Anda di halaman 1dari 30

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Analisis Data

1. Penguat Operasional Pembalik (Inverting Op-Amp)


a. Menghitung besarnya penguatan secara teori

Av =

Rf
R
200 K
10 K

= -20 kali
b. Menghitung besarnya penguatan secara praktek
1. Pada osiloskop

Av =

V out
V
3,44 V
3,32V

= 1,036 kali
2. Pada multimeter

Av =

V out
V
0,775mV
0,779mV

61

= 0,995 kali

2. Penguat Operasional Tak Membalik (Non Inverting Op-Amp)

a. Untuk Tegangan 8 Volt

V=

V out 16,50 .103 V


=
V
1,12V

= 0.013 Kali

b. Untuk Tegangan 9 Volt

V=

V out 20 .103 V
=
V
1,20V
0.017 Kali

c. Untuk Tegangan 10 Volt

V=

V out 22.103 V
=
V
1,12V

= 0.019 Kali
d. Untuk Tegangan 11 Volt

V=

V out 18.103 V
=
V
1,18V

62

= 0.015 Kali

3. Rangkaian Penjumlah dan Pengurang Tegangan


a.

Menentukan tegangan keluaran pada rangkaian penjumlah

Vpp(1)

= 94,86 mV

Vpp(2)

= 76,46 mV

Vout

= Vpp(1) + Vpp(2)
= 94,86 mV + 76,46 mV
= 171,32 mV

b.

Menentukan tegangan keluaran pada rangkaian pengurang


Vpp(1)

= 298,8 V

Vpp(2)

= 7,66V

Vout

= Vpp(1) + Vpp(2)
= 298,8 V - 7,66V
= 291,14 V

4. Tapis/Filter Lolos Rendah

a. Menentukan besarnya penguatan Av


1. Secara Teori:

63

Dik. R1

= 6,8 k

R2

= 20 k

Dit. Av = ........?
Penye.

Av = 1 +

R2
R1

=1+

6,8
20

= 1,34 kali
2. Secara Praktek:

2.1. Untuk frekuensi 500 Hz


Dik: Vpp-in

= Vin

= 21,20 kV

Vpp-out = Vout
Dit: Av

= 21,60 kV

= ........?

Penguat filter, Av =

Vout 21,60
=
Vin 21,20
= 1,02 kali

Untuk data selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No.

Frekuensi (Hz)

Vpp-in (kV)

64

Vpp-out (kV)

Av (kali)

1.

500

21,20

21,60

1,02

2.

1.000

17

17

3.

5.000

16

16,40

0,98

4.

10.000

17

17

5. Tapis/Filter Lolos Tinggi

a. Mencari besarnya nilai F3 Db

Dik. R
C

= 20 k =20.000
= 0,01

8
= 1 x 10 F

Dit. F3dB = ............?


Penye
F3dB =

1
2 RC

1
8
2 ( 3,14 )( 20.000 ) (1 x 10 )

1
( 6,28 ) (2 x 104 )

1
4
1 2,56 x 10

= 796,18 Hz
F3dB = 796,18 Hz
b. Mencari penguat filter

65

1. Secara teori :

Dik. R1

= 6,8 k

R2

= 12 k

Dit. Av

= ........?

Penye.

Av

=1+

R2
R1

=1+

6,8
12

= 1,56 kali
2. Secara Praktek:
Dik. Vpp-in

= Vin

= 1,12 volt

Vpp-out = Vout = 14,00 volt


Dit. Av
Penguat filter,

= ........?
Av

Vout
Vin

14,00
1,12
= 12,5 kali

66

Dengan cara yang sama untuk data selanjutnya dapat disajikan pada tabel
berikut:

No

Frekuensi (Hz)

Vpp-in (volt)

Vpp-out
(volt)

Av (kali)

1
2
3
4
5

1.000
5.000
10.000
30.000
50.000

1,12
1,12
1,12
1,12
1,12

14,00
14,56
18,96
20,40
39,60

12,50
13,00
16,93
18,21
35,36

c. Grafik hubungan antara isyarat masukan dan isyarat keluaran

45
40
35
30
25
Vout 20
15
10
5
0
1

1.2

1.4

1.6
Vin

67

1.8

2.2

2.4

B. Pembahasan

1. Penguat Operasional (Op-Amp)

Penguat operasional (bahasa Inggris: operational amplifier) atau


yang biasa disebut op-amp merupakan suatu jenis penguat elektronika
dengan sambatan (bahasa Inggris: coupling) arus searah yang memiliki bati
(faktor penguatan atau dalam bahasa Inggris: gain) sangat besar dengan dua
masukan dan satu keluaran. Penguat operasional pada umumnya tersedia
dalam bentuk sirkuit terpadu dan yang paling banyak digunakan adalah seri
741.
Penguat operasional adalah perangkat yang sangat efisien dan serba
guna. Contoh penggunaan penguat operasional adalah untuk operasi
matematika sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan terhadap

