Anda di halaman 1dari 12

STUDI PERBANDINGAN UJI PERMEABILITAS PADA TANAH LEMPUNG BERPASIR KONDISI

PROCTOR STANDARD DAN PROCTOR MODIFIED

Oleh:
Henry Simanjuntak 1)
Setyanto2)
Andius Dasa Putra 2)
Abstract
Water flow through ground pores can be used to estimate the amount of water seepage in the soil, or relating
to dams and drainage which will be affected by the seepage force. Seepage discharge passing through the
body of the dam and foundation soil is needed to determine the amount of water lost. This research compares
the permeability coefficient value wich is acquired by compressing on optimum water content of standard and
modified proctor.
The soil sampel which is tested on this research is from Kali Ayu, Baru Sragi village, district of Tanjung
Bintang, South Lampung. Permeability test is executed on optimum standar proctor and modified proctor
water degree. Based on the test on the soil basic physics characteristics, AASHTO includes the soil samle in
A-7 (clay soil) while USCS includes the soil sample as sandy clay soil and included in CL.
The result of the research in laboratory shows that the permeability coefficient value of standar proctor is
large than the permeability coefficient modified proctor. The permeability value of standard proctor is
between 1,8x10-5 4,2x10-5 cm/s while the permeability value of modified proctor is 8,5x10-6 8,6x10-6 cm/s.
The more soil compression is done, the permeability value of the soil will be smaller.
Keywords: sandy clay, standar proctor, modified proctor, permeability

Abstrak
Aliran air melalui pori-pori tanah dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya
rembesan air dalam tanah, atau yang berkaitan dengan bendungan dan drainase yang
kesemuanya akan terpengaruh oleh gaya rembesan. Debit rembesan yang lewat badan
bendungan dan lewat tanah dasar diperlukan untuk mengetahui banyaknya air yang
hilang. Pada penelitian ini membandingkan nilai koefisien permeabilitas yang didapat
dengan pemadatan menggunakan kadar air optimum standard proctor dan modified
proctor.
Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah lempung berpasir yang berasal
dari Dusun Kali Ayu, Desa Baru Sragi, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan.
Uji permeabilitas dibuat dengan nilai kadar air optimun standard proctor dan modified
proctor. Berdasarkan pemeriksaan sifat fisik tanah asli, AASHTO mengklasifikasikan
sampel tanah pada kelompok A-7 (tanah berlempung) sedangkan USCS
mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah lempung berpasir dan termasuk ke
dalam kelompok CL.
Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa nilai koefisien permeabilitas
standard proctor lebih besar dibandingkan nilai permeabilitas dengan kadar air
optimum modified proctor. Nilai koefisien permeabilitas dengan standard proctor
antara 1,8 x10-5 4,2 x10-5 cm/dt sedangkan dengan kadar air optimum modified
proctor didapatkan nilai permeabilitas antara 8,5 x10-6 8,6 x10-6 cm/dt. Semakin
besar usaha pemadatan tanah yang dilkukan maka permeabilitas tanah akan semakin
kecil.
1)

Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Lampung


Dosen Teknik Sipil Universitas Lampung

2)

Kata kunci: lempung berpasir, standard proctor, modified proctor, permeabilitas

I.

