Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK

SPACE MAINTAINER

Disusun oleh:
Pramita Dyah Pangestu

10/299069/KG/08672

Bramita Beta Arnanda

10/299220/KG/08683

Pembimbing:
Prof. Dr. drg. Iwa Sutardjo RS, SU, Sp. KGA (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

I.

PENDAHULUAN

Gigi desidui digunakan untuk proses mekanik makanan sebagai fungsi digesti
dan asimilasi. Keberadaan gigi desidui berpengaruh terhadap perkembangan rahang,
erupsi gigi geligi permanen, kesehatan individu, serta perkembangan fisik dan mental
anak-anak (Finn, 2003 ; Kharbanda 1994).
Gigi-gigi desidui berperan sebagai space maintainer dalam lengkung gigi
untuk gigi permanen (Finn, 2003). Oleh karena itu, semakin dini gigi desidui dicabut
maka semakin besar kemungkinan terjadinya pergeseran gigi. Pencabutan dini pada
gigi desidui yang belum saatnya tanggal dapat menyebabkan premature loss serta
dapat mempengaruhi tahap perkembangan oklusal gigi-geligi (Kharbanda, 1994).
Meskipun mempertahankan gigi desidui tidak akan selalu mencegah maloklusi,
tetapi dapat mengurangi terjadinya keparahan dan mempertahankan kesimetrisan
hubungan molar permanen (Kennedy, 1992).
Pencabutan gigi yang tidak direncanakan pada periode geligi sulung dan
geligi bercampur dapat menimbulkan kerugian yaitu kehilangan ruang yang dapat
menimbulkan maloklusi, menurunnya fungsi pengunyahan (terutama gigi posterior),
gangguan perkembangan bicara (terutama gigi anterior), dan dapat menimbulkan
trauma akibat pemberian anastesi dan tindakan bedah (Whitwort dan Nunn, 1997 sit.
Budiyanti, 2006).
Salah satu usaha preventif untuk mencegah terjadinya pergeseran gigi yang
diakibatkan oleh premature loss pada gigi desidui adalah dengan menggunakan alat
space maintainer. Space maintainer yang paling baik adalah gigi desidui itu sendiri,
sehingga harus dilakukan usaha mempertahankan gigi desidui dalam rongga mulut,
tetapi jika tidak memungkinkan maka perlu dibuatkan space maintainer buatan.
Namun, apabila terjadi kekurangan ruang atau terjadi mesial drifting pada celah yang
mengalami premature loss maka digunakan alat space regainer untuk mendapatkan
ruang kembali (Andlaw dan Rock, 1992).

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Premature Loss
Premature loss pada gigi desidui dapat terjadi akibat adanya karies, erupsi
ektopik atau trauma yang menyebabkan pergerakan gigi desidui atau permanen
yang tidak diinginkan dan berkurangnya panjang lengkung. Kurangnya panjang
lengkung dapat berakibat meningkatnya keparahan gigi berjejal, rotasi, erupsi
ektopik, crossbite, overjet dan overbite yang berlebihan serta hubungan molar
yang kurang baik. Premature loss gigi desidui tipe apapun berpotensi
menyebabkan berkurangnya ruang untuk menampung gigi permanen yang akan
menggantikannya (Kuswandari dkk., 2007).
B.

Space Maintainer
Space mantainer adalah alat cekat atau lepasan yang dirancang untuk
mempertahankan ruang yang ada dalam lengkung rahang (Harty dan Ogston,
1995). Sedangkan menurut Andlaw dan Rock (1992), space maintainer adalah
alat yang dipakai untuk mempertahankan panjang lengkung ketika terjadi
pencabutan dini pada gigi desidui agar dapat mengurangi prevalensi dan
keparahan maloklusi. Alat ini bersifat pasif dalam menjaga jarak mesio-distal
ruangan akibat pencabutan desidui terlalu dini dan memelihara gerak fungsional
gigi serta mencegah pergeseran ke mesial gigi molar pertama permanen. Alat ini
akan dilepas apabila sudah tidak dipergunakan lagi untuk menghindari
terhalangnya erupsi gigi permanen di bawahnya.
Keberhasilan

