Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU

BLOK 19
UNIT PEMBELAJARAN 5

Pruritus Siberian Husky

Oleh :
Monica Kuswandari H.P
11/315854/KH/07138
Kelompok 10

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. Learning Objective
Mengetahui gangguan pada sistem integumentum meliputi etiologi, patogenesis, gejala
klinis, diagnosa, prognosa, terapi dan pencegahannya
B. Pembahasan
1. Fungi
a. Dermatophytosis
1) Etiologi .
Dermatophytosis adalah infeksi yang menyerang kulit (tinea corporis),
kulit dan rambut kepala (tinea capitis), area inguinalis (tinea cruris, juga disebut
jock itch), atau kaki (tinea pedis, juga disebut athletes foot). Anjing tertular oleh
Microsporum canis, Microsporum gypseum atau Trichophyton mentagrophytes
(Quinn et all, 2002).
Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit karena mempunyai daya
tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang
lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum. Selain bersifat keratinofilik,
jamur ini mempunyai afinitas terhadap hospes tertentu. Dermatophyta yang
zoofilik terutama menyerang binatang, dan kadang-kadang menyerang manusia,
misalnya Microsporum canis (Quinn et all, 2002).
2) Patogenesis
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi
atau secara tidak langsung melalui debris epitel terinfeksi yang terdapat pada
lingkungan. Arthrospora infektif melekat pada struktur berkeratin dan bertunas
dalam 6 jam. Trauma kecil seperti usapan pada kulit atau gigitan serangga dapat
mendukung terjadinya infeksi. Kulit yang lembab dan hangat merupakan kondisi
yang baik untuk perkembangan spora. Produk metabolit dari hyphae yang tumbuh
dapat memicu respon radang lokal. Hyphae tumbuh dalam bentuk sentrifugal
mulai dari lokasi awal infeksi meluas ke kulit normal di sekitarnya, meghasilkan
bentukan lesi khas ringworm. Alopesia, pemulihan jaringan, dan hyphae nonaktif
ditemukan di bagian tengah lesi selama perkembangannya. Pertumbuhan hyphae
dapat berakibat pada hyperplasia dan hyperkeratosis epidermis. Infeksi sekuder
bakteri dapat terjadi mengikuti folikulitis mikotik. (Quinn et all, 2002).

3) Gejala Klinis
Eritema, diikuti dengan eksudasi, panas setempat, dan alopecia. Karena
jamur tidak tahan dalam suasana radang, jamur berusaha meluas ke pinggir lesi,
hingga akhirnya terbentuk lesi yang bulat atau sirkuler berwarna coklat
kekuningan, dengan bagian tengahnya mengalami kesembuhan (Subronto, 2006).
4) Diagnosa .
a) Kerokan Kulit
Spesimen dari kerokan kulit letakkan di deck glass dan ditetesi KOH
10-20%. Kemudian tutup dengan object glass, dipanaskan dengan lampu
Bunsen untuk memfiksasi, dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran
40 x. Kalau lesi tersebut adalah ruam karena infeksi jamur, akan lihat adanya
spora ataupun hifa. Untuk mengetahui golongan ataupun spesies daripada
jamur dilakukan pembiakan dengan SBM yang standar yaitu SBM Saboraud
Agar,juga SBM mikobiotik. (Nasution, 2005).
b) Pemeriksaan Histologik
Pemeriksaan histologik atas bagian kulit yang mengalami radang
minimal akan menunjukkan hiperkeratosis yang bersifat moderat dari
epidernis folikel ,adanya akantosis serta reaksi radang perifolikuler serta
infiltrasi sel sel mononuklear .Bagian jamur akan ditemukan apabila sedian
diwarnai dengan pewarnaan asam peryodat Schiff ( PAS ) atau perak
methenamin .Jugaditemukan ulserasi epidermis yang diisi keropeng hasil
peradangan dinding folikel rambut yang terserang akan berisikan sel sel
PMN dan mononuklear ,limfosit ,plasma sel dan histiosit (Nasution, 2005).
5) Terapi
Mandikan hewan dengan shampoo berbahan aktif Ketoconazole seperti
Fungasol-SS dan Nizoral atau shampoo berbahan aktif Selenium Sulfida seperti
varian Selsun Shampoo.
6) Pencegahan
o Periksalah setiap hewan baru yang akan dimasukan ke dalam suatu populasi.
o Pisahkan hewan yang diduga terinfeksi dari yang sehat.
o Bersihkan area yang berkontak dengan hewan yang terinfeksi

