Anda di halaman 1dari 18

UAS Akuntansi Sektor Publik

Oleh :
Dhanarindra Ekky
Purwanto

12502030711
1042

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN 2014

Pengertian Analisa laporan keuangan


Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka
membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang
dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin
mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Analisa laporan keuangan
sebenarnya banyak sekali namun pada penelitian kali ini penulis menggunakan analisa rasio
keuangan karena analisa ini lebih sering digunakan dan lebih sederhana.
Manfaat Laporan Keuangan Pemeritah Daerah
Tujuan utama pelaporan keuangan pemerintah adalah dalam rangka pencapaian tujuan
berbangsa yaitu mencapai kesejahteraan masyarakat (for public welfare) disamping tujuan
yang dinyatakan dalam undang-undang, yaitu sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan
anggaran pemerintah (for public accountability).
Sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pemerintah, laporan keuangan
yang disusun pemerintah pusat dan daerah terus mengalami peningkatan kualitas
informasinya dari tahun ke tahun.
Dari 415 LKPD TA 2012, BPK telah memberikan predikat WTP sebanyak 113 LKPD, atau
meningkat hampir menjadi 7 kali lipat dibandingkan capaian opini WTP atas LKPD TA 2004.
Opini WTP atas LKPD TA 2012 tersebut dicapai oleh 16 Provinsi diantaranya adalah 11
Provinsi di wilayah Jawa dan Sumatera, 67 Kabupaten, dan 30 Kota.
Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang andal dan relevan mengenai
posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama
satu periode pelaporan. Khususnya berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara, Laporan
keuangan pemerintah terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan,
belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi
keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu
menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan.
Pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mempublikasikan laporan keuangan kepada
pemangku

kepentingannya.

Terdapat

mempubliasikan laporan keuanganya;

dua

alasan

utama

mengapa

pemda

perlu

1. Dari sisi internal, laporan keuangan merupakan alat pengendalian dan evaluasi
kinerja.
2. Dari sisi eksternal, merupakan bentuk pertanggungjawaban eksternal dari kepala
daerah ke masyarakat, investor, kreditor, lembaga donor, dll
Setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban melaporkan upaya upaya yang telah
dilakukan serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan
terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan:
1. Manajemen.
Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas
pelaporan dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan,
pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban, dan ekuitas dana
pemerintah untuk kepentingan masyarakat.
2. Akuntabilitas.
Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan
yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan secara periodik.
3. Transparansi.
Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat
berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara
terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan
perundang-undangan.
4. Keseimbangan Antargenerasi (intergenerational equity)
Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah
pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan
apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban
pengeluaran tersebut.
Transparansi pengelolaan keuangan pemerintah daerah merupakan tuntutan publik yang harus
direspon positif. Dengan dilakukanya transparansi tersebut publik akan memperoleh
informasi yang aktual dan faktual, sehingga mereka dapat menggunakan informasi tersebut
untuk:
1. Membandingkan kinerja keuangan yang dicapai dengan yang direncanakan
2. Menilai ada tidaknya unsur korupsi dan manipulasi dalam pelaksanaan anggaran
3. Meningkatkan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan

4. Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pihak, yaitu antara masyarakat


dengan pemerintah
Penyajian laporan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk pelaksanaan
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Dalam melaksanakan akuntabilitas publik,
pemerintah berkewajiban untuk memberikan informasi sebagai bentuk pemenuhan hak hak
publik.
Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan secara periodik
Akuntabilitas merupakan kewajiban menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk
menjawab atau menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif
suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk minta
keterangan akan pertanggungjawaban
Aspek penting yang harus dipertimbangkan oleh para manajer daerah adalah :

Aspek legalitas pengeluaran daerah yaitu setiap transaksi pengeluaran yang dilakukan
harus dapat dilacak otoritas legalnya.

Pengelolaan atas pengeluaran daerah yang baik, perlindungan asset fisik dan financial,
mencegah terjadinya pemborosan dan salah urus.

Prinsip-prinsip akuntabilitas pengeluaran daerah:

Adanya sistem akuntansi dan sistem anggaran yang dapat menjamin bahwa
pengeluaran daerah dilakukan secara konsistensi sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Pengeluaran daerah yang dilakukan dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan.

