Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sakit perut pada bayi dan anak, baik akut maupun kronik, sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari yang bervariasi dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
Lokasi sakit perut dapat terlokalisir di suatu tempat, tetapi dapat pula diseluruh perut,
bahkan dapat menjalar ke tempat lain. Rasa sakit dapat pula hanya berupa nyeri tumpul
(dull pain), bagaikan ditusuk-tusuk atau disayat-sayat, dapat pula seperti dililit (kolik),
yang tidak jarang menyebabkan penderita sampai berguling-guling. Penyebabnya dapat
bermacam-macam, mulai yang berasal dari dalam perut sendiri atau di luar perut, bahkan
ada pula yang di luar tubuh.1
Secara individual setiap anak memiliki toleransi yang berbeda terhadap nyeri
intra abdominal, karena itu nyeri abdomen harus ditanggapi walaupun penyebab yang
pasti sulit diketahui. Sifat dan tempat lesi yang menimbulkan nyeri biasanya dapat
ditentukan dari deskripsi klinis rasa nyeri didalam perut.2
Bayi dan anak-anak sampai umur 2 tahun, belum dapat mengutarakan nyeri yang
dialaminya, sehingga menimbulkan persoalan mengenai tanda-tanda yang dapat dianggap
sebagai manifestasi nyeri pada bayi dan anak tersebut.
Sakit perut berulang merupakan gejala yang paling sering dialami oleh anak-anak
diseluruh dunia dan menyebabkan tingginya tingkat absensi anak di sekolah serta
penggunaan sumber daya kesehatan. Kondisi yang tidak kunjung membaik dan
mengganggu menimbulkan ketidakpastian diagnosis, kronisitas dan tingginya kecemasan
orangtua. Hal inilah yang menyebabkan manajemen oleh dokter umum maupun spesialis
anak menjadi sangat sulit, menghabiskan banyak waktu dan mahal. 3 Di indonesia data
pasti mengenai kejadian sakit perut berulang pada anak masih belum ada sedangkan di
Inggris kejadian pada anak sekolah 10-15% dan Amerika utara sebesar 20%.4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Nyeri perut adalah nyeri yang dirasakan di antara dada dan regio inguinalis. Nyeri
perut bukanlah suatu diagnosis, tapi merupakan gejala dari suatu penyakit. Sakit perut
berulang didefinisikan sebagai serangan sakit perut yang berlangsung minimal 3 kali
selama paling sedikit 3 bulan dalam kurun waktu 1 tahun terakhir dan mengganggu
aktivitas sehari-hari.1,4,5
2.2 Epidemiologi
Sakit perut biasanya terjadi pada anak usia 5 hingga 14 tahun, sementara
frekuensi tertinggi pada usia 5-10 tahun. Apley menemukan bahwa nyeri perut terjadi
pada 10-12% anak laki-laki usia 5-10 tahun dan menurun setelah usia itu. Anak
perempuan cenderung lebih sering menderita sakit ini dibandingkan anak laki-laki
(Perempuan : Laki-laki = 5:3). Sakit perut ini jarang terjadi pada anak di bawah usia 5
tahun dan di atas 15 tahun. Kelainan organik sebagai penyebab sakit perut berulang
terdapat pada 5-15,6% kasus sedangkan 80% kasus disebabkan kelainan fungsional
saluran cerna. Dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan alat-alat kedokteran
terutama endoskopi dan diketahuinya penyakit gastroduodenum yang disebabkan
Helicobacter pylori , maka diperkirakan makin banyak kelainan organik yang dapat
ditemukan. Pada anak dibawah 4 tahun sebagian besar penyebabnya adalah organik,
sedangkan pada anak besar kelainan fungsional saluran cerna merupakan penyebab
terbanyak.6
2.3 Etiologi
Etiologi sakit perut akut biasanya dibagi menurut usia ataupun menurut perlunya
tindakan bedah atau tidak, ataupun menurut asalnya.
Pada bayi/anak di bawah usia 2 tahun, penyebab sakit perut yang memerlukan
tindakan bedah, ada yang berasal dari dalam abdomen seperti perforasi tukak lambung,
obstruksi usus karena intususepsi, volvulus dan malrotasi, ada pula yang berasal dari luar