68

tegangan listrik hingga dikembangkan kepada penggunaan aplikatif seperti


komparator dan osilator dengan distorsi rendah.
Penguat operasional (Op-Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi
yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah
dijelaskan di atas. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu
keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja
dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris
yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga
negatif (-V) terhadap tanah (ground). Suatu penguat operasional dikatakan
ideal apabila gelombang keluarannya yang dihasilkan berbentuk gelombang
kotak. Penguat operasional dikatakan ideal apabila penguat operasional
tersebut memiliki karakteritik impedansi masukannya sangat besar (tak
hingga), penguatannya sangat besar (tak hingga) dan impedansi keluarannya
bernilai nol.
Kelebihan dari penguat operasinal ini adalah impedansi input yang
tinggi sehingga tidak membebani penguat sebelumnya, impedansi output
yang rendah sehingga tetap stabil walau dibebani oleh rangkaian
selanjutnya, lebar pita (bandwidth) yang lebar sehingga dapat dipakai pada
semua jalur frekuensi audio (woofer, midle, dan tweeter) dan adanya fasilitas
offset null sehingga memudahkan pengaturan bias penguat agar tepat dititik
tengah sinyal.

69

Pada praktikum kali ini kita menyusun sebuah rangkaian untuk


memeriksa apakah Op-Amp masih dalam keadaan baik atau tidak, pada

praktikum kali ini akan digunakan IC Op-Amp

A741 yang memiliki 8

buah kaki. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun rangkaian


yang akan digunakan seperti yang terdapat pada prodedur kerja. Setelah itu
kita akan menghubungkannya dengan catu daya dan osiloskop untuk
melihat bentuk gelombangnya dan juga untuk mengukur besarnya
tegangannya, tegangan minimumnya dan juga besar frekuensinya.
Percobaan ini akan dilakukan sebanyak dua kali. Percobaan yang pertama
dilakukan seperti biasa sesuai langkah-langkah yang ada tetapi pada
percobaan yang kedua dilakukan pengamatan dengan menyentuhkan salah
satu jari tangan pada salah satu ujung resistor yang digunakan.
Percobaan yang pertama dilakukan dengan menghubungkan
rangkaian yang ada tersebut dengan catu daya yang berfungsi sebagai
sumber tegangan dan juga pada osiloskop untuk melihat tampilan
gelombangnya dan juga tegangan serta frekuensinya. Setelah dihubungkan
maka di osiloskop akan terlihat tampilan gelombangnya. Pada percobaan
ini, tampilan gelombangnya di osiloskop terlihat seperti gelombang kotak
namun bentuk kotaknya tidak terbentuk dengan sempurna. Apabila penguat
operasional ini berada dalam keadaan yang baik dan juga ideal seharusnya
tampilan gelombangnya pada osiloskop harus berbentuk kotak yang

70

sempurna. Bentuk gelombang kotak yang tidak sempurna ini menunjukkan


bahwa penguat operasional ini sudah tidak lagi berada dalam keadaan yang
baik dan ideal lagi sebab hasil praktikum ini sedikit berbeda dengan teori
yang ada. Keidealan suatu penguat operasional sangat berpengaruh pada
bentuk gelombang yang akan dihasilkan dari suatu rangkaian. Dari
osiloskop ini, kita tidak hanya melihat bentuk yang dihasilkan tetapi kita
pun dapat mengukur serta melihat tegangan puncak ke puncaknya, tegangan
minimum serta frekuensi yang dihasilkan dari rangkaian penguat
operasional tersebut.

Percobaan yang kedua dilakukan dengan langkah-langkah yang sama


pula dengan pada langkah-langkah percobaan pertama. Akan tetapi pada
percobaan kedua ini salah satu ujung jari kita akan menyentuh salah satu
resistor yang digunakan kemudian akan melihat tampilan gelombangnya,
besarnya tegangan puncak ke puncak serta besarnya frekuensi pada
osiloskop. Setelah salah satu ujumg jari menyentuh salah satu resistor maka
akan nampak tampilan bentuk gelombang gergaji sebagai bentuk gelombang
yang dihasilkannya yang terlihat pada osiloskop. Tak hanya itu, di osiloskop
pun akan tertera besarnya tegangan puncak ke puncak serta besar frekuensi
yang dihasilkannya. Nilai tegangan puncak ke puncak serta frekuensinya
bernilai lebih kecil (berbeda) dengan nilai tegangan puncak ke puncak serta
frekuensi pada percobaan pertama. Bentuk gelombang yang dihasilkan pada

71

percobaan pertama pun berbeda dengan bentuk gelombang pada percobaan


kedua. Ini menunjukkan bahwa dengan menyentuhkan jari tangan ke salah
satu resistor akan menyebabkan terjadinya perbedaan bentuk gelombang,
besarnya tegangan puncak ke puncak serta besar frekuensinya.

