Anda di halaman 1dari 33

Referat

Fraktur Maksilofasial

Addini Rosefani
0908151683
Pembimbing :
Dr. Kuswan Ambar P. SpBP

Pendahuluan
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa
Fraktur maksilofasial memiliki proporsi
sebanyak 6% dari keseluruhan jenis fraktur.
Penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu
lintas
dan
sebagian
besar
adalah
pengendara sepeda motor

Fraktur
maksilofasial
melibatkan
tulang tulang penyusun wajah atau
tengkorak bagian depan.
Fraktur maksilofasial bisa terjadi
hanya pada satu tempat ataupun
kompleks.

Batasan Masalah
Referat
ini
membahas
anatomi
maksilofasial,
klasifikasi,
diagnosa,
penatalaksanaan
maksilofasial.

tentang
definisi,
serta
trauma

Tujuan Penulisan
Memahami dan menambah wawasan
mengenai trauma maksilofasial
Meningkatkan
kemampuan
penulisan
ilmiah dibidang Kedokteran khususnya
dibagian Ilmu Bedah
Memenuhi salah satu syarat kelulusan
Kepanitraan Klinik Senior dibagian Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

Anatomi Maksilofasial
Tulang- tulang
pembentuk wajah
terdiri dari:

2 os nasale
2 os lacrimale
2 maxilla
2 os zygomaticum
mandibula
2 os palatinum
2 concha nasalis
inferior
vomer

Fraktur Nasal
Fraktur nasal merupakan cedera tulang
wajah yang paling umum di jumpai.
Fraktur nasal biasanya disebabkan oleh
trauma langsung.
Pada pemeriksaan didapatkan
pembengkakan, epitaksis, nyeri tekan dan
teraba garis fraktur. Foto rotgen dari arah
lateral dapat menunjang diagnosis.

Fraktur tulang hidung ini harus


segera direposisi dengan anastesia
lokal
dan
imobilisasi
dilakukan
dengan memasukkan tampon ke
dalam
lubang
hidung
yang
dipertahankan selama tiga sampai
empat hari. Patahan dapat dilindungi
dengan gips tipis berbentuk kupukupu untuk satu hingga dua minggu

Fraktur Maksila
Klasifikasi fraktur maksila
Fraktur maxilla dibagi menjadi tiga jenis
oleh Le Fort menjadi Le Fort I, II, dan III.

Le Fort I
Le fort I (sepertiga
bawah)
meliputi
daerah mandibula
Lefort 1 merupakan
fraktur
transversal
yang melalui lantai
rongga sinus maksila
diatas gigi, sehingga
memisahkan prosesus
alveolaris,
palatum
dan prosesus pterigoid

Le Fort II
Le fort II (sepertiga tengah yang
dibatasi oleh tepi atas orbita dan tepi
bawah garis gigi atas atau bagian
maksila
Lefort II membentuk patahan fraktur
berbentuk
piramida.
garis
fraktur
berjalan diagonal dari lempeng pterigoid
melewati maksila menuju tepi inferior
orbita dan ke atas melewati sisi medial
orbita
hingga
mencapai
hidung,
sehingga memisahkan alveolus maksila,
dinding medial orbita dan hidung
sebagai bagian tersendiri

Le Fort III
Le Fort III (sepertiga atas)
dengan batas tepi atas orbita
yaitu bagian os frontalis.

Lefort III merupakan fraktur


yang
melewati
sutura
zigomatikofrontalis, berlanjut
kedasar orbita hingga sutura
nasofrontalis. pada tipe ini
tulang-tulang wajah terpisah
dari kranium

Gejala klinis fraktur maksila


-Nyeri
-Bengkak terutama pada jaringan periorbita
-Maloklusi yaitu rasa tidak nyaman ketika
menggigit karena gigi geligi pada rahang atas
tidak pas terkatup dengan gigi geligi pada
rahang bawah,
-Laserasi intraoral
-Nyeri ketika mengunyah
-Krepitasi
-Deformitas
-Maksila goyang
-floating maxilla
-Epistaksis

