Anda di halaman 1dari 34

KONSEP

DASAR UJI
TOKSISITAS
Ferry Kriswandana, SST. MT.

Definisi
Toksikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu

yang mempelajari tentang efek negatif atau


efek racun dari bahan-bahan kimia dan
material lain hasil kegiatan manusia terhadap
organisma, termasuk bagaimana bahan-bahan
tersebut masuk kedalam tubuh organisme
(Rand dan Petrocelli, 1985).
Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang efek-efek negatif atau efek-efek racun
dari toksikan, tidak hanya pada suatu species.

Toksikan
Zat yang dapat menghasilkan efek negatif

bagi semua atau sebagian dari tingkat


organisme biologis yang dapat merusak
struktur maupun fungsi biologis.

Efek Toksikan
Secara langsung, toksikan langsung masuk ke

dalam tubuh biota melalui saluran dalam


tubuh, sehingga menimbulkan gangguan pada
proses biokimia.
Secara tidak langsung, toksikan secara tidak
langsung menimbulkan gangguan terhadap
biota dengan jalan mengubah kondisi fisik dan
kimia lingkungan yang mengakibatkan
terancamnya kehidupan biota.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi


toksikan di lingkungan (Mangkoedihardjo, 1999)
Sifat fisik kimia toksikan : struktur molekul,

kelarutan dalam air, tekanan uap, kecepatan


hidrolisis fotolisis, degradasi biologis, evaporasi
dan adsorbsi.
Sifat fisik kimia biologis lingkungan : area,
salinitas, kedalaman, volume, debit, temperatur,
pH, kandungan padatan, ukuran partikel
sedimen dan kandungan karbon sedimen.
Sumber keluaran dan kecepatan masuknya
toksikan ke dalam lingkungan.

Uji Toksisitas
Digunakan untuk mengevaluasi besarnya

konsentrasi toksikan dan durasi pemaparan


yang dapat menimbulkan efek toksik (Rand
dan Petrocelli, 1985).
Toksisitas adalah sifat relatif toksikan
berkaitan dengan potensinya yang
mengakibatkan efek negatif bagi makhluk
hidup.
Sifat relatif ini merupakan fungsi dari
konsentrasi dan durasi pemaparan toksikan.

Tujuan Uji Toksisitas


Untuk mengevaluasi potensi relatif suatu

senyawa yang menimbulkan dampak negatif


pada jaringan biologis.
Karena itu prosedur uji toksikologi perlu
melibatkan species hewan yang boleh
digunakan, dimana jumlah senyawa (toksikan)
yang diberikan kepada biota tersebut
sedemikian besar sehingga tercipta efek
toksisitas yang nyata.

Kriteria Uji Toksisitas (Rand dan


Petrocelli, 1985)
Uji harus diterima secara meluas
Uji harus mampu memprediksi efek dari berbagai zat

dengan biota yang berbeda. Prosedur uji harus memiliki


dasar secara statistik dan harus dapat diulang pada
laboratorium yang berbeda dengan hasil yang relatif sama.
Data harus meliputi efek dari suatu range konsentrasi
tertentu dengan durasi ekspose tertentu dan juga harus
dapat dilakukan interpolasi secara grafis, analisa statistik
dan evaluasi kuantitatif lainnya.
Data harus dapat digunakan untuk memperkirakan dampak
Uji harus mudah dilakukan secara ekonomis.
Uji harus sensitif dan realistis dalam desain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi


toksisitas
Faktor yang berkaitan dengan toksikan itu

sendiri.
Faktor yang berkaitan dengan pemaparan
toksikan
Faktor yang berkaitan dengan frekuensi
pemaparan.
Faktor yang berkaitan dengan biota.

Efek Pemaparan
Toksikan
Efek toksik akut adalah efek toksik yang terjadi dengan cepat

sebagai hasil dari pemaparan yang terjadi dalam jangka pendek.


Salah satu ukuran yang paling umum digunakan untuk biota
akuatif adalah lethalitas atau mortalitas. Suatu toksikan dapat
dikatan sangat beracun apabila dengan pamakaian secara
langsung dapat mengakibatkan kematian sebesar 50% dalam
biota uji dalam waktu yang singkat, yaitu antara 96 jam sampai
dengan 14 hari.
Efek toksik kronis dan subkronis dapat terjadi apabila proses dari

suatu toksikan menghasilkan efek yang menganggu sebagai


akibat efek pemaparan tunggal, tetapi lebih sering oleh akibat
dari pemaparan yang panjang dan berulang-ulang. Efek yang
dihasilkan dapat terjadi dalam jangkap waktu yang relatif panjang,
terutama bila konsentrasi pemaparannya rendah.

Sifat Efek Kronis


Efek lethal merupakan suatu kegagalan dari

pemaparan kronis biota untuk menghasilkan


keturunan yang dapat terus hidup.
Efek sublethal yang paling umum adalah

terjadinya perubahan perilaku, perubahan


psykologis, perubahan biokimia, dan
perubahan histologis.

