Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN

PRAKTIKUM HISTO EMBRIOLOGI


PERCOBAAN 2 - PENGAMATAN SUMBAT VAGINA HAMSTER

Disusun oleh :
Nama

MEGA

NIM

F05112051

Semester

VI (B) -REG A

Kelompok

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015

A. Tujuan
Mengamati adanya sumbat vagina pada hamster
B. Dasar Teori
Struktur reproduksi eksternal betina adalah klitoris, dan dua pasang labia
yang mengelilingi klitoris dan lubang vagina. Sedangkan organ reproduksi
internal terdiri dari sepasang gonad dan sebuah sistem yang terdiri dari duktus dan
ruangan untuk menghantarkan gamet dan menampung embrio dan fetus. Gonad
betina (ovarium) berada di dalam rongga abdomen, dan bertaut melalui
mesenterium ke uterus. Masing-masing ovarium terbungkus dalam kapsul
pelindung yang keras dan mengandung banyak folikel. Folikel terdiri atas satu sel
telur yang dikelilingi oleh satu atau lebih lapisan sel-sel folikel. Sel-sel folkel juga
menghasilkan hormon seks utama betina yaitu estrogen (Campbell, 2004).
Manusia dan banyak primata lain mempunyai siklus menstruasi, sementara
mamalia lain mempunyai siklus estrus. Siklus ini berdasarkan perubahan berkala
pada ovarium, yang terdiri dari 2 fase, yaitu folikel dan lutein. Fase folikel
merupakan fase pembentukan folikel sampai masak, sedangkan fase lutein adalah
fase setelah ovulasi sampai ulangan berikutnya dimulai (Yatim, 1994).
Ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus itu setelah endometrium
mulai menebal dan teraliri banya darah, karena menyiapkan uterus untuk
kemungkinan implantasi embrio. Satu perbedaan antara kedua jenis siklus itu
melibatkan nasib lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus
menstruasi, endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina
dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus,
endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang
banyak (Campbell, 2004).
Hewan yang sedang berada pada puncak estrus mengalami dorongan yang
kuat tapi singkat untuk kawin. Sebelum dan sesudah periode estrus yang singkat
itu, hewan tidak memiliki dorongan seksual. Pada tingkat fisik, siklus estrus
mempersiapkan saluran reproduksi betina untuk kopulasi. Pada estrus tidak terjadi
perkebangan lapisan uterus yang rumit seperti pada siklus menstruasi. Jika terjadi

fertilisasi, penebalan dinding Rahim macam apapu yang disiapkan untuk sel telur
akan diserap kembali ke dalam tubuh. Peristiwa-peristiwa siklus estrus dapat
dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan ; pada sejumlah hewan, pelepasan
ovum tergantung pada kopulasi (Fried, 2006).
Terdapat pembagian siklus estrus berdasarkan banyak sedikitnya siklus
yang terjadi selama satu tahun. Hewan yang hanya memiliki satu siklus estrus
dalam satu tahun misalnya srigala, rusa dan rubah disebut monoestrus. Apabila
terjadi lebih dari satu siklus estrus setiap tahunnya disebut sebagai poliestrus.
Hewan-hewan yang mengalami poliestrus misalnya kuda, kambing dan kera
rhesus (Austin dan Short, 1984). Pada tikus dan mencit, siklus estrusnya termasuk
poliestrus hanya saja ketika hewan tersebut menyusui maka aktivitas seksual
seolah-olah juga terhenti dan pada waktu itu disebut lactational diestrus (Karlina ,
2003).
Perbedaan utama lainnya meliputi perubahan perilaku yang lebih jelas
terlihat selama siklus estrus dibandingkan dengan siklus menstruasi, dan pengaruh
musim dan iklim yang lebih kuat pada siklus estrus. Sementara seorang
perempuan bisa reseptif terhadap aktivitas seksual sepanjang siklus, sebagian
besar mamalia hanya akan berkopulasi selama periode di sekitar ovulasi.
Frekuensi siklus reproduksi sangat bervariasi di antara mamalia. Lama siklus
menstruasi pada manusia rata-rata 28 hari , siklus estrus tikus hanya 5 hari
(Campbell, 2004).
Estrus yang dikenal dengan istilah birahi yaitu suatu periode secara
psikologis maupun fisiologis pada hewan betina yang bersedia menerima pejantan
untuk kopulasi. Siklus estrus dibagi menjadi beberapa fase yang dapat dibedakan
dengan jelas yang disebut proestrus, estrus, metestrus dan diestrus (Frandson,
1996).
Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda
secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus.
Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa

berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka hewan betina akan
menolak (Adnan, 2010).
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam ovarium dan vagina yang
ditunjukkan oleh preparat vaginal smear menurut Partodihardjo (1980), Austin
dan Short (1984) serta Bowen (1998) adalah sebagai berikut:
1. Proestrus
Proestrus adalah fase persiapan dan biasanya berlangsung dalam waktu
yang relatif pendek. Pada fase ini juga mulai terlihat perubahan pada alat kelamin
betina. Pada ovarium terlihat pertumbuhan folikel sampai pada ukuran
maksimum. Pada fase ini juga terjadi LH surge

yang dibutuhkan untuk

mengimbas ovulasi. Pada preparat vaginal smear ditemukan sel-sel peralihan,


yaitu peralihan dari sel-sel parabasal dan sel-sel intermediet menuju sel superfisial
2. Estrus
Estrus merupakan fase yang terpenting dalam siklus estrus, karena dalam
fase ini hewan betina menunjukkan perilaku mau menerima hewan jantan untuk
melakukan kopulasi. Perubahan yang terjadi pada ovarium yaitu dimulainya
pemasakan bagi folikel yang telah dimulai pertumbuhannya pada fase proestrus.
Dengan demikian folikel pada fase estrus adalah folikel yang telah siap untuk
diovulasikan. Pada tikus ovulasi terjadi pada pertengahan fase estrus. Gambaran
preparat vaginal smear pada fase ini ditandai dengan ditemukannya banyak selsel superfisial. Sel superfisial adalah sel terbesar yang dapat dllihat dalam vaginal
smear, berbentuk poligonal dan terlihat sangat pipih. Nukleus terkadang tidak
ditemukan atau ditemukan tetapi sangat kecil dan gelap

(piknotik). Sel-sel

superfisial yang tanpa inti tersebut seringkali mengalami kornifikasi. Pada fase
ini terkadang juga ditemukan leukosit dalam jumlah yang sangat sedikit.
Fase estrus merupakan periode birahi dan kopulasi hanya dimungkinkan
pada saat ini. Keadaan ini pada tikus berakhir 9 sampai 15 jam dan ditandai
dengan aktifitas berlari-lari yang sangat tinggi (Turner dan Bagnara, 1988). Austin
dan Short (1984) menjelaskan bahwa pada fase ini hewan-hewan menunjukkan

perubahan perilaku. Saat ini betina-betina tersebut menjadi sangat menarik bagi
pejantan. Hewan yang sedang berada dalam fase estrus tersebut juga mau
menerima rangsangan dari hewan jantan, bahkan kadang-kadang merekalah yang
mencari pejantan-pejantan tersebut.
3. Metestrus
Metestrus adalah fase dalam siklus estrus yang terjadi segera setelah estrus
berakhir. Dalam ovarium terjadi pembentukan korpus hemoragikum pada tempat
folikel de Graaf yang baru saja melepaskan ovum. Banyak leukosit muncul dalam
lumen vagina dengan sedikit sel-sel superfisial
4. Diestrus
Diestrus adalah fase dalam siklus estrus yang ditandai tidak adanya
kebuntingan, tidak adanya aktivitas kelamin dan hewan menjadi tenang. Dalam
permulaan fase diestrus korpus hemoragikum mengkerut karena di bawah lapisan
hemoragik ini tumbuh sel-sel kuning yang disebut luteum. Diestrus adalah fase
yang terlama diantara fase-fase lain dalam siklus estrus.
Pada fase ini terjadi penurunan jumlah sel-sel superfisial pada preparat
vaginal smear dan mulai munculnya sel-sel parabasal yaitu sel epitel terkecil
yang apat ditemukan pada vaginal smear dengan bentuk bulat atau agak bulat.
Sel-sel parabasal mempunyai inti yang besar. Selain itu juga dapat ditemukan
adanya sel-sel intermediet yang mempunyai bentuk beragam dan ukurannya
biasanya dua sampai tiga kali lebih besar dari sel parabasal.
(Rizar, 2014).

Tahap yang mengawali proses perkembangan hewan setelah gametogenesis


adalah fertilisasi. Proses ini mempertemukan kedua macam gamet dan sekaligus
mempertahankan jumlah kromosom anakan tetap diploid seperti induknya. Proses
perkawinan pada mamalia melibatkan perilaku seksual yang khas yang
dikendalikan oleh hormon seks. Selain itu, hormon seks juga mempengaruhi
siklus reproduksi pada hewan betina. Hewan betina pada umumnya menjadi
reseptif terhadap hewan jantan pada saat berada pada tahap atau masa estrus.

