Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Gulma merupakan salah satu Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
yang menghambat partumbuhan, perkembangan dan produktivitas tanaman.
Kehadiran gulma disekitar tanaman budidaya tidak dapat dihindarkan, terutama
jika lahan tersebut ditelantarkan. Menurut Sastrautomo (1998), kehadiran gulma
di suatu areal pertanaman secara umum memberikan pengaruh negatif
terhadap tanaman, karena gulma memiliki daya kompetitif yang tinggi sehingga
memungkinkan terjadinya persaingan cahaya, CO2, air, unsur hara, ruang
tumbuh yang digunakan secara bersamaan. Selain itu gulma memiliki peranan
lain yaitu sebagai alelopati, alelomediasi dan alelopoli. Alelopati, karena gulma
dapat mengeluarkan bahan kimia untuk menekan bahkan mematikan tumbuhan
atau tanaman lain sedangkan alelomediasi, karena gulma merupakan tempat
tinggal bagi beberapa jenis hama tertentu atau gulma sebagaipenghubung
antara hama dengan tanaman budidaya, dan alelopoli, karena gulma selalu
bersifat monopoli atas air, hara, CO2, O2 dan sinar matahari (Riry, 2008). Secara
umum antara tanaman dan gulma dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman
budidaya

tertekan,

menghambat

kelancaran

aktifitas

pertanian,

estetika

lingkungan tidak nyaman dan meningkatkan biaya pemeliharaan (Tanasale,


2010).

b. Masalah
Mengetahui morfologi dari gulma kremah (Althernathera philoxeroides)
Mengetahui aktivitas kremah (Althernathera philoxeroides) sebagai gulma
pertanian

Mengetahui cara pengedalian yang paling efektif terhadap kremah (Althernathera


philoxeroides) pada tanaman perkebunan

II. PEMBAHASAN MASALAH


Alternanthera philoxeroides dari family Amaranthaceae adalah gulma invasif berasal dari
Amerika Selatan (Vogt et al. 1979) dan sekarang tersebar luas di seluruh dunia (Buckingham
1996). Tumbuh di daerah terestrial, berstolon, perenial (tahunan), herba mesophytic dapat hidup
di air dan darat (terestrial). Batang yang merunduk tumbuh keatas, batang sederhana atau
bercabang, rimbun dan lebat. Batang dewasa menjadi berongga dan menghasilkan akar di nodus.
Daun opposite, bulat panjang dan permukaan halus. Ukuran daun 2,5-5,0 cm x 0,6-1,7 cm.
Bunga tunggal muncul dari ketiak daun, bentuk bunga bulat dengan diameter 0,8-2,0 cm.
Menurut Baker (1974), A. philoxeroides karekteristik gulma yang idela dan dianggap
sebagai gulma terbruk dunia karena invasif, potensi penyebaran, toleransi yang tinggi fluktuasi
lingkungan dan berbagai Potensi adaptif (Chatterjee dan Dewanji 2012) dan memiliki potensi
merugikan ekonomi dan berdampak tidak baik bagi lingkungan. Pertumbuhan A. philoxeroides
sulit untuk dikontrol dan dalam pemberantasannya dibutuhkan biaya sangat mahal (Sainty et al.
1998).
Menurut GISD (2005), kremah merupakan gulma pertanian yang menyerang area yang
lembab didaerah tropis dan subtropik. Kehadiran gulma kremah di antara tanaman terung dapat
menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara N, karena unsur hara N menjadi
faktor pembatas bagi tanaman. Unsur hara N tersedia untuk tanaman, tetapi gulma juga
membutuhkan unsur N, se-hingga terjadi persaingan tanaman dengan gulma. Gulma menyerap
hara dan air lebih cepat dibanding tanaman pokok (Brown dan Brooks, 2002). Bhatt (2008)
menyatakan bahwa gulma kremah biasanya terdapat pada tanaman padi dengan kerapatan yang
tinggi bersama dengan gulma lain. Pertumbuhan gulma dapat memperlambat pertumbuhan
tanaman pokok (Singh, 2005).
Menurut Tjitrosoedirdjo, Utomo dan Wiroatmodjo (1984), penggunaan herbisida bertujuan
untuk mendapatkan pengendalian gulma yang selektif yaitu mematikan gulma tanpa mematikan
tanaman budidaya. Selektivitas herbisida dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis
herbisida, formulasi herbisida, volume semprotan, ukuran butiran semprotan dan waktu
pemakaian (pra tanam, pra tumbuh atau pasca tumbuh). Beberapa herbisida pra tumbuh efektif
digunakan untuk mengendalikan gulma, terutama untuk gulma rumput semusim. Aplikasi kedua

dengan dosis yang lebih rendah terutama diperlukan untuk pengendalian gulma tahunan,
terutama untuk gulma pasca tumbuh (Shurtleff et al., 1987).
Menurut Smith (1992), pengendalian gulma dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu:
1. Pengendalian Mekanis.
Secara mekanis disarankan teknik pengendalian di tanaman pala adalah
membabat dengan menggunakan sabit alat yang serupa, mencabut dan
membersihkan gulma dengan tangan.
2. Pengendalian Kultur Teknis.
Pengendalian gulma dengan mulsa yaitu daun-daun pala yang sudah
kering pada tanaman pala dibiarkan di permukaan tanah yang ditumbuhi gulma.
Dengan tertutupnya permukaan tanah tersebut gulma tidak akan mendapatkan
sinar matahari yang cukup, sehingga pertumbuhannya akan terhambat.
3. Pengendalian Biologi.
Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan jasad hidup tertentu, untuk
menekan pertumbuhan gulma. Sebagai contoh pengendalian biologi untuk gulma Clidemia hirta,
menggunakan hama Thrips (Smith, 1992).
4. Pengendalian Kimiawi.
Herbisida yang dapat dipakai untuk menekan pertumbuhan gulma adalah herbisida 2.4 D, dan
Glifosat. Kedua jenis herbisida ini termasuk dalam herbisida sistemik, sedangkan berdasarkan
selektivitas herbisida, jenis 2.4 D merupakan herbisida selektif yang dapat mematikan jenis gulma
berdaun lebar, sedangkan jenis glifosat merupakan jenis herbisida nonselektif yang dapat memetikan
semua jenis gulma.

III.

PENUTUP

a. Kesimpulan
Alternanthera philoxeroides merupakan gulma yang ideal dan dianggap sebagai gulma
terbruk dunia. memiliki potensi merugikan ekonomi dan berdampak tidak baik bagi lingkungan.
kremah merupakan gulma pertanian yang menyerang area yang lembab didaerah tropis dan
subtropik. Gulma ini menyerap hara dan air lebih cepat dibanding tanaman pokok biasanya
gulma kremah terdapat pada tanaman padi dengan kerapatan yang tinggi. Pengendalian gulma
kremah dapat di lakukan dengan teknik yang beragam mulai dari pengendalian mekanis, kultur
teknis, pengendalian biologi dan pengendalian kimiawi.

IV.

REFERENSI