Anda di halaman 1dari 11

PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI AIR TANAH

MENGGUNAKAN SISTEM PUTARAN PARALEL (LOOPING) TERTUTUP


DI KECAMATAN KUTOREJO KABUPATEN MOJOKERTO
Very Dermawan, Rini Wahyu Sayekti, Dipa Herfita Tavip Pery R.S.D
Jurusan Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
email : Veryderma@Yahoo.com; Rini_ws@ub.ac.id;
Dipaherfita21@gmail.com
ABSTRAK
Dusun Bangilan, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto merupakan daerah
tadah hujan yang berbentuk cekungan yang air akan melimpah pada saat musim penghujan, akan tetapi pada
saat musim kemarau tiba, daerah tersebut akan mengalami kekeringan. Dalam mengatasi kekurangan air pada
saat musim kemarau, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas) sub bagian Pendayagunaan
Airtanah (PAT) membuat sumur produksi dengan melakukan pengeboran sumur-dalam di Dusun Bangilan.
Tujuan dari studi ini adalah untuk merencanakan jaringan irigasi airtanah (JIAT) menggunakan
sistem tertutup (loop), merencanakan aksesoris perpipaan dan menghitung rancangan anggaran biaya yang
dikeluarkan untuk membangun jaringan irigasi airtanah tersebut.
Studi ini menggunakan metode analisis Hardy Cross dan dibantu dengan program WaterCAD.
Jaringan irigasi yang digunakan dalam bentuk jaringan perpipaan sistem loop dengan total panjang pipa 2225
m dan jenis pipa PVC dengan diameter pipa 6 yang dipasang tertanam di dalam tanah dengan jarak 1 m dari
permukaan tanah.
Dari hasil studi didapatkan hasil bahwa Pola tata tanam yang digunakan adalah pola tata tanam
rangkap, yaitu Padi Jagung Kacang Tanah dan Padi Jagung Padi dengan kebutuhan air irigasi 1,792
lt/dt/ha yang dimulai pada bulan Januari. Berdasarkan nilai total pumping head SDMJ 571 sebesar 34,388 m
dan debit sumur bor sebesar 30,14 lt/dt, maka dipilih jenis pompa untuk jaringan irigasi airtanah adalah
Submersible Pump menggunakan kapasitas pompa 34,72 lt/dt dan maksimum head sebesar 44 m. Total
anggaran biaya dari perencanaan jaringan irigasi airtanah adalah lima ratus lima puluh empat juta delapan
ratus ribu rupiah.
Kata Kunci : JIAT, Pola Tata Tanam, Sistem Loop, Hardy Cross, WaterCAD.
ABSTRACT
Bangilan Hamlet, Wonodadi Village, Kutorejo Subdistrict, Mojokerto distric is crop areas that have
concave shaped and have enough water in the rainy season, but dry season, the area will be drought. To
save lack water in dry season, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas) sub section
Pendayagunaan Airtanah (PAT) produce a deep drilling wells in the Bangilan Hamlet.
The purpose of this study is to plan the groundwater irrigation networks (JIAT) using closed systems
(loop), planning for piping accessories and budget of it to build a network of groundwater irrigation.
This study applying Hardy Cross Analysis method and WaterCAD program. Irrigation networks is
loop system piping network with a total length 2225 m and the PVC pipe with diameter of 6 "that it put in 1
m under the ground.
The results of study showed that the pattern of cropping system is pattern of double cropping: Rice Corn - Peanuts and Rice - Corn - Rice with irrigation water demand of 1,792 l/sec/ha that begun in January.
Based on the value of the total pumping head SDMJ 571 at 34,388 m and capacity discharge of wells drilled
by 30,14 l/sec, then the chosen type of pump groundwater for irrigation is Submersible Pump with capacity
34,72 l/sec and total pumping head 44 m. Total budget cost of groundwater irrigation network is five
hundred and fifty four million and eight hundred thousand Rupiah.
Key words: JIAT, Pattern of Cropping System, Loop System, Hardy Cross, WaterCAD.

