Anda di halaman 1dari 35

PERUBAHAN PARADIGMA

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN DALAM


UPAYA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN
MASA DEPAN
Makalah Dalam Rangka Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Disusun Oleh :

TINASARI PRISTIYANTI
NPM. 072109219

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR
2009

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................
B. Perumusan Masalah..............................................................
C. Tujuan Penulisan...................................................................

2
3
4

BAB II. KAJIAN TEORITIK


A. Kepemimpinan Pendidikan ....................................................
B. Gaya, Model dan Teori Teori Kepemimpinan ......................

5
12

BAB III. PEMBAHASAN


A. Kepemimpian Pendidikan Yang Efektif.................................
B. Kepemimpinan Pendidikan Transformasional ......................

24
28

BAB IV. PENUTUP ............................................................................

34

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................

35

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perubahan dunia yang semakin cepat dewasa ini memberikan
dampak yang sangat besar pada semua sendi kehidupan yang ada.
Dampak yang diberikan sebagai akibat perubahan global ini dirasakan
baik secara langsung maupun tidak langsung oleh semua manusia yang
ada didunia. Perubahan yang terjadi dapat berdampak positif maupun
berdampak negatif yang kesemuanya akan mempengaruhi pola pikir
manusia

maupun

organisasi

manusia

dalam

upaya

menghadapi

kelangsungan hidup dan kehidupannya di masa yang akan datang.


Organisasi pendidikan sebagai salah satu dari organisasi besar
yang ada didunia juga menghadapi tantangan yang besar. Perubahan
global mengakibatkan perubahan pola pikir dan tujuan manusia dalam
mengupayakan pendidikan atas pendidikan atas dirinya maupun atas
lingkungan yang ada di sekitarnya. Tuntutan akan pendidikan tidak hanya
lagi sebatas akan memperoleh ijazah dan pengakuan dari lingkungan
sekitar, tetapi juga dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu hidup
seorang individu dalam menghadapi tantangan yang ada didepan yang
semakin berat.
Hal ini sebanding dengan adanya ketidakpuasan manusia yang
semakin tak terbatas.

Manusia semakin menyadari bahwa mereka

dapat mewujudkan semua yang mereka bayangkan dan inginkan hanya


jika

manusia

memperoleh

pendidikan

yang

tinggi

dan

dapat

memanfaatkan pendidikan yang diperolehnya dalam upaya meraih citacita, impian, harapan dan angan-angannya.
Upaya mewujudkan angan manusia yang tinggi akan pendidikan
ini, maka dibutuhkan organisasi pendidikan yang baik dan unggul dalam
rangka menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas dan mampu
menghadapi tantangan yang ada. Dibutuhkan pula organisasi pendidikan
yang terdiri atas stake holder yang saling bekerja keras dan berupaya
dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan cita-cita organisasi pendidikan
yang ada.
Untuk dapat mewujudkan organisasi pendidikan yang demikian,
dibutuhkan seorang pemimpin yang mumpuni dan mampu membawa
organisasi yang dipimpinnya untuk mewujudkan pendidikan yang sesuai
dengan tantangan yang dunia saat ini.

Pemimpin pendidikan yang

terdekat yang berada digaris depan pendidikan suatu bangsa adalah


kepala sekolah.

Pada saat ini dibutuhkan kepala sekolah yang tidak

hanya mampu memimpin sekolahnya dengan baik, tetapi pula seorang


kepala

sekolah

yang

mampu

membawa

sekolahnya

menghadapi

tantangan nyata dunia global dan mampu semua anggota organisasinya


untuk senantiasa siap menghadapi semua perubahan yang terjadi.

B. PERUMUSAN MASALAH
Dewasa ini banyak penelitian mengenai kepemimpinan pendidikan
yang telah dilakukan. Jika dibahas tentang kepemimpinan pendidikan,
maka haruslan dipahami bahwa dalam melaksanakan tugas tersebut

terdapat sesorang yang berfungsi sebagai pemimpin. Berkenaan dengan


hal tersebut, maka makalah ini akan membahas tentang beberapa hal,
antara lain :
1. Apakah pengertian kepemimpinan pendidikan?
2. Apakah gaya dan model kepemimpinan yang telah berkembang
sampai dengan saai ini ?
3. Apa sajakah perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan
dalam menghadapi tantangan global yang melanda dunia saai ini ?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan pengertian kepemimpinan pendidikan.
2. Menjelaskan gaya dan model kepemimpinan

yang

telah

berkembang sampai dengan saai ini.


3. Menjelaskan perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan yang
terjadi yang disesuaikan dengan tantangan global yang ada.

BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
1. Pengertian Kepemimpinan dan Pemimpin
Definisi kepemimpinan menurut Stogdill (1974) dalam
Husaini Usman1 menyebutkan bahwa (1) fokus pada kelompok, (2)
penerimaan

kepribadian

seseorang

(3)

seni

mempengaruhi

perilaku, (4) alat untuk mempengaruhi perilaku, (5) suatu tindakan


perilaku, (6) bentuk dari ajakan, (7) bentuk dari relasi yang kuat, (8)
alat untuk mencapai tujuan, (9) akibat dari interaksi, (10) peranan
yang diferensial dan (11) pembuat struktur.
Sedangkan menurut Yuki (1987) dalam buku yang sama
disebutkan bahwa kepemimpinan adalah :
a. Perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitasaktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingn dicapai
bersama (share goal)
b. Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah
pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu
c. Pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan
dan interaksi
d. Peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di
atas kepatuhan terhadap pengarahan-pengarahan organisasi
e. Proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok
yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan

1 Husaini Usman, Manajemen. Teori Praktik dan Riset Pendidikan,


(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), p. 273

f. Sebuah proses pemberian arti terhadap usaha kolektif, dan


yang mengakibatkan kesedian untuk melakukan usaha yang
diinginkan untuk mencapai sasaran
Menurut Sanusi (1989)2 kepemimpinan adalah penyatupaduan dari
kemampuan, cita-cita dan semangat kebangsaan dalam mengatur,
mengendalikan dan mengelola rumah tangga maupun organisasi
atau rumah tangga negara. Kepemimpinan dalam arti substantif
merujuk pada suatu kenyataan bahwa sesorang atau suatu sistem
mempunyai

kekuatan

dan

keberanian

dalam

menyatakan

kemampuan mental, organisasional, fisik, yang lebih besar dari


rata-rata umumnya, yang antara lain didukung oleh unsur-unsur
penting sebagai ways and means. Yang dimaknai sebagai way
and means adalah :
a. Kemampuan menciptakan, menjelaskan, dan menawarkan
gagasan-gagasan dalam tema-tema yang menarik, kreatif,
terbuka untuk diuji, lebih unggul dalam persaingan atau tawarmenawar dengan pihak lain
b. Kemampuan argumentasi dan mempertahankan pendirian
secara etis-rasional sehingga pihak lain termotivasi untuk
merundingkan

dan

mempertimbangkan

hingga

akhirnya

menerima pilihan yang diturunkan dari gagasan tadi.


c. Kemampuan mempengaruhi pihak lain dengan menggunakan
way of means yang paling sesuai sehingga semua pihak saling

2 Sanusi, A. Kapita Selekta Pembahasan Masalah Sosial dan


Pendidikan. (Bandung: FPS IKIP Bandung), p. 64.

bekerja sama dan satu kesatuan organisatoris menaati arahan


dan koordinasinya
d. Kemampuan mengendalikan bentuk-bentuk kerjasama yang
makin stabil dan prosesnya makin produktif, melalui pemilihan
personel yang monolit.
Sedangkan

menurut

C.A.Weber

dalam

bukunya

Fundamentals of Educational Leadership mengemukakan bahwa


kepemimpinan adalah suatu proses dimana sekumpulan manusia
dibujuk untuk melangkah maju untuk mencapai tujuan atau
sasaran.

Sedangkan Tead (1953: 28) menyatakan bahwa

Leadership is the process of helping the group to achieve goals


which seem desirable to the group.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing
suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan yang
diharapkan oleh kelompok tersebut. Dalam usaha untuk mencapai
tujuan bersama itu, pemimpin dan kelompok yang satu bergantug
pada pemimpin dan kelompok yang lainnya. Seseorang tidak akan
menjadi pemimpin jika terlepas dari kelompoknya. Setiap orang
sebagai

anggota

suatu

kelompok

dapat

memberikan

sumbangannya untuk kesuksesan kelompoknya.


Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki
beberapa implikasi yang diantaranya adalah :
a) Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu
para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau

bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari


pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau
bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga.
b) Pemimpin yang efektif adalah seseorang
kekuasaannya

mampu

menggugah

yang

dengan

pengikutnya

untuk

mencapai kinerja yang memuaskan. Menurut French dan Raven


(1968), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat
bersumber dari: (1) Reward power, yang didasarkan atas
persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan
dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada
bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.(2)
Coercive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan
bahwa

pemimpin

mempunyai

kemampuan

memberikan

hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan


pemimpinnya, (3) Legitimate power, yang didasarkan atas
persepsi
hak

bawahan

untuk

bahwa

menggunakan

pemimpin

pengaruh

dan

mempunyai
otoritas

yang

dimilikinya, (4) Referent power, yang didasarkan atas identifikasi


(pengenalan)
pemimpin
karakteristik

bawahan
dapat

terhadap

menggunakan

pribadinya,

sosok

pemimpin.

pengaruhnya

reputasinya

atau

Para
karena

karismanya,

(5) Expert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan


bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi
dan

mempunyai

keahlian

dalam

bidangnya.

Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan

atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku


bawahan dalam berbagai situasi.
c) Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri
(integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion),
pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan
keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan
orang lain (self confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan
orang lain (communication) dalam membangun organisasi.
Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan
manajemen

(management),

kedua

konsep

tersebut

berbeda.

Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh


Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang
benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan
secara tepat ("managers are people who do things right and leaders
are people who do the right thing, "). Kepemimpinan memastikan
tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan
manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien
mungkin
2. Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan pendidikan adalah kepemimpinan yang
dilakukan pada dunia pendidikan.

Dimana di dalam dunia

kependidikan yang dikenal lekat dengan kepemimpinan dalam


sekolah adalah kepala sekolah.

Salah satu kunci yang sangat

menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya


adalah kepala sekolah.

Keberhasilan kepala sekolah dalam

10

mancapai tujuannya secara dominan ditentukan oleh keandalan


manajemen sekolah yang bersangkutan.
manajemen

sekolah

sangat

Sedangkan keandalan

dipengaruhi

oleh

kapasitas

kepemimpinan kepala sekolahnya. Dalam lingkungan pendidikan,


peranan kepala sekolah dikenal dengan PEMASSLEC.
Kepemimpinan kepala sekolah

menurut teori terakhir

(Anonim, 2003) dalam Husaini Usman haruslah memiliki 25


kompetensi, yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v.
w.
x.
y.

Penyusunan program sekolah


Melakukan monitoring dan evaluasi
Manajemen kelembagaan
Kompetensi manajerial
Manajemen sarana dan prasarana
Pengembangan diri
Manajemen hubungan masyarakat
Wawasan kependidikan
Memahami sekolah sebagai suatu sistem
Manajemen tenaga kependidikan
Melakukan supervisi pendidikan
Manajemen kesiswaan
Memberdayakan sumberdaya yang ada
Manajemen waktu
Manajemen bimbingan dan konsultasi
Laporan Akuntabilitas Kenierja Sekolah (LAKIS)
Jiwa Kepemimpinan
Melakukan koordinasi semua unsur yang ada disekolah
Memahami budaya sekolah
Menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah
Sistem informasi sekolah
Pengambilan keputusan
Akreditasi sekolah
Manajemen keuangan
Memiliki dan melaksanakan kreativitas, inovasi dan jiwa
kewirausahaan.

3 Husaini. p. 338

11

B. GAYA, MODEL DAN TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN


1. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan pada dasarnya mengandung pengertian
sebagai suatu usaha perwujudan tingkah laku dari seorang
pemimpin, yang menyangkut kemampuan dalam memimpin.
Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk
tertentu. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Davis dan
Newstrong (1995) bahwa pola tindakan secara keseluruhan seperti
yang

dipersepsikan

oleh

bawahan

dikenal

sebagai

gaya

kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimping, pada


dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut 4:
a. Teori Keturunan (Genetis). Inti teori ini menyetakan bahwa
Leader are born and nor made.

Penganut aliran ini

manyatakan bahwa pemimping akan menjadi pemimping


karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Bahwa
seseorang akan ditempatkan karena telah menjadi takdirnya
menjadi pemimpin. Secara filosofis, pandangan ini tergolong
pada pandangan fasilitas datau deterministis.

4 Diambil dari Manajemen Kependidikan, download dari


www.masmamad.blogspot.com pada tanggal 1 Februari 2010.

12

b. Teori Sosial. Inti teori sosial adalah bahwa Leaders are made
and nor born.

Teori ini merupakan kebalikan dari teori

keturunan. Penganut teori ini menyatakan bahwa setiap orang


bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan
pengalaman yang cukup.
c. Teori Ekologis. Inti dari teori ekologis adalah bahwa seseorang
hanya akan berhasil menjadi pemimping yang baik apabila telah
memiliki bakat kepemimpinan.
melalui

pendidikan

yang

Bakat tersebut dikembangkan

teratur

dan

pengalaman

yang

memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini oleh


sebagian pihak dikatakan sebagai teori yang paling mendekati
kebenaran.
2. Model Kepemimpinan
Perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai
model-model kepemimpinan yang ada, antara lain :
a. Model

Watak

Kepemimpinan

(Traits

Model

of

Leadership)
Studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba
meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para
pemimpin,

seperti

misalnya:

kecerdasan,

kejujuran,

kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan


dalam

bergaul,

status

sosial

ekonomi

mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974). Stogdill


(1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor
pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut,

13

yaitu (1) kapasitas, (2) prestasi, (3) tanggung jawab,


(4) partisipasi, (5) status dan (6) situasi.

b. Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional


Leadership).
Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan
model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor
situasi

sebagai

kepemimpinan.

variabel
Kepemimpinan

penentu

kemampuan

situasional

mencoba

mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai


faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin
berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif
dan efisien. Model ini membahas aspek kepemimpinan lebih
berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya berdasarkan watak
kepribadian pemimpin. Hencley (1973) menyatakan bahwa
faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang
pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Menurut
pendekatan kepemimpinan situasional ini, seseorang bisa
dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada
situasi atau keadaan yang dihadapi. Hoy dan Miskel (1987),
menyatakan

bahwa

terdapat

empat

faktor

yang

mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu (1) sifat struktural

14

organisasi (structural properties of the organisation), (2) iklim


atau lingkungan organisasi (organisational climate), (3)
karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan (4)
karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Kajian
model

kepemimpinan

fenomena

situasional

kepemimpinan

lebih

dibandingkan

menjelaskan

dengan

model

terdahulu.
c. Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective
Leaders)
Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi
tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para
pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat
dikatagorikan

menjadi

kelembagaan

(initiating

(consideration).