Pemeriksaan penunjang
=CT-scan 3D
- Waters (memproyeksikan tulang petrosus
supaya terletak dibawah antrum maksila
sehingga kedua sinus maksilaris dapat
dievaluasi seluruhnya)
- Caldwel (foto diambil pada posisi kepala
menghadap kaset, bidang midsagital
kepala tegak lurus pada film)
- submentovertek (foto diambil dengan
meletakkan film pada verteks, kepala
pasien mengadah sehingga garis
infraorbito sejajar dengan film)
- lateral (Foto lateral kepala dilakukan
dengan kaset terletak sebelah lateral

Penatalaksanaan fraktur maksila


Reposisi terbuka pada fraktur maksila
bertujuan untuk koreksi deformitas dan
maloklusi yang dapat dilakukan dengan :
Suspensi zygomatico circumferential
wiring
Suspensi fronto circumferential wiring
Interoseus wiring

Fraktur Zigoma
Cedera yang menimbulkan fraktur
zigoma biasanya akibat suatu benturan
pada korpus zigoma atau tonjolan malar.

Gejala klinis fraktur os zigoma


pipi menjadi lebih rata jika dibandingkan
dengan sisi kontralateral atau sebelum
trauma
diplopia dan terbatasnya gerakan bola mata
edema periorbita dan ekimosis
perdarahan subkonjungtiva
enoftalmus
ptosis
terdapatnya hipestesia atau anetesia karena
kerusakan saraf infra orbitalis
terbatasnya gerakan mandibula
epistaksis

Indikasi operasi pada patah tulang zigoma


fraktur dengan deformitas disertai diplopia
menyebabkan trismus

Penatalaksanaan fraktur os zigoma


Reduksi fraktur zigoma dilakukan melalui insisi
kombinasi, sebagai prinsip umum kesegarisan
(aligment) os zigoma harus ditetapkan pada
setidaknya 3 area dan difiksasi di setidaknya 2
area dengan miniplate dan sekrup.

Fraktur Mandibula
Fraktur mandibula merupakan akibat yang
ditimbulkan dari trauma kecepatan tinggi dan
trauma kecepatan rendah.
Mandibula dapat fraktur di semua bagian dan
fraktur dapat dikenali dengan rasa nyeri
ketika mandibula diraba atau ditekan dengan
lembut, dan menyebabkan gangguan oklusi
geligi. Mandibula cenderung terkena cedera
karena posisinya yang menonjol, sehingga
sering menjadi sasaran pukulan dan benturan.

Dingman
mengklasifikasikan fraktur
mandibula
secara
sederhana,
dibagi
menjadi tujuh regio yaitu :

badan (corpus),
simfisis
sudut (angulus)
ramus
prosesus koroideus
prosesus kondilus
prosesus alveolar

Penanggulangan fraktur mandibula


dilakukan dengan menggunakan mini
atau mikroplate yang dipasang
dengan skrup.

Fraktur Multipel
Maksilofasial
a. Fraktur Nasoorbitoetmoidalis
Fraktur pada daerah nasoorbitoethmoid (NOE) yang
terdiri dari:

os frontal
nasal
maksila
lakrimal
etmoid
sfenoid

sering terjadi karena benturan dengan kecepatan


tinggi dan biasanya disertai trauma lain seperti
toraks dan abdomen.

b.

Fraktur Tripod

Fraktur tripod disebabkan oleh trauma tumpul


yang kuat pada wajah.
Fraktur tripod meliputi tiga titik pemisahan yaitu
fraktur pada rima infraorbitalis, diastasis sutura
zigomatikus-temporalis pada arkus zigomatikus,
dan
terputusnya sutura zigomatikus-frontal
pada dinding lateral orbita.
Tiga
garis
fraktur
dapat
menyebabkan
terbentuknya
fragmen
tulang
yang
mengambang bebas menyerupai tripod.
Pemeriksaan
fisik
dapat
memperlihatkan
asimetri
wajah, perdarahan subkonjungtiva
lateral, ekimosis periorbita, dan epistaksis.

c.

