Anda di halaman 1dari 36

PERHITUNGAN GELAGAR JEMBATAN BALOK-T

A. DATA STRUKTUR ATAS

Panjang bentang jembatan


Lebar jalan (jalur lalu-lintas)
Lebar trotoar
Lebar total jembatan
Jarak antara Girder
Dimensi Girder :
Dimensi Diafragma :
Tebal slab lantai jembatan
Tebal lapisan aspal + overlay
Tinggi genangan air hujan
Tinggi bidang samping

Lebar girder
Tinggi girder
Lebar diafragma
Tinggi diafragma

L=
B1 =
B2 =
B1 + 2 * B2 =
s=
b=
h=
bd =
hd =
ts =
ta =
th =
ha =

Jumlah balok diafragma sepanjang L,


Jarak antara balok diafragma,

nd =
sd = L/nd =

B. BAHAN STRUKTUR
Mutu beton :
Kuat tekan beton,
Modulus elastik,
Angka poisson
Modulus geser
Koefisien muai panjang untuk beton

Kfc' = 0.83 * K / 10 =
Ec = 4700 * fc' =
=
G = Ec / [2*(1 + )] =
=

Mutu baja :
Untuk baja tulangan dengan > 12 mm :
Tegangan leleh baja,
Untuk baja tulangan dengan 12 mm :
Tegangan leleh baja,

Ufy = U*10 =
Ufy = U*10 =

Specific Gravity :
Berat beton bertulang,
Berat beton tidak bertulang (beton rabat),
Berat aspal padat,
Berat jenis air,

wc =
w'c =
wa =
ww =

C. ANALISIS BEBAN
1. BERAT SENDIRI (MS)
KMS =
Faktor beban ultimit :
Berat sendiri ( self weight ) adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan
elemen struktural, ditambah dengan elemen non-struktural yang dipikulnya dan bersifat
tetap. Beban berat sendiri balok diafragma pada Girder dihitung sbb. :
Panjang bentang Girder,
Berat satu balok diafragma,
Jumlah balok diafragma sepanjang bentang L,
Beban diafragma pada Girder,
Beban berat sendiri pada Girder
No.
Jenis
1
2
3

Plat lantai
Girder
Diafragma

L=
Wd = bd * (hd - ts) * s * wc =
nd =
Qd = nd * Wd / L =

Lebar
(m)
2.50
1.00

Tebal
(m)
0.20
1.00

Gaya geser dan momen pada T-Girder akibat berat sendiri (MS) :
VMS =

Berat
(kN/m3)
24.00
24.00
Qd =
QMS =

1/2 * QMS * L =

MMS =

1/8 * QMS * L2 =

2. BEBAN MATI TAMBAHAN (MA)


KMA =
Faktor beban ultimit :
Beban mati tambahan ( superimposed dead load ), adalah berat seluruh bahan yang
menimbulkan suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non-struktural, dan
mungkin besarnya berubah selama umur jembatan. Jembatan dianalisis harus mampu
memikul beban tambahan seperti :
1) Penambahan lapisan aspal (overlay ) di kemudian hari,
2) Genangan air hujan jika sistim drainase tidak bekerja dengan baik,
Panjang bentang Girder, L
Beban mati tambahan pada Girder
No.
Jenis
1

Lap.Aspal+overlay

Lebar
(m)
2.50

Tebal
(m)
0.10

Berat
(kN/m3)
22.00

Air hujan

2.50

Beban mati tambahan :

Gaya geser dan momen pada T-Girder akibat beban tambahan (MA) :
VMA =
MMA =

0.05

10.00
QMA =

1/2 * QMA * L =
1/8 * QMA * L2 =

4. BEBAN LALU-LINTAS
4.1. BEBAN LAJUR "D" (TD)
KTD =
Faktor beban ultimit :
Beban kendaraan yg berupa beban lajur "D" terdiri dari beban terbagi rata (Uniformly
Distributed Load ), UDL dan beban garis (Knife Edge Load ), KEL seperti pd Gambar 1.
UDL mempunyai intensitas q (kPa) yg besarnya tergantung pd panjang bentang L yg
dibebani lalu-lintas seperti Gambar 2 atau dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
untuk L 30
q = 8.0
kPa
q = 8.0 *( 0.5 + 15 / L )
kPa
untuk L > 30