Pengeluaran daerah yang dilakukan dapat berorientasi pada pencapaian visi, misi,
hasil dan manfaat yang akan diperoleh.

Empat karakteristik kualitatif pokok yaitu:

1) relevan yaitu informasi yang termuat dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi
kebutuhan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu
atau masa kini
2) Andal yaitu laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan
yang material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diferivikasi
3) Dapat dibandingkan yaitu informasi yang termuat dalam laporan keuangan dapat
dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau entitas pelaporan
lain pada umumnya
4) Dapat dipahami yaitu informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan
dengan batas pemahaman para pengguna untuk mengetahui isi yang dimaksud dalam
laporan keuangan.

Untuk menganalisis laporan keuangan menggunakan beberapa metode, yaitu


1. Analisis Pertumbuhan Pendapatan
Analisis pertumbuhan pendapatan bermanfaat untuk mengetahui apakah pemerintah daerah
dalam tahun anggaran bersangkutan atau selama beberapa periode anggaran, kinerja
anggarannya mengalami pertumbuhan pendapatan secara positif atau negatifkah
Pertumbuhan Pendapatan th t= 100%

2. Analisis Varians/ Selisih Anggaran


Analisis varians anggaran pendapatan dilakukan dengan cara menghitung selisih antara
realisasi pendapatan dengan yang dianggarkan. Informasi selisih anggaran, sangat membantu
dalam memahami dan menganalisis kinerja pendapatan

3. Analisis Rasio Kemandirian Keuangan Instansi


Rasio kemandirian

untuk mengukur sebarapa kemandirian suatu daerah dan mengukur

ketergantungan daerah tersbut terhadap pusat maupun ke daerah lain.

4. Perhitungan Rasio Efektifitas dan Efisiensi Pendapatan Instansi

Rasio Efektivitas menghitung seberapa efisiensinya untuk suatu anggaran dengan


pendapatannya semisal BUMD apakah nilai untuk belanja terhadap BUMD tersebut efektif
atau efisien dalam pelaksanaannya.

5. Analisis Keserasian Belanja


Analisis keserasian belanja bermanfaat untuk mengetahu keseimbangan antar belanja. Agar
fungsi anggaran tersebut berjalan dengan baik, maka Dinas Pendapatan perlu membuat
harmonisasi belanja. Analisis keserasian belanja antara lain berupa

a. Analisis Belanja Operasi terhadap Total Belanja


Analisis belanja operasi terhadap total belanja merupakan perbandingan antara total belanja
operasi dengan total belanja daerah. Rasio ini menjelaskan mengenai porsi belanja yang
dialokasikan untuk belanja operasi.
Rasio Belanja Operasi terhadap Total Belanja=
b. Analisis Belanja Modal terhadap Total Belanja
Analisi belanja modal terhadap total belanja merupakan perbandingan antara total realisasi
belanja modal terhadap total belanja. Rasio ini menjelaskan porsi belanja yang dialokasikan
dalam bentuk belanja modal pada tahun anggaran bersangkutan.

6. Analisis Rasio Efisiensi Belanja


Rasio efisiensi belanja merupakan perbandingan antara realisasi belanja dengan anggaran
belanja. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat penghematan anggaran yang dilakukan
pemerintah. Angka yang dihasilkan dari rasio efisiensi ini tidak bersifat absolut, tetapi relatif
Rasio Efisiensi Belanja
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai asset, kewajiban,
dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari asset,
kewajiban, dan dana ekiutas dana.