2. Penguat Operasional Pembalik (Inverting Op-Amp)

Penguat operasional (Op-Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi


yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah
dijelaskan di atas. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu
keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja
dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris
yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga
negatif (-V) terhadap tanah (ground).
Inverting Amplifier merupakan penerapan dari penguat operasional
sebagai penguat sinyal dengan karakteristik dasar sinyal output memiliki
phase yang berkebalikan dengan phase sinyal input. Pada dasarnya penguat
operasional (Op-Amp) memiliki faktor penguatan yang sangat tinggi
(100.000 kali) pada kondisi tanpa rangkaian umpan balik. Dalam inverting
amplifier salah satu fungsi pamasangan resistor umpan balik (feedback) dan
resistor input adalah untuk mengatur faktor penguatan inverting amplifier
(penguat membalik) tersebut. Dengan dipasangnya resistor feedback (RF)

72

dan resistor input (Rin) maka faktor penguatan dari penguat membalik dapat
diatur dari 1 sampai 100.000 kali. Untuk mengetahui atau menguji dari
penguat membalik (inverting amplifier) dapat menggunakan rangkaian dasar
penguat membalik menggunakan penguat operasional (Op-Amp).
Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negatif untuk
membalik dan menguatkan sebuah tegangan. Resistor Rf melewatkan
sebagian sinyal keluaran kembali ke masukan. Karena keluaran taksefase
sebesar 180, maka nilai keluaran tersebut secara efektif mengurangi besar
masukan. Ini mengurangi bati keseluruhan dari penguat dan disebut dengan
umpan balik negatif.
Rangkaian dasar penguat inverting memiliki sinyal masukan yang
dibuat melalui input inverting. Fase keluaran dari penguat invering akan
selalu berkebalikan dengan inputnya atau dengan kata lain puncak pada
isyarat masukan akan menjadi lembah pada isyarat keluarannya.
Pada praktikum kali ini kita akan melihat rangkaian penguat
operasional yang berfungsi sebagai pembalik atau inverting Op-Amp
dengan melihat sinyal masukan dan keluarannya pada rangkaian yang akan
digunakan pada perconaan ini. Pertama-tama kita akan membuat rangkaian

penguat operasional pembalik dengan menggunakan IC Op-Amp

A741

kemudian kita akan menghubungkannya dengan rangkaian sumber tegangan


untuk mendapatkan tegangan inputnya. Setelah mengukur tegangan

73

masukannya maka kita pun akan mengukur teganan keluarannya baik pada
osiloskop maupun dengan menggunakan multimeter. Jika menggunakan
multimeter diperoleh tegangan masukan sebesar 0,779 mV dan tegangan
keluarannya sebesar 0,775 mV. Sedangkan dengan menggunakan osiloskop
egangan masukannya sebesar 3,32 V dan tegangan keluarannya sebesar
3,44V.
Untuk menghitung besarnya penguatan pada rangkaian ini akan
dilakukan secara teori dan juga secara praktek. Jika secara teori akan
menghasilkan penguatan sebesar -20 kali. Jika secara praktek akan
dihasilkan penguatan sebesar 1,036 kali pada osiloskop dan sebesar 0,995
kali jika pada multimeter.
Pada percobaan kali ini akan nampak pula bentuk gelombang yang
akan dihasilkannya pada osiloskop. Dari data pengamatan nampak bahwa
bentuk

gelombang

masukannya

sama

dengan

bentuk

gelombang

keluarannya (sefase). Padahal jika secara teori seharusnya benuk gelombang


masukan akan berbeda dengan benuk gelombang keluarannya ata dengan
kata lain harusnya gelombangnya berbeda fase.
Perbedaa-perbedaan yang terjadi pada percobaan ini, baik perbedaan
hasil pengukuran pada osiloskop dan juga pada multimeter, serta perbedaan
antara hasil praktek dengan teori ini dapat terjadi karena berbagai macam
hal. Hal ini dapat saja terjadi karena penguat operasional yang digunakan
sudah tidak ideal lagi, ada kesalah-kesalahan yang dilakukan praktikan pada

74

saat merangkai sehingga mengakibatkan rangkaian menjadi tidak sempurna


atau dapat pula terjadi karena tingka ketelitian dari osiloskop dan juga
multimeter yang digunakan sudah menurun atau bahkan sudah tidak layak
lagi untuk digunakan.
3. Penguat Operasional Tak Membalik (Non-Inverting Op-Amp)

Dalam elektronika berbagai model rangkaian yang dapat kita


temukan. Sebagian besar dari rangkaian-rangkaian tersebut memerlukan
pengutan tegangan atau arus yang tinggi tanpa terjadi pembalikan
(inversion) isyarat. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh tegangan
dengan besar sesuai dengan yang dibutuhkan, dimana sumber tengangan
yang tersedia sebagai masukan tidak dapat mencukupi. Penguat Op-Amp
tak membalik (non inverting Op-Amp) didesain untuk berbagai keperluan.
Besar penguatan tegangan yang diharapkan dapat diperoleh dengan
mengatur besarnya resistansi resistor yang dipasang baik pada resistor yang
dipasang pada masukan maupun resistor pada pembaliknya. Rangkaian ini
selain dapat digunakan untuk memperkuat isyarat AC juga dapat digunakan
untuk penguat isyarat DC. Dalam masing-masing kondisi tersebut, isyarat
keluaran yang dihasilkan akan tetap sefasa dengan masukannya.
Rangkaian non inverting tidak jauh berbeda dengan rangkaian
inverting. Perbedaannya adalah pada rangkaian inverting, isyarat masukan
dikenakan pada terminal masukan inverting. Sedangkan pada rangkaian
non-inverting ini, isyarat masukan dipasang pada terminal masukan non-

75

inverting. Jadi rangkaian operasional tak-membalik dapat dibuat dengan


memasang masukan pada terminal non-inverting.

