Anda di halaman 1dari 9

PENCELUPAN KAIN SUTERA

DENGAN ZAT WARNA BASA.


I.

MAKSUD DAN TUJUAN.


Untuk melakukan pratek pencelupan zat warna basa pada kain sutera dan kain wol,
agar terjadi pewarnaan yang diinginkan pada kain tersebut.

II.

TEORI DASAR.
Zat Warna basa adalah zat warna yang mempunyai muatan positif atau sebagai kation
pada bagian yang berwarna, maka zat warna tersebut disebut juga disebut juga zat
warna kation.
Pada tahun 1856, W.H. Perkin mereaksikan kondensasi senyawa anilin yang belum
dimurnikan untuk membuat senyawa kwinin tetapi didalamnya terdapat pula senayawa
berwarna yang dapat mencelup serat sutera atau wol secara langsung.
Kimiawi zat warna basa.
Zat warna basa merupakan garam, basa zat warna basa pada umumnya mempunyai :
HO

(C6H4)

NH2

Yang dapat membentuk garam dengan asam sebagai berikut :


R

NH2

OH

+ HCl

+
NH

Cl

Zat warna basa diperdagangkan dapat membentuk garam dengan asam hidro klorida
atau oksalat sebagai asamnya, dan mungkin pula berbentuk garam seng klorida.
Berdasarkan inti khomofornya yang menciri maka zat warna basa dapat digolongkan
sebagai berikut.

Golongan 1.
Yaitu merupakan devirat Tri fenil Metan, Misalnya Melachite Green

C
+
N(CH3)2

Cl

Golongan 2
Yaitu merupakan devirat Thiasin, misalnya Methylen blue

N
N(CH3)2
(CH3)2N
S+
Cl

Methylene Blue

Golongan 3
Yaitu merupakan devirat Oxazin, misalnya meldola blue

N
(CH3)2N
O+
Cl

Meldola Blue

Golongan 4
Yaitu merupakan devirat azin, misalnya Neutral red
N
CH3
(CH3)2N

+
N
H
Cl--

NH2
Neutral Red

Golongan 5
Yaitu merupakan devirat Xanten, misalnya Rhodamine B
N
N+(C2H5)2
(C2H5)2N
C
Rhodamine B
COOH

Cl-

Golongan 6
Yaitu merupakan devirat azo, misalnya Bismarck browm.
NH2

H2N

NH2
N

NH2

Sifat zat warna basa


Sifat utama zat warna basa adalah mempunyai kecerahan dan intensitas warna yang
tinggi. Zat warna basa segera larut dalam alkohol tetapi pada umumnya tidak larut
dalam air sehingga sering kali terbentuk gumpalan. Demikian pula pada zat warna
basa misalnya Anramine akan mengurai dengan pendidihan sehingga pemakaiannya
hanya pada temperatur 60 65oC. Dan pada umumnya pada pendidihan yang lama
akan terjadi penguraian sebagian yang menghasilkan penurunnan intensitas warna.
Bila kedalam larutan zat warna basa ditambahkan alkali kuat maka akan terbentuk
basa zat warna basa yang tidak berwarna. Tetapi dengan penambhan suatu asam akan
terbentuk lagi bentuk garamnya yang berwarna. Basa tersebut akan larut dalam eter.
Zat warna basa memiliki ketahanan sinar yang jelek dan ketahanan cuci yang kurang.
Asam tanin akan memberikan senyawa yang tidak larut dalam air dengan zat warna
basa terutama bila tidak ada asam mineral. Sifat tersebut berguna dalam pencelupan
serat serat sellulosa. Dengan istilah back tanning tetapi kerja iring tersebut berguna
akan menyuramkan kilap zat warna basa.
Beberapa senyawa reduktor akan mengubah zat warna basa menjadi basanya yang
tidak berwarna Basa tersebut teroksidasi menjadi bentuk semula. Misal pada zat warna
pararosaniline.

