Anda di halaman 1dari 25

FILSAFAT MODERN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Teori Akuntansi
Tahun Akademik 2014/2015

Disusun Oleh :
Nama

: Rahmat Fajar Ramdani

NIM

: 12030114410033

Nama

: Hanafi

NIM

: 12030114410022

JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

Filsafat Modern
A. Filsafat Renaissance
1. Nicolle Machiavelli (1469 1527)
Machiaveli lahir tahun 1469 di Florence, Italia dan meninggal dunia tahun 1527
pada umur 58 tahun. Pada tahun 1498 Machiavelli berumur 29 tahun telah
memeproleh kedududkan tinggi di pemerintahan Florence selama 14 tahun. Pada
tahun 1512 Republik Florentine digulingkan dan penguasa Medici kembali
Machiaveli dipecat dan pada tahun ebrikutnya di tahan karena tuduhan kudeta.
Buku karya Nicolle Machiavelli :
1.
2.
3.
4.
5.

The Prince karya paling monumental ditulis tahun 1513


Discourses upon the first ten book of tittus livius ditulis tahun 1932
The art of war
A History of Florence
La mandragola

a.Filsafat Politik Baru


Tidak ada fisuf politik yang menjadi sasaran penilaian yang beragam dan
kontradiktif dibanding Machiaveli. Pada titik ekstrem, ia dikecam sebagai guru
penipuan dan penghianatan politik, sebagai inkarnasi dari kekuatan licik dan
brutal dalam dunia politik, dan sebagai penggagas totaliarianisme modern. Disisi
lain ia disebut sebagai pahlawan italiayang bersemangat dan mengabdikan diri
bagi kebaikan warga negaranya, sebagai demokrat besar, dan sebagaipemikir yang
memberikan sumbangsih besar pada kebebasan manusia dan nasib
manusia.Machiavelli berpendapat seorang pengusaha yang ingin tetap berkuasa
dan memperkuat kekuasannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan
dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman kekuatan.
b. Tujuan menghalalkan segala cara
menurut Machiavelli penguasa yang baik adalah orang yang tujuannya bukan
untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk kebaikan umum, dan bukan demi
kepentingan penggantinya tetapi demi tanah air yang jadi milik semua orang.
Demi tujuan yang baik sebagaimana dinyatakan dalam Discourse, semua cara
diperlukan bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Machiaveli
mengatakan, the end justifies the means (tujuan menghalalkan segala cara).
Seorang penguasa tidak wajib membahas apakah tindakannya secara moral benar
atau etis

2. Francis Bacon (1561-1626)

Francis Bacon, lahir di London Inggris dan belajar di Cambridge dia dikenal
sebagai penemu praktik metode ilmiah. Dia bermaksud meninggalkan ilmu
pengetahuan lama dan mengusahakan yang baru. Gagasan Bacon tentang metode
ilmiah terkenal dengan nama induksi Baconian. Metodenya ini dijelaskan dalam
bukunya yang berjudul Novum Organum yang diterbitkan pada tahun 1620.
Semboyan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is power , dengan ilmu
manusia dapat menundukkan alam. Dalam bukunya Novum Organum, terdapat
doktin doktrin yang dijjelaskan dengan istilah idol yang telah mendominasi dan
menjrumus kan pikiran manusia dan menghambat ilmu pengetahuan idol idol
tersebut meliputi : idol of tribe, idol of the cave, idol of market place, idol of
theater
3. Blaise Pascal (1623 1662 M)
Blaise Pascal Berasal dari prancis, Minat Utamanya ialah Filsafat dan agama,
sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif. Bersama
Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas dan juga berhasil
menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Karyanya yang
terkenal ialah Penses. Karyanya tersebut terbit setelah ia meninggal dunia. Inti
buku karangannya ialah ia berusaha menyikap pemikiran personalnya mengenai
religiusnya yang amat mendalam dan penolakan terhadap rasionalisme filosofis
yang mendefinisikan zamannya.
4. Thomas Hobbes (1588 1679 M )
Thomas Hobbes lahir di Inggris pada tahun 1588 M, ia adalah seorang yang
cerdas pada umur 15 tahun telah belajar di Oxford University. Karya terbaik
Hobbes adalah Leviathan. Master piece Hobbies merupakan filsafat politik umum
pertama yang besar dan komprehensif yang dihasilkan pemikir Inggris. Karya
Hobbes tersebut sebagai upaya untuk menjustifikasiasi absolutisme penguasa pada
saat itu. Lebih dari itu, ia berusaha meletakkan fondasi teoritis bagi pemerintahan
yang absolut secara umum, baik monarki, kdiktatoran, maupun parlemen. Bagian
pertama buku tersebut membahas psikologi manusia, dalam bahasan of man.
Hobbes menyadari bahwa toeri negara harus didasarkan atas teori watak manusia
dan untuk menyingkapi watak manusia tersebut menurut Hobbes ada 2 cara.
Pertama, melakukan pengamatan pola laku dan tindakan orang lain. Kedua,
introspeksi diri.

Filsafat Modern

1. Rene Descartes
Rene Descartes lahir di La Haye, Prancis 31 Maret 1596 dan meninggal di
stockholm, Swedia, 11 februari 1650. Descartes biasa dikenal sebagai Cartesius.
Ia adalah seorang fisuf dan matematikawan prancis. Karyanya yang terpenting
adalah Discour de la methode (1637) dan Mediatines de prima philosophia (1641)
tokoh rasionalisme ini beranggapan bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam
pikiran. Dalam buku Discourse de la methode ia menegaskan perlunya metode
yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
meyangsikan segalanya, secara metodis. Kalua suatu kebenaran tahan terhadap
ujian kesangsian yang radikal ini maka kebenaran itu 100% pasti menjadi
landasan bagi seluruh pengetahuan. Descartes menerima 3 realitas atau subtansi
bawaan yang sudah ada sejak kita lahir yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan),
@realitas perluasan (res extensa, extension) atau materi dan (3) tuhan (sebagai
wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu)
2. Baruch de Spinoza (1632 1677)
Baruch de Spinoza merupakan filsuf Belanda yang fenomenal setelah dia
menggugat salah satu pemikiran Descartes mengenai apa sesungguhnya dunia
ini ? sebagai keturunan yahudi yang berpikiran ortodoks, hingga akhirnya dibuang
dan dikucilkan. Meski begitu buah pikirannya cukup mengagumkan bagi banyak
orang yang menaruh perhatian terhadap kajian filsafat dan ilmu pengetahuan.
Karya utama Spinoza adalah Ethic. Secara umum buku Spinoza tersebut
menggunakan metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis mengenai
kehidupan ini bahwa ada dan hanya satu subtansi dengan banyak sifat yang
terbatas jumlahnya.
3. Leibniz (1646 1716 M)
Leibniz lahir di Jerman, nama lengkapnya Gotfried Wilhem von Leibniz. Leibniz
juga termasuk pengkritik Descartes. Baginya dia kahwatir tentang kehidupan dan
bagaimana cara menjalani hidup.leibinz dikenal sebagai penemu kalkulus bersama
Newton. Ia adalah ilmuwan, pengacara, sejarawan, akadimisi, ahli logika, ahli
bahasa, dan teolog. Tesisnya yang paling agung adalah Candinide.
4. John Locke (1632 1704 M )
John Locke adalah tokoh pembawa gerbong aliran empirisme dalam filsafat.
Yakni aliran yang mengimani bahwa semua pikiran dan gagasan manusia berasal
dari suatu yang didapat melalui indra dan pengalaman. Locke lahir di inggris pada
tanggal 29 Agustus 1632 dan meninggal pada 28 oktober 1704 M. Dia disebut
sebagai filsuf Ingggris berpandangan empiris. Locke sering disebut sebagai tokoh
yang memberikan titik terang dalam perkembangan psikologi. Teori yang sangat
penting darinya adalah tentang kejiwaan adalh bahwa jiwa saat [ertama dilahirkan

