Anda di halaman 1dari 19

Latar belakang dan sejarah manajemen

Latar belakang manajemen


pemikiran awal manajemen
Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen.[2] Peristiwa pertama
terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The
Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan
diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam
tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai
contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orangmasing-masing melakukan pekerjaan
khususperusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan
tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat
hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa
pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan
kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3)
menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.[8]
Peristiwa penting kedua yang memengaruhi perkembangan ilmu manajemen adalah Revolusi
Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan
tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju
tempat khusus yang disebut "pabrik." Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu
membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan
cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan
sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.

Sejarah manajemen
ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya
piramida di Mesir.[6] Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun.
Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorangtanpa memedulikan apa
sebutan untuk manajer ketika ituyang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir
manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan
pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
Piramida di Mesir. Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang
yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengontrol
pembangunannya.
Praktik-praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia,
Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Penduduk Venesia
mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim
terjadi di organisasi moderen saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang

diluncurkan sepanjang kanal; pada tiap-tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan
ke kapal tersebut. Hal ini mirip dengan model lini perakitan yang dikembangkan oleh Henry
Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan, orang Venesia memiliki sistem
penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk
mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.

Perkembangan Teori Manajemen


Perkembangan Teori manajemen dapat di bagi menjadi
tiga era
1. era manajemen ilmiah
Era ini ditandai dengan berkembangan perkembangan ilmu manajemen dari kalangan insinyur
seperti Henry Towne, Frederick Winslow Taylor, Frederick A. Halsey, dan Harrington Emerson[9]
Manajemen ilmiah dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya, Principles of
Scientific Management, pada tahun 1911. Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah sebagai
"penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan." Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini
sebagai tahun lahirya teori manajemen moderen.[2]
Perkembangan manajemen ilmiah juga didorong oleh munculnya pemikiran baru dari Henry
Gantt dan keluarga Gilberth. Henry Gantt. yang pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel
Compan, menggagas ide bahwa seharusnya seorang mandor mampu memberi pendidikan kepada
karyawannya untuk bersifat rajin (industrious ) dan kooperatif. Ia juga mendesain sebuah grafik
untuk membantu manajemen yang disebut sebagai Gantt chart yang digunakan untuk merancang
dan mengontrol pekerjaan. Sementara itu, pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth
berhasil menciptakan micromotion, sebuah alat yang dapat mencatat setiap gerakan yang
dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan
tersebut. Alat ini digunakan untuk menciptakan sistem produksi yang lebih efesien.[9]
Era ini juga ditandai dengan hadirnya teori administratif, yaitu teori mengenai apa yang
seharusnya dilakukan oleh para manajer dan bagaimana cara membentuk praktik manajemen
yang baik.[9] Pada awal abad ke-20, seorang industriawan Perancis bernama Henri Fayol
mengajukan gagasan lima fungsi utama manajemen: merancang, mengorganisasi, memerintah,
mengoordinasi, dan mengendalikan.[10] Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai
kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung
hingga sekarang.[2] Selain itu, Henry Fayol juga mengagas 14 prinsip manajemen yang
merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen.
Sumbangan penting lainnya datang dari ahli sosilogi Jerman Max Weber. Weber
menggambarkan suatu tipe ideal organisasi yang disebut sebagai birokrasibentuk organisasi
yang dicirikan oleh pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan dengan jelas, peraturan dan
ketetapan yang rinci, dan sejumlah hubungan yang impersonal. Namun, Weber menyadari bahwa
bentuk "birokrasi yang ideal" itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi
tersebut dengan maksud menjadikannya sebagai landasan untuk berteori tentang bagaimana

pekerjaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain
struktural bagi banyak organisasi besar sekarang ini.[2]
Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan ilmu
riset operasi, yang merupakan kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset
operasi, sering dikenal dengan "manajemen sains", mencoba pendekatan sains untuk
menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Pada tahun
1946, Peter F. Druckersering disebut sebagai Bapak Ilmu Manajemenmenerbitkan salah satu
buku paling awal tentang manajemen terapan: "Konsep Korporasi" (Concept of the
Corporation). Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang
menugaskan penelitian tentang organisasi.[11]