H2N

H2N
C=

H2N

+
= NH2 Cl

H
O

C=
H2N

NH2

Tetapi zat warna basa yang mempunyai ikatan azo proses reduksi tersebut akan
membongkar ikatan azonya sehingga tidak mungkin kembali kebentuk semula dengan
proses oksidasi.
Afinitas zat warna basa
Serat serat selulosa tidak mempunyai afinitas terhadap zat warna basa. Apabila
beberapa zat warna basa dapat mencelup serat serat tersebut maka ketahanan cucinya
akan rendah sekali. Tetapi serat serat protein afinitas terhadap zat warna basa adalah
besar karena terbentuk ikatan garam yang dapat digambar sebagai berikut :
W COO - + ( Kation Zat warna ) +

W COO ( Kation Zat warna )

Zat warna tersebut akan terserap pada tempat tempat yang bermuatan negatif
sehingga apabila tempat tersebut telah terisi maka penyerapan zat warna akan terhenti.
III.

ALAT DAN BAHAN.


. Alat

Bahan
1. Kaca porselin

1. ZW Basa kationik

2. Pengaduk

2. Asam acetat 30 %

3. Bunsen lengkap

3. Perata kationik

4. Pipet

4. Pendispersi non ionik.

5. Temperatur
. Zat warna yang digunakan untuk pencelupan ini adalah
basis violet
. Reaksi
Ikatan zat warna Basa dengan serat

IV.

RESEP
R/Pencelupan

R1

R2

R3

R4

ZW Basa (%)

As Acetat 30 % ( cc/l )

NH4 Asetat g/l

0,5

0,5

0,5

0,5

Vlot ( 1 : X )

1: 40

R/ Pencucian
Detergen

: 1 cc/l

Alkali

: 1 g/l

Vlot

: 1 : 40

Suhu

: 70 80 oC

Waktu : 10 menit.
Perhitungan Resep
Resep Pencelupan
resep 1
- Berat bahan

= 3,0 gram

- Vlot

= 1 : 40

- Air yang digunakan = 3,0 x 40 = 120 cc


- Zat warna (%)

1
x 3,0 g x 100 cc = 3,0 cc
100

- CH3COOH

1
x120 cc = 0,12 cc/l
1000l

- NH4COOH

0,5
x120 cc = 0,06 cc/l
1000l

resep pencucian dengan sabun


- Detergen

1
x 120 cc =0,12 cc/l
1000

- Na2CO3

1
x 120 cc = 0,12cc/l
1000

resep 2
- Berat bahan

= 3,2 gram

- Vlot

= 1 : 40

- Air yang digunakan = 3,2 x 40

= 128 cc

- Zat warna (%)

1
x 3,2 g x 128 cc = 3,2 cc
100

- CH3COOH

2
x 128 cc = 0,298 cc/l
1000l

- NH4COOH

0,5
x 128 cc =0,064 cc/l
1000l

resep pencucian dengan sabun

- Detergen

1
x 128 cc = 0,128 cc/l
1000

- Na2CO3

1
x 128 cc = 0,128 cc/l
1000

resep 3
- Berat bahan

= 3,5 gram

- Vlot

= 1 : 40

- Air yang digunakan = 3,5 x 40 = 140 cc


- Zat warna (%)

1
x 3,5 g x 100 cc = 3,5 cc
100

- CH3COOH

2
x140 cc = 0,48 cc/l
1000l

- NH4COOH

0,5
x 140 cc = 0,07 cc/l
1000l

resep pencucian dengan sabun


- Detergen
- Na2CO3

1
x 140 cc = 0,14 cc/l
1000

1
x 140 cc = 0,14 cc/l
1000

resep 4
- Berat bahan

= 3,2 gram

- Vlot

= 1 : 40

- Air yang digunakan = 3,2 x 40 = 128 cc


- Zat warna (%)

1
x 3,2g x 100 cc =3,2 cc
100

- CH3COOH

2
x 128 cc = 0,296 cc/l
1000l

- NH4COOH

0,5
x 128 cc = 0,064 cc/l
1000l

resep pencucian dengan sabun

V.

- Detergen

1
x 128 cc = 0,128 cc/l
1000

- Na2CO3

1
x 128 cc = 0,128 cc/l
1000

FUNGSI ZAT
1. Asam acetat 30 % untuk melarutkan basaTidak larut. Larut & warnanya penuh.
2. Pendispersi ionik untuk mencelup serat sutera atau wol secara langsung.

