Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PRESENTASI KASUS
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.S S

Umur

: 78 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Bringin, Semarang

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiunan

Pendidikan

: SLTA

Tanggal Masuk

: 04 Februari 2015

No. RM

:04-05-73xx

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara Autoanamnesis pada 04 Februari 2015
KELUHAN UTAMA
Benjolan pada lipat paha kiri
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke IGD RSUD Salatiga dengan keluhan timbul tonjolan di lipat paha
kiri, dan tidak dapat masuk kembali sejak 1 minggu SMRS, keluhan dirasa semakin
memberat dengan bagian skrotum yang membesar dan terasa nyeri saat ditekan. Pasien
merasa mual, perutnya terasa melilit sejak 1 hari terakhir. Pasien mengaku kemudian
memiliki benjolan yang membesar pada buah zakarnya. Benjolan tersebut mulai ada sejak 5
tahun yang lalu. Menurut pengakuan pasien, 5 tahun lalu benjolan tersebut mulanya pada
lipat paha kiri kemudian sebesar buah anggur, benjolan tersebut hilang timbul, muncul
terutama pada saat pasien berdiri atau mengedan, dan hilang pada saat pasien berbaring atau
dimasukan dengan cara didorong. Lama kelamaan benjolan tersebut turun sampai buah
zakarnya. Sejak 1 minggu terakhir, benjolan tersebut tidak dapat dimasukkan. Sebelumnya
10 tahun yang lalu pasien sudah 2x operasi hernia. Pasien menyangkal adanya demam, panas
dan kemerahan pada benjolan.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


o Pasien pernah mengalami hal yang sama 10 tahun yang lalu pada lipat paha
kanannya dan pernah dilakukan operasi herniotomi sebanyak 2x.
o Riwayat penyakit hipertensi (-)
o Riwayat penyakit DM (-), penyakit jantung (-), asma (-) penyakit jantung (-) alergi (-)
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
o Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa dengan pasien
o Keluarga pasien tidak memiliki riwayat penyakit DM, penyakit jantung, asma, dan
alergi.
RIWAYAT KEBIASAAN
Pasien mengaku sering bekerja di sawah sejak pensiun, namun tidak sering mengangkat
beban berat ,tidak memiliki riwayat batuk lama atau sulit BAB yang menyebabkan pasien
sering mengedan.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: cukup

Kesadaran

: composmentis

Vital sign

Tekanan darah : 144/66 mmHg


Pernapasan

: 20 x/menit

Denyut nadi

: 84 x/menit

Suhu

: 36,5 C

Kepala

: Mesochepal, bentuk simetris, massa (-)

Mata : Conjunctiva anemis (-) Sklera ikterik (-) refleks cahaya (-) Pupil isokor (+)
Hidung: discharge (-) deviasi (-)
Mulut : pembesaran tonsil (-) Mallampati kelas I
Gigi

: caries dentis (+) gigi palsu (-)

Telinga: discharge (-) darah (-) deviasi (-)


Leher

: Pembesaran kelenjar limfe (-)

Toraks : Bentuk dinding toraks simetris, ketinggalan gerak (-)


Jantung

: Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Iktus kordis tidak tampak


: Iktus kordis teraba di SIC 5, linea midklavicula kiri
: Suara redup

Batas jantung
Kiri atas
: SIC II Linea parasternalis kiri
Kanan atas : SIC II Linea parasternalis kanan
Kiri bawah : SIC V 2 cm kaudolateral dari linea midklavicula
Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis kanan
Auskultasi : S1S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru-paru

Abdomen

: Inspeksi

: Simetris (-), ketertinggalan gerak (-)

Palpasi

: Ketertinggalan gerak (-), krepitasi (-), vokal

Perkusi
Auskultasi

ka = ki
: Sonor +/+
: Suara dasar : vesikuler (+), wheezing (-)

: Inspeksi

: Permukaan cembung, venektasi (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), supel, hepar dan lien tidak teraba

Auskultasi
Perkusi

: Bising usus (+) normal


: Timpani, perkusi batas hepar tidak dilakukan

Ekstremitas

: akral hangat (+) CRT <2 detik, sianosis (-)

Vertebra

: deviasi (-) simetris (+)

Status Lokalis

Regio inguinal dan genitalia :


Inspeksi

: skrotum terlihat besar dengan ukuran 10x7x5 cm

Auskultasi

: terdengar bising usus

Palpasi

: nyeri tekan (+)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah Rutin
AL

: 4,86x103

MCV : 89,6

AE

: 3x92

MCH : 30,6

HT

: 35.1 %

MCHC: 34,2

HB

: 12 g/dL

AT

: 308x103

Golongan darah : O
Kimia Darah
GDS

: 112 mg/dl

Ureum

: 37 mg/dL

Creatinin

: 0.6 mg/dL

Elektrolit
Natrium

: 139 mml/e

Kalium

: 4.2 mml/e

fremitus

Chlorida

: 103 mmol/l

Kalsium

: 8.4 mg/%

EKG : NSR, OMI Inferior, LAD


V. DIAGNOSIS KLINIS
Diagnosis prabedah : hernia scrotalis sinistra incarserata residif
Diagnosis pasca bedah : hernia scrotalis sinistra incarserata residif penetrasi colon tranversum
Jenis pembedahan :hernioraphy sinistra, reseksi, anastomose colon transversum
VI. KESIMPULAN PEMERIKSAAN
Status ASA II
VII. TINDAKAN
Hernioraphy sinistra, reseksi, anastomose colon transversum

JAM

Tindakan

12.45

(mmHg)
Pasien masuk ke 144/ 66
kamar operasi dan

Tekanan

Darah Nadi (x/ menit)


78

Saturasi
oksigen
99%

di pindahkan ke
meja operasi
Pemasangan
monitor vital sign
Infus
13.00

terpasang

Asering
Mulai pelaksanaan 151/ 63

67

100%

151/ 65

68

98%

13.30
14.00
14.15

167/70
150/66
Pemberian Torasic 164/ 78

70
72
66

98%
97%
98%

14.30

1 Ampul
Operasi selesai

72

98%

anestesi

spinal

dengan Dekain 1
Ampul

dengan

atrocan 26
Pemberian
Oksigen 3 lpm
Posisikan pasien
Dilakukan asepsis
dan

antisepsis

lapang operasi
13.15

Operasi dimulai
Pemberian
Vomceran

Ampul

142/ 64

BAB II
PEMBAHASAN

Teknik anestesi secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu anestesi umum dan
anestesi regional. Anestesi umum bekerja untuk menekan aksis hipotalamus-pituitari adrenal,
sementara anestesi regional berfungsi untuk menekan transmisi impuls nyeri dan menekan saraf
otonom eferen ke adrenal. Spinal anestesi mudah untuk dilakukan dan memiliki potensi untuk
memberikan kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah umbilikus. Spinal anestesi
dianjurkan untuk operasi di bawah umbilikus misalnya hernia, ginekologi dan operasi urologis.
Anastesi spinal ialah zat anastetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Anatesi spinal
diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Anestesi
spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi dengan menyuntikkan sejumlah kecil
obat anestesi lokal ke dalam cairan cerebro-spinal (CSF). Anestesi spinal/subaraknoid disebut
juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal.
Untuk mencapai cairan cerebrospinal, maka jarum suntik akan menembus kutis ->
subkutis -> ligamentum supraspinosum -> ligamentum interspinosum -> ligamentum flavum ->
ruang epidural -> duarmater -> ruang subarachnoid.

Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan cerebrospinal,
dibungkus oleh meningens (duramater , lemak, dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir
setinggi L1 , pada anak L2 dan pada bayi L3. Oleh karena itu, anestesi /analgesi spinal dilakukan
di ruang subarachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5.
Anestetika regional/lokal terdiri dari 3 bagian, gugus amin hidrofilik yang dihubungkan
dengan gugus aromatik hidrofobik oleh gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatik

dihubungkan oleh ikatan amida atau ikatan ester. Berdasarkan ikatan ini, anestetika local
digolongkan menjadi
- senyawa ester
- senyawa amida
Mekanisme Anestesi Lokal
Local anesthetic

Binds to receptor site

Na+ channel is blocked

Sodium conductance

Rate of membrane depolarization

No action potential

Conduction blockade
Indikasi
1. Bedah ekstremitas bawah
2. Bedah panggul
3. Tindakan sekitar rectum perineum
4. Bedah obstetric-ginekologi
5. Bedah urologi
6. Bedah abdomen bawah
7. Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan dengan anestesi
umum ringan.
Kontra indikasi
Absolut
1. Pasien menolak
2. Infeksi pada tempat suntikan

3. Hipovolemia berat,syok
4. Koagulopati atau mendapat terapi koagulan
5. Tekanan intracranial meningkat
6. Fasulitas resusitasi minim
7. Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi
Relatif
1. Infeksi sistemik
2. Infeksi sekitar tempat suntikan
3. Kelainan neurologis
4. Kelainan psikis
5. Bedah lama
6. Penyakit jantung
7. Hipovolemia ringan
8. Nyeri punggung kronik
Persiapan Analgesia Spinal
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anestesia
umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya
ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba
tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini :
1. Informed consent
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesia spinal
2. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin, hematokrit, PT (Prothrombine Time), PTT (Partial Prothrombine
Time).
Peralatan Analgesia Spinal
1. Peralatan monitor : tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dll.
2. Peralatan resusitasi.
3. Jarum spinal
Dikenal 2 macam jarum spinal, yaitu :

Jenis yang ujungnya runcing seperti ujung bamboo runcing (Quincke-Babcock


atau Greene)

Jenis yang ujungnya seperti ujung pensil (whitacre). Ujung pensil banyak
digunakan karena jarang menyebabkan nyeri kepala pasca penyuntikan spinal.

Gambar 2.Jarum Spinal


Anastetik lokal untuk analgesia spinal
Berat jenis cairan serebrospinal (CSS) pada 37

C adalah 1.003 1.008.

Anastetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik. Anastetik lokal
dengan berat jenis lebih lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. Anastetik lokal dengan
berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik. Anastetik lokal yang sering digunakan
yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik
lokal dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh
dengan mencampur dengan air injeksi.
Anastetik lokal yang paling sering digunakan :
1. Lidokaine ( xylocain, lignokain) 2 % : berat jenis 1.006, sifat isobaric dosis 20100 mg (2-5 ml)
2. Lidokaine ( xylokain, lignokain) 5 % dalam dextrose 7.5 % : berat jenis
1.033,sifat hyperbaric, dosis 20-50 mg (1-2 ml)
3. Bupivacain (markaine) 0.5 % dalam air : berat jenis 1.005, sifat isobarik, dosis 520 mg (1-4 ml)
4. Bupivakaine (markaine) 0.5 % dalam dextrose 8.25 % : berat jenis 1.027, sifat
hiperbarik, dosis 5 15 mg (1-3 ml)

Obat anestetik lokal yang sering digunakan adalah prokain, tetrakain, lidokain,
atau bupivakain. Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliran obat dan perluasan
daerah teranestesi. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis
CSS (hiperbarik), maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gravitasi. Jika lebih
kecil (hipobarik), obat akan berpindah dari area penyuntikan ke atas. Bila sama
(isobarik), obat akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan.
Farmakokinetik Obat Anestesi Lokal
Farmakokinetik suatu anestetik lokal ditentukan oleh 3 hal :

Lipid/Water solubility ratio, menentukan ONSET OF ACTION. Semakin tinggi kelarutan


dalam lemak akan semakin tinggi potensi anestesi lokal.

Protein Binding, menentukan DURATION OF ACTION. Semakin tinggi ikatan dengan


protein akan semakin lama durasi.

pKa, menentukan keseimbangan antara bentuk kation dan basa. Makin rendah pKa makin
banyak basa, makin cepat onsetnya. Anestetik lokal dengan pKa tinggi cenderung
mempunyai mula kerja yang lambat. Jaringan dalam suasana asam (jaringan inflamasi)
akan menghambat kerja anestetik lokal sehingga mula kerja obat menjadi lebih lama. Hal
tersebut karena suasana asam akan menghambat terbentuknya asam bebas yang
diperlukan untuk menimbulkan efek anestesi.
Bupivakain
Bupivakain merupakan obat anestesi lokal dengan rumus bangun sebagai berikut :
1-butyl-N-(2,6-dimethylphenyl)-piperidecarboxamide hydrochloride. Bupivakain adalah
derivat butil dari mepivakain yang kurang lebih tiga kali lebih kuat daripada asalnya.
Obat ini bersifat long acting dan disintesa oleh BO af Ekenstem dan dipakai pertama kali
pada tahun 1963. Secara komersial bupivakain tersedia dalam 5 mg/ml solutions. Dengan
kecenderungan yang lebih menghambat sensoris daripada motoris menyebabkan obat ini
sering digunakan untuk analgesia selama persalinan dan pasca bedah.
Pada tahun-tahun terakhir, larutan bupivakain baik isobarik maupun hiperbarik
telah banyak digunakan pada blok subrakhnoid untuk operasi abdominal bawah.
Pemberian bupivakain isobarik, biasanya menggunakan konsentrasi 0,5%, volume 3-4 ml