2. Era manusia sosial


Era manusia sosial ditandai dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral school) dalam
pemikiran manajemen di akhir era manajemen sains. Mahzab perilaku tidak mendapatkan
pengakuan luas sampai tahun 1930-an. Katalis utama dari kelahiran mahzab perilaku adalah
serangkaian studi penelitian yang dikenal sebagai eksperimen Hawthrone.
Eksperimen Hawthrone dilakukan pada tahun 1920-an hingga 1930-an di Pabrik Hawthrone
milik Western Electric Company Works di Cicero, Illenois.[2]. Kajian ini awalnya bertujuan
mempelajari pengaruh berbagai macam tingkat penerangan lampu terhadap produktivitas kerja.
Hasil kajian mengindikasikan bahwa ternyata insentif seperti jabatan, lama jam kerja, periode
istirahat, maupun upah lebih sedikit pengaruhnya terhadap output pekerja dibandingkan dengan
tekanan kelompok, penerimaan kelompok, serta rasa aman yang menyertainya. Peneliti
menyimpulkan bahwa norma-norma sosial atau standar kelompok merupakan penentu utama
perilaku kerja individu.[9]
Kontribusi lainnya datang dari Mary Parker Follet. Follett (18681933) yang mendapatkan
pendidikan di bidang filosofi dan ilmu politik menjadi terkenal setelah menerbitkan buku
berjudul Creative Experience pada tahun 1924.[9] Follet mengajukan suatu filosifi bisnis yang
mengutamakan integrasi sebagai cara untuk mengurangi konflik tanpa kompromi atau dominasi.
Follet juga percaya bahwa tugas seorang pemimpin adalah untuk menentukan tujuan organisasi
dan mengintegrasikannya dengan tujuan individu dan tujuan kelompok. Dengan kata lain, ia
berpikir bahwa organisasi harus didasarkan pada etika kelompok daripada individualisme.
Dengan demikian, manajer dan karyawan seharusnya memandang diri mereka sebagai mitra,
bukan lawan.
Pada tahun 1938, Chester Barnard (18861961) menulis buku berjudul The Functions of the
Executive yang menggambarkan sebuah teori organisasi dalam rangka untuk merangsang orang
lain memeriksa sifat sistem koperasi. Melihat perbedaan antara motif pribadi dan organisasi,
Barnard menjelaskan dikotonomi "efektif-efisien". Menurut Barnard, efektivitas berkaitan
dengan pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu dapat
terpuaskan. Dia memandang organisasi formal sebagai sistem terpadu yang menjadikan
kerjasama, tujuan bersama, dan komunikasi sebagai elemen universal, sementara itu pada
organisasi informal, komunikasi, kekompakan, dan pemeliharaan perasaan harga diri lebih

diutamakan. Barnard juga mengembangkan teori "penerimaan otoritas" yang didasarkan pada
gagasan bahwa atasan hanya memiliki kewenangan jika bawahan menerima otoritasnya.

3 . Era moderen
Era moderen ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality
managementTQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang
paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (19001993) and Joseph Juran (lahir 1904).
Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang.[9] Deming
berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan
pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan
mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan,
(1) biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya
penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material; (2) produktivitas
meningkat; (3) pangsa pasar meningkat karena peningkatan kualitas dan penurunan harga; (4)
profitabilitas perusahaan peningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis; (5) jumlah pekerjaan
meningkat. Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya tentang
peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran.[9] Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan
karena faktor-faktor yang sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen. Dari teorinya, ia
mengembangkan trilogi manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan
kualitas. Juran mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol
kualitas yang buruk. Area tersebut kemudian dianalisis, kemudian dibuat solusi dan
diimplementasikan.

Teori manajemen klasik


Manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemennya. Perhatian dan kemampuan
manajemen dibutuhkan pada penerapan fungsi-fungsi tersebut

Prinsip Teori Manajemen Aliran Klasik .Awal sekali ilmu manajemen timbul akibat terjadinya
revolusi industri di Inggris pada abad 18.
Para pemikir tersebut rnemberikan perhatian terhadap masalah-masalah manajemen yang
timbul baik itu di kalangan usahawan, industri maupun masyarakat. Para pemikir itu yang
terkenaI antara lain, Robert Owen, Henry Fayol, Frederick W. Taylor dan lainnya.
Robert Owen (1771 -1858)
Robert Owen adalah orang yang menentang praktek-praktek memperkerjakan anak-anak usia
5 atau 6 tahun dan standar kerja 13 jam per hari. Tersentuh dengan kondisi kerja yang amat
menyedihkan itu, beliau mengajukan adanya perbaikan terhadap kondisi kerja ini.

Pada tahun-tahun awal revolusi industri, ketika para pekerja dianggap instrumen yang tidak
berdaya, Owen melihat rneningkatkan kondisi kerja di pabrik, rnenaikkan usia minimum kerja
bagi anak-anak, mengurangi jam kerja karyawan, menyediakan makanan bagi karyawan pabrik,
mendirikan toko-toko untuk menjual keperluan hidup karyawan dengan harga yang layak, dan
berusaha memperbaiki lingkungan hidup tempat karyawan tinggal, dengan membangun rumahrumah dan membuat jalan, sehingga lingkungan hidup dan pabrik rnenjadi menarik. Sebab itu,
beliau disebut "Bapak Personal Manajemen Modern".
Selain itu, Owen lebih banyak memperhatikan pekerja, karena menurutnya, investasi yang
penting bagi manajer adalah sumber daya manusia. Selain mengenai perbaikan kondisi kerja,
beliau juga rnembuat prosedur untuk meningkatkan produktivitas, seperti prosedur penilaian
kerja dan bersaing juga secara terbuka.
Henry Fayol (1841 -1925)
Pada tahun 1916, dengan sebutan teori manajemen klasik yang sangat memperhatikan
produktivitas pabrik dan pekerja, disamping memperhatikan manajemen bagi satu organisasi
yang kompleks, sehingga beliau menampilkan satu metode ajaran manajemen yang lebih utuh
dalam bentuk cetak biru.
Fayol berkeyakinan keberhasilan para manajer tidak hanya ditentukan oleh mutu pribadinya,
tetapi karena adanya penggunaan metode manajemen yang tepat.
Sumbangan terbesar dari Fayol berupa pandangannya tentang manajemen yang bukanlah
semata kecerdasan pribadi, tetapi lebih merupakan satu keterampilan yang dapat diajarkan dari
dipahami prinsip-prinsip pokok dan teori umumnya yang telah dirumuskan. Fayol membagi
kegiatan dan operasi perusahaan ke dalam 6 macam kegiatan :
a. Teknis (produksi) yaitu berusaha menghasilkan dan membuat barang-barang produksi.
b. Dagang (Beli, Jual, Pertukaran) dengan tara mengadakan pembelian bahan mentah dan
menjual hasil produksi.
c. Keuangan (pencarian dan penggunaan optimum atas modal) berusaha mendapatkan dan
menggunakan modal.
d. Keamanan (perlindungan harga milik dan manusia) berupa melindungi pekerja dan barangbarang kekayaan perusahaan.
e. Akuntansi dengan adanya pencatatan dan pembukuan biaya, utang, keuntungan dan neraca,
serta berbagai data statistik.

