Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH EKOLOGI TANAMAN

Acara: PENGARUH KETERSEDIAN AIR PADA TANAMAN

NAMA

: Fauzi Himawan

NIM

: 14.05.016

PRODI

: BTP DIV

BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN DIV


POLITEKNIK LPP YOGYAKARTA
2014

A.

Peranan Air Bagi tumbuhan

Air memiliki fungsi yang vital bagi mahluk hidup, tidak terkecuali tanaman. Hal ini
erat kaitannya sebagai bahan dasar yang akan digunakan pada proses fotosintesis yang
merupakan proses fisiologi tanaman untuk pembentukan karbohidrat (gula). Kebutuhan
suplai air bagi setiap jenis tanaman tentu saja berlainan. Selain memiliki fungsi sebagai bahan
dasar fotosintesis, air juga memiliki beberapa fungsi untuk tanaman antara lain : (1) sebagai
pelarut, (2) media tranportasi unsur hara dari akar ke daun, (3) hasil fabrikasi daun keseluruh
bagian tanaman, (4) pengatur tekanan turgor, (5) proses pembelahan dan pembesaran sel dan
(6) untuk perkecambahan.
Hubungan antar fungsi air dan resistensi tanaman terhadap kekeringan yaitu air dapat
menurunkan atau mentralkan temperatur (suhu ) tanaman, hal ini karena air memiliki massa
jenis. Tanaman yang memiliki jaringan koloid hydrophilic akan lebih mampu menurunkan
dan menetralkan suhu tanaman dibandingkan tanaman yang tidak punya jaringan tersebut.
Hal ini karena jaringan koloid hyrdophilic memiliki massa jenis yang besar.
Ketersediaan air dalam tubuh tanaman diperoleh melalui proses fisiologis absorbsi.
Sedangkan hilangnya air dari permukaan bagian-bagian tanaman melalui proses fisiologi,
evaporasi dan transpirasi. Tanaman dengan kondisi daun penuh akan mengabsorbsi air dalam
jumlah besar, demikian pula akan mengalami kehilangan air (transpirasi) yang banyak.
Bila suplay air berlangsung pada tingkat yang normal maka akan menjamin
kestabilan tekanan turgor dalam guard cell yang mana berkaitan dengan proses membukanya
stomata. Dengan demikian, difusi CO2 berlangsung dengan baik, sehingga proses
pembentukkan karbohidrat akan berjalan normal untuk menjamin kestabilan tumbuh dari
tanaman. Sebaliknya, bila tanaman mengalami kekurangan suplai air sedangkan proses
transpirasi berlangsung cepat maka yang terjadi adalah kekurangan jumlah air dalam
tanaman. Pengaruh kekurangan air dapat dilihat pada skema disamping kiri berikut .
Mengingat pentingnya suplai air bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang
berkaitan dengan proses absorbsi dan transpirasi, maka kita perlu mengetahui faktor apa saja
yang menentukan tingkat aktivitas kedua proses tersebut. Keadaan suplai air ditentukan dua
proses yaitu absorbsi dan transpirasi. Absorbsi ini sendiri dipengaruhi oleh faktor tanah yang
terdiri dari jumlah air tanah yang tersedia, jarak rembesan, kecepatan gerak air serta suplai
oksigen (O2) dalam tanah dan faktor tanaman yang terdiri dari kekuatan absorbsi akar rambut
dan kedalaman/kerapatan akar rambut tanaman. Sedangkan tranpirasi dipengaruhi oleh faktor
lingkungan yang terdiri dari cahaya, kelembaban, suhu serta kecepatan angin dan faktor
tanaman yang dipengaruhi luas permukaan tanaman, keadaan guard cell (stomata) serta
kekuatan menahan air dari jaringan tanaman.

