Anda di halaman 1dari 9

SECTIO CAESAREA

1. Sejarah Perkembangan Sectio Caesarea dan Epidemiologi


a. Sejarah Perkembangan Sectio Caesarea
Asal dari istilah seksio sesarea tidak diketahui dengan pasti, namun terdapat tigateori yang
dikenal sampai saat ini. Yang pertama, menurut legenda, Julius Caesardilahirkan dengan cara ini,
dengan hasil bahwa prosedur ini dikenal sebagaioperasi caesar. Namun beberapa pendapat
meragukan penjelasan ini. Pertama, ibudari Julius Caesar hidup selama bertahun-tahun setelah
kelahirannya pada 100 SM,dan hingga akhir abad ke-17, operasi itu hampir selalu berakibat fatal.
Kedua,operasi tersebut, apakah dilakukan pada hidup atau mati, tidak disebutkan olehpenulis
medis sebelum abad pertengahan. Rincian sejarah tentang asal-usul nama keluarga Caesar
ditemukan dalam monografi oleh Pickrell tahun 1935.
Teori kedua adalah bahwa nama operasi ini berasal dari hukum Romawi,konon dibuat
pada abad ke-8 SM oleh Numa Pompilius, memerintahkan bahwaprosedur bedah dalam
melahirkan anak dilakukan pada perempuan yang telahmeninggal dalam beberapa minggu
terakhir kehamilan dengan harapan dapatmenyelamatkan sang anak. Hukum ini dibuat oleh ini
raja Romawi sat itu, LexRegia, yang kemudian dikenal menjadi lex caesarea, dan operasi itu
sendiri dikenal sebagai operasi caesar.Penjelasan ketiga adalah bahwa kata ini muncul pada abad
pertengahan , yang berasal dari caedere, kata kerja latin, yang berarti untuk memotong.
Penjelasan ini tampaknya adalah yang paling logis. Di Amerika Serikat, huruf ae di suku
katapertama caesar diganti dengan huruf e. Di Inggris, Australia, dan sebagian besarnegara
persemakmuran, huruf ae ini tetap dipertahankan.
b. Epidemiologi
Sejak tahun 1986 di Amerika satu dari empat persalinan diakhiri dengan seksio sesaria.Di
Inggris angka kejadian seksio sesaria di Rumah Sakit Pendidikan relatif stabil yaitu antara 11-12
%, di Italia pada tahun 1980 sebesar 3,2% - 14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi17,5%.
Dari tahun 1965 sampai 1988, angka persalinan sesarea di Amerika Serikat meningkat progresif
dari hanya 4,5% menjadi 25%. Sebagian besar peningkatan ini terjadi sekitar tahun1970-an dan

tahun 1980-an di seluruh negara barat. Pada tahun 2002 mencapai 26,1%, angkatertinggi yang
pernah tercatat di Amerika Serikat.
Di Indonesia angka persalinan dengan seksio sesaria di 12 Rumah Sakit Pendidikan berkisar
antara 2,1%-11,8%. Di RS Sanglah Denpasar insiden seksio sesaria selama sepuluh tahun (19841994) 8,06%-20,23%; rata-rata pertahun 13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angkakejadian
seksio sesaria 17,99% dan angka kejadian persalinan bekas seksio 18,40%.
2. Pengertian, Indikasi, dan Kontraindikasi Sectio Caesarea
a. Pengertian
Sectio Caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada
dinding perut dan dinding rahim dengansyarat dinding dalam keadaan utuh serta berat janin di
atas 500 gram (Wikjosastro, 2000). Sementara menurut(Bobak et al, 2004). Sectio Caesarea
merupakan kelahiran bayi melalui insisi transabdominal. Menurut (Mochtar, 1998) Sectio
Caesarea adalah suatu cara melahirkan janindengan membuat sayatan pada dinding uterus
melalui dinding depan perut atau vagina atau Sectio Caesarea adalah suatu histerotomia untuk
melahirkan janin dalam rahim.
b. Indikasi
1. Faktor janin
a. Bayi terlalu besar
Berat bayi lahir sekitar 4.000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari
jalan lahir, umumnya pertumbuhan janin yang berlebihan (macrosomia) karena ibu menderita
diabetes mellitus. Apabila dibiarkan terlalu lama di jalan lahir dapat membahayakan keselamatan
janinnya.
b. Kelainan letak janin
Ada 2 kelainan letak janin dalam rahim, yaitu letak sungsang dan letak lintang. Letak sungsang
yaitu letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas.Panggul janin merupakan kutub bawah.
Sedangkan letak lintang terjadi bila sumbumemanjang ibu membentuk sudut tegak lurus dengan
sumbu memanjang janin.Oleh karena seringkali bahu terletak diatas PAP (Pintu Atas Panggul),
malposisi ini disebut juga prensentasi bahu.
c. Gawat janin (fetal disstres)

