Anda di halaman 1dari 8

PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN

A.
PSIKOLOGI KOMUNIKATOR
Laswell (1948) menyebutkan komunikasi sebagai who says what channel
to whom whit what effect. Untuk what channel to whom with what
effect sudah dibahas pada materi sebelumnya. Pada psikologi
komunikator ini kita akan membahas who sayssedangkan what akan kita
bahas pada psikologi pesannya.
Who says berarti siapa yang berbicara, artinya ketika komunikator
berkomunikasi yang berpengaruh bukan saja apa yang ia katakan, tetapi
juga keadaan dia sendiri, ia tidak dapat menyuruh pendengar
memperhatikan apa yang ia katakan. Kadang kadang siapa lebih penting
dari apa.
Aristoteles menyebut karakter komunikator ini
sebagai ethous. Ethous terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak yang
baik ( good moral character), dan maksud yang baik ( good will).
Dimensi dimensi ethos.
Ethos atau faktor faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikator
terdiri atas:
1.
Kredibilitas
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat sifat
komunikator. Karena kredibilitas itu masalah persepsi, kredibilitas berubah
bergantung pada pelaku persepsi (komunikate), topik yang dibahas, dan
situasi. Oleh karena itu, ia dapat berubah atau diubah,dapat terjadi atau
dijadikan. Sedangkan komponen komponen kredibilitas adalah keahlian
dan kepercayaan. Keahlian berarti kesan yang dibentuk oleh komunikate
tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang
dibicarakan. Kepercayaan berarti kesan komunikate tentang komunikator
yang berkaitan dengan wataknya. Kemudian Koehler, Annatol, dan
Applbaum (1978 : 144-147) menambahkan empat komponen lagi yaitu ;
1) Dinamisme, 2) Sosiabilitas, 3) Koorientasi dan, 4) karisma.
2.
Atraksi (Atractioness)
Faktor faktor situasional yang mempengaruhi atraksi interpersonal
adalah daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan, dan kemampuan. Kita
cenderung menyenangi orang orang yang tampan atau cantik, yang
banyak kesamaannya dengan kita dan memiliki kemampuan yang lebih
tinggi dari kita.
3.
kekuasaan
Dalam kerangka teori Kelman, kekuasaan adalah kemampuan
menimbulkan ketundukan. Jenis jenis kekuasaan menurut French dan
Raven yang telah di modifikasi Raven (1974)
a.
kekuasaan koersif (Coersive power), kekuasaan koersif menunjukan
kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau
memberikan hukuman pada komunikate.
b.
Kekuasaan keahlian (Expert Power), kekuasaan ini berasal dari
pengetahuan, pengalaman, ketrampilan atu kemampuan yang dimiliki
komunikator.
c.
Kekuasaan Informasi (Informational power), kekuasaan ini berasal
dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh
komunikator.

d.
Kekuasaan rujukan (Referent power), komunikate menjadikan
komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya.
e.
Kekuasaan legal (Legitimate power), kekuasaan ini berasal dari
seperangkat aturan atau norma yang menyebabkan komunikator
berwewenang untuk melakukan suatu tindakan.
Menurut Herbert C.Kelman (1975) pengaruh komunikasi kita pada orang
lain berupa tiga hal :
1.
Internalisasi, hal ini terjadi bila orang menerima pengaruh karena
perilaku yang di anjurkan itu sesuai dengan sistem nilai yang dimilikinya.
Dimensi ethos yang paling relevan disini adalah kredibilitas, keahlian
komunikator atau kepercayaan kita pada komunikator.
2.
Identifikasi, hal ini terjadi bila individu mengambil perilaku yang
berasal dari orang atau kelompok lain karena perilaku itu berkaitan
dengan hubungan yang mendefinisikan diri secara memuaskan dengan
orang atau kelompok itu. Dimensi ethos yang paling relevan dengan
identifikasi ialah atraksi (attractiveness) daya tarik komunikator.
3.
Ketundukan (Compliance), hal ini terjadi bila individu menrima
pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh
reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok tersebut. Dimensi
ethos yang paling relevan dengan ketundukan adalah kekuasaan.