Berdasarkan PP No.24 Tahun 2005, suatu aset dapat diklasifikasikan sebagai aset lancar dan
nonlancar, kewajiban diklasifikasikan menjadi utang jangka pendek dan utang jangka
panjang, sedangkan ekuitas dana diklasifikasikan menjadi ekuitas dana lancar, ekuitas dana
investasi, dan ekuitas dana cadangan. menyatakan bahwa untuk menghasilkan laporan
keuangan pemerintah daerah diperlukan proses dan tahap-tahap yang harus dilalui yang
diatur dalam sistem akuntansi pemerintah daerah. Sistem akuntansi di dalamnya mengatur
tentang sistem pengendalian intern (SPI), kualitas laporan keuangan sangat dipengaruhi
oleh bagus tidaknya sistem pengendalian intern yang dimiliki pemerintah daerah.
Sistem Akuntansi Daerah
Dengan bergulirnya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan ,Daerah dan UU
Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, dan
aturan pelaksanaannya khususnya PP Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah maka terhitung tahun anggaran 2001, telah terjadi
pembaharuan di dalam manajemen keuangan daerah. Dengan adanya otonomi ini, daerah
diberikan kewenangan yang luas untuk mengurus rumah tangganya sendiri dengan sesedikit
mungkin campur tangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah mempunyai hak dan
kewenangan yang luas untuk menggunakan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya
sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang di daerah.
Namun demikian, dengan kewenangan yang luas tersebut, tidaklah berarti bahwa pemerintah
daerah dapat menggunakan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya sekehendaknya, tanpa
arah dan tujuan yang jelas. Hak dan kewenangan yang luas yang diberikan kepada daerah,
pada hakikatnya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara akuntabel
dan transparan, baik kepada masyarakat di daerah maupun kepada Pemerintah pusat yang
telah membagikan dana perimbangan kepada seluruh daerah di Indonesia,
Pembaharuan manajemen keuangan daerah di era otonomi daerah ini, ditandai dengan
pcrubahan yang sangat mendasar, mulai dari sistem penganggarannya, perbendaharaan
sampai kepada pertanggungjawaban laporan keuangannya. Sehelum bergulirnya otonomi
daerah, pertanggungjawaban laporan keuangan daerah yang harus disiapkan oleh Pemerintah
Daerah hanya herupa Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Perhitungan dan sistem yang
digunakan untuk menghasilkan laporan tersebut adalah MAKUDA (Manual Administrasi
Keuangan Daerah) yang diberlakukan sejak tahun 1981.

Penerapan otonomi daerah seutuhnya membawa konsekuensi logis berupa pelaksanaan


penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan berdasarkan manajemen keuangan yang
sehat. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2001, pernerintah daerah
memiliki kewenangan untuk menetapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah
dalam bentuk Peraturan Daerah. Sistem tersebut sangat diperlukan dalam memenuhi
kewajiban pemerintah daerah dalarn membuat laporan pertanggungjawaban kuangan daerah
yang bersangkutan.
Dengan bergulirnya otonomi daerah, laporan pertanggungjawaban keuangan yang harus
dibuat oleh Kepala Daerah adalah berupa Laporan Perhitungan Anggaran, Nota Perhitungan,
Laporan Arus Kas dan Neraca Daerah. Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan
daerah ini diberlakukan sejak 1 Januari 2001, sampai pada akhirnya saat ini pemerintah sudah
mempunyai standar akuntansi pemerintahan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi
pernerintah daerah di dalam membangun sistem akuntansi keuangan daerahnya, yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintahan Nomor 24 Tahun 2005.
Pembaharuan Dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
Neraca dan laporan arus kas merupakan bentuk laporan yang baru pemerintah daerah dan
untuk dapat menyusunnya diperlukan adanya standar akuntansi. Sistem akuntansi keuangan
pemerintahan yang diterapkan sejak bangsa ini merdeka 59 tahun yang lalu didasarkan
Undang-Undang Perbendaharaan Indonesia (ICW) Staatblads 1928, yang memang tidak
diarahkan atau ditujukan untuk menghasilkan laporan neraca dan laporan arus kas.
Dengan adanya reformasi atau pembaharuan di dalam sistem pertangungjawaban
keuangan daerah, sistem lama yang digunakan oleh Pemda baik pernerintah provinsi maupun
pemerintah kabupaten/kota yaitu Manual Administrasi Keuangan Daerah (MAKUDA) yang
diterapkan sejak 1981 tidak dapat lagi mendukung kebutuhan Pemda untuk menghasilkan
laporan keuangan dalam bentuk neraca dan laporan arus kas. Untuk dapat menghasilkan
laporan keuangan tersebut diperlukan suatu sistem akuntansi keuangan daerah yang
didasarkan atas standar akuntansi pemerintahan.
Sistem yang lama (MAKUDA) dertgan ciri-ciri antara lain Single Entry(pembukuan
tunggal),Incremental Budgeting (penganggaran secara tradisional) yang:
a.