dua

Dimensi

dimensi,

structure)
struktur

yaitu

dan

struktur

konsiderasi
kelembagaan

menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin


mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam
rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh
mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan
kelompok mereka. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para
pemimpin mencapai tujuan organisasi. Dimensi konsiderasi
menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan
kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh
mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi

15

bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan,


kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi
kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini
juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan
yang mengutamakan komunikasi dua arah, partisipasi dan
hubungan manusiawi (human relations). Halpin (1966),
Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku
pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang
tinggi terhadap dua aspek di atas. Mereka berpendapat
bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata
kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur, dan
mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik,
saling percaya, saling menghargai dan senantiasa hangat
dengan bawahannya. Secara ringkas, model kepemimpinan
efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang
efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek
organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya.
d. Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model)
Model kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya
pada

kecocokan

antara

karakteristik

watak

pribadi

pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional.


Model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian
pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel
situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria
kinerja

pemimpin

(Hoy

and

Miskel

1987).

Model

16

kepemimpinan

Fiedler

(1967)

disebut

sebagai

model

kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa


kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok
tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership
style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the
situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor
utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga
faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin.
Ketiga faktor tersebut adalah (1) hubungan antara pemimpin
dan bawahan (leader-member relations), (2) struktur tugas
(the task structure) dan (3) kekuatan posisi (position power).
Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan
sampai
dipercaya

sejauh

mana

pemimpin

itu

dan disukai oleh bawahan, dan kemauan

bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas


menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam
organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh
mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan
petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi
menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan
yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan
dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti
penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing.
Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana

17

pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memberikan


hukuman

dan

penghargaan,

pangkat (demotions).

promosi

dan

penurunan

Model kontingensi yang lain, Path-

Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin


ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin
dengan karakteristik situasi (House 1971). Menurut House,
tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 5
kelompok,

yaitu

kesejahteraan

(1)

menunjukkan

bawahan

dan

perhatian

menciptakan

terhadap
supportive

leadership, (2) iklim kerja yang bersahabat (friendly culture),


(3)

mengarahkan

bawahan

untuk

bekerja

sesuai

dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada


(directive

leadership),

bawahan

dalam

(4)

pengambilan

konsultasi
keputusan

dengan

(participative

leadership) dan (5) menentukan tujuan organisasi yang


menantang

dan

menekankan

perlunya

kinerja

yang

memuaskan (achievement-oriented leadership).


Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang
sangat

menentukan

efektifitas

pemimpin

adalah

karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan


internal

organisasi

seperti

misalnya

peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model


kepemimpinan

kontingensi

dianggap

lebih

sempurna

dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami

18

aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian


model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas
tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik
pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.

e. Model

Kepemimpinan

Transformasional

(Model

of

Transformational Leadership).
Model kepemimpinan transformasional merupakan model
yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns
(1978) merupakan salah satu penggagas yang secara
eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional.
Menurutnya, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik
tentang model kepemimpinan transformasional, model ini
perlu

dipertentangkan

dengan

model

kepemimpinan

transaksional. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada


otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi.
Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan
bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu
dilakukan
organisasi.

para

bawahannya

Disamping

itu,

untuk

mencapai

pemimpin

tujuan

transaksional

cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas


organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan
tanggung jawab mereka, para pemimpin transaksional
sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan
dan hukuman kepada bawahannya. Sebaliknya, Burns

19

menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional


pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu
memotivasi

para

bawahannya

untuk

melakukan

tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.


Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan,
mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi,
dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas
pemimpinnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa
"the dynamic of transformational leadership involve strong
personal identification with the leader, joining in a shared
vision of the future, or goingbeyond the self-interest
exchange

of

rewards

for

compliance".

Pemimpin

transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan


mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa
organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional
juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi
masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi
kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada
apa yang mereka butuhkan. Menurut Yammarino dan Bass
(1990), pemimpin transformasional harus mampu membujuk
para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi
kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi
yang lebih besar.
menyatakan

Yammarino dan Bass (1990) juga

bahwa

pemimpin

transformasional

20

mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik,


menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan
menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki
oleh

bawahannya.