1. PENDAHULUAN
Air merupakan kebutuhan yang
penting bagi kehidupan manusia. Manusia
tidak dapat melanjutkan kehidupannya

tanpa penyediaan air yang cukup dalam


segi kuantitas dan kualitasnya. Air digunakan untuk berbagai macam kebutuhan
seperti kebutuhan domestik, industri dan

untuk lingkungan. Penyediaan air yang direncanakan dengan baik secara sistematis
dan teknis menjadi syarat mutlak bagi
pembangunan masyarakat.
2. TINJAUAN PUSTAKA
A. JARINGAN IRIGASI AIRTANAH
Jaringan Irigasi Airtanah (JIAT)
adalah sistem jaringan yang direncanakan
untuk memanfaatkan airtanah dalam
cekungan airtanah (CAT) melalui sumur
bor untuk keperluan air baku sehari-hari
dan pertanian/usahatani.
Secara umum bangunan Jaringan
Irigasi Airtanah terdiri dari:
1. Sumur Bor: sebagai sumber atau penyediaan air.
2. Mesin Pompa: berfungsi sebagai pengambilan atau menaikan airtanah ke permukaan tanah dan mendorongkan ke
jaringan distribusi.
3. Rumah Pompa: berfungsi untuk melindungi mesin penggerak agar mesin
dapat bekerja sesuai karakteristik yang
ditentukan oleh pabrikan untuk melindungi dari gangguan
4. Saluran pembawa atau saluran distribusi, bangunan outlet/bangunan bagi
dan bangunan pelengkap lainnya (Air
Valve dan Riser Pipe) untuk kelancaran
distribusi keperluan irigasi/pertanian.
5. Sarana air baku, bak penampung induk,
saluran pembawa, hidran dan bangunan
pelengkap lainnya untuk keperluan air
baku rumah tangga.
B.

PERENCANAAN
JARINGAN
IRIGASI AIRTANAH
Ketersediaan air sumur bor (debit
sumur) telah ditentukan melalui pumping
test yang dilaksanakan oleh bidang pengeboran. Selain kuantitas (debit) juga
harus dijamin kualitas airnya. Kualitas air
dapat dilihat hasil analisa di laboraturium
(Anonim, 2009).
Debit air sumur dibatasi oleh karakteristik potensi airtanah, pompa dan mesin
penggerak, hal ini akan berpengaruh pada
perhitungan luas sumur pompa.

Kebutuhan air irigasi (IR) dapat dicari dengan rumus:


dengan:
ET : penggunaan konsumtif (mm)
P
: kehilangan air akibat perlokasi
(mm/hr)
Re : curah hujan efektif (mm/hr)
Rumus umum mencari Evapotranspirasi potensial (Suhardjono, 1994):
dengan:
ETo = Evapotranspirasi potensial, sering
disebut evapotranspirasi tanaman
acuan
c
= angka koreksi
ETo* = besaran evapotranspirasi potensial sebelum dikoreksi, sering dinyatakan sebagai evaporari muka
air bebas dan dengan menggunakan notasi Eo atau h E(d)
ETo* dapat dicari dengan menggunakan rumus Blaney-Criddle sebagai
berikut (Suhardjono, 1994):
dengan:
p
= prosentase rata-rata jam harian,
yang besarnya tergantung pada
letak lintang.
t
= suhu udara (0C)
C. ANALISA PERPIPAAN
Kehilangan tinggi tekan sendiri diakibatkan oleh beberapa faktor yang dibagi atas kehilangan energi karena tahanan
oleh permukaan pipa (hf) dan arena tahanan oleh karena bentuk pipa (hm), sehingga
total hl (Klass, 2009):
hl = hf + hm
dengan:
hl = kehilangan tinggi total (m)
hf = mayor losses (m)
hm = minor losses (m)
Mayor losses diakibatkan oleh
gesekan yang ditimbulkan oleh gerakan
air. Sedangkan minor losses diakibatkan
oleh gangguan-gangguan lokal seperti
(Klass, 2009):
- Lubang masuk dan keluar pipa,

km = koefisien kehilangan merupakan fungsi dari D2/D1


D1 = diameter pipa hulu (m)
D2 = diameter pipa hilir (m)

Perubahan bentuk penampang secara


tiba-tiba,
- Belokan pipa,
- Halangan (tirai, pintu air),
- Perlengkapan pipa (katup, sambungan
percabangan, dan lain-lain).
Kehilangan tinggi tekan diakibatkan oleh beberapa faktor pada pipa.
Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Lubang keluar pipa (Outlet)
Bagian keluar pipa (outlet) mengakibatkan hilangnya tinggi energi.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan kehilangan tinggi di bagian
ini, yaitu (Klass, 2009):

Gambar 1. Lubang Keluar Pipa


(Klaas, 2009)
dengan:
hm = kehilangan tinggi pada lubang
keluar pipa (m)
v1 = kecepatan aliran di pipa hulu
(m/det)
v2 = kecepatan aliran di pipa hilir
(m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
km = koefisien kehilangan yang diterangkan sebagai berikut:
=
b.

