Anda di halaman 1dari 56

PARADIGMA DALAM PSIKOPATOLOGI (Psikologi Abnormal)

Menurut Thomas Kuhn, paradigma dapat didefinisikan sebagai kerangka


konseptual atau model yang dengannya seorang ilmuwan bekerja (a conceptual
framework or model within which a scientist works). Ia adalah seperangkat asumsiasumsi

dasar

yang

menggariskan

semesta

partikular

dari

penemuan

ilmiah,

menspesifikasi beragam konsep-konsep yang dapat dianggap absah maupun metodemetode yang dipergunakan untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan data.
Tegasnya, setiap keputusan tentang apa yang menyusun data atau observasi ilmiah dibuat
dalam bangun suatu paradigma.
Sejak awal penyelidikan ilmiah tentang perilaku abnormal dimulai, terdapat dua
sudut pandang utama yang berkembang: (1) somatogenik, yang berasumsi bahwa setiap
keterbelakangan mental disebabkan oleh suatu ketidakberfungsian fisik; dan (2)
psikogenik, yang berasumsi bahwa penderita sakit yang tidak bermasalah atau sukar
dipahami secara fisik harus dijelaskan dalam terma-terma psikologis.
Psikologi abnormal kontemporer mengenal setidaknya lima paradigma atau model
utama, yaitu: (1) fisiologis; (2) psikoanalitis; (3) pembelajaran; (4) kognitif; dan (5)
humanistis.

Paradigma Fisologis
Paradigma fisiologis (physiological paradigm) biasanya mengarah pada model
penyakit atau medis (medical or disease model). Maher mengatakan, perilaku
menyimpang diistilahkan sebagai patologi dan diklasifikasikan berdasarkan symptom,
dimana pengklasifikasiannya disebut diagnosis. Proses-proses yang didesain untuk
mengubah perilaku tersebut disebut terapi dan diaplikasikan kepada pasien di rumah sakit
jiwa (mental hospitals). Jika perilaku menyimpangnya hilang, pasien bisa dinyatakan
sebagai sembuh (cured).
Dalam paradigma medis ini, perilaku abnormal diserupakan dengan suatu
penyakit. Awalnya, penyakit hanya dipahami sebagai sekedar tanda-tanda atau symptom
yang teramati, tetapi sejak muncul germ theory dari Louis Pasteur, penyakit dijelaskan
sebagai akibat dari infeksi sejenis organisme atau virus. Sekalipun kemudian diketahui
bahwa tidak semua jenis penyakit bisa dijelaskan dengan menggunakan teori benih

tersebut. Tetapi dalam paradigma ini, semua penyakit yang terjadi dibaca sebagai
gangguan-gangguan dari proses fisiologis tubuh.

Paradigma Psikoanalitis
Paradigma

psikoanalisis

bisa

dikatakan

paling

populer

dalam

bidang

psikopatologi dan terapi. Sigmund Freud (1856-1939) yang dianggap sebagai bapak
psikoanalisa membagi jiwa kedalam tiga bagian prinsipil, yaitu: id, ego, dan superego. Id
hadir sejak kelahiran manusia yang menjadi bagian dari kepribadian yang membangun
semua energi yang menggerakkan jiwa. Id memiliki dua insting, yaitu Eros dan Thanatos.
Eros adalah kekuatan integratif hidup yang disebut libido atau energi seksual yang
bergerak di atas prinsip kesenangan (pleasure principle). Ketika memasuki usia enam
bulan, bagian kedua kepribadian tumbuh dalam diri manusia yang disebut ego. Tugas
utamanya adalah berhubungan dengan realitas melalui fungsi-fungsi perencanaan dan
membuat keputusan. Jadi, ego bergerak di atas prinsip kenyataan (reality principle).
Bagian ketiga dari kepribadian adalah superego yang membawa standar moral
masyarakat. Superego berkembang melalui resolusi dari konflik oedipal yang secara
umum hal ini ekuivalen dengan apa yang disebut sebagai nurani atau kata hati
(conscience).
Melalui studinya bersama Breuer, Freud menemukan bahwa ego pada dasarnya
bersifat sadar (conscious), sekalipun ia juga memiliki aspek ketidaksadaran yang
disebutnya mekanisme bertahan (defense mechanism) untuk melindungi diri dari
kecemasan (anxiety). Freud menilai bahwa sebagian besar faktor determinan yang
penting dalam perilaku bersifat tidak tersadari (unconscious). Freud memandang
kepribadian manusia sebagai suatu sistem energi tertutup dimana di dalamnya bertarung
ketiga bagiannya untuk memperebutkan bagian dari energi yang ada. Pemikiran Freud
juga sangat bersifat deterministik, sampai-sampai keseleo lidah (slips of the tongue)
dibaca sebagai akibat dari suatu sebab spesifik dari ketidaksadaran.
Freud

mengenalkan

beberapa

macam

jenis

kecemasan.

Pertama

ia

mengemukakan tentang neurotic anxiety yang muncul dari terhambatnya impuls-impuls


ketidaksadaran. Karena adanya represi itulah, impuls yang tertahan tertransformasikan
menjadi kecemasan yang bersifat neurotis. Selanjutnya Freud menyajikan pengertian baru
atas konsep kecemasan neurotisnya, dimana hal itu dibaca sebagai buah ketakutan akan
akibat yang bakal diterima jika suatu kebutuhan atau keinginan dituruti. Jenis kecemasan
lainnya adalah kecemasan obyektif (objective anxiety) yang muncul sebagai akibat dari
reaksi ego terhadap bahaya yang bersifat eksternal, seperti takut kepada harimau dsj. Ada
juga yang diistilahkan sebagai kecemasan moral (moral anxiety) yang terjadi karena takut
hukuman atau perasaan bersalah dan malu karena gagal mematuhi standar moral atau
perilaku yang ada.

Mekanisme bertahan (defense mechanism) sebagai strategi yang sekalipun tak


tersadari berguna untuk menjaga ego dari kecemasan, memiliki beberapa bentuknya.
Salah satunya yang terpenting adalah represi (repression), dimana impuls atau pikiran
yang tak terpenuhi oleh ego ditekan kedalam ranah ketidaksadaran. Bentuk-bentuk
lainnya

adalah

projection,

displacement,

reaction

formation,

regression,

dan

rationalization. Terapi psikoanalitis berusaha menghilangkan represi-represi tersebut dan


berusaha membantu pasiennya menghadapi konflik masa lalunya dan mengatasinya di
bawah terang realitas kedewasaan.

Paradigma Pembelajaran/ Behavior Paradigm


Behavioral

or

learning

paradigms

muncul

ketika

John

B.

Watson

memproklamirkan psikologi sebagai disiplin keilmuan yang harus didekati secara


obyektif eksperimental. Maka dimulailah berbagai eksperimentasi untuk menyelidiki
aspek pembelajaran dari perilaku di atas teori S-R (stimulus respon). Terdapat
beberapa model eksperimentasi aspek pembelajaran dari perilaku, antara lain: classical
conditioniong dari Ivan Pavlov (1849-1936), operant conditioning dari Edward
Thorndike (1874-1949) dengan the law of effect-nya yang nanti dikembangkan lebih jauh
oleh Burrhus Frederick Skinner dengan reinforcement-nya, dan modeling yang
dieksperimentasikan oleh Bandura dan Menlove yang kemudian menguatkan teori
mediasi dalam pembelajaran (mediational learning paradigms).

Paradigma Kognitif
Psikologi

kognitif

fokus

pada

bagaimana

seseorang

menstrukturkan

pengalamannya, bagaimana mereka menjadi menyadarinya, dan mentransformasikan


rangsangan kedalam informasi yang berguna. Kognisi sendiri adalah terma yang merujuk
pada proses-proses mental seperti perceiving, recognizing, conceiving, judging, dan
reasoning. Seseorang menyematkan setiap informasi baru kedalam jaringan terorganisir
dari akumulasi pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya yang biasa disebut sebagai
schema. Perbedaan mendasar pandangan kognitif dari pemikiran analisis mediasional
adalah terletak pada aspek interpretasi aktif. Jika kelompok mediasi melihat stimulus
secara otomatis menghasilkan respon mediasional internal, maka kelompok kognitif
memandang minor peran dari reinforcement. Mereka justru percaya bahwa seseorang
secara aktif menginterpretasikan stimulus dari lingkungannya dan termasuk bagaimana ia
mentransformasikannya untuk mempengaruhi perilaku. Para terapis kognitif berupaya
merubah proses berfikir pasien-pasiennya untuk membantu mereka mengubah emosi dan
perilakunya. Beberapa pola terapi telah diperkenalkan tokoh-tokohnya dalam hal ini,
seperti: cognitive restructuring dari Davison, rational-emotive dari Albert Ellis, dan
selectively abstract dari Aaron Beck.

Paradigma Humanistik
Abraham Maslow (1908-1970) menyajikan pandangan psikologi humanistik yang
mengakui individu sebagai makhluk yang pada dasarnya positif, sehat, unik, aktif, penuh
potensi, bertujuan, dan baik. Dan segala kepedihan manusia berawal dari penolakan
terhadap semua kebajikan yang dimilikinya tersebut. Paradigma humanistik meyakini
bahwa terapis seharusnya membantu seseorang untuk menemukan diri mereka sendiri
dengan sepenuh perasaan, dan membantunya belajar mengekspresikan dirinya tanpa
terbebani apa yang orang lain fikirkan tentangnya. Pola terapi yang dikembangkan dalam
tradisi ini adalah client-centered dari Carl Rogers. Inti dari pola ini adalah pengembangan
aspek penerimaan dan penghargaan serta empati terhadap perasaan dan tindakan klien.
Implikasi paling penting dari paradigma adalah pengaruhnya terhadap cara
seorang peneliti mencari jawaban atas suatu persoalan yang ada. Yang jelas, hingga kini
definisi tentang keabnormalan masih saja muncul beragam, mencakup: statisctical rarity,
subjective distress, disability, dan norm violations. Lepas darimana yang paling
memuaskan, para psikopatologis dapat memakai definisi mana yang paling tepat untuk
kajian mereka.

Referensi
Gerald C. Davison & John M. Neale. Abnormal Psychology. New York: John Wiley &
Sons, 1990.
V. Mark Durand& David H. Barlow. 2006. Psikologi Abnormal.Jilid 4. Buku Pertama.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http://www.psychologymania.net/2010/04/paradigma-dalam-psikopatologipsikologi.html

Etiologi, Paradigma dan Sejarah Psikologi Abnormal

Psikologi Abnormal
adalah suatu ilmu yang mempelajari sifat dan perkembangan gangguan jiwa; mengapa
orang berperilaku, berpikir dan merasa dalam cara yang tidak diharapkan; mencegah,
mengurangi atau menyembuhkan (bila masih dimungkinkan untuk sembuh).

Etiologi
1. Etiologi Primer
Suatu kondisi atau situasi yang harus ada seandainya suatu gangguan terjadi. Contoh,
Sifilis di otak dapat menyebabkan gangguan perilaku. Suatu penyebab primer biasanya
merupakan hal yang mutlak, tetapi tidak selalu mencukupi untuk melahirkan perilaku
abnormal, justru banyak sekali gangguan-gangguan perilaku yang lahir bukan karena
penyebab utama.
2. Etiologi Predisposisi
Penyebab yang sifatnya kecenderungan, yaitu kondisi yang datang sebelum terjadinya
gangguan pada suatu kondisi tertentu. Contoh, Penolakan orangtua dapat mengakibatkan
anak menghadapi kesukaran dalam membangun relasi dengan orangtuanya di kemudian
hari atau keterikatan pada ibu.

3. Etiologi Aktual
Suatu kondisi yang secara langsung memberikan efek pada terjadinya gangguan dan
bertindak sebagai pemicu.
4. Etiologi Penguat
Suatu kondisi yang cenderung untuk memelihara perilaku maladaptif yang telah atau
sering terjadi. Contoh, perilaku over protektif orangtua pada anaknya sehingga membuat
anak menjadi takut, dilepaskannya tanggung jawab seseorang dari perbuatan salah
dengan alasan sakit, atau memberikan perhatian yang berlebih.

Paradigma
adalah sekumpulan asumsi asumsi dasar yang bersama-sama memberi definisi atau
menetapkan bagaimana caranya memberi konsep, studi mengumpulkandan
mengintrospeksikan data, bahkan memikirkan tentang fakta maupun pokok persoalan
khusus.
Beberapa aliran dalam paradigma:
1. Paradigma Biologis
Memandang bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh proses tubuh yang
menyimpang atau kerusakan organik, sehingga lebih memusatkan pada faktor-faktor
genetis dan biokimia.
Breen & Maher
Perilaku menyimpang adalah patologis dan diklasifikasikan berdasarkan simptom,
klasifikasi disebut diagnosis, sedangkan proses yang dirancang untuk mengubah perilaku
adalah terapi dan diterapkan pada pasien di Rumah Sakit Jiwa. Jika perilaku menyimpang
berhenti, barulah pasien sembuh.
2. Paradigma Psikoanalisis
memusatkan pada represi dan proses tidak sadar dimana paradigma ini menyelidiki
kehidupan awal serta proses tidak sadar pada pasien sebagai penyebab abnormalitas.
Dengan kata lain gangguan jiwa merupakan akibat dari insting Id (nafsu jasmani) yang
terlalu kuat mengatur atau menentukan tahap perkembangan konflik yang tidak disadari.
3. Paradigma Behavioris
Tingkah laku abnormal dilihat sebagai adaptasi yang tidak efektif (menyimpang) sebagai
hasil belajar maladaptif atau salah dalam mempelajari sesuatu yang baik tetapi berhasil
mempelajari hal-hal yang tidak benar.
4. Paradigma Kognitif
menitikberatkan pada bagaimana orang menyesuaikan perhatian, bagaimana menyusun
pengalamannya, bagaimana pengertiannya terhadap hal yang ditangkap serta bagaimana
mengubah stimuli lingkungan ke dalam informasi yang berguna, sehingga interpretasi
irasional merupakan faktor utama dalam abnormalitas.
5. Paradigma Diathesis Stres
perilaku abnormal merupakan hasil interaksi antara suatu predisposisi ke arah penyakit
tertentu (diatesis) dangan stres dari lingkungan (kehidupan).
Contoh, Saya akan ke jakarta besok, tetapi sudah terbayang situasi di Jakarta yang tidak
menyenangkan sehingga muncul rasa mual, padahal belum pergi.

Sejarah
1. Masa Demonologi Awal
Berlaku pandangan bahwa makhluk jahat dapat menempati seseorang dan
mengendalikannya sehingga seseorang mengalami sakit jiwa. Exorcism adalah
pengusiran roh jahat dengan ritual seperti doa, suara gaduh, dipaksa minum cairan yang
tidak enak, membuat menderita supaya roh jahatnya pergi.
2. Masa Somatogenesis
Menurut Hipocrates, penyakit jiwa disebabkan karena gangguan (kelainan) pada jasmani.
Otak sebagai organ kesadaran berisi kehidupan intelek dan intuisi sehingga kalau perilaku
(pikiran) seseorang menyimpang, berarti ada patologi di otak. Hipocrates

mengklasifikasikan gangguan mental menjadi tiga golongan, yaitu mania, melancholia,


phlegmatis.
Hipocrates juga menyatakan bahwa fungsi otak yang normal serta kesehatan mental
bergantung pada keseimbangan empat cairan tubuh:
Darah, jika tidak seimbang akan menyebabkan tempramen mudah berubah.
Empedu Hitam, jika tidak seimbang akan menyebabkan melancholia.
Empedu Kuning, jika tidak seimbang akan menyebabkan cemas dan mudah
tersinggung.
Phlegma atau lendir, jika tidak seimbang akan menyebabkan seseorang menjadi
lamabt dan bodoh.
3. Masa Orang Sakit Jiwa Dianggap Sebagai Tukang Sihir
Pada abad ke 13 di Eropa sedang berjangkit wabah dan masyarakat mencari kambing
hitam yaitu "tukang sihir" sebagai penyebabnya sehingga mereka dianiaya bahkan
dibunuh.
4. Masa Perkembangan Asylum
Di Eropa sebelum abad ke 19, berjangkit wabah lepra. Penderita lepra ditempatkan di
"leprosium", setelah wabah berhenti, tempat tersebut menjadi kosong lalu diubah menjadi
"asylum", yaitu rumah penampungan penderita sakit jiwa.
Benjamin Rush (1745-1813)
Bapak psikiater Amerika ini menyatakan bahwa gangguan jiwa disebabkan terlalu banyak
darah, maka secara periodik darah penderita "di kop".
5. Masa Moral Treatment
ditandai oleh perlakuan yang lebih moralis atau humanistik terhadap penderita gangguan
jiwa.
Philippe Pinel (1745-1826)
adalah tokoh dalam gerakan perlakuan yang manusiawi terhadap pasien penyakit jiwa di
asylum saat revolusi Perancis. Pinel membuka rantai-rantai besi pasien di Rumah Sakit
Jiwa La Bicerte (asylum besar di Paris).
William Tuke (1732-1822)
Mendirikan Rumah Sakit Jiwa York Retreat di Inggris. Ia memberikan suasana sepi,
religius, memberikan pekerjaan di kebun, istirahat dan bercakap-cakap dengan perawat
kepada pasien jiwa.
6. Masa Mulainya Pemikiran Baru
Somatogenesis
Wilhelm Griessinger
Seorang dokter Jerman yang menyatakan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh sebab
fisik, sesuai pandangan Somatogenesi Hipocrates.
Emil Kraeplin
Pada tahun 1883, Ia membuat klasifikasi tentang sifat-sifat organik dari gangguan jiwa.
Menurutnya, pada penyakit jiwa ada kecenderungan sekelompok simptom. Setiap
penyakit jiwa berbeda satu sama lain dalam hal asal usul, simptom, perjalanan penyakit
dan akibatnya.
Kraeplin membagi dua golongan besar penyakit jiwa:
Dementia Praecox atau schizophrenia karena ketidakseimbangan kimia
Psikosis Manik Depresif karena ketidakseimbangan metabolisme
Psikogenesis
Di Eropa Barat, terutama Perancis dan Austria pada akhir abad 18-19, gangguan jiwa
dianggap karena kerusakan fungsi psikologis dan waktu itu di Eropa banyak gangguan
histerical atau histeria (sekarang disebut gangguan konversi). Mereka menderita
ketidakmampuan fisik seperti buta atau lumpuh tanpa sebab kerusakan anatomis.
Anton Mesmer

Seorang dokter Austria yang berpendapat bahwa gangguan histeria disebabkan distribusi
cairan magnetisme binatang dalam tubuh.
Marti Charcot
Seorang neurolog Prancis menyatakan bahwa histeria disebabkan oleh psikologis.
Joseph Breur
Seorang dokter Vienna menghipnotis orang yang terkena histeria serta membiarkan
pasien melakukan katarsis.
Sumber:
Davison, Gerald C., Neale,John M., Kring,Ann M., Psikologi Abnormal, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006.
http://anomalous-psikologi.blogspot.com/2010/01/psikologi-abnormal-adalah-suatuilmu.html

BERBAGAI PERSPEKTI DALAM MELIHAT PERILAKU ABNORMAL


22 September 2012 - dalam Psikologi Oleh anna-w--fpsi09
Perspektif Biologis
Mereka yang menganut paradigma biologis berasumsi bahwa jawaban terhadap

jawaban terhadap berbagai pertanyaan dalam psikopatologi akan ditemukan dalam tubuh
manusia. Dala setiap kasus suatu tipe psikopatologi dianggap disebabkan oleh
terganggunya beberapa proses biologis seperti kekurangan zat kimia tertentu pada tubuh.
Ada dua faktor biologis yang relevan dengan psikopatologi adalah genetic dan kimiawi
saraf.
Perspektif psikoanalisis klasik
Sudah tidak asing lagi ditelinga kita saat mendengar nama Freud, yaitu seorang
tokoh psikoanalisis yang membagi struktur pikiran kedalam tiga bagian
utama;id,ego,superego. Id adalah energy paling dasar pada diri manusia yang seluruhnya
tidak disadari, energy ini disebut juga dengan istilah libido.id mencari kepuasan langsung
yang disebut oleh freud sebagai prinsip kenikmatan. Jika id tidak terpuskan terjadi
ketegangan dan id berusaha menghilangkan ketegangan tersebut secepat mungkin. Aspek
kedua adalah ego. Ego berada pada kesadaran dan bekerja menggunakan prinsip realitas.
Aspek ketiga adalah superego, superego ini berisi tentang nilai-nilai yang diterima atau
tidak oleh lingkungan.
Kaitan konsep psikoanalisis dengan psikopatologi pendapat Freud bahwa berbagai
bentuk psikopatologi diakibatkan oleh dorongan yang kuat atau insting id, yang
mengawali tahap perkembangan konflik-konflik yang tidak disadari dan terkait dengan
tahap psikoseksual tertentu. Paradigma ini fokus pada represi dan proses bawah sadar
lainnya yang dapat ditelusuri melalui konflik-konflik masa kecil.
Perspektif Humanistik
Humanistik dan eksistensial menggunakan penekanan yang lebih besar pada
kebebasan manusia untuk memilih. Menganggap kehendak bebas sebagai karakteristik
terpenting manusia. Namun demikian kehendak kehendak bebas ibarat pedang bermata
dua, karena tidak hanya memberikan pemenuhan dan kenikmatan, namun juga
memberikan rasa sakit akut dan penderitaan. Ia merupakan anugrah alamiah yang harus
digunakan dan memerlukan keberanian khusus untuk menggunakannya. Tidak semua
orang mampu mengatasi hal ini yang menyebabkan seseorang berperilaku abnormal, dan
mereka yang tidak mampu dianggap memerlukan terapi terpusat pada klien.
Perspektif Behaviorisme

Perspektif Behaviorisme menyatakan bahwa perilaku abnormal dapat berkembang


melalui respon yang dipelajari dengan cara yang sama seperti perilaku lainnya yang
dipelajari, melalui classical conditioning, operant conditioning, aau modeling. Para
behavioris lebih memperhatikan perilaku abnormal hasil dari perilaku yang bertahan
disebabkan berbagai kejadian hadiah dan hukuman yang mendorong pola respon yang
bermasalah.
Classical conditioning, Salah satu tipe pembelajaran adalah, pada saat-saat Pavlov
melakukan eksperimennya mngenai pengkondisian, pasa ssat itu juga ditemukan bahwa
Classical conditioning dapat menimbulkan ketakutan patologis, ketika Watson dan
Rosalie Rayner (1920) mengeksperimen anak dari Watson dengan stimulus tikus.
Operant conditioning, adalah perilaku agresif yang sangat tinggi. Agresi sering
kali diberi penghargaan seperti ketika seorang anak memukul anak lain untuk
mempertahankan mainan yang dipegangnya(mendapat mainan merupakan penguat).
Modeling, perilaku abnormal disebabkan karena mengamati dari orang lain.
Contoh perilaku abnormal dari modeling; anak-anak dari orang tua yang mengalami fobia
atau memiliki masalah penyalahgunaan zat dapat memiliki pola perilaku yang sama,
sebagaian diperoleh melalui pengamatan.
Perspektif Kognitif
Paradigm kognitif berfokus pada bagaimana manusia menyusun berbagai
pengalaman mereka, bagaimana mereka membuat pengalaman-pengalaman tersebut
menjadi masuk akal, dan bagaimana mereka menghubungkan pengalaman masa kini
dengan berbagai pengalaman masa lalu yang disimpan dalam memori. Perspektif ini
menganggap perilaku abnormal disebabkan oleh serangkaian kognitif tertentu atau skema
tertentu dan interpretasi irasional terhadap suatu pengalaman.
Perspektif Psikososial
para filsuf awal seperti Plato berfikir bahwa dua penyebab perilaku maladaptif
adalah pengaruh sosial dan cultural seseorang dan proses belajar yang terjadi
dimlingkungan itu. Aristoteles juga berpendapat pentingnya pengaruh lingkungan sosial
dan pembelajaran awal pada psikopatologi di hari kemudian. Adapun terapi yang muncul
pada saat itu adalah terapi moral.

tiva:

ut PL membuat lelucon di depan umum. (Jones, Rhodewolt,Berglas,& Skelton,


1981; Rhodewolt Agustsdottir,1986; Schlenker, Dlugolecki, & Doherty, 1994, Tice,
1992).

Self presentation, membantu kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan membantu
kita menciptakan citra diri yang diinginkan. Self presentation juga menjalankan tujuan
sosial. Self presentation membantu orang lain tahu bagaimana kita mengharap untuk
diperlakukan, memungkinkan kehidupan social berjalan lebih mulus (Goffman, 1959).
Erving Gofmann memperkenalkan perspektif dramaturgical, yang menyamakan Self
presentation dengan sebuah teater,dengan aktor, pertunjukan, pengaturan, naskah, alat
peraga, peran, area belakang panggung, dan sejenisnya. agar permainan berjalan dengan
lancar, perlu interaksi masyarakat satu sama lain, untuk menjadi pertunjukan nyaman
harus mengikuti naskah sosial, dan au @nghormati dan bersama dengan
presentasi diri masing-masing orang. Misalnya, jika orang memiliki status tinggi berharap
untuk diperlakukan dengan hormat, Goffman, beralasan, mereka harus berbuat lebih dari
hanya memiliki status. Mereka juga harus memainkan peran itu dengan berpakaian tepat,
bergaul dengan orang-orang yang benar, menjaga jarak yang tepat dari orang-orang status
lebih rendah, dan sebagainya.
Interaksi sosial yang lancar itu penting untuk kita semua. sehingga, kita biasanya enggan
untuk menentang presentasi orang lain, sebaliknya, kita memungkinkan mereka untuk
"menjaga muka/harga diri" dengan presentasi publik yang mungkin kurang sempurna
.contohnya, kita secara publik mungkin membiarkan teman kita sedikit membanggakan,
mengetahui bahwa untuk menunjukkan berlebihan tidak hanya akan mempermalukan
teman tetapi membuat orang lain tidak nyaman juga. menjadi sensitif terhadap face
saving konvensi sosial dinilai dalam kebanyakan budaya, dan anak-anak Amerika yang
berusia lima tahun mulai menunjukkan sensitivitas ini dengan menjadi bijaksana/ pandai
ketika mengevaluasi pekerjaan lain, dengan mengabaikan kesalahan orang lain, dan
sejenisnya (Hatch,1987).
Secara umum Self presentation berguna untuk tiga alasan. Membantu kita mendapatkan
apa-apa yang kita inginkan & menghargai, membantu kita membuat dan
mempertahankan identitas diri; dan memungkinkan kita menghadapi lingkungan social
relatif lebih mudah.
http://anna-w--fpsi09.web.unair.ac.id/artikel_detail-59559-Psikologi%20-BERBAGAI
%20PERSPEKTI%20DALAM%20MELIHAT%20PERILAKU%20ABNORMAL.html

Psikologi Abnormal
Sumber : http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/

Selasa, 20 Desember 2011


Gangguan Kecemasan

PENDAHULUAN
Mereka yang sedang menunggu suatu berita yang penting, atau mereka yang hidup dalam
situasi yang sulit untuk diperkirakan, seringkali merasakan suatu kecemasan, suatu
kondisi umum saat kita sedang berusaha mengantisipasi sesuatu, atau ketegangan
psikologis. Orang-orang yang berada pada suatu situasi berbahaya atau situasi yang tak
dikenal, seperrti terjuan paying untuk pertama kaliya atau mendapati dirinya berhadapan
dengan seekor ular kobra, cenderung merasakan ketakuatn. Apabila berlangsung dalam

situasi jagka pendek, emosi-emosi tersebut akan bersifat adaptif, karena emosi tersebut
memberikan kita tenaga untuk dapat menghadapi situasi bahaya tersebut. Emosi-emosi
tersebut akan memastikan kita tidak akan melakukan terjunpayung tanpa memiliki
pengetahuan mengenai bagaimana menggunakan parasut, dan akan memastikan kita
untuk menjauh pada kobra tersebut.
Namun, banyak situasi-situasi tertentu, rasa takut akan menjadi tidak berhubung dari
bahaya yang sesungguhnya, atau sebaliknya, rasa takut tersebut akan tetap ada pada
meskipun situasi bahaya atau situasi ketidakpastian tersebut telah berlalu. Hal tersebut
dapat menyebabkan kecemasan kronik, yang ditandai dengan menentapnya perasaan
ketegangan untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk atau musibah; menyebabkan
serangan panik, perasaan cemas yang berlebihan, yang berlangsung sesaat; menyebabkan
fobia, ketakutan yang berlebihan terhadap situasi atau hal tertentu; menyebabkan
ganggaun obsesif-kompulsif.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai gangguan kecemasan beserta
jenis-jenisnya, selain itu juga akan dijelaskan mengenai kriteria dan penyebab masingmasimng ganggaun kecmasan dan juga jeis-jenis terapi yang dapat dilakukan.