cirri cirri manajemen klasik :

1. pengembangan manajemen di lakukan oleh teoritis.


2. investasi terbesar adalah karyawan
3. tenaga kerja di beri pelatihan keterampilan sesuai operasi pabrik.
4. karyawan bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu yang berulang.
5. adanya skema pembagian keuntungan
Adapun kritik terhadap pendekatan teori organisasi klasik, antara lain:
a)

Merangsang berfikir yang mengutamakan konformitas dan formalitas.

b)

Merupakan rutinitas yang membosankan

c)
Ide-ide inovatif tidak sampai kepada pengambil keputusan karena panjangnya jalur
komunikasi
d) Tidak memperhitungkan organisasi nonformal yang seringkali berpengaruh terhadap
organisasi formal
e)
f)

Dijalankan secara berlebihan


Terlalu banyak aturan yang berbelit-belit

g)
Kecenderungan menjadi orwelian yaitu keinginan birokrasi mencampuri (turut
melaksanakan, bukan mengendalikan

Manajemen ilmiah
1. Manajemen Ilmiah
Taylor adalah orang pertama yang mengembangkan manajemen ilmiah. Taylor terkenal sebagai
Bapak Manajemen Ilmiah karena hasil penelitiannya yang telah dibukukan tentang usaha-usaha
untuk meningkatkan produktivitas kerja berdasarkan waktu dan gerak pada tahun 1886, dijadikan
sebagai pegangan penting bagi para buruh dan manajer. Dalam penelitiannya itu, ia berpendapat
bahwa efesiensi perusahaan rendah karena banyak waktu dan gerak-gerak buruh yang tidak
produktif.
Selain itu, taylor telah memberikan prinsip-prinsip dasar penerapan pendekatan ilmiah dalam
manajemen dan mengembangkan teknik-teknik untuk mencapai efisiensi dan keefektifan
organisasi. Ia berasumsi bahwa manusia harus diperlakukan seperti mesin. Dalam bekerja, setiap
manusia harus diawasi oleh supervisor secara efektif dan efisien.

Kritik yang sangat keras dari para ahli perilaku yang mengecam penganut Taylor menyatakan
bahwa Taylor dan penganutnya telah memperlakukan para pekerja secara tidak manusiawi.
Untuk mengatasi kelemahan pendekatan manajemen klasik, muncul pemikiran para ahli
berikutnya dengan pendekatan baru yang disebut teori organisasi klasik.
Manajemen ilmiah atau disebut juga manajemen modern adalah kepemimpinan atau pengelolaan
kegiatan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan cara kerja yang berdasarkan prinsip
- prinsip atau pedoman - pedoman keilmuan.
Adapun ciri - ciri manajemen ilmiah atau modern adalah sebagai berikut :

Menggunakan cara kerja keilmuan dan prinsip - prinsip keilmuan sebagai hasil percobaan
dan penyelidikan yang ilmiah pula.

Terdapat nasionalisasi yaitu bekerja berdasarkan perhitungan - perhitungan atau


pemikiran yang cermat dan teliti, jadi meninggalkan cara kerja trial and error.

Terdapat standarisasi yaitu bekerja berdasarkan ukuran - ukuran ( standar - standar )


tertentu, baik dalam cara kerja, waktu yang digunakan, maupun hasil produksi yang
diharapkan.

Terjadi peningkatan produktivitas sebagai hasil kerja yang efektif dan efisien

Cara kerja dan hasil kerjanya dapat mengikuti dan memenuhi tuntutan kebutuhan jaman
yang makin meningkat

Tahap - tahap perkembangan manajemen ilmiah :


1. Tahap Survival ( 1886 - 1930 ), tahun 1886 adalah tahun lahirnya ilmu manajemen yang
ditandai dengan gerakan manajemen ilmiah yang dipelopori oleh Frederick Winslow
Taylor.Dalam tahap survival ini, para ahli memperjuangkan untuk diakuinya manajemen
sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan.
2. Tahap konsolidasi atau penyempurnaan ( 1930 - 1945 ), dalam tahap ini para pelopor
manajemen ilmiah merumuskan metode - metode dan prinsip - prinsip dari ilmu
manajemen yang dapat dipraktekan dalam kegiatan - kegiatan perusahaan.

