Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat
adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Sebagian besar dari infeksi
saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk-pilek, disebabkan oleh
virus, dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik.Infeksi saluran
pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi
pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, terlihat bahwa
cakupan pneumonia penderita dan pengobatan dari target (perkiraan
penderita) masih relatif rendah, tahun 2000 ada 30,1%; tahun 2001 ada 25%;
tahun 2002 ada 22,1%; tahun 2003 ada 30%; tahun 2004 ada 36%; tahun
2005 ada 27,7%. Hasil pantauan yang dilakukan ini belum menggambarkan
kondisi yang sebenarnya oleh karena masih ada beberapa wilayah yang belum
menyampaikan laporannya.
Penelitian Septri Anti (2007), dari catatan bulanan program P2 ISPA
Kota Medan tahun 2002-2006 didapatkan bahwa berdasarkan hasil uji regresi
linier terdapat nilai signifikan sebesar 0,552 (>0,05), tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara waktu dengan jumlah penderita ISPA pada balita, hal
ini berarti bahwa adanya kecenderungan peningkatan jumlah balita penderita
ISPA, dimana penderita penyakit ISPA pada tahun 2002 berjumlah 8.836
orang dan pada tahun 2007 mencapai 9.412 orang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan penyebab ISPA?
2. Sebutkan klasifikasi dari ISPA!
3. Sebutkan faktor resiko dari ISPA!
4. Sebutkan tanda-tanda bahaya ISPA!
5. Bagaimana penanggulangan ISPA!
C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mengetahui pengertian dan penyebab ISPA.
2. Mahasiswa mengetahui klasifikasi dari ISPA.
3. Mahasiswa mengetahui faktor resiko dari ISPA.
4. Mahasiswa mengetahui tanda-tanda bahaya ISPA.

5. Mahasiswa mengetahui penanggulangan ISPA.

BAB II
PEMBAHASAN
A. INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT ( ISPA )
1. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas

laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan
bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk
jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura
(Nelson, 2003).
Penyakit ISPA lebih sering diderita oleh anak-anak. Daya tahan
tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistim pertahanan
tubuhnya belum kuat. Kalau di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga
terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh
anak yang masih lemah, proses penyebaran penyakit pun menjadi lebih
cepat.
Jadi disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut
akibat infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur
yang berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14
hari.
2. Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia.
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus,
Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus,
Koronavirus,

Pikornavirus,

Mikoplasma,

Herpesvirus dan

lain-lain

(Suhandayani, 2007).
3. Klasifikasi ISPA
Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur di
bawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun (Muttaqin, 2008)
a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan
1) Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada
bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan
umur kurang 2 bulan yaitu 6x per menit atau lebih.
2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)
Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian
bawah atau napas cepat.
b. Golongan Umur 2 Bulan - 5 Tahun
1) Pneumonia Berat

Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada


bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada
saatdiperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau
meronta).
2) Pneumonia
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2
-12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4
tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
3) Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan
tidak ada napas cepat.
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :
a. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk,
pilek dan sesak.
b. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari
390C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.
c. ISPA berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu
makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.
4. Faktor Resiko
Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) :
a. Faktor Demografi
Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu :
1) Jenis kelamin
Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki-lakilah
yang banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang lakilaki merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka
sering terkena polusi udara.
2) Usia
Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang
penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah
tangga yang memasak sambil menggendong anaknya.
3) Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh


dalam kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas
kesehatan serta pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala
dan upaya penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang
datang kesarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat
karena kurang mengerti bagaimana cara serta pencegahan agar tidak
mudah terserang penyakit ISPA.
b. Faktor Biologis
Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu (Notoatmodjo, 2007):
1) Status gizi
Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau
terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan
mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak
minum air putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup.
Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan
semakin menigkat, sehingga dapat mencegah virus ( bakteri) yang
akan masuk kedalam tubuh.
2) Faktor rumah
Cukup ventilasi dan cukup cahaya.
c. Faktor Polusi
Adapun penyebab dari faktor polusi terdiri dari 2 aspek yaitu
(Lamsidi, 2003) :
1) Cerobong asap
Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau pabrik-pabrik
industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas (vertikal). Cerobong
tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke atas terbawa oleh angin.
Cerobong asap sebaiknya dibuat horizontal tidak lagi vertikal,
sebab gas (asap) yang dibuang melalui cerobong horizontal dan
dialirkan ke bak air akan mudah larut. Setelah larut debu halus dan
asap mudah dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan
oleh media Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa
menyerap racun dan logam berat. Langkah tersebut dilakukan

