental Health telah menemukan bahwa gangguan mental yang paling sering
pada lanjut usia adalah gangguan depresi, gangguan kognitif, fobia dan gangguan
pemakaian alkohol (Sadock BJ dan Sadock VA, 2007; Kaplan et al., 2010b). Hal
ini juga diutarakan oleh WHO pada tahun 2013 bahwa masalah neuropsikiatri
yang banyak terjadi pada usia lanjut adalah demensia dan depresi dan gangguan
kecemasan (WHO, 2013).
WHO juga mengutarakan mengenai faktor risiko masalah kesehatan
mental pada usia lanjut. Banyak faktor sosial, psikologis, dan biologis yang
menentukan kesehatan mental seseorang pada beberapa keadaan tertentu. Perlu
diketahui bahwa banyak orang lanjut usia merasa kehilangan kemampuannya
untuk hidup secara bebas karena keterbatasan gerak, nyeri kronis, kelemahan atau
masalah mental dan fisik lainnya dan membutuhkan beberapa bentuk perhatian
dalam jangka panjang (WHO, 2013). Faktor resiko psikososial diantaranya adalah
hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman atau sanak saudara,
penurunan kesehatan, peningkatan isolasi, keterbatasan finansial dan penurunan
fungsi kognitif (Kaplan et al., 2010b). Lanjut usia juga memiliki resiko tinggi
untuk bunuh diri dan gejala psikiatrik akibat obat. Banyak gangguan mental pada
lanjut usia dapat dicegah, dihilangkan atau bahkan dipulihkan namun jika tidak
didiagnosis dengan akurat dan diobati tepat waktu, kondisi tersebut dapat
berkembang menjadi keadaan ireversibel yang membutuhkan institusionalisasi
pasien (Sadock BJ dan Sadock VA, 2007; Kaplan et al., 2010b).
A. DEMENSIA
Demensia merupakan suatu gangguan intelektual yang umumnya progresif
dan ireversibel, semakin meningkat prevalensinya seiring dengan bertambahnya
usia. Sekitar 5% dari penduduk Amerika yang masih berusia kurang dari 65 tahun
mengalami demesia yang parah dan sekitar 15% mengalami demensia ringan.

Sekitar 20% dari penduduk Amerika yang berusia lebih dari 80 tahun mengalami
demensia yang parah (Goldberg, 2015; Passmore, 2014).
Berbeda dengan retardasi mental, gangguan intelektual pada demensia
terjadi dengan berjalannya waktu yaitu fungsi mental yang sebelumnya telah
tercapai secara bertahap akan hilang. Perubahan karakteristik dari demensia
melibatkan fungsi kognisi, daya ingat, bahasa dan fungsi visuospasial, tetapi
gangguan perilaku adalah sering. Gangguan perilaku dapat berupa agitasi,
kegelisahan, berkelana, penyerangan, kekerasan, berteriak, disinhibisi sosial dan
seksual, impulsivitas, gangguan tidur dan waham. Waham dan demensia terjadi
selama perjalanan demensia pada hampir 75% dari semua pasien (Goldberg, 2015;
Passmore, 2014).
Walaupun demensia yang berhubungan dengan lanjut usia biasanya
disebabkan oleh penyakit degenerative primer sistem saraf pusat dan penyakit
vascular, banyak faktor berperan dalam gangguan kognitif, pada lanjut usia,
penyebab campuran dari demensia sering ditemukan (Goldberg, 2015; Passmore,
2014).
Demensia telah diklasifikasikan sebagai kortikal dan subkortikal,
tergantung pada letak lesi serebral. Suatu demensia subkortikal adalah ditemukan
pada penyakit Huntington, penyakit Parkinson, hidrosefalus tekanan normal,
demensia multi-infark, dan penyakit Wilson. Demensia subkortikal adalah disertai
dengan gangguan pergerakan, apraksia gaya berjalan, retardasi psikomotor, apati
dan mutisme akinetik yang dapat dikacaukan dengan katatonia. Demensia kortikal
adalah ditemukan pada demensia tipe Alzheimer dan penyakit Pick, yang sering
menunjukkan afasia, agnosia, dan apraksia. Dalam praktek klinis, dua jenis
demensia ini tumpang tindih, dan diagnosis yang tepat hanya dapat dibuat dengan
otopsi (Goldberg, 2015; Passmore, 2014).
DEMENSIA TIPE ALZHEIMER
Dari semua pasien dengan demensia, 50-60% nya memiliki demensia tipe
Alzheimer, yang merupakan tipe demensia tersering. Prevalensi demensia tipe
Alzheimer adalah lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

Demensia tipe Alzheimer ditandai oleh penurunan fungsi kognitif dengan


onset yang bertahap dan progresif. Daya ingat mengalami gangguan dan
sekurangnya ditemukan satu seperti afasia, apraksia, agnosia dan gangguan fungsi
eksekutif. Urutan umum defisit adalah daya ingat, bahasa dan fungsi visuospasial.
Awalnya pasien mungkin memiliki suatu ketidakmampuan mempelajari dan
mengingat informasi baru, selanjutnya gangguan penamaan, selanjutnya
ketidakmampuan untuk mencontoh gambar.
Penyebab

penyakit Alzheimer

adalah

tidak

diketahui,

walaupun

pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi postmortem telah menemukan


kehilangan selektif neuron kolinergik. Temuan anatomik makroskopis adalah
penurunan volume girus pada lobus frontalis dan temporalis, dengan relatif
terjaganya korteks motorik dan sensorik primer.
Demensia tipe Alzheimer dapat dicegah dan diterapi. Terapi Alzheimer
bersifat paliatif yang terdiri dari nutrisi yang tepat, latihan dan pengawasan
aktifitas sehari-hari. Medikasi mungkin berguna dalam menangani agitasi dan
gangguan perilaku. Propanolol, pindolol, buspirone dan valproate semuanya telah
dilaporkan membantu menurunkan agitasi dan agresi. Haloperidol berguna untuk
mengendalikan gangguan perilaku akut (Goldberg, 2015; Passmore, 2014).
DEMENSIA ALZHEIMER 294.1X
A. Perkembangan defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan oleh kedua hal
berikut:
1. Gangguan memori (gangguan kemampuan untuk belajar informasi
baru atau mengingat informasi yang sudah dipelajari sebelumnya)
2. Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut:
a. Afasia (gangguan bahasa)
b. Apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas
motorik walaupun fungsi motorik utuh)
c. Agnosia (gagal untuk mengenal atau mengidentifikasi bendabenda walaupun fungsi sensorik utuh)
d. Gangguan pada fungsi eksekutif (yaitu merencanakan,
mengorganisasi, mengurut, abstraksi)
B. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan
gangguan bermakna pada fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan

penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya.


C. Perjalanan penyakit ditandai oleh onset yang bertahap dan penurunan kognitif
yang terus menerus.
D. Defisit kognitif pada kriteria A1 dan A2 tidak disebabkan oleh salah satu
berikut ini:
1. Kondisi sistim saraf lainnya yang menyebabkan defisit memori dan
kognitif progresif (misalnya, penyakit serebrovaskuler, penyakit
Parkinson, penyakit Huntington, hematoma subdural, hidrosefalus
tekanan normal, tumor otak)
2. Kondisi sistemik yang diketahui menyebabkan demensia (misalnya,
hipotiroidisme, defisiensi vitamin B12 atau asam folat, defisiensi
niasin, hiperkalsemia, neurosifilis, infeksi HIV)
3. Kondisi induksi zat
E. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama perjalanan suatu delirium.
F. Gangguan tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan Aksis I lainnya
(misalnya, Gangguan Depresi Mayor, Skizofrenia).
Penulisan kode tambahan yang didasarkan pada ada atau tidaknya
294.10

gangguan perilaku secara klinis yang bermakna:


Tanpa Gangguan Perilaku: jika gangguan kognitif tidak disertai oleh

294.11

gangguan perilaku secara klinis yang bermakna.