Untuk panjang bentang,


L=
36.00 m
q=
KEL mempunyai intensitas,
p=
Faktor beban dinamis (Dinamic Load Allowance) untuk KEL diambil sebagai berikut :
untuk L 50 m
DLA =
0.40
DLA =
0.4 - 0.0025*(L - 50)
untul 50 < L < 90 m
untuk L 90 m
DLA =
0.30

Jarak antara girder


Untuk panjang bentang, L =
Beban lajur pada Girder,

s=
36.00 m,

maka DLA =
QTD = q * s =

PTD = (1 + DLA) * p * s =
Gaya geser dan momen pada T-Gider akibat beban lajur "D" :
VTD = 1/2 * ( QTD * L + PTD ) =
MTD = 1/8 * QTD * L2 + 1/4 * PTD * L =

4.2. BEBAN TRUK "T" (TT)


KTT =
Faktor beban ultimit :
Beban hidup pada lantai jembatan berupa beban roda ganda oleh Truk (beban T) yang
besarnya,
T=
Faktor beban dinamis untuk pembebanan truk diambil,
DLA =
PTT = ( 1 + DLA ) * T =
Beban truk "T" :

a=
b=

Panjang bentang Girder,


L=
Gaya geser dan momen pada T-Gider akibat beban truk "T" :
VTT = [ 9/8 * L - 1/4 * a + b ] / L * PTT =
MTT = VTT * L/2 - PTT * b =
Gaya geser dan momen yang terjadi akibat pembebanan lalu-lintas, diambil yg memberikan
pengaruh terbesar terhadap T-Girder di antara beban "D" dan beban "T".
VTT =
Gaya geser maksimum akibat beban, T
MTD =

Momen maksimum akibat beban, D

4. GAYA REM (TB)


KTB =
Faktor beban ultimit :
Pengaruh pengereman dari lalu-lintas diperhitungkan sebagai gaya dalam arah memanjang,
dan dianggap bekerja pada jarak 1.80 m di atas lantai jembatan. Besarnya gaya
rem arah memanjang jembatan tergantung panjang total jembatan (Lt) sebagai berikut :
untuk Lt 80 m
Gaya rem,
HTB = 250
Gaya rem,
HTB = 250 + 2.5*(Lt - 80)
untul 80 < Lt < 180 m
untuk Lt 180 m
Gaya rem,
HTB = 500

Panjang bentang Girder,


Jumlah Girder,
Gaya rem,
Jarak antara Girder,

L=
ngirder =
HTB =
s=
TTB =HTB / ngirder =

Gaya rem untuk Lt 80 m :


Gaya rem juga dapat diperhitungkan sebesar 5% beban lajur "D" tanpa faktor beban
dinamis.

Gaya rem,

Diambil gaya rem,

TTB = 5 % beban lajur "D" tanpa faktor beban dinamis,


QTD = q * s =
PTD = p * s =
TTB = 0.05 * ( QTD * L + PTD ) =
<
TTB =

Lengan thd. Titik berat balok,


Beban momen akibat gaya rem,
Gaya geser dan momen maksimum pada balok akibat gaya rem :

y = 1.80 + ta + h/2 =
M = TTB * y =
VTB = M / L =
MTB = 1/2 * M =

6. BEBAN ANGIN (EW)


KEW =
Faktor beban ultimit :
Gaya angin tambahan arah horisontal pada permukaan lantai jembatan akibat beban
angin yang meniup kendaraan di atas lantai jembatan dihitung dengan rumus :
TEW = 0.0012*Cw*(Vw)2
kN/m2
dengan,
Cw =
Kecepatan angin rencana,
Vw =
Beban angin tambahan yang meniup bidang samping kendaraan :
TEW = 0.0012*Cw*(Vw)2 =
Bidang vertikal yang ditiup angin merupakan bidang samping kendaraan dengan tinggi
2.00 m di atas lantai jembatan.
h=
Jarak antara roda kendaraan x
x=
Beban akibat transfer beban angin ke lantai jembatan,
QEW = 1/2*h / x * TEW =