PENDAHULUAN

Dalam bidang konstruksi, tanah mempunyai peranan yang sangat penting karena tanah adalah pondasi
pendukung suatu bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul, jalan raya, dan
kostruksi lainnya. Karena merupakan media yang akan memikul beban yang diterima oleh konstruksi yang
direncanakan, maka tanah harus mampu menerima beban yang diteruskan oleh pondasi. Suatu konstruksi
membutuhkan pondasi yang kuat dan kokoh sebagai pendukung konstruksi di atasnya dan untuk
mewujudkannya dibutuhkan kekuatan tanah dasar (subgrade) yang baik. Tetapi kenyataannya di lapangan,
tidak semua tanah memiliki sifat-sifat fisik dan mekanis yang baik dan diinginkan dalam kondisi aslinya. Hal
ini disebabkan oleh adanya perbedaan formasi proses alamiah dalam pembentukan tanah, perbedaan topografi
dan geologi yang membentuk lapisan tanah. Untuk mengantisipasi sifat tanah yang buruk untuk suatu
konstruksi, sejak dahulu manusia telah mencoba untuk melakukan perbaikan tanah.
Berbagai macam metode pun dilakukan, dari metode tradisional sampai metode moderen. Metode tradisional
seperti tanah ditumbuk secara konvensional, menambahkan pada tanah rusak tersebut tanah yang baik, batu,
pasir, atau pun kayu seadanya pada permukaan secara vertikal. Metode moderen seperti melakukan perbaikan
tanah dengan cara mekanis, dengan perkuatan, secara hidrolis, dan dengan menambahkan bahan kimia.
Tanah lempung berpasir merupakan jenis tanah dengan daya dukung rendah, pengaruh air sangat besar
terhadap perilaku fisis dan mekanismenya. Tanah-tanah yang banyak mengandung lempung mengalami
perubahan volume (mengembang) atau mengalami pengembangan atau penyusutan ketika kadar air berubah,
maka dari itu air berfungsi sebagai penentu sifat plastisitas dari lempung. Studi mengenai aliran air melalui
pori-pori tanah diperlukan dan sangat berguna di dalam memperkirakan jumlah rembesan air di dalam tanah.
Sifat tanah yang memungkinkan air melewatinya pada berbagai laju alir tertentu disebut permeabilitas tanah.
Pemadatan merupakan usaha untuk meningkatkan kerapatan tanah dengan menggunakan energi mekanis
untuk merapatkan partikelpartikel tanah dengan cara mengeluarkan udara yang terdapat pada pori pori
tanah sehingga air dapat merembes lebih cepat kedalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
membandingkan nilai koefisien permeabilitas tanah lempung berpasir yang dipadatkan dengan menggunakan
proctor standard dan proctor modified.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tanah Lempung Berpasir
Suatu tanah dapat dikatakan lempung berpasir bila lebih dari 50% mengandung butiran lebih kecil dari 0,002
mm dan sebagian besar lainnya mengandung butiran antara 2 0,075 mm. Pada Sistim Klasifikasi
Unified(ASTM D 2487-66T) tanah lempung berpasir digolongkan pada tanah dengan simbol CL yang artinya
tanah lempung berpasir memiliki sifat kohesi sebagian karena nilai plastisitasnya rendah ( PI < 7).
2.2 Permeabilitas Tanah

Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan yang memungkinkan aliran rembesan zat cair mengalir
melalui rongga pori (Hardiyatmo, 2002). Semua jenis tanah terdiri dari butir-butir dengan ruangan-ruangan
yang disebut pori (voids) antara butir-butir tersebut. Pori pori ini selalu berhubungan satu dengan yang lain
sehingga dapat mengalir melalui ruang pori tersebut. Proses ini disebut rembesan (seepage) dan kemampuan
tanah untuk dirembesi air disebut daya rembesan (permeability).

2.3. Pemadatan Tanah


Pemadatan merupakan usaha untuk meningkatkan kerapatan tanah dengan menggunakan energi mekanis
untuk merapatkan partikel-partikel tanah dengan cara mengeluarkan udara yang terdapat pada pori-pori tanah.
Energi pemadatan yang dipakai untuk memadatkan tanah di lapangan diperoleh dari alat berat, vibrator, dan
benda-benda berat yang dijatuhkan. Dilaboratorium, pemadatan dilakukan dengan daya tumbukan (dinamik),
alat penekan atau tekanan statis yang menggunakn piston dan mesin tekanan. Tujuan dari pemadatan adalah
untuk memperbaiki sifat-sifat teknis tanah. Ada dua macam percobaan di laboratorium yang biasa dipakai
untuk pemadatan tanah, yaitu: percobaan pemadatan standar (standard compaction test) dan percobaan
pemadatan modified (modifed compaction test). Percobaan pemadatan standar masih banyak dipakai untuk
pembuatan jalan dan bendungan tanah. Tetapi untuk pembuatan landasan lapangan terbang atau jalan raya
kepadatan yang tercapai dengan standar belum cukup, dalam hal ini dipakai modified compaction test.