Gambar 2. Kehilangan Tinggi Untuk


Penyempitan Tiba-tiba (Klaas, 2009)
Tabel 1. Koefisien Kehilangan untuk
Penyempitan Tiba-tiba

Perubahan betuk penampang tiba-tiba


(penyempitan dan pembesaran)
Penyempitan Tiba-tiba
(sudden contraction)
Kehilangan tinggi pada penyempitan
tiba-tiba, yaitu (Klass, 2009):
dengan:
hm = kehilangan tinggi pada penyempitan tiba-tiba (m)
v1 = kecepatan aliran di pipa hulu
(m/det)
v2 = kecepatan aliran di pipa hilir
(m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)

c.

D2/D1

0,00

0,10

0,20

0,30

0,40

0,50

km

0,50

0,45

0,42

0,39

0,36

0,33

D2/D1

0,60

0,70

0,80

0,90

1,00

km
0,28 0,22
Sumber: Klaas, 2009

0,15

0,06

0,00

Pembesaran Tiba-tiba
(sudden expansion)
Pada kasus ini, ada kenaikan tekanan
pada titik pembesaran oleh karena kecepatan aliran yang menurun.
Kemudian setelah pembesaran terjadi
kondisi turbulen berlebihan sampai di
kondisi normal dengan garis energi
dan garis gardien hidroulik kembali
lurus.
Rumus kehilangan energi tiba-tiba
adalah sebagai berikut (Klass, 2009):
dengan:
v1 = kecepatan aliran di pipa hulu
(m/det)
v2 = kecepatan aliran di pipa hilir
(m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
Perubahan bentuk penampang bertahap (gradual contraction)
Penyempitan Bertahap
(gradual contraction)
Penyempitan bertahap pada pipa
terjadi jika penyempitan secara bertahap di bagian transisi.

km = koefisien kehilangan yang diterangkan sebagai berikut:


Gambar 3. Penyempitan Bertahap
(Klaas, 2009)
Kehilangan tinggi pada penyempitan
tiba-tiba, yaitu (Klass, 2009:33):
dengan:
hm = kehilangan tinggi pada penyempitan tiba-tiba (m)
v1 = kecepatan aliran di pipa hulu
(m/det)
v2 = kecepatan aliran di pipa hilir
(m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
km = koefisien kehilangan yang diterangkan sebagai berikut:
= 0,315.c1/3
c = sudut konstraksi (radian) yang
dijabarkan sebagai berikut:
=
L = panjang bagian transisi (m)
Pembesaran Bertahap
(gradual expansion)
Pembesaran bertahap pada pipa terjadi
jika pembesaran secara bertahap di
bagian transisi sebagaimana terlihat
pada gambar di bawah.

Gambar 4. Pembesaran Bertahap


(Klaas, 2009)
Kehilangan tinggi pada pembesaran
tiba-tiba, yaitu (Klass, 2009):

r = rasio pembesaran = D2/D1


c = sudut pembesaran (radian) yang
dijabarkan sebagai berikut:
=
d.

L = panjang bagian transisi (m)


Belokan pipa dan lengkung
Pada belokan digunakan persamaan
(Klass, 2009):
dengan:
hm = kehilangan tinggi pada belokan
pipa (m)
v = kecepatan aliran (m/det)
g = percepatan gravitasi
(m/det2)
kb = koefisien kehilangan belokan
pada pipa, adalah fungsi jenis
dinding dan sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini.
= sudut belokan terhadap bidang
horizontal

Gambar 5. Belokan Pipa (Klaas, 2009)


Tabel 2. Koefisien Kehilangan pada
Belokan Pipa, km

dengan:
hm = kehilangan tinggi pada pembesaran tiba-tiba (m)
v1 = kecepatan aliran di pipa hulu
(m/det)
v2 = kecepatan aliran di pipa hilir
(m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)