Panjang bentang Girder,


Gaya geser dan momen pada Girder akibat beban angin (EW) :

L=
VEW = 1/2 * QEW * L =
MEW = 1/8 * QEW * L2 =

7. PENGARUH TEMPERATUR (ET)


Gaya geser dan momen pada Girder akibat pengaruh temperatur, diperhitungkan terhadap
gaya yang timbul akibat pergerakan temperatur (temperatur movement) pada
tumpuan (elastomeric bearing) dengan perbedaan temperatur sebesar :
T =
=
Koefisien muai panjang untuk beton,
Panjang bentang Girder,
L=
Shear stiffness of elastomeric bearing,
k=
= * T * L=
Temperatur movement,
Gaya akibat temperatur movement,

FET = k * =

Tinggi Girder, h = 1.20 m


Eksentrisitas, e = h / 2 = 0.60

h=
e = h/2 =
M = FET*e =

Momen akibat pengaruh temperatur,


Gaya geser dan momen pada Girder akibat pengaruh temperatur (ET) :

VET = M/L =
MET = M =

8. BEBAN GEMPA (EQ)


Gaya gempa vertikal pada girder dihitung dengan menggunakan percepatan vertikal ke
bawah minimal sebesar 0.10 * g ( g = percepatan gravitasi ) atau dapat diambil 50%
koefisien gempa horisontal statik ekivalen.
Koefisien beban gempa horisontal :
Kh = C * S
Kh = Koefisien beban gempa horisontal,
C = Koefisien geser dasar untuk wilayah gempa, waktu getar, dan kondisi tanah setempat
S = Faktor tipe struktur yg berhubungan dengan kapasitas penyerapan energi gempa
(daktilitas) dari struktur.
Waktu getar struktur dihitung dengan rumus :
T = 2 * * [ Wt / ( g * KP ) ]
Wt = Berat total yang berupa berat sendiri dan beban mati tambahan
KP = kekakuan struktur yang merupakan gaya horisontal yang diperlukan untuk menimbulkan
satu satuan lendutan.
g = percepatan grafitasi bumi,
g=

Berat total yang berupa berat sendiri dan beban mati tambahan :
Wt = QMS + QMA
Berat sendiri,
QMS =
Beban mati tambahan,
QMA =
Panjang bentang,
L=
Berat total,
Wt = (QMS + QMA)*L =
Ukuran Girder,
b=
1.00 m
h=
Momen inersia penampang Girder,
I = 1/12 * b * h3 =
Modulus elastik beton,
Ec =
Ec =
Kekakuan lentur Girder,
Kp = 48 * Ec * I / L3 =
T = 2** [ Wt / (g * KP)] =
Waktu getar,
Kondisi tanah dasar termasuk sedang (medium).
Lokasi wilayah gempa
Wilayah =
Koefisien geser dasar,
C=
Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi plastis beton beton bertulang, maka
faktor tipe struktur dihitung dengan rumus,
S = 1.0 * F
dengan, F = 1.25 - 0.025 * n dan F harus diambil 1
F = faktor perangkaan,
n = jumlah sendi plastis yang menahan deformasi struktur.
Untuk nilai, n = 1 maka :
n=
F = 1.25 - 0.025 * n =
Faktor tipe struktur,
S = 1.0 * F =
Koefisien beban gempa horisontal,
Kh = C*S =
Koefisien beban gempa vertikal,
Kv = 50% * Kh =
Diambil koefisien gempa vertikal,
Kv =
Gaya gempa vertikal,

TEQ = Kv * Wt =

QEQ = TEQ / L =

Beban gempa vertikal,


Gaya geser dan momen pada Girder akibat gempa vertikal (EQ) :

VEQ = 1/2 * QEQ * L =


MEQ = 1/8 * QEQ * L2 =

9. KOMBINASI BEBAN ULTIMATE


No.
1
2
3
4
5
6
7

Jenis Beban
Berat sendiri (MS)
Beban mati tambahan (MA)
Beban lajur "D" (TD)
Gaya rem (TB)
Beban angin (EW)
Pengaruh Temperatur (ET)
Beban gempa (EQ)