adalah jiwa yang bersih. Fokus filsafat locke adalah antitesis pemikiran Descartes.
Baginya, pemikiran descartes mengenai akal budi kurang sempurna.
5. David Hume (1711 1776 )
Pada david hume aliran empirik memuncak. Empirisme mendasarkan
pengetahuan bersumber pada pengalaman, bukan rasio hume memiliki
pengalaman sebagai sumber poengtahuan. Pengalaman itu bersifat lahiriah (yang
menyangkut dunia) dan dapat pula bersifat batiniah (menyangkut pribadi
manusia). Hume membagi kesan menjadi dua ; kesan sensasi dan kesan refleksi.
Kesan sensasi adalah kesan kesan yang masuk ke dalam jiwa yang tidak diketahui
sebab musababnya. Kesan refeksi adalah hasil dari gagasan. Hume adalah pelopor
para empiris, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari
indra. Menurut humeada batasan batasan yang tegas tentang bagaimana
kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indra kita
6.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Tema fisafat Hegel adalah Ide Mutlak. Oleh karena itu, semua pemikirannya tidak
terlepas dari ide mutlak, baik berkenaan dari sistemnya, proses dialektiknya,
maupun titik awal dan titik akhir kefilsafatannya. Oleh karena itu pulalah
filsafatnya disebut filsafat idealis, suatu filsafat yang menetapkan wujud yang
pertama adalah ide (jiwa).
a. Rasio, ide, dan roh
Hegel sangat mementingkan rasio, tentu saja karena ia seorang idealis. Yang
dimaksud olehnya bukan saja rasio pada manusia perseorangan, tetapi rasio pada
subjek absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realitas
seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subjek. Dalil Hegel yang kemudian
terkenal berbunyi: Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional
bersifat real. Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas
seluruhnya adalah proses pemikiran (idea, menurut istilah Hegel) yang
memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan lain, realitas seluruhnya
adalah Roh yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan
rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual ketika itu yang
mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan.
Pusat fisafat Hegel ialah konsep Geist (roh,spirit), suatu istilah yang diilhami oleh
agamanya. Istilah ini agak sulit dipahami. Roh dalam pandangan Hegel adalah
sesuatu yang real, kongkret, kekuatan yang objektif, menjelma dalam berbagai
bentuk sebagai world of spirit (dunia roh), yang menempatkan ke dalam objekobjek khusus. Di dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi manusia dan
juga esensi sejarah manusia.

Demi alam kembalilah idea atau roh kepada diri sendiri. Dalam fase ini, mulamula roh itu merupakan roh subjektif, kemudian roh objektif, dan akhirnya roh
mutlak.
Sebagai roh subjektif, roh itu mengenal dirinya dan merupakan tiga tingkatan:
antropologi, fenomologi, dan psikologi. Dalam antropologi, kenalah roh itu akan
dirinya dalam penjelmaan pada alam. Dalam fenomenologi, kenalah dia akan
dirinya dalam perbedaannya dengan alam. Adapun pada psikologi, roh mengenal
dirinya dalam kemerdekaan terhadap alam, mula-mula teoritis, kemudian praktis
dan akhirnya merdekalah roh itu.
Maka meningkatlah kepada roh objektif. Roh objektif ini roh mutlak yang
menjelma pada bentuk-bentuk kemasyarakatan manusia, hak dan hukum
kesusilaan dan kebajikan. Dalam hak dan hukum terdapat penjelmaan roh
merdeka itu pada hukum-hukum umum. Di samping itu adalah kesusilaan yang
merupakan kebatinan. Pada sintesis keduanya itu terlahirlah kebajikan.
Sampailah sekarang kepada roh mutlak. Roh mutlak itu ialah idea yang mengenal
dirinya dengan sempurna itu merupakan sintesis dari roh subjektif dan objektif.
Tak ada lagi, pertentangan antara subjek dan objek antara berpikir dan ada.
Oleh karena roh mutlak ini sebenarnya gerak juga, maka dia menunjukkan
perkembangan juga: seni (tesis), agama (antitesis) dan kemudian filsafat (sintesis).
Seni itu memperlihatkan idea dalam pandangan indera terhadap dunia, objeknya
masih di luar subjek. Adapun agama tidak lagi mempunyai subjek di luar objek,
melainkan di dalamnya. Tetapi segala pengertian dan gambaran agama itu
dianggap ada. Filsafat akhirnya merupakan sintesis dari seni dan agama
merupakan paduan yang lebih tinggi. Di sinilah idea mengenal dirinya dengan
sempurna. Dalam sejarah filsafat ternyata benar gerak idea itu, yaitu tesis,
antitesis, dan akhirnya sintesis. Misalnya: Parmenides (tesis), Heraklitos
(antitesis), dan Plato (sintesis).
b. Dialektika
Untuk menjelaskan filsafatnya, Hegel menggunakan dialektika sebagai metode.
Yang dimaksud oleh Hegel dengan dialektika adalah mendamaikan,
mengompromikan hal-hal yang berlawanan.
Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi
antitesis (fase kedua), dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis). Dalam sintesis
itu, tesis dan antitesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang, dia masih ada,
tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini berlangsung terus.
Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antitesis baru, dan menghasilkan
sintesis baru lagi, dan seterusnya.

Tesis adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen yang
dikemukakan, lalu antitesis adalah pengungkapan gagasan yang bertentangan.
Sedangkan sintetis adalah paduan (campuran) berbagai pengertian atau hal
sehingga merupakan kesatuan yang selaras.
7.

Immanuel Kant

Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Knigsberg dari pasangan Johann
Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina
Kant.Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 17301740, perdangangan di Knigsberg mengalami kemerosotan.Hal ini memengaruhi
bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan.Ibunya
meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia
berumur hampir 22 tahun. Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint Georges
Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah
sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.
Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di jerman yang
mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Pada
tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Knigsberg dan
mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam. Untuk meneruskan
pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa
itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan
ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus
mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar
profesor didapatkan Kant di Knigsberg pada tahun 1770.
Pemikiran Immanuel Kant
Perkembangan pemikiran kant mengalami empat periode;
1.
Periode pertama ialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz Wolf, yaitu
samapi tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik
2.
Periode kedua berlangsung antara tahun 1760 1770, yang ditandai
dengan semangat skeptisisme. Periode ini sering disebut periode empiristik
3.
Periode ketiga dimulai dari inaugural dissertation-nya pada tahun 1770.
Periode ini bisa dikenal sebagai tahap kritik.
4.
Periode keempat berlangsung antara tahun 1790 sampai tahun 1804. Pada
periode ini Kant megnalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problemproblem sosial. Karya Kant yang terpenting pada periode keempat adalah Religion
within the Limits of Pure Reason (1794) dan sebuah kumpulan esei
berjudulEternal Peace (1795).

Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan


Pencerahan, yaitu suatu masa dimana corak pemikiran yang menekankan
kedalaman unsur rasionalitas berkembang dengan pesatnya. Pada masa itu lahir
berbagai temuan dan paradigma baru dibidang ilmu, dan terutama paradigma ilmu
fisika alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473 1543) di bidang
ilmu astronomi yang membutuhkan paradigma geosentris, mengharuskan manusia
mereinterpretasikan pandangan duniannya, tidak hanya pandangan dunia ilmu
tetapi juga keagamaan.
Selanjutnya ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme, yaitu suatu paham
yang kemudian melahirkan apa yang disebut Natural Religion (Agama alam) atau
agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya yang menciptakan
alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia
kepada nasibnya sendiri. Sebab ia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke
dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia
dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai
dengan hukum-hukum akalnya.
Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta degan kesaksiankesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, mukjizat, dan lain-lain kepada kritik akal
serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari pada segala
ajaran Gereja. Singkatnya, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber dan
patokan kebenaran adalah akal. Kant berusaha mencari prinsip-prinsip yang ada
dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Inilah yang kemudian menjadi
kekhasan pemikiran filsafat Kant, dan terutama metafisikanya yang dianggap
benar-benar berbeda sama sekali dengan metafisikan pra kant.
Kritik atas Rasio Murni
Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah
bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu
membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu:
a. Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru
pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda
menempati ruang).
b. Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan meja itu bagus di sini
predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena
dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam
meja yang pernah diketahui.
c. Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang
kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang
berbunyi segala kejadian mempunyai sebabnya.

Tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu:


a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)
Unsur apriori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan unsur
apriori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi meruang dan
mewaktu
b. Tingkat Akal Budi (Verstand)
Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan.
Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi,
sehingga menghasilkan putusan-putusan. Pengetahuan akal budi baru dieroleh
ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentuk-bentuk
apriori yang dinamai Kant dengan kategori, yakni ide-ide bawaan yang
mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia..
c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)
Idea ini sifatnya semacam indikasi-indikasi kabur, petunjuk-petunjuk buat
pemikiran (seperti juga kata barat dan timur merupakan petunjuk-petunjuk;
timur an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik
kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat dibawahnya, yakni akal
budi(Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan
kata lain, intelek dengan idea-idea argumentatif.
Kendati Kant menerima ketiga idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa
diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut kant, hanya terjadi
di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari
noumenan = yang dipikirkan, yang tidak tampak, bhs. Yunani), dunia
gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah
pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan benda pada dirinya
sendiri (das Ding an Sich).
Kritik atas Rasio Praktis
Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang
perseorangan (individu), sedangkanimperative (perintah) merupakan azas
kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan.
Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat
(hypothetical)atau dapat juga tanpa syarat (categorical). Imperatif kategorik tidak
mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal (=solen). Menurut
kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber paa kewajiban dengan
penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat
(achtung).Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia. Kant, ada
akhirnya ingin menunjukkan bahwa kenyataan adanya kesadaran susila

mengandung adanya praanggapan dasar. Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut
postulat rasio praktis, yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya
Tuhan.
Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang
disebut dengan argumen moral tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan
dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan,
rasio praktis bekerja melahirkan perbuatan susila.
Kritik atas Daya Pertimbangan
Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti
persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep
finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas
bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah
yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat
objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.
8.

SREN KIERKEGAARD

Sren Kierkegaard yang lahir pada 5 Mei 1813 dan tutup usia pada 11 November
1855, adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Ia
dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya di Kopenhagen, ibukota Denmark.
Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seseorang yang sangat saleh. Ia
yakin bahwa ia telah dikutuk Tuhan, dan karena itu ia percaya bahwa tak satupun
dari anak-anaknya akan mencapai umur melebihi usia Yesus Kristus, yaitu 33
tahun. Ia percaya bahwa dosa-dosa pribadinya, seperti misalnya mengutuki nama
Allah pada masa mudanya dan kemungkinan juga menghamili ibu Kierkegaard di
luar nikah, menyebabkan ia layak menerima hukuman ini. Perkenalan dengan
pemahaman tentang dosa pada masa mudanya, dan hubungannya dari ayah dan
anak meletakkan dasar bagi banyak karya Kierkegaard (khususnya Takut dan
Gentar). Ibunda Kierkegaard, Anne Srensdatter Lund Kierkegaard, tidak secara
langsung dirujuk dalam buku-bukunya, meskipun ia pun mempengaruhi tulisantulisannya di kemudian hari. Meskipun sifat ayahnya kadang-kadang melankolis
dari segi keagamaan, Kierkegaard mempunyai hubungan yang erat dengan
ayahnya. Ia belajar untuk memanfaatkan ranah imajinasinya melalui serangkaian
latihan dan permainan yang mereka mainkan bersama.
PEMIKIRAN SREN KIERKEGAARD: Sebuah Kritik Atas Formalitas Agama
di Denmark dan Hegelianisme
Jika kita diperhadapkan dengan pertanyaan, mengapa karya Kierkegaard kadangkadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial ?
Maka jawabannya adalah karena karya-karya Kierkegaard membahas masalahmasalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan

teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan
pilihan-pilihan eksistensial. Masalah yang diangkat tersebut, tentu saja tidak lepas
dari konteks zaman saat itu, sehingga Kierkegaard harus melancarkan kritiknya
terhadap dua hal yang berkecamuk saat itu, yakni formalitas agama di Denmark
dan pemikiran Hegelianisme. Mengenai hal tersebut, F. Budi Hardiman
menjelaskan:
Kritik Kierkegaard atas Hegelianisme bukan sekedar sebuah minat teoritis,
melainkan didasari oleh sebuah keprihatinan praktis terhadap perilaku keagamaan
di Denmark . Zaman itu, Lutheranisme menjadi agama resmi negara Denmark.
Agama itu secara otomatis dianut oleh orang Denmark, dan menjadi semacam cap
saja untuk kehiduoan sosial. Menurut Kierkegaard agama Kristen sungguhsungguh menjadi sekular dan duniawi, dan orang yang menyebut dirinya Kristen
tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan Allah. Dalam situasi seperti ini,
agama hanya menjadi persoalan objektif dan lahiriah, hanya menyangkut
perilaku yang dapat dilihat dan tidak menyangkut komitmen subjektif manusia.
Pada titik inilah, Kierkegaard lalu menunjukkan bahwa biang keladi
kemerosotan penghayatan iman ini tak lain adalah filsafat Hegel. Menurut
Kierkegaard, realita Hegel tidaklah memiliki relasi dengan realita keberadan
manusia.
Kierkegaard adalah seorang yang pada zamannya melancarkan reaksi terhadap
hidup kemasyarakatan. Keadaan masyarakat pada waktu itu tidak menunjukkan
sebuah usaha untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari, serta
mengabaikan perkara-perkara batiniah. Hal ini berbanding terbalik dengan apa
yang menjadi prinsip Kierkegaard, bahwasanya persoalan-persoalan praktis
sehari-hari itulah yang justru menjadi persoalan hidup yang sebenarnya. Memang
pada kenyataannya, sejak Kant hingga Hegel orang hanya membicarakan
persoalan-persoalan besar yang bersifat umum, sedangkan untuk persoalan khusus
dan praktis, pada umumnya orang berpendapat bahwa pemecahannya dapat
diturunkan dari dasar-dasar yang umum itu. Kierkegaard kemudian menganggap
Hegel mengaburkan hidup yang kongret, nmaka tak heran jika Kierkegaard
meremehkan argumentasi abstrak mengenai metafisika yang spekulatif ala Hegel.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka jelas bahwa bereksietensi berarti berani
mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka barangsiapa tidak berani
mengambil keputusan, ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Itulah
pemikiran Kierkegaard, bahwa ada eksistensi yang sebenarnya dan ada eksistensi
yang tidak sebenarnya. Tiap eksistensi memiliki cirinya khas. Kierkegaard
membedakan adanya tiga bentuk eksistensi, yaitu: bentuk estetis, bentuk etis dan
bentuk religius.