Dinding

150

300

450

600

900

0,042

0,130

0,236

0,471

1,129

Kasar
0,062 0,165
Sumber: Klaas, 2009

0,320

0,684

1,265

Halus

D. METODE HARDY CROSS


Beberapa asumsi dasar yang digunakan pada metode ini adalah sebagai
berikut (Klass:2009):
1. Debit inflow dan outflow pada setiap
node harus sama:
Q1 = qj dengan j = 1, 2, 3, , jx
Q1 adalah debit di pipa 1 yang bertemu dengan node j dan qj adalah
debit outflow di node j.
2. Kehilangan tinggi tekan pada setiap
loop harus sama dengan nol.
K1Q1|Q1| = 0 k = 1, 2, 3, , kx
dengan:

E. WATERCAD
WaterCAD adalah suatu program
yang mempermudah engineers untuk mendesain dan menganalisis tekanan pada
sistem jaringan perpipaan.
WaterCAD dapat digunakan untuk:
1. Melakukan analisis steady-state dari
sistem pendistribusian air menggunakan pompa, tank, dan valve.
2. Memperpanjang periode simulasi untuk
menganalisis respon pada sistem perpipaan yang berhubungan dengan variasi supply dan jadwal kebutuhan air.
3. Melakukan simulasi tentang kualitas air
untuk menentukan sumber air dan usia
manfaat, atau menelusuri kerusakan jaringan keseluruhan dari unsur kimia.
4. Menganalisis aliran api dari satu sistem
untuk menentukan bagaimana sistem
itu berada pada kondisi ekstrim.
F. ANALISA ANGGARAN BIAYA
Perhitungan anggaran biaya biasanya terdiri dari 5 hal yang pokok, yaitu
(Soedradjat, 2011):
1. Bahan-bahan: Menghitung banyaknya
bahan yang dipakai dan harganya.
2. Buruh: untuk menghitung jam kerja
yang diperlukan dan jumlah biayanya.
3. Peralatan: untuk menghitung jenis dan
banyaknya peralatan yang dipakai dan
biayanya.

4. Overhead: untuk menghitung biayabiaya tak terduga yang perlu diadakan.


5. Profit: untuk menghitung prosentase
keuntungan dari waktu, tempat dan
jenis pekerjaan.
3. METODE PENELITIAN
Tahapan perencanaan jaringan irigasi airtanah, sebagai berikut:
1. Data yang dibutuhkan, data curah hujan
tahun 20032012, data klimatologi, dan
data debit optimum sumur pompa, yaitu
sebesar 30,14 lt/dt.
2. Menghitung curah hujan efektif.
3. Menghitung evapotranspirasi potensial
menggunakan metode Blaney-Criddle.
4. Menentukan nilai perkolasi.
5. Menghitung nilai penyiapan lahan.
6. Menghitung kebutuhan air irigasi (IR)
menggunakan metode PU.
7. Menghitung neraca air.
8. Melakukan alternatif pola tanam untuk
mendapatkan hasil pola tata tanam yang
optimum.
Tahapan perencanaan sistem perpipaan jaringan irigasi airtanah adalah:
1. Data yang dibutuhkan adalah layout
jaringan irigasi air tanah yang berlokasi
di Desa Wonodadi, data debit, dan data
dari perhitungan jaringan irigasi airtanah.
2. Perhitungan hidrolika saluran perpipaan
pada jaringan irigasi air tanah menggunakan sistem loop tertutup.
3. Menghitung debit yang keluar di setiap
titik outlet yang menggunakan Metode
Hardy Cross.
4. Menganalisis sistem perpipaan menggunakan WaterCAD V08.
5. Menentukam jenis pompa dan mesin
penggerak yang akan digunakan.
Tahapan Rencana Anggaran Biaya
di Desa Wonodadi Kecamatan Kutorejo,
Kabupaten Mojokerto, sebagai berikut:
1. Menghitung biaya pekerjaan persiapan.
2. Menghitung rancangan biaya pekerjaan
rumah pompa.
3. Menghitung rancangan biaya pekerjaan
Jaringan Irigasi, pompa, dan pipa.