Dengan Gangguan Perilaku: jika gangguan kognitif disertai oleh
gangguan perilaku secara klinis yang bermakna (misalnya, keluyuran,
agitasi).
Subtipe Demensia Alzheimer:
Dengan Onset Dini: jika onset pada umur 65 tahun atau kurang
Dengan Onset Lambat: jika onset pada umur di atas 65 tahun
Tabel 4. Demensia Alzheimer (APA, 2000)

DEMENSIA VASKULAR
Demensia vaskular adalah tipe demensia kedua yang tersering. Demensia
ini ditandai oleh defisit kognitif yang sama seperti demensia tipe Alzheimer, tetapi
demensia ini memiliki tanda gejala neurologis fokal, seperti meningkatnya refleks
tendon dalam, respon plantar ekstensor, palsi pseudobulbar, kelainan gaya
berjalan, dan kelemahan pada anggota gerak. Dibandingkan dengan demensia tipe
Alzheimer, demensia vaskular memiliki onset yang tiba-tiba dan merupakan
penyebab pemburukan yang bertahap. Demensia vaskular mungkin dapat dicegah
dengan menurunkan factor resiko yang diketahui, seperti hipertensi, diabetes,
merokok, dan aritmia. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pencitraan resonansi
magnetik (MRI) dan pemeriksaan aliran darah serebral (Goldberg, 2015;
Passmore, 2014).
DEMENSIA VASKULAR 290.4X
A. Perkembangan defisit kognitif multipel yang dimanifestasikan oleh kedua hal
berikut:
1. Gangguan memori (gangguan kemampuan untuk belajar informasi
baru atau mengingat informasi yang sudah dipelajari sebelumnya)
2. Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut :
a.
afasia (gangguan bahasa)
b.
apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas
c.

motorik walaupun fungsi motorik utuh)


agnosia (gagal untuk mengenal atau mengidentifikasi benda-

benda walaupun fungsi sensorik utuh)


d.
gangguan pada fungsi eksekutif (yaitu, merencanakan,
B.

mengorganisasi, mengurut, abstraksi)


Defisit kognitif pada Kriteria A1 dan A2 masing-masing menyebabkan
gangguan bermakna pada fungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan

penurunan bermakna dari tingkat fungsi sebelumnya.


C.
Tanda dan gejala neurologis fokal (misalnya, peningkatan refleks-refleks
tendon dalam, respon ekstensor plantar, kelumpuhan pseudobulbar, kelainan
gaya melangkah, kelemahan pada satu ekstremitas) atau bukti laboratoris
menunjukkan penyakit serebrovaskuler (misalnya, infark multipel yang
melibatkan

korteks

dan

substansia

putih

yang

mendasari)

dipertimbangkan berhubungan secara etiologis terhadap gangguan.

yang

D.
Defisit tidak terjadi secara eksklusif selama perjalanan suatu delirium.
Penulisan kode tambahan didasarkan pada gambaran yang predominan :
290.41

Dengan Delirium: jika delirium bertumpang tindih dengan demensia

290.42

Dengan Waham: jika waham adalah gambaran yang predominan

290.43

Dengan Mood Depresif: jika mood depresif (termasuk gambaran yang


memenuhi kriteria gejala lengkap untuk suatu Episode Depresi
Mayor) adalah gambaran yang predominan. Suatu pemisahan
diagnosis Gangguan Mood yang Disebabkan oleh Kondisi Medis
Umum tidak diberikan.

290.40

Tanpa Komplikasi: jika tidak ada satupun di atas yang predominan


pada gambaran klinis saat ini

Pada demensia vaskular, kondisi serebrovaskuler dituliskan pada Aksis III


Tabel 5. Demensia Vaskuler (APA, 2000)
B. GANGGUAN DEPRESIF
Gejala depresif ditemukan pada kira-kira 25% dari semua penduduk
komunitas lanjut usia dan pasien rumah perawatan. Tanda dan gejala yang sering
dari gangguan depresif adalah penurunan energi dan konsentrasi, gangguan tidur
(terutama terbangun dini hari dan sering terbangun di malam hari), penurunan
nafsu makan, penurunan berat badan, dan keluhan somatik. Gejala yang tampak
mungkin berbeda dibandingkan dengan pasien dewasa muda, pada pasien lanjut
usia terdapat peningkatan pada keluhan somatik (Robinson et al., 2014; Covino,
2006).
Lanjut usia rentan terhadap episode depresif berat dengan ciri melankolik,
ditandai oleh depresi, hipokondriasis, harga diri yang rendah, perasaan tidak
berharga, dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri, dengan ide paranoid dan
bunuh diri. Hampir 75% dari semua korban bunuh diri menderita depresi dan
penyalahgunaan alkohol. Resiko bunuh diri yang tinggi bila diapatkan perasaan
kesepian, tidak berguna, tidak berdaya, putus asa terutama bila hidup sendirian,
kematian pasangan yang belum lama terjadi dan nyeri somatik (Robinson et al.,
2014; Covino, 2006).

Pada pasien lanjut usia yang mengalami depresi, kadang terdapat


gangguan kognitif yang dinamakan sindroma pseudodemensia. Sindrom ini harus
dibedakan dengan demensia yang sebenarnya. Pada pseudodemensia, ada defisit
konsentrasi dan atensi dan jarang disertai dengan gangguan berbahasa.
Depresi juga kemungkinan berhubungan dengan penyakit fisik yang
dialami dan medikasi yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut
(Robinson et al., 2014; Covino, 2006).
EPISODE DEPRESI MAYOR
A.
Lima (atau lebih) gejala berikut ditemukan selama periode 2 minggu yang
sama dan menunjukkan suatu perubahan dari fungsi sebelumnya; paling
kurang satu gejala dari salah satu (1) mood terdepresi atau (2) kehilangan
minat atau kesenangan.
1.
Mood terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti
yang ditunjukkan baik oleh laporan subyektif (misalnya, perasaan
sedih atau kosong) maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang
lain (misalnya, tampak sedih).
2.
Kehilangan minat atau kesenangan yang nyata pada semua, atau
hampir semua, aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari
(seperti yang ditunjukkan baik oleh laporan subyektif maupun
pengamatan yang dilakukan oleh orang lain)
3.
Penurunan berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet
atau penambahan berat badan (misalnya, perubahan berat badan lebih
dari 5% sebulan), atau penurunan atau peningkatan nafsu makan
4.
5.

hampir setiap hari.


Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati
oleh orang lain, bukan hanya perasaan subyektif tentang adanya

kegelisahan atau menjadi lamban)


6.
Kelelahan atau kehilangan tenaga hampir setiap hari
7.
Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
atau tidak sesuai (yang dapat berupa waham) hampir setiap hari
8.