GANGGUAN ANXIETAS
Bagaimana bila engkau menjadi seorang yang lemah, seperti bocah laki-laki
berumur sembilan tahun yang sedikit pemalu dan tidak agresif, agak pendek dan
kurus dibanding rata-rata, dan selama tiga hari dalam seminggu, setiap Senin,
Rabu, dan Jumat, secara rutin dan tidak dapat dihindari seperti matahari yang
terbenam dan langit yang menjadi gelap dan bumi yang berubah menjadi hitam
dan mati dan menakutkan tanpa menjanjikan kehangatan bahwa seseorang di
suatu tempat di mana pun akan terjaga kembali, harus berada dalam
pengasuhan yang menyedihkan dan keras dari seorang laki-laki bernama
Fergione, yang lebih tua, lebih gemuk, dan jauh lebih besar darimu, seorang
laki-laki yang mengerikan, penuh kekuatan, berbahu lebar yang berbulu, berotot
kuat, berdada bidang, dan memakai kaus ketat berwarna putih bersih atau biru
laut yang engkau tidak pernah mempunyai cukup keberanian untuk menatapnya
dan yang nama pembantunya tidak engkau tanyakan atau tidak mampu kau
ingat, dan yang tampaknya tidak menyukai atau sepakat denganmu? Ia dapat
melakukan apa pun yang dikehendakinya padamu. Ia dapat melakukan apa un
yang dikehendakinya padaku (Heller, 1966, hlm 236).
Kutipan dari novel kedua Joseph Heller, Semething Happened, menggambarkan
ketidakberdayaan seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang ketakutan yang
harus berinteraksi selama tiga hari dalam seminggu dengan guru olahraga yang berbadan
kekar. Seperti digambarkan oleh anaknya yang sama ketakutannya, anak tersebut
memiliki kecemasan yang berlebihan terhadap pelajaran olahraga, sebuah situasi yang
dipaksakan untuk dimasukinya dan ia tidak dapat lari darinya, sebuah situasi yang
memberikan tuntutan yang ia rasa tidak mampu dipenuhinya. Sekali lagi sang novelis
berbakat tersebut merekan fenomenologi pengalaman langsung emosi penting
manusia yang disampaikan secara jelas kepada kita semua.
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus
yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Konsep kecemasan
memegang peranan yang sangat mendasar dalam teori-teori tentang stres dan penyesuaian
diri (Lazarus, 1961). Menurut Post (1978), kecemasan adalah kondisi emosional yang
tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan,
ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Freud
(dalam Arndt, 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu

perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti
perubahan detak jantung dan pernafasan. Menurut Freud, kecemasan melibatkan persepsi
tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata lain
kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.
Lefrancois (1980) juga menyatakan bahwa kecemasan merupakan reaksi emosi yang
tidak menyenangkan, yang ditandai dengan ketakutan. Hanya saja, menurut Lefrancois,
pada kecemasan bahaya bersifat kabur, misalnya ada ancaman, adanya hambatan
terhadap keinginan pribadi, adanya perasaan-perasaan tertekan yang muncul dalam
kesadaran. Tidak jauh berbeda dengan pendapat Lefrancois adalah pendapat Johnston
yang dikemukakan oleh (1971) yang menyatakan bahwa kecemasan dapat terjadi karena
kekecewaan, ketidakpuasan, perasaan tidak aman atau adanya permusuhan dengan orang
lain. Kartono (1981) juga mengungkapkan bahwa neurosa kecemasan ialah kondisi psikis
dalam ketakutan dan kecemasan yang kronis, sungguhpun tidak ada rangsangan yang
spesifik. Menurut Wignyosoebroto (1981), ada perbedaan mendasar antara kecemasan
dan ketakutan. Pada ketakutan, apa yang menjadi sumber penyebabnya selalu dapat
ditunjuk secara nyata, sedangkan pada kecemasan sumber penyebabnya tidak dapat
ditunjuk dengan tegas, jelas dan tepat.
Selanjutnya, Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Pertama,
kecemasan normal, yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri
yang menyebabkan cemas. Kedua, kecemasan neurotik, ketika individu tidak menyadari
adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas, kecemasan kemudian dapat
menjadi bentuk pertahanan diri.
Menurut Bucklew (1980), para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat,
yaitu:
1. Tingkat psikologis. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti tegang,
bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya.
2. Tingkat fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala
fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebardebar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.
Mungkin tidak ada satu topik lain dalam psikologi abnormal yang menyeluruh begitu
banyak orang seperti kecemasan, suatu perasaan takut dan khawatir yang tidak
menyenangkan. Kondisi emosional ini dapat terjadi dalam banyak psikopatologi dan
merupakan aspek utama dalam berbagai gangguan. Kecemasan juga memiliki peran
penting dalam studi psikologi orang-orang normal karena sangat sedikit di antara kita
yang menjalani kehidupan, walaupun hanya seminggu tanpa mengalami semacam emosi
yang kita sepakati bersama sebagai kecemasan atau ketakutan. Namun, periode
kecemasan singkat yang menyerang individu normal hampir tidak dapat dibandingkan
dengan intensitas atau durasi, juga tidak sama melemahkannya, dengan kecemasan yang
diderita oleh seseorang yang mengalami gangguan anxietas.
Berbagai gangguan yang dibahas dalam bab ini dan bab berikutnya selama periode yang
lalu dianggap sebagai bentuk-bentuk neurosis, sekelompok besar gangguan yang ditandai
dengan kecemasan tidak realistis dan berbagai masalah lain yang terkait. Gangguan
tersebut dikonseptualkan melalui kerja klinis Freud dengan para pasiennya, sehingga
kategori diagnostik neurosis tidak terpisahkan dari teori psikoanalisis. Dalam DSM-II
perilaku tersebut mencakup berbagai tipe neurosis yang berbeda dan sangat bervariasiketakutan dan penghindaran dalam fobia, dorongan yang tidak dapat ditolak untuk
melakukannya tindakan tertentu secara berulang-ulang yang terdapat dalam gangguan
obsesif kompulsif, kelumpuhan, dan simptom-simptom neurologis lain dalam
gangguan konversi. Bagaimana bisa masalah yang sangat beragam tersebut
dikelompokkan dalam satu kategori? Walaupun simptom-simptom yang di amati berbeda,

semua kondisi neurotik diasumsikan, menurut teori psikoanalisis mengenai neurosis,


mencerminkan masalah yang terpendam berkaitan dengan impuls-impuls id yang ditekan.
Selama bertahun-tahun banyak psikopatolog mempertanyakan kelayakan konsep neurosis
karena konsep tersebut telah menjadi sangat luas sehingga tidak lagi bermakna sebagai
kategori diagnostik. Terlebih lagi, tidak ada data yang mendukung asumsi bahwa pasien
yang dicap neurotik memiliki beberapa masalah atau serangkaian simptom yang sama 1.
Dimulai dalam DSM-III dan berlanjut dalam DSM-IV-TR, kategori lama neurosis
didistribusikan dalam beberapa kelompok diagnosis baru yang lebih terpisah : gangguan
anxietas.
Gangguan kecemasan adalah gangguan yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa
merasa takut, sedih dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebagian besar
pengalaman ketakutan remaja dan kekhawatiran yang dapat dicap sebagai kecemasan,
dimana yang hadir dalam gangguan kecemasan sebenarnya menghambat kegiatan seharihari (Christophersen & Mortweet, 2001).
Masalah berkaitan dengan kecemasan yang relatif umum di masa muda, dengan tingkat
prevalensi klinis seumur hidup masalah mulai dari 6 sampai 15% (Silverman &
Ginsburg, 1998; US Public Health Service, 2000). Para prevalensi gangguan kecemasan
di masa muda lebih tinggi dibandingkan hampir semua gangguan mental lainnya (US
Department of Health and Human Service, 1999). Pemuda dengan pengalaman masalah
kecemasan yang signifikan dan sering berlangsung gangguan, seperti masalah sosial,
konflik keluarga, dan kinerja yang buruk di sekolah dan bekerja (Langley, Bergman,
McCracken & Paiacentini, 2004).
Gangguan Anxietas didiagnosis jika secara jelas terdapat perasaan cemas yang dialami
secara subjektif. DSM-IV-TR mengajuan enam kategori utama : fobia, gangguan panik,
gangguan anxietas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca
trauma, dan gangguan stres akut. Terkadang seseorang yang menderita satu gangguan
anxietas juga memenuhi kriteria diagnostik gangguan lain, sebuah situasi yang disebut
komorbiditas. Komordibitas dalam gangguan anxietas terjadi karena dua hal.

Dalam banyak hal istilah neurosis berperan sebagai lawan dari istilah
yang sangat luas lainnya, psikosis, yang juga merupakan bagian dari
kosa kata sehari-hari dan terkenal dalam DSM-II. Beberapa diagnosis
dalam DSM-IV-TR Skizofrenia dan gangguan paranoid dan beberapa
ganguan mood dikenal sebagai psikosis walaupun gangguan tersebut
secara umum tidak dikelompokkan sebagai gangguan semacam itu.
Para individu yang menderita psikosis umumnya mengalami gangguan
mental ekstrem dan kehilangan kontak dengan realitas. Halusinasi dan
delusi yang mereka alami persepsi yang salah dan keyakinan yang
tidak benar yang merupakan gabungan distorsi dan ketidakmungkinan,
namun diterima dengan teguh oleh individu sangat mengungkung
mereka sehingga mereka sering kali tidak mampu memenuhi tuntutan
hidup yang paling wajar sekalipun.
1. Simptom berbagai gangguan anxietas tidak seluruhnya spesifik bagi gangguan tertentu;
sebagai contoh, gejala-gejala somatik kecemasan (a.l., keringat, denyut jantung yang
cepat) merupakan beberapa kriteria diagnostik bagi gangguan panik, fobia, dan
gangguan stres pascatrauma.
2. Faktor-faktor etiologis yang memicu timbulnya berbagai gangguan anxietas mungkin
dapat diterapkan bagi lebih dari satu gangguan; sebagai contoh, keyakinan bahwa

anda tidak dapat mengontrol berbagai stresor yang Anda temui dianggap relevan
bagi fobia dan gangguan anxietas menyeluruh. Dan penyiksaan fisik atau seksual di
masa kanak-kanak dapat meningkat risiko seseorang untuk mengalami beberapa
gangguan. Komordibitas dapat mencerminkan bekerjanya mekanisme yang sama
seperti diatas.
Hingga saat ini, beberapa teori mengenai gangguan anxietas cenderung berfokus secara
eksklusif pada satu gangguan. Perkembangan teori yang mempertimbangkan
komordibitas merupakan tantangan masa depanKini beralih ke pengujian karakteristik
yang menentukan, teori etiologi, dan terapi bagi setiap gangguan anxietas. Tabel 6.1
memberikan rangkuman singkat tentang gangguan yang akan kita bahas.
Tabel 6.1 Rangkuman Berbagai Gangguan Anxietas Utama
No

Gangguan

Fobia

Gangguan Panik

3
4

Gangguan Anxietas
Menyeluruh
Gangguan Obsesifkomplusif
Gangguan Stres
Pascatrauma

Gangguan Stres Akut

Deskripsi
Ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang
tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya
Serangan panik berulang yang mencakup timbulnya simptomsimtom fisiologis secara mendadak, seperti pusing, denyut
jantung yang cepat dan gemetaran, disertai dengan teror dan
perasaan berada dalam bencana; kadangkala disertai dengan
agorafobia, ketakutan berada di tempat umum
Kekhawatiran yang menetap dan tidak dapat dikontrol, sering
kali terhadap hal-hal kecil
Pemikiran, impuls, dan citra yang tidak dapat dikontrol-obsesidan perilaku atau tindakan mental yang berulang-kompulsi
Masa setelah pengalaman traumatis dimana seseorang
mengalami peningkatan kemunculan, penolakan stimuli yang
diasosiasikan dengan kejadian traumatis yang dialami, dan
kecemasan yang disebabkan oleh ingatan terhadap peristiwa
tersebut
Simptom-simptomnya sama dengan gangguan stress
pascatrauma, namun hanya berlangsung selama empat minggu
atau kurang

1. FOBIA
Para psikopatolog mendefinisikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang
diperantarai oleh rasa takut yang tidak proporsional dengan bahaya yang dikandung oleh
objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak
berdasar. Fobia merupakan ketakutan yang diebih-lebihkan dan tidak realistis terhadap
sejumlah situasi, aktivitas atau objek tertentu. Beberapa contoh adalah ketakutan ekstrem
terhadap ketinggian, tempat tertutup, ular, atau laba-laba mengingat tidak ada bahaya
objektif disertai dengan penderitaan cukup besar untuk mengganggu kehidupan
seseorang.
Banyak ketakutan tertentu yang tidak menyebabkan derita yang cukup untuk memaksa
individu mencari bantuan penanganan. Sebagai contoh, jika seseorang yang memiliki
ketakutan yang sangat besar pada ular tinggal di daerah metropolitan, kecil
kemungkinannya ia mengalami kontak langsung dengan objek yang ditakuti sehingga
dapat tidak percaya bahwa ada yang salah dengan dirinya. Istilah fobia biasanya berarti
bahwa seseorang mengalami distress yang parah dan hendaya sosial atau pekerjaan
karena kecemasan tersebut.

Selama bertahun-tahun berbagai istilah kompleks telah diformulasikan untuk menyebut


berbagai pola penghindaran yang sebenarnya tidak perlu ini. Dalam tiap kasus, kata fobia
diawali dengan kata dalam bahasa Yunani yang menyebutkan objek atau situasi yang
ditakuti. Kata Fobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos, yang takut kepada musuhmusuhnya. Beberapa istilah antara lain : Claustrophobia, ketakutan pada ruang tertutup;
Agoraphobia, ketakutan pada tempat umum; Acrophobia, ketakutan pada ketinggian;
Ergasiophobia, ketakutan menulis; Pnigophobia, ketakutan tersedak; Taphephobia,
ketakutan dikubur hidup-hidup; Anglophobia, ketakutan pada ingris; Musophobia,
ketakutan pada tikus; Hellenologophobia, ketakutan pada kondisi ilmiah semu (McNally,
1997). Beberapa istilah otoratif semacam itu teramat sering mengesankan bahwa kita
memahami bagaimana awal mula terjadinya suatu masalah tertentu atau bahkan
bagaimana menanganinya hanya karena kita memberikan nama yang terkesan otoritatif.
Hal itu sangat jauh dari kebenaran. Sebagaimana dengan begitu banyak teori dalam
bidang psikologi abnormal, terdapat lebih banyak teori dan istilah mengenai fobia
dibanding temuan-temuan yang pasti.
Para psikolog cenderung memfokuskan pada berbagai aspek fobia yang berbeda
tergantung pada paradigma yang mereka anut. Para psikoanalisis berfokus pada isi fobia.
Mereka melihat signifikasi yang besar dalam objek yang ditakuti sebagai suatu simbol
ketakutan bawah sadar yang penting. Dalam sebuah kasus terkenal yang dilaporkan oleh
Freud, seseorang anak laki-laki yang disebutnya Little Hans memeiliki ketakutan bertemu
dengan kuda bila ia pergi keluar rumah. Freud memberikan perhatian khusus pada katakata Hans mengenai sesuatu yang berwarna hitam di sekeliling mulut kuda dan sesuatu
di depan matanya. Kuda dianggap mewakili ayahnya, yang berkumis dan berkacamata.
Freud berteori bahwa ketakutan pada ayah telah dialihkan pada ketakutan terhadap kuda
yang kemudian dihindari Hans. Berbagai contoh lain semacam itu yang tak terhitung
jumlahnya mungkin dapat diberikan. Poin utamanya adalah para psikoanalisis percaya
bahwa isi fobia memiliki nilai simbolik penting. Di sisi lain para behavioris cenderung
mengabaikan isi fobia dibanding memfokuskan pada fungsinya. Bagi mereka, ketakutan
pada ular dan ketinggian memiliki kesamaan dalam kaitan bagaimana terjadinya,
bagaimana ketakutan tersebut dapat dikurangi, dan sebagainya.
Kriteria DSM-IV untuk Fobia :
Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi.
Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak beralasan
Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens

Fobia Spesifik
Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh kehadiran atau
antisipasi suatu objek atau situasi spesifik. DSM-IV-TR membagi fobia berdasarkan
sumber kekuatannya. Fobia tersebut biasanya saling menyertai (komorbid) (Kendler dkk.,
2001). Angka prevalensi sepanjang hidup berkisar 7 persen pada laki-laki dan 16 persen
pada perempuan (Kessler dkk., 1994).
1. Tipe fobia terhadap binatang (contoh: Fobia tikus, anjing atau binatang yang berbulu
lebat)
2. Tipe lingkungan alam (contoh : Ketinggian, kilat atau air)
3. Tipe Fobia terhadap darah, suntikan atau luka

4. Tipe situasional (contoh : pesawat terbang, ruang tertutup, lift atau tempat umum)
5. Tipe lainnya (contoh : Ketakutan terhadap kostum karakter tertentu pada anak-anak)
Hal yang ditakuti pada fobia juga dapat bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai
contoh, di China, Pa-Leng adalah ketakutan pada dingin di mana seseorang mengalami
kekhawatiran bahwa hilangnya panas tubuh dapat menyebabkan nyawa terancam.
Ketakutan ini tampaknya berkaitan dengan filosofi China tentang yin dan yang, yin
merujuk pada aspek-aspek kehidupan berupa pencairan energi yang dingin dan berangin.
Contoh lain adalah suatu sindrom yang dialami di Jepang yang disebut taijin-kyofu-sho,
ketakutan pada orang lain. Ini bukanlah fobia sosial; namun merupakan ketakutan
ekstrem untuk mempermalukan orang lain, contoh, dengan mempermalukan kehadiran
mereka, menatap daerah genital, atau menunjukkan wajah aneh. Diyakini bahwa fobia ini
timbul dari berbagai elemen budaya Jepang tradisional, yang mendorong kepedulian yang
ekstrem terhadap perasaan orang lain, namun tidak mendorong komunikasi perasaan
secara langsung (McNally, 1997). Dengan demikian kepercayaan yang terdapat dalam
suatu budaya tampaknya dapat menjadi sumber ketakutan yang dialami oleh banyak
orang.
Fobia Sosial
Fobia sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang umumnya berkaitan
dengan keberadaan orang lain. Fobia ini dapat sangat merusak, sedemikian parah
sehingga angka bunuh diri pada orang-orang yang menderita fobia ini jauh lebih tinggi
dibanding pada mereka yang menderita gangguan anxietas lain (Schneier dkk,19920.
Memang, istilah gangguan axietas sosial baru-baru ini diajukan sebagai istilah yang
lebih tepat karena beratnya masalah dan konsekuensi negatif bagi orang-orang yang
mengalaminya jauh lebih besar dibanding fobia lain (Liebowitz dkk., 2000)
Individu yang menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi di mana ia
mungin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berprilaku secara
memalukan. Ketakutan yang ditunjukkan dengan keringat berlebihan atau memerahnya
wajah merupakan hal jamak. Berbicara atau melakukan sesuati di depan publik, makan di
tempat umum, menggunakan toilet umum, atau hampir semua aktivitas lain yang
dilakukan di tempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrem,
bahkan dengan serangan panik besar besaran. Orang-orang yang menderita fobia sosial
sering kali bekerja dalam pekerjaan atau profesi yang jauh di bawah kemampuan atau
kecemasan mereka karena sensitifitas sosial ekstrem yang mereka alami jauh melebihi
apa yang kita pikirkan tentang rasa malu sangat merugikan secara emosional. Lebih
baik mengerjakan pekerjaan bergaji rendah daripada setiap hari berhadapan dengan orang
lain dalam pekerjaan yang lebih berharga.
Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung tentang situasi yang ditakuti
dan dihindari. Orang-orang dengan tipe umum mengalami fobia ini pada usia yang lebih
awal, lebih banyak komorbiditas dengan berbagai gangguan lain, seperti depresi dan
kecanduan alkohol, dan hendaya yang lebih parah (Mannuza dkk., 1995; wittchen, Stein,
& Kessler, 1999). Gangguan anxietas sosial cenderung menjadi kronis jika
penanganannya tidak berhasil.
Fobia sosial cukup jamak terjadi, dengan angka pravalensisepanjang hidup 11 persen
pada laki-laki dan 15 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994; Magee dkk., 1996).
Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan berbagai gangguan lain dan sering
kali terjadi bersamaan dengan gangguan menghindar gangguan mood, dan
penyalahgunaan alkohol (Crum & Pratt, 2011; Jansen dkk., 1994; Kessler dkk., 1999;
Lecrubier & Weiller, 1997). Seperti diharapkan, awal terjadinya biasanya pada masa

remaja, saat kesadaran sosial dan interaksi dengan orang lain menjadi sangat penting
dalam kehidupan seseorang, namun seperti akan kita bahas nanti (hlm. 199), ketakutan
semacam itu juga ditemukan pada anak-anak. Seperti halnya fobia spesifik, fobia sosial
cukup bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai contoh, seperti telah dicatat
sebelumnya, di Jepang ketakutan menyakiti orang lain merupakan hal yang sangat
penting, sedangkan di Amerika Serikat ketakutan dinilai secara negatif oleh orang lain
lebih jamak.

ETIOLOGI FOBIA
Sebagaimana terjadi pada hampir semua gangguan yang dibahas dalam buku ini, berbagai
kemungkinan penyebab fobia juga dikemukakan oleh para pendukung paradigma
psikoanalisis, behavioral, kognitif, dan biologis. Kita alan membahas berbagai pemikiran
dari masing-masing paradigma tersebut.
Teori Psikoanalisis.
Freud adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan secara sistematis perkembangan
perilaku fobik. Menurut Freud, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang
disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id
yang ditakuti dari dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi
simbolik dengannya. Berbagai objek atau situasi ini sebagai contoh, lift atau tempat
tertutup kemudian menjadi stimuli fobik. Dengan menghindarinya seseorang dapat
menghindar dari konflik-konflik yang ditekan. Sebagaimana dibahas pada Bab 2, fobia
adalah cara ego untuk menghindari konfrontasi dengan masalah sebenarnya, yaitu konflik
masa kecil yang ditekan. Sebagai contoh , Freud menduga bahwa Little Hans, yang
disebutkan sebelumnya, tidak berhasil mengatasi konflik Oedipal sehingga ketakutannya
yang intens pada ayahnya dialihkan ke kuda dan ia menjadi fobik untuk keluar rumah.
Berdasarkan teori fobia lain dari psikoanalisis yang diajukan oleh Arieti (1979), sesuatu
yang ditekan merupakan masalah interpersonal tertentu di masa kecil dan bukan suatu
impuls id. Arieti berteori bahwa pada masa kanak-kanan, orang-orang yang menderita
fobia pada awalnya menjalani periode tanpa dosa di mana mereka mempercayai orang
lain di sekita mereka untuk melindungi mereka dari bahaya. Kemudian mereka menjadi
takut bahwa orang dewasa, terutama orang tua, tidak dapat diandalkan. Mereka tidak
dapat hidup dengan ketiadaan rasa percaya tersebut, atau rasa takut kepada orang lain.
Untuk dapat kembali mempercayai orang lain, secara tidak sadar mereka mengubah rasa
takut pada orang lain tersebut menjadi rasa takut pada objek atau situasi yang tidak
menyenangkan. Fobia muncul ke permukaan ketika, pada masa dewass, seseorang
mengalami beberapa bentuk stres. Sebagaimana sebagian besar teori berdasarkan
psikoanalisis, bukti-bukti yang mendukung pandangan ini sebagian besar terbatas pada
kesimpulan yang ditarik dari laporan-laporan kasus klinis.
Teori Behavioral : Teori behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara
berkembangnya fobia. Beberapa tipe pembelajaran mungkin berperan.
Avoidance Conditioning. Penjelasan utama behavioral tantang fobia adalah reaksi
semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari. Dalam sejarah, demonstrasi
Watson dan Rayner (1920) mengenai pengkondisian terhadap suatu rasa takut atau fobia
yang terlihat jelas pada Little Albert dianggap sebagai model mengenai bagaimana fobia
dapat terjadi. Formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang
diajukan oleh Mowrer (1947) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua
rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan.

1. Melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus
netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara
intrinsik menyakitkan atau menakutkan (UCS)
2. Seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan
melarikan diri dari atau menhindari CS. Jenis pembelajaran yang kedua ini
diasumsikan sebagai operant conditioning; respons dipertahankan oleh
konsekuensi mengurangi ketakutan yang menguatkan.
Sebuah isu penting terdapat dalam penerapam model avoidance conditioning pada fobia.
Fakta bahwa ketakutan Little Albert terjadi melalui pengkondisian tidak dapat digunakan
sebagai bukti bahwa semua ketakutan dan fobia terjadi melalui cara tersebut. Namun,
bukti tersebut hanya menunjukkan kemungkinan bahwa beberapa macam ketakutan
mungkin terjadi melalui cara tersebut. Terlebih lagi, berbagai upaya untuk meniru
eksperimen Watson dan Rayner sebagian besar tidak berhasil (a.l., English, 1929). Sangat
sedikit bukti eksperimental yang mendukung argumen bahwa manusia dapat dikondisikan
secara klasik sehingga mengalami ketakutan yang menetap dalam waktu lama terhadap
stimuli netral bahkan jika stimuli tersebut berulang kali diberikan bersama stimuli yang
menakutkan, seperti sengatan listrik (a.l., Davison, 1968b; Dawson. Schell, & Banis,
1986).
Secara pasti, pertimbangan etis telah mencegah sebagian besar peneliti memberikan
stimuli yang sangat menakutkan pada manusia, namun cukup banyak bukti yang
menunjukkan bahwa ketakutan akan hilang dalam waktu yang cukup singkat bila CS
beberapa kali diberikan tanpa penguatan berupa kejutan dalam tingkat sedang ( Bridger &
Mandel, 1965; Wickens, Allen, & Hill, 1963). Masalahnya kemungkinan adalah respons
ketakutan fisologis yang tidak dikondisikan tidak terjadi di dalam laboraturium, dan
respon semacam itu penting untuk menciptakan rasa takut yang dikondisikan (Forsyth &
Eifert, 1998).
Di luar laboraturium, bukti-bukti bagi teori avoidance conditioning juga beragam.
Beberapa fobia klinis memiliki kecocokan yang cukup baik dengan model avoidance
conditioning. Suatu fobia atau objek atau situasi spesifik kadangkala dilaporkan setelah
terjadi pengalaman yang menyakitkan dengan objek tersebut. Beberapa orang menjadi
sangat takut pada ketinggian setelah jatuh yang berakibat buruk; beberaoa orang lain
menderita fobia mengemudi setelah mengalami serangan panik di dalam mobil (Munjack,
1984); dan orang-orang yang menderita fobia sosial kadangkali mengalami pengalaman
sosial traumatis (Stenberger dkk., 1995). Walaupun demikian, data lain mengindikasikan
bahwa banyak orang yang menderita fobia tidak dapat mengingat kejadian tarumatis apa
pun berkaitan dengan objek atau situasi yang mereka takuti. Hal tersebut merupakan
kebenaran terutama dalam fobia sosial (Kendler, Myers, & Prescott, 2002). Dapatkah
masalah ini diatasi dengan model avoidance conditioning?
Mungkin ketiadaan suatu UCS bukan merupakan hal penting karena kunci atas ketakutan
yang dikondisikan adalah UCR (Forsyth & Eifert, 1998). Yaitu, seseorang yang
mengalami episode ketegangan fisologis yang mendalam (UCR), karena beberapa alasan
yang tidak disadarinya, dapat secara salah menyimpulkan bahwa situasi yang tidak
berbahaya telah menyebabkan ketegangan dan ketakutan tersebut sebingga dapat
menimbulkan fobia. Namun, jika situasi yang dihadapi seseorang tidak bersifat traumatis,
tidak terdapat UCS yang jelas. Sebuah kasus dari catatan kami mengambarkan
kemungkinan ini.
Seorang laki laki berusia 36 tahun menjalani terapi karena mengalami
kecemasan parah akibat sejumlah stresor berat yang belum lama ini dialaminya.
Pada tahap-tahap awal terapi ia harus keluar kota untuk keperluan bisnis.
Dalam perjalanan di dalam pesawat ia mengalami satu episode ketegangan

fisiologis yang mendalam. Saat itu ia tidak sedang memikirkan stresor yang
dialaminya dan tidak dapat menjelaskan mengapa tingkat ketegangannya naik
secara mendadak. Ia menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah perjalanannya
dengan pesawat terbang. Walaupun sebelumnya ia beberapa kali terbang dan
sedikit atau tanpa kecemasan, Ia tidak berani naik pesawat terbang dalam
perjalanan pulang dan memilih menggunakan bis.
Kemungkinan solusi lain untuk memecahkan teka-teki fobia yang terjadi tanpa
keterpaparan denga UCS yang menakutkan adalah melalui modeling.
Modeling. Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalaman yang
tidak menyenangkan dengannya, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang
lain. Dengan demikian, beberapa fobia dapat terjadi melalui modeling bukan melalui
pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap objek atau situasi yang ditakuti. Seperti
disampaikan sebelumnya (halaman 62), berbagai macam perilaku, termasuk responsrespons emosional, dapat dpelajari dengan menyaksikan suatu model. Pembelajaran
terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious
learning.
Dalam suatu penelitian, Bandura dan Rosental (1966) mengarahkan para peserta untuk
mengamati orang lain, yaitu seorang model (rekan eksperimenter), dalam situasi oversive
conditioning. Sang model diikat pada serangkaian peralatan listrik yang tampak
mengesankan. Ketika mendengar suara dengungan, sang model dengan cepat menarik
tangannya dari tangan kursi dan berpura-pura kesakitan. Respons fisiologis para peserta
yang menyaksikan perilaku tersebut direkam. Setelah para peserta menyaksikan sang
model menderita selama beberapa kali, mereka menunjukkan peningkatan frekuensi
respons emosional ketika suara dengung terdengar. Para peserta mulai bereaksi secara
emosional terhadap stimulus yang tidak berbahaya walaupun mereka tidak melakukan
kontak langsung dengan kejadian yang berbahaya.
Vicarious Learning juga dapat terjadi melalui intruksi verbal ; yaitu, reaksi fobik dapat
dipelajari melalui deskripsi yang diberikanorang lain tentang apa yang mungkin terjadi
selain melalui observasi terhadap ketakutan orang lain. Sebagai contoh dalam kehidupan
sehari-hari, orang tua dapat berulang kali memperingatkan anaknya agar tidak melakukan
beberapa aktifitas yang membahayakan.
Pembelajaran yang Dipersiapkan (Prepared Learning). Isu lain yang tidak dibahas
dalam model pembelajaran avoidance adalah bahwa orang-orang cenderung hanya takut
pada objek atau situasi tertentu, seperti laba-laba, ular, dan ketinggian, namun tidak pada
objek lain, seperti domba (Marks, 1969). Fakta bahwa stimulus tertentu yang netral,
disebut stimuli yang dipersiapkan, lebih mungkin dibanding stimuli lain untuk menjadi
stimuli yang dikondisikan secara klasik yang mungkin berperan terhadap kecenderungan
ini. Sebagai contoh, tikus belajar menghubungkan rasa dengan kondisi mual bukan
dengan sengatan bila keduanya diberikan bersamaan (Garela, McGowan, & Green,
1972). Beberapa ketakutan bisa saja sangat mencerminkan classical conditioning, namun
hanya pada stimuli yang secara fisiologis memamng sensitif bagi suatu organisme
(Seligman, 1971). Eksperimen pengkondisian yang menunjukkan extinction rasa takut
secara cepat mungkin menggunakan berbagai CS yang tidak siap dihubungkan dengan
UCS oleh organisme bersangkutan.
Dukungan parsial terhadap penalaran ini diperoleh dari berbagai studi yang menggunakan
berbagai tipe stimuli sebagai CS (Ohman, Erixon, & Loftberg, 1975). Selama
pengkondisian, sengatan listrik diberikan bersamaan dengan gambar rumah, wajah, dan
ula, serta para peserta memberikan CR terhadap gambar-gambar tersebut. Selama
extinction, Cr terhadap gambar rumah atau wajah segera terhapus, sementara terhadap
ular tetap kuat.

Prepared learning juga relevan dengan memplajari melalui modelling, Cook dan Mineka
(1989) meneliti empat kelompok kera resus, yang masing-masing melihat rekaman video
yang menunjukkan ketakutan mendalam tampak seolah merespons stimuli yang berbeda :
seekor ular mainan, bunga, atau kelinci mainan. Hanya kera-kera yang melihat rekaman
ular atau buaya mainan yang menunjukkan ketakutan pada objek tersebut, sekali lagi
menunjukkan bahwa tidak setiap stimulus dapat menjadi sumber ketakutan.
Diperlukan Diathesis. Pertanyaan terakhir untuk dibahas adalah mengapa beberpa orang
yang memiliki pengalaman traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Sebagai
contoh, 50 persen di antara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing
menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan anjing, begitu juga
dengan 50 persen di antara orang-orang yang tidak takut anjing (DiNardo dkk, 1988).
Perbedaan di antara dua kelompok tersebut adalah kelompok fobik berfokus pada dan
menjadi cemas terhadap kemungkinan munculnya kejadian traumatis yang sama pada
masa mendatang. Dengan demikian, suatu diathesis kognitif meyakini bahwa kejadian
traumatis yang sama akan terjadi pada masa mendatang mungkin merupakan hal
penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis psikologis lain adalah adanya
riwayat yang menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan (Mineka &
Zinbarg, 1996).
Secara singkat, data yang telah kita kaji menunjukkan bahwa beberapa fobia mungkin
dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat
dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat diberikan. Sebagai contoh, seperti
disebutkan sebelumnya, banyak orang yang menderita fobia menuturkan bahwa mereka
tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang
menakutkan (Merckelbach dkk., 1989). Terlebih lagi, model avoidance conditioning
memiliki kesulitan menangani komorbiditas di antara berbagai jenis fobia.
Keterampilan Sosial yang Kurang Dalam Fobia Sosial. Kita beralih pada pembahasan
model behavioral mengenai fobia sosial yang menganggap bahwa perilaku yang tidak
tepat atau kurangnya keterampilan sosial sebagai penyebab kecemasan sosial. Menurut
pandangan tersebut, individu tidak pernah belajar bagaimana berperilaku agar ia merasa
nyaman dengan orang lain, atau orang tersebut berulang kali melakukan kecerobohan,
kikuk dan secara sosial tidak kompeten, serta sering dikritik oleh rekan-rekan sosial.
Dukungan terhadap model ini berasal dari berbagai penemuan yang menunjukkan bahwa
orang-orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam
tingkat keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak
mampu memberikan respons pada waktu serta tempat yang tepat dalam interaksi sosial,
misalnya mengatakan terima kasih pada waktu yang tepat.(Fischetti, Curran, &
Wessberg, 1977).
Perhatikan bagaimana perspektif rendahnya keterampilan sosial ini terkait dengan teori
avoidance conditioning yang telah dikaji sebelumnya. Seseorang yang keterampilan
sosialnya rendah memiliki kemungkinan menciptakan situasi yang menakutkan bersama
orang lain. Sebagai contoh, tidak mengetahui bagaimana cara merespons dengan sopan,
namun asertif terhadap permintaan orang lain dapat melukai perasaan orang lain, dan
memicu situasi interpersonal yang tidak menyenangkan, bahkan konflik yang
meneganggkan. Dapat diduga bahwa hukuman yang diterima dari orang lain akan
membuat orang tersebut lebih merasa takut berinteraksi dengan mereka.
Teori Kognitif. Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia
secara khusus berfokus pada bagaimana prose berpikir manusia dapat berperan sebagai
diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan
dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimuli negatif,
menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan

memercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di
masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; Turk dkk., 2001). Isu utama dalam teori
ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan
menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan
bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboraturium
(Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi
penyebab gangguan anxietas.
Berbagai studi terhadap orang-orang yang mengalami kecemasan sosial telah meneliti
faktor-faktor kognitif yang berkaitan dengan fobia sosial. Orang-orang yang mengalami
kecemasan sosial lebih khawatir terhadap penilaian orang lain dibanding orang-orang
yang tidak memiliki kecemasan sosial (Goldfried, Padawer, & Robins, 1984), lebih
memerhatikan citra yang mereka tunjukkan pada orang lain (Bates, 1990), dan cenderung
melihat diri mereka secara negatif walaupun mereka tampil dengan baik dalam suatu
interaksi sosial (Wallace & Alden, 1997). Studi yang dilakukan oleh Davison dan
Zighelboim (1987) yang di bahas pada Bab 4 memberikan bukti-bukti lebih jauh terhadap
berbagai kesimpulan diatas.Metode artikulasi pikiran dalam simulasi situasi digunakan
untuk membandingkan pikiran dua kelompok peserta yang bermain peran dalam situasi
netral dan dalam situasi dimana mereka di kritik secara tajam. Satu kelompok terdiri dari
para sukarelawan peserta kuliah pengenalan psikologi; kelompok lain terdiri dari para
mahasiswa prasarjana yang dirujuk oleh pusat konseling mahasiswa dan diidentifikasi
oleh para terapis mereka sebagai orang-orang yang pemalu, menarik diri, dan memiliki
kecemasan sosial. Pikiran yang diartikulasikan oleh para mahasiswa yang memiliki
kecemasan sosial ketika mereka membayangkan diri mereka dikritik mencakup Saya
ditolak oleh orang-orang ini, Tidak ada tempat untuk bersembunya sekarang ini,
Saya pikir saya orang yang membosankan ketika berbicara dengan orang lain, Saya
sering berpikir bahwa saya seharusnya tidak berbicara sama sekali.
Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan inirasa takut yang menetap dan fakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak
irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut
terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak
disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulus dihindari sehingga tidak diproses cukup
lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut (Amir. Foa, & Coles, 1998)
Dalam satu studi, yang secara parsial menguji teori tersebut, orang-orang yang memiliki
ketakutan besar terhadao ular atau laba-laba dipertontonkan pada gambar-gambar yang
bervarisasi yang beberapa diantaranya diharapkan akan memunculkan rasa takut (ular dan
laba-laba), sedangkan yang lain tidak (bunga dan jamur). Setiap gambar diikuti 30 mili
detik setelahnya dengan pola stimulus lain sehingga isi gambar tersebut tidak dapat
dikenali secara sadar. Namun demikian, orang-orang yang sangat takut pada ular
menunjukkan peningkatan konduktans ketika melihat gambar ular, dan yang sangat takut
pada laba-laba yang menunjukkan peningkatan konduktans kulit ketika melihat gambar
laba-laba, mengindikasikan bahwa ketakutan fobik dapat ditimbulkan oleh stimuli yang
tidak disadari sehingga jelas irasional (Ohman dan Soares, 1994)
Faktor-Faktor Biologis yang Memengaruhi. Berbagai teori yang telah kita bahas
terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia
menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistic,
sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang
sama? Mungkin mereka yang secara negative sangat terpengaruh oleh stress memiliki
mal fungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu
terjadinya fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut
tampaknya menjanjikan: system saraf otonom dan factor genetic.

System Saraf Otonom. Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami


fobia sosial seringkali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat
secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah
dikendalikan oleh system saraf otonom, aktivitas system saraf otonom yang berlebihan
kemungkinan merupakan suatu diathesis. Namun demikian, ebagian besar bukti tidak
menunjukkan bahwa orang-orang yang menderita fobia sangat berbeda dalam
pengendalian berbagai bentuk aktivitas otonomik, walaupu saat berada dalam situasi
seperti berbicara di depan umum yang diharapkan akan terjadi perbedaan. Mungkin
ketakutan terhasdap memerahnya wajah atau berkeringat sama pentingnya dengan wajah
yang benar-benar memerah atau berkeringat. Sebagai contoh, suatu studi baru-baru ini
mengukur memerahnya wajah dalam tiga tugas berbeda yang menyebabkan stress dalam
tiga kelompok: mereka yang menderita fobia sosial menuturkan bahwa wajah mereka
sering memerah; mereka yang menderita fobia sosial yang tidak menuturkan bahwa
wajah mereka sering memerah; dan kelompok kontrol. Para peserta yang menderita fobia
sosial menuturkan bahwa wajah mereka lebih sering memerah dalam tiga tugas tersebut,
namun secara actual mereka lebih memerah disbanding kelompok kontrol hanya dalam
satu dari ketiga tugas tersebut (melihat rekaman video tentang diri mereka sedang
menyanyikan sebuah lagu anak-anak). Orang-orang yang menderita fobia sosial yang
sebelumnya menuturkan memerahnya wajah secara actual tidak lebih memerah
disbanding orang-orang yang menderita fobia sosial yang tidak menuturkan merahnya
wajah (Gerlach dkk, 2001). Dengan demikian, bila aktivitas otonom yang berlebihan
(tercermin dalam memerahnya wajah) memiliki relevansi dengan fobia sosial, rasa takut
terhadap konsekuensi aktivitas otonom mungkin merupakan hal yang lebih penting.
Faktor Genetik. Beberapa studi telah menguji apakah factor genetic berperan dalam
fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familiar; 64 persen pasien fobia darah dan
penyuntikan memilik sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita
ganggua yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam populasi umum hanya 3
sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun fobia
spesifik, prevalensinya lebih tinggi disbanding rata-rata pada keluarga tingkat pertama
pasien, dan studi terhadap orang kembar menunjukkan kesesuaian yang lebih tinggi pada
kembar MZ dibanding kembar DZ (Hettema, M. Neale dan Kendler, 2001).
Terkait dengan penemuan ini adalah penelitian Jerome Kagan mengenai karakter
terhambat atau pemalu (Kagan & Snidman,1997). Beberapa bayi berusia empat bulan
menjadi terganggu dan menangis ketika ditunjuki mainan atau stimuli lain. Pola perilaku
ini, yang mungkin diturunkan, dapat menjadi tahap awal bagi perkembangan fobia kelak.
Dalam satu studi, sebagai contoh, anak-anak yang mengalami hambatan memiliki
kemungkinan lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak terhambat untuk
mengalami fobia kelak (Biederman dkk, 1990).
Data yang kami sajikan tidak secara gamblang mengaitkan faktor genetik. Walaupun
keluarga dekat memiliki gen yang sama mereka juga memiliki kesempatan besar untuk
saling mengamati dan mempengaruhi. Fakta bahwa ayah dan anak laki-lakinya memiliki
ketakutan pada ketinggian dapat mengindikasikan komponen genetic, peniruan langsung
si anak terhadap perilaku ayahnya, atau keduanya.Walaupun terdapat beberapa alas an
untuk mempercayai bahwa faktor-faktor genetic mungkin berperan dalam etiologi fobia,
namun hingga saat ini tidak ada bukti tegas yang menunjukkan sampai sejauh mana peran
faktor genetik.

Terapi Fobia
Setelah mengkaji teori penyebab fobia, kami akan membahas berbagai terapi utama untuk
menanganinya. Bagian terapi dalam bab 2 dimaksudkan sebagai pelengkap suatu konteks

untuk memahami pembahasan mengenai terapi pada bab ini dan bab-bab selanjutnya.
Evalusai mendalam terhadap terapi disajikan pada bab 17.
Sebagian besar orang mengalami penderitaan, terkadang tanpa diketahui orang lain,
karena fobia yang mereka alami dantidak mencari pertolongan (Magee dkk, 1996).Pada
kenyataannya, banyak orang yang didiagnosis mengidap fobia oleh seorang ahli klinis
tidak merasa dirinya mempunyai masalah yang memerlukan perhatian khusus.Keputusan
untuk menjalani terapi seringkali muncul ketika terjadi perubahan dalam kehidupan
seseorang yang membuatnya terpapar dengan sesuatu yang telah dihindari atau
diminimalkan selam bertahun-tahun.
Seorang insinyur teknik industry yang berusia 30 tahun berkonsultasi dengan kami untuk
mengatasi ketakutannya naik pesawat terbang ketika ia mendapat promosi jabatan yang
membuatnya sering melakukan perjalanan. Promosi jabatan tersebut merupakan hasil
prestasi kerjanya selama beberapa tahun dalam pekerjaan di belakang meja di perusahaan
terkait. Perjalanan dengan keluarga selalu dilakukan dengan mengendarai mobil atau naik
kereta api, dan orang-orang dekatnya berkompromi dengan ketakutannya yang merusak
untuk naik pesawat terbang. Bayangkan perasaannya yang bercampur baur ketika
diberitahu bahwa ia mendapat promosi tersebut! Ambisi dan harga dirinya-dan doronga n
dari keluarga dan teman-teman-mendorongnya untuk mencari bantuan.
Pendekatan Psikoanalisis. Seperti halnya teori psikoanalisis yang memiliki banyak
variasi, demikian juga terapi psikoanalisis.Walaupun demikian, secara umum, semua
penanganan psikoanalisis terhadap fobia berupaya mengungkap konflik-konflik yang
ditekan yang diasumsikan mendasari ketakutan ekstrem dan karakteristik penghindaran
dalam gangguan ini.Karena fobia dianggap sebagai simtom dari konflik-konflik yang ada
dibaliknya, fobia biasanya tidak secara langsung ditangani.Memang, upaya langsung
untuk mengurangi penghindaran fobik dikontraindikasikan karena fobia diasumsikan
melindungi orang yang bersangkutan dari berbagai konflik yang ditekan yang terlalu
menyakitkan untuk dihadapi.
Dalam berbagai kombinasi analisis menggunakan berbagai teknik yang dikembangkan
dalam tradisi psikoanalisis untuk membantu mengangkat represi. Dalam asosiasi bebas
analisis mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disebutkan pasien terkait
dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya menemukan berbagai
petunjuk terhadap penyebab fobia yang ditekan dalam isi mimpi yang tampak jelas.Apa
yang diyakini analis mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori
psikoanalisis tertentu yang dianutnya. Seorang analis ortodoks akan mencari konflikkonflik yang berkaitan dengan seks atau agresi, sedangkan analis yang menganut teori
interpersonal dari Arieti akan mendorong pasien untuk mempelajari generalisasi
ketakutannnya terhadap orang lain.
Analis ego kontemporer kurang memfokuskan pada riwayat insight dan lebih fokus untuk
mendorong pasien menghadapi fobia.Walaupun demikian, mereka juga menganggap
fobia sebagai akibat dari masalah yang terjadi pada masa lalu.Alexander dan French,
dalam buku klasiknya psychoanalytic therapy (1946), menulis tentang pengalamn
emosional korektif dalam terapi, yang mereka maksudkan sebagai situasi di mana pasien
menghadapi sesuatu yang amat sangat ditakutinya.Mereka mengamati bahwa Freud
sendiri menyimpulkan bahwa dalam penanganan beberapa kasus, contohnya fobia, akan
tiba waktunya analis harus mendorong pasien untuk melakukan berbagai aktivitas yang
dihindarinya pada masa lalu.Wachtel (1977) bahwa lebih tegas merekomendasikan para
analis untuk menggunakan teknik-teknik reduksi rasa takut yang digunakan para terapis
perilaku, seperti desensitisasi sistematik.(Pembahasan lebih rinci mengenai usulan
Wachtel untuk menggabungkan psikoanalisis dan terapi perilaku terdapat pada Bab 17).

Para ahli klinis yang berorientasi analitis mengakui pentingnya pemaparan dengan
sesuatu yang ditakuti, walaupun biasanya mereka cenderung menganggap perbaikan
kondisi yang mengikutinya hanya bersifat simtomatik dan bukan sebagai penyelesaian
atas konflik mendasar yang diasumsikan sebagai penyebab fobia (Wolitzky & Eagle,
1990).
Pendekatan Behavioral. Desensitisasi sistematik merupakan terapi behavioral utama
yang pertama kali digunakan secara luas untuk menangani fobia (Wolpe, 1958).Individu
yang menderita fobia membayangkan serangkaian situasi yang semakin menakutkan
sementara berada dalam kondisi relaksasi mendalam.Bukti-bukti klinis dan eksperimental
mengindikasikan bahwa teknik ini efektif untuk menghapuskan, atau minimal
mengurangi fobia (Barlow, Raffa, & Cohen, 2002).
Selain itu, banyak terapis perilaku yang telah menyadari pentingnya pemaparan dengan
situasi fobik dalam kehidupan nyata, kadangkala selama periode dimana pasien
didesensitisasi dalam imajinasi dan kadangkala sebagai pengganti prosedur berbasis
pencitraan (Craske, Rapee, & Barlow, 1992).Sebagian besar peneliti klinis kontemporer
menganggap bahwa pemaparan secara nyata lebih bernilai dibanding teknik yang
menggunakan imajinasi, tidak mengherankan karena stimuli imajiner secara harfiah
bukanlah hal yang sesungguhnya.
Pada saat yang sama penting untuk dicatat bahwa desensitisasi dalam imajinasi secara
khusus sesuai bila tidak dimungkinkan atau tidak praktis untuk memaparkan orang yang
sangat ketakutan secara langsung pada sesuatu yang mereka takuti. Sebagai contoh, jika
seorang terapis ingin memberikan pemaparan secara bertingkat dengan figur otoritas
dalam hidup pasien, misalnya dengan ayah pasien yang sudah meninggal, maka akan
bermanfaat untuk dapat menggunakan pemaparan dengan pencitraan sebagai pengganti
hal nyata dan untuk mengetahui bahwa, berdasarkan penelitian terkendali dalam prosedur
original dari Wolpe, pemaparan terhadap situasi imajiner menghasilkan reduksi
kecemasan yang signifikan.
Flooding adalah teknik terapeutik dimana klien dipaparkan dengan sumber fobia dalam
intesitas penuh.Rasa tidak nyaman ekstrem menjadi bagian tak terhindarkan dalam
prosedur ini sehingga belum lama ini cenderung menahan terapis untuk menggunakan
teknik ini, kecuali mungkin sebagai jalan terakhir bila pemaparan secara bertingkat tidak
membuahkan hasil. Dalam pembahasan mengenai terapi untuk gangguan obsesif
kompulsif dan gangguan stres pasca trauma, kita akan melihat penggunaan teknik
flooding yang lebih luas.
Fobia darah dan penyuntikan hanya baru-baru ini saja, dalam DSM-IV-TR, dibedakan
dari jenis ketakutan dan penghindaran berat lain karena reaksi yang berbeda dari para
penderita fobia tersebut terhadap pendekatan behavioral yang biasa digunakan yaitu
relaksasi bersamaan dengan pemaparan (Page, 1994). Relaksasi cenderung memperburuk
situasi bagi penderita fobia darah dan penyuntikan.Mengapa?Pertimbangkan bahwa
setelah ketakutan awal, yang disertai dengan naiknya denyut jantung dan tekanan darah
secara dramatis, pasien yang menderita fobia darah dan penyuntikan sering kali
mengalami penurunan tekanan darah dan denyut jantung secara mendadak dan biasanya
menjadi lemas (McGrady & Bernal, 1986).Dengan mencoba untuk rileks, pasien
cenderung menjadi lemas, rasa takut dan penghindaran mereka yang sudah sangat besar
terhadap situasi tersebut secara keseluruhan meningkat, juga rasa malu mereka (Ost,
1992).Hasil penelitian dan observasi klinis adalah bahwa pasien yang menderita fobia
darah dan penyuntikan sekarang ini didorong untuk mengencangkan otot mereka,
bukannya mengendurkan ketika menghadapi situasi yang mereka takuti (Hellstrom,
Fellenius, & Ost, 1996; Ost, Fellenius, & Sterner, 1991).