4. Menghitung rancangan biaya pekerjaan


pagar rumah pompa.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Curah Hujan yang diperlukan
adalah data hujan bulanan yang terlampaui
80 % berdasarkan data curah hujan yang
ada. Data curah hujan bulanan yang ada
sepanjang pengamatan diurutkan dari yang
kecil ke besar berdasarkan jumlah curah
hujan pertahunnya.
Dari hasil perhitungan didapatkan
hasil R80 dari data terurut. Perhitungan
curah hujan efektif dapat dilihat pada tabel
berikut ini:

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Okt

Nov

Palawija

Padi

II

III

II

III

II

III

31

16

22

II

20

10

14

III

47

24

33

Periode

Sumber: Hasil Perhitungan

Reff
(mm)

Curah
Hujan
(mm)

Palawija

Padi

51

26

36

II

15

11

III

51

26

36

74

37

52

II

38

19

27

III

56

28

39

61

31

43

II

40

20

28

III

21

11

15

II

10

III

II

III

II

III

II

III

II

III

Periode

Sept

Desember

Tabel 3. Curah Hujan Eefektif untuk


Tanaman Padi dan Palawija
Bulan

Bulan

Reff
(mm)

Curah
Hujan
(mm)

Evapotranspirasi tanaman merupakan kebutuhan air tanaman yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, yang
merupakan hasil kali evapotranspirasi dan
koefisien tanaman:
ETc = c x Eto
dengan:
Etc = Evapotranspirasi tanaman
(mm/hari),
c
= Koefisien tanaman yang tergantung dari jenis tanaman dan periode pertumbuhan tanaman,
Eto = Evapotranspirasi tanaman acuan
(mm/hari).
Contoh perhitungan:
T
= 26,9 0C
Data Januari Tahun 1996
Koordinat Lokasi stasiun Klimatologi
= 070 30 LS dan 1120 30 BT
P
= 0,29
c
= 0,8
ETo*
= p (0,457 t+8,13)
= 0,29 ((0,457 x 26,9) + 8,13)
= 5,923 mm/hari
ETo
= ETo* x c
= 5,923 x 0,8
= 4,738 mmhari
Hasil Perhitungan dapat dilihat
pada tabel berikut:

Tabel 4. Evaporasi Potensial (ETo)


ETo (mm/hari)

Tahun
Jan

Feb

Mar

Apr

1995

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

3,972

3,912

3,998

4,089

4,626

4,780

4,636

4,791

1996

4,738

4,851

4,356

4,084

3,903

3,903

3,860

4,164

4,606

4,606

4,677

4,770

1997

4,738

4,575

4,395

4,084

3,921

3,860

3,765

4,062

4,790

4,462

4,810

4,887

1998

4,887

4,677

4,395

4,173

4,024

3,895

3,877

4,219

4,636

4,677

4,698

4,812

1999

4,717

4,606

4,279

4,048

3,834

3,877

3,730

4,062

4,595

4,575

4,657

4,632

2000

4,569

4,411

4,203

3,949

3,765

3,748

3,843

3,951

4,309

4,411

4,534

4,653

2001

4,600

4,432

4,145

3,896

3,730

3,782

3,730

4,071

4,626

4,769

4,616

4,537

2002

4,823

4,404

4,119

3,938

3,886

3,826

4,117

4,636

4,718

4,861

4,918

2003

4,844

4,718

4,404

4,128

3,946

3,929

3,843

4,034

4,565

4,647

4,821

4,908

2004

4,918

4,677

4,385

4,119

3,938

3,998

3,921

4,173

4,606

4,626

4,728

4,812

Jumlah

42,835

36,947

38,965

36,600

38,971

38,790

38,393

40,941

45,994

46,270

47,038

47,721

Rata2

4,759

4,618

4,329

4,068

3,897

3,879

3,839

4,094

4,599

4,627

4,704

4,772

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 5. Perhitungan Penyiapan Lahan


Bulan
No

Parameter

Satuan

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

Eto

mm/hr

4,76

4,62

4,33

4,07

3,90

3,88

3,84

4,09

4,60

4,63

4,70

4,77

Eo = 1,1 x Eto

mm/hr

5,24

5,08

4,76

4,47

4,29

4,27

4,22

4,50

5,06

5,09

5,17

5,25

mm/hr

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

2,00

M = Eo + P

mm/hr

7,24

7,08

6,76

6,47

6,29

6,27

6,22

6,50

7,06

7,09

7,17

7,25

hari

31,00

28,00

31,00

30,00

31,00

30,00

31,00

31,00

30,00

31,00

30,00

31,00

0,90

0,79

0,84

0,78

0,78

0,75

0,77

0,81

0,85

0,88

0,86

0,90

mm/hr

10,51

0,66

0,70

0,65

0,65

0,63

0,64

0,67

0,71

0,73

0,72

0,75

Penjenuhan, S = 250 mm
k=MT/S
PL = M x e^k
(e^k - 1)
Penjenuhan, S = 300 mm
k=MT/S
PL = M x e^k