(bukan hanya menyalahkan diri sendiri atau bersalah karena sakit)


Penurunan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau
keragu-raguan, hampir setiap hari (baik oleh laporan subyektif

9.

maupun yang diamati oleh orang lain)


Pikiran tentang kematian yang berulang (tidak hanya ketakutan
akan kematian), ide bunuh diri berulang tanpa suatu rencana yang
spesifik, atau percobaan bunuh diri atau rencana khusus untuk

B.
C.

melakukan bunuh diri


Gejala yang ada tidak memenuhi kriteria Episode Campuran.
Gejala menyebabkan penderitaan secara klinis yang bermakna atau

gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi bidang penting lainnya.
D.
Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (misalnya
E.

hipotiroidisme).
Gejala tidak lebih baik dijelaskan oleh berduka yaitu setelah kehilangan
orang yang dicintai, gejala menetap lebih lama dari 2 bulan atau ditandai oleh
gangguan fungsional yang nyata, preokupasi morbid dengan perasaan tidak
berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor.
Tabel 5. Episode Depresi Mayor (APA, 2000)

C. GANGGUAN BIPOLAR
Gangguan bipolar I biasanya dimulai pada masa dewasa pertengahan,
walaupun prevalensi seumur hidup sebesar 1% adalah stabil sepanjang hidup.
Kerentanan akan rekurensi tetap, sehingga pasien dengan riwayat gangguan
bipolar I mungkin datang dengan periode manik di kemudian hari.
Tanda dan gejala mania pada lanjut usia adalah serupa dengan tanda dan
gejala pada orang dewasa yang lebih muda dan berupa mood yang meninggi,
ekspansif,

atau

mudah

tersinggung;

penurunan

kebutuhan

akan

tidur;

distraktibilitas; impulsivitas; dan, sering kali, asupan alkohol yang berlebihan.


Perilaku bermusuhan atau paranoid biasanya ditemukan. Adanya gangguan
kognitif,

disorientasi,

atau

tingkat

kesadaran

yang

berfluktuasi

harus

menyebabkan klinisi curiga akan penyebab organik.


Lithium tetap merupakan terapi terpilih untuk mania, tetapi pemakaiannya
pada pasien lanjut usia harus dimonitor dengan cermat, karena penurunan klirens
pada lanjut usia menyebabkan toksisitas lithium adalah resiko yang bermakna.

Efek neurotoksik juga lebih sering pada lanjut usia dibandingkan pada dewasa
yang lebih muda (Robinson et al., 2014).
GANGGUAN BIPOLAR I, EPISODE MANIK TUNGGAL 296.0X
A. Terdapat hanya satu Episode Manik dan tidak ada Episode Depresi Mayor
sebelumnya. Rekurensi didefinisikan sebagai suatu perubahan polaritas dari
depresi atau suatu interval paling kurang 2 bulan tanpa gejala manik.
B. Episode Manik tidak lebih baik dijelaskan oleh Gangguan Skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform,
Gangguan Waham, atau Gangguan Psikotik Yang Tidak Ditentukan.
Tabel 5. Gangguan Bipolar I, Episode Manik (APA, 2000)
D. SKIZOFRENIA
Skizofrenia biasanya mulai pada masa remaja akhir atau masa dewasa
muda dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita skizofrenia onset
lambat dibandingkan laki-laki. Prevalensi skizofrenia paranoid tinggi pada tipe
onset lambat.

Kira-kira 20% penderita skizofrenia tidak menunjukkan gejala aktif pada


usia 65 tahun, 80% menunjukkan gangguan dengan berbagai tingkatan.
Psikopatologi menjadi kurang jelas saat pasien bertambah tua. Skizofrenia tipe
residual terjadi pada kira-kira 30%. Pasien yang tidak mampu merawat dirinya
sendiri, dianjurkan dirawat di rumah sakit dalam waktu jangka panjang.
Orang lanjut usia dengan skizofrenik adalah berespon baik terhadap obat
antipsikotik. Medikasi harus diberikan dengan hati-hati. Dosis yang lebih rendah
dari biasanya sering efektif pada lanjut usia (Moran dan Lawlor, 2005).
SKIZOFRENIA
A.
Gejala karakteristik: Dua (atau lebih) dari yang berikut ini, masing-masing
ditemukan pada bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau
kurang jika berhasil diobati):
1.
waham
2.
halusinasi
3.
bicara kacau (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
4.
perilaku kacau atau katatonik yang nyata
5.
gejala negatif yaitu; pendataran afek, alogia, avolisi
Dibutuhkan hanya satu Kriteria A jika waham bizarre atau halusinasi terdiri
dari suara yang terus menerus mengomentari perilaku atau pikiran seseorang,
atau dua atau lebih suara yang berbincang satu dengan lainnya.
B.
Fungsi sosial/ pekerjaan: Untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lebih fungsi bidang utama seperti pekerjaan, hubungan
interpersonal, atau perawatan diri, dengan jelas di bawah tingkat yang dicapai
sebelum onset (atau bila onset pada anak-anak atau remaja, gagal mencapai
tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
C.
Durasi: Tanda yang terus menerus menetap selama paling kurang 6 bulan.
Periode 6 bulan ini harus termasuk paling kurang 1 bulan (atau kurang jika
berhasil diobati) gejala yang memenuhi Kriteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan
dapat termasuk periode gejala prodromal atau residual. Selama periode
prodromal atau residual ini, tanda dari gangguan mungkin dimanifestasikan
oleh hanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang tercantum pada
Kriteria A yang timbul dalam bentuk yang kurang jelas (misalnya, keyakinan
aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).
D.
Penyingkiran Skizoafektif dan Gangguan Mood: Gangguan Skizoafektif

dan Gangguan Mood Dengan Ciri Psikotik disingkirkan karena salah satu dari
(1) tidak ada Episode Depresi Mayor, Manik, atau Campuran yang terjadi
secara bersamaan dengan gejala fase aktif; atau (2) jika episode mood terjadi
selama gejala fase aktif, durasi seluruhnya relatif singkat dibandingkan durasi
periode aktif dan residual.
E.
Penyingkiran kondisi medis umum/ zat: Gangguan bukan karena efek
fisiologis langsung dari zat (misalnya penyalahgunaan zat atau pengobatan)
atau suatu kondisi medis umum.
F.
Hubungan dengan Gangguan Perkembangan Pervasif: Jika terdapat
riwayat Gangguan Autistik atau Gangguan Perkembangan Pervasif lainnya,
diagnosis tambahan Skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang
menonjol juga timbul selama paling kurang satu bulan (atau kurang jika
berhasil diobati).
295.30 Skizofrenia Tipe Paranoid
Suatu tipe Skizofrenia dimana memenuhi kriteria berikut:
1. Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang
berulang kali.
2. Tidak ada yang menonjol berikut ini : bicara kacau, perilaku kacau atau
katatonik, atau afek datar atau tidak sesuai.
295.10 Skizofrenia Tipe Disorganisasi/ Hebefrenik
Suatu tipe Skizofrenia dimana memenuhi kriteria berikut:
1. bicara kacau
2. perilaku kacau
3. afek datar atau tidak sesuai
295.20 Skizofrenia Tipe Katatonik
Suatu tipe Skizofrenia dimana memenuhi kriteria berikut:
1. imobilitas motorik seperti yang dibuktikan oleh katapleksi (termasuk
fleksibilitas lilin) atau stupor
2. aktivitas motorik yang berlebihan (tanpa tujuan dan tidak dipengaruhi oleh
stimulus eksternal)
3. negativisme yang ekstrim (suatu resistensi tanpa motif terhadap seluruh
instruksi atau mempertahankan sikap tubuh yang kaku melawan upaya
untuk digerakkan) atau mutisme
4. gerakan volunter yang aneh seperti yang dibuktikan oleh posturing
(dengan sengaja mengambil sikap tubuh yang tidak sesuai atau aneh),
gerakan stereotik, mannerisme yang menonjol, atau meringis yang

