Anda di halaman 1dari 44

Catatan Obstetri, dr.

cipto pramono

BEBERAPA ISTILAH DALAM OBSTETRI


1.

Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui
vagina ke dunia luar.
2. Partus imaturus : terjadi pada kehamilan lebih 20 minggu, kurang dari 28minggu dengan berat janin
antara 500-1000 gram.
3. Partus prematurus : terjadi pada kehamilan antara 28 36 minggu, dengan berat janin antara 1000
2500 gram.
4. Partus post maturus atau serotinus adalah partus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu yang
diperkirakan. Atau partus yang terjadi pada usia kehamilan 42 minggu.
5. Partus anjuran adalah partus dimana his sejak semula kita timbulkan. Penderita sebelumnya tidak
ada kontraksi uterus. (induksi persalinan)
6. Partus buatan adalah persalinan yang dilakukan dengan tindakan (SC, E. Vakum, E. forseps).
7. Partus tak maju adalah tidak adanya kemajuan persalinan pada Kala I dalam hal penurunan kepala,
putaran paksi dalam dan pembukaan serviks.
8. Partus macet adalah tidak adanya kemajuan persalinan pada kala II dalam hal penurunan kepala dan
putaran paksi dalam.
9. Partus lama adalah proses persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam (WHO).
10. Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil. Primigravida adalah seorang wanita yang hamil
untuk pertama kali.
11. Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Nullipara
adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang viabel untuk beberapa kali.
Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viabel untuk
beberapa kali.
12. Partus normal adalah partus :
a. dengan kekuatan ibu sendiri (spontan)
b. bayi tunggal, hidup, intra uterine
c. genap bulan
d. letak belakang kepala
e. berat bayi lahir 2500 kurang dari 4000 gram
f. berlangsung kurang dari 18 jam
g. tak ada komplikasi pada kala I, II, III, dan IV
13. Partus fisiologis : sama dengan partus normal, dimana ibu berusia 20-30 tahun, dengan paritas
kurang dari 5.
14. Periode perinatal : seluruh kelahiran janin dengan berat 500 gr sampai usia 28 hari.
15. Birthrate : jumlah kelahiran hidup per 1000 populasi
16. Fertility rate : jumlah kelahiran hidup per 1000 wanita usia 15-44 tahun.
17. Live birth : janin setelah lahir nafas spontan, atau menunjukkan tanda-tanda hidup lainnya seperti
denyut jantung atau adanya geakan spontan dari otot.
18. Still birth (fetal death) : tidak didapatkan tanda-tanda kehidupan setelah bayi lahir.
19. Neonatal death :
a. early neonatal death : kematian bayi pada 7 hari pertama
b. late neonatal death : kematian bayi setelah 7 hari tetapi sebelum 29 hari.
20. Stillbirth rate : jumlah bayi lahir mati per 1000 kelahiran (lahir hidup dan mati)
21. Neonatal mortality rate : jumlah kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup.
22. Perinatal mortality rate : jumlah kematian bayi baru lahir (stillbirth) dan kematian neonatal per
1000 kelahiran hidup.
23. Infant death : seluruh kematian bayi, setelah bayi lahir hidup sampai usia 1 tahun.
24. Infant mortality rate : jumlah kematian bayi (infant) perangkat lunak 1000 kelahiran hidup.
25. Direct maternal death : kematian ibu akibat komplikasi dari kehamilan, persalinan dan nifas serta
akibat intervensi, kelalaian, kesalahan pengelolaan juga kaitannya berbagai faktor tesebut.

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

26. Indirect maternal death : kematian ibu bukan merupakan akibat obstetri, tetapi akibat dari riwayat
penyakit sebelumnya, atau penyakit yang berkembang selama kehamilan, persalinan dan nifas yang
dapat memperburuk keadaan. Contoh : kematian ibu akibat komplikasi mitral stenosis.
27. Maternal mortality ratio : angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (ALARM)
28. Maternal mortality rates : angka kematian ibu per 100.000 wanita usia 15-49 per tahun. (ALARM)
MEKANISME PESALINAN NORMAL
(Mechanisms of Normal Labor)
Pada proses persalinan, menentukan posisi janin adalah penting untuk dapat memutuskan cara persalinan
yang tepat.
Letak janin dalam rahim :
1.
2.
3.
4.

Presentation
Positio
Habitus (attitude)
Situs (Lie)

Presentation (Fetal Pesentation)


Bagian terbawah dari fetus yang dapat diraba lewat VT. Pada letak bujur, letak terbawah adalah kepala
atau bokong. Pada letak lintang bagian terbawah adalah bahu (pada umumnya), sering disebut Soldier
Presentation.
a.

Presentasi kepala, terdiri atas :


Vertex presentation (letak belakang kepala, presentasi UUK)
Sincipital presentation (letak puncak, presentasi UUB)
Brow presentation (presentasi dahi)
Face prentation (presentasi muka)

b.

Presentasi bokong, terdiri atas :


Frank breech presentation
Complete/Full breech presentation
Incomplete/Foot and Knee presentation

c.

Presentasi bahu, terdiri atas :


Superior
Inferior
Anterior
Posterior

2.

Posisi (Fetal Position)

Posisi menunjukkan hubungan bagian yang dipilih oleh bagian janin yang berpresentasi, terhadap sisi
kanan atau kiri jalan lahir ibu. Karena itu, untuk setiap presentasi ada dua posisi, kanan atau kiri. Oksiput,
dagu, dan sacrum merupakan titik penentu presentasi verteks, wajah dan bokong.
3. Habitus
Menunjukkan bagian-bagian anak satu dengan yang lain. Pada keadaan normal, kepala dibawah, sehingga
bagian bawah kepala punya attitude tersendiri.
- kepala betul-betul fleksi : UUK
- kepala agak defleksi : UUB

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

kepala lebih defleksi : dahi


kepala defleksi maksimal : muka

4.Situs/Lie (Fetal Lie)


Hubungan sumbu panjang fetus dengan sumbu panjang uterus, ada dua yaitu :
a. Longitudinal
b. Transverse
DIAGNOSIS PRESENTASI DAN POSISI JANIN
Palpasi abdomen Perasat Leopold
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, pemeriksaan hendaknya dikerjakan secara sistematik dengan
menerapkan empat perasat yang dianjurkan Leopold dan Sporlin (1894). Ibu hendaknya berbaring di atas
tempat tidur yang keras atau meja periksa, dengan bagian abdomen dibiarkan terbuka. Pada Leopold I
III, pemeriksa berdiri di samping tempat tidur menghadap pasien. Pada Leopold IV, pemeriksa menghadap
kaki ibu.
Leopold I :
- Menentukan tinggi fundus uteri
- Menentukan bagian anak yang terdapat di fundus, bokong teraba besar, agak benjol, lunak. Sedang
kepala terasa keras dan bulat dan lebih bebas digerakkan serta digoyang-goyang (ballotable).
Leopold II :
-

Menentukan bagian apa dari janin pada uterus sisi kiri atau kanan, dengan meletakkan tangan pada
sisi-sisi abdomen.

Leopold III :
- Menentukan bagian apa dari fetus yang terdapat di bawah.
- Bagian bawah tersebut apakah sudah terfiksir/tertangkap di dalam pelvis.
- Menggunakan ibu jari dan jari-jari lain, pemeriksa meraba bagian bawah abdomen ibu tepat di atas
simfisis pubis. Kalau belum engaged, akan teraba bagian yang mudah digerakkan, biasanya kepala.
Leopold IV :
- Untuk meyakinkan L-III, bagian bawah sudah masuk panggul atau belum. Biasanya untuk presentasi
kepala, sedang pada presentasi bokong informasi yang diperoleh dari perasat ini kurang tepat.
- kalau kepala belum masuk posisi tangan konvergen.
- kalau kepala separoh masuk, posisi tangan sejajar.
- kalau kepala sudah masuk lebih dari separoh posisi tangan divergen.
Pada umumnya dengan perasat Leopold sudah cukup, tetapi ada palpasi pembantu yaitu
1. KNEBEL : adalah palpasi untuk membantu pemeriksaan Leopold I
Caranya : tangan kanan memfiksir pada atas simfisis, tangan kiri di atas fundus uteri dan
digoyangkan.
2.
3.

BUDIN : membantu Leopold II


Caranya : tangan kiri mendorong fundus ke arah kaudal sehingga bagian anak sebelah kiri atau kanan
mudah dikenali.
AHLFELD : membantu Leopold II
Caranya : Sisi ulnar dari tangan pemeriksa menekan bagian tengah dari perut ibu arah kranio-kaudal,
sehingga bagian janin kiri atau kanan jelas teraba.

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

AUSKULTASI
Dengan auskultasi DJJ saja tidak akan memberikan infomasi yang cukup mengenai pesentasi dan posisi
janin, DJJ seringkali dapat didengarkan setelah dilakukan palpasi. DJJ di pancarkan dari bagian cembung
(convex) janin yang bersentuhan dengan dinding uterus. DJJ akan terdengar jelas pada punggung janin
pada letak kepala atau bokong, sedangkan pada pesentasi muka akan jelas terdengar di bagian dada janin.
Pada letak kepala DJJ akan terdengar jelas di antara umbilikus dan anteior superior spine of her ilium.
Pada letak bokong DJJ terdengar sedikit di atas umbilikus.
CARDINAL MOVEMENT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Engaged
descent
flexion
internal rotation
extention
external otation
expulsion

Engagement : bila diameter biparietal (diameter transversal terbesar pada pesentasi occiput) sudah
melewati pintu atas panggul. Jadi, kepala janin lewat PAP dengan diameter transversal atau oblique.
ASYNCLITISMUS
adalah setiap keadaan defleksi lateral dari kepala pada posisi lebih ke arah anterior atau posterior dari
dinding pelvis. Jika sutura sagitalis mendekati ke arah promontorium, dan pada pemeriksaan dalam vagina
teraba os. parietal anteior disebut asinklitismus anterior. sedangkan bila sutura sagitalis mendekati ke arah
simfisis disebut asinklitismus posterior. Asinklitismus posterior yang ekstrim disebut juga Litzmann
oblique, bagian posterior dari teling mudah diraba. asinklitismus deajad sedang dapat lahir secara normal,
tetapi bila asinklitismus derajad berat dapat terjadi cephalopelvic dispopotion.
PERUBAHAN YANG TERJADI PADA KEPALA JANIN
Kaput Suksedaneum (Caput Succedaneum)
Adalah pembengkakan difus jaringan lunak kepala, yang dapat melampaui sutura garis tengah. kelainan
ini akibat sekunder dari tekanan uterus atau dinding vagina pada kepala bayi sebatas caput. Biasanya
menghilang dalam 2-4 hari setelah lahir. Tidk dipelukan tindakan dan tidak ada gejala sisa yang
dilaporkan. dapat tejadi pada persalinan lama dimana serviks belum membuka dengan sempurna.
Sefalhematom.
Adalah perdarahan subpeiosteal akibat kerusakan jaringan peiosteum karena tarikan atau tekanan jalan
lahir, dan tidak pernah melampaui batas sutura sagitalis. Menghilang 1-3 bulan. Pada gangguan yang luas
dapat menimbulkan anemia dan hipebiliubinemia.
Moulase (Molding)
adalah adanya peubahan pada tulang kepala janin akibat kekuatan kompesi ekstenal, sehingga tejadi
overlapping dari os. parietal. Moulase dihubungkan dengan memendeknya diameter suboccipitobregmatic
dan memanjangnya diameter mentovetical. Ada beberapa derajad moulase, yaitu :
- derajad 0 : sutura terpisah
- derajad 1 : petemuan dua tulang tengkorak yang bersesuaian
- derajad 2 : sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki
- derajad 3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki
Moulase derajad berat dapat menyebabkan trauma pada otak yang bisa menimbulkan kelainan neurologi.