perut seperti hernia inguinalis dengan strangulasi dan inkarserasi, apendisitis dan
enterokolitis nekrotikan.3
Sedangkan pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun, penyebab sakit perut dari
dalam abdomen bisa karena obstruksi, peradangan, trauma dan perdarahan. Sakit perut
akibat obstruksi usus akibat perlekatan atau volvulus dan malrotasi serta terjadinya
perforasi akibat obstruksi usus. Peradangan yang dapat mengakibatkan sakit perut yaitu
apendisitis, peritonitis primer, peritonitis akibat perforasi divertikulum meckeli, perforasi
ulkus duodeni atau perforasi akibat demam tifoid, divertikulosis meckeli, kolesistitis
dengan/ tanpa batu empedu dan megakolon toksik dengan perforasi. Trauma seperti
ruptura limpa, buli-buli atau organ visera yang lain dan hematoma subserosa serta
pendarahan ke dalam kista ovarium, merupakan penyakit-penyakit dari dalam abdomen
yang menimbulkan sakit perut. Penyebab lain yang juga bisa mengakibatkan sakit perut
yaitu pada daerah tropis ditemukan perforasi yang berhubungan dengan askariasis,
strongiloidiasis, perforasi abses amuba. Torsio testis dan hernia inguinalis dengan
strangulasi dan inkarserasi menjadi penyebab sakit perut yang berasal dari luar abdomen.3
Penyebab non-bedah sakit perut akut pada bayi/anak di bawah usia 2 tahun yang
berasal dari dalam abdomen yaitu infeksi intestinal yang disebabkan Salmonella,
Shigella, Campylobacter, dll. Sedangkan penyebab dari luar abdomen adalah pneumonia
dan infeksi traktus urinarius. 3
Pada anak di atas usia 2 tahun penyebab sakit perut yang tidak memerlukan
tindakan bedah juga ada yang berasal dari abdomen dan luar abdomen. Penyebab dari
intestinal, biasanya karena infeksi yang disebabkan oleh salmonella, shigella dan yersinia
enterocolitica, keracunan makanan karena toksin Staphylococcus, penyakit crohn, kolitis
ulseratif, kolitis amuba, purpura henoch-schonlein, obstipasi, sickle cell anemia, adenitis
mesentrika, dan ileus mekonium. Penyebab yang berasal dari hati dan percabangan bilier
yaitu Hepatitis A dan B, mononukleosis infeksiosa dan kolelitiasis. Sakit perut karena
penyakit dari pankreas seperti pankreatitis akut karena infeksi, trauma, akibat lesi bilier
dan idiopatik. Sedangkan penyebab sakit perut dari renal adalah infeksi traktus urinarius,
batu dan nefritis. Penyebab karena metabolik seperti porfiria, hiperlipidemia,
ketoasidosis diabetik, familial mediterranean fever. Dan penyebab karena masalah
ginekologis adalah salpingitis.3

Sementara itu penyebab sakit perut pada anak usia diatas 2 tahun ini yang berasal
dari luar abdomen adalah pneumonia, limfadenitis inguinalis, osteomielitis (vertebrae,
pelvis), hematoma otot abdomen, herpes zoster dan kompresi saraf spinal.3
Pada sakit perut berulang, beberapa ahli mencoba untuk mengelompokkan sakit
perut berulang pada beberapa golongan. Konsep pertama yaitu konsep klasik yang
membagi sakit perut berulang kedalam dua golongan, yaitu organik dan psikogenik
(fungsional dan psikosomatik). Pada anak dibawah umur 2 tahun, gejalanya sering
dikaitkan dengan penyebab organik. Namun pada anak yang lebih besar, hanya 10 %
kasus yang disebabkan oleh penyebab organik.3
Konsep kedua diajukan oleh Barr, yaitu membagi menjadi tiga kelompok, yaitu
organik, disfungsional dan psikogenik. Nyeri organik disebabkan oleh suatu penyakit.
Nyeri disfungsional disebabkan oleh berbagai variasi normal dan dibagi ke dalam dua
kategori, yaitu sindrom nyeri spesifik (mekanisme penyebab nyeri diketahui) dan
sindrom nyeri non spesifik (mekanisme penyebab nyeri tidak jelas dan tidak diketahui).
Nyeri psikogenik disebabkan oleh tekanan emosional atau psikososial tanpa adanya
kelainan organik.3
Konsep ketiga diajukan oleh Levine dan Rappaport, yang menekankan adanya
penyebab multifaktorial. Sakit perut berulang merupakan resultan dari empat faktor yaitu
(1) predisposisi somatik, disfungsi atau penyakit, (2) kebiasaan dan cara hidup, (3) watak
dan pola respon dan (4) Lingkungan dan peristiwa pencetus. Faktor-faktor tersebut
berperan meningkatkan atau meredakan rasa sakit.3
2.3.1 Peran Helicobacter pylori terhadap sakit perut pada anak
Helicobacter pylori adalah bakteri yang dapat berkoloni pada saluran cerna
manusia dan merupakan salah satu penyebab ulkus duodenum dan gaster, atau salah satu
faktor penyebab keganasan lambung. Infeksi didapatkan secara per oral dan sebagian
besar ditularkan antar anggota keluarga pada saat masa anak-anak. Prevalensi
Helicobacter pylori pada anak berkisar antar 30-80% dan di negara maju diperkirakan
sebesar 10%. Kuman

ini ditemukan hampir di seluruh dunia. Prevalensi infeksi

bervariasi menurut umur, latar belakang, etnik dan status sosioekonomi. Pada negara