III. METODE PENELITIAN


2.1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel tanah dilakukan pada bulan desember, pada saat pengambilan sampel tanah asli, cuaca
dalam keadaan cerah. Dan dalam beberapa hari sebelum pengambilan sampel, cuaca dalam keadaan cerah dan
hanya mengalami hujan dengan intensitas rendah. Sehingga pada saat pengambilan sampel tanah asli, keadaan
tanah tidak tergenang air. Sampel tanah yang diambil tidak perlu adanya usaha yang dilakukan untuk
melindungi sifat dari tanah tersebut. Pengambilan sampel tanah cukup dengan cara memasukan ke dalam
karung plastik atau pembungkus lainnya.
2.2. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat untuk uji batas-batas konsistensi, uji proctor, uji
permeabilitas dan peralatan pendukung lainnya yang ada di Laboratorium Mekanika Tanah Jurusan Teknik
Sipil, Universitas Lampung yang telah sesuai dengan standarisasi American Society for Testing Material
(ASTM).
2.3. Benda Uji
Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah lunak dengan klasifikasi lempung berpasir yang
berasal dari Dusun Kali Ayu, Desa Jati Baru, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan.
2.4. Pelaksanaan Pengujian
Pelaksanaan pengujian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil, Universitas
Lampung
2.5. Analisis Hasil Penelitian

Semua hasil yang didapat dari pelaksanaan penelitian akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik
hubungan serta penjelasan-penjelasan. Adapun garfik yang akan diperoleh dari penelitian ini antara lain grafik
permeabilitas, grafik pemadatan, grafik analisa saringan dan grafik hubungan batas-batas atterberg.

2.6. Diagram Alir Penelitian


Mulai
Pengambilan sampel tanah asli
Tidak
1.
2.
3.
4.
5.

Berat Jenis
Batas Atterberg
Analisa Saringan
Uji Hidrometri
Uji Kadar Air

Cek Syarat Tanah Lempung Berpasir


Ya
Uji Pemadatan tanah

Standard Proctor
(5 buah sampel tanah)

Modifed Proctor
(5 buah sampel)

Sampel 1 (SP1) : kadar air optimum


Sampel 2 (SP2) : +3% kadar air optimum
Sampel 3 (SP3) : - 3% kadar air optimum
Sampel 4 (SP4) : +6% kadar air optimum
Sampel 5 (SP5) : -6% kadar air optimum

Sampel 1 (MP1) : kadar air optimum


Sampel 2 (MP2) : +3% kadar air optimum
Sampel 3 (MP3) : - 3% kadar air optimum
Sampel 4 (MP4) : +6% kadar air optimum
Sampel 5 (MP5) : -6% kadar air optimum

KAO STANDARD

KAO MODIFIED
Uji permeabilitas laboratorium

3 sampel dari kadar air optimum


standard proctor

3 sampel dari kadar air optimum


modified proctor

Analisa Hasil

Kesimpulan
No

Pengujian

Kadar air ( )

Berat Jenis ( Gs )

Batas Atterberg :

Selesai

Hasil
22,34%
2,587

a. Batas Cair ( LL )

37,19%

b. Batas Plastis ( PL )

22,76%

c. Indeks Plastisitas ( PI )