B.
PSIKOLOGI PESAN
Seorang Psikolinguistik dari Rockefeller University, George A. Miller pernah
menulis :Kini ada seperangkat perilaku yang dapat megedalikan pikiran
dan tindakan orang lai secara perkasa. Teknik pengendalian ini dapat
menyebabkan Anda melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Anda
tidak dapat melakukannya tanpa adana teknik itu. Teknik itu dapat
mengubah pendapat dan keyakinan, dapa digunakan untuk menipu anda
dapat membuat anda gembira dan sedih, dapat memasukkan gagasangagasan baru ke dalam kepala Anda, dapat membuat anda menginginkan
sesuatu yang tidak Anda miliki. Anda pun bahkan dapat menggunakannya
untuk mengendalikan diri Anda sendiri. Teknik ini adalah alat yang luar
biasa perkasanya dan dapat digunakan untuk apa saja. (miller, 1974: 4)
Teknik ini tidak ditemukan oleh psikolog, tidak berasal dari pemberian
mahluk halus, tidak juga diperoleh secara para psikologis atau lewat ilmu
klenik. Teknik ini telah dimiliki bahasa. Dengan bahasa, yang merupakan
kumpulan kata-kata, anda dapat mengatur perilaku orang lain.
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu.
Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita
sebut paralinguistic. Akan tetapi, manusia juga menyampaikan pesan
dengan cara-cara lai selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat; ini
disebut
pesan ekstralinguistik. Pesan paralinguistik dan ekstralinguistik akan kita
uraikan dalam satu bagian yang kita sebutPesan nonverbal. Selanjutnya
kita akan membicarakan struktur dan imbauan pesan.
1.
Pesan Linguistik

Ada dua cara mendefinisikan bahasa : fungsional dan formal. Definisi


fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan
sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan
gagasan (socially shared means for expressing ideas). Definisi formal
menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang
dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa (all the conceivable
sentences that could be generated according to the rules of its grammar).
Tata bahasa meliputi tiga unsur : fonologi, sintaksis, dan semantic.
Menurut George A.Miller (1974:8), untuk mampu menggunakan bahasa
tertentu, kita harus menguasai ketiga tahap pengetahuan bahasa di atas,
di tambah dua tahap lagi.
Pada tahap pertama, kita harus memiliki informasi fonologis tentang
bunyi-bunyi dalam bahasa itu.
Tahap Kedua, Kita harus memiliki pengetahuan sintaksis tentang cara
pembentukan kalimat.
Tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau
gabungan kata-kata.
Pada tahap keempat,kita harus memiliki pengetahuan konseptual
tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan.
Tahap kelima kita harus mempunyai semacam system kepercayaan
untuk menilai apa yang kita dengar.
Bagaimana kita dapat berbahasa ?
Penemuan Victor menunjukan bahwa bila dipisahkan dari lingkungan
manusia, seorang anak tidak memiliki kemampuan bicara. Sebaliknya,
kita melihat anak yang dibesarkan didalam masyarakat manusia, pada
usia 4 tahun sudah bisa berdialog denga kawan-kawannya dalam bahasa
ibunya. Dalam berbahasa, Psikologi membagi kedalam 2 teori yaitu : teori
belajar dari behaviorisme dan teori naratisme dari Noam Chomsky.
Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa
melalui tiga proses : asosiasi, imitasi, dan peneguhan. Asosiasi berarti
melazimkan suatu bunyi dengan obyek tertentu. Imitasi berarti menirukan
pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya. Peneguhan
dilaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak
mengucapkan kata-kata yang benar. Psikolog dari Harvad, B.F.Skinner
menerapkan ketiga prinsip ini ketika ia menjelaskan tiga macam respons
yang terjadi pada anak-anak kecil, yang disebutnya sebagai respons
mand, tact, dan echoice. Respons mand dimulai ketika anak-anak
mengeluarkan bunyi sembarangan. Respons tact terjadi bila anak
menyentuh objek, kemudian secara sembarangan ia mengeluarkan
bunyi. Respons echoic terjadi ketika anak menirukan ucapan orang tuanya
dalam hubungan dengan stimuli tertentu.
Menurut ahli bahasa dari Massachuset Institute Technology ini, teori
belajar hanyalah play acting at sicience, suatu penjelasan yang sama
sekali tidak tepat tetapi dibungkus dengan istilah-istilah yang bernada
ilmiah.
Menurut Chomsky, setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa
karena adanya pengetahuan bawaan (preexistent knowledge) yang telah
deprogram secara genetic dalam otak kita. Teori perkembangan mental
dari Jean Piaget memperkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya

struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada


tahap-tahap tertentu pada perkembangan mental anak-anak.
Bahasa dan Proses Berpikir
Secara singkat teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang
dunia dibentuk oleh bahasa ; dan karena bahasa berbeda, pandangan kita
tentang dunia pun berbeda pula. Secara selektif, kita menyaring data
sensori yang masuk seperti yang telah deprogram oleh bahasa yang kita
pakai. Dengan begitu masyarakat yang menggunakan bahasa yang
berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.
Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep-konsep dalam suatu bahasa
cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu.
Ada bahasa yang dengan mudah dapat dipergunakan untuk memikirkan
masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai
bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang
sederhana.
Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan
objek-objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa kita
mengabstraksikan pengalaman kita, dan yang lebih penting
mengkomunikasikan kepada orang lain. pemikiran yang tinggi
bergantung pada manipulasi lambing, kata Morton Hunt (1982:227), dan
walaupun lambang-lambang nonlonguistik seperti matematika dan seni
sudah canggih, lambang-lambang itu sempit. Sebaliknya, bahasa
merupakan pemikiran. Bahasa adalah prasyarat kebudayaan, yang tidak
dapat tegak tanpa itu dengan sistem lambang yang lain. Dengan bahasa,
kita, manusia, mengkomunikasikan kebanyakan pemikiran kita kepada
orang lain dan menerima satu sama lain hidangan pikiran (food for
thought).
Kata-kata dan Makna
Konsep makna telah menarik menarik perhatian komunikasi, psikologi,
sosiologis, antropologis, dan linguistic. Banyak antara makna penjelasan
tentang makna terlalu kabur dan spekulatif kata Jerold katz (1973:42).
Brodbeck (1963) meenjernihkan pembicaraan dengan membagi makna
pada tiga corak.
1.
Makna yang pertama adalah makna inferensial, yakni makna satu
kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh
kata tersebut. Dalam uraian Ogden dan Richards (1946), proses
pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan
lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau
referent). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan.
2.
Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah
sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep lain. Fisher memberi contoh
dengan kata pholigoston. Kata ini dahulu dipakai untuk menjelaskan
proses pembakaran. Benda bernyala Karena ada pholigoston. Kini, setelah
ditemukan Oksigen, pholigoston tidak berarti lagi.
3.
Makna ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang
dimaksud oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak dapat divalidasi
secar empiris atau dicari rujukannya.
Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau
kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme, isoformisme terjadi bila

komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang


sama, pendidikan yang sama, ideology yang sama ; pendeknya,
mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada
kenyataannya tidak ada isoformisme total. Selalu tersisa ada makna
perorangan.
Teori General Semantics
Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik, kata
pengikut general semantics. General semantics tidak menjelaskan proses
penyandian, tetapi ia menujukkan karakteristik bahasa yang mempersulit
proses ini. Peletak dasar teori ini adalah Alferd Korzybski, pemain pedang,
insinyur, spion, pelarian, ahli matematika, psikiater, dan akhirnya ahli
bahasa.
Korzybski melambangkan asumsi dasar teori general semantics : bahasa
seringkali tidak lengkap mewakili kenyataan; kata-kata hanya menangkap
sebagian saja aspek kenyataan. Berikut ini nasihat Korzybski, dua bersifat
perintah dan dua larangan.
1)
Berhati-hati dengan Abstraksi
Bahasa menggunakan Abstraksi. Abstraksi adalah proses memilih unsurunsur realitas untuk membedakannya dari unsur-unsur yang lain. Katakata yang digunakan berada pada tingkat abstraksi yang bermacammacam. Abstraksi menyebabkan cara-cara penggunaan bahasa yang
tidak cermat. Tiga buah diantaranya adalah: dead level abstracting,
undue identification, Two-valued evaluation. Abstraksi kaku, terjadi bila
kita berhenti pada tingkat abstraksi tertentu Two-valued evaluation,
penilaian dua nilai, pemikiran kalu begini begitu ialah kecenderungan
menggunakan hanya dua kata untuk melukiskan keadaan.
2)
Berhati-hati dengan Dimensi Waktu
Bahasa itu statis, sedangkan realitas itu dinamis. Umtuk mengatasi ini
general semantics merekomendasikan dating(penanggalan).
3)
Jangan Mengacaukan Kata dengan Rujukannya
Hubungan antara kata dengan rujukannya tidak semena-mena. Kata itu
bukan rujukan, kata hanya mewakili rujukan. Karena kita sering
mengacaukan kata dengan rujukan, kita juga cenderung menganggap
orang lain mempunyai rujukan yang sama untuk kata-kata yang kita
ucapkan.
4)
Jangan Mengacaukan Pengalaman dengan Kesimpulan.
Ketika melihat fakta, kita membuat pernyataan untuk melukiskan fakta
itu. Pernyataan itu kita sebut sebagai pengalaman. Kita
menarikkesimpulan itu. Pernyataan itu kita sebut pengamata. Kita
menarik kesimpulan bila menghubungkan hal-hal yang diamati dengan
sesuatu yang tidak teramati. Dalam pengamatan kita menghubungkan
lambang dengan rujukan. Dalam kesimpulan kita menggunakan
pemikiran. Pengamatan dapat diuji, diverifikasi karena itu menggunakan
kata-kata abstraksi rendah. Penyimpulan tidak dapat diuji secara empiris
karena itu menggunakan kata-kata berabstraksi tinggi.
2.
Pesan Nonverbal
Orang mengungkapkan penghormatan kepada orang lain dengan cara
yang bermacam-macam. Orang Arab menghormati orang asing dengan
memeluknya. Orang-orang Polinesia menyalami orang lain dengan saling