berkembang 70-90% populasi pada gasternya terdapat kuman ini, dan sebagian besar
mendapatkan infeksinya saat usia kurang dari 10 tahun.2,7 Infeksi Helicobacter pylori
dilaporkan dalam beberapa studi memiliki peranan dalam terjadinya sakit perut berulang.
Dalam penelitian yang dilakukan Iqbal a.memon dkk didapatkan bahwa 31% penderita
mempunyai nilai serologis terhadap kuman ini positif.8
2.3.1.1 Patogenesis
Mukosa gaster sebenarnya sangat terlindungi dari infeksi bakteri. Tetapi kuman
Helicobacter pylori sangat pandai melakukan adaptasi terhadap hal ini, dengan caranya
yang unik, yaitu dapat masuk ke dalam lapisan mukus, kemudian melakukan
perlengketan dengan sel epitel, evasi respon imun, dan akhirnya terjadi kolonisasi dan
transmisi persisten.9
Setelah masuk gaster, bakteri ini harus melawan aktivitas asam untuk masuk ke
lapisan mukus. Faktor-faktor virulen yang memungkinkan organisme beradaptasi dengan
lingkungan lambung adalah produksi amonia yang diperantarai urease untuk
menetralisasi pH asam, morfologi spiral dan flagella yang memungkinkannya menembus
lapisan mukosa protektif dan menahan peristaltik, dan adhesin yang memungkinkan
organisme melekat pada epitel gastrik. Faktor virulen lain adalah produksi sitotoksin dan
mediator radang.7,9
2.3.1.2 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis infeksi H.pylori pada anak sebagian besar asimptomatis atau
memperlihatkan gejala saluran cerna yang tidak spesifik. Manifestasi utama infeksi
Helicobacter pylori

yang bergejala adalah gastritis, ulkus peptikum dan kemungkinan

keganasan karsinoma lambung. Keluhan lain yang sering disampaikan oleh anak adalah
nyeri di daerah epigastrium, terbangun pada malam hari, dan sering muntah. Sakit perut
berulang pada anak dianalogikan dengan dispepsia non-ulkus pada orang dewasa.
Gastritis sering memperlihatkan keluhan sakit perut berulang pada anak. Oleh karena itu,
sakit perut berulang pada anak oleh beberapa peneliti dianggap sebagai gejala klinis yang
berhubungan dengan infeksi H.pylori. 30% anak dengan sakit perut berulang ditemukan

bakteri H.pylori dalam antrumnya, sedangkan hanya 10% anak yang ditemukan bakteri
H.pylori didalam korpusnya.7
Walaupun Helicobacter pylori

ditemukan pada 50-80% orang dewasa dengan

ulkus lambung, perannya pada ulkus lambung pada anak tidak jelas. Tanda klinis
penyakit ulkus peptikum pada anak bervariasi. Tanda klasik nyeri epigastrik yang
diperburuk dengan puasa dan berkurang dengan makan tidak lazim pada anak yang lebih
muda, walaupun tanda ini ditemukan pada anak yang lebih tua dan remaja. Kurang dari
20% anak dengan penyakit ulkus peptikum mengalami hematemesis dan melena.
Helicobacter pylori ditemukan pada 25% anak dengan ulkus lambung dan 86% pada
ulkus duodenum.7
2.3.1.3 Diagnosis
Metode non invasif
Tes serologi merupakan teknik non-invasif pertama yang dipakai untuk
mendeteksi anti Helicobacter pylori IgG pada serum penderita. Adanya infeksi mukosa
lambung karena Helicobacter pylori terjadi peningkatan spesifik kadar IgG dan IgA
dalam serum dan peningkatan kadar sekretori IgA dan IgM dalam perut. Dengan tes ini
kita dapat mendeteksi paparan bakteri ke host tetapi kita tidak dapat mendeteksi secara
pasti adanya infeksi yang sedang berlangsung. Kadar antibodi menetap dalam darah
dalam jangka waktu panjang sehingga masih dapat dideteksi meskipun sudah diobati.
Uji C-urea nafas didasarkan pada kenyataan bahwa kuman Helicobacter pylori
memproduksi urease yang memecah urea menjadi amonia dan CO2. Uji C-urea napas
merupakan ui diagnostik yang reliabel dan merupakan pilihan pertama dan dapat
digunakan sebagai evaluasi terapi. Kedua cara ini mempunyai nilai sensitivitas dan
spesifisitas 98-100%.7,9,10
Stool antigen test adalah pemeriksaan enzimatik (ELISA) yang dapat
mengidentifikasikan antigen Helicobacter pylori

pada feses. Stool antigen test terdiri

dari metode poliklonal dan monoklonal untuk mendeteksi infeksi juga untuk monitoring
pasca terapi Helicobacter pylori. Keuntungan pemeriksaan Stool antigen adalah