Keadaan janin yang gawat pada tahap persalinan, memungkinkan untuk segera dilakukannya
operasi. Apabila ditambah dengan kondisi ibu yang kurangmenguntungkan. Janin pada saat
belum lahir mendapat oksigen (O2) dari ibunyamelalui ari-ari dan tali pusat. Apabila terjadi
gangguan pada ari-ari (akibat ibumenderita tekanan darah tinggi atau kejang rahim), serta pada
tali pusat (akibat talipusat terjepit antara tubuh bayi), maka suplai oksigen (O2) yang disalurkan
ke bayi akan berkurang pula. Akibatnya janin mengalami hipoksia. Kondisi ini dapat
menyebabkan janin mengalami kerusakan otak, bahkan tidak jarang meninggal dalam rahim.
Apabila proses persalinan sulit dilakukan melalui vagina maka bedah casarea merupakan jalan
keluar satu-satunya.
d. Janin abnormal
Janin sakit atau abnormal, kerusakan genetik, dan hidrosepalus (kepala besar karena otak berisi
cairan), dapat menyababkan memutuskan dilakukan tindakan operasi.
e. Faktor plasenta
Ada beberapa kelainan plasenta yang dapat menyebabkan keadaan gawatdarurat pada ibu atau
janin sehingga harus dilakukan persalinan dengan operasi yaitu, plasenta previa (plasenta
menutupi jalan lahir), solutio plasenta (plasenta lepas), plasenta accrete (plasenta menempel kuat
pada dinding uterus), dan vasa previa (kelainan perkembangan plasenta).
f. Kelainan tali pusat
Berikut ini ada dua kelainan tali pusat yang biasa terjadi yaitu prolapses talipusat (tali pusat
menumbung), dan terlilit tali pusat. Prolapsus
tali pusat (tali pusatmenumbung) adalah keadaan penyembuhan sebagian atau seluruh tali pusat
beradadi depan atau di samping bagian terbawah janin atau tali pusat sudah berada di jalanlahir
sebelum bayi. Terlilit tali pusat atau terpelintir menyebabkan aliran oksigen dan nutrisi ke janin
tidak lancar. Jadi, posisi janin tidak dapat masuk ke jalan lahir, sehingga mengganggu persalinan.
g. Bayi kembar (multiple pregnancy)
Tidak selamanya bayi kembar dilakukan secara Caesarea. Kelahiran kembar memiliki resiko
terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Bayi kembar dapat mengalami
sungsang atau letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan melalui persalinan alami. Hal ini

diakibatkan, janin kembar dancairan ketuban yang berlebihan membuat janin mengalami
kelainan letak. Oleh karena itu, pada kelahiran kembar dianjurkan dilahirkan di rumah sakit
karena kemungkinan sewaktu-waktu dapat dilakukan tindakan operasi.
2. Faktor Ibu
a. Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kalinya pada usia sekitar 35 tahun memiliki resiko
melahirkan dengan operasi. Apalagi perempuan dengan usia 40tahun ke atas. Pada usia ini,
biasanya seseorang memiliki penyakit yang beresiko,misalnya tekanan darah tinggi, penyakit
jantung, diabetes mellitus, pre- eklamsia dan eklamsia.
b. Tulang Panggul
Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran
lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak melahirkan secara alami. Tulang panggul
sangat menentukan mulus tidaknya proses persalinan.
c. Faktor hambatan jalan lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang kaku sehingga tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir.
d. Kelainan kontraksi rahim
Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi (inkordinate uterine action) atau tidak
elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat melebar pada proses persalinan, menyebabkan kepala
bayi tidak terdorong, tidak dapat melewati jalan lahir dengan lancar
e. Ketuban pecah dini
Kondisi ini membuat air ketuba merembes keluar sehingga tersisa sedikit atau habis sehingga
tidak adanya pelumas untuk jalan lahir. Keadaan ini juga dapat memicu terjadinya gawat janin
(fetal distress).
f. Rasa takut kesakitan
Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara alami akan mengalami proses rasa sakit,
yaitu berupa rasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan pangkal paha yang semakin kuat dan

menggigit. Kondisi tersebut karena keadaan yang pernah atau baru melahirkan merasa
ketakutan, khawatir, dan cemas menjalaninya. Hal ini bisa karena alasan secara psikologis tidak
tahan melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan juga akan mengambat proses
persalinan alami yang berlangsung.
c. Kontraindikasi
Kontraindikasi yang perlu diperhatikan dalam sebelum dilakukan operasi section caesarea antara
lain:
-

Janin mati atau berada dalam keadaan kritis kemungkinan hidup relative kecil, dalam

keadaan ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi.