supaya tidak akan ada lagi pencemaran udara, apalagi hujan asam.
Cerobong asap juga bisa berasal dari polusi rumah tangga, polusi
rumah tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak,
bahan bakar untuk memasak yang paling banyak menyebabkan
asap adalah bahan bakar kayu atau sejenisnya seperti arang.
2) Kebiasaan merokok
Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan sekitar 4.000
bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen
oksida, hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzol
dehide,

urethane,

methanol,

conmarin,

4-ethyl

cathecol,

ortcresorperyline dan lainnya, sehingga di bahan kimia tersebut


akan beresiko terserang ISPA.
d. Faktor timbulnya penyakit
Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut Bloom
dikutip dari Effendy (2004) menyebutkan bahwa lingkungan
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya lingkungan kesehatan,
individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku
manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan juga dipengaruhi
oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi rumah yang cukup
untuk mengurangi polusi asap maupun polusi udara.
5. Tanda-tanda Bahaya
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat
jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila
sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan
yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu
diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah
berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan
pernapasan.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan


tanda-tanda laboratoris.
a. Tanda-tanda klinis
Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea),
retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas

lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.


Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi,

hypotensi dan cardiac arrest.


Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit

kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.


Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.
b. Tanda-tanda laboratoris :
Hypoxemia,
Hypercapnia dan
Acydosis (metabolik dan atau respiratorik)
Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun
adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi
buruk. Sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2
bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai
kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran
menurun, stridor, Wheezing.
B. PENANGGULANGAN ISPA
Penyelenggaraan Program P2 ISPA dititikberatkan pada penemuan dan
pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif
masyarakat terutama kader, dengan dukungan pelayanan kesehatan dan
rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait.
1) Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat
dianggap

sebagai

strategi

untuk

mengurangi

kesakitan

(insiden)

pneumonia. Termasuk disini ialah :


a. Penyuluhan,
Dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang

dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan


ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif,
penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak,
penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi
angka kesakitan (insiden) pneumonia.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi
vitamin A.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir
rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2) Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini
mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi
ISPA yaitu :
a. Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :

Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak


mengalami sianosi sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan
dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan

benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.


Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan,
nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi ASI
secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu
menggangu saat memberi makan.

b. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi:

Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi


antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular
setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari, obati demam, obati mengi,
perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai
ulang setiap hari.

Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan


kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin
prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan
perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2

hari.
Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi
antibiotik sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk
dan pilek), obati demam, nasihati ibu untuk memberikan perawatan
di rumah.

3) Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)


Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar
tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian.

Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian


benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah
pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan
ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda
pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab

pneumonia persistensi.
Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan
periksa adanya tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam
berkurang, nafsu makan membaik. Nilai kembali dan kemudian
putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau
tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati
sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak
membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau
tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau
secara ketat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit ISPA adalah salah satu penyakit yang banyak diderita bayi
dan anak-anak, penyebab kematian dari ISPA yang terbanyak karena
pneumonia. Klasifikasi penyakit ISPA tergantung kepada pemeriksaan dan
tanda-tanda bahaya yang diperlihatkan penderita, Penatalaksanaan dan
pemberantasan kasus ISPA diperlukan kerjasama semua pihak, yaitu peran
serta masyarakat terutama ibu-ibu, dokter, para medis dam kader kesehatan
untuk menunjang keberhasilan menurunkan angka, kematian dan angka
kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional.
B. Saran
Diharapkan kepada pembaca agar lebih memahami penyakit ISPA
dan mengenali secara dini tanda penyakit ISPA agar dapat menurunkan angka
kematian pada penderita ISPA.

DAFTAR PUSTAKA

http://endryjuliyanto.blogspot.com/2012/02/infeksi-saluran-pernafasan-akutispa.html. Diakses hari Rabu tanggal 8 April 2015.


http://latifahsyeifi.blogspot.com/2013/11/makalah-kesehatan-lingkunganispa.html. Diakses hari Rabu tanggal 8 April 2015.
https://www.scribd.com/doc/137418506/ISPA-docx. Diakses hari Rabu tanggal 8
April 2015.