membedakan infeksi aktif Helicobacter pylori

dengan paparan, pemeriksaan non-

invasif, penderita lebih nyaman lebih murah daripada metode lain, mendeteksi antigen
secara langsung, dapat digunakan sebagai alat untuk monitoring sebelum dan sesudah
terapi dan akurasi >95%.7,9,10
Uji antibodi urine yang mengandung antibodi Helicobacter pylori pada anak-anak
memiliki sensitifitas 94,4% dan spesifisitas 96,9% dan keakuratan 96%, dari beberapa
studi yang mengevaluasi anak-anak dengan uji C-urea nafas dan uji ELISA positif.10
Metode invasif
Pemeriksaan endoskopi direkomendasi untuk dikerjakan pada kasus dengan gejala
saluran cerna atas yang dicurigai suatu kelainan organik dan bila ditemukan Helicobacter
pylori pada pemeriksaan endoskopi, maka pasien harus segera mendapat terapi.
Endoskopi merupakan tindakan untuk mendapatkan jaringan untuk pemeriksaan
histologi, biakan, atau uji urease. PCR juga digunakan sebagai uji diagnostik cepat untuk
Helicobacter pylori, spesimen dari PCR dapat diambil dari spesimen biopsi, asam
lambung, saliva.7,9,10
2.4 Manifestasi klinik
Sakit perut pada anak biasanya mempunyai durasi dan intensitas yang berbeda
walaupun nyerinya biasa berlokasi di periumbilikal nyeri pada daerah yang jauh dari
umbilikus tidak menyingkirkan kemungkinan itu adalah sakit perut berulang.3 Sakit yang
dirasakan bisa terjadi siang ataupun malam dan sakit yang dirasakan sering kali
dihubungkan dengan reaksi yang berlebihan seperti tangan yang melilit perut atau bahkan
menjatuhkan diri.11
Pada bayi dan anak manifestasi klinik sakit perut tergantung pada umur penderita.
Pegangan yang dipakai untuk mengatakan seorang bayi atau anak sakit perut dapat dilihat
pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Manifestasi kli nis sakit perut pada anak berdsarkan umur :3
0-3 bulan

Umumnya digambarkan dengan adanya muntah

3 bulan 2 tahun

Muntah, tiba-tiba menjerit, menangis tanpa adanya trauma yang dapat


menerapkannya

2 tahun 5 tahun

Dapat mengatakan sakit perut tetapi lokalisasi belum tepat

> 5 tahun

Dapat menerangkan sifat dan lokalisasi sakit perut

Anak dengan sakit perut akut biasanya terlihat sangat sakit, menangis, keringat
dingin, dengan posisi meringkuk atau membungkuk seperti ingin melindungi perutnya
dengan memendekkan otot rektus abdominalis. Disamping sakit perut kadang-kadang ada
pula gejala-gejala lainnya yang menyertai seperti nausea, muntah, anoreksia, diare dan
panas.3
2.5 Patofisiologi
Sakit perut akut atau berulang umumnya mempunyai 5 sumber, yaitu visera perut,
organ lain di luar perut, lesi pada medula spinalis, gangguan metabolik, dan
psikosomatik:3
Reseptor rasa sakit di dalam traktus digestivus terletak pada saraf yang tidak
bermielin yang berasal dari sistim saraf otonom pada mukosa usus. Jaras saraf ini disebut
sebagai serabut saraf C yang dapat meneruskan rasa sakit lebih menyebar dan lebih lama
dari rasa sakit yang dihantarkan dari kulit oleh serabut saraf A.3
Reseptor nyeri pada perut terbatas di submukosa, lapisan muskularis dan serosa
dari organ di abdomen. Serabut C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju ke
ganglia pre dan paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia. Impuls aferen akan
melewati medula spinalis pada traktus spinotalamikus lateralis menuju ke talamus,
kemudian ke konteks serebri.3
Impuls aferen dari visera biasanya dimulai oleh regangan atau akibat penurunan
habat ambang nyeri pada jaringan yang meradang. Nyeri ini khas bersifat tumpul, pegal,
dan berbatas tak jelas serta sulit dilokalisasi. Impuls nyeri dan visera abdomen atas
(lambung, duodenum, pankreas, hati, dan sistem empedu) mencapai medula spinalis pada
segmen thorakalis 6,7,8 serta dirasakan didaerah epigastrium. Impuls nyeri yang timbul

