Anda di halaman 1dari 3

SYARU MAN QABLANA

A.Pengertian Syaru Man Qablana


Yang dimaksud dengan syaru man qablana ialah syariat atau ajaranajaran nabi-nabi sebelum islam yang berhubungan dengan hukum,seperti
syariat Nabi Ibrahim,Nabi Musa,Nabi Isa,as.Pertanyaannya adalah,apakah
syariat-syariat yang diturunkan kepada mereka itu berlaku pula bagi umat
Nabi Muhammad SAW.Masalah ini merupakan topic tersendiri dalam
pembahasan Ushul Fiqh.Untuk lebih jelas,lebih dulu dikemukakan hal-hal
yang disepakati dan hal-hal yang diperselisihkan dikalangan Ulama.
B.Pendapat para Ulama tentang Syaru Man Qablana
Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa syariat para nabi terdahulu
yang tidak tercantum dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW,tidak
berlaku lagi bagi umat Islam,karena kedatangan syariat Islam telah
mengakhiri berlakunya syariat-syariat terdahulu.
Demikian pula para Ulama Ushul Fiqh sepakat,bahwa syariat sebelum
Islam yang dicantumkan dalam Al-Quran adalah berlaku bagi umat Islam
bilamana ada ketegasan bahwa syariat itu berlaku bagi umat Nabi
Muhammad SAW.,namun keberlakuannya itu bukan karena kedudukannya
sebagai syariat sebelum islam tetapi karena ditetapkan oleh AlQuran.Misalnya puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada umat Islam adalah
syariat sebelum Islam,seperti yang tercantum dalam Al-Quran :
(183 : )

Artinya : Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa.(QS.al-Baqarah : 183 )
Menurut kalangan Hanafiyah,Malikiyah,mayoritas kalangan Syafiiyyah,dan
salah satu riwayat dari Ahmad Bin Hambal,hukum-hukum yang tercantum
dalam Al-Quran berlaku bagi umat Muhammad SAW atau umat Islam.
Diantara alasan mereka :
1) Pada dasarnya Syariat itu adalah satu karena datang dari Allah
juga.Oleh karena itu,apa yang disyariatkan kepada nabi terdahulu dan
disebut dalam Al-Quran berlaku pada umat Muhammad SAW.Hal itu
ditunjukkan oleh firman Allah dalam Al-Quran Surat as-Syura : 13 yang
artinya :

Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah


diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada
Ibrahim,Musa,dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang
musyrik,agama yang kamu seru mereka kepadanya.Allah menarik
kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
2) Selain itu,terdapat beberapa ayat yang menyuruh mengikuti para nabi
terdahulu,antara lain firman Allah :
(123 : )

Artinya : Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah
agama Ibrahim yang
hanif".(QS.an-Nahl : 123).

Jadi,apabila Al-Quran atau sunnah yang sahih itu telah disyariatkan


oleh Allah kepada para ummatnya yang telah mendahului kita mealui para
rasulnya,dan telah dinash bahwasannya syariat itu diwajibkan kepada kita
sebagaimana diwajibkan mereka,maka tidak ada perselisihan bahwa syariat
itu adalah syariat untuk kita dan undang-undang yang wajib diikuti dengan
menetapkan syariat kita kepadanya.
Dan apabila Al-Quran dan as-Sunnah yang sahih telah menceritakan
mengenai hukum diantara hukum-hukum ini, juga telah terdapat dalil, syara
yang membebaskan ( menghapus ) daripada kita, maka tidak ada perbedaan
bahwa ia adalah bukan syariat untuk kita berdasarkan dalil yang
menasahkan ( menghapus ) daripada syariat kita. Seperti ajaran yang ada
pada sysriat nabi Musa, bahwa orang yang durhaka tidak bisa menembus
dosanya, kecuali jika dia membunuh dirinya sendiri, atau pakaian yang
terkena najis tidak bisa disucikan kecuali dengan memotong bagian yang
terkena najis, dan hukum-hukum lainnya yang tetap menjadi beban orangorang sebelum kita, dan Allah telah menghilangkan dari kita. Pangkal
perselisihan itu adalah hukum-hukum syariat terdahulu yang telah
diceritakan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dalam syariat kita tidak
terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hal itu diwajibkan kepada mereka,
atau bahwa hal itu telah dihilangkan dan dihapus dari kita.