Kriteria Efek Pemaparan


Dalam mengevaluasi substansi toksikan yang aman, perlu

untuk mendapatkan arti yang tepat untuk menyatakan


toksisitas dan metode kuantitatif dalam menghitungnya.
Terdapat variasi kriteria untuk efek pemaparan atau nilai
toksisitas yang dapat digunakan untuk membandingkan
antara biota yang terpapar secara kimia dengan biota
yang tidak terpapar.
Secara alternatif dapat dipilih suatu kriteria atau nilai
toksisitas yang relevan, dapat diopservasi secara tepat,
dapat dipresentasikan, dapat diukur, dan penting secara
biologis. Dalam hal ini umumnya digunakan lethalitas atau
mortalitas sebagai indeks

Lethal Concentration (LC50)


Dalam menentukan toksisitas relatif dari suatu

bahan kimia baru terhadap biota akuatik, uji


toksisitas akut pertama kali digunakan untuk
mengestimasi Median Lethal Concentration (LC50) dari suatu toksikan dalam air, dimana biota
mengalami pemaparan.
LC-50 merupakan perkiraan konsentrasi toksikan
yang dapat menghasilkan efek tertentu
(mortalitas) pada 50% populasi dalam jumlah
yang tidak terbatas, dari suatu species uji pada
kondisi tetap dalam jangka waktu tertentu.

Effective Concentration
(EC-50)
Efek lain selain mortalitas adalah dengan

menggunakan Median Effective Concentration


(EC-50). EC-50 adalah konsentrasi bahan
kimia yang terestimasi untuk menghasilkan
efek khusus, misalnya fisiologis dan perilaku
(Rand dan Petrocelli, 1985).

NOEC (No Observed Effect


Concentration)
Selain itu, uji toksisitas akuatif dapat dikatagorikan

dalam : lama pemaparan, situasi uji, kriteria efek


yang digunakan untuk mengevaluasi organisme uji.
Sehingga data yang diperoleh dapat
memungkinkan peneliti untuk menentukan NOEC
(No Observed Effect Concentration) atau tidak
terjadi efek konsentrasi, dimana konsentrasi
maksimal dari materi uji secara statistik signifikan
tidak menimbulkan efek yang berbahaya bagi biota
uji dibandingkan dengan kontrol pada uji spesifik

LOEC (Lowes Observed Effect


Concentration)
LOEC (Lowes Observed Effect Concentration)

atau MTC (Minimum Threshold Concentration)


adalah konsentrasi terendah yang secara
statistik signifikan memberi efek merusak
pada biota uji dibandingkan pada kontrol pada
uji spesifik

Beberapa sistem untuk pemaparan


dalam uji toksisitas akuatik
Static test, yaitu toksisitas ditambahkan ke dalam air hingga

mencapai konsentrasi yang diinginkan. Biota uji dan kontrol


ditempatkan dalam wadah atau chamber test dan tidak ada
pengaliran air tambahan selama test dilakukan.
Resirculation test, hampir sama dengan static test, tetapi
kemudian air dialirkan melalui filter untuk mempertahankan
kualitas air, namun tidak mengurangi konsentrasi toksikan.
Kemudian air dikembalikan lagi ke dalam chamber.
Renewal test, seperti static test, tetapi secara periodik
dilakukan penggantian air (misalnya : 24 jam).
Flow-trough test, pada umumnya test ini dilakukan dengan
pengaliran air, dapat secara kontinyu atau intermitten.

Metoda Uji Toksisitas


Single species test, sebagian metoda ini

dilakukan di laboratorium.
Uji ini menggunakan suatu jenis spesies yang
dianggap mewakili biota pada kelasnya
(missal, pisces).
Kelemahan dari metoda ini adalah tingkat
efek yang terjadi di laboratorium tidak dapat
sama dengan yang di alam, sehingga hanya
merupakan pendekatan saja.

Metoda Uji Toksisitas


Multi species test dan ecosystem test, dapat juga

dilakukan di laboratorium.
Studi ini melibatkan laboratorium mikrokosmos atau
model ekosistem.
Laboratorium mikrokosmos berupa wadah (terbuat dari
plastic atau gelas) yang berisi sample dari ekosistem alami
(air, sediment, ikan invertebrate dan tumbuhan).
Keuntungan dari uji ini adalah efek lebih dapat
teridentifikasi disbanding dengan single spesies test,
karena informasi dapat berhubungan langsung dengan
pengaruh ekosistem akibat adanya toksikan.
Mikrokosmos memiliki keterbatasan, karena lebih
sederhana daripada ekosistem alami.

Kontrol Uji Toksisitas


Walaupun secara rinci setiap uji berbeda,

biasanya dilakukan control terhadap pH,


temperature dan konsentrasi DO.
Biota dipapari dengan toksikan yang bervariasi
pada setiap wadah (chamber).
Kriteria untuk efek (misalnya : kematian,
pertumbuhan, reproduksi) telah ditentukan
sebelumnya, kemudian dievaluasi dengan
membandingkan biota terpapar dengan biota
kontrol untuk menjamin efek yang terjadi adalah
pasti akibat dari pemaparan toksikan.