menonjol
5. ekolalia atau ekopraksia
295.90 Skizofrenia Tipe Tidak Terinci (Undifferentiated)
Suatu tipe Skizofrenia dimana gejala yang terjadi memenuhi Kriteria A, tetapi
tidak memenuhi kriteria untuk Tipe Paranoid, Disorganisasi, atau Katatonik.
295.60 Skizofrenia Tipe Residual
1. Tidak ditemukan waham, halusinasi, bicara kacau yang menonjol, dan
perilaku kacau atau katatonik yang nyata.
2. Terdapat bukti yang berlanjut adanya gangguan, seperti yang ditunjukkan
oleh adanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang tercantum pada
Kriteria A yang timbul dalam bentuk yang kurang jelas (misalnya,
keyakinan aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).
Tabel 6. Skizofrenia (APA, 2000)
E. GANGGUAN DELUSIONAL
Usia onset gangguan delusional biasanya antara usia 40 dan 55 tahun;
tetapi, gangguan ini dapat terjadi kapan saja dalam periode geriatrik. Gangguan
delusional terjadi dibawah stress fisik dan psikologis pada orang yang rentan dan
mungkin dicetuskan oleh kematian pasangan, kehilangan pekerjaan, pensiun,
isolasi sosial, keadaan finansial yang tidak baik, penyakit medis atau pembedahan
yang menimbulkan kecacatan, gangguan penglihatan, dan ketulian.
Waham yang tersering adalah waham kejar dan gangguan delusional
dengan onset lambat yang ditandai dengan waham kejar, disebut parafrenia.
Gangguan ini timbul selama beberapa tahun dan tidak disertai dengan demensia.
Sindroma delusional mungkin juga diakibatkan oleh medikasi atau merupakan
tanda awal tumor otak.
Prognosis cukup baik pada sebagian besar kasus, dengan hasil terbaik
dicapai melalui kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi (Kaplan et al., 2010a;
Busse dan Blazer, 1997; Sadock BJ dan Sadock VA, 2007; Moran dan Lawlor,
2005).
GANGGUAN DELUSIONAL 297.1
A. Waham tidak aneh (yaitu melibatkan situasi yang ada dalam kehidupan nyata,
seperti sedang diikuti, diracun, terinfeksi, dicintai dari jarak jauh, atau

dikhianati pasangan atau kekasih, atau menderita penyakit) dengan durasi


paling kurang 1 bulan.
B. Tidak pernah memenuhi Kriteria A Skizofrenia.
C. Catatan: Halusinasi taktil dan pembauan dapat ditemukan pada Gangguan
Waham jika berhubungan dengan tema waham.
D. Terlepas dari pengaruh waham atau akibatnya, fungsi tidak jelas terganggu
dan perilaku aneh dan kacau yang tidak nyata.
E. Jika episode mood terjadi secara bersamaan dengan waham, durasi
seluruhnya relatif singkat dibandingkan durasi periode waham.
F. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya,
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum.
Tabel 7. Gangguan Delusional (APA, 2000)
F. GANGGUAN KECEMASAN
Gangguan kecemasan berupa gangguan panik, fobia, gangguan obsesif
kompulsif, gangguan kecemasan umum, gangguan stres akut, dan gangguan stress
paskatraumatik. Menurut ECA, gangguan paling sering adalah fobia sebanyak 4%
dan gangguan panik sebanyak 1%. Onset awal gangguan panik adalah jarang
tetapi dapat terjadi.
Orang lanjut usia telah harus menyiapkan diri menghadapi kematian dan
kecemasan dapat timbul akibat pikiran mengenai kematian, bukan dengan
ketenangan hati dan rasa integritas menurut Erik Erikson. Tanda dan gejala fobia
pada lanjut usia kurang parah dibandingkan pada orang yang lebih muda tetapi
efeknya sama. Gangguan paskatraumatik sering lebih parah pada lanjut usia
dibandingkan pada orang muda karena adanya kecacatan fisik yang menyertai
pada lanjut usia (Kaplan et al., 2010b; Busse dan Blazer, 1997).
GANGGUAN KECEMASAN UMUM 300.02
A. Kecemasan dan kekhawatiran berlebihan (harapan yang mengkhawatirkan),
terjadi lebih banyak dibandingkan tidak selama paling kurang 6 bulan,
tentang sejumlah peristiwa atau aktivitas (seperti pekerjaan atau prestasi
sekolah).
B. Orang kesulitan untuk mengendalikan kekhawatiran.
C. Kecemasan dan kekhawatiran adalah dihubungkan dengan tiga (atau lebih)
dari enam gejala berikut (dengan paling kurang beberapa gejala terjadi lebih

banyak dibandingkan tidak selama 6 bulan terakhir).


1. gelisah atau perasaan tegang atau cemas
2. merasa mudah lelah
3. sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
4. iritabilitas
5. ketegangan otot
6. gangguan tidur (kesulitan untuk mulai atau tetap tertidur, atau tidur
yang gelisah dan tidak memuaskan)
D. Fokus kecemasan dan kekhawatiran adalah tidak dibatasi pada gambaran
utama gangguan Aksis I, misalnya kecemasan atau ketakutan adalah bukan
suatu Serangan Panik (seperti pada Gangguan Panik), merasa malu di depan
umum (seperti pada Fobia Sosial), terkontaminasi (seperti pada Gangguan
Obsesif-Kompulsif), merasa jauh dari rumah atau kerabat dekat (seperti pada
Gangguan Cemas Perpisahan), pertambahan berat badan (seperti pada
Anoreksia Nervosa), menderita berbagai keluhan fisik (seperti pada
Gangguan Somatisasi), atau menderita penyakit serius (seperti pada
Hipokondriasis), serta kecemasan dan kekhawatiran tidak terjadi secara
eksklusif selama Gangguan Stres Pascatrauma.
E. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lainnya.
F. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (misalnya,
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (misalnya
hipertiroidisme) dan tidak terjadi secara eksklusif selama suatu Gangguan
Mood, Gangguan Psikotik, atau Gangguan Perkembangan Pervasif.
Tabel 8. Gangguan Kecemasan Umum (APA, 2000)
G. GANGGUAN SOMATOFORM
Gangguan somatoform, ditandai oleh gejala fisik yang menyerupai
penyakit medis, adalah relevan dengan psikiatri geriatrik karena keluhan somatik
sering ditemukan pada lanjut usia.
Hipokondriasis sering ditemukan pada pasien berusia diatas 60 tahun,
walaupun insiden puncak adalah pada kelompok usia 40 sampai 50 tahun.
Gangguan biasanya kronis dan pemeriksaan fisik ulang berguna untuk

menentramkan pasien bahwa mereka tidak memiliki penyakit yang mematikan.


Tetapi prosedur invasif yang memiliki resiko tinggi, harus dihindari (Kaplan et al.,
2010b; Busse dan Blazer, 1997; Sadock BJ dan Sadock VA, 2007).
GANGGUAN SOMATOFORM YANG TIDAK DIGOLONGKAN 300.82
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, kehilangan nafsu makan,
keluhan gastrointestinal atau saluran kemih).
B. Salah satu (1) atau (2):
1. Setelah pemeriksaan yang sesuai, gejala tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau efek
langsung dari suatu zat (misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan).
2. Jika terdapat hubungan dengan suatu kondisi medis umum, keluhan
fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang diakibatkan adalah
secara jelas melebihi dari yang diperkirakan menurut riwayat
penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan secara klinis yang bermakna atau gangguan
pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D. Durasi gangguan paling sedikit 6 bulan.
E. Gangguan tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain (misalnya
Gangguan Somatoform lainnya, Disfungsi Seksual, Gangguan Mood,
Gangguan Kecemasan, Gangguan Tidur, atau Gangguan Psikotik).
F. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
Tabel 9. Gangguan Somatoform (APA, 2000)
H. GANGGUAN TIDUR
Fenomena yang berhubungan dengan tidur yang lebih sering pada orang
usia lanjut adalah gangguan tidur, mengantuk di siang hari, tidur sejenak di siang
hari dan pemakaian obat hipnotik.
Disamping perubahan fisiologis dan sistem regulasi, penyebab gangguan
tidur pada lanjut usia adalah gangguan tidur primer, gangguan mental lain, kondisi
medis umum, dan faktor sosial dan lingkungan. Di antara gangguan tidur primer,
disomnia adalah yang paling sering, terutama insomnia primer, mioklonus
nokturnal, sindroma kaki gelisah (restless leg syndrome) dan apnea tidur. Kondisi