dari segmen usus yang meluas dari ligamentum Treitz sampai fleksura hepatika
memasuki segmen Th 9 dan 10, dirasakan di sekitar umbilikus. Dari kolon distalis, ureter,
kandung kemih, dan traktus genitalia perempuan, impuls nyeri mencapai segmen Th 11
dan 12 serta segmen lumbalis pertama. Nyeri dirasakan pada daerah supra publik dan
kadang-kadang menjalar ke labium atau skrotum. Jika proses penyakit meluas ke
peritorium maka impuls nyeri dihantarkan oleh serabut aferen stomatis ke radiks spinals
segmentalis.3
Penyebab metabolik seperti pada keracunan timah dan porfirin belum jelas
patofisiologi dan patogenesisnya. Patofisiologi sakit perut berulang yang fungsional
(tidak berhubungan dengan kelainan organik) masih sulit dimengerti. Diperkirakan ada
hubungan antara sakit perut berulang fungsional dengan penurunan ambang rangsang
nyeri. Berbagai faktor psikologik dan fisiologik dapat berperan sebagai mediator dari
sakit perut berulang fungsional.12
Faktor yang berperan dalam sakit perut berulang terdiri dari faktor psikologik dan
fisiologik. Faktor psikologik dapat terjadi karena stress, depresi, ikatan keluarga, operant
condition, somatisasi sedangkan faktor fisiologik yaitu adanya intoleransi, dismotilitas
usus, konstipasi, ketidakstabilan otonom.3
Juga diketahui ada hubungan yang kuat antara sakit perut berulang fungsional
dengan tipe kepribadian tertentu, yaitu sering cemas/gelisah, dan selalu ingin sempurna.
Pada anggota keluarga lainnya juga sering ditemukan kelainan psikosomatik seperti
migrain, kolon iritabel.3
2.6 Patogenesis3
1. Gangguan vaskuler. Emboli atau trombosis, ruptur, okulasi akibat torsi atau
penekanan. Kejadian ini misalnya, terjadi pada putaran kista ovarium dan jepitan
usus pada inavaginasi.
2. Peradangan. Peradangan organ di dalam organ peritonium menimbulkan rasa
sakit

bila

proses

peradangan

telah

mengenal

peritoneum

parietalis.

Mekanismenya sama seperti peradangan pada umumnya yang disalurkan melalui


persyarafan somatik.

3.

Gangguan pasase. Gangguan pasase atau obtruksi organ yang berbentuk


pembuluh, baik yang terdapat di dalam rongga peritoneal atau pun
retroperitoneal. Bila pasase dalam saluran-saluran tersebut terganggu akan timbul
rasa sakit akibat tekanan intra lumen yang meninggi di bagian proksimal
sumbatan. Sakit dirasakan hilang timbul atau terus menerus dengan punyak nyeri
yang hebat (kolik).

4. Penarikan, peregangan dan pembentangan peritoneum viseralis. Dalam


prakteknya, keempat mekanisme timbulnya sakit perut jarang ditemukan sendirisendiri, tapi umumnya merupakan proses campuran.
2.7 Kriteria Diagnosis
Pendekatan diagnosis sakit perut pada anak masih merupakan suatu masalah
karena kriteria diagnosis yang digunakan belum seragam, terutama untuk nyeri perut non
organik. Kriteria diagnosis nyeri perut yang banyak digunakan saat ini adalah kriteria
Rome III. Komite Rome III mengatakan bahwa kriteria Rome II terbatas dalam beberapa
hal, yaitu:13
1. Kurangnya bukti dalam sub-pembagian sakit perut fungsional yang menjelaskan
mengenai

gejala

yang

lebih

menonjol

yang

dapat

membantu

dalam

mengidentifikasi patofisiologi. Hal ini menyebabkan sensitifitas dan spesifisitas


kriteria Rome II lebih rendah daripada kriteria Rome III.
2. Penjelasan kriteria Rome II untuk sakit perut fungsional lebih luas.
3. Analisis faktor terhadap gejala sakit perut fungsional yang berhubungan dengan
makanan tidak di perhitungkan dalam kriteria Rome II.
Kriteria diagnosis gangguan fungsional gastrointestinal pada anak-anak menurut kriteria
Rome III
G. Functional disorders : neonates and toddlers
G1. Infant regurgitation
G2. Infant rumination syndrome

G3. Cyclic vomiting syndrome


G4. Infant colic
G5. Functional diarrhea
G6. Infant dyschezia
G7. Functional constipation
H. Functional disorders : children and adolescents
H1. Vomiting and aerophagia
H1a. Adolescent rumination syndrome
H1b. Cyclic vomiting syndrome
H1c. Aerophagia
H2. Abdominal pain-related FGIDs
H2a. Functional dyspepsia
H2b. Irritable bowel syndrome
H2c. Abdominal migraine
H2d. Chidhood functional abdominal pain
H2d1. Childhood functional abdominal pain syndrome
H3. Constipation and incontinence
H3a. Functional constipation
H3b. Non retentive fecal incontinence
2.8 Pemeriksaan Penunjang
Harus diingat dalam membuat diagnosis pada anak dengan sakit perut akut,
anamnesis dan pemeriksaan fisik memegang peranan penting, sedangkan pemeriksaan
laboratorium dan penunjang hanya membantu.3
Pemeriksaan laboratorium dan penunjang adalah :1
-

Pemeriksaan laboratorium rutin darah lengkap, urin lengkap dan tinja lengkap sangat
penting.

Ureum dan elektrolit darah penting pada diare dehidrasi.

Biakan tinja penting untuk menegakkan ada tidaknya enteropatogen, terutama


Salmonella, Shigella , Campilobacter dan Yersinia. Amebiasis, infeksi cacing
(Ascaris, Trichuris) dengan mudah dapat didiagnosis.

