Anda di halaman 1dari 17

RANGKUMAN HARDNESS, CREEP DAN TENSILE TEST

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Teknik Pengujian Logam

Oleh :
Ramdani Subekti
2613121048

JURUSAN TEKNIK METALURGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
BANDUNG
2015

TENSILE STRESS (UJI TARIK)


Secara umum tipe pengujian yang digunakan untuk mengukur sifat mekanis material
ialah dengan Uji tarik. Uji tarik ini bertujuan untuk mengetahui informasi dasar mengenai
kekuatan material dan juga untuk mengetahui spesifikasi material.

Parameter utama menjelaskan hubungan antara kurva tegangan (stress) regangan


(strain) yang didapat selama pengujian tarik dilakukan
a.
b.
c.
d.

Kekuatan tarik (UTS/Ultimate Tensile Stength)


Kekuatan luluh / yield strength (y)
Modulus elastis (E)
Persen elongasi/pertambahan panjang (L%) dan pengurangan penampang /

reduction area (RA%)


e. Ketangguhan
f. Poissons ratio (v) yang dapat diketahui dengan menggunakan metode pengujian
ini.

Engineering stress dihasilkan dari pembagian antara beban dan luas area pada
spesimen.
Stress = P/Ao ( Load/Initial cross-sectional area)
Strain = e = l/lo (Elongation/Initial gage length)

Daerah elastis yaitu bagian dari kurva kekuatan regangan sampai kekuatan luluh.
Deformasi elastis adalah kemampuan material untuk kembali ke bentuk awal setelah
beban yang diberikan dilepaskan. Pada daerah elastis, kekuatan dan regangan saling
berhubungan satu sama lain.
Hookes Law : = Ee

Daerah palstis yaitu bagian dari diagram kekuatan- regangan setelah titik kekuatan
luluh. Pada kekuatan luluh disitu deformasi plastis mulai terjadi. Deformasi plastis
merupakan permanen. Pada titik maksimum dari diagram kekuatan-regangan necking
mulai terjadi.

Kekuatan tarik yaitu kekuatan material menahan beban sebelum putus atau patah.
UTS = Pmax/Ao

Kekuatan luluh yaitu level kekuatan dimana deformasi plastis mulai terjadi.

Kekuatan luluh penting untuk paramater desain material.


0,2% off-set method yaitu metode yang biasa digunakan untuk menentukan tittik

luluh material.
Keuletan yaitu persen dari deformasi plastis suatu material sebelum putus. Suatu
material hanya sedikit terjadi deformasi plastis atau disebut sebagai getas.
Pada umumnya ukuran dari keuletan disebabkan oleh 3 cara :
1.

Deformasi tanpa putus dari logam yang bekerja secara roling dan extrusi.

2.
3.

Kemampuan dari logam terjadi plastis sebelum putus


Perubahan dalam level kotor atau kondisi proses
z = %l = [(lf-lo)/lo]*100
q = %RA = [(Ao-Af)/Ao]*100

Resilience adalah kemampuan dari material untuk menyerap energi ketika deformasi

elastis.
Toughness yaitu ukuran dari energi yang diperlukan untuk menyebabkan patah.
Poissions ratio yaitu kontruksi lateral perunit lebar dibagi oleh perpanjangan
longitudinal perunit panjang.
= - ( d/do)/(l/lo)

Gambar 1. Diagram stress-strain


Dalam pengujian ini, spesimen disiapkan sesuai untuk mencengkeram ke dalam
rahang pengujian pada mesin yang akan digunakan. Spesimen yang digunakan adalah kurang
lebih seragam dari panjang ukurannya (panjang di mana pengukuran perpanjangan
dilakukan).
Berdasarkan jenis pembebanannya, alat uji tarik dibagi menjadi dua :
a. Screw Driven Testing Machine : laju elongasinya konstan
b. Hydrauulic Testing Machine : laju pembebanannya konstan, laju pembebanan dapat
diatur dengan waktu tertentu hingga material putus.