Mempelajari keterampilan sosial dapat membantu penderita fobia sosial yang tidak
mengetahui apa yang harus diucapkan atau dilakukan dalam berbagai situasi sosial.
Beberapa terapis behavioral mendorong pasien untuk berlatih peran atau melatih
pertemuan interpersonal di dalam ruang konsultasi atau kelompok terapi kecil (Heimberg
& Juster, 1994; Heimberg dkk., 1993; Marks, 995;Mattick& Andrews, 1994). Beberapa
studi membuktikan efektivitas pendekatan semacam itu (a.l., Heimberg dkk, 1989; Turk,
Hope, & Heimberg, 2001; Turner, Beidel, & Cooley-Quille, 1995).Seperti diungkapkan
Herbert (1985), praktik-praktik demikian juga dapat memaparkan orang yang ketakutan,
bahkan jika keterampilan sosialnya tidak rendah, pada berbagai kondisi yang memicu
kecemasan, seperti yang diamati oleh orang lain, sehingga ketakutan dapat dihilangkan
melalui pemaparan dalam kehidupan nyata (Hope, Heimberg, & Bruch, 1995).Ini
merupakan salah satu contoh tentang bagaimana suatu teknik terapeutik tertentu dapat
berhasil karena lebih dari satu hal.
Modeling merupakan teknik lain yang menggunakan pemaparan terhadap berbagai situasi
yang ditakuti. Dalam terapi modeling, klien yang ketakutan melihat orang lain yang
berinteraksi dengan objek melalui film atau secara langsung fobik tanpa rasa takut,
contohnya, memegang ular yang tidak berbisa atau mengusap-usap anjing yang jinak.
Menunjukkan pada orang-orang yang mengalami kecemasan sosial bagaimana mereka
dapat berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik merupakan bagian tak terpisahkan
dalam pelatihan keterampilan sosial yang disebutkan sebelumnya bagi pasien yang
kecemasan sosialnya, sekurang-kurangnya sebagian, terjadi karena mereka tidak tahu
bagaimana harus berperilaku dalam berbagai situasi sosial.
Para terapis perilaku yang lebih menyukai teknik-teknik operant mengabaikan rasa takut
yang diasumsikan mendasari fobia, bukan memerhatikan penghindaran yang ditunjukkan
terhadap berbagai objek fobik dan pada perilaku mendekat yang harus menggantikan
perilaku tersebut. Mereka memperlakukan pendekatan terhadap situasi yang ditakuti
seperti halnya operant lain dan membentuknya sesuai dengan prinsip successive
approximations.Pemaparan secara nyata terhadap objek fobik dicapai secara bertingkat,
dan klien diberi hadiah walaupun hanya mengalami keberhasilan minimal dalam bergerak
lebih mendekati objek terkait.Perlu dicatat bahwa pemaparan merupakan aspek yang tak
terhindarkan dalam setiap pembentukan operant dalam perilaku mendekat.
Banyak terapis perilaku memberikan perhatian pada rasa takut dan penghindaran dengan
menggunakan teknik seperti desensitisasi untuk mengurangi rasa takut dan pembentukan
operant untuk mendorong pendekatan (Lazarus, Davison, dan Polefka, 1965).Dalam
tahap awal penanganan, ketika rasa takut dan penghindaran sangat besar, terapis
berkonsentrasi mengurangi rasa takut melalui pelatihan relaksasi dan pemaparan
bertingkat terhadap situasi fobik.Seiring dengan berjalannya terapi, penghindaran lebih
menjadi isu dibanding rasa takut. Seseorang yang menderita fobia sering kali
menempatkan dirinya pada posisi dimana orang lain mengakomodasi
ketidakmampuannya sehingga malah memperkuat fobia yang diderita orang tersebut
(para psikoanalis menyebut fenomena ini sebagai secondary gain). Sejalan dengan
berkurangnya kecemasan si penderita, ia akan mampu mendekati sesuatu yang
sebelumnya sangat menakutkan baginya. Perilaku terbuka ini dapat dikuatkan secara
positif-dan penghindaran tidak didorongoleh keluarga dan teman-teman serta oleh
terapis.
Pendekatan Kognitif. Terapi kognitif bagi fobia spesifik dipandang dengan skeptis
karena karakteristik utama penentu fobia: rasa takut fobik diakui oleh penderitanya
sebagai rasa takut yang berlebihan atau tidak beralasan. Jika penderita mengakui bahwa
ia mengalami ketakutan pada sesuatu yang tidak berbahaya, apa yang dapat dilakukan
terapi tersebut untuk mengubah pikiran si penderita? Memang, tidak ada bukti yang
menunjukkan bahwa hanya dengan menghapuskan keyakinan irasional tanpa pemaparan

dengan situasi yang ditakuti akan mengurangi penghindaran fobik (Turner dkk., 1992;
Williams dan Rappoport, 1983).
Secara kontras, berkaitan dengan fobia sosial metode kognitif semacam itu-kadangkala
dikombinasikan dengan pelatihan keterampilan sosial-lebih menjanjikan.Orang-orang
yang menderita fobia sosial dapat memperoleh manfaat dari strategi penanganan yang
mengacu pada Beck dan Ellis. Yaitu, mereka mungkin dipersuasi oleh terapis untuk
menilai reaksi orang lain terhadap mereka secara lebih akurat (kernyitan wajah guru saya
mungkin tidak berarti bahwa dia tidak setuju dengan saya, namun lebih menunjukkan
sesuatu yang sedang dipikirkannya yang tidak berkaitan sama sekali dengan saya) dan
untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan orang lain untuk mempertahankan
perasaan bahwa diri kita bermakna (hanya karena saya dikritik bukan berarti saya adalah
seorang tanpa entitas yang bermakna). Dengan pengakuan dalam tahun-tahun terakhir
bahwa banyak orang yang menderita fobia sosial, pada dasarnya memiliki cukup
keteramopilan sosial namun terhambat oleh pikiran-pikiran yang menghancurkan diri
sendiri, pendekatan kognitif semakin dititikberatkan. Bila dikombinasikan dengan
pemaparan dengan situasi yang ditakuti, terutama dalam konteks terapi kelompok,
pendekatan kognitif terbukti lebih efektif dibanding berbagai terapi lain (Turk dkk.,
2001).
Walaupun demikian, perbedaan yang secara statistik signifikan antara kelompok terapi
yang menjalani, contohnya, terapi perilaku kognitif dan kelompok kontrol tidak berarti
bahwa semua atau bahkan sebagian besar pasien yang diterapi akhirnya tidak mengalami
kecemasan sosial sama sekali. Bertentangan dengan itu-dan generalisasi ini berlaku bagi
semua terapi yang dinilai efektif-banyak pasien yang sama sekali tidak merespons atau
hanya mengalami reduksi kecemasan secara parsial sebagai hasil dari terapi tersebut
(DeRubeis dan Crits-Cristoph, 1998). Menilik hal itu, keuntungan terapi bersifat
signifikan dan bermakna klinis bagi sebagian besar pasien yang menjalani terapi yang
memaparkan mereka, dalam kondisi yang nyaman dan terkendali, dengan situasi
interpersonal seraya mendorong mereka untuk mengubah cara berpikir negatif tentang
penampilan mereka.
Semua terapi behavioral dan kognitif bagi fobia memiliki tema yang berulang, sebutlah,
pasien perlu mulai menghadapi sesuatu yang diyakini terlalu menakutkan, terlalu
mengerikan untuk dihadapi.Walaupun para psikoanalis percaya bahwa rasa takut berasal
dari masa lalu yang terpendam sehingga menunda konfrontasi langsung, pada akhirnya
mereka juga mendorong pasien untuk menghadapinya (a.l., Zane, 1984).Freud
menyatakan, Seseorang hampir tidak dapat mengatasi fobia jika ia menunggu sampai
pasien membiarkan analisis memengaruhinya untuk menghadapinya.Seseorang berhasil
hanya jika dapat membuat mereka mengatasinya sendiri dan berupaya berjuang untuk
menghadapi kecemasan mereka (Freud, 1919, hlm. 400).Dengan demikian, semua terapi
tersebut mencerminkan sebentuk kebijaksanaan yang tidak lekang oleh waktu, yaitu yang
menyatakan bahwa kita harus menghadapi ketakutan kita.Sebagaimana diungkapkan
dalam peribahasa Cina kuno, Pergilah langsung ke jantung bahaya, karena disana anda
akan menemukan rasa aman.
Pendekatan Biologis. Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif,
tranquilizer, atau anxiolytic (akhiran lytic berasal dari bahasa Yunani yang berarti
melonggarkan atau melelehkan).Barbiturate adalah kategori obat-obatan utama yang
pertama kali digunakan untuk menangani gangguan anxietas, namun karena kategori
obat-obatan tersebut menyebabkan ketergantungan yang tinggi dan beresiko mematikan
bila overdosis (ef. Hlm. 374), pada tahun 1950 obat-obatan tersebut diganti dengan dua
kelompok obat-obatan lain, propanediol (a.l., Miltown) dan benzodiazepine (a.l., Valium
dan Xanax).Jenis yang kedua dewasa ini digunakan secara luas dan, sebagaimana akan
kita lihat nanti, memberikan manfaat bagi beberapa gangguan anxietas. Namun demikian,

jenis tersebut tidak banyak digunakan bagi fobia spesifik.Terlebih lagi, walaupun resiko
mematikan dalam kondisi overdosis tidak sebesar barbiturate, benzodiazepine
menyebabkan ketergantungan fisik dan sindrom putus zat diri yang parah (Schweizer
dkk, 1990).
Dalam tahun-tahun terakhir, obat-obatan yang pada awalnya dikembangkan untuk
menangani depresi (antidepresan) menjadi populer untuk menangani banyak gangguan
anxietas, termasuk fobia.Salah satu kelompok obat-obatan tersebut, penghambat
monoamine oxidase (MAO), menunjukkan hasil yang lebih baik dalam satu studi untuk
menangani fobia sosialdisbanding benzodiazepine (Gelernter dkk, 1991), dan dalam studi
lain sama efektifnya dengan terapi perilaku kognitif dalam pengamatan setelah terapi
selama 12 minggu (Heimberg dkk, 1998). Namun, penghambat MAO, seperti phenelzein
(Nardil), dapat menyebabkan peningkatan berat badan, insomnia, disfungsi seksual, dan
hipertensi.Penghambat pengembalian serotonin selektif yang baru-baru ini tersedia
(SSRI), seperti fluoxetine (Prozac), pada awalnya juga dikembangkan untuk menangani
depresi.Obat-obatan jenis ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk
mengurangi fobia spesifik dan sosial dalam berbagai studi double blind (Benjamin dkk,
2000; Van Ameringen dkk, 2001).Walaupun demikian, masalah kunci dalam menangani
fobia dan gangguan anxietas lain dengan menggunakan obat-obatan adalah pemberian
obat-obatan mungkin sulit dihentikan, dan kekambuhan umum terjadi jika pasien berhenti
menggunakannya (Herbert, 1995).

2. Gangguan Panik
Ganggaun panik adalah gangguan kecemasan dimana seseorang mengalami serangan
panik yang berulang, periode rasa tajut yang hebat, dan perasaan akan mengalami
musibah atau kematian, diikuti oleh gejala-gejala fisiologis seperti peningkatan detak
jantung dan rasa pusing. Dalam gangguan panik seseorang mengalami serangan
mendadak dan seringkali tidak dapat dijelaskan dalam bentuk serangkaian simtom yang
tidak mengenakkan seperti kesulitan berbapas, jantung berdebar, mual, nyeri dada,
merasa seperti tersedak, dan tercekik; pusing, berkeringat, dan gemetar, serta kecemasan
yang sangat dalam, teror, dan merasa seolah akan mati. Depersonilisasi, perasaan seolah
berada di luar tubuh, dan derelisasi, suatu perasaan bahwa duunia tidak nyata, juga
ketakutan kehilangan kendali, menjadi gila atau bahkan ati dapat memenuhi dan
menguasai pasien.
Kriteria DSM_IV-TR untuk Ganggaun Panik
Serangan panik berulang tanpa terduga.
Sekurang-kurangnya selama satu bulan terdapat kekhawatiran akan terjadinya
serangan berikutnya atau kekhawatiran atas konsekuensi yang diterima ketika
seranagn terjadi, atau perubahan perilaku karena serangan yang dialami.
Meskipun serangan panik sepertinya muncul begitu saja, namun sebenarnya serangan
panik akan muncul sebagai akibat dari stres, emosi, yag berlangsung untuk waktu yang
lama, kekhawatiran mengenai sesuatu secara spesifik, atau pengalaman yang menimblkan
rasa takut (MC Nally, 1998). Sebagai contoh, salah seorang teman kami menjadi
penumpang pesawat yang mendapatkan ancaman bom pada saat pesawat tersbut berada
pada ketinggian 33.000 kaki, pada saat itu teman kami mampu menghadapai situasi
tersebut dengan sangat baik, namun 2 minggu kemudia, secara tiba-tiba ia mengalami
serangan panik.

Serangan panik dapat sering terjadi, mungkin sekali dalam seminggu atau lebih sering
lagi; biasanya berlangsung selama beberapa menit, jarang dalam hitungan jam; dan
kadangkala berkaitan dengan situasi spesifik, seperti mengendarai mobil. Jika sangat
terkait dengan pemicu situasional, disebut serangan panik berisyarat (cued panik attacks).
Jika terdapat hubungan antara stimulus dengan serangan namun tidak sangat kuat,
serangan ini disebut sebagai serangan yang dipicu secara situasional. Serangan panik juga
dapat terjadi dalam kondisi yang tampaknya tenang, seperti relaksasi, dalam tidur, dan
dalam situasi yang tidak terduga; dalam kasus-kasus ini disebut sebagai serangan tanpa
isyarat (uncued attacks). Serangan tanpa isyarat yang berulang dan khawatir mengalami
serangan pada masa mendatang merupakan prasyarat diagnosis gangguan panik, namun
serangan panik sendiri cukup banyak terjadi (antara 3-5 % dalam populasi umum setiap
tahunnya) pada orang-orang yang tidak memenuhi kriteria gangguan panik (Norton, Cox,
& Malan, 1992). Terjadinya serangan berisyarat saja kemungkinan besar menandakan
adanya fobis.
Prevalensi sepanjang hidup ganguan panik sekitar 2% pada laki-laki dan lebih dari 5%
pada perempuan (Kessler, dkk., 1994). Umumnya berawal pada masa remaja, dan
kemunculannya terkait dengan pengalaman hidup yang penuh stress (Pollard, Pollard,
dan Cori, 1989). Prevalensi gangguan panik bervariasi dalam berbagai budaya. Sebagai
contoh, di Afrika didiagnosis pada sekitar 1% laki-laki dan 6% perempuan (hollifield,
dkk., 1990), namun demikian di Taiwan prevalensi gangguan panik cukup rendah,
mungkin disebabkan stigma bila menuturkan masalah mental (Weissman, dkk., 1997).
Gangguan yang memiliki keterkaitan dengan gangguan panik juga terjadi dalam berbagai
budaya lain. Di kalangan Eskimo di Greenland barat contohnya, kayak-angst terjadi pada
para pemburu anjing laut yang berada sendirian di tengah lautan. Serangan mencakup
rasa takut yang sangan besar, disorietasi, dan kekhawatiran akan tenggelam. Attaque de
nervios pada awalanya diidentifikasi di Puerto Rico dan mencakup simtom-simtom fisik
serta ketakutan menjadi gila setelah mengalami stress berat.
Dalam DSM-IV-TR gangguan panik didiagnosis dengan atau tanpa agoraphobia.
Agorafobia (dalam bahasa Yunani agora yang berarti daerah pasar) adalah sekumpulan
rasa takut pada tempat-tempat umum dan ketidakmampuan melarikan diri atau
mendapatkan pertolongan karena kecemasan. Takut untuk berbelanja pada keramaian,
dan melakukan perjalanan sering kali juga dialami. Banyak pasien yang menderita
agoraphobia tidak mampu keluar rumah atau melakukannya dengan penderitaan yang
sangat. Para pasien yang menderita gangguan panik umumnya menghindari situasi
dimana serangan panik dapat berbahaya atau memalukan. Jika penghindaran tersebut
meluas, hasilnya adalah panik dengan agoraphobia. (Jika agoraphobia muncul tanpa
gangguan panik yang dapat didiagnosis umumnya orang tersebut mengalami simtomsimom panik, namun bukan serangan penuh. Dengan demikian, dalam kedua kasus
agoraphobia berkaitan dengan ketakutan mengalami serangan). Gangguan panik dengan
agoraphobia atau agoraphobia tanpa riwayat gangguan panik lebih banyak terjadi pada
perempuan dibanding laki-laki.
Lebih dari 80% pasien yang didiagnosis menderita salah satu gangguan anxietas juga
mengalami serangan panik (Barlow, dkk., 1985). Koeksistensi gangguan panik dan
depresi mayor juga umum terjadi (Johnson & Lydiard, 1988), sebagaimana komorbiditas
antara ganggaun panik dan ganggaun anxietas menyeluruh, fobia, (Browndkk., 2001),
alkoholisme, dan gangguan kepribadian (Johnson, Weissman, & Klerman, 1990),
terutama gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan histrionic. Sebagaimana
dengan banyak gangguan yang dibahas dalam buku ini, komorbiditas diasosiasikan
dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi dan hasil yang rendah, kemungkinan
disebabkan lebih banyak masalah yang harus ditanagni (Newman, dkk., 1998).

Etoilogi Gangguan Panik

Dua teori yaitu biologis dan psikologis telah digunakan untuk menjelaskan gangguan
panik:
Teori Biologis
Dalam bebrapa kasus, sensasi fisik yang disebabkan oleh suatu penyakit memicu
beberapa orang mengalami ganggaun panik. Sebagai contoh, sindrom penurunan katup
kiri jantung menyebabkan jantung berdebar, penyakit telinga bagian dalam meyebabkan
kepusingan yang dirasakan menakutkan bagi beberapa orang dan memicu terjadinya
ganggaun panik (Asmundson, Larsen, & Stein, 1998; Hamada dkk., 1998).
Ganggaun panik diturunkan dalam keluarga dan memiliki kesesuaian yang lebih besar
pada kembar MZ (kembar identk) disbanding kembar DZ (kembar dua telur). Dengan
demikian suatu diathesis genetic mungkin berpengaruh (Hettema, Neale, & Kendler,
2001).
Aktivitas Noradregenik. Teori biologi lain menyatakan bahwa panik disebabkan oleh
aktivitas yang berlebihan dalam system noradregenik (neuron yang menggunakan
norepinefrin sebagai neurotransmitter). Salah satu versi teori ini memfokuskan pada
nucleus dalam ponds yang disebut locus ceruleus. Perangsangan terhadap locus curuleus
mnyebabkan kera mengalami apa yang terlihat seperti seranagn panik, menunjukkan
kemungkinan bahwa serangan yang terjadi secara alami disebabkan oleh aktivitas
noradregenik yang berlebihan (Redmond, 1977). Penelitian selanjutnya dengan
menggunakan manusia menemukan bahwa yohimbine, obat yang merangsang aktivitas
dalam locus ceruleus, dapat menghentikan serangan panik pada pasien ganggaun panik
(Charney dkk., 1987). Namun demikian, penelitian yang lebih mutakhir tidak konsisten
dengan penemuan tersebut. Penting untuk diketahui, obat-obatan yang menghambat
pembakaran dalam locus ceruleus ternyata tidak sangat efektif untuk menangani serangan
panik (Mc Nally, 1994).
Pemikiran lain tentang aktivitas noradregenik yang berlebihan adalah bahwa hal itu
disebabkan oleh sutu masalah dalam neuron gamma-aminobutyric (GABA) yang secara
umum menghambat aktivitas noradregenik. Sejalan dengan pemikiran ini, sebuah studi
PET menemukan situs penyatuan reseptor GABA yang lebih sedikit jumlahnya pada
pasen ganggaun panik disbanding pada kelompok control (Malizia dkk., 1998), dan level
GABA yang rendah dalam korteks oksipital pada pasien gangguan panik (Goddard akk.,
2001). Dengan demikian, walaupun tidak ada kesimpulan definitive yang dapat diambil,
aktivitas noradregenik yang berlebihan tetap menjadi sasaran penelitian aktif.
Menciptakan Serangan Panik Secara Eksperimen. Penelitian biologi lain memfokuskan
pada manipulasi eksperimental yang dapat menimbulkan serangan panik berhubungan
dengan hipervntilasi atau pernapasan yang berlebihan (Ley, 1987). Hiperventilasi dapat
mengaktifkan sistem saraf otonom, sekaligus memicu aspek-aspek somatik yang tidak
asing dalam suatu episode panik. Berdasarkan penemuan bahwa menghirup udara yang
mengandung jmlah karbondioksida (CO2) lebih banyak dari jumlah normal dapt
menimbulkan srangan panik didalam situasi laboratorium, reseptor CO2 yang terlalu
sensitive dianggap sebagai suatu mekanisme yang dapat merangsang hhiperventilasi dan
kemudia serangan panik (Gorman dkk., 1988; Klein. 1993). Namun panik dalam
lingkungan alaminya, menemukan bahwa hiperventilasi terjadi hanya dalam datu dari 24
serangan (Garssen. Buikhusein, & Van Dyck, 1996). Dengan demikian, penlitian biologi
ini tidak berhasil.
Data yang mengindikasikan bahwa beragam factor biologis (a.l., karbondioksida,
hiperventilasi) dapat menyebabkan serangan panik juga menunjukkan bahwa hal ini dapat
terjadi hanya pada orang-orang yang telah didiagnosis menderita ganggaun tersebut atau
pada mereka yang memiliki ketakutan terbesar terhadap sensasi tubuh mereka sendiri

(Zinbarg dkk, 2001). Hal ini dapat diartikan bahwa stimuli ini mengaktifkan beberapa
macam abnormalitas biologis atau diathesis pada pasien gangguan tersebut (Gorman
dkk., 2000). Hanya saja self-report atas tingkat ketakutan yang ditimbulkan oleh factor
tersebut berbeda pada kedua kelompok tersebut (Margraf, Ehlers, & Roth, 1986). Dengan
demikian, hasilnya dapat mengindikasikan bahwa reaksi psikologis terhadap factor
tersebut merupakan hal penting sebuah kemungkinan yang mendasari penanganan yang
divalidasi dengan baik bagi gangguan ini seperti akan kita lihat nanti.
Teori Psikologis. Teori psikologi utama mengenai agoraphobia yang sering menyertai
ganggaun panik adalah hipotesis ketakutan-terhadap-ketakutan (a.l., Goldstein &
Chambless, 1978), yang berpendapat bahwa agoraphobia bukanlah ketakutan terhadap
tempat-tempat umum itu sendiri, melainkan ketakutan mengalami serangan panik d
tempat umum.
Classical conditioning dan perbedaan antara kecemasan dan panik menjadi dasar satu
teori yang diajukan bru-baru ini mengenai serangan panik itu sendiri (Bouton, Mineka, &
Barlow, 2001). Panik, sebagaimana kami gambarkan sebelumnya, merupakan kondisi
ketakutan ekstrem dan ketegangan otonomik yang sangat kuat. Kecemasan dipandang
sebagai kondisi kegugupan dan kekhawatiran. Poin utama teori tersebut adalah serangan
panik menjadi terkonsdisi secara klasikal pada sensasi fisik internal yang ditimbulkan
oleh kecemasa. Teori ini didukung oleh beberapa studi dimana orang-orang yang
menderita ganggaun panik mancatat serangan yang mereka alami dan hal-hal yang
memicunya. Kecemasan dan sensasi fisik sering kali dituturkan. Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, serangan panik bukan merupakan hal yang tidak biasa. Mengapa beberapa
orang kemudian menderita gangguan panik, sedangkan yang lain mampu mengatasi
serangnan tersebut? Salah satu kemungkinan adalah mereka yang kemudian menderita
gangguan panik, menganggap serangan tersebut sebagai sesuatuyang tidak dapat
dikendalikan dan tidak dapat diprediksi serta melihat serangan tersebut sebagai kekuatan
tertentu. Hal ini dapat menjadi UCS yang sangat kuat sekaligus meningkatkan
conditioning. Kemungkinan lain adalah gangguan panik terjadi pada orang-orang yang
secara umum memiliki kecemasan tinggi.
Teori kedua mengenai gangguan panik juga mefokuskan pada gejala-gejala awal suatu
serangan, namun menekankan pada kesalahan interpretasi yang bersifat merusak terhadap
stimuli ini (Clark, 1996). Serangan panik terjadi bila seesorang merasakan semacam
sensasi fisik dan menginterpretasinya sebagai tanda-tanda datangnya kematian. Pikiran
tersebut memicu kecemasan yang lebih besar dan sensasi fisik yang lebih banyak
sehingga tercipta lingkaran setan.
Dalam suatu pengujian penting terhadap hipotesis ini Telch dan Harrington (1992)
meneliti para mahasiswa yang tidak memiliki riwayat serangan panik dan dibagi dalam
dua kelompok (skor tinggi dan rendah) berdasarkan skor mereka pada tes yang disebut
Anxiety Sensitivity Index, yang mengukur sampai sejauh mana orang merespons dengan
penuh rasa takut berbagai sensasi fisi yag dialami. Semua peserta menjalani dua kali uji
coba. Dalam uji coba pertama mereka menghirup udara ruangan, dan dalam uji coba
kedua mereka menghirup udara dengan konsentrasi karbondioksida yang lebih tinggi dari
biasanya. Separuh peserta pada masing-masing kelompok diberitahu bahwa karbon
diksida akan membuat rileks, dan separuhnya diberitahu bahwa karbondioksida akan
membuat rileks, dan separuhnya diberitahu bahwa karbondioksida akan menyebabkan
simtom-simtom ketegangan tinggi. Frekuensi serangan panik pada kedua kelompok dapat
dilihat pada tabel. Perhatikan bahwa serangan panik tidak terjadi pada peserta ketika
mereka menghirup udara ruangan, menegaskan penemuan sebelumnya. Data tersebut
juga menunjukkan bahwa frekuensi seranagn panik lebih tinggi pada peserta yang
memiliki ketakutan tinggi tinggi terhadap sensasi fisik yang mereka alami. Terakhir, dan
terpenting, frekuensi seranagn paniksangat tinggi pada peserta yang takut terhadap