Tidak mampu memherikan informasi mengenai kekayaan yang dimiliki oleh daerah. atau
dengan kata lain tidak dapat memberikan laporan neraca.

b.

Tidak mampu memberikan informasi mengenai laporan aliran kas sehingga manajemen atau
publik tidak dapat mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan adanya kenaikan atau
penurunan kas daerah.

c.

Sistem yang lama (MAKUDA) ini juga tidak dapat membantu daerah untuk menyusun
laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berbasis kiner'ja sesuai tuntutan masyarakat

d.

Tidak mampu memherikan informasi mengenai kekayaan yang dimiliki oleh daerah, atau
dengan kata lain tidak dapat memberikan laporan neraca.
Pembaharuan di dalam manajemen keuangan daerah sebagaimana yang dikehendaki
ketentuan perundang-undangan yang ada telah direspons oleh pemerintah pusat dan Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) sebagai asosiasi profesi yaitu dengan dihentuknya "Kornite Standar
Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah". Komite ini bertugas untuk merumuskan dan
mengembangkan konsep Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah, yang keanggotaannya terdiri dari kalangan birokrasi (Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri
dan BPKP), IAI dan kalangan akademisi.
Dengan adanya Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat clan Daerah, isu mcngenai
siapa yang berkewenangan untuk menetapkan standar akuntansi pernerintah pusat dan
pemerintah daerah sudah dapat terpecahkan. Berdasarkan UU Nomor 1 tahun 2004,
pemberlakuan Standar Akuntansi Pemerintahan yang dihasilkan oleh Komite Standar setelah
meminta pertimbangan BPK ditetapkan dengan Peraturan Petnerintah. Standar akuntansi
pemerintahan yang dihasilkan oleh Komite ini diharapkan dapat memayungi praktek-praktek
akuntansi yang telah diterapkan oleh Pemerintah Daerah saat ini dan untuk masa yang akan
datang.
Akuntansi Pemerintah Daerah
Pengembangan akuntansi di tingkat pemerintah daeral telah dilakukan melalui Sistem
Akuntansi dan Pengendalian Anggaran (SAPA) sejak tahun 1986. Perubahan penting yang
secara koinsidental terjadi adalah reformasi di bidang keuangan negara. Setelah selama
bertahun-tahun Indonesia menggunakan UU di bidang perbendaharaan negara yang terbentuk
semenjak zaman kolonial maka pada abad 21 ini telah ditetapkan tiga paket perundangundangan di bidang keuangan negara yang menjadi landasan hukum reformasi di bidang
keuangan negara, yaitu Undang-Undang No. 17 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara,
Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang
No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Tanggung Jawab dan Pengelolaan Keuangan
Negara.

Arti penting akuntabilitas dalam good governance ini tampaknya sangat disadari sebagaimana
terlihat dari aturan vang dituangkan dalam peraturan pemerintah tersebut di atas.Penyajian
laporan pertanggungjawaban keuangan antara lain hcrisikan Ncraca, Laporan Perhitungan
Anggaranaran dan Laporan Arus Kas
Permasalahan di atas sebenarnya bukan politis, sebagian besar adalah berasal dari
permasalahan teoritis, sistem dan prosedur akuntansi dan pelaporan pertanggungjawaban
keuangan daerah. Masalah teoritis, sistem dan prosedur ini muncul sebagai konsekuensi logis
dari implikasi progresivitas pembaharuan yang dituntut oleh masyarakat. Pembaruanpembaruan tersebut, pada dasarnya menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1.Pembaruan anggaran, melalui perubahan struktur anggaran, proses pe
anggaran, perubahan format clan administrasi pelaksanaannya, serta