dan dosis total 15-20 mg, sedangkan bupivakain hiperbarik diberikan dengan konsentrasi
0,5%, volume 2-4ml dan total dosis 15-22,5 mg. Bupivakain dapat melewati sawar darah
uri tetapi hanya dalam jumlah kecil. Bila diberikan dalam dosis ulangan, takifilaksis yang
terjadi lebih ringan bila dibandingkan dengan lidokain. Salah satu sifat yang paling
disukai dari bupivakain selain dari kerjanya yang panjang adalah sifat blockade
motorisnya yang lemah. Toksisitasnya lebih kurang sama dengan tetrakain. Bupivakain
juga mempunyai lama kerja yang lebih panjang dari lignokain karena mempunyai
kemampuan yang lebih besar untuk mengikat protein. Untuk menghilangkan nyeri pada
persalinan, dosis sebesar 30 mg akan memberikan rasa bebas nyeri selama 2 jam disertai
blokade motoris yang ringan. Analgesik paska bedah dapat berlangsung selama 4 jam
atau lebih, sedangkan pemberian dengan tehnik anestesi kaudal akan memberikan efek
analgesik selama 8 jam atau lebih. Pada dosis 0,25 0,375 % merupakan obat terpilih
untuk obstetrik dan analgesik paska bedah. Konsentrasi yang lebih tinggi (0,5 0,75 %)
digunakan untuk pembedahan. Konsentrasi infiltrasi 0,25 - 0.5 %, blok saraf tepi 0,25
0,5 %, epidural 0,5 0,75 %, spinal 0,5 %. Dosis maksimal pada pemberian tunggal
adalah 175 mg. Dosis rata-ratanya 3 4 mg / kgBB.
Bupivacaine bekerja dengan cara berikatan secara intaselular dengan natrium dan
memblok influk natrium kedalam inti sel sehingga mencegah terjadinya depolarisasi.
Dikarenakan serabut saraf yang menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih
tipis dan tidak memiliki selubung mielin, maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat
ke dalam serabut saraf nyeri dibandingkan dengan serabut saraf penghantar rasa
proprioseptif yang mempunyai selubung mielin dan ukuran serabut saraf lebih tebal.
Teknik Analgesia Spinal
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah
ialah posisi yang paling sering digunakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa
dipindah lagi dan hanya di perlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi
berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, pasien dapat diposisikan secara berikut :
Posisi Lateral. Pada umumnya kepala diberi bantal setebal 7,5-10cm, lutut dan paha

fleksi mendekati perut, kepala ke arah dada.


Posisi duduk. Dengan posisi ini lebih mudah melihat columna vertebralis, tetapi
pada pasien-pasien yang telah mendapat premedikasi mungkin akan pusing dan

diperlukan seorang asisten untuk memegang pasien supaya tidak jatuh. Posisi ini

digunakan terutama bila diinginkan sadle block.


Posisi Prone. Jarang dilakukan, hanya digunakan bila dokter bedah menginginkan
posisi Jack Knife atau prone.

2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka, missal L2L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap
medulla spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alcohol.
4. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3 ml

5. Cara tusukan
Untuk jarum spinal besar 22G, 23G, 25G dapat langsung digunakan, sedangkan
untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu
jarum suntik biasa semprit 10 cc. Tusukan introducer sedalam kira-kira 2cm agak
sedikit ke arah sefal, kemudian masukan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang
jarum tersebut, jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babock) irisan jarum
(bevel) harus sejajar nya dengan duramater, yaitu pada posisi tidur miring bevek
mengarah ke atas atau kebawah untuk menghindari, kebocoran likuor yang dapat
berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi menghilang,
mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obat
dapat dimasukan pelan-pelan (0.5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk
meyakinkan posisi jarum tetap baik.
Teknik penusukan terdiri atas :

Teknik Median (metode midline)


Tulang belakang dipalpasi dan posisi tubuh pasien diatur agar tegak lurus

dengan lantai. Ini untuk memastikan jarumnya dimasukkan secara paralel dengan
lantai dan akan tetap pada posisi garis tengah walaupun penusukan lebih dalam.
Processus spinosus vertebrae di lokasi yang akan digunakan dipalpasi, dan akan
menjadi tempat memasukkan jarum. Setelah mempersiapkan dan menganestesi
kulit seperti di atas, jarum dimasukkan ke garis tengah. Mengingat bahwa arah
processus vertebra mengarah ke bawah, maka setelah jarum masuk langsung
diarahkan perlahan ke arah cephalad. Jaringan sub kutan akan memberikan sedikit
tahanan terhadap jarum. Setelah dimasukkan lebih dalam, jarum akan memasuki
ligamen supraspinal dan interspinal, yang akan terasa meningkat kepadatan
jaringannya. Jarum juga terasa lebih kuat tertanam. Jika terasa jarum menyentuh
tulang, berarti jarum mengenai bagian bawah processus spinosus. Kontak dengan
tulang pada tusukan yang lebih dalam menunjukkan bahwa jarum pada posisi
garis tengah dan menyentuh processus spinosus atas atau berada di posisi lateral
dari garis tengah dan mengenai lamina. Dalam kasus seperti ini jarum harus
diarahkan kembali. Saat jarum menembus ligamentum flavum, akan terasa
tahanan yang meningkat. Pada titik inilah prosedur anestesi spinal dan epidural

dibedakan. Pada anestesi epidural, hilangnya tahanan tiba-tiba menandakan jarum


menembus ligamentum flavum dan memasuki ruang epidural. Untuk anestesi
spinal,

jarum

dimasukkan

lagi

hingga

menembus

membran dura-

subarachnoid dan ditandai dengan adanya aliran LCS.

Teknik (metode) Paramedian


Penusukan kulit untuk teknik paramedian dilakukan 2 cm lateral ke prosesus
spinosus superior dari tingkat yang ditentukan. Karena teknik lateral ini sebagian
besar menembus ligamen interspinous dan otot paraspinous, jarum akan
menghadapi perlawanan kecil pada awalnya dan mungkin tidak tampak berada di
jaringan kuat. Jarum diarahkan dan lanjutan pada 10-25 sudut ke arah garis
tengah. Identifikasi ligamentum flavum dan masuk ke dalam ruang epidural sering
kali lebih halus dibanding dengan teknik median. Jika tulang dijumpai pada
kedalaman

yang

dangkal

dengan teknik paramedian,

jarum

kemungkinan

bersentuhan dengan bagian medial lamina yang lebih rendah dan harus diarahkan
terutama ke atas dan sedikit lebih lateral. Di sisi lain, jika tulang yang ditemukan
lebih dalam, jarum biasanya kontak dengan bagian lateral lamina yang lebih rendah
dan harus diarahkan hanya sedikit ke atas, lebih ke arah garis tengah.

Gambar 5.Teknik penusukan paramedian dan median

Penyebaran anastetik lokal tergantung


1. Faktor utama
o Berat jenis anestetik lokal (barisitas)
o Posisi pasien
o Dosis dan volume anestetik lokal
2. Faktor tambahan
o Ketinggian
o Kecepatan suntikan
o Ukuran jarum
o Keadaan fisik pasien
o Tekanan intra abdominal
Lama kerja anestetik lokal tergantung
o Jenis anestesia lokal
o Besarnya dosis
o Ada tidaknya vasokonstriktor
o Besarnya penyebaran anestetik local
OBAT OBAT LOKAL/ REGIONAL ANESTESI
1. Ester compound

Cocaine

Procaine/novocaine

Tetracaine/pontocaine

2. Amide Compound

Lidocaine / Xylocaine

Prilocaine

Bupivacaine

Etidocaine

Ropivacaine

Levo bupivacaine

Perbedaan Ester dan Amide


Ester

Relatif tidak stabil dalam bentuk larutan

Dimetabolisme dalam plasma oleh enzym pseudocholinesterase.