space

maintainer

yaitu

apabila

dapat

mencegah

berkurangnya panjang, lebar, dan perimeter lengkung dengan menjaga


keberadaan posisi gigi geligi. Menurut Finn (2003), space maintainer diperlukan
apabila :
1. Gigi m2 dicabut sebelum gigi P2 siap menggantikan. Space maintainer tidak
diperlukan ketika P2 siap erupsi atau memberi indikasi melalui roentgen
bahwa akan segera erupsi.
2. Gigi m1 tanggal terlalu awal tidak mutlak butuh space maintainer seperti gigi
m2. Menurut penelitian, penutupan ruang akibat premature loss m1

mempunyai keparahan dan frekuensi lebih kecil daripada premature loss m2.
Walaupun begitu, penelitian menambahkan bahwa pada total populasi,
walaupun sederhana, sebaiknya jangan mengabaikan situasi yang dapat
merugikan pada kasus individual.
3. Pada kasus anodonsia P2, lebih baik membiarkan M1 menutup celah. Lebih
baik membuat keputusan akhir daripada terlalu awal, karena kadang-kadang
P2 tidak mempunyai waktu perkembangan yang sama simetris bilateral.
4. Anodonsia I2 sering dibiarkan, agar C menempati ruang yang ada.
5. Pemasangan space maintainer anterior untuk tujuan psikologis dan mencegah
timbulnya bad habit.
6. M1 tanggal sebelum M2 erupsi, dibiarkan agar M2 menempati ruang
tersebut. Namun, apabila M2 telah erupsi maka ruangan harus dipertahankan.
7. m2 dicabut menjelang erupsi M1 dibuatkan space maintainer berupa labial
arch dengan gigi tiruan m2.
8. Space maintainer aktif sering digunakan untuk mendesak M1 ke distal.
Kontra indikasi space maintainer menurut Snawder (1980), antara lain:
1. Tulang alveolus di atas gigi tersebut sudah hilang dan ruang tersebut cukup
untuk erupsi gigi pengganti.
2. Apabila ruang yang akan terjadi akibat premature loss gigi desidui cukup
untuk ruang erupsi gigi pengganti dan tidak ada kemungkinan hilangnya
ruang.
3. Apabila dilakukan pencabutan untuk pencarian ruang pada perawatan
orthodontik.
4. Apabila gigi pengganti tidak ada dan penutupan ruang diinginkan.
Syarat-syarat pembuatan space maintainer, antara lain :
1. Mampu mempertahankan jarak mesio-distal
2. Erupsi gigi antagonis tidak terganggu
3. Erupsi gigi permanen tidak terganggu
4. Tersedia cukup ruang mesio-distal untuk erupsi gigi permanen pengganti
5. Tidak mengganggu fungsi bicara, pengunyahan, dan pergerakan mandibula
6. Bentuk sederhana, mudah dalam perawatan, dan mudah untuk dibersihkan

Keuntungan penggunaan removable space maintainer antara lain : alat


dan gigi dapat dibersihkan dengan mudah, dapat menjaga vertikal dimensi, dapat
dikombinasikan dengan tindakan preventif yang lain, dapat dipakai setengah hari
sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi darah pada jaringan lunak, dapat
dibuat dengan mudah dan estetis, dapat menstimulasi erupsi gigi permanen, tidak
memerlukan bands, pemeriksaan gigi dapat dengan mudah dilakukan, dan dapat
meciptakan ruang untuk erupsi gigi tanpa harus membuat alat baru. Kerugian
penggunaan removable space maintainer antara lain : ada kemungkinan alat
hilang, dapat patah, pasien tidak mau memakai alat, dapat menahan pertumbuhan
rahang ke lateral apabila klamer tidak pas, dan dapat mengiritasi jaringan lunak
(Finn, 2003).
C. Space Regainer
Alat space regainer digunakan untuk mendapatkan ruang pada keadaan
kekurangan ruang atau terjadinya mesial drifting pada celah yang mengalami
premature loss (Andlaw dan Rock, 1992).
Menurut Snawder (1980), penyebab kehilangan/ penyempitan ruang
adalah sebagai berikut :
1. Premature loss dari gigi desidui
2. Mesial drifting tendency
3. Distal adjustment dari gigi anterior mandibula
4. Ankylosis dan congenital missing teeth
Indikasi pemakaian alat space regainer adalah pada premature loss gigi
molar desidui yang mengakibatkan terjadinya kekurangan ruang erupsi gigi
permanen. Kontraindikasi pemakaian alat space regainer, antara lain :
1. Apabila ruang yang akan terjadi akibat premature loss gigi desidui cukup atau
lebih bagi ruang erupsi gigi pengganti
2. Apabila dilakukan pencabutan untuk pencarian ruang pada perawatan
ortodontik
3. Apabila gigi pengganti tidak ada dan penutupan ruang diinginkan
4. Pasien alergi terhadap akrilik