14,42%

Butiran lolos saringan No. 200

69,21%

Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Sampel Tanah Asli
Dari pengujian terhadap sampel tanah yang diambil dari dari Dusun Kali Ayu, Desa Jati Baru, Kecamatan
Tanjung Bintang, Lampung Selatan
Tabel 4.1. Hasil Pengujian Tanah Asli
Melalui pengujian yang dilakukan terhadap tanah asli seperti tercantum pada Tabel 4.1. yang menggambarkan
karakteristik kondisi tanah asli. Dari pengujian kadar air menunjukkan bahwa kadar air yang terkandung
dalam tanah tersebut adalah sebesar 22,34%. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki
kandungan air yang rendah sehingga tanah tidak terlalu lembek. Dengan kadar air tersebut, maka tipe tanah
tersebut adalah lempung kaku (Das, 1988).
Berdasarkan hasil pengujian nilai batas plastis (PL) tanah asli sebesar 14,42%, menunjukkan bahwa kadar air
yang dibutuhkan oleh tanah tersebut untuk mentransisi tanah dari keadaan semi-padat ke keadaan plastis
adalah sebesar 17,17%, sedangkan untuk nilai batas cair (LL) sebesar 37,19%, artinya kadar air yang
dibutuhkan oleh tanah asli tersebut untuk mentransisi tanah dari keadaan plastis ke keadaan cair adalah
sebesar 37,19%. Dan dengan nilai indeks plastisitas 14,42%. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut
merupakan tanah berplastisitas sedang, karena nilai batas cair (LL) < 50% (Bowles, 1991), serta memiliki
nilai indeks plastisitas (PI) antara 7-17% (Hardiyatmo, H.C, 2002).
Setelah dilakukan uji analisis saringan didapat nilai 69,21% lolos saringan No. 200, dengan memiliki nilai
batas cair (LL) sebesar 37,19%, batas plastis (PL) sebesar 22,76%, dan indeks plastisitas sebesar 14,42%.
Menurut sistem klasifikasi AASTHO, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki angka
indeks plastisitas yang lebih dari 11% dengan batas cair di bawah 40%. Maka dapat disimpulkan bahwa tanah
dari Dusun Kali Ayu, Desa Jati Baru, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan digolongkan sebagai
kelompok tanah A-6 (tanah berlempung), tanah ini termasuk golongan tanah biasa sampai kurang baik untuk
digunakan sebagai tanah dasar pondasi.
Menurut sistem klasifikasi USCS, berdasarkan nilai persentase lolos saringan No. 200 sebesar 69,21% (lebih
besar dari 50%), maka berdasarkan tabel klasifikasi USCS tanah dari daerah Dusun Kali Ayu, Desa Jati Baru,
Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan ini secara umum diketegorikan golongan tanah berbutir halus
(lempung). Serta untuk nilai batas cair sebesar 37,19% dan indeks plastisitas sebesar 14,42%. Maka bila nilai
tersebut diplotkan pada diagram plastisitas USCS pada tabel bagan plastisitas, tanah berbutir halus yang diuji
tersebut termasuk dalam kelompok CL yaitu tanah lempung berpasir.

4.2. Uji Pemadatan Tanah


Kadar Air Optimum
2
1.9
1.8
1.7
1.6
Berat Volume Kering (gr/cm3)
1.5
1.4
1.3
12 16 20 24 28
10 14 18 22 26 30
Kadar Air (%)
Pada pengujian pemadatan
tanah dilakukan 2 kali dengan menggunakan alat uji standard proctor dan modified proctor dengan hasil
pengujian pemadatan tanah laboratorium seperti gambar dibawah ini :

Gambar 4.1. Hubungan antara Berat Volume Kering dengan Kadar Air Optimum Standard Proctor
Dari gambar hasil pengujian pemadatan tanah laboratorium dengan pemadatan standard diatas, didapat nilai
kadar air optimum tanah sebesar 18,52% dan berat isi kering maksimum sebesar 1,58 gr/cm 3.
Kadar Air Optimum

Berat Volume Kering (gr/cm3)

7 9 1113151719212325
Kadar Air (%)

Gambar 4.2. Hubungan antara Berat Volume Kering dengan Kadar Air Optimum Modified Proctor

Dari gambar hasil pengujian pemadatan tanah laboratorium dengan cara modified proctor diatas, didapat nilai
kadar air optimum tanah sebesar 16,25% dan berat isi kering maksimum sebesar 1,69 gr/cm3. Kadar air yang
didapat dilapangan berbeda dengan kadar air optimum, dimana kadar air dilapangan (kadar air tanah asli)
sebesar 22,34%, ini disebabkan karena kadar air yang diambil di lapangan merupakan kadar air asli kondisi
tanah pada saat pengambilan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim ataupun cuaca.
Sedangkan untuk kadar air optimum didapat dari pengujian pemadatan tanah dengan alat uji standard proctor
lebih kecil dibandingkan dengan alat uji modified proctor karena tebal lapisan dan berat alat penumbuk yang
lebih besar sehingga pori-pori dalam tanah lebih rapat. Kadar air optimum ini digunakan sebagai acuan pada
pengujian permeabilitas.
4.3 Uji Permeabilitas
Pengujian permeabilitas di laboratorium dengan menggunakan metode Falling Head terhadap enam buah
sampel tanah dimana tiga buah sampel menggunakan nilai kadar air optimum standar proctor dan tiga sampel
menggunakan nilai kadar air optimum modified proctor.