Masa kerja pendek.

Relatif tidak toksik.

Dapat bersifat alergen, karena strukturnya mirip PABA (para amino benzoic acid).

Amide

Lebih stabil dalam bentuk larutan

Dimetabolisme dalam hati

Masa kerja lebih panjang.

Tidak bersifat alergen.

Obat Anestesi Golongan Ester


1. Kokain
Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tumbuhan Erythroxylon coca, yang berasal dari
Amerika Selatan. Daunnya biasa dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek
stimulan. Dalam tubuh manusia. Kokain dapat memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat.
Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan heroin karena efek
adiktif dan efek merugikannya telah dikenali. Saat ini, Kokain masih digunakan sebagai anestetik
lokal,

khususnya

untuk

pembedahan

vasokonstriksifnya yang membantu.

mata,

hidung

dan

tenggorokan,

karena

efek

Kokain digunakan karena secara karakteristik menyebabkan ilusi, euforia, peningkatan


kepercayaan diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Dalam dosis rendah dapat
disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif. Tetapi, pada penggunaan Kokain
dosis tinggi gejala intoksikasi dapat terjadi, seperti agitasi, iritabilitas, gangguan dalam
pertimbangan perilaku seksual yang impulsif, dan kemungkinan berbahaya agresi peningkatan
aktivitas psikomotor Takikardia Hipertensi Midriasis.
Setelah menghentikan pemakaian Kokain atau setelah intoksikasi akut terjadi depresi
pascaintoksikasi (crash) yang ditandai dengan disforia, anhedonia, kecemasan, iritabilitas,
kelelahan, hipersomnolensi, kadang-kadang agitasi. Pada pemakaian Kokain ringan sampai
sedang, gejala putus Kokain menghilang dalam 18 jam. Pada pemakaian berat, gejala putus
Kokain bisa berlangsung sampai satu minggu, dan mencapai puncaknya pada dua sampai empat
hari.
Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Orang yang
mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol,
sedatif, hipnotik, atau obat antiensietas seperti diazepam (Valium).
2. Prokain
Prokain, obat anestesi sintetik yang pertama kali dibuat, merupakan derivat-benzoat yang
disintesa pada tahun 1905 (Einhorn) dengan sifat yang tidak begitu toksik dibandingkan Kokain.
Anestetik lokal dari kelompok ester ini bekerja dengan durasi yang sangat singkat. Dalam tubuh
zat ini dengan cepat dan sempurna dihidrolisa oleh kolinesterase menjadi dietilaminoetanol dan
PABA (asam para-aminobenzoat), yang mengantagonir daya kerja sulfonamida, sehingga
toksisitasnya di dalam vascular (sistemik) dapat minimal. Akan tetapi, resorpsi Prokain di kulit
buruk, karena itu, Prokain hanya digunakan sebagai injeksi dan sering kali bersamaan dengan
adrenalin untuk memperpanjang daya kerjanya. Sebagai anestetik lokal, prokain sudah banyak
digantikan oleh lidokain dengan efek samping yang lebih ringan.
Efek sampingnya yang serius adalah hipertensi, yang kadang-kadang pada dosis rendah sudah
dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping yang harus dipertimbangkan pula

adalah reaksi alergi terhadap sediaan kombinasi prokain-penisilin. Berlainan dengan kokain zat
ini tidak memberikan adiksi. Reaksi alergi ini dapat juga terjadi karena pemakaian secara
berulang preparat Prokain bagi tubuh. Dosis: anestesi infiltrasi 0,25-0,5%, blockade saraf 1-2%.
3. Tetrakain
Tetrakain (Pontocaine) adalah obat anestesi lokal yang biasanya digunakan sebagai obat untuk
diagnosis atau terapi pembedahan. Akan tetapi, penelitian pada hewan menunjukkan efek
samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang
terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya
diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada
janin. Selain itu, Tetrakain yang potensiasinya lebih tinggi dibandingkan dengan dua obat
anestesi local golongan ester lainnya ini memiliki efek samping berupa rasa seperti tersengat.
Namun, efek ini tidak membuat Tetrakain jarang digunakan, hal ini karena salah satu
kelebihannya adalah tidak menyebabkan midriasis. Tetrakain biasanya digunakan untuk anestesi
pada pembedahan mata, telinga, hidung, tenggorok, rectum, dan dan kulit.
Salah satu anastetik lokal yang dapat digunakan secara toikal pada mata adalah Tetrakain
Hidroklorida. Untuk Pemakaian topikal pada mata digunakan larutan Tetrakain Hidroklorida
0,5%. Kecepatan anastetik Tetrakain Hidroklorida 25 detik dengan durasi aksinya selama 15
menit atau lebih.
Perbedaan Obat-obat Anestesi Golongan Ester

Agent

Concent:

Onset

Clinical use

Duration

Cocaine

4-10% Topical

Procaine

Max:Single dose

Potency

Slow 30

150 Mg

Infiltration 1%

Slow

500 Mg EPI

Low

Epidural 2%

30-45

600 Mg + EPI

Plexus block 2%

&

1012 Mg/Kg

Spinal 10%

Tetracaine

Topical 0,5-1%

Slow

100 Mg

Infiltr 0,1-0,2%

180-300

2 Mg/Kg

High

Epidrl 0,4-0,5%
Spinal 1%
Obat anestesi golongan amide

Amida
Lidokain
Etidokain
Prilokain
Mepivakain
Bupivakain
Ropivakain
levobupivakai

topikal
+
-

infiltrasi

Blok

+
+
+
+
+
+
+

Saraf
+
+
+
+
+
+
+

ARIV
+
+
-

Epidural

Spinal

+
+
+
+
+
+
+

intratekal
+
+
+
+

n
1. Lidocaine
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat ( potensi bagus ) yang digunakan secara luas
dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama
dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Pada konsentrasi yang
sebanding. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototip dari anestetik lokal
golongan amida. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anestesia infiltrasi, sedangkan
larutan 1,0-2% untuk anestesia blok dan topikal. Anestetik ini efektif bila digunakan tanpa
vaso-konstriktor, tetapi kecepatan absorpsi dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya
lebih pendek. Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap
anestetik lokal golongan ester. Lidokain dapat menimbulkan kantuk. Sediaan berupa larutan

