Anda di halaman 1dari 4

Nama: Eka Ary

Ramadhani
NIM

: 13.71.014691

Prodi : Farmasi

PERCERAIAN ORANG TUA DAN AKIBATNYA BAGI ANAK

A. Pendahuluan
Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur
kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok
sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga
kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial.
Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada
hubungan-hubungan antar unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat.
Apabila antar unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubunganhubungan sosial akan terganggu sehingga mungkin terjadi kegoyahan dalam
kehidupan kelompok.
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah
tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka
saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan
Maglaya,1978 ).
Perubahan nilai-nilai sosial yang sedang terjadi ditengah masyarakat
membuat tingkat perceraian semakin tinggi. Peningkatan dalam kasus
gugatan cerai yang diajukan istri kepada suami juga dipengaruhi oleh
kemampuan ekonomi kaum wanita yang terus meningkat. Saat ini, begitu
mudah bagi pasangan suami istri untuk melakukan perceraian sebagai solusi
dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka.
Perceraian ini sendiri dapat menimbulkan masalah dalam lingkungan
sosial karena pasangan yang bercerai dianggap telah melanggar norma sosial
yang ada di masyarakat, pengaruhnya terhadapa anak dan trauma pasca
perceraian yang sangat mungkin terjadi, terutama bagi perempuan.
Perceraian bukan saja akan merugikan beberapa pihak namun
perceraian juga sudah jelas dilarang oleh agama (agama islam). Namun pada

kenyataannya walaupun dilarang tetapi tetap saja perceraian di kalangan


masyarakat terus semakin banyak bahkan dari tahun ketahun terus
meningkat terutama contoh yang lebih konkrit yaitu terjadi kalangan para
artis, dimana mereka dengan mudah kawin-cerai dengan tidak
memperhitungkan akibat sikis yang di timbulkan dari perceraian tersebut,
masalah kecilnya biaya perceraian mereka tidak jadi permasalahan.
Pandangan seseorang tehadap perceraian merupakan jalan terakhir
yang terbaik. Tapi apa mereka melihat dampak yang diberikan kepada anak
bila perceraian itu terjadi. Mereka mementingkan ego mereka sendiri tanpa
memperdulikan nasib dan mental anak mereka. Dari masalah inilah, saya
ingin mengangkat masalah perceraian dengan mengaitkannya terhadap
penyakit sosial di masyarakat.

B. Rumusan masalah
1. Mengapa masalah perceraian terus menerus terjadi ?
2. Bagaimana dampak/pengaruh yang diberikan kepada anak akibat
perceraian ?

C. Pembahasan
Perceraian
adalah
berakhirnya
suatu pernikahan.
Saat
kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka
bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan
tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang
diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak),
dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anakanak mereka.
1. Faktor penyebab perceraian
a. Ketidakharmonisan keluarga
Ketidakharmonisan keluarga , anak merasa tidak disayang atau tidak
dihargai bahkan tidak dihiraukan ataupun merasa tersisih dalam
rumah, serta seringnya terjadi konflik antar anak dan orang tua
maupun suami dan istri, merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya perselingkuhan.
b. Masalah ekonomi
Masalah ekonomi yang sering muncul adalah pihak suami tidak
mampu
mencukupi
kebutuhan
rumah
tangganya,
sehingga
keluarganya hidup dalam serba kekurangan. Untuk mencukupi
kebutuhan yang ada maka istri ikut bekerja. Yang sering jadi masalah
adalah jika penghasilan istri melebihi penghasilan suami, maka istri