KOMBINASI MOMEN ULTIMATE


No.
Jenis Beban
1
2
3
4
5
6
7

Berat sendiri (MS)


Beban mati tambahan (MA)
Beban lajur "D" (TD/TT)
Gaya rem (TB)
Beban angin (EW)
Pengaruh Temperatur (ET)
Beban gempa (EQ)

Faktor
Beban
1.30
2.00
2.00
2.00
1.20
1.20
1.00

Faktor
Beban
1.30
2.00
2.00
2.00
1.20
1.20
1.00

Komb-1

Komb-2

M
(kNm)
5929.20
1093.50
4626.00
62.50
163.30
64.80
774.25

Komb-1
Mu
(kNm)
7707.96
2187.00
9252.00
125.00
195.96

19467.92

KOMBINASI GAYA GESER ULTIMATE


No.
Jenis Beban
1
2
3
4
5
6
7

Berat sendiri (MS)


Beban mati tambahan (MA)
Beban lajur "D" (TD/TT)
Gaya rem (TB)
Beban angin (EW)
Pengaruh Temperatur (ET)
Beban gempa (EQ)

Faktor
Beban
1.30
2.00
2.00
2.00
1.20
1.20
1.00

V
(kN)
658.80
121.50
172.08
3.47
18.14
1.80
86.03

Komb-1
Vu
(kN)
856.44
243.00
344.17
6.94
21.77

1472.32

Momen ultimate rencana girder


Gaya geser ultimate rencana girder

Mu =
Vu =

10. PEMBESIAN GIRDER


10.1. TULANGAN LENTUR
Momen rencana ultimit Girder,
Mutu beton :
Mutu baja tulangan :
Tebal slab beton,
Lebar badan Girder,
Tinggi Girder,
Lebar sayap T-Girder diambil nilai yang terkecil dari :

K - 250
U - 36

Diambil lebar efektif sayap T-Girder, beff = 2000 mm


Jarak pusat tulangan terhadap sisi luar beton, d' = 150 mm
Modulus elastis baja, Es = 2.00E+05 MPa
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,

Faktor reduksi kekuatan lentur,


Tinggi efektif T-Girder,
Momen nominal rencana,
Faktor tahanan momen,

Mu =
fc' =
fy =
ts =
b=
h=
L/4 =
s=
12 * ts =
beff =
d' =
Es =
1 =

rb = b1* 0.85 * fc/ fy * 600/(600+fy) =


Rmax = 0.75*rb*fy*[1-1/2*0.75*rb*fy/(0.85*fc')] =
=
d = h - d' =
Mn = Mu/ =
Rn = Mn * 106 / (beff * d2) =
Rn < Rmax

Rasio tulangan yang diperlukan :


r = 0.85 * fc / fy * [ 1 - (1 2 * Rn / ( 0.85 * fc ))] =
Rasio tulangan minimum,
rmin = 1.4 / fy =
Luas tulangan yang diperlukan,
As = r * beff * d =
Diameter tulangan yang digunakan,
D
As1 = p/4 * D2 =
Jumlah tulangan yang diperlukan,
n = As / As1 =
Digunakan tulangan,
14
D
As = As1 * n =
Tebal selimut beton,
td =
Diameter sengkang yang digunakan,
ds =
Jumlah tulangan tiap baris,
nt =

Jarak bersih antara tulangan,


X = ( b - nt * D - 2 * td - 2 * ds) / (nt - 1) =
> 35 mm

Untuk menjamin agar Girder bersifat daktail, maka tulangan tekan diambil 30% tulangan
tarik, sehingga :
Digunakan tulangan,

As' = 30% * As =
5
D

10.2. KONTROL KAPASITAS MOMEN ULTIMATE

Tebal slab beton,


Lebar efektif sayap,
Lebar badan Girder,
Tinggi Girder,
Jarak pusat tulangan terhadap sisi luar beton,
Tinggi efektif T-Girder,
Luas tulangan,
Kuat tekan beton,
Kuat leleh baja,
Untuk garis netral berada di dalam sayap T-Girder, maka :
Gaya internal tekan beton pada sayap,
Gaya internal tarik baja tulangan,
Cc