Gambar 4.3. Pengujian Permeabilitas dengan Falling Head


Pengujian permeabilitas dilakukan pada saat sampel tanah uji telah jenuh. Sebelum dilakukan pengujian
terlebih dahulu dilakukan proses penjenuhan sampai tanah jenuh, penjenuhan tanah dengan menggunakan
kadar air optimum modified proctor memerlukan waktu kurang lebih dua minggu untuk satu sampel
sedangkan untuk sampel tanah dengan kadar air optimum standard proctor memerlukan waktu kurang lebih

satu setengah minggu untuk satu sampel. Setelah sampel tanah jenuh dilakukan pengujian permeabilitas.
Pembacaan perbedaan tinggi air dilakukan setiap lima menit sesuai dengan jenis tanah lempung, pengujian
laboratorium pada masing-masing sampel dilakukan tiga kali pengulangan, kemudian hasilnya dirata-rata,
didapatkan nilai k skala standard dan modified proctor.
Hasil pengujian pengujian permeabilitas di laboratorium dengan menggunakan alat Falling Head dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2. Hasil Pengujian Pemadatan standard Proctor

Standard Proctor
Permeabilitas (k)

No

Nama Sampel

Sampel A (PSP1)

1,7x10-5

Sampel B (PSP2)

4,2x10-5

Sampel C (PSP3)

2,7x10-5

(cm/dt)

Rata-rata
2,9x10-5
Dari tabel 4.2, dapat dilihat bahwa pada permeabilitas dengan menggunakan kadar air optimum standard
proctor diperoleh hasil untuk sampel A diperoleh nilai k sebesar 2 x10 -5 cm/dt, sampel B sebesar 3 x10-5
cm/dt, sampel C sebesar 4 x10-5 cm/dt.
Nilai Permeabilitas Standard Proctor
5.2E-05
4.5E-05

4.2E-05

3.8E-05
k standard proctor
Nilai k (cm/dt) 3.1E-05

k rata-rata
2.7E-05

2.4E-05
1.7E-05 1.8E-05
1.0E-05
PSP1

PSP2

PSP3

Gambar 4.4. Grafik Nilai Permeabilitas Standard Proctor

Gambar 4.4. Grafik Nilai Permeabilitas Standard Proctor


Menurut DAS, 1993, untuk jenis tanah lempung memiliki nilai permeabilitas < 10 -5 cm/dt. Untuk sampel
tanah A, B, dan C didapatkan nilai 10 -5 cm/dt yaitu mendekati tanah lempung hal ini disebabkan jenis
tanah yang diteliti adalah tanah lempung berpasir. Nilai permeabilitas yang didapatkan pada masing-masing
sampel untuk uji permeabilitas dengan menggunakan kadar air optimum standard proctor berbeda hal ini
dikarenakan pada kondisi ini tanah belum benar-benar padat karena air masih memungkinkan merembes
melalui pasir yang terkandung pada tanah lempung. Jika dirata-ratakan akan didapatkan nilai permeabilitas k
standard proctor sebesar 3 x10-5 cm/dt.
Tabel 4.3. Hasil Pengujian Pemadatan Modified Proctor
Modified Proctor

N
o

Nama Sampel

Sampel A (PMP1)

8,5x10-6

Sampel B (PMP2)

8,6x10-6

Sampel C (PMP3)

8,8x10-6

Permeabilitas (k)
(cm/dt)

Rata-rata
8,6x10-6
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa pada permeabilitas dengan menggunakan kadar air optimum modified
proctor diperoleh hasil untuk sampel A diperoleh nilai k sebesar 8,6 x10 -6 cm/dt, sampel B sebesar 8,5x10-6
cm/dt, sampel C sebesar 8,8 x10-6 cm/dt. Menurut DAS, 1993, untuk jenis tanah lempung memiliki nilai
permeabilitas < 10-5 cm/dt. Untuk sampel tanah A, B, dan C didapatkan nilai < 10 -5 cm/dt. Pada uji
permeabilitas dengan kadar air optimum modified proctor tanah lempung berpasir berperilaku lempung
murni. Nilai permeabilitas yang didapatkan pada masing-masing sampel untuk uji permeabilitas dengan
menggunakan kadar air optimum modified proctor diperoleh nilai yang tidak jauh berbeda, jika dirataratakan akan didapatkan nilai permeabilitas k laboratorium sebesar 9 x10 -6 cm/dt. Dimana pada kondisi ini
tanah benar-benar padat sehingga air susah untuk merembes.