Dengan

demikian,

seperti

yang

diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990), keberadaan


para

pemimpin

transformasional

mempunyai

efek

transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada


tingkat individu.
"Improving

Dalam buku mereka yang berjudul

Organizational

Effectiveness

through

Transformational Leadership", Bass dan Avolio (1994)


mengemukakan

bahwa

kepemimpinan

transformasional

mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the


Four I's", yaitu (1) Idealized influence (pengaruh ideal),
digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat
para

pengikutnya

menghormati
(2)

dan

sekaligus

mengagumi,
mempercayainya,

Inspirational motivation (motivasi inspirasi)

dimana

pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin


yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas
terhadap

prestasi

bawahan,

mendemonstrasikan

komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan


mampu menggugah semangat tim dalam organisasi melalui
penumbuhan entusiasme dan optimisme, (3) Intellectual
stimulation

(stimulasi

intelektual),

dimana

pemimpin

21

transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru,


memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahanpermasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan
motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatanpendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas
organisasi, dan (4) Individualized consideration (konsiderasi
individu), dimana pemimpin transformasional digambarkan
sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan
dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan
secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
bawahan akan pengembangan karir. Model kepemimpinan
transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang
terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros
dan

Butchatsky

transformasional

1996).
ini

Konsep

kepemimpinan

mengintegrasikan

ide-ide

yang

dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait),


gaya

(style)

kepemimpinan

dan

kontingensi,

transformasional

menyempurnakan

dan

juga

konsep

menggabungkan

konsep-konsep

terdahulu

dan
yang

dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya


Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns
1978).

Bryman

(1992)

menyebut

kepemimpinan

transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new


leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996)

22

menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough


leadership karena pemimpim semacam ini mempunyai
kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang
sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi
dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri
individu-individu

dalam

organisasi

ataupun

perbaikan

organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau


kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih
baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan
menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba
untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama
ini

dianggap

tidak

transformasional

mungkin

memahami

dilaksanakan.
pentingnya

Pemimpin
perubahan-

perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan


pekerjaan

mereka

diinginkannya.

dalam

Pemimpin

mencapai

hasil-hasil

transformasional

yang

mempunyai

pemikiran yang metanoiac, dan dengan bekal pemikiran ini


pemimpin transformasional mampu menciptakan pergesaran
paradigma

untuk

mengembangkan

praktek

praktek

organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih


relevan.

23

BAB III
PEMBAHASAN
A. KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN YANG EFEKTIF
Melihat teori tentang kepemimpinan di atas maka tugas seorang
pemimpin, terutama pemimpin pendidikan tidaklah mudah.

Seorang

pemimping haruslah memulai dari dirinya sendiri serta menganalisa dan


berusaha untuk memiliki sifat-sifat yang baik. Sifat-sifat kepemimpinan
para pemimpin yang bertanggung jawab dapat membantu anggota
kelompoknya di dalam memerangi sifat yang tidak diinginkan.
Perkembangan jaman yang ada pada saat ini mendorong
dilaksanakannya kepemimpinan yang demokratis. Hal ini sejalan dengan
nilai-nilai yang ada didalam falsafah hidup bangsa Indonesia, yaitu
Pancasila.

Dimana dalam suatu kepemimpinan pendidikan yang

demokratis, masalah partisipasi setiap anggota organisasi pada setiap


usaha dipandang sebagai kepentingan utama yang harus ditumbuhkan.
Pemimpin diharapkan dapat menumbuhsuburkan kesadaran setiap
anggotanya agar merasa rela dan ikut bertanggung jawab secara aktif
dalam

memikirkan

dan

memecahkan

masalah

masalah

yang

menyangkut perencanaan dan pelaksanaan program organisasi.


Keberhasilan seorang pemimpin dalam menimbulkan minat,
kemauan dan kesadaran bertanggung jawab pada setiap anggota
organisasinya

akan

menimbulkan

partisipasi

aktif

dan

akan

mengakibatkan adanya hubungan langsung maupun tidak langsung

24

dengan organisasi yang ada dan ini merupakan salah satu akibat dari
berlangsungnya fungsi kepemimpinan.
Partisipasi yang telah berkembang diantara anggota organisasi
haruslah ditingkatkan menjadi kerjasama yang dinamis dalam rangka
mencapai tujuan organisasi yang diharapkan sesuai dengan tanggung
jawab yang diemban oleh setiap anggota organisasi.

Timbulnya rasa

tanggung jawab ini disertai dengan kesadaran untuk menyukseskan


tujuan

organisasi,

dalam

hal

ini

sekolah

secara

bersama-sama.