0,5-5% dengan atau tanpa epinefrin (1: 50.000 sampai 1 : 200.000). Setelah disuntikkan,
obat dengan cepat akan dihidrolisis dalam jaringan tubuh pada pH 7,4-4 5.
Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anestesia infiltrasi, blokade saraf, anestesia
spinal, anestesia epidural ataupun anestesia kaudal, dan secara setempat untuk anestesia
selaput lendir. Pada anestesia infiltrasi biasanya digunakan larutan 0,25-0,50% dengan atau
tanpa epinefrin. Tanpa epinefrin dosis total tidak boleh melebihi 200 mg dalam waktu 24
jam, dan dengan epinefrin tidak boleh melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama.
Dalam bidang kedokteran gigi, biasanya digunakan larutan 1-2% dengan epinefrin; untuk
anestesia infiltrasi dengan mula kerja 5 menit dan masa kerja kira-kira 1 jam dibutuhkan
dosis 0,5-1,0 mL. Untuk blokade saraf digunakan 1-2 mL.
Efek samping lildokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya
mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan bangkitan.
Mungkin sekali metabolit lidokain yaitu monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid ikut
berperan dalam timbulnya efek samping ini. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan
kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung.
2. DURANEST ( ETIDOKAIN)
Indikasi
indikasi pemberian suntikan Duranest ( etidocaine HCl) adalah untuk anasesi infiltrasi, perpheral
nerve blok (pada Brachial Plexus, intercostals, retrobulbar, ulnar dan inferior alveolar) dan pusat
neural blok ( Lumbat atau Caudal epidural blok).
Dosis : maksimum 1 suntikan ditentukan dari status pasien. meskipun 1 suntikan 450 mg yang
dipakai untuk anastetik regional tidak menimbulkan efek, Pada waktu sekarang salah bila
menerima bentuk dosis maksimum dari 1 suntikan tidak melampaui 400 mg ( approximately 8,0
mg/kg atau 3,6 mg/lb dibawah 50 kg berat badan seseorang) dengan epenefrin 1:200,000 dan
1:300,000 ( approximately 6 mg/kg atau 2.7 mg/lb dibawah 50 kg berat badan seseorang) tanpa
epinefrin.
Caudal dan Lumbar Epidural Blok

Tindakan pencegahan bertentangan, kadang-kadang pengalaman kurang baik sehingga tidak


sengaja mengikuti penembusan pada daerah Subarachnoid. Dosis percobaan 2-5 ml obat sampai
5 menit pertama, total volume suntikan pada Lumbar atau Caudal Epidural blok, bentuk dosis
percobaan diberikan berulang-ulang jika pasien bergerak seperti biasa bahwa catheter boleh
dipindahkan. Epinefrin jika berisi dosis percobaan (10-15 mg) boleh membantu pada
penembusan suntikan intra vaskular. Jika suntikan mengenai Blood Vessel, epinefrin dapat
menghasilkan Respon Epinefrin dalam waktu 45 menit yaitu terdiri dari bertambahnya tekanan
darah sistolik , Circumolar pallor, palpitis pada seorang pasien.
Dipakai pada Kedokteran Gigi
Pada bidang kedokteran gigi, pemberian Duranest (Etidocaine Hcl) pada saat pasien masih sadar
pada bagian oral cavity, vaskularisasinya pada oral tissue, volume efektif pada anastesi lokal
harus benar-benar tepat. Pada oral cavity pemberian anastesi lokal dan teknik serta prosedurnya
harus spesifik. Dosis pada maxilla, inferior alveolar, nervus blok dosisnya 1,0-50 mL dan
pemberian Duranest 1.5% sedangkan dengan epinefrin 1:200,000 biasanya sangat efektif.
Sistem Cardiovaskular
Manisfestasi kardiovakular biasanya bradi kardi, pembuluh darah kolaps, dan berbagai macam
penyakit cardiac, reaksi alergi berupa lesi cutaneus, urticaria, edema atau reaksi anapilaktik.
Reaksi aleri terjadi akibat sensitivitas dari anastesi local.
3. LEVOBUPIVACAINE
Levobupivacaine adalah obat anestesi lokal yang mengandung gugus asam amino. Ini merupakan
enntiomer-S dari bupivacaine.
Penggunaan klinis
Jika dibandingkan dengan buvicaine, levobupivacaine menyebabkan lebih sedikit vasodilatasi
dab memiliki duration of action yang lebih panjang. Obat ini memiliki sekitar 13 persen daya
potensil (melalui molaritas) lebih rendah daripada golongan buvicaine.
Indiaksi
Levobupivacaine`didindikasikan untuk lokal anestesi meliputi infiltrsi, blok nervus, ophtalmic,
anestesi epidural dan intratekal pada orang dewasa serta dapat juga diguanakan sebagi analgesia
pada anak-anak.
Kontraindikasi

Levobupivacaine dikontarindikasiakn untuk regional anestesia IV (IVRA).


Efek samping
Jarang terjadi reaksi efek samping jika pemberian obat ini benar. Beberapa efek samping yang
terjadi berhubungan dengan teknik pemberian (dihasilkan pada systemic exposure) atau efek
farmakologikal dari anestesi yang diberikan, tetapi reaksi alergi jarang terjadi.
Systemic exposure untuk jumlah yang berlebih dari buvicaine terutam dihasilkan di sistem saraf
pusat (CNS) dan efek kardiovaskular. Efek CNS biasanya terjadi pada konsentrasi pembuluh
darah yang lebih rendah, sementara efek kardiovaskuler tambahan terdapat pada konsentrasi
yang lebih tinggi, sebelumnya Kolaps cardiovaskular dapat juga terjadi dengan konsentrasi yang
rendah.
Efek CNS meliputi eksitasi CNS (gelisah, gatal disekitar mlut, tinitus, tremor, pusing,
penglihatan kabur, seizure) dan diikuti oleh depresi (perasaan kantik, kehialngan kesadran,
penurunan pernafasan dan apnea). Efek kardiovskular meliputi hipotensi, bradikardi, arritmia,
dan/atau henti jantung. Kadang-kadang dapt terjadi hipoksemia sekunder pada saat penurunan
sisem pernafasan.