Dengan

terminal

masukan inverting dipasangkan dengan resistor RIN

yang berhubungan

langsung dengan ground resistor kedua (RF) dipasang pada pembaliknya dan
langsung berhubungan dengan resistor ketiga (RL) yang juga ditanahkan.
Besarnya penguatan tegangan tergantung pada harga RIN dan RF yang
dipasang. Resistor RL pada rangkaian ini berfungsi sebagai daerah isyarat
keluaran penguat diambil.
Pada percobaan ini, disusun rangkaian non-inverting sederhana
dengan nilai resistor pada masukan yaitu sebesar 10 k, nilai R L sebesar
200 k dan nilai RL sebesar

2 k.

Rangkaian non-inverting ini

dihubungkan dengan rangkaian sumber tegangan masukan VIN, dibuat dari


sebuah resistor dengan besar 20 k yang dirangkaikan secara seri dengan
potensiometer disertai dengan tegangan masukan pada rangkaian ini sebesar
1,5 volt. Potensiometer sebagai resistor variabel atau resistor yang dapat
diubah-ubah nilainya sesuai yang kita butuhkan. Selain daripada komponen
tersebut,

disini

juga

menggunakan

osiloskop

untuk

menampilkan

bentuk/sinyal gelombang yang dihasilkan pada masukan dan keluaran serta


catu daya sebagai komponen yang digunakan untuk mengaktifkan IC OpAmp A741 dan sekaligus sebagai sumber tegangan yang akan divariasikan
untuk melihat dan mendeteksi hubungannya dengan penguatan yang

76

dihasilakan. Dalam hal ini kita hanya menggunakan penguatan untuk isyarat
DC.
Rangkaian Op-Amp tak-membalik yang telah dihubungkan dengan
rangkaian sumber tegangan masukan dihubungkan lagi dengan osiloskop
(Ch 1 pada masukan dan Ch 2 pada keluaran). Setelah dihubungkan dengan
catu daya (power supply) dengan tegangan secara berurutan sebesar 8 V, 9
V, 10 V dan

11 V. Besar V IN yang terbaca pada osiloskop secara

berurutan adalah 1,12 V, 1,2 V, 1,12 V dan 1,28 V. Sedangkan tegangan


keluaran (Vout yang dihasilkan secara berurutan sebesar 15,60 mV, 20 mV,
22 mV dan 18,80 mV. Dengan membandingkan tegangan keluaran dengan
tegangan masukan diperoleh penguatan rangkaian yang besarnya secara
berurutan yaitu sebesar 0,013 kali, 0,017 kali, 0,019 kali dan 0,0146 kali.
Dari hasil tersebut terlihat bahwa secara umum semakin besar
tegangan yang dikeluarkan dari catu daya, terdeteksi semakin besar pula
tegangan masukan ( VIN) yang terbaca pada rangkaian. Sedangkan jika kita
melihat tegangan keluaran, juga semakin meningkat dengan semakin
naiknya tegangan pada catu daya. Namun ada kejanggalan yang terdapat
pada data yang keempat yaitu besarnya tegangan keluaran menurun sebesar
sekitar 3 mV padahal tegangan masukannya naik sebesar 0,16 V.
Seharusnya besar tegangan keluaran akan semakin besar pula dengan
semakin besarnya tegangan masukan. Penyebab dari terjadinya hal ini ada
beberapa kemungkinan, diantaranya yaitu kondisi komponen elektronika
77

(resistor, potensiometer, atau IC Op-Amp) yang sudah kurang baik. Dalam


hal ini, sudah tidak mampu untuk menerima tegangan masukan yang begitu
besar. Sehingga ketika dipaksakan untuk dinaikkan tegangan masukannya,
bukannya ikut membuat tegangan keluarannya naik, tetapi hanya membuat
tegangan keluarannya mengalami penurunan.
4. Rangkaian Penjumlah dan Pengurang Tegangan

Salah satu penggunaan rangkaian Op-Amp adalah pada penguat


penjumlah (summing amplifier). Rangkaian penguat ini penguatan tegangan
ditentukan oleh resistor (tahanan) pada masing-masing input dan tahanan
umpan baliknya. Sedangkan rangkaian pengurang yang menggunakan OpAmp pada dasarnya adalah saling mengurangkan dari dua buah inputnya.
Penguat diferensial biasanya digunakan untuk mencari selisih dari dua
tegangan yang telah dikalikan dengan konstanta tertentu yang ditentukan
oleh nilai resistansi. Sedangkan rangkaian penjumlah, menjumlahkan
beberapa tegangan masukan.
Pada praktikum kali ini kami menyusun sebuah rangkaian Op-amp
sebagai rangkaian penjumlah dan rangkaian pengurang serta sebuah isyarat
masukan untuk keduanya. Untuk operasi penjumlahan, masukan tak
membalik dari Op-Amp dihubungkan dengan tanah sedangkan tegangan
masukan yang akan dijumlah diumpankan pada maukan membalik.
Sedangkan pada operasi penguranagn atau penguat diferensial, dengan
78