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

PROGNOSIS PERSALINAN
Prognosis persalinan tergantung dari 3 P, yaitu :
1. Power : his, tenaga mengejan ibu
2. Passage : jalan lahir (lunak dan keras)
3. Passanger : keadaan janin (besar, presentasi, letak, kelainan kongenital dll)
POWE R
His dikatakan baik punya sifat yaitu :
a. fundal dominan
b. simetris
c. ada relaksasi
d. makin lama frekuensi makin sering,
e. makin lama kontraksinya makin kuat
f. mampu menimbulkan pembukaan serviks
Perasaan sakit pada waktu his amat subyektif, tidak hanya tergantung pada intensitas his, tetapi
tergantung pula pada keadaan mental orangnya. Perasaan sakit pada his mungkin sisebabkan oleh iskemia
dalam korpus uteri tempat terdapatnya banyak serabut saraf. Peristiwa ini meneruskan perasaan sakit
melalui saraf sensorik di pleksus hipogastrikus ke sistem saraf pusat.
PASSAGE (JALAN LAHIR)
Ada 2 bagian yaitu :
1. Jalan lahir keras : tulang panggul dan sendi
2. Jalan lahir lunak : otot-otot, jaringan dan ligamen
JALAN LAHIR KERAS
Tulang panggul terdiri : a. Os koksa (Os. ilium dan Os. iskium)
b. Os. sakrum
c. Os. koksigius
Secara fungsional, panggul terdiri atas : Pelvis major (bagian pelvis di atas linea terminalis) dan pelvis
minor (terletak di bawah linea terminalis).
Sumbu Carus : adalah garis yang menghubungkan titik-titik persekutuan antara diameter transversal dan
konjugata vera yang menghubungkan titik-titij sejenis di Hodge II, III,IV.
Pintu Atas Panggul/PAP (Inlet)
adalah suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium corpus vertebrae sacral I, linea inominata
(terminalis) dan pinggir atas simfisis.
Diameter Transversa : jarak terjauh garis melintang pada PAP 12,5-13 cm.
Diameter Obliqua : garis dari artikulasio sakroiliaka ke titik persekutuan antara diameter transversa dan
konjugata vera dan diteruskan ke linea terminalis ( 13 cm).
Konjugata Diagonalis : jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium.
Konjugata Vera : jarak terjauh (panjang jarak) dari pinggir atas simfisis ke promontorium 11 cm (sama
dengan CD 1,5 cm).
Konjugata Obstetrika : jarak dari bagian dalam tengah simfisis ke promontorium.
PINTU BAWAH PANGGUL
Tersusun atas dua bidang datar yang masing-masing bentuk segitiga, yaitu : bidang yang dibentuk oleh
garis antara kedua tuber ossis iskii dengan ujung os sakrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga garis
antara kedua tuber assis iskii dengan bagian bawah simfisis.

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Dalam obstetri dikenal 4 jenis panggul menurut Caldwell dan Moloy,1933 yang mempunyai ciri-ciri PAP
sbb. :
1. Jenis ginekoid : bentuk PAP hampir bulat. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama dengan
dengan diameter transversa.
2. Jenis android : panjang diameter antero-posterior hampir sama dengan diameter transversa, akan
tetapi yang terakhir ini jauh lebih mendekati sakrum. Dengan demikian, bagian belakangnya pendek
dan gepeng, sedangkan bagian depannya menyempit ke muka.
3. Jenis antropoid : PAP agak lonjong seperti telur. Panjang doameter antero-posterior lebih besar dari
diameter transversa.
4. Jenis platipelloid : Ukuran melintang jauh lebih besar daripada ukuran muka belakang.
Bidang Hodge
1. Bidang Hodge I : Bidang yang dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas simfisis dan
promontorium.
2. Bidang Hodge II : Bidang sejajar Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis.
3. Bidang Hodge III : Bidang sejajar dengan bidang Hodge I,II terletak setinggi spina iskiadika kanan
dan kiri.
4. Bidang Hodge IV : Bidang sejajar bidang Hodge I, II dan III, terletak setinggi os koksigius.
Ukuran-ukuran panggul luar :
1. Distansia spinarum ( 24 26 cm) : jarak antara kedua SIAS kiri dan kanan.
2. Distansia kristarum ( 28 30 cm) : jarak terpanjang antara dua tempat yang simetris pada krista
iliaka kiri dan kanan.
3. Diameter oblikua eksterna : jarak antara spina iliaka posterior sinistra dan spina iliaka anterior
superior dekstra dan dari spina iliaka posterior dekstra ke SIAS sinistra.Jika panggul normal, maka
kedua ukuran ini hampir sama.
4. Distansia intertrokanterika : jarak antara kedua trokanter major.
5. Konjugata eksterna (Boudeloque) 18 cm : jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus spinosus
lumbal V.
6. Distansia tuberum ( 10,5 cm) : jarak antara tuber iskii kanan dan kiri. Dipakai jangkar Oseander.
Angka yang ditunjuk jangkar ditambah 1,5 cm karena adanya jaringan subkutis antara tulang dan
ujung jangkar.
Ukuran Panggul Dalam :
a. Promontorium teraba ? Conjugata Vera = Conjugata diagonalis 1,5 cm
b. Linea inominata ?
teraba < 1/3 lingkaran
c. Dinding samping pelvis ?
sejajar
d. Spina ischiadica ?
tak menonjol
e. Lengkung sacrum ?
cukup
f. Mobilitas os coccygeus cukup
g. Arkus pubis ?
> 90o
Kapan curiga panggul sempit ?
Kita perlu curiga panggul sempit bila :
a. Ada kelainan bentuk panggul
b. riwayat trauma daerah panggul
c. riwayat lahir mati/riwayat obstetri jelek
d. tinggi badan < 145 cm
e. pimigravida hamil 36 minggu kepala belum masuk PAP
f. kelainan letak kehamilan anak pertama

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

BAGIAN LUNAK JALAN LAHIR


1. Uterus
2. Vagina
3. Otot-otot dasar panggul :
Otot yang menahan dasar panggul : m. sfingter ani eksternus, m. bulbokavernosus, dan m. perinei
transversus superfisialis. m. iliokoksigeus, m. perinei transversus profundus, dan m. koksigeus.
PASSANGER
Hal-hal yang dapat menghambat kemajuan proses persalinan :
1. Bayi besar (makrosomia) : berat badan janin 4000 gram.
2. Hidrosefalus
3. Kelainan letak, presentasi atau posisi :
Letak lintang, letak sungsang terutama presentasi kaki.
Positio Occipitalis Posterior Persisten.
Positio Occipitalis Posteior Directa
Presentasi puncak kepala.
Presentasi dahi.
Presentasi muka.
Deep Transverse Position (DTP)
Deep Transverse Arrest (DTA)
Occiput Transverse Position
Presentasi ganda
Sikap-sikap dalam Phantom :
1. Tunggu : berapa lama (dengan kurva Friedman atau partograf)? sebutkan !
2. VT : atas indikasi apa ? sebutkan !
3. Pimpin mengejan : berapa lama ? sebutkan !
4. Ambil tindakan, misal :
pecah kulit ketuban
profilaksis pinard
akhiri persalinan
peringan kala II
perbaikan his
versi luar
versi ekstraksi
1.
-

TUNGGU
Lama menunggu sesuai kurva Friedman untuk mencapai pembukaan lengkap :
Lama kala I, rata-rata :
a. Primi 13,5 jam yaitu : 8,6 jam fase laten dan 4.9 jam fase aktif.
b. Multi 7,5 jam yaitu : 5,2 jam fase laten dan 2,2 jam fase aktif.
Pada partus patologis sebaiknya menggunakan Kurva Friedman, sedangkan Partograp digunakan pada
partus fisiologis.

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

2. VT (Vaginal Toucher)
Indikasi :
a. Dalam kehamilan :
1). Umum : yaitu jika dengan pemeriksaan luar tidak jelas
2). Khusus :
a). Kehamilan muda
b). Kemungkinan adanya kelainan jalan lahir :
riwayat obstetri jelek yang menunjukkan curiga panggu; sempit.
letak janin tidak jelas
primigravida hamil 36 minggu kepala belum masuk PAP.
b. Dalam persalinan :
1). Umum : - Apabila dengan pemeriksaan luar tidak jelas, Untuk data dasar bagi pemantauan partograf.
2). Khusus :
a) Bila persalinan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan
b) Bila akan melakukan tindakan
c) Kulit ketuban pecah tetapi kepala belum masuk PAP
d) Kemajuan persalinan bila dibandingkan dengan partograf/kurve Friedman telah berada di
luar batas yang normal.
e) Indikasi sosial
Yang dinilai waktu VT :
1. Umum :
a. Vulva dan uretra
b. Vagina : supel atau tidak, striktura, tumor dll.
c. Otot antara vagina dan sekitarnya
d. Serviks uteri: konsistensi, posisi, penipisan, pembukaan, raba kulit ketuban.
e. Presentasi janin dan penurunannya (bidang Hodge atau station).
f. Point of direction.
g. Vesika urinaria dan rektum : kosong atau terisi, adanya masa dll.
Panggul, dinilai ukuran & bentuknya : Ukuran Panggul Dalam (UPD)
Stasion (pelvic station)
a. Station 0 yaitu bidang setinggi spina ischiadica
b. Bidang-bidang di atas station 0 :
Station 1 : 1 cm di atas station 0
Station 2 : 2 cm di atas station 0
Station 3 : 3 cm di atas station 0
Station 4 : 4 cm di atas station 0
Station 5 : 5 cm di atas station 0
Catatan : jarak antara spina ischiadica dengan PAP biasanya 5 cm. Bila bagian bawah janin lebih
tinggi dari bidang ini disebut floating.
c.

Bidang-bidang di bwh station 0 :


Station +1 : 1 cm di bawah station 0
Station +2 : 2 cm di bawah station 0
Station +3 : 3 cm di bawah station 0

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Syarat VT : teknik aseptik dan antiseptik


Kontra indikasi :
a. adanya infeksi pada daerah vulva
b. curiga plasenta previa
Komplikasi : infeksi, trauma, perasaan nyeri.
PIMPIN MENGEJAN
a. Cara memimpin :
- Tungkai hendaknya setengah fleksi sehingga ibu dapat mendorongkan kakinya pada alas. Atau dalam
posisi litotomi. Dalam memimpin mengejan dapat dipilih posisi lain sebagai berikut :
jongkok
menungging
tidur miring
setengah duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurangnya trauma
vagina dan perineum dan infeksi.
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya. Setiap posisi ada keuntungannya
masing-masing, misalnya posisi setengah duduk dapat membantu turunnya kepala janin jika
persalinan berjalan lambat.
- Ibu dipimpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas. Mengedan tanpa
diselingi bernafas, kemungkinan dapat menurunkan pH arteri umbilikus yang dapat menyebabkan djj
abnormal. Minta ibu bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar
perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala serta mencegah robekan.
- Periksa djj pada saat kontraksi dan setelah kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami
bradikardi.
- Catatan : episiotomi bukan suatu tindakan rutin. Tidak ditemui adanya bukti bahwa episiotomi rutin
menurunkan angka kerusakan perineum, prolaps vagina di masa mendatang, atau inkontinensia urine.
b. Lama pimpinan mengejan :
Rata-rata: primi 1jam,multi 20-30mnt.
Maksimal : primi 2,5 jam, multi 1 jam (kecuali ada indikasi mengakhiri persalinan, maka pimpinan
mengejan dihentikan dan persalinan segera diakhiri).
MANAJEMEN PERSALINAN
Berlangsungnya persalinan normal
Partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu :
1. Kala I (kala pembukaan ) : yaitu proses persalinan mulai pembukaan serviks kurang 4 cm
dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit, sampai pembukaan lengkap.
Pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multi kira-kira 7 jam.
Proses pembukaan serviks dibagi dalam 2 fase :
a. Fase laten : berlangsung selama 8 jam.Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm.
Latent phase is complete when a primiparous woman reaches 3-4 cm dilatation and
cervical length of 0-0.5 and a multiparous woman reaches 4-5 cm and cervical length
0.5-1.0 cm. (ALARM)

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

b.

Fase aktif : dibagi dalam 3 fase :


- Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
- Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat,
dari 4 cm menjadi 9 cm.
- Fase deselerasi.Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

2.

Kala II (kala pengeluaran ) : yaitu proses persalinan dari pembukaan serviks 10 cm


(lengkap) sampai lahirnya bayi.

3.

Kala III (kala uri) : yaitu proses persalinan dari lahirnya bayi sampai plasenta lahir.

4.

Kala IV : 2 jam setelah lahirnya plasenta.

1. KALA I
Pengelolaan :
a. Menentukan saat mulai inpartu :
Partus dimulai bila timbul his yang adekuat dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bersemu
darah (bloody show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena
serviks mulai membuka atau mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh darah
kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks
membuka.
Pembukaan serviks : Primi = 1,8 cm, Multi = 2,2 cm.
*
Proses persalinan mulai apabila terjadi kontraksi uterus yang teratur dan sering (frequent) disertai
dengan perubahan dari serviks (pembukaan dan penipisan). (ALARM)
b.