5. Pasien tidak kooperatif


Syarat-syarat pembuatan space regainer, antara lain :
1. Terdapat kekurangan ruang mesio-distal untuk erupsi gigi permanen
pengganti
2. Mampu menciptakan jarak mesio-distal
3. Erupsi gigi antagonis tidak terganggu
4. Erupsi gigi permanen tidak terganggu
5. Tidak mengganggu fungsi bicara, pengunyahan, dan pergerakan mandibula
6. Bentuk sederhana, mudah dalam perawatan, dan mudah untuk dibersihkan
D.

Analisis Panjang lengkung


Analisis untuk memperkirakan kebutuhan ruang bagi gigi permanen yang
akan erupsi:
a.

Nance analysis
Metode ini didasarkan atas hubungan relatif antara lebar mesiodistal
kelompok gigi tertentu, yang dipilih adalah gigi III, IV, V dan kelompok gigi
penggantinya yaitu gigi 3,4,5. Nance menemukan adanya perbedaan ukuran
lebar III,IV,V dengan 3,4,5. Selisih tersebut disebut Lee Way Space.
Lee way space RA = (III + IV + V) - (3 + 4 + 5) = 0,9 satu sisi
Lee way space RB = (III + IV + V) - (3 + 4 + 5) = 1,7 satu sisi
Prosedur metode ini adalah:
a. Menyiapkan model, kemudian ukurlah lebar mesiodistal III,IV,V
b. Menyiapkan foto roentgen 3,4,5 dan ukurlah (koreksi efek pembesaran
dengan metode Huckaba
c. Bandingkan 3,4,5 dengan jumlah III, IV,V
d. Ukurlah selisihnya apakah 0,9 RA, atau lebih atau kurang, demikian pula
untuk RB. Selisih tersebut (Lee way space) sebenarnya digunakan untuk
molar adjustment. Jika Lee way space kurang dari 0,9 RA dan 1,7 RB
maka dibutuhkan penyediaan ruang dengan serial ekstraksi.

b.

Moyers mixed dentition analysis

Dasar pemikirannya adalah korelasi antara satu kelompok gigi dan


kelompok gigi lainnya dalam satu regio. Gigi yang dipakai sebagai pedoman
adalah 72,71,81,82 (Mc Donald, dkk., 1994). Berdasarkan penelitian, ukuran
gigi incisivus permanen rahang bawah memiliki hubungan dengan ukuran
gigi caninus dan premolar yang belum tumbuh baik rahang atas maupun
bawah. Gigi incisivus rahang bawah dipilih untuk pengukuran pada analisis
Moyers karena gigi ini muncul terlebih dahulu dalam rongga mulut pada
masa geligi bercampur dan mudah diukur secara akurat.
Metode ini dilakukan dengan cara mengukur lebar mesiodistal
terbesar keempat insivivus rahang bawah satu persatu, lalu menjumlahkannya
dan menggunakannya untuk melihat kemungkinan ukuran gigi caninus,
premolar pertama, dan premolar kedua yang akan erupsi untuk masingmasing rahang berdasarkan tabel probabilitas dari Moyers sebesar 75%
(Moyers, 1998). Langkah-langkah analisis Moyers yaitu:
a. Buatlah lengkung perimeter dengan kawat tembaga untuk RA dan RB
b. Buatlah tanda dengan spidol pada kawat tadi tepat di sisi mesial gigi
molar pertama permanen kanan dan kiri, luruskan kembali dan ukur
panjang antara kedua tanda tadi catatlah data ini.
c. Ukurlah besarnya gigi 2 1 1 2 , catat data ini.
d. Bandingkan jumlah ukuran gigi 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 dengan
lengkung parameter
e. Hasilnya bisa sama, lebih kecil, atau lebih besar.
c.