Janin lahir ibu mengalami infeksi yang luas yang hanya dilakukan section caesarea

ekstrapritoneal.
Adanya gangguan mekanisme pembekuan darah ibu, persalina pervaginam lebih

dianjurkan karena insisi yang ditimbulkan dapat seminimal mungkin.


Kurangnya pengalaman dokter bedah dan tenaga medis/ asisten yang kurang memadai.

2. Teknik-teknik Sectio Caesarea


a. Teknik Sectio Caesarea
Ada beberapa teknik seksio sesarea, yaitu:
a) Seksio sesarea transperitoneal profunda merupakan suatu pembedahan dengan
melakukaninsisi pada segmen bawah uterus. Hampir 99% dari seluruh kasusseksio
sesarea dalam praktek kedokteran dilakukan dengan menggunakan teknik ini,
karenamemiliki beberapa keunggulan seperti kesembuhan lebih baik, dan tidak banyak
menimbulkan

perlekatan.

Adapun

kerugiannya

adalah

terdapat

kesulitan

dalammengeluarkan janin sehingga memungkinkan terjadinya perluasan luka insisi dan


dapatmenimbulkan perdarahan. Arah insisi melintang (secara Kerr) dan insisimemanjang
(secara Kronig).
b) Seksio sesarea klasik (corporal), yaitu insisi pada segmen atas uterus atau korpus
uteri.Pembedahan ini dilakukan bila segmen bawah rahim tidak dapat dicapai dengan
aman(misalnya karena perlekatan yang erat pada vesika urinaria akibat pembedahan
sebelumnya atau terdapat mioma pada segmen bawah uterus atau karsinoma serviks
invasif), bayi besar dengan kelainan letak terutama jika selaput ketuban sudah pecah.
Teknik ini juga memiliki beberapa kerugian yaitu, kesembuhan luka insisi relatif sulit,

kemungkinan terjadinya ruptur uteri pada kehamilan berikutnya dan kemungkinan


terjadinya perlekatan dengan dinding abdomen lebih besar.
c) Seksio sesarea yang disertai histerektomi, yaitu pengangkatan uterus setelah seksio
sesareakarena atoni uteri yang tidak dapat diatasi dengan tindakan lain, pada uterus
miomatoususyang besar dan atau banyak, atau pada ruptur uteri yang tidak dapat diatasi
dengan jahitan.
d) Seksio sesarea vaginal, yaitu pembedahan melalui dinding vagina anterior ke dalam
ronggauterus. Jenis seksio ini tidak lagi digunakan dalam praktek obstetri.
e) Seksio sesarea ekstraperitoneal, yaitu seksio yang dilakukan tanpa insisi peritoneum
denganmendorong lipatan peritoneum ke atas dan kandung kemih ke bawah atau ke garis
tengah, kemudia uterus dibuka dengan insisi di segmen bawah.

b. Anastesi pada Sectio Caesarea


Ada dua macam anestesi yang dilakukan dalam operasi section caesarea, yaitu:
1. Anestesi local
Anestesi lokal merupakan alternative yang aman, namun anastesi ini tidak dianjurkan pada ibu
hamil yang menderita eklamsia, obesitas, atau alergi terhadap lignokain (obatbius lokal). Pada
pemberian obat anastesi, oleh dokter dilakukan pada bagian lokalsekitar jaringan yang akan
dilakukan sayatan pada Sectio Caesarea, sehingga tidak mempengaruhi keadaan bagi ibu dan
bayi. Namun anetesi dengan cara local sudah jarang dilakukan karena waktunya yang lebih lama.
2. Anestesi regional/spinal
Anestesi ini menghilangkan rasa dari bagian tubuh dengan cara menghalangi transmisi rasa sakit
dari serabut saraf. Pembiusan dengan metode block spinal inipaling banyak dilakukan untuk
kasus Sectio Caesarea, sebab relative aman dan ibutetap terjaga kesadaranya. Pembiusan ini
dilakukan dengan cara memasukan obatanastesi pada daerah lumbal dengan jarum functie yang
dosisnya telah diatur oleh tim anastesi.
3. Anestesi general
Anetesi general dilakukan pada pasien yang terdapat kontraindikasi pada anestesi regional atau
terdapat penyulit lain pada ibu. Anestesi general dilakukan dengan menurunkan kesadaran pasien