mengumpankan isyarat pada masukan tak membalik dan membalik akan di


dapat selisih keduanya
Langkah pertama yang dilakuakn setelah menyusun rangkaian OpAmp sebagai rangkaian penjumlah dan pengurang tegangan yakni
menyusun rangkaian isyarat masukan sinusoida dengan menggunakan dua
buah potensiometer dan menggunakan rangkaian pembagi tegangan dengan
isyarat sumber AC dari signal generator, setelah menggabungkannya kita
dapat melihat tampilan gelombang atau syarat keluaran pada osiloskop.
Berdasarkan hasil data pengamatan praktikum dengan pengukuran
menggunakan osiloskop menunjukkan bahwa, dengan masukan isyarat
sumber diperoleh Vcc sebesar 13,98 volt. Dari data pengamatan, pada isyarat
masukan pada rangkaian penjumlah diperoleh nilai Vpp (Ch1) sebesar 94,86
mV dan Vpp(Ch2) sebesar 76,46 mV. Sedangkan nilai isyarat keluaran pada
rangkaian penjumlah adalah sebesar 185,60 V.
Kemudian langkah selanjutnya yang kami lakukan adalah setelah
menyusun sebuah rangkaian Op-Amp sebagai rangkaian pengurang maka
kita dapat menghubungkannya dengan sumber isyarat masukan AC. Dengan
menghubungkan sumber isyarat dengan rangkaian pengurang maka kita
dapat melihat besarnya nilai isyarat masukan dan keluaran rangkaian
pengurang. Berdasarkan hasil pengmatan diperoleh nilai Vpp(Ch1) sebesar
298,8 V dan nilai Vpp(Ch2) sebesar 7,66 V dan besarnya isyarat keluaran
sebesar 77,40 V.
79

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa, besarnya nilai


tegangan keluaran dari sumber isyarat masukan pada rangkaian penjumlah
adalah sebesar 171,32 mV sedangkan besarnya nilai tegangan keluaran pada
rangkaian pengurang adalah sebesar 291,14 V. Dari hasil analisis data
tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat besar dengan nilai keluaran
(output) pada rangkaian penjumlah dan pengurang yang ditunjukkan
osiloskop. Hal ini menunjukkan adanya persimpangan antara teori yang
sebenarnya dengan praktikum yang telah dilakukan. Berdasarkan teori,
seharusnya besarnya nilai keluaran (Output) adalah sama besar dengan hasil
penjumlahan pada isyarat masukan, artinya penjumlahan Vpp pada chanel 1
dan Vpp pada chanel 2 adalah sama dengan tegangan pada keluarannya.
Kemudian pada rangkaian pengurang besarnya tegangan keluaran adalah
hasil dari selisih tegangan pada masukan, artinya selisih antara V pp pada
chanel 1 dan Vpp pada chanel 2 adalah sama dengan tegangan pada
keluarannya.
Berdasarkan analisis data diatas menunjukan bahwa, besarnya
tegangan keluaran dari rangkaian penjumlah secara teori sebesar 171,32mV
dan secara praktek berdasarkan tampilan osiloskop sebesar 185,60mV
sedangkan besarnya tegangan keluaran dari rangkaian pengurang secara
teori sebesar 291,14V dan secara praktek besarnya tegangan keluaran yang
ditampilkan osiloskop yakni 77,40V.

80

Perbedaan hasil praktikum dan teori tersebut merupakan kegagalan


dari praktikum yang telah kami lakukan. Penyebab dari kegagalan tersebut
dapat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah human error,
ketidlayakan komponen elektronika yang digunakan dan yang lainnya. Hal
ini dapat kita lihat pada gelombang yang ditampilkan pada layar osiloskop.
Dimana gambar gelombang yang dihasilkan tidak beraturan dan kurang
membentuk. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam
rangkaian. Hal itu juga dapat disebabkan oleh rusaknya alat-alat praktikum
yang digunakan ataupun kesalahan praktikan pada saat membuat rangkaian
tersebut.
5. Rangkaian Integrator

Op-amp bisa juga digunakan untuk membuat rangkaian-rangkaian


dengan respons frekuensi, misalnya rangkaian integrator. Rangkaian dasar
sebuah integrator adalah rangkaian Op-Amp inverting, hanya saja rangkaian
umpan baliknya (feedback) bukan menggunakan resistor (R) melainkan
menggunakan kapasitor (C) yang menyimpan muatan. Rangkaian integrator
dapat dibangun dengan menggunakan dua buah komponen pasif, yaitu
resistor dan kapasitor yang dihubungkan secara seri. Fungsi dari rangkaian
ini adalah sebagai pengubah tegangan kotak menjadi segitiga, atau dapat
digunakan sebagai rangkaian filter lolos rendah. Secara matematis tegangan
keluaran rangkaian integrator merupaan fungsi integral dari tegangan input.