Kuswandari and Nishino method


Dasar pemikirannya adalah memperkirakan gigi 345 yang belum
erupsi melalui gigi permanen yang telah erupsi. Gigi yang digunakan sebagai
pedoman yaitu gigi 6 2 2 6

d.

Metode Huckaba
Metode ini untuk memperkirakan besarnya gigi yang belum erupsi.
Rumus : B = A x B
A
Keterangan : B = besar gigi yang belum erupsi

B= besar gigi yang belum erupsi dalam ro


A = besar gigi yang sudah erupsi
A= besar gigi yang sudah erupsi dalam ro
Setelah melakukan analisis ruang dan panjang lengkung, dapat diketahui
derajat crowding lengkung gigi. Menurut Andlaw dan Rock (1992), gigi dapat
digolongkan sebagai salah satu dari tipe berikut:
1. Gigi tidak berjejal dengan kelebihan ruang.
Ciri-cirinya adalah terdapat spacing di antara gigi-gigi insisivus; ruang
yang tersedia dalam lengkung rahang melebihi ruang yang diperlukan untuk
gigi-gigi yang belum erupsi.
2. Gigi tidak berjejal dengan ruangan cukup.
Ciri-cirinya adalah kontak normal di antara gigi-gigi insisivus; ruang
yang tersedia dalam lengkung sama dengan ruang yang diperlukan untuk
gigi-gigi yang belum erupsi.
3. Crowding ringan.
Ciri-cirinya adalah sedikit overlap pada gigi-gigi insisivus; ruang yang
tersedia dalam lengkung rahang kurang sampai 4 mm dari yang diperlukan
untuk gigi-gigi yang belum erupsi.
4. Crowding berat.
Ciri-cirinya adalah overlap rotasi atau pergeseran gigi-gigi insisivus;
ruang yang tersedia dalam lengkung rahang kurang melebihi 4 mm dari yang
diperlukan untuk gigi-gigi yang belum erupsi.

III.
A. Identitas Pasien

LAPORAN KASUS

Nomor Kartu

: 106012

Tanggal pemeriksaan

: 13 November 2014

Nama pasien

: Shafira Dwi Ramadani

Tempat/ Tanggal lahir

: Sleman, 28 September 2006

Umur / Jenis Kelamin

: 8 tahun 2 bulan / Perempuan

Sekolah

: SD N Pogung Kidul

Nama orang tua

: Tukiyem

Alamat

: Pogung Kidul RT 4/RW 49 No. 221 Sinduadi Mlati,


Sleman Yogyakarta

Foto pasien

Tampak depan

Tampak samping

Simetris

Cembung

B. Pemeriksaan Subjektif
Motivasi :
Pasien datang atas motivasi operator dan orangtua untuk memeriksakan giginya.
Keluhan utama (CC) :
Gigi susu belakang kiri bawah sudah tanggal sebelum waktunya (premature loss)
namun gigi pengganti belum tumbuh.
Keadaan sakit sekarang (PI) :

Pada saat ini gigi tidak terasa sakit.


Riwayat gigi (PDH) :
-

Pernah dilakukan perawatan saluran akar tahun 2011


pada gigi geraham susu kiri bawah, namun gigi sudah tanggal sekitar 1 tahun
yang lalu. Sekarang gigi pengganti belum tumbuh.

Riwayat kesehatan umum (PMH) :


Pasien tidak dicurigai menderita penyakit sistemik yang dapat mengganggu
tumbuh kembang. Pasien tidak dicurigai adanya riwayat kelainan perdarahan.
Pasien tidak ada riwayat alergi.
Riwayat kesehatan keluarga (FH) :
a. Gigi

= - Ayah : Gigi rapi


- Ibu

: Gigi rapi

b. Umum = - Ayah : sehat, tidak memiliki riwayat penyakit sistemik.


- Ibu

: sehat, tidak memiliki riwayat penyakit sistemik.