yang sering menggangu tidur pada lanjut usia adalah nyeri, nokturia, sesak nafas,
dan nyeri perut.
Alkohol dalam jumlah kecil sekalipun dapat mengganggu kualitas tidur,
melalui fragmentasi tidur dan terbangun saat dini hari. Alkohol juga dapat
mencetuskan atau memperberat apnea tidur obstruktif. Banyak lanjut usia
menggunakan alkohol, hipnotik, dan depresan sistem saraf pusat lain untuk
membantu tertidur, tetapi data menunjukkan bahwa sebagian besar pasien lebih
banyak mengalami terbangun dini hari dibandingkan gangguan dalam tertidur.
Perubahan dalam struktur tidur di lanjut usia adalah tidur gerakan mata
cepat (rapid aye movement, REM) sepanjang malam, peningkatan jumlah episode
REM, penurunan lama episode, penurunan tidur REM total. Perubahan tidur
gerakan mata lambat (non rapid eye movement, NREM) yaitu penurunan
amplitudo gelombang delta. Orang lanjut usia juga mengalami bertambahnya
terjaga setelah onset tidur (Kaplan et al., 2010b; Sadock BJ dan Sadock VA,
2004).
INSOMNIA PRIMER 307.42
A. Keluhan yang predominan adalah kesulitan untuk mulai atau tetap tertidur,
atau tidur yang tidak menyegarkan, selama paling kurang 1 bulan.
B. Gangguan tidur (atau berkaitan dengan kelelahan di siang hari) menyebabkan
penderitaan secara klinis yang bermakna atau gangguan pada fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama perjalanan Narkolepsi,
Gangguan Tidur Berhubungan Pernafasan, Gangguan Tidur Irama Sirkadian,
atau Parasomnia.
D. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama perjalanan suatu gangguan
mental lain (misalnya, Gangguan Depresif Mayor, Gangguan Kecemasan
Umum, delirium).
E. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (misalnya,
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum (APA,
2000).
Tabel 10. Insomnia Primer (APA, 2000)
I.

GANGGUAN PENGGUNAAN ALKOHOL DAN ZAT LAIN

Pasien lanjut usia dengan ketergantungan alkohol biasanya memberikan


riwayat minum berlebihan yang mulai pada masa remaja atau dewasa
pertengahan. Mereka biasanya memiliki penyakit medis, terutama dengan
penyakit hati, dan mereka adalah bercerai, duda, atau laki-laki yang tidak pernah
menikah. Sejumlah besar menderita penyakit demensia yang kronis, seperti
ensefalopati Wernicke dan sindrom Korsakoff.
Secara keseluruhan, gangguan penggunaan alkohol dan zat lain adalah
berjumlah 10% dari semua masalah emosional pada lanjut usia, dan
ketergantungan pada zat tertentu seperti hipnotik, ansiolitik, dan narkotik adalah
lebih sering pada lanjut usia. Pasien lanjut mungkin menyalahgunakan ansiolitik
untuk mengatasi kecemasan kronis atau untuk mempermudah tidur.
Onset delirium yang tiba-tiba pada orang lanjut usia yang dirawat untuk
penyakit medis paling sering disebabkan oleh putus alkohol (Maramis WF, 2009).
PENYALAHGUNAAN ZAT
A. Suatu pola penggunaan zat maladaptif yang menyebabkan gangguan atau
penderitaan secara klinis yang bermakna, seperti yang dimanifestasikan oleh
satu (atau lebih) yang berikut ini, terjadi dalam periode 12 bulan:
1. Penggunaan zat berulang yang menyebabkan kegagalan dalam
memenuhi kewajiban peran utama dalam pekerjaan, sekolah, atau
rumah (misalnya, tidak hadir berulang atau kinerja buruk yang
dihubungkan dengan penggunaan zat; membolos, skors, atau
dikeluarkan dari sekolah; pengabaian anak dan rumah tangga yang
dihubungkan dengan penggunaan zat).
2. Penggunaan zat berulang pada situasi yang berbahaya secara fisik
(misalnya, terganggu oleh penggunaan zat ketika mengemudikan
kendaraan atau mengoperasikan mesin).
3. Masalah hukum berhubungan dengan zat yang berulang (misalnya,
penahanan karena gangguan tingkah laku yang dihubungkan dengan
zat).
4. penggunaan zat berkelanjutan walaupun memiliki masalah sosial atau
interpersonal

menetap

atau

berulang

yang

disebabkan

atau

dieksaserbasi oleh efek zat (misalnya, berbeda pendapat dengan

pasangan tentang akibat intoksikasi, perkelahian fisik).


B. Gejala tidak pernah memenuhi kriteria Ketergantungan Zat untuk kelas zat ini.
5. Tabel 11. Penyalahgunaan Zat (APA, 2000)
6.
7.
DELIRIUM PUTUS ZAT
A. Gangguan kesadaran (yaitu penurunan kejernihan kesadaran terhadap
lingkungan)

dengan

penurunan

kemampuan

untuk

memusatkan,

mempertahankan atau mengalihkan perhatian.


B. Perubahan kognitif (seperti defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa)
atau berkembangnya gangguan persepsi yang tidak lebih baik dijelaskan oleh
demensia yang ada sebelumnya, yang telah terbukti, atau yang sedang
berkembang.
C. Gangguan berkembang dalam periode waktu yang singkat (biasanya beberapa
jam hingga beberapa hari) dan cenderung berfluktuasi selama perjalanan hari.
D. Terdapat bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
bahwa gejala dalam kriteria A dan B berkembang selama, atau sesaat setelah,
suatu sindrom putus zat.
8.
Penulisan Delirium Putus (Zat Spesifik):
9.

291.0 Alkohol

10.

292.81 Sedatif, Hipnotik, atau Anxiolitik

11.

292.81 Zat Lain atau Tidak Diketahui


12. Tabel 12. Delirium Putus Zat (APA, 2000)

13. BAB VIi


GEJALA PERILAKU DAN PSIKOLOGIS PADA DEMENSIA
1. Definisi
Gejala perilaku dan psikologis pada demensi merujuk pada gejala
non-kognitif dari gangguan persepsi, isi pikir, alam perasaan (mood) atau
perilaku yang sering terjadi pada pasien dengan demensia (international
Psychogeriatric Assosiation, 2002). Penyebabnya multifaktor, beberapa
perilaku bisa jadi merupakan hasil dari perubahan neurotransmitter dari
penyakit itu sendiri, termasuk juga faktor komunikasi dan lingkungan.
Gejalanya disebut gejala neuropsikiatri.
Yang termasuk GPPD adalah :
a. Agresi
b. Agitasi
c. Teriak-teriak
d. Dan aktivitas motorik yang berulang
e. Kecemasan
f. Depresi
g. Psikosis (waham dan halusinasi)
h. Pengulangan kata-kata, kutukan, sumpah
i. Gangguan tidur
j. Shadowing (mengikuti pengasuh kemanapun pergi)
k. Sundowning
l. Keluyuran
m. Hoarding (SIGN, 2008)

2. Identifikasi Target Perilaku


Merespon dengan tepat kepada seseorang dengan GPPD, sangat
penting untuk menyediakan pelayanan yang berkualitas. Intervensi dan
manajemen

awal

yang

tepat

terhadap

gejala

perilaku

ini

adalah

penilaian/pemeriksaan untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan pencetus


yang mungkin berkontribusi terhadap perilaku pasien. Penting untuk
mengetahui informasi acuan dasar, termasuk informasi tambahan lain, untuk
dapat dibandingkan dengan perilaku baru yang muncul pada pasien dengan
GPPD (Royal Australian and New Zealand College of Psychiatrist). Penilaian
bisa menggunakan ABC model (antecedents, behaviours and cosequences).
Protokol lain yaitu RAI Clinical Assesment Protocols (CAPS) bisa digunakan
untuk mendukung penilaian klinis, pembuatan keputusan dan perencanaan
pelayanan (Inter RAI). Sangatlah penting untuk mengidentifikasi penyebab
perubahan perilaku melalui penilaian yang komprehensif dan mereview
riwayat medis dan psikiatrinya.