sensasi fisik yang mereka alami, meghirup udara dengan konsentrasi kabon dioksida yang
tinggi, dan tidak mengharapkan hal itu akan menyebabkan ketegangan. Hasil ini sangat
sesuai dengan prediksi teori tersebut; ketegangan fisiologis yang tidak bisa dijelaskan
pada seseorang yang takut terhadap sensasi semacam itu memicu seranagn panik.
Terlebih lagi, terungkap bahwa skor pada Anxiety Sensitivity Index dapat diturunkan
dalam keluarga sehingga pengukuran ini dapat menjadi sumber diathesis genetik bagi
ganggaun panik (Stein, King, & Livesley, 1999).
Studi lain yang berkaitan dengan teori ganggaun panik ini melibatkan para karyawan baru
ketika mereka menjalani pelatihan dasar yang penuh stres (Schmidt, Lerew, & Jackson,
1997). Anxiety Sensitivity Index diberikan kepada merekan, kemudian pengukuran klinis
menentukan siapa saja yang mengalami serangan panik selama berlangsungnya pelatihan
asar. Konsisten dengan teori tersebut, skor tinggi pada Anxiety Sensitivity Index
memprediksi terjadinya serangan panik.
Konsep kontrol juga relevan dengan panik. Para pasien yang menderita gangguan
tersebut memiliki ketakutan ekstrem kehilanagn kendali, yng sering terjadi jika mereka
mengalami serangan ditempat umum. Pentingnya kontrol ditunjukkan dengan jelas dalam
suatu studi yang dilakukan Sanderson, Rapee, dan Barlow (1989), yang merupakan
pengulanagn konseptual studi sejenis yang dilakukan sebelumnya oleh Geer, Davidson,
dan Gatchel (1970), para pasien gangguan panik menghirup karbon dioksida dan
diberitahu bahwa ketika sebuah lampu menyala mereka dapat memutar tombol untuk
mengurangi konsentrasi karbondoksida. Lampu dinyalakan terus-menerus untuk sparuh
peserta, sedangkan untuk separuhnya lagi lampu tersebut tidak dinyalakan sama sekali.
Sebenarnya memutar tombol sama sekali tidak memengaruhi tingkat karbon dioksida
sehingga studi tersebut mengeveluasi efek kontrol yang dirasakan atas reaksi terhadap
faktor tersebut. Sebanyak 80% peserta dalam kelompok yang tidak memiliki kontrol
mengalami serangan panik, dibandingkan dengan 20% peserta dalam kelompk yang
mengira mreka daat mengontrol karbon dioksida. Perhatikan bahwa selain menunjukkan
dengan jelas pentingnya perasaan akan kendali dalam gangguan panik, data tersebut
sekali lagi menunjukkan bahwa bukan faktor biologis semata yang menyebabkan panik,
namun lebih pada reaksi psikologis seseorang yang merupakan hal penting.
Terapi Untuk Gangguan Panik dan Agorafobia
Terapi bagi gangguan panik mencakup pendekatan biologis dan psikologis. Bebrapa
diantaranya memiliki cukup kesamaan dengan penanganan yang telah dibahas bagi fobia.
Penanganan Biologis. Karena penderrita gangguan panik biasanya berkonsultasi dengan
dokter sebelum mereka menemui psikolog atau psikiater, pengobatan psikoaktif
umumnya merupakan pananganan awal dan terkadang satu-satunya jenis penanganan
yang diterima seseorang. Pemasaran besar-besaran obat-obatan antipanik melalui media
kemungkinan juga merupakan suatu faktor. Beberapa obat telah menunjukkan
keberhasilan sebagai penanganan biologis bagi ganggaun apanik. Obat-obatan tersebut
mencakup antidepresan (penghambat pengembalian serotoninselektif, seperti Prozac, dan
antidepresan tiga siklus seperti Tofranil) dan benzodiazepine (seperti Alparozalam atau
Xanax) (Roy-Byrne & Cowley, 1998). Bukti efektifitas Alprazolam sangat meyakinkan
kerana diperoleh melalui studi berskala besar dan multinasional (Ballenger dkk., 1998).
Pada sisi negatif, bila obat-obatan diberikan oleh dokter keluarga pasien, bukan dalam
studi penelitian seperti yang disebutkan diatas, efektivitasnya menurun sebagian besar
karena dosis yang kurang atau durasi penanganan yang tidak cukup lama (Roy-Byrne
dkk., 2001). Terlebih lagi, sebagian pasien gangguan panik yang diberi obat-obatan tiga
siklus dihentikan pengobatannya karena efek samping seperti rasa guggup dan
bertambahnya berat badan serta efek samping yang lebih serius seperti denyut jantung
dan tekanan darah yang meningkat (Talor dkk., 1990). Terlebih lagi benzodiazepine

menyebabkan kecanduan dan menghasilkan efek samping kognitif dan motorik, sepwerti
berkurangnya memori dan kesulitan mengemudi. Dalam upaya untuk mengurangi
kecemasan, banyak pasien menggunakan sendiri anxolytic atau alcohol; penggunaan dan
penyalahgunaan obat-obatan umum terjadi pada orang-orang yang menderita kecemasan.
Walaupun jika hasilnya efektif penanganan dengan obat-obatan harus terus dilakukan
dalam waktu yang tidak trebatas karena simtom-simtomm hampir selalu muncul lagi bila
ppengobatan dihentikan (fyer, Sandberg, & Klein, 1991). Terakhir, terapi pengendalian
kepanikan oleh Barlow tampaknya lebih baik dari terapi obat yang saat ini tersedia,
terutama bila dilakukan tindak lanjut jangka panjang, seperti dijelaskan secara rinci
dalam bagian berikut.
Penanganan Psikologis. Terapi dengan memmberikan pemaparan seringkali berguna
untuk mengurangi agorafobia (atau dalam istilah DSM-IV-TR, gangguan panik dengan
agorafobia), dan keuntungan ini sangat dipertahankann selama bertahun-tahun setelah
selesainya terapi (Fava dkk., 1995). Beberapa studi menemukan bahwa efek pemaparan
meningkat bila pasien didorong untuk rileks selama pemaparan langsung (Michelson,
Marchione, & Greenwald, 1989), namun beberapa studi lain tidak menunjukkan manfaat
tambahan dari relaksasi (Ost, Hellstrom, & Westling, 1989).
Para pasien yang berstatus menikah dan yang masalah utamanya atau satu-satunya adalah
agorafobia telah mendapatkan manfaat dari berbagai terapi yang berorientasi keluarga
yang melibatkan pasangannya yang nonfobik, yang didorong untuk tidak lagi
mengakomodasi penolakan passangannya untuk keluar ruamah. Program penelitian klinis
yang dilakukan Barlow menemukan bahwa keberhasilan terapi pemaparan langsung,
dimana seseorang yang menderita agora fobia didorong untuk sedikit demi sedikit
meningglakan wilayah amannya, meningkat bila terdapat keterlibatan pasangan (Cerny
dkk., 1987). Bertentangan dengan keyakinan bahwa seorang pasangan nonfobik
menginginkan pasangnnya untuk tergantung padanya (Milton & Hafner, 1979), kepuasan
dalam perkawinan cenderung meningkat seiring pasangannya ketakutan menjadi semakin
beani (Craskedkkk., 1992; Himadi dkkk., 1986). Dengan demikian, walaupun dapat
dipahami bahwa seorang pasangan dapat menjadi perhatian, mungkin karena
kekhawatiran yang beralasan terhadap kesejahteraan pasangannya, mungkin karena
kebutuhan dalam dirinya untuk memiliki pasangan yang lemah dan tergantung, data hasil
menunjukkan bahwa hubungan menjadi semakin baik ketika pasangan yang menderita
agora fobia semakin berkurang ketakutannya (Craske & Barlow, 2001).
Menangani agorafobia melalui pemaparan tidak selalu mengurangi serangan panik
(Michelson, Mavissakalian, & Marchone, 1985). Dengan demikian, penenganan
psikologis terhadap gangguan panik telah berubah arah dalam beberapa tahun terakhir,
memfokuskan pada penemuan yang disebutkan sebelumnya bahwa bebrapa pasien
mengalami kekhawatiran yang berlebihan ketika merasakan berbagai sensasi fisik yang
tidak berbahaya dan beraksi secara berlebihan. Suatu terapi yang divalidasi dengan baik
yang dikembangkan oleh Barlow dan rekan-rekannya dan disebut terapi pengendalian
kepanikan (PCT-panic control theraphy) memiliki tiga komponen utama :
1. Training relaksasi;
2. Kombinasi intervensi behavioral kognitif dari Ellis dan Beck;
3. Bagian terbaru, pemaparan dengan tanda-tanda intrenal yang memicu kepanikan
(Barlow, 1988; Barlow & craske, 1994; Craske & Barlow, 2001).
Mari kita bahas komponaen ketiga secara lebihrinci karena benar-benar cukup inovatif.
Terapis mempersuasi klien untuk berlatih berbagai perilaku yang dapat menimbulkan
perasaan yang berkaitan dengan kepanikan dan dlakukan di ruang konsultasi. Sebagai
contoh, seorang yang mengalami serangan panik yang diawali dengan hiperventilasi

diminta untuk bernapas dengan cepat selama tiga menit; seseorang yag merasa pusing
dapat diminta untuk berputar dikursi selama beberapa menit. Ketika sensasi seperti
kepusingan, mulut kering, kepala menjadi ringan, denyut jantung meningkat, dan tandatanda panik lain mulai terjadi, klien (1) mengalaminya dalam kondisi yang aman dan (2)
menerapkan taktik coping kognitif dan relaksasi yang dipelajari sebelumnya (yang dapat
mencakup bernapas dari diagfragma dan bukan dengan hiperventilasi).
Dengan latihan dan dorongan atau persuasi dari terapis, klien belajar untuk
mengintrepretasi berbagai sensasi internal dari sesuatu yag menjadi tanda-tanda
hilangnya kontrol dan kepanikan menjadi tanda-tanda yang secara instrinsik tidak
berbahaya dan dapat dikendalikandengan keterampilan tertentu. Penciptaan sensasi fisik
dengan sengaja oleh klien, disertai dengan keberhasilan mengatasinya, mengurangi
ketidakterdugaan dari sensasi tersebut dan mengubah maknanya bagi klien (Craske,
Maindenberg, & Bystritsky, 1995).
Tindak lanjut yang dilakukan selama dua tahun menunjukkan bahwa keuntungan
terapeutik terapi kognitif dan pemaparan ini bertahan hingga tingkat yang signifikan dan
lebih baik dibanding keuntungan yang dihasilkan darii penggunaan alprazolam (Xanax)
(Craske, Brown, & Barlow, 1991), walaupun banyak pasien yang tidak terbebas dari
kepanikan (Brown & Barlow, 1995). Baru-baru ini studi komparatif Multilokasi tehadap
penanganan gangguan Panik mulai memublikasi penemuannya yang membandingkan
PCT, imipramine, placebo, kombinasi PCT dan impramine, PCT plus placebo,
imipramine plus placebo (Barlow, Gorman, Shear, & Woods, 2000). Semua penanganan
diberikan sekali seminggu selama tiga bulan, diikuti dengan tindak lanjut selama enam
bulan bagi mereka yang kondisinya membaik dalam tiga bulan penanganan mingguan.
Terakhir, enam bulan kemudian, dilakukan pengukuran sebagai tindak lanjut. Hasil-hasil
yang dipublikasikan sejauh ini antara lain sebagai berikut:
PCT dan imipramine lebih baik dibanding placebo segera setelah penanganan.
PCT yang dikombinasikan dengan imipramine tidak lebih baik dibanding PCT plus
placebo segera setelah penanganan.
PCT yang dikombinasikan dengan imipramine tidak lebih efektif dibandingkan bila
keduanya diberikan secara tersendiri segera setelah penanganan.
Setelah enam bulan terapi tindak lanjut, semua penanganan lebih efektif dibanding
placebo.
Dalam enam bulan tindak laut, mereka yang hanya ditangani dengan PCT leih baik
kondisinya dibanding mereka yang ditangani dengan PCT plus placebo atau
imipramine. Dengan kata lain, banyak pasien yag meminum obat mengalami
kekambuhan.
Secara umum, dlam banyak studi, lebih dari separuh pasien gangguan panik yng
ditangani dengan PCT terbebas dari kepanikan pada akhir penanganan dan hampir
sepertiganya sembuh dalam 6 hingga 12 bulan tindak lanjut (Telch dkk., 1995). Ini
merupkan statistik yang mengesanan, khususnya hasil tindak lanjut, terutama bila
dibandingkan dengan terapi obat. Terapi behavioral-kognitif sejenis yang dikembangkan
secara terpisah oleh Clark (1989; Salkovskis & Clark, 1991) juga menunjukkan efek
menguntungkan bagi ganggaun panik (Clark, Watson, & Mineka, 1994).

3. Gangguan Anxietas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)


Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (generalized anxiety
disorder/GAD) terus menerus merasa cemas, sering ali tentang hal-hal kecil. Sebagian
besar di antara kita dari waktu ke waktu memiliki kekhawatiran. Namun, pasien yang
menderita GAD memiliki kekhawatiran yang kronis. Mereka menghabiskan sangat
banyak waktu mengkhawatirkan banyak hal dan mengganggap kekhawatiran mereka

sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol (Ruscio, Borkovek, & Ruscio, 2001).
Kekhawatiran yang paling sering dirasaan oleh para pasien GAD adalah kesehatan
mereka dan masalah sehari-hari, seperti terlambat menghadiri pertemuan atau terlalu
banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Diagnosis GAD tidak ditegakkan jika
kekhawatiran berkaitan dengan masalah-masalah yang dipicu oleh gangguan Aksis 1 lain,
contohnya, kekhawatiran terhadap kontaminasi yang ersifat tidak dapat dikendalikan
pada GAD dikonfirmasi oleh self-report dan data laboratorium (Becker dkk, 1998;
Craske dkk, 1989). Ciri lain GAD mencakup kesulitan berkonsentrasi, sangat mudah
lelah, ketidaksabaran, mudah tersinggung, dan ketegangan otot yang amat sangat.
Walaupun para pasien yang menderita gangguan anxietas menyeluruh umumnya tidak
mengupayakan penanganan psikologis, prevalensi sepanjang hidup gangguan ini cukup
tinggi; gangguan ini terjadi pada sekitar 5 persen dari populasi umum (Witichen & Hoyer,
2001). GAD umumnya mulai dialami pada pertengahan masa remaja, walaupun banyak
orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh menuturkan bahwa mereka
mengalami masalah tersebut sepanjang hidupnya (Barlow dkk, 1986). Berbagai peristiwa
penuh stress dalam hidup tampaknya cukup berperan terhadap terjadinya gangguan ini
(Blazer, Hughes, & George, 1987). Gangguan ini terjadi dua kali lebih banyak pada
perempuan dibanding pada laki-laki, dan memili tingkat komorbiditas tinggi dengan
gangguan anxietas lain dan dengan gangguan mood (Brown dkk, 2001). Sulit untuk
berhasil menangani gangguan anxietas menyeluruh. Dalam suatu studi tindak lanjut
selama lima tahun, hanya 18 persen pasien yang tidak lagi mengalami simtom-simtom
gangguan tersebut (Woodman dkk, 1999) walaupun angka tersebut memiliki
kemungkinan menigkat seiring dengan lebih baik banyak penggunaan terapi kognitifberhavioral yang dibahas di bawah ini oleh para ahli klinis.
Kriteria DSM-IV-TR untuk GAD
Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan
Kekhawatiran tersebut sulit dikendalikan

Pasien mengalami tiga atau lebih diantara hal-hal berikut: ketidaksabaran, sangat
mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, ketegangan otot, gangguan
tidur.

Etiologi Gangguan Anxietas Menyeluruh


Etiologi gangguan anxietas menyeluruh mencakup perspektif psikoanalisis, kognitifbehavioral, dan biologis.
Pandangan Psikoanalisis. Teori psikoanalisis berpendapat bahwa sumber kecemasan
menyeluruh adalah konflik yang tidak didasari antara ego dan impuls-impuls id. Impulsimplus tersebut, yang biasanya bersifat seksual atau agresif, berusaha untuk
mengekspresikan diri, namun ego tidak membiarkannya karena tanpa didasari ia merasa
takut terhadap hukuman yang akan diterima. Karena sumber kecemasan tidak didasari,
individu terkait mengalami kecemasan dan distress tanpa diketahui mengapa demikian.
Sumber kecemasan yang sebenarnya-yaitu hasrat-hasrat yang berhubungan dengan
impuls-impuls id yang ditekan dan berjuang untuk mengekspresikan diri-selalu hadir.
Dengan kata lain, tidak ada cara untuk menghindar kecemasan; jika seseorang
meninggalkan id ia tidak lagi hidup. Dengan demikian, orang tersebut hampir selalu
mengalami kecemasan. Pasien penderita fobia mungkin dianggap lebih beruntung karena,
menurut teori psikoanalisis, kecemasannya dialihkan ke objek atau situasi tertentu, yang
kemudian dapat dihindarinya. Orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh
tidak mengembangkan tipe pertahanan tersebut sehingga selalu merasa cemas.
Pandangan Kognitif-Behavioral. Pemikiran utama teori kognitif-behavioral tentang
GAD adalah gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses berpikir yang

menyimpang. Orang-orang yang menderita GAD sering kali salah mempresepsi kejadiankejadian biasa, seperti menyeberang jalan, sebagai hal yang mengancam, dan kognisi
mereka terfokus pada antisipasi berbagai bencana pada masa mendatang (Beck dkk,
1987; Ingram & Kendall 1987; Kendall & Ingram, 1989). Perhatian para pasien GAD
mudah terarah pada stimuli yang mengancam (Mogg, Millar, & Bradler, 2000; Thayer
dkk, 2000). Terlebih lagi, pasien GAD lebih terpicu untu menginterpretasi stimuli yang
tidak jelas sebgai suatu yang mengancam dan untuk menilai berbagai kejadian yang
mengancam lebih mungkin terjadi pada mereka (Butler & Mathews, 1983). Sensitivitas
pasien GAD yang sangat tinggi terhadap stimuli yang mengancam juga muncul walaupun
bila stimuli tersebut tidak dapat diterima secara sadar ( Bradley dkk, 1995).
Pandangan kognitif lain diajukan oleh Borkovec dan para koleganya (a.l., Borkovec &
Newman, 1998; Borkovec, Roemer, & Kinyon, 1995). Mereka memfokusan pada simtom
utama GAD, yaitu kekhawatiran. Berdasarkan perspektif hukuman seseorang mungkin
bertanya-tanya mengapa ada orang yang sering merasa khawatir karena kekhawatiran
dianggap sebagai kondisi negative yang seharusnya tida mendorong pengulangannya.
Borkovec dan para koleganya mengumpulkan bukti-bukti bahwa kekhawatiran
merupakan penguatan negative; ia mengalihan pasien dari berbagai emosi negative
sehingga oleh hasil yang positif bagi individu terkait.
Kunci untuk memahami posisi ini adalah menyadari bahwa kekhawatiran tidak
menciptakan banyak ketegangan emosional. Sebagai contoh, hal itu tidak menciptakan
berbagai perubahan fisiologi yang biasanya menyertai emosi, dan pada kenyataannya
menghambat pemrosesan stimuli emosional. Dengan demikian melalui rasa khawatir,
orang-orang yang menderita GAD menghindari berbagai citra yang tidak mengenakkan.
Dan sebagai konsekuensinya kecemasanyang mereka rasakan terhadap berbagai citra
tersebut tidak hilang. Apa saja citra yang memicu kecemasan yang dihindari oleh para
pasien penderita GAD? Salah satu kemungkinan berasal dari data yang menunjukkan
bahwa para penderita GAD menuturkan mengalami lebih banya pascatrauma yang
mencakup kematian, cedera, atau penyakit. Namun demikian, hal tersebut bukan sesuatu
yang mereka khawatirkan; kekhawatirkan dapat mengalihkan para penderita GAD dari
berbagai citra pascatrauma yang menyakitan tersebut.
Perspektif Biologis. Beberapa studi mengindikasikan bahwa GAD dapat memiliki
komponen genetic. GAD sering ditemukan pada orang-orang yang memiliki hubungan
keluarga dengan penderita gangguan ini, dan terdapat kesesuaian yang lebih tinggi di
antara kembar MZ disbanding kembar DZ. Namun tingkat komponen genetic ini
tampaknya rendah (Hettema, M. Neale, & Kendler, 2000).
Model neurobiologist yang paling umum untuk gangguan anxietas menyeluruh dilandasi
oleh pengetahuan mengenai cara kerja benzodiazepine, suatu kelompok obat-obatan yang
sering kali efektif untuk menangani kecemasan. Para peneliti menemukan suatu reseptor
dalam otak untuk benzodiazepine yang berhubungan dengan neurotransmitter yaitu asam
gamma-aminobutyric (GABA). Pada reaksi ketakutan yang normal, neuron di seluruh
otak memicu dan menciptakan kecemasan. Proses tersebut juga merangsang system
GABA, yang menghambat aktifitas ini dan mengurangi kecemasan. GAD dapat
disebabkan oleh kerusakan dalam system GABA sehingga kecemasan tidak dapat
dikendalikan. Benzodiapine dapat mengurangi kecemasan dengan meningkatkan
pelepasan GABA. Secara sama, obat-obatan yang menghambat system GABA memcu
peningkatan kecemasan (Insell, 1986). Banyak hal yang masih harus dipelajari, namun
pendekatan ini tampaknya ditakdirkan untu meningkatkan pemahaman kita tehadap
kecemasan.

Terapi Gangguan Anxietas Menyeluruh

Seperti telah disebutkan, GAD sulit ditangani dengan berhasil. Terapi mencakup
pendekataan psikoanalisis, behavioral, kognitif, dan biologis.
Pendekatan Psikoanalisis. Karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar
dari konflik-konflik yang ditekan, sebagian besar psikoanalis bekerja untuk membantu
pasien menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hamper
sama dengan penanganan fobia.
Satu studi tanpa control menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada
konfli interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong
cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan
para terapis kognitif behavioral mendorong penyelesaian masalah sosial (cf. hlm. 582).
Hasil-hasil intervensi ini cukup menggembirakan dan pantas untuk diteliti lebih dalam
dengan ontrol eksperimental yang lebih baik seperti kelompok control tanpa penanganan
dan kelompok control pembanding (Crist-Christoph., 1996).
Pendekatan Behavioral. Para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh
dengan berbagai cara. Jika terapis menganggap kecemasan sebagai serangkaian respons
terhadap berbagai situasi yang dapat diidentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan
yang bebas mengalir dapat diformulasikan pada satu fobia atau lebih atau kecemasan
berisyarat. Sebagai contoh, seorang terapis behavioral dapat menyimpulkan bahwa lkien
yang mengalami kecemasan menyeluruh tampaknya secara lebih spesifik memiliki
ketakutan untuk mengkritik dan dikritik orang lain. Kecemasan tampak bebas mengalir
hanya karena klien menghabiskan sangat banyak waktu dengan banyak orang.
Desentisisasi sistematis menjadi kemungkinan terapi. Tentu saja, berdasarkan sudut
pandang DSM, pasien semacam itu tidak akan memenuhi criteria diagnosis GAD. Terapis
perilaku harus memformulasi ulang apa yang awalnya tampak sebagai GAD menjadi
semacam fobia.
Walaupun demikian, dapat terjadi kesulitan untuk menemukan penyebab spesifik
kecemasan yang diderita pasien semacam itu. Kesulitan ini memicu para ahli klinis
behavioral untuk memberikan penanganan yang lebih umum, seperti training intensif,
dengan harapan bahwa belajar untuk rileks ketika mulai merasa tegang seiring mereka
menjalani hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali (Barlow
dkk.,1984; Borkovec &Mathews, 1988; Ost, 1987b). Para pasien diajarkan untuk
melemaskan ketegangan tingkat rendah, merespon kecemasan yang baru muncul dengan
relaksasi daripada dengan kepanikan (Goldfrie, 1971; Suinn & Richardson, 1971). Barubaru ini, strategi ini telah dibuktikan sangat efektif untuk mengurangi GAD (a.l.,
Borkovec &Roemer, 1994; Borkovec &whisman,1996; lihat juga kajian DeRubies &
Crist-Christoph, 1998; Borkovec & Ruscio, di media).
Pendekatan Kognitif. Jika suatu perasaan tidak berdaya tampaknya mendasari
kecemasan pervasive, terapis berorientasi kognitif akan membantu klien menguasai
keterampilan apapun yang dapat menumbuhkan perasaan kompeten. Keterampilan
tersebut termsuk asetivitas, dapat diajarkan melalui instruksi verbal, modeling, atau
pembentukan operant-dan sangat mungkin kombinasi secara hati-hati dari ketiganya
(Goldfried & Davidson, 1994).
Bukan suatu hal yang mengejutkan, teknik-teknik kognitif juga digunakan dalam
penanganan kekhawatiran kronis, komponen utama GAD. Kekhawatiran, walau
bagaimanapun, merupakan kejadian kognitif-memikirkan berbagai kemungkinan yang
menakutkan. Pendekataan Borkovec (a.l., Borkovec & Costello, 1993)
mengkombinasikan berbagai elemen Wolpe dan Beck, yaitu ia mendorong pemaparan
bertingkat terhadap berbagai situasi yang menyebabkan kekhawatiran seiring pasien
mencoba menerapkan keterampilan relaksasi dan analisis logis terhadap berbagai hal
(a.l., seberapa besar kemungkinan terjadinya sesuatu yang benar-benar mengerikan?).