3. Perata kationik untuk memperlambat penyerapan Zw.

VI.

SKEMA PROSES PENCELUPAN


1. Skema I
- Perata
kationik - ZW basa
- Perata anionik
- Asam
- Pendispersi
asetat

80 oC
60 oC

30 oC
10

10

25

20

15

2. Skema II
- Perata
kationik
- Asam
asetat

- ZW basa
- Perata anionik
- Pendispersi
80 oC
60 oC

50 oC

30 oC
10

VII.

10

15

10

10

10

15

DIAGRAM ALIR.
Persiapan larutan celup

Pencelupan
Pencucian
VIII. CARA KERJA
1.Mengerjakan persiapan larutan celup tahapan awalnya adalah melarutkan zat warna
dengan satu gram ZW basa dibuat pasta dengan 0,5 cc/l pendispersi nonionik
ditambahkan air 10 cc/l, lalu ditambaahkan lagi 1 cc/l asam acetat 30 % dan air
hangat hingga mencapai 100 cc/l kemudian diaduk hingga zat warna tersebut larut
sempurna.
2. Melakukan pencelupan sesuai dengan resep yang seharusnya dipergunakan.
3. Setelah melakukan pencelupan maka lakukan lagi persiapan cuci.
4. Setelah semua tahap selesai lalu kain sutera dan wol dikeringkan dengan cara
disterika biasa.
IX.

SAMPEL PERCOBAAN
Resep 1

X.

Resep 2

Resep 3

Resep 4

DISKUSI.
Setelah melakukan percobaan dengan menggunkan bahan yang sama dengan resep
yang berbeda diperoleh hasil celup yang berbeda pula.
1. Warna yang dihasilkan pada resep 1, Diperoleh warna yang hampir sama dengan
warna yang dihasilkan dengan menggunakan resep 2. Hal ini dikarenakan zat
warna yang dipakai pada kedua resep, sama banyaknya hingga zat warna yang
terlarut dan terserap adalah sama. Namun dilihat dari kerataan, warna bahan
dengan menggunkan resep 2 lebih rata dari pada warna bahan dengan
menggunakan resep 1 hal ini dikarenakan faktor penambahan zat pendispersi

dimana resep 1 tidak ditambahkan pendispersi. Zat pendispersi dapat


menyebabkan hasil celup lebih rata.
2. Pada resep 3 diperoleh hasil celup yang lebih tua dibandingkan dengan hasil celup
resep1 dan 2. Hal ini dikarenakan penambahan asam acetat yang lebih banyak pada
resep 3, sehingga zat wrana yang terlarut lebih banyak dan selanjudnya zat warna
yang dapat diserap bahan juga lebih banyak dan selanjunya zat warna yang tidak
larut dapat diserap oleh bahan .
3. Pada resep 4 diperoleh hasil celup yang lebih tua dibandingkan dengan hasil celup
resep 3, karena penambahan asam acetat yang lebih banyak pada resep 4, sehingga
zat warna yang terlarut lebih banyak dan zat warna yang dapat diserap bahan juga
lebih banyak.
XI.

KESIMPULAN
Pada kain wol hasil celupan yang terbaik adalah pada resep 4. Sedangkan pada kain
sutera hasil celupan yang terbaik ada pada resep 4
Agar diperoleh hasil celupan yang maksimum pada pencelupan zat warna basa maka
harus dilakukan :
1. Konstan selama 10 pada suhu kamar pada awal proses.
2. Kenaikan suhu diperlambat.
3. Pengadukan diperbesar.
4. Penambhan perta.
5. Penambahan pendispersi non ionik.
6. Menggunakan penyangga pH ( buffer ).

XII.

DAFTAR PUSTAKA
-

Djufri, Rasyid, Ir, M.Sc, dkk, Teknologi Pengelantangan, Pencelupan, dan


Pencapan, 1978, ITT, Bandung.
Isminingsih,Nn, S.Teks, M.SC, dkk, Pengantar Kimia Zat Warna, 1978, ITT,
Bandung.