Tahap Estetis
Pada tahap ini, manusia menaruh perhatian besar terhadap segala sesuatu yang di
luar dirinya. Ia hidup di dalam dunia dan di dalam masyarakat, dengan segala
sesuatu yang dimiliki dunia dan masyarakat itu. Ia menikmati segala yang jasmani
dan rohani. Sekalipun demikian batinnya kosong. Senantiasa ia menghindari tiap
keputusan yang menentukan. Sifat hakiki bentuk eksistensi estatis ialah tidak
adanya ukuran-ukuran moral yang umum yang telah ditetapkan, dan tidak adanya
kepercayaan keagamaan yang menentukan. Yang ada hanya keinginan untuk
menikmati seluruh pengalaman emosi dan nafsu.
Tahap Etis
Pada tahap ini, manusia memperhatikan benar-benar kepada batinnya. Ia tidak
hidup dari hal-hal yang kongrit ada. Sikapnya di dalam dunia, senantiasa
diusahakan agar dapat ditentukan dari sudut hidup batiniahnya, menurut patokanpatokan yang umum.
Tahap Religius
Tahap religius ditandai oleh pengakuan individu akan Allah, dan kesadarannya
sebagai pendosa yang membutuhkan pengampunan Allah. Pada tahap ini individu
membuat komitmen personal dan melakukan apa yang disebutnya lompatan
iman. Lompatan ini bersifat non-rasional dan biasa kita sebut pertobatan. Tokoh
yang memodelkan tahap ini adalah tokoh Kitab Suci, Abraham, yang
mengorbankan putranya yang tunggal karena beriman kepada Allah. Di sini
Abraham betul-betul meninggalkan tahap etis dan melompat ke tahap religius.
9.

Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Jerman 5 Mei 1818. Berasal dari keluarga Yahudi kelas
menengah, Marx kuliah ilmu hukum di universitas Bonn. Setahun kemudian
pindah ke universitas Berlin untuk belajar filsafat. Pada usia 23 tahun ia meraih
gelar doktor filsafat. Gagal menjadi dosen, Marx muda kemudian menjadi
wartawan dan akhirnya lebih banyak menjadi aktivis politik dan penulis.
Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom, sosiolog sekaligus aktivis politik.
Pemikiran Marx dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, pemikir-pemikir sosialis
Perancis seperti St. Simon, Prudhon dan tokoh revolusioner seperti Blanqui.
Selama hidupnya, Marx telah banyak menghasilkan karya, seperti: Economic and
Philosophical Manuscript, The German Ideology, The Class Strrunggles in France
and the Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, The Communist Manifesto, Das
Capital.
Marx mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat; tingkah
laku, perubahan social, konflik dan kelas sosialnya. Karl Marx memunculkan

teori-teori dalam sosiologi, yaitu, konflik dan kelas sosial, perubahan sosial,
alienasi.
Marx menggunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu
teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju
suatu keadaan terwujud keadilan sosial. Perubahan sosial bagi Marx berjalan
dialektis. Pertentangan, kontradiksi antar kelas akhir mencari kesimbangan.
Tahapan sejarah masyarakat bagi Marx adalah sebagai berikut; feodalisme,
kapitalisme dan sosialisme/komunisme.
Alienasi bagi Marx terjadi disaat manusia itu sebagai pekerja itu terasing dan
dikuasai oleh hasil kerjanya, produksinya. Manusia diasingkan dari produk hasil
kerjaannya, terasing dari kegiatan produksi, terasing dari sifat sosialnya, terasing
dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.
Teori Marx tentang kelas social didasarkan pada pemikiran bahwa sejarah
peradaban manusia adalah sejarah pertentangan kelas sosial dalam masyarakat.
Marx biasanya mengartikan kelas digunakan untuk menyatakan sekelompok
orang yang berada dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan kontrol
mereka terhadap alat-alat produksi. Ada dua macam kelas yang dikemukakan
Marx ketika menganalisa kapitalisme; kelas borjuis dan kelas proletar.
Marx merupakan tokoh pengkritik system kapitalis paling awal dan paling sengit.
Sosiologi humanis dan sosiologi kritis banyak mengambil teori alienasi Karl
Marx. Dia menolak kapitalisme karena menyebabkan pengangguran, kosentrasi
modal satu golongan, dan bertambahnya kesengsaraan kaum proletar
Hasil dari teori historis Karl Marx pada masyarakat antara lain :
a.
masyarakat feudalisme, dimana faktor-faktor produksi berupa tanah
pertanian dikuasai oleh tuan-tuan tanah.
b.
Pada masa kapitalisme hubunganantara kekuatan dan relasi prodksi akan
berlangsung, namunkarena terjadi peningkatan output dan kegiatanekonomi,
sebagaimana feudalisme juga mengandung benih kehancurannya, maka
kapitalismepun akan hancur dan digantikan dengan masyarakat sosialise.
c.
Masa sosialisme dimana relasi produksi mengikuti kapitalisme masih
mengandung sisa-sisa kapitlisme.
d.
Pada masa komunisme, manusia tidak didorong untuk bekerja dengan
intensif uang atau materi.
Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas,
yaitu:
a.

kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.

b.
Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja,
maupun bahan-bahan produksi.
Teori historis dari Karl Marx mencoba menerapkan nya ke dalam masyarakat,
dengan meneliti antara kekuatan dan relasi produksi. Dimana nantinya akan
terjadi sebuah kontradiksi, yang berakibat perubahan kekuatan produksi dari
penggilingan tangan pada sistem feodal menjadi penggilingan uap pada sistem
kapitalisme. Menurutnya satu-satunya biaya sosial untuk memproduksi barang
adalah buruh.
Analisa karl marx tentang Kapitalisme
karl marx adalah salah satu penentang ekonomi kapitalis memunculkan akibat
social yang tidak diinginkan dan sebagai pertentangan pada kapitalisme menjadi
lebih nyata dari waktu ke waktu. Kritik karl marx ini tertuang pada hukum Karl
Marx tentang kapitalisme, yang berisi tentang :
1. Surplus pengangguran
Pada konsep tentang surplus pengangguran ini, Karl Marx berpendapat bahwa
selalu terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja yang erdampak pada penekanan
tingkat upah sehingga menjadi surplus value dan keuntungan tetap bernilai positif.
Karl Marx melihat ada 2 faktor penyebab terjadinya surplus tenaga kerja ini.
Pertama, yaitu Direct Recruitment yang terjadi akibat penggantian tenaga kerja
manusia oleh mesin-mesin produksi. Kedua, Indirect Recruitment yang terjadi
akibat adanya anggota baru tenaga kerja yang memasuki pasar tenaga kerja.
2. Penurunan tingkat keuntungan
Menurut Karl Marx ada pengaruh yang kuat para kapitalis untuk menghimpun
modal. Penghimpunan modal ini berarti bahwa aka nada lebih banya fariabel
modal yang digunakan untuk menambah tenaga kerja, sehingga akan menaikkan
upah dan akan mengurangi tingkat pengangguran. Tingkat surplus value akan
mengalami penurunan sebagai akibat dari naiknya upah, begitu juga tingkat laba
juga akan turun. Para kapitalis akan bereaksi dengan mengganti tenaga kerja
manusia dengan mesin dengan menambah organic composition of capital. Jika
tingkat surplus value dipertahankan untuk tidak berubah maka kenaikan pada
organic composition of capital akan mendorong tingkat keuntungan pada level
yang lebih rendah.
3. Krisis Bisnis
Pada konteks krisis bisnis (depresi), Karl Marx berpendapat bahwa adanya
perubahan orientasi atau tujuan dari proses produksi dari tujuan nilai guna pada
zaman ekonomi barter berubah menjadi tujuan nilai tukar dan keuntungan saat
dibawah kapitalisme, menyebabkan terjadinya fluktuasi ekonomi. Pada ekonomi