Secara kontras, Barlow dan rekan-rekannya lebih menyukai pemaparan dalam waktu
lama dan berlebihan terhadap sumber masalah kecemasan berlebihan seseorang (Brown,
Oleary, & Barlow, 2001). Sebagai contoh, seseorang yang merasa khawatir mengapa
pasangannya pulag terlambat dari perjalanan bisnisnya akan didoronh untuk
membayangkan kemungkinan terburuk-pesawat yang ditumpanginya jatuh. Pasien
diminta membayangkan hal ekstrem dan sangat tidak mungkin tersebut selama setengah
jam atau lebih dan kemudian memikiran sebanyak mungkin kemungkian lain atas
keterlambatan tersebut, misalnya kesulitan memperoleh taksi atau terjebak dalam
kemacetan lalu lintas. Diasumsikan bahwa dua proses yang berlangsung dibawah ini
mengurangi kekhawatiran pasien.
1. Karena pasien tetap berada dalam situasi yang menakutkan, kecemasan diyakinkan
akan terhapus.
2. Dengan mempertimbangkan kemungkinan ketakutan terburuk yang dapat
terbayangkan, pasien mengubah reaksi kognitifnya terhadap keterlambatan
pasangannya.
Dengan kata lain, pasien belajar untuk memikiran berbagai sebab yang kurang
menakutkan dari suatu kejadian tertentu.
Stategi Barlow ini mengingatkan pada teknik yang melebih-lebihkan yang dikembangkan
bertahun-tahun lalu oleh Arnold Lazarus (1971). Dia menjelaskan penerpan teknik ini
dalam gambaran klinis berikut ini.
[pasien ini memiliki] kecenderungan untuk selalu mengecek toilet pria di bioskop
untuk mengawasi kemungkinan terjadi kebakaran. Umumnya, pada saat jeda,
atau sebelum duduk di kursinya, ia akan masuk ke toilet pria, merokok sebatang,
kemudian masuk ke bioskop. Tidak lama kemudian, dia akan merasa sangat
panik. Dia akan bertanya pada diri sendri, apakah saya secara tidak sengaja
menyebabkan kebakaran di toilet pria? ia akan meninggalkan kursinya dan
segera kembali ke toilet pria dan dengan teliti mengecek bahwa tidak ada
kebakaran yang terjadi. Ketika kembali kekursi ia akan merasa bahwa ia
mungkin gagal mendeteksi adanya kebakaran, dan segera merasakan dorongan
luar biasa untuk kembali ke toilet dan memastikan lebih teliti..
Sayamemberinya instruksi berikut ini: bila dorongan untuk mengecek muncul
dalam diri anda, jangan tinggalkan kursi anda. Karena, saya ingin anda
membayangkan bahwa memang telah terjadi kebakaran. Pertama, bayangkan
api membakar kertas toilet kemudian kloset, menyebar ke pintu, ke seluruh lantai
sehingga akhirnya seluruh ruangan toilet pria terbakar. Kemudian, sambil tetap
duduk di kursi anda, bayangkan api tersebut menyebar keluar toilet dan
mencapai lobi. Api segera membakar karpet dan tidak lama kemudian seluruh
bioskop telalap api. Kebakaran ini tidak seperti kebakaran lain. Kebakaran ini
tidak dapat dihentikan. Sambil masih tetap duduk di kursi anda, bayangkan
seluruh wilayah di sekitarnya terbakar. Para petugas pemadam kebakaran gagal
memadamkan api, sementara api terus merambat ke seluruh wilayah yang
berada di sekitarnya sampai seluruh kota terbakar. Dan api masih terus
merambat. Satu demi satu kota-kota terlalap api dalam reaksi berantai yang luar
biasa ini sampai seluruh negeri terbakar. Api bahkan menyebar melewati
samudera sampai seluruh dunia terbakar. Akhirnya seluruh alam semesta
terbakar dalam api yang menyala-nyala. (Lazarus, 1971, hlm. 231).
Pasien tersebut seperti diungkapkan oleh Lazarus merasakan latihan tersebut sangat
bermanfaat seiring ia menikmati fantasi yang meluap-luap tersebut, menganggapnya

sebagai suatu yang menggelikan. Tidak lam setelah itu ia tidak lagi terganggu oleh
kekhawatirannya.
Data hasil uji klinis terkontrol sejauh ini konsisten dalam menunjukkan bahwa berbagai
pendekatan kognitif-behavioral lebih berpengaruh dibanding terapi placebo atau terapiterapi alternative seperti terapi Rogerian (Barlow dkk., 1998; Borkovec, Newman,
Pincus, & Lytle, di media; Brown dkk., 2001). Perlu dicatat secara khusus-dengan
pengecualian berbagai studi yang dilakukan Borkovec dan Costello (1993) dan Borkovec
dkk. (di media)-adalah penemuan bahwa tidak banyak pasien dalam berbagai terapi yang
dievaluasi menunjukkan apa yang disebut sebagai keberfungsian tingkat tinggi, yaitu
tingkat kecemasan atau kekhawatiran yang sangat minimal yang sama dengan mereka
yang tidak didiagnosis menderita GAD. Dengan kata lain, banyak pasien GAD, walaupun
menunjukkan perbaikan, tetap mengalami banyak simtom kecemasan (a.l., Stanley dkk.,
1996).
Walaupun demikian, jika dibandingkan dengan terapi benzodiapine, terapi kognitfperilaku tampak lebih unggul; memang, bila dikombinasikan dengan terapi obat, hasilnya
lebih buruk dibanding bila digunakan tanpa dikombinasikan (Power dkk., 1990). Terlebih
lagi, beberapa studi terapi kognitif-perilaku bagi GAD menemukan bahwa perbaikan
kondisi berkaitan dengan kedatangan pasien yang ingin mengurangi ketergantungan pada
obat-obatan psikoaktif, seperti tranquilizer minor yaitu Valium. Ini merupakan bukti tidak
langsung, namun sangat persuasive bagi efektivitas intervenvi kogitif-behavioral (Brown
dkk., 2001).
Pendekatan Biologis. Anxiolytic, seperti jenis yang disebutkan untuk menangani fobia
dan gangguan panik, mungkin merupakan penanganan yang paling banyak digunakan
untuk anxietas menyeluruh. Obat-obatan, terutama benzodiapine, seperti Valium dan
Xanax, juga buspirone (BuSpar), sering kali digunakan karena pervasivitas gangguan.
Setelah diminum, obat-obatan tersebut akan bekerja selama beberapa jam dalam berbagai
situasi yang dihadapi. Sejumlah studi double blind menegaskan bahwa obat-obatan
tersebut memberi lebih banyak manfaat bagi para pasien GAD disbanding placebo (Apter
& Allen, 1999). Beberapa studi menunjukkan efektivitas beberapa antidepresan tertentu,
dari jenis tricyclic dan SSRI (Pollack dkk., 2001; Roy-Byrne & Cowley, 1998).
Sayangnya, obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang tidak dikehendaki, mulai
dari mengantuk, kehilangan memori, dan depresi, hingga ketergantungan fisik serta
kerusakan organ-organ tubuh. Selain itu, jika pasien tidak minum obat, manfaat yang
diperoleh biasanya akan hilang (Barlow, 1988). Mungkin hilangnya manfaat tersebut
terjadi karena pasien (memang benar demikian) mengatribusikan perbaikan kondisi pada
hal eksternal, yaitu pengobatan itu sendiri, bukan pada perubahan internal dan upaya
coping yang dilakukannya (Davidson & Valins, 1969). Dengan demikian, pasien tetap
mempercayai bahwa kemungkinan kecemasan dan kekhawatiran tetap tidak dapat
dikendalikan.

4. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder OCD)


Sebagian besar diantara kita memiliki pikiran yang tidak dikehendaki dari waktu
kewaktu, dan sebagian besar diantara kita memiliki dorongan pada saat ini atau kelak
untuk melakukan perilaku tertentu yang memalukan atau bahkan berbahaya. Namun,
hanya sedikit diantara kita yang menderita gangguan obsesif kompulsif ( Obsessive
Compulsice Disorder OCD ), suatu gangguan anxietas dimana pikiran dipenuhi dengan
pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan individu dipaksa untuk terus
menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan
mengganggu keberfungsian sehari-hari.

X adalah seorang remaja madya yang saat ini sedang kuliah disuatu universitas.
sudah beberapa hari ini ia mempunyai kebiasaan aneh yang tidak bisa ia
hentikan. kebiasannya adalah mencuci tangannya lebih dari 10x dalam satu hari.
teman-temannya juga heran mengapa ia berperilaku seperti itu. ketika ia
berkonsultasi kepada psikolog sekolahnya ia baru tahu apa yang terjadi
padanya. psikolog menanyainya apa yang menyebabkannya seperti itu, lalu X
mulai menceritakan kejadian apa yang sebenarnya ia lakukan.X adalah kakak
dari A. saat kecil keduanya pernah bertengkar, X tanpa sengaja mengambil
gunting dan menorehkannya ke lengan adiknya,A. akibatnya lengan A terluka
dan menyebabkannya cacat. peristiwa ini membuatnya bersalah dan ia terus
menerus memikirkan kesalahannya ini (obsesif), dan tiap kali ia mengingatnya ia
akan mencuci tangannya berulang-ulang. (kompulsif).
Contoh 2:
Bencine berusia 45 tahun ketika mulai menjalani terapi. Ini keempat kalinya ia
menjalani terapi rawat jalan, sebelumnya ia pernah dua kali dirawat di rumah
sakit. Gangguan obsesif kompulsif yang dideritanya bermula sejak 12 tahun
lalu, tidak lama setelah kematian ayahnya. Sejak itu gangguan tersebut sering
kambuh dan baru baru ini menjadi separah yang pernah dialami.
Bernice terobsesi ketakutan mengalami kontaminasi, suasana ketakutan yang
secara tidak jelas dikaitkannya dengan kematian ayahnya karena pneumonia.
Walaupun dia menuturkan bahwa dia takut pada hamper semua hal , karena
kuman dapat berada dimana pun,ia khususnya tidak nyaman bersentuhan dengan
kayu ,objek yang bergores, surat, benda benda yang di kemas kaleng, dan
noda perak. Noda perak yang di maksud Bernice adalah cetakan bewarna
perak pada kartu ucapan, bingkai kaca mata, peralatan yang mengkilap, dan
perabot perak. Ia tidak dapat menyatakan mengapa objek objek tersebut
merupakan sumber kemungkinan kontaminasi.
Untuk mencoba mengurangi rasa tidak nyamannya, Bernice melakukan berbagai
ritual kompulsif yang menghabiskan hampir seluruh waktunya.pagi hari ia
menghabiskan waktu 3 hingga 4 jam di kamar mandi, berulang kali mandi. Di
antara waktu mandi ia mengelupas lapisan luar sabun mandinya sehingga
sepenuhnya bebas dari kuman. Waktu makan juga berlangsung selama berjamjam, seiring Bernice melakukan ritualnya makan tiga suap makana. Pada satu
waktu, engunyah setiap suapan 300 kali. Langkah ini dimaksudkan untuk secara
ajaib menghilangkan kontaminasi pada makanannya. Suami Bernice kadangkala
bahkan terlibat dalam upacara makn tersebut, mengocok teko teh dan sayuran
beku di atas kepala Bernice untuk menghilangkan kuman. Ritual yang dilakukan
Bernice dan ketakutannya terhadap kontaminasi telah merendahkan nilai
kehidupannya sehingga hampir tiap melakukan apapun selain itu. Ia tidak keluar
rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau bahkan berbicara melalui
telepon
Prevalensi sepanjang hidup gangguan obsesif kompulsif berkira 2,5 persen dan sedikit
lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki laki ( Karno & Golding ,
1991; Karno dkk., 1988; Stein dkk., 1997 ). Usia onset gangguan ini tampaknya bimodal,
yaitu terjadi sebelum usia sepuluh tahun atau pada akhir masa remaja atau awal masa
dewasa ( Conceicao do Rasario Campos dkk., 2001 ). Gangguan ini juga dilaporkan
pada anak anak berusia dua tahun ( Rapoport, Swedo, & Leonard, 1992 ). Di antara kasus
kasus terjadinya pada usia yang lebih dewasa, GOK sering kali dialami setelah kejadian
yang penuh stress, seperti kehamilan, melhirkan, konflik keluarga, atau kesulitan
dipekerjaan ( Kringlen, 1970 ).

Kemunculan pada usia muda lebih banyak terjadi pada laki laki dan berkaitan dengan
kompulsi membersihkan ( Noshirvani dkk., 1991 ). Dalam suatu episode depresi, para
pasien kadang kadang mengalami gangguan obsesif kompulsif dan depresi yang
signifikan sering di temukan pada pasien obsesif-kompulsif ( karno dkk., 1988; Rachman
& Hodgson, 1980). Gangguan obsesif kompulsif juga menunjukkan komorbiditas
dengan gangguan anxietas lain, terutama dengan gangguan panik dan fobia (Austin dkk.,
1990), dan dengan berbagai gangguan kepribadian ( Baer dkk ., 1990; Mavissikalian ,
Hammen, & Jones, 1990).
Obsesi adalah pikiran, impuls,dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul
dengan sendirinya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak
selalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. Bila banyak diantara kita yang
mungkin memiliki pengalaman singkat yang sama, individu yang obsesif, seperti kasus
Bernice di atas, mengalaminya dengan dorongan dan frekuensi semacam itu sehingga
mengganggu keberfungsian normal. Secara klinis, obsesi yang paling banyak terjadi
berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi, ketakutan mengekspresikan implus
seksual atau agresif, dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh (Jenike, Baer, &
Minichiello, 1986). Obsesi juga dapat berupa keragu- raguan ekstrem, prokrastinasi, dan
ketidaktegasan.
Dalam beberapa pikiran obsesif sama dengan kekhawatiran yang menjadi ciri gangguan
anxietas menyeluruh. Gangguan ini penuh bagaimana jika - kekhawatiran berulang
yang berlebihan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa negative yang tidak mungkin.
Perbedaan diantara kedua gangguan tersebut biasanya dalah para penderita OCD
mengalami kekhawaturan mereka sebagai ego alien atau ego distonik , yaitu mereka
menganggap pikiran tersebut sebagai sesuatu yang dimasukkan dari luar diri dan sangat
tidak masuk akal. Secara kontras, penderita GAD mampu menyusun argument logis yang
masuk akal tentang kekhawatiran yang mereka rasakan. Pada akhirnya, jika anak saya
pulang terlambat dari sekolah, ada kemungkinan bahwa ia di culik. Secara alternatif, bila
pikiran obsesif sangat diyakini oleh seseorang sebagai suatu kabenaran ( sebagaimana
terjadi pada sekitar 5 persen kasus), dan jika tidak terdapat perilaku kompulsif,
kemungkinan seseorang mengalami gangguan delusional atau bahkan mungkin
skizofrenia (lihat bab II untuk penjelasan rinci mengenai gangguan psikotik ini) (Elsen
dkk., 1998).
Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental repetitif yang mana seseorang merasa
didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang
disebabkan pikiran pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana.
Aktivitas tersebut tidak berhubungan secara realistis dengan tujuan yang ada jelas
berlebihan. Sebagai contoh, Bernice tidak perlu mengunyah setiap suap makanan
sebanyak 300 kali, individu yang terus menerus mengulang beberapa tindakan takut
terhadap konsekuensi mengerikan yang terjadi jika tindakan tersebut tidak
dilakukan.frekuensi pengulangan suatu tindakan, fisik atau mental, dapat luar biasa
tinggi. Konpulsi yang umum dilaporkan mencakup hal-hal berikut;
Mengupayakan kebersihan dan keteraturan, kadang kala melalui upacara rumit yang
memakan waktu berjam-jamdan bahkan sepanjang hari;
Menghindari objek tertentu, seperti menghindari segala sesuatu yang bewarna coklat;
Melakukan peraktik-peraktik repetitif, magis, dan protektif, seperti menghitung,
mengucapkan angka tertentu, atau menyentuh semacam jimat atau bagia tubuh
tertentu;
Mengecek sebanyak tujuh atau delapan kali untuk memastikan bahwa tindakan yang
telah dilakukan benar-benar telah dilakukan, contohnya, lampu, pemantik kompor,
atau katup telah dimatikan, jendela telah ditutup, pintu telah dikunci;

Melakukan suatu tindakan tertentu, seperti makan dengan sangat lambat.


Kita sering kali mendengar orang-orang digambarkan sebagai penjudi kompulsif, pelahap
makanan kompulsif, dan peminum kompulsif.banyak individu yang dapat saja
menuturkan memiliki dorongan yang tidak dapat ditahan untuk berjudi, makan dan
minum alkohol, namun perilaku semacam itu secara klinis tidak dianggap sebagai suatu
kompulsi karena sering kali dilakukan dengan perasaan senang. Kompulsi yang
sebenarnya sering dianggap oleh pelaku sebagai sesuatu yang tidak berasaldari diri (ego
distonik). Stern dan Cobb (1978) menemukan bahwa 78 persen dari sampel individu
kompulsif memandang ritual mereka senagai cukup bodoh atau aneh walaupun mereka
tidak mampu menghentikannya.
Konsekuensi yang sering terjadi pada gangguan obsesif-kompulsif adalah efek negatif
terhadap hubungan dengan orang lain, terutama anggota keluarga. Orang orang yang
terbebani kebutuhan yang tidak dapat ditahan untuk mencuci tangan setiap sepuluh menit,
atau menyentuh setiap pegangan pintu yang mereka lalui, atau menghitung setiap keeping
keramik dikamar mandikemungkinan menimbulkan kekhawatiran dan bahkan kemarahan
pada pasangan, anak-anak, teman-teman,bahkan rekan-rekan kerja. Dan perasaan
antagonistik yang dialami oleh orang orang dekat tersebut kemungkinan bercampur
dengan rasa masalah karena pada tingkat tertentu mereka memahami bahwa orang
tersebut benar benar tidak dapat memahami dirinyauntuk melakukan hal - hal yang tidak
masuk akal tersebut.
Efek yang tidak dikehendaki pada orang lain, pada akhirnya, akan menambah
konsekuensi nagatif, menimbulkan perasaan depresi dan kecemasan menyeluruh pada
penderita obsesif-kompulsif dan menjadi awal deteriosasi yang lebih buruk dalam
hubungan pribadi. Karena alas an itu para terapis keluarga( Hafner, 1982; Hafner dkk.,
1981) berpendapat bahwagangguan obsesif kompulsif kadangkala tertanam dalam
ketegangan perkawinan dan pada kenyataannya mengganti konflik terbuka dalam
perkawinan. Hipotesis spekulatif ini memperingatkan para terapis untuk
mempertimbangkan terapi pasangan dan juga terapi individual.

Etiologi Gangguan Obsesif Kompulsif


Kita beralih ke pembahasan mengenai pandangan psikoanalisis, behavioral, kognitif, dan
biologis terhadap etiologi gangguan obsesif kompulsif.
Teori Psikoanalisis. Dalam teori psikoanalisis, obsesi dan kompulsi dipandang sebagai
hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang
tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan
kemudian terfiksasi pada tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap
mencerminkan hasil perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan; kadangkala insting
agresif id mendominasi, kadangkala mekanisme pertahanan yang mendominasi. Sebagai
contoh, ketika pikiran obsesif untuk membunuh muncul, saat itu dorongan id
mendominasi. Namun demikian, lebih sering simtom-simtom yang muncul
mencerminkan bekerjanya salah satu mekanisme pertahanan yang hanya separuh
berhasil. Sebagai contoh, seorang yang terfiksasi pada tahap anal dapat, melalui formasi
reaksi, menahan dorongan untuk berkotor-kotor dan secara konpulsif menjadi rapi ,
bersih dan teratur.
Alfred Adler (1931) memandang ganguan obsesif kompulsif sebagai akibat dari rasa
tidak kompeten. Dia percaya bahwa ketika anak-anak tidak didorong untuk
mengembangkan suatu perasaan kompeten oleh orang tua yang terlalu memanjakan atau
sangat dominan, mereka mengalami komfleks inferioritas dan secara tidak sadar dapat
melakukan ritual kompulsif untuk menciptakan suatu wilayah dimana mereka dapat
menggunakan kendali dan merasa terampil. Adler berpendapatbahwa tindakan kompulsif

memungkinkan seseorang sangat terampil dalam suatu hal, bahkan jika suatu hal itu
hanya berupa posisi menulis di meja.
Teori Behavioral dan Kognitif. Teori behavioral menganggap kompulsif sebagai perilak
yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut (Mayer & Chesser,1970). Sebagai
contoh, mencuci tangan secara kompulsif dipandang sebagai respons-pelarian operant
yang mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh
kotoran dan kuman. Sejalan dengan itu, pengecekan secara kompulsif dapat mengurangi
kecemasan terhadap bencana apapun yang diantisipasi pasien jika ritual pengecekan
tersebut tidak dilakukan. Kecemasan sebagai mana diukur melalui self-riport (Hidgson &
Rachman, 1972) dan respons-respons psikofisiologis (Carr,1971) memang dapat
dikurangi dengan perilaku kompulsif semacam itu. Dalam kerangka kerja ini, tindakan
kompulsif sangat sering muncul karena stimuli yang menimbulkan kecemasan sulit
disadari. Sebagai cntoh, sulit untuk mengetahui kapan kuman tersebut telah dihilangkan
oleh ritual pembersihan ( Mineka & Zimbarg, 1996).
Pemikiran lain mengenai pengecekan secara kompulsif adalah bahwa hal itu disebabkan
oleh defisit memori. Ketidak mampuan untuk mengingat suatu tindakan secara akurat
(seperti mematikan kompor) atau membedakan antara perilaku actual dan perilaku yang
dibayangkan (mungkin saya berpikir telah mematikan kompor)dapat menyebabkan
seseorang berulang kali melakukan pengecekan. Namun demikian, sebagian besar studi
menemukan bahwa penderita OCD tidak menunjukkan defisit memori. Sebagai contoh,
salah satu studi membandingkan pasien penderita OCD, gangguan panik, dan orangorang normal pada tes mengenai informasi umum tidak ada perbedaan diantara tiga
kelompok dalam jumlah jawaban benar. Namun demikian, para pasien penderita OCD
kurang yakin jawaban mereka dibanding dengan kelompok normal (Dar dkk., 2000).
Dengan demikian, bila memori relevan dengan OCD, tampaknya hanya merupakan
masalah keyakinan terhadap memori seseorang dan bukan memori itu sendiri.
Bagaimana kita menjelaskan pikiran obsesif? Obsesi pasien penderita gangguan obsesif
kompulsif biasanya membuat mereka cemas( Rabavilas & Bouloughouris, 1974 ), sama
halnya dengan pikiran yang agak mengganggu pada orang-orang normal tentang stimuli
yang penuh stress, misalnya film yang menakutkan(Horowitz,1975). Sebagaimana
disampaikan sebelumnya, sebagian besar kadang-kadang orang memiliki pemikiran yang
tidak diinginkan yang memiliki kesamaan isi dengan obsesi (Rachman&desilva,1978).
Pemikiran yang tidak menyenangkan ini bertambah ketika seseorang berada dalam
kondisi stress(parkirson&Rachman,1981). Individu normal dapat menoleransi atau
menghapus kognisi tersebut. Namun, bagi individu yang menderita gangguan obsesi
kompulsif, pikiran OCD juga dapat dipicu oleh keyakinan bahwa memikirkan tentang
kejadian yang berpotensi tidak menyenangkan membuat kejadian tersebut lebih besar
kemungkinannya untuk benar-benar terjadi (Rachman, 1997). Orang-orang yang
menderita gangguan obsesif kompulsif juga terungkap mengalami kesulitan untuk
mengabaikan stimuli yang dapat berkontribusi pada berbagai kesulitan mereka (Clayton,
Richards, & Edwards,1999 ).
Orang-orang yang menderita gangguan obsesif kompulsif secara aktif mungkin mencoba
menekan pikiran-pikiran yang mengganggu tersebut, namun sering kali dengan
konsekuensi yang tidak mengenakkan. Wegner dkk. (1987,1991)Mempelajari apa yang
terjadi ketika ornag diminta untuk menekan suatu pikiran. Dua kelompok mahasiswa
diminta untuk berpikir tentang seekor beruang putih atau untuk tidak berpikir tentangnya.
Satu kelompok berpikir tentang beruang putih kemudian diminta untuk tidak
memikirkannya; kelompok lain melakukan hal sebaliknya. Pikiran diukur dengan
meminta para peserta mengatakan pikiran mereka dan juga dengan meminta mereka
membunyikan bel setiap kali mereka berpikir tentang beruang putih.

Dua penemuan menjadi catatan khusus. Pertama, upaya untuk tidak berpikir tentang
beruang putih tidak sepenuhnya berhasil. Kedua, para mahasiswa yang awalnya dilarang
memikirkan tentang beruang putih memiliki pikiran tentang hal itu setelah larangan
tersebut berakhir. Dengan demikian, mencoba menghilangkan suatu pikiran dapat
memberikan efek paradoksial yaitu memunculkan kekhawatiran tentangnya. Terlebih
lagi, upaya untuk menekan pikiran yang tidak menyenangkan biasanya berhubungan
dengan kondisi emosianal intens, menyebabkan hubungan kuat antara pikiran yang
ditekan dan emosi. Setelah melakukan banyak upaya untuk menekan suatu emosi kuat
dapat memicu pikiran tersebut untuk kembali, disertai peningkatan mood negative
(Wenzlaff, Wegner, & Klein, 1991). Akibatnya adalah meningkatnya kecemasan.
Penjelasan kognitif mengenai OCD sama dengan penjelasan Adler yang dibahas
sebelumnya. Dihipotesiskan bahwa OCD (sekurang-kurangnya perilaku kompulsif)
didorong oleh kebutuhan yang tidak masuk akal untuk merasa tidak kompeten, bahkan
sempurna. Jika tidak demikian, orang yang bersangkutan merasa tidak dihargai,( Mc
fall,&Wollersheim, 1979). Dunia adalah tempat yang penuh ancaman dan jika seseorang
merasa memiliki keterbatasan kemampuan untuk menghadapi bahaya yang
dipersepsinya, ritual magis mungkin menjadi satu-satunya cara untuk mencapai rasa
memiliki kendali dan kompeten. Yeori kognitif lain menekankan pada asumsi-asumsi
yang mendasari (sama dengan pendangan Ellis, cf, hlm.55) misalnya keyakinan bahwa
orang harus mampu mengendalikan pikiran-pikirannya( salkovskis,1985 ).
Faktor Biologis. Encephalitis, cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan dengan
terjadinya gangguan obsesif-kompulsif (Jenike, 1986). Ketertarikan dipokuskan pada dua
area otak yang dapat terpengaruh oleh trauma semacam itu, yaitu lobus frontalis dan
ganglia basalis, serangkaian nuklei sub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus
pallidus, dan amygdala (lihat gambar 6.1). studi pemindaian dengan PET menunjukkan
peningkatan aktivasi pada lobus frontalis pasien OCD, mungkin mencerminkan
kekhawatiran mereka yang berlebihan terhadap pikiran mereka sendiri. Focus pada
ganglia basalis, suatu system yang berhubungan dengan pengendalian perilaku motorik,
disebabkan oleh relevansinya dengan kompulsi dan juga dengan hubungan antara OCD
dan sindromTourette. Sindrom Taurette ditandai oleh tics motorik dan vokal dan
dikaitkan dengan disfungsi ganglia basalis. Pasien yang menderita Tourette sering kali
juga menderita OCP (Sheppard dkk.,1999).
Untuk memberikan bukti yang mendukung pentingnya dua bagian otak yang disebut
sebelumnya, Rauch dkk (1994) menstimulasi simtom-simtom OCD dengan memberikan
stimulasi yang dipilih secara khusus pada para pasien, seperti sarung tangan yang kotor
oleh sampah atau pintu yang tidak dikunci. Aliran darah diotak meningkat pada daerah
frontalis dan ke beberapa ganglia basalis. Para pasien penderita OCD juga ditemukan
memiliki putamen yang lebih kecil dibanting kelompok control (Rosenberg dkk.,1997).
Penelitian terhadap factor-faktor neurokimia memfokuskan pada serotonim. Sebagaimana
akan kami bahas nanti, antidepresan yang menghambat pengembalian seretonim terbukti
merupakan terapi yang bermamfaat bagi OCD (a.l., Pigott dkk.,1990). Interpretasi umum
terhadap penemuan ini adalah karena obat-obatan memfasilitasi transmisi sinaptik dalam
neuron serotonim, OCD dikaitkan dengan tingkat serotonim yang rendah atau
berkurangnya jumlah reseptor. Namun demikian, pengujian terhadap pemikiran ini tidak
memberikan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, penelitian terhadap obat-obatan yang
menstimulasi reseptor seretonim mengindikasikan bahwa obat-obatan tersebut dapat
memperarah simtom-simtom OCD, bukan menguranginya (Bastani, Nash, & Maltzer,
1990; Hollander dkk., 1992).
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah OCD disebabkan oleh suatu sistem
neurotransmiter yang berpasangan dengan serotonim; bila dipengaruhi antidepresen,

sistem serotonim menyebabkan perubahan pada sistem lain tersebut, yang meripakan
lokasi sebanarnya dari efek terapeutik (barr dkk.,1994). Dopamine dan asetikolin
diperkirakan merupakan transmiter yang berpasangan dengan serotonim dan memiliki
peran yang lebih penting dalam GOk (Rauch&Jenike, 1993).
Terdapat beberapa bukti atas konstribusi genetik pada OCD. Tinhkat kejadian gangguan
anxietas yang tinggi muncul pada kerabat tingkat pertama pasien penderita OCD (Mc
Keon & Murray, 1987). Prevalensi OCD juga lebih tinggi pada kerabat tingkat pertama
kasus-kasus OCD dibandingkan pada kerabat kelompok kontrol (Nestadt dkk.,2000).
Dengan demikian, merupakan suatu kemungkinan bahwa factor-faktor biologis memicu
terjadinya gangguan ini pada sementara orang.