Uji Toksisitas Akut


Uji yang didisain untuk mengevaluasi toksisitas

relatif dari bahan kimia pada biota akuatik


terseleksi untuk jangka waktu pemaparan yang
pendek dengan konsentrasi bahan kimia yang
bervariasi.
Kriteria efek untuk ikan adalah kematian, untuk
invertebrata adalah kemampuan berpindah atau
kehilangan keseimbangan serta pada alga
adalah terjadinya pertumbuhan. Uji tersebut
dilakukan dengan penetapan waktu selama 24
atau 96 jam

Uji Toksisitas Kronik


Kenyataan bahwa bahan kimia tidak mempunyai efek merugikan

pada organisme akuatik pada uji toksisitas akut, tidak memberikan


indikasi bahwa bahan kimia tersebut tidak beracun pada biota.
Uji toksisitas kronik bersifat mengevaluasi efek merugikan yang
mungkin dari toksikan pada pemaparan jangka panjang dengan
konsentrasi sublethal. Pada uji biota uji dapat dipapari sepanjang
siklus reproduksi kehidupan atau dapat juga pada sebagian siklus
yaitu pada tahap kehidupan yang sensitif.
Data yang diperoleh dari sebagian siklus hidup atau keseluruhan
siklus hidup dapat digunakan untuk mengestimasi MATC
(Maximum Acceptable Toxican Concentration), yaitu estimasi
konsentrasi ambang dari bahan kimia yang dibatasi NOEC yaitu
konsentrasi tertinggi yang tidak merusak dan LOEC yaitu
konsentrasi terendah yang berefek merusak. Dengan kata lain nilai
NOEC < MATC < LOEC

PRAKTEK UJI TOKSISITAS

Bahan dan Alat


Bak aklimatisasi (kolam ikan) yang mampu

menampung seluruh biota dengan kapasitas


300 liter (ukuran bak 6 x 3 x 0,7 m)
Bak uji yang digunakan untuk percobaan
berupa ember plastik dengan kapasitas 15
liter sebanyak 18 buah.
Thermometer digunakan untuk mengukur
suhu.
pH meter untuk mengukur pH air

Proses pengoperasian
Pada uji toksisitas ini dilakukan variasi

terhadap konsentrasi toksikan yang


dinyatakan dalam prosentase volume toksikan
dalam volume total air. Variasi dilakukan
untuk mendapatkan nilai konsentrasi toksikan
yang dapat mempengaruhi biota uji apabila
toksikan tersebut ditambahkan ke dalam
lingkungan hidupnya.

Sistem pemaparan
Sistem pemaparan yang digunakan dalam uji

toksisitas ini adalah Static Test, dimana biota


uji dan kontrol ditempatkan pada wadah dan
tidak ada pengaliran air tambahan selama uji
dilaksanakan. Dengan beberapa keuntungan
antara lain : sederhana, relatif murah serta
estimasi hasil toksisitas lebih baik.

Aklimatisasi Biota Uji


Aklimatisasi ini dilakukan sebelum uji

toksisitas dilakukan. Dipilih biota uji berupa


ikan Mas dengan panjang tubuh antara 3-5 cm
( berumur 3-4 minggu) sesuai dengan
prosedur baku uji toksisitas (Mangkoedihardjo,
1999)

Tujuan Aklimatisasi
Untuk mengadaptasikan biota uji pada kondisi

lingkungan yang berbeda dengan tempat


asalnya seperti : suhu, cahaya dan kualitas
air.
Memastikan bahwa biota uji tidak membawa
penyakit sehingga layak untuk uji toksisitas.

Pengumpulan Data
Range Finding Test,
Acute Toxicity Test dan
Prolonged Toxicity Test

Range Finding Test,


Setelah aklimatisasi berakhir, dilakukan uji

toksisitas untuk mencari LC-50. Tahap ini


merupakan uji awal untuk menentukan
konsentrasi terkecil yang menyebabkan
kematian biota uji sebesar 100%.

Acute Toxicity Test


Acute Toxicity test ini untuk menentukan efek

kematian dalam jangka waktu relatif pendek.


Biasanya ditetapkan sebagai LC-50 yaitu 50%
biota uji yang terpapar mati pada waktu
pemaparan tertentu yaitu : 96 jam

Prolonged Toxicity
Test
Tes ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh

atau efek lama waktu pemaparan.

Metoda Analisis
Metoda analisis yang dimaksudkan dalam uji

toksisitas ini adalah metoda pengolahan data


untuk menentukan nilai LC-50.
Untuk menentukan nilai LC-50 ini digunakan
Metode Litchfield-Wilcoxon.
Harus ada efek akut parsial dalam pegujian
Memperhitungkan batas-batas kepercayaan

95% dari hasil EC-50

TERIMA KASIH