81

Sesuai dengan nama penemunya, rangkaian yang demikian dinamakan juga


rangkaian Miller integral. Aplikasi yang paling populer menggunakan
rangkaian integrator pembangkit sinyal dari input yang berupa sinyal kotak.
Kelemahan rangkaian integrator adalah titik temu resistor dan kapasitor
berupa pentanahan semu, ini berarti bahwa kapasitor (C) muncul sebagai
sebuah beban kapasitif pada keluaran penguat operasi. Hal ini dapat
memberikan pngaruh yang merugikan pada kestabilan dan kecepatan
turunnya sinyal keluaran pada penguat operasi.
Pada percobaan kali ini kita akan melihat rangkaian Op-Amp sebagai
fungsi integrasi yaitu dengan memberikan masukan berupa gelombang
kotak, segitiga, dan sinusoidal pada eksperimen ini yang seharusnya kita
gunakan Ch.1 adalah masukan dan Ch.2 adalah keluaran, tetapi saat kita
memasang pada rangkaian isyarat masukan dan keluaranya tidak berbentuk
kotak sempurna, sehingga oleh karena muatan yang ada pada kapasitor
tersebut belum diisikan dengan muatan yang lebih stabil. kita memasang
pada rangkaian Ch.1 adalah keluaran dan Ch.2 adalah masukan, agar kita
mendapatkan gelombang sinusoidal, kotak, dan segitiga, namun kita tetap
menganggap bahwa pada Ch.1 adalah masukan dan Ch.2 adalah keluaran
yang dihasilkan pada osiloskop. Pada eksperiment pertama, isyarat masukan
yang diberikan pada masukan membalik (kaki 2 IC) berupa gelombang
sinusoidal pada Ch.1 yaitu Vpp = 1.28 V, Vrms = 320 mV, Vmin = -640 mV,
dan pada Vmax = 640 mV, sedangkan pada Ch.2, Vpp = 1.08 mV, Vrms =
82

32 mV, Vmin = -52 mV, dan Vmax = 56 mV. Mula-mula kapasitor akan
terisi dengan muatan positif, namun sebelum kapasitor tersebut terisi penuh,
Vmin sudah berbalik menjadi negatif. Akibanya kapasitor segera
dikosongkan dan di isi dengan muatan negatif menuju ke-Vpp. Sampai terisi
penuh Vmin masi juga bermuatan negatif, tetapi nilai negatif berkurang dari
nilai Vmin sebelumnya. Hal ini berarti isyarat keluaran sebanding dengan
integral isyarat masukan.
Pada eksperimen kedua, isyarat masukan yang diberikan pada
masukan membalik berupa gelombang kotak pada Ch.1 yaitu memiliki nilai
Vpp = 1,1 v, Vrms = 440 mV, Vmin = -600 mV, dan Vmax = 500 mV. Pada
Ch.2 yaitu yaitu Vpp = 116 mV, Vrms = 50 mV, Vmin = -56 mV, dan Vmax
= 60 mV. Adapun proses pengisian kapasitor pada eksperiment kedua ini
sama dengan proses pengisian kapasitor pada eksperiment pertama,
sehingga isyarat keluaran yang dihasilkan berupa gelombang kotak yang
sefase dengan isyarat masukan. Pada gambar tampilan gelombang isyarat
keluaran dapat dilihat bahwa ketika Vin = -Vp kemiringan (volt) juga sama
dengan Vp, dan ketika Vin = + Vp kemiringan (volt) juga sama dengan
+Vp, hal ini yang menyebabkan isyarat masukan sefase dengan isyarat
keluaran.
Pada eksperimen ketiga berupa gelombang segitiga pada Ch.1 yang
memiliki nilai Vpp = 1,08 v, Vrms = 280 mV, Vmin = -440 mV, Vmax = 640

83

mV, dan pada Ch.2 nilai Vpp = 106 mV, Vrms = 28 mV, Vmin = -50 mV,
sedangkan pada Vmax = 50 mV. Pengisian kapasitor pada eksperimen
ketiga ini sama dengan pengisian pada eksperiment pertama dan kedua.
Sehingga isyarat keluaran yang dihasilkan berupa gelombang segitiga juga
sefase dengan isyarat masukan. Dalam percobaan ini rangkaian integrator
dengan isyarat masukan gelombang kotak berubah menjadi gelombang
segitiga dan isyarat masukan gelombang sinusoidal berubah menjadi
gelombang cos.
6. Tapis/Filter Lolos Rendah

Filter adalah suatu sistem yang dapat memisahkan sinyal


berdasarkan frekuensinya; ada frekuensi yang diterima, dalam hal ini
dibiarkan lewat; dan ada pula frekuensi yang ditolak, dalam hal ini secara
praktis dilemahkan. Hubungan keluaran dan masukan suatu filter dinyatakan
dengan fungsi alih (transfer function). Dengan demikian filter dapat
dikelompokkan menjadi filter pasif dan filter aktif.
Untuk menyaring sinyal listrik pada rentang frekuensi yang rendah
(1Hz- 1MHz), akan dibutuhkan nilai komponen induktor yang besar sekali
sehingga dalam produksi filter dengan frekuensi rendah secara komersial
sulit untuk dilakukan. Pada kasus ini, filter aktif dapat menjadi solusi
penting.