Kerjasama untuk kepentingan bersama ini hendaknya berlangsung


seluas-luasnya dengan meliputi setiap anggota organisasi sekolah.
Menurut John. S. Brubacher dalam bukunya Modern Phylosophy of
Education

bahwa ukuran menilai kehidupan demokrasi dalam suatu

lembaga pendidikan adalah tingkat kerjasama antara guru dan murid


dalam suatu kelas pembelajaran, antara kelas satu dan lainnya, antara
kelas dengan keluarga peserta didik, antara sekolah dengan lembaga
keagamaan dan lembaga sosial lainnya yang mempengaruhi sekolah.
Kerjasama ini dilakukan dalam upaya mewujudkan tujuan sekolah yang
sudah ditetapkan.
Hubungan antara pemimpin dan anggotanya dalam organisasi
yang demokratis mengharuskan seorang pemimpin menjada penggerak
utama bagi terbinanya hubungan-hubungan sosial dan situasi yang
mendukung terwujudnya tujuan organisasi.
sebagai

majikan

terhadap

anggotanya

Pemimpin tidak berlaku


tetapi

sedapat

mungkin

5 Drs. R. Soekarto Indrafachrudi . Bagaimana Memimpin Sekolah Yang


Efektif.( Bogor: Ghalia. 2006).p.12

25

menempatkan diri sebagai sahabat terdekat bagi semua staf di sekolah.


Demikian pula dalam menjalin hubungan dengan lingkungan diluar
sekolah.
Jika dalam suatu sekolah telah tertanam adanya demokrasi, maka
seorang pemimpin pendidikan akan menjadi seorang pemimpin yang
efektif.

Seorang pemimpin yang efektif haruslah dapat mengatasi

keadaan yang dihadapinya. Menurut Wexley dan Yulk dalam Mohammad


Asad (1996)6 bahwa seorang pemimpin yang efektif haruslah mempunyai
kemampuan lebih tinggi daripada anggotanya dalam hal : (1) memiliki
kecerdasan yang cukup, (2) memiliki kemampuan berbicara, (3) memiliki
kepercayaan diri, (4) memiliki inisiatif, (5) memiliki motivasi berprestasi
dan (6) memiliki ambisi.
Berdasarkan teori kepemimpinan situasional yang dikemukaan oleh
Paul Hersey dan Ken Balnchard dinyatakan bahwa memahami tingkat
kematangan dari anggota-anggota suatu organisasi merupakan faktor
penting di dalam situasi menentukan keefektivitasan kepemimpinan.
Pengertian kematangan tidak merujuk pada pengertian umum seperti ciriciri dari keseluruhan perkembangan individu-individu atau kelompok,
tetapi

pengertian

kematangan

yang

ditujukan

kepada

tugas

spesifik/tertentu yang disajikan.


Teori ini berdasarkan pandangan bahwa kepemimpinan yang efektif
bergantung pada tingkat kematangan anggota yang dipimpin oleh seorang
pemimpin dalam melaksanakan suatu tugas tertentu. Disamping itu pula
tergantung

pada

kemauan

6 Husaini Usman. p. 281

pemimpin

dalam

menyesuaikan

sikap

26

orientasinya terhadap tugas pekerjaan tersebut dan hubungan prribadi


antar anggota dalam kelompok.

Beberapa hal yang perlu dipahami

seorang pemimpin dalam teori ini adalah :


a. Apabila kepemimpinan berorientasi pada tugas pekerjaan, maka
arahan hanya berasal dari pemimpin atau hanya terjadi komunikasi
satu arah, yang disebut sebagai gaya direktif.
b. Apabila kepemimpinan berorientasi pada hubungan dengan anak
buahnya, maka terjadi komunikasi dua arah antara pemimpin dan
anak buahnya, gaya ini adalah gaya demokrasi atau disebut juga
gaya suportif.
Proses kepemimpinan yang terjadi dalam kepemimpinan efektif adalah
sebagai berikut :
a. Jika anak buah semakin matang, maka seorang pemimpin
hendaknya mengurangi tingkat struktur tugas dan meningkatkan
perhatian terhadap orientasi hubungan pribadi didalam organisasi.
b. Jika anak buah sudah mencapai rata-rata kematangan, maka
pemimpin hendaknya mengurangi struktur tugas dan meningkatkan
hubungan dalam organisasinya.
c. Pemimpin mengembangkan anak buahnya sampai pada tingkat
kematangan penuh dan mengarahkan anak buahnya dalam
melaksanakan tugas dengan sikap mental yang matang pula.
Jika pada suatu tahapan, anak buah tidak lagi memerlukan dukungan
sosial dari pemimpin baik secara individu maupun kelompok, maka
seorang pemimpin mulai dapat mendelegasikan wewenangnya pada anak
buahnya. Hal ini akan menghasilkan kepuasan hati anak buahnya yang

27

pada gilirannya akan menghasilkan kepemimpinan yang efektif dan


membuat organisasi pendidikan akan berjalan dengan baik.

B. KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN TRANSFORMASIONAL


Kepemimpinan dengan pendekatan transformasi berkembang
dengan pesat pada beberapa terakhir ini. Kepemimpinan dengan gaya
transformasi ini menekankan pada pendekatan dari seorang pemimpin
untuk bagaimana merubah organisasi yang dipimpinnya menjadi sesuai
dengan harapan pemimpin dalam upaya mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan.
Menurut Anderson (1998) perilaku kepemimpinan transformasi
ialah visi, perencanaa, komunikasi dan tindakan kreatif yang memiliki efek
positif pada sekelompok orang dalam sebuah susunan nilai dan keyakinan
yang jelas, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan jelas dan
dapat diukur.
Pendekatan transforming dari seorang pemimpin dengan gaya
kepemimpinan transformasional akan berpengaruh secara simultan
terhadap perkembangan personal dan produktivitas usaha dari semua
pihak yang terkait.

Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan

transformasional juga dapat secara alamiah mentrasformasikan disi dan


sifat kepemimpinannya dalam suatu proses belajar memimpin yang
berkesinambungan, sehingga dapat memimpin dengan lebih baik.
Seorang pemimpin transformasional merupakan agen perubahan yang

28

positif, yang mempu mengubah lingkungan organisasi, kelompok maupun


pribadi disekitarnya menjadi lebih baik.
Tetapi sayangnya, banyak diantara pemimpin pendidikan yang
belum dapat memenuhi sebagai pemimpin transformasional.

Banyak

pemimpin pendidikan yang belum mampu memenuhi salah satu dari lima
ketranpilan yang dibutuhkan dalam gaya kepemimpinan transformasional,
yang diantaranya: (1) manajemen diri (mempunyai ketrampilan personal),
(2) komunikasi interpersonal, (3) pembimbingan dan manajemen masalah,
(4) tim dan pengembangan organisasi dan (5) luwes dalam gaya, peran
dan ketrampilan.
Kepemimpinan merupakan suatu proses yang meliputi rangkaian
beberapa kegiatan yang saling berkaitan antara satu dan lainnya.
Rangkaian dari suatu kepemimpinan transformasional adalah 7:
1. Merencanakan. Tahapan ini mebutuhkan imajinasi, kreativitas dan
pemahaman terhadap sejarah berdirinya kelompok atau organisasi
sehingga kesempatan atau kegiatan di masa mendatang dapat
dispesifikasi dan dijabarkan dengan akurat dan realistis. Perkiraan
ini juga haruslah dapat didasari dan dapat memenuhi kebutuhan
manusia.
2. Perencanaan: Visi yang telah ditangkap dapat segera dibuat
dengan menentukan misi, strategi, tempat dan waktu palaksanaan
yang

terbaik

dan

melaksanakannya.
pertemuan

menentukan
Dalam

kelompok

orang

kegiatan

dalam

sesi

yang

ini

paling

dapat

tepat

melibatkan

brainstroming,

7 Terry D. Anderson, Transforming Leadership, (New York: St. Lucie


Press, 1998). pp 124 - 148

sesi

29

pengembangan kelompok, resolusi konflik dan negoisasi.

Agar

dalam merencanakan dapat berhasil, maka semua pihak yang


terkait harus mau menerima dan bersikap antusias terhadap
rencana yang disajikan.
3.
Pengelompokan: Dalam proses perencanaan harus juga
memasukan tujuan tujuan kongkret dan langkah langkah
pelaksanaan program dengan jangka waktu pencapaian tujuan
yang realistis. Pemberian tanggung jawab secara selektif pada
setiap orang membutuhkan tim yang bekerja secara harmonis dan
produktif yang dapat diperoleh dengan menenpatkan orang pada
kelompok yang tepat, memberikan tugas yang sesuai dengan
kekuatan dan keinginan mereka, mendukung mereka baik secara
emosional maupun fisik sejalan dengan proses pelaksanaan
tanggung jawab.
4. Memotivasi tindakan; Apabila semua pihak dapat menerima
rencana yang telah dibuat, maka setiap orang harus memotivasi
diringan baik karena alasan internal maupun alasan eksternal
secara

berkesinambungan

agar

rencana

tersebut

dapat

dilaksanakan sesuai dengan perkiraan dan waktu yang telah


ditentukan.

Sistempenghargaan perlu diadakan dan dinilai

sehingga motivasi tersebut tetap menantang dan tinggi. Motivasi


akan mengacu kepada aspek paling tinggi dalam kehidupan suatu
organisasi, yaitu adanya tindakan.
5. Mengevaluasi: Evaluasi terhadap hasil suatu usaha perubahan
merupakan usaha yang penting. Ini penting dilakukan dalam upaya
peningkatan

perencanaan

dan

menentukan

kesuksesan

30

selanjutnya.

Rencana yang dibuat secara cermat dengan

mengidentifisikasi

pencapaian

akan

semakin

ealuasi.
6. Mendaur Ulang Proses melalui Evaluasi:

mempermudah
Secara periodik,

setelah pelaksanaan evaluasi, maka langkah langkah dalam


rangkaian proses ini perlu didaur ulang kembali sehingga tidak
timbul asumsi asimsu yang salah mengenai bagaimana suatu
kegiatan dilaksanakan. Organisasi akan berpijak pada kenyataan
dan potensi perubahan yang positif dengan melakukan pengkajian
ulang terhadap visi, menformulasi dan menegoisasikan kembali
rencana rencana baru pada periode berikutnya.
Dengan memahami dan menggunakan ketrampilan model perilaku
kepemimpinan transformasional serta melaksanakan rangkaian kegiatan
di atas, maka terdapat 12 prinsip yang menjadi inti (core) dari seorang
pemimpin transformasional, yaitu :
1. Semua orang dalam keadaan apapun mempunyai pengaruh baik
ataupun buruk terhadap orang lain dan situasi yang ada
2. Dengan mengamati perubahan yang ada akan membuat seorang
pemimpin senantiasa waspada terhadap kenyataan akan adanya
kesempatan dan kejadian positif dan negatif.