Persiapan penderita :
Penderita di tempat tidur, posisi sesuai dengan keinginan ibu dan sebaiknya dianjurkan tidur
miring ke kiri.
Penderita boleh berjalan-jalan jika KK belum pecah.
Mengosongkan VU dan rektum.
Manfaatnya adalah :
- his tidak menjadi lemah
- isi VU dan rektum tidak menghalangi penurunan bagian bawah janin.
- bila ibu mengejan tidak ada kotoran yang keluar.
- menghindari perlukaan VU

Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi, berikan cukup minum.
Jika ibu gelisah dan kesakitan :
- rubah posisi
- ibu diperbolehkan melakukan aktifitas sesuai dengan kesanggupannya.
- ajarkan teknik bernafas : ibu diminta untuk menarik nafas panjang, menahan nafasnya sebentar
kemudian dilepaskan dengan cara meniup udara keluar sewaktu terasa kontaraksi.
- jika diperlukan, berikan petidin 1 mg/KgBB I.M/I.V tidak lebih dari 100 mg, atau tramadol 50
mg per oral.

10

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

c.

Pemeriksaan lanjutan dan pengawasan.


Dilakukan pengawasan 10 yang meliputi :
- KU
- His
- Tekanan darah
- Djj
- Nadi
- Ppv
- Pernafasan - Bandle ring
- Suhu
- Tnda kalaII
Tabel 1. Frekuensi minimal penilaian dan intervensi dalam persalinan normal
Parameter
Frekuensi pada fase laten
Frekuensi pada fase aktif
Tekanan dara
setiap 4 jam
setiap 4 jam
Suhu badan
setiap 4 jam
setiap 2 jam
Nadi
setiap 30-60 menit
setiap 30-60 menit
DJJ*
setiap jam
setiap 30 menit
Kontraksi*
setiap jam
setiap 30 menit
Pembukaan serviks
setiap 4 jam
setiap 4 jam
Penurunan
setiap 4 jam
setiap 4 jam
*
Di RSDK dievaluasi setiap 15 menit
Pemeriksaan dalam dilakukan setiap 4 jam (sesuai Partograf) selama kala I pada persalinan dan
dilakukan atas indikasi. Bilamana partus patologis dievaluasi menggunakan kurva Friedman.

d.

Persiapan alat :
Perlengkapan partus dan jahit serta resusitasi bayi

Kemajuan persalinan abnormal*


a. Prolonged Latent phase
Jika fase laten lebih dari 8 jam, pengelolaannya adalah
full medical assesment
pilihan yang bisa diambil:
- tidak ada tindakan apa-apa (wanita dianggap tidak dlm proses persalinan)
- dilakukan seksio cesrea bila ada indikasi : fetal distress atau ada factor-faktor yang menyebabkan
tidak terjadi kemajuan persalinan atau komplikasi lainnya.
- ARM + oksitosin (jira didapatkan kontraksi dan atau pada serviks menunjukkan prose persalinan
berlangsung)
# Evaluasi lebih lanjut
- pemeriksan vagina setiap 4
jam selama 12 jam
- jika fase aktif tidak terjadi
setelah pemberian oksitosin
dilakukan SC
- jira fase aktif terjadi setelah
8 jam tetapi kemajuan
pembukaan serviks < 1 cm
per jam dipertimbangkan
untuk SC.
- monitoring djj setiap 30
menit pada pemberian
oksitosin.

11

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

(Amniotomy) ARM = artificial ruptura of the membranes, biasa dilakukan pada fase aktif.
b.

Prolonged active phase


Cari penyebabnya

2. KALA II
Persalinan kala II ditandai dengan ibu ingin mengejan, vulva dan anus membuka, serta perineum
menonjol. Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam pembukaan serviks telah lengkap.
Pengelolaan persalinan :
- pecah kulit ketuban bila masih utuh
- pimpin mengejan saat ada his (lihat cara memimpin mengejan)
- pengawasan 9 (djj didengarkan lebih sering tiap 5 menit)
- episiotomi (terakhir ini) dilakukan atas indikasi atau dengan pertimbangan pada :
* persalinan pervaginam dengan penyulit (sungsang,distosia bahu, ekstraksi
forseps).
* penyembuhan ruptura perinei tingkat III IV yang kurang baik.
* gawat janin
* perlindungan kepala bayi prematur jika perineum ketat.

vakum, ekstraksi

- Kelahiran kepala bayi :


mintalah ibu mengedan atau memberikan dorongan sedikit saat kepala bayi lahir.
Perasat Ritgen (letakkan tangan kiri ke kepala bayi, sedang tangan kanan menahan perineum agar
tidak terjadi defleksi terlalu cepat).
mengusap muka bayi untuk membersihkan dari kotoran lendir/darah.
periksa tali pusat :
- jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar, selipkan tali pusat melalui
kepala bayi.
- jika lilitan tali pusat terlalu ketat, tali pusat diklem pada dua tempat kemudian
digunting di antara kedua klem tersebut, sambil melindungi leher bayi.
- Kelahiran bahu dan anggota seluruhnya :
* biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya.
* tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi.
* lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan.
* lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
* selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan
selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya.
* letakkan bayi tersebut di atas perut ibunya.
* secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya, dan nilai pernafasan bayi.
* klem dan potong tali pusat, sebaiknya setelah pulsasi tali pusat menurun atau hilang. Dengan
cara ini kurang lebih 80 cc darah dari plasenta dan sekitar 50 mg Fe mengalir ke janin sehingga
dapat meningkatkan kadar Hb janin serta dapat menurunkan terjadinya anemia defisiensi besi.

12

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

KALA III
Faktor-faktor yang mempengaruhi lepasnya plasenta :
a. kontraks uterus (his).
b. sifat perlekatan plasenta pada uterus.
plasenta normal : melekat pada endometrium tak sampai membran basal
plasenta adhesiva : melekat erat pada endometrium tak sampai mebran basal. (bila retensio
plasenta berhasil dilakukan manual plasenta, bisa diagnosis sebagai plasenta adhesiva).
plasenta akreta : melekat pada endometrium sampai menmbus membran basal.
plasenta inkreta : melekat sampai menembus miometrium.
plasenta perkreta : melekat sampai menembus serosum.
Manajemen aktif kala III :
Berguna untuk menghindari terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penatalaksanaan aktif kala III
meliputi:
pemberian oksitosin dengan segera,
pengendalian tarikan pada tali pusat, dan
pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir.
Penanganan :
Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan
plasenta.
- oksitosin dapat diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran bayi.
- jika oksitosin tidak tersedia, rangsang putting payudara ibu atau susukan bayi segera untuk
menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg I.M.
Lakukan penegangan tali pusat terkendali atau PTT (CCT/Controled Cord Traction) dengan
cara :
- Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat di atas simfisis pubis. Selama kontraksi tangan
mendorong korpus uteri dngan gerakan dorso-kranial ke arah belakang dan kearah kepala ibu.
- Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm di depan vulva.
- Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3 menit).
- Selama kontraksi, lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus menerus, dalam
tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.
PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi.
Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat
mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan
lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam
untuk mengeluarkan selaput ketuban.
Segera setelah plasenta lahir, masase fundus agar menimbulkan kontraksi.
Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit, berikan
oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian pertama.
Jika dalam waktu 30 menit plasenta belum lahir didiagnosis sebagai retensio plasenta,
selanjutnya dilakukan tindakan manual plasenta.
Tanda2 plasenta telah lepas:
Plasenta lepas dari implantasinya dapat dimulai dari tengah (sentral menurut Schultze) yang
ditandai oleh makin panjang keluarnya tali pusat dari vagina tanpa adanya perdarahan
pervaginam.
Plasenta lepas dari pinggir (marginal menurut Mathews-Duncan) ditandai oleh adanya
perdarahan dari vagina.

13

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

uterus membentuk seperti bola/bulat (globular).

Untuk mengetahui apakah plasenta telah lepas dari tempat implantasinya, dipakai beberapa perasat
antara lain :
1. Perasat Kustner. Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri
menekan atas simfisis. Bila tali pusat ini tidak masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta
belum lepas.
2. Perasat Strassmann. Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri
mengetol-ngetok fundus uteri. Bila tidak terasa getaran, berarti plasenta telah lepas dari dinding
uterus.
3. Perasat Klein. Wanita tersebut. disuruh mengedan. Tali pusat tampak turun ke bawah. Bila
pengedanan berhenti dan tali pusat tidak masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta telah
lepas.
Cara melahirkan plasenta :
a. Tak langsung : - spontan
- buatan / tak spontan : Crede, Brand Andrew
b. Langsung : Manual plasenta.

Perasat Crede : sudah tidak dilakukan lagi karena banyak menimbulkan komplikasi : perlukaan
uterus, plasenta restan dan inversio uteri,
Perasat Brand Andrew (Pastore technic) :
Uterus dimasase hingga timbul kontraksi yang kuat. Penolong berdiri di sblah kanan menghadap
pasien.
Tali pusat dipegang dengan tangan kanan (dengan klem) sedekat mungkin ke vulva, lalu
ditegangkan.
Ujung-ujung jari tangan kiri menekan antara fundus dan simfisis untuk mengangkat fundus
ke arah kranial.
Tarik pelan-pelan plasenta.
KALA IV
Penanganan
Masa post partum merupakan saat paling kritis. Petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam
pertama setelah kelahiran plasenta, dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
Hal hal yang perlu diperhatikan :
Fundus uteri : berkontraksi baik atau tidak ?
Plasenta dan selaput ketuban lengkap atau tidak ?
Perineum : ada laserasi ? derajadnya ? perlu penjahitan ?
Lokea : sedikt atau banyak ?
Kandung kemih : penuh atau tidak
Kondisi ibu : apakah butuh minum ? apakah ibu ingin memegang bayi ?
Kondisi bayi baru lahir :
- Apakah bayi bernafas dengan baik ?
- Apakah bayi kering atau hangat ?
- Apakah bayi siap disusui ?

14

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

INDUKSI PERSALINAN
Definisi :
Induksi persalinan adalah suatu upaya guna merangsang uterus mulai mengadakan persalinan.
Indikasi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kehamilan lewat bulan


Ketuban pecah dini
Janin mati (intra uterine fetal death)
Kehamilan dengan hipertensi
Kehamilan dengan DM
Solutio plasenta

Indikasi relatif :
7. Kelainan kongenital
8. Makrosomia
9. Janin kecil
10. Hidramnion
Kontra indikasi :
1. Disproporsi janin-panggul
2. Plasenta previa
3. Bekas perlukaan dinding rahim (bedah sesar, miomektomi, dll)
4. Riwayat distokia serviks
Kontra indikasi relatif :
1.
2.
3.
4.
5.

Gemelli
Grande multipara
Hidramnion
Insufisiensi plasenta
Malposisi/malpresentasi janin

Syarat (relatif) :
Serviks matang (skor Bishop > 5), skor Bishop hanya merupakan prediktor atau meramalkan keberhasilan
induksi pesalinan. Berapapun skor Bishop dapat dilakukan induksi pesalinan.

Tabel 2. Skor Bishop


Skor
Pembukaan seviks (cm)
Penipisan (effacement)
Penurunan kepala (station)
Konsistensi serviks
Posisi serviks

0
0
0 30%
-3
keras
posterior

1
12
40 - 50%
-2
sedang
medial

15

2
34
60 70%
-1
lunak
anterior

3
56
80%
+1, +2

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Induksi persalinan dapat dilakukan dengan cara :


a. Medisinal : 1). Infus oksitosin
2). Prostaglandin
3). Cairan tertentu intra amnion
b. Operatif : 1). Amniotomi
2). Melepas kulit ketuban dari dinding uterus (stripping of the membrane)
3). Lain-lain : Bougie Krause, Metreurynter, kateter Foley dan batang laminaria.
Induksi persalinan yang biasa dilakukan di R. Bersalin RSDK adalah :

a. Pemberian tablet misoprostol tablet 25 g (1/8 tab.) pervaginam, diberikan pada skor Bishop yang
masih rendah (< 5), lalu dievaluasi 6 jam kemudian. Bila skor Bishop menjadi lebih tinggi maka
dilanjutkan dengan pemberian infus oksitosin 5 unit dalam D 5 %. Bila skor Bishop tetap, dapat
diulang pemberian misoprostol 25 g. Tetapi pada kasus dengan ketuban pecah dini umumnya
langsung pemberian infus oksitosin.
Tablet misoprostol bisa sebagai priming dan juga untuk induksi persalinan. Bila setelah pemberian
misoprostol terjadi inpartu dianggap sebagai induksi, tetapi jika setelah pemberian misoprostol belum
timbul inpartu namun skor Bishop bertambah maka hal ini dianggap sebagi priming.
Sediaan misoprotol (cytotex) tablet : 100 ug dan 200 ug
b.