barter, produse hanya menghasilkan barang untuk dikonsumsi sendiri atau ditukar
dengan komoditi yang lain, sehingga pada saat ekonomi barter ini tidak pernah
terjadi over produksi.
4. Jatuhnya nilai profit dan krisis bisnis
Dalam model Karl Marxian sebuah ekonomi klasik dengan jelas bergantung pada
kapitalis itu sendiri yang berupaya untuk mengubah jumlah atau nilai profit dan
mengubah ekspetasi profit dalam kaitannya dengan krisis bisnis. Karl Marx
memakai hukumnya itu untuk menjelaskan fluktusi dalam jangka pendek dalam
aktifitas ekonomi. Untuk memperoleh profit yang besar, aliran kapitalis
menambah komposisi modal an ternyata hal itu justru menurunkan profit.
5. Konsentrasi modal
Meskipun model karl marx memberi asumsi mengenai adanya pasar persaingan
sempurna dengan jumlah yang besar untuk perusahan-perusahan kecil dalam tiap
tiap industry, namun karena ketatnya persaingan maka akan mengarah pada
jatuhnya industry-industri kecil sehingga akan mengurangi persaingan.
Untuk mengurangi adanya persaingan salah satunya dengan peusatan modal.
Pemusatan modal ini terjadi melalui sebuah redistribusi pada modal. Karl Marx
menujukan bahwa perusahaan yang besar lebih bias mencapai skala ekonomi yang
lebih baik ketimbang perusahaan yang kecil, hal ini disebabkan karena perusahaan
yang besar itu dapat memproduksi dengan biaya yang rendah. Persaingan diantara
perusahaan yang besar dan yang kecil menghasilkan pertumbuhan monopoli.
Penambahan modal secara lebih jauh dengan mengembangkan sistem kredit dan
kerja sama dalam bentuk organisasi bisnis.
6. Bertambahnya kesengsaraan kaum proletar
kontradiksi kapitalisme menurut marx menyebabkan bertambahnya tingkat
kesengsaraan pada kaum proletar. Bertambahnya kesengsaraan secara absolut
menunjukkan pendapatan dari masyarakat secara global menurun dalam sistem
kapitalis dan juga menunjukan bahwa bagian pendapatan nasional mereka menjadi
turun di kemudian hari.
Hingga pada akhirnya marx berasumsika secara konsisten bahwa hal yang harus
dilakukan untuk menghilangkan kesengsaraan, yakni dengan lebih memperhatikan
pada kualitas hidup mereka.
10.

Friedrich Nietzsche

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahirkan pada 15 Oktober 1844 di Rcken bei


Ltzen, wilayah Sachsen, terletak di daerah pedesaan tanah pertanian di sebelah
barat daya Leipzig, Jerman. Dinamakan Friedrich Wilhelm karena hari
kelahirannya sama dengan hari kelahiran Friedrich Wilhelm IV, seorang raja

Prusia yang sangat dihormati pada masanya, karenanya, merupakan kebanggaan


bagi Nietzsche kecil karena hari kelahirannya selalu dirayakan banyak orang.
Berasal dari keluarga yang taat kepada Protestan Lutheran, karena ayahnya, Carl
Ludwig beserta kakek-neneknya merupakan biarawan, kecuali ibunya, Franziska
Nietzsche, ia bukan seorang yang dekat dengan profesi suaminya (biarawati).
Beberapa tahun kemudian, Nietzsche terlibat skandal asmara dengan gadis
bernama Lou Andreas Salom. Dalam surat yang diberikan kepada Lou (2 Juli
1882) nampak jelas bahwa ia amat mencintai Lou :
Hari yang lewat tampak seakan ulang tahunku; engkau kirimi aku persetujuanmu
(datang dan tinggal selama tiga minggu), hadiah terbaik yang pernah diberikan
orang kepadaku (Nietzsche, 1977: 14)
Namun pernikahan impiannya gagal karena tidak disetujui oleh kakak
perempuannya yang mengetahui adanya asmara segitiga antara Nietzsche, Lou
dan Paul Ree. Setelah sadar pernikahannya tidak akan pernah terwujud, ia jatuh ke
jurang keputusasaan yang sampai menjadi depresi. Depresi inilah yang lamakelaman membuatnya gila pada 1889.
Setelah Nietzsche benar-benar menjadi gila, ia dirawat oleh kakak perempuannya
hingga akhirnya Nietzsche meninggal pada 1900 di Weimar. Kematiannya
termasuk yang tragis, karena selain ia meninggal dalam keadaan gila, ia juga
meninggal karena tidak bisa menikahi Lou serta ia juga tidak mengetahui bahwa
ibunya juga telah meninggal.
Adapun karya-karyanya, antara lain :
1.

The Birth of Tragedy

2.

The Four Meditations

3.

Thus Spoke Zarathustra

4.

Beyond Good and Evil

5.

Toward a Genealogy of Morals

6.

The Will to Power (diterbitkan setelah ia meninggal).

Pemikiran NIETZSCHE tentang Tuhan Telah Mati


Pemikirannya tentang Tuhan mati, tertera dalam karyanya yang berjudul
Zarathustra (bukan tokoh agama terkenal di Iran, hanya nama hayalan saja untuk
orang bijaksana). Ia menggambarkan Zarathustra yang telah lama bertapa di atas
gunung kemudian turun dan, ketika melalui seorang yang sedang bertapa di suatu
tempat, berkata : Aneh orang ini belum tahu kalau Tuhan telah mati.

Kemudian di kota, Zarathustra masuk ke dalam pasar dan menuduh orang banyak
telah membunuh Tuhan. Lengkapnya dapat diperhatikan sebagai berikut :
Si gila. Tidakkah kalian dengar tentang si gila yang menyalakan sebuah lentera
pada jam-jam pagi yang terang benderang; ia lari masuk pasar dan berteriak: Saya
mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan! Si gila terbahak-bahak kegirangan di
tengah-tengah orang banyak yang berdiri. Mereka sudah tidak percaya kepada
Tuhan. Seorang di antara mereka berkata: Apakah ia telah tersesat seperti seorang
bocah? Atau bersembunyikah ia? Takutkah ia kepada kita? Mengembarakah ia?
Atau telah pindah? Demikianlah ocehan mereka sambil tertawa. Si gila kemudian
meloncat ke tengah mereka dan menembus mereka bersama lenteranya. Dia
berteriak: Kemanakah Tuhan larinya? Aku akan jelaskan kepadamu semua. Kita
telah membunuhnya kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuh Bukankah
lentera harus dinyalakan ketika pagi? Belumkah kita dengar para penggali pusara
yang sedang menguburkan Tuhan? Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati (God
is dead. God remains dead).4
Ungkapan Nietzsche itu menurut Karel A. Steenbrink, ada yang menyatakan
bahwa Nietzsche hanya mengemukakan bahwa dalam kebudayaan pada zamannya
Tuhan telah mati dalam hati manusia. Saat itu yang dipentingkan hanyalah materi
belaka, apalagi cara berpikirnya didominasi oleh ilmu pasti alam telah
menjauhkan manusia dari kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan.
Kecuali itu, ada yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kritik Nietzsche
kepada agama Kristen, yang umumnya melarang kekayaan, seks dan seni. Di
semua bidang ini, agama memberikan petunjuk yang umumnya bersifat larangan
semata. Agama tidak membina manusia menjadi pribadi yang aktif dan
bertanggungjawab. Dasar kepercayaan adalah kelemahan, sehingga manusia harus
menyerahkan diri kepada Tuhannya dan harus taat kepada petunjuk yang datang
dari luar dirinya. Maka agama Kristen merupakan hambatan bagi perkembangan
pribadi manusia untuk menjadi manusia super dan Uebermensch.
Dari interpretasi karya Nietzsche itu, pada tahun 1960-an, teologi di Eropa dan
Amerika Utara timbul puluhan karangan yang berpangkal dari anggapan bahwa
Tuhan telah mati dan bahwa masih bisa dilanjutkan suatu agama tanpa Tuhan.
Dan ada yang hendak mengarang teologi yang tidak terfokus kepada Tuhan, tetapi
terfokus kepada Yesus. Bagi mereka Tuhan telah mati merupakan petunjuk
penyaliban Yesus dan penderitaan sesama manusia di dunia ini. Dan juga ada yang
hendak mengkritik ide teis tentang Tuhan dan hanya ingin menyempurnakannya,
tetapi dengan menggunakan kata-kata yang keras dan kontroversial.