nyusunan

penerapan standar

akuntansi;
2. Pembaruan pendanaan melalui perubahan kewenangan daerah dalam memanfaatkan dana,
prinsip pengelolaan kas, cadangan, penggunaan dana pinjaman, dan pembelanjaan defisit, dan
3. Penyederhanaan prosedur, baik dalam penyusunan anggaran, pelaksanaan, maupun dalam
perhitungannya.
Kata kunci dari seluruh pembaharuan di atas adalah Kinerja. Dan ini memang secara khusus
ditegaskan dalam pasal Peraturan Pemerintah yang mengatur bahwa APBD disusun
berdasarkan kinerja yang tolok ukurnya perlu dikembangkan sehingga dapat dievaluasi atau
diukur.
Perangkat perundang-undangan otonomi daerah sesungguhnya sudah pula melengkapi
manajemen pemerintahan daerah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000
tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah. Peraturan Pemerintah ini
menyebutkan bahwa Pertanggungjawaban Kepala Daerah dinilai berdasarkan tolok ukur
Rencana Strategis. Setiap daerah wajib menetapkan Rencana Strategis dalam jangka 1 (satu)
bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Rencana strategis ini beserta dokumen perencanaan
daerah lainnya memerlukan pengesahan oleh DPRD.
Kebijakan Umum Akuntansi Keuangan Daerah
Terdapat tiga tujuan dari pelaporan keuangan pemerintah yaitu akuntabilitas, manajerial,
clan transparansi. Akuntabilitas diartikan sebagai upaya untuk mempertanggungjawabkan
pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepada unit organisasi pemerintah dalam rangka pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan melalui laporan keuangan pemerintah secara periodik.

Manajerial berarti menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan dan
pengelolaan keuangan pemerintah serta memudahkan pengendalian yang efektif atas seluruh
aset, utang, dan ekuitas dana. Sedangkan transparansi dalam pelaporan keuangan bertujuan
untuk menyediakan informasi keuangan yang terbuka bagi masyarakat dalam rangka
mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Laporan

keuangan

pemerintah

yang

selanjutnya

disebut

sebagai

laporan

pertanggungjawaban merupakan hasil proses akuntansi atas transaksi-transaksi keuangan


pemerintah. Laporan pertanggungjawaban untuk tujuan umum, terdiri dari laporan
perhitungan anggaran, neraca, laporan arus kas dan nota perhitungan anggaran. Tidak tertutup
kemungkinan laporan keuangan dapat dikembangkan untuk tujuan khusus.
Asas Akuntansi Keuangan Pemerintah
1.Dasar Kas
Pendapatan diakui pada saat dibukukan pada Kas Umum Negara/Daerah dan belanja diakui
pada saat dikeluarkan dari Kas Umurn Negara/Daerah.
2.Asas Universalitas
Semua pengeluaran harus tercermin dalam anggaran. Hal ini berarti bahwa anggaran belanja
merupakan batas komitmen tertinggi yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah untuk dapat
membebani APBD.
3. Asas Bruto
Tidak ada kompensasi antara penerimaan dan pengeluaran. Misalnya Pendapatan Daerah
memperoleh pendapatan dan untuk memperolehnya diperlukan belanja, maka pelaporannya
harus gross income artinya pendapatan dilaporkan sebesar nilai pendapatan yang diperoleh,
dan belanja dibukukan pada pos belanja yang bersangkutan sebesar belanja yang dikeluarkan.
4. Dana Umum
Dana Umum adalah suatu entitas fiskal dan akuntansi yang mempertanggungjawabkan
keseluruhan penerimaan dan pengeluaran negara termasuk aset, utang, dan ekuitas dana.
Dana Umum yang dimaksud adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah. Dana
yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu dipertanggungjawabkan secara khusus
yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Dana Umum.
Entitas
Untuk memastikan prosedur penuntasan akuntabilitas (accountability discharge), perlu
ditetapkan entitas untuk menunjukkan entitas akuntansi yang menjadi pusat-pusat