Rangkaian

filter

aktif

menggunakan

komponen

op-amp

(operational amplifier) yang dikombinasikan dengan beberapa komponen


84

pasif resistor dan kapasitor sehingga dapat memberikan kinerja filter pada
frekuensi rendah sebaik filter LRC.
Pada percobaan ini bertujuan untuk menyusun rangkaian Op-Amp
sebagai rangkaian filter lolos rendah dan mempelajari hubungan amplitudo
dengan fase antara isyarat masukan dan isyarat keluaran sebagai fungsi
frekuensi.
Pada praktikum ini, rangkaian Op-Amp dibentuk sebagai rangkaian
filter lolos rendah dengan maksud untuk melewatkan frekuensi rendah dan
memblokir masuknya frekuensi tinggi dari sinyal masukan yang diberikan.
Komponen utama pada rangkaian filter lolos rendah adalah IC Op-Amp
A 741 yang terdiri dari 8 kaki yang berfungsi sebagai penguat tegangan.

Pada kaki 3 IC Op-Amp dihubungkan dengan kumparan secara seri dengan


sumber sinyal atau dengan meletakkan kapasitor secara paralel dengan
sumber sinyal. Hal ini dilakukan agar isyarat masukan yang berfrekuensi
rendah dapat lolos dan frekuensi tinggi tidak diloloskan.
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada frekuensi 500 Hz
tegangan input Vpp-in sebesar 21,20 kV dan tegangan keluarannya Vpp-out
sebesar 21,60. Pada frekuensi 1000 Hz tegangan input Vpp-in sebesar 17 kV
dan tegangan keluarannya sebesar 17 kV pula. Pada frekuensi 5000 Hz
diperoleh tegangan input sebesar 16 kV dan tegangan keluarannya sebesar
16,40 kV. Sedangkan yang terakhir adalah pada frekuensi 10.000 Hz,

85

dimana diperoleh tegangan masukan sebesar 17 kV, begitu pula dengan


tegangan keluarannya sebesar 17 kV. Berdasarkan data ini didapatkan
bahwa ketika frekuensi masukan diperbesar maka tegangan outputnya
hampir sama atau bahkan lebih besar dari tegangan inputnya. Hal ini tidak
sesuai dengan teori dari rangkaian filter lolos rendah yang menyatakan
bahwa hanya masukan berfrekuensi rendah yang mampu diloloskan pada
rangkaian ini. Ketidaksesuaian antara teori dan praktek dapat terjadi karena
kemungkinan kesalahan praktikan dalam melakukan percobaan dan
kemungkinan pula adanya alat-alat praktikum yang kurang akurat dan sudah
tidak berfungsi dengan baik, sehingga memungkinkan terjadinya kesalahankesalahan tersebut.
Pada percobaan ini pula ditentukan penguatan tegangan baik secara
teori maupun secara praktek. Secara teori diperoleh penguatan sebesar 1,34
kali, sedangkan secara praktek besarnya penguatan pada frekuensi 500 Hz,
1.000 Hz, 5.000 Hz dan 10.000 Hz berturut-turut adalah 1,02 kali, 1 kali,
0,98 kali dan 1 kali. Secara praktek besarnya penguatan pada masingmasing frekuensi masukan tidak terlalu jauh perbedaanya berkisar kurang
lebih 1 kali. Hasil ini menunjukkan bahwa secara

teori dan praktek

besarnya penguatan hampir sama atau mendekati dan dari hasil percobaan
ini dapat kita pahami bahwa pada tapis lolos rendah, isyarat keluarannya
akan berkurang dari besarnya isyarat masukannya.
7. Tapis/Filter Lolos Tinggi

86

Filter adalah suatu rangkaian yang digunakan untuk melewatkan


tegangan output pada frekuensi tertentu. Untuk merancang rangkaian filter
dapat digunakan komponen pasif (R,L,C) dan komponen aktif (Op-Amp,
transistor). Dengan demikian filter dapat dikelompokkan menjadi filter pasif
dan filter aktif. Filter adalah suatu device yang memilih sinyal listrik
berdasarkan pada frekuensi dari sinyal tersebut. Filter akan melewatkan
gelombang/sinyal listrik pada batasan frekuensi tertentu sehingga apabila
terdapat sinyal/gelombang listrik dengan frekuensi yang lain (tidak sesuai
dengan spesifikasi filter) tidak akan dilewatkan. Rangkaian filter dapat
diaplikasikan secara luas, baik untuk menyaring sinyal pada frekuensi
rendah, frekuensi audio, frekuensi tinggi, atau pada frekuensi-frekuensi
tertentu saja.
Filter Aktif yaitu filter yang menggunakan komponen aktif, biasanya
transistor atau penguat operasi (op-amp). Kelebihan filter ini antara lain;
untuk frekuensi kurang dari 100 kHz, penggunaan induktor (L) dapat
dihindari; dan relatif lebih murah untuk kualitas yang cukup baik, karena
komponen pasif yang presisi harganya cukup mahal. Dimana salah satu dari
filter aktif adalah filter lolos tinggi.
Filter lolos tinggi atau high pass filter adalah jenis filter yang
melewatkan frekuensi tinggi, tetapi mengurangi amplitudo frekuensi yang
lebih rendah daripada frekuensi cutoff. Nilai-nilai pengurangan untuk
frekuensi berbeda-beda untuk tiap-tiap filter ini .Terkadang filter ini disebut