10

Nilai Permeabilitas Modified Proctor


8.9E-06
8.8E-06

8.8E-06

8.7E-06
8.6E-06
k modified
proctor
Nilai k (cm/dt)
8.6E-06
8.5E-06
8.5E-06

8.6E-06
k rata-rata

8.4E-06
8.3E-06
PMP1

PMP2

PMP3

Gambar 4.5. Grafik Nilai Permeabilitas Modified Proctor

Koefisien permeabilitas tanah bergantung pada beberapa faktor antara lain visikositas cairan, distribusi ukuran
pori, distribusi ukuran butiran, rasio kekosongan (void), partikel mineralnya, dan derajat kejenuhan tanah,
serta penguapan. Pada pengujian permeabilitas yang telah dilakukan terdapat perbedaan antara uji
permeabilitas dengan menggunakan kadar air optimum standard proctor dengan uji menggunakan kadar air
optimum modified proctor. Hal ini disebabkan penggunaan berat palu dan jumlah lapisan yang berbeda pada
saat pemadatan tanah. Faktor pemadatan dan tingkat kejenuhan tanah menjadi faktor utama yang
menyebabkan perbedaan nilai antara nilai permeabilitas standard proctor dengan modified proctor.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap
sampel tanah lempung berpasir untuk uji permeabilitas kondisi standard proctor
dan modified proctor, maka diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain :

11

1. Sampel tanah yang digunakan dalam penilitian ini berasal dari Dusun Kali Ayu,
Desa Jati Baru, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan,
berdasarkan sistem klasifikasi AASHTO digolongkan pada kelompok tanah A6(tanah lempung). Tanah golongan ini termasuk golongan buruk hingga kurang
baik jika digunakan sebagai tanah dasar. Berdasarkan klasifikasi USCS
digolongkan kedalam kelompok CL yaitu tanah lempung anorganik dengan
plastisitas rendah sampai dengan sedang, lempung berpasir.
2. Dari uji pemadatan standard proctor didapatkan kadar air optimum tanah
sebesar 18,52% dan berat isi kering maksimum sebesar 1,58 gr/cm3.
3. Dari uji pemadatan modified proctor didapatkan kadar air optimum tanah
sebesar 16,25% dan berat isi kering maksimum sebesar 1,69 gr/cm3.
4. Dari uji permeabilitas standard proctor didapatkan nilai permeabilitas antara 1,8
x10-5 4,2 x10-5 cm/dt, sedangkan pada uji permeabilitas modified proctor nilai
permeabilitas antara 8,5 x10-6 8,6 x10-6 cm/dt. Nilai rerata dari uji
permeabilitas standard proctor sebesar 2,9 x10-5 cm/dt, sedangkan nilai rerata
pada uji permeabilitas modified proctor sebesar 5 x10-6 cm/dt. Dengan batasan
menurut DAS, 1993, untuk jenis tanah lempung memiliki nilai permeabilitas <
10-5 cm/dt. Menurut Hardiyatmo, 2001, nilai permeabilitas untuk jenis tanah
lanau padat, lanau berlempung berkisar antara 10-5 10-4 cm/dt. Umumnya
pada tanah lempung dengan sedikit kohesi (pasir halus dengan sedikit lempung
atau pasir berlempung) memiliki nilai permeabilitas antara 10 -5 10-4 cm/dt
(Kasiro,1997).
5. Dari hasil pengujian diperoleh nilai permeabilitas standard proctor lebih besar
dari modified proctor karena berat palu dan jumlah lapisan yang lebih kecil
sewaktu pemadatan tanah, sehingga tanah masih memungkinkan untuk
merembes melalaui pori-pori pada pasir yang terkandung dalam tanah lempung
berpasir.
6. Selisih perbandingan antara besarnya nilai permeabilitas menggunakan kadar
air optimum standard proctor dengan permeabilitas modified proctor sebesar
2,0 x10-5 cm/dt. Dapat dikatakan jika tanah memiliki nilai permeabilitas dengan
perlakuan standard proctor sebesar 2,0 x10-5 cm/dt, maka dengan perlakuan
modified proctor akan diperoleh nilai permeabilitas sebesar 0 cm/dt.
5.2.