o Bersihkan kandang, alas tidur, tempat makan dan tempat bermain hewan
secara teratur.
o Periksalah kondisi semua hewan peliharaan yang ada di rumah.
o Semua permukaan tempat-tempat bermain hewan didesinfeksi dan sebaiknya
diulang minimal 2 kali.
2. Ektoparasit
a. Demodecosis
1) Etiologi
Merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex
sp. Berbentuk seperti cerutu, hidup di dalam folikel rambut dan kelenjar lemak
(sebasea), menyebabkan kudis demodekosis atau kudis folikuler.
Berukuran 250 -300 m x 400 m. Siklus hidupnya 20-35 hari dimulai
dari telur larva (6 kaki) nimfa (8 kaki) dewasa (8 kaki).
(Sardjana, 2012 ; Subronto, 2006)
2) Patogenesis
Penularan demodekosis ini terjadi mulai anak anjing berumur 3 hari.
Dalam kondisi normal, parasit ini tidak memberikan kerugian bagi anjing, namun
bila kondisi kekebalan anjing menurun maka demodex akan berkembang menjadi
lebih banyak dan menimbulkan penyakit kulit. Pada anak anjing akan tertular
oleh induknya, namun setelah sistem kekebalan tubuhnya meningkat kira-kira
pada umur 1 minggu, maka parasit ini akan menjadi flora normal dan tidak
menimbulkan penyakit kulit (Sardjana, 2012).
3) Gejala Klinis
a) Lokal.
Kulit mengalami eritema local dan alopesia sebagian. Pruritis dan
daerah

tersebut

ditutupi

oleh

sisik-sisik

kulit

yang

berwarna

keperakan. Kerusakan kulit yang sering adalah pada wajah khususnya di


daerah sekeliling mata (periokuler) dan pada sudut mulut (komisura).
Kerusakan berikutnya pada kaki depan. Kebanyakan anjing yang berumur 3
sampai 6 bulan dapat sembuh sendirinya tanpa pengobatan, namun sejumlah
kasus bisa berkembang menjadi bentuk general
(Sardjana, 2012).

b) General.
Biasanya

sifat

kematian. Lanjutan

penyakit

parah

dan

dari demodecosis lokal,

dapat

kemudian

berakhir

dengan

berkembang

dan

bertambah parah. Sejumlah lesion muncul pada kepala, kaki, badan. Setiap
makula yang terjadi akan meluas dan membuat kerontokan-kerontokan kulit
meluas. Tungau yang berkembang di dalam folikel rambut menyebabkan
folikulitis. Pyoderma sekunder dapat memperparah keadaan lesion, oedema
dan keropeng akan menggantikan kerontokan rambut sebelumnya menjadi
plaques. Bila folikulitis terjadi dan menghasilkan eksudat akan terbentuk
keropeng yang tebal (Sardjana,2012).
4) Diagnosa .
a) Berdasarkan gejala klinis yang nampak.
b) Kerokan Kulit
Spesimen dari kerokan kulit letakkan di deck glass dan ditetesi KOH
10-20%. Kemudian tutup dengan object glass, dipanaskan dengan lampu
Bunsen untuk memfiksasi, dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran
40 x.Akan nampak potongan dari Demodex sp.
c) Pemeriksaan histopatologi
Melalui biopsi kulit dapat diketahui tingkatan perifolikulitis, folikulitis
dan furunkulitis. Folikel rambut yang menderita akan dipenuhi oleh
tungauDemodex sp.
(Nasution, 2005)
5) Terapi
a) Demodecosis Lokal

Pemberian salep yang mengandung 1% rotenone (Goodwinol ointment)


maupun gel benzoyl peroxide 5 % yang diaplikasikan sehari sekali setiap
hari selama 1-3 minggu.
Mandi dengan shampoo yang mengandung benzoyl peroxide secara regular
minimal seminggu sekali.
Pemberian amitraz yang telah diencerkan dengan konsentrasi 0.1% pada
area alopecia sehari sekali selama 2 minggu.

b) Demodecosis General
Dimandikan dengan Amitraz dengan konsentrasi 0.025% 2 kali seminggu.
Sebelum menggunakan Amitraz, terlebih dahulu dimandikan dengan
shampoo yang mengandung Benzoyl Peroxide untuk mengurangi minyak
dan runtuhan sel kulit mati.
Pemberian Ivermectin SC 400 g/kg sehari sekali selama 2-4 minggu. Obat
ini kontraindikasi untuk anjing jenis collie, shelties, australian shepherds,
old english sheepdogs maupun hewan yang positif menderita heartworm
karena faktor sensitivitasnya.
Pemberian antibiotik (Bactrim) bila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri
(pyoderma).
Pemberian antihistamin (Duradryl) bila terjadi kegatalan karena iritasi
Demodex sp. pada kulit hewan.
Pemberian Dipenhydramin HCL untuk atasi rasa gatal.
Pemberian salep Kalmicetine untuk pengobatan topical 2-3 kali dalam
sehari guna membunuh bakteri gram positif maupun gram negative.
(Sardjana, 2012).