Fraktur Panfasial
Fraktur panfasial adalah fraktur yang
mencakup dua dari tiga area wajah yaitu
tulang frontal, wajah tengah dan
mandibula.
Dengan pemerikasaan ct-scan 3D,
keparahan dan pola fraktur pansial
dapat ditentukan dengan seksama
sehingga
rekonstruksi
dapat
direncanakan dengan baik

ManifestasiKlinis
Gejala klinis gejala dan tandatrauma
maksilofasial dapat berupa :
- Dislokasi, berupa perubahan posisi yang
menyebabkan maloklusi terutama pada
fraktur mandibula
- Pergerakan abnormal pada sisi fraktur
- Rasa nyeri pada sisi fraktur
- Pembengkakan dan memar pada sisi
fraktur sehingga dapat menentukan lokasi
daerah fraktur
- Krepitasi

- Laserasi yang terjadi pada daerah gusi,


mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur
- Diskolorisasi perubahan warna pada
daerah fraktur akibat pembengkakan

Diagnosis
Anamnesis
Aspek yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai
berikut :
Bagaimana mekanisme cedera?
Apakah pasien kehilangan kesadaran ?
Apakah ada gangguan penglihatan, pandangan
kabur, nyeri, ada perubahan gerakan mata?
Apakah pasien memiliki kesulitan bernafas
melalui hidung ? Apakah pasien memiliki
manifestasiberdarahseperti keluar darah
darihidung?
Apakah pasien mengalami kesulitan membuka
atau menutup mulut?
Apakah pasien ada merasakan seperti kedudukan

Pemeriksaan Fisik
-Periksa kepala dan wajah untuk melihat
adanya lecet, bengkak, ekimosis jaringan
hilang, luka, dan perdarahan, Periksa luka
terbuka untuk memastikan adanya benda asing
seperti pasir, batu kerikil.
-Periksa gigi untuk mobilitas, fraktur, atau
maloklusi.
- Palpasi untuk cedera tulang, krepitasi,
terutama di daerah pinggiran supraorbital dan
infraorbital,
tulang
frontal,
lengkungan
zygomatik, dan pada artikulasi zygoma dengan
tulang frontal, temporal, dan rahang atas.

-Periksa
mata
untuk
memastikan
adanya
eksoftalmus
atauenoftalmus,
ketajaman
visual,kelainan gerakan okular dan ukuran pupil,
bentuk, dan reaksi terhadap cahaya, baik langsung
dan konsensual.
-Balikkan kelopak mata dan periksa benda asing atau
adanya laserasi.
-Periksa hidung meraba fraktur dan krepitasi.
-Periksa septum hidung untuk hematoma, laserasi,
fraktur, atau dislokasi,
-Periksa
lidah
dan
mencari
luka
intraoral,
ecchymosis, atau bengkak.Secara Bimanual meraba
mandibula, dan memeriksa tanda-tandakrepitasi
atau mobilitas.

-Palpasi kondilus mandibula dengan menempatkan


satu jari di salurantelinga eksternal, sementara
pasien membuka dan menutup mulut. Rasasakit
atau kurang gerak kondilus menunjukkan fraktur.
-Tempatkan satu tangan pada gigi anterior rahang
atas dan yang lainnya di sisi tengah hidung.Gerakan
hanya gigi menunjukkan fraktur le fort I.Gerakan di
sisi hidung menunjukkan fraktur LeFort II atau III.
-Lakukan tes gigit spatula. Minta pasien untuk
menggigit keras pada spatula. Jika rahang retak,
pasien tidak dapat melakukan ini dan akan
mengalami rasa sakit
- Pemeriksaan fisik yang teliti dilakukan agar dapat
mengetahui lokasi dan keadaan fraktur dari tulangtulang maksilofasial tersebut dengan tepat.

Penatalaksanaan
Fraktur pada maksilofasial mempunyai
cara penanganan pertama
dengan
primary survey, resusitasi, secondary
survey dan akhirnya terapi definitif.
Medikamentosa
bertujuan
untuk
mengurangi morbiditas pada pasien,
dengan pemberian analgetik, antibiotik,
ATS, dan antiemetik. Prinsip penanganan
fraktur maksila sama dengan penanganan
fraktur yang lain yaitu reposisi, fiksasi,
imobilisasi dan rehabilitasi

Terima Kasih