>

Jarak garis netral,


Regangan pada baja tulangan tarik,
Momen nominal,
Kapasitas momen ultimit, * Mn = 3506.390 kNm

Ts

ts =
beff =
b=
h=
d' =
d = h - d' =
As =
fc' =
fy =

Cc = 0.85 * fc' * beff * ts =


Ts = As * fy =
Garis netral di dalam sayap
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * beff ) =
c = a / 1 =
s = 0.003 * (d - c) / c =
< 0.03
Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 =
* Mn =
> Mu

10.3. TULANGAN GESER


Gaya geser ultimit rencana,
Mutu beton :
Mutu baja tulangan:
Faktor reduksi kekuatan geser,
Lebar badan Girder,
Tinggi efektif Girder,
Kuat geser nominal beton,

K - 300
U - 39

Vu =
Kuat tekan beton,
fc' =
Kuat leleh baja,
fy =
=
b=
d=
Vc = ( fc') / 6 * b * d * 10-3 =

* Vc =
Perlu tulangan geser
* Vs = Vu -

* Vc =

Gaya geser yang dipikul tulangan geser,

Vs =

Kontrol dimensi Girder terhadap kuat geser maksimum :


Vsmax = 2 / 3 * fc' * [ b * d ] * 10-3 =
Dimensi balok memenuhi persyaratan kuat geser,
Digunakan sengkang berpenampang :

Av = /4 * D * n =
2

Luas tulangan geser sengkang,


Jarak tulangan geser (sengkang) yang diperlukan :

S = Av * fy * d / Vs =
Digunakan sengkang,
2
D
13
Pada badan girder dipasang tulangan susut minimal dengan rasio tulangan,
sh =
Ash = h * b * d =
D

Luas tulangan susut,


Diameter tulangan yang digunakan,
Jumlah tulangan susut yang diperlukan,
Digunakan tulangan,

n = Ash / ( /4 * D2 ) =
4

10.4. LENDUTAN BALOK


Mutu beton :
K - 250
Mutu baja tulangan:
U - 36
Modulus elastis beton,
Modulus elastis baja,
Tinggi balok,
Lebar balok,
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton,
Tinggi efektif balok,
Luas tulangan balok,
Inersia brutto penampang balok,

Kuat tekan beton,


Kuat leleh baja,

fc' =
fy =
Ec = 4700 * fc' =
Es =
h=
b=
d' =
d = h - d' =
As =
Ig = 1/12 * b * h3 =

fr = 0.7 * fc' * 103 =


n = Es / Ec =
n * As =
Jarak garis netral terhadap sisi atas beton,
c = n * As / b =
Inersia penampang retak yang ditransformasikan ke beton dihitung sbb. :
Icr = 1/3 * b * c3 + n * As * ( d - c )2 =
yt = h/2 =
Momen retak :
Mcr = fr * Ig / yt =
Modulus keruntuhan lentur beton,
Nilai perbandingan modulus elastis,

Momen akibat beban mati dan beban hidup (MD+L)


No.
1
2
3
4

Jenis Beban
Berat sendiri (MS)
Beban mati tambahan (MA)
Beban lalulintas (TD/TT)
Gaya rem (TB)
MD+L =

Inersia efektif untuk perhitungan lendutan


Ie = ( Mcr / MD+L )3 * Ig + [ 1 - ( Mcr / MD+L )3 ] * Icr =
Panjang bentang balok,

L=

10.4.1. LENDUTAN AKIBAT BERAT SENDIRI (MS)


QMS =

Beban akibat berat sendiri,


Lendutan akibat berat sendiri (MS) :

MS = 5/384*QMS*L4 / ( Ec*Ie) =
10.4.2. LENDUTAN AKIBAT BEBAN MATI TAMBAHAN (MA)
QMA =

Beban akibat berat sendiri,


Lendutan akibat berat sendiri (MS) :

MA = 5/384*QMA*L4 / ( Ec*Ie) =
10.4.2. LENDUTAN AKIBAT BEBAN LAJUR "D" (TD)
PTD =

Beban lajur "D" : Beban terpusat,

QTD =
Beban merata,
Lendutan akibat beban lajur "D" (TD) :
TD = 1/48* PTD*L3 / (Ec*Ie) + 5/384*QTD*L4 / ( Ec*Ie) =
10.4.3. LENDUTAN AKIBAT GAYA REM (TB)
MTB =