Meningkatkan

kewaspadaan kita terhadap orang dan kejadian akan sangat


berguna bagi setiap orang
3. Setiap orang boleh memilih untuk mencoba dan membuat
perubahan yang positif setiap saat
4. Penggunaan kekuasaan secara positif dan bertanggung jawab
serta pengaruh sangat penting dalam menciptakan kepemimpinan

31

yang efektif. Dengan adanya kesadaran seorang pemimpon atas


kekuatannya, pengambilan posisi yang strategis, melakukan
kerjasama

dengan

orang

yang

satu

pemikiran,

serta

mengkomunikasikan kekuasaan dalam cara yang positif akan


membantu untuk mencapai tujuan utama
5. Segala hal brmula dari inisiatif seseorang.

Secara probadi dan

tersembunyi setiap orang menentukan dalam diri mereka masing


masing

hal

hal

yang

memperlakukan orang lain.


6. Kepemimpinan dalam arti

akan
yang

dilakukan
lebih

dan

bagaimana

mendalam

adalah

pemahaman dan pemenuhan kebutuhan utama dari orang yang


sedang dipimpin.

Dalam upaya

peningkatan inovasi dan

produktivitas dari tujuan yang akan dicapai, perlu diperhatikan


kebutuhan

tiap individu akan pengakuan, penghargaan dan

pencapaiannya untuk mendorong motivasi dan kepuasan.


7. Kepemimpinan transformasional memiliki komponen moral yang
sangat penting dalam segala aspek kepemimpinan.
8. Kepemimpinan transformasional selalu memahami dan melibatkan
orang lain sehingga tercapai rasa saling memiliki dan saling
menghormati serta mempercayai.

Hal ini akan berkaibat

peningkatan motivasi, moral, kreativitas, energi dan produktivitas.


9. Selalu terdapat kesempatan bagi pemimpin di segala lingkungan,
interaksi, situasi dan setiap saat. Hal ini bertujuan untuk membuat
perubahan yang positif dalam perkembangan organisasi dan
individu untuk tujuan yang lebih spesifik.
10. Kepemimpinan
transformasional
memiliki
perkembangan jangka panjang

pengaruh

dan

32

11. Kepemimpinan transformasional bermula dari keyakinan dan


struktur nilai seseorang. Tujuan dan misi hidup yang penting bagi
kepemimpinan perlu untuk dipertahankan.
12. Kepemimpinan transformasional selalu terbuka akan potensi
pemahaman lain yang lebih mendalam.

33

BAB IV
PENUTUP
Esensi dari kepemimpinan transformasional adalah pembagian
kekuasaan dengan melibatkan bawahan secara bersama sama untuk
melakukan perubahan.

Dimana dalam merumuskan suatu perubahan

biasanya digunakan pendekatan transformasional yang manusiawi


dengan lingkungan kerja yang partisipasif dengan model manajemen yang
kolegial yang penuh keterbukaan dan keputusan diambil secara bersama
sama. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang
mampu menciptakan perubahan yang mendasar dan dilandasi oleh nilai
nilai agama, sistem dan budaya untuk menciptakan inovasi dan kreativitas
pengikutnya dalam rangka mencapai visi yang telah ditetapkan.
Implementasi kepemimpinan dalam bidang pendidikan sangat perlu
sekali diterapkan seperti kepala sekolah, kepala dinas ataupun pada
jajaran yang lainnya.

Model kepemimpinan ini merupakan salah satu

solusi dari krisis kepemimpinan dalam bidang pendidikan. Tetapi yang


perlu diingat dalam implementasi kepemimpinan transformasional di dunia
pendidikan tetap harus memperhatikan: (1) mengacu pada nilai nilai
agama yang ada dalam sekolah/lembaga pendidikan, (2) disesuaikan
dengan nilai nilai yang terkandung dalam sistem sekolah, (3) menggali
budaya yang berlaku disekolah, dan (4) memperhatikan sistem pendidikan
yang lebih besar, seperti sistem pendidikan nasional.

34

DAFTAR PUSTAKA
Anderson , Terry D., Transforming Leadership,New York: St. Lucie Press,
1998.

Indrafachrudi, Soekarto . Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Efektif.


Bogor: Ghalia. 2006.

Sanusi, A. Kapita Selekta Pembahasan Masalah Sosial dan Pendidikan.


Bandung: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung, 2006.

Usman, Husaini, Manajemen. Teori Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi
Aksara, 2008.

Diambil
dari
Manajemen
Kependidikan,
download
dari
www.masmamad.blogspot.com pada tanggal 1 Februari 2010