Anda di halaman 1dari 4

PENGOLAHAN AIR GAMBUT

Untuk pengolahan air gambut. Proses yang digunakan sangat tergantung pada kondisi
kualitas air bakunya, serta tingkay kualitas air olahan yang diinginkan. Tahapan proses
pengolahan yang umum digunakan terfiri dari beberapa tahapan proses yakni proses netralisasi,
oksidasi untuk menghilangkan kandungan zat besi atau mangan, proses koahulasi-flokulasi,
proses pengendapan, proses penyaringan atau filtrasi serta proses disinfeksi untuk membunuh
kuman yang ada di dalam air.
1. Netralisasi
Netralisasi merupakan suatu usaha untuk mengubah pH atau keasaman air menjadi normal
(netral, pH 7-8). Secara teoritis pH dari 0 samapi 14, dimana 0 sangat asam dan 14 sangat basa,
pH bormal berkisar 7 sampai 8. Untuk air yang bersifat asam, misalnya air gambut, yang paling
murah dan mudah adalah dengan pemberian kapur (CaO) /gamping (CaCO 3). Fungsi dari
pemberian kapur, disamping untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga untuk
membantu efektifitas proses selanjutnya, antara lain:
-

Proses oksidadi dengan udara, pengurangan Fe dan Mn efektif pada pH 7-8


Proses oksidasi dengan chlorine efektif pada pH 7-8,5
Proses koagulasi efektif pada pH 6
Pengendapan logam efektif pada pH 8
Hal penting lainnya adalah air olahan yang dihasilkan netral sesuai dengan kualitas air minum
(pH 6,5-8,5). Dalam instalasi air minum, bertujuan untuk mengendalikan korosi perpipaan dalam
system distribusi, dimana korosi membentuk racun pada pH <6,5 atau pH>9,5.
Zat alkali digunakan untuk menaikkan pH air yang rendah dan menaikkan alkalinitas air baku
agar proses koagulasi-flokulasi dapat berjalan baik dan efektif. Cara pembubuhan dapat
dilakukan dengan cara kering dan cara basah (melarutkan dalam air pada konsentrasi tertentu).

2. Aerasi
Aerasi merupakan suatu cara untuk mengontakkan atau menggabungkan antara udara dan air
baku. Kandungan zat besi dan mangan yang terdapat dalam air akan bereaksi dengan oksigen
yang terdapat dalam udara sehingga terbentuk senyawa besi dan mangan yang bisa mengendap.
Zat tersebut (Fe dan Mn) memberikan rasa pahit pada air, menghitamkan hasil pemasakan beras
dan memberikan noda hitam kecoklatan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk

menghilangkan gas-gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, Methan, carbon dioksida
dan gas-gas racun lainnya.
3. Koagulasi tahap I
Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia ke dalam air agar kotoran dalam air yang
berupa padatan tersuspensi, misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat
menggumpal dan cepat mengendap. Cara paling mudah dan murah adalah dengan pembubuhan
tawas/alum atau rumus kimianya Al2(SO4)3.18H2O (berupa kristal berwarna putih).
Pengendapan kotoran dapat terjadi karena pembentukan aluminium hidroksida, Al(OH)3, yang
berupa partikel padat yang akan menarik partikel-partikel kotoran sehingga menggumpal
bersama-sama, menjadi besar dan berat dan segera dapat mengendap. Cara pembubuhan tawas
dapat dilakukan sebagai berikut, yaitu: sejumlah tawas/alum dilarutkan dalam air kemudian
dimasukan ke dalam air baku lalu diaduk dengan cepat hingga merata selama kurang lebih 2
menit. Setelah itu kecepatan pengadukan dikurangi sedemikian rupa sehingga terbentuk
gumpalan-gumpalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi yang ada dalam air baku.
Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan kotoran atau disebut flok tumbuh menjadi
besar dan berat dan cepat mengendap.
4. Koagulasi tahap II dan flokulan
Pengendapan kotoran tahap kedua dengan penggunaan tawas untuk mengikat dan membentuk
gumpalan-gumpalan yang lebih besar lagi sehingga kotoran bisa mengendap. Selanjutnya
gumpalan-gumpalan yang telah terbentuk diikat oleh flokulan sehingga bisa membentuk
gumpalan yang lebih besar lagi. Gumpalan tersebut akan lebih mudah dan cepat mengendap
sehingga air bersih dapat diperoleh.
5. Sedimentasi
Proses sedimentasi adalah proses pengendapan dimana masing-masing partikel tidak mengalami
perubahan bentuk, ukuran maupun kerapatan selama proses pengendapan berlangsung. Partikelpartikel padat akan mengendap bila gaya gravitasi lebih besar daripada kekentalan dan gaya
kelembaman dalam cairan.
Proses sedimentasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a) Sedimentasi secara alamiah, partikel padat tersuspensi mengendap karena gaya beratnya sendiri
tanpa tambahan bahan kimia.

b) Sedimentasi non alamiah, partikel padat tersuspensi mengendap karena penambahan bahan lain,
sehingga partikel dapat bergabung menjadi lebih besar, berat dan stabil sehingga gravitasinya

lebih besar.
Proses sedimentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
Diameter butiran
Berat jenis butiran
Berat jenis zat cair
Kekentalan
Kecepatan aliran
Setelah kotoran mengendap, air akan tampak lebih jernih. Endapan yang terkumpul di dasar
tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.

6. Filtrasi
Pada proses pengendapan, tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan. Butiran gumpalan
kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil
dan ringan masih melayang-layang dalam air. Proses filtrasi ini untuk menghilangkan zat padat
tersuspensi dalam air melalui media biopori. Zat padat tersuspensi dihilangkan pada waktu air
melalui lapisan media filter. Media filter bisanya pasir atau kombinasi dari pasir, anthracite,
garnet, ilmeniet, polystiren dan lainnya.Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus
dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah
diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir.

MEKANISME TERJADINYA KERUSAKAN GIGI AKIBAT AIR LAHAN GAMBUT


Air lahan gambut memiliki pH yang sangat rendah yaitu berkisar antara 2-5. Apabila air
lahan gambut ini di konsumsi secara terus menerus tanpa diolah terlebih dahulu untuk keperluan
sehari-hari seprti memasak, minum, dan sikat gigi, maka akan sangat mempengaruhi suasana

dalam mulut. Air lahan gambut yang bersifat asam itu akan membuat demineralisasi pada gigi
yaitu larutnya hidroksiapatit yang merupakan 95% pembentuk enamel gigi. Semakin
berkurangnya hidroksiapatit akan membuat gigi semakin mudah keropos.

Prasetyo A. Keasaman minuman ringan menurunkan kekerasan permukaan gigi.


Surabaya : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Maj. Kedokteran Gigi 2005
38: 2.

Herlambang A & Said NI. Aplikasi Teknologi Pengolahan Air Sederhana Untuk
Masyarakat Pedesaan. JAI, 2005. 1(2): 113-122.