Setelah diketahui bahwa mencit betina berada pada tahap atau masa estrus, maka
mencit betina dipelihara dalam satu kandang dengan seekor mencit jantan agar
terjadi perkawinan. Mencit betina yang bunting dipisahkan dari mencit jantan dan
dipelihara hingga melahirkan. Fertilitas betina diamati berdasarkan jumlah
implantasi dan jumlah anakan (Adnan, 2010).

C. Metodologi
1. Waktu dan Tempat
Tanggal
: Rabu,25 Maret 2015
Waktu
: 10.00-11.30 WIB
Tempat: Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Untan
2. Alat dan Bahan
Bahan :
Hamster betina
Hamster Jantan
Cotton bud
3. Cara Kerja
a.Satukan mencit betina yang sudah siap kawin dengan mencit jantan.
b.
Keesokan harinya (12jam) ambil mencit betina, kemudian
pegang dengan tangan kiri, ibu jari dan telunjuk memegang
tengkuknya atau leher dorsal. Dengan jari tengah, jari manis, dan
kelingking memegang badan dan ekor.
c.Amati ada tidaknya sumbat pada vagina hamster betina

D. Hasil Pengamatan

Tidak ada sumbat vagina hamster


E. Pembahasan
Praktikum Pengamatan Sumbat Vagina Hamster dilakukan pada hari
Rabu tanggal 26 Maret 2015 di laboratorium Pendidikan Biologi. Pertama-tama
atukan mencit betina yang sudah siap kawin dengan mencit jantan. Keesokan
harinya (12jam) ambil mencit betina, kemudian pegang dengan tangan kiri, ibu
jari dan telunjuk memegang tengkuknya atau leher dorsal. Dengan jari tengah, jari
manis, dan kelingking memegang badan dan ekor. Amati ada tidaknya sumbat
pada vagina hamster betina.
Untuk pengamatan apusan vagina, yang dilakukan sebelumnya menurut
Soeminto (2008) dilakukan untuk mengamati tipe sel dari masing-masing fase
dalam siklus estrus.
Dari hasil pengamatan, diketahui hamster betina yang digunakan sedang
mengalami fase proestrus. Dimana pada fase tersebut ditandai dengan adanya sel
epitel biasa yang berbentuk bulat. Menurut Rizar (2014), Proestrus adalah fase
persiapan dan biasanya berlangsung dalam waktu yang relatif pendek. Pada fase
ini juga mulai terlihat perubahan pada alat kelamin betina. Pada ovarium terlihat
pertumbuhan folikel sampai pada ukuran maksimum. Pada fase ini juga terjadi LH
surge yang dibutuhkan untuk mengimbas ovulasi. Pada preparat vaginal smear
ditemukan sel-sel peralihan, yaitu peralihan dari sel-sel parabasal dan sel-sel
intermediet menuju sel superfisial.
Pada Pengamatan sumbat vagina hamster, yang bertujuan untuk
mengamati adanya sumbat vagina pada hamster betina dimana disatukan dengan

hamster jantan pada pukul 18.00 WIB kemudian dibiarkan selama 12 jam dengan
tujuan memberi waktu untuk terjadinya perkawinan pada kedua hamster tersebut.
12 jam setelahnya yaitu pukul 06.00 WIB dilihat ada tidaknya sumbat vagina pada
hamster. Dari hasil pengamatan diketahui tidak ada sumbat pada vagina hamster.

Hal ini menandakan bahwa hamster belum memasuki fase estrus dimana menurut
Yatim (1994) pada masa inilah betina siap menerima jantan, dan pada saat ini pula
terjadi ovulasi.
F. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Pengamatan Siklus Estrus Hamster yaitu
pada siklus estrus terdapat 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui hamster betina yang digunakan sedang
mengalami fase proestrus. Dimana pada fase tersebut ditandai dengan adanya sel
epitel biasa yang berbentuk bulat yang merupakan fase persiapan.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan


Biologi Fmipa UNM.
Campbell, N.A. 2004. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Fried, George H. dan Hademenos, George J. 2006. Schaums Outlines Biologi


Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.
Karlina. 2003. Siklus Estrus dan Struktur Histologis Ovarium. (online).
(eprints.uns.ac.id/10088/1/67282106200910351.pdf)

diakses

tanggal

30

Maret 2015.
Rizar, Muhammad, dkk. 2014. Siklus Estrus Induk Kambing Peranakan Boer F1
dengan Perlakuan Penyapihan Dini pada Masa Post Partum. Jurnal Bio
Tropika Vol. 2 No: 2.
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.

Anda mungkin juga menyukai