Momen akibat gaya rem,


Lendutan akibat gaya rem (TB) :

TB = 0.0642 * MTB * L2 / ( Ec*Ie) =


10.4.4. LENDUTAN AKIBAT BEBAN ANGIN (EW)
QEW =

Beban akibat transfer beban angin pada kendaraan,


Lendutan akibat beban angin (EW) :

EW = 5/384*QEW *L4 / ( Ec*Ie) =


10.4.5. LENDUTAN AKIBAT PENGARUH TEMPERATUR (ET)
Momen akibat temperatur movement,
Lendutan akibat pengaruh temperatur (ET) :

MET =
ET = 0.0642 * MET * L2 / ( Ec*Ie) =

10.4.6. LENDUTAN AKIBAT BEBAN GEMPA (EQ)


QEQ =

Beban gempa vertikal,


Lendutan akibat beban gempa (EQ) :

EQ = 5/384*QEQ*L4 / ( Ec*Ie) =

Lendutan maksimum
No.
1
2
3
4
5
6
7

maks = L/240 =
Jenis Beban

Berat sendiri (MS)


Beban mati tambahan (MA)
Beban lajur "D" (TD/TT)
Gaya rem (TB)
Beban angin (EW)
Pengaruh Temperatur (ET)
Beban gempa (EQ)

0.15
Komb-1
(kNm)
0.3965
0.0731
0.2908
0.0026
0.0109

0.7739
< L/240
OK

Pembesian T-Girder

11. BALOK DIAFRAGMA


11.1. BEBAN PADA BALOK DIAFRAGMA
Distribusi beban lantai pada balok diafragma adalah sebagai berikut :
Ukuran balok diafragma,
Lebar,
bd =
0.30
Tinggi,
hd =
0.50
Panjang bentang balok diafragma,
s=
2.00
Tebal lantai
ts =
0.20

Berat sendiri (MS) :


No.
Jenis
1
2

m
m
m
m

Lebar

Plat lantai
Balok diafragma

Tebal

2.00
0.30

0.20
0.30

Berat
(kN/m3)
24.00
24.00
QMS =

Beban
(kN/m)
9.60
2.16
11.76

Gaya geser dan momen akibat berat sendiri :


VMS = 1/2 * QMS * s =
MMS = 1/12 * QMS * s2 =
Beban mati tambahan (MA) :
No.
Jenis
1
2

Lebar

Lap.Aspal+overlay
Air hujan

Tebal

2.00
2.00

0.10
0.05

Berat
(kN/m3)
22.00
10.00
QMS =

Beban
(kN/m)
4.40
1.00
5.40

Gaya geser dan momen akibat beban mati tambahan :


VMA = 1/2 * QMA * s =
MMA = 1/12 * QMA * s2 =
Beban truk "T" (TT) :
Beban hidup pada lantai jembatan berupa beban roda ganda oleh Truk (beban T) yang
besarnya,
T=
DLA =
Faktor beban dinamis untuk pembebanan truk diambil,
Beban truk "T" :
Gaya geser dan momen akibat beban "T",

PTT = (1 + DLA) * T =
VTT = 1/2 * PTT =
MTT = 1/8 * PTT * s =

Kombinasi beban ultimit :


No.
Jenis beban
1
2
3

Berat sendiri (MS)


Beb.mati tamb (MA)
Beban truk "T" (TT)

Faktor
Beban
1.30
2.00
2.00

V
(kN)
11.76
5.40
70.00

M
(kNm)
3.92
1.80
35.00

11.2. MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA BALOK DIAFRAGMA


Momen ultimit rencana balok diafragma,
Gaya geser ultimit rencana balok diafragma,

Vu
(kN)
15.288
10.800
140.000
166.088

Mu =
Vu =

12. PEMBESIAN BALOK DIAFRAGMA


12.1. TULANGAN LENTUR
Momen rencana ultimit balok diafragma, Mu = 78.895 kNm
Mutu beton :
K - 250
Kuat tekan beton,
Mutu baja tulangan:
U - 36
Kuat leleh baja,
Modulus elastis beton,
Modulus elastis baja,
Lebar balok,
Tinggi balok,
Jarak pusat tulangan terhadap sisi luar beton,
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,