Infus oksitosin 5 unit dalam D 5% dimulai 8 tetes per menit dapat dinaikkan 4 tetes tiap 15 menit
sampai his adekuat atau maksimal 40 tetes per menit.
Pada kasus dengan hamil serotinus, jika botol pertama habis dilanjutkan dengan botol kedua : infus
oksitosin 10 unit dalam D 5% mulai 20 tetes per menit dapat dinaikkan 4 tetes per menit sampai his
adekuat, maksimal 40 tetes per menit. Jika dengan dua botol infus oksitosin tidak inpartu dapat
diistirahatkan 24 jam, kemudian dilakukan induksi persalinan setelah istirahat.
Pada kasus dengan ketuban pecah dini, bila dalam pemberian 2 botol infus oksitosin tidak respons
maka diakhiri kehamilan dengan bedah sesar.
Augmentation of labor (ALARM)
Initial dose of oxytocin
Increase interval
Dosage increament
Usual dosage for good labor

1-2 mU/min
Every 30 minutes
1-2 mU
2-12 mU/min

Perhitungan konversi dosis oksitosin adalah:


1) Alat infus dengan perbandingan standar 1 cc cairan = 15 tetes.
2) Infus oksitosin: botol I 5 U oksitosin dalam 500 cc Dekstrose 5% = 5.000 mU/500 cc D5% = 10
mU/cc = 0.66 mU/tetes. Botol II 10 U oksitosin dalam 500 cc Dekstrose 5% = 10.000 mU/500 cc
D5% = 20 mU/cc = 1.32 mU/tetes.
Sehingga dosis awal: 8 tetes/menit 5 U oksitosin dalam 500 cc D5% = 8 tetes/menit X 0.66 mU/tetes
= 5,28 mU/menit.
Dosis maksimal: 40 tetes/menit 10 U oksitosin dalam 500 cc D5% = 40 tetes/menit X 1.32 mU/tetes
= 52,8 mU/menit.

16

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Perhitungan konversi dosis oksitosin bila 1 cc cairan = 20 tetes (ALARM)


Oksitosin
10 units
5 unit
10 unit

Normal saline
500 ml
1 liter
1 liter

tetesan
1 mU=1 tetes
1 mU= 4 tetes
1 mU=2 tetes

Efek samping oksitosin :


1.
2.
3.
4.

Hiperstimuli : terjadi kontraksi hipertonik atau tetanik atau tonus sebesar 15 20 mmHg.
Ruptura uteri.
Hipoperfusi uterus dan akhirnya fetal distress akibat hipoksia.
Oksitosin mempunyai efek menimbulkan retensi air.

Bila timbul fetal distress :


siapkan untuk operasi
Pengelolaan segera :
- stop oksitosin
- rubah posisi tidur miring
- pemeriksaan dalam vagina untuk menyingkirkan adanya prolaps tali pusat
- hidrasi yang adekuat
- beri oksigen
Misoprostol
Misoprostol merupakan prostaglandin sintetik, analog dari PgE1, yang dibuat dan dipasarkan sebagai
gastroprotektor (obat tukak lambung). Obat ini memiliki efek imunosupresif, menyebabkan vasodilatasi
dan dapat bertindak sebagai uterotonika.
Sediaan berupa tablet 100 g, 200 g (umumnya di Indonesia dalam bentuk tablet 200 g)
dengan harga relatif murah. Misoprostol relatif stabil pada suhu kamar, tidak memerlukan tempat
penyimpanan khusus.
Cara kerja :
Metabolit aktif dari misoprostol diduga berperan memacu terjadinya perubahan pada jaringan
penghubung dan kolagenase serviks. Karena proses perubahan tersebut terjadi peningkatan hubungan
kesenjangan (gap junction) dan peningkatan kadar Ca++ sehingga terjadi kontraksi miometrium.
Efek samping : mual, muntah, diare, demam, retensio plasenta, korioamnionitis-endometritis dan
perdarahan post partum.
Hati-hati jika menggunakan misoprostol karena dapat menimbulkan serviks lunak dan rapuh sehingga
mudah timbul perdarahan post partum. Dan karena reaksi obat cepat, bisa menimbulkan partus presipitatus
dan bahkan ruptura uteri. Obat ini belum resmi digunakan sebagai induksi persalinan, namun dibeberapa
senter pendidikan sudah digunakan. POGI merekomendasikan penggunaan misoprostol tablet 25 g.
Induksi persalinan pada Serotinus
Wanita hamil 42 minggu

17

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Induksi Pesalinan pada Ketuban Pecah Dini


Ketuban Pecah Dini
BS < 5
BS > 5
air ketuban tidak mengalir
Oksitosin drip (botol 1)*
Misoprostol 25 ug

Inpartu

Belum inpartu
Oksitosin drip*

* alasan 6 jam, karena window period timbulnya infeksi adalah sekitar 6 jam
Menurut buku William Obstetrics, induksi persalinan pada ketuban pecah dini tidak perlu menunggu 6
jam.
PARTUS PERCOBAAN
T u j u a n : mencoba/meramalkan apakah partus bisa pervaginam atau tidak.
Indikasi

: - PAP sempit ringan (CV 8,5 10 cm)


- CPD ringan

Syarat
:
- Letak belakang kepala (letak sungsang, muka, dahi tak boleh dilakukan)
- Usia kehamilan tidak lebih dari 42 minggu, dengan alasan bahwa kepala janin bertambah besar serta
lebih sukar mengadakan moulage, dan berhubung dengan kemungkinan adanya disfungsi plasenta
janin mungkin kurang mampu mengatasi kesukaran yang timbul pada partus percobaan.
- Riwayat obstetri baik
- Tidak ada komplikasi kehamilan seperti hipertensi atau riwayat perdarahan antepartum.
Kontra indikasi :
Absolut : bekas SC.
Relatif : primi tua, riwayat infertilitas

18

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Menentukan ada tidaknya CPD :


1.

OSBORN TEST
- Dengan tangan kiri, kepala yang masih di atas PAP didorong masuk PAP
Tangan kanan memeriksa seberapa besar kepal menonjol di atas simfisis.
- Bila :
Tak menonjol : Osborn test negatif / tak ada CPD
Menonjol < 3 cm atau 2 jari : CPD ringan : pada waktu persalinan diharapkan masih dapat
melalui rongga panggul karena moulage kepala janindan teregangnya panggul pada sendisendi.
Menonjol > 3 cm : Osborn test positif / ada CPD.

2.

MULLER MONRO KERR TEST


- Tangan kiri mendorong kepala sejauh mungkin masuk PAP.
- Tangan kanan melakukan VT untuk menilai besar sudut antara bagian terbawah kepala dengan
permukaan dalam simfisis.
Sudut > 90 0 : test positif sudut < 900 : test negatif

3.

PHILPOTT DAN VACCA TEST (Maneuver)


Curiga CPD bila pada pemeriksaan dalam didapatkan adanya moulage kepala yang hebat.
Mengenai CPD ada beberapa pendapat. Ada pendapat yang membagi CPD menjadi ringan dan
berat (mutlak) dan ada yang membagi menjadi CPD mutlak dan relatif.

Buku Clinical Manual of Obstetrics (1993) membagi menjadi :


1. CPD absolut : jika ditemukan adanya ketidak sesuaian antara ukuran (diameter) kepala dan panggul.
2. CPD relatif : Ketidak sesuaian ukuran panggul karena posisi kepala asinklitismus, atau ekstensi dari
kepala. Sebenarnya ukuran kepala dan panggul normal.
Partus percobaan terdiri dari :
1.

Trial of labour
Yaitu mencoba apakah proses persalinan dapat mencapai pembukaan serviks lengkap sesuai kurva
Friedman.

2.

Test of labour
Yaitu menilai berdasarkan kemampuan penurunan kepala sampai Hodge III +. Test of labour
dikatakan berhasil bila sebelum dipimpin mengejan 1 jam kepala sudah turun H III +. Dan dikatakan
gagal jika setelah dipimpin mengejan 1 jam kepala tidak turun H III +.

Pengelolaan khusus pada partus percobaan :


a. Pengawasan 10 ketat.
b. Awasi adanya dehidrasi dan asidosis ibu.
c. Jangan diberikan makanan secara biasa melainkan dengan jalan infus intra vena oleh karena ada
kemungkinan persalinan diakhiri dengan SC.
d. Perlu disadari bahwa kesempitan panggul tidak jarang mengakibatkan kelainan his dan gangguan
pembukaan serviks. Jika ada inersia uteri, harap waspada !

19

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

e.
f.

Pemecahan ketuban dilakukan jika his berjalan teratur dan pembukaan serviks minimal 5 cm.
Menentukan berapa lama partus percobaan boleh berlangsung. Setiap kasus harus dinilai sendirisendiri.

Partus percobaan dihentikan bila :


1.
2.
3.

Trial/test of labour gagal.


Fetal distress.
Ruptura uteri imminens.

Bagaimana jika trial of labour berhasil (pembukaan serviks lengkap) dan test of labour berhasil
(kepala turun sampai Hodge III +) tetapi tidak dapat dilakukan partus pervaginam (Ekstraksi vakum/E.
Forseps gagal), partus percobaan dianggap berhasil atau tidak ?
Daftar Rujukan :
1.
2.
3.

OGrady JP, Gimovsky ML, McIlhargie CJ. Operative Obstetrics.Baltimore: Williams and Wilkins,
1995:165-167.
Shaver DC, Phelan ST, Beckmann, CRB, Ling FW. Clinical Manual OF Obsteterics. 2 th ed.
Singapore: McGraw-Hill, 1993 :130.
Wiknyosastro H, Saifuddin B, Rachimhadi T. Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Edisi ketiga. Jakarta, 1991:645-7.
DISTOSIA BAHU

Faktor-faktor yang turut menyebabkan distosia bahu dapat dibedakan :


1. Faktor antepartum :
a. Obesitas
b. Diabetes melitus
c. Kehamilan post matur (serotinus)
d. Riwayat melahirkan bayi besar sebelumnya
2. Faktor intra partum :
a. Kala II yang memanjang : pada nullipara lebih dari 2 jam dan pada multipara lebih dari 1 jam
serta penurunan kepala menetap pada station +3.
b. Induksi oksitosin
c. Ekstraksi vakum atu forseps
Akibat terhadap janin :
1. Fraktur humerus
2. Fraktur klavikula
3. Erb paralisis (kerusakan pada medulla spinalis segmen C5-C7)
4. Klumpke palsy (kerusakan pada segmen C8 dan T1)
5. Asfiksia berat sampai meninggal
Diagnosis :
1. Kala II memanjang, moulase kepala janin yang hebat, tidak adanya kemajuan penurunan kepala, ibu
kelelahan, merupakan keadaan yang harus diwaspadai akan timbulnya distosia bahu.
2. Distosia bahu dapat difikirkan jika setelah kelahiran kepala terjadi recoil : kepala seperti memutar dan
tertarik kedalam kearah perineum. Kepala tidak bisa lahir spontan, tidak dapat melahirkan janin
dengan tarikan ke bawah maupun tekanan dari atas. Sebelum melakukan tindakan ekstraksi
forseps/vakum, satu hal yang harus difikirkan adalah resiko terjadinya distosia bahu.

20

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Tehnik persalinan pada distosia bahu :


1. McRoberts maneuver.
2. Wood corckscrew maneuver ( rotation maneuver).
3. Schwart-Dixon maneuver (delivery of the posterior arm).
4. Zavanelli maneuver.
5. Hibbard (1969) dan Resnick (1980) maneuver ( Simple maneuver/Supra pubic pressure).
6. Perasat Rubin.
7. Penggunaan alat sendok bahu (diperkenalkan oleh Chavis th. 1964).
8. Pematahan tulang klavikula (kleidotomi)
Distosia bahu merupakan kasus kegawatan pada obsteteri (Obstetric Emergency), suatu kasus yang sulit
diprediksi sebelumnya. Penanganan yang tidak tepat akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bayi.
Hal-hal yang penting diperhatikan dan dilakukan pada kasus distosi bahu adalah :
1.