Pencegahan penyakit gigi :


a. Menyikat gigi

: 2x sehari; saat mandi pagi dan mandi sore.

b. Topikal aplikasi fluor : tidak


c. Tablet fluor

: tidak

d. Kumur-kumur

: tidak

e. Air minum

: Sumur

C. Pemeriksaan Objektif
Keadaan umum

: sehat jasmani dan rohani

Penampilan

: kooperatif dan komunikatif

Berat badan

: 22 kg

Tinggi badan

: 118 cm

Status gizi

: 15,8 (Underweight)

Pemeriksaan luar mulut :


Bentuk muka

: simetris, tidak ada kelainan

Bibir

: simetris, tidak ada kelainan

Pipi

: simetris, tidak ada kelainan

Kelenjar limfe

: tidak teraba

Lain-lain

: -

Pemeriksaan dalam mulut :


Jaringan Lunak
Mukosa

: normal, tidak ada kelainan

Lidah

: normal, tidak ada kelainan

Gusi

: normal, tidak ada kelainan

Langit-langit

: normal, tidak ada kelainan

Dasar mulut

: normal, tidak ada kelainan

Jaringan Keras
Oklusi

: Kelas I Angle

Pemeriksaan Gigi Geligi :

x
x

Kebersihan mulut : OHI-S =


= 6

6
DI-s

= 1

1
1

2
CI-s

= 1
1

6
6
1
1

1
1

= 2 (Sedang)

= 7/6

= 5/6

o
x

Diagnose Gigi-geligi :
16

55

= terdapat fissure dalam

Diagnosa

: deep fissure

Rencana Perawatan

: fissure sealant

terdapat kavitas kedalaman dentin dengan pulpa terbuka pada permukaan


mesio-disto-oklusal

22

65

Sondasi : (-)

- Palpasi : (-)

Perkusi : (-)

- CE : (-)

Diagnosa

: Gangren

Rencana Perawatan

: Endo

= Bagian mesial berputar ke labial

Diagnosa

: mesiolabiotorsiversi

Rencana Perawatan

: Orto

terdapat kavitas kedalaman dentin dengan pulpa terbuka pada permukaan


mesiooklusal

26

36

75

74

Sondasi : (-)

- Palpasi : (-)

Perkusi : (-)

- CE : (-)

Diagnosa

: Gangren

Rencana Perawatan

: Endo

= terdapat fissure dalam


Diagnosa

: deep fissure

Rencana Perawatan

: fissure sealant

= terdapat fissure dalam


Diagnosa

: deep fissure

Rencana Perawatan

: fissure sealant

= Terdapat daerah tidak bergigi


Diagnosa

: Premature Loss

Rencana Perawatan

: Ortho Space Maintainer

= Terdapat daerah tidak bergigi


Diagnosa

: Premature Loss

Rencana Perawatan

: Ortho Space Maintainer

73

46

= terdapat kavitas kedalaman dentin pada permukaan distal


-

Sondasi : (-)

- Palpasi : (-)

Perkusi : (-)

- CE : (+)

Diagnosa

: Karies dentin

Rencana Perawatan

: Opdent (telah dilakukan)

= terdapat fissure dalam


Diagnosa

: deep fissure

Rencana Perawatan

: fissure sealant

D. Rencana Perawatan
1. Endo
2. Fissure sealant
3. Topikal Aplikasi Flour
4. Ortodonsia dan Space Maintainer
5. Kontrol
IV.

RENCANA PERAWATAN

A. Pembuatan Model Studi dan Model Kerja


Tanggal 13 November 2014 dilakukan pencetakan rahang atas dan rahang
bawah untuk pembuatan model studi dan model kerja
B. Analisi Model Studi
a. Bentuk Lengkung Gigi
Rahang Atas