3. Tahap human relation ( 1945 - 1959 ), dalam tahap ini, selain menggunakan prinsip prinsip berdasarkan keilmuan, juga lebih mengutamakan perhatian kepada manusia ( para
pekerja ) yang berperan serta dalam kegiatan - kegiatan mencapai tujuan usaha.
Hubungan antara pemimpin dan pegawai diupayakan dilaksanakan dalam suasana
hubungan manusia yang lebih baik.
4. Tahap behaviouralisme ( 1959 - sekarang ), dalam tahap ini perhatian utama para ahli
manajemen terutama dipusatkan terhadap pentingnya peranan manusia kerja dalam usaha
mencapai tujuan perusahaan.

Manajemen ilmiah menurut para ahli

Frederick Winslow Taylor

Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas,
sekitar tahun 1900-an. Taylor adalah manajer dan penasihat perusahaan dan merupakan salah
seorang tokoh besar manajemen. Taylor dikenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitiannya yaitu bahwa perusahaan akan mendapat
hasil yang memuaskan apabila pekerjaan yang akan dilaksanakan harus direncanakan, juga
memperhatikan unsur teknologinya (mesin) maupun pelaksananya dalam hal ini adalah
manusianya.
Taylor mengemukakan 4 prinsip Scientific Management, yaitu :
1. menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan
disetiap unsur-unsur kegiatan.
2. memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan
dan pendidikan kepada pekerja.
3. setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan di dalam menjalankan
tugasnya.
4. harus dijalin kerja sama yang baik antara pimpinan dengan pekerja.
Taylor berpendapat mengenai posisi manajer, dimana manajer adalah pelayan bagi bawahannya
yang bertentangan dengan pendaat sebelumnya yang mengatakan bahwa bawahan adalah
pelayan manajer. Karya Taylor yang lainnya yaitu, studi gerak dan waktu, sistem organisasi
(organisasi fungsional), dan mengenai upah per potong minimum dan upah per potong
maksimum.

Frank Bunker Gilbreth dan Lilian Gilbreth

Suami isteri yang berkecimpung dalam mengembangkan manajemen ilmiah. Frank adalah
pelopor study gerak dan waktu, mengemukakan beberapa teknik manajemen yang di ilhami oleh
pendapat dari Taylor. Dia tertarik pada pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh efisiensi
tinggi.
Lilian Gilbreth cenderung tertarik pada aspek-aspek dalam kerja, seperti penyeleksian
penerimaan tenaga kerja baru, penempatan dan latihan bagi tenaga kerja baru. Bukunya berjudul
The Pshikology of Management, menyatakan bahwa tujuan akhir dari manajemen ilmiah yaitu
membantu para karyawan untuk meraih potensinya sebagai makhluk hidup.

Henry Laurance Gantt

Henry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan, dimana titik
perhatiannya pada unsur manusia dalam menaikkan produktivitas kerjanya. Adapun gagasan
yang dicetuskannya, yaitu :
1. kerja sama yang saling menguntungkan antara manajer dan tenaga kerja untuk mencapai
tujuan bersama.
2. mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
3. pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.
4. penggunaan instruksi kerja yang terperinci.

Harrington Emerson

Prinsip pokoknya adalah tentang tujuan, dimana dari hasil penelitiannya menunjukkan kebenaran
prinsip yaitu bahwa uang akan lebih berhasil bila mengetahui tujuan penggunaannya. Bukti dari
pendapat Emerson yaitu adanya istilah Management By Objective (MBO). Dikemukakan 12
prinsip efisiensi untuk mengatasi pemborosan dan ketidak-efisienan, yaitu :
1. Clearly Defined Ideals
2. Common Sense
3. Competent Casual
4. Discipline
5. The Fair Deal

6. Reliable
7. Give an Order, Planning and Scheduling
8. Schedule, Standard Working and Time
9. Standard Condition
10. Standard Operation
11. Written Standard Practice Instruction
12. Efficiency Reward

b. Pendekatan Hubungan Manusiawi


Pendekatan ini muncul untuk merevisi teori manajemen klasik yang ternyata tidak sepenuhnya
menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. Para ahli selanjutnya melengkapi teori
manajemen klasik dengan menerapkan sosiologi dan psikologi dalam manajemen.
Munsterberg(1863-1916), profesor psikologi Jerman yang mendapat sebutan Bapak Psikologi
Industri, menyarankan agar penggunaan teknik-teknik manajemen menggunakan hasil
eksperimen psikologi. Sebagai contoh, berbagai metode psikologi dapat digunakan untuk
memilih kharakteristik tertentu yang cocok dengan kebutuhan suatu jabatan. Ia juga
menyarankan agar faktor sosial dan budaya turut dipertimbangkan dalam suatu organisasi.
Kontribusi utama dari Munsterberg untuk manajemen adalah aaplikasi psikologi industri dalam
manajemen.
Penelitian Hawthorne yang dilakukan oleh Mayo (1880-1949) menghasilkan bahwa hubungan
manusiawi merupakan istilah umum yang sering dipakai untuk menggambarkan cara interaksi
manajer dengan bawahannya secara manusiawi. Asumsinya, jika manajer personalia memotivasi
pekerja dengan baik maka hubungan manusiawi dalam organisasipun menjadi baik. Apabila
moral dan efisiensi menurun, maka hubungan manusiawi dalam organisasipun menurun.
Ahli lain yang termasuk dalam pendekatan ini adalah Lewin, Roger, Morino, dan lainnya.
Keterbatasan dari teori hubungan manusiawi ini adalah bahwasanya konsep makhluk sosial
tidaklah menggambarkan secara lengkap individu-individu di tempat kerjanya. Perbaikan kondisi
kerja dan kepuasan kerja tidak menghasilkan perubahan produktivitas yang mencolok.
Lingkungan sosial ti tempat kerja bukanlah satu-satunya tempat pekerja saling berinteraksi