Pengelolaan yang paling baik adalah : antisipasi terjadinya distosia bahu.


Waspadai jika ada riwayat persalinan yang sulit sebelumnya, pernah distosia bahu, atau pernah
melahirkan bayi besar.
Memeriksa 3 faktor P (Power, Passage, dan Passanger) secara benar..
2. Mintalah tolong.
Panggil asisten untuk membantu pertolongan persalinan dengan manuver-manuver yang diperlukan.
Sebaiknya didampingi dokter ahli anestesi dan pediatri.
3. Ambil nafas panjang dan jangan panik.
Hal ini penting agar pasien confidence dan kooperatif serta perawat/bidan dapat membantu persalinan
dengan tenang dan percaya diri.
4. Buatlah episiotomi yang lebar.
Meskipun belum ada bukti keuntungan dari tindakan ini, tetapi hal ini menunjukkan bahwa operator
melakukan tindakan secara sistematis dan logis.
5. Gunakan posisi McRoberts dan tekan supra simfisis untuk mengatasi distosia bahu.
6. Hindari penarikan terlalu keras pada leher.
7. Lakukan manuver rotasi.
8. Tarik tangan belakang.
9. Jangan lakukan fundal pressure.
10. Selalu jaga posisi dari medulla spinalis servikalis janin.
11. Replace the head and perform a cesarean delivery.
12. And, most importantly, write a clear and contemporaneous delivery note.
ALARM MNEMONIC
A
L
A
R
M

Ask for help


Lift/hiperflex legs
Anterior shoulder disimpaction
Rotation
Manual removal posterior arm

Do not! 1. Pull
2. Push
3. Panic

21

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

4. Pivot

Klasifikasi dan Definisi Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan


1.

Klasifikasi:
a. Pre-exiting hypertension (chronic hypertension)

Essential

Secondary
b. Gestational hypertension

Without proteinuria (Pregnancy In hypertension, transient

hypertension, non-proteinuric gestational hypertension)


- without adverse condition
- with adverse conditions (severe PE,E)
with proteinuria (PIH, PE, toxemia)
- without adverse condition
- with adverse conditions (severe, PE, E)
c. Pre-existing hypertension with superimposed gestational hypertension with proteinuria.
d. unclassifiable antenatally
2. Definisi
Hipertensi
Bila tekanan sistolik 140 mmHg dan diastolic 90 mmHg
Kenaikan tekanan sistolik/diastolik 30/15
Tekanan darah diukur dengan cara :
- posisi duduk pada lengan atas setinggi jantung (with arm at heart level)
- dengan ukuran manset yang tepat
- Sphygmomanometer yang akurat
- ulangi pengukuran tekanan darah dalam 4 jam (kecuali tek. Diastolic 110 mmHg)
Proteinuria
- urine protein 2+ dipstick
- urine protein 300 mg/L dalam 24 jam
- adanya proteinuria indikasi gangguan glomerulus
- urin 24 jam dipertimbangkan bila protein urin 1+ dipstick
Edema : tidak digunakan lagi untuk mendiagnosis gestational hypertension
Manifestasi ke arah berat (manifestation of severity)
Bila didapatkan salah satu dari:
Tekanan diastolic 110 mmHg
Trombosit < 100.000
Oliguria < 500 mL/hari
Proteinuria > 3 g/hari
Asam urat meningkat
Kadar SGOT/SGPT meningkat
HELLP Syndrome
Edema pulmo
Kejang

22

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Mual dan muntah yang berat


Nyeri epigastrium
Nyeri kepala
Gangguan visus
Solusio plasenta
DIC
Pre eklampsia berat
37 minggu

Hamil < 37 minggu

Aktif + pengobatan medisinal


-

konservatif
pengobatan medisinal
fase laten

Jika :
a. setelah 6 jam tek. darah
6 jam masuk hrs
b. setelah 24 jam status quo
fase aktif
c. ada gejala impending eklampsia
d. IUGR
e. HELLP syndrome

fase aktif

Biofisik profile janin


(USG KTG)
Bishop score
6 jam pembukaan hrs lengkap

Akhiri kehamilan
Contraction Stress Test (CST) atau Oksitosin Chalenger Test (OCT)
Tujuan : untuk menilai gambaran DJJ dalam hubungannya dengan kontraksi uterus. Dalam pemeriksaan
ini dilakukan pengamatan tehadap frekuensi dasar DJJ, variabilitas DJJ, dan peubahan periodik DJJ akibat
kontraksi.
Teknik pemeriksaan CST
1. Pasien berbaring dalam posisi semi fowler, atau sedikit miring ke kiri
2. Sebelum pemeriksaan dimulai, dilakukan pengukuran tanda vital.
3. Pehatikan kontraksi uterus pada tokogram. Kontraksi uterus dianggap adekuat bila terjadi sedikitnya 3
kali dalam 10 menit.
4. Bila tidak tedapat kontraksi setelah 10 menit pemeriksaan, dilakukan simulasi kontraksi dengan cara :
a. manipulasi putting susu
b. pemberian oksitosin
apabila selama stimulasi tejadi deselerasi lambat yang berulang meskipun kontraksi belum adekuat,
maka CST dianggap positif dan pemeriksaan harus dihentikan.
5. Pengamatan dilakukan terhadap frekuensi dasar DJJ, variabilitas, dan perubahan periodik DJJ akibat
kontraksi.
6. Pemeiksaan dianggap cukup bila sudah didapatkan kontraksi yang adekuat selama 10 menit. Stimulasi
dengan oksitosin harus segera dihentikan, dan pasien diawasi terus sampai kontraksi uterus
menghilang.

23

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Interpretasi CST
1. Negatif :
a. frekuensi dasar DJJ nomal
b. variabilitas DJJ normal
c. tidak terdapat deselerasi lambat
d. mungkin terdapat akselerasi
2. Positif
a. terdapat deselerasi lambat yang berulang pada sedikitnya 50% jumlah kontraksi
b. terdapat deselerasi lambat yang berulang meskipun kontraksi tidak adekuat
c. variabilitas DJJ berkurang atau menghilang
3. Mencurigakan
a. terdapat deselerasi lambat yang kurang dari 50% jumlah kontraksi
b. terdapat deselerasi variabel
c. fekuensi dasar DJJ abnomal
Pengobatan medisinal :
- Rawat di ruang tenang
- Infus RL atau NaCL 0,9% 1 liter/8 jam
- diet cukup protein, rendah KH, lemak dan garam
- obat anti kejang : MgSO4
- obat anti hipertensi (penurunan tensi tidak lebih dari 20%)
- Deksametason bisa diberikan pada kehamilan (28 34 minggu) selain untuk pematangan paru juga
dapat memperbaiki endotel pemb. darah ibu.
Pem laboratorium :
a. hematologi:
Hb, trombosit, blood fiml,PTT, fibrinogen, FDP*
b. hepatik :
SGOT/SGPT , LDH, bilirubin*
Glukosa dan ammonia* (untuk menyingkirkan perlemakan akut pada kehamilan)
.
b. Renal :
ureum kreatinin, asam urat, Mg
proteinuria
(urine protein 2+ on dipstick atau urine protein 300 mg/L dalam 24 jam)
* diambil dari ALARM
Tabel 1. Pemberian MgSO4 pada pre eklampsia berat dan eklampsia
a. infus Rl/NaCl 1 liter/8 jam
b. diet cukup protein, rendah KH, lemak dan garam
c. obat anti kejang MgSO4
d. obat anti hipertensi (hidralazin, nifedipin, -methyl dopa)
f. Deksametason : untuk pematangan paru janin dan memperbaiki darai(keha

24

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Tabel 2. Pemberian diasepam pada pre eklampsia dan eklampsia (jika MgSO4 tidak tersedia)
Obat anti hipertensi :
Jika tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih, diberi obat anti hipertensi. Tujuan untuk mempertahankan
tekanan diastolik antara 90-100 mmHg.
- Beri hidralazin 5 mg iv pelan-pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun. Ulang setiap jam jika
perlu atau berikan hidralazin 12,5 mg IM setiap 2 jam.
onset (10-20 menit atau 20-30 menit); durasi 3-8 jam. Hidralazin merupakan vasodilator.
- Jika hidralazin tidak tersedia, berikan:
* labetolol (- Blocker) 10 mg IV :
Jika respon tidak baik, berikan 20 mg IV
Naikkan dosis sampai 40 mg dan 80 mg jika respon tidak baik sesudah 10 menit.
Atau berikan nifedipin 5 mg sublingual. Jika tidak baik setelah 10 menit, beri tambahan 5
mg sub lingual.
Metildopa 3 X 250 500 mg (central alpha antagonis)
- Klonidin (IV) : 150 ug + 10 cc D5% (IV bolus); dapat diulang sampai 3 kali; evaluasi tekanan darah,
dapat dilanjutkan dengan titrasi dosis maksimal 1500 ug/24 jam.
- Golongan ACE inhibitor dan angiotensin II receptor blocker : kontra indikasi.
Keterangan : Nifedipin aman digunakan jangka pendek, serta mempunyai sifat tokolitik.
Bagaimana mekanisme kerja MgSO4 :
Magnesium menghambat pelepasan asetilkolin, mengurangi kepekaan motor end plate terhadap
asetilkolin dan menurunkan potensial motor end plate. Magnesium juga merangsang pelepasan
prostasiklin (peningkatannya bisa 2-3 kali lipat) akan menghambat agregasi trobosit.
Untuk apa kadar Mg++ perlu diperiksa ?
Kejang eklampsia dapat dicegah dengan kadar magnesium plasma yang dipertahankan 4-7 mEq/L.
Refleks patella mulai menghilang jika kadar Mg 8-10 mEq/L. Akan terjadi depresi pernafasan jika kadar
Mg 12 mEq/L.
Untuk apa kreatinin diperiksa ?
jika terjadi peningkatan kreatinin berarti filtrasi glomerulus terganggu, kadar magnesium yang dikeluarkan
oleh ginjal terhambat sehingga bisa menimbulkan intoksikasi magnesium.
Apa arti dari proteinuria ?
Dalam keadaan normal, molekul protein yang besar tidak melewati filtrasi glomerulus, sehingga
keberadaannya dalam urin menunjukkan adanya suatu proses glomerulopati.
Untuk apa asam urat diperiksa ?
Dapat digunakan untuk diagnosis dan prognosis. asam urat yang tinggi menunjukkan penyakit lebih berat
akibat menurnnya filtrsi asam urat oleh ginjal.

25

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Yang perlu dievaluasi :


1. Keadaan ibu
- Keadaan umum, tanda vital, jantung, paru, edema, ppv
- Produksi urin : minimal 30 cc/jam atau 0,5 cc/kgBB/jam atau 400 cc/24 jam. Jika produksi urin kurang
akan menimbulkan intoksikasi dari magnesium.
Dikatakan oliguria jika produksi urin < 400 cc/24 jam, dan anuri jika < 100 cc/24 jam.
Adanya kristal-kristal dalam urine (asam urat, calsium oksalat dan fosfat) tidak patologis kecuali jika
didapatkan adanya sistin.
- Balance cairan : dihitung berdasarkan cairan yang masuk (input) berupa cairan infus, trnsfusi atau
minum dan cairan keluar yaitu diuresis, IWL (insensible water loss) yaitu cairan tubuh yang hilang
tidak terlihat yang keluar lewat keringat,pernafasan, dan feses. Jika balance cairan positf hati-hati
dengan resiko edema paru.
- Laboratorium : untuk mengetahui prognosis penyakit dan mengetahui adanya HELLP syndrome.
HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver enzym level and low platelet count)
Diagnostic criteria
Hemolysis
Elevated Liver Enzymes
Low Platelets

Abnormal peripherial smear


Bilirubun 1.2 mg/dl
LDH 600 1U/L
AST 70 IU/L
LDH 800 IU/L
Mississippi Class System
Class 3 : 100.000 150.000 per mm3

Class 2 : 50.000 100.000 per mm3

Class 1 : < 50.000 per mm3


Trombosit (platelet count) merupakan indikator yang paling penting pada HELLP syndr. Untuk
mendeteksi curiga DIC perlu diperiksa : prothrobine time, partial thromboplastin time dan fibrinogen
level. Pasien dengan kadar fibrinogen plasma < 300 mg/dl (3 g/L), DIC perlu diwaspadai terutama jika
laboratorium lain juga abnormal.
Ada 2 klasifikasi :
1. partial HELLP syndrome jika terdapat satu atau dua hasil lab abnormal, (masih bisa
konservatip).
2. full HELLP syndrome jika ketiganya abnormal, (harus dilahirkan dalam 48 jam).
Komplikasi perdarahan akan terjadi lebih tinggi pada kadar trombosit < 40.000.
Pasien dengan HELLP syndrome akan mengeluh nyeri perut abdomen kanan atas, nyeri leher atau nyeri
punggung : sehingga perlu pemeriksaan USG hepar untuk memperkirakan adanya hematom subkapsuler
atau ruptur.
Apakah perlu steroid ?
- Kortikosteroid perlu diberikan jika kadar trombosit < 100.000 per mm 3 diteruskan sampai fungsi hati
normal dan hitung trombosit > 100.000 per mm3.
Kapan diperlukan transfusi ?
- Transfusi jika trombosit < 40.000/mm3, tetapi jika dilakukan SC perlu transfusi pada kadar trombosit
< 50.000/mm3. Transfusi trombosit profilaktik tidak diperlukan karena tidak menurunkan insidens
perdarahan post partum dan segera mengembalikan jumlah trombosit dalam keadaan normal.
- Pada DIC diberikan transfusi fresh frozen plasma dan PRC.