a. Faktor Peresapan Air pada Tumbuhan


Jumlah air yang tersedia
Kapasitas menahan air dari setiap tanah tidak sama, hal ini tergantung dari tekstur dan
kandungan bahan organik tanah. Tanah yang memiliki tekstur baik serta mengandung bahan
organik yang cukup akan lebih mampu menahan air dibandingkan dengan tanah-tanah yang
mengandung sedikit bahan organik. Biasanya tanah-tanah dengan kandungan bahan organik
tinggi akan memiliki kapasitas menahan air empat kali dibandingkan tanah yang bertekstur
liat . Tidak semua jumlah air yang berada dalam tanah dapat dikatakan tersedia (available)
untuk segera digunakan oleh tanaman. Keadaan air tersedia yang terdapat dalam tanah yang
rendah akan mengakibatkan tanaman menjadi layu meskipun diadakan penambahan air ke
dalam tanah, karena air tersebut diikat oleh koloid tanah.
Jarak Rembesan
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya kesimpulan bahwa
pergerakan atau jarak rembesan air tersedia di dalam tanah rata-rata 65 100 cm. Dengan
jarak rembesan tersebut jelas akan berpengaruh pada penyerapan zat hara maupun air bila
tanaman memiliki morfologi perakaran yang pendek. Apalagi bila terjadi musim kemarau
maka jarak rembesan air dalam tanah bisa lebih dalam lagi, akibatnya tanaman yang memiliki
perakaran pendek dan dangkal akan mengalami kekeringan.
Kecepatan gerak air
Kecepatan pergerakan air dari tanah yang mengandung lebih banyak koloid biasanya
akan lebih lambat. Tanah tekstur pasir, kecepatan pergerakan air akan lebih cepat, oleh karena
nya secara kontinyu harus ada supplay air hujan atau irigasi untuk dapat menjamin
pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada tingkat normal. Konsenstrasi larutan tanah
berpengaruh terhadap kecepatan pergerakan air dalam tanah. Tanah yang memiliki lebih
rendah konsentrasi dalam kondisi terlarut akan memiliki tingkat kecepatan pergerakan air
yang lebih tinggi dari tanah permukaan ke daerah akar rambut.
Persediaan oksigen (O2) dalam tanah
Kebanyakan semua jenis tanaman menghendaki persediaan oksigen yang cukup.
Oksigen tersebut bermanfaat bagi absorsi air oleh akar rambut tanaman. Berdasarkan
beberapa percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa apabila ketersediaan oksigen tidak
mencukupi sehingga digantikan peranannya oleh Nitrogen dan CO2, maka proses absorsi air
akan berkurang malah dapat terhenti sama sekali. Dengan demikian tanah dengan drainase
dan aerasi yang baik tentunya menjamin pula lancarnya absorbsi air ke dalam tanaman.
Kekuatan absorsi akar rambut tanaman
Peristiwa absorbsi air dan unsur hara ke dalam akar rambut, terjadi melalui peristiwa
osmosis melalui selaput semi -permeable. Dengan kata lain hanya air dan mineral dalam
bentuk ion yang dapat melakukan osmosis, sedangkan air dengan kandungan organik tidak.

Peristiwa osmosis ini terjadi pada akar rambut dimana di dalam akar rambut banyak terdapat
karbohidrat (gula). Apabila kandungan gula tinggi maka akan mengakibatkan lebih sedikit
kandungan air dalam sel akar rambut. Dengan demikian tanaman yang memiliki kemampuan
aktivitas fotosintesis lebih tinggi akan memungkinkan lebih lancarnya proses absorbsi air dan
unsur hara ke dalam akar rambut.
Proses Transpirasi
a.

Cahaya

Cahaya mempunyai hubungan langsung dengan proses fotosintesis dalam


menghasilkan karbohidrat, untuk digunakan dalam proses respirasi sampai dihasilkan energi
dalam bentuk ATP.
b. Suhu
Keadaan pergerakan molekul ditentukan oleh temperatur atau suhu. Makin tinggi
suhu, maka akan mepercepat proses kehilangan air dari tanaman dan sebaliknya.
c.

Kecepatan angin

Pergerakan udara akan menyebabkan terjadinya angin, dimana makin tinggi tingkat
pergerakan udara atau makin kencangnya angin, akan mengakibatkan makin cepatnya
molekul uap air keluar dari jaringan tanaman.
d. Luas permukaan tanaman
Secara logika dapat dibayangkan bahwa semakin luas bagian permukaan tanaman
akan mengakibatkan makin tingginya transpirasi.
e.