merasa lebih tinggi derajatnya dari suami karena merasa berjasa


sebagai penyelamat keluarga. Bermula dari perasaan seperti inilah
maka suami kemudian menjadi merasa tidak nyaman berada di dekat
istri dan kemudian sering terjadi pertengkaran yang akhirnya berakhir
pada perceraian.
c. Kekerasan dalam rumah tangga
Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan
yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh
istri. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan
pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya,
atau orang-orang yang ada di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau
korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah,
perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan
anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal serumah. KDRT juga
merupakan factor pemicu timbulnya perceraian.
d. Pernikahan dini
Pernikahan dini merupakan salah satu biang tingginya perceraian.
Mayoritas remaja zaman sekarang menikah dini karena sudah terlanjur
hamil duluan. Seperti yang telah dialami oleh teman saya. Saya akui
bahwa teman saya termasuk orang yang kalau berpacaran terlalu
mesra, hingga akhirnya dia dan pacarnya melakukan seks diluar nikah.
Waktu itu usiannya sangat muda bahkan lulus sekolah menengah atas
pun belum. Akibat seks diluar nikah dia pun hamil diluar nikah. Orang
tuanya pun mau tak mau harus menikahkannya dengan pacarnya.
Setelah menikah dan beberapa bulan setelah putrinya lahir kedunia,
mereka pun bercerai. Pernah juga terlintas dipikiran saya tentang
teman saya masih kecil, sudah punya anak, jadi janda pula betapa
berat cobaan hidupnya, belum lagi dia harus menanggung malu atas
semua perbuatannya.
2. Dampak dari perceraian terhadap anak

a. Depresi

Depresi adalah salah satu gejala yang paling umum terlihat pada
anak, ketika orang tua mereka berpisah. Anak akan mulai
mengisolasi diri dalam dunia mereka dan menjauhi hal-hal yang
biasa dilakukan oleh anak seusia mereka. Dia melakukan itu karena
dia tidak bisa menerima perceraian itu.

b. Cenderung berprilaku kasar

Perilaku ini muncul karena anak mulai merasa seolah-olah dirinya


ditipu oleh orang tuanya. Selain itu, dia juga bersikap demikian
untuk menarik perhatian kedua orang tuanya. Dia berharap bahwa
apa yang dilakukannya bisa kembali mempersatukan keluarganya.

c. Sulit fokus

Perceraian memberi dampak buruk pada performa anak, terutama


untuk prestasinya di sekolah. Itu dikarenakan dia terus memikirkan
tentang perceraian orang tuanya, sehingga dia tidak dapat fokus
pada hal lain. Jika terus dibiarkan, prestasi anak akan terus
menurun dan bahkan hancur.

d. Kehilangan rasa hormat

Hal ini sering terjadi pada anak-anak yang beranjak dewasa atau
masih remaja. Perceraian itu membuat mereka kehilangan rasa
hormat mereka terhadap orang tua. Mereka bahkan berani
menyalahkan orang tua mereka, karena dinilai telah merusak
kehidupan mereka. Selain itu, anak juga acapkali dijadikan bahan
lelucon di sekolahnya karena masalah perceraian orang tua.
Akibatnya, anak pun melampiaskan semua kemarahannya kepada
orang tuanya.

e. Memilih jalan yang salah

Sebagian anak yang menjadi korban perceraian memutuskan (atau


terpaksa)
untuk
memilih
jalan
yang
salah,
termasuk
penyalahgunaan narkoba dan alkohol, pelecehan seks, dan hal
buruk lainnya. Mereka kadang-kadang melakukannya sebagai
bentuk pelarian terhadap kenyataan.

D. Kesimpulan
Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur
kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok
sosial. 4 jenis faktor masalah sosial antara lain faktor ekonomi (contoh :
kemiskinan, pengangguran) , faktor budaya ( contoh : perceraian, kenakalan
remaja) , faktor biologis ( contoh : penyakit menular ) dan faktor psikologis
( contoh : penyakit syaraf).
Bagi anak keluarga sangatlah penting. Keluarga sebagai tempat untuk
berlindung, memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting
untuk perkembangan anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara
psikologi maupun secara fisik. Tanpa keluarga anak akan merasa sendiri,
tidak ada tempat untuk berlindung
Faktor yang mempengaruhi perceraian yaitu ketidak harmonisan,
masalah ekonomi , kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan dini.
Dampak dari perceraian tersebut terhadap anak, anak cenderung berprilaku

kasar, depresi, sulit fokus, kehilangan rasa hormat dan terkadang


memilih jalan yang salah.