Perilaku Monotonic stress-strain


Basic definition

Engineering stress, =

(1)

Engineering strain, = =

(2)

True stress tarik lebih besar daripada engineering stress karena adanya perubahan penampang
melintang, A selama deformasi. Persamaan true stress, s adalah :
True stress, =

(3)

Hal sama, pada terjadi necking, true strain, lebih kecil dari engineering strain, e
True strain, =

(4)

True and engineering stress-strain,


= +

(5)

True strain, =

(6)

Strue strain in term of engineering strain


= (+)

(7)

Asumsi selama deformasi berlangsung pada volume tetap, maka


=
Dalam bentuk perbandingan =

(8)

Substitusikan persamaan (8) ke pers (7) True strain dinyatakan dalam istilah area penampang
melintang, A
=

(9)

Substituskan P pada persamaan (1) / = , ke persamaan (3) = , maka true stress


dapat dinyatakan dalam istilah engineering stress,
=

(10)

Dengan mengkombinasikan pers (10) diatas (valid hanya sampai necking) dan true strain
pada pers (7) dan pers (9) diperoleh
= ln (1+) =

sehingga diperoleh

= 1+ (11)

Substitusikan nilai pers (10) ke pers (11) diperoleh relasi engineering stress dengan true stress
= S(1 + e)

(12)

Persamaan ini valid hingga sampai necking


Relasi Stress-strain

Total true strain, dalam uji tarik dapat dipisahkan kedalam elastis dan plastis
Linier elastic strain, dan plastic strain,
t = p + e

(13)

Dimana e : linier elastis strain


p : plastic strain (non linier)
Untuk true plastic strain, dimodelkan menjadi
=

(14)

Untuk dapat membentuk substitusi pers (14)


diatas, perlu diubah dalam bentu fungsi p,
= 1 (15)
Dimana K : strength coefficient dan
n : strain hardening exponent
Gambar 2. Kurva Stress-strain
Pada kondisi fracture terjadi perubahan:

True fracture ductility,


True fracture strength, sf

True fracture adalah true stress pada final fracture, persamaan (3) berubah menjadi
= /

(16)

Dimana Af dan Pf adalah luas area dan load terjadi fracture True fracture ductility,
merupakan true strain pada final fracture
Pada true fracture, berlaku persamaan sebelumnya berubah notasi dimana baik initial dan
area fracture terjadi.
=

(17)

Susun ulang dalam bentuk reduksi area, RA


=

(18)

Dengan analog, maka sf dan


= ()n

(20)

Dengan mengatur dalam bentuk K, diperoleh


= / n

(21)

Dengan mensubstitusikan nilai K, pada pers (15), yaitu =


Maka diperoleh nilai

(22)

Dengan pers (13) t = p + e


Dimana
= / maka diperoleh
= / +

(23)

Pers (23) diatas true strain total berkorelasi dengan true stength, strain ductility dan strain
hardening.
Pengujian merusak (destructive test) Pengujian merusak yang dibahas adalah
pengujian yang bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat mekanik material seperti: Kekuatan
tarik, kekuatan luluh, kekuatan bengkok, ketahanan lelah, ketahanan akibat beban tiba-tiba,
dimana kesemuanya merupakan ketahanan atau respon material terhadap adanya beban dari
luar.
Jenis pengujian merusak
1. Tarik /Tensile
2. Tekan/compressive
3. Geser/Shear
4. Puntir/Torsi

Gambar 3. Spesimen Uji Tarik

PENGUJIAN MULUR (CREEP TEST)


Deformasi mulur pada material
1. Waktu deformasi bergantung di bawah beban konstan pada suhu tinggi yang disebut
creep dan regangan yang dihasilkan adalah fungsi dari diaplikasikannya stres, suhu,
dan waktu.