Keadaan stomata

Keadaan suplai air yang cukup akan mempengaruhi guard cell dalm proses membuka
menutupnyanya stomata. Apabila dalam kondisi setengah terbuka atau lebih pada siang hari
maka proses transpirasi akan berlangsung lebih cepat.
f.

Kekuatan menahan air dalam jaringan tanaman

Di dalam jaringan tanaman terdapat koloid yang diantaranya terdapat koloid-koloid


yang berkemampuan untuk mengikat dan menahan air, biasanya disebut hydrophillic coloid.
Air yang diikat oleh koloid -koloid tersebut disebut bound water yang akan membeku di
bawah suhu 0oC dan menguap diatas 100oC. Tanaman yang memiliki jumlah koloid
hydropllic yang tinggi biasanya tahan terhadap kekeringan.
Macam-Macam Air
1. Air gravitasi: berada di pori makro tanah, diikat sangat lemah oleh partikel tanah, dengan
cepat turun ke lapisan yang lebih dalam, tidak dapat dimanfaatkan tanaman
2. Air kapiler: terdapat di pori mikro tanah, melapisi butiran tanah, diikat longgar oleh
partikel tanah, dapat dilepaskan oleh perakaran, dapat diserap akar
A.

3.

Air higroskopis: air yang menempati posisi sangat dekat dengan partikel tanah, diikat
sangat kuat, akar tidak mampu memutus ikatan, tidak dapat diserap akar

Tanggap pertumbuhan dan hasil tanaman terhadap cekaman air tergantung fase
pertumbuhan saat cekaman air tersebut terjadi. Jika cekaman air terjadi pada fese
pertumbuhan vegetatif yang cepat, pengaruhnya akan lebih merugikan dibandingkan dengan
jika cekaman air terjadi pada fese pertumbuhan lainnya. Proses-proses fisiologi yng
mengakibatkan perubahan hasil karena cekaman air.
Untuk mengetahui apakah tanaman cukup air atau tidak, dapat melihat gejala-gejala yang
ditampakkan oleh tanaman. Diantaranya adalah:
a. Pengecekan media tanam:
o Jika media terasa remah lepas, berarti media sedikit mengandung air
o Periksa dengan membuat lubang sebesar ibu jari dengan kedalaman 1,5-3cm.
Jika kering maka kelembaban tanaman rendah dan tanaman perlu disiram.
b. Gejala fisiologis tanaman:
Tanaman layu dan daun tua coklat dan mengering, dicurigai tanaman kekurangan air.
Periksa media dan gejala lain apakah disebabkan oleh hama dan penyakit tanaman
lainnya.
Pinggiran daun berwarna coklat dan kering untuk tanaman kekurangan air
Jika berbunga dan kurang air, maka bunga akan gugur dengan cepat.
Jika daun ujungnya coklat, kemungkinan besar kelebihan air.
Dalam media yang terlalu lembab, akar akan membu. Dampak kandungan lengas
pada perkembangan sistem perakaran
Dampak Kelebihan Air pada Tanaman
Kelebihan air pada tanaman biasanya terlihat /terjadi ketika awal musim hujan (akhir
musim kemarau) dan padsa saat pertengfahan musim hujan. Yang sangat berdampak bagi
pertumbuhan tanaman dapat di lihat sebagai berikut: Awal musim hujan (akhir musim
kemarau)
Ciri, sinar matahari cukup banyak, suhu udara panas, kelembaban udara absolute (Ah)
tinggi, kelembaban udara relatip (Rh) tinggi, hujan masih jarang terjadi, dan sumber air tanah
maupun air permukaan sedikit. Dampak bagi tanaman yaitu proses transpirasi (proses
pendinginan) terganggu karena tingginya nilai Rh. Keadaan ini diperparah dengan sulitnya
proses pendinginan secara konduksi lewat daun, karena bahang panas pada fase musim ini
juga tinggi. Akibatnya tanaman akan kepanasan, daun dan batang tanaman nampak layu
meski masih nampak hijau. Kalau kondisi parah ranting dan daun akan menguning dan
rontok.
Kesalahan yang sering dilakukan pada fase ini, melihat tanaman nampak layu timbul
anggapan tanaman kurang air.
Padahal kelayuan muncul bukan karena kekurangan air (seperti pada musim panas),
namun akibat terganggunya proses penyerapan air karena transpirasi terhambat. Dampak
selanjutnya gampang diduga, zona akar akan kelebihan air dan mengundang penyakit.
Pertengahan musim hujan. Ciri, sinar matahari terhalangi mendung, suhu udara turun,
kelembaban udara absolute (Ah) turun / rendah, kelembaban udara relatip (Rh) tinggi,
frekwensi hujan tinggi, dan sumber air tanah maupun air permukaan melimpah.
Dampak bagi tanaman antara lain Kelembaban (Rh) tinggi pada suhu yang rendah merupakan
kondisi ideal pertumbuhan spora jamur. Tanaman yang tidak sehat atau bagian tanaman yang
B.