Rahang Bawah

Bentuk Lengkung Gigi: U


Simetris

b. Relasi gigi-gigi pada oklusi sentrik

C.
Pengukuran dan Perhitungan

Klas I Angle

Pada kasus, rahang bawah memiliki ruang kosong pada area gigi 74 dan 75
akibat pencabutan. Pengukuran dan perhitungan dilakukan untuk mengetahui
ketersediaan ruang erupsi gigi 5 4 3 3 4 5 .
Data yang dibutuhkan adalah jumlah mesiodistal antara gigi 2 1 1 2.
Kemudian, untuk mengetahui ketersediaan ruang, jumlah mesiodistal gigi
5 4 3 3 4 5 yang diketahui, digunakan metode Moyers ditambah dengan jumlah
mesiodistal keempat gigi anterior dibandingkan dengan panjang lengkung gigi
antara mesial 6 6 yang diketahui melalui determinasi lengkung. Jika perhitungan

lebih kecil dari determinasi lengkung berarti kelebihan ruang, jika jumlah
perhitungan lebih besar berarti kurang ruang, dan jika sama besar berarti cukup
ruang.
Pengukuran dan perhitungan jumlah mesiodistal 2 1 1 2.
Lebar mesio distal 41 adalah 5,2 mm
Lebar mesio distal 42 adalah 3,4 mm
Lebar mesio distal 31 adalah 5,3 mm

Lebar mesio distal 32 adalah 5,6 mm


Jumlah mesiodistal gigi 2 1 1 2 = 5,2 + 3,4 + 5,3 + 5,6 = 19,5 mm
Perhitungan jumlah ruang yang dibutuhkan untuk erupsi 345
Tabel Moyers 75 % untuk jumlah mesiodistal 19,5 mm adalah 20,1 mm
Kebutuhan ruang erupsi menurut tabel Moyers = 21,42 mm.
Determinasi lengkung
Overjet: 3,2 mm

Overbite: 2,8 mm

Lengkung Perimeter
Panjang lengkung dari mesial gigi 36 ke mesial gigi 46
= lengkung perimeter RB kanan + lengkung perimeter RB kiri
= 31 mm + 33 mm = 64 mm
Ruang yang tersedia untuk erupsi gigi 3 4 5 (jarak mesial
gigi 6 ke mesial gigi 3)
RB kanan

= panjang lengkung ideal RB kanan - ( 41 + 42)

= 31 - (5,2 + 3,4) mm
= 22,4 mm
RB kiri

= panjang lengkung ideal RB kiri ( 31 + 32 )


= 33 - (5,3 + 5,6) mm
= 22,1 mm

Perbandingan

RB kanan
Ruang yang tersedia untuk erupsi gigi 3 4 5 adalah 22,4 mm
Perhitungan untuk gigi 3 4 5 menurut metode Moyers adalah 19,5 mm
RB kiri
Ruang yang tersedia untuk erupsi gigi 3 4 5 adalah 22,1 mm
Perhitungan untuk gigi 3 4 5 menurut metode Moyers adalah 19,5 mm
Kesimpulan
1. Terdapat kelebihan ruang untuk erupsi gigi geligi permanen 3 4 5 sebesar 2,9
mm space maintainer
2. Terdapat kelebihan ruang untuk erupsi gigi geligi permanen 3 4 5 sebesar 2,7
mm space maintainer
D. Gambar/Desain Alat
Keterangan :
a. Labial arch ( 0,7 mm)
b. Adam Klamer ( 0,7 mm)
c. Plat akrilik
d. Buccal flange

E. Prosedur Perawatan
Rencana Perawatan:
a.

Edukasi pasien dan informed consent

b. Insersi space regainer dan edukasi pasien


c.

Kontrol

Jalannya Perawatan:
a. Edukasi pasien dan informed consent
Pasien diberi penjelasan mengenai prosedur dan rencana perawatan
yang akan dilakukan. Pasien juga diberi penjelasan mengenai biaya, lama

perawatan, banyaknya kunjungan, kemungkinan yang dapat terjadi selama


perawatan, dan hal-hal lain yang mempengaruhi perawatan.
b. Insersi space maintainer dan Edukasi pasien
Insersi space maintainer
Pada saat insersi, alat harus diperiksa apakah ada bagian plat akrilik
yang menekan atau melukai jaringan lunak di rongga mulut. Labial arch,
adam klamer juga diperiksa agar tidak menyebabkan traumatik oklusi atau
trauma pada mukosa rongga mulut.
Edukasi
Pasien harus dimotivasi untuk selalu memakai alat dan menjaga
kebersihannya. Pasien dan orang tua pasien diminta untuk memperhatikan
ruang kosong pada lengkung gigi pasien, apakah bertambah besar atau kecil
dan memperhatikan apakah gigi pengganti sudah mulai tumbuh atau belum.
Operator juga memberikan motivasi kepada pasien untuk selalu datang
kontrol pada waktunya.
c.