Mengukur pH tinja dan tes reduksi dalam tinja untuk intoleransi laktosa.

Pemeriksaan klirens urea, kreatinin, foto polos perut dan pielografi intravena penting
untuk menegakkan diagnosis infeksi traktus urinarius dan batu di dalam saluran
kemih.

Foto polos 3 posisi sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis adanya obstruksi
dan kelainan di luar traktus digestivus.

Foto toraks diperlukan bila diduga ada pneumonia.

USG bila diduga ada kelainan perut dan hepatobilier.

EKG dan EMG untuk diagnosis spasmofili.

Endoskopi untuk mendiagnosis ada tidaknya kolitis.

2.9 Penatalaksanaan
Apabila seorang anak menderita sakit perut akut, maka yang penting dilakukan
adalah menentukan apakah penyakitnya memerlukan tindakan bedah atau tidak. Kalau
kita sudah dapat membuat keputusan bahwa anak itu tidak memerlukan tindakan bedah,
maka kita harus mencari penyebab sakit perut dan diberikan pengobatan sesuai
etiologinya. Terapi simptomatis perlu juga diberikan seperti istirahat serta pengawasan
cairan dan diet. Pada keadaan dimana anak sangat kesakitan dapat diberikan sedatif
ataupun analgetika.

Pada sakit ringan dan sedang, obat-obatan yang dapat diberikan seperti aspirin
(dosis 10 mg/kg/dosis), acetaminofen (10 mg/kg/dosis), codein (3 mg/kg/dosis),
Naproksen (10-18 mg/kg/hari), axycodome (0,08 mg/kg/dosis), dan tolmetin (18-50
mg/kg/hari). Sedangkan pada nyeri yang sifatnya berat, dapat diberikan Obat-obatan yang
diberikan dapat seperti morfin (0,1 - 0,2 mg/kg/dosis), metadon (0,1 - 0,2 mg/kg/dosis),
meperidin (0,75 2 mg/kg/dosis) dan hidromorfin (0,015 0,3 mg/kg/dosis) 2.
Keberhasilan penatalaksanaan sangat tergantung pada akurasi melakukan
pendekatan diagnosis. Untuk penatalaksanaan sakit perut berulang ini sangat sulit. Hal ini
diakibatkan karena sakit perut berulang sering memberikan penampilan klinis yang tidak
spesifik. Tidak ada panduan pasti, oleh karena itu penilaian klinis yang dilakukan harus
secara menyeluruh, sehingga dapat menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.
Memberikan penjelasan kepada orang tua, merupakan hal yang sangat penting. Orang tua
harus mendapatkan penjelasan bahwa keadaan ini sering dijumpai pada anak. 4
Penanganan selanjutnya, tergantung dari keadaan spesifik yang menyebabkan
keluhan sakit perut berulang. Keluhan konstipasi dapat diberikan obat golongan lakasan
(lactulose), meningkatkan konsumsi serat, toilet training (5 menit setelah makan pagi dan
sore). Pada keadaan irritable bowel syndrome yang paling penting adalah memberikan
penjelasan serta mengantisipasi pencetus psikososial yang mungkin dapat sebagai
pencetus timbulnya keluhan serta meningkatkan diet tinggi serat . Pada umumnya dengan
metode ini akan memberikan hasil yangbaik dalam waktu antara 6-12 bulan. 4
Prinsip pengobatan Helicobacter pylori pada anak :4
1. Tidak dianjurkan pemberian antibiotika tunggal
2. Dianjurkan penggunaan 2 macam antibiotika dan kombinasi preprat bismut
3. Pilihan selanjutnya adalah 3 macam antibiotika + PPI
4. Pilihan lini ke 2 dan ke 3, apabila terjadi resistensi.
Dua macam antibiotika mempunyai tujuan agar terjadi efek sinergis di antara
antibiotika yakni agar efek intraluminal bekerja baik, shingga antibiotika lainnya dapat

bekerja secara sistemik. Penggunaan PPI mempunyai manfaat untuk menurunkan


keasaman lambung agar antibiotika dapat bekerja lebih optimal.4
Terapi lini pertama4

PPI + amoksisislin +Klaritromisin

RBC (Ranitidin Bismuth Compleks +amoksisilin + Klaritromisin

Terapi lini kedua4

PPI + Bismuth + Metronidazole + Tetrasiklin terapi penyelamatan

PPI + amoksisilin Rifabutin (LAR)

Anak yang menderita infeksi Helicobacter pylori disertai ulkus diberikan terapi PPI
ditambah dua jenis antibiotik selama 14 hari.