pertanggungjawaban keuangan pemerintah. Entitas pelaporan keuangan mengacu pada


konsep bahwa setiap pusat pertanggungjawaban harus bertanggung jawab atas pelaksanaan
tugasnya sesuai dengan peraturan.
Penetapan Dinas sebagai entitas akuntansi pemerintah daerah didasarkan pada pengertian
bahwa pengukuran kinerja akan lebih tepat jika dilakukan atas suatu fungsi. Dalam struktur
pemerintah daerah, dinas merupakan suatu unit kerja yang paling mcndekati gambaran suatu
fungsi pemerintah daerah.
Kode rekening
Akuntansi keuangan pemerintah meliputi semua kegiatan yang meliputi pengumpulan
data, pengklasifikasian, pembukuan dan pelaporan keuangan pemcrintah. Kode perkiraan
seragam dan konsisten mutlak diperlukan sehingga mempermudah dalam penyusunan
laporan keuangan konsolidasi di tingkat daerah maupun di tingkat pusat. Mengingat bahwa
Indonesia merupakan negara kesatuan berarti bahwa daerah merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari negara kesatuan Republik Indonesia, maka dalam era oto nonipun tetap
diperlukan informasi keuangan per wilayah ataupun secara nasional untuk analisis fiskal
maupun ekonomi makro. Konsekuensi dari tuntutan kebutuhan tersebut adalah diperlukannya
harmonisasi praktek akuntansi antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini diatur melalui
bagan perkiraan standar yang menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah
dalam mengembangkan sistem akuniansinya.
Di samping untuk memfasilitasi pengkonsolidasian kinerja keuangan pemerintah daerah
atau pemerintah pusat, klasifikasi perkiraan dan pengkodeannya juga diperlukan untuk
menyelaraskan

akuntansi

keuangan

pemerintah

dengan

sistem

statistik

keuangan

Internasional, sebagaimana diusulkan oleh International Monetary Fund dalam konsep


Government Finance Statistk (GFS). Satu hal yang mendasar dari klasifikasi menurut GFS
adalah bahwa klasifikasi tersebut harus dapat mengakomodasi pengukuran kinerja
pemerintah.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka klasifikasi perkiraan selan berdasarkan sistem
anggaran lama, yaitu per mata anggaran penerimaar (MAP), mata anggaran pengeluaran
(MAK), maka seluruh aktivitas keuangan pemerintah daerah harus dapat dirinci berdasarkan
organisasi, fungsi dan klasifikasi ekonomi.
Siklus Akuntansi pemerintah daerah

Sistem Pencatatan
Yang dimaksud dengan Pengidentifikasian adalah Pengidentifikasian transaksi
ekonomi, agar dapat membedakan transaksi yang bersifat ekonomi dan yang tidak. Pada
dasarnya , transaksi ekonomi adalah aktivitas yang berhubungan dengan uang. Proses
selanjutnya adalah pengukuran transaksi ekonomi, yaitu dengan menggunakan satuan uang.
Jadi seluruh transaksi dalam akuntansi harus dinyatakan dalam satuan uang. Proses
berikutnya adalah pencatatan transaksi ekonomi, yaitu pengolahan data transaksi ekonomi
tersebut melalui penambahan dan atau pengurangan sumber daya yang ada. Pelaporan
transaksi ekonomi akan menghasilkan laporan keuangan yang merupakan hasil akhir proses
akuntansi. Laporan keuangan dalam pemerintah daerah adalah sebagai berikut :
a.

Laporan Realisasi Anggaran

b.

Laporan Neraca

c.

Laporan Arus Kas

d.

Catatan atas Laporan Keuangan


Single Entry
Sistem pencatatan single entry sering disebut juga dengan sistem tata buku tunggal
atau tata buku. Dalam sistem ini, pencatatan transaksi ekonomi dilakukan dengan
mencatatnya satu kali. Transaksi yang berakibat bertambahnya kas akan di catat pada sisi
penerimaan dan transaksi yang berkaitan berkurangnya kas akan dicatat pada sisi
pengeluaran.
Sistem pencatatan single entry ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu sederhana dan
mudah dipahami. Namun, sistem ini memiliki kelemahan, antara lain kurang bagus untuk
pelaporan (kurang memudahkan penyusunan laporan), sulit untuk menemukan kesalahan
pembukuan yang terjadi, dan sulit di kontrol. Oleh karena itu, dalam akuntansi terdapat
sistem pencatatan yang lebih baik dan dapat mengatasi kelemahan tersebut.
Double Entry
Sistem pencatatan double entry sering juga disebut dengan sistem tata buku
berpasangan. Menurut sistem ini, pada dasarnya suatu transaksi ekonomi akan dicatat dua
kali. Pencatatan dengan sistem ini disebut dengan istilah menjurnal. Dalam pencatatan
tersebut, sisi debit berada disebelah kiri sedangkan sisi kredit berada disebelah kanan. Setiap
pencatatan harus menjaga keseimbangan persamaan dasar akuntansi. Persamaan dasar
akuntansi terbentuk sebagai berikut :
AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN

Transaksi yang berakibat bertambahnya aktiva akan dicatat pada sisi debit sedangkan
yang berakibat berkurangnya aktiva akan dicatat pada sisi kredit.
Triple Entry
Sistem pencatatan triple entry adalah pelaksanaan pencatatan dengan menggunakan
sistem pencatatan double entry, ditambah dengan pencatatan pada buku anggaran. Jadi,
sementara sistem pencatatan double entry dijalankan, PPK SKPD maupun bagian keuangan
atau SKPKD juga mencatat transaksi tersebut pada buku anggaran, sehingga pencatatan
tersebut akan berefek pada sisa anggaran.
v DASAR AKUNTANSI
Setelah memahami sistem pencatatan, masih terdapat satu hal lagi yang penting dalam
proses pencatatan. Hal tersebut adalah masalah pengakuan (recognition). Oleh karena itu
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) telah ditetapkan dalam PP Nomor 24 Tahun 2005,
maka Standar Akuntansi Keuangan Daerah pun mengikuti aturan tersebut.
Definisi pengakuan dalam akuntansi menurut SAP adalah Proses Penetapan
terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi
sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana,
pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
Basis Kas
Basis kas (cash basis) menetapkan bahwa pengakuan/ pencatatan transaksi ekonomi
hanya dilakukan apabila transaksi tersebut menimbulkan perubahan pada kas.
Basis Akrual
Basis akrual adalah dasar akuntansi yang mengakui transaksi dan peristiwa lainnya
pada saat transaksi dan peristiwa tersebut terjadi (dan bukan hanya pada saat kas atau setara
kas diterima atau dibayar). Oleh karena itu, transaksi-transaksi atau peristiwa-peristiwa
dicatat dalam catatan akuntansi dan diakui dalam laporan keuangan pada periode terjadinya.
Basis akrual telah ditetapkan dalam SAP dan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
untuk pemda, sehingga seluruh pemda di Indonesia sudah harus menerapkannya mulai tahun
2007.
Basis Kas Modifikasian
Menurut butir (12) dan (13) lampiran XXIX (tentang Kebijakan Akuntansi)
Kepmendagri nomor 29 Tahun 2002 disebutkan bahwa :
(12) Basis/dasar kas modifikasian merupakan kombinasi dasar kas dengan dasar akrual.
(13) Transaksi penerimaan atau pengeluaran kas dibukukan (dicatat atau dijurnal) pada saat uang
diterima atau dibayar (dasar kas). Pada akhir periode dilakukan penyesuaian untuk mengakui

transaksi dan kejadian dalam periode berjalan meskipun penerimaan atau pengeluaran kas
dari transaksi Dan kejadian dimaksud belum terealisasi.
Basis Akrual Modifikasian
Basis akrual modifikasian mencatat transaksi dengan menggunakan basis kas untuk
transaksi-transaksi tertentu dan menggunakan basis untuk sebagian besar transaksi.
Pembatasan penggunaan dasar akrual dilandasi oleh pertimbangan kepraktisan, contohnya
adalah pengakuan piutang pendapatan.
v SIKLUS AKUNTANSI
Akuntansi adalah suatu sistem, yaitu suatu kesatuan yang terdiri atas subsistemsubsistem atau kesatuan lebih kecil yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan tertentu.
Suatu sistem mengolah input (masukan) menjadi output (keluaran). Input sistem akuntansi
adalah bukti-bukti transaksi dalam bentuk dokumen atau formulir. Outputnya adalah laporan
keuangan.