4. ROPIVAKAIN HCl INJEKSI NAROPIN


Sifat-sifat naropin injeksi Naropin injeksi mengandung ropivakain HCl, yaitu obat anestetik lokal
golongan amida. Naropin injeksi adalah larutan isotonik yang steril, mengandung bahan
campuran obat (etantiomer) yang murni yaitu Natrium Klorida (NaCl) agar menjadi larutan
isotonik dan aqua untuk injeksi. Natrium Hidroksida (NaOH) dan/ atau asam Hidroklorida (HCl)
dapat ditambahkan untuk meyesuaikan pHnya (keasamannya). Naropi injeksi diberikan secara
parentral. Nama kimia ropivakain HCl adalah molekul S-(-)-1-propil-2,6-pipekoloksilida
hidroklorida monohidrat. Zat bat berupa bubuk kristal berwarn putih dengan rumus molekul
C17H26N2O-R-HCl-H2O dan berat molekulnya 328,89. Struktur molekulnya adalah sebagai
berikut:Pada suhu 250C, kelarutan ropivakain HCl dalam air adalah 53,8 mmg/mL dengan rasio
distribusi antara n-oktanol dan fosfat bufer pada pH 7,4 adalah 14:1 dan pKanya 8,07 dalam
larutan KCl 1 M. pKa ropivakain hampir sama denganbupivkain (8,1) dan mendekati pKa
mepivakain (7,7) . akan tetapi kelarutan ropivakain dalam lemak (lipid) berada diantar kelarutan
bupivakain dan mepivakain.Naropin injeksi tidak mengandung bahan pengawet dan tersedia

dalam bentuk sediaan dosis tunggal dengan konsentrasi masing-masing 2,0 mg/mL (o,2%), 5,0
mg/mL (0,5%), 7,5 mg/mL (0,75%), dan 10 mg/mL (1,0%). Gravitas (berat) larutan Naropin
injeksi berkisar antara 1,002 sampai 1,005 pada suhu 24oC.
Efek samping naropin injeksi
efek samping ropivakain mirip dengan efek samping anastetik lokal kelompok amida lainnya.
Reaksi efek samping anastetik lokal kelompok amida terutama berkaitan dengan kadarnyan
dalam plasma yang berlebihan, yang dapat terjadi apabila melebihi dosis, jarum suntik masuk ke
dalam pembuluh darah tanpa sengaja atau jika metaolisme obat tersebut dalam tubuh lambat.
Kejadian tentang efek sampingnya telah dilaporkan berdasarkan penelitian klinik yang telah
dilakukan di amerika serikat dan negara-negara lainnya. Obat yang dijadikan acuan biasanya
adalah bupivakain. Penelitian tersebut meggunakan bermacam-macam obat premedikasi, sedasi
dan prosedur pembedahan. Sebanyak 3988 pasien diberikan naropin dengan konsentrasi sampai
1 % dalam percobaan klinik. Setiap pasien dihitung sekali untuk setiap jenis reaksi efek smaping
yang dialaminya.
Efek samping sistemik
Efek samping akut yang Paling sering dijumpai dan memerlukan penanganan yang cepat adalah
efek sampingnya pada sistem saraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskuler. Reaksi efek samping
ini pada umumnya tergantung pada dosis dan disebabkan oleh kadar obat dalam plasma yang
tinggi yang bisa terjadi karena over dosis, absorbsi (penyerapan) obat terlalu cepat dari tempat
suntikan, rendahnya toleransi pasien terhadap obat, atau apabila jarum suntik anastesi lokal
masuk ke dalam pembuluh darah. Di samping toksisitas sistemiknya yang tergantung pada dosis,
masuknya obat ke dalam subaraknoid secara tidak sengaja ketika melakukan blok epidural
melalui lumbal (tulang punggung) , atau ketika melakukan blok saraf di dekat kolumna vertebra
(khususnya di bagian kepala dan dibagian leher), dapat mengakibatkan depresi pernafasan dan
apnea (sesak nafas) total atau apnea sesuai tingkat saraf spinal yang mengontrol pernafasan. Juga
dapat terjadi hipotensi karena berkurangnya tonus (kekuatan) saraf simpati atau para lisis
respirasi (kelumpuhan otot-otot pernafasan) serta hipoventilasi karena obat anastetik mencapai
tingkatan saraf motorik di kepala. Keadaan ini dapat memicu henti jantung apabila tidak
ditangani dengan segera. Faktor-faktor yang mempengaruhi ikatan obat dengan protein plasma
misanya asidosis, penyakit sistemik yang dapat mengubah produksi protein dalam tubuh, atau

kompetensi dengan obat-obat lainnya untuk berikatan dengan protein, dapat menurunkan
toleransi (daya terima terhadap obat) seorang pasien.
Pemberian naropin secara epidural pada beberapa kasus seperti halnya pemberian obat-obat
anastesi lainnya dapat meningkatkan suhu tubuh secara mendadak diatas 38,5oC. ini paling sering
terjadi apabila dosis naropin diatas 16mg/jam.
Efek Samping Pada Sistem Saraf
Efek samping ini ditandai dengan kegelisahan dan depresi. Ketegangan, kecemasan, pusing,
telinga berdengung (tinitus), penguatan kabur, atau tremor (bergetar) dapat terjadi dan bahkan
dapat menimbulkan komvulsi (kejang otot). Akan tetapi, kegelisahan dapat terjadi mendadak
atau bisajuga tidak terjadi, dimana reaksi efek samping hanya berupa depresi. Depresi ini bisa
berlanjut menjadi rasa kantuk dan akhirnya kesadaran pasien hilang dan terjadi henti nafas. Efek
samping lainnya pada sistem saraf pusat adalah nausea (mual), muntah menggigil, dan konstriksi
pupil (pupil mata menyempit).
Efek Samping pada Sistem Kardiovaskuler.
Dosis tinggi atau masuknya jarum suntik kedalam pembukuh darah dapat menyebabkan kadar
obat dalam plasma meningkat sehingga mengakibatkan depresi otot jantung (jantung menjadi
lemah), darah yang dipompa jantung berkurang, hambatan konduksi saraf pada jantung,
hipotensi, bradikardi (denyut nadi kurang 60 kali/menit), aritmia ventrikular (denyut jantung
tidak berirama), yaitu takikardi ventrikel (denyut jantung diatas 100 kali/ menit) dan vibrilasi
atrium (jantung berdebar) dan bahkan henti jantung (oleh karena itu, perlu diperhatikan catatan
peringatan, pencegahan, dan overdosis pada label obat).
Efek Samping Alergi
Pada penggunaan naropin injeksi, jarang terjadi reaksi alergi tetapi bisa saja terjadi jika pasien
terlalu sensitif terhadap obat anestesi lokal (perhatikan peringatan pada label obat). Reaksi efek
samping alergi ditandai dengan gejala-gejala berupa urtikaria (kulit bengkak merah), pruritus
(gatal-gatal), eritema (kulit merah-merah), udem angioneurotik (misalnya udem laring),
takikardi, bersin-bersin, mual, muntah, pusing, sinkop (pingsan), keringatan, badan panas dan
bahkan reaksi anapilaksis (termaksuk hipotensi berat). Sensistifitas silang antar obat anestesi
lokal kelompok amida pernah terjadi. Bupivacain Injeksi bupivacain HCl merupkan solusi
isotonik steril yang mengandung agen anastetik lokal dengan atau tanpa epinefrin 1:2000 dan
diinjeksikan secara parenteral. Bupivacain PKA memiliki kemiripan dengan lidocain dan