26

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Hal-hal apa yang perlu diketahui hubungannya dengan HELLP syndrome ?


a. Pada wanita hamil dengan keluhan malaise atau gejala-gejala infeksi virus pada kehamilan trimester
III perlu dilakukan pemeriksaan complete blood cell count dan liver function tests.
b. Banyak pasien dengan HELLP syndrome pada awalnya terjadi kesalahan diagnosis seperti kolesistitis,
hepatitis dan idiopatik tombositopenia.
c. Jumlah trombosit yang rendah merupakan indikator yang cukup baik untuk memprediksi terjadinya
HELLP syndrome.
d. Terminasi kehamilan perlu dipertimbangkan pada pasien dengan HELLP syndrome (mild to
moderate) yang dalam keadaan stabil, serviks matang dan kehamilan telah mencapai 32 minggu.
2.

Pemantauan janin
a. Profil Biofisik Janin
Merupakan cara pemeriksaan fetus berdasarkan pada penilaian USG dari 5 kegiatan biofisik fetus,
yaitu :
- gerak nafas
- reaktifitas jantung (non stress test) - tonus otot
- gerak badan
- volume cairan amnion

Manning score :
Variabel biofisik
Gerak nafas
Gerak tubuh
Tonus fetus

Reaktive NST
Volume cairan amnion

Normal
> 1 episode pergerakan > 30 detik
dalam 30 menit
2 gerak tubuh atau anggota
badan dalam 30 menit
> 1 episode dari ekstensi aktif dan
kembali ke fleksi dari anggota
badan atau tubuh
> 2 episode akselerasi > 15 detak
per menit dihubungkan dengan
gerak fetus dalam 20 menit
> 1 kantong cairan dengan ukuran
vertikal 2 cm

Abnormal
Tidak ada gerak atau episode <
30 detik dalam 30 menit
< 2 episode gerak
Ekstensi yang lambat dan
kembali ke fleksinya sebagian,
ekstensi penuh, tidak ada
gerak fetus atau tangan
terbuka parsial.
> 2 episode akselerasi < 15
detak per menit dalam 20
menit
Kantong terbesar < 2 cm
dalam ukuran vertikal

Kenapa Manning score dapat dipakai untuk menilai kesejahteraan janin ?


Kegiatan-kegiatan tersebut dipilih karena kegiatan itulah yang dimulai dan diatur oleh susunan syaraf
pusat. Karena jaringan syaraf sangat tergantung pada oksigen yang cukup, ada tidaknya kegiatan-kegiatan
biofisik ini mencerminkan keadaan oksigenasi fetus.
Kenapa pada hipoksia kronis dapat tejadi oligohidramnion?
Volume cairan amnion yang kurang (oligohidramnion) merupakan refleksi kondisi hipoksia fetus
yang kronis. Hal ini dapat diterangkan bahwa dengan adanya asfiksia fetus menyebabkan redistribusi
refleks kemoreseptor dari cardiac output terhadap organ-organ penting (otak, jantung dan plasenta) dengan
mengorbankan paru dan plasenta. Episode hipoksia lama atau berulang-ulang mengakibatkan perfusi
darah ke ginjal dan paru berkurang sehingga produksi urine berkurang dan akhirnya volume cairan
amnion juga berkurang. Cairan paru dan urine fetus merupakan sumber utama cairan amnion setelah
minggu ke 14-16 kehamilan.
KARDIOTOKOGRAFI

27

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

KTG merupakan alat elektronik yang digunakan untuk menialia kondisi janin yang mempunyai resiko
mengalami hipoksia intra uterine, melalui pemantauan pola DJJ dalam hubungnnya dengan timbulnya
kontraksi uterus dan gerakan janin.
1). Frekuensi dasar DJJ
Dalam keadaan normal berkisar antara 120 160 dpm. Dikatakan takikardi jika frekuensi
dasar > 160 dpm dan bradikardi jika frekuensi dasar < 120 dpm. Disebut akselerasi bila
terjadi peningkatan frekuensi DJJ yang berlangsung sebentar (<1-2 menit) akselerasinya
minimal 15 dpm di atas frekuensi dasar. Disebut deselerasi bila terjadi penurunan frekuensi
DJJ yang berlangsung sebentar (< 1-2 menit).
2). Variabilitas DJJ
- Variabilitas jangka pendek
- Variabilitas jangka panjang, dibedakan :
a). Variabilitas normal bila amplitudo antara 6-25 dpm.
b). Variabilitas berkurang bila amplitudo antara 2-5 dpm.
c). Variabilitas menghilang bila amplitudo kurang dari 2 dpm.
d). Saltatory bila amplitudo > 25 dpm.
3). Perubahan periodik DJJ
- Deselerasi dini
- Deselerasi lambat
- Deselerasi variabel
- akselerasi oleh kontraksi (arti klinis belum jelas)
Bila akselerasi terjadi akibat gerakan janin, menunjukkan bahwa janin dalam kondis baik
(reaktif).
Pada pemeriksaan KTG, janin yang normal umumnya menunjukkan gambaran :
1. Frekuensi dasar DJJ sekitar 120-160 dpm
2. Variabilitas antara 6-25 dpm
3. Terdapat akselerasi
4. Tidak terdapat deselerasi, atau hanya deselerasi dini.
Interpretasi NST
1.

Reaktif
a. Terdapat sedikitnya 2 kali gerakan janin dalam 20 menit pemeriksaan, disertai dengan akselerasi
sedikitnya 10-15 dpm.
b. Frekuensi dasar DJJ di luar gerakan janin antara 120-160 dpm.
c. Variabilitas DJJ antara 6-25 dpm.

2.

Non reaktif
a. Tidak terdapat gerakan janin selama 20 menit pemeriksaan, atau tidak terdapat akselerasi pada
gerakan janin.
b. Variabilitas DJJ mungkin normal atau berkurang/hilang.

3.

Meragukan
a. Gerakan janin kurang dari 2 kali selama 20 menit pemeriksaan, atau terdapat akselerasi kurang
10 dpm.
b. Frekuensi DJJ normal.
c. Variabilitas DJJ normal.
Perlu diulangi 24 jam kemudian, atau dilanjutkan dengan pemeriksaan CST (contraction stress test).

4.

Hasil NST disebut abnormal (baik reaktif maupun non-reaktif)


a. Bradikardi

28

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

b.

Deselerasi 40 dpm atau lebih di bawah frekuensi dasar DJJ atau DJJ mencapai 90 dpm yang
lamanya 60 detik atau lebih.

Hasil NST reaktif biasanya diikuti oleh keadaan janin yang masih baik sampai 1 minggu kemudian,
sehingga bila janin belum lahir maka pemeriksaan dapat diulang setiap 1 minggu. Namun bila
terdapat penyulit kehamilan (hipertensi, DM, perdarahan, dan oligohidramnion) pemeriksaan NST
lebih sering.
Hasil NST non reaktif punya nilai sensitifitas rendah (10-20%) sehingga perlu dilanjutkan dengan
pemeriksaan CST. Sebaiknya tidak melakukan terminasi kehamilan atas dasar hsil NST non reaktif,
oleh karena tingginya nilai positif palsu.
Contraction Stress Test (CST) atau Oksitosin Chalenge Test (OCT)
Tujuan : untuk menilai gambaran DJJ dalam hubungannya dengan kontraksi uterus. Dalam pemeriksaan
ini dilakukan pengamatan tehadap frekuensi dasar DJJ, variabilitas DJJ, dan peubahan periodik DJJ akibat
kontraksi.
Teknik pemeriksaan CST
7. Pasien berbaring dalam posisi semi fowler, atau sedikit miring ke kiri
8. Sebelum pemeriksaan dimulai, dilakukan pengukuran tanda vital.
9. Pehatikan kontraksi uterus pada tokogram. Kontraksi uterus dianggap adekuat bila terjadi sedikitnya 3
kali dalam 10 menit.
10. Bila tidak tedapat kontraksi setelah 10 menit pemeriksaan, dilakukan simulasi kontraksi dengan cara :
c. manipulasi putting susu
d. pemberian oksitosin
apabila selama stimulasi tejadi deselerasi lambat yang berulang meskipun kontraksi belum adekuat,
maka CST dianggap positif dan pemeriksaan harus dihentikan.
11. Pengamatan dilakukan terhadap frekuensi dasar DJJ, variabilitas, dan perubahan periodik DJJ akibat
kontraksi.
12. Pemeriksaan dianggap cukup bila sudah didapatkan kontraksi yang adekuat selama 10 menit.
Stimulasi dengan oksitosin harus segera dihentikan, dan pasien diawasi terus sampai kontraksi uterus
menghilang.
Interpretasi CST
1. Negatif :
a. frekuensi dasar DJJ nomal
b. variabiliotas DJJ normal
c. tidak terdapat deselerasi lambat
d. mungkin terdapat akselerasi
2. Positif
a. terdapat deselerasi lambat yang berulang pada sedikitnya 50% jumlah kontraksi
b. terdapat deselerasi lambat yang berulang meskipun kontraksi tidak adekuat
c. variabilitas DJJ berkurang atau menghilang
3. Mencurigakan
a. terdapat deselerasi lambat yang kurang dari 50% jumlah kontraksi
b. terdapat deselerasi variabel
c. fekuensi dasar DJJ abnomal
Bila dijumpai hasil CST yang mencurigakan, maka pemeiksaan haus diulangi dalam 24 jam.
4. Tidak memuaskan (insatisfactory)
a. Hasil perekam tidak representatif, misalnya oleh karena ibu gemuk, gelisah, atau gerak janin
yang belebihan.
b. tidak terdapat kontraksi uterus yang adekuat
Pemeriksaan harus diulang dalam 24 jam

29

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Perdarahan Post partum

Kasus emergensi
-

Non emergensi

Periksa tanda-tanda syok


Segera pasang infus line + 10 U oksitosin 60 tts/menit
pasang DC
Beri O2 4-5 L/menit
Ambil contoh darah : cek Hb, X-match,persiapan transfuse
tentukan apakah plasenta sudah keluar atau belum

plasenta +

jika anemia berat atau Hb<8gr%


atau Ht < 20% : transfusi
jika terdapat tanda-tanda infeksi
(demam, sekret vagina bau) beri
antibotika untuk metritis
jika terdapat sisa plasenta
dilakukan kuretase pada hari III
post partum atau keur methergin

plasenta

manual plasenta

periksa kontraksi uterus


kontraksi baik

periksa adakah laserasi


jalan lahir ?

kontraksi jelek

masase uterus + uterotonika


perdarahan -

Laserasi -

perdarahan +

Laserasi +

periksa TFU

kompresi bimanual atau kompresi aorta abdominalis


repair

tak teraba

tidak berkurang

berhasil

gagal

robekan uterus
inversio uteri?

sisa plasenta
ligasi a uterina dan ovarica
atau histerektomi jika mengancam jiwa

reposisi

digital atau kuretase eksplorasi laparotomi

30

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

TFU normal

PERDARAHAN ANTEPARTUM

EMERGENSI

NON EMERGENSI
Anamnesis : kapan keluar darah, disertai
nyeri atau tidak, berapa banyak, sudah kenkeng-kenceng/belum, gerak anak, air ketuban, berapa kali keluar darah ?
HPHT, Riw. kawin, riw. obstetri, ANC, KB
Pem Fisik : KU, VS, jantung, paru, abd.
Pem. Obstetrik : L1-IV, TFU, his, djj.