0,75
mm/hr

(e^k - 1)
Sumber: Hasil Perhitungan

Kehilangan air akibat perkolasi diperuntukkan kepada tanaman padi selama


pengolahan lahan. Menentukan besarnya
perkolasi tergantung dari jenis tanahnya.
Dari data hasil pengamatan, dapat
dilihat Jenis tanah di daerah studi adalah
Loam dengan perlokasi 2 mm/hari.
Kebutuhan air penyiapan lahan ditentukan secara empiris sebesar 250 mm,

meliputi kebutuhan untuk penyiapan lahan


dan untuk lapisan air awal setelah transplantasi selesai. Untuk lahan yang sudah
lama tidak ditanami (bero), kebutuhan air
untuk penyiapan lahan dapat ditentukan
sebesar 300 mm. Kebutuhan air untuk
persemaian termasuk dalam kebutuhan air
untuk penyiapan lahan.

Penggantian lapisan air dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air yang


terputus akibat kegiatan di sawah dengan
ketentuan, berikut (Anonim, 1986:165):
1. Setelah pemupukan diusahakan menjadualkan serta mengganti lapisan air
menurut kebutuhan,
2. Jika tidak terdapat penjadualan, dilakukan penggantian air sebanyak 2
kali masing-masing 50 mm (3,3 mm
selama 15 hari) diberikan pada 1
bulan dan 2 bulan setelah tranplantasi.
Pada perhitungan kebutuhan air tanaman dan pola tata tanam koefisien tanaman diisi dengan nilai koefisien jenis
tanaman yang ditanam dan dimasukkan
nilainya sesuai dengan usia tanaman berdasarkan penggambaran pola tata tanam
dan diambil nilai rata-rata koefisien tanaman untuk setiap periode tanam.
Notasi pola tanam dibuat miringmiring, dimaksudkan bahwa penanaman
untuk seluruh areal persawahan tidak dilakukan serentak tetapi bertahap, berperiode triwulan (10 harian).
Rencana layout saluran perpipaan
yang dibuat menggunakan jaringan perpipaan dengan sistem Melingkar (Loop).
Untuk mendistribusikan air tanah ke
petak petak sawah, air dialirkan menuju
boks outlet melalui pipa-pipa PVC yang
ditanam 1 m dari permukaan tanah dan
dikeluarkan melalui outlet, kemudian dialirkan secara gravitasi menuju petakpetak sawah melalui saluran tanah atau
saluran cacingan.
Saluran untuk distribusi irigasi air
tanah menggunakan pipa PVC, ditanam
sedalam satu meter di bawah permukaan
tanah. Sedangkan untuk pipa yang posisinya berada di atas permukaan tanah harus
menggunakan pipa besi galvanis.
Contoh perhitungan dasar, yaitu:
Debit pompa = 30,14 liter/detik,
Q = 0,03 m/detik
Diameter pipa = 6 inchi
D = 152,4 mm
= 0,1524 m
Koefisien gesekan pada pipa,
f = 0,02 (PVC)

Luas Penampang pipa


A = x x D
= 0,0182 m
Kecepatan aliran
V = Q / A = 0,030/0,0182 = 1,6484 m/dt
Luas layanan SDMJ 571 adalah
32,99 Ha. Debit sumur hasil pumping test
sebesar 30,14 lt/dt. Daerah layanan irigasi
dapat ditunjukan pada gambar dibawah
ini:

Gambar 6. Layout Jaringan Irigasi


(Analisa WaterCAD)
Contoh perhitungan perencanaan
head pompa, dari data potensi air tanah.
Hasil pemboran TA 2012 2013 untuk
SDMJ 571 di dapatkan data, yaitu:
Q sumur = 30,14 lt/det
SWL = 12,10 m.
Drop down (S)
= 7,05 m.
PWL (Pumping Water Lavel)
= SWL + S
= 12,10 + 7,05
= 19,15 m.
Total Head Loss pada pipa adalah
Total pumping head SDMJ 571
= PWL + (Elv. Tanah Tertinggi Elv
Pompa) + Total Headloss
=19,15 m + (78,28 m 71 m) + 0,3304
= 34,388 m.