memiliki derajat slubilitas lipid yang lebih besar. Bupivacin dihungkan secara kimia dan
farmakologis dengan aastetik lokal amino acyl. Bupivacain merupakan homolog dari mepivacain
dan secara kimiawi dihubungkan dengan lidocain. Ketiga anastetik ini mengandung rantai amida
dan amino. Berbeda dengan anastetik lokal tipe procain yang memiliki ikatan ester. Setiap 1 ml
larutan isotonik steril mengandung bupivacain hidroklorida dan 0.005 mg epinefrin, dengan 0.5
mg sodium metabisulfite sebagai anti oksidan dan 0.2 mg asam sitrat sebagai stabilisasi.
5. BUPIVACAINE
Bupivakain merupakan obat anestesi lokal dengan rumus bangun sebagai berikut : 1butyl-N-(2,6-dimethylphenyl)-piperidecarboxamide hydrochloride. Bupivakain adalah derivat
butil dari mepivakain yang kurang lebih tiga kali lebih kuat daripada asalnya. Obat ini
bersifat long acting dan disintesa oleh BO af Ekenstem dan dipakai pertama kali pada tahun
1963. Secara komersial bupivakain tersedia dalam 5 mg/ml solutions. Dengan kecenderungan
yang lebih menghambat sensoris daripada motoris menyebabkan obat ini sering digunakan untuk
analgesia selama persalinan dan pasca bedah.
Pada tahun-tahun terakhir, larutan bupivakain baik isobarik maupun hiperbarik telah
banyak digunakan pada blok subrakhnoid untuk operasi abdominal bawah. Pemberian
bupivakain isobarik, biasanya menggunakan konsentrasi 0,5%, volume 3-4 ml dan dosis total 1520 mg, sedangkan bupivakain hiperbarik diberikan dengan konsentrasi 0,5%, volume 2-4ml dan
total dosis 15-22,5 mg. Bupivakain dapat melewati sawar darah uri tetapi hanya dalam jumlah
kecil. Bila diberikan dalam dosis ulangan, takifilaksis yang terjadi lebih ringan bila dibandingkan
dengan lidokain. Salah satu sifat yang paling disukai dari bupivakain selain dari kerjanya yang
panjang adalah sifat blockade motorisnya yang lemah. Toksisitasnya lebih kurang sama dengan
tetrakain. Bupivakain juga mempunyai lama kerja yang lebih panjang dari lignokain karena
mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mengikat protein. Untuk menghilangkan nyeri
pada persalinan, dosis sebesar 30 mg akan memberikan rasa bebas nyeri selama 2 jam disertai
blokade motoris yang ringan. Analgesik paska bedah dapat berlangsung selama 4 jam atau lebih,
sedangkan pemberian dengan tehnik anestesi kaudal akan memberikan efek analgesik selama 8
jam atau lebih. Pada dosis 0,25 0,375 % merupakan obat terpilih untuk obstetrik dan analgesik
paska bedah. Konsentrasi yang lebih tinggi (0,5 0,75 %) digunakan untuk pembedahan.
Konsentrasi infiltrasi 0,25 - 0.5 %, blok saraf tepi 0,25 0,5 %, epidural 0,5 0,75 %, spinal 0,5
%. Dosis maksimal pada pemberian tunggal adalah 175 mg. Dosis rata-ratanya 3 4 mg / kgBB.

Bupivacaine bekerja dengan cara berikatan secara intaselular dengan natrium dan
memblok influk natrium kedalam inti sel sehingga mencegah terjadinya depolarisasi.
Dikarenakan serabut saraf yang menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih tipis
dan tidak memiliki selubung mielin, maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat ke dalam
serabut saraf nyeri dibandingkan dengan serabut saraf penghantar rasa proprioseptif yang
mempunyai selubung mielin dan ukuran serabut saraf lebih tebal.
Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin dan butyl
piperidin. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang, dengan efek
blockade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini bupivakain lebih
popular

digunakan

untuk

memperpanjang

analgesia

selama

persalinan

dan

masa

pascapembedahan. Suatu penelitian menunjukan bahwa bupivakain dapat mengurangi dosis


penggunaan morfin dalam mengontrol nyeri pada pascapembedahan Caesar. Pada dosis efektif
yang sebanding, bupivakain lebih kardiotoksik daripada lidokain. Lidokain dan bupivakain,
keduanya menghambat saluran Na+ jantung (cardiac Na+ channels) selama sistolik. Namun
bupivakain terdisosiasi jauh lebih lambat daripada lidokain selama diastolic, sehingga ada fraksi
yang cukup besar tetap terhambat pada akhir diastolik. Manifestasi klinik berupa aritma
ventrikuler yang berat dan depresi miokard. Keadaan ini dapat terjadi pada pemberian
bupivakain dosis besar. Toksisitas jantung yang disebabkan oleh bupivakain sulit diatasi dan
bertambah berat dengan adanya asidosis, hiperkarbia, dan hipoksemia.Ropivakain juga
merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja panjang, ddengan toksisitas terhadap
jantung lebih rendah daripada bupivakain pada dosis efektif yang sebanding, namun sedikit
kurang kuat dalam menimbulkan anestesia dibandingkan bupivakain.Larutan bupivakain
hidroklorida tersedia dalam konsentrasi 0,25% untuk anestesia infiltrasi dan 0,5% untuk suntikan
paravertebral. Tanpa epinefrin, dosis maksimum untuk anestesia infiltrasi adalah sekitar 2
mg/KgBB.
Indikasi
Bupivakain digunakan untuk anestesi local termasuk infiltrasi, block saraf, epidural, dan anestesi
intratekal. Bupivakain sering diberikan melalui injeksi epidural sebelum melakukan arthroplasty
panggul total. Juga sering di injeksikan ke luka pembedahan untuk mengurangi nyeri hingga 20

jam setelah operasi. Terkadang, bupivakain dikombinasikan dengan epinephrine untuk


memperlama durasi, dengan fentanil untuk analgesia epidural atau glukosa
Kontra indikasi
Kontraindikasi bupivakain untuk anestesi regional intravena karena resiko dari kesalahan
tourniquet dan absorpsi sistemik obat.
Efek Samping
Dibandingkan dengan obat anestesi local lainnya, bupivakain dapat mengakibatkan kardio
toksik. Akan tetapi, efek samping akan menjadi jarang bila diberikan dengan benar. Kebanyakan
efek samping berhubungan dengan cara pemberian atau efek farmakologis dari anestesi. Tetapi
reaksi alergi jarang terjadi.
Bupivakain dapat mengganggu konsentrasi plasma darah yang diakibatkan karena efeknya yang
mempengaruhi CNS dan kardiovaskular. Bupivakain dapat mengakibatkan beberapa kematian
ketika pasien diberikan anestesi epidural dengan mendadak.
Mekanisme Kerja
Bupivakain berikatan dengan bagian intracellular dari kanal sodium dan menutup sodium influk
kedalam sel saraf.
6. PRILOCAINE
Walaupun merupakan devirat toluidin, agen anestesi lokal tipe amida ini pada dasarnya
mempunyai