Tabel 2.2. Terapi eradikasi Helicobacter pylori pada anak-anak9


Pilihan
Lini 1
1

Obat-obatan

Dosis

Amoxicilin
Clarithromycin
PPI (omeprazole)

50 mg/kg/hari, sampai 1 gr perhari


15 mg/kg/hari max 500 mg 2x sehari
1 mg/kg/hari max 20 mg 2x sehari

Amoxicilin
Metronidazole
PPI (omeprazole)

50 mg/kg/hari,sampai 1 gr perhari
20 mg /kg, 2x sehari sampai 500 mg 2x sehari
1 mg/kg/hari max 20 mg 2x sehari

Clarithromycin
Metronidazole
PPI (omeprazole)

15 mg/kg/hari max 500 mg 2x sehari


20 mg /kg, 2x sehari sampai 500 mg 2x sehari
1 mg/kg/hari max 20 mg 2x sehari

Lini 2
4

Bismuth subsaliysilate
Metronidazole
PPI (omeprazole)

1 tablet (262 mg) 4x sehari atau 15 ml (17,6 m 4x sehari)


20 mg /kg, 2x sehari sampai 500 mg 2x sehari
1 mg/kg/hari max 20 mg 2x sehari

Antibiotik tambahan :
Amoxicilin
Tetrasiklin
Clarithromycin

50 mg/kg/hari,sampai 1 gr perhari
15 mg/kg/hari sampai 500 mg 2xsehari
15 mg/kg/hari max 500 mg 2x sehari

Ranitidine bismuth citrate


Chlarithromycin
Metronidazole

1 tablet 4 x sehari
15 mg/kg/hari max 500 mg 2x sehari
20 mg /kg, 2x sehari sampai 500 mg 2x sehari

Tabel 2.3. Terapi infeksi Helicobacter pylori pada anak-anak9


Study

year

Gottrand
et al266

2001

Eligible
children
31

Treatment Regimen
Omeprazole 10-20 mg bid
Amoxicilin 25 mg/kg
Chlaritromycin 7,5 mg/kg

32

Amoxicilin 25 mg/kg
Chlaritromycin 7,5 mg/kg

Duration
(D)
7

Eradication
Rate(%)
23/31 (74,2)
ITT
20/25 PP

93%CI
(if Stated)
39-90

46-83

Tiren et
al261

1999

38

Omeprazole 0,3 mg/kg


Amoxicilin 50 mg/kg
Chlaritromycin 15 mg/kg

14

3/32 (9,4)
ITT
3/28 (10,7)
PP
24/32 (75)

Behrens

1999

63

Omeprazole 1 or 2 mg/kg

14

27/52 (52)

60-90

et al263

Amoxicillin 50 mg/kg
73

Omeprazole 1 or 2 mg/kg
Amoxicillin 50 mg/kg
Clarithromycin 20 mg/kg

14

44/53 (83)

Casswall
et al262

1998

32

Omeprazole 10 or 20 mg/d 7
Clarithromycin 7.5 mg/kg
Metronidazole 7.5 mg/kg/d

28/32 (87)

Moshkow
itz et al263

1998

35

Omeprazole 20 mg bid
Clarithromycin 250 mg bid
Metronidazole 500 mg bid

25/35 (71)*

Walsh et
al260

1997

28

Bismuth 480 mg/1.73 m2


Clarithromycin 15 mg/kg
Metronidazole 20 mg/kg

21/22 (95)

Kato et
al264

1997

22

Omeprazole 0.6 mg/kg


Amoxicillin 30 mg/kg

14

15/22 (70)

Omeprazole 0.6 mg/kg


Amoxicillin 30 mg/kg
Clarithromycin 15 mg/kg

14

11/12 (92

77-100

ITT = intention-to-treat analysis; PP = per protocol analysis.


*Eight children had received previous eradiaction therapy.

Gambar 2.1 Algoritma diagnosis sakit perut mendadak pada anak 1.

SAKIT
PERUT
MENDADAK
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan
fisik

3.
Derajat
Penyakit

Manifestasi dari
usus halus
-diare
-tinja berdarah
-obstipasi
- muntah
-hematemesis
-esofagitis
- sakit pinggul
Kuadran
-ulkus
Penyakit
-test faal
kanan
peptikum
epigastri
endoskopi
hepatobili
hati
Respon
amilase Respon atas
Pancreatit

Pemeriksaan
laboratorium
-Darah lengkap
-Urin lengkap
-Tinja lengkap
4. Manifestasi di luar
usus halus

apendisiti
Infeksi penyakit sistemik
-pneumonia
s
-Batu ginjal
-radang
-rawatinvaginasi
inap
Normal
Abnorma
Abnorma
usus
-volvulus
-terapi
6. lFoto
Observasi l
-laserasi
suportif
abdomen
3 hati/limpa
1-2 hari
Kasus
Kasus
osteomieliti
-antibiotik
posisi , konsul