Terapi Gangguan Obsesif-Kompulsif


Gangguan obsesif-kompulsif merupakan salah satu masalah psikologis yang paling
ditangani. Sebagai sontoh, studi tindak lanjut yang berlangsung selama 40 tahun
menunjukkan bahwa hanya dua puluh persen pasien yang sembuh total (Skoog & Skoog,
1999). Aliran terapeutik utama memiliki dampak yang berbeda terhadap gangguan yang
sulit ini. Namun, terlepas dari jenis dan cara penanganan, para pasien OCD jarang
memperoleh kesembuhan. Walau berbagai macam intervensi dapat mengakibatkan
perbaikan signifikan, kecendrungan obsesif-kompulsif biasanya tetapada hingga satu titik
tertentu, walaupun dalam kontrol yang lebih besar dan dengan penampakan yang lebih
sedikit dalam gaya hidup pasien (White & Cole, 1990).
Terapi Psikoanalisia. Terapi psikoanalisis untuk obsesi dan kompulsi mirip dengan untuk
fobia dan kecemasan menyeluruh, yaitu mengangkat represi dan member jalan pada
pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang
mengganggu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan , serta,
keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik, dan prosedur
psikoanalisis serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan
ini( Esman,1989).
Kelemahan semacam itu memicu beberapa ahli klinis analisis untuk melakukan
pendekatan behavioral yang lebih aktif bagi gangguan ini dan mengguanakan
pemahaman anlisislebih sebagai cara untuk meningkatkan kesesuaian dengan prosedur
behavioral (Jenike,1990). Salah satu pandangan psikoanalisis mengemukakan hipotesis
bahwa keragu-raguan yang tampak pada sebagian besar penderita obsesif-kompulsif
berasal dari kebutuhan terhadap kepastian benarnya suatu tindakan sebelum tindakan
tersebut dilakukan ( Salzman, 1985). Dengan demikian, pasien harus belajar untuk
menoleransi ketidak pastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang seirng mereka
menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti atau dapat dikendalikan secara
mutlak dalam hidup ini. Fokus akhir dalam terapi tetap berupa insight atas berbagai
penyebab simtom yang tidak disadari.
Pendekatan Behavioral : Pemaparan dan Pencegahan Ritual (ERP-Exposure and
ritual prevention). Pendekatan behavioral yang paling banyak digunakan dan diterima
secara umum untuk ritual kompulsif, yang dipelopori di inggris oleh Victor Meyer
(1966), mengombinasikan pemaparan dengan pencegahan respons (ERP) (Rachman &
Hodgson, 1980). Pendekat tersebut baru-baru ini berganti nama yaitu pemaparan dan
pencerahan ritual untuk menggarisbawahi keyakinan magis yang dimiliki para penderita
OCD bahwa perilaku kompulsif mereka akan mencegah terjadinya hal-hal yang
menakutkan. Dalam metode ini (kadang disebut flooding) seseorang memaparkan dirinya
pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif- seperti memegang piring kotorkemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukannya yaitu
mencuci tangan. Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negatif

karena mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa
dalam lingkungan, seperti debu dikursi.mencegah seseorang melakukan ritual akan
memaparkannya pada stimulus yang menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan
terhapusnya kecemasan tersebut. Kadang pemaparan dan pencegahan ritual ini dilakukan
melalui imajinasi, terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata,
contohnya, bila seseorang percaya bahwa ia akan terbakar dineraka jika gagal melakukan
ritual tertentu.
Penelitian terkontrol (a.l., Duggan, Marks & Richards, 1993; Foa, Steketee, & Ozarow,
1985; Stanlay & Turner, 1995) menunjukkan bahwa terapi ini cukup efektif bagi lebih
separuh pasien penderita OCD, termasuk anak-anak dan remaja (Franklin & Foa, 1998;
March, 1995). Dalam sample asli Meyer yang terdiri dari 15 pasien, hanya dua yang
mengalami kekambuhan dalam studi tindak lanjut selama lima tahun (Meyer & Levy,
1973). Dalam studi baru-baru ini oleh Edna Foa dan rekan-rekannya, 86% pasien yang
menyelesaikan terapi dinilai telah mengalami perbaikan hingga tingkat yang signifikan
secara klinis(Franklin, Abramovitz, Kozak, Levitt & Foa, 2000). Jika depresi merupakan
bagian dari gambaran klinis, seperti terjadi pada hampir separuh penderita OCD, terapi
behavioral yang terlalu keras ini sangat kurang efektif (Abramovitz, Franklin, Street.
Kozak,& Foa ,2000).HAL INI Tidak mengherankan, mengingat tingginya upaya dan
komitmen yang dituntut dari pasien yang menjalani terapi ERP.
Kadangkala control terhadap ritual obsesif-kompulsif hanya mungkin dilakukan dirumah
sakit. Kenyataannya, dalam laporan pertama tentang ERP, Meyer(1966) menciptakan
lingkungan terkontrol dirumah sakit Middlesex di London untuk menangani OCD. Para
anggota staf dilatih secara khusus untuk membatasi kesempatan pasien melakukan
tindakan ritualistic. Pelaksanaan terapi dirumah membutuhkan keterlibatan seluruh
anggota keluarga. Menyiapkan mereka untuk pekerjaan tersebut bukanlah tugas yang
mudah, memerlukan keterampilan dan kepedulian terlepas dari apapun teknik behavioral
spesifik yang diterapkan. Terdapat bukti-bukti awal bahwa melibatkan keluarga dalam
ERP menambah efektivitas terapi (Mehta,1990). Merupakan praktik klinis umum dan,
menurut pendapat kami, merupakan sesuatu yang wajar untuk memasukkan bantuan
dan dukungan keluarga dalam prosedur jenis terapi ini ( Foa & Franklin, 2001).
Dalam jangka pendek, menahan diri untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukan
merupakan sesuatu yang sulit dan sangat tidak menyenangkan bagi klien. ( jika pembaca
ingin mengetahui bagaimana rasanya menahan diri untuk tidak melakukan ritual
kompulsif, cobalah menunda menggaruk rasa gatal selama satu atau dua menit). Hal itu
juga biasanya mencakup pemaparan selama lebih dari 90 menit selama 15 hingga 20 sesi
dalam tiga minggu, dengan instruksi untuk juga berlatih diantara pelaksanaan sesi. Bila
terapi Meyer sering kali mencakup pemaksaan secara fisik agar suatu ritual tidak
dilakukan, praktik-praktik kontemporer, yang biasanya dilakukan diluar rumah sakit,
menekankan dorongan dan dukungan dari terapis dan orang-orang yang dekat dengan
pasien (Foa & Franklin, 2001). Kadangkal pemaparan nyata diberikan untuk melengkapi
pemaparan imaginal, seperti dalam terapi Meyer, namun tidak jelas apakah hal tersebut
meningkatkan efektivitas pemaparan nyata ( DeAraujo, Ito, Marks,& Deale, 1995) hingga
25% pasien menolak terapi ( Foa dkk., 1985). Penolakan untuk menjalani terapi dan
berhenti ditengah jalan merupakan salah satu masalah yang diakui secara umum dalam
banyak intervensi bagi OCD ( Jenike & Rauch, 1994). Para pasien GOK cenderung
melakukan prokrastinasi, takut terhadap perubahan, dan sangat khawatir orang lain
mengontrol mereka karakteristik yang dapat diperkirakan akan menciptakan masalahmasalah khusus terhadap pendekatan manipulatif seperti terapi prilaku.
Terapi Perilaku Rasional Emotif. Beberapa bukti mendukung efektivitas terapi perilaku
rasional emotif untuk mengurangi OCD (a.l., Emmelkamp & Beens, 1991). Pemikirannya
dalah membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segal sesuatu mutlak harus

berjalan seperti yang mereka inginkan atau bahwa segala tindakan yang mereka lakukan
harus mutlak memberikan hasil sempurna. ( perhatikan persamaan dengan salah satu
pendekatan psikoanalisis yang telah dibahas sebelumnya). Terapi kognitif dari Beck juga
dapat bermamfaat ( Van Oppen dkk.,1995). Dalam pendekatan ini , pasien didorong
untuk menguji ketakutan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika
mereka melakukan ritul kompulsif. Jelaslah, bagian tak terpisahkan dalam terapi kognitif
semacam itu adalah pemaparan dan pencegahan respons ( atau ritual ), karena untuk
mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan memberikan konsekuensi
yang memberikan pasien harus memahami diri untuk tidak melakukan ritual tersebut.
Penanganan Biologis. Obat-obatan yang meningkatkan level seretonim, seperti SSRI
dan beberapa tricyclic, merupakan penanganan biologis yang paling sering diberikan
kepada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Kedua kelompok obat-obatan
tersebut telah memberikan hasil yang menguntungkan, walaupun perlu dicatat bahwa
suatu kajian terhadap penanganan farmakologis oleh dua psikiater merendahkan
pentingnya ERP sebagai pendekatan baris pertama (Rauch & Jenike, 1998). Beberapa
studi menemukan anti depresen tricyclic kurang efektif dibandingkan ERP ( Balkom
dkk., 1994), dan suatu studi terhadap antidepseren menunjukkan perbaikan dalam ritual
kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita depresi ( Marks dkk., 1980).
Dalam studi lain, mamfaat antidepresen tricyclic bagi OCD ternyata hanya berjangka
pendek; penghentian obat ini memicu 90 persen tingkat kekambuhan, jauh lebih tinggi
dibandingkan pada pencegahan respon (Pato dkk., 1988). Diatas segalanya, gambaran
mengenai efektivitas antidepresen tricyclic tidak pasti.
Penelitian menunjukkan bahwa penghambat pengemalian seretonim, seperti fluoxetime
(Prozac) menghasilkan perbaikan lebih besar bagi pasien OCD dibanding placebo atau
tricyclic (Kroning dkk., 1999). Namun demikian, keuntungan yang dihasilkan kecil dan
simtom-simtom akan terjadi kembali jika pemakaian obat dihentikan (Franklin & Foa,
1998; Mc Dougle dkk.,1994). Tetap menggunakan obat-onatan memang mengurangi
resiko kekambuhan (Koran dkk.,2002). Tidak jelas apakah obat tersebut berhasil secara
spesifik pada OCD atau pada depresi terkait (Barr dkk., 1994; Tollefson dkk., 1994).
Semua obat antidepresan memiliki efek samping yang tidak mendorong sebagian orang
untuk tetap menggunakannya; beberapa contoh, termasuk rasa mual, insomnia,agitasi
,mengganggu keberfungsian seksual, dan bahkan beberapa efek negatif bagi jantung dan
system peredaran darah (Rauch & Jenike, 1998).
Penilaian teknologi dalam pengukuran berbagai aspek aktivitas otak (lihat hal 131- 135)
mendorong para peneliti untuk mencari perubahan otak yang disebabkan oleh intervensi
terapiutik. Salah satu studi yang pantas dicatat membandingkan fluoxetime (Prozac)
dengan pemaparan nyata plus pencegahan respons dan menemukan bahwa perbaikan
kondisi OCD yang dihasilkan oleh kedua terapi tersebut diasosiasikan dengan perubahan
yang sama dalam fungsi otak,yaitu, berkurangnya aktivitas metabolik dan caudate
nucleus kanan, dimana aktivitas yang berlebihan dikaitkan dengan OCD (Baxter dkk.,
1992). Hanya para pasien yang ecara klinismengalami perbaikan kondisi menunjukkan
perubahan aktivitas otak tersebut sebagaimanaterukur oleh pemindaian PET. Penemuan
semacam itu menunjukkan bahwa berbagai terapi yang benar-benar berbeda dapat
berhasil karena alasan yang sama, karena berbagai terapi tersebut menggunakan cara
yang berbeda untuk memengaruhi faktor-faktor yang sama pada otak. Perlu dicatat dalam
studi Baxter dkk, para pasien terapi obat masih menerima pengobatan selama pemindaian
PET pasca terapi, sedangkan pasien terapi perilaku tidak dan tidak dapat, dalam arti
apapun, berada dalam terapi, yaitu menjalani pencegahan respons aktif terhadap ritual.
Rasa putus asa para pekerja kesehatan mental, yang hanya bias dilampaui oleh
keputusasaan para pasien, menjadi sebab jarangnya digunakan pembedahan psikologi
dalam menangani obsesi dan kompulsi. Penggunaan prosedur ini, cingulatomi, termasuk

menghancurkan dua hingga tiga sentimeter bagian putih dalam cingulum, satu bagian
didekat corpus callosum. Walaupun dilaporkan cukup menghasilkan perbaikan klinis dan
mamfaat penanganan dapat dipertahankan (Dougherty dkk., 2002, Irle dkk., 1998),
intervensi ini secara benar dipandang sebagai penanganan jalan terakhir mengingat
sifatnya yang permanen serta resiko pembedahan psikologi dan pemahaman yang sangat
kurang terhadap cara kerjanya.

5. Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic Stres Disorder PTSD)


Seorang penyanyi berusia 27 tahun dirujuk oleh seorang teman untuk
menjalani evaluasi. Delapan bulan sebelumnya, kekasihnya telah menjalani
korban penusukan hingga meninggal dalam suatu peristiwa penodongan,
sedangkan dia dapat menyelamatkan diri tanpa terluka sedikitpun. Setelah
melewati masa berkabung, tampaknya ia telah kembali normal. Dia
membantu penyelidikan polisi dan secara umum dinilai sebagai saksi ideal.
Namun demikian, tidak lama setelah penangkapan tersangka pembunuhan
kekasihnya, pasien mulai berulang kali mengalami mimpi buruk dan ingatan
yang sangat jelas tentang malam terjadinya kejahatan tersebut. Dalam
mimpi-mimpinya dia sering melihat dirinya dikejar oleh orang yang
mengancam dan tertutup wajahnya. Siang hari, terutama ketika berjalan
sendirian, dia sering kali terhanyut dalam lamunan sehingga lupa kemana
dia akan pergi. Teman-temannya mengamati bahwa dia mulai mudah terkejut
dan tampaknya selalu khawatir akan sesuatu. Dia meninggalkan uang
kembalian atau barang belanjaannya di toko atau ketika menunggu tidak
dapat mengingat apa yang akan dibelinya. Tidurnya mulai gelisah dan
pekerjaannya terganggu karena tidak dapat berkonsentrasi. Pelan-pelan dia
mulai menarik diri dari teman-temannya dan mulai menghindari
pekerjaannya. Dia merasa bersalah atas pembunuhan kekasihnya, walaupun
tidak tahu secara pasti mengapa demikian. (Spitzer dkk., 1981, hlm. 17)
Gangguan stress pascatrauma (Postraumatis Stress Disorder PTSD), dimasukkan
sebagai diagnosis dalam DSM-III, mencakup respons ekstrem terhadap suatu stressor
berat, termasuk meningkatkan kecemasan, penghindaran stimuli yang diasosiasikan
dengan trauma dan tumpulnya respons emosional. Walaupun selama bertahun-tahun telah
diketahui bahwa stress perang dapat menimbulkan efek negative yang sangat kuat pada
para tentara, namun berakhirnya perang Vietnamlah yang mendorong diterimanya
diagnosis baru tersebut. Seperti halnya gangguan lain dalam DSM, PTSD ditentukan oleh
sekelompok simtom. Namun, tidak seperti definisi gangguan psikologis lain, definisi
PTSD mencakup bagian dari asumsi etiologinya, yaitu suati kejadian atau beberapa
kejadian traumatis yang dialami atau disaksikan secara langsung oleh seseorang berupa
kematian atau ancaman kematian, atau cedera serius, atau ancaman terhadap integritas
fisik atau diri seseorang. Kejadian tersebut harus menciptakan ketakutan ekstrem, horror,
atau rasa tidak berdaya.
Dalam edisi-edisi DSM sebelumnya kejadadian traumatis didefinisikan sebagai di luar
rentang pengalaman manusia. Definisi ini sangat terbatas karena akan menggugurkan
diagnosis PTSD setelah kejadian seperti kecelakaan mobil atau kematian orang yang
dicintai. Definisi lebih luas yang digunakan saat ini mungkin juga sangat terbatas karena
difokuskan pada karakteristik objektif peristiwa dan bukan pada makna subjektifnya
(King dkk., 1995)
Terdapat perbedaan antara gangguan stress pascatrauma dan gangguan stress akut, suatu
diagnosis yang pertama kali muncul dalam DSM-IV. Hampir semua orang yang
mengalami trauma mengalami stress, erkadang hingga tingkat yang sangat berat. Hal itu
normal. Jika stressor menyebabkan kerusakan signifikan dalam keberfungsian social dan
pekerjaan selama kurang dari satu bulan, diagnosis yang ditegakkan adalah gangguan
stress akut. Jumlah oaring yang mengalami stress akut berbeda sesuai dengan tipe trauma
yang mereka alami. Dalam peristiwa pemerkosaan, angka penderitanya sangat tinggi,

lebih dari 90% (Rothbaum dkk., 1992). Trauma yang tidak seberat itu, seperti berada di
tengah penembakan missal atau mengalami kecelakaan bermotor, angka penderitanya
jauh lebih rendah, contohnya 13% pada kecelakaan bermotor (Bryant &Harvey, 1998;
Classen dkk., 1998). Walaupun beberapa orang dapat mengatasi gangguan stress akut
yang mereka alami, jumlah yang signifikan kemudian menderit aPTSD (Brewin dkk.,
1999). Dengan demikian, PTSD dapat dipertimbangkan sebagai reaksi negative terberat
terhadap stree (Ruscio & Keane 2002).
Dimasukanya stress berat dalam DSM sebagai factor penyebab signifikan PTSD
dimaksudkan untuk menunjukkan pengakuan resmi bahwa penyebab PTSD yang utama
adalah peristiwa yang terjadi, bukan yang bersangkutan. Terlepas dari penyimpulan
secara impulsive bahwa sesorang akan baik-baik saja seandainya ia terbuat dari material
yang lebih keras, dalam definisi ini pentingnya situasi yang menyebabkan trauma secara
resmi diakut (Haley, 1978). Namun, banyak orang yang menegalami kejadian traumatis,
tetapi tetapi tidak menderita PTSD. Sebagai contoh, dalam suatu dalam suatu studi, hanya
25% orang yang mengalami kejadian traumatis yang menyebabkan cidera fisik kemudian
menderita PTSD (Shalev dkk., 1996). Dengan demikian kejadian itu kejadian itu sendiri
tidak bisa menjadi penyebab tunggal PTSD. Penelitian dewasa ini telah mengarah pada
pencarian factor-faktor yang membedakan antara orang-orang yang menderita dan
tidakmenderita PTSD setelah mengalami stress berat.
Simtom-simtom PTSD dikategorikan menjadi 3 kelompok utama. Diagnosis dapat
ditegakkan jika simtom-simtom dalam tiap kategori berlangsung selama lebih dari satu
bulan.
1. Mengalami Kembali kejadian traumatis. Individu kerap teringat pula kejadian tersebut
danmengalami mimpi buruk tentang kejadian tersebut. Penderitaan emosional yang
mendalam ditimbulkan oleh stimuli yang menyimbolkan kejadian tersebut. Dalam suatu
konfirmasi laboraturium terhadap simtomini, tes Stroop diberikan kepada para veteran
perang Vietnam yang menderita maupun yang tidak menderita PTSD (McNally dkk.,
1990). Dalam tes ini para peserta melihat sekumpulan kata yang dicetak dengan warna
yang berbeda dan harus menyebutkan warna setiap kata secepat mungkin dan bukan
menyebutkan kata tersebut. Interferensi, yang diukur sebagai melambatnya waktu
respons, muncul karenamakna beberapa kata. Kata yang berasal yang berasal dari
beberapa kategori yang berbedanetrak (a.l., input), positif (a.l., cinta), gangguan
obsesif kompulsif (a.l., kuman), dan PTSD (a.l., kantong mata)digunakan dalam
studi ini. Para veteran yang menderita PTSD lebih lambat dibanding para veteran yang
tidak menderita PTSD lebih lambat dibanding veteran yang tidak menderita PTSD hanya
ketika pada kata-kata yang menyimbolkan PTSD. Efek yang sama juga terjadi pada
korban pemerkosaan (Foa dkk., 1991). Secara sama, para pasien penderita PTSD
menunjukkan ingatan yang lebih baik terhadap kata-kata yang berkaitan dengan trauma
yang dialami (Vrana, Roodman, & Beckhan, 1995).
Pentingnya mengalami kembali tidak dapat diremehkan karena kemungkinan
merupakan penyebab simtom-simtom kategori lain.
2. Beberapa teori PTSD membuat mengalami kembali sebagai cirri utama dengan
mengatribusikan gangguan tersebut pada ketidakmampuan untuk berhasil
mengintegrasikan kejadian traumatic ke dalam skema yang ada saat ini (keyakinan umum
seseorang terhadap dunia luar) (a.l., Foa, Zinberg, & Rothbaum, 1992; Horowitz, 1986).
3. Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau Mati rasa dalam
responsivitas. Orang yang bersangkutan berusaha menghindari untuk berpikir tentang
trauma atau manghadapi stimuli yang akan mengingatkan pada kejadian tersebut; dapat
terjadi amnesia terhadap kejadian tersebut. Mati rasa adalah menurunnya ketertarikan
pada orang lain, suatu rasa keterpisahan, dan ketidakmampuan untuk merasakan berbagai
emosi positif. Simtom-simtom ini tampaknya hamper kontradiktif dengan simtom-

simtom pada item1. Pada PTSD kenyataannya terdapat suatu fluktuasi; penderita
bergantian mengalami kembali & mati rasa.
4. Simtom-simtom peningkatan ketegangan. Simtom-simtom ini mencakup sulit tidur atau
mempertahankannya, sulit berkonsentrasi, waspada berlebihan, dan respons terkejut yang
berlebihan. Berbagai studi laboraturium menegaskan simtom-simtom klinis ini dengan
mendokumentasikan meningkatnya reaktivitas fisiolois pada pasien penderita PTSD
trhadap pencitraan pertempuran (a.l., Orr dkk, 1995) dan respons-respons terkejut yang
sangat tinggi (Shalev dkk., 2001).
Masalah lain yang sering dihubungkan dengan PTSD adalah gangguan anxeitas lain,
depresi, kemarahan , rasa bersalah, penyalahgunaan zat (mengobati diri sendiri untuk
meringankan distress), masalah perkawinan, kesehatan fisik yang rendah, disfungsi
seksual, dan hendaya dalam pekerjaan (Bremer dkk., 1996; Jacobsen, Southwick,
&Kosten, 2001; Zatzick dkk., 1997). Pikiran dan rencana untuk bunuh diri umum terjadi,
seperti juga insiden ledakan kekerasan dan masalak psikofisiologis yang behubugan
dengan stress, seperti sakit punggung bawah, sakit kepala, dan gangguan system
penceraan (Hobfoll dkk., 1991).
Menurut DSM, anak-anak dapat menderita PTSD,s erring kali merupakan respons karena
menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga atau mengalami penyiksaan fisik (Silva
dkk., 2000). Gambaran klinis PTSD pada anak-anak tampaknya berbeda dengan orang
dewasa. Gangguan tidur dengan mimpi buruk tentang monster umum terjadi,
sebagaimana juga perubahan perilaku. Sebagai contoh, seorang anak yang semula periang
menjadi pendiam dan menarik diri atau seorang anak yang smeula pendiam menjadi kasar
dan agresif. Ebberapa anak yang mengalami trauma mulai berpikir bahwa mereka tidak
aakn hidup mencapai usia dewasa. Beberapa anak kehilangan keterampilan
perkembangan yang sudah dikuasaim seperti berbicara atau menggunakan toilet.
Terakhir, anak-anak jauh lebih sulit berbicara tentang perasaan mereka dibanding orang
dewasa, suatu hal yang sangat penting untuk diingat bila terdapat kemungkinan
penyiksaan fisik atau seksual.
Tingkat prevalensi PTSD berkisar antara 1 hingga 3 persen dalam populasi mum AS
(Hlezer, Robins, & McEvoy, 2987), yang berarti lebih dari 2 juta orang. Bahkan jumlah
yang lebih besar menderita bentuk subsindromal PTSDD yang tidak cukup berat atau
cukup banyak untuk menegakkan diagnosis, namun cukup untuk menyebabkan
penderitaan dan kerusakan besar (Stein dkk., 1997). Angka kejadian PTSD sangat tinggi
(22 persen) pada suku Amerika pribumi di wilayah barat daya (Robin dkk., 1997).
Memiliki kejadian traumatis (Breslau dkk., 1998). Prevalensi bervariasi tergantung pada
beratnya trauma yang dialami; berkisar 3 persen pada penduduk sipil yang telah
mengalami serangn fisik, 20 persen pada orang-orang yang terluka di Vietnam, dan
berkisar 50 persen pada korban pemerkosaan dan orang-orang yang menjadi tawanan
perangdalm Perang Dunia II atau Perang Korea (Engdahl dkk., 1997 Rothbaum dkk.,
1992). Berdasarkan suatu survey telepon, ditetapkan bahwa 7 persen dariorang-orang
dewasa yang tinggal di sebelah jalan 110 di New York city (tepat di sebelah utara World
Trade Center) menuturkan simtom-simtom yang dapat didiagnosis PTSD menyusul
serangan eroris 11 September 2001. Presentase ini jauh lebih tinggi di antara orang-orang
yang tinggal lebih dekat dengan lokasi bencana di Manhattan bagian bawah (Galea dkk.,
2002). Trauma yang paling sering memiliki PTSD adalah kehilangan orang yang dicintai,
yaitu sekitar sepertiga dari seluruh kasus ((Breslau dkk., 1998).

Etiologi Gangguan Stress Pascatrauma


Penelitian dan teori mengenai penyebab PTSD berfokus pada factor-faktor risiko
terhadap gangguan tersebut dan juga pada factor-faktor psikologis dan biologis.