formula

kimiawi

dan

farmakologi

yang

mirip

dengan

lignokain

dan

mepivakain. Anestetik lokal golongan amida ini efek farmakologiknya mirip lidokain, tetapi
mula kerja dan masa kerjanya lebih lama daripada lidokain. Prilokain juga menimbulkan kantuk
seperti lidokain. Sifat toksik yang unik ialah prilokain dapat menimbulkan methemoglobinemia;
hal ini disebabkan oleh kedua metabolit prilokain yaitu orto-toluidin dan nitroso- toluidin.
Walaupun methemoglobinemia ini mudah diatasi dengan pemberian biru-metilen intravena
dengan dosis 1-2 mg/kgBB larutan 1 % dalam waktu 5 menit; namun efek terapeutiknya hanya

berlangsung sebentar, sebab biru metilen sudah mengalami bersihan, sebelum semua
methemoglobin sempat diubah menjadi Hb. Anestetik ini digunakan untuk berbagai macam
anestesia disuntikan dengan sediaan berkadar 1,0; 2,0 dan 3,0%. Prilokain umumnya dipasarkan
dalam bentuk garam hidroklorida dengan nama dagang Citanest dan dapat digunakan untuk
mendapat anestesi infiltrasi dan regional. Namun prilokain biasanya tidak dapat digunakan untuk
mendapat efek anestesi topikal. Prilokain biasanya menimbulkan aksi yang lebih cepat daripada
lignokain namun anastesi yang ditimbulkannya tidaklah terlalu dalam. Prilokain juga kurang
mempunyai efek vasodilator bila dibanding dengan lignokain dan biasanya termetabolisme
dengan lebih cepat. Obat ini kurang toksik dibandingkan dengan lignokain tetapi dosis total yang
dipergunakan sebaiknya tidak lebih dari 400 mg. Salah satu produk pemecahan prilokain adalah
ortotoluidin yang dapat menimbulkan metahaemoglobin. Metahaemoglobin yang cukup besar
hanya dapat terjadi bila dosis obat yang dipergunakan lebih dari 400 mg. Metahaemoglobin 1 %
terjadi pada penggunaan dosis 400 mg, dan biasanya diperlukan tingkatan metahaemoglobin
lebih dari 20 % agar terjadi simptom seperti sianosis bibir dan membrane mukosa atau kadangkadang depresi respirasi. Walaupun demikian, agen ini jangan digunakan untuk bayi, penderita
metaharmoglobinemia, penderita penyakit hati, hipoksia, anemia, penyakit ginjal atau gagal
jantung, atau penderita kelainan lain di mana masalah oksigenasi berdampak fatal, seperti pada
wanita hamil. Prilokain juga jangan dipergunakan pada pasien yang mempunyai riwayat alergi
terhadap agen anetesi tipe amida atau alergi paraben.Penambahan felypressin (octapressin)
dengan konsistensi 0,03 i.u/ml (=1:200.000) sebagai agen vasokonstriktor akan dapat
meningkatakan baik kedalam maupun durasi anestesi. Larutan nestesi yang mengandung
felypressin akan sangat bermanfaat bagi pasien yang menderita penyakit kardio-vaskular.
Komplikasi tindakan anestesia spinal
1. Hipotensi berat
Akibat blok simpatis terjadi venosus pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan
infus cairan elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.
2. Bradikardi
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi akibat blok sampai T-2.Dapat
berikan atropin 0,5 mg intravena
3. Hipoventilasi

Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas.


4. Trauma pembuluh saraf
5. Trauma saraf
6. Mual-muntah
7. Blok spinal tinggi atau spinal total
Komplikasi pasca tindakan
1. Nyeri tempat suntikan
2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala karena kebocoran likuor
4. Retensio urine
5. Meningitis

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pre Operatif
Persiapan yang dilakukan antara lain :
1. Persiapan alat
Hernia set, monitor tanda vital, oksigen, dan alat lain di ruang operasi.
2. Persiapan obat
Decain 1 Ampul, Atrocan 26, Vomceran 1 Ampul, dan Torasic 1 Ampul
3. Persiapan pasien
Anamnesis
Pemeriksaan fisik dan penunjang
Penilaian status pasien (ASA II)
Puasa pre operasi
Informed Consent
B. Durante Operatif
Pasien didiagnosis dengan hernia scrotalis sinistra incarserata, pada pasien ini
dilakukan operasi CITO dengan teknik anestesi spinal. Pertimbangan menggunakan
anestesi spinal dikerenakan operasi yang akan dikerjakan yaitu hernioraphy dan karena
pasien berusia usia tua, sehingga lebih cocok untuk anestesi regional. Sesaat sebelum
operasi, pasien diberi Vomceran untuk mencegah mual, pasien diposisikan dan di beri
marker pada area yang akan ditusuk. Area tersebut diberi antiseptic, kemudian dengan
atrocan 26 disuntikkan 2 cm kearah sefal, jarum dan mandrin dimasukkan ke lubang
jarum. Setelah resistensi menghilang, mandrin dicabut dan keluar liquor. Setelah terjadi
barbotage, spuit berisi Decain dimasukkan pelan- pelan 0,5 ml/ detik diselingi aspirasi
sedikit. Pasien diberi obat Decain yang merupakan golongan Bupivacaine bekerja dengan
cara berikatan secara intaselular dengan natrium dan memblok influk natrium kedalam
inti sel sehingga mencegah terjadinya depolarisasi. Dikarenakan serabut saraf yang
menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih tipis dan tidak memiliki
selubung mielin, maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat ke dalam serabut saraf
nyeri dibandingkan dengan serabut saraf penghantar rasa proprioseptif yang mempunyai
selubung mielin dan ukuran serabut saraf lebih tebal.
Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin dan butyl
piperidin. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang, dengan
efek blockade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini bupivakain
lebih popular digunakan untuk memperpanjang analgesia selama persalinan dan masa
pascapembedahan.
C. Post Operatif

Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang pemulihan. Dilakukan pemasangan


oksigen dan monitoring cairan selama di ruang pemulihan.
Aldrete Skor
Nilai
Kesadaran
Warna

2
1
0
Sadar, orientasi baik
Dapat dibangunkan
Tidak dapat
Merah muda, tanpa Pucat atau kehitaman Sianosis dengan o2
oksigen, Sao2 > 92%

perlu

o2

agar Sao2 tetap <90%

Sao2>90 %
ekstremitas 2 ekstremitas bergerak Tak ada ekstremitas

Aktivitas

Respirasi

bergerak
bergerak
Dapat napas dalam/ Nafas dangkal, sesak Apneu atau obstruksi

Kardiovaskuler

batuk
Tekanan

nafas
darah Berubah 20-30%

Berubah >50%

berubah 20%
Total 9 dapat dipindahkan ke ruangan

DAFTAR PUSTAKA
Said. 2011Petunjuk Praktis Anestesi. Bagian Anestesi dan Terapi. Jakarta. FKUI.
Latief, dkk. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta. FKUI.
Tarkkila, P., Complications Associated with Spinal Anesthesia. Complication of Regional
Anesthesia, 2nd Ed., 2007 : 149 166.