ringan
5. Lokasi dan
jenisnya

Menyebar
,sekitar pusar,
sebelah kiri

Observasi
1-2 hari

Abnormal

Normal
Antasid

sedang

Tanda
peritoneal,
kuadran atas
kanan, hilang
timbul

berat

Gambar 2.2 Algoritma diagnosis sakit perut berulang pada anak

SAKIT
PERUT
BERULANG
A. Anamnesis
B. Pemeriksaan
fisik

D. Manifestasi
penyerta dari usus
halus
-diare kronik
-tinja berdarah
-obstipasi
- muntah
- ikterus

Sakit
pinggul

E. Manifestasi luar
usus halus
Infeksi
radang usus
penyakit ginjal
keganasan

Epigastrik

Kuadran
kanan
atas

Antasid

Tes faal hati,


USG

Adneksitis
Tidak
khas

Obstipasi
radang
usus
psikis

EEG

EM
G

Spasmof
lia
Epilepsi
perut

C. Pemeriksaan
laboratorium
darah lengkap
urin lengkap
tinja lengkap

F. Lokasi

Menyebar
sekitar
pusar /
sebelah kiri

Khas

Penyakit
hepatobili
er

Intolerans
i laktosa

Respon
baik

Respon
jelek

Esofagitis

Amilase

Abnorma
l
Pankreatit

Normal
Endoskopi

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Pendekatan diagnosis nyeri perut pada anak masih sulit karena kriteria diagnosis
yang digunakan belum seragam, terutama untuk nyeri perut non organik. Kriteria
diagnosis nyeri perut yang banyak digunakan saat ini adalah kriteria Rome III. Sakit perut
akut atau berulang mempunyai lima sumber, yaitu organ viseral, organ di luar abdomen,
lesi pada medula spinalis, gangguan metabolik, psikosomatik. Kriteria diagnostik sakit
perut fungsional dibagi berdasarkan Rome III, yaitu: infant regurgitation, infant
rumination syndrome, cyclic vomiting syndrome, infant colic, functional diarrhea, infant
dyschezia, functional constipation, vomiting dan aerophagia, abdominal pain-related
FGID, constipation dan incontinence.Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan
laboratorium darah lengkap, urin lengkap, foto polos perut dan pielografi intravena dan
elektrolit darah, biakan tinja, pH tinja dan tes reduksi tinja (clinitest), USG abdomen, CT
Scan abdomen, EEG, dan endoskopi. Pengobatan diberikan sesuai etiologi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Markum AH. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Vol 1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
1999. p. 493-6
2. Wiryati AAM, Aryasa IKN, Suraatmaja S. Sakit perut akut pada anak. In:
Suraatmaja S, editor. Kapita selekta gastroenterologi. Jakarta: CV Sagung Seto;
2007. p. 189-203.
3. Boediarso A. Sakit perut pada anak. In: Jufri M, editor. Buku ajar gastroenterologi
hepatologi. 1st ed. Jakarta: IDAI; 2010. p. 149-65.
4. Ranuh R, Fardah A, Subijanto MS. Kongres Nasional III Badan Koordinasi
Gastroenterologi Anak Indonesia; 2007 Dec 6-8 Surabaya; 2007. p. 101-9.
5. Vlieger AM, Benninga MA. Chronic abdominal pain including functional
abdominal pain, irritable bowel syndrome, and abdominal migraine. In: Kleinman
RE, Goulet OJ, Vergani GM, Sanderson IR, Sherman P, Shneider BL, editors.
Pediatric gastrointestinal disease. 5th ed. Vol 1. India: International Print-O-PacLimited; 2008. p. 715-25.
6. Suharsono, Boediharso A, Halimun MA. Gastroenterologi anak praktis. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 1988. p. 219-29.
7. Atkins JT, Cleary TG. Helicobacter. In: Bishop, Warren P, editors. Essential of
pediatric. 5th ed. Piladelphia: Elsevier Saunders; 2006. p. 988-89.
8. Memon IA, LAL MN, Murtaza G, Jamal A, Bhatti RN, Tariq S. Reccurent
abdominal pain in children. Pak J Med Sci. 2009;25:26-30.
9. Walters D, Jones NL. Helicobacter pylori in childhood. In: Wyllie R, Hyams JS,
editors. Pediatric gastrointestinal & liver disease. 3 rd ed. United States America:
Saunders Elsevier; 2006. p. 409-27.
10. Gold BD. Helicobacter pylori infection. In: Bell LM, editor. Pediatric
gastroenterology. United States of America: Mosby Elevier; 2008. p. 98-109.
11. William HJ, Levin MJ, Sondheimer JM, Deterding RR. Current diagnosis &
treatment pediatrics. New York: The Mc Grow Hill Companies; 2009. p. 599-600.
12. Mahajan LA, Kaplan B. Chronic abdominal pain of childhood and adolescence.
In: Wyllie R, Hyams JS, editors. Pediatric gastrointestinal & liver disease. 3 rd ed.
United States America: Saunders Elsevier; 2006. p. 111-23.
13. Kari KF, Anderson J, Puzanovova M, Walker LS. Rome II versus Rome III
classification of functional gastrointestinal disorder in pediatric cronic abdominal
pain. JPGN. 2008;47:299-302.