memeluk dan mengusap punggung. Orang Jawa menyalami orang yang


dihormatinya dengan sungkem, Orang Jawa duduk bersial menyambut
kedatangan orang yang mulia; orang belanda malah berdiri tegak. Tepuk
tangan, pelukan, usapan, duduk, dan berdiri tegak adalah pesan
nonverbal yang menerjemahkan gagasan, keinginan, atau maksud yang
terkandung dalam hati kita.
Fungsi Pesan Nonverbal
Betapapun kekurangannya-seperti disindir Korzybski dan kawan-kawanbahasa telah sanggup menyampaikan informasi kepada orang lain. Dalam
hubungannya dengan bahasa, mengapa pesan nonverbal masih
dipergunakan? Apa fungsi peran nonverbal?Mark L.Knapp (1972:9-12)
menyebutkan lima fungsi nonverbal 1.) Refetisi-mengulang kembali
gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya, setelah saya
menjelaskan penolakansaya, saya menggelengkan kepala berkali-kali,(2)
Subtitusi-menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa
sepatah katapun anda berkata. Anda dapat menunjukkan persetujuan
denagn mengangguk-angguk, (3) Kontradiksi-menolak pesan verbal atau
memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya, anda
memang hebat, (4) Komplemen- melengkapi dan memperkaya makna
pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat
penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata,(5) Aksentuasimenegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinnya. Misalnya, anda
mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul mimbar.
Organisasi Pesan
Aristoteles, dalam buku klasik tentang komunikasi De Arte Rhetorica,
menerangkan peranan taxsis dalam memperkuat efek pesan persuasive.
Yang dimaksud dengan taxsis adalah pembagian atau rangkaian
penyusunan pesan. Ia menyarankan agar setiap pembicaraan disusun
menurut urutan: pengantar, pertanyaan, argument, dan kesimpulan. Pada
tahun 1952, Beighley meninjau kembali berbagai penelitian yang
,membandingkan efek pesan yang tersusun dengan pesan yang tidak
tersusun. Ia menemukan bukti yang nyata yang menunjukkan bahwa
pesan yang diorganisasikan dengan baik lebih mudah dimengerti dari
pada pesan yang tidak tersusun dengan baik.
Alan H.Monroe pada akhir tahun 1930-an. Menyarankan lima langkah
dalam penyusunan pesan,dan kemudian urutan ini disebut dengan
motivated sequence:
1.
attention (perhatian)
2.
need (kebutuhan)
3.
satisfaction (pemuasan)
4.
visualization (visualisasi)
5.
action (tindakan)
Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain,rebutlah lebih dahulu
perhatiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk
bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya
keuntungan dan kerugian apa yang akan diperolehnnya bila ia
menerapkan atau tidak menerapkan gagasan anda, dan akhirnya
doronglah dia untuk bertindak.
Sturuktur Pesan