tua menjadi rentan serangan jamur. Genangan-genangan air pada bagian batang, bonggol, dan
daun (bagian-bagian yang kaya karbohidrat) cepat atau lambat akan diserbu jamur.
C. Stress Fisiologis Tanaman
Stress air pada tanaman merupakan faktor utama dalam penghambatan produktivitas
tanaman. Proses fisiologis selalu berhubungan dengan air. Hilangnya air dari jaringan
tanaman dapat berpengaruh pada banyak hal, antara lain berkurangnya tekanan hidrostatik di
dalam sel, meningkatnya konsentrasi makromolekul dan larutan dengan berat molekul kecil.
Beberapa aktivitas fisiologis yang dipengaruhi oleh stress air antara lain sebagai berikut.
a. Pembesaran dan Pembelahan Sel
Proses yang paling sensitif terhadap stress air adalah pertumbuhan sel. Pengaruh
utama tampak pada proses fisis. Bila tekanan turgor sel jatuh akibat stress air, pembesaran sel
juga menurun karena kehilangan tekanan di dalam sel. Turgor yang tinggi dalam jaringan
kadang-kadang dijumpai pada malam hari dibanding dengan pada siang hari. Ketersediaan air
tanah juga berpengaruh pada potensi air di daun dan juga perkembangan/perluasan daun.
Stress air yang berkepanjangan dapat menghambat pembelahan sel (meristem) belum jelas
apakah penghambatan tersebut secara langsung atau tidak langsung.
b. Dinding Sel dan Sintesis Protein
Dinding sel tersusun sebagian besar dari selulosa yang merupakan penggabungan dari
molekul glukosa. Sintesis substansi ini tertekan pada kondisi stress air. Dilaporkan juga
penggabungan asam amino ke dalam bentuk protein juga dihambat oleh stress air, tetapi
belum jelas bagaimana stress air berpengaruh terhadap sintesis protein.
c. Enzim
Defisit air berpengaruh langsung terhadap level enzim. Pada kondisi stress yang
moderat, level beberapa enzim meningkat, misal enzim hidrolase dan dehidrogenase. Pada
umumnya stress air mengakibatkan menurunnya kadar enzim, terutama nitrat reduktase.
Stress air berpengaruh pada turgor, apakah kemudian tekanan turgor juga berpengaruh
terhadap enzim yang berada di plasma membran, masih menimbulkan pertanyaan, mungkin
bahwa aktivitas ATP ase membran dikendalikan oleh besarnya turgor, yang juga dinyatakan
bahwa potensial membran tergantung pada turgor. Diduga bahwa perubahan potensial
membran dimaksudkan agar jaringan tanaman dapat mengendalikan reaksi fisiologis, misal
penyerapan bahan-bahan terlarut. Hubungan antara penyerapan sukrosa dan turgor telah
disebutkan di depan. Hal yang serupa dijumpai pada hubungan antara turgor dan penyerapan
K+ pada ganggang Velonia sp, penyerapan K+ meningkat bila turgor sel menurun dan
sebaliknya. Dengan demikian nampak bahwa tekanan turgor memiliki fungsi ganda dalam
proses pertumbuhan. Ia dibutuhkan untuk menekan dinding/membran sel untuk memberi
fasilitas pemecah ikatan kimia dan tahap berikutnya mengendalikan bahan-bahan terlrut yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1994.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia : Jakarta


Lukman, Diah . 1997.Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo
Persada : Jakarta
Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.