Tragedi Nietzsche itu merupakan fenomena intelektual di Barat, dimana agama


gagal dalam memberikan jawaban yang memuaskan terhadap tuntutan intelektual

manusia yang mencari sesuatu di balik yang ada ini. Betul Nietzsche, bahwa
secara simbolik Tuhan telah mati di Barat. Sebab orang sudah tidak menghiraukan
tindakan moral apapun. Yang ada adalah etik yang situasional dan individual.
Tidak ada etik yang bersumber dari wahyu, yang berlaku secara universal yang
menyebabkan orang Barat telah kehilangan kiblat yang sebenarnya. Jadi,
Nietzsche sebenarnya masih merindukan sesuatu yang bermakna, meskipun ia
telah menjadi agnostik, jika tidak ateis.
11.

Arthur Schopenhauer

Arthur Scopenhauer lahir di Danzig, sekarang Polandia, pada tahun 1788 sebagai
anak seorang pedagang besar. Meskipun orang tuanya kaya, kehidupan
keluarganya tidak bahagia. Ayahnya meninggalnya waktu Arthur masih kecil;
kemungkinan ia membunuh diri. Dari ibunya ia memisahkan diri. Pengalaman
masa muda yang buruk itulah yang menanamkan pesimisme dalam jiwa
Schopenhauer yang akan menjadi ciri khas kepribadiannya. Ia menolak menjadi
pedagang dengan cara belajar sendiri segera mencapai pengetahuan luas dalam
filsafat, fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Pada tahun 1822 ia dinyatakan
mampu mengajar di Universitas Berlin. Ia meninggal dunia pada tahun 1860.
Akar Pemikiran Filosofis
Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Budha dan filsuf
Immanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu amat besar. Hal ini terlihat
dari ruang kerjanya dipasang dengan patung kedua tokoh tersebut.patung itu
berupa tengah badan Kant dan sebuah perunggu Budha. Dalam cara hidupnya, ia
meniru Kantkcuali mengenai bangun pagi[8].
Pengaruh Immanuel Kant terhadap filsafat Schopenhauer terlihat, misalnya, pada
tahun 1813, dia menerbitkan disertasi doktoralnya yang berjudul Uber die
vierfache Wurzel des Satzes vom zureichnden Grunde (tentang akar ganda empat
dari asas tentang alasan yang memadai). Buku ini sangat dipengaruhi oleh Kant
dan Schopenhauer sendiri menganggapnya sebagai pengantar ke dalam
filsafatnya.
Dalam buku itu, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita
alami ini adalah obyek bagi subyek. Artinya, dunia fenomenal itu adalah
presentasi-presentasi (vorstellungen) atau gambaran-gambaran mental kita.
Presentasi-presentasi ini tersusun secara teratur menajdi sebuah sistem
pengetahuan tentang objek, dan sistem itu disebut ilmu pengetahuan. Di sini
implisit diakui adanya das Ding an sich. Agar pengetahuan tentang dunia
fenomenal itu memadai, harus ada asas umum yang mengatur susunan presentasi
itu, dan asas itu disebut prinsip alasan yang memadai. Menurutnya, ada empat.
Pertama, menurutnya, pemikiran kita mengatur objek-objek intuitif dan empiris
menurut kategori kausalitas, dan dia mengatakan bahwa presentasi-presentasi

tentang objek itu diatur menurut prinsip alasan memadai mengenai menjadi. Di
sini dia mereduksi kategori a priori Kantian menjadi satu, yaitu kausalitas. Kedua,
pikiran kita lalu menghasilkan putusan, tapi kebenaran putusan itu ditentukan oleh
suatu asas lain yang tidak sekedar logika, melainkan juga memungkinkan sifat
sintetis putusan itu,dan ini disebut prinsip alasan yang memadai mengenai
mengetahui. Ketiga, pikiran kita menangkap hakikat objek-objek secara intuitif,
yaitu hubungan-hubungan ruang dan waktu. Kebenaran hubungan-hubungan
hakiki ini diatur oleh prinsip alasan memadai mengenai ada.
Pemikiran Filosofis Arthur Schopenhauer
1.

Kehendak Metafisis

Sebagaimana disebutkan di atas, Schopenhauer secara langsung terpengaruh oleh


filsafat pengetahuan Kant. Kant membedakan dua dunia. Yang pertama adalah
dunia yang dikenal oleh kita, dunia fenomenal, yaitu dunia objek-objek
inderawi yang dikonstruksikan oleh subjek yang mengerti melalui peralatan
kognitifnya : persepsi indrawi (dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu)
dan rasio (Verstand, dengan 12 kategorinya). Dunia kedua, yaitu dunia di
belakang fenomen-fenomen itu, adalah Das Ding an Sich (realitas pada dirinya
sendiri), bidang noumenal (dari nous, akal budi dalam bahasa Yunani) yang hanya
kita ketahui bahwa ia ada, tetapi tidak kita ketahui bagaimana ciri-cirinya. Jadi,
yang dapat kita ketahui hanyalah bidang fenomenal, sedangkan bidang noumenal
tertutup bagi kita[14].
Kerangka pengertian Kant itu diambil alih oleh Schopenhauer, tetapi dengan dua
perbedaan besar. Bagi Schopenhauer, bidang noumenal itu bukan sebuah Das ding
an sich, melainkan kehendak. Kehendak adalah realitas transendental, artinya
realitas noumenal, di belakang realitas fenomenal atau empiris yang kita rasakan.
Jadi menurut Schopenhauer, realitas pada hakikatnya berupa kehendak. Di
belakang dunia pengalaman kita, dunia empiris, terdapat kehendak transendental
itu. Yang kita tangkap dalam bidang fenomenal, jadi segala apa yang menjadi
pengalaman kita baik di luar maupun di dalam diri kita, merupakan gejalanya
atau, dalam bahasa Schopenhauer, idea (Vorstellung) kehendak transendental itu.
Dunia adalah kehendak dan bayangan (atau imajinasi); kehendak adalah realitas
noumenal sebagai dasar, bayangan-bayangan adalah penjabarannya di alam
fenomenal[15].
Perbedaan kedua antara Kant dan Schopenhauer ialah bahwa menurut Kant kita
tidak dapat mengetahui Das Ding an Sich, sedangkan Schopenhauer merasa dapat
mengetahuinya. Hati kitalah yang membuka rahasia itu. Dalam hati kita temukan
keinginan, hasrat, kerinduan, harapan, cinta, kebencian, pelarian, penderitaan,
pemikiran, imajinasi; itulah hidup kita dan hidup kita adalah pengalaman dan
pengalaman itu menyatakan diri sebagai kehendak. Tubuh kita sama saja; kaki
adalah objektivasi kehendak untuk berjalan, lambung untuk mencernakan, pendek