Mu =
fc' =
fy =
Ec = 4700 * fc' =
Es =
b = bd =
h = hd =
d' =
1 =

b = 1* 0.85 * fc/ fy * 600/(600+fy) =


Rmax = 0.75*b*fy*[1-1/2*0.75*b*fy/(0.85*fc')] =
=
d = h - d' =
Mn = Mu/ =
Rn = Mn * 106 / (beff * d2) =
Rn < Rmax

Faktor reduksi kekuatan lentur,


Tinggi efektif balok,
Momen nominal rencana,
Faktor tahanan momen,
Rasio tulangan yang diperlukan :
Rasio tulangan minimum,
Luas tulangan yang diperlukan,
Diameter tulangan yang digunakan,

= 0.85 * fc / fy * [ 1 - (1 2 * Rn / ( 0.85 * fc ))] =


min = 1.4 / fy =

Jumlah tulangan yang diperlukan,


Digunakan tulangan,

As = * b * d =
D
2
As1 = p/4 * D =
n = As / As1 =
2
D
As = As1 * n =

12.2. TULANGAN GESER


Gaya geser ultimit rencana,
Mutu beton :
Mutu baja tulangan:
Faktor reduksi kekuatan geser,
Lebar badan Girder,
Tinggi efektif Girder,

Vu =
Kuat tekan beton,
fc' =
Kuat leleh baja,
fy =
=
b=
d=
Vc = ( fc') / 6 * b * d * 10-3 =
* Vc =
Perlu tulangan geser

K - 250
U - 36

Kuat geser nominal beton,

* Vs = Vu -
Gaya geser yang dipikul tulangan geser,

* Vc =
Vs =

Kontrol dimensi Girder terhadap kuat geser maksimum :


Vsmax = 2 / 3 * fc' * [ b * d ] * 10-3 =
Dimensi balok memenuhi persyaratan kuat geser,
Digunakan sengkang berpenampang :