dengan unit lain di luar tempat kerja. Kelompok yang diteliti mengubah perilakunya karena
merasa kelompoknya menjadi objek dan subjek penelitian.
c. Pendekatan Teori Perilaku
Teori perilaku merupakan pengembangan dari pendekatan hubungan manusiawi. Pendekatan ini
memandang bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem sosialnya. Perilaku dapat dipahami
melalui tiga pendekatan, yaitu:
1)

Rasional

Model rasional memusatkan perhatiannya pada anggota organisasi yang diasumsikan bersifat
rasional dan mempunyai berbagai kepentingan, kebutuhan, motif dan tujuan. Pendukung model
ini antara lain, Down dan Simon
2)

Sosiologis

Model ini lebih memusatkan perhatiannya kepada pengetahuan antropologi, sosiologi dan
psikologi. Pendukung model ini antara lain Bern
3)

Pengembangan hubungan manusia

Model pengembangan hubungan manusia lebih memusatkan perhatiannya kepada tujuan yang
ingin dicapai dan pengembangan berbagai sistem motivasi menurut jenis motivasi agar dapat
meningkatkan produktivitas kerja. Pendukung model ini antara lain, Mc Gregor, Maslow, dan
Bennis.
Keterbatasan dari pendekatan perilaku ini adalah bahwa beberapa ahli manajemen termasuk ahli
perilaku percaya bahwa bidang perilaku tidak sepenuhnya nyata karena berkenaan dengan
manusia yang bersifat unik. Model, teori dan istilah perilaku oleh ahli perilaku sangat kompleks
dan abstrak untuk dipraktekkan para manajer. Dikarenakan perilaku manusia sangat unik, maka
ahli-ahli perilaku sering berbeda dalam menyimpulkan penelitian, dan rekomendasinya pun sulit
bagi manajer untuk memilih dan melaksanakannya.
H. Pendekatan Hubungan Manusiawi Baru
Pendekatan hubungan manusiawi baru merupakan pendekatan integratif yang menggabungkan
pandangan positif terhadap hakekat manusia dengan studi organisasi secara ilmiah sehingga
dapat menggambarkan kerja manajer yang efektif.
Burns dan Stalker menyatakan bahwa permulaan kebijakan administratif adalah kesadaran
tentang belum optimalnya tipe-tipe sistem manajemen. Pendekatan hubungan manusia baru

dimulai dengan teori pendekatan kontingensi menuju cara manajer seharusnya bertindak dalam
lingkungannya.
Dari beberapa pendapat ahli tentang fungsi-fungsi manajemen, maka dapat disimpulkan bahwa
fungsi-fungsi administrasi pendidikan meliputi 1) perencanaan, 2)pengorganisasian,
3)pengarahan, 4)pengendalian.

TEORI ORGANISASI KLASIK


Konsep-konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang
mulai tahun 1800-an, dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori
klasik (classical theory ) atau kadang-kadang disebut dengan teori
tradisional. Teori klasik berkembang dalam tiga aliran yaitu : birokrasi , teori
administrasi, dan manajemen alamiah.
Birokrasi dikembangkan dari ilmu sosiologi. Sedangkan teori
administrasi dan manajemen ilmiah dikembangkan langsung dari
pengalaman praktek manajemen. Teori administrasi memusatkan diri pada
aspek makro dari organisasi. Aliran manajemen ilmiah member tekanan
pada karyawan dan mandor dalam kegiatan perusahaan, atau elemen mikro
sebagai suatu bagian dari proses kerja. Teori klasik mendefinisikan
organisasi sebagai struktur hubungan, kekuassan-kekuasaan,
tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan
factor-faktor lain yang terjadi bila orang bekerjasama.

TEORI BIROKRASI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Teori ini dikemukakan secara jelas. Model organisasi birokrasi ini


mempunyai karakteristik - karakteristik structural tertentu yang dapat
dikemukakan di setiap organisasi kompleks dan modern. Weber
mengemukakan karakteristik-karakteristik birokrasi sebagai berikut :
Pembagian kerja yang jelas.
Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik.
Program rasional dalam pencapaian.
Sisitem prosedur bagi penanganan situasi kerja.
System aturan yang mencangkup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi
para pemegang jabatan.
Hubungan-hubungan antar pribadi yang sifatnya impersonal.
Jadi birokrasi adalah sebuah model organisasi normative, yang
menekankan struktur dalam organisasi.

TEORI ADMINISTRASI

Teori administrasi adalah bagian kedua dari teori organisasi klasik.


Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasar sumbangan Henri Fayol
dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta Mooney dan Reiley di Amerika.
Henry Fayol
Henry Fayol seorang industralis dari perancis pada tahun 1916 telah menulis
masalah-masalah tehnik dan administrasi dalam bukunya yang terkenal
Administration Industrielle et Generale (Administrasi Industri dan Umum).
Fayol menyatakan bahwa semua kegiatan-kegiatan industrial dapat dibagi
menjadi 6(enam) kelompok :
1. Kegiatan-kegiatan tehnikal
2. Kegiatan-kegiatan komersial
3. Kegiatan-kegiatan financial
4. Kegiatan-kegiatan keamanan
5. Kegiatan-kegiatan akutansi
6. Kegiatan-kegiatan manajerial
Fayol juga mengemukakan dan membahas 14 (empat belas) kaidah
manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori administrasi, yaitu :
1. Pembagian kerja (division work)
2. Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility)
3. Disiplin (discipline)
4. Kesatuan perintah (unity of command)
5. Kesatuan pengarahan (unity of direction)
6. Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi
(subordination of individual interest to general interest)
7. Balas jasa (remuneration of personnel)
8. Sentralisasi (centralization)
9. Rantai scalar (scalar chain)
10. Aturan (order)
11. Keadilan (equity)
12. Kelanggengan personalia (stability of tenure of personnel)
13. Inisiatif (initiative)
14. Semangat korps (esprit de corps)
Disamping itu, fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan administrasi
menjadi elemen-elemen manajemen yang juga dikenal dengan Fayols
Functionalism atau teori fungsionalisme Fayol , yaitu :
1. Perencanaan (planning),
2. Pengorganisasian (organizing),
3. Pemberian perintah (commanding),
4. Pengkoordinasian (coordinating), dan
5. Pengawasan (controlling)
Urwick dan Gulick : Mooney dan Reilly
Luther Gulick dan Lydall Urwick , menggunakan pengalaman
manajerial mereka dalam menguraikan prinsip-prinsip Fayol, yang tercermin
dalam dua makalahny A technical Problem dan The Function of
Administration. Dalam makalah-makalah mereka, Gulick dan Urwick
memperkenalkan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembagian kerja

, koordinasi , penciptaan departemen-departemen yang disusun atas dasar


tujuan. Proses, personalia, dan tempat dan penggunaan staff.Urwick
terutama melihat kesulitan kesulitan administrasi ,penerapan kaidahkaidah organisasi (terutama birokrasi) dalam praktek, sehingga dia
mengembangkan teknik-teknik penerapannya yang kemudian dikenal
dengan Urwicks Technique.
Di Amerika Serikat, James D.Mooney dan Allen Reilly dalam tahun 1931
menulis dan menerbitkan buku mereka, Onward Industry di mana buku ini
mempunyai dampak besar pada praktek manajemen di Amerika. Mereka
menekankan 3(tiga) prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah
dijalankan dalam organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer, dan
bisnis. Ketiga prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip Koordinasi
2. Prinsip Skalar
3. Prinsip Fungsional

Manajemen Ilmiah
Manajemen ilmiah dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor. Teori
manajemen ilmiah masih banyak dijumpai dalam praktek-praktek
manajemen modern. Dalam buku-buku literature, manajemen ilmiah sering
diartikan berbeda. Arti pertama, manajemen ilmiah merupakan penerapan
masalah-masalah organisasi. Sedangkan arti kedua, manajemen ilmiah
adalah seperangkat mekanisme-mekanisme atau teknik-teknik.
F.W. Taylor menuangkan gagasannya dalam tiga makalah yaitu Shop
Management , The Principles of Scientific yang menghasilkan empat kaidah
dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan ,
yaitu :
1. Menggantikan metode-metode kerja dalam praktek dengan berbagai
metode yang dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja
ilmiah yang benar.
2. Mengadakan seleksi, latiahn-latiahan, dan pengembangan para karyawan
secara ilmiah, agar memungkinkan para karyawan bekerja sebaik-baiknya
sesuai dengan spesialisasinya.
3. Pengembangan ilmu tentang kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan
secara ilmiah harus diintegrasikan, sehingga para karyawan memperoleh
kesempatan untuk ,encapai tingkat upah yang tinggi, sementara manajemen
dapat menekan biaya produksi menjadi rendah.
4. Untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah, perlu dikembangkan semangat
dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan
manajer sebagai upaya untuk menimbulkan suasana kerja sama yang baik.

Teori Klasik : Anatomi Organisasi Formal


Tiga unsure pokok organisasi formal yang selalu muncul dalam
leteratur-leteratur manajemen adalah :
1. Sistem kegiatan yang terkoordinat.