kata, tubuh kita adalah obejektivikasi kehendak.yang kita rasakan pada diri kita itu
lalu dialihkan pada seluruh alam semesta; segala gejala alam semesta pun bukan
lain ungkapan atau fenomenisasi sebuah kehendak. Kehendaklah yang mendasari
segala kekuatan dan kejadian yang kita alami dalam alam semesta. Di belakang
realitas fenomenal, realitas pengalaman empiris kita, terletak sebuah noumenal
yang mendasarinya, yang bersifat kehendak[16]. Jadi, Schopenhauer menemukan
bahwa Das Ding an Sich itu adalah Kehendak[17].
Untuk sampai pada kesimpulan itu, schopenhauer menggunakan intuisi untuk
mengenal kenyataan. Dalam kehidupan sehari-hari kita cenderung memisahkan
gerakan tubuh dan kehendak. Gerakan tubuh itu lahiriyah dan kehendak itu
batiniyah. Secara intuitif kita dapat menyadari bahwa gerakan tubuh dan kehendak
itu satu dan sama. Dalam pandangan Schopenhauer, gerakan tubuh yang bersifat
lahiriyah itu tidak lain daripada kehendak yang diobjektifkan. Dengan
peristilahannya sendiri, gerakan tubuh itu adalah kehendak sebagai presentasi.
Dalam ruang dan waktu atau kenyataan sehari-hari kita menyaksikan keanekaan.
Menurut Schopenhauer semua itu hanya fenomenal, maya, sedangkan Das Ding
an Sich mestilah tunggal. Dengan kata lain, di balik keanekaan lahiriyah itu ada
sebuah kenyataan tunggal yang bersifat numenal. Itulah kehendak yang bersifat
metafisis. Keanekaan itu hanyalah penampakan dari Kehendak. Jadi, gerakan
magnit, tumbuh-tumbuhan, manusia, dll. Adalah penampakan dari kehendak
metafisis yang tunggal[18].
Schopenhauer lebih rinci lagi mencirikan Kehendak itu sebagai Kehendak untuk
hidup (der wille zum leben). Istilah kehendak memberi kesan mengandung
rasionalitas tertentu, tetapi Scopenhauer lebih memahaminya sebagai sesuatu yang
buta, yaitu suatu dorongan untuk hidup, suatu kehendak purba (Urwille).
Kehendak untuk mengejawentahkan diri dalam keanekaan penampakan, dari
naluri hidup hewani yang paling rendah, sampai rasio manusia yang paling luhur.
Naluri rendah dan rasio dalam pandangannya pada dasarnya merupakan
penampakan Kehendak yang sama, yakni kehendak untuk hidup. Di sini
Schopenhauer lalu menganut biologisme dalam pandangannya mengenai
pengetahuan. Rasio manusia memiliki fungsi untuk memuaskan kebutuhankebutuhan fisiknya, sebagaimana tampak dalam industri dan teknologi. Dengan
kata lain, rasio dan pengetahuan adalah pelayan Kehendak, dan dalam arti ini
fungsi rasio sama seperti fungsi cakar pada macan dan sayap pada burung.
Dengan menganggap rasio atau roh sebagai budak Kehendak metafisis ini,
Schopenhauer menolak Hegel yang menyamakan realitas dengan rasio. Yang
sungguh-sungguh nyata bukanlah rasio, melainkan kehendak[19].
Kehendak adalah yang utama, abadi, tak bertempat, yang mengungkapkan dirinya
dalam diri manusia sebagai dorongan, insting. Manusia mengetahui dirinya
sebagai fenomena, bagian dari alam, sebagai badan organik yang meluas.
Kehendak adalah diri yang nyata, badan adalah ekspresi dari kehendak.

Dunia adalah Kehendak dan idea. Kehendak ada di mana-mana, dan membimbing
segalanya. Kehendak untuk hidup adalah asas kehidupan dan kesadaran.
Kehendak mengendalikan pencerapan, memori, imajinasi, pertimbangan dan
penalaran. Kita mencerap, yan kita kehendaki untuk mencerap. Kehendak
disebabkan oleh kekuatan tidak sadar. Merupakan dorongan yang menguasai
intelegensi[20].
2. Pesimisme :
Kehendak untuk ada, kehendak untuk hidup merupakan sebab dari semua
perjuangan, kesedihan dan kejahatan dalam dunia. Perjuangan untuk hidup akan
menimbulkan kejelekan dunia dan kematian harus mengalahkannya. Kehidupan
adalah jahat sebab hal itu mementingkan diri dan hina. Simpati, belas kasiha
merupakan dasar dan patokan moralitas. Untuk menjadi baik, tindakan harus
didorong oleh simpati[21].
Paham pesimisme menampilkan gambaran hidup yang suram. Menurutnya,
kenyataan itu pada dasarnya dan secara keseluruhannya jahat, atau paling sedikit
dikuasai yang jahat. Keadaan dunia, karena pada dasarnya jahat dan dikuasai oleh
yang jahat, makin hari menjadi makin buruk. Tak ada usaha dan tindakan yang
dapat memperbaikinya. Segala usaha tak ada guna. Kekuatan yang jahat terlalu
perkasa. Manusia bukan hanya lemah tetapi juga jahat. Manusia karena itu tak
dapat mampu dan tak dapat memperbaiki diri.
Sebagai paham, pesimisme memiliki unsur positif. Di dunia memang ada
kejahatan. Tetapi, kejahatan tidak dapat dipandag sebagai prinsip kehidupan. Bila
kejahatan menjadi prinsip kehidupan, segala yang ada dalam kehidupan pasti
jahat, padahal kenyataannya tidak segalanya jahat, ada bahkan sebagian besar
baik. Dunia dan dan masyarakat dapat merosot terus, tetapi juga maju dan
berkembang.
Dengan demikian, kelemahan utama pesimisme sebagai paham adalah
memandang kenyataan hidup secara tidak seimbang dan berat sebelah. Pesimisme
tidak melihat kejahatan sebagai pelengkap hidup. Pesimisme tidak mampu
menemukan segi humor dalam hidup ini. Pesimisme juga berat sebelah karena
hanya memandang kenyataan, dunia, manusia dalam satu arah sajaa, yaitu arah
yang negatif, jahat, suram. Orang pesimis akibatnya, hidupnya amat terbebani;
pandangannya gelap; langkah-langkahnya berat. Orang pesimis kehilangan
kecerahan dan kebahagiaan hidup. Hidup semacam ii jelas tidak sehat dan perlu
diseimbangkan[22].
Pesimisme mempunyai kecenderungan memandang segala sesuatu dari segi yang
paling buruk dan segi yang tidak mengandung harapan, penuh perasaan sedih.
Kasihan, muram, murung, putus asa, absurd, sakit, mati; dan yakin bahwa semua
perasaan ini bersifat dasariyah dan merupakan unsur-unsur kehidupan yang tak