2. Suhu di mana material mulai mulur tergantung pada titik leleh. Hal ini ditemukan
bahwa mulur di logam dimulai ketika suhu> 0,3-0,4 Tm (suhu leleh di Kelvin).
3. Kebanyakan logam memiliki titik leleh yang tinggi dan karenanya mereka mulai
mulur hanya pada suhu yang jauh di atas suhu kamar. Ini adalah alasan mengapa
fenomena mulur (creep) kurang dikenal dibandingkan deformasi elastis atau plastik.
4. Sebagai contoh, creep baja karbon sangat penting pada suhu di atas 500 C,
aluminium mulai mulur di atas 100 C, dan karena timbal adalah logam dengan titik
lebur yang rendah (Tm = 600 K) bahkan creep terjadi pada suhu kamar
Dalam desain, kita mencari material yang akan membawa beban rancangan tanpa
kegagalan untuk umur desain pada temperatur pakai. Creep merupakan pertimbangan penting
dalam desain dalam tiga jenis aplikasi suhu tinggi:
1. aplikasi Perpindahan yang terbatas di mana dimensi yang tepat atau jarak yang kecil
harus dipertahankan seperti dalam rotor turbin mesin jet)
2. Aplikasi pecah-terbatas di mana dimensi yang tepat tidak penting tetapi fraktur harus
dihindari seperti pada tekanan tinggi tabung uap dan pipa
3. Aplikasi di mana ketegangan awal menenangkan dengan waktu Tegangan-relaksasiterbatas seperti pada kabel ditangguhkan dan baut diperketat

Dalam jenis aplikasi, para insinyur perancangan harus mempertimbangkan mulur


deformasi dan ketergantungannya pada waktu dan temperatur. Banyak sistem mekanik dan
komponen seperti turbin, boiler uap, dan reaktor beroperasi pada suhu tinggi dan sifat creep
untuk bahan yang digunakan harus ditentukan
-

Ini adalah deformasi bergantung waktu yang di aplikasikan dibawah beban tertentu.
Umumnya terjadi pada suhu tinggi (thermal creep), tetapi juga dapat terjadi pada
suhu kamar dalam bahan tertentu (misalnya timah atau kaca), meskipun jauh lebih

lambat.
Akibatnya, bahan ini mengalami peningkatan tergantung pada waktu panjang, yang
bisa berbahaya ketika dalam pemakaian.

Gambar 1. Kurva Creep klasik


Tingkat deformasi disebut laju creep.
Ini adalah kemiringan garis dalam Saring Creep vs kurva waktu.

Gambar 2. Tahapan Creep


-

Creep Primer: dimulai dengan kecepatan tinggi dan melambat seiring waktu.
Creep Sekunder: memiliki tingkat yang relatif seragam.
Creep tersier: memiliki laju creep dipercepat dan berakhir ketika material putus atau
pecah. Hal ini terkait dengan kedua necking dan pembentukan kekosongan pada batas
butir.

Gambar 3. Efek dari Temperature dan Tegangan


Mekanisme creep
Massal Difusi (Nabarro-Herring creep)
Tingkat Creep menurun sebagai ukuran butir meningkat
Batas Butir Difusi (Coble creep)
Kuat butir ketergantungan ukuran dibandingkan Nabarro Herring
Dislokasi memanjat / mulur
Dikendalikan oleh gerakan dislokasi, ketergantungan yang kuat pada tegangan.
Terjadi pada polimer dan bahan viskoelastik lainnya
Uji creep
-

Langkah-langkah perubahan dimensi secara akurat pada suhu tinggi konstan dan

beban konstan atau stres.


Berguna untuk membuat model aplikasi dalam jangka panjang dengan regangan

terbatas.
Memberikan prediksi umur sebelum pemakaian. Hal ini penting untuk sudu turbin

misalnya.
Creep umumnya terjadi pada suhu tinggi, sehingga sangat umum untuk jenis
pengujian yang akan dilakukan dengan ruang lingkungan untuk pemanasan yang tepat

/ control pendinginan.
Mengatur temperatur sangat penting untuk meminimalkan efek ekspansi termal pada
sampel.