Tabel 6. Perhitungan Hardy Cross


Loop 1
Q
L
D
K
No Pipa
3
2
(m /dt)
(m)
(m)
(m /dt5)
1
0,05910
8,99 0,1524
191,25
2
0,05910
8,98 0,1524
191,04
3
0,02710 141,00 0,1524 3254,67
4
0,01632 182,80 0,1524 5265,40
5
0,00465 138,26 0,1524 7522,34
6
-0,00595 461,34 0,1524 15685,38
10
-0,01857 533,95 0,1524 8887,20
Jumlah
Q
(1,671/980,136)
Loop 2
Q
L
D
K
No Pipa
3
2
(m /dt)
(m)
(m)
(m /dt5)
1
0,05910
8,99 0,1524
191,25
2
0,05910
8,98 0,1524
191,04
10
0,01857 533,95 0,1524 8887,20
7
0,00595 195,48 0,1524 6495,77
8
-0,00065 203,78 0,1524 826394,87
9
-0,00690 350,23 0,1524 69878,69
Jumlah
Q
(0,954/2491,195)
Sumber: Hasil Perhitungan
Dalam perencanaan, tidak diperlukan penulisan label secara manual pada
pipa dan nodes karena pada Bentley
WaterCAD V8 XM Edition akan memberikan label secara otomatis. Ketika menulis sebuah gambar schematic, panjang
pipa akan tercantum secara manual. Pada
gambar berskala, secara otomatis panjang
pipa akan terhitung dari letak tekukan
pipa serta awal dan akhir dari nodes pada
layar gambar.
Pada jaringan ini, model penyambungan dari tampungan ke pompa mensimulasikan hubungan di sistem distribusi
air utama. Untuk mempermudah jaringan,
dapat memperkirakan tekanan yang tersedia pada sistem yang menghubungkan
kebutuhan air.

Q
(m3/dt)
0,05910
0,05910
0,02710
0,01632
0,00465
0,00595
0,01857

K Q Q
2 K Q
(m)
(dt/m2)
0,668
22,606
0,667
22,580
2,390
176,403
1,402
171,863
0,163
69,958
-0,555
186,656
-3,065
330,070
1,671
980,136
0,0017 0,00

Q
(m3/dt)
0,05910
0,05910
0,01857
0,00595
0,00065
0,00690

K Q Q
2 K Q
(m)
(dt/m2)
0,668
22,606
0,667
22,580
3,065
330,070
0,230
77,300
-0,349 1074,313
-3,327
964,326
0,954
2491,195
0,0004 0, 00

Tabel 7. Kebutuhan Air Irigasi pada


SDMJ 571 Kabupaten Mojokerto
Kebutuhan
Luas Blok
Air
l/dt/Ha
Ha
1
1,792
6,0
2
1,792
6,5
3
1,792
5,9
4
1,792
3,8
5
1,792
4,2
6
1,792
6,5
Total
33,0
Sumber: Hasil Perhitungan
No.

Kebutuhan
Air di Lahan
l/dt
10,777
11,672
10,597
6,835
7,552
11,672
59,106

Tabel 8. Klasifikasi Pompa


Debit
(L/dt)
Kondisi mati
0
Desain
59,09
Operasi Maksimum
70
Sumber: Hasil Perhitungan

Kehilangan
Tinggi Tekan
(m)
50
34,39
28

Gambar 7.

Grafik Head Pompa Hasil Analisa WaterCAD


Sumber: Analisa WaterCAD

Tabel 9. Tekanan pada Tiap Junction


J-1

Elevasi
(m)
71

Kebutuhan Air Irigasi


(L/dt)
0

Angka Hidrolik
(m)
106,02

Tekanan
(kPa)
3,4

J-2

71,43

10,78

104,4

3,2

J-3

71,36

11,67

103,61

3,1

J-4

71,94

10,6

103,56

3,1

J-5

77,64

6,83

103,95

2,5

J-6

77,27

7,55

103,94

2,6

J-7

77,86

11,67

104,1

2,5

Label

Sumber: Analisa WaterCAD

Tabel 10. Kehilangan Tinggi Tekan pada Tiap Pipa


Label

Panjang
(m)