2. Kelompok orang.
3. Kerjasama untuk mencapai tujuan.
Organisasi formal adalah system kegiatan yang terkoordinasi dari
sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan di
bawah kekuasaan dan kepemimpinan.
Menurut para pengikut aliran teori organisasi klasik, adanya suatu
organisasi bergantung pada empat kondisi pokok yang harus ada sebelum
kesatuan kegiatan (unity of action) adalah sebagai berikut :
1. Kekuasaan, bisa demokratis atau teoritis, hal ini disebut sebagai sumber
pengorganisasian tertinggi.
2. Saling melayani, yang merupakan legitimasi social pada organisasi.
3. Doktrin, dalam arti sederhana, hal ini merupakan rumusan tujuan
organisasi.
4. Disiplin, diartiakan sebagai perilaku yang ditentukan oleh perintah atau
pengendalian diri.
Tiang dasar teori organisasi formal adalah :
1. Pembagian kerja
2. Proses scalar dan fungsional, proses pertumbuhan vertical dan horizontal
organisasi
3. Struktur, hubungan antara berbagai kegiatan berbeda yang dilaksanakan di
dalam suatu organisasi.
4. Rentang kendali (span of control)

Teori Organisasi Neoklasik


Teori Neoklasik dikembangkan atas dasar teori klasik. Teori Neoklasik
merubah, menambah, dan dalam banyak hal memperluas teori klasik. Teori
Neoklasik didefinisikan sebagai suatu organisasi sebagai kelompok dengan
tujuan bersama. Bila pada teori klasik banyak menitik beratkan
pembahasannya pada struktur, tata tertib, organisasi formal, factor-faktor
ekonomi dan rasionalitas tujuan sedangkan teori neoklasikbanyak
menekankan pentingnya aspek social dalam pekerjaan atau organisasi
informal dan aspek psikologis (emosi).

Perkembangan Teori Neoklasik


Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi percobaanpercobaan yang dilakukan di Hawthorne, serta tulisan Hugo Munsterberg.
Pendekatan neoklasik ditemukan juga di dalam buku-buku tentang hubungan
manusiawi seperti Gardener dan Moore, Human Ralation in Industry dan
sebagainya.
Hugo Munsterberg
Sebagai pencetus psikologi industry yang diakui luas, Hugo
Munsterberg menulis bukunya yang paling menonjol, Psychology and
Industrial EfficiencyI,pada tahun 1913. Buku ini merupakan jembatan penting
antara manajemen ilmiah dan perkembangan lebih lanjut teori neoklasik

yang berkembang sekitar tahun 1930-an. Pada dasarnya Munsterberg


menekankan adanya perbedaan-perbedaan karakteristik individual dalam
organisasi-organisasi.
Percobaan-percobaan Hawthone
Percobaan Hawthone dimulai tahun 1924 di pabrik Hawthorne milik
perusahaan Western Electric di Cicero, Illinois, dekat Chocago, dan disponsori
oleh National Research Council (Lembaga riset Nasinal). Studi Hawthorne
memperkenalkan gagasan bahwa organisasi adalah suatu system terbuka
dimana segmen-segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat . Studi
tersebut juga menekankan pentingnya sikap karyawan dalam era dimana
insentif upah dan kondisi kerja phisik sering dipandang sebagai satu-satunya
factor yang menetukan produktivitas. Akhirnya percobaan Hawthorne
menunjukan bagaimana kegiatan kelompok-kelopmpok kerja kohesif sangat
berpengaruh pada operasi organisasi.

Pandangan Neoklasik Terhadap Organisasi Informal

1.
2.
3.
4.

Titik tekanan teori neoklasik adalah dua elemen poko dalam


organisasi yaitu perilaku individu dan kelompok pekerja. Organisasi informal
muncul sebagai tanggapan akan kebutuhan social manusia kebutuhan
untuk berhungan dengan orang lain.
Factor factor yang dapat menentukan munculnya organisasi
informal antara lain :
Lokasi , untuk membentuk suatu kelompok orang harus mempunyai kontak
tatap muka yang ajeg.
Jenis pekerjaan, ada kecenderungan bahwa manusia yang melaksanakan
jenis pekerjaan yang sama akan membentuk kelompok bersama.
Minat, perbedaan minat di antara mereka menjelaskan mengapa muncul
beberapa organisasi informal yang kecil, di samping satu yang besar.
Masalah-masalah khusus,

Teori Organisasi Modern


Aliran besar ketiga dalam teori organisasi dam manajemen adalah
teori modern atau disebut juga analisa system pada organisasi. Teori modern
melihat semua unsure sebagai satu kesatuan. Teori modern mengemukakan
bahwa organisasi bukanlah suatu system tertutup yang berkaitan erat
dengan lingkungan yang stabil tetapi organisasi adalah suatusistem terbuka
yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya.

Dasar Pemikiran Teori Organisasi Modern

Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun


1950. Teori modern dengan tekanan pada perpaduan (synthesis) dan
perancangan (design), menyediakan pemenuhan suatu kebutuhan yang
menyeluruh.
Teori modern bias disebut sebagai teori organisasi dan manajemen
umum yang memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep

yang lebih maju. Ini dilakukan dengan memandang organisasi sebagai suatu
proses dinamis yang terjadi dengan dan dalam hal-hal yang umum,
dikendalikan oleh sruktur.
Teori modern menyebutkan bahwa kerj suatu organisasi adalah
sangat kompleks, dinamis, multilevel, multidimensional, multi variable, dan
probabilistic. Sebagai suatu system, organisasi terdiri atas 3 (tiga) unsure
,yaitu :
1. Unsure struktur yang bersifat makro
2. Unsure proses yang juga bersifat makro
3. Unsure perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro.
Ketiga unsure ditas saling kait-mengait dan sebenarnya tak terpisahkan satu
sama lain.