Faktor-Faktor Risiko. Terdapat beberapa factor risiko PTSD. Memiliki kejadian


traumatis yang dialami, predictor PTSD mencakup ancaman yang dirasakan terhadap
nyawa, berjenis kelamin perempuan, pemisahan dari orang tua di masa kecil, riwayat
gangguan dalam keluarga, berbagai pengalaman traumatis sebelumnya, dan gangguan
yang dialami sebelumnya (suatu gangguan snxietas atau depresi) (Breslau dkk., 1997,
1999; Ehlers, Malou, &Bryant, 1998; Nishith, Mechanic, & Resick, 2000, Stein, 1997)
memiliki inteligensi tinggi tampaknya menjadi factor protektif, mungkin karena hal itu di
asosiasikan dengan keterampilan coping yang lebih baik (Macklindkk., 1998).
Simtom-simtom disasosiatif (termasuk depresonalisasi, derealisasi, amnesia, dan
pengalaman keluar dari tubuh) pada saat trauma juga meningkatkan kemungkinan
terjadinya PTSD, seperti juga upaya menghapus ingatan trauma tersebut dari pikiran
seseorang (Ehlers, Mayou, & Bryant, 1998). Disasosiasi dapat memiliki peran dalam
menetapnya gangguan karena mencegah pasien menghadapi ingatan tentang trauma
tersebut. Sebuah studi yang meyakinkan mengenai disosiasi mengukur orang-orang yang
pernah diperkosa dua minggu setelah kejadian tersebut.
Perkembangan PTSD juga diasosiasikan dengan kecendrungan untuk bertanggungjawab
sendiri atas kegagalan dan untuk menghadapi stress dengan memfokuskan pada emosi
(Saya berharap dapat mengubah perasaan saya) dan bukan pada masalah itu sendiri
(Mikhliner &Solomon, 1988; Solomon, Mikulincev, &Flum, 1988). Secara umum,
menghadapi trauma dengan mencoba menghindari untuk berpikir tentang hal itu
dikaitkan dengan terjadinya PTSD (Sharkansky dkk., 2000). Rasa akan adanya komitmen
dan tujuan yang kuat membedakan para veteran Perang Teluk yang tidak menderita
PTSD dengan mereka yang menderita PTSD (Sutker dkk., 1995). Tingkat dukunagn
social yang tinggi juga mengurangi risiko PTSD pada anak-anak yang mengalami trauma
tentagn topan Andrew (Vernberg dkk., 1996).
Teori-teori Psikologis. Para teoris berasumsi bahwa PTSD terjadi karena pengondisian
klasik terhadap rasa takut (Firbank & Brown. 1987; Keane, Zimering, * Caddell, 1985).
PTSD merupakan contoh utama dalam teori dua factor mengenai avoidance learning
yang diajukan bertahun-tahun lalu oleh Mowrer (1947; lihat hlm. 55). Terdapat
sekumpulan bukti yang mendukung pandangan ini (Orr dkk., 2000) dan berkaitan dengan
teori-teori kognitif behavioral yang menekankan hilangnya kendali dan prediktibilitas
yang dirasakan orang-orang yang menderita PTSD (Chemtob dkk., 1998; Foa & Kozak,
1986).
Suatu teori Psikodinamika yang diajukan oleh Horowitz (1986, 1990) menyatakan bahwa
ingatan tentang kejadian traumatic munculk secara konstan dalam pikiran seseorang dan
sangat menyakitkan sehingga secara sadar mereka menspresinya (melalui distraksi
contohnya) atau merepresinya.
Teori-Teori Biologis. Penelitian pada orang kembar dan keluarga menunjukkan
kemungkinan diathesis genetic dalam PTSD (Hettem, Neale, & Kendler, 2001). Terlebih
lagi, trauma dapat mengaktifasi system noradrenerdik, meningkatkan level noreprinefin
sehingga membuat orang lebih mudah terkejut dan lebih cepat mengekspresikan emosi
dibandingkan kondisi normal. Konsisten dengan pandangan ini, adalah penemuan bahwa
level norepinefrin lebih tinggi pada pasien dan kilas balik pada 40 persen penderita
PTSD; tidak ada satupun dari peserta kelompok control yang mengalami hal semacam itu
(Southwick dkk., 1993). Terakhir terdapat bukti mengenai meingkatnya sensitivitas
reseptor-reseptor noradrenergic pada penderita PTSD (Bremner dkk., 1998).

Terapi Gangguan Stress Pascatrauma

Seperti halnya berbagai hal gangguan anxietas yang telah dibahas sejauh ini, penanganan
bagi PTSDterlepas dari orientasi teoritis terapismencakup pemaparan terhadap
stimuli yang menimbulkan ketakutan. Namun, dalam kasus PTSD didefinisikan sebagai
reaksi kecemasan terhadap kejadian traumatic yang dikenal, pemaparan dilakukan
terhadap kejadian asli yang menimbulkan ketakutan atau, lebih sering, terhadap deskripsi
verbal atau citra kejadian tersebut. Sebagaimana beru-beru ini diungkapkan oleh Keane
dan Barlow (2002), strategi umum ini dapat ditelusuri hingga ke Pierre Janet dan
Sigmund Freud dan telah memiliki beberapa bentuk selama abad terakhir.
Debriefing Stress Insiden Kritikal. Terdapat area spesialisasi yang sedang berlembang
kadangkala disebut traumatologi , kadangkala konseling duka cita, kadangkala debriefing
yang terdiri dari berbagai macam professional kesehatan mental (psikolog, psikiater,
pekerja social, dan konselor yang telah menjalani pelatihan professional minimal)
walaupun teknik-teknik yang mereka gunakan berbeda, terdapat persamaan dalam hal
kepercayaan yang telah lama dianut bahwa hal terbaik adalah mengintervensi sebanyak
mungkin korban selamat dalam 24 hingga 27 jam setelah terjadinya peristiwa traumatic,
tepat sebelum PTSSD memiliki kesempatan untuk berkembang, dan mendorong mereka
untuk mengkaji secara detail apa yang telah terjadi fdan mengkspresikan sekuat mungkin
ekspresi mereka tentang kejadian mengerikan tersebut (Bell, 1995). Selain itu, persamaan
di antara para pekerja tersebut adalah mereka berangkat secapt mungkin ke lokasi
bencana kadangkala diundang oleh otoritas lokel (seperti dalam pascaserangan World
Trade Center) kadangkala tidak demikiandan menawarkan (para pengkritik
menyebutnya memaksakan intervensi mereka kepada para korban selamat dan
keluarganya. Mengintervensi dalam masa ketika orang-orang berada dalam fase akut
periode pascatrauma umumnya. Disebut sebagai intervensi krisis atau debriefing stress
insiden kritikal (critical incident stress debriefingCISD) (Mitchell &Bray, 1990).
Pendekatan meneluruh ini cukup controversial. Menurut pendapat banyak ahli, berbagai
studi mengenai hasil terapeutik CISD dan berbagai prosedur terkait tidakmendukung
efektivitasnya, dan cukup banyak penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa
pendekatan tersebut lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya (a.l., Mayou dkk.,
2000). Kritik mendasar adalah bahwa, segera setelah terjadinya suatu bencana, hal terbaik
adalah para korban mendaptkan dukungan social yang biasanya diperoleh dalam keluarga
serta komunitas mereka dan bahwa pemaksaan, bahkan jika dilakukan secara halus dan
dengan maksud baik, yang dilakukan oleh orang asing tidak akan membantu, bahkan
dapat mengganggu serta member efek buruk (Gist, di media). Bahaya dapat muncul
karena baik setelah trauma terjadi, mungkin para korban lebih baik dibiarkan sendiri
bersama keluarganya daripada di dorong atau dipaksauntuk mengingat sesuatu yang
belum siap mereka hadapi.
Penting diingat bahwa mayoritas orang yang mengalami trauma tidak lantas menderita
PTSD.
Kritik lain terhadap CISD mendukung posisi eksistensial bahwa penderitaan merupakan
bagian normal kehidupan dan bahwa, setelah bencana, seseorang tidak perlu menghindar
dari rasa sakit dan duka cita, namun lebih memanfaatkan kejadian traumatic tersebut
sebagai kesempatan untuk menghadapi berbagai krisis kehidupan yang tidak dapat
dihindari dan menemukan hikmah dibaliknya. Dengan demikian, setelahbeberapa waktu
bangkit dengan suat keyakinan yang lebih kuat terhadap hal-hal penting dalam hidup.
Pendekatan di Masa Perang. Selama Perang Dunia II para tentara yang telah
bertempur sering kali ditangani oleh narkosintesis (Grinker & Spiegel, 1944), suatu
prosedur yang dapat dianggap sebagai katarsis dengan bantuan obat a la Breuer. Tentara
diinjeksi dengan sodium Pentothal ked lam pembuluh darah, dalam dosis yang cukup
untuk menimbulkan rasa kantuk ekstrem. Terapis kemudian menyatakan dengan suara

meyakinkan bahwa tentara tersebut sedang berada di medan pernag, di peperangna


tertentu. Pasien biasanya mulai mengingat, sering kali dengan emosi trauma
sesungguhnya dihidupkan kembali dan bahkan diperagakan oleh pasien. seiring pasien
secara bertahap kembali sadar, terapis kembali mendorong pembahasan mengenai
kejadian mengerikan dengan harapan bahwa pasien akan menyadari bahwa kejadian
tersebut adalah masa lalu, dan bukan lagi merupakan ancaman. Dengan cara ini
diharapkan akan terjadi suatu sintesis, atau kemunculan bersama, kengerian masa lalu
dengan kehidupan pasien saat ini (Cameron &Mrgaret, 1951).
Veterans Administration, yang melayani para veteran Perang Dunia II dan Perang Korea,
pada awalnya tidak disiapkan untuk menangani maslaah psikologis para veteran Vietnam.
Awalnya, banyak yang dikeluarkan dari organisasi tersebut dengan surat buruk, yaitu,
dikeluarkan dengan tidak hormat. Tindakan yang dapat membuat seorang tentara
dikeluarkan dengan cara yang tidak dikehendaki mencakup alkoholisme dan
ketergantungan obat (Kidder, 1978); tampaknya diantara beberapa veteran tersebut
menderita trauma pertempuran. Pada tahun 1979, enam tahun setelah penandatanganan
gencatan senjata dengan Vietnam Utara, barulah pemberhentian dengan tidak hormat
terseut diperbaiki sebagai hasil bantuan American Civil Administration (M. Beck, 1979).
Sebagaimana disebutkan di awal bagian ini , PTSD sebagai diagnosis resmi dimasukkan
sebagai diagnosis yang dijabarkan secara jelas dan resmi pada tahun 1980 dengan
terbitnya DSM-III. Tampaknya politik Perang Vietnam berperan dalam pengakuan resmi
PTSD.
Walaupun demikian, pada taun 1971, psikiater Robert Jay Liftonj dihunungi oleh para
veteran anti perang dari wilayah New York- New Heaven untuk bekerja sama dengan
mereka untuk membentuk kelompok-kelompok diskusi. Dipelopori oleh para
veteransendiri, kelompok ini memiliki dua tujuan; tujuan terapeutik untuk
menyembuhkan diri sendiri dan tujuan politis untuk mendorong masyarakat Amerika
untukmulai memahami korban manusia dalam perang (Liftom, 1976). Kelompok diskusi
tersebut menyebar ke luar New York City hingga tahun 1979ketika kongres menyetujui
paket sebesar 25 juta dollar untuk membentuk Operation Outreach, suatu jaringan yang
terdiri dari 91 pusat konseling di depan gudan gpenyimpanan militer bagi para veteran
Vietnam yangmengalami masalah psikologis. Pada tahun 1981 pendanaan diperpanjang 3
tahun.
Pendekatan Kognitif dan Behavioral. Penelitian terkendali mengenai penanganan PTSD
telah meningkat pesat dalam tahun-tahun terakhir seiring dengan lebih banyak perhatian
yang difokuskan pada kondisi pascatrauma, seperti bencana alam, penyiksaan,
pemerkosaan, dan terutama pertempuran. Penelitian mutakhir dalam terapi kognitif
perilaku menghasilkan beberapa temuan berdasarkan ebberapa studi yang menggunakan
pengukuran teliti, rincian penganganan, dan kelompok control yang tepat.
Sebagaimana yang sudah diketahui pembaca saat ini, prinsip dasar terapi perilaku
berbasis pemaparan adalah bahwa cara terbaik untuk mengurangi atau menghapus rasa
takut adlaah dengan menghadapkan orang yang bersangkutan dengan sesuatu yang paling
dihindarinya. Semakin banyak bukti yang muncul mengindikasikan bahwa pemaparan
terstruktur terhadap kejadian yang berkaitan dengan trauma, kadangkala dalam imajinasi,
seperti dalam desensitisasi sistematik, memberikan sesuatu yang kebih bermanfaat dari
pengobatan medis, dukungan social, atau berada dalam lingkungan terapeutik yang aman
(Foa & Meadows, 1997; Keane, 1995; Marks, Lovell, Noshirvani, Livanou, & Thraser,
1998).
Teknologi baru realitas virtual (virtual reality-VR) mulai digunakan bagi GSPT untuk
membuat pemaparan menjadi lebih dramatis dan lebih nyata dibanding yang dapat
dimunculkan dalam imajinasi pasien. Satu studi yang menggunakan teknologi VR

menunjukkan manfaat terapeutik dengan meminta para veteran Vietnam melakukan


penerbangan dengan helicopter dalam VR lengkap dengan suara pertmpuran (Rothbaum
dkk., 1999).
Bagaimana cara kerja pemaparan? Kita telah membahas kemungkinan bahwa pemaparan
mengarah pada penghapusan respons ketakuan. Namun, pemaparan juga dapat mengubah
makna stimuli bagi orang terkait. Pandangan kognitif ini dijabarkan oleh Edna Foa dan
para koleganya dalam sejumlah studi dan makalah teoritis. Merekan menekankan aspekaspek korektif pemaparan terhadap hal yang ditakuti.
Pemaparan menyebabkan berkurangnya simtom-simtom dengan kemungkinan
pasien menyadari sesuatu yang berlawanan dengan pemikiran-pemikiran mereka
yang salah yaitu bahwa (a) berada dalam situasi yang secara objektif aman yang
mengingatkan seseorang pada trauma merupakan sesuatu yang tidaj berbahaya;
(b) mengingat trauma tidak sama dengan mengalaminya lagi; (c) kecemasan
tidak dialami tanpa batas ketika berada dalm situasi yang ditakuti atau ketika
mengalami situasi tersebu, namun justru berkurang bahkan tanpa melakukan
penghindaran; dan (d) mengalami simtom-simtom kecemasan/ptsd tidak lantas
menyebabkan hilangnya kendali. (Foa & Meadows, 1997, hlm. 462)
Bagaimanapun cara kerja pemaparan, tidak ada keraguan mengenai efektivitasnya
dalammengurangi efek trauma, termasuk yang terjadi karena penyerangan seksual (hlm.
617-618)
Pada tahun 1989, Sharpio (1989) mulai mempublikasikan suatu pendekatan untuk
menangani trauma yang disebut Eye Movement Desensitization and Reprocessing
(EMDR). EMDR ini dimaksudkan untuk diklakukan sangat cepatsering kali
hanyamemerlukan satu atau dua sesidan lebih efektif dibanding prosedur pemaparan
standar yangn telah dijelaskan sebelumnya. Dalam prosedur ini, pasien membayangkan
suatu situasi yang berkaitan dengan masalahna, seperti kecelakaan mobil yang
mengerikan. Dengan teteap membayangkan situasi tersebut, pasien memandang jari
terapis dan mengikutinya dengan pandangannya eiring terapis menggerakannya maju
mundur kira-kira satu kaki di depan pasien. Proses ini berlangsung kira-kira selama satu
menit atau sampai pasien menuturkan bahwa kengerian bayangan tersebut telah
berkurang. Kemudian terapis meminta pasien menceritakan semua pikiran negative yang
muncul dalam pikirannya, sekali lagi dengan mengarahkan pandangannya pada jari tapis
yang terus bergerak. Terakhir, terapis mendorong pasien untuk berpikir secara lebih
positif, seperti Saya dapat mengatasi hal ini dan hal ini juga dilakukan sambil
memandang jari-jari terapis yang bergerak.
Sangat banyak kontroversi berkaitan dengan teknik ini (atau berbagai teknik, karena
spesifikasi terapi telah berubah sejak pertama kali dikembangkan), dan pendapat
terpolarisasi dengn cara yang jarang terjadi dalam ilmu pengetahuan. Di satu sisi para
pendukung EMDR beragumentasi bahwa mengombinasikan gerakan mata dan pikiran
tentang kejadian yang ditakuti menyebabkan pendekondisian atau pemrosesan ulang
(restrukturisasi kognitif) stimulus yang menakutkan secara cepat (a.l., Shapiro, 1995,
1999). Di sisi lain studi menunjukkan bahwa gerakan mata tidak memberi tambahan
apapun pada hasil pemaparan itu sendiri (a.l., Cahill, Carrigan, Frueh, 1999; Devilly,
Spence, & Rapee, 1998; Hazlett-Stevens, Lytle, & Borkovec, 1996, dikutip dalam Lohr
dkk., 1998; Renfrey & Spates, 1994) dan bahwa klaim efektivitas dilandasi berbagai
eksperimen yang memiliki banyak kelemahan metodologis (of. Lohr, Tolin, & Lilienfeld,
1998; Resick & Calhoun, 2001; Rosen, 1999; Tolin dkk., 1996). Selain itu teori yang
mendasari EMDR dikritik tidakkonsisten dengan apa yang diketahui tentang dasar-dasar
psikologi dan ilmu saraf mengenai pembelajaran dan fungsi otak (a.l., Keane, 1998; Lohr
dkk., 1998).

Pendekatan Psikoanalisis. Pendekatan Psikoanalisa dari Horowitz 1988, 1990) memiliki


banyak persamaan dengan penanganan yang disebutkan diatas karena dia mendorong
pasien untuk membahas trauma dan memaparkan diri mereka pada kejadian yang
memicu PTSD. Namun ia menekankan cara trauma berinteraksi dengan kepribadian
pratrauma pasien, dan penanganan yang ditawarkannya juga memiliki banyak persamaan
dengan berbagai pendekatan psikoanalitik lain, termasuk pembahasan mengenai
pertahanan dan analisis reaksi transferensi oleh pasien. Terapi kompleks ini memerlukan
verifikasi empiris. Beberapa studi trkendali yang dilakukan sejauh ini hanya memberikan
sedikit dukungan empiris terhadap efektivitasnya (Foa & Meadows, 1997).
Pendekatan Biologis. Terakhir, berbagai obat-obatan psikoaktif telah digunakan untuk
para pasien PTSD, termasuk antidepresan dan tranquilizer. Kadangkala pengobatan
digunakan dalam mengaasi berbagai kondisi yang dialami yang dialami bersamaan
PTSD, seperti depresi; perbaikan kondisi depresi dapat berkontribusi terhadap perbaikan
kondisi PTSD terlepas dari bagaimana penganganan terhadap PTSD itu sendiri
(contohnya dengan salah satu dari berbagai intervensi psikologi yang dibahas di atas
(Marshall dkk., 1994)). Beberapa keberhasilan kecil dilaporkan diperoleh dalam
penggunaan antidpresan, terutama penghambat pengembalian serotonin (Brady dkk.,
2000)
Adapun modal intervensi spesifik, para ahli PTSD sepakat bahwa dukungan social adalah
hal penting. Kadangkala menemukan cara untuk member dukungan pada orang lain dpaat
membantu si pemberi dan si penerima sekaligus (Hobfoll dkk., 1991). Menjadi anggota
kelompok religious; memiliki keluarga, teman-teman, aau sesaman individu yang
mengalami trauma yang mendengarkan penuturan tentang ketakutan dan ingatan
seseorang tentang suatu trauma tanpa menghakimi; dan menemukan cara lain untuk
menumbuhkan kepercayaan yang dimiliki seseorang dan bahwa orang lain ingin
membantu mengurangi rasa sakit dapat menghasilkan perbedaan antara stress
pascatrauma dan gangguan pascatrauma.

Rangkuman Obat-obatan yang digunakan untuk Menangani Gangguan


Anxietas
Kategori Obat
Benzodiazepine
Penghambat
monoamine oxidase
Penghambat
pengembalian
Serotonin selektif
Antidepresan
tricyclic
Buspirone

Nama Generik
Diazepam, alprazola
Phenelzinem

Merek Dagang
Va;ium, Xanax
Nardil

Penggunaan
GAD, PTSD
Fobia Sosial

Fluoxetine,
sertraline

Prozac, Zoloft

Imipramine,
clomipramine

Tofranil, Anafranil

Fobia
Sosial,
Gangguan
panik,
OCD
PTSD
Gangguan
panik,
GAD, OCD, PTSD
GAD,
Ganggaun
panik, OCD

BuSpar

Penelitian-Penelitian Terkait Gangguan Kecemasan


An experimental investigation of hypervigilance for threat in children and adolescents
with post-traumatic stress disorder karya T. DALGLEISH,A. R. MORADI, M. R.
TAGHAVI, H. T. NESHAT-DOOST & W. YULE
Penelitian ini meneliti bias dalam perhatian visual untuk bahan emosional pada
anak dan remaja dengan kelompok post-traumatic stress disorder (PTSD) dan
kelompok kontrol yang sehat. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak dan

remaja dengan PTSD, relatif terhadap kontrol, pengolahan sumber daya


dialokasikan selektif terhadap rangsangan mengancam sosial dan jauh dari
rangsangan depresi terkait. Ini menghindari attentional informasi depresi terkait
dalam PTSD peserta menurun dengan usia.
Positive affect regulation in anxiety disorders karya Lori R Eisner, Sheri L. Johnson &
Charles S. Carver
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang tanggapan
terhadap positive affect (PA) pada orang dengan gejala fobia sosial, gangguan kecemasan
umum, gangguan panik, agorafobia, dan obsesif-kompulsif. Kecenderungan untuk
meredam PA dan kemampuan untuk menikmati PA diperiksa pada sampel sarjana.
Mengingat komorbiditas tinggi depresi dan kecemasan, analisis eksplorasi lebih dikontrol
untuk gangguan kecemasan umum. Hasil menunjukkan bahwa salah satu atau kedua
ukuran mempengaruhi regulasi membuat kontribusi yang unik dan substansial untuk
memprediksi setiap gangguan kecemasan kecuali agoraphobia, atas dan di luar prediksi
yang diberikan oleh gejala depresi dan gangguan kecemasan umum.
Rangkuman
Orang-orang yang menderita gangguan anxietas menunjukkan kekhawatiran
berlebihan yang sebenarnya tidak perlu. DSM-IV-TR membuat enam diagnosis
utama : gangguan fobik, gangguan panik, gangguan anxietas menyeluruh,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stress pasca trauma, dan gangguan stress
akut.
Fobia adalah ketakutan luar biasa yang tidak masuk akal yang mengganggu
kehidupan seseorang yang sebenarnya normal.Gangguan ini relative umum
terjadi.fobia social adalah ketakutan terhadap situasi sosialdimana seseorang
mungkin diamati oleh orang lain. Fobia spesifik mencakup ketakutan terhadap
hewan, ketinggian, tempat tertutup, dan darah serta penyuntikan.
Pandangan psikoanalis tentang fobia adalah fobia merupakan pertahanan terhadap
konflik yang ditekan. Para teoris behavioral mempunyai beberapa pemikiran
mengenai terjadinya fobia melalui pengondisian klasik, pemasangan suatu objek
atau situasi yang tidak berbahaya dengan suatu kejadian traumatik; melalui
pengondisian
melakukan

operant,

dimana

penghindaran;

seseorang

melalui

mendapatkan

modeling,

meniru

hadiah

dengan

ketakutan

dan

penghindaran orang lain; dan melalui kognisi, dengan menganggapkecelakaan


sosial sebagai suatu bencana yang sebenarnya dapat dipahami dengan cara yang
tidak terlalu negative. Namun, tidak semua orang yang memiliki pengalaman
semacam itu kemudian menderita fobia. Kemungkinan terdapat diathesis

fisiologis yang diturunkan secara genetik yang memicu beberapa orang


menderita fobia.
Pasien yang mengalami gangguan panic mengalami serangan kecemasan luar
biasa secara mendadak, tanpa dapat dipahami, dan periodik. Serangan panik
kadangkala memicu ketakutan dan penghindaran untuk berada diluar rumah,
yang dikenal sebagai agoraphobia.
Gangguan panik terjadi dalam keluarga, mengindikasikan kemungkinan diathesis
genetik. Teori-teori psikologis tentang serangan panik menyatakan bahwa
serangan tersebut dikondisikan secara klasik terhadap berbagai sensasi fisik
internal atau sensasi tersebut dipahami secara salah, dan mengakibatkan
terjadinya serangan panik.
Dalam gangguan anxietas menyeluruh, yang terkadang disebut free-floating
anxiety, individu dikuasai dengan ketegangan, kecemasan, dan kekhawatiran
yang hamper selalu dialami.
Teori psikoanalisis mengenai penyebab gangguan anxietas menyeluruh merupakan
konflik bawah sadar antara ego dan impuls-impuls id. Teori-teori kognitifbehavioral menyatakan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses
kognitif

yang

menyimpang.

Pendekatan

biologis

memfokuskan

pada

neurotransmitter GABA, yang jumlahnya mungkin kurang pada penderita


gangguan tersebut.
Orang-orang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif memiliki pemikiran
yang mengganggu serta tidak dikehendaki dan merasakan dorongan kuat untuk
melakukan ritual stereotip yang jika tidak dilakukan akanmenyebabkan merasa
dikuasai

tingkat

kecemasan

yang

menakutkan.

Gangguan

ini

dapat

melumpuhkan, tidak hanya mengganggu kehdupan orang yang mengalaminya


namun juga orang-orang didekat si penderita.
Menurut Teori Psikoanalisis gangguan obsesif-kompulsif disebabkan oleh
dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena
toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada
tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil
perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan; kadangkala insting agresif id
mendominasi, kadangkala mekanisme pertahanan yang mendominasi. Sebagai
contoh, ketika pikiran obsesif untuk membunuh muncul, saat itu dorongan id
mendominasi. Namun demikian, lebih sering simtom-simtom yang muncul
mencerminkan bekerjanya salah satu mekanisme pertahanan yang hanya separuh
berhasil.

Gangguan Stress Pascatrauma adalah masa setelah pengalaman traumatis dimana


seseorang mengalami peningkatan kemunculan, penolakan stimuli yang
diasosiasikan dengan kejadian traumatis yang dialami, dan kecemasan yang
disebabkan oleh ingatan terhadap peristiwa tersebut
Ditandai dengan adanya kejadian traumatis. Simtom-simtom PTSD dikategorikan
menjadi 3 kelompok utama:
a. Mengalami Kembali kejadian traumatis
b. Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau Mati
rasa dalam responsivitas
c. Simtom-simtom peningkatan ketegangan

Daftar Pustaka
Davison, Gerald C, Neale, John M, Kring, Ann M. 2006. Psikologi Abnormal.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wade & Tavris. 2007. Psikologi 9th edition. Jakarta : Erlangga
www.google.com
www.wikipedia.org