Node
Awal

Node
Akhir

Diameter
(in)

Minor
Loss

Debit
(L/dt)

Kecepatan
(m/dt)

P-1

8,99

R-1

PMP-1

59,1

3,24

Gradient
Tinggi
tekan
(m/m)
0,076

P-2

8,98

PMP-1

J-1

59,1

3,24

0,076

0,68

P-3

141

J-1

J-2

0,003

26,52

1,45

0,011

1,61

P-4

182,8

J-2

J-3

15,74

0,86

0,004

0,8

P-5

138,26

J-3

J-4

4,07

0,22

0,05

P-6

461,34

J-4

J-5

0,013

-6,52

0,36

0,001

0,39

P-7

195,48

J-5

J-6

1,41

0,08

0,01

P-8

203,78

J-6

J-7

-6,14

0,34

0,001

0,16

P-9

350,23

J-7

J-1

0,055

-17,81

0,98

0,005

1,92

P-10

533,95

J-1

J-5

14,77

0,81

0,004

2,06

Sumber: Analisa WaterCAD

Kehilangan
Tinggi tekan
(m)
0,69

Berdasarkan analisa analisa dalam


pekerjaan ini maka dipilih jenis pompa
untuk jaringan irigasi air tanah adalah:
Merk
: Grundfos Tipe SP - 7inch
Submersible Pump
Model
: SP 125 3 AA
Kapasitas : 125 m3/hari = 34,72 lt/dt
Max head : 44 m

2.

3.
Gambar 8. Pompa Submersible Grundfos
Rancangan Anggaran Biaya
Analisa yang digunakan berdasarkan dari data kebutuhan untuk perbaikan serta analisa kebutuhan untuk pekerjaan yang bersifat rekomendasi.
Tabel 11. Rencana Anggaran Biaya
No.

Jenis Pekerjaan
Pekerjaan Persiapan
I
Pekerjaan Rumah
II Pompa
Pekerjaan Jaringan
III Irigasi Pompa dan Pipa
Pekerjaan Pagar
IV Rumah Pompa
Jumlah Harga

Harga
Rp. 1.301.779,00
Rp. 56.862.714,00
Rp.418.337.555,00
Rp. 27.826.818,00
Rp.504.328.866,00

PPn 10 %

Rp. 50.432.887,00

Total Biaya Konstruksi

Rp.554.761.752,00

Total Biaya Dibulatkan


Rp.554.800.000,00
Terbilang : Lima Ratus Lima Puluh Empat Juta
Delapan Ratus Ribu Rupiah

5.

Kesimpulan
Kesimpulan dari studi Perencanaan Jaringan Irigasi Kecamatan Kutorejo
Kabupaten Mojokerto adalah:
1. Pola tata tanam yang digunakan
adalah pola tata tanam rangkap, yaitu
Padi Jagung Kacang Tanah dan

Padi Jagung Padi dengan kebutuhan air irigasi 1,792 lt/dt/ha.


Menggunakan Sistem Tertutup
Jaringan irigasi yang digunakan berbentuk jaringan pipa putaran paralel
(looping) tertutup. Panjang pipa pada
jaringan irigasi adalah 2225 m dan
jenis pipa PVC dengan diameter pipa
6 yang dipasang tertanam di dalam
tanah dengan jarak satu meter dari
permukaan tanah.
Berdasarkan nilai total pumping head
SDMJ 571 sebesar 34,388 m dan
debit sumur bor sebesar 30,14 lt/dt,
jenis pompa jaringan irigasi airtanah
adalah Submersible Pump dengan kapasitas 34,72 lt/dt dan maksimum
head 44 m.
Total anggaran biaya adalah lima
ratus lima puluh empat juta delapan
ratus ribu rupiah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1986. Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi Bagian Penunjang. Bandung: Galang Persada.
Anonim. 2009. Kriteria Pengembangan &
Pengelolaan Irigasi Airtanah.
Jakarta: Departemen Pekerjaan
Umum.
Klass, Dua K.S.Y. 2009. Desain Jaringan Pipa. Bandung: Mandar Maju.
Suhardjono. 1994. Kebutuhan Air Tanaman. Malang: ITN Malang
Press.
Sastraatmadja, Soedradjat. 2011. Analisa
(Cara Modern) Anggaran Biaya
Pelaksanaan. Bandung: Nova