Kontrol
Kontrol dilakukan pada:
1.

Hari ke-2
Dilakukan pemeriksaan subjektif dan objektif. Pemeriksaan subjektif
meliputi keluhan pasien tentang alat yang dipakainya. Hal-hal lain yang
penting untuk ditanyakan antara lain adalah:

apakah alat tersebut selalu dipakai oleh pasien

apakah pasien kesulitan saat memakai dan melepas alat

apakah pasien sudah merasa nyaman saat memakai alat

apakah alat dapat digunakan pasien saat makan

Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan:


jaringan lunak (adakah gingiva/mukosa yang terkena trauma/iritasi
akibat pemakaian alat),

retensi dan stabilisasi alat

traumatik oklusi yang ditimbulkan akibat pemakaian alat


(diperiksa dengan articulating paper)

2.

Hari ke-12
Dilakukan pemeriksaan subjektif dan objektif. Pemeriksaan subjektif
meliputi keluhan pasien tentang alat yang dipakainya. Hal-hal lain yang
penting untuk ditanyakan antara lain adalah:

apakah alat tersebut selalu dipakai oleh pasien

apakah pasien kesulitan saat memakai dan melepas alat

apakah pasien sudah merasa nyaman saat memakai alat

apakah alat dapat digunakan pasien saat makan


Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan:

jaringan lunak (adakah gingiva/mukosa yang terkena trauma/iritasi


akibat pemakaian alat),

retensi dan stabilisasi alat

traumatik oklusi yang ditimbulkan akibat pemakaian alat


(diperiksa dengan articulating paper)

3.

Hari ke-30
Dilakukan pemeriksaan subjektif dan objektif. Pemeriksaan subjektif
meliputi keluhan pasien tentang alat yang dipakainya. Hal-hal lain yang
penting untuk ditanyakan antara lain adalah:

apakah alat tersebut selalu dipakai oleh pasien

apakah pasien kesulitan saat memakai dan melepas alat

apakah pasien sudah merasa nyaman saat memakai alat

apakah alat dapat digunakan pasien saat makan

Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan:


jaringan lunak (adakah gingiva/mukosa yang terkena trauma/iritasi
akibat pemakaian alat),

retensi dan stabilisasi alat

traumatik oklusi yang ditimbulkan akibat pemakaian alat (diperiksa

dengan articulating paper)


apakah benih gigi sudah mulai erupsi (diperiksa dengan palpasi pada
gingiva), bila benih gigi sudah mulai erupsi maka plat akrilik harus
dikurangi.

V.

PROGNOSIS

Prognosis pada kasus ini adalah baik, karena:


1. Pasien kooperatif
2. Orang tua pasien ikut mendukung dan memotivasi anak sehingga diperkirakan
perawatan akan berjalan lancar dan berhasil.

DAFTAR PUSTAKA
Andlaw, R.J dan Rock, W.P., 1992, Perawatan Gigi Anak (terj), edisi 2, Widya
Medika, Jakarta.
Budiyanti, E.A., 2006, Perawatan Endodontik pada Anak, EGC, Jakarta.
Finn, S.B., 2003, Clinical Pedodontic, 4th ed, W.B. Saunders Co., Philadelphia.
Finn, S.B., 1973, Clinical Pedodontic, W.B. Saunders Co., Philadelphia.
Kemp, J. dan Walters, C., 2003, Gigi si Kecil, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Kharbanda, O.P., 1994, A Study Of The Etiological Factors Associated With The

Development of malocclusion, J.Dent. Child.


Mc.Donald, R.E dan Avery, D.R., 1994 Dentistry for The Child and Adolescent,
Sixth edition, Mosby, St.Louis.
Snawder, K.D., 1980, Handbook of Clinical Pedodontics, The C.V. Mosby Company,
St.Louis.