terelakkan. Dari segi psikologi, pesimisme merupakan sikap umum yang


mendorong orang melihat sisi buruk dari segala sesuatu. Sedangkan dari segi
metafisik, pesimisme merupakan pandangan yang mengatakan bahwa hakikat
segala sesuatu pada dasarnya adalah kejahatan atau sesuatu yang negatif. Atau
pandangan yang mengatakan bahwa kejahatan dan penderitaan yang melanda
dunia lebih banyak dan mendasar daripada kebaikan[23].
Menurut schopenhauer, kita semestinya tidak bergembira karena kita hidup ;
sebaliknya kita harus meratapi fakta tersebut. Baginya, kehidupan adalah sesuatu
yang seharusnya tidak ada. Jadi, seandainya seorang individu memilih, dia akan
menolak kehidupan, sebab, semua keadaan dalam kehidupan berakhir sebagai
frustasi, tidak bahagia, ilusi, atau menyakitkan. Di samping itu, kehidupan juga
diliputi oleh penderitan, keputusasaan, ketidakpuasan, ketidakpastian,
kekecewaan, ketidakberdayaan, kehilangan harapan dan kematian. Menurutnya,
dunia ini merupakan kemungkinan yang terburuk; tidak ada yang lebih buruk
yang dapat diciptakan atau dibayangkan. Dunia ini merupakan ungkapan dari
kehendak yang buta serta irasional. Segala sesuatu memiliki kehendak untuk
hidup dan konsekuensinya ialah adanya penderitaan[24]. Ini pula yang menjadi
titik tolak pemikiran Schopenhauer. Titik tolak ini bermula dari situasi di mana
manusia menemukan diri. Situasi itu pada hakikatnya ditandai oleh penderitaan
yang tak ada putus-putusnya. Hidup adalah menderita. Seluruh pesimisme
Schopenhauer terungkap dalam gaya Schopenhauer melukiskan keadaan itu.
Sumber penderitaan ialah bahwa kita tidak pernah merasa tenang, tidak pernah
puas. Kita penuh kerinduan, hasrat, harapan, dan kekhawatiran. Begitu sebuah
tujuan tercapai, kita merasa kosong. Tak ada tujuan yang memuaskan dapat
memuaskan kita. Apabila kita sampai kita merasa bosan, apabila tidak sampai
kita kecewa. Kita bergerak antara penderitaan dan perasaan bosan. Selanjutnya, di
kemudan hari, filsafat pesimisme Schopenhauer ini dipelajari oleh gerakan
Romantisme abad 19.
12.

Edmund Husserl

Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar mengarahkan untuk


memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka teoritis lewat pengalamanpengalaman yang berbeda dan bukan lewat koleksi data yang besar untuk suatu
teori umum di luar substansi sesungguhnya.
Metode Fenomenologi Edmund Husserl
Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan
tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga
sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah
dalam menuju suatu fenomena yang murni. Husserl yakin bahwa ada kebenaran
bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu. Akan tetapi, Husserl
melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan

kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat
diandalkan. Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang
sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang
sesungguhnya tanpa memanipulasinya. Ada suatu slogan yang terkenal di
kalangan penganut fenomenologi, yaitu: zu den sachen selbst (terarah kepada
benda itu sendiri). Dalam keterarahan benda itu, sesungguhnya benda itu
sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri.
Berangkat dari proses pemikiran yang demikian, maka lahirlah metode
fenomenologis.
Menurut Husserl prinsip segala prinsip ialah bahwa hanya intuisi langsung
(dengan tidak menggunakan pengantara apapun juga) dapat dipakai sebagai
kriteria terakhir dibidang Filsafat. Hanya apa yang secara langsung diberikan
kepada kita dalam pengalaman dapat dianggap benar dan dapat dianggap benar
sejauh diberikan. Dari situ Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus
menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran yang diberikan
secara langsung kepada saya sebagai subjek, seperti akan kita lihat lagi.
Fenomen merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang
memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran
menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran
akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas.
(intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran). Dan justru karena kesadaran
ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang
menampakkan diri.
Ada beberapa aspek yang penting dalam intensionalitas Husserl, yakni:
1.
Lewat intensionalitas terjadi objektivikasi. Artinya bahwa unsur-unsur
dalam arus kesadaran menunjuk kepada suatu objek, terhimpun pada suatu objek
tertentu.
2.
Lewat intensionalitas terjadilah identifikasi. Hal ini merupakan akibat
objektivikasi tadi dalam arti bahwa berbagai data yang tampil pada peristiwaperistiwa kemudian masih pula dapat dihimpun pada objek sebagai hasil
objektivikasi tadi.
3.
Intensionalitas juga saling menghubungkan segi-segi suatu objek dengan
segi-segi yang mendampinginya.
4. Intensionalitas mengadakan pula konstitusi.
Konstitusi merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran.
Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara
kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran
yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas

dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran.
Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap
benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung
dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi
kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: saya melihat suatu gelas,
tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut,
saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya.
Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif
objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi
historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah
merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini
berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah
umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas.
Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl sulalu diartikan sebagai konstitusi
genetis. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam
kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis.
Benda-benada tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat dirinya. Apa
yang kita temui pada benda-benda itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakikat.
Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first
look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat, maka diperlukan pemikiran
kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan hakikat pada
pemikiran kedua ini adalah intuisi. Dalam usaha melihat hakikat dengan intuisi,
Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi, yaitu penundaan segala ilmu
pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuitif dilakukan.
Reduksi juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang
digunakan Husserl adalah epoche yang artinya sebagai penempatan sesuatu di
antara dua kurung. Maksudnya adalah melupakan pengertian-pengertian tentang
objek untuk sementara, dan berusaha melihat objek secara langsung dengan intuisi
tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Agar orang dapat
memahami sebagaimana adanya, ia harus memusatkan perhatian kepada
fenomena tersebut tanpa prasangka dan tanpa memberi teori sama sekali, akan
tetapi tertuju kepada barang / hal itu sendiri, sehingga hakikat barang itu dapat
mengungkapkan dirinya sendiri.
Yang menarik dan sangat penting dari metode fenomenologi Edmund Husserl ini
adalah bahwa setiap orang jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan sebelum
mendialogkan masalah yang dihadapi dengan secermat-cermatnya. Dalam metode
brackketing dengan berbagai reduksi-reduksi yang Husserl ungkapkan, buktibukti nyata belumlah dipandang cukup untuk menetapkan sebuah eksistensi atau
kebenaran. Kebenaran tidak saja ditetapkan berdasarkan bukti-bukti empiris,
tetapi masih diperlukan kepada berbagai inquiry pengalaman supra-empiris
lewat intuisi yang bersifat apriori.

Husserl agaknya telah mampu menyetesiskan sekaligus mengapresiasikan kedua


aliran filsafat yang sangat bertolak belakang, yaitu idealisme dan naturalisme. Ini
dapat dilihat di satu pihak ia menafikan sama sekali eksistensi objek pengalaman
dunia nyata, dan di pihak lain ia juga tidak menerima bahwa eksistensi kebenaran
itu di luar jangkauan akal manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
kebenaran transedental sebagai kebenaran tertinggi.
Metode fenomenologi mulai dengan orang yang mengetahui dan mengalami,
yakni orang yang melakukan persepsi. Fenomenologi dijelaskan sebagai kembali
kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau susunan pikiran, justru karena benda
adalah objek kesadaran yang langsung dalam bentuknya yang murni.