- periksa keadaan umum, tanda-tanda syok


- pemeriksaan obstetri
- evaluasi janin (djj)
- pasang infus RL/Na Cl 0,9% tetesan cepat
- pasang DC
- ambil contoh darah : persiapan transfusi
Pem inspekulo
inspekulo

non plasenter
non plasenter
- erosio serviks
- polips serviks
- keganasan

plasenter

plasenter (keluar darah dari OUE)

konfirmasi USG + Biofisik profile janin (bila memungkinkan)


solusio plsenta
perdarahan sedikit

plasenta letak rendah

perdarahan
banyak

perdarahan
sedikit

perdarahan
banyak

konservatif

pre term

darah sedikit
konservatif
(< 37 mg)

Seksio
konservatif

pecah KK + infus oksitosin


(jika hamil aterm )

inpartu

pervaginam
(bila syarat memenuhi)

plasenta previa

Seksio sesarea

31

aterm
banyak

SC

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Keluar air dari jalan lahir

Ketuban Pecah Dini

Pre term
(< 37 mg)

Aterm
( 37 mg)

Konservatif

tunggu 6 jam

- istirahat baring (kurangi aktifitas)


- antibiotika :
belum inpartu

inpartu

induksi persalinan
- beri kortikosteroid (usia 28-34 mg)
* betametason 2 X 12 mg IM atau
deksametason 4 X 6 mg IM
(di VK biasa diberi deksametason 2 X 12 mg IM)
inpartu
2 botol tidak inpartu
- bila disertai partus prematurus iminens :
beri tokolitik : Isoksuprin (Duvadilan) 3 X 20 mg
- cek lab. Lekosit (tiap hari)
Seksio sesarea
- periksa kultur cairan amnion (bila mungkin)
- pengawasan KU, VS, djj
* suhu 38o dan Djj takikardi curiga amnionitis
* jika djj bradikardi curiga adanya kompresi tali pusat
akibat oligohidramnion
- pem. USG untuk melihat Biofisik janin dan oligohidramnion

Jika ditemukan lekosit 18.000 masih dianggap normal dalam kehamilan. Jika pada hitung jenis geser
kekiri (adanya segmen Neutrofil) perlu curiga adanya infeksi.
Suhu tubuh, lekosit dan diff count merupakan unsur sistemik yang timbul lambat terhadap infeksi.

32

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Pada pemeriksaan inspekulo :


1. sekresi cairan dari serviks : kultur
2. cairan dikumpulkan : test nitrazin, Fern test
3. awasi/perhatikan keluarnya cairan dari kanalis servikalis dengan valsava manuver, batuk atau tekanan
pada fundus. Valsava manuver : hidung ditutup kemudian disuruh mengejan.
4. Jika cairan terkumpul pada spekulum posterior : periksa rasio Lesitin Sfingomielin, phospatidil
gliseril atau rapid surfactan test.
5. tentukan adanya pembukaan serviks dan effesment
6. cek adanya prolapsus tali pusat
7. jika tidak didapatkan cairan : pasang kain kering di bawah bokong dan awasi adanya cairan
berikutnya.
Tanda-tanda amnionitis :
1. demam
2. lekositosis > 18.000
3. uterus nyeri tekan
4. takikardi > 100 X / menit, fetal takikardi > 160 X/menit
5. C-reaktif protein positif
Pencegahan :
1. hindari VT terlalu sering
2. hindari coitus, pemakaian vaginal douche, tampon
Komplikasi :
1. infeksi
2. Potter syndrome (extraordinary flexion, kulit keriput), fetal skeletal deformitas akibat
oligohidramnion.
Management aktif pada preterm :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

curiga amnionitis
dilatasi serviks 4 cm
djj abnormal
TBJ > 2500 gr dan paru janin matur
perdarahan pervaginam : susp. solusio plasenta
TBJ 2000-2500 gr, paru janin matur dan pengecatan gram positif
hasil kultur positif kuman beta streptokokus, Neisseria GO

8.
9.

letak lintang atau presentasi kaki dengan maturasi paru positif, kehamilan 32 minggu
ada pendapat lain : pada kehamilan 34 minggu sebaiknya diakhiri, untuk mengurangi resiko infeksi.

Nitrazin test
False positif

False negatif

Basic urine
Semen
Cervical mucus
Blood contamination
Some antiseptic solution
Vaginitis (trichomons)

Remote PROM with little residual fluid


Minimal leakage

Ferning test

33

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

False positif
Cervical mucus

False negatif
Blood contamination
Urine contamination
Antiseptic solution

Istilah/singkatan/akronim hubungannya dengan KPD :


AROM : artificial rupture of the membranes
PROM : premature rupture of the membrane
SPROM : spontaneous premature rupture of the membranes
SROM : spontaneous rupture of the membranes
Bila dalam perawatan di RS tidak keluar air ketuban, pasien mobilisasi untuk jalan-jalan. Jika
setelah mobilisasi (1-2 hari) tidak keluar air ketuban lagi, pasien bisa pulang untuk rawat jalan.
Disarankan kontrol satu minggu lagi atau sesuai keadan pasien. Tidak diperbolehkan coitus.
DIABETES MELLITUS DALAM KEHAMILAN
Faktor resiko DMG
a.

Riwayat kebidanan :
* Beberapa kali keguguran
* Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas
* Riwayat pernah melahirkan dengan cacat bawaan
* Pernah melahirkan bayi > 4000 gram
* Pernah pre-eklampsia
* Polihidramnion

b.

Riwayat ibu :
umur ibu hamil > 30 tahun
Riwayat DM dalam keluarga
Pernah DMG sebelumnya
ISK berulang-ulang selama hamil

DIAGNOSIS
Glukosa 75 gram

Plasma vena dua jam


Normal

Wanita hamil puasa

DMG

Kadar gula darah


< 140 mg/dl

34

Kadar gula darah


> 140 mg/dl

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Glukosa 75 gram
(plasma 2 jam)

140 199 mg/dl

> 200 mg/dl

> 200 mg/dl

Diagnosis

Toleransi
Glukosa Terganggu

DM

DMG

PENGELOLAAN DM PADA KEHAMILAN

Komplikasi yang terjadi pada wanita hamil dengan DM

Trimester I
- Abortus

Trimester II
- IUGR
- IUFD
- prematuritas
- KPD

Trimester III
- IUGR
- IUFD
- Makrosomia
- Prematuritas
- KPD

Mudah terjadi KPD oleh karena pada wanita dengan DM akan mudah
terjadi infeksi terutama ISK, dan infeksi sulit diatasi atau infeksi akan
terjadi berulang.
Komplikasi bayi dengan ibu DMG:
a. Makrosomia komplikasi pada persalinan berupa distosia bahu
b. hipoglikemia (GD<30 mg/dl), biasanya pada bayi makrosomia
c. hambatan pertumbuhan janin
d. berat badan lahir rendah
e. cacat bawaan :
- kelainan jantung (TAB, VSD, ASD), kelainan ginjal (agenesis ginjal)
- kelainan sal.cerna (situs inversus, sindrom kolon kiri kecil)
- kelainan neurologi dan skelet
f. hipokalsemia (< 7 mg/dl) dan hipomagnesia ( < 1,5)
g. hiperbilirubinemia
h. polisitemia hematologis

35

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

i.
j.

asfiksia perinatal
sindrom gawat nafas neonatal

Selama kehamilan, DM dapat menimbulkan komplikasi bagi ibu dan bayi, sehingga diperlukan usaha
untuk mengurangi komplikasi tersebut dengan cara :
a. konsumsi diet yang sesuai
b. monitor gula darah secara teratur
c. mengikuti program latihan (olah raga) secara teratur
d. beri insulin jika diperlukan
*Olah raga pada pasien DM menyebabkan terjadinya peningkatan pemakaian glukosa oleh otot yang
sedang aktif melakukan gerakan. Akibatnya glukosa darah turun, hal ini diikuti oleh penurunan kebutuhan
insulin. Jenis olah raga yang dianjurkan adalah aerobik, guna meningkatkan kemampuan kardiorespirasi
seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda. Saat melakukan olah raga, diupayakan melewati urutan :
pemanasan (warming-up), latihan inti (conditioning), pendinginan (cooling down) dan peregangan
(stretching). (*dr. Muchlis AU Sofro, SpPD, Suara merdeka 8-8-2004)
Dosis insulin : 0,5-1,5 unit/kg BB
Insulin kerja cepat : Humulin R (40 IU, 100 IU), Actrapid Human 40, 100
Indikasi pemberian insulin : bila dengan pengaturan perencanaan makan dua minggu tidak tercapai
normoglikemia yaitu GD puasa < 105 mg/dl dan 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl.

36

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

37

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

PENYAKIT JANTUNG DAN KEHAMILAN


Diagnosis
Burwell dan Metcalfe (1958), jika ditemukan salah satu tanda berikut :
1. bising diastolik, presistolik, atau terus menerus

38

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

2.
3.
4.

pembesaran jantung yang jelas


bising sistolik yang keras dan kasar terutama bila disertai dengan getaran
arrhitmia yang berat

Curiga gagal jantung bila ditemukan :


1. sesak nafas (dyspnea)
2. nyeri dada
3. aktifitas yang terbatas
4. palpitasi atau arrhitmia
5. sianosis
6. murmur jantung
7. riwayat penyakit demam rematik
Klasifikasi
1. Kelas I : tidak terganggu, penderita penyakit jantung dengan tidak terdapat pembatasan aktivitas
fisik.
2. Kelas II : penderita merasa nyaman bila istirahat, tetapi dengan melakukan aktifitas biasa,
menyebabkan rasa tidak enak dalam bentuk kelelahan yang berlebihan, palpitasi,
dispnea, atau nyeri anginal.
3. Kelas III : penderita merasa enak waktu istirahat, tetapi dengan aktifitas yang ringan sudah
menimbulkan keluhan.
4. Kelas IV : meskipun dalam keadaan istirahat penderita mengalami keluhan.
Pengelolaan Secara Umum
Harus dicegah terjadinya peningkatan berat badan berlebih, retensi cairan, anemia dan infeksi. Timbulnya
hipertensi akan membahayakan, demikian juga hipotensi tidak dikehendaki.
Pengelolaan Kelas I dan II
Selama kehamilan dan nifas yang perlu diperhatikan adalah pencegahan dan diagnosis dini gagal jantung.
Gejala dan tanda ke arah gagal jantung umumnya bertahap, mulai adanya ronkhi basah serta batuk-batuk,
sesak nafas dan kemudian hemoptisis, edemaDianjurkan untuk :
a. Istirahat selama 10 jam tiap malam, ditambah harus berbaring selama jam setiap kali setelah
makan.
b. Tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan berat.
c. Membatasi makanan yang mengandung natrium.
d. Hindari kontak dengan orang lain yang menderita infeksi, termasuk flu (common cold), dan
memberitahu segera tentang terjadinya infeksi.
Persalinan
- Prinsipnya pervaginam
- Beri analgesia saat partus dengan pilihan obat : tramadol 100 mg supp., Pethidin 50 mg IM,
Morphin 10-15 mg IM.
- Hindari hipotensi
- Batasi pemberian cairan
- Berbaring ke kiri
- Bila nadi > 100 X/menit dan RR > 24 X/menit mungkin impending kegagalan ventrikel dan pasien
dimasukkan ke R. Intensif.
- Hindari mengedan
- Jangan beri ergometrin
- SC dilakukan atas indikasi obstetrik:
* anestesi umum adalah pilihan terbaik
* hindari anestesi spinal

39

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Antibiotika profilaksis
-

Ibu dengan riwayat demam rheumatik harus diberikan Bensathin Penisilin G 1.200.000 unit IM 3
minggu sekali selam kehamilan dan setelah melahirkan untuk mencegah rekurensi. Bila alergi
penisilin, dapat diberikan sulfadiazin 1 gr setiap hari atau 250 mg eritromisin 2X/hari secara oral.
Ibu dengan kelainan katup bawaan atau akibat demam rheumatik perlu diberikan antibiotika selama
tindakan operasi dan persalinan untuk mencegah bakteriemia yang diakibatkan endokarditis.
Untuk tindakan kuretase dan laparotomi, berikan 2 g ampisilin IV segera sebelum tindakan dimulai
dan 8 jam kemudian, ditambah Gentamisin 80 mg IV sebelum tindakan.
Untuk persalinan, berikan obat-obatan tersebut di atas selama persalinan 8 jam sekali dan selama 48
jam post partum. Bila dapat diberikan antibiotika oral, berikan amoksisilin 1.5 gr setelah 6 jam
sebagai pengganti dosis kedua ampisilin.