Parameter creep

Untuk memprediksi tegangan dan waktu untuk jangka waktu panjang dengan data

lebih pendek
Rencana umur 30-40 tahun
Data creep biasanya lebih dari 30000 jam
Menggunakan metode Larson Miller dan spesifikasi material

Persamaan Larson Miller


LMP= T(C+log tr)
Dimana:
T : temperature (K or R)
tr : waktu sebelum patah (hours)
C : konstanta spesifikasi material
High Temperature Behavior of Materials:
Mechanical degradation
Chemical Degradation
Gas Turbine and jet Turbine
Nuclear reactors
Power plants
Spacecraft
Chemical processing

HARDNESS TEST (UJI KEKERASAN)


Hardness didefisinikan sebagai ketahanan suatu material terhadap deformasi plastis
seperti :
1.Indentasi

2.Wear
3.Abrasi
4.Stratch
Hardness merupakan suatu sifat mekanik yang berkaitan dengan :
1. Ketahan aus material
2. Kemampuan untuk abrade atau indent material lain atau
3. Resistan tehadap deformasi permanen atau plastik
Didalam aplikasi manufaktur, material dilakukan pengujian dengan dua pertimbangan
yaitu untuk mengetahui karakteristik suatu material baru dan melihat mutu untuk memastikan
suatu material memiliki spesifikasi kualitas tertentu.
Jenis Pengujian Kekerasan
Jenis penguji kekerasan dalam penggunaan produk didasarkan pada beberapa
"ketentuan yang acak" dari kekerasan.
Beberapa ketentuan tersebut adalah:
1. Resistensi terhadap lekukan permanen (uji indentasi)
2. Resistensi terhadap goresan (tes awal)
3. Energi yang diserap di bawah beban (uji kekerasan dinamis)
4. Pantulan dari berat (tes Rebound)
Pada metode ini. Uji tekuk paling banyak di gunakan, pada metode ini kekerasan
diartikan sebagai ketahanan terhadap tekukan.
Prinsip umum uji indentasi:
-

Sebuah indentor yang keras dengan bentuk (bola kecil, piramida atau kerucut)
ditekan pada permukaan material yang akan diuji di bawah beban khusus untuk

intervall dan dalam waktu tertentu,


Ukuran atau kedalaman bagian yang cekung diukur.

Uji kekerasan adalah salah satu tes penting dalam menentukan sifat dari material.

Karena, adanya hubungan antara kekerasan dan sifat fisik lainnya dari suatu material.
Misalnya, kekerasan dan uji tarik tujuan keduanya yaitu mengukur ketahanan suatu
material terhadap deformasi. Menunjukan adanya korelasi antara kekerasan dan
kekuatan tarik dari baja:

St= 0.33 x BHN


Namun, kekerasan bukanlah sifat dasar material
Hal ini tergantung pada material yang telah melewati perlakuan tertentu.
Pengujian kekerasan juga sangat populer dalam arti bahwa sangat mudah untuk
dilakukan, sederhana dan relatif tidak merusak (dibandingkan dengan tarik, bending
dan uji torsi)

Penguian yang paling banyak dipakai adalah dengan menekankan penekan tertentu
kepada benda uji dengan beban tertentu dan dengan mengukur ukuran bekas penekanan yang
terbentuk diatasnya, cara ini dinamakan cara kekerasan dengan penekanan.
Kekerasan juga didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban
identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia teknik, umumnya pengujian kekerasan
menggunakan

macam

metode

pengujian

kekerasan,

yakni

1.Brinnel
2.Rockwell
3.Vikers
4. Micro Hardness (Knoop Hardness)
Uji Kekerasan Brinell
Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan
suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan
pada permukaan material uji tersebut (spesimen). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan
untuk material yang memiliki permukaan yang kasar dengan uji kekuatan berkisar 500-3000
kgf. Identor (bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan
Karbida Tungsten.
Angka kekerasan Brinell (Brinell hardness number, BHN) dinyatakan sebagai beban P
dibagi luas permukaan lekukan, persamaan untuk angka kekerasantersebut adalah sebagai
berikut :

atau BHN =
Dimana,

BHN = nilai kekerasan brinell (kg/mm2)


P

= beban yang diterapkan (Kg)

= diameter bola (mm)

= kedalaman jejak (mm)

Contoh penulisan nilai kekerasan brinell


80 HB/10 500/30
Diamana,
80 HB = nilai kekerasan brinell
500

= beban yang diberikan

10

= diameter indentor bola baja

30

= waktu

Standart
Standar yang digunakan pada pengujian kekerasan dengan metode brinell yaitu :
1. TS139 dari TSE dan E10-70 dari ASTM ( American Society for Testing and

Materials)
2. Ukuran bola baja (indentor) memiliki toleransi 0,005 mm, yaitu 10 mm + 0,005 mm
atau 10 mm 0,005 mm

Gambar 1. Uji Kekerasan Brinell


Uji kekerasan Vikers
Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu
material dalam yaitu daya tahan material terhadap indentor intan yang cukup kecil dan
mempunyai bentuk geometri berbentuk piramid.