Sensory Enhancement/

Social Contact: Real

Relaxation
Massage and touch

or Stimulated
Individualized

music

Pet therapy

White noise

1:1 social

Controlled

social contact

Individualized

multisensory

Behaviour Therapy
Differential
reinforcement

Stimulus
control

interction

Stimulated

stimulatin

interactions/

(Snoezelen)

family videos

Art therapy

Aroma therapy
Structured activities

Environtmental

Training and

modifications
Wandering areas

development
Staff education

Recreational
activities

natural/ enhanced

Staff support

Training

Outdoor walks

Environments

Physical activities

Reduced

program for

stimulation

family

Light therapy
farmakologis GPPD

Caregivers

3. Terapi
Non-

Tabel 13. Terapi Non-Farmakologis GPPD


(Mcgonigal-Kenney et al., 2004)

4. Terapi Farmakologis GPPD


Antipsikotik hanya diberikan jika ada gejala agresi, agitasi atau gejala
psikotik yang menyebabkan distress berat atau risiko akut yang dapat
melukai/ membahayakan diri sendiri atau orang lain.
GPPD yang tidak memerlukan terapi antipsikotik:
i.

Keluyuran

ii.

Hiding and hoarding

iii.

Aktivitas berulang

iv.

Perilaku yang mengganggu secara vokal

v.

Pakaian yang tidak sesuai/ tidak berpakaian

vi.

Memakan benda yang tidak layak makan

vii.

Tugging at seatbelts

viii.

Inappropriate volding

ix.

Pushing wheel chair bound residents

Contoh antipsikotik yang digunakan untuk lansia:


Nama obat
Quetiapine
Risperidone
Olanzapine
Loxapine
Haloperidol

Dosis awal

Frekuensi

Dosis rata-rata/

hari (mg)
12.5
2-3x/ hari
150
0.25
2x/ hari
1
1.25
2x/ hari
5
2.5
2-3x/ hari
25
0.25
2x/ hari
2
Tabel 14. Terapi Farmakologis GPPD (Ward)

Prnsip terapi: mulai dari dosis rendah, tingkatkan perlahan dan


monitor secara teratur respon terapi dan efek sampingnya.

Wawancara caregiver

Esesmen psikometrik

5. Algoritme GPPD
(1)
Gangguan tidur ALGORITME GPPD Depresi
Curiga GPPD
Tidur < 5 jam

Esesmen:
Tidur > 5 jam
Obat

Normal?
Diakui dengan CG
CG stress

Non-obat

Anti-depresi Aktivitas menyenangkan

Ya

Kurangi obat, terapi fisik


Penyebab?
Fisik
Obat
Ya

Antidepresi

Tidak
Depresi

Tidak
Behavioural approach :
Gerak badan
Sleep hygiene
Kurangi kopi
Hindari tidur siang

Bila masih belum teratasi :


Respite care
Hipnotik (jangka pendek saja), hindari benzodiazepine

Gambar 6. Algoritme penanganan GPPD (Lovestone dan Gauthier, 2001)

Wawancara caregiver

Esesmen psikometrik

Agresivitas, karena psikosis?

Wandering

ALGORITME GPPD (2)

Curiga GPPD
Ya

Tidak

Esesmen:
Hanya waktu tertentu?

Antipsikotik
Ya
Dini hari
Ya

Tidak

Tidak

Hanya malam

Depresi?
Berhubungan dengan perawatan?
Terapi penyebab nyeri, delirium, dll
Problem fisik?
Ya

Terapi sebagai insomnia

Tidak
Hanya situasi tertentu

Modifikasi perilaku perawat/


Suport
caregiver
CG, day care, respite care
Ya

Tidak

Aktivitas diubah Tak berpola

Tingkatkan aktivitas, respite care

Gambar 6. Algoritme penanganan GPPD (Lovestone dan Gauthier, 2001)

BAB VIII
PERMASALAHAN DALAM ASPEK SOSIAL, EKONOMI,
DAN PSIKOLOGI PADA USIA LANJUT
Pada lansia umumnya terjadi beberapa hal/ perubahan dalam hidupnya
yang berpengaruh dalam kehidupan sosial, ekonomi, serta psikologisnya sebagai
seorang lansia, perubahan yang terjadi antara lain;
A. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar,
persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan
reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik
(konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti
gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang
cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Menurut Kuntjoro (dalam Azizah, 2011) ada enam tipe kepribadian pada lanjut
usia sebagai berikut:
1.

Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personality), memiliki


integritas baik, dapat menikmati hidupnya, punya toleransi tinggi,
humoristik, fleksible dan tahu diri dimana sifat ini sudah dibawanya sejak
muda sehingga biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang
dan mantap sampai sangat tua.

2.

Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada


kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa
lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada
dirinya.

3.

Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personality), pada tipe ini


biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi
jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan

menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya. Tipe
ini pada saat mengalami pensiun biasanya tidak mempunyai inisiatif,
pasif tetapi masih tahu diri dan dapat diterima masyarakat.
4.

Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), Lanjut usia


pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang tidak diperhitungkan sehingga
menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh dan curiga.

5.

Tipe Kepribadian Defensif, tipe ini selalu menolak bantuan, emosinya


tidak terkontrol, bersifat kompulsif aktif. Mereka takut menjadi tua dan
tidak menyenangi masa pensiun.

6.

Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe
ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu
orang lain atau cenderung membuat susah dirinya. Selalu menyalahkan
diri, tidak memiliki ambisi dan merasa korban dari keadaan.

B. Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan


Umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan
ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari
tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun
sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran,
kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih
tergantung dari model kepribadiannya.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah
lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu dalam
menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut
kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang
seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut
sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun
negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan
mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif
sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-

kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja
atau tidak dengan memperoleh gaji penuh.
Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah
bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment
untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan
positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia
dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masingmasing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat
banyak jenis dan macamnya.
Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya
sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang
selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup menjanjikan dalam
menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan bahwa setelah
pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan berkurang dan
sebagainya.
Perlu diketahui bahwa seorang lansia yang di pensiun akan mengalami
kehilangan-kehilangan antara lain sebagai berikut (Budi-Darmojo dan H Martono,
2011) :
1. Kehilangan finansial, pada umumnya dimanapun pemasukan uang
seorang lansia akan menurun kecuali orang yang sangat kaya raya dengan
tabungan melimpah.
2. Kehilangan status, terutama bila sebelumnya orang tersebut memiliki
jabatan dan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan fasilitasnya.
3. Kehilangan teman/ kenalan, mereka akan jarang bertemu dan
berkomunikasi dengan teman sejawat yang sebelumnya tiap hari
dijumpainya sehingga hubungan sosialnya pun akan hilang/berkurang.
4. Kehilangan kegiatan/ pekerjaan yang teratur dilakukan setiap hari yang
berarti rutinitasnya hilang.

C.

Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat

Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik


dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal
itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas,
selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau
diasingkan.
Karena

jika

keterasingan

terjadi

akan

semakin

menolak

untuk

berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi
seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak
berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga
perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia
yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat
beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan
kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan
pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara
karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak
dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri,
seringkali menjadi terlantar.
Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk
pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay
rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu
dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam
lingkungan sosial Panti Wreda adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam
masyarakat sebagai seorang lansia (Azizah, 2011).
D. Perubahan Minat
Lanjut usia juga mengalami perubahan pada minat, yang pertama adalah
minat terhadap diri makin bertambah, kedua minat terhadap penampilan semakin
berkurang, ketiga yaitu minat terhadap uang semakin meningkat dan terakhir

kebutuhan terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit


(Azizah, 2011).
Hurlock (dalam Azizah, 2011) mengatakan bahwa perubahan yang dialami
oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan
akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Dalam menghadapi perubahan tersebut
diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia antara
lain:
1. Minat sempit terhadap kejadian dilingkungan
2. Penarikan diri kedalam dunia fantasi
3. Selalu mengingat kembali masa lalu
4. Selalu khawatir karena pengangguran
5. Kurang ada motivasi
6. Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik
7. Tempat tinggal yang tidak diinginkan
Sedangkan ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain: minat yang kuat,
ketidak tergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan
hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini memiliki kekhawatiran
minimal terhadap diri dan orang lain.
E. Perubahan Berkaitan dengan Aspek Psikologis
Kesepian/ loneliness, biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat
meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat, terutama bila dirinya sendiri saat
itu juga mengalami penurunan status kesehatan,misalnya menderita berbagai
penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik, terutama
gangguan pendengaran. Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri.
Banyak diantara lansia yang hidup sendiri tidak mengalami kesepian, karena
aktivitas sosial yang masih tinggi, tetapi dilain pihak terhadap lansia yang
walaupun hidup dilingkungan yang beranggotakan cukup banyak, mengalami
kesepian. Pada penderita kesepian ini peran dari organisasi sosial sangat berarti,
karena bisa bertindak menghibur, memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan
peran penderita, disamping memberikan bantuan dalam pengerjaan pekerjaan
dirumah bila memang terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut.

BAB IX
PENATALAKSANAAN GANGGUAN PSIKIATRI
PADA PASIEN LANJUT USIA
A. TERAPI PSIKOFARMAKOLOGIS
Tujuan utama terapi farmakologis pada lanjut usia adalah untuk
meningkatkan kualitas hidup, mempertahankan mereka dalam komunitas dan
menunda atau menghindari penempatan mereka di rumah perawatan.
Prinsip dasar psikofarmakologi geriatri adalah individualisasi dosis, karena
berhubungan dengan perubahan fisiologis pada proses penuaan. Penurunan klirens
obat dapat terjadi pada gangguan ginjal, gangguan kardiovaskular dan penurunan
curah jantung. Penyakit hati menyebabkan penurunan kemampuan metabolisme
obat.

Penyakit

gastrointestinal

dan

penurunan

sekresi

asam

lambung

mempengaruhi absorpsi obat. Massa tubuh yang tidak berlemak (lean body mass)
menurun pada lanjut usia dan lemak tubuh meningkat mempengaruhi distribusi
obat.
Pada lanjut usia, pedoman tertentu tentang pemakaian semua obat harus
diikut. Pemeriksaan medis praterapi adalah penting, termasuk elektrokardiogram
(EKG). Seluruh obat-obatan yang sedang diminum penting untuk dievaluasi efek
sampingnya dan efek interaksi dengan obat psikotropika yang akan diberikan.
Sebagian besar obat psikotropika harus diberikan dalam dosis terbagi yang
sama tiga atau empat kali selama periode 24 jam. Pasien lanjut usia mungkin tidak
mampu mentoleransi peningkatan kadar obat dalam darah yang tiba-tiba yang
disebabkan dari dosis sekali sehari yang besar. Klinisi harus sering memeriksa
kembali semua pasien untuk menentukan perlunya medikasi pemeliharaan,
perubahan dalam dosis dan perkembangan efek samping. Jika pasien sedang
menggunakan obat psikotropika saat pemeriksaan, klinisi harus mengentikan
medikasi tersebut jika dimungkinan dan setelah periode pembersihan (washout
period), periksa ulang pasien selama keadaan dasar yang bebas dari obat.

B. PSIKOTERAPI
Intervensi psikoterapi standar seperti psikoterapi berorientasi tilikan,
psikoterapi suportif, terapi kognitif, terapi kelompok dan terapi keluarga harus
tersedia bagi pasien lanjut usia. Menurut Freud, orang berusia lebih dari 50 tahun
tidak cocok untuk psikoanalisi karena tidak adanya elastisitas pada proses mental
mereka.
Menurut Gunadi (2001), proses kejiwaan dasar pada orang-orang tua tidak
jauh berbeda dengan orang yang lebih muda. Bagaimanapun, proses penuaan dan
perubahan

patologi

mengakibatkan

persoalan-persoalan

kejiwaan

yang

berhubungan erat dengan kelompok umur ini. Persoalan-persoalan yang lazim


dihadapi pada pengobatan adalah keterlibatan dan berubahnya hubungan antara
orang-orang tua dengan anak-anak mereka yang sudah remaja. Sebagai contoh,
pada saat sakit, lansia menginginkan kebebasan dan di saat bersamaan yang
berhubungan dengan konteks sosial, pengharapan yang tidak masuk akal yang
dipaksakan kepada anak-anak mereka.
Terapi keluarga dapat memberikan nilai lebih pada orang-orang tua,
kadang-kadang bersama dengan psikoterapi kelompok atau individu. Tujuan lain
dari pengobatan individu khususnya untuk orang-orang tua termasuk memelihara
harga diri, perkawinan dan perubahan status sosial, pemanfaatan waktu luang
yang tidak biasanya dan kebebasan dalam menentukan pilihan. Umumnya
psikoterapi pada orang-orang tua disesuaikan dengan situasi dan masalah yang
muncul dan mencari pemecahannya dengan cara membentuk kerangka
kepribadian daripada merubah kepribadian secara menyeluruh.
Masalah dalam terapi yang berkaitan dengan usia dan yang sering adalah
kebutuhan untuk beradaptasi terhadap kehilangan pasangan hidup, perlunya
menerima peran baru (pensiun, lepas dari peran yang sebelumnya) dan kebutuhan
untuk menerima kematian diri sendiri. Psikoterapi membantu lanjut usia
menghadapi masalah tersebut, meningkatkan hubungan interpersonal, psikoterapi
meningkatkan

harga

diri

dan

keyakinan

diri,

menurunkan

perasaan

ketidakberdayaan dan kemarahan dan memperbaiki kualitas hidup. Bentuk

60

psikoterapi yang dilakukan adalah transferensi, terapi kelompok, terapi keluarga


dan terapi singkat.
Banyak orang-orang tua menanggapi dengan positif atas perubahan
menyeluruh dan keadaan yang menyedihkan (misalnya, kesehatan yang menurun,
kehilangan pasangan). Sikap khusus diperlukan pada psikoterapi demensia. Pada
suatu fenomena yang disebut retrogenesis, yang terjadi pada demensia Alzheimer
dan lebih luas pada keadaan-keadaan penuaan, kemampuan kognitif, fungsional,
psikologis penderita berubah dari pola perkembangan manusia normal. Sebagai
akibatnya, setiap derajat fungsional dari penyakit Alzheimer dapat digambarkan
sama dengan perkembangan pada masa kanak-kanak. Usia perkembangan
penderita Alzheimer memberikan pengertian yang cepat terhadap manajemen
penanganan dan perawatan yang dibutuhkannya. Selanjutnya, penanganan pada
penderita dengan Alzheimer berat (stadium 7) membutuhkan sejumlah perawatan
yang kira-kira hampir sama dengan perawatan pada bayi. Sama halnya dengan
penderita dengan Alzheimer ringan (stadium 4), mereka seperti anak-anak usia 8
12 tahun, hanya membutuhkan pengawasan. Usia perkembangan dari penderita
Alzheimer ini berguna untuk memahami kebutuhan emosinal, perubahan tingkah
laku, dan kebutuhan jasmani mereka.