Av = /4 * D2 * n =

Luas tulangan geser sengkang,


Jarak tulangan geser (sengkang) yang diperlukan :
Digunakan sengkang,

Pembesian balok diafragma

S = Av * fy * d / Vs =
12
-

TAN BALOK-T

36.00
9.00
1.00
12.00
2.50
1.00
1.20
0.30
0.50
0.20
0.10
0.07
2.50

m
m
m
m
m
m
m
m
m
m
m
m
m

4 bh
9m

250
22.50
20000
0.20
8333
1.0.E-05

MPa
MPa
MPa
C

36
360 Mpa
24
240 Mpa

24.00
20.00
22.00
10.00

kN/m3
kN/m3
kN/m3
kN/m3

1.3

36.00
5.4
4
0.6

m
kN
bh
kN/m

Beban
(kN/m)
12.00
24.00
0.60
36.60

658.800 kN
5929.200 kNm

1.3

36.00 m

Beban
(kN/m)
5.50

1.25
6.75

121.500 kN
1093.500 kNm

2.0

8.00 kPa
44.00 kN/m

untuk L 50 m
untul 50 < L < 90 m
untuk L 90 m

2.50 m
0.40
20.00 kN/m
154.00 kN

437.00 kN
4626.00 kNm

2.0
100 kN
0.40
140.00 kN

5.00 m
5.00 m

36.00 m
172.08 kN
2397.5 kNm

g memberikan
172.08 kN
4626.00 kNm

2.0

ah memanjang,

untuk Lt 80 m
untul 80 < Lt < 180 m
untuk Lt 180 m

36.00 m
5 bh
250 kN
2.50 m
50 kN

20.00
110.00
41.50
50.00
50.00

kN/m
kN
kN
kN
kN

2.50 m
125.00 kNm
3.47 kN
62.50 kNm

1.2

1.2
35 m/det
1.764 kN/m2
2.00 m
1.75 m
1.008 kN/m

36.00 m
18.144 kN
163.296 kNm

kan terhadap

20
1.0.E-05
36.00
15000

C
C
m
kN/m

0.0072 m
108.00 kN

1.20 m
0.60 m
64.800 kNm
1.800 kN
64.800 kNm

uk menimbulkan
9.81 m/det2

36.60
6.75
36.00
1560.6
1.20
0.144
23453
23452953
3475
1.3444

kN/m
kN/m
m
kN
m
m4
Mpa
kPa
kN/m
detik

3
0.18

1
1.225
1.225
0.221
0.110 > 0.10
0.110
172.056 kN

4.779 kN/m
86.028 kN
774.253 kNm

Komb-3

Komb-2
Mu
(kNm)
7707.96
2187.00
9252.00
125.00

Komb-3
Mu
(kNm)
7707.96
2187.00
9252.00

77.76
19349.72

Komb-2
Vu
(kN)
856.44
243.00
344.17
6.94

774.25
19921.21

Komb-3
Vu
(kN)
856.44
243.00
344.17

2.16
1452.71

86.03
1529.63

19467.92 kNm
1472.32 kN

19467.92
20.75
360
200
1000
1200
9000
2500
2400
2400
150
2.0.E+05

kNm
Mpa
Mpa
mm
mm
mm
mm
mm
mm
mm
mm
MPa

0.85

0.0260275608
5.6274433136
0.80

1050 mm
24334.894 kNm
9.1968609221
OK

0.0690468158
0.0038888889
173997.98 mm2
32
mm
804.25 mm2
216.35
32

11259.46807 mm2
30 mm
13 mm
6
mm
144.4 mm

OK
3377.8404211 mm2
32

200
2400
1000
1200
150
1050
11259.47
20.75
360
Cc > Ts

mm
mm
mm
mm
mm
mm
mm2
Mpa
MPa

8466000 N
4053408.5054 N

i dalam sayap
95.76
112.66
0.0250
OK
4062.007
3249.6056863
19467.92
CEK

1472.32
24.9
390
0.75
1000
1050

mm
mm

kNm
kNm
kNm

kN
MPa
MPa
mm
mm

873.248 kN

654.936 kN

817.388 kN
1089.850 kN

3492.993 kN
Vs < Vsmax
OK
13
265.465 mm2
99.746 mm
200
0.001
13

1050 mm2
mm
7.91

13

20.75
360
21410
2.0.E+05
1.20
1.00
0.15
1.05
0.011259
0.144

MPa
MPa
MPa
MPa
m
m
m
m
m2
m4

3188.6517527 kPa
9.3
0.105 m2
0.105 m
0.09428 m4
0.60 m
765.276 Nmm

Momen
(kNm)
5929.20
1093.50
4626.00
62.50
11711.20

0.0943 m4
36.00 m

36.60 kN/m
0.39649 m

6.75 kN/m
0.07312 m

154.00 kN
20.00 kN/m
0.29081 m

62.50 kNm
0.00258

1.008 kN/m
0.0109 m

64.80 kNm
0.00267 m

4.779 kN/m
0.0518 m

m
Komb-2
(kNm)
0.3965
0.0731
0.2908
0.0026

Komb-3
(kNm)
0.3965
0.0731
0.2908

0.0027
0.7657
< L/240
OK

0.0518
0.8122
< L/240
OK

11.760 kN
3.920 kNm

5.400 kN
1.800 kNm

100 kN
0.40
140.00 kN
70.00 kN
35.00 kNm

Mu
(kNm)
5.096
3.600
70.000
78.696

78.696 kNm
166.088 kN

78.696
20.75
360
21410
2.0.E+05
300
500
50
0.85

kNm
MPa
MPa
MPa
MPa
mm
mm
mm

0.0260275608
5.6274433136
0.80

450 mm
98.37 kNm
1.6192592593
OK
0.0047258712
0.0038888889
637.99 mm2
25
mm
490.87 mm2
1.30
25

981.748 mm2

166.09
20.75
360
0.75
300
450

kN
MPa
MPa
mm
mm

102.492 kN
76.869 kN

89.219 kN
118.958 kN

409.970 kN
Vs < Vsmax
OK
12
226.195 mm2
308.037 mm
200