Bayangkan Anda harus menyampaikan informasi di hadapan khalayak


yang tidak sefaham dengan anda. Anda harus menentukan apakah bagian
penting dari argumentasi anda yang harus didahulukan atau bagian yang
kurang penting. Ataukah kita harus membiarkan hanya argumentargument yang menunjang kita saja atau harus membicarakan yang pro
dan kontra sekaligus.untuk menjawab sekaligus pertanyaan yang pertama
banyak penelitian telah dilakukan disekiotar konsep primacy-recency.
Koehler et al.(1978:170-172), dengan mengutip Cohen, menyebutkan
kesimpulan penelitian tersebut sebagai berikut:
1)
Bila pembicara menyajikan dua sisi persoalan (yang pro dan kontra),
tidak ada keuntungan untuk berbiacara yang pertama, karena berbagai
kondisi(waktu, khalayak, tempat dan sebagainnya) akan menentukan
pembicara yang paling berpengaruh..
2)
Bila pendengar secara terbuka memihaksatu sisi argument, sisi
yang lain tidak mungkin mengubah posisi mereka. Sikap nonkompromistis
ini mungkin timbul karena kebutuhan untuk mempertahankan harga diri.
Mengubah posisi akan membuat orang kelihatan tidak konsisten, mudah
dipengaruhi dan bahkan tidak jujur.
3)
Jika pembicara menyajiakan dua sisi persoalan, kita biasanya lebih
mudah dipengaruhi oleh sisi yang disajikan lebih dahulu. Jika ada kegiatan
diantara penyajian, atau jika kita diperingati oleh pembicara tentang
kemungkinan disesatkan orang, maka apa yang dikatakan terakhir akan
lebih banyak memberikan efek. Jika pendengar tidak tertarik pada subjek
pembicaraan kecuali setelah menerima informasi tentang hal itu, mereka
akan sukar mengingat dan menerapkan informasi tersebut. Sebaliknya,
jika mereka sudah tertarik pada suatu persoalan , mereka akan
mengigatnya baik-baik dan menerapkannya.
4)
Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan yang dikehendaki.
Atau yang diterima disajikan sebelum gagasan yang kurang dikehendaki.
Jika pada awal penyajian, komunikator menyampaikan gagasan yang
menyenagkan kita, kita akan cenderung dan memperhatikan dan
menerima pesan-pesan berikutnya. Sebaliknya, jika ia memulai dengan
hal-hal yang tidak menyenagkan kita, kita akan menjadi kristis dan
cenderung menolak gagasan berikutnya, betapapun baiknya.
5)
Urutan pro-kon efektif fari pada urutan kon-pro bila digunakan oleh
sumber yang memiliki otoritas dan dihormati oleh khalayak.
6)
Argumen yang terakhir didengar akan lebih efektif bila ada jangka
waktu cukup lama di antara dua pesan, dan pengujian segera terjadi
setelah pesan kedua.
Imbauan Pesan (Message Appeals)
Bila pesan-pesan kita dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka
kita harus menyentuh motif yang menggerakan atau mendorong prilaku
komunikate. Dengan perkataan lain, kita secara psikologis mengimbau
khalayak untuk menerima dan melaksanakan gagasan kita. Dalam uraian
kita yang terakhir ini, kita akan membicarakan imbauan rasional, imbauan
emosional, imbauan takut, imbauan ganjaran dan imbauan motivasional.
Imbauan rasional didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada
dasarnya makhluk rasional yang baru bereaksi pada imbauan rasional,
bila imbauan rasional tidak ada. Menggunakan imbauan rasional artinya

menyakinkan orang lain dengan pendekatan logis atau penyajian buktibukti.


Imbauan emosional menggunakan persyaratan persyaratan atau bahasa
yang menyentuh emosi komunikate. Imbauan takut menggunakan pesan
yang mencemaskan, mengancam, atau meresahkan. Imbauan ganjaran
menggunakan rujukan yang menjanjikan komunikate sesuatu yang
mereka perlukan atau yang menjanjikan komunikate Sesuatu yang
mereka perlukan atau yan mereka inginkan. Imbauan motivasional
menggunakan imbauan motif (motive appeals) yang menyentuh kondisi
intern dalam diri manusia.