Teori Sistem Umum

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Teori system umum merupakan suatu aspek analisis organisasi yang


berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang berlaku
universal. Tujuan teori system umum adalah penciptaan suatu ilmu
pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen
dan proses-proses umum seluruh system sebagai titk awal.
Ada beberapa tingkatan system yang harus diintegrasikan. Kenneth
Boulding mengemukakan klasifikasi tingkat-tingkat system sebagai berikut :
Struktur static
Sistem dinamik sederhana
Sistem sibernetik
System terbuka
System genetika social
System hewani
System manusiawi
System social
System transdental
Konsep system ini menjadi dasar utama analisa organisasi akan teori
organisasi modern. Teori organisasi modern mempunyai kesamaan dengan
teori system umum dalam cara memandang organisasi sebagai sesuatu
yang terintegrasi.

Teori Organisasi dalam Suatu Kerangka Sistem


Teori organisasi modern adalah multidisipliner yang konsep-konsep
dan teknik-tekniknya dikembangkan dari banyak bidang studi. Teori modern
berusaha untuk memberikan sintesa yang menyeluruh bagian-bagian yang
berhubungan dengan semua bidang studi tersebut untuk mengembangkan
suatu teori organisasi yang diterima umum. Hal ini sering disebut analisa
system pada organisasi.
Factor-faktor yang membedakan kualitas teori organisasi modern
dengan teori-teori lainnya adalah dasar konseptual analitiknya,
ketergantungannya pada data riset empiric, dan di atas semuanya, sifat
pemaduan dan pengintegrasikannya. Kualiatas-kualitas ini merupakan

kerangka filosofi yang diterima sebagai suatu cara untuk mempelajari


organisasi sebagai suatu system.
1.
2.
3.
4.
5.

Bagian-bagian dari system dan saling ketergantungannya.


Individu dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi.
Penentuan fungsi-fungsi formal, yang biasa disebut organisasi formal.
Organisasi informal.
Struktur status dan peranan.
Lingkungan phisik pelaksanaan pekerjaan.

Proses-proses hubungan dalam system.


Teori organisasi modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan
universal yang selalu muncul pada system manusia dalam perilakunya
berorganisasi. Ketiga proses tersebut adalah
1. komunikasi ,
2. berusaha untuk mencapai keseimbangan, dan
3. pengambilan keputusan.
Tujuan-tujuan organisasi
Organisasi mempunyai tiga tujuan utama yang saling berhubungan.
Tujuan-tujuan tersebut adalah pertumbuhan, stabilitas, dan interaksi.
Ketiga tujuan organisasi itu akan membedakan bentuk organisasi dengan
tingkat kompleksitas yang berbeda-beda. Persamaan dalam tujuan-tujuan
tersebut juga telah diteliti oleh para ahli sejalan dengan pengembangan teori
system umum.

Pendekatan - Pendekatan Manajemen


Pendekatan Proses
Pendekatan proses dalam manajemen juga disebut pendekatan
fungsional, operasional, universal, tradisional atau klasik. Para pencetus
pendekatan ini bermaksud untuk mengindetifikasikan fungsi-fungsi
manajemen dan kemudian menetapkan prinsip-prinsip dasar organisasi dan
manajemen. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah 1)
kesatuan perintah, 2) persamaan wewenang dan tanggung jawab, 3) rentang
kendali yang terbatas, dan 4) delegasi pekerjaan-pekerjaan rutin.
Pendekatan Keperilakuan
Pendekatan ini sering disebut pendekatan hubungan manusiawi
(human relation approach). Pendekatan hubungan manusiawi dalam
usahanya melengkapi pendekatan klasik, banyak menggunakan pandangan
sosiologi dan psikologi. Oleh karena itu, pusat bahas pendekatan ini adalah
perhatian terhadap para karyawan secara individual dan kelompok kerja.
Pendekatan Kuantitaif

Pendekatan kuantitif (quantitative approach) sering dinyatakan


dengan istilah management science atau operations research (OR).
Pendekatan ini terutama memandang manajemen dari perspektif modelmodel matematis dan proses-proses kuantitaif.
Menurut pendekatan kuantitatif, masalah-masalah manajemen dpata
dirumuskan dan dijabarkan dalam berbagai bentuk model matematis dan
kemudian dianalisa serta dipecahkan dengan menggunakan berbagai teknik
atau metode kuantitaif untuk memperoleh hasil optimum.
Pendekatan Sistem
Pendekatan system dalam manajemen merupakan pendekatan yang
ditetapkan paling akhir, dan dapat dipahami dengan sudut pandangan teori
system umum atau analisis system. Pendekatan system terutama
menekankan saling ketergantungan dan keterkaitan bagian-bagian
organisasi sebagai keseluruhan. Pendekatan ini memberikan kepada
manajemen cara memandang organisasi sebagai keseluruhan dan sebagai
bagian lingkungan eksternal yang lebih luas. Organisasi dipandang sebagai
system terbuka dan pada hakekatnya merupakan proses transformasi
berbagai
masukan yang menghasilkan keluaran
Pendekatan Contingency (Situasional)
Pendekatan Contingency muncul karena ketidakpuasan atas
anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai
variable lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen. Ada tiga
komponen pokok dalam lerangka konseptual untuk pendekatan
contingency : lingkungan , konsep-konsep dan teknik-teknik manajeman, dan
hubungan kontingensi antara keduanya.