Siklus Akuntansi
Analisis Transaksi Pada saat pembentukan suatu entitas, para pemilik menyetorkan sejumlah
uang atau barang pada entitas tersebut. Kontribusi para pemilik menyebabkan entitas tersebut
memiliki harta atau aktiva. Kesepakatan akuntansi menghendaki kontribusi para pemilik
(dalam hal ini rakyat) secara nyata menjadi aktiva pemda yang dipisahkan dari kekayaan
pemiliknya, yaitu rakyat.

SIKSLUS AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH


Pada dasarnya siklus akuntansi keuangan daerah mengikuti siklus akuntansi yang
telah dijelaskan di atas, perbedaan yang ada adalah pada proses penyusunan laporan
keuangan pemda. Setelah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian, dapat disusun laporan

Perhitungan APBD. Namun demikian, untuk lebih mempermudah penyusunan laporan


keuangan yang lain, yaitu laporan perubahan ekuitas dana atau R/K Pemda, laporan aliran kas
dan Neraca, biasanya terlebih dahulu dilakukan proses tutup buku dengan membuat jurnal
penutup. Kemudian, setelah jurnal penutup ini diposting, barulah disusun ketiga laporan
keuangan tersebut.
SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH BERDASARKAN
PERMENDAGRI NOMOR 13 TAHUN 2006
Sistem akuntansi pemerintahan daerah menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal
232 ayat (3) meliputi serangkaian prosedur, mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan,
penggolongan, dan peringkasan atas transaksi atau kejadian keuangan serta pelaporan
keuangan dalam rangka pertanggungjawaban APBD yang dapat dilakukan secara manual atau
menggunakan aplikasi komputer. Dalam sistem akuntansi pemerintahan ditetapkan suatu
entitas pelaporan dan entitas akuntansi yang menyelenggarakan sistem akuntansi pemerintah
daerah. Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah (PPKD) pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) dan
sistem akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilaksanakan oleh pejabat
Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD). Sistem akuntansi
pemerintahan daerah secara garis besar terdiri atas empat prosedur akuntansi yaitu : prosedur
akuntansi penerimaan kas, pengeluaran kas, selain kas, dan aset.
Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
1. Fungsi Terkait dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD dilaksanakan oleh
fungsi akuntansi pada PPK-SKPD, sedangkan pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada SKPKD.
2.

Dokumen yang digunakan :

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Surat ketetapan pajak daerah.


Surat ketetapan retribusi daerah (SKRD).
Surat tanda bukti Penerimaan (STBP)
Surat tanda setoran (STS)
Bukti transfer
Nota kredit bank
Buku jurnal penerimaan kas
Buku besar
Buku besar pembantu.

3.

Laporan yang dihasilkan

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD terdiri atas:
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD terdiri atas:
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Laporan Arus Kas
4)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas
1.

Fungsi Terkait dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD dilaksanakan oleh
fungsi akuntansi pada PPK-SKPD,sedangkan pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada SKPKD.

2.

Dokumen yang digunakan:

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Surat penyediaan dana (SPD)


Surat perintah membayar (SPM)
Kuitansi pembayaran dan bukti pembayaran lainnya
SP2D
Bukti Transfer
Nota debit bank
Buku jurnal pengeluaran kas
Buku besar
Buku besar pembantu

3.

Laporan yang dihasilkan

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD terdiri atas:
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD terdiri atas :
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Laporan Arus Kas
4)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
Prosedur Akuntansi Selain Kas

1.

Fungsi Terkait dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD. Sedangkan, pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi akuntansi
pada SKPKD.

2.

Dokumen yang digunakan:

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Berita acara penerimaan barang


Surat keputusan penghapusan barang
Surat pengiriman barang
Surat keputusan mutasi barang
Berita acara pemusnahan barang
Berita acara serah terima barang
Berita acara penilaian
Bukti memorial
Buku jurnal umum
Buku besar
Buku besar pembantu

3.

Laporan yang dihasilkan

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD terdiri atas:
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD terdiri atas :
1)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2)
Neraca
3)
Laporan Arus Kas
4)
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)