87

low cut filter, bass cut filter atau rumble filter yang juga sering digunakan
dalam aplikasi audio. High pass filter adalah lawan dari low pass filter, dan
band pass filter adalah kombinasi dari high pass filter dan low pass filter.
Filter ini sangat berguna sebagai filter yang dapat memblokir
component frekuensi rendah yang tidak diinginkan dari sebuah sinyal
kompleks saat melewati frekuensi tertinggi. High pass filter yang paling
simple terdiri dari kapasitor yang terhubung secara pararel dengan resistor,
dimana resistansi dikali dengan kapasitor (RXC) adalah time constant ().
Pada percobaan ini bertujuan untuk menyusun rangkaian Op-Amp
sebagai rangkaian filter lolos tinggi dan mempelajari hubungan amplitudo
dengan fase antara isyarat masukan dan isyarat keluaran sebagai fungsi
frekuensi.
Pada praktikum ini, rangkaiaan Op-Amp dibentuk sebagai rangkaian
filter lolos tinggi yang dimaksudkan untuk melewatkan frekuensi tinggi dan
membatasi masukan sinyal berfrekuensi rendah dari isyarat masukan yang
diberikan. Komponen utama dari rangkaian ini adalah IC Op-Amp
A 741 yang terdiri dari 8 kaki yang berfungsi sebagai penguat tegangan.

Pada kaki 3 IC Op-Amp dihubungkan dengan kumparan secara seri dengan


sumber sinyal atau dengan meletakkan kapasitor secara seri dengan sumber
sinyal. Hal ini dilakukan agar isyarat masukan yang berfrekuensi rendah
tidak dapat lolos sedangkan frekuensi tinggi diloloskan.

88

Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada frekuensi 1000 Hz


tegangan input Vpp-in sebesar 1,12 V dan tegangan keluarannya Vpp-out
sebesar 14,00. Pada frekuensi 5000 Hz tegangan input Vpp-in sebesar 1,12
kV dan tegangan keluarannya sebesar 14,56 kV. Dari dua frekuensi ini
didapatkan bahwa tegangan output lebih besar dari pada tegangan inputnya,
dan terjadi pula pada frekuensi masukan 10.000 Hz, 30.000 Hz dan 50.000
Hz. Hal ini sesuai dengan fungsi filter lolos tinggi yakni memfilter
frekuensi-frekuensi yang berada di bawah frekuensi cut-off dan meloloskan
frekuensi yang berada di atas frekuensi cut-off (frekuensi tinggi).
High pass filter adalah jenis filter yang melewatkan frekuensi tinggi,
tetapi mengurangi amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi
cut off. Tanggapan amplitude dengan frekuensi tinggi diisyaratkan dengan
f>>>fp, sedangkan isyarat dengan frekuensi rendah adalah f<<<fp. Tapis
semacam ini biasanya menghasilkan frekuensi sebesar 3 dB. Sehingga pada
percobaan ini pula dilakukan prediksi atas frekuensi 3 dB (F 3dB) pada
rangkaian yang telah dibuat. Besarnya F3dB tergantung dari besarnya harga
C dan harga R yang dipasang pada rangkaian. Harga C yang digunakan

adalah 0,01

dan harga R sebesar 20 k , sehingga diperoleh F3dB

sebesar 796,18 Hz.


Pada percobaan ini pula ditentukan penguatan tegangan baik secara
teori maupun secara praktek. Secara teori diperoleh penguatan sebesar 1,34

89

kali, sedangkan secara praktek besarnya penguatan pada frekuensi 1000


Hz, 5.000 Hz, 10.000 Hz, 30.000 Hz dan 50.000 Hz berturut-turut adalah
12,50 kali, 13,00 kali, 16,93 kali 18,21kali dan 35,36 kali. Secara praktek
besarnya penguatan pada masing-masing frekuensi masukan bisa dikatakan
terlampau jauh perbedaanya . Hasil ini menunjukkan bahwa secara teori
dan praktek besarnya penguatan sangat jauh berbeda, dimana seharusnya
penguatan

antara

teori

dan

praktek

adalah

sama

(mendekati).

Ketidaksesuaian antara teori dan praktek dapat terjadi karena kemungkinan


kesalahan praktikan dalam melakukan percobaan dan kemungkinan pula
adanya alat-alat praktikum yang kurang akurat dan sudah tidak berfungsi
dengan baik, sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan
tersebut.

90