Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Fungsi kebaradaan museum Sri Baduga sangat penting sebagai pusat informasi, pusat
pengetahuan, dan pusat penelitian tentang kebudayaan daerah (kebudayaan Sunda) dan
dapat dirasakan manfaatnya. Sebagai pusat konservasi budaya, museum Sri Baduga
memiliki peran yang sangat strategis dalam memelihara dan memperkenalkan
kebudayaan, khususnya budaya materi, kepada masyarakat agar masyarakat dapat
memahami dinamika dan keanekaragaman budaya yang ada. Pemahaman
keanekaragaman budaya sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia yang bersifat
multietnik, dengan pemahaman tersebut kelompok etnik tertentu diharapkan dapat
menghargai dan mengerti budaya dari kelompok etnik yang lain.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992, pasal 22 ayat 1, disebutkan:


“Benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu baik yang dimiliki oleh
Negara maupun perseorangan dapat disimpan dan/atau dirawat di museum”, dan menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1995, pasal 1 ayat 1, tercantum: “Museum adalah
lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda
bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang
upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa”. Adanya undang-undang
dan peraturan pemerintah tersebut, jelas menunjukkan bahwa museum Sri Baduga
sepatutnya menjadi satu-satunya institusi tempat penyimpanan benda-benda hasil budaya
di Jawa Barat. Jika hal ini benar-benar dipenuhi, maka museum berkewajiban
menampung semua benda cagar budaya bergerak (dapat dipindahkan) yang harus
disimpan dan dirawat agar dapat dimanfaatkan dalam penelitian, baik untuk
pengembangan ilmu pengetahuan maupun sebagai sarana pemahaman sejarah dan
budaya.

2. Masalah
Visi dan misi harus diwujudkan dalam penataan pameran budaya, baik materi maupun
non-materi, yang dimilikinya agar museum benar-benar dapat menjadi salahsatu sarana
untuk mewujudkan pembangunan bangsa; untuk meningkatkan pemahaman tentang
budaya bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa. Dalam rangka mencapai
tujuan tersebut, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan, yaitu hal yang terkait dengan Visi dan Misi, cara mewujudkannya, serta
kode etik dan tanggung jawab pengelola dalam melaksanakan Visi dan Misi tersebut.

Pertama, hal yang terkait dengan Visi dan Misi museum Sri Baduga. Visi dan Misi
sebagai panduan museum Sri Baduga dalam mengembangkan strategi kebijakan,
pengembangan program, saat ini harus tidak lagi terpaku pada kebijakan internal, tetapi
pernyataan misi harus juga mengacu pada kebutuhan pasar agar arti penting keberadaan
museum dapat benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.

Kedua, untuk mewujudkan Visi dan Misi yang berbasis kepentingan pasar, diperlukan
evaluasi terhadap program dan kegiatan museum Sri Baduga yang selama ini
berlangsung. Hingga saat ini, program dan kegiatan museum hanya berlandaskan pada
hasil kerja kuratorial yang terpaku pada latar belakang pengetahuan dan disiplin ilmu
individu, sehingga kinerjanya stagnan pada satu atau beberapa wilayah yang dikuasai
saja. Seharusnya, seorang kurator dapat mengembangkan ilmunya di museum dengan
cara mendalami pengetahuan yang bersifat terapan, yaitu dengan mengangkat kajian/hasil
penelitian yang relevan dalam proses pewarisan budaya masyarakat yang ada saat ini.
Perubahan paradigma semacam ini dapat membawa pada program-program dan kegiatan
museum yang lebih baik; sesuai dengan tujuan utama museum dengan tetap berpijak pada
kebutuhan masyarakat.

Ketiga, kode etik pengelola museum harus tetap diperhatikan dan dilaksanakan oleh
pengelola museum Sri Baduga. Harus disadari bahwa pengelola museum, mengemban
amanat dan tanggungjawab yang sangat besar dalam menjalankan profesinya. Tanggung
jawab pengelola museum bukan terkait dengan pelaksanaan kegiatan yang bersifat rutin
dan formal saja, tetapi yang terpenting adalah tanggung jawabnya terhadap publik
sebagai pewaris budaya dari benda yang disimpan dan dirawat di museum Sri Baduga.
Artinya, pengabdian pengelola museum Sri Baduga terhadap profesinya secara
bertanggung jawab merupakan ujung tombak bagi berlangsungnya sistem pewarisan
budaya.

Museum Sri Baduga, sebagai museum daerah, mengemban Visi dan Misi yang terkait
dengan kebudayaan/hasil penelitian yang berkaitan dengan kebudayaan Sunda atau
kebudayaan-kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Oleh sebab itu, eksistensinya korelatif
dengan eksistensi tumbuh kembang dinamika budaya daerah setempat, dimana program-
program dan koleksinya merupakan representasi dari seluruh budaya yang ada di Jawa
Barat. Sebagaimana nama Sri Baduga sendiri diambil dari nama salah satu raja Sunda di
kerajaan Pajajaran pada abad ke 16 (yang memerintah pada tahun 1482 sampai dengan
1521), jelaslah bahwa museum Sri Baduga sangat erat kaitannya dengan kebudayaan
Sunda/penelitian kebudayaan Sunda, dan koleksinya juga harus mendukung hal tersebut.

3. Tujuan
Museum Sri Baduga sebagai museum daerah yang cukup besar, memegang peran vital
dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan kesejarahan dan kebudayaan, khususnya
dalam mengangkat aset kekayaan sejarah dan kebudayaan daerah Jawa Barat. Museum
Sri Baduga sudah seharusnya mampu menyediakan banyak informasi yang dibutuhkan
berdasarkan dari hasil penelitian kepada masyarakat dan progresif melakukan kegiatan-
kegiatan yang dipandang dapat menunjukkan identitas Jawa Barat.

Kenyataannya, berdasarkan pengamatan sementara, Museum Sri Baduga belum


sepenuhnya mampu melaksanakan visi dan misinya sebagai pusat penelitian dan belum
dapat dianggap mencerminkan secara keseluruhan tentang budaya Sunda: koleksinya
kurang tertata dengan baik dan tidak memberikan gambaran yang runtut tentang budaya
Tatar Sunda. Ketersediaan dan penataan koleksi di Museum Sri Baduga tidak lebih dari
menampilkan benda mati yang tidak – setidaknya kurang – ’berbicara’ apa-apa. Mudah-
mudahan hasil penelitian ini bisa memberikan masukan untuk lebih mengoptimalkan
Museum Sri Baduga, agar lebih dikenal, lebih berperanan dalam melestarikan
kebudayaan daerah.