Saran

Berdasarkan hasil pengujian, analisis dan pembahasan yang dilakukan maka saran
yang dapat diberikan adalah :
1. Dalam pelaksanaan pengujian, perlakuan terhadap sampel hendaknya sama
agar diperoleh hasil yang lebih akurat.
2. Sebaiknya dilakukan pembersihan alat dan mesin sebelum melakukan
pengujian-pengujian di laboratorium, hal ini akan mempengaruhi hasil pengujian
yang didapat.
3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan penambahan zat kimia tertentu
untuk koefisien permeabilitas tanah lempung berpasir.

12

DAFTAR PUSTAKA
[1].

Atiyoso, May Trisza . 1999. Pengaruh Penambahan Semen dan Pasir Terhadap Nilai Permeabilitas
Pada Tanah Lunak. Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[2]. Berly. 1999. Pengaruh Penambahan Portland Cement Terhadap Stabilisas Tanah Gambut Ditinjau Dari
Nilai Permeabilitas. Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[3]. Bowles, E.J. 1989. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah. PT. Erlangga. Jakarta.
[4]. Bowles, E.J. Johan K. Helnim. 1991. Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah). PT.
Erlangga. Jakarta.
[5]. Budiarto, Andra Mei. 2011. Pengaruh Waktu Pemeraman (Curing Time) Stabilitas Tanah Timbunan
Menggunakan Abu Gunung Merapi. Skripsi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[6]. Craig, R.F. 1991. Mekanika Tanah. Penerbit Erlangga. Jakarta.
[7]. Das, Braja M. 1995. Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis). PT. Erlangga. Jakarta.
[8]. Dermawan, Agus. 2012. Studi Aplikasi Model Alat Uji Permeabilitas Lapangan Untuk Tanah Pasir
Berlempung. Skripsi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[9]. Hardiyatmo, Hary Christady. 1992. Mekanika Tanah 1. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
[10]. Hardiyatmo, Hary Christady. 2002. Mekanika Tanah 2. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
[11]. Hidayat, Surya. 2012. Studi Nilai Koefisien Permeabilitas Tanah Lempung Berlanau Yang Distabilisasi
Menggunakan TX-300. Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[12]. Komarullah, Chairul. 2011. Studi Daya Dukung Tanah Lempung Plastisitas Rendah Yang Distabilisasi
Menggunakan Abu Gunung Merapi. Skripsi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[13]. Lampung, Universitas. 2008. Buku Petunjuk Pratikum Mekanika Tanah I dan Mekanikan Tanah II.
Laboratorium Mekanikan Tanah Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Lampung.
[14]. Mityas, Hegar. 2012. Studi Perbandingan Antara Uji Permeabilitas Skala Lapangan Dengan Skala
Laboratorium Pada Tanah Lempung Menggunakan Alat Modifikasi. Skripsi Fakultas Teknik
Universitas Lampung. Lampung.
[15]. Purne, Ketut. 2010. Studi Korelasi Uji Permeabilitas Skala Lapangan Dan Uji Permeabilitas Skala
Laboratorium Pada tanah Timbunan Tubuh Embung Di Desa Banjar Rejo Kabupaten Pringsewu.
Skripsi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Lampung.
[16]. Universitas Lampung. 2011. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung. Universitas
Lampung. Lampung.
[17]. Yulanda, Miza Zikri. 2002. Nilai Koefisien Permeabilitas Tanah Lempung Berlanau Di Kabupaten
Pesawaran Distabilkan Dengan Menggunakan Roadpacker. Skripsi Fakultas Teknik Universitas
Lampung. Lampung.
[18]. Yunita, Ervina D. 2012. Studi Daya Dukung Tanah Lempung Berlanau Yang Distabilisasi Menggunakan
TX 300 Sebagai Lapisan Subgrade. SkripsiUniversitas Lampung. Lampung.