6) Pencegahan
Manajemen pakan dengan memperhatikan kecukupan nutrisinya.
Manajemen kandang terutama dari kebersihan kandang, sanitasi udara dan
pengaturan jumlah populasi.
Kebersihan hewan harus diperhatikan , seminggu sekali harus dimandikan.
Hewan yang terinfeksi demodex tidak untuk dijadikan indukan.
Pemberian vaksin agar meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit yang
dapat menurunkan system imun (Sardjana, 2012).
b. Scabiosis
1) Etiologi
Spesiesnya Sarcoptes scabei . Ukuran betina 400 m, jantan 250 m.
Predileksinya di telinga, wajah, moncong dan siku (Foreyt, 2001).

2) Patogenesis
Penularannya lewat kontak langsung dengan hewan penderita. Ektoparasit
jantan dan betina kawin di kulit. Ektoparasit betina masuk ke kulit menuju
epidermis dan mulai bertelur. Ektoparasit betina memproduksi secret yang
menyebabkan rasa gatal diikuti munculanya ruam pada kulit. Siklus hidupnya di
mulai dari telur butuh waktu 3 minggu ( Zajac,2012 ).
3) Gejala Klinis
Hewan mengalami pruritus, erythrema, alopesia, hyperketratosis, kulit
terdapat kerak didaerah ujung telinga, siku bagian luar, dada ventral, dan
abdomen (Foreyt, 2001).
4) Diagnosa .
a) Gejala klinis yang nampak.
b) Deep skin scraping . Kerok kulit hingga berdarah pada daerah ujung telinga
dan siku, tambahkan Sodium Hidroxide 10 % kemudian dapat di amati di
bawah mikroskop (Foreyt, 2001).
5) Terapi
a) Obat ektoparasit diantaranya avermectin, misalnya ivermectin secara subkutan
(SC). Dosis yang dianjurkan adalah 1 ml untuk 15 20 kg berat badan dan
diulang 10 -14 hari kemudian. Avermetin sebaiknya tidak diberikan pada
anjing dengan umur yang terlalu muda, kurang dari 6 bulan dan ada beberapa
anjing yang peka terhadap obat tersebut.
b) Dipping, yaitu memandikan hewan dengan tujuan pengobatan. Obat yang
sering digunakan adalah Amitraz. 1 ml amitraz 5 % dilarutkan dalam 100 ml
air untuk memandiakan hewan terinfestasi ektoparasit, dan diulang tiap
minggu selama beberapa minggu hingga hewan sembuh.
c) Selamectin 6-12 mg/kg topikal
(Foreyt, 2001)

6) Pencegahan
a) Manajemen pakan dengan memperhatikan kecukupan nutrisinya.
b) Manajemen kandang terutama dari kebersihan kandang, sanitasi udara dan

pengaturan jumlah populasi.


c) Kebersihan hewan harus diperhatikan, seminggu sekali harus dimandikan.
d) Hewan yang terinfeksi scabies tidak untuk dijadikan indukan.
e) Pemberian vaksin agar meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit yang

dapat menurunkan system imun


(Sardjana,2012).

DAFTAR PUSTAKA
Foreyt, W. J. 2001. Veterinary Parasitology : Reference Manual; 5th Ed. Iowa : Blackwell
Publishing.
Nasution, Mansur Amirsyam, 2005. Mikologi dan Mikologi Kedokteran Beberapa
Pandangan Dermatologis. Medan : Universitas Sumatera Utara.
Quinn, P.J , Markey, B.K., Carter, M.E., Donelly, W.J.C.,Leonard, F.C.,. 2002.Veterinary
Microbiology and
Microbial Disease. Oxford: Black well Science.
Sardjana,I Komang Wirasa, 2012. Pengobatan Demodekosis pada Anjing Di Rumah Sakit
Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. VetMedika J
Klin Vet Vol. 1, No.1, Juli 2012.
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba
Kucing.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

pada

Anjing

dan

Zajac. Anne and Gary A.Conboy, 2012. Veterinary Clinical Parasitology 8th. Amerika :
Wiley Blackwell.