secara umum. Keuntungan dilakukannya anestesi general pada section caesarea adalah induksi
yang lebih cepat, hemodinamik yang lebih stabil, jalan napasa bebas dan ventilasi dapat
dikontrol. Namun karena sifatnya yang sistemik, general anestesi juga mempengaruhi keadaan
janin dalam kandungan, sehingga terdapat bukti bahwa anestesi umum berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan resusitasi neonates. Oleh karena itu anestesi ini jarang dilakukan pada
bedah section caesarea.
3. Komplikasi dan Penyulit Sectio Caesarea
Komplikasi yang dapat timbul akibat section caesarea antara lain:
a. Perdarahan
Rata-rata darah yang hilang akibat section caesarea dua kali lipat lebih banyak daripada
kelahiran pervaginam. Perdarahan masa nifas post seksio sesarea didefenisikan sebagai
kehilangan darah lebihdari 1000 ml. Dalam hal ini perdarahan terjadi akibat kegagalan mencapai
homeostatis di tempat insisi uterus maupun pada placental bed akibat atoni uteri.
b. Infeksi puerperal (Nifas)
Infeksi post partum terjadi apabila sebelum pembedahann sudah ada gejala-gejala terhadap
kelainan tersebut. Infeksi dapat bersifat ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja, atau
yang lebih berat dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit
kembung, sepsis, dan ileus paralitik.
c. Tromboemboli atau emboli pulmonal
Tromboemboli atau emboli pulmonal dapat disebabkan karena penderita dengan insisi abdomen
kurang dapat mobilisasi dibandingkan dengan kelahiran pervaginam.
d. Perlukaan pada vesica urinaria
Karena posisi anatomis vesical urinaria yang berdekatan dengan uterus, tidak jarang terjadi
perlukaan saat melakukan insisi pada uterus.
e. Kemungkinan rupture uteri siontanea pada kehamilan mendatang
f. Penyulit diabetes mellitus
g. Penyulit hipertensi kehamilan

4. Penatalaksanaan penyulit atau komplikasi dan Prognosis post Sectio Caesarea


a. Penatalaksanaan penyulit/komplikasi
Penatalaksanaan komplikasi seperti infeksi adalah dengan pemberian antibiotic yang sesuai dan
juga pemberian cairan yang adekuat. Untuk menyiapkan komplikasi seperti perdarahan
sebelumnya telah disediakan kantung darah yang sekiranya dibutuhkan oleh ibu apabila terjadi
perdarahan serta penggantian cairan yang adekuat. Untuk menghindari komplikasi lainnya
sebaiknya section caesarea dilakukan oleh tenaga medis yang sudah terlatih.
Penatalaksanaan ibu hamil dengan diabetes mellitus lebih mudah, karena pasien dapat makan
karbohidrat peroral segera setelah periode pasca bedah ketika kebutuhan insulin menurun dengan
tajam. Biasanya dipilih glukosa dan insulin intravena untuk mengelola periode pra dan intra
bedah dalam kasus section caesarea di bawah anestesi umum. Pasien diabetes mellitus yang
melahirkan dengan section caesarea baik sebagai prosedur yang direncanakan maupun tidak
berada dalam resiko infeksi luka pasca bedah sehingga perhatian khusus ditujukan untuk
menghindarkan infeksi dan resiko lainnya dengan pemberian antibiotika profilaksis yang sesuai.
Apabila preeclampsia berat yang telah ditegakkan, kecenderungan untuk segera melahirkan
janin. Beberapa kekhawatiran antara lain serviks yang kurang siap sehingga induksi persalinan
kurang berhasil, atau adanya keadaan darurat pada janin akibat preeclampsia mengindikasikan
untuk dilakukannya section caesarea elektif dan perlu adanya koordinasi perawatan neonatal
untuk bayi yang baru lahir.
b. Prognosis post Sectio Caesarea
Dahulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh
karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah,
indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit
dengan fasilias operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per
1000. Nasib janin yang ditolong secara sectio caesarea sangat tergantung dari keadaan janin
sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang
baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7 %.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstorm KD. 2010. Williams
obstetric. 23rd ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Mochtar, R., 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan, Edisi 3 Cetakan II. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Winknjosastro, H. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.