61

BAB X
KESIMPULAN
1. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan telah meningkatkan
populasi penduduk lanjut usia hingga mencapai 9,77% dari total penduduk
di Indonesia.
2. Perubahan fisiologis dan psikologis terjadi pada lanjut usia, proses tersebut
dipengaruhi oleh faktor penuaan intrinsik dan ekstrinsik.
3. Pemeriksaan psikiatri pada lanjut usia sama dengan yang berlaku pada
dewasa muda, namun perlu adanya peningkatan fokus dalam gangguan
kognitif karena tingginya prevalensi gangguan kognitif pada lansia.
4. Prevalensi gangguan mental pada lanjut usia menunjukkan peningkatan
pada lanjut usia yang berusia lebih dari 75 tahun, berjenis kelamin wanita,
berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan tinggal di pedesaan.
5. Gangguan mental pada lanjut usia dapat berupa demensia, gangguan
depresif, gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan delusional, gangguan
kecemasan, gangguan somatoform, gangguan tidur, dan gangguan alkohol
serta zat lain.
6. Gejala perilaku dan psikologis pada demensia merujuk pada gejala nonkognitif dari gangguan persepsi, isi pikir, alam perasaan (mood) atau
perilaku yang sering terjadi pada pasien dengan demensia.
7. Tujuan utama terapi farmakologis pada lanjut usia adalah untuk
meningkatkan kualitas hidup, mempertahankan mereka dalam komunitas,
dan menunda atau menghindari penempatan mereka di rumah perawatan.
8. Permasalahan yang dialami lansia meliputi aspek psikogeriatri seperti
kesepian, aspek psikososial, perubahan peran sosial di masyarakat, dan
perubahan-perubahan yang diakibatkan karena kehilangan pekerjaan.
9. Seluruh stresor pada pasien lanjut usia baik yang bersifat fisik dan
psikososial harus dapat dinilai agar penatalaksanaan yang holistik dapat
tercapai dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas hidup,

62

mempertahankan mereka dalam komunitas, dan menunda atau menghindari


penempatan mereka di rumah perawatan.

63

DAFTAR PUSTAKA
APA (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition,
Text Revision. Washington, DC: Author.
Azizah L (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Brocklehurs JC, Allen SC (1987). Sociological and psychological gerontology.In
Brocklehurs JC and Allen SC (eds). Geriatric Medicine for Students.
Edisi ke-3. Churchill Livingstone.
Busse EW, Blazer DG (1997). Textbook of Geriatry Psychology. Edisi ke-2.
Washington: The American Psychiatric Press. Hal 155-263.
Covino

(2006).

Depression

in

Geriatric

Patients.

http://www.medscape.com/viewarticle/520534.

Diunduh

Diakses

tanggal

dari:
10

Februari 2015.
Darmojo B, Martono H (2011). Gerontologi Sosial. Dalam: Budi-Darmojo dan
Martono, H., Buku Ajar Boedhi-Darmojo: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut). Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Hal 14-33.
Darmojo RB (2004). Gerontologi sosial : masalah sosial dan psikologik golongan
lanjut usia dalam geriatri (Ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi ke-3.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Departemen Kesehatan (2004). Buku pedoman upaya pembinaan kesehatan jiwa
usia lanjut. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Folstein MF, Folstein SE, McHugh PR (1975). Mini-mental state A practical
method for grading the cognitive state of patients for the clinician. J
Psychiatr Res. 12(3):189-98.
Goldberg J (2015). Alzheimer's Disease and Other Forms of Dementia. WebMD.
http://www.webmd.com/alzheimers/guide/alzheimers-dementia. Diakses
tanggal 10 Februari 2015.

64

Gunadi H (2001). Problematik usia lanjut ditinjau dari sudut kesehatan jiwa. Jiwa.
XVII (4): 89-97.
Kaplan HI, Sadock BJ and Grebb JA (2010). Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri.
Jilid 1. Alih bahasa: Wijaya Kusuma. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Hal
116-134.
Kaplan HI, Sadock BJ and Grebb JA. (2010). Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri.
Jilid 1. Alih bahasa : Wijaya Kusuma. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Hal
867-891.
Koenig HG, Blazer DG (2003). Dalam Cassel CK et al. Deppresion, Anxiety and
other mood disorders in geriatric medicine an evidence based approach.
Fourth edition. New York: Springer.
Kolb LC, Brodie HK (1982). Modern clinical psychiatry. Philadelphia: WB
Saunders Co.
Maramis (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Universitas Airlangga
Press.
Maramis WF, Maramis A (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Surabaya : Airlangga University Press. Hal 576.
Maramis WF, Maramis A (2009). Ilmu kedokteran Jiwa Edisi ke 2. Surabaya:
Airlangga University Press.
Marini (2006). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian depresi pada
usia lanjut di Poli Geriatri RSU Ciptomangunkusumo, Tahun 2006-2008.
Tesis. UI.
Moran M, Lawlor B (2005). Late-life Schizophrenia. Psychiatry. 4:11. The
Medicine Publishing Company Ltd.
Murti B (1997). Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Passmore P (2014). What is vascular dementia?. Alzheimer's Society.
http://alzheimers.org.uk/site/scripts/documents_info.php?
categoryID=200137&documentID=161&pageNumber=1.

65

Diakses

tanggal 10 Februari 2015.


Potter PA, Perry AG (2009). Fundamental Keperawatan Buku 1 Ed. 7. Jakarta:
Salemba Medika.
Riskesdas (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian Dan
Pengembangan

Kesehatan

Kementerian

Kesehatan

RI.

http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf. Diakses Februari 2015.
Robinson L, Smith M, Segal J (2011). Depression in Older Adults and Elderly.
http://www.helpguide.org/articles/depression/depression-in-older-adultsand-the-elderly.htm. Diakses tanggal 10 Februari 2015.
Sadock BJ, Sadock VA (2007). Synopsis of Psychiatry. Edisi kesepuluh.
Philadelphia: The William-Wilkins. Hal 1348-1358.
Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P (2009). Kaplan-Sadock Comprehensive Textbook
of Psychiatry. Ninth Edition. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins.
Setiati S, Harimurti K dan Roosheroe G (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III : Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia. Hal
1336-1339.
Soedjono CH, Probosuseno, Sari NK (2006). Depresi Pada Pasien Usia Lanjut
Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam , Edisi Keempat Jilid III. Jakarta:
Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit dalam FK UI.
Stanley M, Beare PT (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta:
EGC.
Stuart GW, Sandra S (2001). Principles and practice of psychiatric nursing, USA,
St. Louis.
Sutarto JT, Cokro CI (2009). Pensiun Bukan Akhir Segalanya. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

66

Tamher S, Noorkasiani (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan


Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Weinberg J (1995). Genatric psychiatry. Dalam: Freedman AN ,Kaplan HI,
Sadock RJ (eds). Comprehensive Textbook of Psychiatry. 6th eds. The
William-Wilkins Co. Hal 2507-1527.
WHO (2013). Mental health and older adults. World Health Organization.
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs381/en/. Diakses 8 Februari
2015.
Yesavage JA, Brink TL, Rose TL, Lum O, Huang V, Adey M, Leirer VO (1982).
Development and validation of a geriatric depression screening scale: a
preliminary report. J Psychiatry Res. 1982-1983;17(1):37-49.

67