Masa Nifas
Ibu dengan kelainan jantung yang melalui masa kehamilan dan persalinan tanpa msalah, dapat bermsalah
pada masa nifas. Hal-hal yang dapat menimbulkan gagal jantung pada masa nifas :
a. perdarahan
b. anemia
c. infeksi
d. tromboemboli
Pengelolaan Kelas III dan IV
Ada dua kemungkinan yaitu : terminasi kehamilan atau kehamilan diteruskan dengan tirah baring total dan
pengawasan ketat. Ibu dalam posisi setengah duduk.
Persalinan dilakukan denga SC. Beri diuretik dan oksigen 6-8 L/menit.
Pasien dengan kelainan jantung kelasw III dan IV sebaiknya tidak hamil dan dapat memilih kontrasepsi
AKDR, tubektomi atau vasektomim pada suami.
IBU HAMIL
dengan kelainan jantung
Riwayat :
Demam rheuma
Aktifitas terbatas
Dispnea

- Diagnosis
- Klasifikasi
- Konseling

X-foto thoraks
EKG
Ekhokardiografi
BGA

Penanganan ibu hamil dengan kelainan jantung


ANEMIA DAN KEHAMILAN
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11 gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar
Hb < 10,5 gr% pada trimester 2. penurunan kadar Hb pada kehamilan wanita sehat yang cukup zat besi
dan asam folat, disebabkan ekspansi volume plasma yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan
massa Hb dan volume eritrosit. Ketidakseimbangan antara kecepatan penambahan plasma dan eritrosit ke
dalam sirkulasi ibu, paling besare terjadio pada trimester 2.
Etiologi anemia adalah sebagai berikut :
A. Yang didapat (acquired)
1. Anemia defisiensi besi
2. Anemia akibat perdarahan akut

40

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

3.
4.
5.
6.

Anemia akibat inflamasi atau keganasan


Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik yang didapat
Anemia aplastik atau hipoplastik

B. Herediter
1. Thalasemia
2. Hemoglobinopathi sel-bulann sabit
3. Hemoglobinopathi lain
4. Anemia hemolitik herediter tanpa hemoglobinopathi
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Dua sebab anemia yang paling sering pada hamil dan nifas adalah defisiensi besi dan akibat perdarahan
akut.
Anemia defisiensi besi terjadi mungkin karena :
a. Asupan yang kurang
b. Kebutuhan yang bertambah pada wanita hamil
c. Asupan dari makanan cukup, tetapi absorbsi yang kurang
Pada kehamilan janin tunggal kebutuhan zat besi rata-rata 800 mg,dimana 300 mg disalurkan ke janin dan
plasenta, sedangkan yang 500 mg digunakan untuk memperbesar massa hemoglobin ibu. Karena jumlah
zat besi yang dialirkan ke janin pada ibu yang mengalami defisiensi besi tidak banyak berbeda dengan
yang normal, maka bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami anemia berat, tidak mengalami anemia
defisiensi besi. Cadangan besi pada bayi lebih banyak dipengaruhi oleh kapan dan bagaimana tali pusat
dijepit.
Penilaian klinik
Gejala dan tanda :
Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih normal perlu dicurigai anemia defisiensi
besi.
Pada anemia defisiensi besi eritrosit mengalami perubahan morfologik yang klasik berupa hipokromia dan
mikrositosis. Wanita hamil dengan anemia sedang perlu dilakukan pemeriksaan Hb, hematokrit dan indeks
sel darah merah, darah tepi, konsentrasi besi dalam serum dan kadar ferritin serum. Selanjutnya perlu
pemeriksaan khusus untuk membedakan anemia defisiensi asam folat dan thalasemia. Pemeriksaan MCV
penting untuk menyingkirkan thalasemia. Bila MCV < 80 uL dan kadar RDW (red cell distribution width)
> 14% mencurigai penyakit thalasemia. Kadar HbF > 2% dan HbA2 yang abnormal akan menentukan
jenis thalasemia.
Penanganan
Terapi anemia defisiensi besi bisa dengan preparat besi oral (fero sulfat, fero glukonat, atau Na-fero
bisitrat) atau parenteral. Pemberian parenteral diindikasikan bila ada intoleransi besi pada traktus
gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Pemberian preparat parentral yaitu dengan
ferum dekstran 100 mg (20 ml) IV atau 2 X 10 ml IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb 2 gr%.
Program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 ug asam folat untuk profilaksis anemia.
ANEMIA MEGALOBLASTIK
Anemia megaloblastik hampir selalu disebabkan oleh defisiensi asam folat. Biasa ditemukan pada wanita
hamil yang tidak makan sayur segar atau tidak makan makanan dengan kadar protein hewani yang tinggi.
Penderita akan mengalami mual, muntah dan anoreksia yang mempersulit waktu hamil.
Wanita normal yang tidak hamil, kebutuhan asam folat berkisar 50 100 ug/hari. Pada kehamilan
kebutuhan asam folat meningkat. Janin dan plasenta mengambil asam folat dari sirkulasi maternal
demikian efektifnya sehingga janin tidak mengalami anemia meskipun ibunya mengalami defisiensi asam
folat.
Identifikasi

41

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

hipersegmentasi beberapa sel neutrofil


eritrosit makrositik
pada pemeriksaan sumsum tulang didapatkan eritropoieis megaloblastik

Perawatan
Meliputi pemberian asam folat, diet yang bergizi, dan pemberian zat besi.
Dengan pemberian 1 mg asam folat/hari per oral telah memberikan respons hematologik yang besar.
Setelah 4-7 hari sejak permulaan terapi, jumlah retikulosit sangat meningkat, leukopenia dan
trombositopenia dengan cepat diperbaiki.
Wanita yang mengalami anemia megaloblastik pada waktu hamil, biasanya mengalami defisiensi zat besi
tubuh secara keseluruhan.

TRANDFUSI DARAH DAN INFUS CAIRAN


INDIKASI TRANSFUSI

Perdarahan pasca persalinan dengan syok


Kehilangan darah saat opersai
Anemia bert pada kehamilan lanjut (Hb < 8 gr% atau timbul gagal jantung)

Resiko transfusi
1. Darah lengkap atau transfusi sel darah merah
reaksi transfusi
infeksi HIV, hepatitis B, hepatistis C, sifilis, malaria
kontaminasi bakteri lainnya jika dibuat atau disimpan secara tidak benar
2. Resiko transfusi plasma
infeksi seperti di atas
reaksi transfusi
sangat sedikit indikasi yang jelas dari transfusi plasma dan resiko sering melebihi
keuntungan.
Upaya mengurangi resiko
Seleksi donor darah
Penapisan infeksi
Program menjaga mutu
Penanganan yang baik terhadap penentuan golongan darah, tes kompatibilitas,pemisahan
komponen darah, penyimpanan, dan transportasi produk darah
Penggunaan darah dan produk darah secara tepat.
PRINSIP TRANSFUSI DARAH
Transfusi darah merupakan salah satau dari penanganan kasus secara keseluruhan. Bila terjadi kehilangan
darah dalam jumlah banyak dan waktu singkat yang paling urgen adalah mengganti cairan yang hilang
dengan segerac ( resusitasi efektif: cairan pengganti IV, oksigen dll). Transfusi sel darah merah menjadi
penting karena mengmbalikan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah.
Kadar Hb tidak menjadi faktor penentu
Klinisi harus waspada terhadap resiko infeksi

42

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Transfusi dilakukan hanya jika keuntungan lebih besar dibanding kerugian


Pengawasan terhadap reaksi transfusi (ringan: ruam kulit, gatal; berat: gagal ginjal,
hemolisis, syok anafilaktik)

Kurangi kebutuhan transfusi dengan:


Penggunaan cairan pengganti untuk resusitasi
Minimalkan pengambilan darah untuk kepentingan pemeriksaan darah
Gunakan teknik anestesi dan bedah terbaik untuk meminimalkan kehilangan darah selama
tindakan
Pembersihan dan re-infus selama prosedur (autotransfusi) jika mungkin.
Pemantauan pasien yang ditransfusi
Pemantauan dilakukan pada tahap:
- sebelum transfusi mulai
- pada saat transfusi mulai
- 15 menit setelah transfusi
- setiap 1 jam selama transfusi
- setiap 4 jam setelah selesai

periksa hal-hal berikut pada setiap tahap:


KU, tanda vital
Keseimbangan cairan

Catat pula:
waktu transfusi mulai
waktu transfusi selesai
volume dan jenis produk darah
efek samping
nomor

PENANGANAN REAKSI TRANSFUSI


- Reaksi transfusi : pada pasien yang sedang dilakukan transfusi terutama pengawasan pada 15 menit
pertama.
Komplikasi imunologi transfusi :
Inkompabilitas ABO penyebab kematian paling banyak. Perhatian yang teliti untuk akurasi
identifikasi sampel dan register pasien serta pencocokan yang tepat antara donor dan resipien
akan mencegah kesalahan.
Pemberian produk darah pada resipien terpapar allo-antigen dan stimulasi antibodi akan
menimbulkan kesulitan pada cross matching transfusi yang akan datang, penyakit
hemolitik pada neonatus dan reaksi transfusi.
Reaksi hemolitik akut dan lambat akibat dari pembentukan antibodi sebelumnya, terutama
rhesus, Kell, Duffy atau Kidd.
Reaksi anafilaktik.
Jika ringan, berikan prometazin 10 mg melalui oral dan observasi
Penanganan Syok Anafilaktik
Tata laksanan syok dan berikan:
- adrenalin 1:1000 (0,1 ml dalam 100 ml NaCL atau RL) perlahan-lahan secara IV
- prometazin 10 mg IV
- dan hidrokortison 1 g IV setiap 2 jam jika perlu
Jika ada bronkospasme, beri amionofilin 250 mg dalam NaCl atau RL 10 ml IV perlahan

43

Catatan Obstetri, dr. cipto pramono

Lakukan tindakan tersebuty di atas sampai KU ibu stabil


Jika ada reaksi transfusi, ambil contoh/botol darah disertai darah beku dan 1 botol berisi
darah dari vena kontralateral yang diberi antikoagulan (+EDTA)
Jika dicurigai adanya sepsis karena darah yang telah terkontaminasi, buatlah kultur darah
dari transfusi tsb.

Cairan Pengganti Alternatif Sederhana Terhadap Transfusi


Hanya garam fisiologik (NaCL 0.9%) atau cairan garam seimbang lainnya yang memiliki konsentrasi
yang sama dengan natrium dan plasma, yang merupakan cairan pengganti yang efektif.
ACER TRAVELMATE 6291 - 100512
$939
Intel Core 2 Duo T5500 1.66Ghz, Wi-Fi 3945ABG, Intel 945PM Express Chipset, 512MB DDR2, 120GB
HDD SATA DVD-Dual (DVD-RW), Display 12.1" WXGA Widescreen Crystalbrite, CardReader 5 in 1,
Modem 56Kbps
Bluetooth, LAN 10/100, Integrated Acer Crystal Eye Webcam, S-Video TV Out, Weight 1.9Kg
ACER TRAVELMATE 6292-301G16
$1.249
Intel Core 2 Duo T7300 2.0Ghz 4MB L2 Cache, Wi-Fi 3945ABG, Intel 965GM Express Chipset, 2x
512Mb DDR2, 160GB HDD SATA
DVD-Dual (DVD-RW), Display 12.1" WXGA Widescreen Crystalbrite, CardReader 5 in 1, Modem
56Kbps
LAN 10/100, Integrated Acer Crystal Eye Webcam, S-Video TV Out, Weight 1.9Kg, TravelMate
fingerprint solution
featuring Pre-boot Authentication (PBA), Genuine Windows Vista Business,Microsoft Office Ready
2007 (60 Days)

44