Gambar 4. Indentor Vikers


Metode pengujian vikers terbagi dua yaitu :
1. Makro vikers (baban lebih dari 1 kg)
2. Mikro vikers (beban kurang dari 1 kg)
Persamaan yang bisa digunakan dalam metode vikers yaitu
VHN = 1,855F/d2
Dimana,
HV

= Angka kekerasan Vickers

= Beban (kgf)

= diagonal (mm)

Keunggulan pengujian kekerasan metode vikers


1.
2.
3.
4.

Lunak, baik digunakan untuk logam keras


Pengujian dengan beban kecil dan jarak micro
Dengan jakar micro dan beban rendah di aplikasikan dengan beban diatas 5 kg.
Kerusakan pada benda kerja akibat indentor piramid sangat kecil

Tabel 1. Pengujian Kekerasan


Hardness Test
Indenter
Brinell hardness (HB)
hardened steel or WC sphere
(10mm diameter)

Load
500-3000 kg

Rockwell hardness (HR)

small hardened steel sphere or a


diamond cone

10-150 kg

Microhardness (Vickers or
Knoop)

a small diamond pyramid

1.0-1000 g

Teknik Pengujian Kekerasan

Tabel 2. Aplikasi Pengujian Kekerasan


Uji.Kekerasan.Rockwell
Pengujian rockwell menggunakan indentor bola baja diameter standar (diameter 10mm,
diameter 5mm, diameter 2.5mm, dan diameter 1mm) dan indentor kerucut intan. pengujian
ini tidak membutuhkan kemampuan khusus karena hasil pengukuran dapat terbaca langsung.
tidak seperti metoda pengujian Brinell dan Vickers yang harus dihitung menggunakan rumus
terlebih

dahulu.

Pengujian ini menggunakan 2 beban, yaitu beban minor/minor load (F0) = 10 kgf dan
beban mayor/mayor load (F1) = 60kgf sampai dengan 150kgf tergantung material yang akan
di uji dan tergantung menu rockwell yang dipilih (A, B, C).
Untuk pengujian baja, digunakan dua skala most yaitu :
1. Rockwell C scale (RC): hard steels
2. Rockwell B scale (RB): softer low-carbon steels, Al, & other softer nonferrous
materials
Penetran pada pengujian kekerasan dengan metode rockwell
1. Penetran intan atau brale penetran, digunakan pada posisi 1200, dengan bentuk bola

beradius 0,2 mm. Penetran intan digunakan untuk material baja keras dan sementit
carbida
2. Penetran bola baja dengan diameter berbeda 1/16, 1/8, 1/4, dan 1/2. Digunakan untuk

material baja, paduan tembaga, alumuniaum, dan plastik

Gambar 2. Indentor Rockwell


Dibawah ini merupakan rumus yang digunakan untuk mencari besarnya kekerasan
dengan metode Rockwell.
HR = E - e
Dimana :
e

= Jarak antara kondisi 1 dan kondisi 3 yang dibagi dengan 0.002 mm

= Jarak antara indentor saat diberi minor load dan zero reference line yang untuk
tiap jenis indentor berbeda-beda

HR

= Besarnya nilai kekerasan dengan metode hardness

Jenis pengujian kekerasan dengan metode rockwell


1. Pengujian rockwell normal : skala A dan B.
2. Pengujian rockwell superficial : skala 30T dan 30N
Pengujian rockwell normal yaitu menggunakan beban minor 10 kg, dan beban mayor 60
kg, 100 kg atau 150 kg. Dan ukuran bola penetran 1/16, 1/8, 1/4, dan 1/2.
Pengujian rockwell superficial yaitu digunakan pada kedalaman penetran yang lebih
rendah dan beban yang lebih rendah juga. Beban minor 3 kg dan beban mayor 15 kg, 30 kg
atau 45 kg.